Anda di halaman 1dari 62

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan sekolah merupakan lembaga pembinaan sumber daya manusia

berupa anak didik yang diharapkan dapat mengembangkan potensi diri, baik aspek

kognitif, afektif maupun psikomotor. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 3 Undang-

Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional (2005: 15) bahwa tujuan pendidikan nasional yaitu:

Untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia


yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan nasional di atas, maka salah satu

komponen pembelajaran adalah siswa sebagai sasaran pembelajaran sehingga setiap

siswa yang ingin sukses dalam belajarnya mutlak memiliki motivasi untuk belajar.

Motivasi belajar siswa akan memiliki daya tarik atau daya dorong untuk

memperhatikan atau berkonsentrasi terhadap pelajaran yang akan atau sedang

dipelajari. Motivasi belajar siswa memegang peranan penting sehingga siswa dapat

belajar dan sukses dalam belajarnya. Jika siswa memiliki motivasi belajar rendah,

justru dapat menjadi awal kegagalan dalam studinya, karena motivasi belajar dapat

menjadi pendorong bagi siswa untuk belajar. Hal ini berarti setiap siswa perlu

menumbuhkan motivasi belajar dalam dirinya, baik di sekolah maupun di rumah.

331
Guna menumbuhkan motivasi belajar siswa, maka dapat dilakukan dengan

menumbuhkan penilaian yang positif terhadap pentingnya belajar tanpa membatasi

bahan-bahan yang harus dipelajari, membentuk kebiasaan untuk berkonsentrasi

terhadap pelajaran. Konsentrasi merupakan akibat adanya perhatian yang timbul dari

motivasi terhadap pelajaran yang diikuti. Peran guru sangat penting dalam

menumbuhkan motivasi belajar pada diri siswa di sekolah. Demikian pula peran

orang tua di rumah dalam mendampingi anaknya saat belajar, memotivasi dan

memberikan rangsangan yang positif agar anak mau belajar dengan penuh motivasi.

Salah satu bentuk rangsangan motivasi belajar siswa adalah pemberian hadiah

penghargaan yang khusus diberikan bagi siswa berprestasi. Hal ini merupakan

pendorong atau perangsang bagi siswa yang berprestasi dan juga bagi yang belum

berprestasi sehingga dapat lebih giat belajar kemudian berprestasi dan juga dapat

mendapatkan hadiah penghargaan.

Djamarah (2002: 126) mengemukakan “dalam dunia pendidikan, hadiah bisa

dijadikan sebagai alat motivasi. Hadiah dapat diberikan kepada anak didik yang

berprestasi tinggi, rangking satu, dua atau tiga dari anak didik lainnya”. Pemberian

hadiah penghargaan khusus diberikan kepada siswa berprestasi dengan rangking

tertentu yang telah ditetapkan, sehingga semua siswa memiliki kesempatan yang

sama untuk mendapatkan hadiah penghargaan jika memenuhi persyaratan yang telah

ditetapkan, seperti batasan urutan rangking dalam kelas.

Adanya hadiah sebagai penghargaan atas prestasi siswa merupakan salah satu

kebutuhan manusia, khususnya teori kebutuhan sebagaimana dikemukakan oleh

332
Maslow (Purwanto, 2007” 77) tentang lima tingkatan kebutuhan pokok manusia,

yaitu: “kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan

penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri”. Jadi penghargaan yang diterima siswa

merupakan kebutuhan tingkat ke empat, yaitu kebutuhan dihargai karena prestasi atau

kemampuan belajar.

Siswa yang telah mendapatkan hadiah penghargaan tentunya menjadi

motivator baginya untuk lebih termotivasi dalam belajar. Demikian pula bagi yang

belum menerima hadiah penghargaan karena prestasinya belum maksimal juga dapat

menjadi pendorong baginya untuk lebih giat belajar agar dapat berprestasi, walaupun

hal tersebut tentu semuanya kembali kepada siswa masing-masing. Akan tetapi

setidak-tidaknya dengan adanya hadiah penghargaan yang diperoleh tentu akan

berusaha untuk mempertahankan prestasinya dan dapat memperoleh kembali hadiah

penghargaan pada semester berikutnya. Bahkan hendaknya hadiah penghargaan yang

diberikan kepada siswa tidak menjadi pemicu menghalalkan segala cara untuk

memperoleh prestasi yang baik di sekolah, seperti: suka menyontek pada saat ujian,

menyuruh teman atau orang lain mengerjakan tugas jika ada pekerjaan rumah, atau

melakukan pendekatan secara khusus dengan guru mata pelajaran.

Salah satu sekolah di Kota Makassar yang memberikan hadian penghargaan

kepada siswa berprestasi pada setiap semester adalah SMP Negeri 27 Makassar yang

dilakukan sejak tahun ajaran 2004/2005. Pemberian penghargaan dalam bentuk uang

atau buku-buku kepada siswa berprestasi. Ide tersebut diperoleh dari Koperasi Melati

Mekar yang ada dalam ruang lingkup SMP Negeri 27 Makassar. Pemberian hadiah

333
penghargaan diberikan kepada siswa berprestasi, yaitu siswa yang masuk dalam

rangking I, II dan III setiap semester dengan harapan agar dapat menjadi pendorong

bagi siswa untuk lebih giat belajar. Dalam kenyataannya, tidak semua siswa yang

telah mendapatkan hadiah penghargaan pada semester sebelumnya, selalu

mendapatkan hadiah penghargaan pada semester berikutnya. Contohnya, terkadang

ada siswa yang sebelumnya memiliki prestasi rendah, kemudian pada semester

berikutnya mendapatkan hadiah penghargaan karena mendapatkan rangking I, II atau

III. Namun terkadang pula ada siswa yang sudah dua kali mendapatkan hadiah

penghargaan, tetapi kemudian pada semester berikutnya memperoleh prestasi kurang

memuaskan.

Berdasarkan uraian fakta-fakta di atas, tampak bahwa hadiah penghargaan

dapat menjadi salah satu pendorong bagi siswa untuk belajar, karena merupakan salah

satu kebutuhan manusia (teori Maslow) tentang kebutuhan akan penghargaan atas

prestasi yang dicapai. Hadiah penghargaan dapat menjadi pendorong bagi yang belum

maupun yang sudah pernah menerima hadiah penghargaan karena prestasi belajarnya.

Berkaitan dengan hal itu, maka penulis tertarik untuk mengkaji secara ilmiah dengan

judul “Perbandingan Motivasi Belajar antara Siswa yang Mendapatkan Hadiah

Penghargaan dan Tidak Mendapatkan Hadiah Penghargaan di SMP Negeri 27

Makassar”.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan dua masalah pokok

dalam penelitian ini, yaitu:


334
3. Bagaimana tingkat motivasi belajar siswa yang

mendapatkan hadiah penghargaan dengan yang tidak mendapatkan hadiah

penghargaan di SMP Negeri 27 Makassar?

4. Apakah ada perbedaan motivasi belajar antara siswa yang

mendapatkan hadiah penghargaan dan tidak mendapatkan hadiah penghargaan di

SMP Negeri 27 Makassar?

5. Tujuan Penelitian

Mengacu kepada rumusan masalah di atas, maka tujuan pelaksanaan

penelitian ini adalah sebagai berikut:

6. Untuk mengetahui tingkat motivasi belajar siswa yang

mendapatkan hadiah penghargaan dengan yang tidak mendapatkan hadiah

penghargaan di SMP Negeri 27 Makassar.

7. Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan motivasi belajar

antara siswa yang mendapatkan hadiah penghargaan dan tidak mendapatkan

hadiah penghargaan di SMP Negeri 27 Makassar.

8. Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis:

a. Bagi lembaga pendidikan (Universitas Negeri Makassar), menjadi

informasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam

peningkatan motivasi belajar siswa.

335
b. Bagi peneliti, menjadi masukan dalam meneliti dan mengembangkan

peubah penelitian berkaitan dengan motivasi belajar siswa.

2. Manfaat Praktis:

a. Bagi kepala sekolah, sebagai masukan tentang kondisi obyektif

mengenai pengaruh pemberian hadiah penghargaan bagi siswa berprestasi

terhadap motivasi belajar siswa sehingga dapat lebih memacu peningkatan

motivasi belajar siswa di sekolah.

b. Bagi guru, sebagai masukan dalam meningkatkan motivasi belajar

demi peningkatan kemampuan belajar siswa.

c. Dapat dijadikan acuan bagi sekolah lain berupa pemberian hadiah

penghargaan kepada siswa yang berprestasi.

336
BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS

A. Kajian Pustaka

1. Pemberian Hadiah Penghargaan

a. Pengertian Pemberian Hadiah Penghargaan

Setiap siswa tentu ingin berprestasi di sekolah dan prestasinya dapat dihargai

oleh orang lain, termasuk pihak sekolah. Salah satu bentuk penghargaan pihak

sekolah terhadap siswa berprestasi adalah pemberian hadiah penghargaan yang

merupakan penghargaan atas prestasi belajar yang dicapai siswa.

Djamarah (2002: 126) mengemukakan “hadiah adalah memberikan sesuatu

kepada orang lain sebagai penghargaan atau kenang-kenangan/cenderamata”,

sementara Ali (1990: 117) mengemukakan “hadiah adalah pemberian, ganjaran”. Hal

ini berarti bahwa hadiah merupakan pemberian penghargaan atau kenang-kenangan

sebagai ganjaran atau imbalan atas prestasi atau pekerjaan yang telah dilakukan.

Hadiah yang diberikan sebagai penghargaan bisa berupa apa saja, tergantung

dari keinginan pemberi, atau bisa juga disesuaikan dengan prestasi yang dicapai

oleh seseorang. Penerima hadiah tidak tergantung dari usia, kelas, tetapi semua

orang berhak menerima hadiah dari seseorang atau kelompok dengan motif-motif

tertentu.

Dalam pendidikan modern, siswa yang berprestasi tertinggi memperoleh

predikat sebagai siswa teladan. Sebagai penghargaan atas prestasinya, dia diberikan
337
beasiswa. Hadiah berupa uang atau beasiswa diberikan untuk memotivasi siswa agar

senantiasa mempertahankan prestasinya selama studi dan juga menjadi motivasi bagi

siswa lainnya untuk memacu prestasi. Pemberian hadiah penghargaan kepada siswa

yang berprestasi hendaknya tidak menjadi sesuatu yang dapat menjadikan siswa

menyombongkan diri pada teman-temannya yang kurang berprestasi, pemberian

hadiah penghargaan diberikan secara tepat sasaran dan tepat waktu sehingga siswa

yang berprestasi dapat merasa puas dengan hadiah penghargaan yang diterimanya.

b. Kebutuhan Akan Penghargaan

Manusia dalam hidupnya setiap saat memiliki berbagai kebutuhan, seseorang

malaksanakan aktivitasnya didasarkan atas adanya kebutuhan. Kebutuhan manusia

bersifat dinamis berubah-ubah sesuai dengan sifat dan kehidupan manusia. Sesuatu

yang menarik pada saat tertentu mungkin waktu lain tidak menarik lagi. Sesuai

dengan arti kata kebutuhan dalam kamus bahasa Indonesia (Depdikbud, 1997: 161),

“kebutuhan berarti yang dibutuhkan, membutuhkan berarti sangat memerlukan untuk

menggunakan”.

Bundu (1995: 3) memberikan batasan tentang kebutuhan yaitu “kebutuhan

adalah suatu ukuran perbedaan (ketidaksesuaian) antara keadaan masa sekarang

(KMS) dengan suatu kegiatan yang lebih baik pada keadaan masa datang (KMD)”.

Pengertian tentang kebutuhan di atas lebih menekankan pada dua komponen,

yakni gambaran tentang kondisi yang muncul atau pada saat sekarang dan gambaran

pada adanya kondisi yang lebih baik yang diinginkan untuk pemenuhan keinginan ke

depan. Sesuai dengan latar belakang suatu kegiatan menunjukkan bahwa adanya
338
kebutuhan para siswa terhadap kegiatan belajar yang akan bermanfaat bagi mereka di

saat sekarang dan untuk kepentingan masa mendatang.

Kebutuhan manusia pada dasarnya ada beberapa macam. Knowles (Sahide,

1996: 13) membagi kebutuhan dasar manusia atas beberapa macam, di antaranya:

1) Kebutuhan fisik; kebutuhan ini paling mudah dilihat dalam


hubungan dengan pendidikan maka kebutuhan itu meliputi kebutuhan untuk
melihat, mendengar, beristirahat. Kebutuhan fisik merupakan sumber motivasi
pada sebagian tindakan manusia.
2) Kebutuhan berkembang; menurut ahli psikologi dan psikiatri,
kebutuhan untuk berkembang merupakan kebutuhan paling dasar dan
universal. Orang dewasa yang merasa tidak mempunyai masa depan untuk
berkembang kehidupan akan tidak berguna. Kebutuhan untuk berkembang ini
merupakan dorongan yang kuat untuk belajar, karena pada dasarnya
pendidikan adalah perkembangan dalam pengetahuan, pemahamannya,
keterampilan, sikap dan minat. Belajar sesuatu yang baru akan memberikan
rasa berkembang bagi seseorang.
3) Kebutuhan rasa aman, termasuk kebutuhan rasa aman fisik maupun
psikologis.
4) Kebutuhan untuk memperoleh pengalaman baru. Berlawanan
dengan kebutuhan rasa aman maka manusia sering melakukan cara
berlawanan, yaitu dengan mencari petualangan atau melakukan sesuatu yang
mengandung resiko.
5) Kebutuhan afeksi. Setiap orang ingin disenangi, walaupun untuk
menuju ke situ kadang-kadang menunjukkan keinginan yang berlawanan.
6) Kebutuhan untuk memperoleh pengakuan. Setiap manusia
mempunyai kebutuhan untuk dipuji dan dihormati oleh orang lain. Keinginan
ini mendorong orang untuk memperoleh kedudukan dalam kelompok sosial,
lembaga, masyarakata. Dengan kata lain mendorong orang untuk mencari
status dan perhatian orang lain.

Menurut Maslow (Sardiman, 2001: 78) kebutuhan manusia ada lima yaitu:

1) Kebutuhan fisiologis
2) Kebutuhan akan keamanan
3) Kebutuhan akan cinta dan kasih
4) Kebutuhan akan harga diri
5) Kebutuhan aktualisasi diri

339
Lebih jelasnya mengenai macam-macam kebutuhan manusia, berikut

diuraikan satu-persatu.

1) Kebutuhan fisiologis, berkenaan dengan keperluan makan, minum, terhindar dari

sakit, tidur, perlindungan (papan dan sandang) dan pembuangan siswa pembakaran

tubuh. Kebutuhan seperti ini lazimnya terpenuhi secara rutin.

2) Kebutuhan rasa aman, jika orang secara psikologis merasa terancam aka timbul

kecemasan, persepsi fisik dan tingkah laku menjadi layak. Oleh karena itu, manusia

membutuhkan rasa aman.

3) Kebutuhan akan cinta, manuasia butuh mencintai dan dicintai agar berlangsung

kehidupan yang selaras dan seimbang.

4) Kebutuhan akan harga diri, berkenaan dengan motivasi berprestasi. Jika berhasil

akan menimbulkan persaan-perasaan layak, berguna dan rasa yakin.

5) Kebutuhan aktualisasi diri, berkenaan dengan kebutuhan untuk mengaplikasikan

diri sesuai dengan kemampuan dan skill yang dimiliki seseorang.

2. Motivasi Belajar

a. Pengertian motivasi belajar

1) Pengertian Motivasi

Motivasi merupakan suatu kondisi psikologis dalam diri seseorang yang

relatif menetap. Motivasi besar sekali pengaruhnya dalam melakukan suatu aktivitas,

sebab dengan motivasi seseorang akan melakukan sesuatu yang dimotivasinya.

Sebaliknya tanpa motivasi, seseorang akan merasa malas melakukan sesuatu karena

3310
tidak adanya dorongan dari dirinya atau adanya rangsangan dari luar diri untuk

melakukan suatu aktivitas.

Sardiman (2001: 73) mengemukakan:

Motivasi adalah serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi


tertentu, sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu, dan
bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk mengelakkan perasaan
tidak suka itu.

Sartain (Purwanto, 2007: 61) mengemukakan “motivasi adalah suatu

pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku

terhadap suatu tujuan atau perangsang”. Moekijat (1987: 27) mengemukakan

“motivasi adalah pengaruh suatu kekuatan yang menimbulkan perilaku.

Dari pengertian di atas, maka memberi suatu gambaran bahwa motivasi

merupakan suatu keinginan-keinginan, dorongan-dorongan yang timbul dalam diri

seseorang untuk melakukan suatu aktivitas dalam rangka pencapaian tujuan yang

diinginkan, di mana aktivitas yang dimaksud dalam kajian ini adalah aktivitas belajar

yang dilakukan siswa sekolah menengah pertama (SMP)

Dari pengertian tentang motivasi, maka pada hakikatnya dalam motivasi

terkandung beberapa elemen seperti dikemukakan Sardiman (2001: 72) yaitu:

a) Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada


setiap individu manusia. Perkembangan motivasi akan membawa beberapa
perubahan energi di dalam sistem “neuroysiological” yang ada pada organisme
manusia. Karena menyangkut perubahan energi manusia (walaupun motivasi
itu muncul dari diri manusia), penampakkannya akan menyangkut kegiatan
fisik manusia.
b) Motivasi ditandai dengan munculnya, rasa, afeksi seseorang. Dalam
hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afektif dan
emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia.

3311
c) Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi, motivasi
dalam hal ini sebenarnya merupakan respon dari suatu aksi, yakni tujuan.
Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya
karena terangsang oleh adanya unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan. Tujuan
ini akan menyangkut soal kebutuhan.

Motivasi merupakan suatu hal yang sangat penting dimiliki setiap orang dalam

melakukan sesuatu walaupun sifatnya kompleks. Motivasi akan menyebabkan

terjadinya perubahan energi yang ada pada diri manusia, dan berkaitan dengan

persoalan kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau

melakukan sesuatu. Semua ini didorong karena adanya tujuan, kebutuhan atau

keinginan untuk mewujudkannya sehingga harapan dapat berubah menjadi kenyataan,

di mana sasaran motivasi yang dikaji adalah belajar.

2) Pengertian Belajar

Belajar merupakan suatu proses perubahan, baik dalam aspek kognitif, afektif

maupun psikomotor. Kegiatan belajar merupakan peristiwa di mana seseorang

mempelajari sesuatu dan menyadari perubahan itu melalui belajar. Namun demikian,

perubahan yang dimaksud dalam kajian ini bersifat positif dalam arti adanya

perubahan peningkatan kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran.

Peningkatan kemampuan sebagai hasil kegiatan belajar berorientasi pada aspek

positif dan bukannya peningkatan kemampuan yang berorientasi pada hal-hal negatif

sehingga justru hasil kegiatan belajar menjerumuskan orang-orang yang melakukan

aktivitas belajar.

Syah (2000: 92) mengemukakan “belajar adalah tahapan perubahan seluruh

tingkah aku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi
3312
dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif”. Sedangkan Sardiman (2001:

53) mengemukakan:

Belajar adalah upaya perubahan tingkah laku dengan serangkaian


kegiatan, seperti membaca, mendengar, mengamati, meniru dan
sebagainya. Atau belajar sebagai kegiatan psikofisik untuk menuju ke
perkembangan pribadi seutuhnya. Oleh karena dalam belajar perlu ada
proses internalisasi, sehingga akan menyangkut mitra kognitif, afektif
dan psikomotorik.

Kedua pendapat tersebut relevan dengan pendapat Slameto (1995: 2) bahwa

“belajar adalah aktivitas yang dilakukan individu secara sadar untuk mendapatkan

sejumlah kesan dari apa yang telah dipelajari dan sebagai hasil interaksinya dengan

lingkungan sekitarnya”.

Mengacu pada ketiga pendapat di atas, maka belajar merupakan usaha

menguasai hal-hal yang baru atau peningkatan kemampuan seseorang dalam

memahami sesuatu sehingga ada perubahan dalam diri seseorang yang mengarah

kepada perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Kegiatan belajar adalah

peristiwa belajar di mana seseorang menyadari bahwa ia mempelajari sesuatu dan

menyadari perubahan itu melalui belajar.

Ciri-ciri perubahan dalam belajar dikemukakan Djamarah (2002: 15) yaitu:

a) Perubahan yang terjadi secara sadar


b) Perubahan dalam belajar bersifat fungsional
c) Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
d) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
e) Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah
f) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku

Ciri-ciri perubahan dalam belajar menurut Djamarah di atas, berikut diuraikan

satu-persatu.

3313
a) Perubahan yang terjadi secara sadar

Seseorang yang melakukan aktivitas belajar akan menyadari terjadinya

perubahan yang terjadi dalam dirinya. Misalnya menyadari kecakapannya

bertambah. Dengan kata lain bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi karena

mabuk atau dalam keadaan tidak sadar, tidak termasuk perubahan dalam

pengertian belajar, karena individu yang bersangkutan tidak menyadari

perubahan pada dirinya bahkan justru bersifat negatif terhadap perkembangan

dirinya.

b) Perubahan dalam belajar bersifat fungsional

Perubahan yang terjadi dalam diri individu sebagai hasil belajar berlangsung

secara terus-menerus dan tidak statis. Satu perubahan yang terjadi akan

menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun

proses belajar berikutnya. Misalnya, seorang anak belajar menulis, maka ia akan

mengalami perubahan dari tidak tahu menulis menjadi tahu menulis. Perubahan

ini terus hingga kecakapan menulisnya menjadi lebih baik dan sempurna.

c) Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif

Perbuatan belajar berkaitan dengan perubahan yang bertambah dan tertuju untuk

memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Jadi, semakin banyak

usaha belajar, akan makin banyak dan makin baik perubahan yang bersifat aktif,

artinya perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha

yang dilakukan secara kreatif guna menambah pengetahuan atau pengalaman

seseorang.

3314
d) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara

Perubahan yang bersifat sementara seperti; keluar air mata, berkeringat, bersin,

dan menangis, tidak dapat digolongkan sebagai perubahan dalam arti belajar.

Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen.

e) Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah

Perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai.

Perbuatan belajar terarah kepada perbuatan tingkah laku yang benar-benar terjadi

dan disadari. Misalnya seseorang yang belajar mengetik, sebelumnya sudah

menetapkan apa yang mungkin dapat dicapai dengan belajar mengetik atau

tingkat kecakapan apa yang akan dicapainya. Dengan demikian, perbuatan

belajar yang dilakukan senantiasa terarah kepada tingkah laku yang telah

ditetapkan.

f) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku

Perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses belajar meliputi

perubahan tingkah laku. Jika seseorang belajar sesuatu dan sebagai hasilnya ia

akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap,

keterampilan dan pengetahuan.

Berdasarkan pendapat dan uraian di atas, maka jelas bahwa tidak semua

perubahan dapat digolongkan dalam arti belajar. Begitu pula perubahan yang terjadi

dalam diri seseorang harus ada indikator yang mendorongnya atau memberikan

semangat apabila menginginkan hasil yang maksimal. Begitu pula dengan belajar,

adanya dorongan atau motivasi yang muncul dari dalam diri individu, apakah itu

3315
karena ada stimulus (dorongan) atau kesadaran yang timbul untuk mengadakan

aktivitas belajar.

Dalam kegiatan belajar memerlukan aktivitas, demikian pula halnya dengan

belajar sangat perlu aktivitas. Hal ini menurut Sardiman (2001: 93), disebabkan

“karena pada prinsipnya belajar adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah

laku, jadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Oleh

karena itu, aktivitas merupakan prinsip dasar dalam kegiatan belajar”. Hal ini berarti

bahwa dalam kegiatan belajar diperlukan aktivitas dalam rangka memperoleh

pengetahuan, sikap dan keterampilan.

Jenis-jenis aktivitas belajar menurut Djamarah (2002: 38), antara lain: “a)

mendengarkan, b) memandang, c) menulis atau mencatat, d) membaca, e) membuat

ikhtisar atau ringkasan dan menggarisbawahi, f) mengingat, g) berpikir”.

Lebih jelasnya mengenai aktivitas-aktivitas belajar menurut Djamarah di

atas, berikut diuraikan satu-persatu.

a) Mendengarkan

Mendengarkan adalah salah satu aktivitas belajar. Setiap orang yang belajar

khususnya belajar dari orang lain perlu aktivitas mendengarkan. Ketika seorang

guru menggunakan metode ceramah, maka setiap anak harus mendengarkan

materi yang disampaikan guru. Oleh karena itu, setiap anak yang normal (tidak

tuna rungu) harus mampu mendengarkan dengan baik setiap materi pelajaran

yang diajarkan guru di sekolah ataupun ajaran-ajaran yang diberikan oleh

orangtua di rumah berkaitan dengan materi pelajaran yang dipelajari.

3316
b) Memandang

Memandang merupakan kegiatan mengarahkan penglihatan ke suatu obyek.

Aktivitas memandang berhubungan erat dengan mata, karena dalam memandang

itu matalah yang memegang peranan penting. Tanpa mata tidak mungkin terjadi

aktivitas memandang. Memandang dalam kegiatan belajar sesuai dengan

kebutuhan untuk mengadakan perubahan tingkah laku yang positif. Aktivitas

memandang tanpa tujuan bukanlah termasuk perbuatan belajar. meski pandangan

tertuju pada suatu obyek, tetapi tidak adanya tujuan yang ingin dicapai, maka

pandangan yang demikian tidak termasuk belajar. Dengan demikian, memandang

dalam hal ini ditinjau dari aspek positif dan berkaitan dengan aktivitas belajar.

c) Menulis atau mencatat

Menulis atau mencatat merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari kegiatan

belajar. Dalam mencatat tidak sekadar mencatat, tetapi mencatat yang dapat

menunjang tercapainya tujuan belajar. artinya, jika sekadar mencatat maka hal

tersebut akan dapat mendatangkan kesia-siaan dalam mencatat dan tidak ada

kepentingan kemajuan dan kesuksesan studi yang dapat diperoleh oleh anak

dalam belajar.

d) Membaca

Aktivitas membaca adalah aktivitas yang paling banyak dilakukan selama

belajar. Membaca memerlukan cara membaca yang baik. Membaca harus

dilakukan dengan konsentrasi sehingga apa yang dibaca dapat diingat dengan

baik.

3317
e) Membuat ikhtisar atau ringkasan dan menggarisbawahi

Banyak orang yang merasa terbantu dalam belajarnya karena menggunakan

ikhtisar-ikhtisar materi yang dibuatnya. Ikhtisar atau ringkasan ini memang dapat

membantu dalam hal mengingat atau mencari kembali dalam buku untuk masa-

masa mendatang. Untuk keperluan belajar yang intensif, membuat ikhtisar sangat

penting, sementara membaca hal-hal yang penting perlu digarisbawahi untuk

memudahkan menemukan kembali secara cepat dan tepat materi yang

dibutuhkan.

f) Mengingat

Mengingat merupakan gejala psikologis. Untuk mengetahui bahwa seseorang

sedang mengingat sesuatu, dapat dilihat dari sikap dan perbuatannya. Perbuatan

mengingat dilakukan bila seseorang sedang mengingat-ingat kesan yang telah

dipunyai. Mengingat adalah salah satu aktivitas belajar dan tidak ada seorang pun

yang tidak pernah mengingat dalam belajar walaupun kadang-kadang orang lupa

akan apa yang telah dipelajarinya.

g) Berpikir

Berpikir termasuk aktivitas belajar, di mana dalam berpikir akan diperoleh

penemuan baru, setidak-tidaknya orang menjadi tahu tentang hubungan antara

sesuatu. Berpikir bukanlah sembarang berpikir, tetapi ada taraf tertentu.

Dalam melakukan berbagai aktivitas belajar, terdapat beberapa prinsip yang

sangat terkait dengan aktivitas belajar, seperti dikemukakan Sardiman (2001: 24)

antara lain:

3318
a) Belajar pada hakikatnya menyangkut potensi manusiawi dan
kelakuannya.
b) Belajar memerlukan proses dan pentahapan serta kematangan diri
para siswa.
c) Belajar akan lebih mantap dan efektif, bila didorong dengan
motivasi, terutama motivasi dari dalam/dasar kebutuhan/kesadaran lain halnya
belajar dengan karena rasa takut atau dibarengi dengan rasa tertekan dan
menderita.
d) Belajar dapat melakukan tiga cara yaitu diajar secara langsung,
kontrol, kontak, dan penganalan atau peniruan.
e) Perkembangan pengalaman anak didik akan banyak mempengaruhi
kemampuan belajar yang bersangkutan.
f) Belajar sedapat mungkin diubah ke dalam bentuk makna ragam
tugas, sehingga anak-anak melakukan dialog dalam dirinya atau
mengalaminya sendiri.

Prinsip-prinsip belajar di atas sangat terkait dengan upaya seseorang dalam

meningkatkan kemampuannya, baik dalam aspek kognitif, afektif maupun

psikomotor. Namun tidak semua dapat dengan mudah melakukan aktivitas belajar

karena berbagai aspek yang mempengaruhi kegiatan belajar seseorang, seperti

rendahnya motivasi belajar atau kurangnya motivasi dari orang tua sebagai motivator

belajar anak.

Mengacu pada pendapat di atas, maka belajar merupakan usaha menguasai

hal-hal yang baru atau peningkatan kemampuan seseorang dalam memahami sesuatu

sehingga ada perubahan dalam diri seseorang yang mengarah kepada perubahan

pengetahuan, sikap dan keterampilan. Proses belajar adalah proses yang berbeda

dengan proses kematangan yang dicapai oleh seseorang dari proses pertumbuhan

psikologisnya. Perubahan yang juga tidak termasuk dalam kategori belajar adalah

refleks. Kegiatan belajar di sini adalah peristiwa belajar di mana seseorang menyadari

bahwa ia mempelajari sesuatu dan menyadari perubahan itu melalui belajar.

3319
3) Pengertian Motivasi Belajar

Salah satu kondisi belajar mengajar yang efektif adalah adanya motivasi siswa

dalam belajar. Motivasi merupakan suatu kondisi dalam diri seseorang yang relatif

menetap. Motivasi besar sekali pengaruhnya terhadap belajar, sebab dengan motivasi

seseorang akan melakukan sesuatu yang diinginkannya. Sebaliknya tanpa motivasi,

seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu.

Winkel (1991: 94) bahwa “motivasi belajar adalah keseluruhan daya

penggerak psikis yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah

pada kegiatan belajar guna mencapai tujuan”. Sardiman (2001: 73) mengemukakan:

Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri


siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin
kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada
kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar
itu dapat tercapai.

Berdasarkan kedua pendapat di atas, motivasi belajar dapat diartikan sebagai

dorongan untuk melakukan suatu aktivitas berupa aktivitas belajar. Hal ini berarti

motivasi belajar mengandung berbagai unsur dalam kegiatan belajar di sekolah dan di

rumah yang dapat diukur, berupa: keaktifan dalam mengikuti pelajaran di sekolah,

perasaan senang mengikuti pelajaran, menyelesaikan tugas di sekolah, kegiatan

belajar dirumah, dan pengerjaan tugas secara individu dan kelompok.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi seseorang terhadap

suatu objek terdiri atas faktor internal yang berasal dari dalam diri seseorang, dan

faktor eksternal yang berasal dari luar diri seseorang. Demikian pula halnya dengan
3320
motivasi siswa untuk melakukan aktivitas belajar pada hakikatnya dipengaruhi oleh

faktor internal dan faktor eksternal.

Sardiman (2001: 87) yang mengklasifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi

motivasi yaitu:

1) Motivasi instrinsik, yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau


berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu
sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh, orang yang
senang membaca.
2) Motivasi ekstrinsik, yaitu motif-motif yang aktif dan berfungsinya
karena ada rangsangan dari luar. Sebagai contoh, seseorang itu belajar dengan
harapan mendapat nilai baik, sehingga akan dipuji oleh pacarnya atau
temannya.

Menurut Hendrojuwono (1983: 23) bahwa “motivasi seorang siswa terhadap

yang dipelajari merupakan salah satu faktor yang memungkinkan konsentrasi

belajarnya, karena menarik minat terhadap apa yang dipelajarinya”. Motivasi dapat

menimbulkan kegairahan belajar sehingga motivasi belajar timbul apabila terhadap

hubungan antara pelajar dan apa yang dipelajarinya. Para siswa memiliki berbagai

kemampuan sehubungan dengan apa yang dipelajari, seperti; menghargai, memahami

dan menikmati apa yang dipelajari sehingga dapat meningkatkan kemampuan dan

hasil belajar siswa.

Motivasi belajar siswa sangat terkait dengan kebutuhan atau yang mendorong

siswa sehingga melakukan aktivitas belajar. Hal ini berkaitan dengan pendapat

Morgan (Sardiman, 2001: 76) tentang kebutuhan manusia, yaitu:

1) Kebutuhan untuk berbuat sesuatu untuk sesuatu aktivitas.


2) Kebutuhan untuk menyenangkan orang lain.
3) Kebutuhan untuk mencapai hasil.
4) Kebutuhan untuk mengatasi kesulitan.

3321
Kebutuhan manusia di atas seperti halnya siswa dalam melakukan aktivitas

belajar senantiasa berubah atau bersifat dinamis sehingga mempengaruhi motivasi

belajar seseorang. Semakin butuh seseorang akan sesuatu, maka akan termotivasi

untuk melakukan suatu aktivitas, seperti halnya aktivitas belajar di sekolah dan di

rumah.

Motivasi belajar dapat menentukan hasil belajar yang dicapai siswa. Hasil

belajar dapat diartikan sebagai taraf kemampuan aktual yang bersifat terukur berupa

penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dicapai oleh siswa dari

apa yang dipelajari di sekolah. Analisis tentang pembelajaran di sekolah melibatkan

input, proses, dan output yang sekaligus dapat mempengaruhi hasil belajar. Input

menyangkut karakteristik siswa. Proses mencakup bagaimana belajar itu berlangsung

dan faktor-faktor/prinsip-prinsip apa yang mempengaruhi motivasi belajar itu. Output

adalah mengenai hasil belajar yang berkaitan dengan tujuan pendidikan yang

dijabarkan dalam tujuan pembelajaran. Hal yang pokok pada output adalah

pengukuran tentang hasil belajar.

Berdasarkan pendapat, jelas bahwa berbagai faktor yang dapat mempengaruhi

motivasi belajar siswa. Namun garis besarnya motivasi dapat diklafisikasikan atas dua

faktor, yaitu faktor yang bersumber dari luar diri siswa dan faktor dari dalam diri

siswa.

1) Faktor dari dalam diri siswa

Faktor dari dalam diri siswa yang mempengaruhi motivasi belajar dapat berupa

faktor fisiologis dan psikologis. Faktor fisiologis dibedakan atas dua bagian yaitu

3322
keadaan jasmani pada umumnya yaitu keadaan kondisi tubuh seperti kesegaran tubuh,

keadaan fungsi-fungsi fisiologis tertentu yang meliputi panca indera. Sedangkan

faktor psikologis merupakan faktor internal yang mempengaruhi seseorang untuk

melakukan aktivitas belajar, seperti: adanya keingintahuan yang tinggi terhadap apa

yang ingin dipelajari, adanya sifat kreatif yang ada pada diri siswa dan keinginan

untuk selalu maju, dan keinginan mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran.

Djamarah (2002: 116) mengemukakan:

Siswa yang memiliki motivasi instrinsik akan cenderung menjadi orang


yang terdidik, berpengetahuan, mempunyai keahlian dalam bidang
tertentu. Gemar belajar adalah aktivitas yang tak pernah sepi dari
kegiatan siswa yang memiliki motivasi intrinsik.

Pendapat di atas menegaskan tentang pentingnya motivasi yang bersumber

dari dalam diri siswa, karena hal tersebut dapat menjadi sumber motivator yang

sangat berarti bagi siswa dalam melakukan aktivitas belajar. Adanya motivasi yang

bersifat instrinsik akan menumbuhkan kesadaran siswa dalam melakukan aktivitas

belajar dibandingkan jika motivasi tersebut hanya muncul karena adanya rangsangan

dari luar dirinya.

2) Faktor dari luar diri siswa

Faktor dari luar diri siswa yang mempengaruhi motivasi belajar siswa dapat

dibagi atas dua aspek, yaitu faktor sosial dan non sosial. Faktor non sosial dalam

belajar yang mempengaruhi motivasi belajar siswa dapat berupa keadaan udara, suhu

udara, cuaca, waktu (pagi, siang atau malam), tempat belajar, alat-alat yang digunakan

dalam belajar, termasuk adanya hadiah penghargaan sebagai suatu motivasi belajar

3323
bagi siswa. Sedangkan faktor sosial berupa manusia yaitu kehadiran orang lain dalam

kegiatan belajar. Jika ada orang yang memberi semangat untuk belajar, seperti orang

tua, teman terdekat, saudara, dan sebagainya akan dapat memacu motivasi belajar

seseorang. Namun jika dalam suatu kelas atau pada lingkungan sosialnya cenderung

terjadi keributan, maka otomatis hal tersebut akan dapat mempengaruhi motivasi

belajar siswa.

c. Fungsi Motivasi dalam Belajar

Salah satu kondisi belajar yang efektif adalah adanya motivasi anak dalam

belajar. Motivasi merupakan suatu kondisi dalam diri seseorang yang relatif menetap.

Motivasi besar sekali pengaruhnya terhadap belajar, sebab dengan motivasi seseorang

akan melakukan sesuatu yang dimotivasiinya. Sebaliknya tanpa motivasi, seseorang

tidak mungkin melakukan sesuatu karena dalam melakukan sesuatu sangat

membutuhkan adanya dorongan. Motivasi merupakan suatu kondisi psikologis dalam

diri seseorang yang relatif menetap. Motivasi besar pengaruhnya dalam melakukan

aktivitas, sebab dengan motivasi akan melakukan sesuatu yang dimotivasinya.

Sebaliknya tanpa motivasi, seseorang akan merasa malas melakukan sesuatu.

Motivasi belajar dapat tumbuh baik dari diri anak maupun dari luar dirinya.

Baik motivasi dari diri anak maupun dari luar, keduanya berfungsi sebagai

pendorong, penggerak dan penyeleksi perbuatan. Kesemuanya akan menyatu dalam

sikap yang diimplementasikan dalam perbuatan. Dorongan merupakan suatu

fenomena psikologis dari dalam yang melahirkan hasrat untuk bergerak dan

menyeleksi perbuatan yang akan dilakukan. Karena itulah baik dorongan atau
3324
penggerak maupun kata kunci dari motivasi dalam setiap aktivitas dalam belajar. Hal

ini berarti bahwa motivasi sangat penting bagi seseorang untuk melakukan aktivitas

belajar, baik motivasi dari dalam diri maupun dari luar diri anak.

Djamarah (2002: 123) mengemukakan fungsi motivasi dalam belajar yaitu:

“1) motivasi sebagai pendorong perbuatan, 2) motivasi sebagai penggerak perbuatan,

dan 3) motivasi sebagai pengarah perbuatan”. Ketiga fungsi motivasi dalam belajar

tersebut, akan diuraikan sebagai berikut:

1) Motivasi sebagai pendorong perbuatan

Seorang anak yang pada mulanya tidak ada hasrat atau keinginan untuk belajar,

tetapi kemudian ada sesuatu yang deicari atau ingin diketahui sehingga muncullah

minat untuk belajar. Sesuatu yang ingin diketahui itu dalam rangka untuk

memenuhi rasa ingin tahunya, maka menimbulkan suatu dorongan untuk berbuat.

Hal ini berarti sikap itulah yang mendasari dan mendorong ke arah sejumlah

perbuatan dalam belajar. Jadi, motivasi yang berfungsi sebagai pendorong ini

mempengaruhi sikap yang seharusnya anak lakukan dalam rangka belajar.

2) Motivasi sebagai penggerak perbuatan

Adanya dorongan psikologis yang dapat melahirkan sikap anak untuk melakukan

suatu aktivitas seperti aktivitas belajar, tentu merupakan suatu kekuatan yang tak

terbendung yang kemudian diwujudkan dalam bentuk gerakan fisik atau berbuat.

Anak melakukan aktivitas belajar dengan segenap jiwa dan raga. Akal pikiran

berproses dengan sikap raga yang cenderung tunduk dengan kehendak perbuatan

belajar, sehingga motivasi merupakan penggerak untuk berbuat seperti berbuat

3325
atau melakukan aktivitas belajar dengan penuh konsentrasi atau perhatian

terhadap materi yang dipelajari.

3) Motivasi sebagai pengarah perbuatan

Anak yang mempunyai motivasi tentu dapat menyeleksi perbuatan yang dapat

dilakukan dan yang tidak dilakukan. Anak yang ingin mendapatkan sesuatu dari

suatu kegiatan belajar, tidak mungkin dipaksakan untuk mempelajari suatu materi

yang lain, karena anak yang bersangkutan akan mempelari materi di mana

tersimpan sesuatu yang akan dicari atau dibutuhkan. Sesuatu yang dicari oleh

anak merupakan tujuan belajar yang akan dicapainya. Tujuan belajar itulah yang

merupakan pengarah atau memberikan motivasi kepada anak untuk belajar.

d. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

Setiap siswa tidak selamanya memiliki motivasi belajar yang tinggi, tentu ada

yang memiliki motivasi belajar rendah. Demikian pula motivasi belajar dalam diri

seseorang tidak selamanya menetap dalam arti selalu tinggi, tetapi dapat dilain waktu

memiliki motivasi belajar yang rendah. Hal ini berarti perlunya ada upaya untuk

meningkatkan motivasi belajar siswa.

Motivasi belajar siswa senantiasa perlu ditingkatkan agar memiliki perhatian

terhadap pelajaran, baik di sekolah maupun di rumah. Upaya tersebut harus dilakukan

secara terarah sehingga dapat diperoleh hasil yang optimal terhadap peningkatan

motivasi belajar siswa. Demikian pula perlunya siswa menyadari bahwa pemberian

motivasi yang diterima disadari sebagai suatu upaya positif dalam pengembangan

kemampuan belajarnya sehingga betul-betul memberi kontribusi positif terhadap


3326
peningkatan kemampuan belajar siswa. Demikian pula dengan siswa yang lain juga

dapat menjadi pendorong baginya untuk lebih giat belajar.

Djamarah (2002: 135) mengemukakan upaya-upaya yang dapat ditempuh

dalam meningkatkan motivasi belajar siswa yaitu: “1) menggairahkan siswa, 2)

memberikan harapan realistis, 3) memberikan insentif, dan 4) mengarahkan perilaku

siswa”.

Upaya peningkatan motivasi belajar tersebut, berikut diuraikan satu-

persatu:

1) Menggairahkan siswa

Guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas harus berusaha menghindari hal-hal

yang monoton dan membosankan bagi siswa dalam melakukan aktivitas belajar.

guru harus memberikan rangsangan kepada siswa untuk dapat berpikir dan

melakukan sesuatu secara kreatif. Guru dalam mengajar harus mempunyai

pengetahuan yang cukup mengenai disposisi awal setiap siswanya sehingga dapat

menggaraihkan siswa dalam mengikuti pelajaran.

2) Memberikan harapan realistis

Guru saat mengajar harus memelihara harapan-harapan siswa yang realistis dan

memodifikasi harapan yang kurang atau tidak realistis. Jika siswa menunjukkan

suatu kegagalan dalam belajar, maka guru harus memberikan sebanyak mungkin

keberhasilan kepada siswa berupa dorongan untuk berpikir dan belajar agar dapat

memenuhi harapannya untuk menguasai materi pelajaran yang diajarkan oleh

guru.

3327
3) Memberikan insentif

Jika siswa berhasil dalam belajarnya, guru seharusnya dapat memberikan

penguatan atas keberhasilan siswa. Pemberian penguatan harus dilakukan secara

obyektif dan tepat waktu yang memungkinkan siswa dapat menyadari bahwa

insentif yang diperoleh merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya.

Selain pemberian penguatan, siswa juga dapat diberikan hadiah penghargaan atas

keberhasilan studinya yang dilakukan secara obyektif dan tepat waktu.

4) Mengarahkan perilaku siswa

Mengarahkan perilaku siswa di sekolah merupakan salah satu tugas guru. Jika

siswa menunjukkan perilaku yang kurang terarah terhadap pelajaran, maka

menjadi tugas guru untuk menegur dan berusaha mengalihkan perhatian siswa

terhadap pelajaran.

Selain upaya di atas, Gage (Djamarah, 2002: 137) mengemukakan sejumlah

cara meningkatkan motivasi belajar siswa, yaitu:

1) Pergunakan pujian verbal


2) Pergunakan tes dan nilai secara bijaksana
3) Membangkitkan rasa ingin tahu dan hasrat eksplorasi
4) Melakukan hal yang luas biasa
5) Merangsang hasrat siswa
6) Memanfaatkan apersepsi siswa
7) Terapkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam konteks yang
unit dan luar biasa agar siswa lebih terlibat dalam belajar.
8) Minta kepada siswa untuk mempergunakan hal-hal yang sudah
dipelajari sebelumnya.
9) Pergunakan stimulasi dan permainan.
10) Perkecil daya tarik sistem motivasi yang bertentangan
11) Perkecil konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenangkan
terhadap siswa dari keterlibatannya dalam belajar.

3328
Berdasarkan kedua pendapat di atas, jelas bahwa terdapat berbagai upaya

yang dapat dilakukan dalam rangka meningkatkan motivasi belajar siswa. Upaya-

upaya tersebut harus dilakukan secara terencana dan terarah sehingga harapan guru

untuk meningkatkan motivasi belajar siswa melalui upaya yang dilakukan dapat

tercapai secara optimal.

3. Kaitan Pemberian Hadiah Penghargaan dengan Motivasi Belajar Siswa

Setiap siswa yang ingin sukses dalam belajarnya mutlak memiliki motivasi

untuk melakukan aktivitas belajar baik di sekolah maupun di rumah. Demikian pula

setiap siswa perlu diberikan rangsangan agar memiliki motivasi untuk belajar, salah

satu diantaranya bersumber dari pihak sekolah, seperti pemberian hadiah penghargaan

berupa uang atau barang kepada siswa berprestasi, yaitu siswa yang masuk dalam

rangking I, II dan III.

Melalui hadiah penghargaan yang diterimanya, siswa diharapkan dapat lebih

memacu kegiatan belajarnya sehingga pada semester berikutnya dapat kembali

mendapatkan hadiah penghargaan. Demikian pula terhadap siswa yang belum

mendapatkan hadiah penghargaan, diharapkan dapat menjadi motivator baginya

untuk lebih giat belajar agar juga dapat mendapatkan hadiah penghargaan pada

semester berikutnya dengan mengacu kepada persyaratan yang berlaku di sekolah.

Djamarah (2002: 126) mengemukakan “dalam dunia pendidikan, hadiah bisa

dijadikan sebagai alat motivasi. Hadiah dapat diberikan kepada anak didik yang

berprestasi tinggi, rangking satu, dua atau tiga dari anak didik lainnya”.

3329
Pemberian hadiah penghargaan khusus diberikan kepada siswa berprestasi

dengan rangking tertentu diharapkan dapat lebih memotivasi siswa yang

bersangkutan untuk lebih giat belajar agar dapat mempertahankan prestasinya. Akan

tetapi hal ini juga berlaku bagi siswa yang belum mendapatkan hadiah penghargaan,

tentu dapat menjadi pendorong baginya untuk meningkatkan prestasinya agar juga

dapat mendapatkan hadiah penghargaan. Akan tetapi hendaknya hadiah penghargaan

betul-betul berdampak positif terhadap peningkatan motivasi belajar siswa, seperti

dikemukakan oleh Djamarah (2002: 127) bahwa:

Pemberian hadiah yang sederhana perlu digalakkan karena relatif


murah dan dirasakan cukup efektif untuk memotivasi anak didik dalam
kompetisi belajar. Jangan menunggu hadiah yang muluk-muluk mahal
dengan maksud membanggakan diri sendiri.

Pendapat yang sama dikemukakan oleh Maslow (Purwanto, 2007: 78) tentang

teori kebutuhan manusia, di mana penghargaan dikategorikan sebagai kebutuhan ke

empat yaitu “kebutuhan akan penghargaan, termasuk kebutuhan dihargai karena

prestasi, kemampuan, kedudukan atau status”.

Siswa yang telah mendapatkan hadiah penghargaan tentunya menjadi

motivator baginya untuk lebih termotivasi dalam belajar. Demikian pula bagi yang

belum menerima hadiah juga dapat menjadi motivator baginya untuk lebih giat

belajar agar juga dapat mendapatkan hadiah penghargaan.

B. Kerangka Pikir

Dalam kegiatan pendidikan, aspek motivasi belajar merupakan salah satu

aspek yang sangat menentukan kesuksesan studi siswa. Oleh karena itu, setiap siswa

3330
perlu menumbuhkan motivasi belajar dalam dirinya agar dapat sukses dalam

belajarnya, baik tumbuh secara murni atas dasar keinginan pribadi ataupun karena

adanya rangsangan dari luar dirinya. Motivasi belajar baik terhadap semua mata

pelajaran ataupun terhadap satu mata pelajaran.

Motivasi belajar sangat penting bagi siswa untuk ditumbuhkan dalam dirinya,

baik tumbuh dari dalam diri seseorang ataupun karena adanya rangsangan dari luar

dirinya, salah satu diantaranya adalah adanya hadiah penghargaan atas prestasi yang

diperoleh di sekolah. Adanya hadiah penghargaan, seperti uang atau barang-barang

(buku-buku), tentunya dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk lebih giat belajar,

tetapi hal ini juga dapat berlaku bagi yang belum mendapatkan hadiah penghargaan

dengan lebih giat belajar dengan harapan juga dapat mendapatkan hadiah

penghargaan. Hal ini berarti bahwa hadiah penghargaan dapat menjadi salah satu

pendorong bagi siswa untuk lebih termotivasi belajar, baik terhadap siswa pernah

maupun yang belum mendapatkan hadiah penghargaan.

Berdasarkan uraian di atas, maka kerangka pikir penelitian ini digambarkan

sebagai berikut:

3331
Proses Pembelajaran

Mendapatkan hadiah Tidak mendapatkan


penghargaan hadiah penghargaan

Motivasi Belajar
Siswa

Gambar 2.1: Skema kerangka pikir

C. Hipotesis

Mengacu kepada kerangka pikir penelitian, maka hipotesis kerja (H1)

penelitian ini adalah “ada perbedaan yang signifikan motivasi belajar antara siswa

yang mendapatkan hadiah penghargaan dan tidak mendapatkan hadiah penghargaan

di SMP Negeri 27 Makassar”.

3332
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain komparatif.

Artinya, penelitian ini mengkaji perbandingan motivasi belajar siswa antara yang

mendapatkan hadiah penghargaan dengan siswa yang tidak mendapatkan hadiah

penghargaan di SMP Negeri 27 Makassar, atau mengkaji pengaruh pemberian hadiah

penghargaan terhadap motivasi belajar siswa di SMP Negeri 27 Makassar.

Model desain penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

X1 Y X2

di mana:

X1 = Siswa yang mendapatkan hadiah penghargaan

X2 = Siswa yang tidak mendapatkan hadiah penghargaan

Y = Motivasi belajar

B. Peubah dan Definisi Operasional

Penelitian ini mengkaji dua peubah, yaitu “pemberian hadiah penghargaan”

sebagai peubah bebas yang disimbol dengan X dan “prestasi belajar” sebagai peubah

terikat yang disimbol dengan Y. Agar tidak terjadi perbedaan interpretasi terhadap

peubah yang dikaji, maka peubah tersebut perlu dioperasionalkan.

3333
1. Pemberian hadiah penghargaan merupakan

pemberian hadiah kepada siswa berprestasi (rangking I, II dan III) oleh sekolah

pada setiap ujian semester berupa uang, di mana rangking I sebesar Rp

150.000,-, rangking II sebesar Rp 100.000,-, dan rangking III sebesar 50.000,-.

2. Motivasi belajar yang dimaksudkan dalam

penelitian ini adalah dorongan siswa untuk melakukan aktivitas belajar baik

bersumber dari dirinya maupun dari luar dirinya yang ditunjukkan dengan adanya

hasrat dan keinginan berhasil, adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar,

adanya harapan dan cita-cita masa depan, adanya penghargaan dalam belajar,

adanya kegiatan yang menarik dalam belajar, dan adanya lingkungan yang

kondusif.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Menurut Sugiyono (2004: 55) bahwa “populasi adalah wilayah generalisasi

yang terdiri atas; obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu

yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.

Hal ini berarti populasi merupakan keseluruhan yang menjadi sasaran penelitian guna

mendapatkan data atau informasi yang diharapkan dapat menjawab permasalahan

penelitian.

Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII dan IX SMP Negeri 27

Makassar pada tahun ajaran 2007/2008 sebanyak 662 orang. Tidak dimasukkannya

siswa kelas VII sebagai populasi, dengan pertimbangan mereka sebagai siswa baru
3334
yang belum ada yang mendapatkan hadiah penghargaan. Keadaan populasi penelitian

ini seperti pada tabel berikut:

Tabel 3.1. Keadaan Siswa Kelas VIII dan IX SMP Negeri 27 Makassar

Nomor Kelas Banyaknya Siswa


1. VIII A 39
2. VIII B 40
3. VIII C 40
4. VIII D 40
5. VIII E 40
6. VIII F 38
7. VIII G 35
8. VIII H 32
9. VIII I 31
10. IX A 39
11. IX B 40
12. IX C 38
13. IX D 40
14. IX E 38
15. IX F 38
16. IX G 34
17. IX H 39
18. IX I 21
. J u m la h 662
Sumber: Tata Usaha SMP Negeri 27 Makassar, Juli 2007

2. Sampel

Pertimbangan bahwa penelitian ini merupakan penelitian komparatif, yaitu

membandingkan motivasi belajar siswa yang mendapatkan hadiah penghargaan dan

tidak mendapatkan hadiah penghargaan, maka ditetapkan bahwa semua siswa yang

mendapat hadiah penghargaan pada semester genap tahun ajaran 2006/2007 sebagai

responden sebanyak 54 orang, sekaligus patokan banyaknya siswa yang tidak

mendapat hadiah penghargaan pada setiap kelas sebanyak 54 orang, sehingga sampel

penelitian sebanyak 108 responden.


3335
Siswa kelas VIII yang mendapatkan hadiah penghargaan saat akan kenaikan

kelas di kelas VII ke kelas VIII masing-masing sebanyak 9 orang pada kelas VIII A,

VIII B, dan kelas VIII C. Demikian siswa kelas IX yang mendapatkan hadiah

penghargaan saat akan kenaikan kelas di kelas VIII kelas IX masing-masing sebanyak

9 orang pada kelas IX A, IX B, dan kelas IX C. Penentuan responden pada kelompok

siswa yang tidak mendapatkan hadiah penghargaan dilakukan secara acak sehingga

semua siswa pada setiap kelas masing-masing terdapat 3 siswa sebagai responden

penelitian. Lebih jelasnya mengenai penyebaran sampel penelitian ini, dapat dilihat

pada tabel berikut:

Tabel 3.2. Penyebaran Sampel Penelitian

Nomor Kelas Banyaknya Siswa


Dapat hadiah Tidak dapat hadiah
1. VIII A 9 3
2. VIII B 9 3
3. VIII C 9 3
4. VIII D 0 3
5. VIII E 0 3
6. VIII F 0 3
7. VIII G 0 3
8. VIII H 0 3
9. VIII I 0 3
10. IX A 9 3
11. IX B 9 3
12. IX C 9 3
13. IX D 0 3
14. IX E 0 3
15. IX F 0 3
16. IX G 0 3
17. IX H 0 3
18. IX I 0 3
. J u m la h 54 54

3336
D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah

teknik angket dan dokumentasi.

1. Teknik angket

Angket berisi pertanyaan tertulis yang ditujukan kepada responden penelitian

guna mengukur motivasi belajar siswa di SMP Negeri 27 Makassar. Angket

penelitian sifatnya tertutup, karena pilihan jawaban telah disediakan sehingga

responden hanya memilih salah satu pilihan jawaban yang disediakan, yaitu: sangat

setuju (SS), setuju (S), kurang setuju (KS), dan tidak setuju (TS).

Guna kepentingan analisis data, maka setiap item pertanyaan diberikan bobot

dengan menggunakan skala Likert dengan rentang 1 sampai 4, yaitu:

a. Pilihan jawaban SS, bobotnya 4

b. Pilihan jawaban S, bobotnya 3

c. Pilihan jawaban KS, bobotnya 2

d. Pilihan jawaban TS, bobotnya 1

Sebelum angket digunakan untuk penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji

coba terhadap 30 siswa SMP Negeri 27 Makassar. Hasil uji coba tersebut diolah guna

mengetahui validitas dan reliabilitas angket penelitian peubah motivasi belajar siswa.

a. Uji Validitas

Rumus yang digunakan untuk analisis validitas item angket adalah rumus

korelasi Product Moment (Arikunto, 2002: 146) sebagai berikut:

3337
rxy = N . ∑ XY − (∑ X ) (∑Y )
[N .∑ X 2
−(∑ X )
2
] [N .∑ X 2
− ( ∑Y )
2
]
Keterangan:

rxy = Koefisien korelasi


ΣX = Skor butir item dari angket
ΣY = Skor total butir dari angket
ΣXY = Hasil kali dengan skor total butir item
N = Jumlah sampel

Uji coba instrumen sebanyak 30 orang responden dengan menggunakan taraf

signifikansi 5 persen diperoleh harga rtabel sebesar 0,361. Dengan membandingkan

nilai rhitung yang diperoleh dari analisis uji validitas. Berdasarkan analisis atau uji

validitas dengan menggunakan pengolahan komputer program SPSS ver. 12,

diperoleh bahwa dari 30 item pernyataan terdapat 1 item yang tidak valid yaitu item

15 (0,342) karena nilainya lebih kecil dari batas penolakan 0,361 (lampiran 2)

sehingga sisa item pernyataan sebanyak 29 item.

b. Uji Reliabilitas

Rumus yang digunakan untuk menguji reliabilitas angket penelitian ini adalah

rumus koefisien alpa (Arikunto, 2002: 173) yaitu:

 k   ∑δi 
2

r1 1 =  ( k − 1)  1 − 2 
   δ t 

Keterangan:
r11 = Reliabilitas yang dicari
Σδ i = Jumlah varians skor tiap-tiap item
2

δ t2 = Varians total

3338
Berdasarkan hasil pengolahan komputer dengan program SPSS ver 12,

diperoleh nilai alpha sebesar 0,942 atau lebih besar dari batas penolakan yaitu 0,361

sehingga angket penelitian dinyatakan layak untuk digunakan dalam kegiatan

penelitian (lampiran 2).

2. Teknik dokumentasi

Dokumentasi dimaksudkan untuk memperoleh data jumlah siswa di SMP

Negeri 27 Makassar tahun ajaran 2007/2008, dan jumlah siswa yang pernah

mendapatkan hadiah penghargaan pada semester terakhir atau semester genap (tahun

ajaran 2006/2007).

E. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis

statistik inferensial.

1. Analisis statistik deskriptif

Analisis deskriptif dimaksudkan untuk menggambarkan tingkat motivasi

belajar siswa antara yang mendapat hadiah penghargaan dengan siswa yang tidak

mendapat hadiah penghargaan di SMP Negeri 27 Makassar, dengan menggunakan

tabel distribusi frekuensi dan persentase dan dengan rumus persentase yang

dikemukakan oleh Tiro (2002: 242), yaitu:

f
P = x 10 0 %
N

3339
di mana:

P = Persentase
f = Frekuensi yang dicari persentasenya
N = Jumlah responden

Peubah motivasi belajar siswa yang terdiri atas 29 item pernyataan diperoleh

skor ideal tertinggi yaitu 116 (29 x 4 = 116) dan dikurangkan dengan skor ideal

terendah yaitu 29 (29 x 1 = 29), kemudian dibagi 4 kelas sehingga diperoleh interval

kelas 22, dengan kategorisasi, yaitu: sangat rendah (29 – 50), rendah (51 – 72), cukup

tinggi (73 – 94), dan tinggi (95 – 116). Selanjutnya untuk menghitung rata-rata

skor/nilai hasil penelitian kedua peubah, digunakan rumus:

∑ Xi (Sugiyono, 2004: 43)


Me =
n

di mana:

Me = Mean (rata-rata)
X = Nilai X ke i sampai ke n
n = Jumlah sampel

2. Analisis statistik inferensial

Statistik inferensial dimaksudkan untuk menguji hipotesis penelitian dengan

mengkaji perbandingan motivasi belajar siswa yang mendapat hadiah penghargaan

dan tidak mendapat hadiah penghargaan di SMP Negeri 27 Makassar, dengan rumus

t-score, dengan rumus:

Mx − My
t = (Hadi, 2000: 268)
SDbm

3340
di mana:

Mx = Mean motivasi belajar siswa yang mendapat hadiah penghargaan


My = Mean motivasi belajar siswa yang tidak mendapat hadiah penghargaan
SD bm = Standar kesalahan perbedaan mean

Kriteria pengujian hipotesis adalah ditolak hipotesis nihil (Ho) jika nilai t

hitung lebih besar dari pada nilai t tabel, atau diterima hipotesis kerja (H1) apabila

nilai t hitung lebih besar dari pada nilai t tabel pada taraf signifikansi 5 persen.

3341
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Hasil penelitian yang diperoleh melalui hasil angket terhadap 108 responden

penelitian atau masing-masing 54 responden untuk kelompok siswa yang

mendapatkan hadiah penghargaan dan tidak mendapatkan hadiah penghargaan

mengenai motivasi belajarnya, akan disajikan dalam dua bagian, yaitu analisis

deskriptif untuk menggambarkan tingkat motivasi belajar siswa yang mendapatkan

hadiah penghargaan dan tidak mendapatkan hadiah penghrgaan di SMP Negeri 27

Makassar.

1. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif dimaksudkan untuk mengetahui tingkat motivasi belajar

siswa yang mendapatkan hadiah penghargaan dan siswa yang tidak mendapatkan

hadiah penghargaan di SMP Negeri 27 Makassar.

a. Tingkat Motivasi Belajar Siswa yang Mendapatkan Hadiah Penghargaan

Tingkat motivasi belajar siswa yang mendapatkan hadiah penghargaan pada

siswa SMP Negeri 27 Makassar, diklasifikasikan atas empat bagian, yaitu: sangat

rendah, rendah, cukup tinggi, dan tinggi. Lebih jelasnya mengenai motivasi belajar

siswa di SMP Negeri 27 Makassar yang mendapatkan hadiah penghargaan dapat

dilihat pada tabel berikut:

3342
Tabel 4.1. Motivasi Belajar Siswa yang Mendapatkan Hadiah Penghargaan di
SMP Negeri 27 Makassar

Interval Kategori Motivasi Belajar Siswa Frekuensi Persentase


95 – 116 Tinggi 41 75,93
73 – 94 Cukup tinggi 12 22,22
51 – 72 Rendah 1 1,85
29 – 50 Sangat rendah 0 0
Jumlah 54 100,00
Sumber: Hasil analisis angket

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa yang mendapatkan

hadiah penghargaan di SMP Negeri 27 Makassar dominan dalam kategori tinggi yang

mencapai 41 responden atau 75,93 persen, disusul kategori cukup tinggi sebanyak 12

responden atau 22,22 persen, kategori rendah sebanyak 1 responden atau 1,85 persen,

dan tidak ada responden yang memiliki motivasi belajar dalam kategori sangat

rendah. Selanjutnya sesuai dengan data nilai rata-rata motivasi belajar (lampiran 4)

sebesar 98,17, di mana nilai rata-rata tersebut berada pada interval 95 - 116 yang

berarti tinggi. Hal ini berarti tingkat motivasi belajar siswa yang mendapatkan hadiah

penghargaan atas prestasi belajarnya di SMP Negeri 27 Makassar umumnya memiliki

motivasi belajar dalam kategori tinggi. Adapun bentuk hadiah penghargaan yang

diberikan kepada siswa dalam bentuk uang tunai, berupa uang sebesar Rp 150.000,-

untuk rangking I, Rp 100.000,- untuk rangking II, dan Rp 50.000,- untuk siswa

rangking III.

b. Tingkat Motivasi Belajar Siswa yang Tidak Mendapatkan Hadiah Penghargaan

Tingkat motivasi belajar siswa yang tidak mendapatkan hadiah penghargaan

pada siswa SMP Negeri 27 Makassar, diklasifikasikan atas empat bagian, yaitu:

3343
sangat rendah, rendah, cukup tinggi, dan tinggi. Lebih jelasnya mengenai motivasi

belajar siswa di SMP Negeri 27 Makassar yang tidak mendapatkan hadiah

penghargaan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.2. Motivasi Belajar Siswa yang Tidak Mendapatkan Hadiah


Penghargaan di SMP Negeri 27 Makassar

Interval Kategori Motivasi Belajar Siswa Frekuensi Persentase


95 – 116 Tinggi 9 16,67
73 – 94 Cukup tinggi 32 59,26
51 – 72 Rendah 13 24,07
29 – 50 Sangat rendah 0 0
Jumlah 54 100,00
Sumber: Hasil analisis angket

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa yang tidak

mendapatkan hadiah penghargaan di SMP Negeri 27 Makassar dominan dalam

kategori cukup tinggi yang mencapai 32 responden atau 59,26 persen, disusul

kategori rendah sebanyak 13 responden atau 24,07 persen, kategori tinggi sebanyak 9

responden atau 16,67 persen, dan tidak ada responden yang memiliki motivasi belajar

dalam kategori sangat rendah. Selanjutnya sesuai dengan data nilai rata-rata motivasi

belajar siswa yang tidak mendapatkan hadiah penghargaan (lampiran 4) sebesar

83,35, di mana nilai rata-rata tersebut berada pada interval 73 - 94 yang berarti cukup

tinggi. Hal ini berarti tingkat motivasi belajar siswa yang tidak mendapatkan hadiah

penghargaan atas prestasi belajarnya di SMP Negeri 27 Makassar umumnya memiliki

motivasi belajar dalam kategori cukup tinggi, walaupun terdapat pula sebagan kecil

siswa yang memiliki motivasi belajar dalam kategori tinggi namun tidak

mendapatkan hadiah penghargaan.

3344
2. Pengujian Hipotesis

Hipotesis penelitian ini adalah “ada perbedaan yang signifikan motivasi

belajar antara siswa yang mendapatkan hadiah penghargaan dan tidak mendapatkan

hadiah penghargaan di SMP Negeri 27 Makassar”.

Berdasarkan hasil perhitungan t-score (lampiran 5), diperoleh nilai thitung

sebesar 7,47 selanjutnya nilai tersebut dikonsultasikan dengan nilai ttabel (0,95:106 =

1,980). Karena nilai thitung lebih besar daripada nilai ttabel, maka hipotesis penelitian

yaitu “ada perbedaan yang signifikan motivasi belajar antara siswa yang

mendapatkan hadiah penghargaan dan tidak mendapatkan hadiah penghargaan di

SMP Negeri 27 Makassar” dinyatakan diterima.

Adanya perbedaan yang signifikan motivasi belajar antara siswa yang

mendapatkan hadiah penghargaan dan tidak mendapatkan hadiah penghargaan di

SMP Negeri 27 Makassar menunjukkan hadiah penghargaan berupa uang kepada

siswa yang berada pada rangking I, II dan III, memberikan pengaruh positif terhadap

peningkatan motivasi belajar siswa yaitu lebih giat belajar agar dapat

mempertahankan prestasinya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang

menunjukkan bahwa tingkat motivasi belajar siswa yang mendapatkan hadiah

penghargaan lebih tinggi (kategori tinggi) dibandingkan siswa yang tidak

mendapatkan hadiah penghargaan berupa uang karena prestasi belajarnya berada pada

rangking IV ke bawah (kategori cukup tinggi).

B. Pembahasan

3345
Motivasi belajar merupakan salah satu aspek yang perlu dimiliki oleh setiap

siswa yang ingin sukses dalam belajarnya, karena motivasi merupakan dorongan

untuk melakukan aktivitas belajar, baik karena dipengaruhi oleh faktor dari diri siswa

maupun karena adanya rangsangan dari luar dirinya, seperti halnya adanya

penghargaan dari pihak sekolah. adanya hadiah penghargaan seperti uang tentu dapat

menjadi pendorong bagi siswa untuk lebih giat belajar, tetapi hal itu juga dapat

berlaku bagi siswa yang belum mendapatkan hadiah penghargaan dengan lebih giat

belajar dengan harapan agar juga dapat mendapatkan hadiah penghargaan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat motivasi belajar siswa di SMP

Negeri 27 Makassar yang mendapatkan hadiah penghargaan dalam kategori tinggi,

sebagian dalam kategori cukup tinggi dan terdapat sebagian kecil responden yang

memiliki motivasi belajar dalam kategori rendah. Hal ini menggambarkan bahwa

siswa yang mendapatkan hadiah penghargaan di sekolah berupa uang, di mana siswa

yang rangking I mendapatkan uang sebesar Rp 150.000,-, rangking II sebesar

Rp 100.000,-, dan rangking III sebesar Rp 50.000,-, ternyata mampu mendorong

siswa untuk lebih giat belajar.

Tingkat motivasi belajar siswa di SMP Negeri 27 Makassar yang tidak

mendapatkan hadiah penghargaan dalam kategori cukup tinggi, namun terdapat pula

sebagian kecil siswa yang motivasi belajarnya dalam kategori rendah dan tinggi. Hal

ini menggambarkan bahwa motivasi belajar siswa yang tidak mendapatkan hadiah

penghargaan cukup variatif, walaupun kecenderungannya dalam kategori cukup

tinggi.

3346
Tingkat motivasi belajar yang mendapatkan hadiah penghargaan

dibandingkan dengan siswa yang tidak mendapatkan hadiah penghargaan ternyata

menunjukkan perbedaan. Hal ini sesuai penerimaan hipotesis yang menunjukkan

adanya perbedaan yang signifikan motivasi belajar antara siswa yang mendapatkan

hadiah penghargaan dan tidak mendapatkan hadiah penghargaan di SMP Negeri 27

Makassar, di mana siswa yang mendapatkan hadiah penghargaan lebih tinggi tingkat

motivasi belajarnya dibandingkan siswa yang tidak mendapatkan hadiah

penghargaan.

Pemberian hadiah penghargaan yang diberikan kepada siswa yang berada

pada rangking I, II dan III ternyata dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dengan

lebih giat belajar agar dapat mempertahankan prestasinya. Hal ini sangat relevan

dengan teori kebutuhan, sebagaimana dikemukakan oleh Maslow (Purwanto, 2007:

78), di mana penghargaan dikategorikan sebagai kebutuhan ke empat yaitu

“kebutuhan akan penghargaan, termasuk kebutuhan dihargai karena prestasi,

kemampuan, kedudukan atau status”.

Siswa yang telah mendapatkan hadiah penghargaan tentunya menjadi

motivator baginya untuk lebih termotivasi dalam belajar. Demikian pula bagi yang

belum menerima hadiah juga dapat menjadi motivator baginya untuk lebih giat

belajar agar juga dapat mendapatkan hadiah penghargaan, di mana hasil penelitian

menunjukkan bahwa siswa yang mendapatkan hadiah penghargaan lebih tinggi

tingkat motivasi belajarnya dibandingkan siswa yang tidak mendapatkan hadiah

penghargaan dari pihak sekolah.

3347
3348
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Hasil penelitian mengenai perbandingan motivasi belajar antara siswa yang

mendapatkan hadiah penghargaan dan tidak mendapatkan hadiah penghargaan di

SMP Negeri 27 Makassar, disimpulkan sebagai berikut:

1. Tingkat motivasi belajar siswa di SMP Negeri 27 Makassar yang mendapatkan

hadiah penghargaan dalam kategori tinggi sedangkan tingkat motivasi belajar siswa

yang tidak mendapatkan hadiah penghargaan dalam kategori cukup tinggi.

2. Ada perbedaan yang signifikan motivasi belajar antara siswa yang mendapatkan

hadiah penghargaan dan tidak mendapatkan hadiah penghargaan di SMP Negeri 27

Makassar, di mana siswa yang mendapatkan hadiah penghargaan lebih tinggi tingkat

motivasi belajarnya dibandingkan siswa yang tidak mendapatkan hadiah

penghargaan.

B. Saran

Sehubungan dengan kesimpulan penelitian di atas, maka disarankan kepada:

1. Kepala-kepala sekolah, hendaknya berupaya memberikan hadiah penghargaan

kepada siswa yang berprestasi sebagai suatu bentuk rangsangan motivasi belajar

siswa baik yang berprestasi maupun bagi yang tidak atau belum berprestasi, baik

dalam bentuk uang atau barang seperti buku dan kelengkapan sekolah.

3349
2. Siswa, hendaknya berusaha berkompetisi dalam belajar yang ditunjukkan dengan

motivasi belajar mengikuti pelajaran mengingat hal tersebut sangat penting dalam

meningkatkan kemampuan dan hasil belajarnya. Motivasi belajar yang ditunjukkan

tidak semata-mata untuk mendapatkan hadiah penghargaan dari sekolah, tetapi lebih

menekankan pada aspek keberhasilan dalam belajar.

3350
DAFTAR PUSTAKA

Abimanyu, S. dan Samad, S. (eds). 2003. Pedoman Penulisan Skripsi. Makassar: FIP
UNM.

Ali, M. 1990. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern. Jakarta: Pustaka Amani.

Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka


Cipta.

Bundu, P. 1995. Identifikasi Jenis Prioritas Kebutuhan dalam Proses Pendidikan.


Jurnal Pendidikan dan Keguruan. Ujung Pandang: IKIP Ujung Pandang.

Depdikbud. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Djamarah, S. B. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Hadi, S. 2000. Statistik Jilid 2. Yogyakarta: Andi.

Hendrojuwono, W. 1983. Pengantar Psikologi Belajar. Bandung: Universitas


Padjajaran.

Moekijat. 1987. Pembangunan Manajemen dan Motivasi. Bandung: Pionir Jaya.

Purwanto, M. N. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sardiman, A.M. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali
Press.

Sahide, A. 1996. Pendidikan orang Dewasa. Ujung Pandang: FIP IKIP.

Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka


Cipta.

Sugiyono. 2004. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Syah, M. 2000. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja


Rosdakarya.

Tiro, M. A. 2002. Dasar-dasar Statistik. Ujungpandang; UNM.

3351
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional Beserta Penjelasannya. 2005. Bandung: Nuansa Aulia.

Winkel, W.S. 1991. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Grasindo.

3352
Lampiran 1. Instrumen Angket Sebelum Uji Coba

KISI-KISI ANGKET

Peubah Indikator Aspek-aspek No.Item


Positif Negatif
Motivasi Adanya hasrat - Kesadaran pentingnya belajar 1,2 3
belajar dan keinginan - Rasa ingin tahu 4,5
berhasil - Berkompetisi dalam 6 7
berprestasi

Adanya - Dorongan dari diri sendiri 8,9 10,11


dorongan dan - Dorongan dari orang tua
kebutuhan - Dorongan dari guru 12 13
dalam belajar - Dorongan dari teman sebaya 14,15

Adanya harapan - Harapan dapat memperoleh 16


dan cita-cita nilai yang baik
masa depan - Agar cita-cita tercapai dengan 17,18
mudah

Adanya - Penghargaan secara verbal 19,20


penghargaan (pujian)
dalam belajar - Penghargaan secara materi 21,22
(hadiah)

Adanya - Gemar membaca 23


kegiatan yang - Gemar menulis 24
menarik dalam - Gemar berhitung 25
belajar - Menyimpulkan materi 26
pelajaran

Adanya - Kelengkapan fasilitas belajar 27


lingkungan - Lingkungan belajar yang 29 28
yang kondusif aman 30
- Lingkungan belajar yang
nyaman

3353
ANGKET PENELITIAN

Kata Pengantar

Sudilah kiranya Adik meluangkan waktu sejenak untuk mengisi angket ini
berkaitan dengan motivasi belajarnya di sekolah maupun di rumah. Angket ini
dimaksudkan sebagai bahan dalam penyusunan skripsi guna penyelesaian studi
penulis pada Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Makassar.
Adik tidak perlu ragu dalam mengisi angket ini, karena tidak ada
hubungannya dengan penilaian guru terhadap Adik, dan jawaban Adik dijamin
rahasianya.
Atas kesediaannya mengisi angket ini, diucapkan terima kasih.

Peneliti,

Muhammad Yusuf Mustafa

Petunjuk Pengisian:

1. Berilah tanda chek (V) pada salah satu pilihan jawaban yang telah disediakan
sesuai maksud pertanyaan secara obyektif.
2. Pilihan jawaban, yaitu:
SS = sangat setuju, jika pernyataan tersebut dinilia sangat sesuai dengan apa
yang terjadi pada diri Adik.
S = setuju, jika pernyataan tersebut dinilai sesuai dengan apa yang terjadi pada
diri Adik.
KS = kurang setuju, jika pernyataan tersebut dinilai kurang sesuai dengan apa
yang terjadi pada diri Adik.
TS = tidak setuju, jika pernyataan tersebut sama sekali tidak sesuai dengan apa
yang terjadi pada diri Adik.
3. Mohon kiranya jangan ada pertanyaan yang terlewatkan.
4. Bila ada sesuatu yang kurang jelas, mohon ditanyakan pada peneliti.

Identitas Responden:

Jenis kelamin : ……………………


Kelas : ……………………

3354
Pernyataan-Pernyataan
1. Saya sangat menyadari bahwa belajar itu sangat penting agar dapat sukses di
sekolah.
SS S KS TS
2. Hanya dengan belajar, saya tidak ketinggalan dalam menguasai materi pelajaran.
SS S KS TS
3. Saya sering berpikir, buat apa belajar.
SS S KS TS
4. Jika melihat buku pelajaran, selalu timbul rasa ingin membacanya.
SS S KS TS
5. Jika diberikan tugas oleh guru, selalu timbul rasa ingin mengetahui jawabannya.
SS S KS TS
6. Jika tidak belajar, saya tentu akan memperoleh nilai yang rendah dibandingkan
teman-teman..
SS S KS TS
7. Saya biasa berpikir bahwa teman-teman lebih pintar dari saya.
SS S KS TS
8. Saya selalu menumbuhkan semangat dalam diri untuk mau belajar.
SS S KS TS
9. Walaupun tidak ada tugas, saya suka mengulangi materi pelajaran di rumah.
SS S KS TS
10. Saya hanya mau belajar jika orang tua menyuruh atau memaksa untuk belajar.
SS S KS TS
11. Saya belajar karena takut mendapat marah dari orang tua.
SS S KS TS
12. Guru selalu memotivasi saya untuk belajar agar dapat sukses di sekolah.
SS S KS TS
13. Saya menilai bahwa guru tidak pernah menghargai hasil pekerjaan saya.
SS S KS TS
14. Teman-teman cenderung memberikan semangat agar dapat sukses bersama-sama.
SS S KS TS
15. Saya merasa sangat bersemangat jika belajar kelompok.
SS S KS TS
16. Saya belajar dengan harapan agar dapat memperoleh nilai yang baik.
SS S KS TS
17. Saya belajar dengan harapan agar cita-cita saya dapat tercapai.
SS S KS TS
18. Walaupun tanpa belajar, saya yakin cita-cita saya dapat tercapai dengan dukungan
ekonomi orang tua.
SS S KS TS
19. Guru selalu memberikan pujian jika saya menunjukkan prestasi yang baik di
sekolah.
SS S KS TS

3355
20. Saya semakin bersemangat belajar jika guru memberikan pujian atas prestasi di
sekolah.
SS S KS TS
21. Saya rajin belajar agar dapat berprestasi dan memperoleh hadiah penghargaan dari
sekolah.
SS S KS TS
22. Adanya hadiah penghargaan yang disediakan pihak sekolah jika berprestasi
sangat mendorong saya untuk belajar.
SS S KS TS
23. Setiap ada waktu, saya membaca materi pelajaran.
SS S KS TS
24. Saya senang menyalin materi pelajaran pada diktat ke buku tulis.
SS S KS TS
25. Saya senang belajar berhitung agar dapat menguasai pelajaran matematika.
SS S KS TS
26. Saya senang mencatat materi pelajaran yang saya anggap penting.
SS S KS TS
27. Fasilitas belajar saya kurang lengkap sehingga kadang membuat saya malas
belajar.
SS S KS TS
28. Suasana lingkungan tempat tinggal saya kurang tenang sehingga kadang membuat
saya malas belajar
SS S KS TS
29. Saya sering mencari-cari suasana yang aman di luar rumah agar dapat
berkonsentrasi bealjar.
SS S KS TS
30. Lingkungan tempat tinggal saya sangat bersih sehingga membuat nyaman untuk
belajar.
SS S KS TS

3356
Lampiran 3. Instrumen Angket Sesudah Uji Coba

KISI-KISI ANGKET

Peubah Indikator Aspek-aspek No.Item


Positif Negatif
Motivasi Adanya hasrat - Kesadaran pentingnya belajar 1,2 3
belajar dan keinginan - Rasa ingin tahu 4,5
berhasil - Berkompetisi dalam 6 7
berprestasi

Adanya - Dorongan dari diri sendiri 8,9 10,11


dorongan dan - Dorongan dari orang tua
kebutuhan - Dorongan dari guru 12 13
dalam belajar - Dorongan dari teman sebaya 14

Adanya harapan - Harapan dapat memperoleh 15


dan cita-cita nilai yang baik
masa depan - Agar cita-cita tercapai dengan 16,17
mudah

Adanya - Penghargaan secara verbal 18,19


penghargaan (pujian)
dalam belajar - Penghargaan secara materi 20,21
(hadiah)

Adanya - Gemar membaca 22


kegiatan yang - Gemar menulis 23
menarik dalam - Gemar berhitung 24
belajar - Menyimpulkan materi 25
pelajaran

Adanya - Kelengkapan fasilitas belajar 26


lingkungan - Lingkungan belajar yang 28 27
yang kondusif aman 29
- Lingkungan belajar yang
nyaman

3357
ANGKET PENELITIAN

Kata Pengantar

Sudilah kiranya Adik meluangkan waktu sejenak untuk mengisi angket ini
berkaitan dengan motivasi belajarnya di sekolah maupun di rumah. Angket ini
dimaksudkan sebagai bahan dalam penyusunan skripsi guna penyelesaian studi
penulis pada Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Makassar.
Adik tidak perlu ragu dalam mengisi angket ini, karena tidak ada
hubungannya dengan penilaian guru terhadap Adik, dan jawaban Adik dijamin
rahasianya.
Atas kesediaannya mengisi angket ini, diucapkan terima kasih.

Peneliti,

Muhammad Yusuf Mustafa

Petunjuk Pengisian:

1. Berilah tanda chek (V) pada salah satu pilihan jawaban yang telah disediakan
sesuai maksud pertanyaan secara obyektif.
2. Pilihan jawaban, yaitu:
SS = sangat setuju, jika pernyataan tersebut dinilia sangat sesuai dengan apa
yang terjadi pada diri Adik.
S = setuju, jika pernyataan tersebut dinilai sesuai dengan apa yang terjadi pada
diri Adik.
KS = kurang setuju, jika pernyataan tersebut dinilai kurang sesuai dengan apa
yang terjadi pada diri Adik.
TS = tidak setuju, jika pernyataan tersebut sama sekali tidak sesuai dengan apa
yang terjadi pada diri Adik.
3. Mohon kiranya jangan ada pertanyaan yang terlewatkan.
4. Bila ada sesuatu yang kurang jelas, mohon ditanyakan pada peneliti.

Identitas Responden:

Jenis kelamin : ……………………

Kelas : ……………………

3358
Pernyataan-Pernyataan

1. Saya sangat menyadari bahwa belajar itu sangat penting agar dapat sukses di
sekolah.
SS S KS TS
2. Hanya dengan belajar, saya tidak ketinggalan dalam menguasai materi pelajaran.
SS S KS TS
3. Saya sering berpikir, buat apa belajar.
SS S KS TS
4. Jika melihat buku pelajaran, selalu timbul rasa ingin membacanya.
SS S KS TS
5. Jika diberikan tugas oleh guru, selalu timbul rasa ingin mengetahui jawabannya.
SS S KS TS
6. Jika tidak belajar, saya tentu akan memperoleh nilai yang rendah dibandingkan
teman-teman..
SS S KS TS
7. Saya biasa berpikir bahwa teman-teman lebih pintar dari saya.
SS S KS TS
8. Saya selalu menumbuhkan semangat dalam diri untuk mau belajar.
SS S KS TS
9. Walaupun tidak ada tugas, saya suka mengulangi materi pelajaran di rumah.
SS S KS TS
10. Saya hanya mau belajar jika orang tua menyuruh atau memaksa untuk belajar.
SS S KS TS
11. Saya belajar karena takut mendapat marah dari orang tua.
SS S KS TS
12. Guru selalu memotivasi saya untuk belajar agar dapat sukses di sekolah.
SS S KS TS
13. Saya menilai bahwa guru tidak pernah menghargai hasil pekerjaan saya.
SS S KS TS
14. Teman-teman cenderung memberikan semangat agar dapat sukses bersama-sama.
SS S KS TS
15. Saya belajar dengan harapan agar dapat memperoleh nilai yang baik.
SS S KS TS
16. Saya belajar dengan harapan agar cita-cita saya dapat tercapai.
SS S KS TS
17. Walaupun tanpa belajar, saya yakin cita-cita saya dapat tercapai dengan dukungan
ekonomi orang tua.
SS S KS TS
18. Guru selalu memberikan pujian jika saya menunjukkan prestasi yang baik di
sekolah.
SS S KS TS

3359
19. Saya semakin bersemangat belajar jika guru memberikan pujian atas prestasi di
sekolah.
SS S KS TS
20. Saya rajin belajar agar dapat berprestasi dan memperoleh hadiah penghargaan dari
sekolah.
SS S KS TS
21. Adanya hadiah penghargaan yang disediakan pihak sekolah jika berprestasi
sangat mendorong saya untuk belajar.
SS S KS TS
22. Setiap ada waktu, saya membaca materi pelajaran.
SS S KS TS
23. Saya senang menyalin materi pelajaran pada diktat ke buku tulis.
SS S KS TS
24. Saya senang belajar berhitung agar dapat menguasai pelajaran matematika.
SS S KS TS
25. Saya senang mencatat materi pelajaran yang saya anggap penting.
SS S KS TS
26. Fasilitas belajar saya kurang lengkap sehingga kadang membuat saya malas
belajar.
SS S KS TS
27. Suasana lingkungan tempat tinggal saya kurang tenang sehingga kadang membuat
saya malas belajar
SS S KS TS
28. Saya sering mencari-cari suasana yang aman di luar rumah agar dapat
berkonsentrasi bealjar.
SS S KS TS
29. Lingkungan tempat tinggal saya sangat bersih sehingga membuat nyaman untuk
belajar.
SS S KS TS

3360
Lampiran 5. Perhitungan t-Score

Dapat Hadiah Tidak Dapat Hadiah


X f fX fX 2
Y F fY fY 2
Interval
95 – 116 105,5 41 4325,5 456340,25 105,5 9 949,5 100172,25
73 – 94 83,5 12 1002 83667 83,5 32 2672 223112
51 – 72 61,5 1 61,5 3782,25 61,5 13 799,5 49169,25
29 – 50 39,5 0 0 0 39,5 0 0 0
Jumlah - 54 5389,0 543789,50 - 54 4421 372453,5

5389 4421
1. M x = = 99 ,80 1. M y = = 81,87
54 54

543789 ,5 372453 ,3
2. SD x2 = − 99 ,80 2 2. SD y2 = − 81,87 2
54 54

= 110,14 = 194,59

2 110 ,14 110 ,14


3. SD M x = = = 2,08 3.
54 −1 53
2 194 ,59 194 ,59
SD M y = = = 3,67
54 −1 53

2 2
4. SD bM = SD M x + SD M y

= 2,08 + 3,67

= 5,75

= 2,40

Mx − My
5. t =
SDbM

99 ,80 − 81 ,87
= 2,40

3361
17 ,93
= 2,40

= 7,47

db = (N x + N y ) − 2

= (54 + 54) - 2

= 108 – 2 = 106

t tabel = (0,05 : 106) = 1,980

3362