Anda di halaman 1dari 40

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sehat merupakan kebutuhan dasar manusia dan menjadi salah satu faktor penentu Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Sehat juga merupakan modal utama manusia untuk dapat melakukan perannya di bidang pembangunan ekonomi dan pendidikan. Masyarakat yang sehat dan mandiri merupakan tujuan pembangunan kesehatan nasional, dituangkan dalam Visi Indonesia Sehat 2015, strategi pembangunan kesehatan diarahkan pada misi pembangunan kesehatan yaitu :1) Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan; 2) Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat; 3) Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, rata dan terjangkau dan 4) Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya. Dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sehat dan mandiri tersebut, upaya pemberdayaan masyarakat dan promosi kesehatan merupakan pilar utama yang mempengaruhi keberhasilan jenis layanan kesehatan lainnya, yaitu preventif, kuratif dan rehabilitatif. Promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat, agar mereka dapat mandiri menolong diri sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat dan didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan (Depkes RI, 2007). Banyak permasalahan kesehatan di Indonesia dapat dicegah melalui kegiatan promosi kesehatan. Namun, proses perubahan perilaku di masyarakat tidaklah mudah maka perlu dikembangkan strategi serta langkah-langkah yang dapat mendukung upaya pemberdayaan masyarakat agar mampu berperilaku hidup bersih dan sehat. Kebijakan dan strategi pemberdayaan masyarakat dan promosi kesehatan diarahkan pada upaya meningkatkan kesadaran, kemauan, dan

1

kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Untuk mewujudkan hal tersebut

diperlukan beberapa hal yang tertuang dalam misi promosi kesehatan yaitu;

1. Memberdayakan individu, keluarga, kelompok-kelompok dalam masyarakat, baik melalui pendekatan individu dan keluarga maupun melalui pengorganisasian dan penggerakan masyarakat.

2. Membina suasana atau lingkungan yg kondusif bagi terciptanya pola hidup bersih dan sehat masyarakat.

3. Mengadvokasi para pengambil keputusan, penentu kebijakan dan

stakeholders lain, untuk kebijakan berwawasan kesehatan, integrasi promosi kesehatan, kemitraan sinergis antara pusat, daerah, swasta dan LSM, investasi di bidang promosi kesehatan dan kesehatan. Mengingat pentingnya upaya pemberdayaan masyarakat dan promosi kesehatan dalam mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional tersebut maka petugas promosi kesehatan atau pejabat fungsional PKM harus memahami tentang kebijakan dan strategi pemberdayaan masyarakat dan promosi kesehatan. Selain itu juga harus memahami peran serta kewajiban pemerintah daerah dalam upaya pemberdayaan masyarakat dan promosi kesehatan di era otonomi daerah atau desentralisasi. Keperawatan merupakan suatu bentuk layanan kesehatan profesional yang merupakan bagian integral dari layanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan. Layanan ini berbentuk layanan bio-psiko-sosio- spiritual komprehensif yang ditujukan bagi individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat, baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia (Lokakarya Keperawatan nasional, 1983).

B. Rumusan Masalah Perawat sebagai bagian integral dari layanan kesehatan mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Salah satu peran perawat dalam mewujudkan hal tersebut yaitu dengan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan

2

melalui promosi kesehatan. Peran serta pemerintah melalui kebijakan nya yang mengatur prinsip dan tata kelola serta tugas dan tanggung jawab tenaga kesehatan khususnya perawat, berperan penting dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

C.

Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum Mampu memahami

peran

perawat

tentang pendidikan dan

promosi

kesehatan serta kebijakan pemerintah tentang promosi kesehatan.

2. Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mampu menjelaskan mengenai peran perawat

 

b. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang promosi kesehatan

c. Mahasiswa mampu memahami peran perawat dalam promosi kesehatan di tatanan individu dan keluarga, dan tatanan sarana kesehatan.

d. Mahasiswa mampu memahami kebijakan pemerintah tentang promosi kesehatan.

D.

Manfaat Penulisan Manfaat dari penyusunan makalah ini diharapkan mahasiswa mampu memahami dan menerapkan peran perawat dalam promosi kesehatan.

3

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Definisi dan Peran Perawat Perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimilikinya yang diperoleh melalui pendidikan keperawatan ( Undang-undang Kesehatan No 23. 1992 ). Perawat adalah salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran aktif dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Hal ini sejalan dengan UU No. 36 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 6 yang menyatakan bahwa “Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan”. Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi keperawatan, baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh pemerintah sesuai dengan ketentuan Peraturan perundang-undangan. (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2014 Tentang Keperawatan). Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK.0.02.02/Menkes/148/I/2010 Tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Perawat, dijelaskan bahwa perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik di dalam maupun diluar negeri sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Fungsi utama perawat adalah membantu klien mencapai derajat kesehatan yang optimal melalui layanan keperawatan. Intervensi keperawatan dilakukan dalam upaya meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, menyembuhkan, serta memelihara kesehatan melalui upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif sesuai wewenang, tanggung jawab, etika profesi keperawatan yang memungkinkan setiap orang

4

mencapai kemampuan hidup sehat dan produktif. Dari penjelasan tersebut terlihat jelas bahwa peran perawat sangatlah penting dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Peran adalah seperangkat perilaku yang diharapkan oleh individu sesuai dengan status sosialnya. Peran menggambarkan otoritas seseorang yang diatur dalam sebuah aturan yang jelas. Sebagai tenaga kesehatan, perawat memiliki sejumlah peran di dalam menjalankan tugasnya sesuai dengan hak dan kewenangannya. Saat ini dunia keperawatan semakin berkembang. Perawat dianggap sebagai salah satu profesi kesehatan yang harus dilibatkan dalam pencapaian tujuan pembangunan kesehatan baik di dunia maupun di Indonesia. Saat ini perawat memiliki peran yang lebih luas dengan penekanan pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, juga memandang klien secara komprehensif. Fungsi utama perawat adalah membantu klien mencapai derajat kesehatan yang optimal melalui layanan keperawatan. Intervensi keperawatan dilakukan dalam upaya meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, menyembuhkan, serta memelihara kesehatan melalui upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif sesuai wewenang, tanggung jawab, etika profesi keperawatan yang memungkinkan setiap orang mencapai kemampuan hidup sehat dan produktif. Dari penjelasan tersebut terlihat jelas bahwa peran perawat sangatlah penting dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Peran perawat yang utama meliputi pelaksanan layanan keperawatan (care provider), pengelola (manager), pendidik (educator), dan peneliti (researcher). Terkait dengan peran dan fungsi, perawat dituntut mampu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan melalui kegiatan promosi kesehatan antara lain dijabarkan dalam konsorsium ilmu kesehatan tahun 1989 yang terdiri dari :

5

1. Pemberi Asuhan Keperawatan (Provider) Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis keperawatan agar bisa direncanakan dan dilaksanakan tindakan yang

tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian dapat dievaluasi tingkat perkembangannya. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks. Pada peran ini perawat diharapkan mampu :

a. Memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok atau masyarakat sesuai diagnosis masalah yang terjadi mulai dari masalah yang bersifat sederhana sampai pada masalah yang kompleks.

b. Memperhatikan individu dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis agar bisa direncanakan dan dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan manusia, kemudian dapat dievaluasi tingkat perkembangannya

c. Perawat menggunakan proses keperawatan untuk mengidentifikasi diagnosis keperawatan mulai dari masalah fisik sampai pada masalah psikologis.

2. Advokat Klien Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan atau informasi lain khusunya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien, juga dapat berperan mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien yang meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya, hak

6

atas privasi, hak untuk menntukan nasibnya sendiri dan hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian. Peran perawat :

a. Bertanggung jawab membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam memberikan informasi lain yang diperlukan untuk mengambil persetujuan (inform concern) atas tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya.

b. Mempertahankan dan melindungi hak-hak klien, harus dilakukan karena klien yang sakit dan dirawat di rumah sakit akan berinteraksi dengan banyak petugas kesehatan. Perawat adalah anggota tim kesehatan yang paling lama kontak dengan klien, sehingga diharapkan perawat harus mampu membela hak-hak klien. Seorang pembela klien adalah pembela dari hak-hak klien.

Pembelaan termasuk didalamnya peningkatan apa yang terbaik untuk klien, memastikan kebutuhan klien terpenuhi dan melindungi hak-hak klien (Disparty, 1998 :140). Hak-Hak Klien antara lain :

a. Hak atas pelayanan yang sebaik-baiknya

b. Hak atas informasi tentang penyakitnya

c. Hak atas privacy

d. Hak untuk menentukan nasibnya sendiri

e. Hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian tindakan. Hak-Hak Tenaga Kesehatan antara lain :

a. Hak atas informasi yang benar

b. Hak untuk bekerja sesuai standart

c. Hak untuk mengakhiri hubungan dengan klien

d. Hak untuk menolak tindakan yang kurang cocok

e. Hak atas rahasia pribadi

f. Hak atas balas jasa

7

3. Edukator Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bhkan tindakan yang diberikankan, sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

4. Koordinator

Peran

mengorganisasi

pemberian

kebutuan klien.

ini

dilaksanakan

dengan

mengarahkan,

dari

pelayanan

kesehatan

dapat

tim

pelayanan

kesehatan

terarah

merencanakan

kesehatan

serta

sesuai

serta

sehingga

dengan

5. Kolaborator Peran perawat disini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter, fisioterapis, ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam penentuan bentuk pelayanan selanjutnya.

6. Administrator Perawat kesehatan masyarakat diharapkan dapat mengelola berbagai kegiatan pelayanan kesehatan puskesmas dan masyarakat sesuai dengan beban, tugas dan tanggung jawab yang diembannya. Tanggung jawab perawat pada peran ini adalah melakukan pengelolaan terhadap suatu permasalahan, mengambil keputusan dalam pemecahan masalah, pengelolaan tenaga, membuat kualitas mekanisme control, kerja sama lintas sektoral dan lintas program, bersosalisasi dengan masyarakat, serta memasarkan /mempromosikan.

8

7.

Fasilitator (sebagai tempat bertanya) Tempat bertanya oleh individu, keluarga, kelompok dan masyarakat untuk memecahkan berbagai permasalahan dalam bidang kesehatan/ keperawatan yang dihadapi sehari-hari. Dapat membantu memberikan jalan keluar dalam mengatasi masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka hadapi. Penghubung antara masyarakat dengan unit yankes dan instansi terkait

8.

Konsultan Peran disini adalah sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini dilakukan atas permintaan klien terhadap informasi tentang tujuan pelayanan keperawatan yang diberikan. Konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari dan mengatasi

tekanan psikologis atau masalah sosial untuk membangun hubungan interpersonal yang baik dan untuk meningkatkan perkembangan seseorang. Di dalamnya diberikan dukungan emosional dan intelektual. Peran perawat :

a. Mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien terhadap keadaan sehat maupun sakitnya.

b. Perubahan pola interaksi merupakan “Dasar” dalam merencanakan metode untuk meningkatkan kemampuan adaptasinya.

c. Memberikan konseling atau bimbingan penyuluhan kepada individu atau keluarga dalam mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan pengalaman yang lalu.

d. Pemecahan masalah di fokuskan pada masalah keperawatan

9.

Peneliti / Pembaharu Peran sebagai pembaharu dapat dilakukan dengan mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan.\

9

10.

Role Model

a. Role Model Bagi Pasien Segala perilaku yang ditampilkan perawat seyogyanya dapat dijadikan panutan bagi klien, panutan ini digunakan pada semua tingkat pencegahan terutama PHBS. Sehingga ada feedback positif yang dapat menjadi acuan bagi pasien setelah selesai perawatan maupun purna perawatan berupa contoh teladan yang dapat pasien ambil dari sosok figur perawat yang dilihatnya selama perawatan baik di fasilitas kesehatan tingkat 1 maupun tingkat 3.

b. Role Model Bagi Perawat Segala perilaku yang ditampilkan perawat seyogyanya juga dapat dijadikan panutan bagi teman seprofesi perawat khususnya, sehingga menampilkan etos kerja yang tinggi dan mampu menampilkan professionalisme saat bekerja sehingga bermanfaat dalam peningkatan pelayanan medis umumnya dan peningkatan kualitas pelayanan keperawatan khususnya.

11. Politik Fakta yang ada pada masyarakat, bahwa lulusan perawat masih belum di akui sebagai sosok profesional yang akan mampu memberikan kontribusi yang hebat dalam politik. Pandangan tersebut harus kita terima dengan lapang dada dan sekaligus sebagai pemicu adrenalin kita untuk membuktikan jati diri kita, bahwa seorang perawat adalah profesional dengan segala atribut yang menyertainya. Hal yang harus dan terus kita lakukan adalah memperbaiki citra perawat dengan menunjukkan jati diri perawat dengan KOREK API (Komunikasi, Organisatoris, Responsif and Responsible, Efisiensi dan Efectif, Komitmen serta tunjukkan API :

Aktualisasi, Produktif,dan Inovatif).

10

12. Pengamat Kesehatan (Helath Monitor) Melaksanakan monitoring terhadap perubahan yang terjadi pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang menyangkut masalah kesehatan melalui kunjungan rumah, pertemuan, observasi dan pengumpulan data.

13. Organisator (Pengorganisir Pelayanan Kesehatan) Berperan serta dalam memberikan motivasi dalam rangka meningkatkan peran serta individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat dalam setiap upaya yankes yang dilaksanakan oleh masyarakat , misalnya : kegiatan posyandu, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan tahap penilaian atau ikut berpartisipasi dalam kegiatan pengembangan dan pengorganisasian masyarakat dalam bidang kesehatan.

Adapun dalam menjalankan perannya, perawat akan melaksanakan berbagai fungsi. Fungsi Perawat yang dijabarkan dalam konsorsium ilmu kesehatan tahun 1989 yang terdiri dari :

1. Fungsi Independent Merupan fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain, dimana perawat dalam melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan tindakan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti pemenuhan kebutuhan fisiologis (pemenuhan kebutuhan oksigenasi, pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit, pemenuhan kebutuhan nutrisi, pemenuhan kebutuhan aktifitas dan lain-lain), pemenuhan kebutuhan keamanan dan kenyamanan, pemenuhan cinta mencintai, pemenuhan kebutuhan harga diri dan aktualisasi diri.

2. Fungsi Dependen Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatan atas pesan atau instruksidari perawat lain. Sehingga sebagian tindakan pelimpahan tugas

11

yang di berikan. Hal ini biasanya dilakukan oleh perawat spesialis kepada perawat umum atau dari perawat primer ke perawat pelaksana.

3. Fungsi Interdependen Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan di antara tim satu dengan yang lainnya. Fungsi ini dapat terjadi apabila bentuk pelayanan membutuhkan kerja sama tim dalam pemberian pelayanan seperti dalam memberikan asuhan keperawatan pada penderita yang mempunyapenyakit kompleks. Keadaan ini tidak dapat diatasi dengan tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun yang lainnya. Peran perawat dalam hal pendidikan dan promosi kesehatan juga telah

tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2014 Tentang Keperawatan pada bab I mengenai Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 1 yaitu Keperawatan adalah kegiatan pemberian asuhan kepada individu,

keluarga, kelompok atau masyarakat, baik dalam keadaan sakit maupun sehat. Peran dan fungsi perawat dalam hal pendidikan dan promosi kesehatan juga tertuang dalam bab 5 Tentang Praktek keperawatan Bagian Kedua Tugas dan Weewenang pasal 29 ayat 1 bahwa dalam menyelenggarakan Praktik Keperawatan, perawat bertugas sebagai :

1. Pemberi Asuhan Keperawatan

2. Penyuluh dan Konselor Bagi Klien

3. Pengelola Pelayanan Keperawatan

4. Peneliti Keperawatan

5. Pelaksanaan tugas berdasarkan pelimpahan wewenang, dan atau

6. Pelaksana tugas dalam keadaan keterbatasan tertentu

Dalam menjalankan tugas sebagai penyuluh dan konselor bagi klien, perawat berwenang :

1. Melakukan pengkajian keperawatan secara holistic di tingkat individu dan keluarga serta di tingkat kelompok masyarakat.

2. Melakukan pemberdayaan masyarakat

12

3.

Melakukan advokasi dalam perawatan kesehatan masyarakat

4. Menjalin kemitraan dalam perawatan kesehatan masyarakat, dan

5. Melakuakn penyuluhan kesehatan dan konseling. (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2014 Tentang Keperawatan Pasal 31 ayat 1)

B. Pendidikan Kesehatan Pendidikan kesehatan adalah proses perubahan perilaku yang dinamis, dimana perubahan tersebut bukan sekedar proses tranfer materi/teori dari seseorang ke orang lain dan bukan pula seperangkat prosedur, akan tetapi perubahan tersebut terjadi karena adanya kesadaran dari dalam diri individu, kelompok, atau masyarakat.

C. Promosi Kesehatan

1.

Definisi Promosi Kesehatan adalah perwujudan dari perubahan konsep pendidikan kesehatan yang secara struktural. Tahun 1984 WHO dalam suatu divisinya, yaitu Divisi Pendidikan Kesehatan (Division Health Education) diubah menjadi Divisi Promosi Kesehatan dan Pendidikan (Division on Health Promotion and Education). Konsep ini oleh Departemen Kesehatan RI tahun 2000 mulai disesuaikan dengan merubah Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat menjadi Direktorat menjadi Direktorat Promosi Kesehatan dan sekarang menjadi Pusat Promosi Kesehatan. Promosi kesehatan merupakan revitalisasi pendidikan kesehatan pada masa lalu, di mana dalam konsep promosi kesehatan bukan hanya proses penyadaran masyarakat dalam hal pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat dalam bidang kesehatan saja, melainkan juga upaya bagaimana mampu menjembatani adanya perubahan perilaku seseorang. Hal ini berarti promosi kesehatan merupakan program kesehatan yang dirancang untuk membawa perbaikan berupa perubahan

13

perilaku, baik di dalam masyarakat maupun organisasi, lingkungan fisik, non fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya. Konsep promosi kesehatan merupakan pengembangan dari konsep pendidikan kesehatan, yang berlangsung sejalan dengan perubahan paradigma kesehatan masyarakat (public health). Menurut Lawrence Green (1984) definisi promosi kesehatan adalah segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi , politik, dan organisasi, yang dirancang untuk memudahkan perubahan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan. Batasan promosi kesehatan yang lain dirumuskan oleh Yayasan Kesehatan Victoria (Victorian Health Foundation Australia, 1997) bahwa promosi kesehatan adalah suatu program perubahan perilaku masyarakat yang menyeluruh dalam konteks masyarakatnya, bukan hanya perubahan perilaku(within people), tetapi juga perubahan lingkungannya. Menurut Piagam Ottawa (Ottawa Charter, 1986) bahwa promosi kesehatan adalah suatu proses untuk memampukan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka. Untuk mencapai keadaan fisik, mental, dan kesejahteraan sosial, individu atau kelompok harus mampu mengidentifkasi dan mewujudkan aspirasi untuk memenuhi kebutuhan dan untuk mengubah atau mengatasi lingkungan (Notoatmodjo, 2005). Sesuai dengan perkembangan promosi kesehatan tersebut diatas, WHO memberikan pengertian promosi kesehatan sebagai “ the procces of enabling individuals and communities to increase control over the determinants of health and thereby improve their health “ (proses mengupayakan individu-individu dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan mereka mengendalikan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatannya). Bertolak dari pengertian yang dirumuskan WHO tersebut di Indonesia pengertian promosi kesehatan dirumuskan sebagai berikut : “ upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong

14

dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan” (Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan , Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :

1193/MENKES/SK/X/2004 - Jakarta, Departemen Kesehatan RI, 2005)

2.

Tujuan Tujuan umum dari promosi kesehatan adalah meningkatnya kemampuan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat untuk hidup sehat dan mengembangkan upaya kesehatan yang bersumber masyarakat, serta terciptanya lingkungan yang kondusif untuk mendorong terbentuknya kemampuan tersebut. Tujuan khusus peran perawat dalam berbagai tatanan kehidupan baik bagi individu dan keluaraga, sarana kesehatan, institusi pendidikan dan tempat kerja dan tempat umum, organisasi kemasyarakatan, tatanan program dalam fungsinya sebagai petugas promosi kesehatan, dan lembaga kepemerintahan, tertuang dalam uraian berikut :

a. Peran perawat dalam tatanan Individu dan Keluarga Peran perawat dalam promosi kesehatan kepada individu antara lain :

1) Edukator. Perawat memberikan pendidikan kesehatan melalui penyuluhan kesehatan. Misalnya : sebagai perawat komunitas akan secara berkala melakukan kunjungan rumah pada individu atau keluarga yang mengalami penyakit TBC. Keluarga atau individu akan diberikan pendidikan kesehatan mengenai rumah sehat, PMO dan cara penularan 2) Role Model. Perawat akan memberikan contoh tentang cara mempertahankan kesehatan. Peran ini sejalan dengan peran sebagai edukator. Misalnya seorang perawat keluarga melakukan kunjungan rumah pada keluarga yang salah satu anggota keluarganya mengalami TBC. Pada kunjungan tersebut perawat

15

akan memberikan penyuluhan sekaligus contoh misalnya tentang tata cara batuk efektif. Dalam hal ini perawat akan memberikan demonstrasi mengenai cara batuk efektif. 3) Fasilitator. Perawat akan membantu memberikan jalan keluar dalam mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi individu atau keluarga. Misalnya dalam kunjungan keluarga perawat menemukan masalah kesehatan pada anggota keluarga tersebut. Perawat akan membantu keluarga memecahkan masalah tersebut dengan melibatkan keikutsertaan keluarga merawat anggotakeluarga yang sakit. Peran perawat dalam promosi kesehatan pada individu atau keluarga pada dasarnya bertujuan untuk meinngkatkan kemampuan, kemauan, dan pengetahuan individu atau keluarga dalam upaya peningkatan derajat kesehatan.

b. Peran perawat dalam tatanan sarana kesehatan, institusi pendidikan, tempat kerja dan tempat umum Promosi kesehatan adalah upaya memberdayakan perorangan, kelompok, dan masyarakat agar memelihara, meningkatkan, dan melindungi kesehatannya melalui peningkatan pengetahuan, kemauan, dan kemampuan serta mengembangkan iklim yang mendukung, dilakukan dari, oleh dan untuk masyarakat sesuai dengan factor budaya setempat. Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan sangat erat kaitannya dengan lingkungan sarana kesehatan semisal rumah sakit, puskesmas, dan posyandu. Di lingkungan rumah sakit perawat selain berhadapan dengan pasien yang dirawat juga berinteraksi dengan anggota keluarga yang memerlukan informasi mendalam yang berkenaan dengan status kesehatan. Upaya promosi kesehatan dalam hal ini pendidikan kesehatan sangat bermanfaat untuk meningkatkan status kesehatan pasien dan keluarga. Hal yang dapat dilakukan pada

16

lingkungan rumah sakit adalah melakukan penyuluhan baik secara massal ataupun individu di rumah sakit. Kegiatan pendidikan kesehatan maupun penyuluhan dilakukan di sisi pasien serta keluarga secara khusus mengenai suatu penyakit dan upaya penyelesaian masalah kesehatan yang dihadapi. Perawat di puskesmas sebagai tenaga kesehatan, minimal dapat berperan sebagai pemberi pelayanan kesehatan melalui asuhan keperawatan, pendidik atau penyuluh kesehatan, penemu kasus, penghubung dan coordinator, pelaksana konseling keperawatan dan model peran. Dua peran perawat kesehatan komunitas yaitu sebagai pendidik dan penyuluh kesehatan serta pelaksana konseling keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat merupakan bagian dari ruang lingkup promosi kesehatan. (Efendi,Makhfudi, 2009) Di lingkungan Puskesmas upaya promosi kesehatan lebih ditekankan daripada di rumah sakit. Sebagai contoh perawat di komunitas menyikapi dan menindaklanjuti perilaku masayarakat bantaran sungai yang selalu melakukan BAB di sungai sehingga mengotori dan mencemari sungai yang menjadi sumber air bersih keperluan masyarakat setempat. Perawat beranggapan bahwa suatu masalah kesehatan sebagai contoh diare. Diare yang terjadi akibat tercemarnya sumber air bersih tidak akan tuntas apabila hanya mengobati pasien di rumah sakit tanpa memotong atau menyingkirkan penyebab utamanya. Penyebab utamanya yaitu pencemaran serta pengkontaminasian sumber air sungai yang menyebabkan keadaan diare pada masayarakat setempat. Di lingkungan posyandu baik posyandu balita maupun lansia sama halnya dengan program yang ada di puskesmas yaitu upaya promosi kesehatan seperti penyuluhan dan upaya preventif seperti pemberian imunisasi pada balita serta pemeriksaan kesehatan secara berkala pada lansia yang berada di wilayah lingkungan posyandu.

17

Di lingkup istitusi pendidikan, peran perawat pendidik dalam

upaya promosi kesehatan tidak kalah besarnya. Dalam kurikulum

bahkan silabus yang disusun selalu ada dimasukkan pengajaran tentang simulasi pendidikan baik setting individu, kelompok bahkan komunitas pada tahap pendidikan akademik. Di keadaan nyata mahasiswa serta dosen keperawatan sering kali melakukan kegiatan pengabdian masyarakat yang umumnya juga menggambarkan upaya promosi kesehatan seperti pendidikan kesehatan pada kelompok tertentu dan penyuluhan pada masayarakat umum.

Di lingkungan kerja peran perawat sangat diharapkan karena

keterbatasan pengetahuan yang dimiliki para pekerja, misalkan upaya promosi kesehatan dalam tatanan Kesehatan Keselamatan Kerja (K3).

Lingkungan pabrik yang umumnya mempunyai paparan terhadap debu, polusi serta risiko adanya cidera sangat penting bagi perawat dalam memberikan pemahaman baik dengan cara pendidikan kesehatan maupun penyuluhan mengenai pemakaian Alat Pelindung Diri (APD). APD yang mereka pakai diharapkan dapat melingdungi dari segala risiko yang mungkin terjadi pada para pekerja. Di tempat umum peran perawat tidak kalah penting dalam upaya promosi kesehatan karena disana masyarakat sering berkumpul, bercengkrama bahkan melakukan aktivitas. Beberapa contoh tempat umum antara lain Pasar, Halte Bus, Terminal, Stasiun, Pelabuhan bahkan Bandara yang semuanya sangat diharapkan tidak terdapat kegiatan ataupun perilaku yang merugikan bahkan membahayakan orang lain. Merokok di tempat umum sebagai contoh sangat dilarang karena dapat menyebabkan polusi udara. Peran perawat untuk mensosialisasikan peraturan tentang pelarangan kegiatan merokok di tempat umum merupakan salah satu upaya dalam promosi kesehatan.

18

c. Peran perawat dalam tatanan Organisasi kemasyarakatan / organisasi profesi / LSM / Media massa Upaya promosi kesehatan dilakukan agar tercapai masyarakat yang sehat dan mandiri, hal ini tidak hanya dilakukan oleh perawat maupun tenaga kesehatan namun harus bekerja sama dengan organisasi kemasyarakatan/LSM/organisasi profesi dan media massa yang peduli dengan kesehatan. Kerja sama tersebut dapat berupa pemberian informasi yang terus-menerus agar klien dapat berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek knowledge) dari tahu menjadi mau (aspek attitude) dan dari mau menjadi mampu melakukan perlaku yang diperkenalkan (aspek practise). Agar terjalin kerja sama yang baik maka peran perawat pada tatanan ini adalah memberikan advokasi, hal ini penting untuk mendapatkan komitmen dan dukungan dari sasaran advokasi. Pada tatanan ini umumnya advokasi dapat beberapa tahap antara lain :

Menyadari adanya suatu masalah, Tertarik untuk ikut mengatasi masalah, Pedulu terhadap pemecahan masalah dengan mempertimbangkan beberapa alternatif pemecahan masalah, Sepakat untuk memecahkan masalah dengan memilih salah satu alternatif dan memutuskan tindak kanjut kesepakatan. Dengan demikian advokasi harus dilakukan secara terencana, cermat dan tepat.

d. Peran perawat dalam tatanan Program / petugas kesehatan Kegiatan yang dilakukan terintegrasi sesuai fungsi manajemen meliputi perencanaan, penggerakan pelaksanaan, pengawasan pengendalian dan penilaian, yang dilakukan diberbagai tingkat administrasi baik dipusat, propinsi maupun kabupaten/ kota. Kegiatan tersebut memuat stategi promosi kesehatan yaitu pemberdayaan masyarakat, bina suasana dan advokasi.

19

1. Perencanaan Pada tahap perencanaan dilakukan kegiatan sebagai berikut :

a) Pengkajian yang dimaksud untuk mendapatkan informasi tentang besaran masalah dan penyebabnya, potensi yang dapat didayagunakan dalam pemecahan masalah.

b) Menggalang komitmen dan dukungan dari lintas program dan

sektor dalam pelaksanaan integrasi melalui pertemuan lintas program dan sektor terkait dalam promosi kesehatan.

c) Menyusun perencanaan integrasi promosi kesehatan dan program kesehatan.

2. Penggerakan pelaksanaan

a) Melaksanakan integrasi promosi kesehatan dalam program

kesehatan di kabupaten/kota sesuai rencana yang telah disepakati bersama.

b) Melaksanakan pertemuan koordinasi lintas program dan

sektor secara berkala untuk menyelaraskan kegiatan.

3. Pengawasan, pengendalian dan penilaian Pengawasan, pengendalian dan penilaian dilakukan disetiap tahap

fungsi manajemen.

a) Pengawasan untuk melihat apakah kegiatan dilaksanakan sesuai rencana yang telah ditetapkan.

b) Pengendalian dilakukan agar kegiatan yang telah dilaksanakan sesuai dengan arah dan tujuan, mengantisipasi masalah/ hambatan yang mungkin terjadi.

c) Penilaian dilakukan untuk melihat keberhasilan pelaksanaan integrasi `pada akhir kegiatan.

d) Mendokumentasikan kegiatan integrasi, untuk bahan pembelajaran perbaikan program integrasi mendatang.

e) Memberikan umpan balik kepada lintas program dan sektor terkait untuk perbaika kegiatan integrasi selanjutnya.

20

4. Kegiatan integrasi promosi kesehatan Kegiatan yang dilakukan dalam berbagai tatanan rumah tangga, bina suasana dan advokasi yang meliputi :

a) Integrasi promosi kesehatan dengan program KIA dan Anak

b) Integrasi promosi kesehatan dengan program gizi masyarakat

c) Integrasi promosi kesehatan dengan program lingkungan sehat

d) Integrasi promosi kesehatan dengan program jaminan pemeliharaan kesehatan ( JPK ).

e) Integrasi promosi kesehatan dengan program pencegahan dan penanggulangan penyakit tidak menular (P2PTM). (Pusat promosi kesehatan departemen kesehatan RI, tahun

2006)

e. Peran perawat dalam tatanan Lembaga pemerintahan / politisi / swasta Promosi kesehatan sebagai proses mengupayakan individu dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan mereka mengendalikan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatannya. Perawat mempunyai peran penting dalam meningkatakn kesehatan salah satunya bekerjasama dengan tenaga kesehatan lain memanfaatkan dan memaksimalkan fasilitas pelayanan kesehatan sebagai tempat untuk menyelenggarakan upaya kesehatan baik promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Setiap indivividu memiliki kesempatan untuk mendapatkan pelayanan yang bermutu dan aman, hal ini sejalanan dengan UU RI no. 36 Tahun 2009 yang menyatakan bahwa, setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau. Dalam UU tersebut pasal 16 dinyatakan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan sumber daya di bidang kesehatan

21

yang adil dan merata bagi seluruh masyarakat untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perawat mempunyai banyak peran dimana dalam setiap perannya bertujuan untuk mensukseskan dan mendukung program pemerintah, antara lain mendukung dalam program :

1) Integrasi dengan Program Kesehatan Ibu dan Anak 2) Integritasi dengan program jaminan pemeliharaan kesehatan (JPK). 3) Integrasi dengan Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Tidak Menular (P2PTM) (Panduan Integrasi Promosi Kesehatan, 2006)

3. Manfaat

a. Mempererat kerjasama dengan berbagai pihak

b. Meningkatkan hubungan terhadap program kesehatan

c. Meningkatkan percaya diri terhadap kesehatan

d. Meningkatkan pembangunan lingkungan, sistem dan kebijakan kesehatan

4. Sasaran Sasaran promosi kesehatan diarahkan pada individu/ keluarga; tatanan kesehatan , institusi pendidikan, tempat kerja, dan tempat umum; organisasi kemasyarakatan/ organisasi profesi/ LSM/ dan media massa; program/ petugas kesehatan; dan lembaga pemerintah/ politisi/ swasta. Menurut Weiss (1991), program promosi dikembangkan pada tiga daerah utama yaitu sekolah, tempat kerja dan kelompok/ masyarakat. Dalam pelaksanaan program promosi kesehatan, telah terbukti bahwa promosi kesehatan di masyarakat, sekolah dan tempat kerja cenderung paling efektif (Carleton, 1991). Kolbe (1988) menambahkan sasaran lain dalam promosi kesehatan adalah pelayanan medis dan media. Agar lebih spesifik sasaran promosi kesehatan dibagi menjadi sasaran primer, sekunder, dan tersier. Sasaran primer adalah sasaran yang

22

mempunyai masalah, yang diharapkan mau berperilaku sesuai harapan dan memperoleh manfaat paling besar dari perubahan perilaku tersebut. Sasaran sekunder adalah individu atau keompok yang memiliki pengaruh oleh sasaran primer, dan diharapkan mampu mendukung pesan-pesan yang disampaikan kepada sasaran primer. Sasaran tersier adalah para pengambil kebijakan, penyandang dana, pihak-pihak yang berpengaruh di berbagai tingkatan (pusat, propinsi, kabupaten, kecamatan dan kelurahan ).

5.

Strategi Penerapan promosi kesehatan dalam program kesehatan pada dasarnya merupakan bentuk penerapan strategi global, yang dijabarkan dalam berbagai kegiatan. Berdasarkan rumusan WHO (1994) strategi promosi kesehatan secara global terdiri dari 3 hal yaitu :

a. Advokasi Upaya pendekatan pada pimpinan atau pengambil keputusan supaya dapat memberikan dukungan, kemudahan, pada upaya pembangunan kesehatan. Dukungan tersebut dapat berupa kebijakan yang dikeluarkan dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah, surat keputusan, dan sebagainya. Kegiatannya bisa secara formal dan informal. Secara formal misalnya presentasi atau seminar tentang issu atau usulan program yang ingin dimintakan dukungan. Secara informal misalnya datang kepada pejabat untuk minta dukungan dalam bentuk dana atau fasilitas lain.

b. Dukungan sosial Suatu kegiatan untuk mencari dukungan sosial melalui tokoh-tokoh masyarakat (toma) baik formal maupun infromal. Bentuk kegiatannya berupa pelatihan para toma, bimbingan pada toma.

c. Pemberdayaan Masyarakat (empowerment) Upaya memandirikan individu, kelompok dan masyarakat agar berkembang kesadaran , kemauan, dalam memelihara dan

23

meningkatkan kesehatan mereka sendiri. Bentuk kegiatannya yaitu penyuluhan kesehatan, pelatihan.(Heri M, 2009) Berdasarkan Piagam Ottawa, 1986 strategi baru promosi kesehatan adalah

a. Kebijakan berwawasan kebijakan (Healhty Public Policy) Bahwa kebijakan yang diambil harus berorientasi pada kesehatan publik dan harus memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan

b. Lingkungan yang mendukung (supportive Environment) Bahwa pemerintah atau pengelola tempat umum harus menyediakan fasilitasyang mendukung terciptanya perilaku sehat bagi masyarakat.

c. Reorientasi Pelayanan Kesehatan (Reorient Health Services) Bahwa penyelenggara pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta harus melibatkan dan memberdayakan masyarakat.

d. Ketrampilan individu (Personnel Sklill) Dengan memberikan pemahaman kepada anggota masyarakat tentang cara memelihara kesehatan, mencegah penyakit , mencari pengobatan.

e. Gerakan masyarakat (Community Action) Promosi kesehatan harus mendorong dan memacu kegiatan di masyarakat dalam mewujudkan kesehatan mereka.(Notoatmodjo,

2005)

Berdasarkan Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan (2004), strategi peningkatan promosi kesehatan adalah sebagai berikut :

a. Pengembangan Kebijakan Promosi Kesehatan daerah

b. Peningkatan Sumber daya Promosi Kesehatan

c. Pengembangan Organisasi Promosi Kesehatan

d. Integrasi dan Sinkronisasi Promosi Kesehatan

e. Pendayagunaan Data dan Pengembangan Sistem Informasi Promosi Kesehatan

f. Peningkatan kerjasama dan kemitraan

24

g. Pengembangan Metode, Teknik dan Media

h. Fasilitasi Peningkatan Promosi Kesehatan

D. Kebijakan Pemerintah Tentang Promosi Kesehatan

1. Era Propaganda dan Pendidikan Kesehatan Rakyat (masa kemerdekaan sampai 1960an) Pada tahun 1924 oleh pemerintah Belanda dibentuk Dinas Higiene. Kegiatan pertamanya berupa pemberantasan cacing tambang di daerah Banten. Bentuk usahanya dengan mendorong rakyat untuk membuat kakus / jamban sederhana dan mempergunakannya. Lambat laun pemberantasan cacing tambang tumbuh menjadi apa yang dinamakan “Medisch Hygienische Propaganda”. Propaganda ini kemudian meluas pada penyakit perut lainnya, bahkan melangkah pula dengan penyuluhan di sekolah-sekolah dan pengobatan kepada anak-anak sekolah yang sakit. Timbulah gerakan, untuk mendirikan “brigade sekolah” dimana-mana. Perintisan Pendidikan Kesehatan Rakyat oleh Dr. R. Mohtar

2. Era Pendidikan dan Penyuluhan Kesehatan (1960-1980) Munculnya istilah Pendidikan Kesehatan dan diterbitkannya UU Kesehatan 196 di tetapkannya Hari Kesehatan Nasional (12 November

1964)

3. Era PKMD, Posyandu dan Penyuluhan Kesehatan melalui Media Elektronik (1975-1995)

a. Peran serta dan pemberdayaan masyarakat (Deklarasi Alma Ata,

1978).

b. Munculnya PKMD (Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa).

c. Munculnya Posyandu.

d. Penyuluhan kesehatan melalui media elektronik (dialog interaktif,

sinetron, dll).

4. SK Menkes RI No. 1193/2004 tentang Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan. Visi, Misi dan Strategi tersebut sejalan dan bersama program

kesehatan lainnya mengisi pembangunan kesehatan dalam kerangka

25

Paradigma Sehat menuju visi Indonesia Sehat. Bilamana ditengok kembali hal ini sejalan dengan visi global.

a. Visi Promosi Kesehatan “PHBS 2010”, yang mengindikasikan tentang terwujudnya masyarakat Indonesia baru yang berbudaya sehat. Visi tersebut adalah benar-benar visioner , menunjukkan arah, harapan yang berbau impian, tetapi bukannya tidak mungkin untuk dicapai. Visi tersebut juga menunjukkan dinamika atau gerak maju dari suasana lama (yang ingin diperbaiki) ke suasana baru (yang ingin dicapai). Visi tersebut juga menunjukkan bahwa bidang garapan Promosi Kesehatan adalah aspek budaya (kultur), yang menjanjikan perubahan dari dalam diri manusia dalam interaksinya dengan lingkungannya dan karenya bersifat lebih lestari.

b. Misi Promosi Kesehatan Misi Promosi kesehatan yang ditetapkan adalah :

Memberdayakan individu, keluarga dan masyarakat untuk hidup sehat;

2) Membina suasana atau lingkungan yang kondusif bagi terciptanya PHBS di masyarakat; 3) Melakukan advokasi kepada para pengambil keputusan dan penentu kebijakan.

1)

Misi tersebut telah menjelaskan tentang apa yang harus dan perlu di lakukan oleh Promosi Kesehatan dalam mencapai visinya. Misi tersebut juga menjelaskan fokus upaya dan kegiatan yang perlu dilakukan. Dari misi tersebut jelas bahwa berbagai kegiatan harus dilakukan serempak

26

5.

Diterbitkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun

2014 Tentang Keperawatan Bagian Kedua Pasal 31 tersebut Tugas dan

Tanggung Jawab perawat sebagai penyuluh dan konselor yang secara khusus menunjukkan peran pemerintah dalam memajukan kesehatan

melalui pelayanan keperawatan umumnya dan memajukan kesejahteraan umumsebagai salah satu tujuan nasional sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

1945 tentang penyelenggaraan pembangunan kesehatan khususnya.

27

A. Kesimpulan

BAB IV

PENUTUP

1. Perawat adalah salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat

2. Promosi kesehatan adalah komponen penting dalam praktek keperawatan dan merupakan suatu cara berpikir yang bertujuan agar masyarakat berperilaku sesuai dengan nilai-nilai kesehatan

3. Promosi kesehatan secara garis besar mendorong masyarakat agar mau dan mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan

4. Sasaran dalam promosi kesehatan bersifat langsung dan tidak langsung. Sasaran promosi kesehatan dan kaitannya dengan profesi keperawatan meliputi: Sasaran Primer (Primary Target), sekunder (Secondary target) dan tersier (TerttiaryTarget).

5. Misi dalam promosi kesehatan antara lain advokat (advocate), Menjembatani (mediate), dan memampukan (enable).

6. Peran perawat dalam promosi kesehatan ada di beberapa lingkup antara lain; individu atau keluarga, tempat kerja, institusi pendidikan,pemerintah. Dalam pelaksanaan promosi kesehatan peran perawat antara lain sebagai educator, role model, fasilitatormaupun educator.

B. Saran Peran perawat dalam promosi kesehatan masih belum optimal. Salah satu diantaranya adalah kurang adanya kesadaran dari masyarakat tentang pentingnya mengenal nilai-nilai kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa langkah dapat dilakukan oleh perawat antara lain dengan memahami pentingnya promosi kesehatan dan melakukan program pemberdayaan masyarakat agar dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menerima berbagai program kesehatan.

28

Keputusan

DAFTAR PUSTAKA

Menteri

Kesehatan

Republik

585/MENKES/SK/V/2017

Tentang

Indonesia

Pedoman

Promosi Kesehatan di Puskesmas.

Nomor

:

Pelaksanaan

Mubarak Wahid Iqbal, dan Nurul chayatin. 2008. Ilmu Kesehatan Masyarakat

Teori dan Aplikasi. Gresik : Salemba Medika.

Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

004

Tahun

2012

Tentang Petunjuk Teknis Promosi Kesehatan Rumah Sakit.

Susilowati,

Dwi.

2016.

Modul

Bahan

Ajar

Cetak

Keperawatan

Promosi

Kesehatan. Jakarta : BPPSDM Kementerian Kesehatan Republik

Undang-Undang

Indonesia.

Republik

Indonesia

Keperawatan.

29

Nomor

38

Tahun

2014

Tentang

Laporan Presentase Kelompok

Setelah pemaparan makalah menggunakan media presentase dan moderator

mempersilakan

audience

untuk

bertanya,

maka

muncul

2

pertanyaan

yang

selanjutnya ditujukan untuk dapat didiskusikan oleh kelompok bersama audience.

Adapun pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Frangky Latjandu (Kelompok VIII)

Perkembangan dunia kesehatan semakin pesat, perawat dituntut lebih inovatif

dan professional dalam menjalankan perannya. Bagaimana cara perawat

dalam promosi agar sekolah keperawatan menghasilkan bibit keperawatan

unggul dan seperti apa penjelasan jenjang karir bagi perawat itu sendiri ?

Jawab. (Yudi Hadi Prayitno)

a. Promosi Sekolah Keperawatan

Sekolah keperawatan yang mempunyai tim marketing yang bagus biasanya tidak akan terlalu kesulitan dalam mendapatkan siswa baru. Berbeda dengan sekolah swasta biasa saja yang tidak memiliki tim marketing yang hanya mengandalkan guru untuk promo, biasanya keteteran. Kecuali sekolah yang memang sudah mempunyai reputasi bagus di masyarakat. Berikut adalah beberapa tips yang bisa digunakan dalam hal mempromosikan sekolah keperawatan kepada masyarakat :

Media promosi sekolah

1)

2)

3)

4)

Brosur

Banner

Spanduk

Slide presentasi

30

5)

Video

6)

Proposal

7)

Even

8)

Rewward

9)

Blog

10) Sosial media 11) SMS 12) Orang tua siswa 13) Iklan di media cetak atau elektronik

Materi promosi

1)

Prestasi sekolah dan siswa

2)

Fasilitas sekolah

3)

SDM yang profesional

4)

Program sekolah

5)

Culture / Habit sekolah

6)

Letak sekolah yang strategis

7)

Teknologi yang digunakan dalam KBM

8)

Biaya

9)

dan materi promosi lainnya

Teknik promosi sekolah keperawatan yang sering dilakukan

1)

Menyebarkan brosur

2)

Memasang sapnduk / banner ditempat strategis

3)

Melakukan presentasi door to door ke setiap sekolah target

4)

Membagikan proposal kerjasama dengan pihak sekolah target

5)

Menyelenggarakan event (workshop, pameran, dll)

6)

Kegiatan sosial

7)

Melakukan kerjasama dengan orang tua siswa

8)

Memberi diskon dan beasiswa

9)

Promosi lewat blog atau website sekolah

10) Promosi lewat facebook, twitter dan sosial media lainnya

11) Promosi berantai menggunakan para orang tua siswa

31

Media dan teknik presentasi diatas sudah standar, artinya semua

sekolah perawat pasti melakukan hal yang sama. Yang membedakan

adalah cara mengemasi media dan teknik promosinya. Artinya,

kreatifitas-lah yang membedakan tiap-tiap sekolah keperawatan dalam

melakukan promosi sekolah keperawatan. Faktor biaya operasional juga

mempengaruhi cara mengemas promosi-promosi tersebut, yang

mempunyai biaya sesuai anggaran maka mempunyai kebebasan dalam

menentukan media dan teknik promosi lebih epektif. Tapi tidak selalu

demikian, banyak sekolah keperawatan dengan tim marketingnya yang

kreatif bisa mencari donatur untuk membiayai promosi mereka. Salah

satunya dengan melakukan kerjasama dengan sponsor.

b. Jenjang Karir Keperawatan

Syarat penetapan jenjang karir Perawat Klinis, disingkat (PK) dari

PK I hingga PK V, haruslah mengacu pada regulasi agar pengambil

kebijakan memiliki dasar kuat dalam menetapkan kewenangan klinis

Perawat di rumah sakit atau dilayanan kesehatan.

Regulasi yang dimaksud mengacu pada Peraturan Menteri

Kesehatan (PMK) Nomor 40 Tahun 2017 dan Peraturan Mentri

Kesehatan (PMK) Nomor 49 Tahun 2013 tentang Komite Keperawatan.

Adapun tertuang dalam PMK Nomor 40 Tahun 2017 bahwa

peningkatan jenjang karir profesional yang lebih tinggi, Perawat Klinis

harus melalui pengembangan profesional berkelanjutan dan pengakuan

terhadap kemampuan yang didasarkan kepada pengalaman kerja dan

kinerja praktik keperawatan.

Serta memenuhi persyaratan tingkat pendidikan, pengalaman kerja

klinis keperawatan sesuai area kekhususan serta persyaratan kompetensi

yang telah ditentukan. Peningkatan jenjang karir Perawat melalui

pengembangan profesional berkelanjutan yang berdasarkan pendidikan

dapat dilakukan melalui dua (2) cara yaitu pendidikan formal dan

pendidikan berkelanjutan berbasis kompetensi (sertifikasi), diantaranya:

32

1)

Pendidikan Formal

1) Pendidikan Formal a). Perawat Klinis I b). Perawat Klinis I (Novice) memiliki latar belakang pendidikan

a).

Perawat Klinis I

b).

Perawat Klinis I (Novice) memiliki latar belakang pendidikan D-III Keperawatan dengan pengalaman kerja ≥ 1 tahun dan menjalani masa klinis level I selama 3 - 6 tahun. Sedangkan Ners dengan pengalaman kerja ≥ 1 tahun dan menjalani masa klinis level I selama 2 -4 tahun. Dan, untuk menjadi Perawat Klinis I (PK 1), Perawat wajib mempunyai sertifikat pra klinis. Perawat Klinis II Perawat klinis II (Advance Beginner) memiliki latar belakang pendidikan D-III Keperawatan dengan pengalaman kerja ≥ 4 tahun dan menjalani masa klinis level II selama 6 - 9 tahun. Sedangkan Ners dengan pengalaman kerja ≥ 3 tahun dan dan menjalani masa klinis level II selama 4 - 7 tahun. Untuk mendapatkan Perawat Klinis II harus mempunyai sertifikat PK I.

33

c).

Perawat Klinis III

d).

Perawat klinis III (competent) memiliki latar belakang pendidikan D-III Keperawatan dengan pengalaman kerja lebih ≥ 10 tahun dan menjalani masa klinis level III selama 9 - 12 tahun. Sedangkan Ners dengan pengalaman kerja ≥ 7 tahun dan menjalani masa klinis level III selama 6 - 9 tahun atau Ners Spesialis I dengan pengalaman kerja 0 tahun dan menjalani masa klinis level III selama selama 2 - 4 tahun. Untuk mencapai Perawat klinis III, dengan lulusan D-III Keperawatan dan Ners harus mempunyai sertifikat PK II. Perawat Klinis IV

e).

Perawat klinis IV (Proficient) memiliki latar belakang pendidikan Ners dengan pengalaman kerja ≥ 13 tahun dan menjalani masa klinis level IV selama 9 – 12 tahun. Sedangkan Ners Spesialis I dengan pengalaman kerja ≥ 2 tahun dan menjalani masa klinis level IV selama 6 – 9 tahun. Untuk mencapai Perawat Klinis IV, Perawat harus mempunyai sertifikat PK III. Perawat Klinis V Perawat klinis V (Expert) memiliki latar belakang pendidikan Ners Spesialis I dengan pengalaman kerja ≥ 4 tahun dan mempunyai sertifikat PK IV. Sedangkan Ners Spesialis II (Konsultan) dengan pengalaman kerja 0 tahun. Perawat klinis V menjalani masa klinis level 5 sampai memasuki usia pensiun.

34

2).

Pendidikan Berkelanjutan Berbasis Kompetensi (Sertifikasi)

Pendidikan Berkelanjutan Berbasis Kompetensi (Sertifikasi) a). Perawat Klinis I (PK I) b). Perawat Klinis I

a).

Perawat Klinis I (PK I)

b).

Perawat Klinis I (Novice) memiliki latar belakang D-III Keperawatan dengan pengalaman kerja ≥ 1 tahun dan menjalani masa klinis level I selama 3 - 6 tahun. Sedangkan Ners dengan pengalaman kerja ≥ 1 tahun dan menjalani masa klinis level I selama 2 -4 tahun. Perawat klinis harus mempunyai sertifikat pra klinis. Perawat Klinis II Perawat klinis II (Advance Beginner) memiliki latar belakang D-III Keperawatan dengan pengalaman kerja ≥ 4 tahun dan menjalani masa klinis level II selama 6 - 9 tahun. Sedangkan Ners dengan pengalaman kerja ≥ 3 tahun dan menjalani masa klinis level II selama 4 - 7 tahun. Perawat klinis II harus mempunyai sertifikat PK I.

35

c).

Perawat Klinis III

d).

Perawat klinis III (competent) memiliki latar belakang D-III Keperawatan dengan pengalaman kerja ≥ 10 tahun dan menjalani masa klinis level III selama 9 - 12 tahun. Sedangkan Ners dengan pengalaman kerja ≥ 7 tahun dan menjalani masa klinis level III selama 6 - 9 tahun. Perawat klinis III harus mempunyai sertifikat PK II dan sertifikasi teknikal. Perawat Klinis IV

e).

Perawat klinis IV (Proficient) memiliki latar belakang D-III Keperawatan dengan pengalaman kerja ≥ 19 tahun dan menjalani masa klinis level IV sampai memasuki masa pensiun. Sedangakn Ners dengan pengalaman kerja ≥ 13 tahun dan menjalani masa klinis level IV selama 9 – 12 tahun. Untuk mendapatkan Perawat klinis IV harus mempunyai sertifikat PK III serta sertifikasi teknikal II. Perawat Klinis V Perawat klinis V (Expert) memiliki latar belakang Ners dengan pengalaman kerja ≥ 22 tahun dan menjalani masa klinis level V sampai memasuki usia pensiun. Perawat klinis V harus mempunyai sertifikat PK IV serta sertifikasi teknikal II.

36

2.

Mariati (Kelompok VI)

Jelaskan maksud perawat sebagai role model, baik bagi perawat lain

maupun bagi pasien ?

Jawab :

Pengetahuan masyarakat yang semakin meningkat, berpengaruh terhadap meningkatnya tuntutan masyarakat akan mutu pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan keperawatan. Oleh karena itu, citra seorang perawat kian menjadi sorotan. Hal ini tentu saja merupakan tantangan bagi profesi keperawatan dalam mengembangkan profesionalisme selama memberikan pelayanan yang berkualitas agar citra perawat senantiasa baik di mata masyarakat. Menjadi seorang perawat ideal bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi untuk membangun citra perawat ideal di mata masyarakat. Hal ini dikarenakan kebanyakan masyarakat telah didekatkan dengan citra perawat yang identik dengan sombong, tidak ramah, genit, tidak pintar seperti dokter dan sebagainya. Seperti itulah kira-kira citra perawat di mata masyarakat yang banyak digambarkan di televisi melalui sinetron- sinetron tidak mendidik. Untuk mengubah citra perawat seperti yang banyak digambarkan masyarakat memang tidak mudah, tapi itu merupakan suatu keharusan bagi semua perawat, terutama seorang perawat profesional. Seorang perawat profesional seharusnya dapat menjadi sosok perawat ideal yang senantiasa menjadi role model bagi perawat vokasional dalam memberikan asuhan keperawatan. Hal ini dikarenakan perawat profesional memiliki pendidikan yang lebih tinggi sehingga ia lebih matang dari segi konsep, teori, dan aplikasi. Namun, hal itu belum menjadi jaminan bagi perawat untuk dapat menjadi perawat yang ideal karena begitu banyak aspek yang harus dimiliki oleh seorang perawat

37

ideal di mata masyarakat. Perawat yang ideal adalah perawat yang baik. Begitulah kebanyakan orang menjawab ketika ditanya mengenai bagaimana sosok perawat ideal di mata mereka. Mungkin kedengarannya sangat sederhana. Namun, di balik semua itu, pernyataan tersebut memiliki makna yang besar. Masyarakat ternyata sangat mengharapkan perawat dapat bersikap baik dalam arti lembut, sabar, penyayang, ramah, sopan dan santun saat memberikan asuhan keperawatan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita memang masih menemukan perilaku kurang baik yang dilakukan oleh seorang perawat terhadap klien saat menjalankan tugasnya di rumah sakit.Hal itu memang sangat disayangkan karena bisa membuat citra perawat menjadi tidak baik di mata masyarakat. Ternyata memang hal- hal seperti itulah yang memunculkan jawaban demikian dari masyarakat. Untuk menjadi perawat ideal di mata masyarakat, diperlukan kompetensi yang baik dalam hal menjalankan peran dan fungsi sebagai perawat. Soegiarto (1999) menyebutkan lima aspek yang harus dimiliki jasa pelayanan, yaitu :

a. Cepat, waktu yang digunakan dalam melayani tamu minimal sama dengan batas waktu standar. Merupakan batas waktu kunjung dirumah sakit yang sudah ditentukan waktunya.

b. Tepat, kecepatan tanpa ketepatan dalam bekerja tidak menjamin kepuasan konsumen. Bagaimana perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien yaitu tepat memberikan bantuan dengan keluhan-keluhan dari pasien.

c. Aman, rasa aman meliputi aman secara fisik dan psikis selama pengkonsumsian suatu poduk atau. Dalam memberikan pelayanan jasa yaitu memperhatikan keamanan pasien dan memberikan keyakinan dan kepercayaan kepada pasien sehingga memberikan rasa aman kepada pasien.

38

d. Ramah tamah, menghargai dan menghormati konsumen, bahkan pada saat pelanggan menyampaikan keluhan. Perawat selalu ramah dalam menerima keluhan tanpa emosi yang tinggi sehingga pasien akan merasa senang dan menyukai pelayanan dari perawat.

e. Nyaman, rasa nyaman timbul jika seseorang merasa diterima apa adanya. Pasien yang membutuhkan kenyaman baik dari ruang rawat inap maupun situasi dan kondisi yang nyaman sehingga pasien akan merasakan kenyamanan dalam proses penyembuhannya.

Berdasarkan pandangan beberapa ahli diatas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek kualitas pelayanan keperawatan adalah sebagai berikut :

a) Penerimaan meliputi sikap perawat yang selalu ramah, periang, selalu tersenyum, menyapa semua pasien. Perawat perlu memiliki minat terhadap orang lain, menerima pasien tanpa membedakan golongan, pangkat, latar belakang sosial ekonomi dan budaya, sehingga pribadi utuh. Agar dapat melakukan pelayanan sesuai aspek penerimaan perawat harus memiliki minat terhadap orang lain dan memiliki wawasan luas.

b) Perhatian, meliputi sikap perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan perlu bersikap sabar, murah hati dalam arti bersedia memberikan bantuan dan pertolongan kepada pasien dengan sukarela tanpa mengharapkan imbalan, memiliki sensitivitas dan peka terhadap setiap perubahan pasien, mau mengerti terhadap kecemasan dan ketakutan pasien.

c) Komunikasi, meliputi sikap perawat yang harus bisa melakukan komunikasi yang baik dengan pasien, dan keluarga pasien. Adanya komunikasi yang saling berinteraksi antara pasien dengan perawat, dan adanya hubungan yang baik dengan keluarga pasien.

d) Kerjasama, meliputi sikap perawat yang harus mampu melakukan kerjasama yang baik dengan pasien dan keluarga pasien.

39

e) Tanggung jawab, meliputi sikap perawat yang jujur, tekun dalam tugas, mampu mencurahkan waktu dan perhatian, sportif dalam tugas, konsisten serta tepat dalam bertindak.

40