Anda di halaman 1dari 2

BPUPKI dan Perumusan Dasar Negara

Perdana Menter Jepang, Jenderal Kuniaki Koiso, pada tanggal 7 September mengumumkan
bahwa Indonesia akan dimerdekakan dikemudian hari sesudah teracapainya kemenangan
akhir dalam perang Asia Timur Raya. Jepang sebenarnya mengharapkan kedatangan sekutu
yang akan datang ke Indonesia akan disambut sebagai penyerbu negara mereka, hal ini
karena Jepang mulai menyadari dekatnya kekalahan dalam perang Pasifik.

Jepang kemudian mengumumkan pembentukan atau Badan Penyelidik Usaha-usaha


Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 1 Maret atau 29 April 1945,
bertepatan dengan ulang tahun Kaisar Jepang, Kaisar Hirohito. Dr. Kanjeng Raden
Tumenggung (K.R.T.) Radjiman Wedyodiningrat, dari golongan nasionalis tua, ditunjuk
menjadi ketua BPUPKI dengan didampingi oleh dua orang ketua muda (wakil ketua), yaitu
Raden Pandji Soeroso dan Ichibangase Yosio (orang Jepang).

Pada tanggal 28 Mei 1945, diadakan upacara pelantikan dan sekaligus seremonial pembukaan
masa persidangan BPUPKI yang pertama di gedung "Chuo Sangi In", yang pada zaman
kolonial Belanda gedung tersebut merupakan gedung Volksraad (Dewan Rakyat), dan kini
gedung itu dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila, yang berlokasi di Jalan Pejambon 6 –
Jakarta.

Anggota BPUPKI

 K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat (ketua)


 R.P. Soeroso (Wakil Ketua)
 Ichibangse Yoshio (Wakil Ketua), orang jepang
 Ir. Soekarno
 Drs. Moh. Hatta
 Mr. Muhammad Yamin
 Prof. Dr. Mr. Soepomo
 KH. Wachid Hasyim
 Abdoel Kahar Muzakir
 Mr. A.A. Maramis
 Abikoesno Tjokrosoejo
 H. Agoes Salim
 Mr. Achmad Soebardjo
 Prof. Dr. P.A.A. Hoesein Djajadiningrat
 Ki Bagoes Hadikusumo
 A.R. Baswedan
 Soekiman
 Abdoel Kaffar
 R.A.A. Poerbonegoro Soemitro Kolopaking
 K.H. Ahmad Sanusi
 K.H. Abdul Salim
 Liem Koen Hian
 Tang Eng Hoa
 Oey Tiang Tjoe
 Oey Tjong Hauw
 Yap Tjwan Bing.
Agenda sidang diawali dengan pembahasan mengenai pandangan tentang bentuk negara
Indonesia. Pembahasan tersebut menyepakati mengenai bentuk negara "Negara Kesatuan
Republik Indonesia" (NKRI). Agenda sidang kemudian dilanjutkan untuk merumuskan
konstitusi negara. BPUPKI kemudian diagendakan merumuskan mengenai dasar negara
Indonesia yang akan menjiwai isi dari UUD NKRI, sebab UUD merupakan awal dari
konstirusi Indonesia yang berdaulat.