Anda di halaman 1dari 10

II.

Polimerisasi
Polimerisasi adalah proses penggabungan molekul-molekul kecil menjadi
molekul besar. Reaksi umumnya adalah sebagai berikut :
M CnH2n Cm+nH2(m+n)
Contoh polimerisasi yaitu penggabungan senyawa isobutena dengan
senyawa Isobutana menghasilkan Bensin berkualitas tinggi, yaitu Isooktana.

A. Sifat Fisik dan Kimia Bahan Baku dan Produk


1. Sifat Fisik dan Kimia Bahan Baku
a. Isobutena
1. Gaya tarik antar molekul lebih kecil
2. Mudah menguap
3. Mempunyai titik didih yang lebih rendah

b. Isobutana
1. Rumus molekul : CH(CH3)3.
2. Merupakan isomer dari butana
3. Mudah menguap
4. Mudah terbakar

2. Sifat Fisik dan Kimia Produk


a. Gasoline
1. Titik didih : 40°C – 220°C
2. Daya melarutkan : Tinggi
3. Daya oksidasi/penguapan : Cepat
4. Masa Penggunaan : 4 kali
5. Density : 0.68 gr/ml
B. Polimerisasi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
1. Polimerisasi Termis
Meskipun tidak seefektif polimerisasi katalis, polimerisasi termis telah banyak
dipakai pada beberapa kilang minyak dan secara khusus dapat memberdayakan
gas-gas jenuh yang tak dapat dipolimerisasi langsung dengan katalis. Proses
polimerisasi termis terdiri dari perengkahan fasa uap senyawa propana dan butana
diikuti dengan memperpanjang waktu reaksi polimerisasi pada suhu 950 – 1100
oF, selanjutnya diikuti dengan reaksi-reaksi dekomposisi, depolimerisasi dan
sebagainya. Reaksi perengkahan mula-mula sangat endotermis, tetapi reaksi pada
zona polimerisasi adalah eksotermis.
Propana sangat jarang dipakai sebagai umpan karena harus dilakukan pada
suhu dan tekanan tinggi meskipun gas ini biasa terikut dalam aliran daur ulang.
Data kecepatan reaksi sangat langka, tetapi dapat dihitung berdasarkan Persamaan
Nelson sebagai berikut :

K2 1 x
---- = ----- -----------
P t P a (1 – x)

Dimana :
K2 = tetapan kecepatan reaksi
t = waktu, menit
P = tekanan, psi
x = fraksi olefin yang bereaksi selama waktu t menit
a = fraksi olefin yang terkandung dalam umpan

Polimerisasi termis mengubah C4 dan gas-gas kilang yang lebih ringan


menjadi produk-produk cair hasil kondensasi. Proses ini dapat dipakai terutama
untuk mengolah bensin alam (natural gasoline) yang mengandung propena dan
butena yang berlimpah ruah. Olefin-olefin tersebut diperoleh dengan cara
dekomposisi termis dan polimerisasi dengan panas dan bertekanan.
Gambar 3. Diagram Alir Proses Polimerisasi Termis Proses Kellog

Umpan olefin sebelum masuk ke dapur polimerisasi biasanya dipersiapkan


lebih dahulu melalui pemurnian (feed preparation). Hal ini dilakukan mengingat
gas-gas tersebut mungkin mengandung sulfur atau asam sulfida, mempunyai
tekanan rendah, konsentrasinya kurang atau tidak stabil.
Umpan cair (Olefin) dengan tekanan 1200 – 2000 psig dipompakan ke dalam
dapur polimerisasi untuk dipanaskan menjadi 975 – 1100 0F. Kemudian keluaran
dari dapur polimerisasi didinginkan dan distabilisasikan di dalam Quench
Stabilizer, polimer gasoline dipisahkan dengan cara fraksionasi. Gas yang keluar
dari stabilizer dikembalikan ke pemisah uap atau didalam fraksionatot untuk
dipisahkan C3 dan C4 sebagai daur ulang.

2. Polimerisasi Katalis
Polimerisasi katalis adalah proses kontinyu dimana gas-gas olefin di konversi
dengan katalis menjadi produk-produk cair hasil kondensasi.
Katalis yang digunakan adalah Asam Sulfat dan Asam Phosfat dalam berbagai
bentuk. Demikian juga dengan silika Alumina, Aluminium Khlorida, Boron
Trifluorida dan Bauksit aktif.
Katalis polimerisasi terdiri atas empat jenis, yaitu katalis asam fosfat cair,
katalis padat asam fosfat dengan penunjang kieselguhr (katalis padat), kupri
pirofosfat dengan karbon aktif sebagai pendukung,dan katalis alkil aluminium
(senyawa organic kompleks berbasis pada Raney nikel).

a. Katalis Polimerisasi
Katalis didefinisikan sebagai zat yang dapat mempercepat dan mengendalikan
reaksi tetapi tidak tergabung dalam produk reaksi. Kemampuan
katalismempercepat reaksi merupakan akibat dari kemampuannya berinteraksi
dengan reaktan-reaktan membentuk senyawa antara yang aktif. Industri kimia
kimia menggunakan katalis untuk mempercepat reaksi yang terlibat didalamnya.
Pada umumnya katalis bersifat spesifik artinya katalis tertentu hanya
mempercepat reaksi tertentu saja. Katalis dibentuk dari komponen-komponen
yang dapat menunjang sifat katalis yang diharapkan seperti aktif, selektif, stabil
dan murah serta memiliki konduktivitas termal yang tinggi. Fasa aktif
mengemban fungsi utama katalis untuk mempercepat dan mengarahkan reaksi.
Katalis ini tidak memiliki kemampuan memindahkan elektron. Oleh karena itu
katalis insulator ini tidak aktif dalam reaksi redoks. Tetapi, karena zeolit memiliki
pusat asam baik bronsted atau lewis, maka zeolit bisa aktif dalam reaksi yang
melibatkan senyawa antarakarbokation dan karbonion seperti polimerisasi.
Penelitian tentang katalis pada polimerisasi styrena telah dilakukan, hasil dari
penelitian ini menunjukkan ada 4 kompleks logam transisi yang telah terbukti
sebagai katalis pada proses tersebut, yaitu Ti (IV,III,II) Co (III), Cr(III) dan Ni(II).
Namun demikian katalis tersebut dalam bekerjanya harus didukung ko-katalis
yaitu suatusenyawa organologam MAO dan TIBA (Norman, 1986).
Laju reaksi polimerisasi olefin dipengaruhi oleh konsentrasi katalis asam.
Konsentrasi asam tinggi mengarah ke pembentukan polimerisasi tinggi yang akan
membentuk produk poliolefin/residu yang akan menutupi permukaan katalis
padat.
Aktivitas katalis mempengaruhi derajat konversi umpan olefin, sedang
kualitas produk polimer yang dihasilkan ditentukan oleh selektivitas katalis
tersebut. Derajat hidratasi optimum dari katalis padat dapat menghasilkan katalis
beraktivitas tinggi. Makin tinggi temperatur makin tinggi diperlukan derajat
hidratasi katalis yang diperlukan. Derajat hidratasi katalis harus dijaga tetap
dengan injeksi air ke dalam umpan olefin.
Racun katalis asam fosfat adalah senyawa sulfur, basa, amonia, senyawa
nitrogen organik. Oksigen dapat mempercepat reaksi polimerisasi tinggi yang
produknya akan mengendap pada permukaan katalis padat. Umpan olefin yang
mengandung kadar butadiena > 3% vol akan terpolimerisasi menjadi kokas.

b. Proses polimerisasi katalis dapat dibagi menjadi :


1.Polimerisasi Tidak Selektif
Polimerisasi tidak selektif adalah suatu proses polimerisasi yang terjadi pada
suhu dan tekanan yang tinggi dengan umpan berupa campuran hidrokarbon C3
dan C4 menggunakan katalis asam pospat. Ada tiga modifikasi penggunaan asam
pospat sebagai katalis yang banyak dipakai ialah :
a. Kuarsa yang dibasahi dengan larutan asam
b. Pelet yang diresapi asam (asam pospat padat ) yang diisikan didalam chamber
c. Katalis padat berbentuk pellet yang dimuat dalam tube yang dikelilingi oleh
air pendingin didalam reactor. Reaktor polimerisasi ini dijaga pada suhu 190 –
2300C, dan tekanan sekitar 500 psia.
Sebagai tambahan, tembaga piro pospat juga digunakan secara luas sebagai
katalis menghasilkan produk yang hamper sama dengan asam pospat dengan suhu
reaksi yang lebih rendah.
Polimerisasi tidak selektif terdiri dari tiga yaitu polimerisasi UOP,
polimerisasi California, polimerisasi Chevron.
a. Polimerisasi UOP
Polimerisasi katalis proses UOP adalah proses polimerisasi tidak selektif
menggunakan katalis asam pospat yang dijenuhkan di dalam kieselguhr (katalis
padat) dan berbentuk pellet. Katalis ditempatakan di dalam tube sedangkan air
pendingin berada di dalam shell. Proses polimerisasi UOP terdiri dari 3 seksi
pengolahan yaitu :
1. Seksi pembersihan atau pemurnian umpan
2. Seksi Reaktor
3. Seksi pemisahan hasil- hasil reaksi

 Seksi pembersihan atau pemurnian umpan


Pada seksi ini kotoran yang terdapat di dalam umpan dipisahkan dengan
larutan soda dan dengan air karena merupakan racun bagi katalis. Kotoran utama
yang harus dipisahkan adalah senyawa-senyawa nitrogen, asam ataupun basa, lalu
senyawa-senyawa belerang dalam bentuk gas atau larutan H2S maupun
merkaptan. Senyawa nitrogen yang bersifat asam (HCN, HOCN, dsb). Bila
dibiarkan di dalam system akan berubah menjadi ammonia dan kemudian menjadi
ammonium pospat yang akan merusak daya rangsang katalisator (menurunkan
aktivitas katalis) menurut reaksi sbb :
RCN + 2H2O ―> RCOOH + NH3
3NH3 + H3PO ―> (NH4)3PO4

Senyawa nitrogen asam ini dapat dihilangkan dengan larutan soda sedangkan
senyawa nitrogen basa (NH3 dan amina) dapat dihilangkan dengan mencucinya
dalam air.
Senyawa – senyawa sulfur (H2S dan merkaptan) bila tidak dibuang akan
merubah menjadi senyawa-senyawa yang sulit dihilangkan dari polimer gasoline
dan akan menyebabkan turunnya angka oktan. Senyawa- senyawa sulfur ini
bersifat asam dan dapat dihilangkan dengan larutan soda.

 Seksi Reaktor
Umpan hidrikarbon (campuran propilen atau butilen) yang sudah dibersihkan
dan dipanaskan secukupnya direaksikan dalam reactor. Tipe reactor UOP ada 2
macam yaitu tipe shell & tube heat exchanger dan tipe chamber. Reaksi
polimerisasi adalah reaksi eksotermis sehingga diperlukan air untuk menyerap
panas yang terjadi dan juga berfungsi sebagai pengatur suhu reactor yang di
control oleh tekanan steam dari steam drum.
Proses variable mempengaruhi reaksi di dalam reactor adalah suhu sekitar
4300F dan tekanan operasi 1000 – 1100 psig, kadar olefin di dalam umpan 35 – 45
% dan kecepatan olefin pada permukaan katalisator ( space velocity ) dirancang
0.28 gallon umpan per jam per lb katalis.

 Seksi Pemisahan Hail-Hasil Reaksi


Campuran hasil reaksi yang keluar dari dasar reactor didinginkan dan
tekanannya diturunkan menjadi 300 psig sebelum masuk ke seksi pemisahan.
Campuran hasil reaksi pertam kali dimasukkan kedalam menara depropanizer
untuk memisahkan propan dan gas-gas lain yang lebih ringan. Senyawa yang
lebih berat dari propan akan keluar dari dasar menara dan selanjutnya dikirim ke
menara botanizer untuk memisahkan fraksi butan yang lebih ringan. Fraksi yang
lebih berat dari butan adalah polimer gasoline dengan RVP 8 psi dan FBP 400-
420 oF.

Gambar 4. Diagram Alir Proses Polimerisasi Tak Selektif Proses UOP

b. Polimerisasi California
C3, dan / atau C4 menjadi motor fuel beroktan tinggi, konversi propilen dan
benzene menjadi kumen. Proses polimerisasi ini menggunakan katalis asam posfat
yang berada dalam kepingan kuarsa yang ditempatkan di dalam reactor.
Regenerasi katalis terdiri dari pencucian dan pengeringan dengan steam, kontak
dengan asam didalam reactor dan pembuangan kelebihan asam. Suhu reaksi dan
tekanan operasi adalah 300-375 oF dan 150-600 psig.

c. Polimerisasi Chevron
Proses polimerisasi ini dilisensi oleh Chevron Research Co untuk
memproduksi polimer gasoline yang mempunyai oktan tinggi dengan umpan
olefin ringan. Konsentrasi olefin dapat mencapai 95%. Katalis yang dipakai
adalah asam posfat cair.

2. Polimerisasi Seleketif
Polimerisasi selektif adalah proses polimerisasi yang menggunakan umpan
hanya draksi C4 saja atau fraksi C3 saja yang berlangsung pada suhu yang lebih
rendah dibandingkan dengan polimerisasi tidak selektif.
Polimerisasi termis tidak begitu efektif dibandingkan dengan polimerisasi
katalis. Proses polimerisasi termis berlangsung pada suhu tinggi dan tekanan
rendah yang menandakan bersifat heterogen, hanya praktis untuk kapasitas yang
besar sebab sukar mengataur keseimbangan panas pada unit-unit yang kecil.
Proses polimerisasi katalis berlangsung pada suhu rendah (sekitar 3000F)
dan tekanan tinggi 750 Psig, sangat praktis untuk kapasitas besar ataupun kecil
dan dapat dikombinasikan dengan proses reforming untuk menaikkan kualitas
gasoline.

C. Proses Polimerisasi
Proses polimerisasi atau proses kondensasi katalitik umpan olefin rendah
dengan katalis asam akan menghasilkan produk oligomer olefin (bensin polimer
atau polygasoline) berangka oktana tinggi RON 93–100 dengan trayek titik didih
mendekati trayek didih bensin. Umpan olefin adalah propilena (C3) dan butilena
(C4) yang dihasilkan dari proses perengkahan baik termal maupun katalitik, dan
produk bensin polimer yang dihasilkan mengandung olefin C6, C7, dan C8 (bensin
polimer).
Proses UOP Catalytic Condensation Olefin C3 atau C4 menggunakan katalis
asam fosfat kieselguhr (katalis padat) untuk menghasilkan produk bensin polimer.
Proses ini adalah proses polimerisasi non-selektif yang dapat juga dipakai untuk
polimerisasi olefin C3 atau C4 menjadi produk olefin berat bertrayek titik didih
tinggi seperti bahan bakar avtur dan solar, yang produknya ini masih perlu
dihidrogenerasi untuk menjenuhkan hidrokarbon olefinnya
Proses polimerisasi propilena berjalan lebih lambat daripada butilena. Pada
temperatur rendah, tekanan tinggi dengan konversi umpan rendah, proses
polimerisasi olefin tersebut dapat menghasilkan produk bensin polimer berangka
oktana tinggi. Produk polimer berat dihasilkan pada proses polimerisasi olefin
pada temperature dan tekanan tinggi.
Sensivitas tinggi dari bensin polimer tersebut merupakan suatu kelemahannya
dibanding komponen bensin alkilat tetapi kedua bensin (polimer dan alkilat)
mempunyai distribusi angka oktana homogen (baik). Keuntungan proses
polimerisasi ini, ialah bahwa ia tidak memerlukan umpan isobutana yang
produksinya terbatas seperti halnya proses alkilasi.
Proses polimerisasi merubah produk samping gas hirokarbon yang dihasilkan
pada cracking menjadi hidrokarbok liquid yang bisa digunakan sebagai:
a. Bahan bakar motor dan penerbangan yang memiliki bilangan oktan yang
tinggi.
b. Bahan baku petrokimia.
Bahan dasar utama dalam proses polimerisasi adalah olefin (hidrokarbon
tidak jenuh) yang diperoleh dari cracking still. Contohnya propilen, n-butilen,
isobutilen.

D. Kegunaan Produk
Bensin berkualitas tinggi, yaitu isooktana mempunyai kegunaan sebagai
berikut :
1. Bahan bakar motor
Sebagai bahan bakar motor ada beberapa sifat yang diperhatikan untuk
menentukan baik atau tidaknya bensin tersebut.
2. bensin hasil penyulingan dapat dipergunakan sebagai bahan pengekstrak
lemak karena tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok baik pada titik
didih, massa penggunaan, capasitas ataupun densitasnya.
3. Sebagai sumber energi
4. Sebagai bahan bakar penerangan dan pemanasan.