Anda di halaman 1dari 16

METODE EKSPLORASI ENDAPAN EMAS EPITERMAL SULFIDASI TINGGI

DAN HUBUNGANNYA DENGAN MINERAL LEMPUNG HASIL ANALISA


SPEKTRAL, DAERAH CIJULANG, KABUPATEN GARUT PROVINSI JAWA
BARAT

Disusun Oleh :

MUHAMMAD HENDRIKA PRATAMA

111.150.102

PLUG 5

LABORATORIUM HIDROGEOLOGI

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Industri Pertambangan merupakan salah satu industri yang mempunyai resiko yang
tinggi (kerugian). Dalam usaha pemanfaatan sumberdaya mineral/bahan galian untuk
kesejahteraan masyarakat dan pengembangan suatu daerah, diperlukan suatu usaha
pertambangan. Agar usaha pertambangan tersebut dapat berjalan dan memperoleh
keuntungan, maka potensi sumberdaya mineral/bahan galian yang ada harus diketahui dengan
pasti, begitu juga terhadap resiko yang ada, yang dapat dirinci sebagai resiko geologi, resiko
ekonomi-teknologi, dan resiko lingkungan, harus dihilangkan atau paling tidak diperkecil.

Lokasi penelitian berada pada kampung Cijulang, desa Mekarmukti,


kecamatanTalegong, Kabupaten Garut, provinsi Jawa Barat. Penelitian berada pada
IzinUsaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi PT. Antam (persero) Tbk.

Dalam usaha untuk mengetahui potensi sumberdaya mineral/bahan galian yang ada
serta mengidentifikasi kendala alami maupun kendala lingkungan yang mungkin ada, maka
perlu dilakukan eksplorasi terlebih dulu. Jadi kegiatan eksplorasi merupakan suatu kegiatan
penting yang harus dilakukan sebelum suatu usaha pertambangan dilaksanakan. Hasil dari
kegiatan eksplorasi tersebut harus dapat memberikan informasi yang lengkap dan akurat
mengenai sumberdaya mineral/bahan galian maupun kondisi-kondisi geologi yang ada, agar
studi kelayakan untuk pembukaan usaha pertambangan yang dimaksud dapat dilakukan
dengan teliti dan benar.

Selain menguasai konsep eksplorasi, seorang eksplorasionis juga harus mampu


menerapkan teknologi eksplorasi yang tersedia secara langsung di lapangan, misalnya
melakukan pengukuran geofisika dan interprestasinya, survei geokimia dan interprestasinya,
survei pengukuran geodetik, pemboran, sampling, dan penanganan conto, serta tentu saja
kemampuan dalam mengintegrasikan dan menginterprestasikan data hasil kegiatan
eksplorasi, sehingga hasilnya dapat digunakan untuk melakukan studi kelayakan tambang.
1.2. Maksud Dan Tujuan

Maksud :

1. Mengetahui model geologi daerah eksplorasi


2. Mengetahui model mineralisasi daerah eksplorasi
3. Mengetahui hasil data dari berbagai metode

Tujuan :

1. Mengetahui sebaran atau keberadaan mineralisasi emas


2. Mengetahui metode penambangan yang akan dilakukan

BAB II. ISI

Model Geologi pada daerah eksplorasi

Geologi permukaan daerah Cijulang tersusun atas 5 satuan batuan yang berumur
Miosen akhir dan 2 satuan vulkaniklastik Pliosen. Litostratigrafi daerah Cijulang dan
sekitarnya dapat dilihat pada. Batuan berumur Miosen merupakan hostrock mineralisasi yang
berasiosiasi dengan pembentukan diatrem dan dome dasit berupa andesit, dasit, breksi
diatrem (polimik, dan freatomagmatik), dan tuf kristalin. Setempat pada sungai Ciseda
terlihat adanya intrusi batuan porfiritik yang diinterpretasi sebagai mikrodiorit.

Geologi permukaan daerah Cijulang terdiri dari satuan andesit, crystalline


tuff,phreatomagmatic breccia, juvenile rich phreatomagmatic breccia, dan microdiorite yang
merupakan anggota Formasi Koleberes dan Formasi Jampang berumur Miosen akhir yang
tertutup oleh satuan vulkaniklastik muda berumur Pleiosen.

Geologi bawah permukaan didapatkan litologi lebih kompleks, seperti kelompok


breccia : intrusive breccia, magmatic hydrothermal breccia, hydrothermal breccia, dan batuan
intrusif seperti diorit. Litologi tertua diinterpretasi adalah batuan terobosan diorit yang
menghasilkan alterasi suhu tinggi seperti propilitik (kloritepidot-magnetit-pirit), filik (serisit-
muskovit-pirit),kemudian terbentuk sistem diatrem (phreatomagmatic-magmatic
hydrothermal) sebagai host mineralisasi tipe sulfidasi tinggi daerah Cijulang.

Peta Geologi daerah Cijulang, Desa Mekarmukti, Talegong, Garut


Model mineralisasi daerah eksplorasi
Mineralisasi daerah Cijulang pada umumnya berasosiasi dengan alterasi
silisifikasi,dan berkembang pada zona pathway mineralisasinya. Mineralisasi erat
hubungannya dengan proses pembentukan mineral sulfida yang berhubungan dengan sistem
Cu-sulfosalt (enargit, luzonit, tenantit) dan logam dasar (kalkopirit,sfalerit, galena), serta
mineral pirit – arsenopirit. Endapan sulfidasi tinggi daerah Cijulang, berdasarkan tipe tahapan
sulfida (sulfidation state: Euinadi, 2003) dapat dibagi menjadi :

High oxidation – low sulfidation state (Late-stage porphyry type mineralisation)


Tipe mineralisasi pada tahapan ini ditunjukan dengan hadirnya magnetit dan hematit
sekunder hasil alterasi propilitik pada batuan tuf andesitik dan diorit. Suhu pembentukan
alterasi ini diperkirakan berada pada suhu 350-400ºC, berdasarkan kehadiran mineral epidot,
dan magnetit/hematit. Sulfidasi pada tahapan ini bersifat rendah (low sulfidation) dicirikan
dengan hadirnya pirit. Pirit merupkan mineral transisi dari tahapan fluida oksidasi menuju
sulfidasi.

Transition High–Intermediate sulfidation state (Intermineral High sulfidation Epithermal)


Mineralisasi ini terlihat pada conto batuan alterasi vuggy quartz, yaitu pada
pengamatan mineragrafi DC.003087.CJL (DCJL.01,61m) dan DCJL.02/216.10 m.Paragenesa
mineralisasi pada conto DC.003087.CJL adalah Hydrothermal I :silica ± quartz ± pyrite ±
chalcopyrite ± enargite (silicified alteration; microgranularsilica fragments) dan
Hydrothermal II : silica ± quartz ± pyrite (penetration of silica quartz associated with pyrite
and pyrite penetration. Paragenesa mineralisasi hanya terlihat satu fase yaitu hydrothermal I :
quartz ±pyrite ± stibnite ± chalcopyrite ± enargite (silicified alteration).

Low sulfidation state (late-stage vein quartz)


Mineralisasi pada tahapan ini terlihat dalam komposisi sulfida dalam veinlet kuarsa
yang meomotong tuh alreasi advanced argillic. Komposisi sulfida yang terlihat adalah pirit,
berwarna putih kekuningan, berukuran sangat halus, <50-250µm, anhedral-euhedral,
aggregate, subdisseminated, dan mengisi retakan. Paragenesa berupa 3 fase yaitu hidrotermal
I (ubahan filik:kuarsa, serisit), kemudian hidrotermal (ubahan silisifikasi: mikrogranular
silika-pirit), dan hidrotermal III (penetrasi kuarsapirit).
Mineralisasi logam berharga daerah Cijulang berada pada tahapan transisi antara high
sulfidation state (enargite,kalkopirit,pirit) dan intermediate sulfidationstate (kalkopirit,
galena, sfalerit, stibnit). Mineralisasi terjadi dalam 3 fase yaitu silisifikasi (pirit) yang
merupakan fase alterasi asam, sulfidasi 2 (enargit, kalkopirit) sebagai replacement dan
diseminasi, dan sulfidasi 3 (basemetal-enargite) sebagai pengisi retakan atau zona vein, yang
memotong atau mengisi alterasi dan mineralisasi sebelumnya.
Tipe mineralisasi daerah Cijulang, merupakan pergerakan tipe sulfidasi tinggi yang
berasosiasi dengan sistem intrusif dan pada fase akhirnya terdapat alteasi lokal tipe low
sulfidation . Pola mineralisasi Cijulang dengan tipe high sulfidation epithermal, kemungkinan
mineralisasi logam hanya berkembang pada fase high intermediate sulfidation, yang
berhubungan dengan ore kaya sulfida pada zona massive /vuggy quartz dan hydrothermal
massive sulfide vein/veinlet.

Ploting posisi mineralisasi dari beberapa conto mineragrafi daerah Cijulang


Profil alterasi dan mineralisasi Cijulang, dan interpretasi kondisi keasaman mineral lempungnya, serta
hipotesa intrusi pembawa mineralisasi (porfiri Cu) berdasarkan model Lithocap.

Metode Sampling

Sampel (conto) merupakan satu bagian yang representatif atau satu bagian dari
keseluruhan yang bisa menggambarkan berbagai karakteristik untuk tujuan inspeksi atau
menunjukkan bukti-bukti kualitas, dan merupakan sebagian dari populasi stastistik dimana
sifat-sifatnya telah dipelajari untuk mendapatkan informasi keseluruhan.

Secara spesifik, conto dapat dikatakan sebagai sekumpulan material yang dapat
mewakili jenis batuan, formasi, atau badan bijih (endapan) dalam arti kualitatif dan
kuantitatif dengan pemerian (deskripsi) termasuk lokasi dan komposisi dari batuan, formasi,
atau badan bijih (endapan) tersebut. Proses pengambilan conto tersebut disebut sampling
(pemercontoan).

Sampling dapat dilakukan karena beberapa alasan (tujuan) maupun tahapan pekerjaan
(tahapan eksplorasi, evaluasi, maupun eksploitasi).

 Selama fase eksplorasi sampling dilakukan pada badan bijih (mineable thickness) dan
tidak hanya terbatas pada zona mineralisasi saja, tetapi juga pada zona-zona low
grade maupun material barren, dengan tujuan untuk mendapatkan batas yang jelas
antara masing-masing zona tersebut.
 Selama fase evaluasi, sampling dilakukan tidak hanya pada zona endapan, tapi juga
pada daerah-daerah di sekitar endapan dengan tujuan memperoleh informasi lain yang
berhubungan dengan kestabilan lereng dan pemilihan metode penambangan.
 Sedangkan selama fase eksploitasi, sampling tetap dilakukan dengan tujuan kontrol
kadar (quality control) dan monitoring front kerja (kadar pada front kerja yang aktif,
kadar pada bench open pit, atau kadar pada umpan material).

Sketsa pembuatan channel sampling pada urat (Chaussier et al., 1987)

Metode Pemboran

Metode pemboran yang digunakan bergantung kepada asumsi letak dan ketebalan
target yang akan dibor berdasarkan pada informasi/data permukaan yang diperoleh. Dengan
melakukan pemboran, maka dapat dievaluasi kembali konsep dan prediksi geologi
(interpretasi) yang telah ada sebelumnya.
S
DDH 02
N
40°
Overburden
(tanah penutup) Anomali

Weathered zone
(zona pelapukan) 50°

"Fresh" bedrock
(batuan dasar segar)

si
sa
ali
EOH

er
in
m
na
Zo
Lay out penampang pemboran (Annels, 1991)

Pembuatan lubang bor secara vertikal digunakan untuk kondisi dimana zona
mineralisasi diperkirakan pada kedalaman yang dangkal atau pada endapan disseminated.
Namun demikian kondisi lubang bor yang cenderung miring atau curam biasanya digunakan
untuk target endapan yang mempunyai kemiringan yang besar, dengan tujuan agar dapat
menembus zona mineralisasi pada sudut 900 (relatif tegak lurus). Selain itu dari pemboran
juga diharapkan dapat diketahui batas-batas zona pelapukan, zona oksidasi, atau zona bijih
(batuan dasar)

Metode Terraspectral

Aplikasi penginderaan jauh dan SIG dalam eksplorasi mineral memiliki banyak
keuntungan, antara lain cakupan wilayahnya luas, hemat biaya, data yang mudah
diperbaharui (up date) dan memungkinkan integrasi dengan berbagai jenis data satelit,
geofisika, geokimia,Digital Elevation Model(DEM), dan sebagainya. Sehingga proses analisa
semakin efisien, cepat, dan akurasi yang meningkat. Penggunaan penginderaan jauh dalam
eksplorasi pertambangan telah lama digunakan dan sudah berkembang luas, beberapa
pendekatan yang banyak diaplikasikan antara lain, pemetaan lithologi, struktur, dan alterasi
(Rajesh, 2004; Siegal dan Gillespie, 1991).

Pemetaan lithologi merupakan pemetaan sumberdaya mineral, dengan menarik


kesimpulan dari beberapa parameter utama yang diperoleh melalui observasi penginderaan
jauh, seperti mengidentifikasi nilai spektral batuan, penampakan struktural, pelapukan dan
bentuk daratan (landform), serta pola aliran sungai.
Interpretasi terhadap nilai spektral mineral didasarkan pada nilai panjang gelombang.
Dalam menentukan nilai threshold mineral, maka ditentukan berdasarkan perbandingan
refleksi panjang gelombang maksimum dan minimum yang dilanjutkan dengan menentukan
nilai-nilai setiap perbandingan saluran secara statistik, yang meliputi : nilai mean (μ), nilai
standar deviasi (SD), nilai median, nilai maksimum dan minimum,kurtosis dan nilai
skewness.

BAB III. PEMBAHASAN

Hasil Pengambilan Sampel Data Permukaan

Tabel 1. Tipe alterasi dan mineralisasi daerah penelitianberdasarkan data permukaan (singkapan).

Hasil Data Dari Metode Pengoboran

Tabel 2. Tipe alterasi dan mineralisasi daerah Cijulang, berdasarkan data pemboran uji.
Hasil Metode Terraspectral

Analisa Terraspectral geology yang dilakukan pada conto permukaan dan pemboran,
ditemukan adanya kumpulan mineral:(1)acid clay: kaolinite WX, alunite,dickite, pyrophillite:
(2) Fe-Mg silicate: chlorite, biotite: (3) neutral clay: kaolinite PX,montmorillonite, Mg – clay,
palygorskite: (4)mica: illite, muscovitic illite, paragoniticillite: (5)carbonate - sulfate :
siderite, gypsum, dengan mineral penciri argilik lanjut dominan yang dijumpai adalah
kaolinit, dikit, pirofilit, sedangkan alunit hanya setempat dijumpai.
Interpretasi posisi anomali menarik geologi dari hasil analisis mineral lempungdengan terrapectral, berdasarkan
kajian pathway, heatsource, dan data litologi – alterasidan mineralisasi daerah Cijulang.
Penampang bor 3,4,4A,6 yang menggambarkan pola sebaran mineral lempungdari hasil analisa Spectra. (a).
Kristalinitas mika dan kaolinite (b). Interpretasi pathwaylarutan hidrotermal pembentuk alterasi high sulfidation
epithermal.

Mineralisasi tipe high sulfidation pada daerah Cijulang, mempunyai karakteristik kaya
pyrrophillite yang merupakan indikator zona keasaman tinggi, dan berhubungan dengan
pathway mineralisasi. Posisi sebaran pyrrophillite pada profil memperlihatkan adanya jalur
hidrotermal yang berhubungan dengan pusat asam. Pusat keasaman dan suhu tinggi tersebut
berada dekat dengan litologi intrusive breccia, yang mengindikasikan heat source batuan dari
batuan intrusif. Anomali suhu juga ditunjukan dengan meningginya nilai indeks kristalinitas
kaolinit mencapai1.6 dan beberapa tempat dijumpai nilai kristalinitas mika diatas 2, yang
berhubungan dengan zona alterasi filik pada batuan magmatic hydrothermal breccia.

Hubungan

Tipe sulfidasi daerah Cijulang adalah high-intermediate sulfidation state


yangterbentuk pada 3 fase mineralisasi yaitu pembentukan silika-pirit, diikuti mineralisasi
enargit-kalkopirit, dan terakhir fase pengisian enargit-tenantit-kalkopirit-sfaleritgalena-stibnit
pada retakan batuan atau lubang, sebagai vein dan massive sulfide.Sistem alterasi dan
mineralisasi porfiri kemungkinan hadir sebelum tipe sulfidasitinggi terbentuk, dan low
sulfidation juga terbentuk setelahnya.

Pola geokimia endapan emas high sulfidation epithermal daerah Cijulang terlihat
berasosisasi dengan alterasi silifikasi (massvie quartz), dengan hubungan positif terhadap
keberadaan mineral kaolinite-dickite yang berasosiasi oleh kehadiran pyrrophillite sebagai
mineral penciri pathway mineralisasi emas. Pada alterasi advanced argillic terlihat terdapat
juga anomali kehadiran emas (<0.2 ppmAu), yang berasosiasi dengan kehadiran
pyrrophillite-kaolinite-dickite.Analisa data terrapectral dilakukan berdasarkan nilai
kristalinitas kaolinit tinggi(>1.5) , kristalinitas mika (>2), keberadaan mineral anomali (biotit,
Fe-chlorite,gypsum) dapat dipakai menentukan pola pathway hydrothermal dan sumber panas
berhubungan dengan sistem intrusif dibawah permukaan, seperti porfiri pada daerah sekitar
Cisuru pada elevasi 200 – 300 mdpl.

Model lithocap Cijulang merupakan tipe cebakan sulfidasi tinggi yang berhubungan
dengan tipe porfiri, yang berkembang pada tubuh diatrem..

Dengan demikian mineralisasi emas dan logam berharga lainnya berasosiasi dengan
keberadaan massive/vuggy quartz dipermukaan dan bawah permukaan. Zona mineralisasi
terbagi menjadi zona Cisuru, Limus dan Dangur. Mineralisasi emas diinterpretasi
berhubungan dengan zona mineral lempung kaolinite – dickite yang berada pada elevasi
relatif lebih mendekati permukaan dengan kontrol sebaran tetap terpengaruh pathway larutan
hidrotermal. Nilai kristalinitas pada zona massive quartz/vuggy quartz yang terdeteksi kaya
kaolinite dickite pada data terrapectral kemungkinan berhubungan dengan batas zona
airmeteorik dan porositas litologi pada daerah Cijulang.

Mengkritisi Hubungan
Dengan melihat sebaran mineralisasi emas pada keberadaan massive atau vuggy
quartz yang terletak pada daerah yang tidak terlalu jauh dengan permukaan, maka dapat
dipilih metode penambangan secara open pit. Tambang terbuka (open pit mine) adalah
bukaan yang dibuat di permukaan tanah, bertujuan untuk mengambil bijih dan akan dibiarkan
tetap terbuka (tidak ditimbun kembali) selama pengambilan bijih masih berlangsung. Metode
ini dirasa lebih efisen dan efektif dalam melkuakn eksploitasi daerah mineralisasi.

Contoh Metode Penambngan Open Pit

Dari model yang didapatkan dan analisa terraspectral mengahislan data sebaran
mineralisasi emas menyebar didalam tubuh diatrem. Sehingga penggunaan metode
penambangan open pit sangat mendukung dalam pengambilan bijih.