Anda di halaman 1dari 222

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/324121919

Sejarah Peradaban Islam Jilid 1

Book · March 2018

CITATIONS READS
0 9,467

1 author:

Rianawati Dr
Pontianak State Institute of Islamic Studies (IAIN Pontianak)
10 PUBLICATIONS   1 CITATION   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

THE IMPLEMENTATION OF EDUCATION CHARACTER ON MORAL IN MTsN (ISLAMIC JUNIOR HIGH STATE SCHOOL) 1 PONTIANAK IN THE ACADEMIC YEAR 2015/2016 View
project

All content following this page was uploaded by Rianawati Dr on 31 March 2018.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Sejarah &
Peradaban Islam

Rianawati
Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan
Sejarah & Peradaban Islam
All rights reserved
@ 2010, Indonesia: Pontianak

Rianawati

Seting
Zulfian &Fahmi Ichwan

Publishing
STAIN Pontianak Press
(Anggota IKAPI)

STAIN Pontianak Press


Jl. Letjen Soeprapto No. 19 Pontianak 78121
Telp./Fax. (0561) 734170

Cetakan Pertama, Desember 2010

Rianawati
Sejarah & Peradaban Islam
Pontianak: STAIN Pontianak Press, 2010
iv+201 page. 15 cm x 21 cm
Kata Pengantar

Alhamdulillah, akhirnya Diktat Sejarah dan Peradaban


Islam ini dapat diselesaikan dalam bentuk Buku Daras. Buku
ini semula merupakan catatan-catatan kecil setiap kali
memberikan mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam dimulai
tahun 2000, di tingkat S1. Diktat Sejarah dan Peradaban
Islam ini, disusun sepenuhnya berdasarkan sillabus Fakultas
Tarbiyah. Mengenai isi dan jabaran dari uraian sillabus
tersebut dimungkinkan terjadi perbedaan, ini lebih
disebabkan karena setiap dosen memiliki titik tekan atau
sudut pandang yang berbeda. Namun secara umum tetap
mengacu pada sillabus yang ada.
Buku Daras ini diharapkan akan menjadi referensi bagi
mahasiswa S1 khususnya Fakultas Tarbiyah. Dan diharapkan
Buku Sejarah Peradaban Islam dapat dimanfaatkan
sepenuhnya oleh mahasiswa dalam menggali khazanah
historis keilmuan dari peristiwa-peristiwa masa lampau
sehingga melalui kajian-kajian Sejarah Peradaban Islam dapat
membuka wawasan berpikir mahasiswa tentang sejarah
dakwah dan perkembangan keilmuan Islam, sains dan
teknologi, pendidikan, social kemasyarakatan,
perekonomian, politik, perkembangan hukum, kebudayaan,
dan pertahanan keamanan, serta hasil-hasil peradabannya
baik peristiwa yang terjadi di kawasan Timur Tengah, Eropa,

iii
Afrika dan Asia.
Seluruh catatan mata kuliah Sejarah dan Peradaban
Islam yang ada dalam Buku Daras ini, masih sangat terbuka
untuk mendapatkan penyempurnaan. Ini disadari, karena
dinamika ilmu pengetahuan, apalagi pengetahuan ilmu-ilmu
sosial selalu mengalami interpretasi baru. Oleh karena itu,
kritikan yang bersifat konstruktif sangat diharapkan demi
penyempurnaan isi buku ini.
Akhirnya penulis ucapkan terima kasih kepada semua
pihak terutama Ketua Jurusan Fakultas Tarbiyah, kawan-
kawan para dosen dan pihak-pihak lain yang telah
memberikan saran, kritik dan masukan, sehingga Buku Daras
ini dapat diselesaikan.
Billahit Taufiq wal Hidayah
Assalamu’alaikum Wr. Wb

Pontianak, 16 Nopember 2010

Penulis

iv
Daftar Isi

Bab I
Pengantar Sejarah Peradaban Islam
A. Sejarah Peradaban Islam Sebagai
Ilmu Pengetahuan 1
B. Dasar-Dasar Peradaban Islam 8
C. Periodesasi Perkembangan Peradaban Islam 9

Bab II
Arab Pra Islam
A. Sistem Politik dan Kemasyarakatan 14
B. Sistem Kepercayaan dan Kebudayaan 20

Bab III
Masa Nabi
A. Pendahuluan 27
B. Fase Mekkah: Sistem Dakwah 29
C. Fase Madinah 35
v
Bab IV
Masa Khulafaur Rasyidin
A. Tsaqifah Bani Saidah 45
B. Sistem Politik, Pemerintahan dan Bentuk Negara 46
C. Sistem Pergantian Kepala Negara 62
D. Khalifah dan Imam 74

Bab V
Masa Abu Bakar Al-Siddiq
Dan Umar Bin Khattab
A. Riddah 79
B. PengembanganIslam Sebagai Kedaulatn Politik 82

Bab VI
Masa Utsman Bin Affan
A. Kehidupan Awal 99
B. Pemilihan Sebagai Khalifah 100
C. Perluasan Wilayah dan Pembengunan
Angkatan Laut 101
D. Tuduhan Atas Kebijaksanaan Khalifah Utsman 102
E. Penilaian atas Pemerintahan Khalifah Utsman 107

Bab VII
Ali Bin Abi Thalib
A. Kehidupan Awal 109

vi
B. Ali ra Sebagai Khalifah 110
C. Masalah Yang Timbul 112
Bab VIII
Masa Umayyah Timur
A. Kebijakan dan Orientasi Politik 117
B. Tali Ikatan Persatuan Masyarakat
(Politik dan Ekonomi) 122
C. Sistem Sosial (Arab dan Mawali) 123
D. Sistem Militer 124
E. Pembangunan Peradaban 128
F. Sistem Fiska 131
G. Sistem Peradilan 133
H. Perkembangan Intelektual, Bahasa dan Sisitem Arab 134
I. Sistem Pergantian Kepala negara 135
K. Keruntuhan Ummayah di Timur 138

Bab IX
Islam Di Andalusia
A. Dakwah Islam dan Gerakan Pembebasan 141
B. Perkembangan politik dan Masa Keamiran 144
C. Masa Kekhalifahan 147
Bab X
Dinasti Abbasiyah
A. Pembentukan Dinasti Abbas 173
B. Kedudukan Khalifah 178
C. Sistem Politik, Pemerintahan, Bentuk Negara (Buwaihi
dan Saljuk) Dan Tali lkatan Persatuan antara Baghdad
dengan Dinasti Buwaihi dan Saljuk 179
D. Sistem Sosial 195
E. Perkembangan Intelektual: Keagamaan, Kedokteran
Pendidwan, Sains, Teknologi, Astronomi, Matematika,
Filsafat dll 197

Daftar Pustaka 203

viii
Bab I
Pengantar Sejarah Peradaban Islam

A. Sejarah Peradaban Islam Sebagai Ilmu Pengetahuan


Sejarah menurut definisi yang paling umum dapat
diartikan masa lampau umat manusia. Apa yang tercakup
dalam definisi tersebut sebenarnya baru menunjukkan
sebagian dari pengertian sejarah; ia baru menunjukkan kepada
apa yang betul-betul terjadi dimasa lampau.
Agar sesuai dengan pengertian yang sebenarnya, yaitu
sejarah sebagai suatu ilmu terdapat pembatasan-pem-
batasan tertentu tentang peristiwa masa lampau itu.
Menurut Taufik Abdullah ada empat hal yang membatasi
peristiwa masa lampau itu sendiri (Taufik Abdullah dan
Abdurrahman, 1985:x-xii); Pertama, pembatasan yang
menyangkut dimensi waktu. Salah satu konsensus dalam
ilmu sejarah menyatakan bahwa zaman sejarah bermula
ketika bukti-bukti tertulis telah ditemukan, sedangkan yang
sebelumnya disebut prasejarah. Zaman sejarah itu bagi

1
banyak bangsa masih terlalu panjang, sehingga diperlukan
periode-periode yang dianggap merupakan suatu kesatuan
tertentu berdasarkan beberapa patokan yang telah
ditentukan, baik secara konvensional dan umum diterima
maupun secara individual, yaitu sesuai dengan sasaran
perhatian sejarawan. Setiap periode yang dikenalkan pada
unit-unit sejarah tertentu, mengisyaratkan akan adanya
suatu karakteristik yang dominan. Kedua, pembatasan yang
menyangkut peristiwa. tidak semua peristiwa di masa lalu
dipandang sebagai sejarah. Menurut Taufik Abdulah,
kecender ungan yang makin umum sekarang adalah
pemusatan pada peristiwa yang menyangkut manusia, atau
tindakan dan perilaku manusia, lebih dari itu ada yang
berpendapat bahwa sejarah ada peristiwa yang disengaja
atau tindakan atau perbuatan. Oleh karena itu peristiwa
alam hanya berfungsi sebagai salah satu kekuatan yang bisa
ikut mempengaruhi peristiwa yang disengaja. Dengan kata
lain, peristiwa alam hanyalah wadah dalam berbagai
tindakan manusia terjadi. Ketiga, pembatasan yang
menyangkut tempat. Sejarah haruslah diartikan sebagai
tindakan manusia dalam jangka waktu tertentu pada masa
tertentu, pada masa lampau yang dilakukan di tempat
tertentu. Keempat, pembatasan yang menyangkut seleksi.
Tidak semua peristiwa dimasa silam dalam kategori sejarah.
Peristiwa-peristiwa itu baru merupakan kepingan-kepingan
yang bisa dipertimbangkan untuk menjadi bagian dari
sejarah. Semua itu baru bisa dianggap sejarah, kalau masing-
masing terkait atau bisa dikaitkan dalam satu konteks
historis, yaitu suatu kepingan-kepingan yang merupakan
bagian dari suatu proses, atau dinamika yang menjadi
perhatian para sejarawan.

2
Pengantar Sejarah Peradaban Islam

Peradaban Islam sendiri adalah merupakan terjemahan


dari kata Arab Al-Hadharah al-Islamiyah. Kata Arab ini sering
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan ke-
budayaan Islam. Kebudayaan dalam bahasa Arab adalah al-
tsaqafah. Di Indonesia juga di Arab dan di Barat, istilah
kebudayaan disinonimkan dengan peradaban. Dalaim ilmu
Antropologi kedua istilah itu dapat dibedakan, kebudayaan
adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu
masyarakat. Sedangkan manifestasi-manifestasi kemajuan
mekanis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban.
Kalau kebudayaan lebih banyak direfleksikan kepada seni,
sastra, religi dan moral, maka peradaban lebih terefleksi
dalam politik, ekonomi dan teknologi. (Effat al-Sharqawi,
1986:5)
Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan paling tidak
mempunyai tiga wujud (1) wujud ideal, yaitu wujud
kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-
nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya. (2) wujud
kelakuan, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks
aktifitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat,
dan (3) wujud benda, yaitu wujud kebudayaan sebagai benda-
benda hasil karya (Koentjaraningrat, 1985:5). Sedangkan
istilah peradaban biasanya dipakai untuk bagian-bagian dan
unsur-unsur dari kebudayaan yang halus dan indah.
Menurutnya peradaban sering juga dipakai untuk menyebut
suatu kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, seni
bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan dan ilmu penge-
tahuan yang maju dan kompleks. Jadi kebudayaan menurut
definisi pertama adalah wujud ideal dalam definisi
Koentjaraningrat, sementara menurut definisi terakhir,
kebudayaan mencakup peradaban, tetapi tidak sebaliknya.

3
Peradaban Islam di wahyukan kepada Nabi Mu-
hammad saw, telah membawa Arab yang semula terbelakang,
bodoh, tidak terkenal dan diabaikan oleh bangsa-bangsa lain,
menjadi bangsa yang maju. Ia dengan cepat bergerak
mengembangkan dunia, membina satu kebudayaan dan
peradaban yang sangat penting artinya dalam sejarah manusia
hingga sekarang. Bahkan kemajuan Barat pada mulanya
bersumber dari peradaban Islam yang masuk ke Eropa
melalui Spanyol. HAR Gibb di dalam bukunya Whither Is-
lam menyatakan, “Islam is indeed much more than a system of
theology, it is complete civilization”. Karena yang menjadi pokok
kekuatan dan sebab timbulnya kebudayaan adalah agama
Islam, kebudayaan yang ditimbulkannya dinamakan
kebudayaan atau peradaban Islam.
Landasan peradaban Islam adalah kebudayaan Islam
terutama wujud idealnya, sementara landasan kebudayaan
Islam adalah agama. Jadi dalam Islam tidak seperti pada
masyarakat yang menganut agama “bumi” (non samawi),
agama bukanlah kebudayaan tetapi dapat melahirkan
kebudayaan. Kalau kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa
dan karsa manusia, maka agama Islam adalah wahyu dari
Tuhan.
Sejarah Peradaban Islam (SPI) sebagai ilmu penge-
tahuan adalah bagaimana menuangkan peradaban Islam masa
lampau ke dalam karya tulis.
Penulisan sejarah adalah usaha rekontruksi peristiwa
yang terjadi dimasa lampau. Penulisan itu bagaimanapun
baru dapat dikerjakan setelah dilakukan penelitian, karma
tanpa penelitian penulisan menjadi rekontruksi tanpa
pembuktian. Baik penelitian maupun penulisan mem-
butuhkan ketrampilan. Dalam penelitian dibutuhkan

4
Pengantar Sejarah Peradaban Islam

kemampuan untuk mencari, menemukan dan menguji


sumber-sumber yang benar. Sedangkan di dalam penulisan
dibutuhkan kemampuan menyusun fakta-fakta yang bersifat
fragmatis itu ke dalam suatu uraian yang sistematis, utuh
dan komunikatif. Kesemuanya membutuhkan kesadaran
teoritis yang tinggi serta imajinasi historis yang baik. Sehingga
sejarah yang dihasilkan bukan saja dapat menjawab
pertanyaan-pertanyaan elementer, yang terkait pada
pertanyaan pokok, tentang apa, siapa, dimana, dan apabila,
tetapi juga mengenai bagaimana serta mengapa dan apa
jadinya. Jawaban terhadap pertanyaan elementer dan
mendasar itu adalah fakta sejarah dan memungkinkan unsur
adanya sejarah. Sedangkan jawaban terhadap pertanyaan
“bagaimana” adalah suatu rekonstruksi yang berusaha
menjadikan semua unsur itu terkait dalam suatu deskripsi
yang disebut “sejarah” dan secara teknis disebut “keterangan
sejarah’. Adapun jawaban terhadap pertanyaan “mengapa”
dan apa “jadinya”, yang menyangkut kausalitas adalah hasil
puncak yang bisa diharapkan dari studi sejarah tersebut, yang
biasa disebut dengan studi sejarah kritis. Hasil dari penulisan
sejarah disebut historiografi. Dengan demikian, historiografi
berarti penulisan sejarah yang didahului oleh penelitian
(analisis) terhadap peristiwa-peristiwa di masa silam.
Penelitian dan penulisan sejarah itu berkaitan pula dengan
latar belakang teoritis, latar belakang wawasan, latar belakang
metodologis penulisan sejarah, latar belakang sejarawan/
penulis sumber sejarah, aliran penulisan sejarah yang
digunakan dan lain sebagainya.
Perkembangan Sejarah Peradaban Islam sebagai suatu
ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari perkembangan
budaya secara umum yang berlangsung sangat cepat. Dalam

5
bidang politik, hanya dalam satu abad lebih sedikit, Islam
sudah menguasai Spanyol. Afrika Utara, Syria, Palestine,
Semenanjung Arabia, Irak, Sebagian Asia Kecil, Afghani-
stan, Uzbekistan dan Kirgis di Asia Tengah. Kebangkitan
Islam itu telah melahirkan sebuah imperium, mengalahkan
dua imperium besar yang sudah ada umumnya; Persia dan
Bizantium. Sejalan dengan menanjaknya imperium besar ini,
Islam juga menggalakkan pengembangan ilmu pengetahuan,
baik dalam bidang agama maupun umum. Perkembangan
ilmu pengetahuan itu semakin dipercepat akibat terjadinya
kontak-kontak pemikiran dan budaya antara orang-orang
Arab Islam dengan bangsa-bangsa yang telah ditaklukannya
di samping semakin meningkatnya pengalaman umat Islam
itu sendiri.
Puncak dari perkembangan budaya dan peradaban Is-
lam itu terjadi pada abad ke 9 dan ke 10 M. Ketika itu
cendikiawan-cendikiawan Islam bukan hanya menguasai ilmu
pengetahuan dan filsafat yang mereka pelajari dari buku-buku
Yunani, tetapi juga menambahkan ke dalam hasil-hasil
penelitian yang mereka lakukan sendiri dalam lapangan ilmu
pengetahuan dan hasil pemikiran mereka dalam bidang
filsafat. Pada masa ini pula ilmu-ilmu kenegaraan dalam Is-
lam disusun seiring dengan perkembangan budaya dan
peradaban Islam itulah Ilmu Sejarah Peradaban Islam lahir
dan berkembang.
Ketika umat Islam sudah sampai mencapai kemajuan
dalam penulisan sejarah, tidak ada bangsa lain pada waktu
itu yang menulis sejarah seperti halnya kaum muslimin.
Mereka memandang sejarah sebagai ilmu yang bermanfaat.
Tokoh-tokoh sejarawan menulis ribuan buku dengan judul
yang berbeda-beda yang menggambarkan isinya. Pertama-

6
Pengantar Sejarah Peradaban Islam

tama, karya sejarah yang paling banyak dikarang adalah


dengan tujuan mengambil manfaat dan teladan, karena
mereka mendapatkan hal yang sama di dalam al-Qur’an
tentang kisah-kisah umat-umat yang telah lalu. Oleh karena
itu, karya sejarah pertama berisi penciptaan bumi turunnya
nabi Adam, kisah para nabi, riwayat hidup nabi Muhammad
dan lain-lain. Karya-karya seperti itu sebagian besar sangat
panjang dan isinya berulang-ulang.
Sejarawan muslim juga mengaitkan sejarah dengan
berbagai disiplin ilmu seperti sastra, politik, sosial, fiqih,
geografi dan rihlah (kisah-kisah perjalanan).
Posisi Sejarah Peradaban Islam sebagai suatu ilmu di
dalam jajaran ilmu-ilmu lainnya, baik agama maupun umum,
dalam prakteknya di lembaga-lembaga pendidikan Islam,
pendapat yang menyebutkan sebagai ilmu yang bersifat
elementer, mungkin lebih dominan. Hal ini terbukti SPI hanya
masuk dalam bagian pendidikan dasar dan menengah Islam
pada zaman klasik dan pertengahan, tidak di perguruan
tinggi. Meskipun demikian, hal itu juga tidak berarti
kemudian dalam perkembangannya SPI menjadi ilmu yang
tidak penting karena ternyata karya-karya sejarah terus
bermunculan dan secara sistematis tetap dibaca oleh sarjana-
sarjana yang mempunyai minat terhadap SPI.
Ada dua faktor pendukung utama berkembangnya
penulisan sejarah dalam arah Islam; pertama, Al-Qur’an, kitab
suci umat Islam memerintahkan umatnya untuk mem-
perhatikan sejarah. Kedua, Ilmu Hadits, ajaran Islam yang
terkandung di dalam Al-Qur’an yang berkenaan dengan
muamalat bersifat umum hanya dalam garis besarnya saja.
Penulisan hadits inilah yang merupakan perintis jalan menuju
perkembangan Ilmu Sejarah Peradaban Islam.

7
Di samping dua faktor utama tersebut, perkembangan
penulisan sejarah Islam dan Hadits itu menurut Husein
Nashar, terdapat faktor-faktor yang kebangkitan gerakan
sejarah dengan lebih cepat lagi. Faktor-faktor tersebut
adalah:
1. Khalifah membutuhkan suatu pengetahuan yang dapat
membimbing mereka menjalankan roda pemerintahan,
sementara hal itu tidak mereka dapatkan satu warisan
budaya mereka.
2. Orang-orang asing yang berada dalam wilayah kekuasaan
Islam membanggakan diri mereka (merasa lebih super)
terhadap orang-orang Arab dengan mengungkapkan
sejarah dan peradaban mereka di masa lalu. Hal yang
demikian itu membuat orang-orang Arab menulis sejarah
mereka agar dapat mempertahankan diri dari sikap
superioritas bangsa-bangsa asing.
3. Sistem pemerintahan, terutama sistem keuangan dalam
pemerintahan Islam, termasuk salah satu pendorong
berkembang dan tersebarnya penulisan sejarah.
4. Gerakan menulis ilmu-ilmu yang lain yang sudah dikenal
oleh bangsa Arab, seperti Kimia, Fiqih, Kedokteran dan
lain-lain
5. Berkembangnya apa yang sudah ada pada kebudayaan
Arab sebelumnya, yaitu penulisan silsilah dan al-Ayyam.

B. Dasar-Dasar Peradaban Islam


Landasan peradaban Islam adalah kebudayaan Islam
terutama wujud idealnya, sementara landasan kebudayaan
Islam adalah agama. Jadi dalam Islam, tidak seperti
masyarakat yang menganut agama bumi (non samawi), agama
bukanlah kebudayaan tetapi dapat melahirkan kebudayaan.

8
Pengantar Sejarah Peradaban Islam

Kalau kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa


manusia, maka agama Islam adalah wahyu dari Tuhan.
Dalam mengambil tema “peradaban”, tidak berarti
bahwa masalah-masalah yang menyangkut “kebudayaan”
Islam menjadi tidak penting dalam studi Islam Arab
Islamiyah), bahkan penting sekali, karena ia merupakan
landasaannya. Akan tetapi, meskipun tidak seluruhnya
dibahas secara historis, semuanya tercakup dalam dirasah
Islamiyah. Di dalam Islam, sumber nilai adalah al-Qur’an dan
hadits yang dipelajari dalam buku Dirasah Islamiyah I (al-
Qur’an dan Hadits). Hukum yang juga dalam wujud ideal
kebudayaan dibahas dalam Dirasah Islamiyah III (Hukum
lzah dan Pranata Sosial). Aspek ide, gagasan dan pemikiran
terkandung di dalam Islamiyah IV (Ilmu Kalam, Falsafah
Islam dan Tasawuf/Akhlaq) dan Dirasah (pemikiran Mo-
dem Dalam Islam).

C. Periodesasi Perkembangan Peradaban Islam


Perkembangan peradaban Islam dibagi menjadi tiga
periode, yaitu periode klasik (650 – 1250 M), periode
pertengahan (1250 – 1800 M) dan periode modern (1800 -
sekarang).
Pada periode klasik, pusat pemerintahan hanya satu
dan untuk beberapa abad sangat kuat. Peran bangsa Arab di
dalamnya sangat dominan. Semua wilayah kekuasaan Islam
menggunakan bahasa yang satu, bahasa Arab, sebagai bahasa
administrasi. Semua ungkapan-ungkapan budaya juga
diekspresikan melalui bahasa Arab, meskipun ketika itu
bangsa-bangsa non Arab juga sudah mulai berpartisipasi
dalam membina suatu kebudayaan dan peradaban. Apalagi
orang-orang non muslim juga banyak menyumbangkan karya

9
budayanya. Pada masa/periode klasik memang terwujud apa
yang dinamakan kesatuan budaya Islam. (Badri Yatim, 1998;
3)
Pada periode pertengahan dan periode modern, sudah
terdapat kebudayaan-kebudayaan dan peradaban-peradaban
Islam. Pada masa pertengahan umat Islam masih memandang,
bahwa tanah airnya adalah satu, yaitu wilayah kekuasaan
Islam, agama masih dilihat sebagai tanah air dan ke-
warganegaraan. Hal itu bukan saja karena terjadi desintegrasi
kekuatan politik Islam ke dalam beberapa kerajaan dalam
wilayah yang sangat luas, tetapi karena ungkapan-ungkapan
kebudayaan dan peradaban tidak lagi diekspresikan melalui
satu bahasa. Bahasa administrasi pemerintahan Islam sudah
berbeda-beda, seperti Persia, Turki, Urdu di India dan Melayu
di Asia Tenggara. Bahkan peran Arab sudah jauh menurun.
Tiga kerajaan besar Islam pada periode pertengahan tidak
satupun dikuasai oleh bangsa Arab. Apalagi karena Islam
disebarkan dengan cara damai, maka Islam dengan sangat
toleran memperlakukan kebudayaan setempat, sejauh tidak
menyimpang dari prinsip-prinsip ajaran. Bahkan pada
mulanya yang juga masih terlihat hingga sekarang. Ajaran-
ajaran Islam yang berkembang di berbagai aspek dipengaruhi
oleh kebudayaan lokal. Namun sejak periode pertengahan,
sudah terdapat kebudayaan dan peradaban-peradaban Islam
disebut dengan kebudayaan Islam dan perdaban Islam.
Kajian tentang “Peradaban” Islam, bahwa kebudayaan
Islam tidak lagi satu, sudah terdapat beberapa peradaban
Islam. Akan tetapi nampaknya “peradaban-peradaban” Is-
lam yang disorot dalam kajian-kajian Islam sampai waktu
belum lama ini terbatas pada empat “peradaban” Islam yang
dominan. Semuanya sangat dengan empat kawasan itu, yaitu:

10
Pengantar Sejarah Peradaban Islam

1. Kawasan pengaruh kebudayaan Arab (Timur Tengah dan


Afrika Utara, termasuk Spanyol Islam).
2. Kawasan pengaruh kebudayaan Persia (Iran dan negara-
negara Islam Asia Tengah).
3. Kawasan pengaruh kebudayaan Turki
4. Kawasan pengaruh kebudayaan India-Islam

Pada periode klasik peran Arab sangat menonjol,


karena memang Islam hadir disana.
Pada periode pertengahan muncul tiga kerajaan besar
Islam yang mewakili tiga kawasan budaya, yaitu kerajaan
Usmani di Turki, kerajaan Safawi di Persia dan kerajaan
Mughal di India. Kerajaan-kerajaan Islam yang lain, meski
ada juga yang cukup besar, tetapi jauh lebih lemah bila
dibandingkan dengan tiga kerajaan tersebut.

11
12
Bab II
Arab Pra Islam

Bangsa Arab mempunyai akar panjang dalam sejarah,


mereka termasuk bangsa/ras Caucasoid dalam sub ras
Mediterania, yang anggotanya meliputi wilayah sekitar Laut
Tengah, Afrika Utara, Ar menia, Arabia dan Irania
(Koentjoroningrat dalam Ali Mufradi, 1997: 5). Bangsa hidup
berpindah-pindah karena tanahnya dari gurun pasir dan
sedikit turun hujan. Bangsa Arab disebut juga disebut juga
bangsa Badawi, Badawah, atau Badui yang menggembalakan
ternaknya. Mereka mendiami wilayah Jazirah Arabia.
Penduduk Arab tinggal di kemah-kemah dan hidup berburu
untuk mencari nafkah. Bangsa Arab dibagi menjadi dua, yakni
Qahtan dan Adnan, Qahtan berdiam di Yaman, tetapi hancurnya
bendungan Ma’rib (120 SM), kemudian mereka berimigrasi ke
utara dan mendiami kerajaan Hirah dan Ghassan. Sedangkan
Adnan adalah keturunan Islami ibn Ibrahim yang banyak
mendiami Arabia dan Hijaz (Hasan Ibrahim Hasan, 1989:17)

13
Mekah selalu ramai didatangi oleh para haji pada bulan-
bulan haji, suku Amaligah adalah suku yang berkuasa
sebelum lahirnya Ismail, kemudian datang suku Jurhum ke
Mekah yang bersamaan dengan kelahiran Ismail. Suku
Jurhum kemudian digantikan oleh suku Khuza’ah (207 SM).
Dan kemudian suku Khuza’ah dibawah pimpinan Qusai. Ia
mengatur urusan Ka’bah, setelah wafatnya (480 M) dan
digantikan oleh anaknya Abdud Dar. Tetapi sepeninggal
Abdud Dar terjadi perselisihan antara cucu­cucu dan anak-
anak saudaranaya Abdul Manaf pertentangan itu diselesaikan
dengan membagi kekuasaan yakni, pengaturan air dan pajak
atas Mekah diserahkan kepada Abduh Syam. Penjagaan
Ka’bah diserahkan pada cucu Abdud Dar, sedangkan Abduh
Syam menyerahkan lagi urusannya kepada saudaranya yang
bernama Hasyim, tetapi anak Abduh Syam, Umaiyah,
berlaku sombong kepada pamanya Hasyim. Urusan­urusan
itu Akhirnya dipegang oleh anak Hasyim, yaitu Abdul
Muthalib, kakek Nabi saw. Ia adalah orang yang terhormat
dalam memegang tampuk pemerintahan Mekah, sehingga ia
dapat bertahan selama 59 tahun di kota itu. (Syalabi, 1995:26-
35)

A. Sistem Politik dan Kemasyarakatan


Menjelang era Islam, Arabia merupakan wilayah
pinggiran bagi masyarakat imperial Timur Tengah dalam
posisinya sebagai negara yang perkembangannya sebanding
perkembangan negara-negara zaman kuno dan tidak terlibat
dengan perkembangan negara-negara lain di wilayah ini.
Arabia merupakan komunitas besar yang secara khusus tetap
memperhatikan pengaruhnya, sementara institusi perkotaan,
kerajaan, keagamaan tidak mengalami perkembangan,

14
Arab Pra Islam

sekalipun semua institusi tetap berlangsung. Sedangkan dunia


imperial pada umumnya merupakan masyarakat agrikultural,
Arabia bertahan sebagai masyarakat menggembala (pasto-
ral). Ketika dunia imperial pada umumnya merupakan
wilayah perkotaan, Arabia bertahan sebagai negeri
perkemahan dan oasis. Ketika masyarakat imperial
mengembangkan keyakinan monotheistik, masyarakat Arabia
pada umumnya sebagai warga papan. Ketika dunia imperial
pada umumnya secara politik terorganisir secara baik, maka
Arabia secara politik tercerai berai.
Pada sisi lain selalu terasing dari pergaulan dan berada
di bawah pengaruh kuat wilayah-wilayah imperial. Secara
fisik tidak ada batas yang jelas antara Arabia dan Timur
Tengah. Tidak terdapat batas etnis dan demografis yang jelas
yang dapat mengisolasi Arabia dari wilayah lain. Juga tidak
ada dinding pembatas atau batasan politis yang menonjol.
Pelan tapi pasti, Arabia berpindah ke Timur Tengah dan
kemudian mereka menjadi bagian penduduk pesisir Arabia
Utara dan Syria. Bangsa Arab yang hidup di beberapa wilayah
subur menjalin pola kebersamaan politik, kesamaan
keyakinan, hubungan ekonomi dan perdamaian dengan
masyarakat di sekitarnya. Lebih lanjut Arabia dihubungkan
dengan beberapa wilayah lain oleh sejumlah propagandis
keliling yang menyebarkan ajaran monotheis dikalangan
masyarakat pagan jazirah ini oleh sejumlah pedagang yang
membawa tekstil, perhiasan dan bahan-bahan makanan
seperti tepung dan minuman anggur ke dalam Arabia dan
menimbulkan selera kebutuhan akan barang-barang mewah
dan oleh agen-agen penguasa kerajaan yang secara diplomatik
dan politik turut mencampuri hak-hak perdagangan mereka,
melindungi masyarakat keagamaan dan memperluas interest

15
strategic mereka. Bizantium dan Sasania memperebutkan
kekuasaan atas Yaman, dan keduanya giat menciptakan
suasana pengaruhi di Arabia Utara. Mereka juga men-
datangkan tehnik kemiliteran kepada bangsa Arab. Dari
bangsa Romawi dan Persia, bangsa Arab mendapat sejumlah
pasukan baru dan mempelajari bagaimana menggunakan baju
baja. Mereka mempelajari taktik baru tentang arti penting
kedisiplinan. Perembesan tehnik kemiliteran ini datang
melalui peranan non Arab sebagai pembantu-pembantu
dalam militer Romawi dan Persia, dan kadang militer Romawi
dan Persia dan terkadang melalui pengalaman yang tidak
menyenangkan dalam keterdesakannya oleh sejumlah
kekuatan superior pada wilayah batasan kerajaan.
Jadi peradaban Timur Tengah merembes ke Arabia,
sebagaimana terjadi dimana saja, dimana kerajaan besar yang
mempertahankan wilayah perbatasan dengan masyarakat
yang secara politik dan kultural kurang terorganisir.
Orang-orang yang berpindah-pindah ini hidup dalam
ikatan kelompok kerabatan, keluarga patriakal yang terdiri
seorang ayah, anak laki-lakinya dan keluarga mereka.
Keluarga-keluarga ini selanjutnya berkelompok menjadi
sebuah klan yang terdiri dari ratusan rumah tenda, yang mana
secara bersama mereka pindah, memiliki yang rumput dan
bertempur sebagai satu kesatuan di medan peperangan.
Secara bersama mereka berpindah memiliki padang rumput
dan bertempur sebagai satu masing-masing di medan
peperangan. Secara fundamental, masing-masing klan
merupakan dualisme kesatuan yang mandiri. Selur uh
kesetian terserap oleh kelompok yang bertindak sebagai
sebuah kolektifitas untuk mempertahankan individu
warganya dan untuk menghadapi tanggungjawab bersama.

16
Arab Pra Islam

Jika seorang warga teraniaya, maka hal itu menjadi tanggung


jawab klan. Sebagai konsekuensi solidaritas kelompok, yang
disebut ASABIYAH, klan Badui memandang dirinya sendiri
sebuah kebijakan yang penuh dan tidak menganggap tidak
ada otoritas eksternal. Sebuah klan dipimpin oleh Syaikh
yang biasanya dipilih oleh warga klan yang tua-tua dari salah
satu keluarga berpengaruh dan ia senatiasa bertindak setelah
meminta saran-saran mereka. Mereka menyelesaikan
perselisihan internal sesuai dengan tradisi kelompok, namun
ia tidak berhak mengatur atau memerintah. Syaikh haruslah
seorang yang kaya dan suka berderma kepada fakir miskin
dan kepada pendukungnya; ia haruslah seorang yang
berprilakui adil dan bijak– sabar, pemaaf dan rajin bekerja.
Di atas segalanya, ia haruslah seorang yang memiliki
keputusan yang adil untuk menghindarkan pertentangan
dikalangan pengikutnya.
Klan ini menggambarkan corak mental orang-orang
Badui. Syair mengekspresiakan sebuah perjuangan untuk
nama baik dan keamanan kelompok; tanpa klan seorang tiada
memiliki tempat di dunia ini. Bahasa Badui tidak menawarkan
kesempatan mengekspresikan individual atau personalitas.
Term wajib sekalipun diberlakukan untuk pimpinan benar-
benar merupakan sebuah konsep yang menunjukkan kepada
persona kelompok bukan menunjuk kepada individu syaikh
sebagai sebuah pribadi.
Hanya pada wilayah-wilayah perbatasan sejumlah
monarkis dan kerajaan mengambil bentuk. Di Arabia Selatan,
otoritas raja pertama kali berdiri sekitar 1000 SM dan berakhir
hingga datang era Islam. Kerika abad V SM, Yaman
teorganisir menjadi kerajaan dengan elit monarkis dan tuan
tanah. Sebuah agama Pantheon dan mengorganisir kuil-kuil

17
persembahan dewa, yang mencakup elit monarkis dan tuan
tanah. Sebuah agama Pantheon dan mengorganisir kuil-kuil
persembahan dewa, yang mencakup pertanian, perdagangan
dan masyarakat pedusunan.
Di wilayah utara, kerajaan-kerajaan yang ada kurang
terlembagakan. Misalnya kerajaan Nabatean kuna (abad
keenam - 106 SM) diperintah oleh seorang raja yang
mengklaim dan menerima otoritas ketuhanan dan memiliki
beberapa administrasi yang memusat, tetapi benar-benar
tergantung kepada dukungan koalisi klan dan kepada suku.
Pada tahun 85 SM, sebuah kerajaan baru yang beribukota di
Petra menguasai sebagian besar Yordania dan Syria. Kerajaan
ini menjalin perdagangan dengan Yaman, Mesir, Damascus
dan kota-kota pesisir Palestine. Kerajaan ini berakhir pada
106 M, ketika ia dihancutkan oleh pasukan Romawi. Palmyra
menggantikan Petra, memperluas kekuasaan atas seluruh
wilayah padang pasir dan sejumlah wilayah perbatasan
sekitar.
Sebagai pusat kota urban, pengembangan sejumlah
kuil, jaringan perdagangan yang luas, pengaruh budaya
Hellenistik yang kuat menandai kehebatan warga Palmyra.
Kerajaan ini menangani urusan diseluruh penjuru Jazirah
Arabia dan memberikan orang Badui pedalaman padang pasir
ekonomi dan politik menjadi kerangka kerja politik dan
budaya perbatasan. Kalangan nomad menjalin ikatan
perdagangan dengan beberapa wilayah perkampungan di
tengah-tengah dan sesekali membentuk koalisi politis tyang
lebih luas yang disponsori oleh kekuasaan pinggiran.
Pekan Raya sejak semula memberikan keuntungan
ekonomi bagi Mekah warga yang dikenal sebagai kaum
Quraisy, yang menguasai kota Mekah sejak abad kelima.

18
Arab Pra Islam

Menjadi penduduk yang ahli dalam perdagangan eceran.


Pada abad keenam mereka mendirikan sebuah tempat untuk
memasarkan rempah-rempah, lantaran kesulitan jalur lain
yang menyulitkan lalu-lintas menuju ke seluruh Arabia.
Kegagalan pemerintahan perbatasan, di hampir
seluruh Arabia dalam menjaga pemerintahan yang efektif
atas pusat Jazirah ini mengakibatkan perkembangan proses
baduisasi. Masyarakat Badui yang hidup bebas dari tekanan
politik dan perdagangan, maka ketika mereka tertekan oleh
sejumlah kerajaan perbatasan, mereka menyiapkan jalan
keluar menuju wilayah subur di Arabia Selatan.
Pada abad keempat, kelima dan keenam, berlangsung
migrasi masyarakat Badui secara besar-besaran menuju
padang Arabia Utara dan sampai ke perbatasan beberapa
wilayah subur. Konflik antara suku dan klan berlangsung
secara gencar di Arabia. Interes masyarakat kampung secara
progesif mengembangkan interes pertanian. Irigasi Badui
yang memasuki wilayah pinggiran di Yaman dan wilayah
perbatasan antara Iraq dan Syria kembali kepada kehidupan
padang rumput. Gerombolan kelompok Badui mengganggu
karavan dagang dan masyarakat yang menetap terdesak ke
dalam sistem kehidupan perkampungan. Sudan barang tentu
proses Baduisasi Arabia tidak berlangsung secara serta merta,
melainkan berlangsung secara bertahap dan kumulatif.
Konfrontasi antara kekuatan masyarakat kecil dan
masyarakat konfederasi dagang dan agama secara kultural
dan politik tercermin dalam kehidupan masyarakat Arabia
akhir abad keenam. Sebagai yang terlibat dalam kehidupan
politik diwarnai ketegangan beberapa tipe organisasi politik
dan ekonomi yang berbeda. Kehidupan kultural dengan
ketidakserasian pandangan menangani kehidupan manusia,

19
masyarakat sejumlah konsep yang bertentangan mengenai
jagad raya dan dewa.
Syair dan kultur keagamaan klan masih mem-
pertahankan sebuah elemen Badui. Sedikit atau banyak
Badui Arabia merupakan masyarakat animis dan politheis,
yang mana mereka meyakini bahwa seluruh obyek alam dan
peristiwanya mer upakan kehidupan roh yang dapat
membantu atau mengganggu kehidupan manusia. Alam bagi
bangsa Arab diwarnai alam kehidupan Jinn, yang harus
dijinakan dan dikuasai dengan magis. Melaui praktik magis
orang Badui memungkinkan memastikan nasibnya, namun
mereka tidak berhubungan baik dengan Jinn. Mereka
merupakan suku lain telah memasukkan eksistensinya.
Masyarakat Badui juga menyembah nenek moyang bulan dan
bintang, juga dewa-dewa yang berupa batu atau pohon besar
yang mempati tempat-tempat keramat yang dijaga kesu-
ciannya.

B. Sistem Kepercayaan dan Kebudayaan


Agama kerajaan dan konfederasi lainnya juga bersifat
politheistik, keyakinan mereka mengekspresikan konsep-konsep
yang lebih tinggi mengenai Tuhan, jagad raya alam manusia.
Tempat-tempat suci (al-haram) dan kuil-kuil kerajaan
diperuntukkan untuk penyembahan. Ka’bah masyarakat
Mekah, misalnya merupakan tempat sejumlah dewa yang
memiliki susunan hirarki. Dewa-dewa ini tidak lagi dikenali
secara sederhana dengan alam, mereka dipahami sebagai pribadi
yang khas yang terlepas dari kekuatan-kekuatan alamiah, sebagai
wujud yang maha berkehendak, sebagai wujud yang berkuasa.
Beberapa dewa mestilah dipuja dengan persembahan kurban;
seorang dapat berkomunikasi dengan mereka sebagai pribadi.

20
Arab Pra Islam

Dalam lingkungan tempat-tempat suci, tumbuhlah


konsep-konsep baru mengenai indentitas kolektif pekan
perdagangan dan perayaan keagamaan tahunan di Mekah dan
ada tempat-tempat penziarahan lainnya menghadirkan
banyak keluarga dan suku-suku Jazirah. Mereka berkumpul
untuk memanjatkan persembahan rakyat dalam peribadatan
umum, memungkinkan mereka melaksanakan bentuk
peribadatan masing-masing dan membakukan bahasa dan
adat yang digunakan untuk berhubungan satu dengan yang
lainnya. Kesadaran terhadap keyakinan agama dan pola
kehidupan, pengakuan terhadap keluarga dan suku-suku
aristokratik, lembaga kesepakatan yang mengatur perihal
kehidupan padang rumput, peperangan, perdagangan,
prosedur sumpah setia dan arbitrase, merupakan pertanda
perkembangan identitas kolektif yang melampaui klan indi-
vidual.
Dalam pengertian lain, terdapat persamaan yang
menonjol antara konfederasi masyarakat Mekah dan
keceraiberaian kehidupan klan Badui. Mentalitas Badui dan
politheisme warga Mekah melahirkan pandangan yang sama
mengenai pribadi, masyarakat dan jagad raya. Pandangan ini
tidak melahirkan konsep yang koheren mengenai wujud
manusia sebagai sebuah entitas. Bahasa Arab kuna tidak
hanya mengenal sebuah istilah tunggal yang berarti ‘pribadi”
(person), Qalb (heart), ruh (spirit), nafs (soul), wajah (face),
merupakan sejumlah istilah yang satupun tidak ada yang
sesuai dengan konsep sebuah kepribadian yang utuh.
Kemajemukan dewa mencermikan dan melambangkan
keceraiberaian pandangan mengenai manusia, masyarakat
dan kekuatan-kekuatan yang menguasai jagad raya.
Masyarakat pagan memndang diri tanpa sebuah pusat,

21
memandang masyarakat tanpa keutuhan dan memandang
jagad raya ini tidak dengan makna yang utuh.
Agama-agama monetheistik mengemukakan sesuatu
yang lain. Mereka diperkenalkan kepada masyarakat Arabia
oleh pengaruh-pengaruh asing dan oleh warga menetap yang
beragama Yahudi dan Kristen oleh propaganda dan pedagang
keliling dan oleh tekanan kaum imperium Bizantium dan
Abyssinia, sekitar abad keenam monotheisme telah memiliki
model tertentu. Sejumlah orang kafir telah mengenal agama-
agama monotheisme, sedang sejumlah lainnya , yang di dalam
al-Qur’an disebut sebagai hanif, merupakan kelompok
beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi mereka belum
memeluk keyakinan tertentu. Orang-orang Kristen yang
banyak tinggal di beberapa oasis kecil di Yaman dan
dibeberapa wilayah perbatasan sebelah utara, yang mana
mereka mer upakan kelompok minoritas yang sangat
berpengaruh, dan masih banyak lagi orang-orang yang terasa
lebih berkuasa, lebih berpengalaman dan lebih berbudaya,
baik melalui kekuatan ajaran dan kekuatan ungkapan
ungkapan mereka. Agama baru ini mengajarkan adanya
Tuhan Yang Maha Esa yang menciptakan perihal moral dan
spritual alam ini yang membuat semua manusia bernafas,
apapun ras atau klan mereka dan Tuhan yang memberi
petunjuk mereka mencapai kebahagiaan.
Jadi jelaslah bahwa monotheisme sangat berbeda dari
politheis dalam kesatuan jagad raya ini dan kegunaan
pengalaman hidup manusia, jikalau politheis hanya mampu
melihat sebuah alam yang bercerai berai yang terdiri dari
kekuatan yang tak terkendali, sebaliknya monotheis
memandang jagad raya ini sebagai sebuah totalitas yang
dicipta dan diatur oleh sebuah wujud tunggal yang

22
Arab Pra Islam

merupakan segala sumber dari segala materi dan spirit (jiwa).


Jikalau politheis memandang sebuah masyarakat sebagai
orang-orang yang terbagi menjadi klan dengan komunitas
dan dewa masing-masing, sebaliknya monotheis me-
nginginkan sebuah masyarakat bersaudara dalam keimanan
untuk mencapai keselamatan. Jikalau dalam pandangan
politheis keberadaan manusia sebagai rentetan kekuatan yang
berbeda-becla tanpa pusat moral dan fisik, sebaliknya dalam
pandangan monotheis manusia merupakan sebuah moral,
makhluk purposive yang tujuan utama hendak dicapainya
adalah ganjaran (pahala). Dalam pandangan agama
monotheis, Tuhan, manusia dan alam merupakan bagian dari
sesuatu yang tunggal, yang semuanya mengandung makna
yang utuh.
Di manapun juga konfrontasi pandangan seperti ini
tidak jauh berbeda dengan yang berkembang di Mekah.
Mekah merupakan satu diantara tempat-tempat yang paling
kompleks dan paling heterogen di Arabia. Masyarakat ini
telah berkembang dalam batas-batas klan dan suku untuk
memperkuat kompleksitas politik dan ikatan ekonomi.
Mekah memiliki sebuah dewan klan (mala), sekalipun dewan
ini hanya menangani sebuah otoritas moral dengan tidak
disertai kemerdekaan bertindak. Mekah merupakan satu
diantara beberapa tempat di Arabia yang memiliki sesuatu
yang mengambang, warga individual yang terusir dari
kesukuan, sejumlah pengungsi dan pedagang asing. Kehadiran
orang-orang yang berbeda dan klan; orang-orang yang tidak
memiliki klan, orang asing, orang-orang yang memiliki ikatan
agama lain, beberapa pandangan yang berbeda mengenai
tujuan hidup dan tata nilai menjadikan Mekah terlepas dari
agama kesukuan dan konsep-konsep moral yang lama.

23
Konsep baru mengenai kebajikan pribadi dan status sosial
serta hubungan sosial yang baru mendukung semakin
kompleksnya masyarakat ini. Pada sisi yang positif, aktifitas
perdagangan yang bersifat imperatif, kontak dan identifikasi
Arabia yang luas melahirkan individu-individu yang bebas
dari tradisi klan mereka dan memungkinkan mengembangkan
kesadaran diri, semangat kritis, yang menjadikan mereka
mampu bersikap dengan tata nilai baru, dan memungkinkan
mereka mengukuhkan sebuah Tuhan universal dan etika
universal. Pada sisi negatif, masyarakat tersebut terancam
oleh kompetisi ekonomi, konflik sosial dan kerancuan moral.
Aktifitas komersial melahirkan stratifikasi sosial berdasarkan
kekayaan dan perbedaan yang tidak dapt dipadukan antara
situasi individual dan kesetiaan klan yang bersifat imperatif
Al-Qur’an tidak menghenclaki pergantian nilai-nilai luhur
yang bercorak kesukuan dengan ambisi, tamak, arogansi dan
hedonisme. Mekah yang memberikan beberapa standar tata
politik dan perniagaan kepada Arabia, telah kehilangan
identitas moral dan sosialnya.
Arabia dalam keadaan terbagi: sebuah masyarakat
yang di tengah eksperimen pembentukan politik terancam
oleh anarki; klan yang kuat dan kekuasaan kesukuan
mengancam stabilitas pertanian, aktifitas komersial dan
ikatan politik. Ia merupakan sebuah masyarakat yang telah
terjamah oleh sejumlah pengaruh kerajaan, namun tidak
disertai dengan pernerintahan pusat; ditandai dengan agama
monotheistik yang tidak disertai dengan pembentukan gereja,
rentan terhadap pengaruh ide-ide Timur Tengah, namun
tidak menyerap ide-ide tersebut. Arabia sedang berusaha
menemukan posisinya dalam dunia Timur Tengah. Segala
sesuatunya dalam keadan yang ruwet. Tidak ada sesuatu yang

24
Arab Pra Islam

bersifat pasti. Di tempat inilah Muhammad lahir, tumbuh


berkembang, menympaikan al-Qur’an dan di tempat ini pula
ia menjadi Nabi Islam.

25
26
Bab III
Masa Nabi

A. Pendahuluan
Kenabian merupakan suatu fenomena yang luar biasa
dan di atas segala keistimewaan Nabi Muhammad adalah
Nabi secara permanen berpengaruh dalam mengubah
kehidupan rakyatnya dan meninggalkan suatu warisan
diantara agama-agama besar dunia. Jadi untuk memahami
kehidupan Muhammad dan perkembangan Islam, kita harus
memahami visi keagamaan dan kaitannya dengan prilaku
keduniaan Muhammad.
Dibandingkan dengan sejarah pendiri agama-agama
besar lainnya, sumber-sumber ilmu pengetahuan, mengenal
kehidupan nabi Muhammad lebih banyak. Al-Qur’an sebagai
kitab suci umat muslim yang diyakini sebagai wahyu Allah
yang disampaikan kepada nabi Muhammad melaui malaikat
Jibril, wahyu yang berisikan firman dan kehendak Allah,
sumber tertinggi bagi keyakinan Islam, inspirasi dalam

27
menjalani kehidupan menurut pandangan muslim. Al Qur’an
merupakan wahyu Allah terakhir yang, mengungguli wahyu
yang terlebih dahulu diturunkan kepada umat Yahudi dan
Kristen. Bacaan al-Qur’an nabi Muhammad dibukukan dan
Nabi Muhammad sendiri telah mengawali pembukuan al-
Qur’an dengan membacakan kepada sejumlah juru tulis dan
menunjukkan mereka bagaimana cara penyusunan ayat-ayat
wahyu al-Qur’an.
Hadits atau perkataan Nabi Muhammad merupakan
sumber kedua bagi pengetahuan terhadap kehidupan dan
ajaran nabi Muhammad. Hal ini berbeda dengan al-Qur’an,
sebagian besar Hadits, merupakan prilaku Muhammad
sendiri, sekalipun ia terilhami oleh wahyu, karenanya hadits
sangat berbeda dengan al-Qur’an
Al Qur’an diwahyukan dalam dua dekade terakhir dari
usia Nabi Muhammad tahun 610 sampai 632. Karena ia
berhadapan dengan sebuah zaman, maka al Qur’an juga
menghadapi lingkungan historikal yang spesifik. Sejumlah
ahli Tafsir memberikan informasi mengenai peristiwa-
peristiwa yang menyertai turunya ayat-ayat partikular. Ayat-
ayat al-Qur’an mengutarakan perdebatan Nabi Muhammad
dengan orang-orang Mekah dan penyelesaian Muhammad
terhadap problem politik dan sosial di Madinah dan
memberikan petunjuk yang kongkrit mengenai permasalahan
ritual, moral, legal dan urusan politik.
Al-Qur’an memperlihatkan bagaimana visi Nabi
Muhammad berkembang sebagai respon langsung terhadap
lingkungan nyata setempat. Dalam biografi Muhammad,
tidak ditemukan bahwasanya ia menyebarkan sebuah sistem
keyakinan yang bersifat paket. Ia cenderung sebagai hakim
daripada seorang legislimator, cenderung sebagai penasehat

28
Masa Nabi

daripada seorang teoritikus. Nabi Muhammad sebagai seorang


penerima wahyu, memberikan petunjuk bar u dalam
kehidupan, sebuah petunjuk yang memiliki sejumlah
implikasi dan posibilitas yang pernah berlaku sebelumnya.

B. Fase Mekkah: Sistem Dakwah


Periode wahyu bermula semenjak tahun keempat
puluh dari usia Nabi Muhammad. Ia dilahirkan pada tahun
570 M. Pada satu diantara keluarga besar dalam Bani Hasyim.
Moyang Muhammad adalah penjaga sumur suci Zamzam di
Mekah. Namun pada masa nabi klan ini, sekalipun terlibat
dalam urusan perniagaan, namun tidak termasuk kelompok
yang menguasai bidang-bidang yang bersifat menguntungkan
dalam sistem perdagangan karavan. Ayah Muhammad
meninggal sebelum ia dilahirkan. Ia tumbuh dalam asuhan
kakeknya dan kemudian dalam asuhan pamannya, Abu
Thalib. Muhammad bekerja sebagai Caravaner dan pada usia
25 tahun, ia menikah dengan majikannya Khadijah, seorang
janda kaya raya. Perkawinan mereka dikarunia empat anak
perempuan dan beberapa anak laki-laki, seluruh anak laki-
laki itu meninggal pada usia bayi.
Muhammad adalah seorang laki-laki yang berbakat
dalam bidang keagamaan dalam usia sebelum turunnya
wahyu ia suka mengasingkan diri pada sebuah pegunungan
di luar kota Mekah untuk berdo’a dalam keheningan.
Sekitar tahun 610, ia menerima wahyu pertama,
sejumlah wahyu datang kepadanya seperti cahaya terbit fajar.
Firman pertama yang diwahyukan kepadanya adalah lima
ayat pertama dalam surat al-‘Ala (surat ke 96). Kesadarannya
terhadap kehadiran Tuhan melahirkan pesona, ketaqwaan
dan keagungan.

29
Dalam tahun-tahun pertama, kandungan dari wahyu
yang turun adalah mengenai satu-satunya yang Agung, yakni
Allah, yang pada hari pengadilan akan menimbang setiap
perbuatan manusia. Wahyu-wahyu yang pertama menekankan
kekhawatiran perihal pengadilan hari akhir, anjuran bersikap
saleh dan penuh kebajikan dan peringatan atas kelalaian
terhadap tugas dan kewajiban dan kelalaian terhadap
pembalasan hari akhir. Kebalikan dari pengabdian diri kepada
Tuhan dan kekhawatiran akan ancaman dihari akhir adalah
sikap kesombongan, membanggakan kekuasaan manusia dan
pengrusakan terhadap segala sesuatu di dunia ini. Hal ini
merupakan kebanggaan masyarakat mekah, yang mendarong
mereka kepada dosa keserakahan, acuh terhadap nasib fakir
miskin, acuh akan sikap kedermawanan dan acuh terhadap
sikap kesejahteraan kelompok masyarakat lemah. Dalam
rangka utuk menyebarkan ajaran-ajaran keluhuran dan
kebajikan, Muhammad memperkenalkan ibadah ritual,
ketaqwaan, eskatologia, keagungan etik dan shalat
membentuk dasar-dasar Islam pada masa awal.
Selama tiga tahun semenjak turun wahyu pertama,
Muhammad tetap bertahan sebagai pribadi sendiri yang
menerima pesan-pesan Allah. Ia menyampaikan pe-
ngalaman keagamaannya kepada sanak keluarga dan
teman dekatnya, dan kekuatan inspirasi dan bahasa yang
fasih yang disampaikannya meyakinkan sebagian mereka
bahwasanya viai Muhammad merupakan wahyu Tuhan.
Terdapat sekelompok kecil yang menerima seruannya
dan mereka berkumpul mengelilinginya untuk men-
dengarkan pembacaan wahyu al-Qur’an. Mereka adalah
pemeluk Islam yang pertama dan termasuk di dalamnya
adalah istrinya sendiri, khadijah, Abu Bakar dan Ali.

30
Masa Nabi

Setelah tiga tahun, tibalah saatnya untuk me-


nyampaikan misi Islam secara terbuka, sekitar tahun 613,
Nabi Muhammad menerima wahyu yang terkandung
ungkapan “Bangkitlah dan sampaikanlah peringatan ini”.
Maka sejak itu Muhammad mulai menyampaikan dakwah
secara terbuka, sebuah langkah pertama untuk memasukkan
gagasan agama ke dalam aktualitas sosial dan kehidupan
politik. Satu hal yang penting adalah kelompok pengikut yang
pertama adalah kalangan migran, kalangan miskin, warga klan
yang lemah dan anak-anak dari kalangan klan kuat, dimana
mereka merupakan kalangan yang paling kecewa terhadap
pergeseran moral dan sosial Mekah dan mereka mem-
buktikan pesan-pesan Nabi sebagai sebuah alternatif yang
vital.
Pada tahun pertama dakwah Muhammad masih belum
memuaskan. Terlepas dari kelompok pengikutnya yang
berjumlah kecil, dakwah Muhammad berhadapan dengan oposisi
dari segala penjuru. Dari keterangan al-Qur’an, suku Quraisy,
kelompok pedagang yang mendominasikan Mekah, menentang
keras wahyu Muhammad. Mereka melecehkan pemikiran aneh
mengenai pengadilan hari akhir dan kebangkitan kembali setelah
mati dan mereka menuntut mukjizat sebagi bukti kebenaran
risalahnya. Jawaban Muhammad tiada lain hanyalah al-Qur’an
itu sendiri, yakni wahyu yang memiliki keindahan bahasa yang
unik, yang merupakan sebuah mukjizat dan sebuah pertanda
wahyu. Namun kalangan Quraisy menuduh Muhammad sebagai
kabin, ahli nujum, tukang ramal, yakni bentuk kekacauan tukang
sihir atau orang gila. Kemudian datanglah penghinaan,
penyiksaan terhadap Muhammad dan pengikutnya dan sebuah
pemboikotan ekonomi yang mempersulit mereka dalam
memenuhi kebutuhan makanan di pasar-pasar.

31
Perlawan yang nyata adalah didasari oleh latar belakang
keagamaan, namun dakwah ajaran Muhammad sesung-
guhnya merupakan sebuah ancaman keutuhan struktur
keluarga dan komunitas yang akan berkaitan erat dengan
keyakinan Quraisy yang berlangsung selama ini. Secara
implisit wahyu Islam menantang seluruh institusi masyarakat
yang tengah berlangsung saat itu penghambaan diri kepada
berhala dan kehiduapan ekonomi yang bergantung pada
tempat-tempat suci, nilai-nilai kesukuan tradisional, otoritas
para tokoh Quraisy dan solidaritas klan yang dari solidaritas
ini Muhammad berimaksud menggalang pengikutnya.
Agama, keyakinan moral, struktur sosial dan kehidupan sosial
membentuk sebuah sistem ide dan institusi yang tidak mudah
digantikan dengan sesuatu yang lain. Menyerang mereka pada
poin-poin yang sangat penting berarti menyerang keutuhan
akar kemasyarakatan dan juga cabang-cabangnya. Jadi oposisi
pihak Quraisy merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat
dihindarkan.
Untuk menghadapi oposisi ini, wahyu al-Qur’an
memberi Muhammad dengan sebuah respon. Ia bukanlah
sekedar pribadi sendiri yang kepadanya disampaikan sebuah
visi ketuhanan, tetapi sejumlah nabi-nabi yang diturunkan
sesudah perjanjian lama dan sejumlah nabi-nabi dari kalangan
Arabia; dia adalah salah satu di antara nabi-nabi yang
menyerukan kehendak Tuhan dalam bahasa Arab. Ia dapat
dibenarkan melaui ajarannya, sebab Nabi Muhammad diutus
oleh Allah untuk menyelamatkan masyarakat dari kebodohan
dan menunjuki mereka menuju jalan kebenaran. Pada tataran
ini misi yang dibawa Nabi Muhammad melibatkan kelompok
Kristen, Yahudi dan kelompok Pagan. Hanya pada masa-
masa belakangan menjadi semakin jelas bahwasanya seruan

32
Masa Nabi

Muhammad bermaksud mendirikan sebuah agama baru yang


bersandingan dengan Kristen dan Yahudi.
Lantaran misi Muhammad yang sangat luas caku-
pannya, maka jelaslah bahwa seruan tersebut tidak hanya
sebatas penyampaian wahyu al-Qur’an tetapi juga berkaitan
dengan kepemimpinan masyarakat. Oposisi kalangan Quraisy
menunjukkan bahwasanya sebuah kehidupan komunitas
tidak dapat dilepaskan dari unsur-unsur keyakinan agama
Quraisy. Kenabian mengisyaratkan visi eskatologia dan
pengetahuan akan kehendak Tuhan, yang ber usaha
mengarahkan menuju petunjuk kebenaran dan kepe-
mimpinan sosial.
Pada tahun 615, tanda-tanda kongkrit bahwa
Muhammad akan menjadi pimpinan komunitas baru dan
bahwa mereka meyakini ajarannya membentuk sebuah
kelompok baru yang terlepas dari komunitas Mekah lainnya.
Pada tahun tersebut sebuah kelompok dari pengikutnya
berpindah ke Abyssinia untuk mengamankan agama, mereka
bersedia melepaskan keluarga dan klan mereka untuk
membentuk kehidupan bersama di sebuah negeri asing.
Ikatan keagamaan ini lebih kuat daripada ikatan darah.
Dengan cara demikian, agama baru tersebut mengancam tata
kemasyarakatan yang lama dan sekaligus menggantinya
dengan tata kemasyarakatan yang baru.
Oposisi terhadap Muhammad bahkan menunjukkan
sebuah dimensi lainnya mengenai perkaitan antara agama
dan masyarakat. Hal ini mengukuhkan sesuatu yang membuat
Nabi Muhammad bertahan di Mekah. Dapatlah dikatakan
bahwa hal itu sama sekali tidak bergantung pada ajarannya,
melainkan semata bergantung pada pamannya, Abu Thalib
dan kerabatnya, Bani Hasyim, yang telah melindungi lantaran

33
ia adalah warga kerabat mereka. Dengan dukungan ini,
Muhammad dapat terus melanjutkan seruannya, sekalipun
dengan disertai caci maki dan penghinaan. Tetapi sejak tahun
615 atau 616 dia tidak lagi mendapatkan pemeluk baru. Pada
saat itu ia telah memiliki 100 pengikut, tetapi pemboikotan
yang dilaksanakan kalangan Mekah memberikan kesadaran
yang jelas, bahwasanya menjadi pengikut Muhammad sama
artinya dengan mengundang kepayahan hidup. Kebenaran
ajaran Muhammad dan keahlian pribadinya dalam hal
oratorikal dan syair sama sekali tidak menimbulkan
tanggapan positif, sebab ia dipandang sebagai orang gila.
Demi kesuksesan seruan Islam, Muhammad haruslah
menjadi tokoh besar, bahkan harus berkuasa dan ber-
kedudukan. Masyarakat tidak dapat digerakkan semata-mata
dengan gagasan, tetapi harus digerakkan dengan gagasan yang
disertai prestise.
Pada tahun 616 Muhammad bertetapan untuk mencari
dukungan di luar wilayah Mekah. Situasi pada tahun itu
semakin genting. Istrinya Khadijah dan pamanya Abu Thalib
meninggal dunia, sehingga dukungan dari klannya berhenti.
Akhirnya ia memutuskan pergi ke Tha’if, sebuah wilayah
oasis tetangga Mekah dan ia menyerukan kepada masyarakat
di sana untuk mengakui dirinya sebagai Nabi. Muhammad
menemukan perlakuan yang sangat naif, ia diejek dan
akhirnya diusir. Muhammad juga berusaha mencari dukungan
kalangan Badui, Haman sekali lagi usahanya tidak membawa
hasil. Pada masa itu tidak seorangpun yang menjadi
pelindung Muhammad. Sekitar 619 Muhammad mulai
menyadari untuk melindungi dirinya sendiri dan pengikutnya,
untuk mengatasi permusuhan pihak Quraisy dan untuk
sebuah perhatian dari kalangan Arabia yang telah simpatik

34
Masa Nabi

kepadanya, maka beberapa pola dasar politik sangatlah


diperlukan.

C. Fase Madinah

1. Pembentukan Sistem Sosial Kemasyarakatan, Politik dan Militer


Madinah adalah sebuah oasis pertanian, Madinah juga
sepertinya halnya Mekah, dihuni oleh berbagai klan dan tidak
oleh sebuah kesukuan yang tunggal, namun berbeda dengan
Mekah, Madinah merupakan perkampungan yang diributkan
oleh permusuhan yang sangat sengit dan anarkis antara
kelompok kesukuan terpandang suku Aws dan Khazraj.
Permusuhan yang berkepanjangan mengancam keamanan
rakyat kecil dan mendukung timbulnya permasalahan
eksiatensi Maddinah. berbeda dengan masyarakat Badui,
warga Madinah telah hidup saling bertetangga dan tidak
berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya.
Selanjutnya berbeda dengan Mekah, Madinah
senantiasa mengalami perubahan sosial yang meninggalkan
bentuk kemasyarakatan absolut model Badui. Kehidupan
sosial Madinah secara berangsur-angsur diwarnai oleh unsur
kedekatan ruang daripada oleh sistem kekerabatan. Madinah
memiliki sejumlah warga Yahudi, yang mana sebagian besar
penduduknya lebih simpatik terhadap monotheisme.
Pada sebuah kebuntuan yang sangat krusial dalam
kehidupannya sendiri, Muhammad mendapat sejumlah
pemeluk pertama dari kalangan Madinah dan setelah
berlangsung beberapa kali negosiasi, Muhammad diundang
untuk menyelesaikan kemelut Madinah. Pada tahun 620,
enam laki-laki suku Khazraj dan Aws membenarkan
Muhammad sebagai nabi, dan pada tahun 621 dua belas or-

35
ang yang mewakili suku Khazraj dan Aws menyampaikan
sumpah setia kepada Nabi Muhammad dan mereka
bersumpah menghindari perbuatan dosa dan pada tahun 622
delegasi yang terdiri 75 warga Madinah meminta Nabi untuk
datang ke Madinah seraya menyampaikan sebuah sumpah
agabah – sebuah sumpah untuk membela Nabi Muhammad.
Sejumlah kesepakatan ini bersandar baik pada
penerimaan wahyu al-Qur’an dan juga penerimaan terhadap
keunggulan warga Arabia. Dalam sebuah masyarakat yang
tidak mengenal hukum umum atau pemerintahan dan tidak
mengenal otoritas yang lebih tinggi daripada individu
pimpinan klan, permusuhan antar klan seringkali berpihak
kepada orang-orang yang memiliki reputasi dalam visi
keagamaan dan seorang yang adil, bijaksana dan tentunya
seorang yang tidak memihak, untuk dijadikan sebagai arbit-
rator atau hakam. Disebabkan hakam tersebut tidak memiliki
unsur-unsur yang menekan keputusanya, maka menjadi
kebiasaan yang berlaku di kalangan mereka untuk
mewawancarai pihak-pihak yang terlibat dalam per-
sengketaan dan untuk memastikan bahwasanya pihak-pihak
terlibat akan mematuhi keputusan mereka sendiri.
Dengan jaminan yang disampaikan melaui sumpah
aqabah, Nabi Muhammad dan pengikutnya menempuh
perjalanan ke Madinah- periatiwa yang dramatis sepanjang
sejarah umat Muslim. Komunitas muslim bermula dan
tumbuh sejak dari saat perjalanan ini dan kalender muslim
yang bersesuaian dengan tahun Kristen 622, ditetapkan
sebagai tahun pertama Muslim. Perjalanan ini dinamakan
Hijrah, yang secara sederhana berarti migrasi (perpindahan).
Bagi seorang muslim kata hijrah ini tidak hanya bararti
perpindahan tempat, melainkan pemelukan Islam dan

36
Masa Nabi

menjadi sebagai komunitas Muslim. Hijrah juga dapat


diartikan sebagai transisi dari pagan menuju dunia muslim;
perpindahan dari masyarakat kekerabatan menuju masya-
rakat yang dibangun di atas dasar keyakinan agama.
Di Madinah Nabi Muhammad dan pengikutnya dari
kalangan tuan rumah Madinah juga mencapai sebuah
kesepakatan politik resmi. Muhammad dan pengikutnya
dari kalangan Mekah membentuk sebuah kelompok politik
bersama dengan klan Madinah, yang dinamakan Ummah,
sekalipun istilah ini diperuntukkan bagi komunitas Mus-
lim. Muslim mekah dan warga Madinah haruslah bertindak
sebagai satu kesatuan untuk mempertahankan nabi
Muhammad dan Madinah dari pihak luar. Tidak satupun
klan diperbolehkan membentuk perdamaian yang terpisah.
Tidak seorang pun diperbolehkan membantu Quraisy
Mekah. Perjanjian ini juga menegaskan bahwa setiap
perselisihan harus dimajukan kepada Nabi, lebih dari itu,
bagi Nabi Muhammad perjanjian tersebut merupakan
langkah awal untuk membentuk sebuah ikatan komunitas
antara seluruh klan yang ada. Untuk menegakkan otoritas
dan prestise dirinya dan pada akhirnya untuk menarik
kekuatan-kekuatan politik ke dalam kekuasaannya. Dengan
terpecah menjadi klan-klan kecil tanpa kesatuan dan
pemerintahan yang efektif, masyarakat Madinah merasa
terancam oleh permusuhan yang berkepanjangan. Musuh-
musuh Muhammad juga terbagi untuk menghambat
konsolidasi kekuatannya dan klan-klan pagan menentang
keseluruhan Muhammad dan mereka yang telah memeluk
Islam.
Dalam konsolidasi kekuatan Muhammad, sebuah
tahapan yang krusial adalah penyisihan atau eliminasi klan-

37
klan Yahudi yang terbukti berkhianat terhadap misi
Muhammad. Pada masa awal pandangan dirinya sebagai
seorang Nabi, Muhammad adalah utusan Allah untuk seluruh
warga Arabia - Yahudi Kristen dan termasuk kelompok pa-
gan. Ia berusaha menyelamatkan kesucian keimanan yang
telah diwahyukan sebelumnya, menyebarkan sebuah
pembaharuan dan berakhir pada perubahan yang merembet
pada kehidupan sehari-hari. Jadi di Madinah Muhammad
ber maksud mencakup Yahudi dalam komunitasnya.
Beberapa praktik keagamaan spesifik seperti penebusan dosa
merupakan hal yang sama persia dengan hari penebusan dosa
Yahudi dan Yerusalem sebagai kiblat shalat seharusnya
menimbulkan simpatik bagi kalangan Yahudi. Sekalipun
demikian klan-klan Yahudi mengingkari klaim Muhammad
sebagai seorang Nabi menurut tradisi Hebrew. Mereka
menantang legitimasi Muhammad dan melawan ungkapan
Muhammad sebagai sejarah. Di tengah permusuhan dengan
kelompok Yahudi, al-Qur’an mengecam Yahudi karena
mereka mengkhianati perjanjian dan menerangkan bahwa-
sanya Nabi Ibrahim merupakan Nabi par-Excellence, yang
mengajarkan agama Tuhan yang murni, yakni sebagai hanif
yang pertama, sebagai pembangun Ka’bah dan sebagai ayah
bangsa Arab. Al-Qur’an sekarang ini menerangkan bahwa
Muhammad diutus untuk menyelamatkan kemurnian
monotheiame Ibrahim. Jadi dalam hal ini Muhammad
melampaui warisan skriptural kalangan Yahudi dan Kristen.
Untuk menyampaikan ajarannya, komunitas Muhammad
tidak lagi mencakup kelompok Yahudi dan Kristen,
melainkan sebagai sebuah agama yang khas yang meng-
ungguli Yahudi dan Kristen untuk menyampaikan seruan
ini, Muhammad berangkat kepada klan Yahudi yang terusir

38
Masa Nabi

atau kepada perwakilan klan mereka di Madinah dan untuk


merampas properti mereka dan dibagikan kepada pe-
ngikutnya. Dengan kemenangan atas masyarakat pagan
Madinah dan dengan menghancurkan musuh-musuhnya
ter masuk sejumlah klan Yahudi, maka Muhammad
membentuk seluruh komunitas Madinah dibawah peme-
rintahannya.
Dalam tahun-tahun berikutnya, Muhammad bekerja
keras untuk menciptakan sebuah masyarakat yang didasarkan
persamaan keyakinan agama, seremoni, etnik dan hukum
sebuah komunitas yang melampaui struktur sosial tradisional
yang didasarkan pada keluarga, klan dan kesukuan dan
sebuah komunitas yang menyatukan keterpisahan kelompok
menjadi sebuah masyarakat Arab baru. Program kerja ini
berlangsung dalam beberapa tahapan.
Pada tahapan ritual dan keagamaan eksistensi sebuah
komunitas Muslim diekspresikan melalui sejumlah ritual dan
hukum-hukum sosial, sebagaimana yang dinyatakan di dalam
al-Qur’an, terdiri dari lima prinsip syahadah, shalat, zakat,
puasa dan haji. Kelima prinsip Islam ini berasal dari preseden
masyarakat Arabia, Kristen, preseden masyarakat Yahudi dan
menguatkan ritual publik yang jika diselenggarakan secara
bersama-sama, akan menguatkan kesadaran kolektivitas
komunitas Muslim. Persaudaraan agama yang disertai dengan
pemberian zakat serupa dengan persaudaraan klan yang
menyertai kehidupan sehari-hari mereka. Shalat, puasa dan
kejujuran dalam kesaksian merendahkan manusia di hadapan
Allah dan menjadikan mereka menerima kehendakNya.
Ibadah haji berasal dari sebuah upacara masyarakat Arabia
Kuno. Perintah pembayaran zakat merupakan simbol
penolakan ketamakan diri dan pengakuan akan tanggung

39
jawab terhadap seluruh warga komunitas muslim (Lapidus,
1999:15-44).
Aspek lain dari kerja Muhammad di Madinah adalah
mendirikan konfederasi politis yang akan memperluas
pembaharuan Muhammad sampai kepada Mekah dan sampai
ke seluruh wilayah Arabia lainnya. Hal ini merupakan bagian
dari ambisi keagaamaan Muhammad, bahkan juga me-
r upakan kebutuhan politik. Jika Mekah menentang
Muhammad, sehar usnya pihak Mekah dapat meng-
hancurkannya di Madinah. Namun untuk menjadikan Mekah
untuk berada di bawah kekuasannya diperlukan juga
penguasan terhadap suku-suku Arabia, kekayaan dan
kekuasaan orang-orang Mekah yang berasal dari operasi
perdagangan yang bergantung pada kerjasama suku-suku di
Arabia. Singkatnya ambisi keagamaan dan logika politik
perpindahan Muhammad ke Madinah, keduanya membu-
tuhkan konfederasi Arabia sebagai kebutuhan terhadap
konfederasi warga Madinah.
Kebijaksanaan Muhammad terhadap Mekah bermula
dari permusuhan yang tidak kunjung padam, sejak masa yang
paling awal, kelompok-kelompok kecil dari Muhajirin,
kalangan pengungsi Mekah, menyerbu karavan Mekah untuk
mendapatkan harta rampasan. Pertama kali hanya kalangan
Mekah yang terlibat dalam penyerbuan tersebut, tetapi
keberanian Muhammad sekitar tahun 624, dan upaya untuk
mendapatkan harta rampasan, memungkinkan dirinya untuk
mengumpulkan sebuah kekumatan besar yang terdiri dari
pengungsi Mekah dan pengikutnya dari kalangan Madinah
untuk menyerang karavan Mekah yang kaya raya. Pada
perang Badar, Muhammad berhasil mengalahkan sebuah
kekuatan Mekah yang lebih besar, membinasakan sebagian

40
Masa Nabi

pimpinan Mekah dan meraih kemenangan dan prestise yang


gemilang di selur uh penjur u Arabia. Peperangan ini
dipandang sebagai tanda atas keunggulan Tuhan dan
menimbulkan kecemasan kalangan Badui yang menjadi
pengawal Karavan Mekah dan karenanya sejumlah jalur
utama perdagangan antara Mekah dan wilayah utara menjadi
terputus.
Dalam beberapa tahun berikutnya inisiatif peperangan
berbalik pada pihak Mekah, dimana dua kali menyerang
Muhammad dan Maddinah. Pertama adalah perang Uhud
(625) dan kemudian diausul dalam perang pertempuran
Khandaq (627). Dalam perang Uhud, pihak Muhammad
menderita kekalahan sedang dalam perang Khandaq pihak
Muhammmad berhasil menghancurkan dan membuat kecewa
pihak Mekah, tetapi pihak Nabi Muhammad tetap
diuntungkan dalam kedua peperangan tersebut. la berhasil
bei-tahan dari serangan yang dilancarkan pihak Mekah dan
bahkan pada setiap kesempatan menyusun rencana
pengusiran atau penghukuman terhadap siaa klan Yahudi,
merampas kekayaan mereka dan memperluas pengaruh
dirinya terhadap seluruh suku-suku di padang pasir Arabia.
Sasaran berperang bukanlah memerangi warga Mekah
sampai mereka mati, melainkan untuk mengajak masyarakat
Mekah memeluk agama Islam.
Nabi sebagai kepala pemerintahan, mengatur siasat
dan membentuk pasukan tentara. Umat Islam diijinkan
berperang dengan dua alasan (1) untuk mempertahankan diri
dan melindungi hak miliknya dan (2) menjaga keselamatan
dalam penyebaran kepercayaan dan mempertahankannya dari
orang-orang yang menghalang-halanginya Ibrahim Hasan,
1989:28-29)

41
Dalam sejarah Madinah, banyak terjadi serangan
sebagai upaya mempertahankan diri dari serangan musuh.
Nabi sendiri dalam pemerintahannya mengadakan beberapa
ekspedisi ke luar kota sebagai aksi siaga kemampuan calon
pasukan yang memang mutlak diperlukan untuk melindungi
mempertahankan negara yang baru dibentuk. Perjanjian
damai dengan berbagai cara agar disekitar Madinah juga
diadakan dengan maksud memperkuat kedudukan Madinah.
Pada tahun 630, Muhammad berhasil menyem-
purnakan keunggulan atas atas Mekah. Sebuah permusushan
antara klien suku-suku Mekah dan Madinah telah mem-
batalkan perjanjian damai tersebut, tetapi pemimpin Mekah
menyerahkan kota Mekkah. Muhammad memberikan
amnesti (pengampunan secara masal) untuk semua orang dan
memberikan sejumlah hadiah kepada pimpinan Quraisy.
Berhala-berhala di sekitar Ka’bah dihancurkan dan Ka’bah
dinyatakan sebagi tempat suci Islam.
2. Dakwah Ekonomi dan Sumber Keuangan Negara
Norma-norma transaksi bisnis yang didakwahkan oleh
Nabi Muhammad untuk bersikap adil, kontak perburuhan
menyampaikan kesaksian secara jujur dan tidak memungut
keuntungan riba. Semua itu bukanlah merupakan ketentuan
hukum, melainkan norma-norma etika. Misalnya peng-
haraman riba tidak menjelaskan sebuah batas ukuran
maksimum dalam keuntungan pinjaman, tetapi pengharaman
tersebut mengajarkan bahwasanya tidak seorangpun dapat
mengekspoitir orang lain yang berada dalam kesempitan atau
mengambil keuntungan dibalik kesusaahan mereka. Norma-
nor ma ini diberikan untuk mengatur distribusi harta
rampasan perang. Terdapat larangan masalah moral seperti
pengharaman perjudian dan penggunaan minuman keras.

42
Masa Nabi

Harta yang menjadi milik negara pada masa nabi


Muhammad saw ada tiga harta; ghanimah (harta rampasan
perang), Zakat/pajak dan Fa’i (sitaan).
Ghanimah adalah harta yang didapat dari hasil
pertempuran dari kaum kafir. Harta rampasan perang itu
selalu dibagi-bagikan berdasarkan petunjuk nabi. Seorang
imam diperbolehkan memberikan lebih sedikit dari seperlima
kepada pasukan-pasukan yang banyak jasanya, seperti
prajurit yang memanjat bukit tinggi, prajurit yang menerobos
ke depan pertahahan musuh dan jasa-jasa yang lain.
Ketentuan lain, Imam yang membagikan harta ghanimah
tidak boleh sedikitpun mengambil bagian tersebut. (korupsi
dan Nabi juga memperbolehkan kaum muslimin mengambil
harta ghanimah asal dengan persetujuan Iman. Pembagian
yang adil menurut nabi adalah untuk pasukan jalan kaki
diberi sebagian, dan pasukan berkuda (menunggang kuda
perang) mendapat tiga bagian (sebagian untuk orangnya dan
dua bagian untuk pemeliharaan kuda). Beginilah caranya
Nabi membagikan harta rampasan perang, pada waktu perang
Khaibar.
Zakat diwajibkan kepada tiap-tiap kaum muslimin dan
penyalurannya pun telah diatur dalam 8 golongan, seba-
gaimana yang terdapat dalam aturan Allah dan penjelasan
Nabi Muhammad. Bagi non muslim diwajibkaan membayar
Jizyah (pajak).
Fa’i (Sitaan) adalah harta yang diperoleh dari kaum
kafir tanpa peperangan dan berhak menjadi milik kaum
muslimin, termasuk fa’i juga adalah harta benda negara yang
tersimpan dalam Baitul Mal kaum Muslimin, seperti harta
seorang yang telah wafat dan tidak mempunyai ahli waris,
barang-barang sitaan, harta-harta pinjaman, barang-barang

43
simpanan yang sukar diketahui siapa pemiliknya dan barang
yang berpindah tangan.
Pada zaman Rasulullah dan Abu Bakar belum ada
departemen yang mengurus harta-harta yang menjadi milik
pemerintah dan harta-harta yang dibagi-bagikan. Nabi
Muhammad selalu mengawasi Kepala Daerah dalam masalah
harta negara. Pada zaman Rasulullah ada tiga jenis harta.
Pertama, harta yang diurus oleh pemerintah, kedua harta yang
harus diambil dengan jalan musyawarah seperti harta orang
yang dijatuhi hukum pidana karena kematiaannya atau harta
sitaan dari orang yang melanggar peraturan. Ketiga, harta yang
dipersengketakan. Pengggunaan harta tersbut untuk
pembiayaan pembangunan, pertahannan dan keamanan dan
pembiayaan gaji pegawai dan lain-lain. (Ibnu Taimiyah,
1989:51-62).

44
Bab IV
Masa Khulafaur Rasyidin

A. Tsaqifah Bani Saidah


Tsaqifah bani Saidah telah mengantarkan umat Islam
untuk mengenal arti khilafah. Nabi Muhammad yang tidak
menunjuk siapa yang menggantikan sepeningal dirinya dalam
memimpin umat yang baru dibentuknya. Wafatnya beliau
sangat mengejutkan.
Masalah suksesi mengakibatkan suasana politik umat
Islam menjadi sangat tegang. Padahal semasa hidupnya nabi
telah bersusah payah dan berhasil membina persaudaraan
sejati yang kokoh diantara sesama pengikutnya. Ada tiga
golongan yang bersaing keras dalam perebutan kepe-
mimpinan yaitu kaum Anshor, Muhajirin, dan keluarga
Hasyim (Amin Said, tt,:193)
Dalam pertemuan di Balai Sidang Bani Saidah di
Madinah, kaum Anshar mencalonkan Sa’ad bin Ubadah,
pemuka Khazraj, sedangkan Muhajirin mendesak Abu Bakar

45
sebagai calon mereka karena ia dipandang yang paling layak
untuk menggantikan nabi (Amin Said, tt:193). Di pihak lain
terdapat sekelompok orang yang menghendaki Ali ibn Abi
Thalib, karena nabi telah menunjuk secara terang-terangan
sebagai penggantinya, karena nabi adalah menantu dan
kerabat nabi. (Abu Hasan Ali al-Musawi, 1990:34)
Keadaan semakin tegang, namun berkat tindakan tegas
dari tiga orang, yaitu Abu Bakar, Umar ibn Khatab dan Abu
Ubaidah ibn Jarrah. Dengan semacam Cup, terhadap
kelompok memaksa Abu Bakar sendiri sebagai Deputi Nabi.
Tanpa intervensi, persatuan umat mereka terima dan dengan
semangat ukhuwah Islamiyah, maka terpilihlah Abu Bakar.
Dia adalah orang Quraisy yang merupakan pilihan ideal,
karena sejak semula dia selalu mendampingi nabi, dialah
sahabat yang paling memahami risalah Muhammad. Peristiwa
ini disebut peristiwa Tsaqifah bani Saidah. Sebagai pemimpin
umat Islam setelah nabi, Abu Bakar bergelar Khalifah
Rasulillah. Meskipun dalam hal ini perlu dijelaskan bahwa
kedudukan nabi sebetulnya tidak akan pernah tergantikan,
karena tidak ada seorangpun menerima ajaran Tuhan setelah
Muhammad.
Dalam sejarah Islam, empat orang pengganti nabi yang
pertama adalah para pemimpin yang adil dan benar. Mereka
menyelamatkan dan mengembangkan dasar-dasar tradisi
Rasulullah demi kemajuan Islam dan umatnya. Karena itu
gelar al-Khulafah al-Rasydin (yang mendapat bimbingan di
jalan lurus) diberikan kepada mereka.

B. Sistem Politik, Pemerintahan dan Bentuk Negara


Pada masa Khulafaur-Rasyidin, Islam sudah me-
rupakan tatanan yang sempuma, keseluruhan yang bulat,

46
Masa Khulafaur Rasyidin

yang mendasarkan diri pada himpunan postulat-postulat jelas


yang pasti. Baik semua ajaran utamanya maupun aturan-
aturan tindakanya yang terinci, dan peraturan-peraturan yang
diletakkan diberbagai sektor kehidupan manusia. Pada
hakekatnya Islam merupakan renungan, pengembangan dan
pencerminan prinsip-prinsip pertamanya. Berbagai tahap
kehidupan secara pasti Islam dan kegiatannya mengalir dari
postulat-postulat dari dasar secara pasti. Oleh karena itu,
aspek manapun dari ideologi yang ingin dikaji pertama kali
yang harus dilakukan adalah melihat akarnya serta prinsip-
prinsip dasarnya. Hanya dengan tindakan ini Islam dapat
dipahami secara pasti dan memuaskan. Tetapi persoalan
politik telah mengotori ajaran Islam yang suci dan dan
transendental. Islam telah kehilangan makna aslinya, terlebih
lagi dalam sejarah Islam dari kurun waktu yang lalu hanya
dipenuhi dengan pergolakan politik, sehingga nilai-nilai dan
peradaban Islam pun ikut mengalami nasib yang me-
nyedihkan akibat persoalan politik yang tiada henti.
Persoalan politik sama tuanya dengan usia manusia.
Sejak lahir ke dunia dan terlibat dalam segala urusan mondial,
manusia telah bergumul dengan persoalan politik dalam
rangka memenuhi ambisi dan obsesi biologis maupun
spiritualnya. Perbenturan obsesi dan ambisi itu merupakan
cikal bakal rekadaya manusia merumuskan langkah-langkah
strategi dalam proses perjuangan menegakkan eksistensi
kehidupannya. Arus kompetisi, sejak tingkat paling elementer
sampai berskala global, juga bermuara dari realitas ini. Atas
dasar itu pula, secara simbolik manusia sering disebut sebagai
makhluk yang sutra berpolitik (zon politicos atau homo
politikus). Politik ibarat sebuah produk yang lahir begitu saja
seiring dengan arus kompetisi kehidupan manusia. Politik

47
juga bisa disebut sebagai cara yang memang harus lahir
sebagai manusia merengkuh harapan.
Pemikiran politik Islam pada umumnya merupakan
produk perdebatan besar yang terfokus pada masalah religi
politik tentang imamah dan kekhalifahan. Di Madinah pa-
gan yang terpilih Nabi Muhammad setelah hijrah dari Mekkah
ke Madinah terutama setelah tahun pertama, terdapat sedikit
kontroversi mengenai siapa yang pantas mengendalikan
kekuatan politik. Dalam teori maupun praktek, Nabi
menempati suatu poosisi yang unik sebagai pemimpin dan
sumber spiritual undang-undang ketuhanan, namun juga
sekaligus pemimpin pemerintahan Islam yang pertama.
Kerangka kerja konstitusional pemerintahan terungkap
dalam sebuah dokumen terkenal yang disebut dengan
“Konstitusi Madinah” atau Piagam Madinah. (John Williams,
1971: 12-15). Dalam dokumen tersebut terdapat langkah
penting perdana bagi terwujudnya sebuah badan peme-
rintahan Islam atau Ummah. Menurut piagam itu, konsep
suku tentang pertalian darah digantikan dengan ikatan iman
yang bersifat ideologi. Piagam ini juga menyuguhkan landasan
bagi prinsip paling menghormati dan menghargai antara o-
rang-orang Islam dan orang-orang yang mengikuti, bergabung
dan berjuang bersama mereka. Mereka yang dimaksudkan
dalam pembukaan dipiagam itu adalah masyarakat Yahudi
Madinah.
Menurut konstitusi tersebut, orang-orang Islam dan
semua warga yang tinggal di Madinah tergabung dalam satu
masyarakat (pasal I) yang secara fisik dan politik berbeda
dengan kelompok-kelompok lain (pasal I dan 39). Tidak ada
kekhawatiran mengenai siapa yang harus memegang tampuk
pimpinan dalam konfederasi semacam itu. Pasal 23, 36 dan

48
Masa Khulafaur Rasyidin

42 secara tegas menyebutkan Allah dan Nabi Muhammad


SAW. sebagai hakim terakhir serta sumber segenap kekuatan
(wewenang) dan kekuasaan.
Sejak hijrah ke Madinah tahun 622 M, sampai saat
wafatnya pada tanggal 6 Juni 632 M, Muhammad berperan
sebagai pemimpin yang tidak dapat dibantah bagi negara Is-
lam yang baru lahir saat itu. Sebagai Nabi, beliau telah
meletakkan prinsip-prinsip agama Islam, memimpin shalat
serta menyampaikan berbagai khutbah. Sebagai negarawan,
beliau mengutus duta ke luar negeri, membentuk angkatan
perang dan membagikan rampasan perang. Wafatnya Nabi
yang tidak disangka-sangka menjadi sebab lar utnya
masyarakat dalam ketidakpastian tentang krisis peng-
gantinya. Nabi memang tidak menyampaikan wasiat tentang
siapa yang berhak menggantikannya sebagai pemimpin
negara Islam. Inilah yang menjadi picu lahirnya perdebatan
sengit dan berkepanjangan mengenai syarat-syarat Imam atau
pemimpin ummat Islam.
Abu Bakar sahabat Nabi yang paling karib dan
pendukung dakwahnya yang paling awal meski bukan
keluarga Nabi (bukan berasal dari keluarga Nabi), tampil
sebagai calon kuat setelah sebelumnya muncul protes dari
para penentangnya yang melibatkan para pemimpin
terkemuka Madinah. Untuk menangkal manuver-menuver
warga Madinah dalam berbagai kekuatan/kekuasaan, Abu
Bakar menghendaki agar prioritas kepemimpinan setelah
Nabi dipegang oleh suku Quraisy. Takala tokoh-tokoh utama
Quraisy memberikan dukungannya kepada Abu Bakar,
penduduk Madinah pun mengikuti jejak mereka dengan suka
cita. Masa 30 tahun berikutnya dikenal sebagai era Khulafaur
Rasyidin (The Right Guided Successors ) yang terdiri dari para

49
sahabat Rasulullah: Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Masa-
masa itu merupakan cerminan kejayaan Islam yang diraih
dengan berbagai perangkat dan tetap selalu berada di bawah
prinsip konsultasi dan akomodasi.
Masalah perebutan kekuasaan telah mulai menguncup
tajam selama masa pemerintahan khalifah ke-3, Usman. Ia
dipilih oleh sekelompok dewan pemilih yang terdiri enam
sahabat Nabi terkemuka yang dibentuk khalifah sebelumnya
Umar. (Amir Siddiiqi, 1982 : 46) Kericuhan itu bermuara
pada sekelompok pejabat pemerintahan yang didasarkan
pada favoritisme dan nepotisme. Cara ini melahirkan rasa
tidak puas dan keresahan pada sebagian anggota masyarakat
yang kemudian berkembang menjadi pertikaian masal dan
memuncak pada kemathian Usman. Ali, kemenakan Nabi
dan rival Usman dalam perebutan kursi kekhalifahan
kemudian dinobatkan sebagai khalifah dan mampu meraup
kesetiaan dari sebagian besar ummat. Meski begitu, ia juga
diharapkan dengan oposisi kuat yang terdiri dari unsur
masyarakat, terutama dari anak keturunan Umayyah yang
pernah mengambil keuntungan pada masa Usman, lebih dari
itu, istri Nabi sendiri, Aisyah diiringi dengan sebagian sahabat
karib Nabi, menyuarakan sikap anti Ali, maka periode ini
tidak terhindar dari kekerasan dan perang sipil yang berakhir
dengan terbunuhnya Ali dan kehadiran Dinasti Umayyah
yang memerintah sejak tahun 661 – 749 M.
Selama masa pergolakan inil lahir ragam fraksi politik
yang membentuk spektrum pemikiran politik Islam. Seusai
perang Siffin (657 M) antara Ali dan pemimpin Umayyah,
Muawiyah, sekelompok pasukan Ali keluar dari barisan dan
memberontak kepadanya. Kelompok muslim yang puritan
ini kemudian dikenal dengan khawarij atau Kharijites (para

50
Masa Khulafaur Rasyidin

pembangkang dan pemberontak). Mereka memprotes


perjanjian damai antara Ali dan Muawiyah. Mereka percaya
bahwa dengan menerima prinsip kompromi sebenarnya Ali
telah kehilangan sebagai status resminya sebagai pemimpin
ummat yang adil. Bahkan mereka bersikap lebih keras dengan
mengkafirkan Ali karena tindakannya dianggap sebagai dosa
besar sehingga pelakunya mesti bertaubat nasuha. Kaum
khawarij lalu menyimpulkan bahwa Islam akan terjaga baik
bila tiga orang yang bertanggung jawab atas terjadinya, perang
itu dienyahkan yaitu Ali, Muawiyah dan Amir bin Ash
(penasehat Muawiyah) dan penyaji kerangka pemikiran
perjanjian itu. Masa sesudah itu menjadi saksi bahwa Ali
saja yang terbunuh, sedangkan dua sasaran yang lain terhindar
dari maut. (E.A. Belyaev, 1969: 148). Muawiyah bahkan
memproklamirkan dirinya sebagai khalifah dengan basis
pemerintahan di Syria. Peristiwa ini menandai akhir peristiwa
politik yang didasarkan pada pemilihan dan merupakan awal
kehidupan sistem warisan dalam pemerintahan Islam.
Untuk mengkonsolidasikan kekuasaan, Bani Umayyah
harus menghadapi oposisi tangguh yang muncul dari
sebagian ummat Islam dan sahabat Nabi, di Madinah dan
Mekkah yang tidak saja mengecam cara Muawiyah merebut
kekuasaan tetapi juga mencaci sistem dinasti yang dianggap
sebagai pemutar balikkan cara pemerintahan Islam yang ideal.
Sebenarnya pemerintahan yang turun temurun yang tidak
dikenal bangsa Arab pada umumnya dan tidak ada jalan
untuk menerimanya kecuali jika sang penguasa meng-
gunakan cara yang tiranik. (Watt, 1968: 28 dan 101) Diantara
penentang keras rezim Umayyah itu adalah golongan Syiah.
Mereka menentang Bani Umayyah karena tidak saja prilaku
politik yang diterapkan pada kaum Syiah dan bukan Syiah,

51
namun lebih dari itu tangan tersebut merupakan ungkapan
kepercayaan yang mendalam bahwa kursi kepemimpinan
setelah Nabi hanya berhak diserahkan pada Ali, kemenakan
dan menantunya, bukan Abu Bakar. Menurut kepercayaan
Syiah, hanya anggota ahl al-Bait (keluarga Nabi) yang
memenuhi syarat untuk menjadi khalifah atau Imam. Sejarah
tidak pernah mencatat bahwa Ali tidak pernah menggugat
kekhalifahan Abu Bakar, dan tidak menentang Umar atau
Usman. Ia menjadi khalifah setelah Usman terbunuh karena
didukung oleh sekelompok sahabat utama Nabi. Proses
pemilihan itu kemudian dikuduskan dalam masyarakat
melalui sumpah setia atau bai’ah. Meskipun demikian Syiah,
sebagai suatu ideologi mulai berkembang seusai pembantaian
tentara Umayyah terhadap putranya, Husain di Karbala.
Kisah tradisional menuturkan bahwa Husain dihubungi para
pendukung Ali di Kufah yang meminta kedatangannya di
Irak untuk memimpin pemberontakan terhadap rezim
Umayyah. Ketika is bergerak menuju Kufah yang diiringi
sejumlah pasukan yang terdiri dari para kerabat (sahabat)
dan pendukungnya, bala tentara Umayyah mencegat mereka
di Karbala dan membantai Husain dan seluruh pengiringnya.
(E.A. Belyaev, 1969: 165) Tragedi itu membarakan dendam
kaum Syiah yang menganggap Husain sebagai martir luar
biasa disamping memperkokoh kepercayaan ideologis
mereka terhadap peran Ali dan anak turunnya serta arti
kepemimpinan (Imamah).
Di samping khawarij dan Syiah, ada segolongan ummat
Islam yang membentuk mayoritas ummat yang dikenal
sebagai penganut Ahli Sunnah Wal Jamaah (Sunni). Sekitar
abad ke-11, pandangan mereka tentang kekhalifahan
ditampilkan oleh para ahli hukumnya yang memainkan peran

52
Masa Khulafaur Rasyidin

dalam pemerintahan. Teori Sunni tentang pemerintahan


(dikemukakan oleh para fukaha kebanyakan) merupakan
deskripsi sejarah negara Islam sejak masa Khulafaur Rasyidin
dan masa-masa sesudahnya serta bukan merupakan evaluasi
kritis terhadap apa yang disebut dengan negara Islam.
Istilah negara atau Daulah tidak disinggung dalam al-
Qur’an dan Sunnah, tetapi unsur-unsur esensial yang menjadi
dasar negara dapat ditemukan dalam al-Qur’an. (Majid
Khadduri, dalam Khalid Ibrahin Jindan, 1994: 49) Seperti,
al-Qur’an menjelaskan seperangkat atau sangsi yang dapat
diterjemahkan dengan adanya tata tertib sosio-politik atau
selur uh perlengkapan bagi tegaknya sebuah negara.
Termasuk didalamnya adalah keadilan, persaudaraan,
pertahanan, kepatuhan dan kehakiman. Dalam al-Qur’an
bisa juga ditemukan hukum-hukum yang bersifat umum atau
hukum yang secara langsung menyinggung masalah
pembagian harta rampasan perang atau upaya untuk
menciptakan perdamaian. (Al-Raisy, dalam Khalid Ibrahim
Jindan, 1994: 50) subyek-subyek aneka ragam hukum
maupun petunjuk-petunjuknya itu tidak lain adalah ummat
Islam yang diisyarat al-Qur’an sebagai suatu masyarakat yang
berbeda dengan masyarakat lain yang berbeda karena
kebajikan yang mereka miliki. Ummat Islam adalah suatu
masyarakat politik yang sanggup mencukupi diri sendiri.
Lebih dari itu berbagai tugas keagamaan penting yang
ditentukan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah seperti
mengumpulkan zakat, menghukum tindakan kriminal,
distribusi manfaat di kalangan yang berhak menerimanya dan
organisasi jihad tidak dapat terlaksana dengan sempurna
tanpa intervensi penguasa politik yang resmi dalam bentuk
negara. Ibnu Taimiyah, mengatakan bahwa negara dan

53
agama, saling berkaitan antara satift dengan lainnya. Tanpa
kekuasaan negara yang bersifat memaksa, agama berada
dalam bahaya. Tanpa disiplin hukum wahyu, negara pasti
menjadi organisasi yang tiraknik. (Laoust, dalam Khalid
Ibrahim Jindan, 1994: 50) Dalam al-Siyasah al-Syar’iyyah,
ia menganggap penegakan negara sebagai tugas yang suci
yang dituntut oleh agama dan merupakan salah satu perangkat
untuk mendekatkan manusia kepada Allah. (Ibn Taimiyah,
dalam Khalid Ibrahim Jindan, 1994: 50) Mendirikan sebuah
negara berarti menyediakan fungsi yang besar untuk
menegakkan keadilan, dengan melaksanakan perintah dan
menghindar dari kejahatan dan memasyarakatkan tauhid dan
mempersiapakan kedatangan sebuah masyarakat yang yang
dipersembahkan demi pengabdian kepada Allah.
Dr. Wahid Ra’fat mendefenisikan bahwa negara adalah
sekumpulan besar masyarakat yang tinggal pada suatu
wilayah tertentu di belahan bumi ini, yang tunduk pada suatu
pemerintahan yang teratur yang bertanggung jawab
memelihara eksistensi masyarakatnya, mengurus segala
kepentingannya dan kemaslahatan umum. Sedangkan Dr.
Abdul Hamid al-Mutawalli mendefenisikan bahwa negara
adalah suatu institusi abstrak yang terwujudkan dalam
sebuah konstitusi untuk suatu masyarakat yang menghuni
wilayah tertentu dan memiliki kekuasaan umum. (Al-Madadi,
dalam Dr. Muhammad Kamil Lailah, 223-225 dalam Dr. M.
Yusuf Musa, 1963: 25)
Dalam sejumlah defenisi tersebut dapat disimpulkan
bahwa negara adalah sekumpulan manusia yang secara tetap
mendiami suatu wilayah tertentu dan memiliki institusi
abstraknya sendiri serta sistem yang dipatuhi dari para
pemegang yang ditaati serta memiliki kemerdekaan politik.

54
Masa Khulafaur Rasyidin

Unsur yang harus ada bagi wujud dan berdirinya bagi sebuah
negara adalah adanya bangsa yang mendiami wilayah tertentu
dan adanya institusi abstrak yang diterima baik oleh bangsa
tersebut dan direalisasikan oleh pemegang kekuasaan, serta
adanya sistem yang ditaati dan mengatur jenjang-jenjang
kekuasaan serta kebebasan politik yang menjadi identitas
bangsa tersebut sehingga tidak mengekor kepada bangsa lain.
(Dr. Usman Khalil, dalam Dr. M. Yusuf Musa, 1963: 25)
Islam dengan jelas baik dalam al-Qur’an maupun dalam
Sunnah Rasulullah menyatakan hal-hal yang berkaitan
dengan kepada negara dan rakyat serta hak-hak dan
kewajibannya, begitu pula dengan berbagai peraturannya.
Pada masa Rasulullah dan para Khulafaur Rasyidin telah
terbentuk sebuah negara Islam. Menurut Dr. R. Gibb, sejak
zaman Rasulullah dan para sahabat Islam bukan semata-mata
berkaitan dengan akidah keagamaan individual, tetapi sudah
mewajibkan pembentukan suatu masyarakat yang mandiri
yang memiliki pemerintahan sendiri serta memiliki konktitusi
dan sistem pemerintahan secara khusus.
Rasulullah datang membawa agama baru yang berbeda
sama sekali dengan tradisi bangsa Arab. Sesungguhnya negara
pertama bagi bangsa Arab dan kaum muslimin adalah di
Madinah. Nabi memproklamirkan kejadian raksasa ini kepada
segenap ummat manusia. Hal ini dibuktikan dengan adanya
langkah pertama yang diambil Rasulullah sesudah hijrah
sebagaimana yang diserukan oleh Ibnu Ishak yaitu beliau
Rasulullah telah menetapkan Piagam Perjanjian antara
Muhajirin dan Anshar serta mengajak bangsa Yahudi
membuat persetujuan dengan mereka, mengakui hak
keagamaan Yahudi dan pemilikan harta serta menetapkan
syarat bagi mereka dan memberi jaminan kepada mereka.

55
Bentuk negara Islam pada periode Rasulullah bersifat
Theokratis. Theokratis adalah suatu bentuk pemerintahan
yang berada dalam cengkraman kekuasaan Tuhan, yakni
mengakui Tuhan sebagai penguasa mutlak dalam tata
pergaulan masyarakat serta menerima wahyu-Nya yang telah
ditafsirkan oleh para wakil-Nya sebagai dasar bangunan
negara atau masyarakat. (Detlev H. Khalid, dalam Khalid
Ibrahim Jindan, 1994: 73).
Bila dikaitkan dengan tempat kekuasaan dan peranan
syariah dalam negara Islam, defenisi Khalid seperti
menyuarakan gambaran yang sebenarnya tentang negara Is-
lam. Ibnu Taimiyah mengungkapkan bahwa dalam pemer-
intahan teokrasi, Nabi adalah sebagai mediator atau utusan
Allah yang menyampaikan kepada masyarakat perintah-
perintah, janji-janji, peringatan-peringatan, Ridha dan murka-
Nya. Jadi segala prilaku atau barang yang dihalalkan adalah
apa yang pun yang memang ditentukan halal oleh Allah dan
Nabi. Sedang apa saja yang dilarang keduanya jelas
merupakan prilaku atau barang haram. Tak seorang pun
diijinkan melanggar ajaran Nabi Muhammad SAW. Itu pula
ajaran yang harus dijalankan pada penguasa. (Ibn Taimiyah,
dalam Khalid Ibrahim Jindan, 1994: 73)
Dengan demikian pada periode Rasulullah memang
sistem pemerintahannya bersifat theokrasi karena Rasulullah
langsung ditunjuk oleh Allah untuk menjalankan tugasnya
baik sebagai pemimpin agama sekaligus pemimpin negara
dan Nabi dalam menjalankan tugasnya beliau bertanggung
jawab kepada Allah.
Sedangkan pada periode Khulafaur Rasyidin, para
sahabat tetap menjalankan tugasnya, baik sebagai pemimpin
negara maupun pemimpin agama. Namun, dalam pemi-

56
Masa Khulafaur Rasyidin

lihannya para sahabat tidak ditunjuk oleh Allah, tetapi mereka


dipilih oleh rakyat. Dalam melaksanakan tugasnya mereka
tetap bertanggung jawab kepada Allah sekaligus bertanggung
jawab kepada rakyat.
Sistem pemerintahan Islam merupakan suatu sistem
tersendiri yang tidak ada bandingannya sama sekali. Ia
merupakan suau dalam Islam yang bersifat komplit dan
mer upakan sistem yang bertujuan memelihara dan
melindungi agama serta mengatur segala kepentingan ummat
berdasarkan ketentuan Allah dan Rasul-Nya untuk mencapai
kebaikan dunia dan akhirat sekaligus bagi kaum muslimin,
bangsa Arab dan seluruh ummat manusia.
Islam menegakkan sistemnya atas musyawarah dan
keadilan, menjamin kemerdekaan dan segala bentuk hak bagi
setiap warganya dan bukan warganya yang tinggal di negara
Islam. Juga memelihara serta melindungi masyarakat dan
umat dari perbuatan zhalim, kekejaman dan permusuhan
serta memberikan jaminan hidup terhormat dan mulia bagi
semua orang. (Yusuf Musa, 1963:207)
Setiap negara mempunyai sistem pemerintahan yang
mempunyai tujuan dan dasar-dasar. Tujuan pertama adalah
adanya imamah yaitu untuk melaksanakan ketentuan agama
sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya dan mem-
perhatikan serta mengurus persoalan-persoalan duniawi,
misalnya menghimpun dana dari sumber yang sah dan
menyalurkannya kepada yang berhak, mencegah timbulnya
kezaliman, semuanya itu dilakukan oleh manusia karena
perintah agama. (Yusuf Musa, 1994: 174). Oleh sebab itu,
tujuan dari sistem pemerintahan Islam sangat luas. Yusuf
Musa, mengemukakan beberapa hal :
1. Memberikan penjelasan kegamaan yang benar dan

57
menghilangkan keragu-raguan terhadap hakekat Islam
kepada seluruh manusia, mengajak manusia kepada
dengan penuh kasih sayang, melidungi seseorang dari
golongan anti agama serta membela syariah terhadap
seseorang yang ingin melanggar hukum.
2. Mengupayakan segala cara untuk menjaga persatuan
ummat dan saling tolong menolong sesama mereka dan
memperbanyak sarana kehidupan yang baik bagi setiap
warga sehingga seluruh ummat dapat menjadi laksana
bangunan yang kokoh.
3. Melindungi tanah air dari setiap agresi dan seluruh warga
negara dari kezaliman, kedurhakaan dan tirani, mem-
perlakukan mereka seluruhnya sama dalam memikul
kewajiban dan memperoleh hak, tanpa adanya perbedaan
antara amir dan rakyat, kuat dan lemah, kawan dan lawan.

Rasul dan sahabatnya telah melaksanakan kewajiban


ini. Bila tujuan yang paling utama dari pemerintahan Islam
adalah menjelaskan dan memelihara kemurnian agama, maka
hal ini berarti, imam harus berlaku keras pada setiap orang
yang dengan terang-terangan ingin melepaskan diri dari
agama atau tidak mau mengakui suatu kewajiban yang Al-
lah tetapkan di dalam Al-Qur’an dan dijelaskan oleh
Rasulullah dalam Sunnahnya. Oleh karena itu pada awal
masau pemerintahan Abu Bakar, Beliau memerangi orang-
orang yang murtad dari agamanya setelah wafatnya
Rasulullah.
Waktu itu banyak golongan bangsa Arab murtad dari
Islam. Ada yang tidak mau menunaikan zakat, tetapi
menerima kewajiban shalat. Akan tetapi Abu Bakar dengan
ketat menghadapi mereka dan dengan sikap keras tidak mau

58
Masa Khulafaur Rasyidin

menerima kehendak mereka. Beliau bahkan berpendapat


bahwa memerangi mereka adalah suatu hak yang fundamen-
tal. Karena menerima sikap mereka yang tidak mau membayar
zakat berarti melakukan suatu pemisahan yang tidak sah
antara zakat dengan shalat. Disamping sikap semacam ini
dapat dipandang suatu persetujuan terhadap kelemahan
muslim sepeninggal Rasulullah SAW.
Pendirian Abu Bakar dalam hal ini mempunyai
pengaruh yang besar terhadap Islam dan kaum muslim.
Pasukannya yang dikirim untuk memerangi semua kelompok
kaum murtad memperoleh kemenangan dan Islam kembali
jaya.
Contoh lain adalah Umar. Ketika beliau memegang
jabatan khilafah mulai menjelaskan agama dan me-
nempatkannya pada kedudukan yang tinggi dalam ke-
bijakan-kebijakannya. Ia tidak pernah lupa menasehati para
Gubernur dan para pegawainya mengenai kewajiban ini.
Bahkan dalam satu khutbahnya beliau mengisyaratkan
kewajiban tersebut seperti ucapannya, “Wahai manusia, demi
Allah, aku tidak mengirimkan para pegawaiku kepada kalian
untuk memukul diri kalian dan tidak untuk merampas harta
kalian. Akan tetapi aku kirim mereka kepada kalian untuk
mengajar agama kalian dan Sunnah Nabi kalian kepada
kalian, dan seterusnya”, seperti tercantum pada riwayat
Thabary dan para sejarawan lainnya.
Ketika Rasulullah wafat, Abu Bakar sebagai peng-
gantinya berpendapat tetap perlu mengirimkan pasukan ini
ke sasarannya untuk mencapai tujuan yang dikehendaki oleh
Rasulullah SAW. Akan tetapi beberapa orang sahabat
berpendapat tidak perlu melanjutkan pengiriman pasukan
ini. Namun pasukan ini tetap tinggal di Madinah, karena

59
mereka melihat pembelotan dan kemurtadan dari banyak
suku Arab. Sedangkan di sisi lain Usamah adalah seorang
pemuda, padahal orang-orang yang berada dibawah
komandannya, padahal orang-orang yang berada dibawah
komandannya adalah sahabat-sahabat senior. Karena itu,
sebagian kaum muslimin datang kepada Umar, agar ia
berbicara kepada Abu Bakar supaya mengganti Usamah
dengan orang lain yang lebih tua umurnya. Akan tetapi Abu
Bakar masih kepada Umar, ketika mendengar kata-kata yang
disampaikan Umar, sampai Abu Bakar memegang jenggotnya
seraya berkata kepadanya, “Wahai Ibnul Khathab, celakalah
ibumu! Rasulullah telah mengangkatnya, tetapi engkau
menyuruh aku memecatnya!” Selanjutnya pasukan itu terus
berjalan dan meraih tujuan yang ditugaskan kepada mereka.
Umar sangat kuat kemauannya untuk memberikan
hak-hak kaum muslimin. Dia berkata dalam salah satu
khutbahnya,” Setiap orang mempunyai hak terhadap
kekayaan, “Baitul Mal”, yang aku akan memberinya atau
menghalanginya. Setiap orang tidak lebih berhak dari yang
lainnya terhadap harta ini, kecuali budak. Dan hakku sama
dengan orang-orang lain diantara mereka. Demi Allah,
sekiranya harta “Baitul Mal” sisa niscaya penggembala ini
(Umar) akan mendatangi orang yang tinggal di gunung Shan’a
untuk memberikan haknya.”
Tekadnya untuk menjalankan pemerintahan yang adil
sangat kuat, sehingga tekad ini membuat beliau tidak, sudi
memberikan kepada salah seorang kerabatnya sesuatu yang
bukan haknya. Ibnu Sa’ad meriwayatkan, bahwa ipar Umar
bin Khathab datang kepada Umar lalu menyampaikan
keluhannya agar dia diberi harta dari Baitul Mal. Akan tetapi
Umar menghardiknya seraya berkata, “Apakah engkau

60
Masa Khulafaur Rasyidin

menginginkan aku menjumpai Allah sebagai orang yang


berkhianat?” namun orang ini kemudian diberi dari hartanya
sendiri sebnyak 10 dirham.
Ibnul Jauzi dalam Sirah Umar bin Khathab, meri-
wayatkan bahwa beliau membagikan pakaian kepada para
wanita penduduk Madinah dan masih tersisa sepotong lain
yang bagus. Lalu beberapa orang yang hadir berkata
kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, berikanlah kain ini
kepada putri Rasulullah yang dibawah tanggungan anda.”
Maksudnya Ummu Kaltsum, putri Ali yang menjadi istri
Umar. Tetapi ia menjawab, “Ummu Shalait lebih berhak
terhadap sepotong kain ini, karena ia termasuk orang yang
membaiat Rasulullah dan kehilangan keluarga pada perang
Uhud.”
Umar berkeinginan agar para Gubernur ataupun para
pegawainya tidak berbuat aniaya kepada ummat yang lain.
Untuk itu, ia melakukan pengawasan dari jauh dengan jalan
menanyakan hal ihwal setiap Gubernur kepada orang-orang
yang berada dibawah kekuasaannya. Dan bilamana beliau
menemukan tindakan sebagian Gubernurnya yang tidak
disenanginya, maka saat itu juga Beliau menjatuhkan qishash
kepada Gubernur yang bersangkutan sebagai tuntut balas
terhadap pelanggarannya. Tindakannya dalam hal ini sudah
populer. Tetapi pengawasan Umar terhadap para Gubernur
dan pegawainya menyebabkan banyak pengaduan yang
disampaikan kepadanya. Beliau senantiasa mengecek
kebenaran setiap pengaduan kepadanya dan memutuskan
perkaranya dengan adil. Dengan demikian semua orang aman
dalam mendapatkan hak-hak mereka.
Keadilan yang ditagakkan oleh sistem pemerintahan
Islam dan dipandang sebagai salah satu dasarnya yang kuat

61
adalah keadilan yang tidak terpengaruh oleh hubungan
kerabat, kebesaran dan kekuasaan. Sebaliknya juga
terpengaruh oleh rasa bend atau faktor lainnya. Oleh sebab
itu Allah menyuruh berbuat adil dan melarang berbuat zalim.
Dalam firman Allah dalam Qs.16:90:

“Sesunguhnya Allah menyuruh berbuat adil dan baik serta


memberikan kepada kerabat haknya dan mencegah
perbuatan keji, munkar dan zalim. Demikian Dia
menasehati kamu, mudah-mudahan kamu menjadi ingat”.

Dalam Qs., 4:58 :

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menunaikan


amanat kepada yang berhak. Dan jika kamu menghukum
diantara manusia, hukumlah dia dengan adil.”

C. Sistem Pergantian Kepala Negara


Sistem pergantian Kepala Negara pada periode
khulafaur-Rasyidin berdasarkan beberapa pemikiran para
ulama sebagai berikut :
Pertama, Jumhur Ahlu Sunnah berpendapat bahwa tidak
ada nash baik di dalam Al-Qur’an maupun As-sunnah yang
menentukan kepala negara, atau menetapkan cara penen-
tuannya. Kecuali nash-nash umum yang bertalian dengan
kekuasaan dan pengangkatan seorang penguasa daerah. Baik
adalah kekuasaan besar maupun keuasaan kecil.
Jika ada sebuah prinsip yang telah ditetapkan di dalam
Al-Qur’an maupun As-Sunnah, niscaya para sahabat
mengumumkannya ketika Nabi saw wafat. Perselisihan di
antara para sahabat waktu itu adalah sekitar masalah siapa

62
Masa Khulafaur Rasyidin

yang berhak diantara mereka menjabat kekhalifahan, bukan


sekitar masalah prinsip. Sehingga orang yang terlambat
membaiat Abu Bakar tidaklah mengumumkan suatu prinsip
tandingan yang mereka yakini disyari’atkannya kepada
manusia banyak.
Jika mereka mengerti suatu kaidah atau prisip yang
diumumkan Rasulullah saw tentu mereka tak akan tinggal
diam. Karena diamnya mereka mereka merupakan suatu
penghianatan kepada Allah dan RasulNya. Begitu juga diam
tidak memberi nasehat. Setiap perkara pengutamaan si fulan
atau pengangguhan si fulan adalah melalui ijtihad pribadi di
dalam memilih dan mengutamakan (seseorang).
Begitu juga ahlu sunnah berpendapat bahwa tidak ada
nash yang menentukan siapa yang berhak mengganti Rasul
saw. Sekalipun sebagian mereka bahwa ada isyarat
tersembunyi dan beberapa qarinah (pertalian) yang
menunjukkan penetapan atas diri Abu Bakar sebagai
pengganti Nabi saw. Ini adalah masalah yang tidak disepakati
melalui kesimpulan yang dapat diterima atau ditolak.
Kedua, jika memang di dalam Al-Qur’an dan As-
Sunnah tidak ada suatu penetapan cara penentuan (kepala
negara), kita kembali saja kepada aplikasi keilmuan yang
selesai di masa mayoritas sahabat dan generasi pertama
diantara mereka di dalam memilih khalifah. Agar kesimpulan
aplikasi dianggap sebagai ijma’ para sahabat, suatu prinsip
dapat dijadikan pegangan dalam membahas tema ini.
Disamping pegangan kita terhadap nash-nash umum yang
terdapat di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Ketiga, dari cara terpilihnya Abu Bakar dan ketiga
khalifah sesudahnya dapatlah diuraikan beberapa prinsip
sebagai berikut :

63
Prinsip pertama, Pemilihan mayoritas ahlu halli wa ‘aqd
dan kaum cerdik pandai di masyarakat terhadap orang yang
mereka pandang cakap menduduki jabatan khalifah dan
memerintah orang-orang mukmin. Dan pembai’atan mereka
kepadanya. Serta pencalonnya sebelum menjadi seorang
khalifah yang melaksanakan pemerintahan untuk mengurus
wasiat (khalifah sebelumnya). Akan tetapi tidaklah terlaksana
dengan wasiat ini, tetapi dengan wasiat (pesan) kaum
muslimin sesudah meninggalnya khalifah yang menga-
manatkan kepada orang sesudahnya.
Prinsip kedua, bai’at mayoritas umat Islam kepada
khalifah yang dicalonkan. Mereka rela kepadanya dan
menerima kekhalifahannya dan persetujuan mayoritas mereka
atasnya. (Baca M. al-Mubarak, 1995: 82-83)
Peraturan tentang pemilihan kepala negara pada masa
sahabat atau khulafaur-Rasyidin tidak dibahas di dalam nash,
baik Al-Qur’an maupun al-Hadits. Oleh karena itu pemilihan
kepala negara pada masa sahabat berdasarkan suara yang
terbanyak, melalui lembaga ahlu halli wa ‘aqd yang terdiri
dari sahabat yang terpandang, baik ditinjau dari ke-
sholehannya maupun dari intelektualitasnya.
Sedangkan kepala negara yang akan dipilih harus
memiliki dan memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan
dan menjadi standar pada masa itu.
Setelah mereka sepakat siapa yang dipilih, maka
selanjutnya diadakan Piagam bai’at yang harus dilaksanakan
oleh kepala negara yang terpilih. Di bawah ini secara umum
dipapar bagaimana proses pemilihan Kepala Negara.
a. Ahlu al-Halli wa-al’Aqd
Sekelompok orang yang memilih imam atau kepala
negara disebut ahlul halli wal-agdi atau ahlul ikhiyar. Al-

64
Masa Khulafaur Rasyidin

Qadhi Abu Ya’la telah menetapkan beberapa syarat


kecakapan bagi ahlul halli wal ‘aqd. Pertama, syarat moral
(akhlaq), yaitu keadilan, merupakan derajat keistiqamahan
(dapat dipercaya dalam hal amanah dan kejujuran). Kedua,
ilmu yang dapat mengantarkannya mengetahui dengan baik
orang yang pantas menduduki jabatan imamah.
Seakan-akan antara dua syarat terakhir ada kekaburan
dan kesamaran, sekalipun nampak bahwa yang dimaksud
dengan syarat kedua adalah ilmu teoritis. Seolah-olah
merupakan suatu persyaratan penguasaan terhadap derajat
tertentu daripada kebudayan (wawasan). Khususnya
wawasan kefiqihan perundang-undangan. Ketiga, lebih
dekat kepada persyaratan pengetahuan politik dan
kemasyarakatan.
Para fuqaha tidak menyebutkan cara untuk menen-
tukan atau menetapkan mereka itu. Sekalipun mereka
menyebutkan beberapa masalah yang berkaitan dengan tema
itu. Ahlul halli wal ‘aqd tidak memberikan persyaratan,
berasal dari penduduk satu negeri dengan sang Imam, yaitu
penduduk ibu kota Sekalipun pada prakteknya mereka lebih
dahulu dari yang lain dan pada umumnya orang yang layak
menduduki kekhalifahan ada di ibukota. (Al-Ahkam as-
Sulthaniyyah oleh Abu Ya’la, hal 4)
Al-Qadhi Abu Ya’la di dalam kitab Al-Ahkam as-
Sulthaniyyah membahas masalah lain yang penting, yaitu :
“Apakah boleh bagi seorang khalifah mengangkat Ahlu
ikhtiyar sebagaimana ia mengangkat ahlul ahd (para
pengganti)?” Jawabannya adalah: Ada yang berpendapat
boleh, karena ia merupakan diantara hak-hak kekha-
lifahannya. Sedangkan qiyas madzhab kita berpendapat tidak
boleh.”

65
Pendapat al-Qadhi Abu Ya’la yang mengatakan bahwa
tidaklah diperkenankan bagi khalifah menentukan (me-
ngangkat) orang-orang yang akan memilih khalifah
sesudahnya adalah pendapat yang benar. Sesuai dengan
maksud pembuat syari’at. Maka secara ringkas dapat
dikatakan bahwa cara menetapkan adalah suatu perkara yang
diserahkan kepada kebijaksanaan setiap masa dan negeri.
(Baca pendapat Abu Ya’la dalam M. al-Mubarak. 1995: 94-
85)
Pemilihan anggota dalam lembaga ahlu al-Halli wa al-
‘Aqd telah disepakati berdasarkan kebijaksanaan sesuai
dengan zaman dan pada tiap negara masing-masing wilayah.
b. Mayoritas dan Minoritas
Inti dari pendapat Al-Qadhi Abu Ya’la adalah bahwa
imamah, tidaklah terlaksana, kecuali bersama mayoritas ahlul
halli wal’aqh. Diriwayatkan dari Imam Ahmad ibn Hanibal
“bahwa imam itu baru eksis kalau seluruh ahlu halli wa-al
’aqd mendukungnya” Kemudian ia berkata: Ini pada lahirnya
terlaksana dengan persetujuan mereka.”
Menurut Abu Ya’la, kepala negara yang dipilih harus
berdasarkan dukungan dan persetujuan pendapat mayoritas
dari anggota lembaga Ahlu al-Halli wa al-’Aqd.
c. Bai’ah Bentuk Pemilihan
Sisi penting politik yang terkait dengan ummah dalam
teologi dan sejarah Islam barangkali tercermin dalam gaya
pemimpin negara Islam yang terpilih. Idealnya, pemimpin
negara Islam yang juga pemimpin masyarakat adalah seorang
yang terpilih diantara beberapa calon setelah melalui proses
pemilihan yang melibatkan konsultasi pendahuluan. Bila
nominasi itu ditentukan pada orang tertentu, maka

66
Masa Khulafaur Rasyidin

permasalahannya dikembalikan kepada seluruh jajaran


ummah yang hendak meberikan konfirmasi atau ratifikasi
terakhir. Proses yang kedua ini disebut bai’ah.
Pengangkatan khalifah Abu Bakar sebagaimana yang
kita ketahui adalah dari prakarsa cepat Abu Ubaidah bin
Jaffah dan Umar bin Khathab untuk membaiat beliau,
sehingga perselisihan antara kaum Anshar dan Muhajirin tidak
meruncing. Akan tetapi pengangkatan beliau pada dasarnya
tidak berpijak pada tindakan semacam itu, namun apa yang
sebenarnya dilakukan oleh kedua orang tersebut di atas
hanyalah bersifat pencalonan diri Abu Bakar untuk jabatan
khalifah. Dan yang sebenarnya menjadi dasar pengangkatan
Abu Bakar sebagai khalifah adalah adanya bai’at umat
kepada beliau, termasuk orang-orang yang adil, berilmu,
berfikiran, dan anggota ‘Ahlul Halli wal Aqdi’. Dengan
adanya mereka membaiat beliau inilah kemudian umat
mengikuti pendapat mereka.
Begitu juga dalam pengangkatan Umar. Tatkala Abu
Bakar Ash-Shiddiq telah merasakan begitu dekat ajalnya,
maka beliau menyerahkan kembali baiat yang pernah
diterimanya dari kaum muslimin dan meminta kepada
sebagian dari warga umat untuk berkumpul dan memilih
penggantinya guna mengurus kepentingan kaum muslimin,
akan tetapi mereka menyerahkan urusan ini kepada Abu
Bakar dan mengangkatnya beliau sebagai wakil untuk
memilihkan iman buat mereka, karena mereka ternyata tidak
memperoleh kata sepakat untuk menunjuk salah seorang dari
kalangan sendiri sebagai pengganti khalifah.
Jadi Abu Bakar melakukan musyawarah dengan para
tokoh dan orang-orang ahli pikir diantara kaum muslimin
dalam pengangkatan Umar. Setelah mereka menyepakatinya,

67
lalu beliau menunjukknya sebagai khalifah sesudahnya. Akan
tetapi beliau tidak mengganggap bahwa tindakan semacam
itu berarti membai’atnya sebagai khalifah. Karena itu beliau
menawarkan kepada orang banyak, apakah mereka meridhai
orang yang telah beliau pilih untuk mereka. Namun ada
diantara kaum muslimin yang telah mengetahui bahwa o-
rang yang akan dipilih adalah Umar, maka mereka
menyinggung kemudian membai’atnya. Dengan demikian,
pada saat itu persoalan imamah pada diri Umar telah selesai.
Sekiranya mereka tidak menyetujuinya dan mereka
membai’at orang lain, maka penunjukkan Abu Bakar atas
diri Umar tidaklah mengikat mereka. Begitu pula dengan
pengangkatan Utsman, kemudian Ali ra.
Pembai’atan yang dilakukan terhadap Abu Bakar
maupun Umar pada dasamya adalah pemilihan dan
musyawarah. Mekanismenya adalah memilih salah seorang
diantara 6 orang anggota panitia pemilihan khalifah yang
diangkat oieh Umar.
Begitu pula pemilihan Abdurrahman bin ‘Auf terhadap
Utsman pada dasarnya adalah sama. Namun pengangkatan
Utsman sebagai khalifah selanjutnya sebenarnya hanyalah
berdasarkan bai’at umat. Ketika Abbas bin Abdul Muthalib
berkata kepada Ali bin Thalib. Sekiranya benar riwayat yang
diketengahkan oleh pengarang buku “Al-Ahkamus Sul-
thaniyyah” : Ulurkan tanganmu, aku akan membai’atmu.”
Kemudian orang banyak mengatakan: “Paman Rasul saw
telah membai’at keponakan laki-lakinya. Sehingga tidak akan
ada dua orang sekalipun yang memperselisihkanmu.” Hal
semacam ini tidak lain merupakan pencalonan oleh Abbas
terhadap Ali. Kemudian untuk selanjutnya terserah kepada
umat dan para tokohnya.

68
Masa Khulafaur Rasyidin

Proses pengangkatan khalifah, dapat berjalan


berdasarkan bai’at yang dilakukan secara ridha dan bebas
oleh umat. Dan bahwa penunjukkan oleh khalifah
sebelumnya hanyalah bersifat pencalonan seseorang yang
dianggapnya patut sebagai penggantinya. Jika umat
menyetujui pencalonannya, maka mereka membai’at, tetapi
jika tidak setuju, maka mereka punya hak untuk membai’at
orang lain.
Ketika selesai pemilihan mayoritas ahlul halli wal’aqdi
terhadap kepada negara, tibalah sekarang pada tahap
pembai’atan atau piagam perjanjian. Al-Qadhi Abu Ya’la
menyebutkan bentuk piagam perjanjian ini. Orang yang
membai’at mengatakan : “Kami membai’atmu dengan penuh
kesungguhan. Kami senang engkau menegakkan keadilan
dan memperlakukan kami secara adil dan menunaikan
kewajiban-kewajiban keimanan” (Abu Ya’la dalam M. al-
Mubarak, 1995 : 86-87) Contoh pembaiatan yang terjadi
pada, masa sahabat atau Khulafaur-Rasyidin di bawah ini
adalah:
1. Abu Bakar
Ketika mengatakan bahwa Umar dan Abu Ubaidah
adalah dua calon kuat pengganti Rasulullah, maka ketika
itu juga Umar dan Abu Ubaidah berkata, “Tidak, Demi Al-
lah kami tidak meninggalkan anda untuk memegang
kepemimpinan ini. Andalah seorang Muhajir yang paling
mulia, orang kedua yang bersembunyi di gua Tsur itu dan
pengganti Rasullah SAW dalam mengimami shalat,
sedangkan shalat adalah perkara agama yang paling utama.
Oleh sebab itu, siapakah yang patut mendahului anda atau
meninggalkan anda untuk memegangi kepemimpinan ini?
Ulurkan tangan anda, kami akan membaiat anda”

69
Ketika Umar dan Abu Ubaidah akan membaiat Abu
Bakar, serta merta Basyir bin Sa’ad mendahului mem-
bai’atnya. Kemudian suku Aus seluruhnya menghampiri Abu
Bakar, lalu membaiatnya. Hal ini terjadi ketika mereka
melihat tindakan Basyir. Seruan suku Quraisy dan tuntutan
suku Khazraj untuk mengangkat Sa’adbin Ubaidah sebagai
Amir gagal untuk mendapatkan jabatan kekhalifahan
Kemudian Aslam dan rombongannya datang meng-
hadap, sehingga memenuhi jalan masuk, lalu mereka
membaiat Abu Bakar. Lalu datang manusia dari setiap
penjuru untuk membaiatnya juga. Selanjutnya mereka
menentukan tempat untuk membaiatnya. (Tsaqifah Bani
Saidah) lalu semua datang untuk membaiatnya termasuk Ali
bin Abi Thalib, walaupun bai’at darinya setelah enam bulan
baru terlaksana itupun karena desakan Umar. (M. Yusuf
Musa, 1990: 105¬106)
2. Umar Bin Khatab
Ketika Abu Bakar merasakan ajalnya hampir dekat,
ia lalu megumpulkan rakyatnya, lalu berbicara kepada
mereka, “Kalian telah mengetahui apa akan terjadi pada
diriku karena itu kalian harus memilih Amir kalian diantara
orang-orang yang kalian cintai. Maka sekiranya kalian
memilih amir disaat aku masih ada, hal semacam itu lebih
patut untuk membuat kalian tidak berselisih sepeninggalku.”
Ketika ummat Islam tidak memperoleh kesepakatan
untuk memilih salah seorang diantara orang-orang yang pa-
ling mereka cintai, maka mereka mempercayakannya kepada
Abu Bakar orang yang menurut pandangannya berguna bagi
mereka dan agama. Lalu ia meminta tempo sampai dapat
memikirkan orang yang baik untuk Allah, Agama-Nya dan
ummat. Pada saat ini, ia meminta kepada para cerdik pandai

70
Masa Khulafaur Rasyidin

dan tokoh-tokoh sahabat memberikan pendapat mereka


untuk menentukan siapa pengganti dirinya.
Sebagai penuturan Ibnu Sa’ad, Abu Bakar memanggil
satu persatu sahabat ke dalam kamarnya dan meminta
pendapat mereka tentang Umar. Baik kepada Abdurrahman
bin ‘Auf, Utsman bin Affan, Said bin Za’id, Abul A’war, Usaid
bin Hudlair dan orang-orang lain dari kaum muhajirin dan
Anshar juga ditanyai oleh Abu Bakar tentang diri Umar,
mereka semua sepakat bahwa Umar adalah lebih baik dari
pandangan Abu Bakar.
Dalam riwayat Thabari disebutkan bahwa orang yang
masuk ke tempat Abu Bakar dan protes terhadap pen-
gangkatan Umar sebagai adalah Abu Thalhah bin Ubaidillah.
Lalu Abu Bakar berkata kepadanya, ‘Apakah anda menakuti
aku dengan Allah, bila aku kelak menghadap Allah,
Tuhanku, lalu aku dimintai pertanggungjawaban, maka aku
akan menjawab, ‘Aku angkat khalifah untuk hamba-Mu dari
hamba-Mu yang terbaik’. (Tarikhulqul Umam wal Mulk dalam
M. Yusuf Musa, 1990:107-109).
Selanjutnya Thabari meriwayatkan bahwa setelah Abu
Bakar selesai bermusyawarah lalu dia memanggil Utsman
bin Affan, ia meminta kepada Utsman menuliskan
statemennya tentang pengangkatan khalifah pengganti
dirinya, yaitu Umar bin Khatab Kemudian Abu Bakar
menyuruh Utsman diserta Umar dan Usain bin Said al
Quradhi, lalu Utsman mengumumkan kepada orang banyak,
maka kalian membai’at orang yang tercantum dalam tulisan
ini mereka menjawab, ya !”, bahkan sebagian mereka (Ali)
berkata, kami telah mengetahuinya’. Kemudian mereka
menyetujui, mengesahkan dan membai’atnya (Ibnu Saad
dalam M. Yusuf Musa, 1990:109-110).

71
Selanjutnya Ibnu saad menyebutkan bahwa Abu Bakar,
kemudian memanggil Umar untuk membai’atnya dan
memberikan nasehat kepadanya. Demikianlah Umar bin
Khatab, memegang kekuasaan pemerintahan setelah Abu
Bakar setelah mengadakan musyawarah dengan tokoh-tokoh
Muhajirinn dan Anshar serta seluruh kaum muslimin dengan
bai’at terbuka.
3. Usman Bin ‘Affan
Ketika Abu Lu’ Luah seorang budak menikam Umar
pada bulan Zulhijah tahun 13 H dan Umar merasakan
dirinya telah mendekati ajal, maka Umar memilih panitia
6, untuk memilih khalifah pengganti dirinya, yaitu Ali dan
Utsman (dari Bani Abdi Manaf), lalu Abdurrahman dan
Sa’ad (keduanya adalah paman Rasulullah saw), Zubair
(penolong Rasulullah dan putra bibinya) dan Thalhah bin
Ubaidillah. Kemudian besok harinya mengundang lima
orang pertama, karena Thalhah saat itu tidak ada.
Kemudian Umar menyerahkan kepada mereka ber -
musyawarah.
Ketika Umar mejelang ajalnya, mengutus seorang
kepada Abu Thalhah dan mengumpulkan 50 orang dari
kalangan Anshar untuk bergabung dengan Majelis Sura
(panitia 6). Setelah diadakan rapat, yang memakan waktu
beberapa hari, maka terpilihlah Utsman bin Affan sebagai
pengganti Abu Bakar
Dengan bai’at Abdurrahman bin Auf (anggota ahlul
al Halli wal ‘aqd), maka sahlah pengangkatan Utsman sebagai
khalifah dengan disusul oleh bai’at dari para sahabat yang
lain.

72
Masa Khulafaur Rasyidin

4. Ali Bin Abi Thalib


Ibnu Sa’ad menuturkan secara ringkas takala khalifah
Utsman terbunuh pada hari Jum’at, 18 Djulhijjah 35 H, maka
Ali dibai’at oleh penduduk Madinah pada keesokan harinya
untuk menjadi khalifah. Yang membai’at beliau adalah
Thalhah dan Zubair dan sejumlah sahabat yang tinggal di
Madinah.
Thabary dengan sanadnya sendiri meriwayatkan bahwa
Muhammad bun Hanafiyah mengatakan bahwa saat
terjadinya pembunuhan atas diri Ustman, tidak ada ada lagi
yang berhak untuk menjadi khalifah selain Ali. Lalu Ali
datang ke masjid bersama-sama orang-orang Madinah.
(Muhajirin dan Anshar). Ali dibaiat oleh mereka pada hari
pembunuhan atas diri Ustman.
Pada riwayat lain yang dituturkan oleh Thabary, bahwa
Ali dibaiat pada hari ke-5 setelah wafatnya Ustman. Ali di
baiat oleh penduduk di seluruh pelosok negeri termasuk
wilayah Madinah dan Mesir, kecuali penduduk Syam, karena
mereka dengan pimpinan Muawiyah bin Abu Sufyan,
melakukan penuntutan penyelesaian atas pembunuhan
khalifah Ustman lebih dulu sebelum memberikan baiat.
Begitu juga Thalhah dan Zubair, dikatakan bahwa
mereka berdua juga telah membaiat Ali baik secara sukarela
ataupun terpaksa. Sedangkan mereka termasuk panitia enam
yang dibentuk oleh khalifah Umar ketika pemilihan U.stman
sebagai khalifah. (M. Yusuf Musa, 1990 : 98-125)
Dengan demikian pengangkatan imam atau khalifah
hanya dapat dilakukan berdasarkan baiat ummat atau oleh
wakil-wakil yang duduk di lembaga Ahlul halli wal ‘Aqdi
dan kemudian memperoleh persetujuan ummat terhadap
orang yang dibaiat.

73
Penunjukkan seseorang oleh khlaifah sebelumnya
adalah hanya bersifat pencalonan. Seseorang akan sah
menjadi khalifah bila mendapatkan baiat dari ummat.
Hak pencalonan ini dimiliki oleh khalifah yang sedang
berkuasa sebagaimana juga dimiliki oleh setiap orang
Islam seperti pencalonan Abu Bakar sebagai khalifah
oleh Umar Bin Khathab dan Abu Ubaidah bin Jarrah,
kemudian bar u dibaiat oleh ummat. Demikian juga
pencalonan Umar sebagai khalifah oleh Abu Bakar baru
dibaiat oleh ummat. Begitu pula pencalonan Utsman
sebagai khalifah oleh Abdurrahman bin ‘Auf lalu diikuti
oleh bai’at ummat dan pencalonan Ali sebagai khalifah
oleh Abbas bin Abdul Muthalib baru diikuti oleh baiat
atau persetujuan oleh ummat yang lain. (M. Yusuf Musa,
1990: 125-128)

D. Khalifah dan Imam


Khilafah merupakan isim masdar kholafa yang berarti
sesuatu yang datang kemudian, pluralnya adalah kholaaif,
atau khulafaa. Makna asalnya digunakan pada pernyataan
keadaan seseorang yang menggantikan orang lain. Dengan
kata lain bagi siapa yang menggantikan nabi disebut sebagai
khalifah.
Ibnu Khaldun membuat definisi khalifah adalah wakil
Rasul pada kek-uasaan politik dan agama. Khalifah seperti
manusia lain, kecuali ia adalah pelaksana hukum dan
pengawas agama (Khurbuthi, 1976:67).
Khalifah dinisbatkan kepada Abu Bakar setelah
wafatnya nabi. Sedangkan bagi Khalifah al-Rasydin yang
terkadang memakai sebutan lain, seperti Iman atau Amirul
Mukminin.

74
Masa Khulafaur Rasyidin

Khalifah bertugas melanjutkan tugas nabi mengadakan


perbaikan terus menerus agar tercapai sasaran yang luas:
Karena itu Rasulullah saw bersabda, bahwa setiap kenabian
akan disusul oleh khilafat. Khilafat berarti mempertahankan
sistem atau nidhaam yang dasarnya diletakkan oleh seorang
nabi dan ditegakkan wibawanya sepanjang masa oleh
khalifah-khalifahnya.
Nidhaam atau lembaga, khlilafat adalah nidhaam
kenabian atau meruapakan bagian dari nidham kenabian itu.
Karena, pengangkatan seorang khalifah tidak terlepas dari
campur tangan Tuhan.
Pengangkatan seorang khalifah tidak sama dengan
pengangkatan seorang nabi. Nabi diangkat langsung oleh
Allah SWT, tanpa campur tangan siapapun. Nabi sendiri tidak
tahu sebelumnya bahwa dirinya akan dijadikan nabi. Akan
tetapi pengangkatan seorang khalifah, meskipun Tuhan
mempunyai tangan dalam pengangkatannya secara tidak
langsung, namum umatlah yang mempunyai tangan langsung
dalam memilih siapa yang dianggap paling pantas menurut
ukuran taqwa.
Abu Bakar as Shidiq ra. diangkat sebagai khalifah
setelah rasullah saw mangkat. Umat Islam berusaha agar Abu
Bakar sebagai pengganti nabi. Pada mulanya sebagian umat
yang telah berkumpul di sebuah Balai Rung yang namanya
Tsaqifah sudah mulai cenderung memilih dari seorang sahabat
nabi dari golongan Anshar. Akan tetapi tidak berhasil,
selanjutnya Sayyidina Abu Bakar akhirnya terpilih dan
menjadi khalifatul muslimin yang direstui oleh umat Islam
dan diridhai oleh Allah SWT. (Ibnu Sulaiman, 1993: 1-6)
Sedangkan Konsep Imam sebenarnya sama dengan
konsep khalifah. Tetapi konsep Imam adalah konsep yang

75
diklaim oleh golongan Syiah. Menurut salah satu sumber
pakar Syiah, konsep Imamah dilahirkan oleh golongan Syiah.
(Abdullah A. al-Munif dalam Khalid Ibrahim Jindan, 1994:
7) Mereka berpendapat bahwa Imamah tidak hanya
merupakan suatu sistim pemerintahan tetapi juga rancangan
Tuhan, suatu kepercayaan yang dianggap sebagai penegas
keimanan.
Aspek kemutlakan konsep Syiah tentang Imamah
tersebut didasarkan asumsi bahwa syariah tidak akan dapat
berjalan tanpa adanya kekuasaan mutlak yang berfungsi
memeliharanya serta menafsirkan pengertian yang benar dan
murni pada syariah. Qomaruddin Khan dalam Khalid Ibrahim
Jindan, 1994: 70) Setelah memandang keterbatasan-
keterbatasan dan tidak sempurna akal manusia, kaum Syiah
mengatakan bahwa orang yang memenuhi syarat untuk
berperan sebagai pelindung dan penafsir hukum Tuhan
hanyalah perantara supra-manusiawi yang diberi petunjuk
oleh Sang Pencipta hukum tersebut. Jadi kaum Syiah
mengembangkan teori mereka tentang Imamah sama dengan
ketentuan Imam yang dipilih oleh Tuhan dan bukan hasil
pilihan ummat (manusia). Prilaku Tuhan disebut dengan Lutf
atau rahmat (grace), sedangkan urutan imam-imam ditunjuk
Allah dikenal dengan julukan Imamah. Bahkan golongan
Syiah mengklaim bahwa Nabi atas perintah Allah menunjuk
Ali sebagai Imam yang pertama, kemudian Ali menunjuk
penerusnya sampai dengan Imam yang ke-12, Muhammad.
Imam yang terakhir ini diyakini ke 12 Imam yang telah wafat
tahun 871 M, pada usia yang amat belia. (Abdullah A. al-
Munif, dalam Khalid Ibrahim Jindan, 1994: 8) Sejak
kematiannya itu ia diyakini sebagai penunjuk jalan manusia
dari kediamannya yang tersembunyi. Ia juga disebut dengan

76
Masa Khulafaur Rasyidin

sosok yang dinanti (al-Muntazar) yang akan muncul kembali


bila dunia telah penuh dengan tirani. Ia kemudian akan
menggantikan dan mewarnai keadilan. (Qomaruddin Khan
dalam Khalid Ibrahim Jindan, 1994: 8)
Jadi menurut syiah kepemimpinan seorang Imam
adalah atas dasar penunjukkan Allah untuk mengemban
tugas Agama dan pemerinyahan sebagaimana juga sosok
seorang Nabi. Ali telah ditunjuk oleh Allah sebagai sosok
yang mempunyai syarat-syarat untuk mengemban amanat
sebagai khalifah perdana.
Amirul Mukminin (pemimpin orang-orang mukmin)
adalah sebutan yang sama juga dengan khalifah namun
panggilan atau gelar Amirul Mukminin diberikan kepada
khalifah Umar bin Khathab, Utsman bin Affan dan Ali bin
Abi Thalib. Amirul Mukminin menyandang juga gelar Khilafat
‘ala Minhajin Nubuwwah yaitu khilafat yang mengikuti dan
mengamalkan cara yang dilakukan oleh Nabi. (Ibnu
Sulaiman, 1993: 11)

77
78
Bab V
Masa Abu Bakar Al-Siddiq
Dan Umar Bin Khattab

A. Riddah
Abu Bakar al-Siddiq bernama Abdullah bin Abi
Quhafa al-Tamimi. Di zaman pra Islam bernama Abdul
Ka’bah. Kemudian diganti oleh Nabi menjadi Abdullah. Ia
termasuk salah satu sahabat yang utama. Julukannya adalah
Abu Bakar (Bapak Pemagi) karena orang yang pertama kali
masuk Islam. Gelar al-Siddiq diperoleh karena ia termasuk
orang yang membenarkan Nabi dalam berbagai peristiwa
terutama Isra’ dan Mi’raj. (Syalabi, 1979: 205) Nabi seringkali
menunjuknya jika beliau berhalangan. Rasul mempercayainya
sebagai menggantikannya dalam tugas-tugas keagamaan atau
mengurus berbagai persoalan di Madinah.
Abu Bakar memangku jabatan selama 2 tahun lebih
untuk mengatasi berbagai persoalan dalam negeri yang
muncul akibat wafatnya Nabi. Terpilihnya Abu Bakar
membangun kembali kesadaran dan tekad ummat untuk

79
bersatu melanjutkan tugas Nabi. Menyadari bahwa
kepemimpinannya bertumpu pada komunitas yang bersatu.
Fokus pertama yang menjadi perhatian khalifah adalah
merealisasikan keinginan Nabi yang hampir tidak terlaksana
yaitu mengirimkan ekspedisi ke perbatasan Suriah di bawah
pimpinan Usamah untuk membalas pembunuhan ayahnya,
Zaid, dan kerugian yang diderita oleh ummat Islam dalam
perang Mut’ah. Sebagian sahabat menentang keras rencana
ini, tetapi khalifah tidak peduli. Ternyata ekspedisi ini sukses.
Akibat lain dari wafatnya Nabi ialah hengkangnya
beberapa orang Arab dari ikatan Islam. Mereka melepaskan
kesetiaan dengan menolak memberikan bai’at kepada
khalifah yang baru dan bahkan menentang agama Islam,
karena mereka menganggap bahwa perjanjian-perjanjian yang
dibuat bersama Muhammad dengan sendirinya batal
disebabkan kematain Nabi Islam.
Suku Arab banyak yang melepaskan diri dari ikatan
agama Islam. Mereka adalah orang-orang yang baru masuk
Islam. Belum cukup bagi Nabi dan para sahabatnya untuk
mengajari mereka prinsip-prinsip keimanan dan ajaran Is-
lam. Gerakan melepaskan kesetiaan dinamakan Riddah.
Riddah berarti murtad, beralih agama dari Islam ke
kepercayaan semula, secara politis mer upakan pem-
bangkangan (distortion) terhadap lembaga khalifah (Bernard
Lewis. 1988: 39). Sikap mereka adalah perbuatan makar yang
melawan agama dan sekaligus pemerintahan Islam.
Oleh karena itu khalifah dengan tegas melancarkan
operasi pembersihan terhadap mereka. Mula-mula hal itu
dimaksudkan sebagai tekanan untuk mengajak mereka
kembali ke jalan yang benar lalu berkembang menjadi perang
merebut kemenangan. Tindakan pembersihan juga dilakukan

80
Masa Abu Bakar Al-Siddiq dan Umar Bin Khattab

untuk menumpas nabi-nabi palsu dan orang-orang yang


enggan membayar zakat.
Bukan rahasia lagi selama tahun-tahun terakhir
kehidupan Nabi SAW. telah muncul nabi-nabi palsu di
wilayah Arab bagian selatan dan tengah. Pertama yang
dirinya memegang peran kenabian muncul di Yaman, yang
bernama Aswad Ansi. Berikutnya dalah Musailamah si
pendusta yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad telah
mengangkat dirinya sebagai mitra di dalam kenabian.
Penganggap lainnya adalah Tulaihah dan Sajjah Ibn Haris
seorang wanita dari Arabia tengah. (Amin Said, tt: 210-211)
Adapun orang-orang yang enggan membayar zakat
diantaranya karena mereka mengira bahwa zakat adalah sama
dengan pajak yang dipaksakan dan penyerahannya ke
Bendaharawan pusat di Madinah yang sama artinya dengan
penurunan kekuasaan, suatu sikap yang tidak disukai oleh
suku-suku Arab karena bertentangan dengan karakter mereka
yang independen (Syeh Mahmudunnasir, : 163) dan alasan
lain adalah kesalahan dalam memahami mekanisme
pemungutan zakat (Q.s, al-Taubah/9 : 301). Mereka mengira
bahwa hanya nabi saja yang berhak memungut zakat.
(Syalabi, 1979:232)
Penumpasan terhadap orang-orang murtad dan para
pembakang tersebut berhasil karena mendapat dukungan dari
suku Gatafan yang kuat. Situasi keamanan negara Madinah
menjadi kacau. Selama peperangan ridda banyak Qari’ (penghapal
al-Qur’an ) yang tewas. Tewasnya para Qari, Umar menjadi cemas
dan dihawatirkan beberapa bagian dari al-Qur’an akan musnah,
karena, itu is menasehati Abu Bakar agar membuat suatu
kumpulan al-Qur’an. Abu Bakar menyetujuinya dan menugaskan
Zaid ibn Sabit.(Jalaluddin al-Suyuti dalam Ali Mufrodi, 1997:50)

81
Peperangan melawan pengacau tersebut, meneguhkan
kembali khalifah Abu Bakar sebagai penyelamat Islam yang
berhasil menyelamatkan Islam dari kekacauan dan
kehancuran serta agama memperoleh kembali kesetiaan dari
seluruh jajaran Zajirah Arab.

B. PengembanganIslam Sebagai Kedaulatn Politik

1. Perluasan Wilyah Negara


Setelah khalifah Abu Bakar wafat pada hari Senin,
pada tanggal 23 Agustus 624 M (63 tahun) dengan
khalifannya berlangsung 2 tahun 3 bulan 11 hari, akhirnya
Umar ibn Khatab dengan nama lengkapnya Umar Ibn
Khattab Ibn Nufail keturunan Abdul ‘Uzza al-Quraisy dari
suku ‘Adi menggantikan Abu Bakar menjadi khalifah. Ia
dilahirkan di Mekah 4 tahun setelah sebelum kelahiran nabi
saw. Dia adalah seorang yang berbudi luhur, fasih, adil dan
pemberani. Ia ikut memelihara ternak ayahnya dan berdagang
ke Syria. Umar masuk Islam tahun ke lima setelah kenabian
dan menjadi salah satu sahabat nabi terdekat. Ia ikut
berkorban dan menjadi pelindung nabi saw dan Agama Is-
lam serta ikut berperang dalam peperangan yang besar
bersama nabi saw.
Ketika para pembakang telah dikikis habis oleh
khalifah Abu Bakar dan ekspansi miiter yang berhasil
menguasai wilayah Irak, Palestine, Irak dan Romawi Timur.
Selanjutnya, pada masa Umar ibn Khatab, wilayah yang
ditaklukkan adalah Suriah diikuti dengan penguasaan kota
Damascus (635 M) ibukota Suriah.
Keberhasilan pasukan Islam dalam penaklukkan
Suriah dimasa khalifah Umar tidak terlepas dari rentetan

82
Masa Abu Bakar Al-Siddiq dan Umar Bin Khattab

penaklukan pada masa sebelumnya. Khalifah Abu Bakar


telah mengirim pasukan besar di bawah pimpinan Abu
Ubaidah ibn al-Jarrah ke front Suriah. Ketika pasukan
terdesak, Abu Bakar memerintahkan Khalid ibn Al-Walid
untuk memimpin pasukan ke front Irak yang sedang dikirim
untuk memimpin pasukan Irak, diperintahkan segera
membantu di front Suriah. Dengan gerakan cepat Khalid
menyeberangi gurun pasir yang luas ke arah Suriah. Dan ia
bersama Abu Ubaidah mendesak pasukan Romawi. Dalam
situasi perang tersebut khalifah Abu Bakar wafat dan
digantikan dengan Umar. Pada masa Umar inilah Khalid ibn
al-Walid diberhentikan dan digantikan oleh Abu Ubaidah
al-Jarrah. Damascus jatuh ke tangan kaum muslimin setelah
dikepung selama tujuh hari, selanjutnya pasukan tersebut
melakukan penaklukkan ke Hamah, Qinnisrin, Laziqiyah
dan Alepo, Surahbil dan ‘Amr, Baysan sampai Yerusalaem
di Palestine. Kota suci ketiga dan dan kiblat pertama bagi
umat Islam itu dikepung oleh pasukan muslim selama 4 bulan.
Akhirnya kota itu dapat ditaklukan dengan syarat harus Umar
sendiri yang menerima kota suci, karena kekhawatiran
mereka terhadap pasukan muslim yang akan menghancurkan
gereja-gereja.
Dari Suriah, pasukan Muslim melanjutkan langkah ke
bumi Mesir dan membuat kemenangan-kemenangan di
wilayah Afrika bagian Utara. Seluruh kota-kota di Mesir
termasuk Babylon dapat ditaklukkan pada tahun 20 H.
Pemimpin Romawi di Mesir, setelah melihat kesung-
guhan dan ketangguhan pasukan Muslim dalam menak-
lukkan seluruh kota Mesir, mengajak perjanjian damai.
Perjanjian damai tersebut berisi :
a. Setiap warga negara diminta untuk membayar pajak

83
perorangan sebanyak 2 dinar tiap tahun.
b. Gencatan senjata berlangsung selama 7 bulan
c. Bangsa Arab tinggal di markasnya selama gencatan
senjata dan pasukan Yunani tidak akan menyerang
Iskandariah dan menjauhkan diri dari permusuhan.
d. Umat Islam tidak akan menghancurkan gereja dan tidak
boleh mencampuri umat Kristen.
e. Pasukan harus meninggalkan Iskandariah dengan
membawa harta benda uang dan mereka akan membayar
pajak perorang selama satu bulan.
f. Umat Yahudi harus tetap tinggal di Iskandariah.
g. Umat Islam harus menjaga 150 tentara Yunani dan 50
orang sipil sebagai sandera sampai batas waktu dari
perjanjian ini dilaksanakan.

Dengan Suriah sebagai basis, gerak maju pasukan ke


Armenia, Mesopotamia Utara, Georgia dan Azerbaijan
menjadi terbuka. Demikian juga serangan-serangan kilat ke
Asia Kecil dilakukan selama bertahun-tahun setelah itu.
Khalifah Umar mengirim pasukan di bawah pimpinan Sa’ad
Ibn Abi Waqqas untuk menundukkan Persia. Kemenangan
yang diraih memudahkan tentara muslim masuk ke dataran
Euphrat dan Tigris. Ibu kota Persia, Ctesiphon (Madain) yang
letaknya di tepi sungai Tigris pada tahun itu juga direbut.
Setelah dikepung dua bulan, Yazdagrid III, raja Persia
melarikan diri. Pasukan Islam mengepung Nahrawan
dan,menundukkan Ahwaz tahun 22 H. Tahun 641 MJ22 H,
seluruh wilayah Persia jatuh ke tangan Islam, sesudah
pertempuran sengit di Nahrawan. Isphahan juga ditaklukkan
demikian pula Jurjan/Georgia, Tabristan dan Azarbaijan.
Orang-orang yang jumlahnya jauh lebih besar dari tentara

84
Masa Abu Bakar Al-Siddiq dan Umar Bin Khattab

Islam dikalahkan dengan kerugian yang besar . (Hasan dalam


Ali Mufrodi, 1997: 56)

2. Pemerintahan Negara
Dalam mengorganisir imperium Islam yang baru,
khalifah Umar memperkenalkan sebuah kebijaksanaan Islami.
Di Mekah dan Medinah, ia merangkul sahabat nabi dari
kalangan Mekah dan Anshar, penolong dari warga Medinah.
Di pusat-pusat perkampungan militer ia merangkul klan-klan
yang turut mendukung Madinah selama berlangsung
peperangan menghadapi kekuatan Mekah dan mereka turut
terlibat dalam penaklukan Irak. Dari kalangan mereka ini,
Umar mengangkat gubernur, jendral dan pegawai peme-
rintahan. Mereka diberi tunjangan yang tinggi dan diijinkan
untuk menguasai Sawafi (lahan pertanian yang ditinggalkan
oleh kuasa Sasania)
Sejalan dengan upaya mengkonsolidasikan kekuasaan,
pihak Arab meningkatkan kekuasaan pada berbagai urusan
sosial. Administrasi Arab berbeda antara propinsi satu dengan
propinsi lainya, di Mesopotamia dan Sirya administrasinya
seragam karena pihak Arab menolak upeti yang ditawarkan.
Di wilayah ini pemerintahan Arab memisahkan administrasi
perkotaan dan perkampungan dan memberikan Cup de grace,
kepada pemerintahan kota yang lama. Sejak masa klasik
wilayah sekitar laut tengah terbagi menjadi sejumlah daerah
otonom, yang menangani urusan pemerintahannya sendiri.
Bersamaan dengan keberhasilan ekspansi di atas, pusat
kekuasaan Islam di Madinah mengalami perkembangan yang
sangat pesat. Khalifah Umar Bin Khattab telah berhasil
membuat dasar-dasar bagi suatu pernerintahan yang handal
untuk melayani tuntutan masyarakat baru yang terus

85
berkembang. Umar mendirikan dewan-dewan (jawatan),
membangun Baitul Mal, mencetak mata uang, membentuk
kesatuan tentara untuk melindungi daerah tapal batas,
mengatur gaji, mengangkat hakim-hakim dan menyeleng-
garakan hisbah (pengawasan pasar, mengontrol timbangan
dan takaran, menjaga tata tertib dan kesusilaan dan
sebagainya). (Syalabi, 1979: 263)
Khalifah juga meletakkan prinsip-prinsip demokratis
dalam pemerintahan dengan membangun jaringan pe-
merintahan sipil yang paripurna. (Mahmudunnasir: 184).
Kekuasaan Umar menjamin hak yang sama bagi setiap warga
negara. Kekhalifahan bagi Umar tidak memberikan hak
istimewa tertentu. Tidak ada istana atau pakaian kebesaran,
sehingga tidak ada perbedaan antara penguasa dan rakyat,
dan mereka setiap waktu dapat dihubungi oleh rakyat.
Kehidupan khalifah memang merupakan penjelmaan hidup
prinsip-prinsip egaliter dan demokratis yang harus dimiliki
oleh setiap kepala negara.
Inti dari semua peraturan di masa Umar adalah
musyawarah. Tokoh-tokoh sahabat dikumpulkannya sebagai
stafnya untuk berunding dan meminta pendapatnya. Musim
haji dijadikan sebagaim moment untuk meninjau pendapat-
pendapat di daerah yang jauh dari pusat. Pada musim itu
datang para pejabat dan petugas untuk mempertanggung
jawabkan tugas-tugasnya. Sebelum Umar menetapkan suatu
peraturan bagi pejabat maka dia telah menetapkan peraturan
bagi dirinya sendiri. Dengan kata lain bahwa memerintah
itu adalah ujian bagi penguasa dan ujian bagi rakyat.
Pemerintahan baginya adalah kekerasan tapi bukan
kekerasan yang sewenang-wenang dan pemerintahan dengan
kelembutan tapi bukan kelembutan dengan kelemahan.

86
Masa Abu Bakar Al-Siddiq dan Umar Bin Khattab

Dalam masalah keadilan pada masa Umar sangat ketat. Umar


membangun pengadilan dan memilih orang-orang yang adil
dan mampu untuk melaksanakannya. Umar tidak perlu
menyusun undang-undang sebagai pegangan para hakim.
Karena undang-undang itu semuanya terdapat dalam Al-
Qur’an.

3. Sistem Penggajian
Pengeluaran-pengeluaran harta negara wajib dimulai
dengan menyalurkannya menurut urutan mana yang lebih
penting bagi kemaslahatan kaum muslimin. Diantara mereka
yang berhak menerima harta negara atau berhak mendapat
gaji dari pemerintah adalah kaum militer, yakni orang-orang
yang bertugas sebagai penakluk dan berjihad. Mereka itu
adalah yang paling berhak mendapat gaji dari pemerintah.
Orang-orang yang berhak lainnya atas harta negara atau
berhak mendapat gaji adalah orang-orang yang mempunyai
kedudukan pimpinan seperti para pembesar, hakim-hakim
jaksa-jaksa), ulama-ulama, para pegawai yang bertugas untuk
mengumpulkan, memelihara dan membagikan harta benda
negara (gaji-gaji), para pegawai yang lain sampai pada para
Imam shalat, Muadzin dan lain-lain.
Umar membagi gaji pada 4 katagori:
a. Gaji untuk orang yang terdahulu mendapatkan harta
negara.
b. Orang-orang yang menggunakannya untuk manfaat kaum
muslimin, seperti para pemimpin dan alim ulama, yang
menggunakan harta itu untuk kepentingan agama dan
dunia.
c. Orang-orang yang dibebani tugas-tugas yang berat tetapi
mulia, seperti orang-orang yang berjihad di jalan Allah,

87
(prajurit, opsir, dan penasehat-penasehat militer).
d. Orang-orang yang mempunyai kebutuhan yang besar.
(Ibnu Taimiyah, 1989: 73-74)

Umar tidak membenarkan Baitul Mal menetapkan


gajinya, kecuali untuk makanan pokok baginya dan
keluarganya bila diperlukan. Jika Umar mendapatkan
pendapatan lain, maka gaji yang diberikan Baitul Mal tidak
diambilnya. “Ketahuilah, saya menempatkan diri saya terhadap
harta Allah (harta Baitul Mal) seperti kedudukan wali anak
yatim. Jika saya dalam keadaan cukup, maka saya tidak
mengambilnya, dan jika saya fakir, maka saya memakannya
secara ma’ruf dan sedikit mungkin, sepertinya makannya
binatang ternak di padang pasir yang mengunyah makanan
dengan gigi depannya dan bukan dengan gerahamnya”.
Ketika Umar ra. ditanya mengenai apa yang halal dari
harta Allah, dia menjawab: “Sesungguhnya tidaklah halal
bagi Umar dari harta Baitul mal, melainkan sekedar dua helai
pakaian: pakaian musim dingin dan pakaian musim panas,
biaya naik haji dan umrah, makanan pokok bagi saya dan
keluarga saya seperti seorang biasa dari orang Quraisy yang
terkaya dan tidak pula yang termiskin, selain itu saya adalah
sama dengan kaum muslimin.”
Umar sangat memperhatikan kesejahteraan pejabat-
pejabat dan pegawai-pegawainya, dia menetapkan untuk
Wali Kufah seperti Amnar bin Yasir sebesar 600 dirham
perbulan dan sama juga untuk pegawai-pegawainya serta
masih ditambah dengan tunjangan separoh kambing dan
setengah karung sama seperti yang Umar peroleh.
Umar menetapkan gaji Abdullah bin Mas’ud 100
dirham dan ditambah dengan tunjangan seperempat ekor

88
Masa Abu Bakar Al-Siddiq dan Umar Bin Khattab

kambing sebagai guru agama dan kepala Baitul Mal di kufah,


dan untuk Utsman bin hanif 150 dirham ditambah dengan
seperempat ekor kambing beserta tunjangan tahunan 5000
dirham ... demikianlah seterusnya, penetapan gaji ber-
dasarkan luas wilayah kekuasaan dan anggaran belanja.
Umar melarang pejabat untuk menampakan keme-
wahan dan kesombongan yang dapat menjauhkan mereka
dari rakyat (Abbas Mahmoud al-akkad, 1978:154).

4. Harta Rampasan Perang (Ghanimmah)


Harta-harta yang menjadi milik Negara, yang dijelaskan
oleh Al-Qur’an maupun al-Sunnah, ada 3 jenis yaitu
Ghanimah (harta rampasan), Sedekah dan Fay’.
Ghanimah yaitu harta yang didapat dari hasil
pertempuran dengan kaum kafir, sebagaimana yang
disebutkan oleh Allah dalam Surat al-Anfal. Disebut
Ghanimah karena menambah harta kekayaan kaum
muslimin. Umar Bin Khattab mengatakan bahwa Ghanimah
diper untukkan bagi orang-orang yang berangkat ke
gelanggang perang, yaitu orang yang siap bertempur. Wajib
membagikan harta rampasan perang diantara mereka dengan
cara yang adil dan tidak boleh pilih kasih kepada seseorang
berdasarkan pangkatnya, kebangsawanannya atau karena
memandang mulianya seperti Nabi Muhammad SAW.
Harta-harta rampasan perang itu senantiasa dibagi-
bagikan. Imam diperbolehkan memberikan sedikit lebih dari
seperlima kepada pasukan-pasukan yang banyak jasanya, atau
bagi pemanjat bukit tinggi atau menerobos depan pertahanan
musuh sehingga musuh terbunuh atau bercerai berai.
Imam yang telah mengumpulkan ghanimah dan
membagi-bagikannya tidak boleh dia mengambil sedikitpun

89
dari harta itu. Karena korupsi itu adalah khianat. Dan tidak
boleh orang mengambil bagian dari harta rampasan itu dengan
jalan kekerasan. Apabila Imam tidak mengumpulkan dan
membagi-bagikan harta Ghanimah, tetapi ia mengijinkan
orang mengambilnya sendiri tanpa cekcok, maka di-
perbolehkan baginya mengambilnya sendiri. Sebaliknya
dilarang bagi siapa saja yang melarang kaum muslimin
mengumpulkan harta rampasan dan memperbolehkan Imam
mengambil harta rampasan perang semaunya.
Pembagian yang adil adalah sebagian untuk pasukan
jalan kaki, dan tiga bagian untuk pasukan yang menunggang
kuda perang (sebagian untuk orangnya dan dua bagian
kudanya)
Pada masa Rasulullah dan Abu Bakar belum ada suatu
Departemen yang khusus mengurus harta-harta yang sudah
menjadi kepunyaan pemerintah dan harta-harta yang dibagi-
bagikan. Tetapi masa khalifah Umar bin Khattab, bertimbun-
timbun harta milik negara dan daerah kekuasaan Islam
bertambah luas, maka pada masa ini dibentuklah departemen
yang mangurus harta benda peperangan dan lainnya.
Didirikan pula instansi-instansi militer yang lebih lengkap
dari yang lainnya.
Di daerah-daerah terdapat pula instansi-instansi urusan
pajak, harta sitaan dan harta milik negara. Nabi Muhammad
selalu mengawasi para kepala daerah dalam mengurus soal
harta sedekah (zakat), fay’ dan lainnya. Pada masa Nabi ada
tiga macam peraturan yang diterapkan mengenai harta:
Pertama, Yang berhak Imam memegangnya (pemerintah).
Kedua, dilarang mengambil harta-harta dengan ijmak, seperti
harta-harta orang yang dijatuhi hukum pidana. Ketiga, Harta
yang dipersengketakan yang memerlukan pemecahan teliti,

90
Masa Abu Bakar Al-Siddiq dan Umar Bin Khattab

seperti harta orang yang karib dari yang meninggal dunia


tetapi tidak termasuk ahli waris. (Ibnu Taimiyah, 1989: 53
dan 62)

5. Sistem Pertanahan
Di Iraq dan di Mesir yang diperintah dengan birokrasi
sentral, pihak Arab sekedar menerapkan sistem administrasi
yang ada pada rezim lama. Di Iraq, khalifah Umar merampas
tanah-tanah yang semula dikuasai oleh penguasa Sasania,
demikian pula sejumlah properti dikalangan bangsawan yang
melarikan diri pada saat kekalahan Kaisar Sasania dan
menjadikannya sebagai sebagian dari kekuasaan khalifah. Di
Mesir, pihak Arab menyederhanakan sistem administrasi
dengan menghapus otonomi kekayaan fiskal dan sejumlah
kota praja sebagai unit administrasi yang mandiri. Di
Khurasan dan beberapa wilayah Iran lainnya, merupakan
satu-satunya yang paling bebas dalam pemerintahan dan
penerapan pajak, di mana mereka benar-benar berkuasa
penuh atas warga setempat.
Dalam setiap wilayah propinsi, pihak Arab mengadopsi
sistem perpajakan yang berlaku sebelumnya. Di Irak mereka
mengadopsi sistem Sasania dalam pengumpulan pajak tanah
(kharaj) dan pajak jiwa (Jizyah) sekaligus. Pertanahan
ditertibkan dan pajak ditetapkan untuk setiap jarib (sekitar
2400 meter persegi). Tarif pajak untuk setiap jarib
bergantung pada kualitas tanah, jenis pertanian dan target
produksi panen dan penaksiran nilai produksi masing-masing.
Keragaman tarif pajak juga bergantung dari jarak pasar,
penyediaan air dan pola irigasi, transportasi dan sebagainya.
Di Syria dan Mesopotamia, pajak tanah berdasarkan
iugum atau luas tanah yang dapat dikerjakan oleh seorang

91
laki-laki dan sebuah kelompok hewan dalam sehari. Di Mesir
juga terdapat pajak tanah.
Dengan ditaklukkanya Bizantium dan Sasania, maka
orang-orang Arab Badui banyak yang berimigrasi ke negara
taklukkan. Komunitas muslim di Madinah telah berusaha
untuk menyalurkan migrasi Badui. Warga Madinah
memutuskan dua kebijakan pokok pada pemerintahan pasca-
penaklukkan. Pertama, kelompok Badui dihindarkan dari
penghancuran masyarakat pertanian. Kedua, elite baru harus
bekerja sama dengan pimpinan atau kalangan bangsawan
warga taklukkan. Untuk mencegah penyerbuan Badui secara
semena-mena dan menghindarkan pengrusakan tanah
pertanian yang produktif serta untuk memisahkan pasukan
dari warga taklukkan, orang-orang Badui ditempatkan pada
perkempungan militer (Amshar).
Amshar tidak hanya berperan sebagai kampung migran.
Badui dan sebagai pengaturan militer, melainkan juga sebagai
pusat distribusi tanah rampasan. Sebagai kelompok penakluk,
bangsa Arab berhak atas gaji atau tunjangan yang dikeluarkan
dari zakat yang dikumpulkan dari petani atau upeti yang
dibayarkan oleh penduduk kota. Pada prinsipnya tidak ada
pasukan atau klan Arab yang diperkenankan atau menguasai
dan memiliki properti tanah. Tanah atau lahan taklukkan (fay’)
dipandang sebagai hak milik permanen bagi komunitas,
sejumlah penghasilan harus diserahkan kepada pihak penakluk
dan bukan tanahnya. Pengaturan seperti ini dimaksudkan untuk
melindungi lahan pertanian dari keterbengkalaian sekaligus
untuk mendistribusikan tanah rampasan tanah secara bijak.
Para pejabat dan Gubernur diberi hak untuk memiliki
sawafi (lahan pertanian yang ditinggalkan oleh warga Sasania).
(Ira M. Lapidus, 1999 : 64-65)

92
Masa Abu Bakar Al-Siddiq dan Umar Bin Khattab

6. Sistem Kependudukan
Di bawah tekanan peperangan, migrasi dan per-
ekonomian yang intensif mengubah asumsi dasar mengenai
imperium yang dibentuk oleh penakluk Arab, bahwa
penduduk arab dan non Arab haruslah dipisahkan, di mana
penduduk Arab berperan sebagi sebuah elite militer sedang
penduduk non arab sebagai produser dan pembayar pajak;
dan menghilangkan sebuah asimilasi mutual antara warga
penakluk dan warga taklukan di atas dasar sebuah komunitas
dan identitas Islam yang baru. Kalangan warga yang menetap
juga menciptakan tekanan bagi asimilasi bangsa Arab dengan
masyarakat sekitar. Di Isfahan, Merw, Nishapur dan Balkan,
tentara Arab mendiami perkampungan dan secara cepat
mereka menjadi tuan-tuan tanah atau sebagai petani.
Diantara 50.000 keluarga yang sebagian besar tinggal di Merw
pada 670 M, hanya 15.000 yang tetap mengabdi dalam
kegiatan militer sampai pada tahun 730 M. Sebagian besar
militer Arab pada saat itu meninggalkan dinas kemiliteran
mereka untuk melibatkan diri mereka dengan pekerjaan
sebagaimana warga setempat. Di Azerbaijan kelompok arab
yang datang dari Basrah dan Kufah menguasai jumlah tanah
dan perkampungan dan menegakkan posisi mereka sebagai
tuan-tuan tanah setempat yang bersifat aristokratis. Di Kiman
kalangan migran Arab menuntut kembali tanah yang telah
mereka lepaskan, mendirikan kampung-kampung dan
sejumlah pemukiman baru dan menjadi warga petani. Di Iraq
pemuka-pemuka Arab dari Basrah dan Kufah menjadi tuan
tanah. Pada beberapa propinsi ini terbentuklah sebuah
kelompok elite Arab pemilik tanah. Orang-orang Arab
tersebut menolak melaksanakan tugas-tugas kemiliteran dan
mereka hidup secara terasing dari warga lainnya dan

93
sekalipun memperkokoh jati diri mereka sendiri dalam
sebuah kasta elite, namum pada kenyataannya mereka telah
menyusup ke dalam berbagai pekerjaan warga setempat.
Ketika sebagian besar warga Persia telah memeluk Islam,
sedikit demi sedikit orang-orang Arab berasimilasi dengan
miliu Persia. orang Arab berbicara menggunakan bahasa
Persia, berbusana layaknya orang Persia, merayakan hari-
hari besar bangsa Persia dan mereka menikahi perempuan-
perempuan Persia.
Lebih jauh, kota-kota tentara merupakan pusat
perubahan sosial. Di luar garis kekerabatan dan garis nasab
warga Arabia, secara sosial masyarakat semakin terbagi
menjadi beberapa tingkatan, pekerjaan yang berbeda-beda
dan secara komunal mengorganisir masyarakat Arab
perkotaan yang telah berasimilasi dengan warga non Arab
untuk menjalani sebuah pola bar u dari komunitas
kosmopolitan. Basrah misalnya, yang didirikan sebagai kamp
perkampungan untuk kelompok migran tentara Badui,
menjadi sebuah pot peleburan berbagai warga. Pada saat
pendirian kota Basrah masing-masing klan besar atau
kelompok kesukuan memiliki daerah masjid, perkuburan dan
tempat-tempat pertemuan sendiri, meskipun demikian secara
terus-menerus, tempat tinggal tenda digantikan oleh gubuk-
gubuk yang terbuat dari alang-alang. Tenda-tenda tersebut
diperkuat dari dinding yang terbuat dari tanah, dan
selanjutnya digantikan oleh bangunan rumah bata yang
terbuat dari tanah liat orang-orang Badui yang kebiasaannya
berpindah tempat, merasa hidup mereka tidak cocok dalam
bangunan bata tersebut.
Sistem militer dan administratif juga menimbulkan
perubahan yang mencolok. Sistem tersebut yang merupakan

94
Masa Abu Bakar Al-Siddiq dan Umar Bin Khattab

unit alamiah dari masyarakat Arabia yang disusun kembali


ke dalam kelompok-kelompok artifisial untuk menye-
ragamkan resimen dan untuk membiayai unit-unit yang
mencapai 1000 laki-laki, klan-klan besar dibagi menjadi
beberapa bagian dan klan yang lebih kecil disatukan. Pada
tahun 670, puluhan ribu keluarga berpindah dari Basrah dan
Kufa menuju perkampungan tentara, Merw di khurasan, dan
seluruh kelompok yang tersisa segera diorganisir. Demikian
juga para pendatang baru yang berdatangan secara terus-
menerus untuk ikut ambil bagian dalam peperangan Arab
barus diintegrasikan dalam sebuah basic unit. Namun
demikian unit-unit militer tetap mempertahankan klan dan
nama kesukuan mereka, dan agaknya mereka tetap
mempertahankan sebuah kerabat inti, mereka tidak lagi
mencerminkan struktur sosial masyarakat Arabia pra-Islam.
Pemukiman juga membawakan transformasi Badui dan
tentara menjadi sebuah warga pekerja yang secara ekonomi
terjadi perbedaan, pada saat yang sama pemukiman juga
mendukung hancurnya perbedaan penduduk Arab dan non
Arab. Tentara dan administrator dari rezim lama tergolong
sebagai kelompok besar. Gubernur Arab memulangkan
pasukan dari wilayah timur untuk bertugas sebagai polisi dan
pengawal, jur u tulis, pengumpul pajak, dan manajer
perkebunan, dan juga kepala-kepala kampung dan pemilik
tanah bersama-sama menuju pemerintahan pusat. Selain itu,
pedagang musiman, perdagangan jarak jauh, dan pekerja
rendahan termasuk di dalamnya para pelayan tempat
pernandian, tukang tenun dan pemintal berpindah ke kota
baru. Budak tawanan dan budak belian, pekerja bangunan
keliling, petani musiman dan buruh-buruh migran, mencari
pekerjaan dan terlepas dari kekerasan alam desa, mereka

95
membanjir menuju kota baru. Penduduk non Arab ini memiliki
keragaman yang sangat ekstrem. (Lapidus, 1999:71-75)

7. Pelimpahan Wewenang Kepada Hakim Daerah


Umar membangun pengadilan dan memilih orang-o-
rang yang adil dan mampu untuk melaksanakan keadilan.
Umar juga juga tidak perlu menyusun undang-undang sebagai
pegangan para hakim dalam, pengadilan. Karena undang-
undang itu semua terdapat dalam Al-Qur’an dan al-Sunnah.
Tetapi dia perlu mendidik para hakim bagaimana mereka
mengambil kebijaksanaan apabila suatu perkara kurang jelas
bagi mereka.
Diperintahkan kepada hakim agar tetap berpedoman
kepada al-Qur’an dalam menetapkan keputusan. Apabila
tidak terdapat di dalam al-Qur’an, maka harus berpedoman
kepada al-Sunnah. Jika perkara tersebut tidak terdapat di
dalam al-Qur’an dan al-Sunnah, maka seorang hakim harus
memutuskan perkara berdasarkan ijtihad mereka sendiri
ataupun perkara tersebut ditangguhkan. Dalam hal ini Umar
memberi contoh dengan ijtihad dan fatwa sendiri. Dia tidak
memotong tangan pencuri pada minim kelaparan, karena
memperhatiakn waktu dan keadaan, dia juga tidak memotong
tangan anak yang mencuri harta tuannya, karena mem-
perhatikan umurnya.
Diantara amanatnya kepada seorang qadi adalah bahwa
seorang qadi harus memberikan perlakuan yang sama dalam
memutuskan perkara. Sehingga orang kuat tidak dapat
berbuat sewenang-wenang dan orang yang lemah tidak
teraniaya terhadap keputusan yang diterimanya.
Bukti (saksi) har us dikemukakan oleh seorang
pengadu. Keputusan yang telah diambil dan terjadi

96
Masa Abu Bakar Al-Siddiq dan Umar Bin Khattab

kekeliruan, maka harus dibatalkan karena kembali kepada


kebenaran adalah lebih baik daripada dalam kebatilan
(kesalahan). Ketika hakim merasa raga dalam keputusannya,
maka hakim tersebut harus melihat kembali dan meneliti
kembali kitabullah dan sunnah Rasulullah.
Berikanlah kepada si penggugat haknya untuk
membuktikan kebenarannya dalam waktu tertentu. Diantara
wasiatnya yang lain biasakan lima perkara, sehingga agamamu
selamat dan kamu akan mendapatkan keuntungan. Lima
perkara tersebut adalah: pertama, apabila datang kepadamu
dua orang yang berperkara, maka engkau harus me-
mutuskannya, berdasarkan kesaksian yang adil atau sumpah.
Kedua: dekatkanlah dirimu kepada orang kecil yang lemah
sehingga hatinya berani dan lancar bicaranya. Ketiga:
peliharalah hak orang perantau, jika kamu tidak me-
meliaranya maka dia tidak akan kehilangan haknya dan
kembali ke negerinya. Keempat, binalah kerukunan diantara
manusia pada setiap waktu dan kelima: damaikanlah antara
mereka, bila tidak cukup bukti untukmu menetapkan suatu
keputusan.

97
98
Bab VI
Masa Utsman Bin Affan

A. Kehidupan Awal
Utsman bin Affan dilahirkan pada tahun 573 M, pada
sebuah keluarga suku Quraisy dari bani Umayyah. Moyangnya
bersatu dengan nasab nabi pada generasi kelima. Sebelum
masuk Islam ia dipanggil dengan sebutan Abu Amar ia
bergelar Dzu al Nurain, karena ia menikahi dua putri
Rasulullah saw. Ayahnya bernama Affan bin Abi al-Ash bin
Umayyah dan ibunya bernama Arwa binti Kuraiz. Abu
Sofyan yang merupakan musuh kejam Islam, sebelum masuk
ke dalam Islam merupakan kerabat dekatnya, ia adalah
sahabat nabi yang pandai membaca dan menulis dan
semenjak kecil dikenal cerdas dan jujur.
Ketika pertama kali Rasulullah menyerukan manusia
masuk Islam, ia saat itu berusia 34 tahun. Pada suatu malam
ia bermimpi, seseorang memanggil dirinya “bangunlah”,
engkau tiduran saja sedang Ahmad sibuk berdakwah. Setelah

99
bangun dari tidurnya, jiwanya tersebut penuh dengan
ketuhanan. Maka ia segera menemui nabi dan menyatakan
masuk Islam. Pamannya yang bernama Hakam ketika
mendengar keislamannya, segera memarahi, bahkan sampai
mencambuknya berkali-kali, tapi Utsman tetap pada
keyakinannya.

B. Pemilihan Sebagai Khalifah


Ketika khalifah Umar ra menderita saikit keras, ia pun
menunjuk dewan musyawarah untuk memilih khalifah
penggantinya kelak sepeningglnya. Dewan terdiri dari Ali
ibn Abi Thalib, Utsman ibn Affan, Sa’ad bin Abi Waqqas,
Talhah, Zubair ibn Awwam dan Abdurrahman ibn Auf.
Sahabat-sahabat yang ada dalam dewan musyawarah
tersebut, posisi satu dengan yang lainnya seimbang, tidak
satu yang lebih menonjol dari yang lainnya. Sehingga cukup
sulit untuk menetapkan salah semang diantara mereka
sebagai pengganti khalifah Umar ra.
Khalifah Umar pada masa sehatnya sebenarnya
menghendaki Abu Ubaidah ibn Jarrah sebagai penggantinya,
tetapi ia telah terlebih dahulu meningal dunia. Kemungkinan
pilihan pada awalnya jatuh kepada Abdurrahman ibn Auf,
namun ia dengan tegas menyatakan tidak sanggup memikul
tanggung jawab yang sangat besar ini. Diantara kelima calon
tersebut hanya Talhah yang sedang tidak berada di Madinah,
setelah Umar ra meninggal. Abdurrahman memimpin
jalannya musyawarah. Dalam musyawarah terjadi dukung
mendukung, Sa’ad mendukung Utsman, Zubair mendukung
Utsman dan all sekaligus. Utsman mendukung Ali, dan Ali
mendukung Utsman, kemudian Abdurrahman mengum-
pulkan pendapat sahabat-sababat besar lainnya dan akhirnya

100
Masa Utsman Bin Affan

semua mayoritas mendukung dan memilih Utsman. Ketika


Talhah tiba di Madinah, Utsman bin Affan memintanya untuk
menduduki jabatan khalifah, namun ia menolaknya bahkan
menyampaikan bai’atnya kepada Utsman bin Affan. Utsman
bin Affan terpilih sebagai khalifah ketiga dengan suara
mayoritas.

C. Perluasan Wilayah dan Pembengunan Angkatan


Laut
Pemerintahan khalifah Utsman bin affan adalah masa
pemerintahan yang terpanjang dari semua khalifah dizaman
khulafaur rasyidin, yaitu 12 tahun, tetapi sejarah mencatat
tidak seluruh masa kekuasaannya menjadi saat yang baik
dan sukses baginya. Para pencatat sejarah membagi zaman
pemerintahan Utsman menjadi dua periode, ialah 6 tahun
pertama merupakan masa pemerintahan yang baik, dan 6
tahun terakhir merupakan masa pemerintahan yang buruk
(Munawir Sjadzali, 1991 :25-27)
Selama paruh pertama pemerintahannya, Utsman
melanjutkan sukses para pendahulunya, terutama dalam
perluasan wilayah kekuasan Islam. Daerah-daerah strategi
yang sudah dikuasai seperti Mesir dan Irak terus dilindungi
dan dikembangkan dengan melakukan serangkaian ekspedisi
militer yang terencanakan secara cermat dan simultan di
semua front. Di Mesir, pasukan Muslim diintruksikan untuk
memasuki Afrika Utara. Salah satu pertempuran penting di
sini ialah “Zatis Sawari’ (Peperangan Tiang Kapal) yang
terjadi di Laut Tengah dekat kota Iskandariyah antara
Romawi di bawah pimpinan Kaisar Constantine dengan
laskar Muslim pimpinan Abdullah bin Abi Sarah. Dinamakan

101
perang kapal, karena banyaknya kapal-kapal perang yang
terlibat. Konon terdapat 1000 buah kapal, yang 200 kapal
kepunyaaan kaum muslimin, sedangkan sisanya milik bangsa
Romawi. Tentara Islam berhasil mengusir musuh-musuhnya.
Tentara muslim bergerak dari kota Basrah untuk menaklukan
sisa wilayah kerajaan Sasan di Irak, dan kota Kufah,
gelombang kaum muslimin menyerbu beberapa propinsi di
sekitar laut Kaspia.
Karya besar Utsman, selain sukses dalam perluasan
wilayah kekuasaan Islam hingga terbentang dari Maroko
sampai Kabul dan berhasil membangun armada angkatan
laut yang tangguh adalah mempersembahkan kepada umat
Islam ialah susunan kitab suci al-Qur’an. Penyusunan al-
Qur’an dimaksudkan untuk mengakhiri perbedaan-perbedaan
serius dalam bacaan al-Qur’an, dikisahkan selama pengiriman
ekspedisi militer ke Armenia dan Azerbaijan perselisihan
tentang bacaan al-Qur’an muncul di kalangan tentara muslim,
yang sebagian direkrut dari Suriah dan sebagian lagi dari Irak.
Ketua Dewan penyusunan al-Qur’an ialah Zaid ibn Sabit,
yang mengumpulkan tulisan-tulisan al-Qur’an antara lain dari
Hafsah, salah seorang isteri Nabi saw. Kemudian dewan ini
membuat beberapa salinan naskah al-Qur’an untuk dikirim
ke wilayah-wilayah gubernuran sebagai pedoman yang benar
untuk masa selanjutnya (W. Montgomery, 1991:187).

D. Tuduhan Atas Kebijaksanaan Khalifah Utsman


Setelah melewati saat-saat gemilang, pada paruh
terakhir masa kekuasaannya, khalifah Utsman menghadapi
berbagai pemberontakan dan pembangkangan di dalam negeri
yang dilakukan oleh orang-orang yang kecewa terhadap tabiat

102
Masa Utsman Bin Affan

khalifah dan beberapa kebijaksanaan pemerintahamya, tetapi


sebenarnya kekacauan itu sudah dimulai sejak pertama tokoh
ini terpilih menjadi khalifah.
Utsman terpilih karena sebagai calon konservatif, ia
adalah orang yang baik dan saleh. Namun dalam banyak hal
kurang menguntungkan, karena Utsman terlalu terikat dengan
kepentingan-kepentingan orang Mekah, khususnya kaum
Quraisy dari pihak Umaiyah. Kemenangan Utsman sekaligus
adalah suatu kesempatan yang baik bagi sanak saudaranya
dari keluarga besar Bani Umaiyah. Oleh karena itu Khalifah
Utsman berada dalam pengaruh dominasi seperti itu, maka
satu persatu kedudukan tinggi kekhalifahan diduduki oleh
anggota-anggota keluarga itu.
Tuduhan yang paling utama atas khalifah Utsman
adalah mengenai pengangkatan kerabat dan keluarganya
dalam kepemerintahannya yang dianggap sebagai tindakan
nepotisme dan juga pemecatan terhadap sejumlah gubernur
yang cakap, Muawiyah bin Abi Sofyan. Gubernur Syria adalah
kerabat dekat khalifah Utsman. Ia pertama kali menjabat
gubernur oleh pengangkatan khalifah Umar dan tetap
dipertahankan posisinya pada masa khalifah Utsman. Ia telah
mengangkat al-Walid ibn Uqbah sebagaai penguasa Kufah
menggantikan Sa’ad bin Abi Waqqas, sekalipun ketika dalam
sakitnya khalifah Umar menyampaikan pesannya agar Sa’ad
tetap menjabat sebagai Gubernur di daerahnya. Utsman tetap
mempertahankan posisi Sa’ad sesuai dengan pesan khalifah
Umar, namun ketika terjadi perselisihan antara Sa’ad dan
Ibnu Mas’ud, pejabat keuangan di Kufah. Utsman
melepaskan jabatan Sa’ad dan mengangkat Walid bin Uqbah
menggantikannya, bahwa Walid bin Uqbah adalah keluarga
dekat khalifah Utsman, tetapi sebagaimana yang dikatakan

103
Prof K. Ali dalam bukunya Studi of Islamic History,
penunjukkan tersebut terjadi pada masa saat pemerintahannya
(pada enam tahun masa pemerintahnnya), dimana ketika ini
kaum muslimin merasa puas terhadap kekhalifahan Utsman
ra dan belum timbul berbagai macam tuduhan terhadapnya.
Dan ketika terbukti bahwa Walid bin Uqbah dalam prilaku
mabuk-mabukan. Ia tidak hanya dipecat oleh khalifah
Utsman tetapi juga dijatuhi hukuman cambuk sesuai dengan
ketentuan syariat Islam. Jadi jika memang benar ke-
bijaksanaan khalifah Utsman bersifat nepotisme (me-
mandang dan mengutamakan keluarga dekat) niscaya ia
bersifat masa bodoh terhadap kasus Walid tersebut.
Kemudian khalifah mengangkat Sa’ad bin ‘Ash sebagai
Gubernur Kufah menggantikan Walid, tetapi ketika
kepemimpinannya tidak membawa kemajuan ia pun lalu
digantikan oleh Abu Musa al-Asy’ary pada tahun 34 H/654
M, sekalipun ia tidak ada hubungan darah dengan khalifah
Utsman. Kegaduhan dan protes terbesar pada saat itu terjadi
ketika Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah menggantikan
kedudukan gubernur Mesir, ‘Anu ibn ‘Ash, bahwa Abdullah
bin Sa’ad bin Abi Sarah adalah saudara sepupu Utsman,
namun pengangkatannya itu karena jasa dan pengabdiannya
yang besar terhadap Islam. Kemenangannya melawan
Romawi di Afrika Utara juga keberhasilannya mendirikan
angkatan laut yang kuat memajukkan kecakapan dan
kecerdasannya sehingga ia pantas menerima penghargaan
jabatan gubernur.
Beberapa data di atas tersebut, penulis anggap cukup
menjelaskan bahwa seandainya benar apa yang dituduhkan
kepada khalifah Utsman bahwa ia adalah seorang nepotisme,
niscaya ia akan menutup mata dan telinga atas ke-

104
Masa Utsman Bin Affan

tidakcakapan kerabatnya. Kenyataannya khalifah Utsman


tidah hanya memecat kerabatnya yang tidak mampu
menjalankan tugasnya, tetapi juga menjatuhi hukuman
terhadap kerabatnya yang melanggar aturan syariat agama
dicatat disini adalah bahwa pengangkatan sejumlah kerabat
dekat itu terjadi pada masa awal pemerintahannya, ketika
itu khalifah Utsman bersib dari segala tuduhan dan belum
timbul kegaduhan dan gerakan protes terhadap ke-
bijaksanaannya. Belakangan kaum pemberontak menjadikan
kebijaksanaan Utsman tersebut untuk menghasut masyarakat
agar melawannya. Kiranya lebih tepat ditegaskan bahwa
tuduhan nepotisme pemerintahan Utsman tidak beralasan
dan tidak benar, Khalifah Utsman bersih dari tuduhan seperti
itu.
Pembebastugasan para pejabat dan gubernur yang
sudah tua dan digantikan dengan generasi yang lebih muda,
terbukti adanya, namun tindakan itu diputuskan oleh khalifah
bukan tanpa alasan yang tidak masuk akal, akan tetapi
khalifah Utsman menempuh sikap demikian itu demi
kepentingan dan kemajuan Islam. Sebagaimana Khalifah
Umar ibn Khatab telah membebas tugaskan Kholid ibn walid,
Mughirah dan Sa’ad bin Abi Waqqas, namun kebanyakan
orang sampai sekarang kurang memahami kebijaksanaan
khalifah Utsman tersebut.
Selanjutnya khalifah Utsman dituduh penguasa yang
boros dan banyak korupsi uang negara untuk diberikan
kepada kerabatnya. Tuduhan seperti itu juga tidak beralasan
dan sungguh-sungguh palsu. Khalifah Utsman pada asalnya
adalah orang yang terkenal kaya raya dan mempunyai harta
yang banyak, ia seorang pengusaha yang terkaya di Arabia,
karenanya ia sering disebut dengan panggilan Al-Ghani

105
(Jutawan). Pada masa Nabi, khalifah Utsman menyum-
bangkan hartanya dalam jumlah yang sangat besar. Seluruh
hartanya disumbangkan demi kepentingan dan perjuangan
Islam, sehingga tidak tersisa, kecuali dua ekor unta yang
digunakannya sebagai kendaraan untuk melaksanakan haji.
Berikut ini adalah kutipan perkataan khalifah Utsman,
menjawab tuduhan tersebut sebagaimana diriwiyatkan oleh
Thabari:
“Pada saat pemerintahan dipercayakan kepadaku, aku
adalah pemilik harta yang kaya, sekarang ini saya tidak
memiliki apa-apa kecuali dua ekor unta sebagai kendaraan
haji, sekalipun demikian saya dituduh telah menganak
emaskan kerabat saya, hingga mereka menjadi kaya raya,
sekalipun benar aku mencintai mereka, namun sekalipun
aku tidak pernah membiarkan mereka mengambil hak-
hak orang lain. Aku memungut kewajihan pajak atas
mereka. jika benar aku sangat mencintai mereka, maka
apapun yang aku berikan kepadanya adalah semata-mata
berasal dari harta miliku sendiri. Dalam hal dengan harta
negara (Baitul Mal), prinsip bagiku berpantangan
mengambilnya demi kepentingan diriku maupun untuk
kepentingan keluarga.”

Berdasarkan kutipan pemyataan khalifah Utsman di


atas, jelaslah bahwa khalifah Utsman tidak mengambil
apapun dari Baitul Mal untuk keperluan pribadinya atau
kerabat dekatnya selain untuk kepentingan umat Islam.
Ketika tuduhan-tuduhan tersebut tersebar luas,
khalifah menyampaikan pengumuman agar masyarakat
datang ke Medinah pada musim haji mendatang untuk
menyampaikan keluhan-keluhan mereka. Pada musim haji

106
Masa Utsman Bin Affan

itu, pejabat pemerintah juga para gubernur hadir, tapi tidak


seorang pun yang menyampaikan kepada khalifah. Dari hal
ini dapat pula diketahui bahwa tuduhan yang dilontarkan
kepada khalifah Utsman hanyalah merupakan hasutan belaka
yang tidak sesuai dengan kenyataan. Kemudian khalifah
membentuk sebuah dewan gubernur untuk memikirkan
bagaimana cara mengatasi hasutan tersebut, dengan
kesepakatan bulat dewan itu memutuskan agar khalifah
menindak tegas para penghasut, namun khalifah tidak
mengabulkan keputusan tersebut. Khalifah tidak meng-
hendaki terjadi pembunuhan terhadap banyak orang semata-
mata karena penghasutan yang berkaitan kepada dirinya.
Sekalipun sifat dan tingkah laku yang luhur ini ada pada
dirinya, namun masyarakat gerombolan masih salah paham
terhadap diri dan tindak tanduk sang khalifah.

E. Penilaian atas Pemerintahan Khalifah Utsman


Tidak dapat dipungkiri bahwa upaya perluasan wilayah
Islam berhasil secara gemilang pada masa kepemerintahan
Utsman, beliau tidak hanya berhasil mengalahkan gerakan
pembangkang, tetapi juga berhasil menundukkan negeri
Afganistan, Turkistan dan Khurasan menjadi bagian dari
wilayah Islam. Serbuan pasukan dapat dipatahkan dan
sekaligus menundukkan Armenia, Azarbayzan dan Asia kecil
sebagai pelengkap keluasan wilayah Islam. Pada masa
terjadinya kemenangan gemilang yang pertama oleh armada
laut atas kepulauan Cyrus. Pelabuhan dan kota Alexandria
dapat direbut kembali dari pendudukan Romawi, hingga
akhirnya kekuatan kaisar Romawi benar-benar tidak berdaya.
Semua fakta sejarah ini menunjukkan kekuatan Islam turut
pula menghiasi masa pemerintahan khalifah yang ke tiga ini.

107
Ketika menjabat khalifah Utsman ra, sering sekali
tidak mendapatkan tunjangan dari baitul mal, sebaliknya ia
mengbabiskan harta kekayaannya untuk kepentingan umum.
Menurut al-Thabari, Khalifah Utsman tidak mengadakan
perubahan sistem pemerintahan yang telah diberlakukan oleh
pendahulunya Umar bin Khatab, ia mempertahankan
kelembagaan Majelis Syura untuk memusyawarahkan setiap
urusan penting seluruh departemen yang ada pada masa
khalifah Umar, masih tetap berlaku sebagaimana adanya.
Hanya saja khalifah Utsman menambahkan departemen
pendapatan negara dengan membangun sejumlah per-
kantoran jalan masjid dan rumah tamu di berbagai wilayah
Islam.
Utsman ra adalah figur pribadi yang saleh kebe-
radaanya ini tidaklah diragukan lagi. Ia termasuk salah satu
dari sepuluh orang yang telah diberikan kabar gembira masuk
surga, oleh Rasulullah saw., sangat berbaik hati dan selalu
bersifat jujur. Rasulullah sendiri sangatlah simpati kepada
kepribadiannya, sehingga ketika isterinya Ruqayah (salah
satu putri Rasulullah) meninggal dunia. Rasulullah
memperkenalkan kepada Utsman ra untuk menikah kepada
putri yang lain, Ummi Kulsum, sungguh khalifah Utsman
adalah orang yang kaya raya, tetapi ia makan dan berpakaian
seadanya dan kecintaan kepada saudara sesama muslim
membuatnya rela berkorban daripada harus mengangkat
senjata berperang melawan sesama muslim. Sang khalifah
telah berkorban jiwa dan raganya demi persaudaraan umat
muslim demi persatuan dan kemajuan Islam. Ia layak
menyandang patriot sejati dan penguasa yang santun.

108
Bab VII
Ali Bin Abi Thalib

A. Kehidupan Awal
Ali adalah putera Abu Thalib bin Abdul Muthalib
kakek Rasulullah saw, ibunya bernama Fatimah binti Asad
bin Hasyim bin Abdi Manaf adalah paman Rasulullah yang
mengasuh nabi semenjak kakeknya meninggal dunia. Ali ra
tergolong keluarga keturunan Hasyimiyah, sama dengan garis
keturunan nabi Muhammad, Ali lahir pada tahun ke 10
sebelum kerasulan Muhammad. Semenjak kecil ia selalu
bersama nabi, sehingga masa kecil Ali tumbuh dalam
pengasuhan dan bimbingan Nabi. Ia merupakan orang
pertama dari golongan remaja yang menyatakan masuk Is-
lam.
Ia adalah pembela agama yang berjiwa patriotik dan
rela mengorbankan jiwa dan raganya demi umuk mene-
gakkan agama Allah. Ia terkenal ahli dalam bidang fiqih dan
sangat terkenal dengan kesucian sikapnya dalam pergaulan

109
dengan masyarakat. Ia tidak segan-segan memberikan
pertolongan kepada siapa saja yang membutahkannya. (Al-
Jahizh dalam Zainal Abidin Ahmad, 1977: 168)

B. Ali ra Sebagai Khalifah


Pemilihan Ali sebagai khalifah, tidaklah sebagaimana
pemilihan khalifah-khalifah sebelumnya. Abu Bakar dipilih
sebagai khalifah atas keridhaan para sahabat yang berkumpul
di Madinah dan setelah meninggalnya Abu Bakar. Pemilihan
khalifah berikutnya juga tidaklah menimbulkan perselisihan
dan beda pendapat yang menghawatirkan, karena Abu Bakar
memberikan kepecayaan urnuk memimpin Islam kepada
Umar, para sahabat menyetujui. Dan setelah Umar meninggal
pemilihan khalifah kepada Utsman terjadi atas kesepakatan
Dewan Musyawarah yang dianjurkan oleh khalifah Umar.
Sedangkan setelah meninggalnya, sebagian para
pemberontak yang diketuai oleh Abdullah bin Saba
menghendaki Ali sebagai khalifah, sedang sebagian besar
sahabat telah terpencar di berbagai wilayah Islam dan hanya
sedikit saja sahabat yang masih tinggal di Madinah. Dan
sebagian sahabat masib ragu-ragu untuk membai’at Ali
sebagai khalifah, seperti Sa’adah bin Abi Waqqas dan
Abdullah bin Umar, sedang sebagian daripada tokoh kaum
Anshar malah tidak memberikan dukungannya terhadap Ali
seperti Hasan bin Sabit, Musailmah bin Mukhlid dan Abi
Sa’id al Khudri. Terpilihnya Ali sebagai khalifah atas suara
mayoritas, meskipun tanpa dukungan sebagian sahabat yang
berada di Madinah (Hasan Ibrahim hasan, 1970:272).
Semasa Ali menjadi khalifah ummat Islam, ia mendapat
tantangan yang sangat berat yang merongrong wibawanya
sebagai khalifah. Akibat fitnah dan hasutan kaum munafik

110
Ali Bin Abi Thalib

yang sejak lama ingin merusak Islam dan dalam. Dengan


hati yang tabah, Ali menghadapi persoalan yang sangat berat
ini. Kalaupun ia tidak dapat berbuat banyak, bukan berarti
karena kasalahan dan kecurangannya, tetapi situasi yang
dihadapinya memang sangat sulit dan sukar.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Muhammad
Kurdi Ali (H. Zainal Abidin Ahmad, 1977: 167-168)
mengenai sistem pemerintahan Ali adalah sama dengan
sistem yang dijalankan oleh khalifah-khatifah yang
sebelumnya. Dia mengangkat para pembesar. Mereka
menjalankan kebijaksanaan dan kemudian Ali menyelidiki
dan menyelesaikan persoalan mereka. Dia memerintahkan
agar para pejabat harus hidup sederhana dan berhati ramah
kepada rakyat serta menetapkan rencana kerja yang harus
mereka lakukan.
Dalam menghadapi kasus pembunuhan Utsman bin
Affan, khalifah Ali bin Abi Thalib ketika dilantik, maka
perintah pertama yang dikeluarkannya adalah menyelidiki
dan mencari siapa pembunuh Utsman bin Affan. Maka ia
membentuk Panitia Negara untuk menangani kasus
pembunuhan Utsman bin Affan.
Tetapi sayang, anggota delegasi dari ketiga kota yang
berdemonstrasi ke Madinah (Mesir, Kufah dan Basrah),
mereka semua mengakui bertanggung jawab atas pem-
bunuhan Utsman bin Affan. Dalam jumlah 1500 orang
tersebut Ali kebingungan dalam menetapkan siapa
pembunuhnya. Akhirnya usaha untuk mencari pembunuh
Ustman bin Affan kandas dan Panitia Negara dibubarkan
dan usaha menghukum pembunuh dihentikan.
Bekas Gubernur Syam, Muawiyah, Thalhah, Zubair
dan Aisyah mendesak agar Ali mencari pembunuh khalifah

111
Ustman bin Affan. Tetapi Ali tidak bisa menyelesaikan kasus
tersebut bila masyarakat tidak tentram dan ur usan
pemerintahan belum berjalan lancar dan segala hak rakyat
belum dilakukan.
Khuda Bakhsh (Zainal Abidin Ahmad, 1977: 170)
menyatakan bahwa ada 3 faktor buruk yang semakin
memperburak situasi pemerintahan Ali bin Abi Thalib:
1. Adanya reaksi dari pihak kaum anti Islam atau disebutkan
perang Saudara.
2. Hidupnya kembali semangat Arab Jahiliyah, yaitu keluarga
dan kabilah
3. Tumbuhnya partai-partai politik agama.
Ketiga faktor diatas telah menyebabkan pecahnya
perang dikalangan Islam sendiri. Khalifah sangat kewalahan
dalam menghadapi persoalan ini. Khafifah Ali merasa tidak
aman menetap di Madinah sebagai ibu kota, oleh karena itu
pada tahun 36 H/Januari 657 M (belum cukup setahun ia
memerintah), dia memindahkan Ibu Kota Negara ke Kufah.
(Zainal Abidin Alimad, 1977: 170)

C. Masalah Yang Timbul

1. Perang Jamal (Unta)


Setelah pengangkatan Ali sebagai khalifah, gerom-
bolan pemberontak kembali ke negerinya masing-masing.
Pada saat bersamaan peristiwa pembunuhan Khalifah
Utsman telah menjadi inti pembicaraan di sebagian wilayah
Islam. Pada saat itu kota Madinah sangat rawan.
Zubair dan Thalhah menuntut agar khalifah Ali segera
mengusut dan menghukum pembunuh khalifah Utsman.

112
Ali Bin Abi Thalib

Dalam masalah ini khalifah Ali sangatlah mempertimbangkan


kondisi politik Islam khususnya di wilayah seperti Basrah,
Kufah dan Mesir, sehingga ia menolak tuntutan tersebut,
tapi ia berjanji akan menyelesaikan setelah ia berhasil
mengembalikan kondisi damai dalam negeri. Sebab
mengambil tindakan cepat untuk mengusut pembunuhan
khalifah Utsman sama artinya dengan memperkeruh kondisi
politik dalam negeri, karena pembunuhan tersebut tidak
hanya sekedar melibatkan sejumlah kecil individu yang dapat
mudah diselesaikan, akan tetapi melibatkan banyak pihak
yang berasal dari ketiga wilayah tersebut inilah yang
menyebabkan khalifah Ali menunda pengusutan pem-
bunuhan terhadap Utsman.
Dalam situasi politik yang diliputi penuh dengan
kekacauan. Khalifah Ali menempuh kebijaksanaan lain,
yakni menggantikan seluruh gubernur, dengan harapan para
pemberontak yang dahulu tidak puas dengan para gubernur
yang lama dapat menerima gubernur yang baru, sehingga
mereka menghentikan pemberontakannya. Sahabat-sahabat
telah menyarankan agar khalifah Ali tidak mengambil
kebijaksanaan tersebut, kecuali setelah pemerintahan
berjalan stabil. Mereka juga menyampaikan sarannya agar
Khalifah Ali tidak menggantikan jabatan Muawiyyah sebagai
gubernur Syria. Sebab pengangkatannya tidak dilakukan oleh
khalifah Utsman berdasarkan nepotisme, melainkan diangkat
oleh khalifah Umar dan Muawiyah cakap dalam menjalankan
tugasnya. Sekalipun ada saran demikian, khalifah Ali tetap
bersikeras menurunkan jabatan Muawiyah sebagai Gubernur
Syria. Muawiyah menolak keputusan tersebut, sehingga
persaingan dan permusuhan semakin tajam, dilain pihak
Thalhah dan Zubair yang dari semenjak awal menuntut agar

113
khalifah Ali menuntaskan kasus pembunuhan Utsman juga
menentang kebijaksanaan khalifah Ali, dengan bergabung
dengan A’isyah. Akibatnya kekhalifahan menjadi semakin
rumit dan komplek Thalhah, Zubair dan A’isyah bergerak
dari Mekah menuju Basrah, masa mereka akhirnya dapat
menahan gubernur Basrah. Umar bin Hamid, hingga
klimaksnya negeri tersebut berada di tangan mereka. Melihat
hal ini khalifah Ali menyadari bahwa gerakan pemberontak
dapat mengancam stabilitas pernerintahan Islam yang
dipimpinnya. Untuk menghindari pecahnya perang yang
dapat merusak keamanan dan mempengaruhi kejayan Islam,
Khalifah Ali memutuskan untuk berunding dengan Thalhah,
Zubair dan Aisyah, akan tetapi ditolaknya.
Dengan dasar penolakan tersebut, pasukan khalifah
Ali melancarkan serangan kepada pengikut Aisyah. Thalhah
dan Zubair tewas dalam peperangan dan pasukan A’isyah
dapat ditaklukan. Peperangan ini terkenal dengan nama
perang Jamal (Unta), yang terjadi pada tahum 36 H, karena
Aisyah, janda Nabi saw, menaiki unta dalam pertempuran
tersebut. Dalam pertempuran itu 20.000 kaum muslimin
gugur.
Perang Jamal menjadi sangat penting dalam catatan
sejarah Islam, karena peristiwa itu memperlihatkan sesuatu
yang baru dalam Islam, yaitu untuk pertama kalinya seorang
khalifah turun ke Medan lagi memimpin langsung angkatan
perangnya dan justru bertikai melawan saudara sesama Mus-
lim.
2. Perang Siffin
Pada tahun 656 M, Khalifah Ali memindahkan ibu
kota dari Madinah ke Kufah. Setelah di Kufah, Ali mengirim

114
Ali Bin Abi Thalib

surat kepada Muawiyah, isinya agar Muawiyah tunduk


kepada pernerintahan Ali yang sah demi kepentingan Islam.
Namun Muawiyah menolak perintah tersebut, hingga darah
Utsman diselesaikan secara hukum Islam. Bahkan Muawiyah
berusaha membangkitkan semangat dan emosi rakyat Syria
dengan menunjukkan baju Utsman yang masih berlumuran
darah, hingga masyarakat Syria yang taat kepada Muawiyah
sangat berduka atas pembunuhan Utsman yang tragis itu.
Mereka melancarkan gerakan anti khalifah Ali.
Reaksi yang ditancarkan Khalifah Ali terhadap sikap
Muawiyah, adalah dengan mengirimkan 50.000 pasukan ke
Syria. Hal yang sama Muawiyah untuk menahan serangan
pasukan khalifah Ali, menyiapkan jumlah pasukan yang
sangat besar. Keduanya bertemu di daerah yang bernama
Siffin dekat sungai Euprat, sehingga peristiwa ini disebut
peperangan Siffin.
Sebenarnya pihak Muawiyah telah terdesak kalah,
dengan 7.000 pasukannya terbunuh, yang menyebabkan
mereka mengangkat al-Qur’an sebagai tanda minta damai
dengan cara tahkim.
Khalifah diwakili oleh Abu Musa al-Ast’ari, sedangkan
Muawiyah diwakili oleh ‘Amr ibn As yang terkenal cerdik.
Dalam tahkim tersebut Muawiyah dan Khalifah Ali harus
meletakkan jabatan, pemilihan harus dilaksanakan. Abu
Musa pertama kali menurunkan Ali sebagai Khalifah. Tetapi
‘Amr bertindak sebaliknya, tidak menurunkan Muawiyah,
tetapi justru mengangkatnya sebagai khalifah, karena Ali
telah diturunkan oleh Abu Musa.
Perang Siffin yang diakhiri melaltu arbitrase (tahkim),
yakni perselisihan yang diselesaikan oleh dua orang penengah
sebagai pengadil, wasit ternyata tidak menyelesaikan

115
masalah, kecuali menegaskan bahwa gubernur yang makar
ini mempunyai kedudukan yang setingkat khalifah, dan
menyebabkan lahirnya golongan khawarij, orang-orang yang
keluar dari barisan pendukung Ali, yang kira-kira berjumlah
12.000 orang.

3. Perang Nahrawan
Khawarij yang bermarkas di Nahrawan, benar-benar
merepotkan khalifah, sehingga memberikan kesempatan
kepada pihak Muawiyah untuk memperkuat dan meluaskan
kekuasaannya sampai mampu merebut Mesir. Akibatnya
sunguh sangat fatal bagi Ali, tentara Ali semakin lemah,
sementara kekuatan Muawiyah bertambah besar. Keber-
hasilan Muawiyah mengambil Mesir, berarti merampas
sumber-sumber kemakmuran dan suplai ekonomi dari pihak
Ali.
Karena kekuatannya telah banyak menurun, terpaksa
khalifah Ali menyetujui perjanjian damai dengan Muawiyah,
yang secara politis berarti khalifah mengakui keabsahan
kepemilikan Muawiyah atas Suriah dan Mesir. Kompromi
tersebut tanpa diduga ternyata mengeraskan amarah kaum
khawarij untuk menghukum orang-orang yang tidak disukai.
Tepat pada 17 Ramadhan 40 H (661 M), khalifah berhasil
ditikam oleh Ibn Muljam, seorang anggota khawarij yang
sangat fanatik. Pada saat itu wilayah Islam sudah meluas
lagi baik ke timur Persia maupun ke barat, Mesir.

116
Bab VIII
Masa Umayyah Timur

A. Kebijakan dan Orientasi Politik


Semenjak berkuasa, Muawiyah (661-680) memulai
langkah-langkah untuk merekonstruksi otoritas dan sekaligus
kekuasaan khilafah, dan menerapkan paham golongan
bersama dengan elite pemerintah. Muawiyah mulai
mengubah koalisi kesukuan Arab menjadi sebuah sentralisasi
monarkis. Ia memperkuat barisan militer dan memperluas
kekuasaan administratif negara dan merancang alasan-alasan
moral dan politik yang baru demi kesetiaan terhadap
khalifah. Pertama, ia berusaha menertibkan kebijakan militer
dengan tetap mempertahankan panglima-panglima Arab
yang mengepalai pasukan kesukuan Arab. Untuk memenuhi
interes pemimpin suku, sejumlah penaklukkan diarahkan ke
Afrika Utara dan Iran timur. Pada front Syria, Muawiyah
mempertahankan perdamaian dengan imperium Bizantium
sehingga ia dapat mengerahkan kekuatan pasukan Syria

117
untuk tujuan perlindungan kebijakan internal. Selanjutnya
ia ber usaha memantapkan pendapatan negara dari
penghasilan pribadi dan lahan pertanian yang diambil alih
dari Bizantium dan Sasania dan dari investasi pembukaan
tanah baru dan irigasi. Muawiyah juga menerapkan aspek-
aspek patriakal khilafah. Kebijakan politik dan kekuatan fi-
nancial yang ditempuhnya berasal dari nilai-nilai tradisi Arab:
Konsiliasi, konsultasi, kedermawanan dan penghormatan
terhadap bentuk-bentuk tradisi kesukuan. Sifat-sifat dan
kemampuan Muawiyah sebagai sebuah pribadi adalah lebih
berarti daripada institusi manapun. Ia sangat terkenal dengan
sifat santunnya, sebuah bakat untuk memperlakukan
pengikutnya sehingga mereka bekerja sama tanpa rasa bahwa
kedudukan mereka sedang diperdaya. Jika khalifah Umar
secara fundamental mer upakan tokoh yang terkenal
kedekatannya dengan Nabi Muhammad SAW dan karena
integritas agamanya, maka Muawiyah merupakan pribadi
yang tidak tertandingi dalam melestarikan tradisi (patriarch)
kesukuan Arab. Pemerintahannya ditandai dengan upaya
sentralisasi kekuasaan negara dan sejumlah seruan khilafah
non Islam, bahkan pemerintahannya didasarkan pada jaringan
kerja (networks) pribadi dan ikatan kekerabatan.
Pada periode akhir dinasti Umayyah, yang mampu
bertahan bukan karena konsensus melainkan karena
kekuatan militer. Khalifah Abdul Malik (685-705), dengan
didukung militer Syria Yaman, berhasil menghancurkan
musuh-musuh Umayyah. Khalifah Abdul Malik dan
penggantinya, al-Walid (705-715) yang sekarang menghadapi
oposisi yang bermisi keagamaan yang sedang mewabah,
yakni oposisi dari kalangan Syi’ah, Kharijiah dan beberapa
aliran kesukuan yang terpicu oleh tekanan pembahan sosial

118
Masa Umayyah Timur

di beberapa perkampungan militer, harus memikirkan sebuah


altematif strategi pemerintahan. Respon yang ditempuh oleh
kedua khalifah tersebut adalah mempercepat proses
sentralisasi negara, bahkan menjadikan negara sebagai sebuah
rezim dari pada sekedar sentralisasi pribadi seorang khalifah,
fokus loyalitas politik dan idiologis.
Meskipun rezim Muawiyah pada dasarnya adalah
keluarga penguasa dan militernya, serta suku-suku yang
bernaung di bawahnya, sekelompok elite kecil memerintah
sebuah imperium yang desentralisasi, sementara ini khalifah
ber usaha keras menegakkan sentralisasi kekuasaan
pemerintah.
Khalifah Hisyam ( (724-743) berusaha menerapkan
kebijakan Umar II di wilayah Khurasan, Mesir, dan
Mesopotamia. Administrasi Umayyah juga mengembangkan
sebuah identitas organisasional. Pada dekade pertama im-
perium Arab, hal-hal yang berkenaan dengan administrasi
diselenggarakan oleh orang-orang yang berbahasa Yunani
dan Persia yang merupakan warisan imperium sebelumnya.
Sekalipun demikian, sekitar tahun 700, sebuah generasi
baru dari klien-klien Arab yang mencapai kekuasaan
berpengaruh, sekalipun mereka telah dididik menjadi
pegawai dan agar setia kepada khilafah. Kelompok elite
dari kalangan juru tulis dan ketuanya memperkuat tulang
punggung kesekretariatan imperium Arab-muslim sampai
abad ke-10.
Sejalan dengan perkembangan administrasi, ke-
hidupan istana kekhalifahan juga diorganisir. Hari-harinya,
Muawiyah dikerumuni oleh tokoh-tokoh Arab telah
berakhir. Sekarang seorang pembantu istana mendampingi
pengunjung dalam rangka penertiban kesibukan sehari-hari.

119
Pegawai-pegawai administrasi, pejabat sekretaris raja, para
pengawal dan juru tulis mengerumuni raja sebagaimana
yang dilakukan oleh kalangan tokoh-tokoh Arab se-
belumnya. Pos-pos penting dalam pemerintahan masih
dijabat oleh tokoh Arab, tetapi aktifitas pemerintahan tidak
lagi bergantung kepada dewan-dewan tokoh Arab,
melainkan bergantung pada pejabat-pejabat profesional.
Dari pemerintahan pariarkal, khilafah telah beralih menuju
sebuah pemerintahan kerajaan.
Kebijakan konsolidasi rezim kekhilafahan yang
terpenting adalah melanjutkan gerakan penaklukkan yang
berskala dunia. Serangkaian penaklukkan tahap awal adalah
dilatarbetakangi sejumlah migrasi kesukuan dan pengerahan
kekuatan Aranb yang berpusat pada beberapa perkampungan
militer. Penaklukkan baru tahap berikutnya berlatar belakang
ambisi kerajaan dan melibatkan sejumlah penyerangan
terhadap wilayah-wilayah terpencil yang dilaksanakan oleh
sejumlah kekuatan tambahan non Arab. Maka perang yang
tedadi berikutnya bukanlah perang ekspansi kesukuan,
melainkan perang kerajaan yang berjuang untuk meraih
dominasi dunia. Dalam sejumlah peperangan tersebut
menjadikan negeri-negeri seperti Afrika Utara, Spanyol,
Transoxania dan Sindh menjadi bagian dari wilayah impe-
rium muslim.
Sekalipun administrasi Umayyah bernuansa Islami,
namun inspirasi yang sebenamya berasal dari praktek
Bizantium dan Sasania. Di Syria dan Mesir, seluruh perangkat
administratifnya ter masuk di dalamnya administrasi,
pendapatan negara dan bahkan juga dokumen-dokumen
administrasi berasal dari tradisi Bizantium. Organisasi
kemiliteran Syria, mengikuti kemiliteran Bizantium. Di Iraq

120
Masa Umayyah Timur

pola organisaasi administrasi Sasania, yakni dibagi menjadi


4 bidang, Badan Keuangan, kemiliteran, bagian surat-
menyurat dan bidang kedutaan, diberlakukan oleh admi-
nistrator Arab. Kejayaan khalifah, dengan mendapat
dukungan resmi negara atau pembangunan sejumlah mesjid
diinspirasi oleh kebijakan Bizantium.
Prestasi yang lebih besar dicapai oleh wali satu, dia
sangat berjasa dalam pembangunan di berbagai bidang, baik
politik (tata pemerintahan) maupun sosial kebudayaan.
Dalam bidang politik disusun tata pemerintahan berdasarkan
tuntutan perkembangan wilayah dan administrasi kenegaraan
yang semakin kompleks. Selain mengangkat majelis
penasehat sebagai pendamping, khalifah Bani Umayyah
dibantu oleh beberapa orang al-Kutta (sekretaris) untuk
membantu pelaksaman tugas yang meliputi (Joesoef Soe’yb,
1977:234) :
1. Katib ar-Rasail: sekretaris yang bertugas menye-
lenggarakan administrasi dan Surat menyurat dengan
pembesar-pembesar setempat.
2. Katib al-Kharraj: sekretaris yang bertugas menye-
lenggarakan penerimaan dan pengeluaran negara
3. Katib al-Jundi: sekretaris yang bertugas menye-
lenggarakan hal-hal yang berkaitan dengan ketentaraan.
4. Katib as-Syurtah: sekretaris yang bertugas menye-
lenggarakan pemeliharaan keamanan dam ketertiban
umum.
5. Katib al-Qudat sekretaris yang bertugas menye-
lenggarakan tertib hukum melalui badan-badan peradilan
dan hakim setempat.

121
B. Tali Ikatan Persatuan Masyarakat (Politik dan
Ekonomi)
Di kalangan bangsa Arab, pertempuran sengit antara
kelompok terus berlanjut. Setelah perang sipil kedua,
kelompok kesukuan berkembang semakin jelas dengan
orientasi politik dan ekonomi. Kalangan Yaman mewakili
demi literisasi Arab yang berasimilasi dengan mata
pencaharian sipil dan yang menjadi penghuni perkotaan
dengan kesibukan perdagangan atau menjadi tuan tanah atau
sebagai petani di wilayah perkampungan. Orang-orang Arab
ini menerima asimilisasi antara Arab dan non Arab dalam
kemiliteran dan memberikan akomodasi terhadap kepen-
tingan pemeluk Islam yang baru.
Mereka lebih menginginkan kehidupan damai daripada
terus menerus dalam peperangan ekspansional. Mereka
menghendaki persamaan finansial antara Arab dan pemeluk
Islam yang baru dan mereka menghendaki desentralisasi
kekuasaan khilafah. Mereka lebih menekankan corak Islami
daripada identifikasi corak yang khas Arab. Sebaliknya Qays
mewakili kalangan Arab yang tetap aktif dalam militer dan
menggantungkan pendapatannya pada kegiatan penaklukan,
administrasi kepemerintahan dan pendapatan pajak. Mereka
cenderung kepada sistem sentralisasi kekuasaan politik,
ekspansi militer dan pelestarian privilise Arab.
Dalam periode Abdul Malik sampai Hisyam, khilafah
mempertahankan sebuah keseimbangan yang nyaris kritis
ditengah-tengah persaingan intern tersebut dan peperangan
pun akhirnya berkobar juga pada masa pemerintahan Umar
II (717 – 720). Umar II cukup genius dalam menghadapi
situasi ini secara realistis dan mengajukan solusi yang terbaik.
Umar II menyadari bahwa dominasi sebuah etnis terhadap

122
Masa Umayyah Timur

etnis lainnya adalah suatu yang anakronistik, orang-orang


yang menjalani tugas kemiliteran, sekaligus staf pe-
merintahan, atau kelompok pedagang dan seniman yang
memprakasai penyebaran Islam, haruslah diakui kesetaraan
mereka dalam pemerintahan imperium.
Antagonisme antara Arab dan Non Arab harus
dihapuskan menjadi sebuah kesatuan muslim yang univer-
sal. Dalam pandangan Umar II, problem ini bukanlah semata-
mata untuk kepentingan muslim sambil mempertahankan
supremasi kelompok Arab, tapi sebaliknya imperium ini tidak
akan bertahan bila merupakan imperium Arab saja. Tetapi
ia harus menjadi sebuah imperium bagi seluruh warga
muslim.

C. Sistem Sosial (Arab dan Mawali)


Beberapa kebijakannya yang aktual, Umar II mem-
perlihatkan sebuah pendekatan pragmatis yang disinari oleh
prinsip tertentu. Tujuan yang hendak dicapai tidak sekedar
untuk memenuhi klaim penduduk Islam baru (mawali)
melainkan juga untuk mendamaikan tuntutan mereka dalam
kepentingan negara. Umar II bermaksud memenuhi gugatan
kelompok mawali yang turut berperang bersama dengan
kelompok Arab dengan menerima sepenuhnya tuntutan
mereka bahwa seluruh pasukan muslim yang aktif, baik
Arab maupun Mawali, berhak terlibat peran dalam diwan-
diwan.
Di Khurasan, Umar II menetapkan keterlibatan 2000
Mawali. Ia juga memberlakukan sebuah prinsip baru dalam
sistem perpajakan yang didasarkan pada azas persamaan antar
muslim, bahkan menerapkan prinsip tersebut sedemikian
rupa sehingga menjaga kepentingan rezim.

123
Sementara itu mengenai tuntutan muslim non Arab
(Mawali) terhadap pembebasan pajak jiwa dan pajak tanah
sebagai bentuk persamaan dengan kelompok Arab, khalifah
Umar II menetapkan bahwa pajak bukan sebuah fungsi dari
status individual.
Kelompok Mawali diharapkan membayar pajak tanah
dan demikian pula tuan-tuan tanah Arab harus membayarnya
secara penuh. Jadi, beban pungutan pajak dipersamakan,
bahkan dalam tingkatan yang lebih tinggi yakni pada sebuah
biaya yang dikeluarkan oleh tuan-tuan tanah Arab. Mengenai
pajak jiwa, Umar II menetapkan sebuah prinsip, yang sering
kali tidak diperhatikan bahwasanya pajak tersebut hanya
dipungut pada Mawali saja. Penghuni tetap dari kalangan
Arab dan Mawali dibebaskan dari pungutan pajak ini, namun
pada saat yang bersamaan mereka semua dianjurkan
mengeluarkan sedekah atau apa yang dikenal sebagai zakat
(pajak muslim), yang merupakan bagian dari konvensasi
terhadap berkurangnya pendapatan negara dari sektor pajak
jiwa.
Khalifah-khalifah berikutnya berusaha menerapkan
prinsip ini, namun hanya membawa kemajuan yang sangat
kecil. Selama periode akhir dinasti Umayyah, interes
perdamaian dan keadilan bertentangan dengan interes umuk
mempertahankan status quo dan kebijakan kekhalifahan
berkisar antara konsesi pajak dan pembatalan konsesi
tersebut.
Penyusupan warga non Arab ini menimbulkan reaksi
penting pada masyarakat Arab. Orang-orang Arab berusaha
menyerap kalangan pendatang baru ke dalam struktur klan
lama sebagai klien. Konsep klien ini merupakan warisan
Arabia pra Islam, dimana seorang klien merupakan sekutu

124
Masa Umayyah Timur

inferior dari sebuah klan Arab; keturunan mereka juga


berstatus sebagai klien. Mawali menerima sokongan dan
perlindungan dan har us dibantu dalam perkawinan.
Perlindungan pihak Arab yang berkuasa mesti ditukar dengan
loyalitas Mawali yang berstatus lebih rendah. Sekalipun
demikian, lantaran mereka menampung kelompok Mawali.
Klan-klan Arab semakin melemah unit kekerabatannya dan
semakin banyak terbentuk kelompok politik dan ekonomi
yang dibangun mengitari sebuah kerabat inti. Gap antara
kalangan aristokratik dan klan-klan kampung semakin
meluas. Sebagai contoh, di dalam suku Tamin, klan
bangsawan menerima orang-orang yang semula sebagai
kesatria Persia sebagai klien mereka, sedang suku lainnya
menerima pekerja budak dan tukang tenun sebagai klien
mereka.
Perwalian ini juga menimbulkan konflik kelas antara
Mawali dan tuan-tuan mereka. Bahkan Mawali yang
menjalankan tugas secara profesional di medan perang, di
bidang administrasi, perdagangan, obat-obatan dan di bidang
kehidupan keagamaan berkedudukan sebagai kelas sosial
yang inferior. Mereka dikerahkan secara ekonomis dan tidak
dapat menikah dengan warga Arab, demikian pula keturunan
mereka. Tetara-teatara Mawali yang sangat gigih menentang
pengucilan dari urusan keuangan militer (diwan), sebab peran
menanganan urusan keuangan bukan saja sangat me-
nguntungkan secara finansial, tetapi tugas ini merupakan
sebuah simbol privilise sosial kelompok Mawali menghendaki
terlibat penuh sebagai kalangan elite, tetapi bagi kalangan
Arab keinginan seperti ini sungguh-sungguh tidak dapat
dipertimbangkan. Mereka bersikeras terhadap status dan
privilise mereka dan menenteng peran penting klien dalam

125
bidang militer dan administrasi, ketekunan mereka beragama
dan kemahiran dalam berdagang dan berpegang teguh
terhadap bayangan keunggulan bangsa Arab.
Di dalam pusat-pusat perkampungan militer sebuah
elite baru keagamaan melepaskan diri dari otonomi yang
dijalankan khilafah. Berbagai perkampungan tersebut
meleburkan warga Arab dan non Arab menjadi komunitas
bar u yang terdiri dari klas menengah, dari kalangan
pedagang, seniman, guru dan sarjana yang mengabdikan diri
kepada sebuah identitas Islam yang khas. Sebagian dari warga
tersebut adalah keturunan Badui Arab, tetapi setelah satu
abad dari proses pengapungan ini mereka sepenuhnya telah
menjadi masyarakat perkotaan. Sebagian lainnya adalah
warga non Arab, pemeluk Islam baru dan klien bangsa Arab,
yang berbahasa Arab dan mengasimilasikan diri mereka ke
dalam kesukuan, tradisi, keagamaan dan kesukuan elite
penakluk.

D. Sistem Militer
Beberapa khalifah Umayyah masa akhir, sejak Abdul
Malik sampai Hisyam (724 –743) membangun sebuah
pemerintahan kerajaan yang tidak berdasarkan unsur Arab
melainkan berdasarkan kekuatan militer Syiria, peningkatan
kekuatan dan rasionalisasi pejabat-pejabat administratif dan
berdasarkan sebuah ideologi kesetiaan terhadap negara. Jika
kekhalifahan pada awalnya merupakan serial pemerintahan
individual yang sangat bergantung kepada pribadi khalifah
yang saleh atau sifat-sifatnya yang terteladani, maka khilafah
yang baru merupakan sebuah institusi yang terlepas dari
pejabat-pejabat yang individual. Umayyah telah mengalihkan
kekhilafahan menjadi sebuah rezim negara, namun pada saat

126
Masa Umayyah Timur

yang sama mereka juga tetap menjaganya, menjadi sebuah


simbolisme imperium yang merupakan warisan Islam yang
jelas.
Rezim baru ini menekankan orientasinya kemiliteran
dengan kader-kader baru di bidang pemerintahan Abbasiyah
melepaskan privilise kemiliteran bangsa Arab dan menum-
buhkan sebuah kekuatan militer baru yang direkrut dan
diorganisasikan sedemikian rupa sehingga mereka harus loyal
kepada dinasti semata dan tidak kepada kepentingan
kesukuan atau kasta tertentu, sekalipun pasukan Arab tetap
berperan di dalamnya. Pihak Umayyah telah menggantikan
kedudukan kekuatan utama Arab dengan tentara Syria, yakni
kelompok non Arab yang telah memeluk Islam atau sebagai
kelompok Mawali, dan bahkan beberapa kekuatan lokal yang
non Arab, non muslim. Namun Umayyah tidak pernah
mampu menyatakan secara jelas peralihan dari kemiliteran
bangsa Arab kepada pola kemiliteran profesional, baik secara
prinsip maupun dalam praktik yang penuh. Sepanjang periode
Umayyah kekuatan Arab tetap membutuhkan penaklukan
dunia sepanjang mereka mampu mengerjakannya.
Dengan kematian Hisyam pada 743 rezim Umayyah
menjadi goncang dan kelompok keluarga Ali, Abbasiyah,
Kharijiyah, kelompok-kelompok kesukuan dan para
gubernur yang tersisihkan, semuanya dalam keadaan
percekcokan. Faktor-faktor kegoncangan ini antara lain
karena faktor kepayahan atau keletihan militer pemerintahan
dari kalangan warga Syria. Beberapa khalifah Umayyah masa
belakangan berusaha meningkatkan peranan militer Syria
untuk menguasai kelompok Arab lainnya. Dan memperkuat
pasukan tempur pada beberapa wilayah perbatasan impe-
rium dengan tentara-tentara yang cakap, profesional dan

127
tentara yang tangguh dan pantang mengeluh. Pusat-pusat
militer mengirimkan tentara Syria ke wilayah-wilayah
tersebut bersiaga dalam peperangan dimana ketika itu
pasukan Arab tengah menarik mundur. Pasukan bangsa Turki
mendesak bangsa Arab keluar dari Transoxiana. Khazars,
masyarakat nomadik yang tinggal di Caucasus, mengalahkan
pasukan Arab di Ardabil, menyerbu Armenia dan menguasai
wilayah-wilayah sampai sejauh Mosul pada tahun 730. Pada
tahun 740 kemenangan gemilang Yunani atas serbuan Arab
di Acrazas, Anatolia dan berhasil menghancurkan sebagian
besar militer Syria yang terdiri dari 27.000 laki-laki. Sisa dari
pasukan ini melarikan diri ke Spanyol, di mana kelompok
pasukan kecil ini turut menegakkan kekuasaan dinasti
Umayyah di Spanyol. Sejumlah kekalahan ini mengakhiri face
imperial dari bangunan imperium Arab dan menjadikan militer
Syria dalam keadaan yang parah.
Marwan ibn Muhammad (744-750), yang semula
menjadi gubernur Armenia, menerima, dukungan kalangan
atasan dan mengklaim gelar khalifah, sekalipun demikian,
selain dari kalangan militer yang setia kepadanya, tidak ada
seorang pun yang menerima klaim Marwan sebagai
pemerintah yang sah. Otoritasnya berpengaruh sebatas
kalangan militer.

E. Pembangunan Peradaban
Pada periode Umayyah kultur kerajaan ini mencakup
syair Arab, yang berasaal dari konvensi Arab pra Islam dan
tradisi lisan. Mengenai sejarah bangsa Arab, kehidupan nabi
Muhammad dan asal mula perkembangan Islam, dan laku
perbuatan khalifah-khalifah pertama. Ia juga menggabungkan
kandungan artistik dan kesasteraan Byzantium dan Sasania.

128
Masa Umayyah Timur

Oleh karena itu sejumlah masjid dan istana Umayyah


memadukan dekorasi dan motif-motif yang Indus dari unsur
Kristen dan Bizantium dengan penggunaan dan konsep Mus-
lim untuk menciptakan mode-mode baru arsitektur Islam.
Umayyah juga mensponsori perdebatan resmi antara muslim
dan Kristen yang mendorong kepada penyerapan konsep-
konsep Hellenistik ke dalam teologi muslim.
Istana Umayyah menjadi sebuah teater yang me-
mainkan serial drama kerajaan. Tempat tinggal khalifah
dikelilingi oleh sejumlah pintu gerbang resmi, secara umum
di tengah-tengahnya terdapat bangunan dinding yang
membujur yang memusat pada sebuah bangunan ruang
kubah, sebuah pola arsitektur yang terdapat di Damascus,
di al-wash, Mushatta dan kemudian di Baghdad berasal dari
pola-pola arsitektur Hellenistik untuk istana Kaisar Roma,
Bizantium dan Sasania.
Dekorasi istana mencerminkan cara hidup raja,
penampilan khalifah melambangkan keagungan dan
kekuasaan. Kesenian publik menekankan tema-tema
keislaman. Pemerintah Abdul Malik menadai sebuah karya
seni umum yang selalu dikenang, yakni pembangunan masjid
Dome of Rock (Masjid Kubah Batu) di Yerusalem. Masjid
tersebut dibangun pada tempat yang legendaris, yakni tempat
Ibrahim menyembelih anaknya Ismail, yakni seorang putera
pujaan dalam kisah Islam. Pembangunan tersebut menjadi
sarana hubungan langsung kepada monotheisme terdahulu,
sehingga Islam menjadi agama yang dimuliakan (Ira M.
Lapidus, 1999: 126:131)
Dome or the Rock, pembangunannya telah dirintis oleh
khalifah Umar al-Khattab (634-644M). Kini bangunan itu
dikenal dengan Masjid al-Aqsha. (Joesoef Sou’yb, 1977: 149)

129
Mesjid Umayyah di Damascus (Jamiul-Umawwi)
mengekspresikan tema-tema lain. Masjid ini dibangun atas
perintah Khalif Walid I dimulai tahun 88 IV707 M (Joesoef
Sou’yb, 1977: 145) yang dibangun dengan melalui
pengambilalihan sebuah tempat suci pagan dan gereja Kristen
dan penyerapan motif-motif klasik Romawi, Hellenistik dan
motif Kristen menjadi sebuah bangunan baru yang khas
sebagai arsitektur muslim seni mosaik mempertunjukkan
sejumlah bangunan yang sangat megah dan pemandangan
yang dapat mencerminkan panorama surgawi dan sekaligus
mengisyaratkan ketundukan seluruh dunia kepada khalifah
dan agama baru. Bahkan dalam pembangunan masjid
tersebut memperkerjakan seniman-seniman Yunani yang
mana mereka diminta langsung dari kaisar Konstantinopel.
Bagi Yunam hal ini mengisyaratkan keunggulan politik dan
kebudayaan bizantium. Namun pihak muslim memandang-
nya sebagai sebuah pengambilalihan kebudayaan dan
kekuasaan Bizantium, sebuah ketundukan pekerja Yunani
kepada tuan-tuan muslim dan sebagai sebuah pertunjukkan
ambisi, keberhasilan dan pengunggulan imperium Islam
terhadap Bizantium. (Ira M. Lapidus, 1999: 126-131). Masjid
ini mempekerjakan 120.000 ahli bangunan dan ahli marmar.
Pembiayaannya menelan dana 400 peti uang setiap peti uang
berisikan 28.000 dinar mas. Khalid demikian pula dengan
Masjid Madinah yang direnovasi pada masa pemerintahan
Khalif Walid I dalam tahun 88 H.
Pembangunan rumah sakit umum pada setiap kota
pada masa pemerintahan Khalif Walid I. Pembanguan
tempat-tempat sosial yang lain adalah rumah panti jompo,
panti sosial bagi fakir miskin dan yatim piatu, tempat
pemeliharaan orang buta lengkap dengan pelayannya, tempat

130
Masa Umayyah Timur

persinggahan para musafir dan menyediakan dana khusus


hafiz-hafizah. Dan pembagunan fasilitas-fasiltas masyarakat
yang lain. (Joesoef Sou’yb, 1977: 150-151)
Historians’ History of the world vol. VIII halaman
274-275 menyatakan bahwa bangsa Arab pada masa-masa
permulaan perkembangan kekusaannya telah menyum-
bangkan pada dunia tiga jenis alat, yaitu paper, compass and
gunpowder.
Penemuan alat cetak di Tiongkok pada penghujung
abad ke-8 M dan penemuan alat cetak juga ditemukan di
Barat. Namun sebelumnya tahun 650 M telah dicoba
pembuatan kertas di Bukhara dan Samarkand dengan bahan
dasar ampas sutera. Tahun 750 M, Yusuf Amron di Mekkah
dibuat kertas dengan bahan dari kapas (damask paper) dan
mulai berkembang pembuatannya di Damaskus. Di
Andalusia digunakan serat-serat dan linen untuk membuat
kertas dengan jenis kertas yang disebut Xativa paper yang
dibuat di kota Xativa kemudian berkembang di Valencia dan
Catalonia. Pada abad ke-13, kertas-kertas buatan Andalusia
menerobos pasaran ke Perancis, Itali, Inggris, Jerman.
(Joesoef Sou’yb, 1977: 239-240)
Mesiu telah ditemukan dahulu di Tiongkok yang
penggunaannya terbatas pada acara keagamaan dan
keramaian. Tapi pada saat mesiu diimport oleh Bani Umayyah
melalui jalan sutera, penggunaannya berubah sebagai
peralatan militer. i Joesoef Sou’yb, 1977, 240-241)

F. Sistem Fiskal
Abdul Malik dan al-Walid menyusun peralihan pejabat-
pejabat pajak dari orang-orang yang berbahasa Yunani dan
Syria kepada orang-orang yang berbahasa Arab. Catatan-

131
catatan ringkas, penyalinan dan laporan sekarang muncul
dalam bahasa Arab. Perubahan-perubahan ini berlangsung
di Iraq pada 697, di Syria dan Mesir pada 700, setelah
beberapa tahun berlangsung di Khurasan, Selanjutnya
khalifah mengadakan pengorganisasi keuangan di berbagai
daerah. Pada masa khalifah Umar II (717-720), khalifah
mengusulkan sebuah revisi yang penting mengenai aturan
dan beberapa prinsip perpajakan untuk menghilangkan
ketidakseragaman yang lebih besar dan demi persamaan.
Khalifah Hisyam (724 - 743) ber usaha menerapkan
kebijakan Umar II di wilayah Khurasan, Mesir, Mesopotamia.
Administrasi Umayyah juga mulai mengembangkan sebuah
identitas organisasional. Pada dekade pertama imperium
Arab, hal-hal yang berkenaan dengan administrasi di-
selenggarakan oleh orang-orang yang berbahasa Yunani dan
Persia, merupakan warisan dari imperium sebelumnya.
Sekalipun demikian pada sekitar tahun 700, sebuah generasi
baru dari klien-klien Arab yang mencapai kekuasaan
berpengaruh, sekalipun mereka telah dididik menjadi
pegawai dan agar setia kepada khilafah. (Ira M. Lapidus,
1999: 91)
Khalifah juga menunjuk seorang wazir yang bertugas
untuk menyita kekayaan pejabat. Sejumlah harta kekayaan
itu harus dikembalikan ke negara. Dewan khusus yang
menangani penyitaan harta kekayaaan, yaitu Diwan al-
Mushadarat untuk menangani penyitaan tanah dan Diwan
al-Marafiq untuk menangani harta kekayaan hasil suap.
Untuk mengatasi hasil korupsi, pemerintah pusat dipaksa
menyediakan sarana administratif yang baru, untuk
memulihkan kerugian politik dan financial yang disebabkan
oleh sistem birokrasi yang korup. Sebuah metode yang

132
Masa Umayyah Timur

diterapkan adalah dengan mendistribusikan iqtha’ kepada


tentara, pegawai-pegawai istana dan para pejabat yang terlibat
dalam pengumpulan pajak dari hasil pertanian. Pelelangan
hak iqtha’ merupakan dari awal kepemilikan tanah yang luas
yang dapat menyerap sejumlah pemilik tanah kecil dan
kelompok petani bebas. Kaum petani di bawah tekanan biro
perpajakan berharap dapat berlindung kepada pemegang hak
iqtha’ yang berpengaruh dan melepaskan tanah-tanah
mereka. Praktek semacam ini disebut Talija (harapan) atau
bimaya (proteksi).
Selain petani kecil yang dikenai pajak, relatif semakin
sedikit, pada sisi lain pemerintah berhadapan dengan
bangsawan pemilik tanah lokal yang mereduksi kewajiban
administrasi kepada kewajiban mengumpulkan pajak,
berdasarkan pembayaran atas kesepakatan bersama.

G. Sistem Peradilan
Sistem peradilan diurus oleh para ahli hukum Islam
yang disebut al-Fuqaha sebagian besar mereka tinggal di
kota-kota besar. Oleh karena itu, mereka biasa disebut
fuqahaul- Amshar. Dengan terjalinnya kesatuan wilayah yang
luas dari timur sampai ke barat, maka lalu lintas dagang antar
Tiongkok dan dunia belahan barat, pegunungan Thianshan
melalui jalan sutra makin bertambah lancar. Dengan
dikuasainya pesisir lautan Hindia sampai ke lembah Shind
pada masa Daulat Umayyah, maka pelaut-pelaut Arab dari
abad ke empat masehi, telah memulai kegiatan per-
jalanannya. Oleh sebab itu dalam persoalan perdagangan
memerlukan kepastian hukum atau undang-undang. Bak
mengenai hal-hal yang menyangkut perdagangan harus
diselesaikan secara pasti melalui hukum, begitu pula

133
persoalan yang menyangkut masalah perdata dan pidana serta
persoalan-persoalan lain seperti budak belian, makanan dan
minuman, fiskal, peperangan, tawanan, dan kewarganegaraan
diperlukan pengaturan oleh badan peradilan.
Perumusan metodik dan sistematik tentang ilmu
hukum, mulai disusun pada masa Khulafaur Rasyidin dan
Daulat Umayyah.
Himpunan-himpunan keputusan yang diambil dalam
penyelesaian setiap sengketa dan pendapat-pendapatnya
disebut al-Fatawa. Persamaan keputusan maupun persamaan
pendapat diantara ahli hukum pada suatu kota dengan kota
kota yang lain mengenai obyek hukum disebut al-Ijmak, selain
itu kitab-kitab fiqih, dijadikan sumber dalam setiap
penyelesaian kasus dalam lembaga peradilan. (Joesoef
Soe’yb, 1977:244 249)

H. Perkembangan Intelektual, Bahasa dan Sisitem Arab


Khalid ibn Yazid, putra Khalif Yazid I (680 – 682 M)
adalah seorang Amir yang menaruh perhatian mempelajari
al-chemy karya-karya Greek. Karena daulat Umayyah masih
kental dengan tradisi-tradisi Arabia, maka bidang filsafat
tidak berkembang, sebaliknya bidang seni mendapat
perhatian yang besar pada saat itu. Tokoh-tokoh seni yang
terkenal pada masa itu adalah Ghayyats Taghlibi al-Akhatl
(640710 M) adalah seorang penyair Nasrani. Kumpulan
sajaknya dihimpun oleh Abu Said al-Sakkari dan Muhammad
Ibnu Abbas al-Yajidi, manuskrip ini disimpan di Baghad lib-
rary dan dicetak ulang (938 M). Jurair dengan gelar Abu
Hajrat (653 - 733 M), kumpulan sajaknya dihimpun oleh
Abu Jaafar Muhammad ibn Hubaib di cetak ulang di Cairo
tahun 1935 dan al-Farajdak (641 - 732 M), kumpulan

134
Masa Umayyah Timur

sajaknya dihimpun oleh Abu Jaafar Muhammad. Salinan


dalam bahasa Perancis diterbitkan tahun 1870 dan salinan
dalam bahasa Jerman diterbitkan di Munchen tahun 1900
dan salinan dalam bahasa Inggris tahun 1965.
Dalam bidang filsafat dikenal dua tokoh Nasrani yang
melakukan pembahasan teologis ajaran Kristen seperti
Yuhana al-Dimaski (676- 749 M). Seorang Uskup yang
dikenal dengan Hama Santo Yohanes Damachines dan tokoh
lain Abu Karra, karena Orientasi Daulah Umayyah, hanya
berorientasi pada perluasan wilayah, maka perhatian yang
lebih intensif pada bidang ilmiah dan kebudayaan masih
terbatas, sehingga belum melahirkan nama-nama besar.
Khalif Abdul Malik tercatat dalam sejarah Islam
sebagai khallif yang permna-tama memerintahkan peng-
gunaan bahasa Arab dalam arsip pemerintahan dan
kenegaraan. dalam seluruh wilayah Islam. Disebut dengan
arsip al-Dawawin, yaitu arsip-arsip diwan-diwan wilayah.
Surat menyurat resmi pada diwan-diwan wilayah itu
pada masa sebelumnya masih tetap menggunakan bahasa-
bahasa setempat. Diwan Mesir menggunakan bahasa Kopti.
Diwan Syria menggunakan bahasa Grik. Diwan Irak dan Iran
menggunakan bahasa Parsi dan Diwan Pesisir Afrika
menggunakan bahasa latin.
Khalif Abdul Malik memerintahkan kesatuan bahasa
yaitu bahasa Arab. Surat menyurat resmi antara rakyat dan
pemerintah dan sesama badan-badan pemerintahan
diwajibkan mempergunakan bahasa Arab.
Berkat jasa Khalif Abdul Malik lambat laun bahasa
Arab menjadi bahasa umum (Lingua franca) di sekitar Lautan
Tengah dalam wilayah luas ke Timur sampai perbatasan
Tiongkok. Bahkan bahasa Arab menjadi bahasa Diplomatik

135
antara bangsa antara bahasa Barat dan Timur, juga
berkembang menjadi bahasa ilmiyah. Disamping penggunaan
bahasa Arab itu, maka penggunaan angka Arab memperoleh
sambutan hangat dalam wilayah sekitar Laut Tengah untuk
penyelesaian setiap persoalan dagang. Sebab angka Romawi
sangat rumit bagi perkalian, penambahan dan pengurangan,
bahkan angka Arab diwariskan sampai sekarang. (Joesoef
Sou’yb, 1977 : 106-108)

I. Sistem Pergantian Kepala negara


Sistem Monarkhi adalah sistem pergantian kepala
negara berdasarkan pewarisan. Bila seorang raja meninggal
maka ia digantikan oleh anaknya, tanpa memerlukan baiat
dari rakyat. Raja bersikap otoriter tanpa berdasarkan undang-
undang dan tidak bertanggung jawab pada siapapun. Rakyat
tidak diberi hak kemerdekaan dalam mengeluarkan
pendapat. (M. Yusuf Musa, 1963: 204)
Khalifah Muawiyah I dipandang sebagai khalifah yang
pertama kali dalam sejarah Arab Islam yang menjadikan
jabatan khilafah sebagai suatu warisan. Dia langsung
menunjuk puteranya Yazid menjadi khalifah.
Dalam pemerintahan Bani Umayyah, Muawiyah
menjadi khalifah dengan mempergunakan kekuatan, bukan
ditunjuk oleh Khulafaur-Rasyidin sebelumnya. Yazid
menerima jabatannya sebagai khalifah adalah warisan dari
Ayahnya Muawiyah bukan berdasarkan lembaga Ahlul Halli
wa aqdhi’.
Muawiyah ibn Yazid pada tahun 64 H/684 M dalam
usia 23 tahun naik menjabat khalifah menggantikan ayahnya
Khalid Yazid bin Muawiyah (60-64 H/681¬684 M). Ia
merupakan khalifah yang ke-3 dalam Daulah Bani Umayyah.

136
Masa Umayyah Timur

Demikian selanjutnya sistem pergantian kepala negara


dilakukan berdasarkan keturunan. (Joesoef Sou’yb, 1977:
43-77)

J. Pemberontakan al-Mukhtar ibn Ubaid dan Abdullah


ibn Zubair
Ketika Yazid naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka
di Madinah tidak mau menyatakan setia kepadanya. Yazid
kemudian mengirim surat kepada Gubernur Madinah,
memintanya umuk memaksa penduduk mengambil sumpah
setia kepadanya. Dengan cara ini, semua orang terpaksa
tunduk, kecuali Husein ibn Ali dan Abdullah ibn Zubair.
Bersamaan dengan itu, Syia’ah (pengikut Ali) melakukan
konsolidasi kekuatan kembali. Perlawanan terhadap Bani
Umayyah dimulai oleh Husein ibn Ali. Pada tahun 680 M,
ini pindah dari Mekah ke Kufah atas permintaan golongan
Syi’ah yang ada di Irak. Umat Islam di daerah ini tidak
mengakui Yazid. Mereka mengangkat Husein sebagai
khalifah. Dalam pertempuran yang tidak seimbang di
Karbela, sebuah daerah dekat Kufah, tentara Husein kalah
dan Husein sendiri mati terbunuh. Kepalanya dipenggal dan
dikirim ke Damascus, sedang tubuhnya di kubur di Karbela
(Hasan Ibrahim Hasan, 1989:69)
Perlawan orang-orang Syi’ah tidak padam dengan
terbunuhnya Husein. Gerakan mereka bahkan menjadi lebih
keras, lebih gigih dan tersebar luas. Banyak pemberontakan
yang dipelopori kaum Syi’ah terjadi. Yang terkenal diantaranya
adalah pemberontakan Mukhtar di Kufah pada tahun 685 –
687 M. Mukhtar mendapat banyak pengikut dari kalangan
kaum Mawalli, yaitu umat Islam bukan Arab berasal dari Per-
sia, Armenia dm lain-lain, yang pada masa Bani Umayyah

137
dianggap sebagai warga negara kelas dua. Mukhtar terbunuh
dalam peperangan melawan gerakan oposisi lainnya, gerakan
Abdullah ibn Zubair (Montgomery, 1990:23), Haman
Abdullah juga tidak berhasil menghentikan gerakan Syi’ah.
Abdullah ibn Zubair membina gerakan oposisinya di
Mekah setelah dia menolak sumpah setia terhadap Yazid.
Akan tetapi dia baru menyatakan diri secara terbuka sebagai
khalifah, setelab Husein ibn Ali terbunuh. Tentara Yazid
kemudian mengepung Mekah. Dua pasukan bertemu dan
pertempuran pun tak terhindarkan. Namun peperangan
terhenti karena Yazid wafat dan tentara Bani Umayyah
kembali ke Damascus. Gerakan Abdullah ibn Zubair baru
dapat dihancurkan pada masa kekhalifahan Abd al-Malik.
Tentara Bani Umayyah dipimpin al-Hajjaj berangkat menuju
Thaif, kemudian ke Madinah dan akhirnya meneruskan
perjalanan ke Mekah. Ka’bah diserbu. Keluarga Zubair dan
sahabatnya melarikan diri, sementara ibn Zubair sendiri
dengan gigih melakukan perlawanan sampai akhirnya
terbunuh pada tahun 73 H/692 M (Montogomery, 1990:24).

K. Keruntuhan Ummayah di Timur


Sepeninggal Umar ibn Abd al-Aziz, kekuasaan Bani
Umayyah yang berada di bawah khalifah Yazid ibn Abd al-
Malik (720-724 M). Penguasa yang satu ini terlalu gandrung
kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan
rakyat. Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam ke-
tentraman dan kedamaian, pada zamannya berubah menjadi
kacau. Dengan latar belakang dan kepentingan etnis politis,
masyarakat menyatakan konfrontasi terhadap pemerintahan
Yazid ibn Abd al-Malik. Kerusuhan terus berlanjut hingga
masa pemerintahan khalifah berikutnya. Hisyam ibn Abd

138
Masa Umayyah Timur

al-Malik (724 – 743 K. Bahkan dizaman Hisyam ini muncul


satu kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi
pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari
kalangan Bani Hasyim yang didukung oleh golongan Mawali
dan mer upakan ancaman yang sangat serius. Dalam
perkembangan berikutnya kekuatan baru ini, mampu
menggulingkan Dinasti Umayyah dan menggantikannya
dengan dinasti baru, Bani Abbas. Sebenarnya Hisyam ibn
Abd al-Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil.
Akan tetapi karena gerakan oposisi terlalu kuat khalifah tidak
berdaya mematahkannya.
Sepeninggal Hisyam ibn Abd al-Malik, khlaifah-
khalifah Bani Umayyah yang bukan hanya lemah, tetapi juga
bermoral buruk. Hal ini makin memperkuat golongan oposisi.
Akhirnya pada tahun 750 M, Daulah Umayyah digulingkan
Bani Abbas yang bersekutu dengan Abu Musli al-Khurasani.
Marwan Bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah,
khalifah terakhir Bani Umayyah melarikan diri ke Mesir,
ditangkap dan dibunuh di sana.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan dinasti Bani
Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran.
Faktor-faktor itu antara lain adalah :
1. Sistem pergantian khalifah menurut garis keturunan
adalah sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih
menekankan senioritas. Pengaturannya tidak jelas.
Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menye-
babkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalangan
anggota keluarga istana (Philip K. Hitti, 1970:281)
2. Latar belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak
bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi
di masa Ali. Sisa-sisa Syi’ah dan Khawarij terus menjadi

139
gerakan oposisi, baik secara terbuka maupun tersembunyi.
3. Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis
antar suku Arabia semakin meruncing. Perselisihan ini
mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat
kesulitan untuk menggalang persatuan dank kesatuan.
(Syed Amer Ali, 1981:170). Disamping itu sebagian besar
golongan Mawali, terutama di Irak dan wilayah bagian
timur lainnya merasa tidak puas karena status Mawali
menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan
keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa
Bani Umayyah (Montgomery, 1990:28).
4. Lemahnya pemerintah Daulat Bani Umayyah juga
disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana,
sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul
beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi
kekuasaan. Disamping itu golongan agama banyak yang
kecewa, karena perhatian penguasa terhadap per-
kembangan agama sangat kurang.
5. Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan Dinasti Bani
Umayyah adalah munculnya kekuatan bar u yang
dipelopori oleh keturunan al-Abbas al-Muthalib. Gerakan
ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan
golongan Syi’ah dan kaum Mawali yang merasa dikelas-
duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.

140
Bab IX
Islam Di Andalusia

A. Dakwah Islam dan Gerakan Pembebasan


Sekitar dua abad sebelum Masehi hingga abad ke-5,
Spanyol di bawah imperium Romawi. Sejak tahun 406 M,
Spanyol di kuasai oleh Bangsa Vandal. Para Sejarawan dan
ummat Islam menyebut Spanyol sebagai “Andalus” untuk
mengidentifikasikan entitas politik Islam Semenanjung Ibe-
ria ini. (Nasution, 1992: 120). Nama Andalusia secara
etimologi berasal dari kata “Vandal” yaitu nama pada suatu
suku bangsa yang berhasil menaklukkan negeri itu sebelum
ke tangan bangsa Arab. (Hutagalung, 1970:89)
Penguasa di daerah ini mendirikan kerajaan di propinsi
wilayah Chartage. Kekuasaan Vandal kemudian diambil alih
oleh orang-orang Ghotic. Tak lama kemudian dinasti
Meroviginian dari kerajaan Frank merebutnya dari orang-
orang Ghotic. Maka didirikan kerajaan Visighoth yang
wilayahnya terkenal dengan Vandalusia. Setelah kedatangan

141
orang-orang Islam pada tahun 92 H/711 M, sebutan
Vandalusia diubah menjadi Andalusia atau al-Andalus.
(Philip. K. Hitti, 1970: 498)
Ketika 12.000 pasukan Islam yang dipimpin oleh
Thariq bin Ziyad menyeberang selat yang terletak antara
Maroko dan benua Eropa, kemudian mendarat disuatu
tempat yang kemudian dikenal dengan Gibraltar (Jabal
Thariq), pasukannya berhasil mengalahkan pasukan Raja
Roderick di tepi sungai Rio Barbate pada tanggal 19 Juli
711.
Kesuksesan di Rio Barbate mendorong pasukan
muslim untuk terus bergerak memasuki wilayah kekuasaan
Visighoth lainnya. Mula-mula bergerak ke Toledo dengan
melewati dan menguasai terlebih dahulu kota Malaga, Elvira,
Murcia dan Cordova. Kemudian Thariq terus bergerak ke
Barat Semenanjung Iberia. Thariq mandapat dukungan
penduduk taklukannya untuk menaklukan wilayah-wilayah
lainnya. (Chenj, 1974:8)
Keberhasilan Thariq bin Ziyad tersebut menimbulkan
kecemburuan Musa bin Nushair. Maka dia sendiri bersama
10.000 pasukannya bergerak ke Spanyol. Berturut-turut ia
menguasai Sidonia, Carmona, Seville, Saragosa, Aragon,
Leon, Austria dan Galicia.
Sejak keberhasilan Thariq sampai jatuhnya khalifah
Bani Umayyah di Damaskus pada tahun 749 M (132 H),
Andalusia merupakan propinsi kekhalifahan yang dikepalai
oleh seorang Gubernur yang ditunjuk oleh Khalifah
Damaskus.
Sebelum penaklukkan Islam, Bangsa Ghotik lebih dulu
berhasil menguasai bangsa Spanyol setelah mengusir bangsa
Vandal, penguasa sebelumnya dari masyarakat Spanyol yang

142
Islam Di Andalusia

semula diharapkan akan membawa rakyat Spanyol ke arah


yang lebih balk. Tetapi kenyataan justru sebaliknya penguasa
Got lebih kejam terhadap masyarakat yang beragama Yahudi
dan masyarakat kelas rendah pada umumnya. Sikap dan
tindakan penguasa yang sewenang-wenang itu telah
membawa negeri terpuruk dalam jurang kesenjangan sosial
yang mencolok, instabilitas politik yang tidak menentu,
keadaan ekonomi yang sangat buruk karena beban pajak
yang tinggi dan suasana yang mencekam disebabkan karena
intoleransi beragama oleh penguasa Kristen yang beraliran
monofisit.
Dalam situasi yang demikian rakyat Spanyol sangat
mendambakan penguasa yang dapat melepaskan penderitaan
mereka. Kehadiran kaum muslimin di Spanyol dapat
mewujudkan harapan mereka dengan meningkatnya kualitas
hidupnya secara berangsur-angsur. Kesejahteraan dan
kemakmuran serta ketertiban mulai mereka nikmati.
Keadaan terus berlanjut dan cenderung semakin meningkat.
Penaklukan dan dakwah Islam berhasil dilaksanakan di
Spanyol didorong oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Situasi agama di Spanyol yang tidak memberikan
dukungan bagi kehidupan agama yang dinamis bagi
pemeluk selain Kristen. Para penguasa sangat tidak
toleran terhadap agama lain selain Kristen. Orang-orang
Yahudi sangat tertekan oleh raja-raja, kepala-kepala suku,
bangsawan dan pendeta-pendeta bahkan mereka dijadikan
budak oleh orang-orang Kristen. (Mahmudunnasir, 1988:
303) Selain itu juga mereka melakukan pengejaran
terhadap orang-orang Yahudi untuk dibaptis. Setelah masa
pemerimahan Islam, terutama pada masa al-Dakhil,
warisan sistem kelas sosial dengan segala konsekuensinya

143
yang pernah hidup subur di Spanyol pada masa pra-Islam
telah terkikis habis. (Mahmudunnasir, 1994: 283) Mereka
yang menerima Islam tidak lagi dipisah-pisahkan dalam
kelas-kelas sosial yang jelas-jelas merugikan rakyat kelas
jelata. Mereka disatukan dalam masyarakat egaliter Is-
lam. Bagi mereka yang mempertahankan agamanya
semula (umumnya Yahudi dan Kristen) menikmati
suasana toleransi beragama yang cukup tinggi dan
jaminan perlindungan dan keamanan. (Irving, 1990: 89)
Al-Dakhil mendambakan suatu Dinasti yang bersatu di
antara orang-orang Kristen, Yahudi dan Islam, serta
sesama Islam dalam berbagai ras dan bangsa. Untuk
maksud ini, ia menyokong adanya perkawinan silang
antara ketiga golongan tersebut, dengan demikian dari
masyarakat heterogen menjadi masyarakat homogen (Ir-
ving, 1990: 92)
2. Faktor ajaran Islam sendiri, yaitu bahwa Islam dikenal
sebagai agama yang toleran, tidak ada pemaksaan dalam
agama. Islam membawa ajaran tentang keadilan dan
kedamaian. Selain itu penaklukan Spanyol di dukung oleh
kondisi pada penguasa, tokoh-tokoh pejuang dan prajurit
Islam yang kompak, bersatu, dan penuh percaya diri.
Mereka terampit dan berani, sebingga sikap mereka
menarik perhatian orang-orang non Islam, dan me-
ngundang umat Islam untuk membebaskan mereka dari
tirani raja-raja Ghotic yang zalim.

B. Perkembangan politik dan Masa Keamiran


Pada mulanya Spanyol di bawah pemerintahan para
wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayyah yang
berpusat di Baghdad. Pada masa itu stabilitas politik Spanyol

144
Islam Di Andalusia

belum stabil. Gangguan banyak terjadi, baik dari dalam atau


dari luar. Gangguan dari dalam berupa perselisihan antara
elite penguasa terutama akibat perbedaan etnis dan golongan.
Di samping itu terdapat perbedaan pandangan antara khalifah
Damaskus dari Gubernur di Afrika Utara yang berpusat di
Qairawan. Masing-masing mengakui bahwa merekalah yang
paling berhak menguasai daerah Spanyol. Oleh karena itu
hampir terjadi 20 kali pergantian wali (Gubernur) dalam
waktu yang amat singkat. Perbedaan pandangan politik itu
menyebabkan sering terjadinya perang saudara. Hal ini pun
disebabkan perbedaan etnis, terutama bangsa Barbar dari
Afrika Utara dan Arab. Dalam bangsa Arab terdapat dua
golongan yang sating bersaing yaitu suku Quraisy (Arab Utara)
dan Arab Yamani (Arab Selatan).
Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam
Spanyol yang bertempat tinggal di daearh-daerah yang tidak
pernah tunduk kepada pemerintahan Islam.
Ketika gerakan Abbasiyah berhasil menjatuhkan Bani
Umayyah tahun 750 M, maka berdirilah khalifah Bani Abbas
dengan mengambil Baghdad sebagai pusat pemerintahan.
Bersamaan dengan itu, Emirat di Spanyol menyatakan
tunduk dengan Baghdad.
Abdurrahman Ibn Muawiyah Ibn Hisyam adalah
seorang Pangeran dari Bani Umayyah yang lolos dari kejaran
Bani Abbas. Ia lahir tahun 730 M. Ayahnya bernama
Muawiyah Ibn Hisyam. Ayahnya adalah seorang panglima
perang yang banyak memimpin ekspedisi ke perbatasan
Bizantium. Keberhasilan Abdurrahman lolos dari kejaran
terhadap anggota keluarganya telah membuktikan ketang-
guhan dan kesiapannya situasi yang paling sulit. (Hutagalung,
1970: 90)

145
Setelah lolos dari kejaran dari Bani Abbasiyah,
Abdurrahman kemudian langsung menuju Mesir dan
akhirnya tahun756 M, berhasil memasuki Spanyol yang
sedang dilanda perselisihan antara kelompok Mudhari yang
berasal dari lembah Euprat dan kelompok Yamani yang
berasal dari keturunan Qahtan. Kedatangan Abdurrahman
segera mendapat sambutan dan dukungan yang luas. Setelah
berhasil memadamkan perlawanan, Amir Yusuf al-Fikri,
penguasa, Spanyol sebagai emirat dari khilafah Abbasiyah,
Abdurrahman menduduki kursinya sebagai Amir dan
menetapkan Cordova sebagai ibu kotanya. Karena ketang-
kasan dan kegigihannya, ia mampu melepaskan dirinya dari
kerajaan Bani Abbas hingga dapat mendirikan Emirat
(Dinasti Umayyah di Spanyol) (Philip K. Hitti, 1970: 501)
dan dapat mempertahankan kekuasaannya sampai tahun
1031 M (Nasution, 1985 :8)
Semenjak menjabat sebagai penguasa Spanyol,
Abdurrahman al-Dakhil menghadapi berbagai gerakan
pemberontakan yang berasal dari serbuan pasukan Papin,
seorang raja Perancis dan putranya bernama Charlamagne.
Namun pasukan pengganggu ini dapat dikalahkan oleh
Abdurrahman. Ia wafat setelah memerintah selama 32 tahun
(756- 788 M). Selanjutnya ia digantikan putranya Hisyam I
(172­180 H/ 788- 796 M). Hisyam I mengarahkan
perhatiannya ke wilayah Utara. Ummat Kristen yang tidak
henti-hentinya melancarkan gangguan keamanan di
tindasnya. Kota Norbone ditaklukaannya. Hisyam I adalah
penguasa yang adil dan sangat murah hati kepada rakyat.
Pad masanya berkembang mazhab Maliki.
Setelah meninggalnya Hisyam I, maka berturut-tarut
keamiran dipegang oleh Hakam I (180-207 H/ 796-822 M),

146
Islam Di Andalusia

Abdurrahman II (207 – 238 H/ 822-852 M), Muhammad I


(238- 273 111 853 – 886 M), Munzir (273-275 H/ 886-888
M) dan Abdullah (275-300 H/ 888- 912 M). Setelah
Abdullah wafat, maka berakbirlah keamiran Bani Umayyah
di Spanyol dan berganti menjadi kekhalifahan Bani Umayyah
di Spanyol.

C. Masa Kekhalifahan
Kekhalifahan di Spanyol dimulai dengan naiknya
Abdurrahman III menggantikan ayahnya pada usia 21 tahun
sebagai khalifah pertama dengan gelar al-Nash Lidinillah
(penegak agama Allah). Pada masa itu terdapat dua khalifah
Sunni di dunia Islam. Khalifah Abbasiyah di Baghdad dan
khalifah Umayyah di Spanyol. Pada 301 H/913 M,
Abdurrahman III mengumpulkan pasukan militer yang sangat
besar. Kemudian tanpa mendapat perlawanan yang berarti,
ia dapat menundukkan kota-kota besar di belahan Utara
Spanyol. Kemudian Seville suku Barbar dan umat Kristen
yang selama ini menjadi perintang tunduk pada Abdurrahman
III.
Abdurrahman merupakan penguasa Umayyah terbesar
di Spanyol. Seluruh gerakan pengacau dan konflik politik dapat
diatasinya sehingga negara dapat diamankan. Keberhasilan
ini diikuti dengan penaklukan kota Elvira, Jain, Seville. Ia
juga berhasil menggagalkan cita-cita Dinasti Fatimiyah untuk
memperluas wilayah kekuasaannya di Spanyol. Abdurrahman
III tidak hanya mengamankan Spanyol dari kehancuran, namun
sekaligus menciptakan kemakmuran dan kemajuan Spanyol.
Setelah Abdurrahman III wafat, berturut-turut yang menjadi
khalifah adalah Hakam II (350-366 H/ 961-976 M) Hisyam
II (976 - 1009 M) dan Sulaiman (1009-1010 M).

147
Pada masa Hisyam II, Bani Umayyah di Spanyol telah
mengalami kemunduran karena kekuasaan aktual berada di
tangan para pejabat. Tahun 981 M, khalifah menunjuk Ibnu
Abi ‘Amir sebagai pemegang kekuasaan secara mutlak karena
usia khalifah pada waktu itu baru 11 tahun. Dia seorang
yang ambisius yang berhasil menancapkan dan melebarkan
kekuasaannya dengan menyingkirkan rekan-rekannya. Maka
atas keberhasilannya ia mendapat gelar al-Manshur Billah.
(Watt, 1990: 217-218)

1. Periode Muluk al-Tawaif


Dalam perkembangan selanjutnya, Spanyol terpecah
menjadi lebih 30 negara-negara kecil di bawah peme-
rintahan raja-raja golongan atau Muluk al-Tawaif yang
berpusat disuatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo dan
sebagainya. Yang terbesar di antaranya adalah Abbadiyah
di Seville. Pada masa ini, ummat Islam kembali memasuki
masa pertikaian intern. Jika terjadi perang saudara diantara
pihak-pihak yang bertikai, mereka meminta bantuan pada
raja Kristen. Melihat keadaan dan kelemahan yang menimpa
Islam, untuk pertama kalinya orang-orang Kristen
mengambil inisiatif penyerangan. Meskipun kehidupan
politik tidak stabil, tetapi kehidupan intelektual terus
berkembang pada periode ini. Istana-istana mendorong para
sarjana dan sastrawan untuk mendapatkan perlindungan
dari satu istana ke istana lainnya. (Bertold Spider, 1960:
108),
Pada perkembangan selanjutnya, Spanyol terpecah
menjadi beberapa negara, tetapi terdapat suatu kekuatan
yang dominan yaitu Dinasti Murabbithun (1086-1143 M)
dan Dinasti Muwahhidun (1145-1235 M).

148
Islam Di Andalusia

Setelah berakhirnya kekuasaan Murabithun yang


berkuasa 25 tahun, Andalusia kembali dikuasai oleh dinasti-
dinasti kecil, sampai akhirnya datang orang-orang Mu-
wahhidun di bawah khalifahnya Abu Ya’cub Yusuf (1170-
1223 M) (Nasution, 1992 : 121). Kemudian Nasyiriah di
Granada merupakan entitas politik Islam terakhir yang
mampu bertahan di Andalusia sampai tahun 1492 M.

2. Reconquista (Penaklukan Kembali)


Penaklukan semenanjung Iberia oleh pihak Kristen.
Kemunduran invasi muslim di Spanyol mulai berlangsung
semenjak kekalahan mereka dalam perang Covadonga pada
102 H/720 M oleh serangan komando pelayo dari Austria.
Kekalahan ini dilanjutkan dengan kekalahan yang me-
nentukan nasib mereka dalam perang Tours tahun 114 H/
732 M dalam menghadapi Charles Martel.
Visigoht yang terdesak oleh invasi bangsa Arab Barbar
mencari perlindungan kepada pelayo di Austria, mereka
mengangkat sebagai raja mereka dan menjadikan propinsi
Austria sebagai wilayah pemerintahannya terlepas dari
pemerintahan muslim yang menguasai seleuruh wilayah
Spanyol. Dari wilayah ini dan dari bagian timur Spanish
March, yakni sebuah wilayah perbatasan yang dibentuk oleh
suku Franks, mulai merencanakan gerakan pertentangan
terhadap penguasa muslim di Spanyol, yang akhirnya
pertentangan ini berkembang menjadi gerakan Reconquest
(Gerakan penaklukan kembali).
Bersamaan dengan penyebaran ini dari Austria,
tumbuhlah kubu pertahanan yang berpusat di Burgos. Ia
merupakan wilayah pertama yang disebut Castilla, wilayah
berbenteng. Tonggak awal gerakan reconquest ini berkaitan

149
erat dengan Legends Santiago Matamor, yakni St. James yang
digelari Killer of Moor (pembunuh muslim di Spanyol), yang
tampil sebagai perjuangan pertahanan Kristen dalam
sejumlah pertempuran kecil. Makamnya ditemukan di Galicia
pada akhir abad ke-2/8 dan ia diyakini memberi bantuan
kepada pihak Kristen dalam sejumlah peperangan mereka.
Perkembangan kerajaan Kristen sekitar abad ke 4 H/
11 M bersamaan dengan kemunduran dinasti muslim di
Cordova. Kemunduran ini berlangsung sepeninggal
Abdurrahman III dan al-Mansur Billah dan pemerintahan
Islam dalam keadaan desintegrasi yang mengalami
perpecahan menjadi sejumlah kesultanan kecil yang disebut
Thawa’if. Persaingan di antara mereka bersamaan dengan
ketidakmampuan sejumlah penguasa dalam menciptakan
keadaan stabil, merupakan faktor-faktor pendukung
kehancurannya. Sampai pada saat itu gerakan recinquest
berjalan dalam sejumlah pertumbuhan kecil, dan kemudian,
gerakan ini memasuki fase baru dengan gerakan yang sangat
menonjol, ia mengalahkan Leon dan ia segera memprakasai
kesatuan pertahanan untuk menghadapi pihak muslim yang
berkuasa di Spanyol.
Penaklukan kota Toledo pada tahun 478 H/1085 M,
sebuah kota yang tetap dipertahankan lamaran posisinya yang
strategis dan membuka kesempatan bagi Alfonso untuk
menjalin hubungan dengan Emir. Hal ini menimbulkan
keprihatinan pihak penguasa Thawai’f lainnya akan adanya
ancaman. Untuk itu mereka meminta bantuan ke Afrika
Utara. Sikap semacam, ini menimbulkan ancaman besar
sebab mereka sama halnya mendatangkan kekuatan asing
ke Spanyol. Atas nama khalifah al-Mu’tashim, pejabat
wilayah gubernuran Abbasiyah di Saville berkata: “Saya tidak

150
Islam Di Andalusia

ingin mencampuri secara langsung terhadap Kristen dan saya


juga tidak ingin umat Islam diremehkan. Jika saya mesti
memilih, niscaya saya lebib suka menjadi kandang untak
kalangan al­Moravids daripada menjadi padang rumput babi-
babi di bawah kekuasaan pihak Kristen”.
Bantuan untuk Sultan-sultan di Spanyol datang dari
penguasa al-­Moravids di Afrika Utara, yakni Yusuf Ibn
Tasyfin dan is berhasil menyatakan kekuatan muslim,
sehingga mereka berhasil memasuki militer Kristen pada
pertempuran di al-Zallaqah (Sagrajas yang berdekatan
dengan Badajoz) pada tahun 476/1086. Tidak lama
kemudian terbentuklah kelompok ksatria di Calatrava,
Santiago dan al-Cantara, yang akhirnya semakin memperkuat
posisi pasukan Salib. Di Portugal Alfonso I secara mutlak
menaklukkan wilayahnya sendiri pada tahun 543/1148
dengan bantuan pasukan Salib Inggris, Perancis dan Jerman.
Selama masa dominasi Perancis, pihak gereja mengambil
sejumlah peribadatan ala bangsa Romawi ke dalam istana
Visighotic, yang menandai bahwasanya negeri ini sekarang
benar-benar menjadi bagian dari Eropa dan tidak lagi sebuah
negeri yang berdiri sendiri.
Untuk melawan kekuatan al-Mohads, sebuah dinasti
yang mengalahkan al-Moravids, kerajaan-kerajaan kecil
Spanyol mengadakan persekutuan dan membentuk bantuan
gabungan dari Castille, Aragon, Navarre dan jugs bergabung
kembali dengan militer Portugis. Mereka berhasil me-
ngalahkan al-Mohads (al­Murabithun) pada pertempuran Las
Navas de Tolosa pada 609/1212, sebuah pertempuran yang
sangat penting dalam gerakan reconquest, yang pada akhirnya
menyebabkan kehancuran Cordova pada tahun 634/1236
dan kehancuran Seville pada tahun 646/1248. Satu-satunya

151
pernerintahan muslim adalah Granada yang pada saat itu
bernaung di bawah kedudukan Cadiz sebagai negara
pembayar upeti. Benteng pertahanan muslim setelah
ditundukkan pada pertempuran di Las Navas, sekarang
pertahanan mereka tinggal berada di sekitar lokasi Biara di
Las Huelgas Realis di Bugles.
Dengan terbentuknya kesatuan Spanyol di bawah raja-
raja Katolik, yakni Ferdenand dan Isabella, tibalah saatnya untuk
menyatukan mereka dalam barisan, kemudian terjadilah sebuah
kejutan besar, ketika serangan pasukan Kristen dalam jumlah
yang sangat besar terhadap Granada berhasil dihindarkan. Pada
perkemahan San Fe, Isabella bersumpah bahwasanya ia tidak
akan melepaskan pakaiannya sampai Granada ditaklukkan.
Sebuah sumpah yang menyebabkan kesulitan baginya. Sebab
ternyata Granada tetap bertahan selama dua tahun lebih. Pada
tahun 1492 Granada yang merupakan kerajaan muslim terakhir
di Spanyol menyerah. Pada pertengahan abad ke 16 muslim
Spanyol mengerahkan aksi pemberontakan terakhir yang
berusaha merebut kembali kekuasaan atas Granada, tetapi tidak
berhasil. Pada tahun 1619 warga Moors (muslim Spanyol
keturunan Arab) secara sewenang-wenang dipaksa me-
ninggalkan Islam dan memeluk agama Islam, atau mereka harus
meninggalkan Spanyol. Sejumlah mereka bertahan menjalankan
ajaran Islam secara sembunyi-sembunyi bahkan bisa jadi
berlangsung sampai sekarang. Pada masa sekarang ini sejumlah
group etnis seperti Maragatos-Astorga de Leon merupakan
keturunan kelompok Mooris.

3. Dinasti Murabithun
Murabithun adalah sebuah nama dari dinasti yang
pernah berkuasa di Maghrib (Afrika Utara) yang pada

152
Islam Di Andalusia

mulanya hanya merupakan sebuah gerakan keagamaan tapi


pada akhirya menjelma menjadi kekuatan politik dan militer
yang menakjubkan yang dilatarbelakangi oleh rasa fanatisme
agama yang sangat kuat. ( Depag, 1992 : 692) Dinasti ini
didirikan oleh suku Lamtuna, salah satu cabang dari suku
Barbar di Sanhaja dari Sahara yang terletak di antara Maroko
Selatan. (Mahmudunnasir, 1991: 319). Berdasarkan catatan
sejarah Lamtuna masuk Islam pada abad ke-3 hijriyah.
(Mahmudunnasir, 1991:319)
Cikal bakal berdirinya Dinasti Murabithun dimulai
pada tahun 1039 M yaitu ketika beberapa kepala suku Barbar
Sanhaja yang dipimpin oleh Yahya Bin Ibrahim (H. A. Hafidz
Dasuki, 1993: 299) mendirikan ribat bersama Abdullah Bin
Yasin. Orang-orang yang belajar di sini disebut Murabithun.
(Watt, 1990: 251) Ketika pengikut Murabithun mencapai
1.000 orang, mereka menjelma sebagai kekuatan besar yang
berupa perpaduan antara gerakan keagamaan, politik dan
militer yang sangat dahsyat. Sejak saat itu dimulailah
penaklukkan-penaklukkan terhadap suku-suku Barbar
termasuk beberapa suku Negro di Afrika agar mereka masuk
Islam. Tidak kemudian Murabithun dapat menguasai seluruh
Afrika Utara bagian Barat bahkan sampai ke Spanyol.
Tahun 1062 M, ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan
yang berpusat di Marakesy. Ia masuk ke Spanyol atas
“undangan” penguasa-penguasa Islam di sana yang tengah
memikul beban berat perjuangan mempertahankan negeri
­negerinya dari serangan-serangan orang Kristen. Ia dan
tentaranya memasuki Spanyol pada tahun 1806 M dan
berhasil mengalahkan pasukan Castilla.
Prestasi Yusuf bin Tasfin yang sangat gemilang adalah
ketika ia berhasil menguatkan kembali posisi umat Islam di

153
Spanyol dari ancaman-ancaman raja Kristen. Kedatangan
Murabitun ke sana berdasarkan undangan Amir Cordova,
Al­Mu’tamid yang terancam kekuasaannya oleh Alfonso VI,
Raja Castile Leon. Dalam menjalankan rencananya tadi ia
mendapat dukungan penuh dari Muluk at-Tawai’f (raja-raja
kecil) Islam yang masih di Spanyol (HA Hafidz Dasuki,
1993:299). Pada tanggal 23 Oktober 1086 Murabitun berhasil
mengalahkan Alfonso VI dengan kekalahan yang sangat
memalukan. Dalam pertempuran yang berlangsung di az-
Zallaqah dekat Badjoz itu Murabitun berhasil menawan sekitar
20.000 orang dan menewaskan sebagian besar tentara Alfonso
VI. Kepala-kepala tentara yang meninggal tadi dijadikan menara
oleh Murabitun ditambah lagi dengan pengapalan sekitar 40.000
kepala menyeberangi selat Jabal Tariq untuk dijadikan tropi
(Philip, K. Hitti, 1970:541) kemenangan mereka. Sejak
kemenangan besar ini Yusuf bin Tasfin menggunakan gelar
Amin al-Muslimin (HA Hafidz, 1933:300) Keberhasilan Yusuf
dan bala tentaranya dalam menaklukkan kembali Spanyol. Tidak
lama setelah itu orang-orang Barbar datang lagi ke Eropa, tapi
kali ini bukan untuk membantu memerangi orang-orang Kristen,
melainkan sebagai penakluk. Pada tahun 1090 mereka
memasuki Granada dan setelah itu Seville. Setelah penaklukan
tadi Yusuf menganeksasi seluruh kekuasaan Muluk at-Tawai’f
dan Mu’tamid Serta mengintegrasikan wilayah-wilayah tadi ke
dalam kekuasaan Murabitun, kecuali Toledo yang ketika itu
berada di tangan orang-orang Kristen dan Sargosa di bawah
kekuasaan Banul Hod (Stanley Lance Poole, 1986:43)
Daulah Murabitun dalam menjalankan pemerintahan
tidak terikat dengan Bani Abbas di Baghdad, tetapi dalam
masalah keagamaan ia masih mengaku kekuasaan spritual
Khalifah Bani Abbas.

154
Islam Di Andalusia

Sepeninggal Yusuf bin Tasfin, Murabitun secara


berturut-turut diperintah oleh Yusuf (1106-1143), Tasfin
bin Ali (1143-1146), Ibrahim bin Tasfin (1146), dan Iahak
bin Ali (t 146-1147) (Philip Kristen, Hitti, 1970:545). Ali
melanjutkan politik ekspansi ayahnya dan ia berhasil
mengalahkan anak Alfonso VI dalam suatu pertempuran
pada tahun 1108. Masih dalam usaha ekspansi, ia
menyeberang ke Spanyol sebanyak tiga kali dalam rangka
untuk melanjutkan usaha ekspansi tadi. Salah satu tujuannya
adalah untuk merampas Talavera de le Rein dan Lambra,
meskipun usaha untuk merebut daerah terakhir tadi
mengalami kegagalan.
Lambat laun mereka mengalami kemerosotan dan
usaha-usaha mempertahankan dan melanjutkan ekspansi
hampir selalu mengalami kegagalan. Ali bin Yusuf sendiri
pada tahun 1129 kalah dalam pertempuran di Cuhera. Untuk
meningkatkan semangat pasukannya ia menunjuk anaknya.
Tasfin bin Ali sebagai gubernur Granada dan Almeria. Di
samping itu, penunjukkan anaknya tadi dimaksudkan untuk
mempertahankan diri dari serangan-serangan Alfonso VII.
Kemerosotan usaha ekspansi tadi antara lain
dilatarbelakangi oleh (1) lemahnya elit politik Murabitun,
karena sejak meninggalnya Yusuf bin Tasfin dan Ali bin
Yusuf, Murabitun dipimpin oleh penguasa-penguasa yang
lemah (2) perubahan sikap mental mereka yang tidak siap
menerima perubahan yang sangat drastis, terutama dalam
menghadapi kekayaan yang sangat melimpah (3) timbulnya
kelompok-kelompok desiden di Spanyol baik dari kalangan
orang Islam sendiri, maupun dari kalangan orang-orang
Kristen yang selalu berusaha menaklukkan dan merampas
Spanyol dari tangan orang Islam. Pada saat jihad dikalangan

155
mereka dalam titik puncak. Di kalangan umat Islam
(Murabitun) justru sebaliknya. Hal ini terjadi karena motivasi
agama dalam ekspansi belakangan sangat kecil dibandingkan
motivasi penjarahan untuk mendapatkan kekayaan tadi.
Motivasi penjarahan tadi menurut Watt menambah semangat
orang-orang keturunan Visighot untuk merampas Spanyol
dari orang-orang Islam dan melepaskan diri dari pengaruh
hukum-hukum asing (W. Montgomery Watt, 1990:67-69).
Di samping itu Murabitun juga menghadapi tantangan dari
orang Islam yang tidak setuju dengan penerapan hukum Fiqih
secara kaku, karena menurut mereka hal itu membawa
kebekuan. Dalam r mgka menghadapi tantangan ini
Murabitun membakar semua buku-buku al-Ghazali baik yang
di Magrib maupun yang di Sapnyol, karena bagi mereka
bertentangan dengan fiqih Maliki yang mereka anut. Akibat
hal-hal di atas Murabitun lambat laun mengalami des-
integrasi politik, salah satunya adalah pergolakan yang
dipelopori oleh suku Masmuda di bawah pimpinan
Muhammad bin Tumart, gerakannya dinamakan Mu-
wahhidun. Gerakan ini akhirnya dapat menaklukkan
Murabitun. Pada tahun 571 H/1146-1147 M Jenderal Abdul
Mukmin, panglima Muwahhidun berhasil menyapu bersih
seluruh kekuasaan Murabitun di Afrika yang ditandai dengan
pembunuhan Ishak bin Ali, penguasa terakhir Murabitun.
Dengan demikian berakhirlah masa kekuasaan Murabitun
dari muka bumi.

4. Dinasti Muwahhidun
Muwahhidun yaitu orang-orang yang menganut paham
Tauhid (Unitarian). Istilah ini dipakai sebagai sebutan bagi
pengikut Abu Abd. Allah Muhammad Ibn Tumart (1058-

156
Islam Di Andalusia

1130). Beliau mendakwahkan dirinya sebagai al­Mahdi dan


menentang kekafiran serta paham anthropomophisme. Pada
mulanya gerakan ini adalah sebuah gerakan keagamaan yang
kemudian menjelma sebagai kekuatan politik sebagaimana
halnya Murabithun. (Hitti, 1970: 546) Ibnu Tumart
menjadikan Tainmal sebagai pusat kegiatannya. Kota ini
dijadikan sebagai pusat dakwah Muwahhidun sampai
dikuasainya Marakesh tahun 1146 (Depag/Ensiklopedia Is-
lam, 1987 : 652-653) Di kota ini Ibnu Tumart mendirikan
sebuah masjid. (Broklman, 1968: 325)
Ibnu Tumart wafat tahun 1130 M, kedudukannya
kemudian digantikan oleh Abd. al-Mukmin Ibnu Ali
(Broklman, 1968: 326) Abd. al-Mukmin berasal dari suku
Zanatah dan dialah pendiri dinasti Muwahhidun. Langkah
pertama yang dilakukan adalah menundukkan kabilah-
kabilah di Maroko dan mengakhiri kekuasaan dinasti
Murabithun. Pada tahun 1144 – 1146 M, pasukan Mirabitun
di Tlemmcem berhasil dikalahkannya kemudian menduduki
Fez, Cuta, Tangier, dan Aghmat. Pada tahun 1146 – 1147
kota Marakesh, pusat kerajaan Murabithun berhasil
direbutnya setelah pengepungan selama 11 bulan dan
penguasa terakhir Murabithun, Iskhak bin Ali dibunuh,
akhirnya Marekesh dijadikan sebagai ibukota dinasti
Muwahhidun. Sementara itu Spanyol dikuasainya pada tahun
1145 dari Murabithun (Hippo, 1970:546).
Setelah kekuasaan Murabithun jatuh ke tangan
Muwahhidun, Abd. Al-Mukmin mener uskan upaya
menaklukkannya. Pada tahun 1152 al-Jazair dapat dikuasai
dari dinasti Hammad, Tuniaia direbut tahun 1158 dari tangan
dinasti Zir dan selanjutnya terus ke Tripoli dan akhirnya ia
mampu menyatukan wilayah pantai dari perbatasan Mesir,

157
pulau-pulau di Taman Atlantik dan Andalus berada di bawah
kekuasaan Muwahhidun (Lane Pool, 1986:46). Ini
merupakan prestasi besar dimana baru pertama kali dalam
sejarah Islam, wilayah kekuasaan membentang dari pulau-
pulau di Atlantik sampai ke perbatasan Mesir dan Andalus,
berada di bawah satu kekuasaan (Hitti, 1970:540).
Abd. al-Mukmin wafat tahun 1163 dan digantikan oleh
putranya bernama Abu Ya’kub Yusuf ibn Abd al-Mukmin
yang berkuasa sampai tahun 1184. Ia melanjutkan siasat
ayahnya. la berhasil mematahkan pemberontakan Marzadh,
memerangi orang-orang Kristen di Andalus dan menguasai
Toledo tahun 1170. Yusuf mempunyai pasukan dari bangsa
Arab, Afrika, Masmudah, Charnuah, Sonhaja dan Aurrabah
mendarat di Marsa (Jabal Tarik) dan menguasai Syantarin,
kemudian menyerbu ke kota Lisabon tapi gagal karena
dipukul mundur tentara Kristen. (Depag/Ensiklopedi Islam
11, 1987:653).
Pengganti Abu Ya’kub adalah Abu Yusuf Ya’kub al-
Mansur (1184 –1199). Ketika orang-orang Kristen menekan
orang-orang Islam di Andalus, untuk menghadapinya al-
Mansur datang ke Syantarin dan berjalan ke Lisabon dan
sekitarnya dan kemudian kembali ke Maroko setetelah
menawan 13.000 orang Kristen (Ensiklopedi Islam It,
1987:683) Pada bulan Juli 1195, al-Mansur berhasil
mematahkan kekuatan Alfonso VII, setelah berhasil
menguasai benteng Alarcos (Watt, 1992:107). Dari masa Ibnu
Tumart sampai dengan pemerintahan al-Mansur merupakan
masa-masa kegemilangan Daulah Muwahhidun. Upaya
perluasan wilayah yang mereka lakukan berhasil dengan baik.
Akhirnya mereka menguasai kekuasaan yang luas. Pe-
ninggalan dinasti Muwahhidun dimasa jayanya adalah

158
Islam Di Andalusia

bangunan menara Giralda dan sebuah masjid besar. Di


Maroko dibangun Ribath al-Fath, sementara di Marakesh
dibangun sebuah rumah sakit yang tidak ada bandingannya
di zaman itu.
Sementara itu di zaman pemerintahan Abu Ya’kub
Yusuf ibn Al-mukmin hidup orang-orang terkenal seperti
Abu Ishak Ibrahim ibn Abd al-Malik (ibn Mulkun) seorang
ahli al-Qur’an dan Nahwu, Abu Bakr Ibnu Zuhr seorang ahli
kedokteran, al-Hafidz, Abu Baker ibnu al-Jed dikenal
sebagai ahli fiqih. Marakesh pada waktu itu menjadi pusat
kebudayaan Islam (Ensiklopedi Islam II, 1987:653).
Sepeninggal Abu Yusuf Ya’kub al-Mansur, Mu-
wahhidun memasuki kemundurannya, karena para Khalifah
sesudahnya tidak mampu mempertahankan apa yang telah
diwariskan oleh pendahulunya. Bersamaan dengan
kemunduran Muwahhidun, pasukan Salib telah dikalahkan
oleh Salah al-Din di Palestina kembali ke Eropa dan mulai
menggalang kekuatan baru di bawah pimpinan Alfonso.
Pasukan ini menyerang Andalusia. Mereka berhasil
mengalahkan kekuatan muslim Muwahhidun. (Ali,
1996:314). Dalam pertempuran al-Uqab di Las Nafas de
Talosa tahun 1212, pasukan Kristen di bawah pimpinan
Alfonso VIII mengalahkan pasukan Muwahhidun. Khalifah
Muhammad al-Natsir meninggalkan Andalusia dan kembali
ke Maroko (Hitti, 1970:654). Semenjak itu Daulah
Muwahhidun mulai kehilangan pengaruh di Andalusia
maupun di Afrika (Ensiklopedi Islam II, 1987:654).
Masing-masing propinsi melepaskan diri dari keuasaan
Muwahhidun dan memproklamirkan sebagai Daulah yang
merdeka. Tahun 1228 berdiri Daulah Bani Hafs di Tunisia
dan diikuti oleh Daulah Bani Ziyan di Aljazair dengan ibn

159
kotannya Tlecem tahun 1235 (Lane Pool. 1986:49-51).
Akhirnya Daulah Bani Marie dari bangsa Barbar dari suku
Zanatah menghabiai mereka dan merebut kota Marakesh
tahun 1269 (Hitti, 1970:549).

5. Bani Ahmar
Bani Ahmar berkuasa di Granada tahun 1232 – 1492.
Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti dizaman
Abdurrahaman al-Natsir, akan tetapi secara politik dinasti
ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Kekuasaan Islam
yang merupakan pertahan terakhir di Spanyol berakhir karena
perselisihan orang-orang Islam dalam memperebutkan
kekuasan. Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang
kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain sebagai
penggantinya menjadi raja. Dia memberontak dan berusaha
merampas kekuasaan. Dalam pemberontakan itu, ayahnya
terbunuh dan digantikan oleh Muhammad ibn Sa’ad. Abu
Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdenand dan
Isabella untuk menjauhkannya. Dua penguasa Kristen ini
dapat mengalahkan penguasa yang sah. Dan Abu Abdullah
naik tahta (Ahmad Syalabi, 1979:76).
Ferdenand dan Isabella yang mempersatukan dua
kerajaan besar Kristen melalui perkawinan itu tidak merasa
puas. Keduanya ingin merebut kekuasan terakhir umat Is-
lam di Spanyol, Abu Abdullah tidak kuasa menahan
serangan­serangan orang Kristen tersebut dan pada akhirnya
mengaku kalah. Ia menyerahkan kekuasaan kepada
Ferdenand dan Isabella, kemudian hijrah ke Afrika Utara.
Deegan demikian beralchirlah kekuasaan Islam di Spanyol
tahun 1492 M. Umat Islam setelah itu dihadapkan kepada
dua pilihan, masuk Kristen atau meninggalkan Spanyol.

160
Islam Di Andalusia

Tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi di daerah ini


(Harun Nasution, 1985:620).

6. Perkembangan Peradaban
Pada masa Abdurrahman al-Dakhil, perekonomian rakyat
ditingkatkan dengan memperkenalkan siatem irigasi yang ditata
secam modern sehingga membawa hasil yang melimpah ruah.
Orang-orang Arab memperkenalkan pengaturan hidrolik untuk
tujuan irigasi. Kalau dam digunakan untuk mengecek curah air,
waduk (kota m) dibuat untuk konservasi (penyimpanan air).
Pengaturan hidrolik itu dibangun dengan memperkenalkan roda
air (water wheel) asal Persia yang dinamakan Na’urah. Di samping
itu orang-orang Islam memperkenalkan pertanian dan tanam-
tanaman baru seperti Citroen, kapas, tebu dan padi, perkebunan
jeruk, disamping tanaman lokal yang sudah ada (Lewia,
1990:130). Industri dan perdagangan terus dipacu. Tekstil,
keramik kayu, kulit, logam, tembikar dan pertambangan emas,
perak, dibangun pabriknya dimana-mana. Ekspor barang-barang
dagangan merambah di wilayah laut tengah. (Lewia, 1994:131).
Pembangunan-pembangunan fisik yang sangat
menonjol adalah pembangunan gedung-gedung seperti
pembangunan kota, istana, masjid, pemukiman dan taman-
taman. Di antara pembangunan yang megah adalah masjid
Cordova, kota al-Zahra, Istana Ja’fariyah di Saragosa,
tembok Toledo, Istana al-Makmun, masjid Seville, istana al-
Hamra di Granada.
a. Cordova
Cordova adalah ibukota Spanyol sebelum Islam yang
kemudian diambil alih oleh Bani Umayyah, penguasa muslim
membangun dan memperindah kota.

161
Taman-taman dibangun untuk menghiasi ibu kota
Spanyol. Pohon-pohon dan bunga-bunga diimport dari Timur.
Di seputar ibu kota berdiri istana-istana yang megah. Setiap
istana, dan taman diberi nama tersendiri dan di puncaknya
terpancang istana Damsyik.
Di antara kebanggaan kota Cordova lainnya adalah
masjid Cordova. Menurut Ibn al-Dala’i, terdapat 491 masjid
di sana. Di samping itu, ciri khusus kota-kota Islam adalah
adanya tempat-tempat pemandian di Cordova saja terdapat
sekitar 900 pemandian, di sekitarnya berdiri perkampungan-
­perkampungan yang indah. Karena air sungai tidak dapat
diminum, penguasa muslim mendirikan saluran air dari
pegunungan yang panjangnya 80 km.
b. Granada
Granada adalah tempat pertahanan terakhir umat Is-
lam di Spanyol. Di sana berkumpul sisa-sisa kekuatan Arab
dan pemikir Islam. Posisi Cordova diambil alih oleh Granada
dimasa-masa akhir kekuasaan Islam di Spanyol. Ar-
sitektur­arsitektur bangunannya terkenal di seluruh Eropa.
Istana al-Hamra yang indah dan megah adalah pusat dan
puncak ketinggian arsitektur Spanyol Islam. Istana itu
dikelilingi taman-taman yang tidak kalah indahnya.
Kisah tentang kemajuan pembangunan fisik ini masih
biaa diperpanjang dengan kota dan istana al-Zahra, istana
al-Gazar, menara Girilda dan lain-lain.
Prestasi yang dicapai umat Islam Spanyol pada masa
pemerintahan al-Dakhil merupakan masa yang penting bagi
kemajuan pada era berikutnya. Kemajuan itu bagaikan
sepotong surga di benua Eropa yang memungkinkan Islam
membangun peradaban yang mengagumkan dan mengundang
daya tarik negara­negara sekitarnya. Dengan stabilitas politik,

162
Islam Di Andalusia

ekonomi, dan sosial, al-Dakhil dapat mendirikan masjid


Cordova dan sekota h-sekota h di kota-kota besar. Para
penerus dinasti ini melanjutkan peradaban yang telah dirintis
oleh al-Dakhil, seperti Hakam yang dikenal berjasa
menegakkan hukum Islam, dan pembaham di bidang militer.
Dialah yang memprakasai tentara bayaran di Spanyol.

7. Perkembangan Intelektual
Spanyol Islam tampil sebagai mercusuar di saat alam
pikiran di belahan bumi Eropa yang lain sedang dilanda krisis
kreatifitas, diliputi tahayul dan taklid karena Eropa tengah
berada pada masa kegelapannya. Melihat realitas ini kaum
muda Kristen yang haus akan ilmu pengetahuan datang dan
belajar; dengan antusias mereka menimba ilmu pengetahuan
datang dan belajar; dengan antusias mereka menimba ilmu
pengetahuan dari orang-orang Islam melalui institusi-
­institusi pendidikan dan ilmu pengetahuan yang formal
maupun non formal yang jumlahnya besar dan tersebar luas
di kota-kota Spanyol seperti Cordova, Toledo, Seville,
Malaga, Granada dan Salamanca. Faktor cepatnya
perkembangan ini adalah dihargainya kebebasan berfikir dan
kaedah-kaedah ilmiah. Keadaan ini berlangsung beberapa
abad lamanya.
Banyak lahir para ilmuwan di berbagai bidang ilmu baik
dari bangsa Arab, maupun non Arab. Peradaban Islam di
Spanyol telah memberikan kontribusi terbadap kebangkitan
kembali kebudayaan Yunani klasik pada Abad ke­14 Masehi.
Orang-orang Kristen banyak berdatangan ke Spanyol baik
untuk belajar maupun menterjemahkan buku Arab ke dalam
bahasa Latin. Bagian terbesar dari pustaka Greek kuno, yang
pertama kali dikenal orang Barat adalah terjemahan-

163
terjemahan yang ditemukan di Spanyol (Lewis: 1994:134).
Seiring dengan tuntutan pembangunan di Spanyol
maka kebutuhan akan ilmu pengetahuan semakin membesar,
oleh karena itu khalifah Hakam II mendatangkan para ahli
dari Timur, sehingga memperlancar proses transfer ilmu dan
memperluas penyebarannya di sana.
Sejarah mencatat bahwa Abdurrahman III, mem-
bangun perpustakaan yang memiliki koleksi buku mencapai
600.000 jilid, suatu jumlah yang fantastis dikala itu. Pada
masa keemasan Islam, tercatat tidak kurang dari 70
perpustakaan yang tersebar di seluruh penjuru negeri, maka
Spanyol menjelma menjadi pusat pengetahuan, baik pada
masa Bani Umayyah dan pada masa sesudahnya. Kemajauan-
kemajuan ilmu dan kebudayaan yang pernah terjadi di Spanyol
Islam.
a. Kemajuan Ilmu Agama
Kemajuan ilmu Agama di Spanyol berawal dari
kepindahan beberapa orang sahabat dan tabi’in bersama Musa
bin Syair, ketika memerangi dan menaklukan Spanyol, di
antaranya adalah al-Munzir, Musa bin Syair, Ali bin Rabah
dan Hanasy bin Abdullah al-Shan’ani. Mereka adalah para
tentara disamping seorang alim yang memiliki pengetahuan
keagamaan yang mendalam. Dari mereka inilah tumbuh dan
berkembangnya cabang ilmu agama setelah karya­karyanya
diterjemahkan ke dalam bahasa Barbar. (Amin, 1953:48)
Puncak kemajuan dan kejayaan Islam di Spanyol
ditandai dengan munculnya ulama-ulama kenamaan yang
masing-masing membidangi berbagai disiplin ilmu agama.
Di antaranya ahli Hadits dan Fiqih seperti Ibn Hazm (Wafat
456 H), Abdullah bin Yasin (453) dan pada abad ke-6 H,
Muhammad bin Tumart, Ya’kub al-Mansur (595 H), Abu

164
Islam Di Andalusia

Umar Yusuf bin Abubarr (463 H), Abu al-Walid ibn Rusyd,
Ibn Ashim dan Ali al-Husain ibn Ahmad al-Ghassani (498
H) (Ibrahim, 1968:449).
Di zaman Abdurrahman I, ilmu Fiqih berkembang
apalagi setelah masa al-Auza’i dikenal sebagai ulama Fiqh,
namanya terkena) di propinsi-propinsi Spanyol. Dalam
bidang Fiqih, Spanyol Islam dikenal sebagai penganut
Mazhab Maliki, yang diperkenalkan oleh Ziyad ibn Abd. al-
Rahman. Di antara murid Imam Malik yang terkenal adalah
Abdul Malik ibn Habib al-Sulami, Yahya ibn Yahya al-Laisy
dan Isa ibn Binar. Yahya ibn Yahya dikenal sebagai ulama
Fiqih dia juga menjabat Qadhi al-Qudhat. Selanjutnya Faqih
lainnya Ibn Rusyd dengan karyanya Bidayatul Mujtahid.
(Amin, 1953:52)
Di bidang ilmu Kalam dikenal nama Ibn Hazm, ia
banyak mengoreksi dan menyanggah aliran-aliran Islam.
Philip Kristen Hitti menyebutnya sebagai ulama besar yang
berfikir orisinil di Spanyol (Hitti, 1970:558)
Ilmu Agama lain yang turut mewarnai kejayaan
peradaban di masa itu yaitu Tasawuf diantara tokoh yang
terkenal Ibn Massarah, seorang keturunan Cordova yang
berfaham Mu’tazilah. Ia mewariskan ilmu-ilmu kepada
murid­muridnya seperti al-Hasyimi, Abu Bakar, dan Muhi
al-Din ibn al-Araby. Nama yang terakhir ini dikenal sebagai
sufi besar dengan konsep tasawufnya wahdatul wujud (Amin,
1953:70).
b. Kemajuan Ilmu Bahasa
Tokoh-tokoh yang terkenal dalam ilmu bahasa Ibn
Hasan al-Zubaydi, murid al-Qilli yang dilanjutkan oleh
Suyuti dalam kitabnya Munzhir. Di antara ilmu bahasa yang
terkenal Abu Ali al-Qilli, Abdurrahman al-Mashir, Al-Hakam

165
al-Mustansir dengan karya al-Kamil al-Lughah dan al-Amalfi
dan Yahya ibn Daud seorang ahli Tata Bahasa yang beragama
Yahudi (Hitti, 1970:558).
Bahasa Arab telah menjadi bahasa Administrasi dalam
pemerintahan Arab di Spanyol, hal itu dapat diterima oleh
orang Islam dan non Islam. Orang Spanyol sendiri banyak
yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab, seiring dengan
kemajuan bahasa karya-karya sastra banyak bermunculan
seperti al-’Iqd al-Farid karya Ibn Abd Rabbih, al-Dzakhiroh
fi Mahasin ahl al-Jaziroh oleh Ibn Bassam, kitab al Qalaid
karya al-Fath ibn Khaqan.
c. Kemajuan filsafat dan Sains
Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya
yang sangat briyan dalam bentangan sejarah Islam. Minat
terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani mulai
dikembangkan pada abad ke 9 M selama pemerintahan Bani
Umayyah ke lima, yaitu Muhammad ibn Abd al-Rahman
(832-886 M) (Madjid Fakhri, 1986:357)
Atas inisiatif al-Hakam (961-976 M), karya-karya
ilmiah dam filosofis diimport dari Timur dalam jumlah besar
sehingga Cordova dengan perpustakaan dan Universitasnya
mampu menyaingi Baghdad sebagai pusat utama ilmu
pengetahuan di dunia Islam.
Kemajuan di bidang Horn filsafat ditandai dengan
lahirnya tokoh-tokoh terkenal Ibn Bajjah, Ibn Tufail dan Ibn
Rusyd. Ibnu Bajjah dilahirkan di Saragosa tahun 1136 M,
karya yang terkenal adalah The Rule of The Solitary, dia
juga terkenal di bidang ahli Matematika, Astronomi dan
Musik.
Ibnu Tufait di Barat dengan nama Abu Bacer, ia lahir
di Granada, terkenal di bidang kedokteran di samping bidang

166
Islam Di Andalusia

filsafat. Karyanya yang terkenal Hay ibn Yaqdhan.


Ibnu Rusyd adalah filsafat besar yang berpengaruh di
Barat, ia dilahirkan di Cordova tahun 1126. Di Eropa dikenal
dengan nama Averoes. la tekenal juga di bidang Astronomi
dan Kedokteran. Averoes juga berjasa dalam membuat
ringkasan dan tafsiran-tafsiran filosof Yunani. Karyanya yang
terkenal adalah Tahafut al Tahafut dan Fashl al-Maqal (Hitti,
1970:583)
Sejalan dengan perkembangan filsafat, Sains me-
rupakan bidang yang sama-sama berkembang dengan pesat
di Spanyol Islam. Ilmu-ilmu kedokteran, Matematika,
Astronomi dan Kimia maju pesat. Abbas ibn Famas
termasuk dalam ilmu Kimia dan Astronomi, ialah orang
pertama yang menemukan kaca dan batu (Ahmad Syalabi,
1979:86). Ibrahim ibn Yahya al Naqqash terkenal dalam ilmu
Astronomi. Ia dapat menemukan waktu terjadinya gerhana
matahari dan menemukan berapa lama. Ia berhasil membuat
teropong modem yang dapat menemukan jarak antara tata
surya dan bintang-bintang. Abroad ibn Ibas dari Cordova
adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Umm al-Hasan binti
Abi Ja’far dan saudara perempuan al Hafidz adalah dua o-
rang ahli kedokteran dari kalangan wanita (Badri Yatim,
1995:102). Di antara ahli Astronomi lainnya yang mashur
saat itu adalah al Mariti dari Cordova, al Zuqoli dari Toledo
dan Ibn Aflad dari Seville. Al Majariti dikenal sebagai salah
seorang pakar yang berhasil mengedit dan mengkoreksi
perbintangan al Khawarizmi.
Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam
bagian barat melahirkan banyak pemikir terkenal. Ibn Jubair
dari Valencia (1145-1228 M, menulia tentang negeri-negeri
muslim Mediterania dan Sicilia dan Ibn Batuthah dari Tangier.

167
(1304, 1377 M) mencapai Samudera Pasai dan Cina. Ibnu
al-Khotib (1317-1374 M) menyusun riwayat Granada,
sedangkan Ibnu Khaldun dari Tunis adalah perumus filsafat
sejarah. Semua sejarawan di atas bertempat tingal di Spanyol
yang kemudian pindah ke Afrika (Bertold Spuller, 1960:112).
d. Kemajuan Seni dan Musik
Dalam bidang musik dan seni suara Spanyol Islam
mencapai kecermelangan dengan tokohnya Al-Hasan Ibn
Nafi yang dijuluki Zaryab. la terkenal sebagai pengubah lagu.
(Ahmad Syalabi, 1979:88)

8. Pangaruh Peradaban Spanyol Islam di Eropa


Kemajuan Eropa yang terus berkembang saat ini,
banyak berhutang budi pada khazanah ilmu pengetahuan
Islam yang berkembang di periode klasik. Memang banyak
saluran bagaimana peradaban Islam mempengaruhi Eropa,
seperti Sicilia dan perang Salib, tetapi saluran yang terpenting
adalah Spanyol Islam.
Periode kemajuan Islam Spanyol bersamaan waktunya
dengan abad kegelapan Eropa sebagaimana yang diakui oleh
H. MC. Nell, Eropa pada waktu itu mengalami masa surut.
Dan baru mulai sadar pada abad ke 11, setelah adanya
peradaban Islam di Timur dan Spanyol, melalui perang Sicilia
dan perang Salib, peradaban itu sedikit demi sedikit di bawa
ke Eropa. Eropa mulai kenal pada rumah-rumah sakit,
pemandian-pemandian umum, pemakaian burung dara untuk
mengirim informasi militer, bahan-bahan makanan timur,
seperti beras dan limun yang sampai saat ini masih berakar
pada kata aslinya Arab, juga kain-kain indah dari dunia Is-
lam. (Nasution, 1985: 74).

168
Islam Di Andalusia

Baru pada abad ke 12 para ilmuwan Barat tertarik pada


ilmu pengetahuan dan filsafat yang dipelajari melalui orang-
orang Arab. (Watt, 1995:85). Dalam universitas-universitas
pada abad 12 dan 13, sumber tulisan-tulisan (Curiculum)
berasal dari penulis Muslim. Intelektual Muslim telah berjasa
dalam mendirikan sekota h-sekota h latin selama kurang lebih
500 tahun dan berjasa membangkitkan Eropa menuju
Renaisance (Nakosteen, 1996:227).
Spanyol merupakan tempat paling utama bagi Eropa
menyerap peradaban Islam, baik dalam hubungan politik,
sosial maupun perekonomian dan peradaban antar negara.
Orang-orang Eropa menyeksikan kenyataan bahwa Spanyol
berada di bawah kekuasaan Islam jauh meninggalkan negara-
negara tetangganya Eropa, terutama dalam bidang pemikiran
dan Sains di samping bangunan Fisik (Hitti, 1970: 526-530)
yang terpenting diantaranya adalah pemikiran Ibn al-Rusyd
(1120-1198 M). Ia melepaskan belenggu taklid dan
menganjurkan kebebasan berpikir. Ia mengulas pemikiran
Aristoteles dengan cara memikat minat semua orang
berpikiran bebas. Ia mengedepankan Sunatullah menurut
pengertian Islam terhadap Pantaisme dan Anthropomor-
phisme (Kristen). Demikian besarnya pengabdiannya di
Eropa hingga dari Eropa timbul gerakan Aveorrisme (Ibn
Rusidysime) I menuntut kebebasan berpikir. Pihak gerja
menolak pemikiran rasional yang dibawa gerakan Aveorrisme
ini.
Berawal dari gerakan Aveorrisme inilah lahirlah
reformasi pada abad ke­16 M. Dan rasionalisme pada abad
ke-17 M (Poeradisastra, 1986: 67). Buku-buku Ibn Rusyd
dicetak di Venesia tahun 1481 M, 1482, 1483, 1489, dan
1500M. Bahkan edisi lengkapnya terbit pada tahun 1553

169
dan 1557 M. Karya-karyanyajuga diterbitkan pada abad ke-
16 di Napoli, Bologna, Lyonms dan Strasbourg, dan diawal
ke 17 M di Jenewa.
Pengaruh peradaban Islam, termasuk didalamnya
pemikiran Ibnu Rusyd, ke Eropa berawal dari banyaknya
pemuda-pemuda Kristen Eropa yang belajar ke universitas-
universitas Islam di Spanyol seperti Universitas Cordova,
Seville, Malaga, Granada dan Salamanca. Selama belajar di
Spanyol mereka aktif menterjemahkan buku-buku karya
ilmuwan-ilmuwan muslim, pusat penerjemahan itu adalah
Toledgo. Setelah pulang ke negerinya mereka mendirikan
sekota h dan universitas yang sama. Universitas Eropa yang
pertama adalah universitas Paria yang didirikan pada tahun
1231 M 30 tahun setelah wafatnya Ibn Rusyd. Diakhir zaman
pertengahan Eropa baru berdiri 18 buah universitas. Di dalam
universitas-universitas itu, ilmu yang mereka peroleh dari
universitas-universitas Islam diajarkan, seperti ilmu
kedokteran, ilmu pasti, dan filsafat. Pemikiran filsafat yang
banyak dipelajari adalah pemikiran al-Farabi, Ibnu Sina dan
Ibnu Rusyd (Zainal Abidin Ahmad , 1975: 148-149).
Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang
sudah berlangsung sejak abad ke-12 M itu menimbulkan
gerakan kebangkitan kembali (Renaisance) pusaka Yunani
di Eropa abad ke-14 M. Berkembangnya pemikiran Yunani
di Eropa kali ini, adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab
yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan kembali ke
dalam bahasa latin. (Bertens, 1963: 63-82)
Walaupun Islam akhirnya diusir dari negara Spanyol
dengan cara yang sangat kejam, tetapi ia telah membidani
gerakan-gerakan penting di Eropa. Gerakan-gerakan itu
adalah kebangkitan kembali kebudayaan Yunani klasik

170
Islam Di Andalusia

(Renaisance) pada abad ke-14 M yang bermula di Italia,


gerakan reformasi pada abad ke-16 M, rasionalisme pada
abad ke l7 M, dan pencerahan (Aufklaerung) pada abad ke
18 (Poeradiaastra, 1986: 77).

171
172
Bab X
Dinasti Abbasiyah

A. Pembentukan Dinasti Abbas


Sesuai pesan Ibrahim, Abu al-Abbas dan keluarganya
pergi ke Kufah. Mereka menuju Abu Salamah Al-Khalai,
salah seorang tokoh propaganda di Kufah. Akan tetapi, Abu
Salah merahasiakan kedatangan mereka. Menurut suatu
riwayat, Abu Salamah hendak mengalihkan khilafah kepada
Bani Ali. Sungguhpun demikian, tokoh-tokoh yang lain
setelah mengetahui kedatangan Abu Abbas dan keluarganya
segera membai’at Abu a]-Abbas. Abu Salamah sendiri,
meskipun terlambat, berbai’at pula kepada Abu al-Abbas.
Namun Abu al-abbas sudah mengetahui niat jahat Abu
Salamah (Ibrahim Hasan, 1976, h. 17). Pada tanggal 13
Rabi’al-Awwal 132 H, bai’at ‘am terhadap Abu al-Abbas
dilakukan di Masjid Kufah. Abu al-Abbas didampingi
saudaranya, Abu Ja’far dan pamannya, Daud ibn Ali, dengan
dibai’atnya Abu al-Abbas se bagai khalifah, maka secara de

173
facto maupun de jure terbentuklah dinasti Bani Abbas. Dalam
pidato pelantikannya Abu al-Abbas menyebut dirinya “al-
Saffah”. Kata ini kemudian populer sebagai gelar atau sebutan
bagi dirinya. Lalu apa arti kata al-saffah itu ?
Philip K. Hitti ( 1970) mengartikan kata al-saffah
sebagai the bloodshedder (penumpah darah). Menurut K. Hitti
kata itu telah menjadi julukan sekaligus ejekan bagi Abu al-
Abbas. Sebagian penulis mengartikan sebagai “al-Katsir al-
`athaya” (orang-orang yang dermawan). Pendapat pertama
lebih melihat kepada pembantaian dan kekejaman yang
dilakukan Abu al-Abbas terhadap lawan-lawan politiknya
meskipun ia tidak sendirian dalam kasus ini. Sementara
pendapat kedua lebih menitikberatkan kepada kebaikan dan
kedermawanan Abu al-Abbas terhadap masa pendukungnya.
Dengan demikian pendapat ini dapat dibenarkan dengan
alasan yang berbeda.
Selanjutnya Abu al-Abbas memusatkan perhatiannya
untuk menghancurkan sisa-sisa kekuatan Bani Umayyah.
dalam kaitan ini ia menunjuk Abdullah ibn Ali untuk
menghadapi pasukan Marwan ibn Muhammad. Kedua
pasukan bertemu di Zab dan pertempuran terjadi dengan
kemenangan di pihak Abdullah. Marwan melarikan diri,
tetapi kemudian dapat ditangkap dan dibunuh, setelah
dikejar-kejar dari satu tempat ke tampat lain ( (Ibn al-Atsir,
1965, h. 425).
Abdullah ibn Ali juga melakukan pembataian dan
pembunuhan secara besar-besaran terhadap kaum Amawiyah
di Syria. Ia bahkan menyuruh membongkar kuburan
khalifah-khalifah Bani Umayyah, seperti kuburan Mu’awiyah
ibn Sufyan, Yazid ibn Mu’awiyah, Abdul Malik ibn Marwan
dan kuburan Hisyam ibn Abd al-Malik. Dalam pembokaran

174
Dinasti Abbasiyah

ini hanya mayat Hisyam yang ditemukan utuh, maka Abdullah


memancungnya, lalu mencambuk dan membakar (Ibn al-
Atsir, 1975, 430)
Abdullah ibn Ali juga membunuh anak-anak khalifah
Bani Umayyah, seperti Muhammad ibn Abd al-Malik dan
al-Wahid ibn Sulaiman ibn al-Malik. Pembunuhan ini diikuti
pula oleh Sulaiman, saudara Abdullah ibn Ali terhadap kaum
Umayyah di Basrah.
Abu al-Abbas sendiri membunuh Abu Salamah al-
Khalal setelah mendapat persetujuan Abu Muslim al-
Khurasani. Selanjutnya karena pertimbangan keamanan Abu
al-Abbas pindah ke Anbar dan membangun istana di sana.
Di tempat itu pula ia meninggal pada tanggal 12 Dzulhijjah
136 H dalam usia 33 tahun. (Hasan Ibrahim Hasan, 1976,
h. 27).
Sepeninggal Abu Abbas, jabatan khalifah dipegang oleh
Abu Ja’far yang mendirikan Dinasti Bani Abbas, tetapi pembina
sesungguhnya adalah Mansur, bahkan khalifah-khalifah
sesudahnya secara keseluruhan merupakan keturunan Mansur.
la tidak segan-segan menggunakan kekerasan demi mem-
pertahankan kekuasaannya. Mansur tidak saja membunuh
musuh-musuhnya akan tetapi juga membunuh orang-orang
yang sebelumnya turut membantu mendirikan Dinasti Bani
Abbas.Tantangan yang mula-mula dihadapi oleh Mansur
adalah pemberontakan Abdullah ibn Ali, paman Mansur,
pahlawan perang Zab dan Gubernur Syria pada pemerintahan
Abu al-Abbas. Mansur menunjuk Abu Muslim untuk
memimpin pasukan menghadapi pasukan Abdullah. Abu
Muslim berhasil mencerai beraikan pasukan Abdullah.
Abdullah sendiri melarikan diri ke Basrah, tempat Sulaiman
ibn Ali, saudara Abdullah. Namun Mansur meminta Sulaiman

175
agar menyerahkan Abdullah kepadanya dengan janji akan
diberi jaminan. Sulaiman menyerahkan Abdullah dan
membunuhnya pada tahun 143 H (Al-Thabari, 1979. h.134).
Setelah pemberontakan Abdullah dapat dihancurkan,
kini terpikir oleh Mansur untuk membunuh Abu Muslim.
Mansur sadar bahwa ia tidak akan dapat menghancurkan
Abu Muslim dengan kekuatan, karena itu, ia menggunakan
tipu muslihat, ia meminta Abu Muslim datang ke istana dan
kemudian membunuhnya dengan cara yang kejam dan licik
(Hamka, tt, h. 135). Mansur kelihatan sangat khawatir
terhadap kekuatan Abu Muslim dan pengaruhnya semakain
meluas. Sentimen pribadi dan dendam Mansur kepada Abu
Muslim yang sudah lama terpendam, tentu menjadi salah
satu faktor membunuh Abu Muslim.
Kematian Abu Muslim menimbulkan dampak
psikologis yang kurang baik bagi orang-orang Khurasan
dan membuka peluang bagi timbulnya pemberontakan-
pemberontakan seperti pemberontakan kaum Rawadiah
dan pemberontkan Sanbadz yang menuntut balas atas
kematian Abu Muslim. Namun Mansur dapat mengatasi
semua pemberontakan itu. Dengan terbunuhnya Abdullah
ibn Ali dan kemudian Abu Muslim, bar ulah Mansur
merasa dirinya sebagai penguasa Dinasti Bani Abbas yang
sebenarnya.
Untuk lebih menjamin kekuasaan dan keamanan
dirinya. Mansur mengembangkan kota Bagdad di dekat bekas
ibu kota Persia pada tahun 742 M (Harun Nasution, h.270).
Pembangunan kota Bagdad yang diberi nama “Kota
Kedalaman” (Madinat al-Salam) menelan biaya sebesar
4.883.000 Dirham dengan 100.000 arsitek dan ahli bangunan
dari Syiria, Mesopotamia dan daerah-daerah lainnya (Philip

176
Dinasti Abbasiyah

K. Kitti, 1973, h.88)


Pada saat Mansur sibuk membangun kota Bagdad di
atas, Muhammad ibn Abdillah ibn Hasan Ibn Hasan ibn
Ali yang bergelar al-Nafs al-Zakiyah memproklamirkan
dirinya sebagai khalifah Madinah dan menentang pe-
merintahan Bani Abbas Ibrahim ibn Abdillah juga
memberontak dan menyerang kota Basrah. Pemberontakan
Bani Ali ini dapat pula ditumpas oleh Mansur, namun ini
tidak berar ti perlawanan Bani Ali telah berakhir.
Pertentangan Bani Abbas dengan Bani Ali terus berlanjut
sehingga tidak ada seorang pun dari Khalifah Bani Abbas
yang tidak terlibat dalam pertikaian dengan Bani Ali. (Jamal
al-din, h.200)
Khalifah-khalifah yang telah memimpin dinasti Bani
Abbas secara berurutan dapat disebutkan sebagai berikut :
1. Abu al-Abbas al-Saffah (750 – 754 M)
2. Abu Ja’far al-Mansur (754 – 775 M)
3. Muhammad al-Muhdi ( 775 – 785 M)
4. Musa al-Hadi ( 780 - 786 M)
5. Harun al-Rashid (786 - 809 M)
6. Al- Amin (809 – 813 M)
7. Al Ma’mun (813 - 833 M)
8. Al Mustshim (833 – 842 M)
9. Al- Mathiq (842 - 847 M)
10. Al- Mutawakkil (847 - 817 M)

Khalifah-khalifah sesudah al - Mutawakkil pada


umumnya lemah-lemah dan tidak dapat mempertahankan
kekuasaannya, mereka antara lain Mu’tadid (870 - 892 M),
dan khalifah terakhir sekali dari dinasti Bani Abbas adalah
Al-Musta’aim (1242 -1258 M)

177
B. Kedudukan Khalifah
Pada masa al-Mansur pengertian khalifah kembali
berubah. Dia berkata, “Inama ana salihin Allah fil ardhih”
(Sesungguhnya saya adalah kekuasaan Tuhan di bumi-Nya).
Dengan demikian konsep khalifah dalam pandangannya dan
berlanjut ke generasi selanjutnya merupakan mandat dari
Allah, bukan dari manusia, bukan pula sekedar petunjuk
nabi, sebagaimana pada masa al- Khilafa’ al-Rasyaddin.
Disamping itu, berbeda Daulat Umayah. Khalifah-khalifah
Abasiyah memakai gelar tahta, seperti al-Mansur adalah gelar
tahta Abu Jafar, gelar tahta itu lebih populer dari pada nama
sebenarnya. (Carl Brockedmann, 1982, h. 3)
Kekuasaan Abbasiyah yang berpusat di Bagdad,
semakin lama semakin pudar, Kemasyhuran Abbasiyah
sebenarnya telah mulai memudar pada masa al-Watiq
menjadi khalifah (223-226 H/842-849 M). Mutawakil
kemudian menggantikan al-Watiq. Dan setelah Mutawakil
masih ada lagi 27 Khalifah Abbasiyah yang memegang
tampuk pemerintahan secara berturut-turut. Tetapi tak
seorang pun dari khalifah-khalifah tersebut yang cakap.
Khalifah-khalifah itu makin lama makin hilang ke-
kuasaannya. Akhirnya kehadiran mereka hanya seperti
bayangan di pusat. Khalifah boleh dikatakan tinggal nama
saja. Setelah Bani Abbas melemah dan khalifah-khalifah
menjadi boneka di tangan tentara pengawal, maka daerah-
daerah yang jauh letaknya dari pusat pemerintahan di
Damaskus dan Baghdad melepaskan diri dari kekuasaan
khalifah di pusat dan timbullah dinasti-dinasti Kecil. Daerah-
daerah atau propinsi-propinsi , satu demi satu, terutama bila
bertambah jauh dari pusat, kekhalifahan , telah berdiri
sendiri-sendiri. Dinasti-dinasti kecil tersebut selalu berupaya

178
Dinasti Abbasiyah

menjatuhkan khalifah di Baghdad. Namun upaya tersebut


sulit berhasil, karena dinasti-dinasti yang ada di pusat kuat.
Ahkirnya nama khalifah hanya untuk disebut-sebut dan
dido’akan orang pada shalat Jum’at saja, sebab kekuasaannya
tidak lagi, khalifah menjadi lalai di tangan mentri-mentri yang
ambisius dan korup. Kelemahan dan ketidakmampuan
khalifah dimanfaatkan oleh gubernur dan para pejabat untuk
melepaskan diri menjadi banyak kerajaan yang merdeka.

C. Sistem Politik, Pemerintahan, Bentuk Negara


(Buwaihi dan Saljuk) Dan Tali lkatan Persatuan
antara Baghdad dengan Dinasti Buwaihi dan Saljuk

1. Dinasti Buwaihi
Pembentukan dinasti Buwaihi dipelopori oleh tiga
bersaudara, yaitu Ahmad, Ali dan Hasan. Bapak dari ketiga
pelopor tersebut adalah Abu Suja’ Buwaihi, dia adalah
seorang nelayan di Dailan, hidupnya dalam keadaan miskin
dan sangat prihatin. istrunya meninggal dunia, kemudian atas
kebaikan hati seorang sahabatnya yaitu Syahriar Ibn Mustam
al-Dailami memberi bantuan dan sekaligus mendidik ketiga
anak itu. (Ibn al-Atsir, 1965: 265)
Melihat dari segi keturunannya Abu Saja’ Buwaihi ini
berasal dari keturunan penguasa Sasania (Persi) lama. Ia
sendiri pemimpin kelompok yang suka berperang, yang
umumnya terdiri dari orang-orang dataran tinggi Dailan di
pegunungan pantai selatan laut Kaspia. Dia mengabdi pada
kerajaan Samania (Philip K. Hitti, 1975: 470)
Abu Suja’ Buwaihi mempunyai reputasi yang cukup
tinggi di lingkungannya, ketika anaknya yang miskin
mendapat pelajaran militer di bawah asuhan Makan ibn Kali.

179
Dalam bidang militer ini karir mereka semakin
menanjak terutama Ali dan Hasan (Hasan Ibrahim Hasan,
1979:482). Ketika kedudukan mereka bertambah kuat,
mereka melepaskan diri dari Makan Ibn Kali dan meng-
gabungkan diri dengan Mardawij ibn Zayyar al-Dailamy
(Muhami-nad Musfir al-Zahrani, 1980:42). Mardawij
menghormati mereka dan kemudian mengangkat Ali ibn
Buwaihi menjadi gubernur al-Haraj kota Persia yang terletak
antara Ashbahan dan Hamdzan. Sedangkan Hasan dan
Ahmad diberikan jabatan penting lainnya (Muhammad Musfir
al-Zahrani, 1980:42).
Dengan kelebihan bidang kemiliteran, administrasi dan
kesupelannya dalam pergaulan dengan pengikut-pengikutnya
Ali ibn Buwaihi semakin kuat kedudukannya, dalam
mempersiapkan bala tentara yang tidak tergoyahkan,
sehingga sebagian besar daerah-daerah Persia dapat
ditundukkan di bawah kekuasaannya dan kota Syiraz
dijaclikan pusat pemerintahan.
Ketika Mardawij wafat, kekuasaan Bani Buwaihi,
meliputi seluruh Persia, Ray, Ashbahan dan daerah-daerah
lainnya. (Ibn Atsir, 1965:323)
Selanjutnya untuk memperoleh legitimasi Syar’iyyah, Ali
ibn Buwaihi menulis surat kepada Khalifah Abbasiyah, al-Ra-
dii ibn Allah (993 –940 M), meminta pengakuan resmi terhadap
kekuasaan Bani Buwaihi di daerah-daerah yang ditaklukan itu
dan khalifah mengabulkannya. (Maskawaih, tt:300)
Ali ibn Buwaihi merasa tidak puas terhadap daerah-
daerah yang dikuasainya, ekspansi pun berlanjut ke Irak,
Ahwaz dan Wasith. (M. Musfir al-Zahrani, 1980:20-21). Dari
Wasith tentara dinasti Buwaihi bergerak menjarah Baghdad
(945 M) (ibn al-Atsir, 1965:449)

180
Dinasti Abbasiyah

Kesempatan memasuki Baghdad terbuka ketika terjadi


pertentangan antara khalifah Mushtasqi Lillah dengan Amir
al-Umara’ (Tuzun), ketika itu khalifah menulis surat meminta
agar tentara bani Buwaihi bergerak menuju Baghdad untuk
membantunya. Ahmad ibn Buwaihi membacakan surat
khalifah tersebut, ketika ia memasuki kota Baghdad
dihadapan rakyat dengan tujuan untuk memperoleh dari
rakyat dan legitimasi Syar’iyyah.
Ketika Bani Buwaihi memasuki baghdad, Tuzun telah
mengalahkan khalifah al-Musttaqi Lillah. Akan tetapi
akhirnya Tuzun dapat dikalahkan oleh Bani Buwaihi. Untuk
jasa-jasa tersebut Khalifah al-Mustaqfi Billah menggantikan
khalifah Muttaqi Lillah. Serta memberikan kepercayaan
kepada Ali untuk memegang kekuasaan di Ahwaz dan Hasan
di Ashbahan, Hamzan dan sebagian kota Irak yang
berpenduduk ‘Ajam sedangkan Ahmad memegang kekuasaan
di Kirman dan Markam. (Hasan Ibrahim Hasan, 1979: 43)
Ketika Muizz al-Daulah melepas kekuasaan al-
Mustaqfi Billah, sebenarnya ia bermaksud mengembalikan
keuasaan kepada golonganAlawyyin. Akan tetapi kemudian
ia mengurungkan maksudnya setelah mendapat saran dari
pembantu ahlinya. (Hasan Ibrahim Hasan, 1975: 43)
Akhirnya sebagai pengganti dari khalifah al-Mustaqfi Billah
ia mengangkat Abu al-Qasim Adlal ibn Muqtadir dengan
gelar al-Mufti. Demikian jelas hal ini menunjukkan betapa
lemahnya kedudukan khalifah di masa Dinasti Buwaihi. Para
ahli sejarah meng gambarkan bahwa khalifah hanya
merupakan simbol keagamaan, tidak memiliki kekuasaan
selain hanya nama saja, sedang kekuasaan mengatur negara
sepenuhnya berada di tangan Amir Buwaihi. (M. Musfir al-
Zahrani, 1980: 24)

181
Apa yang dilakukan Dinasti Buwaihi terhadap khalifah
Abbasiyah bukanlah perlakuan tanpa preseden. Sebelum
Dinasti Buwaihi memegang kekuasaan di Baghdad,
perlakuan yang sama juga diperbuat oleh Amir al-Umara’ di
masa kekuasaan pengawal-pengawal Turki. Dengan
demikian kelemahan-kelemahan khalifah Abbasiyah bukan
secara langsung disebabkan oleh kehadiran Diansti Buwaihi,
tetapi oleh berbagai peristiwa yang lama dan yang paling
utama adalah kelemahan yang ada dalam diri khalifah
sendiri. (M. Musfir al-Zahra, 1980: 23)
Dengan strategi politis yang rapi, kekuasaan dinasti
Buwaihi menjadi faktor yang amat menentukan kembalinya
daerah-daerah Islam yang telah melepaskan diri dari Baghdad
ke dalam otoritas Baghdad. Dinasti-dinasti kecil di wilayah
Basrah di bawah kekuasaan al-Baridi, wilayah Syam dan Irak
Utara di bawah keuasaan otoritas Hamdan, Siria, dinasti
Samaniyah dan Ikhsidiyah dapat dikembalikan kepada
Baghdad oleh Dinasti Buwaihi. Dengan demikian semakin
luaslah daerah-daerah yang dikuasai oleh Dinasti Buwaihi
yang membentang dari Ray, Ashbahan, Karman kemudian
menyeberang ke Persia, ke daerah Oman sampai Bahraen.
Selanjutnya menuju Bashrah sampai ke hulu al Furat terus
Mautsul dan akhirnya sampai ke hulu al-Dajlah. Selanjutnya
wilayah yang membentang dari Tiplis ke Jurjan melintas laut
Qazwin. Bahkan pada masa adl al-Daulah terbentang dari
Ashbahan ke Syria dari laut Qazwin sampai ke Teluk Persia.
(Ali K.A. tt:166)
Perubahan-perubahan di Baghdad tidak saja terjadi
dibidang poltik dan kekuasaan tetapi juga menyangkut di
bidang agama. Jika sebelum Dinasti Buwaihi berkuasa pars
Menteri dan pejabat lainnya beragama sesuai dengan mazhab

182
Dinasti Abbasiyah

khalifah maka sekarang hal itu tidak berlaku. Bani Buwaihi


yang sedang berkuasa bermazhab Syiah, sementara khalifah
adalah pengikut Sunni dan rakyat pada umumnya akan tetapi
karena pemegang kekuasaan yang hakiki adalah Bani
Buwaihi, maka pengikut-pengikut Syiah memperoleh angin
segar dalam menjalankan agama sesuai dengan mazhab Syiah,
bahkan rasa bangga itu kemudian itupun muncul. Bani
Buwaihi memberikan kebebasan kepada pengikut Syiah
untuk meperingati hari-hari besar Syiah. Lebih lanjut di Najel’
dan Karbala dibangun sebuah masuluum yang dinamakan
Mushaad yang mengagungkan Ali Ibn Thalib dan putranya
Husain. (Philip K. Hitti, 1975: 472)
Sekalipun demikian besar perhatian Dinasti Buwaihi
terhadap syiah namun ia menunjukkan toleransi terhadap
golongan Sunni. Ketika Muiz al-Daulah wafat, tahun 966
M, ia digantikan oleh putranya Bakhtiar dengan Izz al-
Daulah. Sejarah mencatat bahwa Izz al-Daulah bukanlah
orang yang cakap untuk menjabat sebagai Amir al-Umara.
Ia suka berfoya-foya dan tidak memperhatikan kepentingan
pemerintahan. (Ali K, 1996:267)
Pada tahun berikutnya 967 M, terjadi pemberontakan
oleh saudaranya sendiri, yaitu Amir Habbasyi yang menjabat
sebagai al-Wali wilayah Bashrah. Ia berhasil menawan Amir
Bakti Bakhtiar yang menjabat Amir al-Umara. Untuk
menyelesaikan sengketa itu Amir Rukn al-Daulah sebagai
paman Izz al-Daulah segera datang ke Isfahan dengan
pasukannya untuk menyelesaikan sengketa itu dan ia berhasil
membebaskan Izz al-Daulah. Namun selanjutnya semakin
merajalela dan membuat masalah dengan penguasa di sekitar
Baghdad, sehingga sering terjadi pertempuran-pertempuran
yang semakin memperlemah posisi pasukan Islam waktu itu.

183
Juga muncul lontaran-lontaran keji kepada para perwira-
perwira Turki yang ikut memerangi tentara Bizantium,
sehingga Emir Sabaktikin menyerbu gedung kediaman
gedung Amir Izz al-Daulah dengan menyita seluruh harta
kekayaannya dan langsung menduduki pucuk pimpinan di
ibukota.
Tiga tahun setelah itu Rukn al-Daulah wafat, momen-
tum ini digunakan oleh Adud al-Daulah untuk mengulangi
serangan kepada Baghdad dan Izz al-daulah lari ke Moso.
Adud al-Daulah akhirnya berkuasa di Baghdad sampai ia
wafat pada tahun 983 M. Setelah wafatnya Adud al-Daulah
tidak ada lagi pengganti dirinya karena tiga putranya memecat
khalifah al-Tha’i tahun 991 M dan mereka pun saling berebut
kekuasaan.
Disamping perpecahan dari dalam dan pertentangan
sendiri serta adanya sikap kecenderungan Buwaihi terhadap
Sy’iah, sehingga menimbulkan permusuhan dan kebencian
yang mendalam kepada penganut Sunni dan keadaan ini
ditambah lagi dengan merosotnya perekonomian dan
Akhirnya dinasti-dinasti kecilpun memisahkan diri dari
Dinasti Buwaihi, sehingga diansti Buwaihi berada diambang
kehancuran. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Tughril Bek,
seorang jendral dari Bani Saljuk menyerang Baghdad dan
merebut kekuasaan dari Dinasti Buwaihi.

2. Dinasti Saljuk
Salajikah adalah sekelompok suku yang berasal dari
Oghus (Ghuzz atau Okus) (H.A. R. Gibb, 1970: 192) yang
menguasai seluruh Asia Barat dan kekhalifahan Bani Abbas
abad XI M, kemudian mereka terpecah menjadi beberapa
keturunan sesuai dengan tempat di mana mereka berkembang

184
Dinasti Abbasiyah

yaitu Kirman, Iran, Suria dan Rum (Asia Kecil).


Nama Saljuk diambil dari nama seorang pemimpin
mereka yang bemama Saljuk Ibn Tuqaq (Muhammad
Khudary Bek, 1945: 412). Saljuk adalah seorang pemuka
suku bangsa Turki yang berasal dari Turkistan. (Harun
Nasution, 1985: 77) Tuqaq, ayah Saljuk adalah orang yang
disegani orang-orang dari keluarga Ghuzz (Oghuz) yang
mendiami wilayah wilayah Imperium Uighur. (Harun
Nasution,dkk , 1988: 820) Luas wilayah tersebut berbatasan
dengan Tiongkok di sebelah Timur sampai Laut Kirz dan
terns memanjang ke daerah Mawaraannahar, terutama
mereka mendiami Turkistan Timur. (Harus Nasution dkk,
1988: 821) Kemudian Saljuk diangkat sebagai panglima
dimasa Imperium Uighur yang menempati bagian Selatan
Lembah Tarim dengan Kashgar sebagai ibu kotanya. (Harun
Nasution dkk, 1988: 821) Karena ketinggian cita-citanya
dan kecerdasan akalnya, maka rakyatnyapun makin Saljuk
di bawah kekuasaan Khalifah bani Abbas di tahun 1040 M
(Harun Nasution, 1988:822).
Kemudian mereka meneruskan serangan ke Iran dan
sekitarnya sampai jatuhlah Persia ke dalam Dinasti Saljuk.
Kemenangan yang diperoleh dari beberapa wilayah tersebut,
Tughril maklin menclapat kedudukan yang kuat.
Ibukota dinasti Saljuk yang tadinya berpusat di
Samarkhan dipindahkan ke Nisapur, tidak jauh dari kota
Baghdad. Setelah itu perang mulai diarahkan ke negeri-negeri
Nasrani dan berhasil direbut anatoli dan Armenia.
Kelemahan Sultan Abdurrahim Amir al-Umara, dinasti
Buwaihi di masa khalifah al-Qaim, yang tidak dapat berbuat
apa-apa dalam mengatasi keadaan di negerinya, membuat
panglima al-Basasir memutuskan hubungan dengan khalifah

185
al-Qaim di Baghdad dan bertindak sebagai penguasa penuh
di wilayah tersebut dan menghapuskan nama khalifah al-
Qaim di setiap khotbah Jum’at dan menggantikannya dengan
nama khalifah al-Muntsahir (1035-1094 M) dari dinasti
Fathimiyah.
Di tahun 1031 al-Basasiri bertindak kejam dengan
memungut pajak yang tinggi terhadap peclagang sehingga
menjatuhkan nama khalifah Abbas dan disamping itu ia
memaksakan faham Syiah kepada ummat muslim.
Dalam situasi seperti ini, khalifah al-Qaim menulis
surat kepada Tughril untuk meminta bantuan untuk
mengatasi hal ini. Tapi al-Basasiri mengetahui tindakan al-
Qaim lalu ia menangkap al-Qaim dan menguasai Baghdad
dan tunduk dibawah kekuasaan khalifah Fathimiyah di Mesir.
(Harun Nasution dkk, 1988: 822). Kemudian Tughril dan
pasukannya datang ke kota Baghdad dan membunuh al-
Basasiri. Setelah itu al-Qaim dibebaskan dan dikembalikan
ke tahtanya. Akhirnya Tughril dapat menguasai Baghdad dan
seluruh wilayah Daulah Bani Abbas dari Sultan Buwaihi yang
terakhir (al-Malikurrahim) tanggal 19 Desember 1055 M dan
tercatat sebaga permulaan masa Daulah Bani Saljuk dalam
khalifah Bani Abbas di Irak (Harun Nasution, 1988: 822)
Aliran Sunni yang dianut Saljuk merupakan senjata
utama yang memudahkan Tughril mendapat dukungan
ummat Islam dan pemerintah Baghdad. Nama Tughril disebut
dalam Khotbah Jum’at setelah nama al-Qaim.
Daulah Bani Abbas banyak mengalami perubahan dan
kemajuan setelah berada ditangan Bani Saljuk. Baghdad
dijadikan sebnagai kota spiritual (sebagai tempat kediaman
khalifah dan para cendikia/ulama) sedangkan ibu kota negara
dipilih mula-mula Naisaburi, kemudian dipindahkan ke Ray.

186
Dinasti Abbasiyah

(Ahmad Syailabi, 1978: 431) dengan maksud menjaga


wibawa khalifah sendiri, sebagai penguasa tertinggi yang
tetap diakui dan ditaati. Sedangkan jabatan wazir untuk
pembantu khalifah diadakan (Ahmad Syailaby, 1978: 432)
yang pada Dinasti Buwauhi tidak ada.
Daerah-daerah dipimpin oleh pimpinan yang bergelar
Sultan dan dibantu oleh Wazir dan dibantu oleh wazir dengan
gelar Khazajah Barzak (Ahmad Syailaby, 1978: 432) Wazir
Sultan lebih luas kekuasaannya dibanding wazir khalifah
dalam menjalankan pemerintahan.
Dimasa Tughril wilayah kekuasaan Dinasti Saljuk
terbentang dari Thian Shan disebelah Timur sampai ke
perbatasan imperium Romawi disebelah Barat, meluas ke
wilayah Iran Selatan bekas kekuaasaan Dinasti Buwaihi.
(Harun Nasution, 1988: 823)
Setelah menguasai Baghdad, Tughril tidak mengadakan
perluasan wilayah lagi. Ia hanya mengatur pemerintahan,
kemananan dan kemakmuran rakyat. Perluasan wilayah
selanjutnya diteruskan oleh sultan-sultan setelah Tughril. Ia
wafat tahun 1065 M (harun Nasution dkk, 1978: 823) dan
digantikan oleh Alp Arselan (1065-1073 M) dengan dibantu
oleh wazirnya Nizam al-Muluk.
Selama pemerintahannya, Alp Arselan banyak
memadamkan pemberontakan di daerah taklukkan dan
mengadakan ekspansi ke Barat. Pemberontakan di Hirrah,
dan Kirman dapat dipadamkam. Kemudian ekspansi ke Barat
dapat merebut kota pesisir laut Tengah (Aleppo, Hints dan
Yerussalem) Juga dapat merebut Mekkah dan Madinah dari
tangan Daulah Fathimiyah. (Hasan Ibrahim Hasan, 1967:
21) Alp Arselan juga dapat merebut Antioeh di Asia Kecil
dari tangan Bizantium. Dia dapat mengalahkan 200.000

187
tentara musuh dengan hanya 15.000 tentaranya.
Sejak saat itulah orang-orang Turki membanjiri Asia
Kecil. Bahkan di masa Sulaiman Ibn Qultumsh berkuasa,
diadakan gerakan pen-Turkian. Kelompok inilah yang
menjadi Saljuk Rum dan merupakan cikal bakal kerajaan
Turki Usmani yang pada abad XV dapat merebut Kon-
stantinopel, ibu kota Bizantium di Asia Kecil. (M.T. H.
Houtsma dkk/Ed., 1987: 21) Alp Arselan wafat tahun 1072
dalam usia 40 tahun.(Harun Nasution dkk, 1988: 823) dan
digantikan putranya Malik Syah (1072-1092 M) (Hasan
Ibrahim Hasan, 1967: 25)
Di tangan Malik Syah aliran Sunni berkembang pesat.
Keberhasilan yang dicapai tidak terlepas dari kecerdikan
Nizam al-Muluk yang menjadi wazir. Dimasa tiga Sultan
inilah Daulah Bani Abbasyiah mendapat kemajuan dan
Dinasti saljuk mengalami masa keemasan. Mereka adalah
Tughril, Alp arselan dan Malik Syah. (H.A.R. Gibb, 1970:
194) Fase kedua adalah zaman Sanjar dan saudaranya.
(H.A.R. Gibb, 1970: 194)
Fase yang terakhir ini dimulai dengan wafatnya Malik
Syah (1092-1157M) Malik Syah mempunyai empat orang
putra, Muhammad, Sanjay dan Mahmud. (Hasan Ibrahim
Hasan, 1967: 36). Setelah Malik Syah wafat, mulai terjadi
perebutan kekuasaan antar saudara, Mahmud (Didukung
khalifah al-Muqtadi) dan Barkiyaruq. (didukung oleh Nizam
al-Muluk) (Hasan Ibrahim Hasan, 1967: 37)
Karena perselisihan-perselisihan seperti inilah
akhirnya pemerintahan Bani Saljuk terbagi menjadi lima
daerah, masing-masing daerah dipimpin oleh penguasa yang
bergelar ayah (Malik) dan para Malik ini harus tunduk pada
Sultan walaupun setiap malik memiliki hak otonomi dalam

188
Dinasti Abbasiyah

mengatur urusan daerah masing-masing. (Ahmad Syalaby,


1978: 434) Kelima daerah ini adalah:
1. Saljuk Besar didirikan oleh Tughril Bek berkuasa selama
93 tahun (1093-1127 M), menguasai Khorasan, Ray, Jibal,
Irak, Jazirah, Persia dan Ahwaz, berpusat di Baghdad .
2. Saljuk Kirman, berasal dari keluarga Qawarm Beg Ibn
Daud Ibn Mikail Ibn Saljuk, saudara Alp arselan, berkuasa
150 tahun (1041-1188 M) menguasai Kimura sampai batas
Insia.
3. Saljuk Irak dan Kurdistan, berkuasa selama 79 tahun
(1117-1194 M) menguasai Mesopotamia Utara sampai
ke Kurdistan.
4. Saljuk Soria, berkuasa selama 39 tahun (1078-1117 M)
menguasai Haab, Damsyik, Hams dan Yerussalem sampai
ke perbatasan Mesir.
5. Saljuk Rum di Asia Kecil, berasal dari keturunan Qultumhs
Ibn Israel Ibn Saljuk, berkuasa selama 230 tahun berakhir
tahun 1300 M. Setelah itu is jam ke tangan Turki, Mon-
gol dan Usmani. (Muhammad Khudari Bek, 1945: 418-
420)
Keberhasilan Saljuk dalam membangun militer yang
kuat terbukti dengan banyaknya daerah yang ditaklukkan
disebabkan oleh keberhasilan mereka dalam menggabungkan
antara administrasi militer dengan sifat suka tempur yang
dimiliki oleh suku-suku yang bergabung dengannya.
Adminstrasi negara juga diperbahar ui dengan
dibentukknya berbagai badan pengurus, yakni Dewan
Menteri (al-Wuzara’) dipimpin oleh al-Sayyid al-Akbar sebagai
penesehat seluruh aparat pemerintahan.
Kantor bendahara dipimpin oleh Mustaufi yang
mengurusi keuangan negara. Kantor Sekretariat (Dewan al-

189
Tagra) mengurusi administrasi negara secara umum. Kantor
penasehat dipimpin al-Musyrif dan kantor militer dipimpin
oleh seorang Jenderal yang mengurusi administrasi militer,
mengadakan latihan dan mengatur pengkat dan gaji. (Ahmad
Kamal al-Din, 1975:209)
Kekuasaan Bani Saljuk atas Daulah Bani abbas
berlangsung hanya sekitar seratus tahun lebih. Berawal dari
khalifah ke-26 al-Qaim sampai khalifah ke-34 Ahmad al-
Nasr Ibn al-Mustadli. (Ahmad Syalaby, 1978: 421)
Masa keemasan dicapai pada masa Alp Arselan dan
perdana Menterinya Nizam al-Muluk. Setelah masa mereka
berdua, Bani Saljuk mulai mengalami kemunduran ketika
terjadi perebutan kekuasaan antara anak Malik Syah. Adapun
faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dan ke-
hancuran Bani Saljuk adalah:
1. Perebutan tahta sultan antara anak-anak Sultan Malik
Syah yang merusak citra mereka terhadap daerah-daerah
sehingga masing-masing daerah pun berusaha melepaskan
diri dari pemerintahan pusat.
2. Tidak adanya tokoh yang kuat seperti Alp Arselan, Malik
Syah dan Nizam al-Muluk. Sultan dan penguasa yang
lemah untuk mempersatukan kelompok yang bertikai.
Saljuk terdiri dari suku-suku yang liar dan sulit takluk
pada penguasa. Hanya pemimpin yang ulung dan kuat
dapat mengendalikan mereka. Barkiyaruq dan Sanjay
belum cukup menangani mereka.
3. Timbulnya gerakan teroris yang ditunggangi oleh orang-
orang Syiah Bathiniyah. Gerakan ini bernama Assasin yang
diketuai oleh Hasan al-Shabah. Gerakan inilah yang
membunuh Nizam al-Muluk.
4. Timbul Dinasti-dinasti kecil yang diasuh oleh Atabec,

190
Dinasti Abbasiyah

budak yang menjadi pembesar sultan yang membuat


persatuan Saljuk terpecah.
5. Jatuhnya Asia Kecil ke tangan Saljuk menumbuhkan rasa
kebencian orang orang Eropa sehingga hal ini yang
menyebabkan terjadinya perang salib.
6. Sebagai faktor kehancuran adalah timbulnya Dinasti
Khawarizm yang dapat merebut Daulah Abbasiyah dari
tangan Saljuk. Ketika Sanjay berkuasa di masa akhir
pemerintahannya ia mendapat serangan yang mematikan.
Tabun 1153 M, ia dijatuhkan oleh Ghuzz. (Hasan Ibrahim
Hasan, 1967: 59) Dan terakhir ia ditewaskan oleh
Khawarizm dan tahun 1157 jatuhlah Saljuk Besar. (Hasan
Ibrahim Hasan, 1967: 59) Saljuk Kirman juga direbut
tahun 1199 M. Jauh sebelum keduanya ini jatuh Saljuk
Suria telah dikuasai oleh Zanki.

Dari Khurasan, kelompok tawanan perang dari


Anatolia, kelompok ilmuwan dari Alexandaria, Harran dan
Jundishapur dan kelompok Kristen nestorian dari kampung-
kampung dari seluruh penjuru Irak telah menjadikan
Baghdad sebagai tempat tinggal mereka.
Pada saat itu Baghdad merupakan produk dari
pergolakan, pergerakan penduduk, perubaban, ekonomi dan
peralihan dari beberapa abad sebelumnya. Baghdad menjadi
negeri bagi masyarakat Timur Tengah baru, menjadi kota
heterogen dan kosmopolitan yang terdiri dari kelompok Arab
dan non Arab yang bernaung dalam satu negara yaitu negara
Arab dan Agama Islam.
Semenjak berkuasa diansti baru ini banyak mengalami
problem yang telah menganggu seperti pembangunan institusi
pemerintahan yang efektif dan memobilisasi dukungan dari

191
kalangan Muslim Arab, muslim non Arab dan dari komunitas
non muslim melalui pembayaran pajak. Untuk berkuasa di
tengah sejumlah problem tersebut, Dinasti Abbasiyah
menetapkan prinsip-prinsip kebijakan Umar II. Abbasiyah
menghilangkan supremasi kasta Arab dan menerapkan
prinsip, universalitas di kalangan ummat muslim. Mereka
menghilangkan anakronisme bangsa Arab dalam hal
kemiliteran dan secara ramah menjadikan seluruh pemeluk
Islam sebagai pendukung mereka. Rezim baru ini me-
ngadakan kelonggaran rekruitmen dari sebuah sebuah
spektroan yang luas dan bersifat perwakilan dari kalangan
elite Timur Tengah dan mempromosikan mereka sampai pada
jabatan-jabatan kemiliteran yang lebih tinggi dan sebagai
pegawai pemerimah.
Supremasi kasta Arab kehilangan arti politiknya dan
hanya dengan sebuah rezim koalisi, kesatuan antara elemen
Arab dan non Arab, imperium ini dijalankan. Perkembangan
Arab sebagai Lingua Franca, penyebaran Islam dan
pengislaman sebagian penduduk, ekspansi aktivitas
perdagangan yang amat pesat, pergolakan ekonomi dan
demografi telah menjadikan masyarakat Abbasiyah terlepas
dari kehidupan lama dimasa Dinasti Umayyah.
Mereka memegang sejumlah karir baru di berbagai
kota yang memungkinkan perluasan sebuah rekruitmen per-
sonal dan dukungan politik terhadap dinasti baru ini, sehingga
dinasti ini bukan lagi dimiliki oleh orang Arab. Sekalipun
mereka telah menaklukkan beberapa teritorial, tetapi impe-
rium ini telah dimiliki selumh warga yang terlibat bersama
dalam Islam dan dalam mengembangkan loyalitas politik,
sosial, ekonomi dan loyalitas kultural yang memantapkan
sebuah masyarakat baru Timur Tengah yang kosmopolitan.

192
Dinasti Abbasiyah

Keterbukaan rezim Abbasiyah dalam hal pemerin-


tahan terlihat nyata. Banyak juru tulis yang tersebar dalam
birokrasi Abbasiyah adalah orang-orang yang berasal dari
Khurasan, yang telah memasuki pemerintahan pusat pada
masa Umayyah. Kelompok Kristen Nestorian berperan
secara kuat, dikarenakan merupakan mayoritas penduduk
Irak. Kelompok minoritas seperti Yahudi terlibat dalam
kegiatan perpajakan dan perbankan. Keluarga-keluarga Syi’ah
juga sangat berpengaruh. Kelompok Arab tidak kehilangan
semua kedudukannya. Sekalipun Abbasiyah adalah Dinasti
Arab, bahkan keadilan dan kehidupan hukum Baghdad dan
kota-kota besar lainnya berada di tangan orang-orang Arab,
namun semua itu tidak lagi merupakan sebuah hak yang
perseptif, melainkan bergantung pada loyalitas dinasti.
Perpindahan kepada agama baru (Islam) tidak merusak
ikatan kekeluargaan, perwalian dan kedaerahan. Jadi
kebijakan Abbasiyah merekrut kelompok bangsawan yang
mengabaikan latar belakang etnis, tidak hanya mengakhiri
berbagai konflik yang telah menghancurkan dinasti Umayyah,
tetapi kebijakan tersebut merupakan prasyarat yang sangat
esensial untuk membangun sebuah pemerintahan yang
memusat. Bahkan ketika pemerintahan yang efektif telah
dibangun berdasarkan komunikasi yang simpatik antara
pejabat pusat dari pemerintah daerah diperlukan rekruitmen
yang lebih luas demi mencapai pemerintahan yang efektif.
Pada saat itu pemerintahan Abbasiyah dibentuk oleh sebuah
koalisi propinsial dan elit kota pusat yang menyetujui konsep
umum dan tujuan kekuasaan politis dinasti Abbasiyah, dan
yang diorganisir melalui institusi birokratis dan institusi
politis lainnya untuk menjalankan pemerintahan mereka
terhadap masyarakat Timur Tengah.

193
Jadi imperium Abbasiyah sebagai sebuah sistem politik
haruslah dipahami menurut item-item organisasinya,
dinamika sosialnya, konsep-konsep politiknya dan menurut
term oposisinya. Sebagai sebuah imperium, Abbasiyah
merupakan sebuah rezim yang memerintah sebuah teritorial
yang sangat luas, terdiri dari sejumlah komunitas kecil. Setiap
komunitas tersebut dipimpin oleh kalangan bangsawan
masing-masing. Kepala kelompok, tuan tanah dan tokoh-
tokoh kekayaaan dan tokoh-tokoh berpengaruh lainnya, yang
secara karakteristik telah bersekutu dengan kelompok su-
perior dan ahli-ahli yang berpengaruh dalam pemerintahan
pusat dan lokal. Organisasi pemerintahan, sistem,
komunikasi dan pengumpulan pajak merupakan bentuk-
bentuk birokratis, tetapi mekanisme sosial yang menjadikan
sistem kerja organisasi Abbasiyah merupakan kontak antara
pejabat-pejabat pusat dan elit lokal. Birokrasi tersebut
memobilisir pengaruh sosial dan sejumlah keahlian tokoh-
tokoh penting di seluruh penjuru imperium dan menjadikan
aset ini sebagai penentu di Baghdad. Birokrasi tersebut
menyatukan kalangan elite pusat dan lokal untuk mem-
perkokoh sebauh rezim yang koheren. Sistem persekutuan
ini didasarkan pada sebuah konsep imperium sebagai sebuah
produk dari kehendak Tuhan. Melalui kehendak Tuhan,
beberapa khalifah yang berkuasa menghendaki ketaatan
warganya secara penuh, rasionalisasi politik ini, yang
menghadirkan term Islam dan term Timur Tengah pra Is-
lam, mengesahkan koalisi kalangan elite yang dengannya
imperium Abbasiyah dijalankan.
Namun tidak semua masyarakat dan semua propinsi
imperium ini patuh terhadap peraturan imperial. Masyarakat
pegunungan, penghuni perkampungan yang semi menetap,

194
Dinasti Abbasiyah

kelompok petani, nomad dan beberapa segmen dari warga


kota termasuk termasuk kelas atas dan kelas bawahan
menolak sistem Abbasiyah tersebut. Mereka menolak
legitimasi Abbasiyah dan melancarkan pemberontakan
terhadapnya, sekalipun mereka tidak berhasil meng-
gulingkannya. Mereka sentuanyajuga tidak dapat ditumpas.
(Baca Ira M. Lapidus, 103-122 :1999)

D. Sistem Sosial
Baghdad merupakan pusat kota terbesar di Timur
Tengah yang merupakan percampuran berbagai unsur
kedaerahan dari segala lapisan dan penjuru sungai Tigris.
Pada abad ke-19, luas kota ini 25 mil persegi, berpenduduk
sekitar 300.000 sampai 500.000. Kota ini 10 x lebih luas
bila dibandingkan Ctesiphon dan ia lebih besar daripada
segala pemukiman lainnya (kota, kampung, dusun dan
gabungan dusun-dusun kecil diwilayah Diyala. Bahkan
Baghdad lebih besar dibandingkan dari kota-kota besar
lainnya di Timur Tengah hingga Istambul di abad ke-19. Pada
zaman itu Baghdad merupakan kota terbesar di dunia selain
Cina.
Kebebasan Baghdad mer upakan prestasi tidak
tertandingi yang menunjukkan pentingnya kota ini dalam
pembentukkan imperium Abbasiyah, kemasyarakatan dan
budaya. Sebagai ibu kota, Baghdad merupakan pusat
ekonomi. Baghdad tumbuh menjadi kota besar bagi
perdagangan internasional dan sangat produktif dengan
sejumlah industri yang menghasilkan tekstil, sutra, kertas
dan berbagai hasil industri lainnya. Namun yang paling
penting dalam sejarah Timur Tengah adalah bahwa kota
Baghdad bercorak kosmopolitan karena keberagaman

195
penduduknya, Yahudi, Kristen, dan Muslim termasuk juga
kelompok Pagan, bangsa Persia, Iraq, Arab, Syria dan bagsa
Asia Tengah menjadi populasi kota Baghdad. Tentara dan
pengawal pemerintahan, kaum pekerja yang membangun
kota, orang-orang yang tinggal di sekitar kampung sekitarnya,
kelompok pedagang yang datang dari Khurasan dan pedang
dan negeri Timur yang menggunakan jalur India melalui Teluk
Persia juga bermukim di Baghdad. Orang-orang Bashrah
yang ber usaha mengadakan konteks intelektual dan
keberuntungan bisnis dari Khurasan, kelompok tawanan
perang dari Anatolia, kelompok ilmuwan dari Alexandaria,
Haman dan Jundishapur dan kelompok kristen nestorian dari
kampung-kampung dari selur uh penjur u Irak telah
menjadikan Baghdad sebagai tempat tinggal mereka.
Pada saat ini Baghdad merupakan produk dari
pergolakan, pergerakan penduduk, perubahan ekonomi dan
peralihan dari beberapa abad sebelumnya. Baghdad menjadi
negeri bagi masyarakat Timur Tengah baru, menjadi kota
heterogen dan kosmopolitan yang terdiri dari kelompok Arab
dan non Arab yang bernaung dalam satu negara yaitu negara
Arab dan Agama Islam.
Semenjak berkuasa Diansti baru ini banyak mengalami
problem yang telah menganggu seperti pembangunan institusi
pemerintahan yang efektif dan memobilisasi dukungan dari
kalangan Muslim Arab, muslim non Arab dan dari komunitas
non muslim melalui pembayaran pajak. Untuk berkuasa di
tengah sejumlah problem tersebut, Dinasti Abbasiyah
menetapkan prinsip-prinsip kebijakan Umar II. Abbasiyah
menghilangkan supremasi kasta Arab dan menerapkan prinsip
universalitas di kalangan ummat muslim. Mereka meng-
hilangkan anakronisme bangsa Arab dalam hal kemiliteran

196
Dinasti Abbasiyah

dan secara ramah menjadikan seluruh pemeluk Islam sebagai


pendukung mereka. Rezim baru ini mengadakan kelonggaran
rekruitmen dari sebuah sebuah spektrum yang luas dan
bersifat perwakilan dari kalangan elite Timur Tengah dan
mempromosikan mereka sampai pada jabatan-jabatan
kemiliteran yang lebih ting gi dan sebagai pegawai
pemerintah.
Supremasi kasta Arab kehilangan arti politiknya dan
hanya dengan sebuah rezim koalisi, kesatuan antara elemen
Arab dan non Arab, imperium ini dijalankan. Perkembangan
Arab sebagai Lingua Franca, penyebaran Islam dan
pengislaman sebagian penduduk, ekspansi aktivitas
perdagangan yang amat pesat, pergolakan ekonomi dan
demografi telah menjadikan masyarakar Abbasiyah terlepas
dari kehidupan lama dimasa Dinasti Umayyah.
Mereka memegang sejumlah karir baru di berbagai
kota , yang memungkinkan perluasan sebuah rekruitmen per-
sonal dan dukungan politik terhadab dinasti baru ini, sehingga
Dinasti ini bukan lagi dimiliki oleh prang Arab, sekalipun
mereka telah menaklukkan beberapa teritorial, tetapi impe-
rium ini telah dimiliki seluruh warga yang terlibat bersama
dalam Islam dan dalam mengembangkan loyalitas politik,
sosial ekonomi dan loyalitas kultural yang memantapkan
sebuah masyarakat baru Timur Tengah yang kosmopolitan.

E. Perkembangan Intelektual: Keagamaan, Kedokteran


Pendidwan, Sains, Teknologi, Astronomi,
Matematika, Filsafat dll
Pada masa Bani Abbas dunia Islam telah mencapai
tingkat yang sangat tinggi dalam bidang ilmu dan peradaban.
Saat ini buku-buku yang terdapat di negara-negara lain seperti

197
India, Persia, Yunani dan Romawi telah dapat diterjemahkan
ke dalam bahasa Arab. Diasumsikan bahkan dari hasil
terjemahan itu dapat diciptakan ilmu baru, disamping
ciptaan-ciptaan asli yang timbul waktu itu (Ahmad Amin,
1979, h. 5), kota -kota besar seperti Bagdad, Damascus,
Cairo dan Qairawan selain sebagai pusat-pusat perdagangan
juga sebagai pusat ilmu pengetahuan dan peradaban.
Pada waktu itu hampir semua ilmu agama telah
dituntaskan, seperti penafsiran Al-Qur’an, pengumpulan
hadist dan penulisan ilmu-ilmunya, pembukuan kaidah-
kaidah bahasa Arab, pembukuan Fiqih baik oleh tokoh-
tokohnya maupun oleh para pengikutnya, dan pembukuan
syair Arab. Untuk memudahkan pemahaman tentang
kemajuan peradaban masa Bani Abbas akan dikemukakan
secara sistimatis kemajuan ilmu agama, filsafat, sain dan ilmu
pemerintahan.

Ilmu Agama
a. Hadits
Gerakan ilmiah dalam bidang hadits pada masa Bani
Abbas ditandai dengan gerakan pembukuan. Sebelum itu
para sahabat dan tabi’at masih berselisih mengenai perlu
tidaknya pembukuan hadits ini, namun akhirnya perselisihan
itu hilang dan berganti dengan kesepakatan bahwa
pengumpulan hadits itu sering dilaksanakan. Umar ibn Abd
Aziz adalab orang pertama yang mempunyai rencana dan
sekaligus melaksanakan pembukuan hadits itu. Ia telah
memerintahkan kepada Abu Bakar bin Muhammad untuk
mengumpulkan dan membukukan hadits. Namun hasil
pengumpulan itu tidak sampai pada kita.

198
Dinasti Abbasiyah

Pada Bani Abbas telah terjadi persaingan yang ketat


antara beberapa ulama dari kota-kota yang berlainan, seperti
Ibnu Juraid di Mekah (wafat 150 H), Muhammad ibn Ishaq
di Madinah (w. 151 H), Malik ibn Anas (w. 179 H), Al-Robi’
ibn Shabih di Basrah (w. 160 H), Ahmad ibn Salamah di
Kufah (w. 161 H), Al-Auzai di Syam (w 156 H) dan Al-Litsi
di Mesir (w. 175 H).

b. Tafsir
Ada dua cara yang ditempuh para mufassir dalam
menafsirkan al-Qur’an, pertama tafsir bi al-ma’tsur
(menafsirkan al-Qur’an dengan hadits dan penjelasan para
shahabat besar), kedua tafsir bi al-ra’yi (menafsirkan al-Qur’an
dengan menggunakan akal lebih banyak daripada hadits).
Pada masa Bani Abbas ini ditandai dengan menculnya
kelompok mu’tarilah yang tidak terikat pada hadits maupun
Aqwa al-Shahabah. Diantara tokoh-tokoh mufassir
kelompok pertama: al-Thabrani, al-Soda dan Muqatil ibn
Sulaiman.
Dan tokoh-tokoh mufassir kelompok kedua: Abu
Bakar al-Asham, Abu Muslim Muhammad ibn Badr al-
Isfahami dan Ibnu Jaru al-Asadi (ketiga-tiganya sebagai
penganut Mu’tazilah (Hasan Ibrahim Hasan, 1970, h. 137)

c. Fiqih
Masa Bani Abbas merupakan puncak kemajuan dunia
Islam dalam ilmu agama. Dalam bidang fiqh, para fugaha
masa itu mampu menyusun kitab-kitab fiqh yang tetap
terkenal sampai saat ini. Para fuqaha pada masa itu dapat
dibagi menjadi du golongan; pertama, Ahl al-Hadits, golongan

199
yang menyandarkan kepada hadits dalam mengambil hukum.
Pemuka golongan ini adalah Ahmad ibn Hambal. Kedua, Ahl
al-Ra’y, golongan yang mempergunakan akal dalam
mengambil hukum. Salah satu pemuka golongan ini adalah
Abu Hanifah.
Pada masa ini telah terjadi pertentangan seru di antara
para mustasyari’in mengenai penggunaan sumber. Per-
tentangan ini berkisar, al Sunnah, al-Qiyas, al-Ra’yu, Ijma’
dan taklif. Dari pertentangan itu akhirnya melahirkan apa
yang mereka namakan ushul al-fiqh, yaitu kaidah yang harus
diikuti oleh para mujtahid dalam mengambil hukum.
(Hudari, 1965, h. 183).

d. Falsafah
Diantara ilmu yang menarik perhatian kaum muslimin
pada masa Bani Abbas adalah falsafat. Ilmu itu berasal dari
Yunani, kemudian diterjemahkan dalam bahasa Arab. Karena
besarnya perhatian kaum muslimin terhadap bidang ini pada
waktu itu maka semua buku falsafat untuk Yunani
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, baik yang berbahasa
Yunani, Persi maupun Suryani. Setelah itu kaum muslimin
sibuk mempelajarinya, memberi penjelasan bahkan diantara
mereka ada yang berusaha umuk menyesuaikan falsafah
Yunani ini dengan jiwa Islam. Dari sinilah timbul filosof-
filosof Islam, seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Rozi,
al-Ghazali dan Ibn Rusyd.

Ilmu Kedokteran
Tokoh-tokoh Islam dalam bidang ilmu kedokteran,
antara lain al-Rozi, ia adalah seorang ahli kedokteran dan
ahli klinik. Ia juga dianggap sebagai orang-orang yang

200
Dinasti Abbasiyah

menemukan benang fontanel untuk dipergunakan dalam ilmu


bedah. Keterangan al-Rozi yang terpenting adalah al-Hawi
yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada tahun 1299.
Nama lain yang paling gemilang dalam ilmu kedokteran
adalah Ibnu Sina, keterangannya berbentuk ensiklopedi yang
diterjemahkan orang dengan nama Canon, dianggap sebagai
bahan terbaik dalam bidang kedokteran di perguruan-
perguruan Eropa, keterangan lainnya yang diterjemahkan ke
dalam bahasa Inggris Materia Medica, memuat kira-kira 760
obat-obatan, dipakai sebagai pedoman utama untuk ilmu
kedokteran barat pada abad ke XII sampai abad XVII H
(Hudari, 1965, h. 141).

Ilmu Kimia
Ilmu Kimia termasuk ilmu yang dikembangkan oleh
kaum muslimin. Dalam bidang ini mereka memperkenalkan
eksperimen obyektif. Hal ini merupakan suatu perbaikan yang
tegas dari cara spekulasi yang ragu-ragu dari Yunani. Mereka
melakukan pemeriksaan gejala-gejala dan mengumpulkan
kenyataan-kenyataan untuk membuat hipotesa dan memberi
kesimpulan-kesimpulan yang berdasarkan ilmu pengetahuan,
diantara tokoh kimia adalah Jabir Ibn Hayyan. Selain ilmu
kedokteran dan ilmu kimia masih banyak ilmu lain yang
dikembangkan kaum muslimin saat itu, seperti matematika
dan astronomi.

201
202
DAFTAR PUSTAKA

Achsin. Mohamad, Sumbangan Kebudayaan Islam Kepada Ilmu


dan kebudayaan, Bandung : pustaka, 1986.
Armand, Abet, Dalam : Islam Kesatuan dan Keberagaman,
Jakarta : Yayasan Perhidmatan, 1993, Cet ke 1.
AI-Askandari, Umar dan Savidji Ag, Tarikh Meir, Kairo:
Maktabah Madbuli, 1996.
Al-Basya, Hasan, Dirasat Fi Tarihk al-Daulah al-Abbasiyah,
Kairo : Dar al-Nandlah al-‘Arabiyah, 1975.
Al-Jahrani, Muhammad, Musshfar, Nizaam al-Wuzarah fi al-
Daulah al-Abbasiyah, Beirut : Muwassa’ah al-Risalah,
1980.
Amin. Ahmad, Dhuha al-Islam, Kairo : Dar al-Fikr al-Arabi,
tt, Jilid II.
A]-Din. Jamal, Surur, Al-Hayat al Siyasaah fi al-Daulah al-
Arabiyah, Kairo : Dar al-Fikr, 1975.
Al-Thabary, Tarikh al-Umam wal al-Mulk, Beirut : Dar al-
Fikr, 1979, Jilid IV

203
Al, Namr, Abd, AI-Mun’in ,Tarikh al-Islam fi al-Hindi, Kairo:
Dar el-Ahd al-Jadid, tt.
Atsir, Ibnu, Tarikh al-Kamal, Mesir: Muniriyah, 1356 H.
Ahmad. Aziz, A History ofIslamic, Sicily, Edinburg : Univer-
sity Press, tt.
Ali. Amr. A History of The Saracen, New Delhi : Bhavan,
1981.
Athiba, Amin, Taufik, Dirasah Fi Tarikh Siqoliyat al-Islam,
Up : Dar al-Kutub al Wathomiyah, 1990.
Al-Rasyidi, Salim, Muhammad al-Fatih, Beirut : Dar al-’ilm
Li al-Malayin, 1969.
Al-Sayuthi, Jalal al-Din, al-Jami’ al-Shaghir fi al-Hadits al-Basyir
wa al-Nadzir; Indonesia : Dar Ihya al-Kutub al-
Arabiyah, tt.
Al-Qasanthini, Ibn Qanfudz, Wasilah al-Islam bi al-Nabi ‘a-
laih al-Shalah wa al-Sulam, Beirut : Dar al-Gharb al-
Islami, 1984.
Al-Zinkli, Khair al-Din, al-’A’lam : Qanus Tarajum, Beirut:
Dar al ihn, li al-Malayin, 1990, Jilid I— VIII.
Amin. Ahmad, al-Syarq wa al-Gharb : Kairo, ttp, 1955.
Al-Atabiki, Ibn Thaghri Birdi, al-Nujum al-Zahrah, Muluk
Mishra al-Qahirah, Mesir, Wijarah al-Tsaqafah wa al-
Irsyad al-Qauinin, tt.
Al-Jundi Anwar, al-Islam al-Tarakah al-Tarikh, Kairo:
Mathba’ah al-Risalah, 1968.

204
AI-Nadawy, Abu al-Hasan, Apa Berita Dunia Bila Islam
Mundur, Jakarta : Pustaka Jaya,1969.
Abidin, Zainal, Ahmad, Sejarah Islam dan Ummatnya, Jakarta
: Bolan Bintang, 1977, Jilid III.
-------------, Piagam Nabi Muhammad SAW, Jakarta Bulan
Bintang, 1973.
Abdullah, Taufik (Ed), Sejarah Umat Islam Indonesia, Jakarta:
Majelis Ulama Indonesia, 1991.
Ali. A. Mukti dkk, (Ed), Ensiklopedi Islam di Indonesia, Jakarta:
Depag, RI, 1988.
Apshaxi, H.Endang, Saifuddin, Piagam Jakarta, 22 Juni 1945,
Bandung : Pustaka, 1983.
Attas. Syed Muhammad Naquib al, Islam Dalam Sejarah dan
Kebudayaan Melayu, Bandung : Mizan, 1990.
Bosworth, CE, Dinasti-dinasti Islam, Terj. Ryas Hasan,
Bandung : Mizan, 1980.
Brakenbaun, Von, Classical Islam, Chicago Diaal Publishing
Company, tt.
Brackelmaun, Carl, History of Islamic People, London
Routledge & Kegan Paul, 1986.
Bin. Zaim, Ahmad Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Kairo ttp.,
1968 Zuz 11.
Basri. Yusmar (Ed), Sejarah Nasional Indonesia V, Jakarta :
Balai Pustaka, 1984.

205
Boland, B.J., Pergumulan Islam di Indonesia, Jakarta : Grafiti
Press, 1985.
Chejne, Anwar, G, Muslim Spain Its History and Culture, Min-
neapolis Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam, Jakarta:
Djambatan, 1992.
Dasuki, H.A, Hafidz (Ed), Ensiklopedi Islam, Jakarta : Ikhtiar
Barut Van Hove, 1993, Jilid 3.
Daudi, Ahmad Syeikh Nuraddin ar-Rani, Sejarah Karya dan
Sanggahan Terhadap Wujudiyyah di Aceh, Jakarta : Bulan
Bintang, 1978.
De Graaf, H.J dan GTh. Digeud, Kerajaan-Kerajaan Islam di
Jawa, Jakarta: Grafiti pers, 1985.
--------------, Awal Kebangkitan Mataram, Musa
Pemerintahan Senopati, Jakarta : Grafiti Pers, 1987.
-----------------, Desintegrasi Mataram di bawah Amangkurat
I, Jakarta : Grafiti Pets, 1987.
Djayadiningrat, Hoesen, Tinjauan Kritis Tentang Sejarah Banten,
Jakarta : Djambatan, 1983.
E, Kork, George, A Short History of Middle East, New York:
Fredrick A Praeger Publisher, 1964.
Edan. Decisive Moment in The History of Islam, Terj. Mahyaddin,
Surabaya : Bina Ilmu, 1979.
Fuad, Aimam Sayyid, Daulah Fathimiyah fi Mishra Tafsir Jadid,
Kairo : Dar al-Mishriyah a]-Labnaniyah, 1992, Cet ke-
1.

206
Fisyr, hal. Tarikh Au-raba at-’Ushur al- Wustha, Kairo: Dar al-
Ma’arif, 1976.
Gibb, H.A.R., Studies of The Civilization of Islam, Boston:
Beacon Press, 1968.
-------------, Saljuks dalam Encyclopedia Britannica, Chicago: Wil-
liam Bengton, 1970.
Goldschmidt, Jr, A Consice History of Middle East, USA :
Westview Press Inc, 1991.
Geertz, Clifford, Santri, Abangan dan Priyayi, Jakarta Jaya,
1980.
Harb, Muhammad, al-Usmaniyyun al-Tarikh wa al-Hadarah,
Kairo: Maktabah al Nandah al-Mishriyyah, 1977.
Hasan, Ahmad, Rifa’i (Ed), Warisan Intelektual Islam Indone-
sia, Bandung : Mizan, 1990.
Hasymy, A (Ed), Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di
Indonesia, Jakarta : al-Ma’arif, 1989.
Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh at -Daulah al-Fathimiyah, tp.,
1958, Cet. ke-2.
-------------, Tarikh Islam, as-Siyasi wa al-Dina wa al-Tsagafi wa
al Ijtinia’i, Kairo: Matabah al- Nandhah al-Mishriyah,
tt.
Hitti, K, Philip, History of The Arabs, New York: Lake
Champlai, 1969, 10th Ed.
------------, History of The Arabs. London : Mac Millan, 1990.

207
Houtsma, M th, dkk (Ed), Encyclopedia of Islam, Leiden, E.J
Brill, 1987.
Hasan, Maushal, History of Islam : Classical Priod, 571 – 1278,
India: 1995, Cet. Ke-1.
Hamka, Sejarah Ummat Islam, Jakarta : Bolan Bintang, 1975,
Juz III.
Hasan, Amir, Shiddiq, Chaliphats and Sultane in Medievel Per-
sia, Karachi : Jamiyah Al-Falah, 1969
Holt, P.M., dkk., The Cambridge History of Islam, London:
Cambridge University Press, 1970
Haikal. Muhammad, Husem, Hayat Muhammad, Kairo:’
Maktabah al-Nandlah al-Mishriyyah, 1968
Hodgson, G.S., Marshal, The Venture of Islam, Chacago: Uni-
versity Press, 1979
Harold, Lamb, T.T., Timur Lenk, Terj. Asrul Sani, Jakarta:
Pt. Pembangunan, tth
Irving, T.B., Falcon of Spain, Jakarta: Pustaka Fidaus, 1990,
Cet. ke-1
Irfan, Faqih, Glinipses of Islamic History, Lahore: Kazi Publi-
cation, 1979
Ikram, S.M., Muslim Civilization In India, New York: Colum-
bia University Press, tt.
Ibn. Abd., Zhahir, Muhyi, Al-Din, Tasyrif al-Ayyam wa al-
Unshur fi Sirah al-Malik al-Mansur, Mesir: Wijarah al-
Tsaqafah al-Irsyad al-Qaumi, 1961

208
Ibrahim, Khalid, Jindan, Teori Pemerintahan Islam Menurut Ibnu
Tainiiyah, Terj. Mufid, Jakarta: Pt. Renika Cipta, 1994,
Cet. ke-1
Kamal, al-Din, Ahmad, Al-Salluk, Kuwait: Dar al-Buhuts
al-Islamiyah, 1975
Khudari, Bek, Muhammad, Muhadharat Tarikh al-Umam al-
Islamiyah al-Daulah al-Abbasiyah, Kairo: Mathba’ah al-
Isticpanab, 1945
-------------, Tarikh al-Tasyri al-Islami, Surabaya: Maktabah Said
Ibnu Nasr, 1965
Katsir, Ibnu, al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut: Dar al-Kutub
al-Islamiyah, tth., jilid II
Khalidi, Musthafa dan Umar Farukh, al-Tabshir wa al-Isti’marfi
al-Salad al-Arabiyah, Beirut: ttp, 1982
Kartodirdjo, Barton, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 500-
1900, Jakarta: Pt. Gramedia, 1987, Jilid I
Lewis, Bernard, Bangsa Arab Data Lintasan Sejarah, Jakarta:
Pedoman Ilmu Jaya, 1988
-----------, Islam from The Prophet Muhammad to The Capture of
Constantinopel, New York: First Herper and Row, tth.,
vol I
Lapidus, The Mughal Empires to The Death of Aurangzeb dalam
M Thautsma, Leiden
-----------, Sejarah Sosial Ummat Islam, Terj. Ghufron A.
Mas’adi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999, Cet.

209
ke-1
Legge, John, D., Soekarno Sebuah Otobiografi Politik,
Jakarta: ttp. 1985
Leirissa, R.Z., (Ed.), Sejarah Nasional Indonesia IV, Jakarta:
Balai Pustaka, 1984
Mehdi, Nakosteen, Konstribusi Islam Atas Dania Internasional
Barat, Surabaya: Risalah Gusti, 1996
Mahmudunnasir, Islam: Konsep dan Sejarah, Bandung:
Rosdakarya, 1994, Cet. ke-4
Muhammad, Abdurrahman, bin Khaldun, Mutladdintah Ibnu
Khaldun, Mesir: Dar Ibnu Khaldun, tt.
Musfir, Muhammad, al-Zahrani, al-Nadhar al-Wizarah fi al-
Daulah wal Abbasiyah, Beirut: Muassasah al-Risalah,
1980
Mufrodi, Ali, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 1997, Cet. ke-1
Mahmud, Sayyid, Fayyas, A Short History of Islam, London,
Oxford University Press, 1960
Ma’luf, Abu, Luis, Al-Munjidfi al-Lughah wa al-A’lam, Beirut:
Dar al-Masyrik, 1986
Montran, Robert, Histoire d’l l’empire Ottoman, Terj. Basyir
al-Saba’i, Kairo: Dar at-Filer, 1993
Mujib, M., The Indian Muslim, London: George Alen, 1967
Mahmud, Abbas, al-Akkad, Kecemerlangan Khalifah Umar Bin

210
Khattab, Terj. Bustami A. Gann dan Zainal Abidin
Ahmad, Jakarta: Bulan Bintang, tt.
Maududi, Abu, A’la, Sistem Politik Islam, Terj. Asep flilanat,
Bandung: Mizan, 1995 4 Cet. ke-4
Madjid, Nurcholish, Khazanah Intelektual Islam, Jakarta: Bulan
Bintang, 1984
-------------, Islam in Indonesia, Challenges and Opportunities,
dalam Mizan, No. 3, vol. I, 1984.
Mahmud, Syeikh, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, Terj. Adang
Afandi, Bandung: Pt. Remaja Rosda Karya, 1994
Nasution, Harun, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya,
Jakarta: UI Press, 1978, Cet. ke-2
-----------, Nizam al-Muluk Dalam Hasan Sadili, (Ed.), En-
siklopedi Indonesia, Jakarta: Ikhtiar Bart, 1983, vol IV
----------, Ensiklopedi Islam “Saljuk”, Jakarta: Depag, 1988,
vol II
Namir, Abdul, Win, Tarikh al-Islam fi al-Hindi, Beirut: Up.,
1981
Nocr. Deliar, Gerakan Moderen Islam di Indonesia: 1900-1942,
Jakarta: Grafitipers, 1987
Pool, Lane, Stanley, The Mohammaden Dinasties, London:
Oriental University Press, 1986
Penanggung Jawab, Sedjarah Tjirebon, (Ed.), Purwaka
Tjaruban Nagari, Jakarta: Bhratara, 1972

211
Poesponegoro, Marwati, Djoened dan Nugroho Notosusanto,
(Ed.), Sejarah Nasional Indonesia II, Jakarta: Balai
Pustaka, 1984
Syalabi, Ahmad Mausu’atul al-Tarikh al-Islam wa al-Hadharah
al-Islanuvak Mesir: Maklabab Nandhiyah, 1979
--------------, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Pustaka al-Husna,
1995, Cet. ke-3, Jilid II
------------, Imperium Turki Usmani, Terj. Aceng Bahaudin,
Jakarta: Kalam Mulia, 1984
Taimiyah, Ibnu, Pedoman Islam Bernegara, Terj. K.H. Firdaus
AN., Jakarta: Bulan Bintang, 1989, Cet. ke-4
Tjandrasasmita, Uka, (Ed.), Sejarah Nasional Indonesia III,
Jakarta: Balai Pustaka, 1984.
Uwais, Abdul, Halini, Dirasat Lisuquti Tsalatsina Daulah
Islamyah, Saudi Arabia: Darus Syuruq, 1982.

212
View publication stats