Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH TENTANG SEDIAAN SUPPOSITORIA

Dosen pengampu : M. Fatchur Rohman, M. Farm

Disusun oleh :

Riska Mila Fitriyani ( 145010111 )

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS WAHID HASYIM

SEMARANG

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat dan karunia serta taufik dan hidayahnya saya dapat menyelesaikan
makalah tentang supositoria. Meskipun banyak kekurangan di dalamnya. Dan
juga banyak berterima kasih kepada Dosen mata kuliah Farmasetika I yang telah
memberikan tugas ini kepada saya.

Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam menambah


wawasan serta pengetahuan kita mengenai penggunaan supositoria, dan juga
bagaimana membuat supositoria serta pengujian sediaan suppositoria. Saya juga
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh
dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik, saran, dan usulan
demi perbaikan makalah yang telah saya buat.

Semoga makalah sederhana ini dapat di pahami bagi siapapun yang


membacanya. Dan sekiranya dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata
yang kurang berkenan dan mohon kritik dan saran yang membangun demi
perrbaikan makalah ini.

Semarang, 02 September 2018

penyusun
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seiring dengan semakin berkembangnya sains dan teknologi,
perkembangan di dunia farmasi pun tak ketinggalan. Semakin hari semakin
banyak jenis dan ragam penyakit yang muncul. Perkembangan pengobatan pun
terus di kembangkan. Berbagai macam bentuk sediaan obat, baik itu liquid, solid
dan semisolid telah dikembangkan industri.
Ahli farmasi mengembangkan obat untuk pemenuhan kebutuhan
masyarakat, yang bertujuan untuk memberikan efek terapi obat, dosis yang sesuai
untuk dikomsumsi oleh masyarakat. Para ahli farmasis harus bias
memformulasikan dan memproduksi sediaan secara tepat. Dengan demikian,
farmasis harus mengetahui langkah-langkah yang tepat untuk meminimalisir
kejadian yang tidak diinginkan. Dengan cara melakukan, menentukan formulasi
dengan benar dan memperhatikan konsentrasi serta karakteristik bahan yang
digunakan dan di kombinasikan dengan baik dan benar.
Banyak obat tersedia dalam beberapa bentuk misalnya supositoria yang
merupakan salah satu obat yang berbentuk padat. Pemberian obat suppositoria ini
bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat menjadi lunak pada daerah feses
atau merangsang buang air besar. Pemberian obat suppositoria ini dapat diberikan
pada pasien yang mengalami pendarahan rectal.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan obat suppositoria ?
2. Bagaimana bentuk dan contoh suppositoria?
3. Bagaimana langkah-langkah dalam pembuatan sediaan suppositoria yang baik
dan tepat?
C. Tujuan
1. Dapat mengetahui maksud dari sediaan suppositoria.
2. Dapat mengetahui bentuk dan contoh sediaan suppositoria.
3. Dapat memahami langkah-langkah dalam pembuatan sediaan suppositoria.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian suppositoria
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang
diberikan melalui rektal, vagina atau uretra, umumnya meleleh, melunak, atau
melarut pada suhu tubuh atau Suppositoria adalah obat solid (padat) berbentuk
peluru yang dirancang untuk dimasukkan ke dalam anus/rektum (suppositoria
rektal), vagina (suppositoria vagina) atau uretra (suppositoria uretra). Suppositoria
umumnya terbuat dari minyak sayuran solid yang mengandung obat.

B. Bentuk-bentuk suppositoria
1. Suppositoria vagina
Suppositoria vagina lebih bervariasi dalam bentuk dan biasanya globular
oval dan bentuk kerucut dimodifikasi. Digambarkan dengan bobot sekitar 5 gr,
tetapi kebanyakan suppositoria vagina komersil menunjukkan berbagai bobot
antara 3 dan 4 gram dan beberapa bobotnya sampai 8 gr. Suppositoria vagina
digunakan terutama untuk efek lokal, walaupun harus tetap diingat bahwa
permukaan epitel mukus dalam saluran vagina terisi dengan sirkulasi jadi obat
dapat diabsorpsi dan mempunyai efek sistemik.
Suppositoria Vagina dimaksudkan disisipkan untuk efek lokal dan
umumnya sebagai kontrasepsi , antiseptik dalam kebersihan kewanitaan dan
sebagai bahan spesifik untuk menghadapi invasi patogen. Umumnya kebanyakan
obat yang digunakan adalah nonoxynol-9 untuk kontrapsi dan trichomonas
vaginalis untuk menghambat vaginitas karena trichomonas vaginalis,candida
(monilia) albinalis. suppositoria vagina dapat juga dibuat melalui proses seperti
pembuatan tablet, dimana memanfaatkan laktosa dalam jumlah banyak. Tablet ini
dapat disisipkan secara manual atau menggunakan alat penyisip plastik yang
spesial. Pencelupan tablet kedalam air memfasilitasi penyisipan. Seringkali serbuk
kering seperti asam borat didispersikan kedalam kapsul besar untuk penyisipan
kedalam vagina.
Diantara bahan anti-infeksi ditemukan sediaan bahan komersial sediaan
vagina seperti nystatin, clotirmazole, butocona zole nitrat, terconazole dan
miconazole (anti fungi) dan triple sulfat (tri sulfat), sulfanilamid, povidone lodine,
clindamycin fosfat, metronidazole dan ovyletracylcine (anti bakteri).
2. Suppositoria uretra
Suppositoria uretra yang disebut inserts adalah bentuk yang paling sering
digunakan ini adalah batang silinder , berdiameter 3-6 mm, fleksibel cukup untuk
dimasukkan. Untuk uretra pria panjangnya 100-150 mm dan untuk wanita 60-75
mm.
Suppositoria Uretra banyak digunakan sebagai antibakteri dan sebagai
sediaan anastetik lokal untuk pemeriksaan uretra. Pelabelan dan pengemasan
suppositoria pada temperatur kamar tetapi menempatkan suppositoria dalam
kulkas untuk memastikan waktu yang cukup untuk penyisipan ini harus selalu
dibasahkan.
3.suppositoria rectal
Suppositoria rektal biasanya panjangnya sekitar 32 mm (1½ inchi), bentuk
silinder dan salah satu atau keduanya runcing. Beberapa suppositoria mempunyai
bentuk seperti peluru, torpedo atau jari kecil. Bergantung pada kerapatan dari
basis dan zat obat yang ada dalam suppositoria, bobot suppositoria rektal dapat
bervariasi. Suppositoria dewasa berkisar antara 2 gr jika lemak coklat yang
digunakan sebagai basis suppositoria. Suppositoria rektal untuk balita dan anak-
anak sekitat setengah dari bobot dan ukuran suppositoria dewasa dan lebih mirip
bentuk pensil.
Suppositoria rektal dimaksudkan untuk efek lokal banyak digunakan untuk
membesarkan dari sakit pada konstipasi, radiasi, gatal, dan agen inflamasi dengan
hemoroid atau dengan kondisi anorektal lainnya. Suppositoria antihemoroid
biasanya mengandung komponen anastetik, vasokontriktor, astrigents, analgesik,
dan agen pencegah.
Contoh dan obat yang digunakan secara rektal dalam bentuk suppositoria
untuk efek sistemik mengandung terdiri dari :
a. Prochlorperazine dan chlropromazie untuk pengurangan rasa mual dan muntah
digunakan sebagai tranquillizer.
b. Orymorphone HCL sebagai analgesik narkotik.
c. Ergotamine tatrat , untuk mengurangi rasa syndrom migrain
d. Indometasin, sebuah analgesik antinflamatory dan antipiretik.

C. Cara pembuatan suppositoria


Pembuatan supositoria secara umum yaitu bahan dasar supositoria yang
digunakan dipilih agar meleleh pada suhu tubuh atau dapat larut dalam bahan
dasar, jika perlu dipanaskan. Jika obat sukar larut dalam bahan dasar, harus dibuat
serbuk halus. setelah campuran obat dan bahan dasar meleleh atau mencair,
tuangkan ke dalam cetakan supositoria kemudian didinginkan.Tujuan dibuat
serbuk halus untuk membantu homogenitas zat aktif dengan bahan dasar.Cetakan
suppositoria terbuat dari besi yang dilapisi nikel atau logam lainnya, namun
ada juga yang terbuat dari plastik. Cetakan ini mudah dibuka secara longitudinal
untuk mengeluarkan supositoria. Untuk mengatasi massa yang hilang karena
melekat pada cetakan, supositoria harus dibuat berlebih (±10%), dan sebelum
digunakan cetakan harus dibasahi lebih dahulu dengan parafin cair atau minyak
lemak, atau spiritus sapotanus (Soft Soap liniment) agar sediaan tidak melekat
pada cetakan. Namun, spiritus sapotanus tidak boleh digunakan untuk supositoria
yang mengandung garam logam karena akan bereaksi dengan sabunnya dan
sebagai pengganti digunakan oleum recini dalam etanol.
Khusus supositoria dengan bahan dasar PEG dan Tween bahan pelicin
cetakan tidak diperlukan, karena bahan dasar tersebut dapat mengerut sehingga
mudah dilepas dari cetakan pada proses pendinginan.
D. Metode pembuatan supositoria :
1. Dengan tangan
Dengan tangan yaitu dengan cara menggulung basis suppositoria yang
telah dicampur homogen danmengandung zat aktif, menjadi bentuk yang
dikehendaki. Mula-mula basis diiris,kemudian diaduk dengan bahan-bahan aktif
dengan menggunakan mortir dan stamper,sampai diperoleh massa akhir yang
homogen dan mudah dibentuk. Kemudian massadigulung menjadi suatu batang
silinder dengan garis tengah dan panjang yang dikehendaki.Amilum atau talk
dapat mencegah pelekatan pada tangan. Batang silinder dipotong dansalah satu
ujungnya diruncingkan.
2. Dengan mencetak kompresi
Hal ini dilakukan dengan mengempa parutan massa dingin menjadi suatu
bentuk yang dikehendaki. Suatu roda tangan berputar menekan suatu piston pada
massa suppositoriayang diisikan dalam silinder, sehingga massa terdorong
kedalam cetakan.
3. Dengan mencetak
Tuang Pertama-tama bahan basis dilelehkan, sebaiknya diatas penangas
air atau penangas uap untuk menghindari pemanasan setempat yang berlebihan,
kemudian bahan-bahan aktif diemulsikan atau disuspensikan kedalamnya.
Akhirnya massa dituang kedalam cetakan logam yang telah didinginkan, yang
umumnya dilapisi krom atau nikel.

E. Pengemasan suppositoria
Suppositoria gliserin dan suppositoria gelatin gliserin umumnya dikemas
dalam wadah gelas ditutup rapat supaya mencegah perubahan kelembapan dalam
isi suppositoria. Suppositoria yang diolah dengan basis oleum cacao biasanya
dibungkus terpisah-pisah atau dipisahkan satu sama lainnya pada celah-celah
dalam kotak untuk mencegah terjadinya hubungan antar suppositoria tersebut dan
mencegah perekatan. Suppositoria dengan kandungan obat yang sedikit pekat
biasanya dibungkus satu per satu dalam bahan tidak tembus cahaya seperti
lembaran metal ( alumunium foil ). Sebenarnya kebanyakan suppositoria yang
terdapat di pasaran di bungkus dengan alumunium foil atau bahan plastic
satu per satu. Beberapa diantaranya dikemas dalam strip kontinu berisi
suppositoria yang dipisahkan dengan merobek lubang-lubang yang terdapat
diantara suppositoria tersebut. Suppositoria ini biasa juga dikemas dalam kotak
dorong ( slide box ) atau dalam kotak plastik. Suppositoria tidak tahan pengaruh
panas, maka perlu menjaga dalam tempat yang dingin. Suppositoria yang basisnya
oleum cacao harus disimpan dalam lemari es.
Suppositoria gelatin gliserin baik sekali bila disimpan di bawah 35ᵒ C.
suppositoria dengan basis polietilen glikol mungkin dapat disimpan dalam
suhuruangan biasa tanpa pendinginan. Supositoria yang disimpan dalam
lingkungan yang kelembaban nisbinya tinggi mungkin akan menarik uap air dan
cenderung menjadi seperti spon sebaliknya bila disimpan dalam tempat yang
kering sama sekali mungkin akan kehilangan kelembapannya sehingga akan
menjadi rapuh.
F. Evaluasi suppositoria
1. Uji Homogenitas
Uji homogenitas ini bertujuan untuk mengetahui apakah bahan aktif dapat
tercampur rata dengan bahan dasar suppositoria atau tidak, jika tidak dapat
tercampur maka akan mempengaruhi proses absorbsi dalam tubuh. Obat yang
terlepas akan memberikan terapi yang berbeda. Cara menguji homogenitas yaitu
dengan cara mengambil 3 titik bagian suppo (atas-tengah-bawah atau kanan-
tengah-kiri) masing-masing bagian diletakkan padakaca objek kemudian diamati
dibawah mikroskop, cara selanjutnya dengan menguji kadarnya dapat dilakukan
dengan cara titrasi.
2. Kesegaman Bentuk
Bentuk suppositoria juga perlu diperhatikan karena jika dari bentuknya
tidak seperti sediaan suppositoria pada umunya, maka seseorang yang tidak tahu
akan mengira bahwa sediaan tersebut bukanlah obat. Untuk itu, bentuk juga
sangat mendukung karena akan memberikan keyakinan pada pasien bahwa sediaa
tersebut adalah suppositoria. Selain itu,suppositoria merupakan sediaan
padat yang mempunyai bentuk torpedo.
3. Uji Waktu Hancur
Uji waktu hancur ini dilakukan untuk mengetahui berapa lama sediaan
tersebut dapathancur dalam tubuh. Cara uji waktu hancur dengan dimasukkan
dalam air yang di set samadengan suhu tubuh manusia, kemudian pada sediaan
yang berbahan dasar PEG 1000 waktu hancurnya ±15 menit, sedangkan untuk
oleum cacao dingin 3 menit. Jika melebihi syarat diatas maka sediaan tersebut
belum memenuhi syarat untuk digunakan dalam tubuh.Pengujian menggunakan
media air, dikarenakan sebagian besar (± 60%) tubuh manusia mengandung
cairan.
4. Uji Keseragaman Bobot
Keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui apakah bobot tiap
sediaan sudah sama atau belum, jika belum maka perlu dicatat. Keseragaman
bobot akan mempengaruhi terhadap kemurnian suatu sediaan karena
dikhawatirkan zat lain yang ikut tercampur. Caranya dengan ditimbang seksama
sejumlah suppositoria, satu persatu kemudian dihitung berat rata-ratanya. Hitung
jumlah zat aktif dari masing-masing sejumlah suppositoria dengan anggapan zat
aktif terdistribusi homogen. Jika terdapat sediaan yang beratnya melebihi rata-rata
maka suppositoria tersebut tidak memenuhi syarat dalam keseragaman bobot.
Karena keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui kandungan yang
terdapat dalam masing-masing suppositoria tersebut sama dan dapat memberikan
efek terapi yang sama pula.
5. Uji Titik Lebur
Uji ini dilakukan sebagai simulasi untuk mengetahui waktu yang
dibutuhkan sediaan supositoria yang dibuat melebur dalam tubuh. Dilakukan
dengan cara menyiapkan air dengan suhu ±37°C. Kemudian dimasukkan
supositoria ke dalam air dan diamati waktu leburnya. Untuk basis oleum cacao
dingin persyaratan leburnya adalah 3 menit, sedangkan untuk PEG 1000 adalah 15
menit.
6. Kerapuhan
Supositoria sebaiknya jangan terlalu lembek maupun terlalu keras yang
menjadikannya sukar meleleh. Untuk uji kerapuhan dapat digunakan uji
elastisitas. Supositoria dipotong horizontal. Kemudian ditandai kedua titik
pengukuran melalui bagianyang melebar, dengan jarak tidak kurang dari 50% dari
lebar bahan yang datar, kemudian diberi beban seberat 20N (lebih kurang 2kg)
dengan cara menggerakkan jari atau batangyang dimasukkan ke dalam tabung.
G. Cara pemberian suppositoria
Waktu pemakaian suppositoria adalah :
1. Sesudah defactio untuk suppositoria analia
2. Pada saat posisi tidur
Cara pakai suppositoria adalah :
Pertama-tama cucilah tangan terlebih dahulu, Buka bungkus aluminium
foil dan lunakkan suppositoria dengan air, berbaring miring dengan tungkai yang
di bawah lurus, dan yang di atas ditekuk

H. Keuntungan dan kerugian suppositoria


Keuntungan penggunaan suppositoria dibanding penggunaan obat per oral adalah;
1. Dapat menghindari terjadinya iritasi obat pada lambung.
2. Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan.

I. Obat dapat masuk langsung dalam saluran darah dan berakibat obat dapat
memberi efek lebih cepat daripada penggunaan obat peroral. Baik bagi pasien
yang mudah muntah atau tidak sadar.
1. Menghindari pengrusakan dalam sirkulasi portal.
2. Digunakan pada pasien yang tidak dapat menelan.
3. Cara yang efektif untuk yang suka muntah.
Kelemahan :
1. Tidak nyaman digunakan.
2. Absorbsi obat sering kali tak teratur atau sulit diramalkan.
3. Daerah absorpsinya lebih kecil.
4. Absorpsi hanya melalui difusi pasif.
5. Pemakaian kurang praktis.
6. Tidak dapat digunakan untuk zat-zat yang rusak oleh pH di rectum.
J. Contoh Formulasi Sediaan Suppositoria
Formula Sediaan Supppositoria Ekstrak Daun Bayam Duri dengan variasi
penambahan Aerosil
Bahan Formulasi I Formulasi II Formulasi III
(gram) (gram) (gram)
Ekstrak Daun 0,35 0,35 0,35
Bayam Duri
Ol. Cacao 2,63 2,61 2,58
Aerosil 0,03 0,05 0,08

Keterangan : Formula I : Penambahan Aerosil 1 %

Formula II : Penambahan Aerosil 2 %

Formula III : Penambahan Aerosil 3%

Suppositoria dibuat dengan metode peleburan dan dicetak tuang. Pertama-


tama bahan basis oleum cacao dilelehkan, sebaiknya diatas penangas air atau
penangas uap untuk menghindari pemanasan setempat yang berlebihan, kemudian
bahan-bahan aktif diemulsikan atau disuspensikan kedalamnya. Akhirnya massa
dituang kedalam cetakan logam yang telah didinginkan, yang umumnya dilapisi
krom atau nikel.

Secara organoleptis suppositoria yang dihasilkan berbeda dalam warna dan


homogenitas. Dari ketiga formula diatas, formula III menunjukan hasil
suppositoria yang baik jika dilihat secara visual (warna hijau tua merata yang
menunjukan homogenitas suppositoria) hal ini dapat disebabkan karena
suppositoria formula III mempunyai konsentrasi aerosil yang lebih besar (3%).
Aerosil yang berfungsi sebagai pendispersi mempunyai sifat lipofil (-Si) dan
hidrofil (-Ho), sehingga jika konsentrasi aerosil tinggi maka kemampuan untuk
mengikat molekul air (ekstrak) dan molekul yang mengandung lemak (Oleum
cacao) makin besar dan menyebabkan penurunan tegangan antarmuka keduanya,
sehingga ekstrak dan oleun cacao dapat bercampur sempurna. Selain itu
perubahan warna pada suppositoria juga dapat disebabkan karena adanya reaksi
yang terjadi dari penambahan aerosil itu sendiri karena dari sifat kimianya aerosil
mampu berinteraksi ataupun berikatan antar molekulnya sendiri dan aerosil
mempunyai (-Si) yang sangat aktif mengikat senyawa lain. Hal ini dapat dinilai
dari ketercampuran ekstrak dengan basis pada saat dicampurkan dan homogenitas
setelah pencetakan. Dilihat dari sifat aerosil tersebut maka selain mempengaruhi
homogenitas pada saat mencampurkan ekstrak dan oleum cacao juga dapat
mempengaruhi sifat fisik suppositoria yang lainya, sehingga setelah dicetak
masing-masing suppositoria harus melewati beberapa uji fisik seperti
keseragaman bobot, kekerasan, suhu leleh dan waktu leleh.

a. Keseragaman Bobot Hasil uji bobot rata – rata suppositoria ekstrak daun
bayam duri formula I 3,01 gram CV 0,66%, formula II 3,01 gram CV
0,66%, dan formula III adalah 3,00 gram dengan CV 0%. Dari data tersebut
menunjukan bahwa bobot suppositoria yang dihasilkan memenuhi syarat
keseragaman bobot menurut farmakope dimana tidak ada dua suppositoria
yang masing-masing bobotnya menyimpang lebih dari 5% dan tidak satupun
suppositoria yang bobotnya menyimpang lebih dari 10% dari bobot rata -
rata suppositoria (Anonim, 1995).
b. Kekerasan suppositoria Dari uji kekerasan suppositoria ekstrak daun bayam
duri pada formula I menghasilkan nilai rata-rata kekerasan 1,73 kg, formula
II 1,8 kg, dan formula III 2,0 kg. Suppositoria yang dihasilkan memenuhi
persyaratan kekerasan yaitu 1,8 – 2,0 kg (Lieberman et al., 1996). Dari
ketiga formula menunjukan bahwa makin besar konsentrasi aerosil yang
ditambahkan maka makin keras suppositoria yang dihasilkan, hal ini
dikarenakan aerosil yang berfungsi sebagai pendispersi mempunyai dua
sifat yaitu lipofil (suka minyak) dan hidrofil (suka air). Gugus lipofil akan
mengikat oleum cacao sebagai basis dengan ikatan van der walls dan bagian
hidrofilnya akan mengikat air dari ekstrak daun bayam duri dengan ikatan
hidrogen, jika semakin banyak konsentrasi aerosil yang ditambahkan maka
ikatan-ikatan antar partikel tersebut semakin banyak dan makin kompak
sehingga viskositas juga meningkat dan membuat formula menjadi lebih
keras, sehingga membutuhkan beban yang besar juga untuk mematahkan
suppositoria. Jika kekerasan suppositoria terlalu rendah atau dibawah 1,8 kg
maka dikhawatirkan dapat menyebabkan kerusakan atau menghasilkan
stabilitas sifat fisik yang kurang baik.
c. Suhu Leleh Dari uji ini dihasilkan suhu yang dibutuhkan untuk suppositoria
meleleh pada masing – masing suppositoria yaitu formula I 32,5°C, formula
II 33,33°C, dan formula III 34,66°C. Hal ini menunjukan bahwa aerosil
dapat mempengaruhi suhu leleh suppositoria, karena aerosil sebagai
pendispersi mempunyai sifat lipofil dan hidrofil yang akan mengikat
partikel – partikel yang ada pada oleum cacao dan ekstrak. Makin banyak
konsentrasi aerosil yang ditambahkan maka makin banyak mengikat
partikel, jika ikatanikatan tersebut bertambah banyak dan menjadi kuat
maka butuh energi (panas) yang lebih tinggi untuk melepaskan ikatan-ikatan
tesebut atau melelehkanya. Dari data hasil uji tersebut menunjukan bahwa
suppositoria ekstrak daun bayam duri masuk dalam persyaratan suhu leleh,
dimana suhu leleh yang dipersyaratkan yaitu tidak lebih dari 37°C
(Lieberman et al., 1996). Makin tinggi konsentrasi aerosil yang
ditambahkan maka makin tinggi suhu yang dibutuhkan untuk suppositoria
meleleh dan makin rendah konsentrasi aerosil maka suhu yang dibutuhkan
untuk melelehkan suppositoria makin rendah.
d. Waktu Leleh Uji yang dilakukan pada suppositoria ekstrak daun bayam duri
menghasilkan waktu leleh pada F I 3,37 menit, F II 5,25 menit, dan F III
5,99 menit. Hal ini menunjukan bahwa waktu yang dibutuhkan suppositoria
ekstrak daun bayam duri untuk meleleh masuk dalam syarat waktu leleh
yang ditentukan yaitu kurang dari 30 menit (Lieberman et all., 1996). Dari
hasil uji ini menunjukan bahwa F I merupakan suppositoria yang memiliki
nilai – nilai sifat fisik yang paling rendah sedangkan F III mempunyai waktu
leleh yang paling lama (5,99 menit), tingkat kekerasan (2,00kg) dan suhu
lebur (34,6ºC). Hal ini dapat disebabkan karena dari sifat aerosil sebagai zat
pendispersi yang dapat mengikat bagian hidrofil dan lipofil dari campuran
ekstrak dengan oleum cacao, konsentrasi yang lebih besar akan membentuk
ikatan antar partikel yang lebih banyak dan kompak, sehingga butuh beban
(kg) dan tenaga (°C) yang cukup besar, serta waktu (menit) yang cukup
lama untuk melepaskan ikatan – ikatan tersebut. Dari hasil uji yang
dilakukan dalam penelitian ini menunjukan bahwa makin banyak
konsentrasi aerosil yang ditambahkan maka makin meningkat pula nilai-
nilai sifat fisik dari suppositoria ekstrak daun bayam duri tersebut.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang
diberikan melalui rektal, vagina atau uretra, umumnya meleleh, melunak, atau
melarut pada suhu tubuh. Bentuk-bentuk suppositoria yaitu suppositoria
vagina,suppositoria uretra,suppositoria rectal.
Semua formula suppositoria ekstrak daun bayam duri dengan penambahan
Aerosil 1% (FI), 2% (FII), 3% (FIII) memenuhi persyaratan sifat fisik (kekerasan,
suhu leleh, dan waktu leleh) kecuali FI yang mempunyai nilai kekerasan < 1,8 kg
(1,73 kg). Penambahan variasi konsentrasi aerosil berpengaruh terhadap
kekerasan suppositoria kecuali FI dan FII, penambahan variasi konsentrasi aerosil
juga berpengauh pada suhu leleh FI dan FIII, sedangkan pada waktu leleh
penambahan aerosil berpengaruh terhadap semua formula.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1995, Farmakope Indonesia,edisi IV, Departemen Kesehatan Republik


Indonesia, Jakarta, 404. 2. Becker, C. A., & Van den Brink, R. C. B.,
1968, Flora of Java (Spermatophytes only) vol II, Groningan-The
Netherlands, Wolters-Noordhoff. N. V 3.

Lieberman, H.A., Rieger, M.M., and Banker, G.S., 1996, Pharmaceutical Dosage
Form, Disspers System, in three volume, Vol.2, Marcel Dekker.Inc, New
York, 473.

Mulyani, Evi., 2016., Pengaruh Penambahan Aerosil Terhadap Sifat Fisik


Suppositoria Ekstrak Daun Bayam Duri (Amaranthus Spinosus, Linn)
Dengan Basis Berlemak (Oleum Cacao., Jurnal Surya Medika Volume 1
No. 2., Palangkaraya., 41-50.

Voigt, R., 1984, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Edisi V, diterjemahkan oleh
Soendani N.S., Mathilda, B.W., Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta, 282- 306.