Anda di halaman 1dari 58

UNIT PELAJARAN

QU-1.3

MODUL 3 - SEMESTER 1

MENGEMBANGKAN BUDAYA MUTU

BUDAYA MUTU DI TINGKAT PERSONAL, TEMPAT KERJA DAN


INSTITUSIONAL
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Asosiasi Politeknik Indonesia (ASPI)


Edisi pertama, 2007
Publikasi ini dibuat dan dikembangkan atas kerja sama antara International Labour
Organization (ILO) dan Nuffic untuk menunjang Entrepreneurial Skills Development
Program (ESDP), yang diimplementasikan oleh Asosiasi Politeknik Indonesia (ASPI)
dan dibiyai oleh Pemerintah Negeri Belanda
Publikasi ini mungkin dikutip atau direproduksi tanpa hak, pada kondisi seperti ini
pengutip harus mencantumkan sumbernya. Apabila mempunyai permintaan untuk
penyesuaian atau terjemahan bahan selain kedalam bahasa Indonesia, harus
meminta ijin yang dialamatkan ke Asosiasi Politeknik Indonesia (ASPI) Jl.
Kanayakan 21, Dago, Bandung 40135.
PROGRAM SISTEM MANAJEMEN MUTU
SEMESTER 1. MODUL 3: PENGEMBANGAN BUDAYA MUTU
UNIT PELAJARAN 3: BUDAYA MUTU DI TINGKAT PERSONAL, TEMPAT
KERJA DAN INSTITUSIONAL.
Penulis : Adelina Guastavi (DELTA Programme)
Dibantu oleh : Sara Bozzi Colonna
Penunjukan yang mengerjakan publikasi International Training Center ILO,
disesuaikan dengan praktik Perserikatan Bangsa Bangsa, dan pemberian bahan
yang ada didalamnya, tidak mengandung ungkapan secara langsung dari sebuah
pendapat apapun pada bagian Pusat sehubungan dengan kedudukan hukum dan
kewenangan suatu Negara, bidang ataupun wilayah atau mengenai batasan
perbatasan.
Pertanggung-jawaban terhadap pendapat yang diungkapkan dalam artikel, bahan
ajar dan lain-lainnya semata-mata pada penulis, publikasi ini tidak ada
hubungannya dengan pusat
Penggunaan nama perusahaan dan produk komersial dan seluruh proses tidak
mendapat dukungan dari International Labour Office, dan kesalahan dalam
penulisan perusahaan, produk komersial ataupun proses tidak bermaksud untuk
memberi celaan/hinaan.
DELTA (Distance Education and Learning Technology Applications)
International Training Centre of the ILO
Viale Maestri del Lavoro, 10 – 10127 Turin, Italy
Tel.: +39-011-6936-523; +390-011-6936-111
Fax.: +39-011-6936-469; +39-011-6638-842
E-mail: delta@itcilo.org
Web site. http://www.itcilo.org

Diterjemahkan oleh:
Sinta Abdul Majid
Dindin Sulaeman

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 2 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

UNIT PEMBELAJARAN 3:

BUDAYA MUTU DI TINGKAT PERSONAL, TEMPAT KERJA DAN


INSTITUSIONAL

Tujuan khusus pembelajaran

1. Pendahuluan

2. Perilaku mutu di tingkat personal


2.1. Menentukan budaya mutu, perilaku mutu dan kinerja prima
2.2. Perilaku mutu dalam pikiran: pentingnya etika
2.3. Tujuh kebiasaan yang sangat efektif
2.4. Perilaku mutu tubuh: pentingnya gizi yang baik dan kesehatan fisik yang
baik
2.5. Perilaku mutu agar bisa dipertahankan

3. Perilaku mutu di tingkat tempat kerja


3.1. Kebiasaan yang meningkatkan mutu kerja dan menambah produktivitas
3.2. Kesehatan dan keamanan di tempat kerja

4. Perilaku mutu di tingkat institusional


4.1. Tanggung jawab sosial korporasi/perusahaan
4.2. Kode/aturan dalam melaksanakan profesi
4.3. Pendekatan terintegrasi pada mutu

Pemenuhan standar tenaga kerja internasional dan hak asasi manusia termasuk
peraturan kesehatan dan keamanan

Pemenuhan persyaratan lingkungan yang bisa dipertahankan

Pemenuhan sistem manajemen mutu

Daftar Tugas

Bibliography and webography

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 3 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Tujuan Khusus Pembelajaran

Di akhir unit pembelajaran ini, saudara diharapkan bisa:

• menentukan budaya mutu, perilaku mutu dan kinerja prima;

• menjelaskan prinsip-prinsip utama etika dan perilaku mutu dalam pikiran;

• menjabarkan tujuh kebiasaan orang yang sangat efektif;

• menyiapkan matriks dan diagram manajemen waktu;

• mengetahui pentingnya menerapkan perilaku mutu kesehatan yang baik


seimbang termasuk gizi dan kesehatan fisik yang prima;

• menerapkan perilaku mutu yang bisa dipertahankan;

• menjelaskan perilaku mutu di tingkat tempat kerja yang meningkatkan


mutu kerja dan menambah produktivitas termasuk kesehatan dan
keamanan di tempat kerja;

• membuat laporan tentang bahaya;

• menjelaskan konsep tanggung jawab sosial perusahaan dan implikasi


praktisnya;

• membuat draf kode kerja;

• Membuat laporan tentang pendekatan terintegrasi pada tingkat institusional


berdasarkan praktek bisnis setempat.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 4 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Pendahuluan

Dimana kita dan kemana kita akan pergi?


Dalam Unit Pembelajaran ini kita akan menggali perilaku mutu (=kebiasaan
melakukan sesuatu yang bermutu) di tiga tingkat berbeda: tingkat personal,
tempat kerja dan institusional. Pembelajaran ini akan memberi saudara gambaran
global tentang perilaku mutu yang dibutuhkan untuk kebaikan saudara secara
personal, untuk komunitas dan masyarakat secara keseluruhan, serta saat saudara
memasuki dunia kerja.

Perilaku mutu pada tingkat personal akan ditinjau dari dua sudut pandang yang
meskipun berbeda tapi saling tergantung: perilaku mutu pikiran, misalnya
pentingnya etika dan pelaksanaan etika; serta perilaku mutu tubuh, misalnya
pentingnya gizi dan kesehatan fisik yang baik. Ada tujuh kebiasaan orang yang
sangat efektif, yaitu 1) bersikap proaktif, 2) mulai memikirkan tujuan, 3)
mendahulukan yang lebih penting, 4) berpikir dengan pola sama-sama enak (win-
win solution), 5) mencoba mengerti untuk dimengerti, 6) sinergis dan 7)
pembaharuan, yang akan dianalisis dengan penekanan khusus pada manajemen
waktu. Perilaku mutu agar bisa dipertahankan juga secara khusus dibahas
berkaitan dengan manajemen sampah/limbah, penghematan energi, mengurangi
polusi, dan penggunaan fasilitas umum dengan baik.

Berkaitan dengan perilaku mutu di tingkat tempat kerja, kita akan menggaris
bawahi dua aspek yang sangat penting: kebiasaan yang meningkatkan mutu kerja
dan menambah produktivitas, dan kesehatan dan keamanan di tempat kerja.
Dalam hubungannya dengan kesehatan dan keamanan di tempat kerja, kita akan
melihat pentingnya pengembangan sikap aman yang sesuai, penyebab utama
kecelakaan, panduan untuk diikuti agar aman dalam bekerja, peralatan dan
perlengkapan keamanan dan bagaimana memperbaiki kondisi yang tidak aman
termasuk pentingnya mengenakan pakaian aman sesuai dengan profesi saudara.

Akhirnya kita akan menganalisis perilaku mutu di tingkat institusional yang


menyiratkan penerapan sikap dan program kewarga negaraan korporasi,
menentukan kode kerja untuk profesi tertentu dan menggunakan pendekatan
terintegrasi pada mutu yang mencakup: pemenuhan standar tenaga kerja
internasional dan hak asasi manusia termasuk peraturan kesehatan dan keamanan,
pemenuhan peraturan lingkungan dan sistem manajemen mutu.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 5 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

1 Perilaku mutu di tingkat personal

1.1 Menentukan perilaku mutu, perilaku mutu dan kinerja yang


bagus
Kita akan memulai Unit Pembelajaran ini dengan mengajukan dua definisi utama
mutu yang diberikan. Yang pertama, merujuk pada mutu manusia yang terkait
dengan etika dan perilaku mutu, sementara yang kedua mendefinisikan mutu
barang dan jasa yang menjadi kerangka kerja dasar bagi peningkatan kesadaran
akan konsep mutu.
Definisi Mutu

Mutu bila didefinisikan secara umum dan dalam ruang lingkup yang luas adalah:

• sifat penting yang mampu membedakan sesuatu atau seseorang;

• tingkat atau angka keunggulan atau harga: "kualitas mahapeserta didik


naik";

• sesuatu yang melekat pada suatu entitas dan nyata: “masing-masing kota
mempunyai mutunya sendiri”;

• warna nada: (musik) milik bunyi khas kompleks (suara atau bunyi atau
suara musik); "warna nada penyanyi sopran kaya dan bagus";

• terpilih: superior angka; "kertas mutu"; "memilih bananas

• status sosial yang tinggi; orang kualitas";

Kualitas merujuk pada sifat atau milik tak terpisahkan atau khas orang, benda,
proses atau hal lain. Sifat atau milik seperti itu mungkin menentukan orang atau
hal selain orang atau hal lain, atau mungkin menunjukkan suatu tingkat prestasi
atau keunggulan. Kalau dipakai di kerabat untuk mendiami, masa juga mungkin
menandakan seorang peran atau ciri pribadi. Peran atau ciri pribadi itu adalah apa
yang bisa ditegaskan sebagai kualitas?
Apa yang dimaksudkan dengan mutu seseorang?

Ketika mendefinisikan mutu seseorang, perlu memperhitungkan dari beberapa


perspektif yang berbeda dengan menyaring kenyataan secara subyektif, karena
mutu bisa dipersepsikan dan ada hubungannya dengan kepemilikan.

• hubungan kepemilikan hanya bisa ditegaskan berdasarkan sesuatu yang


berpasangan, contoh sederhana ialah jarak (memerlukan dua ujung) ;

• mutu seseorang tergantung pada interaksi dan hubungan sesamanya: pada


sistem sosial tidak ada yang benar secara absolut, kecuali konsekuensi yang
terjadi akibat diterapkannya suatu sistem atau peraturan.

• hubungan kombinasi yang dinamik yang sudah ada dan dimengerti sebagai
suatu produk interaksi.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 6 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Social System

Human
Quality

Quality
behaviour

Internalised

Externalised rules

Sistem sosial adalah lingkungan yang luas dan membiarkan setiap individu untuk
menentukan tugas masing-masing serta secara leluasa terlibat dalam persaingan
kelas dunia.

Mutu seseorang merupakan ciri pribadi yang dapat dilihat oleh orang lain seberapa
berguna dan berharga bagi masyarakat. Mutu seseorang juga merefleksikan sifat
mutu praktis pada tingat individu melalui internalisasi dan silaturahmi, secara
bersamaan, pada level sosial merupakan tempat dimana perubahan inisiatif dan
kreatifitas, mengusulkan perubahan budaya dari situasi sekarang dan peraturan
baru pengaruh dari eksternal.

Oleh karena itu, sistem sosial yang dinamis, selalu berubah disesuaikan dengan
proses pengembangan mutu dibangun pada:

• pemenuhan janji ke tingkat mutu perseorangan (peraturan internal) ;

• penentuan mutu melalui pendekatan baru dengan pola berpikir yang kreatif
untuk keuntungan masyarakat (peraturan eksternal)

Mutu barang dan jasa

Para profesional bisnis di seluruh dunia telah menetapkan standar mutu barang
dan jasa. Standar-standar tersebut biasanya dinyatakan dalam kerangka kualitatif
atau kuantitatif atau keduanya. Jika mutu dinyatakan dalam kerangka kualitatif,
akan dikatakan bahwa barang atau jasa tersebut pasti memiliki karakteristik-
karakteristik tertentu sehingga bisa disebut sebagai “barang atau jasa bermutu
tinggi”.

Jika dinyatakan dalam kerangka kuantitatif, mutu akan dikatakan bahwa barang
dan jasa tersebut pasti memiliki karakteristik-karakteristik tertentu yang bisa

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 7 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

ditunjukkan dengan angka. Misalnya, sebuah mobil Fiat pasti memenuhi standar-
standar tertentu agar bisa dijual. Pertama, harus memenuhi sejumlah kriteria
kualitatif tertentu seperti kenyamanan, penampilan dan bagian-bagian mekanis
mobil tersebut. Dari sudut pandang kuantitatif, pabrik pembuat mobil Fiat tersebut
memiliki kriteria berbentuk angka (jumlah) untuk mengukur mutu untuk: ukuran
bagian-bagian mesin dan mobil, jumlah putaran mesin per menit dengan kecepatan
perjalanan tertentu, dan seterusnya. Berdasarkan kedua kriteria tersebut:
kualitatif dan kuantitatif untuk menyusun standar Fiat agar bisa dijual.
Apa yang dimaksudkan dengan kebiasaan?

Kebiasaan adalah pertemuan pengetahuan, kemampuan dan keinginan.


Pengetahuan adalah sesuatu yang harus dilakukan dan mengapa dilakukan (tingkat
kognitif), kemampuan adalah bagaimana melakukannya (tingkat psikomotorik) dan
keinginan adalah motivasi atau keinginan untuk melakukannya (tingkat afektif).
Misalnya jika ingin belajar mengendarai mobil (tingkat afektif atau motivasi), kita
harus mempelajari dan mengetahui kode kerja mengemudi (bagaimana
mengemudi atau tingkat kognitif), dan kita harus belajar bagaimana memindahkan
persneling dan menaikkan kecepatan mobil (tingkat psikomotorik). Ketiga tingkat
ini harus dipisah-pisah agar bisa dianalisis walaupun sebenarnya ketiga unsur tadi
saling berhubungan satu sama lain di saat bersamaan. Untuk membuat sesuatu
jadi kebiasaan, kita harus menggunakan ketiga bidang yang berbeda tersebut
secara bersamaan.

Dengan demikian kita bisa menyimpulkan bahwa perilaku mutu yang bagus
berhubungan dengan mpncapaian kompetensi (pengetahuan, kemampuan dan
sikap) dengan tingkatan yang bagus, dan memungkinkan seseorang memenuhi
serangkaian karakteristik kualitatif permanen yang diharuskan. (Dalam kasus ini,
berarti untuk memenuhi kebutuhan atau harapan sekolah, komunitas, keluarga dan
diri sendiri dengan menetapkan standar perilaku mutu sendiri).
Apa yang dimaksudkan dengan perilaku mutu?

Perilaku mutu bisa didefinisikan sebagai perilaku yang efektif dan efisien, dengan
kata lain seseorang memanifestasikan perilaku mutu dengan melakukan hal yang
benar dengan cara yang benar. Misalnya mendaur ulang dan menggunakan
kembali limbah, bisa didefinisikan sebagai perilaku mutu.
Apa yang dimaksudkan dengan tindakan yang bagus?

Suatu tindakan yang bagus merujuk pada perilaku moral dan etika yang didukung
oleh nilai-nilai moral dan etika. Etika merujuk pada prinsip-prinsip yang
mendefinisikan perilaku sebagai sebuah tindakan yang tepat, baik dan benar.
Prinsip-prinsip tersebut tidak selalu mendikte satu tindakan “moral” yang tunggal,
melainkan memberikan alat untuk evaluasi dan memutuskan diantara sejumlah
pilihan yang ada.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 8 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Apa pengertian kinerja yang bagus itu?

Kinerja yang baik merupakan gabungan perilaku mutu, perilaku mutu dan tindakan
yang baik.

1.2 Perilaku mutu dalam pikiran: pentingnya etika


Memang mutu dan etika memiliki satu premis inti yang sama yaitu melakukan hal
yang baik dengan benar, dengan kata lain memanifestasikan perilaku mutu. Etika
bukanlah ajaran mutu yang eksklusif, begitu juga sebaliknya. Etika adalah
sekumpulan prinsip atau standar tindakan manusia yang mengatur perilaku individu
dan organisasi. Etika mengetahui hal apa yang benar dan mempelajari saat
seseorang tumbuh dewasa.

Etika bisa berbeda bagi orang yang berbeda, khususnya saat ada tenaga kerja
internasional dalam sebuah organisasi dengan berbagai norma budaya yang
berbeda. Karena tiap individu memiliki konsep sendiri tentang apa yang benar,
maka organisasi perlu membuat standar atau kode etik organisasi.

Hubungan antara etika dan nilai

Istilah “etika” dan “nilai” tidak bisa saling ditukarkan. Etika berkaitan dengan
bagaimana seseorang yang bermoral harus bersikap, sementara nilai adalah
penilaian dalam diri yang menentukan bagaimana seseorang sebenarnya
bersikap. Nilai berhubungan dengan etika saat nilai tersebut menyangkut
keyakinan tentang apa yang benar dan apa yang salah.

Nilai kita adalah apa yang kita hargai dan sistem nilai adalah tatanan dimana kita
menghargai nilai tersebut. Karena nilai-nilai tersebut memberi peringkat pada apa
yang kita sukai dan tidak kita sukai, maka nilai-nilai kita menentukan bagaimana
kita akan bersikap pada situasi tertentu. Namun, nilai-nilai seringkali saling
bersinggungan atau bertentangan. Misalnya, keinginan kita untuk jujur mungkin
berbenturan dengan keinginan kita untuk jadi kaya, berharga dan sebagainya
dimata orang lain. Dalam kasus seperti ini, kita melarikan diri ke dan bertanya
pada sistem nilai kita. Nilai-nilai yang terus-menerus kita hargai lebih tinggi dari
nilai lain adalah nilai inti dalam diri kita, nilai yang menentukan karakter dan
kepribadian kita.
Apa pengertian kode etik itu?

Kode etik berhubungan dengan nilai-nilai dalam hidup kita secara umum dan
merujuk pada perilaku kita dalam masyarakat. Sebuah kode etik umumnya tidak
memiliki bidang atau konteks yang spesifik seperti halnya kode tindakan yang baik
dalam profesi yang akan kita bahas nanti.

Sebagian besar orang memiliki keyakinan tentang apa yang benar dan salah
berdasarkan kepercayaan agama, akar budaya, latar-belakang keluarga,
pengalaman pribadi, hukum, nilai-nilai organisasi, norma-norma profesional dan
kebiasaan politis. Hal ini bukan merupakan nilai yang terbaik untuk bisa

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 9 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

memutuskan secara etika, dan juga bukan karena mereka tidak penting tetapi
dikarenakan tidak bersifat universal

Nilai-nilai dasar seperti kepercayaan, penghargaan, tanggung jawab, keadilan,


perhatian, dan kewarga negaraan bersifat universal, sementara sebaliknya,
kepercayaan pribadi dan profesional yang dimiliki oleh budaya dan anggota
masyarakat yang sama akan berbeda-beda pada jaman yang berbeda.

Tidak ada yang salah dengan memiliki keyakinan moral pribadi dan profesional
yang kuat, namun sayangnya, sejumlah orang ingin menerapkan penilaian moral
pribadi mereka pada orang lain.

Nilai etis universal yang berupa rasa menghargai orang lain mendikte penghargaan
terhadap martabat dan otonomi tiap orang dan menyerang kebijakan diri dalam
bidang kontroversi legitimasi.

Apa yang dimaksudkan dengan prinsip-prinsip etika?

Kita menterjemahkan nilai-nilai kedalam bentuk prinsip/ajaran sehingga nilai


tersebut bisa mengarahlkan dan memotivasi tindakan etis. Prinsip-prinsip etis
merupakan aturan untuk bertindak yang muncul dari nilai-nilai etis.
Misalnya, kejujuran adalah sebuah nilai yang mengatur perilaku dalam bentuk
ajaran-ajaran seperti: katakan yang sebenarnya, jangan menipu, dan jangan
curang. Dengan cara ini, nilai-nilai berubah menjadi ajaran/prinsip dalam bentuk
“anjuran” dan “larangan” (do’s and dont’s) khusus.

Etika juga berkaitan dengan menerapkan ajaran atau prinsip tadi dalam tindakan.
Konsistensi antara apa yang menurut kita bernilai dan apa tindakan kita dianggap
sebagai masalah integritas.

Semua ini berhubungan dengan disiplin diri, misalnya:

• Tidak melalukan apa yang sebenarnya ingin saudara lakukan. Tindakan


tidak lantas jadi benar hanya karena tindakan tersebut diizinkan atau karena
saudara bisa melarikan diri.

• Tidak melakukan apa yang bisa saudara lakukan meskipun memiliki hak
untuk melakukannya. Ada perbedaan besar antara tindakan yang saudara
punya hak untuk melakukannya dengan tindakan yang benar.

• Tidak melakukan apa yang saudara inginkan. Seseorang yang etis sering
memilih untuk tidak melakukan lebih dari yang diharuskan oleh hukum dan
tidak melakukan kurang dari apa yang diizinkan hukum.

Kenapa harus beretika?

Orang-orang memiliki banyak alasan untuk bersikap etis:

• Ada keuntungan dari dalam dirinya sendiri. Menerapkan prinsip-prinsip etis


merupakan penghargaan bagi diri sendiri.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 10 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

• Ada keuntungan pribadi. Sangat bijaksana jika memilih untuk bersikap etis.
Hal itu merupakan urusan yang bagus yang menimbulkan kepercayaan dari
pelanggan atau dari orang lain yang tidak sedang berada dalam situasi
bisnis.

• Ada persetujuan. Bersikap etis menimbulkan harga diri dan martabat,


kekaguman dari orang-orang yang mencintai dan rasa hormat dari teman-
teman dekat.

• Ada kebiasaan. Tindakan etis bisa sangat cocok dengan proses pelatihan.

Namun, ada juga hambatan-hambatan untuk bersikap etis, yang mencakup:

• Etika kepentingan diri sendiri. Jika motivasi untuk berperilaku etis berasal
dari kepentingan diri sendiri, pengambilan keputusan menyempit menjadi
penghitungan untung rugi.

Jika resiko (kerugian) untuk berperilaku etis besar, atau resiko dari berperilaku
tidak etis kecil dan keuntungannya besar, maka prinsip-prinsip moral akan kalah
demi keuntungan tersebut. Ini bukan masalah kecil: banyak orang yang
mencontek saat ujian, berbohong saat menulis resume lamaran pekerjaan, dan
mengaburkan atau bahkan memalsukan fakta saat bekerja. Ujian sebenarnya
untuk etika kita adalah apakah kita rela melakukan hal yang benar meskipun tidak
sesuai dengan kepentingan diri kita.

Sekarang lakukan Tugas QU.1-3 AS.1/8 Tugas kelompok


“menerapkan etika dalam bisnis” yang bisa ditemukan di
Bagian Tugas di akhir Unit Pembelajaran ini.

1.3 Tujuh kebiasaan orang yang sangat efektif.1


Seorang peneliti terkenal Stephen R. Covey menyampaikan berdasarkan
penemuannya keberhasilan etika ada beberapa karakter, seperti integritas,
kerendahan hati, ketaatan, emosi, keberanian, keadilan, kesabaran, industri,
kesederhanaan, keramahan dan Aturan Emas “Jangan melakukan sesuatu pada
orang lain apabila anda tidak mau orang lain melakukan sesuatu pada diri anda”.
Ketujuh kebiasaan tersebut merupakan pendekatan yang sangat terpadu yang
bergerak dari ketergantungan (saudara harus menjaga saya) ke ketidak
tergantungan (saya bisa menjaga diri) sampai ke saling ketergantungan (kita bisa
lebih baik jika bersama).

1
Diambil dari Covey S>R “the 7 habits of highly effective people, Powerful lesson in
personal change Pocket books, Simon & Schulster, 1997

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 11 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Tiga kebiasaan pertama berhubungan dengan ketidak tergantungan, inti dari


karakter mulai tumbuh, kebiasaan nomor 4, 5, 6 berhubungan dengan kerja tim,
kerjasama, dan komunikai yang saling tergantung. Kebiasaan nomor 7 adalah
kebiasaan pembaharuan. Kita akan membahas ketujuh kebiasaan ini lebih dalam
di Semester 2 Modul 2 Unit Pembelajaran ini.

Kebiasaan 1: Bersikap proaktif

Apa yang dimaksudkan dengan bersikap proaktif? Proaktif adalah bertanggung


jawab atas kehidupan sendiri, kemampuan untuk memilih tanggapan pada dan
untuk situasi tertentu. Perilaku proaktif merupakan suatu keasadaran yang
didasarkan pada nilai-nilai dan bukan perilaku reaktif, yang berdasarkan pada
perasaan.

Orang-orang yang reaktif membiarkan keadaan, kondisi, atau lingkungan sekitar


mereka memberitahu mereka bagaimana harus menaggapi atau bersikap. Orang-
orang proaktif memikirkan dengan seksama, memilih dan menginternalisasi nilai-
nilai yang memberitahu mereka bagaimana harus menanggapi. Yang membedakan
keduanya bukanlah apa yang terjadi, tapi bagaimana kita menanggapi (merespon)
apa yang terjadi itu. Tak seorang pun bisa membuat anda menderita kecuali jika
andalah yang membiarkan mereka melakukan itu. Bahasa yang kita gunakan
merupakan indikasi nyata dari perilaku kita. Perbandingan antara perilaku proaktif
dan reaktif ditunjukkan dalam tabel berikut.

Reaktif Proaktif

Tidak ada lagi yang bisa saya lakukan Mari kita melihat alternatif jalan keluarnya

Dia membuat saya marah Saya mengendalikan perasaan saya sendiri

Saya terpaksa melakukannya Saya akan memilih respon yang sesuai

Saya tidak bisa Saya memilih

Saya harus Saya lebih suka

Segalanya memburuk Inisiatif apa yang bisa kita pakai?

Kebiasaan 2: Mulai Memikirkan Tujuan

Penerapan kebiasaan yang lebih fundamental adalah tiap hari memulai dengan
sebuah gambaran, atau paradigma tentang tujuan hidup kita sebagai kerangka
rujukan kita. Tiap bagian hidup bisa diteliti dalam artian apa yang benar-benar
berarti bagi kita—pandangan terhadap hidup kita secara keseluruhan.

Semua hal diciptakan dua kali. Pertama penciptaan dalam pikiran dan ada kreasi,
kedua berwujud fisik dari semua hal. Untuk membangun rumah, pertama kita

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 12 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

harus menciptakan cetak birunya dan kemudian barulah membangun rumah yang
sebenarnya. Kita menciptakan pidato dan menuliskannya di kertas sebelum benar-
benar berpidato. Untuk mulai memikirkan tujuan, kembangkanlah filosofi atau
keyakinan personal. Mulailah dengan mempertimbangkan contoh-contoh berikut:

• Jangan pernah berkompromi dengan kejujuran;

• ingatlah orang-orang yang terlibat;

• pertahankan sikap positif;

• berolahragalah tiap hari agar tetap sehat;

• jagalah selera humor;

• jangan takut salah;

Dengan memusatkan kehidupan kita pada prinsip yang benar, kita menciptakan
fondasi yang kokoh untuk pengembangan faktor-faktor pendukung kehidupan yaitu
keamanan, penjagaan, kebijaksanaan dan kekuatan. Prinsip adalah
kebenaran fundamental. Prinsip-prinsip tersebut adalah jalinan benang yang
terajut erat dengan ketepatan, konsistensi, keindahan dan kekuatan dalam kain
kehidupan.

Kebiasaan 3: Mendahulukan yang paling penting

Kebiasaan nomor 3 berkaitan dengan penerapan manajemen diri. Dalam


pelaksanaannya membutuhkan kebiasaan 1 dan 2 sebagai pendahuluan.
Kebiasaan yang satu ini adalah manajemen diri tiap hari, tiap saat.

Dalam matriks manajemen waktu dibawah ini, mendesak berarti diperlukan


perhatian segera, sementara penting berkaitan dengan hasil yang berkontribusi
pada misi, tujuan, dan nilai yang ingin dicapai. Orang-orang yang efektif dan
proaktif menghabiskan sebagian besar waktunya di kuadran II sehingga
mengurangi waktu yang dihabiskan di kuadran I.

Matriks manajemen waktu

Mendesak Tidak mendesak

I II

Krisis, memadamkan Tindakan Pencegahan


kebakaran
Penting Membangun hubungan
Masalah-masalah yang
Melihat peluang baru
mendesak
Perencanaan, rekreasi
Proyek yang memiliki
tenggat waktu

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 13 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Tidak
penting III IV

Interupsi, masalah-masalah Hal-hal remeh, kesibukan


yang menekan sehari-hari

Surat, telepon, laporan Bersantai

Rapat-rapat Bersenang senang

Kebiasaan 4: Berpikir dengan pola sama-sama enak (win-win solution)

Solusi sama-sama enak adalah kerangka pikir dan hati yang terus menerus mencari
keuntungan timbal balik dalam semua hubungan manusia. Kedua sisi di
dahulukan: biasanya hasil akhirnya lebih baik. Jika tidak bisa dicapai solusi sama-
sama enak, maka alternatifnya adalah tidak ada kesepakatan. Butuh keberanian
besar serta banyak pertimbangan untuk menciptakan keuntungan timbal balik,
khususnya jika pihak satunya memikirkan solusi menang-kalah (pihak yang satu
enak, yang satunya lagi menderita).

Pemikiran ini mencakup lima dimensi kehidupan yang saling bergantung: karakter,
hubungan, kesepakatan, sistem dan proses. Karakter melibatkan integritas,
kedewasaan, yang merupakan keseimbangan antara memikirkan orang lain
dengan keberanian mengungkapkan perasaan.

Hubungan berarti bahwa kedua belah pihak saling percaya dan sangat
berkomitmen untuk mencapai solusi sama-sama enak. Kesepakatannya
membutuhkan kelima elemen hasil yang diinginkan, panduan, sumber,
pertanggung jawaban dan konsekuensi. Kesepakatan sama-sama menang ini
hanya bisa bertahan di dalam sistem yang mendukungnya.

Untuk mencapai kesepakatan sama-sama enak, ada empat langkah yang


dibutuhkan 1) memandang masalah dari sudut pandang lain, 2) mengenali
masalah dan perhatian utamanya, 3) menentukan hasil yang bisa diterima dan 4)
mencari kemungkinan pilihan lain untuk mencapai hasil tersebut.

Kebiasaan 5: Mencoba mengerti agar bisa dimengerti

Mencoba mengerti terlebih dulu melibatkan sebuah pergeseran paradigma karena


kita biasanya mencoba untuk dimengerti terlebih dulu. Mendengarkan dengan
empati merupakan kunci komunikasi efektif. Ini menitik beratkan pada
mempelajari bagaimana orang lain memandang dunia, bagaimana orang lain
merasakan sesuatu. Inti dari mendengarkan dengan empati bukanlah kita setuju
dengan orang tersebut, kita hanya memahami orang tersebut lebih dalam secara
keseluruhan, baik secara emosional maupun intelektual. Setelah bertahan hidup

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 14 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

secara fisik, hal selanjutnya yang dibutuhkan oleh seseorang adalah bertahan hidup
secara psikologis—dipahami, disetujui, didukung, dihargai.

Kebiasaan 6: Sinergi

Sinergis berarti bahwa satu keseluruhan lebih besar dibanding bagian-bagiannya.


Bersama-sama, kita bisa mencapai lebih banyak dari yang kita capai sendiri-
sendiri. Sebuah contoh bagus tentang hal ini adalah dalam orkestra. Lima
kebiasaan sebelumnya membangun jalan menuju kebiasaan yang ke6. Kebiasaan
ini menitikberatkan konsep sama-sama senang dan kemampuan berkomunikasi
dengan empati meskipun tantangan-tantangan yang dibawa oleh alternatif-
alternatif baru ini tidak ada sebelumnya. Sinergis terjadi saat orang
mengabaikan kebiasaan lama mereka dan mentalitas menang-kalah
mereka dan membuka diri untuk kerja sama kreatif. Jika ada pemahaman
sejak awal, orang-orang bisa mencapai solusi yang lebih baik daripada yang bisa
mereka capai sendirian.

Kebiasaan 7: Menajamkan gergajinya (Pembaharuan)

Kebiasan 7 adalah memanfaatkan waktu untuk menajamkan gergaji kita agar bisa
memotong lebih cepat. Hal ini merujuk pada pertahanan dan peningkatan aset
besar yang kita miliki, yaitu diri kita sendiri. Kebiasaan ini memperbaharui empat
dimensi sifat alami kita, fisik, spiritual, mental, dan emosi-sosial. Keempat
dimensi sifat alami kita ini harus digunakan secara reguler dengan cara yang bijak
dan seimbang.

Sehubungan dengan dimensi fisik, berarti mengikuti pola gizi yang baik, istirahat
dan relaksasi dan olahraga teratur. Dimensi spiritual adalah komitmen kita pada
sistem nilai yang kita anut. Pembaharuan berasal dari refleksi dan bacaan spiritual.
Dimensi mental adalah terus mengembangkan intelektualitas kita melalui membaca
dan menulis.

Ketiga dimensi ini mengesampingkan dulu masalah waktu, termasuk dalam


kegiatan-kegiatan di kuadran II. Dimensi sosial dan emosional kehidupan kita
saling terikat karena kehidupan emosional kita utamanya, meski tidak eksklusif,
muncul dari dan dimanifestasikan dalam hubungan kita dengan orang lain.
Meskipun kegiatan ini tidak membutuhkan waktu, kegiatan ini tetap membutuhkan
latihan.

Sekarang kerjakan tugas QU.1-3 AS.2/8 Penilaian diri “diagram


dan matriks manajemen waktu untuk orang-orang yang sangat
efektif” yang bisa ditemukan di Bagian Tugas di akhir Unit
Pembelajaran ini.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 15 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

1.4 Perilaku mutu tubuh


Seperti yang telah kita lihat sebelumnya, semua dimensi sifat alami kita harus
digunakan dengan teratur dengan cara yang bijak dan seimbang. Memindahkan
dimensi fisik berarti megikuti gizi yang baik, istirahat dan relaksasi dan olahraga
teratur. Mari kita melihat gizi yang baik dan pentingnya kesehatan fisik yang baik.

Pentingnya gizi yang baik

Bagi sebagian besar dari kita, kesukaan kita menikmati makanan telah menjadi
korban hidup kita yang hingar bingar dan juga menjadi korban dari peningkatan
kerenggangan hubungan kita, dalam ekonomi komersil yang kompleks, dari proses
alami dimana makanan ditanam dan diproduksi. Makanan cepat saji yang palsu,
dibungkus, dan tidak sehat hanya satu contoh yang paling dramatis dari penurunan
mutu makanan dalam hidup kita, dan merupakan ancaman besar bagi kebaikan
budaya dan lingkungan kita. Yang disayangkan, makanan cepat saji biasanya
berarti lebih banyak kalori, lemak jenuh, pemanis buatan dan karbohidrat
dibanding makanan “lambat saji”.

Karena kenyamanannya, makanan cepat saji sangat terkenal dan sukses secara
komersil dalam masyarakat modern kebanyakan, tapi sering juga dikritik karena
kerugian-kerugian berikut:

Banyak makanan cepat saji yang tidak sehat, dan konsumsi berlebih (dimana kata
berlebih didefinisikan secara umum sebagai dua kali seminggu atau lebih) bisa
menyebabkan kegemukan.

Eksploitasi pemasaran dan pengiklanan digunakan, khususnya diarahkan pada


anak-anak (yang bisa menimbulkan efek merugikan pada kebiasaan makanan
mereka dan bahkan kematian).

Menyebabkan kerusakan lingkungan melalui pembungkusan berlebih dan


penebangan hutan untuk perburuan hewan.

Mengurangi keberagaman makanan lokal.

Makanan cepat saji ini bertahan dengan model pemberian kerja yang bergaji
rendah, bermanfaat rendah, mendukung praktek eksploitasi pekerja melalui
industri makanan dan industri pelayanan makanan.

Skema pemasarannya (royalti).

Mutunya yang seringkali lebih rendah dibanding restoran biasa.

Makanan lambat saji

Pada tahun 1986, Carlo Petrini2 memutuskan untuk melawan laju makanan cepat
saji dan semua itu tergambar dari protes yang dijalankannya untuk menentang

2
Pendiri dan presiden Internacional Show Food Movement. Dia tinggal di Bra, Itali

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 16 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

pembangunan restoran McDonald’s di dekat restoran Spanish Steps di Roma.


Petrini mendirikan Gerakan Makanan Lambat Saji Internasional, Gerakan yang
bertujuan untuk menyelamatkan ekonomi lokal, pelestarian tradisi asli yang sangat
kaya, dan penciptaan jenis konsumerisme baru yang sadar lingkungan yang
ditujukan agar bisa dipertahankan.

Istilah Makanan Lambat Saji hanya menggambarkan asal, langkah pertama, dan
perluasan internasional gerakan ini dari sudut pandang pendirinya, istilah ini juga
merupakan ungkapan yang kuat tentang tujuan organisasi ini untuk melahirkan
reformasi sosial melalui perubahan sikap berkaitan dengan makanan dan pola
makan.

Jika saudara sesekali memilih makanan cepat saji, berikut ini adalah sejumlah
alternatif yang lebih sehat:

• Pilihlah makanan yang dibakar, dikukus, atau dipanggang, alih-alih yang


digoreng

• Pilihlah daging yang tidak berlemak seperti ayam atau ikan

• Pesanlah nasi atau kentang panggang alih-alih kentang goreng

• Jangan makan keju atau mayonnaise yang ada di roti isi (sandwich) atau
burger untuk menghemat sekitar 100 kalori.

Pentingnya kesehatan fisik yang baik

Kesehatan yang baik adalah prioritas untuk Kinerja yang baik dan untuk gaya hidup
aktif. Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa perubahan paling awal yang
menyebabkan serangan jantung dimulai di usia muda dan perubahan apapun dalam
gaya hidup anak muda harus dibuat pada masa-masa awal kehidupan (masa muda)
jika saudara ingin tumbuh menjadi orang yang sehat dan bugar.

Ada tiga resep yang dibutuhkan untuk mencapai kebugaran/kesehatan fisik, yaitu:
kekuatan, daya tahan, fleksibilitas.

Kekuatan

Kekuatan adalah kemampuan otot atau sekelompok otot untuk menghasilkan gaya.
Ingatlah bahwa jantung merupakan organ muskular (otot). Peningkatan kekuatan
dibutuhkan untuk mengembangkan kebugaran dan kesehatan fisik. Kekuatan otot
sangat penting bagi kemampuan hidup, kemampuan olahraga dan
mempertahankan postur tubuh yang bagus.

Daya tahan

Daya tahan adalah istilah yang digunakan untuk menjabarkan kemampuan


seseorang untuk melakukan suatu kegiatan selama jangka waktu tertentu tanpa
menderita tekanan pernapasan (tidak menjadi ngos-ngosan).

Fleksibilitas

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 17 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Fleksibilitas adalah istilah yang digunakan untuk menjabarkan rentang


kemungkinan gerakan sendi. Orang perlu melakukan kegiatan bergerak yang bisa
mendorong mereka memaksa sendi-sendi dan otot-otot bergerak sampai batas
maskimum.
Hal-hal yang harus dihindari untuk tetap sehat:

• merokok;

• alkohol dan obat-obatan;

• obat palsu;

• seks tidak aman yang mungkin menyebabkan HIV/AIDS;

• kontak dengan spesies hewan yang mungkin menimbulkan flu burung.

Agar tetap sehat kita harus memahami pentingnya menjalani hidup yang seimbang,
melakukan kebiasaan-kebiasaan kesehatan yang baik, dan menyeimbangkan
antara belajar, bekerja dan bersantai. Kita juga perlu melakukan diet yang
seimbang dan menghindari bahan-bahan yang bisa memberi dampak negatif pada
kesehatan kita. Dalam hal ini, kita harus berhati-hati dengan apa yang kita beli,
khususnya obat-obatan. Yang terakhir, kita semua sadar tentang konsekuensi seks
tidak aman yang menyebabkan HIV/AIDS dan bahaya penyebaran flu burung yang
disebabkan kontak antara manusia dan burung dan tidak adanya ukuran
kebersihan yang cukup.

Sekarang lakukan tugas QU.1-3 AS.3/8 Penilaian diri “gizi yang


baik dan kesehatan dan keugaran fisik” yang bisa ditemukan di
Bagian Tugas di akhir Unit Pembelajaran ini

1.5 Perilaku mutu lain yang perlu dipertahankan


Di Unit Pembelajaran 1 kita telah menganalisis konsep keberlanjutan yang dalam
arti luas berarti bahwa input bahan mentah dan energi pada ekonomi dan output
bahan sisa (limbah) dan panas harus ada dalam kapasitas regeneratif dan absortif
ekosistem.

Pengembangan berkelanjutan merujuk pada kemampuan produsen dan pabrik


untuk memenuhi kebutuhan barang saat ini sekaligus melestarikan kemampuan
untuk memenuhi kebutuhan barang tersebut di masa depan. Secara khusus,
tujuannya adalah untuk mengurangi tingkat penggunaan sumber daya alam,
mengurangi jumlah polusi yang dihasilkan, dan menyediakan cukup banyak produk
seperti makanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Konsep keberlanjutan memperhatikan sifat ekonomi, lingkungan dan masyarakat


yang saling tergantung. Hasilnya, usaha-usaha pengembangan berkelanjutan
dilakukan oleh semua sektor masyarakat, termasuk konsumen, pemerintah, dan
industri.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 18 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Praktek kewarga negaraan yang baik dan sederhana

Sebagai warga negara dalam kehidupan sehari-hari kita juga perlu melakukan
perilaku mutu untuk bisa berkelanjutan. Hal ini sederhana saja, kita hanya
membutuhkan sejumlah tekad kuat dan usaha untuk menyelamatkan dan
melestarikan lingkungan. Beberapa perilaku mutu yang baik dan berkaitan dengan
kita semua adalah:

• pengelolaan limbah;

• penghematan energi;

• Mengurangi polusi;

• menggunakan fasilitas umum dengan hati-hati

Pengelolaan limbah

Pengelolaan limbah menjadi masalah besar baik di negara berkembang maupun


negara maju. Tempat pembuangan akhir harus diciptakan untuk mengubur
lembah-limbah (sampah) yang kita hasilkan sehari-hari. Saat kita memilih sepetak
tanah atau tempat yang luas untuk tempat akhir membuang sampah, ada sejumlah
hal yang harus diperhatikan, yaitu:

Geologi; misalnya lapisan tanah lempung bisa dijadikan tempat ideal sebagai
tempat akhir pembuangan sampah karena tidak tertembus (air tidak bisa
melewatinya).

Hidrologi; misalnya sebuah lokasi TPA tidak boleh berlokasi di dekat sungai.

Sejumlah besar limbah rumah tangga mengalami penurunan (proses pembusukan).


Sampah ini menghasilkan gas dan bahan kimia, tahun pertama lajunya cukup
lambat. Namun, saat TPA itu sudah penuh dan ditutup, penurunan dalam 3-5
tahun berikutnya cukup cepat. Setelah 5 tahun, penurunan tersebut melambat
sedikit-demi sedikit.

Jika TPA sudah penuh (kira-kira dalam waktu sekitar setahun, tempat tersebut
ditutup dengan lapisan tanah lempung setebal kira-kira 1 meter dan kemudian
ditutupi lagi dengan tanah setebal satu meter untuk menumbuhkan rumput dan
pohon. Saat sebuah TPA siap ditutup, ada TPA lain yang siap dibuka. Begitu
seterusnya, atau paling tidak sampai kita kehabisan lahan.

Tempat bekas TPA itu bisa diubah menjadi lapangan rumput atau taman, yang
nantinya bisa digunakan oleh masyarakat setempat.

Pada tahun-tahun belakangan ini, kesadaran tentang masalah lingkungan semakin


meningkat dan jadi bisa diterima saat kita mengubur sampah dalam jumlah
sebegitu besar di TPA, karena:

• Tanah tidak bisa dipertahankan (tdak bisa di daur ulang)

• Sampah yang ditumpuk di TPA menghasilkan polusi

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 19 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Kita tidak semata-mata menghasilkan sampah di rumah. Saat kita keluar kita
membeli permen, kripik dan makanan cepat saji yang dibungkus. Jika tak
seorangpun mau memasukkannya ke tempat sampah, apa kira-kira yang terjadi
pada daerah di sekitar kita?

Kadang, TPA bukanlah cara terbaik untuk menyingkirkan sampah. Dalam jurnal
pembelajaran saudara, tulis sampah yang saudara masukkan ke tempat sampah
setiap hari, atau benda-benda yang saudara lemparkan dan dibiarkan selama
beberapa hari. Lalu, di kolom sebelahnya, tulis sebuah cara alternatif cara lain
untuk membuang sampah.

Pengurangan, pendaur ulangan, penggunaan ulang

Perlu diingat bahwa proses daur ulang juga membutuhkan energi dan sumber daya
lainnya. Jauh lebih ramah lingkungan jika kita tidak memproduksi limbah (kurangi
pemakaian atau gunakan sedikit saja) sejak awal atau barang-barang yang telah
dipakai, dipakai lagi (penggunaan ulang): buatlah sesuatu yang bisa digunakan
lagi, misalnya kaleng minuman, silakan merujuk pada kasus di bawah ini.
Kasus daur ulang kaleng aluminium

Kaleng kemasan minuman terbuat dari aluminium (sekitar 75%nya) dan sebagian
terbuat dari baja. Cara mudah untuk mengujinya adalah dengan meletakkan
magnet di sisi kaleng tersebut, jika magnetnya tidak menempel maka kaleng
tersebut terbuat dari aluminium. Kaleng aluminium lebih ringan dari kaleng baja
dan kaleng baja lebih berkilau. Konsumsi minuman kaleng sangat tinggi diseluruh
dunia. Tiap kaleng aluminium bisa di daur ulang menjadi wadah kemasan
minuman lagi, dan ini bisa dilakukan terus menerus. Mendaur ulang kaleng
aluminium menghemat energi dan sumber daya alam dan juga mengurangi beban
TPA. Kaleng-kaleng tersebut bisa dilebur di pabrik daur ulang dan diubah menjadi
aluminium batangan yang bisa digunakan untuk membuat kaleng baru. Ini disebut
daur ulang lingkaran tertutup, karena kaleng lama hilang dan kaleng baru muncul.

Coba ingat-ingat lagi minggu lalu. Apakah saudara membuang sampah apapun
yang bisa “didaur ulang” atau “digunakan” lagi?
Penghematan energi

Kita hanya perlu menggunakan sedikit perilaku mutu yang baik untuk mengurangi
pemakaian energi. Sejauh energi itu berhubungan dengan listrik dan air, kita
harus:

• mematikan lampu secara teratur kapanpun kita tidak membutuhkannya dan


mencabut peralatan listrik rumah tangga yang tidak sedang dipakai;

• jika ada anggota keluarga kita perlu memperbaharui peralatan rumah


tangga, sarankan untuk memilih solusi ekologi yang meskipun lebih mahal
saat membelinya tapi mengkonsumsi listrik dan air yang lebih sedikit. Untuk
jangka panjang saling menguntungkan merupakan strategi untuk kita dan
planet;

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 20 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

• belilah bohlam yang memakan listrik sedikit, yang bisa bertahan 10 kali
lebih lama dari bohlam biasa dan menggunakan listrik 5 kali lebih sedikit;

• hindari mandi berlama-lama (dengan berendam seperti yang umum


dilakukan di Amerika dan Eropa) dan pilihlah mandi menggunakan shower
yang menggunakan air lebih sedikit;

• waspadai kebocoran pipa air dan jika terjadi hentikan segera untuk
menghidari terbuang sia-sia
Mengurangi polusi

Untuk berkontribusi dalam mengurangi jumlah CO2 di lingkungan kita, kita tentu
harus mengurangi emisi gas yang jadi penyebab polusi dan pemanasan iklim. Ada
dua perilaku mutu yang disarankan:
• beli dan pakailah produk-produk biologis yang menggunakan bahan alami
dan bebas pestisida (yang produksinya membutuhkan banyak energi);

• abaikan mobil 4x4 WD dan bersepedalah untuk menempuh jarak dekat;

• prioritaskan penggunaan mobil hibrida yang menggunakan listrik dan


minyak tanah untuk menempuh jarak jauh

Menggunakan fasilitas umum dengan hati-hati

Apa fasilitas umum itu? Fasilitas umum adalah semua infrastruktur yang dibuat
oleh pemerintah pusat dan / atau pemerintah daerah untuk digunakan oleh warga
negara untuk meningkatkan dan membantu kehidupan sehari-hari mereka, seperti:
transportasi umum, sekolah, rumah sakit, jalan raya, bandara, air, listrik dan gas.
Untuk menyediakan layanan-layanan ini, pemerintah memungut pajak dari tiap
barang yang dijual.

Pajak yang dimaksud adalah PPN yang merupakan singkatan dari pajak
pertambahan nilai, merupakan pajak yang harus dibayar jika kita membeli barang
atau jasa. Pajak ini biasanya dimasukkan dalam harga barang atau jasa yang kita
beli, sehingga kita kadang tidak sadar kita sudah membayarnya. Saat seseorang
mengenakan PPN pada kita, orang tersebut mengalikan “harga bersih” barang atau
jasa yang kita beli dengan tingkat PPN untuk menghitung jumlah PPN yang harus
kita bayar. Kemudian jumlah PPN tersebut ditambahkan ke harga asli barang atau
jasa sehingga menghasilkan “harga kotor”, yaitu harga yang harus kita bayar ke
kasir.

Sangat sering tindakan kekerasan/vandalisme yang dilakukan oleh warga negara


merusak fasilitas umum sehingga harus diperbaiki lagi oleh pihak berwenang
menggunakan dana yang didapat dari pajak yang seharusnya bisa digunakan
dengan lebih efektif untuk memedahkan masalah yang lebih mendesak seperti
mengentaskan kemiskinan, atau untuk membiayai proyek penelitian dan
pengembangan (Litbang) untuk mengurangi polusi dan menggunakan sumber
energi baru yang diperbarui.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 21 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Dengan alasan-alasan tersebut, menggunakan fasilitas umum dengan hati-hati


adalah perilaku mutu yang baik dari seluruh warga negara.

Sekarang kerjakan tugas QU-1.3 AS 4/8 “perilaku mutu yang


baik untuk bisa dipertahankan” yang bisa ditemukan di Bagian
Tugas di akhir unit pembelajaran ini.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 22 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

2 Perilaku mutu di tingkat tempat kerja

Meskipun saudara bekerja di perusahaan besar, berwiraswasta atau menjadi


manajer perusahaan, ada sejumlah perilaku mutu di tempat kerja yang harus
saudara ketahui dan miliki seperti perilaku mutu dan peraturan kesehatan dan
keamanan di tempat kerja.

2.1 Perilaku yang meningkatkan mutu kerja dan menambah


produktivitas
Mutu dimulai di hari pertama

Kita pasti ingin dikenal sebagai pegawai yang memiliki mutu kerja;
kesan ini harus dimulai di hari pertama kerja. Kita mungkin sudah
mengetahui bahwa menghasilkan mutu kerja sangat penting untuk
mempertahankan pekerjaan kita. Misalnya, kita pasti sudah tahu
betapa pentingnya tepat waktu. Saat kita akan mulai bekerja,
pastikan untuk mempelajari semua yang bisa dipelajari, tapi jangan berharap bisa
mempelajari semuanya di hari pertama kerja. Jangan takut untuk mengatakan,
“Saya tidak tahu” dan untuk bertanya. Tunjukkan ketertarikan untuk mempelajari
peraturan dan regulasi perusahaan. Berikut ini sejumlah tips, yang bisa membantu
membuat hari pertama kerja lebih mudah dan akan menumbuhkan perilaku baik
yang akan menghasilkan kerja bermutu:

Pergi kerja beberapa menit lebih awal. Melaporlah pada penyelia (supervisor)
pagi-pagi.

Dengarkan instruksi dengan seksama. Bertanyalah jika ada yang tidak


dimengerti.

Bersikap ramahlah pada rekan-rekan pekerja tapi jangan menghabiskan waktu


untuk bersosialisasi.

Berikan kerja sehari penuh untuk mendapatkan bayaran sehari penuh (totalitas).

Banyak perusahaan yang memiliki program orientasi untuk membantu pegawai


baru memulai pekerjaannya. Sebagai bagian dari program itu, pegawai baru akan
ditunjukkan area kerja, diperkenalkan pada teman sekerja (di bagian yang sama),
diberikan sejumlah latar belakang informasi tentang perusahaan, dan diberitahu
tentang kebijakan dan keuntungan perusahaan. Ingat, cara kita menangani diri
kita sendiri untuk memulai pekerjaan baru akan menjadi kesan pertama yang

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 23 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

dimiliki oleh rekan sekerja kita. Berikut ini sejumlah saran yang bisa membantu
menciptakan kesan pertama yang menyenangkan:

Ketahui dan ingat-ingat nama orang yang bekerja bersama kita, dan ingatlah
untuk selalu menyebut nama mereka dengan benar.

Pelajari dan ingat-ingat regulasi perusahaan tentang waktu istirahat, jam makan
siang, istirahat sore dan merokok. Jangan melanggar aturan-aturan ini.

Bersikaplah ramah dan sopan pada semua orang.

Harapan pemilik perusahaan

Berikut ini adalah harapan-harapan penting bagi pemilik perusahaan (orang yang
mempekerjakan kita):

1 Pegawai tulus dan bersungguh-sungguh serta berminat agar bisa


menghasilkan kerja bermutu tinggi.

2 Pekerja yang baik yang mau mempelajari cara dan metode baru untuk
meningkatkan mutu kerja.

3 Pegawai yang meyakini dan mempraktekkan “kejujuran”. MISAL: mulai kerja


tepat waktu; kembali dari istirahat dan makan siang tepat waktu; bersikap
produktif saat bekerja; tidak pulang kantor lebih cepat, meskipun hanya
beberapa menit; tidak mengambil stempel, pena, kertas, dan barang-barang
kecil lain untuk penggunaan pribadi; tidak mencuri uang dan/atau barang-
barang lain; tidak memberikan kemudahan atau diskon khusus pada teman
atau keluarga tanpa persetujuan penyelia.

4 Pegawai yang setia pada perusahaan. MISAL: Menjaga kerahasiaan hal-hal


seperti margin harga dan kode penjualan; tidak ikut-ikutan bergosip dan
berdebat; tidak mengkritik bisnis pada orang luar; menjadi pelanggan yang
baik untuk membeli barang dan jasa perusahaan yang dijual di pasaran.

5 Pewagai yang ambisius dan berkeinginan untuk meningkat ke posisi yang lebih
tinggi dengan tanggung jawab lebih besar.

6 Pegawai yang mencoba bertahan dengan perubahan kondisi di lapangan kerja.

7 Pegawai yang menjaga kebugaran tubuh dan kesehatan yang baik.

8 Pegawai yang menerima kritik yang membangun dengan baik.

9 Pegawai yang mematuhi aturan dan regulasi.

10 Pegawai yang menunjukkan inisiatif. MISAL: Meminta tambahan tugas pada

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 24 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

penyelia jika pekerjaan yang diberikan sudah selesai.

11 Pegawai yang menangani stok dan suplai barang-barang dengan hati-hati.


PERHATIKAN: barang-barang ini adalah investasi perusahaan. Barang yang
rusak dan penggunaan suplai yang tidak bertanggung jawab akan mengurangi
keuntungan.

12 Pegawai yang sangat memperhatikan kerapian dan penampilan personal.

Jika pegawai mengetahui apa yang diharapkan oleh orang yang


mempekerjakannya, pegawai tersebut akan lebih bisa memenuhi
harapan dan memberikan kerja bermutu tinggi.

Informasi berikut merangkum strategi-strategi yang bisa dipakai untuk


meningkatkan mutu kerja.

1 Membaur dan menyamankan diri dalam seting kerja yang baru.

Wajar saja jika mengalami kegugupan saat memulai pekerjaan baru.


Cobalah rileks dan melakukan yang terbaik. Mungkin butuh waktu sebelum
kita bisa merasa nyaman dengan rekan kerja baru. Jangan biarkan hal itu
mengganggu kita. Kita mungkin tidak akan langsung melakukan pekerjaan
yang diberikan pada kita. Biarkan “majikan” baru kita tahu seberapa handal
kita dengan mengerjakan apapun yang disuruh. Jika kita mengalami
masalah serius dalam menyesuaikan diri dengan situasi baru tersebut,
bicarakan dengan penyelia.

2 Terus masuk kerja.

Usahakan sebisa mungkin untuk menghindari tidak masuk kerja / bolos.


Masuklah tepat waktu dan bekerjalah penuh sehari kerja. Atur kehidupan
pribadi sehingga tidak mengganggu pekerjaan. Jika harus cuti, cobalah
mengaturnya dengan penyelia. Jika ternyata pada detik-detik terakhir kita
tidak bisa masuk kerja, hubungi penyelia dan jelaskan alasannya.

3 Kenali pekerjaan kita

Ketahui tugas dan tanggung jawab yang ada dalam pekerjaan tersebut.
Ketahui komitmen yang dibuat oleh “majikan” kita dengan kita. Ketahui
peraturan perusahaan. Ketahui prosedur keluhan di perusahaan sehingga
kita bisa melindungi hak kita sebagai pekerja.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 25 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

4 Selesaikan tugas yang diberikan.

Dengar dengan seksama instruksi yang diberikan oleh penyelia tentang tugas
dan kewajiban. Tanyakan pada penyelia pertanyaan apa pun yang diperlukan
untuk mengerjakan tugas dengan baik. Jika terjadi kesalahan fatal,
beritahukan segera pada penyelia agar bisa diperbaiki. Jika ternyata kita
tidak bisa menyelesaikan tugas sesuai waktu yang diberikan, beritahu
penyelia secepat mungkin saat kita menyadarinya. Jangan tunggu sampai
detik terakhir. Bersedialah mengambil tugas-tugas tambahan yang bisa kita
kerjakan. Bersiaplah membantu mengerjakan tugas yang berbeda dari yang
biasa dilakukan, atau kerja lembur jika diminta.

Belajar dari orang lain

Entah formal atau informal, pegawai baru harus dilatih oleh pegawai yang lebih
berpengalaman untuk membantunya mempelajari pekerjaan barunya dan mencapai
standar mutu. Pegawai yang berpengalaman yang memiliki karakteristik-
karakteristik berikut bisa memberikan bantuan paling banyak pada pegawai baru.

Karakteristik-karakteristik contoh peran

Bagi pegawai baru yang ingin menjadi pegawai terbaik dan mencapai hasil bermutu
tinggi, pegawai yang lebih berpengalaman harus dijadikan contoh dan harus
menunjukkan karakteristik-karakteristik sebagai berikut:

mempertahankan standar sangat mengenal pekerjaannya;


kinerjabermutu tinggi;

menghargai dan sadar akan menyampaikan pemikiran dengan


mutu; menerima tanggung efektif; tahu bagaimana menangani
jawab; orang-orang;

sadar akan keamanan; memiliki kepribadian menyenangkan;

disukai oleh sebagian besar sabar;


pekerja

penuh pertimbangan; tahu bagaimana mengkritik dengan


cara yang positif;

bersedia membantu; mudah berteman

tidak menganak-emaskan tidak ceroboh mengambil keputusan;


siapapun;

Tidak egois; Tahu bagaimana cara mendengar


orang lain;

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 26 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Mengungkapkan pendapat Memberi contoh yang baik;


dengan baik;

Tahu bagaimana cara Membuat keputusan yang akurat;


menganalisis masalah;

Punya inisiatif; Mau bekerja sama;

Energetik; Rapi dan teratur.

Sekarang nilailah diri saudara menggunakan kriteria-kriteria


diatas dengan mengerjakan Tugas QU 3-1. AS 5/8 “dimana
posisi saya?” yang bisa ditemukan di bagian Tugas di akhir unit
pembelajaran ini.

Berikut ini sejumlah alasan mutu kerja yang buruk:

Orang-orang tidak tahu bagaimana (atau apa) yang harus mereka lakukan.

Keuntungan dan kerugian (hadiah dan konsekuensi) tidak cukup tinggi.

Mereka pikir mereka baik-baik saja, meskipun mereka belum pernah dievaluasi.

Mereka menganggap cara mereka, bukan cara perusahaan, adalah yang lebih
baik, padahal itu salah.

Tidak ada konsekuensi negatif untuk Kinerja yang buruk.

Mereka mengalami hambatan dalam membatasi mutu performa.

Mereka tidak menginginkan pekerjaan tersebut, atau mereka tidak tahu kenapa
mereka harus melakukannya.

Mereka menganggap tugas lain lebih penting.

2.2 Kesehatan dan keamanan di tempat kerja


Definisi3

Lingkungan kerja yang sehat adalah lingkungan kerja dimana pegawai, kontraktor
dan masyarakat tidak terkena bahaya kesehatan dan potensi kecelakaan.

3
Sumber : The world Health Organization.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 27 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Kesehatan juga berkaitan dengan kondisi kesehatan fisik, mental dan sosial. Hal ini
lebih dari sekedar tidak adanya penyakit atau kuman.
Berpikir aman

Hari pertama bekerja adalah saat untuk memulai menumbuhkan sikap aman yang
sesuai. Bahkan jika kita sudah berpengalaman pun, kita tetap harus meminta atau
mendapat peraturan perusahaan dan instruksi khusus untuk diterapkan di bagian
kerja kita. Setelah mendapatkan peraturan, untuk tetap bisa mempertahankan
minat tinggi pada keamanan biasanya menjadi sulit. Para pekerja bila sudah
terbiasa dengan pekerjaannya secara rutin di bagian (departemen) tempat mereka
bekerja, biasanya mereka menjadi kurang hati-hati. Tanpa kerjasama penuh dari
setiap pegawai, program keamanan tidak akan berhasil. Namun bila semua pekerja
memahami bahwa pihak manajemen sangat memperhatikan keamanan, maka akan
lebih mudah untuk meyakinkan mereka tentang pentingnya hal tersebut.

Kenapa kecelakaan terjadi?

Kesalahan manusia (perilaku tidak aman) 80%

Kegagalan mekanis (kondisi tidak aman) 18%

Pengaruh alam (banjir, badai) 2%

Kesalahan manusia: penyebab-penyebab utama kecelakaan

Lima penyebab utama kecelakaan yang berhubungan dengan pekerjaan adalah:

1. Kurangnya sikap aman.

2. Kurangnya pengetahuan.

3. Kurangnya kemampuan.

4. Kepenatan

Sebagian besar kecelakaan besar dan ringan disebabkan oleh tindakan yang tidak
aman, bukan oleh kondisi yang tidak aman. Dari lima penyebab kecelakaan dalam
pekerjaan, empat diantaranya disebabkan oleh tindakan tidak aman bagi semua
orang yang disebabkan oleh kondisi tidak aman.

Kurangnya sikap aman merupakan penyebab sebagian besar kecelakaan. Orang


yang memiliki sikap aman yang baik akan menjadi warga negara yang bahagia dan
bertanggung jawab. Seseorang mengubah sikapnya terhadap keamanan biasanya
pada saat mereka tertarik, marah, tertekan atau lelah. Mereka menjadi kurang
memperhatikan keamanan dan lebih memungkinkan mengalami kecelakaan.

Penggunaan obat-obatan dan alkohol bisa menyebabkan sikap aman yang buruk.
Ini mungkin sebagian alasan kenapa alkohol terlibat paling tidak setengah dari

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 28 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

semua kecelakaan bermotor yang fatal. Selain itu, bahaya dari alkohol dan obat-
obatan berhubungan dengan batasan fisik. Itulah sebabnya kenapa orang yang
berada dalam pengaruh zat-zat ini bereaksi lebih lambat terhadap bahaya.

Kurangnya pengetahuan merupakan penyebab lain kecelakaan. Kurangnya


pengetahuan terutama berbahaya di toko; oleh karena itu; mengharuskan para
pegawainya diberi pelatihan.

Kurangnya kemampuan merupakan penyebab kecelakaan yang paling umum.


Kurangnya kemampuan terutama terlihat saat situasi darurat.

Kepenatan. Banyak orang menderita kepenatan. Ada sejumlah alasan yang


menyebabkan hal ini. Diantaranya adalah kerja berlebihan, bising, panas,
kelembaban, penyakit, kurang istirahat dan diet yang salah. Kepenatan bisa
menyebabkan perilaku tidak aman. Hal ini sering menyebabkan kecelakaan.
Kegagalan mekanis: penyebab utama kecelakaan

Berikut adalah sejumlah jenis kondisi tidak aman yang bisa menyebabkan
kecelakaan kerja. Ingatlah bahwa kondisi tidak aman seringkali merupakan akibat
dari tindakan tidak aman.

Kurangnya penjagaan. Hal ini berlaku untuk tempat-tempat berbahaya seperti


plafon, catwalk, atau penopang / perancah penggantung (yang biasa digunakan
oleh pembersih jendela di gedung bertingkat) yang tidak dilengkapi dengan pagar
penghalang; jalur aliran listrik atau bahan peledak yang tidak dipagari atau ditutup
dengan layak; mesin atau perlengkapan lain setelah memindahkan bagian atau titik
berbahaya lain yang tidak dijaga dengan aman.

Penjaga yang tidak cukup. Seringnya, bahan berbahaya yang tidak sepenuhnya
dijaga lebih berbahaya dari bahan berbahaya yang tidak dijaga sama sekali. Para
pekerja yang melihat ada penjaga akan merasa aman dan tidak memperhatikan
peringatan yang biasanya akan mereka perhatikan jika tidak ada penjaga sama
sekali.

Item-item cacat. Perlengkapan atau bahan yang sudah tua, sobek, retak, patah,
karatan, bengkok; bangunan, mesin, atau perlengkapan yang telah benar-benar
rusak dan tidak bisa lagi diperbaiki.

Pengaturan yang berbahaya. Lantai dan area kerja yang kacau; layout mesin
dan fasilitas produksi lain yang tidak tepat; celah gang atau pintu darurat yang
terhalang; barang-barang atau perlengkapan yang ditumpuk atau disimpan dengan
tidak aman; plafon atau kendaraan yang terlalu penuh; fasilitas pembuangan atau
pembakaran limbah yang tidak cukup.

Pencahayaan yang tidak sesuai. Kurang cahaya; cahaya berlebih; cahaya


dengan warna yang salah; nyala lampu; pengaturan sistem pencahayaan yang
menyebabkan bayangan dan terlalu banyak kontras.

Ventilasi yang tidak aman. Konsentrasi uap, debu, gas, asap; kapasitas yang
tidak tepat, lokasi atau pengaturan sistem ventilasi; pertukaran udara yang kurang,

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 29 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

sumber udara yang tidak murni yang digunakan untuk pertukaran udara; suhu dan
kelembaban yang tidak normal.

Selain orang yang menderita kecelakaan, keluarga dan teman-teman orang


tersebut juga menambah beban produksi. Berikut ini sejumlah aturan yang bisa
membantu mendorong sikap yang tepat:

1. Aturan: Selalu waspadai praktek-praktek tidak aman, perlengkapan tidak aman


dan kondisi yang tidak aman. Sikap semua pegawai mengenai hal ini merupakan
hal yang paling penting, dan dengan tidak mengabaikan bahaya yang jelas bagi
diri sendiri, bantulah orang lain untuk tetap waspada.

2. Aturan: Bagi pegawai, sikap aman harus sama pentingnya dengan


kepemimpinan, produksi dan kesadaran biaya. Ini akan membuat kita lebih
sadar bahwa sikap mereka terhadap keamanan merupakan indikasi perasaan
mereka terhadap tanggung jawab.

3. Aturan: Jadikan keamanan sebagai masalah sehari-hari. Diskusikan keamanan


paling tidak dengan salah satu anggota kelompok kerja kita setiap hari; kita
harus membantu menjadikan keamanan sebagai masalah pribadi.

4. Aturan: Laporkan segera segala kecelakaan sekecil apapun. Hal ini akan
membantu pembenahan tempat bermasalah tersebut sesegera mungkin dan
menunjukkan seberapa penting keamanan bagi kita.

Salah satu kontribusi kita yang penting bagi pencegahan kecelakaan adalah
mengkomunikasikan keinginan kita sendiri untuk bekerja dengan aman. Orang-
orang terluka bukan karena mereka ingin, tapi karena kadang mereka melakukan
hal-hal yang tidak aman dengan alasan-alasan sebagai berikut:

Mereka tidak tahu bahwa yang mereka lakukan itu salah.

Mereka salah mengerti instruksinya.

Mereka tidak menganggap penting instruksi tersebut.

Mereka tidak mendapat instruksi spesifik.

Mereka dengan sengaja mengabaikan instruksi.

Mereka belum dilatih dengan benar.

Salah satu direktur keamanan mengatakan :”Kau bisa punya semua peralatan
keamanan yang kau butuhkan: kacamata, topi pengaman, selang pemadam
dilokasi strategis, sabuk pengaman—tapi kau tetap harus memeriksa secara teratur
apakah semuanya digunakan dengan baik atau tidak.”

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 30 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Para pegawai harus ingat bahwa meskipun peraturan dan regulasi keamanan,
penjaga dan peralatan mekanis, poster-poster keamanan, dan pembicaraan
merupakan faktor keamanan yang penting, hal-hal ini tidak akan bisa mengganti
tindakan aman yang dilakukan oleh para individu pegawai sendiri. Berikut ini
beberapa panduan yang harus diikuti untuk keamanan dalam bekerja:

Anggap praktek kerja yang aman sebagai bagian dari pekerjaan. Para pekerja
memiliki tanggung jawab untuk bekerja dengan cara yang tidak berbahaya bagi
diri sendiri, teman sekerja, atau bagi barang-barang milik perusahaan. Melakukan
pekerjaan ditempat yang berbahaya merupakan pekerjaan yang salah. Kebiasaan
bekerja aman merupakan salah satu kriteria pekerja yang baik.

Belajarlah melakukan praktek kerja yang aman dari penyelia dan terapkan
pelajaran tersebut. Ikuti saran penyelia saudara. Hasilnya, kecelakaan banyak
yang bisa dicegah.

Carilah bahan-bahan berbahaya di tempat kerja yang bisa membahayakan orang-


orang; pindahkan barang berbahaya tersebut atau laporkan pada penyelia
saudara, jika saudara menemukan peralatan kerja, kotak, atau barang yang salah
tempat dan berada di jalur jalan, ambillah dan pastikan barang tersebut disimpan
di tempat yang tidak menghalangi jalan. Jika perlengkapan atau peralatan kerja
tersebut tampak rusak atau butuh perbaikan, laporkan dengan demikian
perlengkapan atau peralatan tersebut bisa diperbaiki atau diganti.

Bertanyalah jika saudara ragu tentang prosedur keamanan. Biarkan penyelia


saudara menunjukkan praktek kerja yang pasti dan aman untuk tiap tugas yang
harus dikerjakan. Ikuti instruksinya dengan cermat.

Ingat, keamanan adalah mencegah kecelakaan sebelum kecelakaan itu terjadi.


Orang-orang terluka karena mereka ceroboh atau karena melanggar peraturan
keamanan. Oleh karena itulah membangun pola kerja yang aman dan benar-benar
memiliki kebiasaan aman berarti kita akan terus bekerja. Kebiasaan kerja
dibangun untuk mempermudah kita untuk melakukan sesuatu.

Berbicara tentang keamanan saja tidak cukup. Kita harus memiliki sikap aman
yang baik dengan tindakan kita, tunjukkan bahwa prosedur keamanan memang
benar-benar penting.

Peralatan dan perlengkapan kerja

Banyak kejadian yang melukai tangan, lengan, jari, dan kaki yang bisa dihindari
jika para pekerja menggunakan peralatan dan perlengkapan dengan benar dan
memakai pakaian pelindung yang aman.

Sekitar 30% dari kecelakaan melukai tangan, lengan, atau jari. Sebagian besar
kecelakaan ini terjadi pada pekerja yang menggunakan permesinan besar. Tiga
dari empat kecelakaan ini terjadi pada mereka yang tidak memakai sarung tangan
pengaman.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 31 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

40% dari kecelakaan melukai bagian tengah tubuh, seringnya pada punggung.
Tiga penyebab utama kecelakaan punggung adalah:

tidak menggunakan teknik untuk mengangkat barang,

mengangkat barang yang terlalu berat, dan

Terlalu banyak mengangkat dalam satu hari.

Sejumlah kecelakaan menyebabkan luka yang menimbulkan kematian. Peralatan


yang paling berbahaya di tempat kerja adalah kendaraan bermotor. Mobil besar
dan truk menyebabkan sekitar 30% dari semua kematian yang terkalit dengan
kecelakaan kerja. Mabuk, mengebut, dan tidak memperhatikan jalan adalah alasan
yang paling sering diberikan.

Keamanan adalah masalah semua orang

Keamanan telah dianggap sebagai bagian dari pikiran. Pelajari saran-saran berikut
untuk mengenal sikap keamanan yang tak sehat sehingga bisa dihindari agar tidak
menjadi kebiasaan yang buruk:

Aku lupa menekan switchnya.

Menurutku terlalu merepotkan memakai helm keras seperti itu.

Tidak ada yang bilang tidak boleh melewati kabel-kabel itu.

Aku tidak memberitahu mereka untuk tidak melakukan hal itu karena
aku bukan bos.

Aku tidak mendengarkan mereka karena menurutku mereka juga tidak


tahu banyak.

Aku tidak mengangkat kardus itu karena aku lelah dan aku tidak
menyangka akan ada orang yang tersandung kardus itu.

Aku telah melakukan pekerjaan ini begitu sering hingga seolah-olah aku
bisa melakukannya dengan mata tertutup sekalipun.

Ucapan-ucapan diatas adalah alasan-alasan yang dibuat atas kecelakaan yang


harusnya bisa dihindari. Berikut adalah sikap-sikap yang salah yang mendasari
munculnya alasan-alasan diatas: melamun, perselisihan, kelelahan, terlalu percaya
diri, kemalasan, pengabaian dan kelalaian.

Ingat, kecerobohan dan kebodohan pekerja lah yang menyebabkan sebagian besar
kecelakaan terjadi.

Memperbaiki kondisi tidak aman

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 32 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

1. Pindahkan barang berbahaya jika mungkin. Barang yang membahayakan fisik


menyebabkan sekitar 20% kecelakaan yang terjadi.

2. Perlindungan. Jika titik bahaya (misalnya kabel tekanan tinggi) tidak bisa
dipindahkan, pastikan bahaya tersebut dilindungi menggunakan penutup, atau
peralatan pelindung lain.

3. Peringatan. Jika perlindungan tidak mungkin dilakukan atau tidak praktis,


peringatkan semua orang akan kondisi yang tidak aman tersebut. Anggap saja
sebuah truk harus mundur melintasi trotoar ke sebuah plafon pengangkat. Kita tidak
bisa memindahkan trotoar atau membangun pagar di sekeliling truk tersebut. Yang
bisa kita lakukan hanya memperingatkan bahwa ada kondisi yang berbahaya.
Lakukan dengan menunjukkan tanda bahaya atau menggunakan alat (bel, peluit,
klakson, lampu sinyal, dsb)

4. Rekomendasikan. Jika kita tidak bisa memindahkan atau menjaga sebuah kondisi
tidak aman sendirian, peringatkan pihak yang berwenang atas hal tersebut. Berikan
rekomendasi spesifik tentang bagaimana menghilangkan kondisi tidak aman tersebut.

5. Tindak lanjut rekomendasi. Setelah beberapa waktu, periksalah untuk


memastikan bahwa kondisi tidak aman tersebut sudah diperbaiki. Jika tetap ada,
tanggung jawab kitalah untuk memberitahu orang yang kita beri rekomendasi waktu
itu.

Pakaian yang sesuai dengan pekerjaan bisa membantu kita menjadi aman dan
nyaman. Pakaian kerja yang benar bisa membantu mencegah kecelakaan dan
luka. Pakaian kerja harus nyaman dipakai dan melindungi tubuh dari kondisi
lingkungan sekitar. Semakin berbahaya pekerjaannya, semakin khususlah pakaian
kerjanya. Misalnya, seorang astronot tidak akan pergi ke ruang angkasa
mengenakan pakaian renang. Jenis pekerjaan menentukan pakaian yang sesuai
untuk keamanan kerja. Sejumlah tips umum untuk jenis pakaian yang tepat untuk
dipakai demi keamanan dan kenyamanan kerja mencakup hal-hal berikut ini:

Memakai pakaian yang aman

Pakailah pakaian yang pas dan halus yang melindungi tubuh sesuai dengan yang
dibutuhkan, dari pergelangan tangan sampai pergelangan kaki. Pakaian lengan
pendek adalah pakaian yang paling bagus untuk bekerja di dalam ruangan
menggunakan mesin. Jika memakai pakaian lengan panjang, lengannya harus
digulung sampai siku. Pakailah pakaian yang halus, dan hampir pas untuk
menghindari pakaian tersangkut di sudut tajam atau di putaran mesin. Jangan
memakai scarf terurai, dasi, tutup saku yang melambai-lambai, perhiasan yang
menggantung, jam tangan, atau cincin—barang-barang ini juga bisa tersangkut di
benda-benda saat kerja atau tersangkut di mesin. Ikatkan celemek/pelindung
apapun dengan benar-benar rapi dan aman dengan alasan yang sama.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 33 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Pakailah sepatu yang nyaman dan memberi dukungan yang diperlukan. Sepatu
kanvas bersol lembut tidak cocok dipakai bekerja. Meskipun cocok untuk pakaian
kasual; sepatu ini memberi perlindungan dan dukungan yang terbatas. Pakailah
sepatu yang aman, klip jari kaki, atau pelindung kaki jika menangani atau bekerja
dengan bahan-bahan berat. Kaki celana yang dibuat khusus bisa memberikan
perlindungan yang baik bagi kaki dari asam, percikan api, pentalan logam, dan
bahan kimia dari pestisida.

Pakailah pelindung wajah untuk menghindari bahaya dari partikel atau pestisida
yang beterbangan melebihi perlindungan kacamata (google). Pakailah google saat
menangani bahan kimia, mengebor atau menghancurkan beton, mengelupaskan,
menghaluskan, menggunakan sikat kawat, mengelas, menggunakan gerinda
portabel, atau untuk pekerjaan lain dimana mungkin ada partikel yang
beterbangan.

Pakailah jenis perlindungan pernafasan yang tepat (masker debu atau masker
pernafasan) untuk pekerjaan yang menimbulkan debu atau yang dikerjakan di
tempat berdebu atau saat mengecat dengan semprotan, menggunakan pestisida,
atau melakukan pekerjaan-pekerjaan serupa.

Sarung tangan bisa memberikan perlindungan yang dibutuhkan dari kotoran,


sengatan panas, bahan kimia, dan benda tajam. Pakailah sarung tangan yang
sesuai saat menangani bahan bangunan dan zat kimia yang tajam, berat, kasar
atau panas. Pakailah sarung tangan kanvas atau sarung tangan dari katun kasar
untuk melindungi dari melepuh karena gesekan saat mencabut rumput. Pakailah
sarung tangan asbes saat bekerja di dekat panas, seperti di dekat oven besar.
Pakailah sarung tangan karet saat menangani asam, larutan, minyak tanah, atau
saat menggunakan pembersih oven besar.

Jaga kebersihan pakaian kerja dan tubuh sendiri. Selalu mencuci tangan sampai
bersih sebelum makan. Infeksi yang disebabkan oleh kotoran bisa menimbulkan
ketidaknyamanan dan penyakit, yang bisa menyebabkan kehilangan waktu kerja
dan pengurangan gaji.

Pakailah sabuk pengaman dengan tali pengaman jika ada bahaya jatuh, misalnya
saat bekerja membersihhkan jendela di gedung bertingkat banyak.

Sekarang kerjakan tugas QU-1.3 AS.6/8 Tugas Kelompok


“MELAPORKAN BAHAYA” yang bisa ditemukan di Bagian Tugas di
akhir Unit Pembelajaran ini.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 34 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

3 Perilaku mutu di tingkat institusional

Perilaku mutu di tingkat institusional menyiratkan penerapan kebijakan dan


program sikap warga korporasi yang dimulai dengan menentukan kode kerja untuk
profesi tersebut dan menggunakan pendekatan terpadu terhadap mutu yang
mencakup: pemenuhan standar tenaga kerja internasional dan pemenuhan hak
asasi manusia termasuk didalamnya peraturan keamanan dan kesehatan;
pemenuhan peraturan lingkungan; serta pemenuhan standar sistem manajemen
mutu.

3.1 Mendefinisikan kewarga negaraan korporasi


Secara umum, corporate social responsibility (CSR) menjabarkan hubungan antara
bisnis dengan masyarakat. Pada tingkat yang lebih sempit, CSR atau warga
perusahaan (corporate citizenship, CC) menjabarkan peran perusahaan di
masyarakat tidak hanya pada aspek ekonomi semata. Hal ini biasanya
diekspresikan dalam serangkaian kebijakan dan kegiatan di dalam dan di luar
perusahaan yang akan membantu mencapai tujuan ini. Kontribusi ini ditentukan
oleh seberapa baik perusahaan mengatur dampak ekonomi, sosial dan
lingkungannya sekaligus sehubungan dengan pihak-pihak terkait.

CSR tidak hanya “baik untuk dimiliki”. Tapi berkaitan dengan serangkaian nilai dan
perilaku inti yang berarti bahwa bisnis merupakan kekuatan positif dalam
masyarakat. Menjadi warga persuahaan berarti mematuhi peraturan ketenaga
kerjaan dan tawar menawar kolektif, memperlakukan pegawai dengan adil dan
sama rata dan memastikan keadilan sosial di tempat kerja. Dengan demikian, bisa
memberikan jaminan kesehatan & keamanan pegawai serta mencegah polusi atau
pengaruh negatif layanan atau fungsi perusahaan. Ini berkaitan dengan tanggapan
pada kebutuhan dan tekanan pelanggan dengan tujuan agar bisa dipertahankan
dan juga berkaitan dengan dukungan perlindungan hak asasi manusia.

Warga perusahaan yang baik bisa memberikan keuntungan bisnis seperti:


pengaturan reputasi, pengaturan resiko kerja, perekrutan, motivasi, dan
penempatan pegawai; hubungan dan akses investor pada modal; pembelajaran dan
inovasi; persaingan dan penempatan pasar; efisiensi operasional; dan
mendapatkan apa yang disebut dengan “izin sosial untuk beroperasi” atau
“label sosial”.

Peralatan CSR meliputi reputasi dan manajemen krisis, laporan sosial dan
lingkungan, dialog para pemegang saham dan kemitraan negeri-swasta. Terlepas
dari kesejahteraan perusahaan, kemitraan strategis antara dunia bisnis dengan
pembuat kebijakan, praktisi pengembang atau pemegang saham lain dalam
masyarakat memberikan peralatan penting dalam CSR, khususnya dalam konteks
pengembangan.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 35 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

The UN Global Compact (UNGC) Apa yang dimaksudkan dengan UNGC4?

UNGC adalah sebuah inisiatif sukarela warga perusahaan yang menyatukan


perusahaan-perusahaan dengan agens PBB, organisasi buruh yang independen dan
aktor masyarakat sipil lainnya yang mendorong tindakan dan kemitraan dalam
usaha untuk mengejar ekonomi global yang lebih bisa dipertahankan dan lebih
inklusif. Compact ini berdasarkan pada sembilan Prinsip yang berkenaan dengan
bidang hak asasi manusia, buruh/tenaga kerja, dan lingkungan
Ke sembilan prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

1. Memastikan bahwa perusahaan tidak terlibat dalam pelecehan hak asasi


manusia

2. Bisnis sebaiknya mendukung dan menghargai perlindungan internasional


terhadap hak asasi manusia dalam pengaruhnya; dan

3. sebaiknya kebebasan asosiasi dan pengetahuan efektif tentang hak untuk


tawar menawar kolektif.

4. Penghapusan semua bentuk pemaksaan tenaga kerja;

5. Penghilangan pemaksaan dan pemerasan tenaga kerja yang efektif.

6. Menghilangkan diskriminasi dalam ketenaga kerjaan dan lapangan kerja.

7. Bisnis sebaiknya mendukung pendekatan awal terhadap tantangan


lingkungan.

8. Melakukan inisiatif untuk mendukung tanggung jawab lingkungan yang lebih


besar; dan

9. mendorong pengembangan dan penggunaan teknologi ramah lingkungan.


Apa maksudnya dalam praktek?

UNGC diperkenalkan pada bulan Juli 2000 oleh Sekjen PBB. Sembilan prinsip
tersebut berasal dari konsensus yang hampir universal dalam Deklarasi Universal
Hak Asasi Manusia (1948), Deklarasi Organisasi Buruh Internasional tentang Prinsip
dan Hak dasar dalam Bekerja (1998) dan Deklarasi Rio tentang Lingkungan dan
Pengembangan (1992).

UNGC meminta tiap perusahaan untuk memadukan dukungan terhadap hak asasi
manusia, memenuhi standar tenaga kerja dan perlindungan lingkungan pada inti
operasi bisnis mereka dan untuk menghentikan kegiatan dan proyek perusahaan
yang melampaui prinsip-prinsip tersebut. Baru-baru ini, beberapa perusahaan
yang menandatanganinya diharuskan melaporkan di depan umum kemajuannya
dalam menerapkan ke sembilan prinsip tersebut. The Global Reporting Initiative
(GRI) menjadi mekanisme pelaporan jika terjadi pelanggaran implementasi ke
UGHC.

4
Sumber: United Nations Global Compact

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 36 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Meskipun mencapai momentum yang mengesankan, gerakan tanggung jawab


perusahaan naik turun di ambang batas nyata. Sebagian besar inisiatif perusahaan
berputar-putar pada inti bisnis, terpisah satu sama lain dan tidak berhubungan
dengan sistem yang lebih luas untuk menghasilkan dampak kolektif yang lebih
besar. Untuk mencapai potensi penuhnya, gerakan tersebut harus memindahkan
gigi. Spesifiknya, perusahaan harus menanyakan pertanyaan fundamental tentang
bagaimana mencapai skala yang dibutuhkan untuk menanggapi masalah global dan
bagaimana caranya membantu mengkatalisasi perkembangan kerangka
pemerintahan global yang lebih efektif.
Tanggung jawab Sosial perusahaan, bergunakah konsep ini untuk
pengembangan?

Dengan adanya konferensi tingkat tinggi di Afrika Selatan pada tahun 2002, CSR
secara resmi memasuki arena kebijakan internasional. Dengan perkembangan
peran yang diberikan pada pertumbuhan ekonomi dan pengembangan, peran bisnis
dalam pengembangan perbaikan sosial juga telah meningkat.

Hal ini tidak dapat dilihat dari inkorporasi CSR dalam Tujuan Pengembangan
Milenium dimana lingkungan bisnis diberikan peran penting terkait dengan
pengentasan kemiskinan.
Tujuan Pengembangan Milenium (The Millennium Development Goals /
MDG)

Ada hubungan yang jelas antara inisiatif tanggung jawab perusahaan dengan
tantangan pengembangan berkelanjutan yang lebih luas. Dalam konteks ini
mungkin berguna jika kita melihat apakah Tujuan pengembangan milenium yang
merupakan bagian dari peta menuju implementasi Deklarasi Milenium PBB sesuai
dengan konferensi internasional pada tahun 1990-an.

Meskipun pencapaian MDG tidak menjamin pengembangan berkelanjutan, tujuan-


tujuan tersebut mengingatkan kita bahwa paling tidak ada sejumlah konsensus di
tingkat global terkait dengan kebutuhan untuk mencapai kemajuan yang lebih
besar dalam menghadapi tantangan fundamental. Misalnya, pada tahun 2015, ke
191 anggota PBB disumpah untuk memenuhi delapan tujuan berikut:

1. Menghapuskan kemiskinan dan kelaparan: hilangkan setengah dari


proporsi orang miskin yang hidup dengan biaya dibawah sedolar sehari
dan setengah lagi dari proporsi orang yang menderita kelaparan.

2. Mencapai pendidikan dasar universal: memastikan bahwa semua anak


menyelesaikan wajib belajar.

3. Mendukung kesamaan gender dan memperkuat posisi wanita:


menghilangkan pembedaan gender di dunia pendidikan dasar dan
menengah, khususnya pada 2005 dan di semua tingkatan pada 2015.

4. Mengurangi tingkat kematian anak: mengurangi dua per tiga rasio


kematian ibu;

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 37 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

5. Meningkatkan kesehatan ibu: mengurangi tiga per empat rasio kematian


ibu.

6. Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lain: beralih dan mulai


membalik penyebaran HIV/AIDS dan membalik pengaruh malaria dan
penyakit besar lainnya.

7. Memastikan keberlangsungan lingkungan: mengintegrasi prinsip-prinsip


pengembangan berkelanjutan menjadi kebijakan dan program negara
dan mengembalikan hilangnya sumber daya alam; mengurangi setengah
proporsi orang yang tidak memiliki akses terhadap air minum yang
aman; dan mencapai peningkatan signifikan dalam kehidupan 100 juta
orang miskin di tempat kumuh pada tahun 2020.

8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangungan: sejauh ini,


melingkupi masalah-masalah negara berkembang seperti pengurangan
tarif dan kuota pasar ekspor, meningkatkan pelunasan hutang dan akses
obat-obatan penting yang terjangkau di negara-negara berkembang.
Bagaimana negara saudara memenuhi Tujuan Pengembangan
Milenium (MDG)?

Jelas, pentingnya pengaturan perusahaan yang baik beranjak jauh dari kepentingan
pemegang saham di tiap perusahaan. Memang, prinsip-prinsip transparansi dan
akuntabilitas pengaturan perusahaan penting bagi integritas dan kredibilitas hukum
bagi sistem pasar kita. Kita telah mempercayai perusahaan untuk menciptakan
pekerjaan yang meningkatkan pemasukan pajak dan menyediakan barang dan jasa
untuk pasar.

Tanggung jawab manajer perusahaan, tentu saja tidak terbatas pada melaporkan
laporan keuangan yang jujur, melaksanakan fungsi utama kegiatan bisnis dan
mematuhi berbagai hukum yang berlaku. Perusahaan-perusahaan bisnis juga
harus menanggapi harapan masyarakat demokrasi tentang cara mereka beroperasi.
Harapan-harapan tersebut seringkali tidak tertuang sebagai hukum resmi. Pembagi
keuntungan sebenarnya mengharapkan perusahaan memenuhi tuntutan
masyarakat, sesuai dengan maksimalisasi nilai perusahaan. Memang, pengalaman
menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang melakukan hal tersebut menjadi
perusahaan terbaik dalam jangka panjang.

Tantangan untuk memenuhi harapan ini menjadi semakin kompleks dalam ekonomi
global dunia saat ini, dengan perusahaan-perusahaan biasanya beroperasi dalam
sejumlah lingkungan bisnis dan budaya yang legal dan memiliki peraturan.

Dalam beberapa tahun terakhir, para pebisnis terikat dalam inisiatif sukarela untuk
meningkatkan kinerja mereka dalam berbagai bidang etika bisnis dan juga
pemenuhan hukum. Mereka telah membuat kode tindakan dan sistem manajemen
yang dirancang untuk membantu mereka memenuhi komitmen-komitmen ini.
Mereka telah mengembangkan kode tindakan dan sistem manajemen ini dengan
bantuan partai buruh, LSM dan pemerintah.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 38 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Sekarang kerjakan tugas QU-1.3—AS. 7/8 Kunjungan Lapangan


“tangung jawab sosial perusahaan” yang bisa ditemukan di
Bagian Tugas di akhir Unit Pembelajara ini.

3.2 Kode tindakan dalam profesi


Memang kenapa kita membutuhkan Kode Profesional?

Wajarkah dan diharapkankah warga negara yang baik berperilaku etis dalam
pekerjaan? Sebenarnya, hal ini tidak sesederhana dan seotomatis itu. Tidak
seorangpun yang memulai dengan mencoba berperilaku tidak etis. Hal itu semata-
mata hanya masalah memikul beberapa tanggung jawab dalam waktu bersamaan.
Salah satu cara untuk memandang Kode Profesional adalah dengan
memandangnya sebagai pendekatan tersistem untuk menengahi masalah-masalah
yang bisa terjadi jika seseorang memakai beberapa topi. Pandangan lain
menyatakan bahwa Kode Formal tidakan merupakan gambaran hubungan antara
masyarakat dengan warga negara yang baik.

Tapi mari kita lihat beberapa definisi dasar:


Apa profesi itu?

Profesi adalah sekelompok orang yang telah melewati pelatihan khusus, utuk
menguasai pengetahuan dan kemampuan dan juga komitmen untuk bersosialisasi
dan bertindak baik. Saat orang-orang ini memasuki dunia kerja mereka akan
memiliki tanggung jawab profesional.
Tanggung jawab profesional mencakup apa aja?

Tanggung jawab profesional adalah tanggung jawab untuk menggunakan


pengetahuan dan kemampuan khusus untuk kepentingan individu maupun
masyarakat secara keseluruhan. Untuk itu perlu pembentukan standard produk
yang baik berdasarkan pada kode profesi melalui persetujuan atau kontrak yang
mampu mengangkat nilai kelompok, termasuk penuntun bagaimana menggunakan
keterampilan khusus sesuai dengan standard profesi.
Kode tindakan memiliki disiplin dan konteks khusus.

Ada kesamaan nilai antara kode etik dan kode profesional karena keduanya
memiliki banyak nilai yang sama, antara lain kejujuran, keadilan, tidak
membahayakan, dan berjalan untuk meningkatkan mutu kehidupan sebanyak
mungkin.

Kode profesional adalah pernyataan nilai yang sama, dan muncul persyaratan
tindakan yang benar. Kode-kode ini memiliki karakteristik yang sama dengan teori
moral. Kode profesional yang bagus, seperti juga kode moral yang bagus, memiliki
konsistensi dalam diri. Dengan kata lain, apa yang benar untuk satu orang, akan
benar pula untuk orang lain.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 39 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Teori yang mengikuti pendekatan ini disebut Deontologis, berasal dari kata Yunani
“deontos” yang berari tugas atau kewajiban. Frase yang menjelaskan pendekatan
ini adalah “kita memiliki kewajiban untuk menghargai hak individu.” Untuk
mencoba menjelaskan apa “tindakan yang benar” itu, kode kerja (tindakan)
seringnya berupa gabungan antara pendekatan Deontologis dan Utilitarian. Ada
ungkapan yang bersifat Deontologis yang menyatakan “ini adalah prinsip-prinsip
yang harus diikuti.” Namun, di saat yang bersamaan kode itu juga menyatakan
sifat Utilitarian yang menyatakan “Semua orang akan bisa lebih baik jika kita
semua mengikuti standar yang sama.”

Kode profesional yang lengkap menggabungkan kewajiban dan hak lapangan kerja
atau perusahaan yang memuat lapangan kerja tersebut. Hak dan kewajiban yang
positif dari kelompok profesional secara langsung dan tidak langsung terkait
dengan pemenuhan kebutuhan yang harus di dukung oleh anggota kelompok.
Semua profesional memiliki kewajiban yang tegas untuk memenuhi kebutuhan,
mendukung kepentingan dan menghargai nilai-nilai klien, karena pemenuhan
kewajiban ini menyusun dasar bagi posisi hak mereka dalam masyarakat.

Sekarang kerjakan tugas QU-1.3-AS. 8/8 tugas kelompok


“menyusun kode kerja” yang bisa ditemukan di Bagian Tugas
di akhir Unit Pembelajaran ini.

3.3 Pendekatan terintegrasi pada mutu


Sebuah pendekatan holistik memandang CSR sebagai konsep manajemen strategis
yang menjadi keseluruhan kerangka kerja yang terpadu pada struktur dan proses
perusahaan. Sebagai sebuah konsep manajemen, CSR harus memenuhi apa yang
disebut “tiga garis dasar”, yaitu masalah-masalah ekonomi, sosial dan ekologi
yang harus diseimbangkan oleh perusahaan untuk mencapai pengembangan
berkelanjutan organisasi secara ekonomi, sosial dan ekologi.

Dengan demikian perilaku mutu di tingkat institusional memiliki tiga implikasi


utama yang mengarah ke pendekatan terintegrasi pada mutu dalam yaitu: a)
pemenuhan standar tenaga kerja internasional dan hak asasi manusia yang
mencakup kesehatan dan keamanan di tempat kerja, b) pemenuhan
regulasi/peraturan lingkungan, dan c) pemenuhan sistem manajemen mutu.

Kita akan sedikit menyentuh ketiga aspek penting ini yang akan dijelaskan lebih
dalam Modul Semester Tahun ke 2 dan Ke 3 unit pembelajaran.

Pemenuhan standar tenaga kerja internasional dan hak asasi manusia


termasuk regulasi kesehatan dan keamanan.

Pelanggaran hak asasi manusia tidak baik untuk perusahaan. Perusahaan tersebut
harus berurusan tidak hanya dengan masalahnya sendiri, tapi juga dengan
implikasi sosialnya. Penghilangan pelecehan terhadap hak untuk integritas fisik dan

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 40 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

mental, kebebasan berekspresi dan lingkungan kerja yang bebas dari diskriminasi
sangat penting untuk mendukung hak asasi manusia. Kode etik ada untuk
menciptakan standar dan pemastian berjalannya bisnis dan hak asasi manusia.
Sertifikasi dan perilaku transparan penting bagi perusahaan. Bersikap etis atau
tidak bukanlah pilihan, tapi fakta. Jika sebuah perusahaan bersikap etis kurang
lebih tergantung dari pengembangan bagian ini dari perusahaan yang sama.

Menerapkan kebijakan dan program kesehatan yang efektif membutuhkan dialog,


kerja sama dan kepercayaan antara pemilik, pekerja dan pemerintah. Para pekerja
juga harus diberikan layanan kesehatan yang terjangkau dan harus mendapatkan
manfaat dari skema pekerjaan.

Pegawai memiliki andil dalam kerja yang aman; begitu juga pimpinannya. Banyak
tempat kerja yang melakukan program keamanan karena pihak manajemen
menyadari bahwa kecelakaan adalah beban biaya yang bisa dicegah. Bisnis
pembangunan mungkin memiliki direktur keamanan yang tugasnya mencakup
membantu pihak manajemen melakukan tugasnya menjaga dan mempertahankan
kondisi kerja yang aman. Bisnis-bisnis lain mungkin memiliki dewan keamanan
yang terdiri dari pimpinan dan pegawai yang membantu mendukung keamanan.
Dalam banyak kasus, pihak pimpinan menyediakan perlengkapan pelindung, seperti
sepatu keamanan, kacamata keamanan (google), sarung tangan, dsb., yang
diperlukan untuk pekerjaan tertentu. Fitur keamanan mekanis mungkin mencakup
mesin jaga atau alat perlindungan lain yang bervariasi mulai dari sistem penyedot
debu sampai perekam radiasi. Pembuka kaleng, penghalus makanan, mesin
pemotong kain, dan mesin jahit industri adalah contoh perlengkapan yang memiliki
penjaga keamanan dan peralatan pelindung.

Poster, peraturan dan regulasi keamanan, dan pembicaraan serta pertemuan yang
membahas tentang keamanan bisa dijadikan bagian dari program pencegahan
kecelakaan. Di sebagian besar bisnis bangunan, fasilitas pertolongan pertama
disiapkan untuk meminimalisir pengaruh kecelakaan yang terjadi.

Memenuhi regulasi lingkungan dan menjelaskan istilah lingkungan

Pemikiran tentang ‘lingkungan’ memiliki makna berbeda-beda bagi tiap orang. Bagi
sebagian orang, lingkungan adalah segala sesuatu di luar tubuh kita, bagi yang
lain, lingkungan berarti segala sesuatu di luar rumah atau kantor kita. Orang-
orang juga menggunakan istilah ‘lingkungan’ sebagai alat untuk mengkualifikasi
area atau bidang pribadi, seperti lingkungan rumah atau lingkungan kantor.
Semua istilah ‘lingkungan’ ini mencakup udara, air, hewan, tumbuhan, manusia,
infrastruktur serta proses alam, dan bahkan proses ekonomi seperti fungsi
organisasi dan tekanan dari pesaing.

Istilah ‘lingkungan’ menjelaskan ‘kondisi sekitar dimana organisasi beroperasi, dan


mencakup udara, air, tanah, sumber daya alam, flora, fauna, manusia dan
hubungan mereka satu sama lain. Kondisi sekitar dalam konteks ini termasuk dari
dalam organisasi sampai ke sistem global.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 41 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

‘Aspek lingkungan’ adalah nama resmi yang diberikan oleh sistem manajemen
lingkungan standar ISO14001 pada semua elemen kegiatan, barang atau jasa
organisasi yang bisa berinteraksi dengan lingkungan. Aspek lingkungan yang
signifikan adalah aspek lingkungan yang memiliki atau bisa memiliki dampak
negatif yang signifikan pada lingkungan.
Apa maksud hal ini dalam prakteknya

Lingkungan ada disekitar manusia sebagai individu, kelompok atau komunitas dan
perusahaan. Orang-orang memiliki hubungan yang sangat dekat dan intim dengan
lingkungannya, khususnya lingkungan di tempat hidupnya. Segala hal yang terjadi
di lingkungan (misalnya bising atau cuaca) bisa mempengaruhi kita dan kita juga
bisa mempengaruhi segala hal yang terjadi di lingkungan dengan mengemudikan
mobil, menghangatkan rumah dan kantor, atau menghidupkan lampu di malam
hari. Pemikiran tentang lingkungan sama persis dengan pemikiran tentang
ekosistem.

Aspek lingkungan sebuah perusahaan cenderung merupakan kegiatan atau proses


yang bisa dihubungkan dengan dampak terhadap lingkungan. Istilah ‘aspek
lingkungan’ secara langsung merujuk pada standar sistem manajemen lingkungan
ISO14001.

Untuk mendapat sertifikat ISO14001, sebuah perusahaan harus menilai aspek-


aspek lingkungannya untuk menentukan yang mana yang signifikan dan yang
mana yang bisa memiliki dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat.
Aspek-aspek yang signifikan ini harus dipertimbangkan saat menyusun tujuan
kerja, membuat program pelatihan dan merancang prosedur darurat. Aspek-aspek
ini sering mencakup bagian-bagian operasi perusahaan yang memiliki dampak
negatif terhadap sumber daya tanah dan air, keberagaman biologi dan ekosistem.
ISO14001 juga mengharuskan semua informasi terkait dengan aspek lingkungan
yang signifikan dihargai dan terus diperbarui. Hal ini penting jika perusahaan
berubah, sehingga dampak yang diberikannya pada lingkungan juga berubah.
Dengan memonitor aspek-aspek operasinya yang terkait dengan dampak-dampak
ini, perusahaan bisa menekan pengaruhnya pada lingkungan.

Memenuhi sistem manajemen mutu

Penerapan sistem manajemen mutu haruslah merupakan keputusan strategis


perusahaan. Rancangan dan implementasi sistem manajemen mutu perusahaan
dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan, tujuan khusus, barang yang disediakan,
proses yang dipakai, dan ukuran serta struktur organisasi tersebut. Tujuan
Standar Internasional ini bukan untuk menyarankan keseragaman dalam struktur
sistem manajemen mutu atau keseragaman dokumentasi.

Standar Internasional ini mendorong penerapan pendekatan proses saat membuat,


menerapkan dan meningkatkan efektifitas sistem manajemen mutu, untuk
meningkatkan kepuasan pelanggan dengan memenuhi persyaratan yang diajukan
oleh para pelanggan tersebut.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 42 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Agar organisasi bisa berfungsi dengan efektif, organisasi tersebut harus


mengidentifikasi dan mengatur sejumlah besar kegiatan yang terkait. Kegiatan
yang menggunakan sumber daya dan diatur untuk memungkinkan transformasi
dari input menjadi output bisa dianggap sebuah proses. Seringnya output dari
sebuah proses secara langsung membentuk input untuk yang berikutnya.

Penerapan sebuah sistem atau proses-proses dalam organisasi, bersama dengan


identifikasi dan interaksi proses-proses tersebut, dan pengaturannya, bisa disebut
sebagai “pendekatan proses”. Manfaat pendekatan proses adalah kontrol terus
menerus yang diberikannya pada hubungan antara proses individu dalam sistem
proses, sekaligus pada gabungan dan interaksinya.

Contoh sistem manajemen mutu berdasarkan proses yang ditunjukkan dibawah ini
menggambarkan hubungan-hubungan proses. Ilustrasi tersebut menunjukkan
bahwa pelanggan memainkan peran yang signifikan dalam menentukan
persyaratan input. Memonitor kepuasan pelanggan mengharuskan adanya evaluasi
informasi terkait dengan persepsi pelanggan tentang apakah organisasi tersebut
telah memenuhi persyaratan/permintaan pelanggan atau belum. Contoh yang
ditunjukkan berikut ini melingkupi semua persyaratan Standar Internasional, tapi
tidak menunjukkan proses-proses tersebut secara rinci.

Contoh proses

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 43 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

4 Daftar tugas

PERKIRAAN
No. Referensi JUDUL TUGAS WAKTU
PEMBELAJARAN

QU-1.3-AS 1/8 T UGA S K E L OM P OK ST UDI KA S US 1 jam


“ P E N ER A P A N E T I KA B IS N IS

QU-1.3-AS 2/8 P E N I LA IA N D IR I “ M A TR IX 2 jam


M AN A JEM E N WAK T U DA N
DI A GRA M OR AN G YA NG SA N GAT
EFEK TIF”

QU-1.3-AS 3/8 T UGAS KEL OMP OK “ G IZI Y AN G 30 menit


B AIK DAN K EB UGARA N KES E HATA N
FISIK.

QU-1.3-AS 4/8 K UNJ UNGA N LA PA NGA N 4 jam


“ PER ILA KU MUT U YANG BA GUS
UNTUK BI SA DI PERTAHANKA N

QU-1.3-AS 5/8 PENILA IAN DIRI “DIMANA SAYA?” 30 menit

QU-1.3-AS 6/8 T UGAS KEL OMP OK “ LA P ORA N 2 jam


B A HAYA ”

QU-1.3-AS 7/8 K UNJ UNGA N LA PA NGA N 4 jam


“ TANGGUNG JA WAB S OSIAL
PER USAHAA N.

QU-1.3-AS 8/8 T UGAS KELOMPOK “MENYUSUN 2 jam


K ODE K ER JA ”

TEORI: 8 JAM P R A K T E K : 16 JAM

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 44 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

QU- 1.3 – AS. 1/8 T U G A S K E L O M P O K STUDI KASUS


“PENERAPAN ETIKA DALAM BISNIS”
PERKIRAN WAKTU PEMBELAJARAN: 1 JAM

Tujuan objektif: menggali peraturan tentang apa yang harus dan tidak
boleh dilakukan dalam prinsip etika bisnis

Kelas akan dibagi menjadi kelompok-kelompok yang terdiri dari 5-6 peserta didik.

Tiap kelompok akan membaca studi kasus dan menjawab pertanyaan yang
diberikan dibawahnya.

“Direktur sebuah perusahaan bisnis sedang menegosiasikan sebuah kontrak di


negara lain yang belum pernah mereka jamah. Insiyur perusahaan sama sekali
belum pernah bekerja di negara ini.

Petugas tingkat tinggi (petinggi) di negara ini memberitahu direktur perusahaan


tersebut bahwa sudah menjadi kebiasaan hukum untuk memberikan hadiah
secara pribadi kepada petugas yang berwenang atas penilaian kontrak. Petugas
ini juga memberitahukan bahwa tidak akan ada pekerjaan selanjutnya yang
diberikan pada perusahaan tersebut jika tidak memberikan hadiah semacam itu.
Namun, persyaratan ini tidak akan dimasukkan ke dalam kontrak.

Jika direktur perusahaan itu berkeberatan dengan permintaan tersebut, pihak


pemerintah juga tidak akan bekerja sama dalam penyelesaian kontrak pertama
karena perusahaan lain telah memberikan hadiah seperti itu pada petugas
pemerintah.”

Pertanyaan untuk diskusi kelompok:

Apa saja nilai yang ditunjukkan oleh petugas pemerintahan tersebut melalui
permintannya?

Apakah petugas pemerintahan itu menerapkan perilaku mutu? Apakah saudara


menilai hal tersebut sebagai sesuatu yang benar atau salah? Mengapa?

Apakah permintaan diatas sesuai dengan kode etik? Jelaskan.

Gambarkan nilai inti saudara (nilai-nilai yang saudara anggap lebih tinggi
dibanding nilai lainnya) Bagaimana sikap saudara dalam situasi seperti diatas?

Ketua kelompok akan menyajikan hasil pembahasan kelompok untuk didiskusikan


lebih lanjut dengan pengajar dan teman-teman lainnya di kelas.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 45 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

QU-1.3 – AS.2/8 PENILAIAN DIRI “MATRIKS


MANAJEMEN WAKTU DAN DIAGRAM UNTUK ORANG-
ORANG YANG SANGAT EFEKTIF”

PERKIRAN WAKTU PEMBELAJARAN: 2 JAM

Tujuan pembelajaran: menggunakan matriks manajemen waktu terkait


dengan orang yang sangat efektif

Tiap peserta didik harus mengisi matriks yang diberikan berikut ini. Ingatlah bahwa
dalam matriks manajemen waktu, mendesak berarti membutuhkan perhatian
segera semetara penting berkaitan dengan hasil yang berkontribusi pada misi,
tujuan dan nilai saudara. Orang yang proaktif dan efektif menghabiskan sebagian
besar waktu mereka di kuadran II dan dengan demikian mengurangi waktu yang
mereka habiskan di kuadran I.

Per individu:

Pertama: tuliskan tugas-tugas utama saudara minggu ini.

Kedua: buat daftar sasaran untuk tiap tugas menggunakan kegiatan kuadran II.
Sasaran-sasaran ini harus terkait dengan tujuan dan filosofi saudara yang dibangun
di Kebiasaan 2. (Mulai menentukan tujuan)

Matriks manajemen waktu

Mendesak Tidak mendesak

I II

Krisis, memadamkan kebakaran Tindakan Pencegahan

Penting Masalah-masalah yang Membangun hubungan


mendesak
Melihat peluang baru
Proyek yang memiliki tenggat
Perencanaan, rekreasi
waktu

III IV

Interupsi, masalah-masalah yang Hal-hal remeh, kesibukan


Tidak menekan sehari-hari
penting
Surat, telepon, laporan Bersantai

Rapat-rapat Bersenang senang

Ketiga: dengan menggunakan diagram waktu yang diberikan dibawah, buatlah


jadwal untuk mencapai tujuan tersebut.

Keempat: terapkan jadwal mingguan itu ke aktifitas sehari-hari

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 46 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

DIAGRAM WAKTU

Main
task:________Date:________________________________Day:_______________

Tugas utama:______________Tanggal:___________Hari:________________

Waktu Tujuan Kegiatan Hasil

00

30

00

30

00

30

...

Catatan: jika saudara bisa menggunakan Diagram Waktu sehari-hari selama tiga
atau empat minggu, saudara harus bisa menentukan berapa banyak waktu yang
saudara habiskan di berbagai kegiatan, jenis tujuan yang dianggap penting, dan
hasil dari berbagai kegiatan tersebut.

Akhir pekan bisa dimasukkan sebagai bagian dari standar mingguan. Ada banyak
hal yang bisa dicapai selama minggu itu. Hasilnya yang dimasukkan dalam
Diagram Waktu bisa membantu mengkaji ulang kegiatan-kegiatan yang telah lewat
dan memberikan panduan untuk kegiatan di masa depan sehingga waktu bisa
digunakan lebih efektif.

Dengan menggunakan Diagram Waktu saudara sebagai basis, saudara akan bisa
menyimpulkan jika saudara menanyai diri sendiri dan kemudian menjawab
pertanyaan berikut

1. Bagian hari yang mana yang paling efektif dan


produktif untuk saudara? Mana yang kurang
produktif? Kenapa?

2. Apa pola inefisiensi yang terus menerus muncul?


(misalnya menunggu sesuatu, mencari sesuatu,
interupsi dsb.)

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 47 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

3. Apa yang saudara lakukan di sekolah yang mungkin


tidak perlu?

4. Apa yang saudara lakukan di sekolah yang mungkin


tidak sesuai?

5. Adakah peluang bagi saudara untuk meningkatkan


efisiensi?

6. Adakah saat tertentu dimana kesenangan


melampaui tugas yang diprioritaskan?

7. Kegiatan mana yang tidak berkontribusi untuk


mencapai salah satu tujuan saudara? Bagaimana
merubahnya?

Bahas hasilnya dengan pengajar saudara.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 48 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

QU- 1.3 – A S .3 /8 TUGAS KELOMPOK “GIZI YANG BAIK


DAN KESEHATAN FISIK YANG BAIK”

PERKIRAAN WAKTU PEMBELAJARAN: 30 MENIT

Tujuan pembelajaran: mendiskusikan prinsip gizi yang baik dan


kesehatan fisik yang baik

Kelas akan dibagi menjadi kelompok-kelompok yang terdiri dari 5-6 orang.

Tiap kelompok akan menjawab pertanyaan berikut:

• Apa pendapat saudara tentang gerakan ‘makanan lambat saji’?

• Apakah saudara lebih suka makan makanan tradisional atau makanan


cepat saji di restoran? Kenapa?

• Apa konsekuensi/resiko jangka panjang makanan cepat saji?

• Menurut saudara pentingkah kesehatan fisik yang baik? Kenapa?

• Jenis kegiatan olahraga apa yang saudara lakukan tiap minggu?

• Tuliskan hal-hal utama yang harus dihindari untuk tetap sehat.

Ketua kelompok akan menyajikan hasil diskusi kelompok untuk dibahas lebih
lanjut dengan pengajar dan teman-teman lain di kelas.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 49 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

QU-1. 3 AS. 4/8 KUNJUNGAN LAPANGAN “PERILAKU MUTU


YANG BAIK UNTUK BISA DIEPRTAHANKAN”

PERKIRAAN WAKTU PEMBELAJARAN: 4 JAM

Tujuan pembelajaran: untuk mengetahui apa yang bisa dilakukan sebagai


warga negara untuk meningkatkan perilaku mutu untuk bisa
dipertahankan.

Selama kunjungan lapangan, saudara harus meneliti empat masalah berikut:

Pengelolaan limbah

Penghematan energi

Pengurangan polusi

Penggunaan fasilitas umum

Sebagai panduan saudara dalam misi mencari fakta, saudara bisa mengikuti
petunjuk berikut:

Pengelolaan limbah

membuat inventaris jenis sampah yang ditemukan di sekitar area sekolah;

• Jenis sampah apa yang saudara temukan yang bisa digunakan kembali
atau di daur ulang?

• Apakah kaleng aluminium didaur ulang di masyarakat saudara? Apa saja


manfaat daur ulang ini?

• Bagaimana pengelolaan limbah di komunitas saudara?

Penghematan energi

Temukan bagaimana energi digunakan di kelas atau di lingkungan saudara

Apa manfaat penghematan energi?

Pengurangan polusi

Barapa persen jumlah mobil jeep 4x4 di komunitas saudara?

Berapa banyak peserta didik yang memakai sepeda atau berjalan kaki ke sekolah?

Temukan persentase emisi gas CO2 di daerah saudara

Penggunaan fasilitas umum dengan hati-hati

Selama kunjungan lapangan, buatlah daftar fasilitas umum di daerah saudara dan
periksalah apakah fasilitas-fasilitas tersebut digunakan dengan hati-hati. Jika
tidak, buatlah daftar fasilitas umum yang, menurut saudara, membutuhkan
perbaikan atau penggantian. Coba juga mengetahui siapa yang merusak fasilitas
umum tersebut;

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 50 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Buatlah perkiraan rata-rata biaya yang dibutuhkan untuk memperbaiki situasi


tersebut;

Menurut saudara, adilkah kita membayar pajak? Mengapa?

Mengapa fasilitas umum harus digunakan dengan hati-hati?

Berdasarkan temuan saudara, siapkan laporan untuk disajikan minggu depan.


Untuk tiap masalah yang ditemui, berikan usulan solusi.

Pekerjaan rumah: tuliskan dalam jurnal pembelajaran saudara


semua sampah yang dibuang dari rumah saudara dalam beberapa
hari kedepan serta tempat pembuangannya.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 51 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

QU- 1.3 – AS. 5 /8 PENILAIAN DIRI “DIMANA POSISI

PERKIRAAN WAKTU PEMBELAJARAN: 30 MENIT

Tujuan pembelajaran: menilai kelebihan dan kekurangan saudara sebagai


contoh peran beserta pandangan untuk meningkatkannya.

Tiap peserta didik harus menilai diri sendiri berdasarkan karakteristik contoh peran
sebagai pekerja yang ada di halaman 22 panduan ini.

Para peserta didik harus menuliskan di jurnal pembelajaran mereka hasil penilaian
mereka dan rencana tindakan untuk meningkatkan titik-titik lemah yang mereka
temukan.

Tiap peserta didik harus menyajikan dengan singkat di depan kelas hasil
penilaiannya dan menerima umpan balik dari penilaian/anggapan teman-temannya
mengenai dirinya

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 52 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

QU-1.3-AS.6/8 TUGAS KELOMPOK “MELAPORKAN


BAHAYA”

PERKIRAAN WAKTU PEMBELAJARAN: 2 JAM

Tujuan pembelajaran: mengidentifikasi masalah-masalah yang bisa dicegah


Kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok yang terdiri dari 5-6 orang

Tiap kelompok mengunjungi berbagai tempat kerja di sekolah dan memberikan


laporan bahaya yang mereka temukan beserta usul solusi untuk mencegah masalah
yang sama muncul lagi:

Tuliskan dalam laporan bahaya berikut untuk diberikan pada manajer/penyelia dan
perwakilan penpengajar s kesehatan dan keamanan tempat kerja tersebut.

Bahaya dilaporkan oleh (nama peserta didik): Tanggal:

Deskripsi bahaya (mencakup area dan tugas yang terlibat, dan semua
perlengkapan, peralatan dan orang yang terlibat. Gunakan sketsa jika perlu).

Tindakan yang segera diambil:

Usulan tindakan selanjutnya (tuliskan daftar semua usulan yang saudara miliki
untuk mengurangi atau menghilangkan masalah tersebut).

Report to: (name)________________________Position:________________

Dilaporkan pada: (nama)__________________Jabatan:________________

Untuk diselesaikan oleh Manajer:

Tindakan yang diambil (untuk diselesaikan oleh penyelia/manajer dengan


berkonsultasi dengan perwakilan penpengajar s kesehatan dan keamanan dan
mencakup tindakan di tingkat lokal atau dengan merujuk ke sumber lain)

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 53 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

Evaluasi † Bahaya yang Dihilangkan † Bahaya yang Dikontrol


Tindakan berikutnya, oleh siapa, kapan? † Tanggapan pada orang yang
melapor

Tanggal:_________

Nama saudara: Tanggal:

Manajer: Tanggal:

Perwakilan Penpengajar s Kesehatan dan Keamanan: Tanggal:

Ketua kelompok akan menyajikan hasil temuan kelompok dan melapokannya ke


pengajar dan teman-teman sekelas.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 54 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

QU-1. 3 – AS. 7/8 KUNJUNGAN LAPANGAN


“TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN”

PER KIRAA N WAKT U P EMBE LA JA RA N: 4 JAM

Tujuan pembelajaran: menemukan pandangan komunitas bisnis


setempat terhadap tanggung jawab sosial perusahaan

Kunjungi asosiasi bisnis setempat (misalnya dewan perdagangan, Klub Rotary,


asosiasi bankir atau pedagang) dan juga pihak berwenang setempat dan
organisasi non pemerintah/LSM yang terlibat dalam usaha perdagangan etis)
dan temukan:

• pandangan mereka terhadap dan penerapan konsep tanggung jawab


sosial perusahaan;

• kontribusi mereka pada program Global Compact PBB/UNGC (gunakan


kesembilan prinsip tersebut sebagai panduan untuk bertanya);

• kontribusi mereka terhadap Tujuan Pengembangan Milenium PGG/MDG


(gunakan kedelapan tujuan MDG sebagai panduan untuk bertanya);

• apakah mereka menggunakan pendekatan terintegrasi pada sistem


manajemen mutu yang: a) pemenuhan standar tenaga kerja
internasional dan hak asasi manusia yang mencakup kesehatan dan
keamanan di tempat kerja, b) pemenuhan regulasi/peraturan
lingkungan, dan c) pemenuhan sistem manajemen mutu.

Siapkan laporan untuk disajikan di depan kelas minggu depan

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 55 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

QU-1. 3 – AS. 8 /8 TUGAS KELOMPOK “MENYUSUN


KODE TINDAKAN PERUSAHAAN”

PER KIRA A N WAK TU P EMBE LA JA RA N: 2 JAM

Tujuan pembelajaran: menyusun kode tindakan perusahaan

Para peserta didik akan dibagi menjadi kelompok beranggotakan 5-6 orang

Kode tindakan perusahaan

Sejumlah perusahaan memberikan tanggapan pada meningkatnya tekanan


untuk memenuhi standar hak asasi manusia dengan membuat kode tindakan
perusahaan (perusahaan) untuk digunakan oleh semua perusahaan dan mitra
bisnisnya.

Caritahu apakah sekolah saudara memiliki kode tindakan dan analisislah.

Bayangkan saudara dipekerjakan oleh perusahaan transnasional yang besar


(misalnya perusahaan garmen, dan perusahaan minyak) untuk membantu
mereka menyusun kode tindakan.

Dalam kelompok kecil, buatlah daftar prinsip-prinsip yang harus diikuti oleh
perusahaan dalam semua aspek pekerjaannya. Termasuk hak asasi manusia,
praktek tenaga kerja dan pertimbangan lingkungan.

Bandingkan semua daftar yang dihasilkan oleh kelompok lain juga dan
gabungkan untuk membuat dokumen akhir.

Ketua kelompok akan menyajikan dokumen akhir ini di depan kelas.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 56 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

BIBLIOGRAPHY AND WEBOGRAPHY

Allouch, J. (Ed) (2006) Corporate Social Responsibility. Volume 1: Concepts,


Accountability and Reporting. Hampshire: Palgrave Macmillan.

Blanpain, R., Multinational Enterprises and the Social Challenges of the 21st
Century: The ILO Declaration on fundamental Principles at work. Public and Private
Corporate Codes of Conduct. The Hague: Kluwer Law International, 2000. 386 P.

Covey S.R “The 7 habits of highly effective people. Powerful lessons in personal
change. Pocket books. Simon& Schulster.1997.

ILO. Ambient factors in the workplace. International Labour Office, Geneva. 2001.
94 P.

ILO. Conditions of work and employment of Professional Workers: Compendium of


Principles and good practices. International Labour Office, Geneva, 1990.

ILO. Ergonomic Checkpoints: Practical and easy-to-implement solutions for


improving safety, health and working conditions. International Ergonomics
Association. Geneva 1996. 273 P.

ILO. Using ILO Standards to Promote Environmentally Sustainable


Development.ILO, Bureau for Workers Activities. Geneva International Labour
Office, 1996.

Dean L, Bottorf, How ethics can improve business success. Quality Progress.
(February 1997 57-59,1997). American Society for Quality.
Fulton, L., Responsible Business? A Uni guide to International codes of practice.
Union Network International, Nyon. 2001. 40 P.

Gosphel H., Pendleton A., Corporate Governance and Labour Management: An


International Comparison. Oxford: Oxford University, 2005. 384 P.
Jenskins, R., Corporate Codes of Conduct. Self-regulation in a Global Economy.
Geneva: UNRSID United Nations Research Institute for Social Development. 2001,
35 P. (Technology, Business and Society Programme Paper, N.2)

Jenskins, R., Pearson R., Seyfang, G., Corporate Responsibility and Labour Rights:
Codes of Conduct in the global economy. London: Earthscan, 2002. 232 P.

Heta and Matti Hayry, “, "The nature and role of professional codes in modern
Society," in Ethics and the Professions, Ruth F. Chadwick, Ed., (Avebury:
Brookfield, 1994). p. 139. Book chapter available electronically.

Mamic, I., Implementing Codes of Conduct: How Business Manage Social


Performance in Global Supply Chains. International Labour Office. Geneva, 2004.
429 P.

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 57 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007
MEMBANGUN BUDAYA MUTU BAHAN MAHASISWA – SEM. 1

United Nations (UN) Millenium Project 2005 (2005). Investing in Development: A


practical Plan to Achieve the Millennium Development Goals. New York: UN
Millennium Project.

United Nations Research Institute for Social Development (UNRIDS) (ED.) (2003).
Social Responsibility and Development: Towards a New Agenda? Geneva: UNRISD.

United Nations Environment Programme(UNEP). Company environmental reporting:


a measure of the progress of business towards sustainable development: Paris,
1994.

Werther Jr. W.B. and Chandler, D. Strategic Corporate Social Responsibility:


Stakeholders in a Global Environment. Thousand Oaks: Sage Publications. London.
2006.

Wanjek, C., Food at Work: Workplace Solutions for Malnutrition, Obesity and
Chronic Diseases. Geneva. International Labour Office. 2005. 448 P.

Websites
Authoring a Code: Observations on Process and Organization.” This essay was
written by Andrew Olson, a graduate student working as a summer intern on the
website. http://csep.iit.edu/codes/coe/Writing_A_Code.htm.

A site produced by the AAAS full of articles and information pertaining to


professional responsibility and codes of conduct.
http//www.aaas.org/spp/dspp/sfri/per/per14.htm

European Business Network for CSR. http://www.csreurope.org

Ethical Trading Initiative. http://ethicaltrade.org

Friends of the earth. http://www.foe.co.uk/campaigns/corporates

United Nations Research Institute for Social Development (UNRIS) CSR resources
guide. http://www.unrisd.org

World Business Council for sustainable development. http://www.wbcsd.org

This site focuses on professional codes and is collecting as many as possible to be


available on line. http://www.iit.edu/departments/csep/

This is a website focused on codes of ethics by disciplines.


http://www.fis.ncsu.edu/grad/ethics/ethicnet.htm

This is a website focused on recycling. http;//www.recycle-more.co.uk

This is a website focused on energy saving. http://www.foe.co-uk/sitemap

QU 1.3 BUDAYA MUTU TINGKAT PERSONAL TEMPAT KERJA DAN INSTITUSI – A.GUASTAVI 58 / 58
EDISI : A / REVISI : 1 24/08/2007