Anda di halaman 1dari 17

MODUL 3.

PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

1.1 PENGERTIAN PENGEMBANGAN


Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002,
Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan
memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti
kebenarannya untuk meningkatkan fungsi, manfaat, dan aplikasi ilmu
pengetahuan dan teknologi yang telah ada, atau menghasilkan teknologi baru.
Pengembangan secara umum berarti pola pertumbuhan, perubahan secara
perlahan (evolution) dan perubahan secara bertahap.
Iskandar Wiryokusumo, seorang pakar psikologi juga mengemukakan bahwa
pada hakikatnya pengembangan adalah upaya pendidikan baik formal maupun
non formal yang dilaksanakan secara sadar, berencana, terarah, teratur dan
bertanggung jawab dalam rangka memperkenalkan, menumbuhkan, membimbing,
mengembangkan suatu dasar kepribadian yang seimbang, utuh, selaras,
pengetahuan, keterampilan sesuai dengan bakat, keinginan serta kemampuan-
kemampuan, sebagai bekal atas prakarsa sendiri untuk menambah, meningkatkan,
mengembangkan diri ke arah tercapainya martabat, mutu dan kemampuan
manusiawi yang optimal serta pribadi mandiri.
Dari pendapat ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengembangan
merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar, terencana, terarah untuk
membuat atau memperbaiki, sehingga menjadi produk yang semakin bermanfaat
untuk meningkatkan kualitas sebagai upaya untuk menciptakan mutu yang lebih
baik.

1.2 PENGERTIAN PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN


Kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa inggris personality. Kata
Personality sendiri berasal dari bahasa latin pesona, yang berarti topeng yang
digunakan oleh para aktor dalam suatu permainan atau pertunjukan. Pada saat
pertunjukan para aktor tidak menampilkan kepribadian yang sesungguhnya,
menyembunyikan kepribadiaannya yang asli, dan menampilkan dirinya sesuai
dari topeng yang digunakannya.

26
MODUL 3. PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

Dalam kehidupan sehari-hari, kata kepribadian digunakan untuk


menggambarkan (1) identitas diri, jati diri seseorang, seperti: “Saya seorang yang
pandai bergaul dengan siapa saja”, atau “Saya seorang pendiam”, (2) kesan
seseorang tentang diri anda atau orang lain, seperti “Dia agresif”, atau “Dia jujur”,
dan (3) fungsi-fungsi kepribadian yang sehat atau bermasalah, seperti: “Dia baik”,
atau “Dia pendendam”.
Untuk memperoleh pemahaman tentang kepribadian, berikut dikemukakan
beberapa pengertian dari para ahli.
1. Hall dan Lindzey mengemukakan bahwa secara populer, kepribadian dapat
diartikan sebagai (1) keterampilan atau kecakapan sosial (social skill), dan (2)
kesan yang paling menonjol, yang ditunjukkan oleh seseorang terhadap orang
lain (seperti orang yang dikesani sebagai agresif, atau pendiam).
2. Woodworth mengemukakan bahwa kepribadian merupakan “kualitas tingkah
laku total individu”.
3. Stern mengemukakan bahwa kepribadian adalah kehidupan seseorang secara
keseluruhan, individual, unik, usaha mencapai tujuan, kemampuannya
bertahan dan membuka diri, kemampuan memperoleh pengalaman.
4. Pervin mengemukakan kepribadian adalah seluruh karakteristik seseorang
atau sifat umum banyak orang yang mengakibatkan pola yang menetap dalam
merespon suatu situasi.
5. Maddy atau Burt mengemukakan bahwa kepribadian adalah seperangkat
karakteristik dan kecenderungan yang stabil yang menentukan keumuman
dan perbedaan tingkah laku psikologik (berpikir, perasaan, dan perbuatan)
dari seseorang dalam waktu yang panjang dan tidak dapat dipahami secara
sederhana sebagai hasil dari tekanan sosial dan tekanan biologik saat itu.
6. Dashiell mengartikannya sebagai “gambaran total tentang tingkah laku
individu yang terorganisasi”.

Kepribadian merupakan pola khas seseorang dalam berpikir, merasakan dan


berperilaku yang relatif stabil dan dapat diperkirakan (Dorland, 2002).
Kepribadian juga merupakan jumlah total kecenderungan bawaan atau herediter

27
MODUL 3. PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

dengan berbagai pengaruh dari lingkungan serta pendidikan, yang membentuk


kondisi kejiwaan seseorang dan mempengaruhi sikapnya terhadap kehidupan
(Weller, 2005).
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kepribadian
meliputi segala corak perilaku dan sifat yang khas dan dapat diperkirakan pada
diri seseorang, yang digunakan untuk bereaksi dan menyesuaikan diri terhadap
rangsangan, sehingga corak tingkah lakunya itu merupakan satu kesatuan
fungsional yang khas bagi individu itu.
Tiga karakteristik yang perlu dibahas dalam pembahasan mengenai
kepribadian adalah berikut ini:
1. Kepribadian Mencerminkan Perbedaan Antarindividu
Kepribadian manusia merupakan kombinasi yang unik dari berbagai faktor
karakteristik. Hal inilah yang menyebabkan tak ada dua manusia yang sama
persis. Mereka mungkin sama dalam satu hal atau beberapa faktor dalam
kepribadian mereka, namun tidak secara keseluruhan.
Sebagai contoh, seseorang dapat dikategorikan memiliki keinginan yang
tinggi untuk mendominasi, sementara ada yang dapat dikategorikan memiliki
keinginan rendah untuk mendominasi.
2. Kepribadian Bersifat Konsisten dan Berkelanjutan (Enduring)
Kepribadian seseorang memiliki kecenderungan untuk bersifat konsisten
dan berkelanjutan. Meskipun kepribadian cenderung stabil, seringkali
perilaku mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Hal ini disebabkan oleh
faktor-faktor lain seperti factor-faktor psikologis, sosiokultural dan
lingkungan yang turut mempengaruhi perilaku.
3. Kepribadian Dapat Mengalami Perubahan
Di bawah situasi tertentu, kepribadian bisa mengalami perubahan.
Perubahan dalam kepribadian seseorang bisa disebabkan oleh berbagai
kejadian dalam hidup maupun proses pendewasaan dalam diri manusia
seiring dengan bertambahnya usia.
Sebagai contoh, kepribadian seseorang mengalami perubahan karena
peristiwa-peristiwa besar, seperti kelahiran, kematian atau perceraian. Contoh

28
MODUL 3. PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

lain, seseorang yang telah menginjak masa dewasa memiliki kepribadian


yang berbeda dengan ketika berada di masa kanak-kanak.

1.3 TAHAP-TAHAP PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN


Tahap-tahap perkembangan kepribadian setiap individu tidak dapat
disamakan satu dengan yang lainnya. Tetapi secara umum dapat dirumuskan
sebagai berikut.
a. Fase Pertama
Fase pertama dimulai sejak anak berusia satu sampai dua tahun, ketika anak
mulai mengenal dirinya sendiri.
b. Fase Kedua
Fase ini merupakan fase yang sangat efektif dalam membentuk dan
mengembangkan bakat-bakat yang ada pada diri seorang anak. Fase ini
berlangsung relative panjang hingga anak menjelang masa kedewasaannya
sampai kepribadian tersebut mulai tampak dengan tipe-tipe perilaku yang
khas.
c. Fase Ketiga
Pada proses perkembangan kepribadian seseorang, fase ini merupakan fase
terkhir yang ditandai dengan semakin stabilnya perilaku-perilaku yang khas
dari orang tersebut. Pada fase ketiga terjadi perkembangan yang relative
tetap, yaitu dengan terbentuknya perilaku-perilaku yang khas sebagai
perwujudan kepribadian yang bersifat abstrak. Setelah kepribadian terbentuk
secara permanen, maka dapat diklasifikasikan tiga tipe kepribadian, yaitu
kepribadian normative, kepribadian otoriter, dan kepribadian perbatasan.
1) Kepribadian Normative
Kepribadian ini merupakan tipe kepribadian yang ideal, dimana
seseorang mempunyai prinsip-prinsip yang kuat untuk menerapkan nilai-
nilai sentral yang ada dalam dirinya sebagai hasil sosialisasi pada masa
sebelumya. Seseorang memiliki kepribadian normative apabila terjadi
proses sosialisasi antara perlakuan terhadap dirinya dan perlakuan
terhadap orang lain sesuai dengan tata nilai yang ada di dalam

29
MODUL 3. PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

masyarakat. Tipe ini ditandai dengan kemampuan menyesuaikan diri


yang sangat tinggi dan dapat menampung banyak aspirasi dari orang lain.
2) Kepribadian Otoriter
Tipe ini terbentuk melalui proses sosialisasi individu yang lebih
mementingkan kepentingan diri sendiri dari pada kepentingan orang lain.
3) Kepribadian Perbatasan
Kepribadian ini merupakan tipe kepribadian yang relative labil di mana
ciri khas dari prinsip-prinsip dan perilakunya seringkali mengalami
perubahan-perubahan, sehingga seolah-olah seseorang itu mempunyai
lebih dari satu corak kepribadian. Seseorang dikatakan memiliki
kepribadian perbatasan apabila orang ini memiliki dualism budaya,
misalnya karena proses perkawinan atau karena situasi tertentu hingga
mereka harus mengabdi pada dua struktur budaya yang berbeda.

Faktor-faktor utama dalam pengembangan pribadi adalah:


 Perwujudan fisik dan tata krama pergaulan serta tata busana
 Tingkah laku fisik/keluwesan fisik
 Kemampuan berbicara dan mendengar

Pengembangan pribadi dapat ditempuh melalui:


1. Memiliki rasa percaya diri, memupuk kepercayaan pada diri sendiri dengan
cara:
a. Banyak membaca.
b. Mengikuti berita-berita aktual.
c. Memperdalam pengetahuan dibidangnya.
d. Melatih diri dalam beberapa macam keterampilan.
e. Banyak bergaul dengan berbagai lapangan masyarakat.
2. Berpikir positif terhadap diri sendiri.
3. Mengembangkan inisiatif.

30
MODUL 3. PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

1.4 PERAN, MANFAAT DAN TUJUAN PENGEMBANGAN


KEPRIBADIAN
1. Peran Pengembangan Kepribadian
Pengembangan kepribadian memberikan peran yang sangat besar
kepada kita dalam rangka meningkatkan kualitas diri pribadi, kualitas
hubungan dengan orang lain agar anda mampu berhubungan dengan
lingkungan, semangat untuk selalu menaikan kapasitas dan kualitas
kepribadian anda sehari-hari, akan mendorong anda untuk mengembangkan
kepribadian ke arah yang lebih baik.
Semakin baik kepribadian anda dalam memberikan pelayanan kepada
orang lain maka anda akan memberikan peran yang semakin besar terhadap
penciptaan hubungan yang baik antar orang, orang dengan organisasi, dan
organisasi dengan organisasi. Pada akhirnya akan saling menguntungkan satu
dengan yang lain.
Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang mampu memberikan
manfaat kepada orang lain kalau anda ingin sukses maka tidak ada pilihan
lain kecuali anda harus bermanfaat untuk orang lain.
2. Manfaat Pengembangan Kepribadian
Dengan adanya pengembangan kepribadian yang dilakukan setiap hari
oleh individu yang ingin berubah, maka setiap hari setiap orang akan
berusaha menjadi yang terbaik dalam bekerja serta membantu dan melayani
orang lain secara baik.
3. Tujuan Pengembangan Kepribadian
Secara umum, pengembangan kepribadian bertujuan memperbaiki
kualitas kepribadian secara langsung maupun tidak langsung melalui kegiatan
menciptakan pola berpikir yang positif setiap hari, sehingga setiap orang akan
mencapai derajat kehidupan yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya,
dikarenakan dampak pola pikir positif yang dihasilkan dari pengembangan
kepribadian yang positif setiap hari, yang dilakukan oleh seseorang.

31
MODUL 3. PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

1.5 JENDELA JOHARI (THE JOHARI WINDOW)


Pribadi orang dapat digambarkan terdiri atas empat bidang atau komponen
yang merupakan hasil pengamatan/ persepsi orang terhadap diri sendiri dan orang
lain. Jadi pribadi orang dapat digambarkan sebagai suatu “jendela” seperti di
bawah ini:

1. Bidang 1: Pribadi terbuka (public self, open self, shared image)


Bagian pribadi yang disadari oleh diri sendiri dan ditampilkan kepada orang
lain atas kemauan sendiri. Misalnya berbagai perasaan, pendapat, dan pikiran-
pikiran yang dipilih untuk disampaikan kepada orang lain. Juga hal-hal yang
tidak dapat ditutupi terhadap orang lain, seperti: paras muka, bentuk badan,
umur yang tampak pada keadaan badan (tua, muda), meskipun banyak orang
ingin menutupinya.
2. Bidang 2 : Pribadi tersembunyi (hidden self, concealed self/ image)
Bagian pribadi yang disadari oleh diri sendiri, tetapi secara sadar ditutup-
tutupi atau disembunyikan terhadap orang lain. Mungkin juga orang tidak
tahu bagaimana menyampaikan dirinya kepada orang lain (tidak setuju
tentang pendapat orang lain tetapi tidak dapat menyampaikan hal itu) karena
kalau disampaikan akan membuat malu diri sendiri, misalnya perasaan
ketidakpastian, keinginan-keinginan yang rahasia dan sebagainya.
3. Bidang 3: Pribadi terlena (blind spots, blind self, complementry image)
Bagian pribadi yang tanpa disadari oleh diri sendiri, tertutup oleh dirinya
akan tetapi tersampaikan kepada orang lain atau diketahui oleh orang lain.
Misalnya: kebiasaan, sifat, dan kemampuan tertentu yang tidak disadari ada

32
MODUL 3. PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

pada diri sendiri, yang sering berpengaruh (positif/ negatif) dalam


berhubungan dengan orang lain (sering membuat interupsi, kurang
memperhatikan perasaan orang lain, senang membantah, membanggakan diri
sendiri).
4. Bidang 4 : Pribadi yang tak dikenal oleh diri sendiri dan oleh orang lain
(unknown self, unconscious image)
Bagian pribadi yang tidak dikenal oleh diri sendiri dan oleh orang lain ini
adalah berupa motif-motif, kebutuhan-kebutuhan yang tidak disadari
terlupakan atau didesak ke bawah kesadaran sehingga tidak dikenal lagi dan
masih mempengaruhi tindakan dalam berhubungan dengan orang lain.

1.6 TIPE-TIPE KEPRIBADIAN


Tipe kepribadian merupakan sikap yang khas dari individu dalam berperilau
dan merupakan segala yang mengarah keluar atau kedalam dirinya sehingga dapat
dibedakan dengan individu lain.
Tipe-tipe kepribadian dibagi menjadi dua macam, diantaranya:
1. Tipe kepribadian Ekstrovert
Ekstrovert adalah suatu kecenderungan sikap yang mengarahkan
kepribadian lebih cenderung ke luar daripada ke dalam diri sendiri. Pikiran,
perasaan, serta tindakannya lebih banyak ditentukan oleh lingkungan.
Orang ekstrovert dalam berperilaku digambarkan sebagai orang yang
terbuka, periang, suka bergaul dengan orang lain, cenderung berinteraksi
denan masyarakat, agresif, kurang bertanggung jawab dan optimis.
2. Tipe kepribadian Introvert
Introvert adalah suatu sikap atau orientasi ke dalam diri sendiri. Introvert
umumnya memperlihatkan kecenderungan bersifat diam, dapat dipercaya,
rendah diri, kaku tidak suka bergaul dengan orang lain, jiwanya tertutup,
teliti tapi lambat bekerja, penuh pertimbangan sebelum bertindak, bersifat
damai dan pasif.

33
MODUL 3. PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

Seorang introvert memiliki penyesuaian dengan batinnya sendiri dengan


baik, dimana dia akan melakukan sesuatu menurut caranya sendiri, dan
menutup terhadap pengaruh dunia luar.

Indikator tipe kepribadian Ekstrovert dan Introvert dapat dilihat pada Tabel 1:
Tabel 1. Indikator Kepribadian Ekstrovert dan Introvert
Karakteristik Ekstrovert Introvert
Umumnya aktif dan
Aktivitas Cenderung tidak aktif
energik
Lebih menyukai beberapa teman
Menyukai kegiatan sosial, khusus dan menyenangi
Kesukaan bergaul
pesta, dan mudah bergaul kegiatan menyendiri seperti
membaca
Keberanian Menyukai kegiatan yang Menyukai keakraban dan hal-
mengambil resiko memberikan tantangan hal yang di rasa aman
Cenderung bertindak tanpa
Penurutan dorongan Mempertimbangkan berbagai
dipikirkan terlebih dahulu
kata hati masalah dengan hati-hati
dan tak berpendirian tetap
Cenderung memperhatikan
Sangat andai menguasai diri,
Pernyataan perasaan emosinya ke arah luar dan
tenang, dan tidak memihak
terbuka
Dalam bekerja lebih
Memiliki pola pikir yang
tertarik untuk melakukan
Kedalaman berpikir bersifat teoritis, tertarik pada
berbagai hal dibandingan
ide-ide dan diskusi
memikirkan hal tersebut
Cenderung terlambat, tidak
Cenderung berhati-hati, teliti,
Tanggung jawab menepati janji, serta kurang
dan bertanggung jawab
bertanggung jawab

1.7 PENGERTIAN PROFESIONALISME KERJA


Profesionalisme berasal dari kata bahasa inggris professionalism yang secara
leksikal berarti sifat profesional. Orang yang profesinonal memiliki sikap-sikap
yang berbeda dengan orang yang tidak professional meskipun dalam pekerjaan
yang sama atau katakanlah berada pada satu ruangan kerja. Sifat profesional
berbeda dengan sifat para profesional atau tidak profesional sama sekali. Sifat
yang dimaksud adalah seperti yang dapat ditampilkan dalam perbuatan , bukan
yang dikemas dalam kata-kata yang diklaim oleh pelaku secara individual.
Tantric Abeng (dalam Moeljono 2003:107), menyatakan bahwa
“Profesionalisme terdiri dari atas tigas unsur, yaitu Knowledge, Skill, Integrity,

34
MODUL 3. PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

dan selanjutnya ketiga unsur tersebut harus dilandasi dengan iman yang teguh,
pandai bersyukur, serta kesediaan untuk belajar terus-menerus jadi dapat
dikatakan bahwa profesionalisme kerja adalah suatu kemampuan dan
keterampilan seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai dengan bidang dan
tingkatan masing-masing secara tepat waktu dan cermat. Profesionalisme
menyangkut kecocokan antara kemampuan yang dimiliki oleh birokrasi dengan
kebutuhan tugas.artinya keahlian yang dimiliki dan kemampuan aparat
merefleksikan arah dan tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi.
Agung Kurniawan (2005:73), menyatakan bahwa “ Profesional dapat
diartikan sebagai suatu kemampuan dan keterampilan seseorang dalam melakukan
pekerjaan menurut bidang dan tingkatan masing-masing. Profesionalisme
menyangkut kecocokan (fitness) antara kemampuan yang dimiliki oleh birokrasi
(bureaucratic competence)dengan kebutuhan tugas (task-requirement).
Sudarwan Danim (2002:23) menyatakan bahwa, Profesionalisme dapat
diartikan sebagai komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan
kemampuan profesionalnya dan terus-menerus mengembangkan strategi-strategi
yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya itu.
Atmosoeprapto (dalam Agung Kurniawan 2005) menyatakan bahwa,
Profesionalisme merupakan cerminan dari kemampuan (competensi),yaitu
memiliki pengetehuan (knowledge), keterampilan (skill), bisa melakukan (ability),
ditunjang dengan pengalaman (experience) yang tidak mungkin muncul tiba-tiba
tanpa melalui perjalanan waktu.
Atik Purwandari (2008:57) menyatakan bahwa, Profesionalisme adalah
memberi pelayanan sesuai dengan bidang ilmu yang dimiliki dan manusiawi
secara penuh/utuh tanpa memetingkan kepentingan pribadi melainkan
mementingkan kepentingan klien serta menghargai klien sebagaimana
menghargai diri sendiri.
Seorang profesional dianggap memiliki keahlian, akan melakukan kegiatan-
kegiatan diantaranya pelayanan publik dengan mempergunakan keahliannya itu
sehingga menghasilkan pelayanan publik yang menjadi lebih baik mutunya, lebih

35
MODUL 3. PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

cepat prosesnya, mungkin lebih bervariasi yang kesemuanya mendatangkan


kepuasan pada masyarakat.
Adapun ukuran profesional tidaknya pekerja yang memberikan pelayanan
kepada masyarakat dapat dilihat dari pelayanan yang diberikan. Apabila
pelayanan yang diberikan baik dan sesuai kepada mahasiswa yang dilayani, maka
mahasiswa dapat menyatakan bahwa pelayanan telah diberikan secara profesional.
Dan sebaliknya, apabila mahasiswa masih merasakan kekecewaan terhadap
pelayanan yang diberikan berarti perlu dilakukan peningkatan profesionalitas.
Mahasiswa yang paling berhak untuk memeberikan penilaian terhadap
pelayanan yang diberikan oleh pegawai.

1.8 CIRI-CIRI PROFESIONALISME


Suhrawardi K Lubis (2000:10) menyatakan bahwa, “Profesionalisme
biasanya dipahami sebagai kualitas yang wajib dimiliki untuk meningkatkan
kualitas pelayanan, maka pegawai perlu memiliki ciri-ciri profesional antara lain
adalah:
1. Punya keterampilan tinggi dalam satu bidang, serta kemahiran dalam
mempergunakan peralatan tertentu yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas
yang bersangkutan dengan bidang nya,
2. Punya ilmu dan pengetahuan serta kecerdasan dalam menganalisa suatu
masalah dan peka didalam membaca situasi, cepat dan tepat serta cermat
dalam mengambil keputusan terbaik atas dasar kepekaan,
3. Punya sikap berorientasi ke hari depan, sehingga punya kemampuan
mengantisipasi perkembangan lingkungan yang terentang dihadapannya,
4. Punya sikap mandiri berdasarkan keyakinan akan kemampuan pribadi serta
terbuka menyimak dan menghargai pendapat orang lain, namun cermat dalam
memilih yang terbaik bagi dirinya dan perkembangan pribadinya.

Ada 8 syarat yang harus dimiliki oleh seseorang jika ingin jadi seorang
Profesional:
1. Menguasai Pekerjaan
2. Mempunyai Loyalitas

36
MODUL 3. PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

3. Mempunyai Integritas
4. Mampu Bekerja Keras
5. Mempunyai Visi
6. Mempunyai Kebanggaan terhadap Profesinya
7. Mempunyai Komitmen
8. Mempunyai Motivasi

1.9 PRINSIP-PRINSIP PERILAKU PROFESIONALISME


Prinsip-prinsip perilaku profesionalisme adalah sebagai berikut:
1. Tanggung jawab
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai professional hendaklah
melaksanakan pertimbangan professional dan moral seluruh keluarga.
2. Kepentingan publik
Harus menerima kewajiban untuk bertindak dalam melayani kepentingan
publik, menghormati kepercayaan publik
3. Integritas
Untuk mempertahankan dan memperluas publik maka harus melaksanakan
seluruh tanggung jawab professional.
4. Obyektifitas dan Independent
Seseorang professional harus mampu mempertahankan obyektifitas dan bebas
dari konflik.
5. Kecermatan dan keseksamaan
Anggota harus mengamati standar teknis dan standar etnik profesi.
6. Lingkup dan sifat produk jasa
Seseorang professional dalam praktik publik harus mengamati prinsip
perilaku professional dalam menentukan lingkup dan sikap produk dan jasa
yang diberikan.

37
MODUL 3. PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

1.10 WATAK KERJA SEORANG PROFESIONALISME


Tiga watak kerja seorang Profesional:
1. Kerja seorang profesional itu beritikad untuk merealisasikan kebajikan demi
tegaknya kehormatan profesi yang digeluti, dan oleh karenanya tidak terlalu
mementingkan atau mengharapkan imbalan upah materiil.
2. Kerja seorang profesional itu harus dilandasi oleh kemahiran teknis yang
berkualitas tinggi yang dicapai melalui proses pendidikan dan/atau pelatihan
yang panjang, ekslusif dan berat.
3. Kerja seorang professional diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral
harus menundukkan diri pada sebuah mekanisme kontrol berupa kode etik
yang dikembangkan dan disepakati bersama didalam sebuah organisasi
profesi.

Seorang dikatakan profesional jika ia mahir dalam bidang pekerjaannya


dimana iamendapatkan penghasilan dari sana. Kemahiran ini didukung dengan
beberapa indikator dan kriteria, antara lain sebagai berikut:
1. Kualifikasi akademik atau latar belakang pendidikan.
2. Ketrampilan yang mumpuni dan pengalaman di bidang tersebut.
3. Menghasilkan karya dan produk dibidang yang ditekuninya.
4. Mempunyai dedikasi dan etika kerja yang sungguh-sungguh.

Mertin Jr (dalam Agung Kurniawan 2005:74) menyatakan bahwa


karakteristik profesionalisme aparatur sesuai dengan tuntutan good governance,
diantaranya adalah:
1. Equality, Perlakuan yang sama atas pelayanan yang diberikan.
2. Equity, Perlakuan yang sama kepada masyarakat secara adil dan adanya
kesetaraan.
3. Loyality, Kesetiaan diberikan kepada konstitusi, hukum, pimpinan, bawahan,
rekan kerja. Berbagai jenis kesetiaan tersebut terkait satu sama lain dan tidak
ada kesetiaan yang mutlak diberikan kepada satu jenis kesetiaan tertentu
dengan mengabaikan yang lain.

38
MODUL 3. PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

4. Accountability, setiap aparat pemerintah harus siap menerima tanggung jawab


atas apapun yang ia kerjakan dan harus menghindar kan diri dari sindroma
“saya sekedar melaksanakan perintah atasan”.

Berdasarkan karakteristik diatas dapat diketahui bahwa profesionalisme


pegawai sangat ditentukan oleh tingkat kemampuan pegawai yang tercermin
melalui sikap dan perilakunya sehari-hari dalam organisasi.

39
MODUL 3. PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

LAMPIRAN PERTANYAAN

1. Ayu Yolen Dilla Fransisca


Dalam tahap-tahap pengembangan kepribadian, pada tahap ketiga telah
disebutkan mengenai 3 tipe kepribadian yaitu kepribadian normative,
kepribadian otoriter dan keprobadian perbatasan. Jelaskan mengenai tipe-tipe
kepribadian tersebut serta berikan contohnya!
Jawab:
1) Kepribadian Normative
Kepribadian ini merupakan tipe kepribadian yang ideal, dimana
seseorang mempunyai prinsip-prinsip yang kuat untuk menerapkan nilai-
nilai sentral yang ada dalam dirinya sebagai hasil sosialisasi pada masa
sebelumya. Seseorang memiliki kepribadian normative apabila terjadi
proses sosialisasi antara perlakuan terhadap dirinya dan perlakuan
terhadap orang lain sesuai dengan tata nilai yang ada di dalam
masyarakat. Tipe ini ditandai dengan kemampuan menyesuaikan diri
yang sangat tinggi dan dapat menampung banyak aspirasi dari orang
lain.
Contohnya: seseorang yang mampu beradaptasi dan bersosialisasi
dengan baik terhadap orang-orang yang baru dikenal, seseorang yang
terbuka dalam menerima pendapat orang lain.
2) Kepribadian Otoriter
Tipe ini terbentuk melalui proses sosialisasi individu yang lebih
mementingkan kepentingan diri sendiri dari pada kepentingan orang
lain.
Contohnya: seseorang yang lebih cenderung memaksakan pendapat
pribadinya daripada menerima pendapat dari orang lain
3) Kepribadian Perbatasan
Kepribadian ini merupakan tipe kepribadian yang relative labil di mana
ciri khas dari prinsip-prinsip dan perilakunya seringkali mengalami
perubahan-perubahan, sehingga seolah-olah seseorang itu mempunyai

40
MODUL 3. PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

lebih dari satu corak kepribadian. Seseorang dikatakan memiliki


kepribadian perbatasan apabila orang ini memiliki dualism budaya.
Contohnya: seseorang karena proses perkawinan atau karena situasi
tertentu hingga mereka harus mengabdi pada dua struktur budaya yang
berbeda. Selain itu juga seseorang yang tidak memiliki pendirian yang
tetap dapan dikatakan memiliki kepribadian perbatasan.

2. Shanty Nur Meuthia


Di dalam pengembangan kepribadian, terdapat 8 syarat yang harus dimiliki
oleh seorang profesional, salah satunya yaitu memiliki komitmen. Apa yang
dimaksud seseorang tersebut harus memiliki sifat berkomitmen pada diri
sendiri? Kemudian pada prinsip-prinsip perilaku profesionalisme telah
dijelaskan mengenai prinsip-prinsip yang harus dilakukan profesionalisme,
salah satunya yaitu mengikuti/melayani kepentingan publik, bagaimana
pendapat anda jika seorang yang profesionalisme itu tidak mengikuti
kepentingan publik, namun menentang kepentingan publik tersebut? Apakah
masih bisa disebut seorang yang profesional?
Jawab:
Setiap orang di dalam pekerjaan, harus memiliki komitmennya masing-
masing terhadap diri sendiri. Dimana tujuannya dengan memiliki komitmen
tersebut seseorang dapat lebih bertanggung jawab dalam pekerjaannya. Jika
seseorang tersebut tidak memiliki komitmen dapat dikatakan bahwa orang
tersebut bukanlah orang yang profesional. Dengan memiliki komitmen juga
dapat dinyatakan bahwa orang yang profesional dalam bekerja telah siap
untuk melayani kepentingan publik. Karena seseorang yang mau memulai
suatu pekerjaan, berarti dia telah siap untuk menerima resiko apapun yang
akan dihadapi demi meningkatkan kepentingan publik.

3. Yonada Khairunnisa
Telah dijelaskan sebelumnya mengenai tipe-tipe kepribadian dan
profesionalisme kerja. Apa hubungan antara tipe kepribadian dan

41
MODUL 3. PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

profesionalisme? Dan bagaimana tipe kepribadian tersebut bisa berhubungan


dengan profesionalisme kerja?
Jawab:
Dalam pengembangan kepribadian, terdapat 2 tipe kepribadian yaitu tipe
kepribadian ekstrovert dan tipe kepribadian intovert. Setiap tipe kepribadian
tersebut memiliki keunggulannya masing-masing yang akibatnya akan
memberikan pengaruh terhadap profesionalisme dalam bekerja. Seperti tipe
kepribadian ekstrovert memiliki sikap yang lebih terbuka, periang, mampu
beradaptasi dengan baik serta optimis, tipe kepribadian ini dalam dunia
kerja umumnya lebih cocok untuk bekerja di bagian lapangan, pabrik,
operator dan sebagainya. Sedangkan untuk tipe kepribadian intovert
memiliki sifat cenderung pendiam, kaku, dapat dipercaya, teliti, pasif dll.
Tipe kepribadian ini biasanya lebih menyukai pekerjaan yang lebih banyak
berada di dalam suatu ruangan daripada di lapangan. Untuk menentukan
seseorang tersebut memiliki tipe kepribadian ekstrovert ataupun intovert, hal
itu bisa kita lihat pada saat dilakukannya tes pekerjaan. Dimana di dalam tes
pekerjaan tersebut terdapat tes berupa psikotes dan wawancara. Tes tersebut
berguna untuk mengetahui tipe kepribadian masing-masing tiap calon
pegawainya, sehingga tidak terjadi salah penempatan calon pegawainya.

42