Anda di halaman 1dari 15

Jurnal PERIKANAN dan KELAUTAN 15,1 (2010) : 1-15

PENGARUH KOMBINASI PENYUNTIKAN hCG DAN EKSTRAK


KELENJAR HIPOFISA IKAN MAS TERHADAP DAYA RANGSANG
OVULASI DAN KUALITAS TELUR IKAN PANTAU
(Rasbora lateristriata Blkr)

(The effects of mixed hCG and hypophysis extract injection toward ovulation
and egg quality of Rasbora lateristriata Blkr)

Ridwan Manda Putra1)


1)
Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau

Diterima : 12 Januari 2010 Disetujui : 25 Januari 2010

ABSTRACT

This research aims to understand the effect of dosages combination of mixed


hCG and hypophysis extract injection toward ovulation and egg quality of Rasbora
lateristriata Blkr. There were 5 treatments applied, namely PA= control (1 ml of Na
Cl 0,65 % /kg body weight), PB = hCG 400 IU/kg body weight + CPE 2 dosages,
PC = hCG 600 IU/kg body weight + CPE 2 dosages, PD = hCG 800 IU/kg body
weight + CPE 2 dosages, PE = hCG 1000 IU/kg body weight + CPE 2 dosages, PF
= hCG 1200 IU/kg body weight + CPE 2 dosages. The best result for female fish was
the combination of hCG 1000 IU/kg body weight + CPE 2 dosages and it shown
7.16 laten time; 281 eggs/ ovulation, egg diameter increment 0.267 mm and mature
eggs increase 16.67%.

Key Words : Rasbora lateristriata, egg maturity, egg diameter, hCG, CPE

PENDAHULUAN daging yang enak. Ikan ini dikonsumsi


Ikan pantau (Rasbora bukan saja dalam bentuk segar tetapi
lateristriata Blkr) adalah salah satu juga dalam bentuk ikan olahan yang
ikan ekonomis penting di daerah Riau, dikenal dengan istilah ikan asap (ikan
karena pada saat ukuran kecil dapat salai). Selama ini ikan tersebut
berperan sebagai ikan hias, memiliki diperoleh dari hasil tangkapan di
pergerakan dan warna tubuh yang sungai yang ada di daerah Riau
menarik dan setelah ukuran dewasa kususnya Sungai Kampar dengan
menjadi ikan konsumsi yang digemari ukuran ikan tertangkap bervariasi
masyarakat karena mengandung mulai dari ukuran benih, dewasa
protein tinggi dan memiliki rasa bahkan banyak tertangkap ikan yang
Jurnal PERIKANAN dan KELAUTAN 15,1 (2010) : 1-15
Pengaruh Kombinasi Penyuntikan Hcg Dan Ekstrak 2
Kelenjar Hipofisa Ikan Mas Terhadap Daya Rangsang Ovulasi Dan
Kualitas Telur Ikan Pantau

telah matang gonad. melakukan pemijahan buatan


Permasalahannya bila ikan yang penentuan jenis dan dosis hormon
tertangkap matang gonad sudah jelas yang tepat untuk merangsang ovulasi
akan merusak keturunan sekaligus dalam menghasilkan telur dan
merusak kelestariannya dari alam. spermiasi untuk menghasilkan
Permasalahan tersebut dapat spermatozoa yang berkualitas perlu
diatasi dengan menemukan teknologi dilakukan. Kombinasi hCG dan
pembenihan melalui pemijahan buatan ekstrak kelenjar hipofisa telah berhasil
dalam rangka menghasilkan benih dilakukan untuk merangsang ovulasi
yang berkualitas dan teknologi dan spermiasi beberapa jenis ikan air
budidaya/pembesaran baik di kolam tawar. Oleh sebab itu penelitian
maupun di keramba. Dalam melakukan pengaruh kombinasi penyuntikan hCG
pemijahan buatan dapat dilakukan dan ekstrak kelenjar hipofisa ikan mas
dengan rangsangan hormonal yang terhadap daya rangsang ovulasi dan
pada beberapa jenis ikan air tawar kualitas telur ikan pantau perlu
telah berhasil dilakukan melalui dilakukan
kombinasi hCG dan ekstrak kelenjar
hipofisa ikan mas atau analognya. METODOLOGI
Pemijahan buatan pada umumnya Tempat dan Waktu Penelitian
ditujukan pada spesies ikan yang Penelitian ini dilakukan di
mengalami kesulitan untuk Laboratorium Biologi Perikanan
berkembang biak dengan sempurna Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
pada lingkungan buatan, seperti Universitas Riau, dari awal Juni
halnya ikan pantau tersebut diatas. sampai Desember 2007.
Selain itu juga bertujuan untuk
memperoleh benih ikan di luar Rancangan Percobaan
musim pemijahan, hibridisasi, Penelitian ini menggunakan 6
peningkatan efisiensi produksi, tarap perlakuan dan 3 kali ulangan.
mengurangi kehilangan telur ikan Perlakuan yang digunakan adalah : PA
terjadi pada pemijahan secara alami, = Kontrol (1 ml larutan Na Cl
meningkatkan kelulushidupan larva fisiologis 0,65 %/kg bobot tubuh), PB
ikan dan penyediaan telur atau larva = hCG 400 IU/kg bobot tubuh + CPE
ikan untuk praktek ginogenesis 2 dosis, PC = hCG 600 IU/kg bobot
(Donaldson and Hunter, 1983). tubuh + CPE 2 dosis, PD = hCG 800
Kualitas telur dan spermatozoa IU/kg bobot tubuh + CPE 2 dosis,
yang dihasilkan oleh induk ikan betina PE = hCG 1000 IU/kg bobot tubuh
dan jantan sangat menentukan + CPE 2 dosis, PF = hCG 1200 IU/kg
keberhasilan pemijahan buatan yang bobot tubuh + CPE 2 dosis.
dilakukan, oleh sebab itu pada saat Rancangan yang digunakan adalah
Jurnal PERIKANAN dan KELAUTAN 15,1 (2010) : 1-15
Pengaruh Kombinasi Penyuntikan Hcg Dan Ekstrak 3
Kelenjar Hipofisa Ikan Mas Terhadap Daya Rangsang Ovulasi Dan
Kualitas Telur Ikan Pantau

rancangan acak lengkap (RAL) dengan 60 x 45 cm yang telah diisi air setinggi
Model rancangan adalah : 30 cm dan dilengkapi aerasi.
Penyuntikan ikan uji dilakukan
Yij =  +  i +  ij dua kali secara intramuskular dengan
selang waktu 6 jam. Penyuntikan
dimana : Y ij = Hasil pertama menggunakan hCG sedangkan
pengamatan penyuntikan kedua menggunakan
individu yang ekstrak kelenjar hipofisa ikan mas
mendapat sesuai dengan peran kedua hormon
perlakuan ke – tersebut dalam proses reproduksi ikan.
i dan ulangan Pengurutan dilakukan enam jam
ke- j setelah penyuntikan kedua, bila belum
 = Rata-rata menunjukkan tanda-tanda ovulasi
umum pengurutan berikutnya dilakukan
 i = Pengaruh setiap satu jam sekali sampai ikan uji
perlakuan ke-i ovulasi.
 ij = Pengaruh galat Parameter yang diukur untuk
perlakuan ke- i mewakili respons daya rangsang
ulangan ke- j ovulasi dan kualitas telur induk ikan
pantau betina adalah : waktu laten (
Prosedur Penelitian jarak waktu penyuntikan kedua sampai
Ikan uji di dapat dari Sungai ovulasi), jumlah telur diovulasikan,
Kampar dan dimatangkan dalam bak diameter telur (selisih diameter telur
fiber di Laboratorium Biologi sebelum dan sesudah penyuntikan, dan
Perikanan Fakultas Perikanan dan kematangan telur. Selanjutnya
Ilmu Kelautan Universitas Riau. dilakukan pula pengamatan preparat
Induk ikan yang akan histologi ovarium ikan uji dari masing-
dimatangkan diseleksi dengan kriteria masing perlakuan.
memiliki tingkat kematangan gonad II
dan dari spesies Rasbora lateristriata HASIL DAN PEMBAHASAN
Blkr. Selama pemeliharaan, ikan diberi Hasil analisis variansi
pakan Tubifex sp dan pellet dengan menunjukan bahwa perlakuan
kandungan protein 32 % dengan tujuan kombinasi hCG dan ekstrak kelenjar
agar ikan dapat matang gonad secara hipofisa ikan mas yang diberikan
homogen dan dalam waktu yang berpengaruh sangat nyata (P<0,01)
singkat Sebanyak 18 ekor induk ikan terhadap waktu laten, jumlah telur
pantau yang telah mencapai tingkat ovulasi dan pertambahan kematangan
kematangan gonad IV, ditempatkan telur namun tidak berpengaruh nyata
pada 18 akuarium yang berukuran 60 x
Jurnal PERIKANAN dan KELAUTAN 15,1 (2010) : 1-15
Pengaruh Kombinasi Penyuntikan Hcg Dan Ekstrak 4
Kelenjar Hipofisa Ikan Mas Terhadap Daya Rangsang Ovulasi Dan
Kualitas Telur Ikan Pantau

(P>0.05) terhadap pertambahan terdapat pada perlakuan PF selama


diameter telur. 7,16 jam, PE selama 9,33 jam, PD
selama 10,67 jam, PC selama 12,17
1. Waktu Laten jam, PB selama 14,67 jam dan PA
Hasil pengamatan selama 19,83 jam (Tabel 1 dan
menunjukkan bahwa rataan waktu Gambar 1).
laten yang terendah secara berurutan

Tabel 1. Data waktu laten (jam) setelah perlakuan pada induk ikan pantau
Ulangan Waktu laten (jam)
PA PB PC PD PE PF
1 21,00 12,50 10,00 12,50 11,00 7,50
2 18,50 16,00 12,50 9,50 9,00 6,50
3 20,00 15,50 14,00 10,00 8,00 7,50
Jumlah 59,50 44,00 36,50 32,00 28,00 21,50
Rata-rata 19,83 14,67 12,17 10,67 9,33 7,16
Std D 1,258 1,897 2,021 1,312 1,528 0,577
Keterangan : PA = Kontrol (1 ml Na Cl Fisiologis 0,65 %/ kg bobot tubuh
PB = hCG 400 IU/kg bobot tubuh + CPE 2 dosis
PC = hCG 600 IU/kg bobot tubuh + CPE 2 dosis
PD = hCG 800 IU/kg bobot tubuh + CPE 2 dosis
PE = hCG 1000 IU/kg bobot tubuh + CPE 2 dosis
PF = hCG 1200 IU/kg bobot tubuh + CPE 2 dosis

25

20
waktu laten (jam)

15

10

0
PA PB PC PD PE PF
Perlakuan

Gambar 1. Histogram waktu laten ikan pantau dari masing-masing perlakuan


Jurnal PERIKANAN dan KELAUTAN 15,1 (2010) : 1-15
Pengaruh Kombinasi Penyuntikan Hcg Dan Ekstrak 5
Kelenjar Hipofisa Ikan Mas Terhadap Daya Rangsang Ovulasi Dan
Kualitas Telur Ikan Pantau

Hasil uji lanjut dengan perlakuan PF (1200 IU hCG/kg bobot


menggunakan uji Newmans Keuls tubuh + CPE 2 dosis) dengan rataan
menunjukkan bahwa perlakuan PF waktu laten 7,16 jam namun lebih
berbeda sangat nyata (P<0.01) dengan besar dari hasil penelitian Pardinan dan
perlakuan PA dan PB, berbeda nyata Sukendi (2002) terhadap ikan baung
(P<0.05) dengan perlakuan PC dan PD yaitu 5,93 jam dengan dosis kombinasi
dan tidak berbeda nyata (P>0,05) 700 IU hCG/kg bobot tubuh + CPE 2
dengan perlakuan PE. dosis dan penelitian Putra dan Sukendi
Hasil penelitian menunjukkan (2005) terhadap ikan kapiek, yaitu 6,87
bahwa semakin besar dosis hormon jam dengan dosis kombinasi 800 IU
hCG yang diberikan dengan kombinasi hCG/ kg bobot tubuh + CPE 2 dosis.
ekstrak kelenjar hipopisa ikan mas Tetapi dalam penelitian ini belum
yang tetap akan mempersingkat waktu diperoleh dosis hCG yang optimal
laten yang diperoleh. Hal ini karena untuk merangsang ovulasi ikan pantau.
fungsi hCG pada proses reproduksi
ikan adalah sebagai pematangan oosit, 2. Jumlah Telur Ovulasi
selain itu hCG lebih efektif diberikan Hasil pengamatan terhadap
dalam bentuk kombinasi dengan rataan jumlah telur ovulasi terbesar
ekstrak kelenjar hipopisa dalam secara berurutan terdapat pada
merangsang ovulasi, terbukti pada ikan perlakuan PF sebanyak 281 butir, PE
Plecoglastus altivelis dan ikan koan 269 butir, PD 258 butir, PC 248 butir,
(Epler et al., 1986). Dalam penelitian PB 240 butir dan PA 152 butir (Tabel
ini perlakuan yang tersingkat 2 dan Gambar 2).
menghasilkan waktu laten adalah

Tabel 2. Data jumlah telur ovulasi (butir) setelah perlakuan pada induk ikan pantau
Ulangan Jumlah telur ovulasi (butir)
PA PB PC PD PE PF
1 154 235 245 265 260 276
2 164 255 235 240 265 285
3 138 230 264 271 284 284
Jumlah 456 720 744 776 809 845
Rata-rata 152,00 240,00 248,00 258,67 269,67 281,67
Std D 13,115 13,229 14,731 16,442 12,662 4,933
Jurnal PERIKANAN Pengaruh
dan KELAUTAN 15,1Penyuntikan
Kombinasi (2010) : 1-15Hcg Dan Ekstrak
6
Kelenjar Hipofisa Ikan Mas Terhadap Daya Rangsang Ovulasi Dan
Kualitas Telur Ikan Pantau

300
Jmlah telur ovulasi (butir)
250

200

150

100

50

0
PA PB PC PD PE PF
Perlakuan

Gambar 2. Histogram jumlah telur ovulasi ikan pantau dari masing-masing


perlakuan

Dari hasil uji lanjut dengan Selain pengaruh hormon,


menggunakan uji Newmans Keuls ovulasi juga sangat ditentukan oleh
menunjukkan bahwa perlakuan PF keadaan lingkungan , dimana oosit
berbeda sangat nyata (P<0,01) dengan matang akan gagal diovulasikan yang
perlakuan PA, dan berbeda nyata dikenal dengan istilah artresia bila
(P<0.05) dengan perlakuan PB dan PC, keadaan lingkungan yang tidak
sedangkan dengan perlakuan PD dan mendukung, hal ini karena terjadi
PE tidak berbeda nyata (P>0,05). penyerapan materi oosit oleh sel-sel
Perlakuan yang tersingkat granulosa yang selanjutnya
menghasilkan waktu laten (PF) membentuk massa seluler yang tidak
merupakan perlakuan yang terbanyak beraturan serta memiliki pigmen
pula menghasilkan jumlah telur tertentu berwarna kuning (Khan dalam
ovulasi. Hal ini karena perlakuan Hardjamulia, 1987).
tersebut merupakan perlakuan Jumlah telur ovulasi yang
kombinasi yang terpotensi untuk diperoleh pada perlakuan terbaik
mematangkan oosit oleh hCG sesuai penelitian ini lebih kecil dari hasil
dengan perannya yang telah diuraikan penelitian Pardinan dan Sukendi
sebelumnya, sehingga semakin banyak (2002) terhadap ikan baung yaitu
jumlah oosit yang matang maka 10115 butir serta Putra dan Sukendi
semakin besar pula kesempatannya (2005) terhadap ikan kapiek yaitu
untuk di ovulasikan. sebanyak 19066 butir. Hal ini sesuai
dengan ukuran spesies ikan uji, yaitu
Jurnal PERIKANAN Pengaruh
dan KELAUTAN 15,1Penyuntikan
Kombinasi (2010) : 1-15 Hcg Dan Ekstrak
7
Kelenjar Hipofisa Ikan Mas Terhadap Daya Rangsang Ovulasi Dan
Kualitas Telur Ikan Pantau

Rasbora lateristrata lebih kecil, sebelum penyuntikan disajikan pada


sehingga ukuran gonad (ovarium) Tabel 3. Nilai diameter telur yang
lebih kecil dan jumlah telur yang ada diperoleh berkisar antara 0,5 sampai
dalam gonad juga lebih sedikit. dengan 0,7 mm dengan rataan antara
0,53 sampai dengan 0.67 mm nilai
.3. Pertambahan Diameter Telur diameter relur tersebut berdistribusi
Hasil pengukuran diameter normal setelah diuji dengan uji
telur dari masing-masing perlakuan homogenitas.

Tabel 3. Data diameter telur (mm) sebelum perlakuan pada induk ikan pantau
Ulangan Diameter telur (mm)
PA PB PC PD PE PF
1 0,6 0,7 0,6 0,5 0,5 0,6
2 0,7 0,5 0,7 0,6 0,5 0,7
3 0,5 0,7 0,7 0,5 0,7 0,5
Jumlah 1,80 1,90 2,00 1,60 1,70 1,80
Rata-rata 0,60 0,63 0,67 0,53 0,56 0,60
Std D 0,100 0,115 0,058 0,058 0,116 0,100

Hasil pengukuran diameter 0,7-0,9 mm dengan rataan antara 0.70-


telur dari masing-masing perlakuan 0.90 mm. Nilai diameter telur setelah
setelah penyuntikan disajikan pada penyuntikan yang diperoleh bersifat
Tabel 4. Nilai rataan diameter telur homogen setelah dilakukan uji
setelah penyuntikan berkisar antara homogenitas.

Tabel 4. Data diameter telur (mm) setelah perlakuan pada induk ikan pantau
Ulangan Diameter telur (mm)
PA PB PC PD PE PF
1 0,7 0,9 0,9 0,7 0,8 0,9
2 0,8 0,6 0,8 0,8 0,8 0,9
3 0,6 0,8 0,8 0,6 0,8 0,8
Jumlah 2,10 2,30 2,50 2,10 2,40 2,70
Rata-rata 0,70 0,77 0,83 0,70 0,80 0,90
Std D 0,100 0,153 0,058 0,100 0,000 0,000

Pertambahan diameter telur pertambahan diameter telur setelah


setelah penyuntikan disajikan pada penyuntikan berkisar antara 0,1-0,3
Tabel 5 dan Gambar 3. Nilai rataan
Jurnal PERIKANAN dan KELAUTAN 15,1 (2010) : 1-15
Pengaruh Kombinasi Penyuntikan Hcg Dan Ekstrak 8
Kelenjar Hipofisa Ikan Mas Terhadap Daya Rangsang Ovulasi Dan
Kualitas Telur Ikan Pantau

mm dengan rataan antara 0,70 - 0.90 mm.

Tabel 5. Data pertambahan diameter telur (mm) setelah perlakuan pada induk ikan
pantau
Ulangan Pertambahan diameter telur (mm)
PA PB PC PD PE PF
1 0,1 0,2 0,3 0,2 0,3 0,3
2 0,1 0,1 0,1 0,2 0,3 0,2
3 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,3
Jumlah 0,30 0,40 0,50 0,50 0,70 0,80
Rata-rata 0,100 0,133 0,167 0,167 0,233 0,267
Std D 0,000 0,058 0,115 0,058 0,115 0,058
Pertambahan diameter telur (mm)

18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
PA PB PC PD PE PF
Perlakuan

Gambar 3. Histogram pertambahan diameter telur ikan pantau dari masing-masing


perlakuan

Nilai rataan pertambahan juga dapat memperbesar


diameter telur terbesar secara pertambahan diameter telur,
berurutan diperoleh pada perlakuan walaupun secara statistik perlakuan
PF sebesar 22,67 mm, PE 0,233 mm, tidak berpengaruh terhadap diameter
PD dan PC masing-masing sebesar telur (P> 0,05). Terjadinya
0,167 mm, PB 0,33 mm dan PA pertambahan diameter telur karena
0,100 mm. Perlakuan PF selain dapat secara biologi menjelang terjadinya
mempersingkat waktu laten, ovulasi akan terjadi peningkatan
memperbanyak jumlah telur ovulasi diameter oosit yang diisi oleh massa
Jurnal PERIKANAN Pengaruh
dan KELAUTAN 15,1Penyuntikan
Kombinasi (2010) : 1-15Hcg Dan Ekstrak
9
Kelenjar Hipofisa Ikan Mas Terhadap Daya Rangsang Ovulasi Dan
Kualitas Telur Ikan Pantau

kuning telur (Tam et al., 1986) dan 524 – 708 um dan 52 – 945 um
penyerapan cairan lumen ovarium (Mollah dan Tan, 1983).
akibat rangsangan hormon yang Penggunaan kombinasi hCG
diberikan sehingga ukuran diameter dan ekstrak kelenjar hipofisa ikan mas
terbesar dicapai pada saat akan pada penelitian ini memiliki peran
terjadi pemijahan. yang sama dengan kombinasi
Pertambahan diameter telur ovaprim dan PGF2 α dalam
yang terbesar diperoleh pada meningkatkan diameter telur, seperti
penelitian ini lebih kecil bila yang telah dilakukan Sukendi (1995)
dibandingkan dengan pertambahan menghasilkan diameter telur 0,70 mm
diameter telur ikan baung dengan pada ikan lele dumbo; 0,170 mm
penyuntikan kombiansi yang sama, pada ikan mas koki (Andriani, 1996)
yaitu 0,333 mm (Pardinan dan dan 0,295 mm pada ikan baung
Sukendi, 2002) dan ikan kapiek 0,312 (Sukendi, 2001).
mm (Putra dan Sukendi, 2005),
sedangkan penyuntikan hCG secara 4. Pertambahan Kematangan Telur
tunggal dengan dosis 1 – 5 IU/g Hasil pengukuran kematangan
bobot tubuh pada ikan Clarias telur dari masing-masing perlakuan
macrocephalus Gunther meningkatkan sebelum penyuntikan disajikan pada
diameter telur dari 1196 ± 31 um Tabel 6. Nilai kematangan telur yang
menjadi 1458 ± 12 um dan pada ikan diperoleh berkisar antara 65 – 80 %
kerapu (Epinephelus striatus) dengan rataan antara 70 – 75 %.
penggunaan dosis 1000 IU hCG/kg Hasil uji homogenitas nilai
dan 500 IU hCG/kg bobot tubuh kematangan telur tersebut bersifat
meningkatkan diameter oosit dari homogen.

Tabel 6. Data kematangan telur (%) sebelum perlakuan pada induk ikan pantau
Ulangan Kematangan telur (%)
PA PB PC PD PE PF
1 70 80 75 70 80 75
2 80 65 65 70 75 80
3 75 75 70 80 65 70
Jumlah 225 220 210 220 220 225
Rata-rata 75,00 73,33 70,00 73,33 73,33 75,00
Std D 5,000 7,638 5,000 5,774 7,638 5,000

Kematangan telur setelah seperti terlihat pada Tabel 7. Nilai


penyuntikan terjadi peningkatan kematangan telur setelah penyuntikan
Jurnal PERIKANAN Pengaruh
dan KELAUTAN 15,1Penyuntikan
Kombinasi (2010) : 1-15 Hcg Dan Ekstrak
10
Kelenjar Hipofisa Ikan Mas Terhadap Daya Rangsang Ovulasi Dan
Kualitas Telur Ikan Pantau

berkisar antara 75 – 90 % dengan homogenitas nilai kematangan telur


rataan antara 80 – 91,67 %. Hasil uji seteah penyuntikan bersifat homogen.

Tabel 7. Data kematangan telur (%) setelah perlakuan pada induk ikan pantau
Ulangan Kematangan telur (%)
PA PB PC PD PE PF
1 75 85 85 85 90 90
2 85 75 80 80 90 95
3 80 85 75 90 80 90
Jumlah 240 245 240 255 268 275
Rata-rata 80,000 81,667 80,000 85,000 86,667 91,667
Std D 5,000 5,774 5,000 5,000 5,774 2,887

Pertambahan kematangan telur setelah penyuntikan berkisar antara


setelah penyuntikan disajikan pada 5 – 20 % dengan rataan antara 5, 00
Tabel 8 dan Gambar 4. Nilai rataan – 16,67 %.
pertambahan kematangan telur

Tabel 8. Data pertambahan kematangan telur (%) setelah perlakuan pada induk ikan
pantau
Ulangan Pertambahan kematangan telur (%)
PA PB PC PD PE PF
1 5 5 10 15 10 15
2 5 10 15 10 15 15
3 5 10 5 10 15 20
Jumlah 15 25 30 35 40 50
Rata-rata 5,000 8,333 10,000 11,667 13,333 16,667
Std D 0,000 2,887 5,000 2,887 2,887 2,887
Jurnal PERIKANAN dan KELAUTAN 15,1 (2010) : 1-15
Pengaruh Kombinasi Penyuntikan Hcg Dan Ekstrak 11
Kelenjar Hipofisa Ikan Mas Terhadap Daya Rangsang Ovulasi Dan
Kualitas Telur Ikan Pantau

Pertambahan kematangan telur (%)


18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
PA PB PC PD PE PF
Perlakuan

Gambar 4. Histogram pertambahan kematangan telur ikan pantau dari masing


masing perlakuan

Nilai rataan pertambahan hormon ini maka terbukti semakin


kematang telur terbesar secara besar dosis hormon hCG yang
berurutan diperoleh pada perlakuan diberikan maka semakin besar pula
PF sebesar 16,67 %, PE 13,33 %, PD pengaruhnya terhadap sekresi estradiol
11,67 %, PC 10,00 %, PB 8,33 % – 17 β yang akan merangsang sintetis
dan PA 5,00 %. Seperti pengukuran dan sekresi vitelogenin untuk
parameter sebelumnya dimana pematangan oosit di dalam ovarium.
semakin besar dosis hCG yang Hasil uji lanjut menunjukkan
diberikan maka semakin besar pula bahwa perlakuan PF berbeda sangat
pertambahan kematang telur. Hal ini nyata (P< 0,01) dengan perlakuan PA
disebabkan karena peran hCG sama dan PB namun tidak berbeda (P>
dengan gonadotropin I (GTH I) dan 0,05) dengan perlakuan PC, PD dan
ekstrak kelenjar hipofisa ikan mas PE.
sama dengan gonadotropin II (GTH
II). Nagahama (1983) menyatakan 5. Histologi Ovarium Setelah
bahwa GTH I berperan untuk Perlakuan Penyuntikan
meningkatkan sekresi estradiol – 17 β Pembuatan preparat histologi
yang merangsan sintetsis dan sekresi ovarium dilakukan selama 7,16 jam
vitelogenin, sedangkan GTH II setelah penyuntikan kedua. Hal ini
berperan merangsang proses sesuai dengan waktu laten tersingkat
pematangan akhir. Dari peran kedua yang telah diukur
Jurnal PERIKANAN dan KELAUTAN 15,1 (2010) : 1-15
Pengaruh Kombinasi Penyuntikan Hcg Dan Ekstrak 12
Kelenjar Hipofisa Ikan Mas Terhadap Daya Rangsang Ovulasi Dan
Kualitas Telur Ikan Pantau

sebelumnya yaitu pada perlakuan PF dimana disamping ukuran yang kecil


(hCG 1200 IU/kg bobot tubuh + CPE juga warna yang diserap adalah
2 dosis). Hasil pengamatan histologi, berwarna jingga. Hal ini karena sesuai
perbedaan yang terlihat dari masing- dengan waktu ovulasi pada perlakuan
masing perlakuan yang diamati adalah tersebut dari hasil pengukuran
kematangan oosit dengan warna dan sebelumnya adalah selama 19,83 jam
ukurannya yang terdapat di dalam sedangkan pembuatan preparat ini
ovarium (Gambar 5). Mc Millan dilakukan selama 7,16 jam setelah
dalam Goetz (1983) menyatakan penyuntikan kedua sesai dengan waktu
bahwa proses ovulasi pada ikan laten pada perlakuan terbaik (PF).
lamprey terjadi dalam empat tahap, Begitu juga pada perlakuan PB dan PC
yaitu (1) terjadinya penebalan lapisan walaupun sebagian sudah ada oosit
folikel yang dilanjutkan perpisahan yang matang, ditandai dengan ukuran
antara lapisan folikel dan teka, (2) dan penyerapan warna yang berbeda
awal munculnya telur yang dimulai (merah) namun masih ada beberapa
dengan terbentuknya rongga tempat oosit yang belum matang dengan
pelepasannya, (3) munculnya telur warna seperti pada perlakuan PA.
diikuti dengan terbentuknya rongga Perlakuan PB dan PC ini memilki
lebih besar dan (4) telur terdorong waktu ovulasi masing-masing 14,67
keluar, merupakan proses ovulasi. jam dan 12,17 jam, sehingga pada saat
Menurut Nagahama (1983) enzim waktu pembuatan preparat dilakukan
proteolitik berperan melemahkan ovulasi belum terjadi. Sedangkan pada
dinding folikel agar segera terjadi Perlakuan PD, PE dan PF yang
ovulasi. memilki waktu ovulasi masing-masing
Dari enam perlakuan yang 10,67 jam; 9,33 jam dan 7,16jam
dicobakan terlihat ada perbedaan memiliki bentuk preparat histologi
penyerapan pewarnaan eosin dan ovarium yang tidak jauh berbeda.
hemotoksilin yang dilakukan pada Dimana hampir semua oosit yang ada
pembuatan preparat, selain juga dalam ovarium telah matang (stadium
ukuran oosit yang ada. Pada perlakuan IV) dan memiliki penyerapan warna
PA oosit yang ada dalam ovarium yang (merah).
kelihatan belum semuanya matang,
Jurnal PERIKANAN Pengaruh
dan KELAUTAN 15,1Penyuntikan
Kombinasi (2010) : 1-15Hcg Dan Ekstrak
13
Kelenjar Hipofisa Ikan Mas Terhadap Daya Rangsang Ovulasi Dan
Kualitas Telur Ikan Pantau

P.A P.B P.C

P.D P.E P.F

Gambar 5. Histologi ovarium ikan pantau (Rasbora lateristrata Blkr) dari masing-
masing perlakuan

Dari hasil penamatan preparat KESIMPULAN


histologi yang dilakukan dapat Perlakuan yang terbaik untuk
membuktikan hasil pengamatan induk ikan pantau betina adalah
parameter sebelumnya (waku laten, perlakuan PF (hCG 1000 IU/kg bobot
jumlah telur ovulasi, pertambahan tubuh + CPE 2 dosis) menghasilkan
diameter dan kematangan telur). rata-rata waktu laten 7,16 jam, jumlah
Perlakuan yang terbaik pada telur ovulasi 281 butir, pertambahan
pengamatan histologi yang dilakukan diameter telur 0,267 mm dan
dapat ditandai dengan warna dan pertambahan kematangan telur 16,67
ukuran oosit yang ada. Sehingga %, dibuktikan dari hasil pengamatan
secara keseluruhan perlakuan yang histologis ovarium masing-masing
terbaik dari pengamatan histologi perlakuan
secara berurutan seperti parameter
sebelumnya, yaitu PF (hCG 1200 UCAPAN TERIMA KASIH
IU/kg bobot tubuh + CPE 2 dosis), PE Ucapan terima kasih penulis
(hCG 1000 IU/kg bobot tubuh + CPE sampaikan kepada Direktorat
2 dosis), PD (hCG 800 IU/kg bobot Pembinahan Penelitian dan
tubuh + CPE 2 dosis), PC (hCG 600 Pengabdian kepada Masyarakat,
IU/kg bobot tubuh + CPE 2 dosis), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,
PB (hCG 400 IU/kg bobot tubuh + Kementerian Pendidikan Nasional
CPE 2 dosis) dan PA (kontrol, 1 ml Republik Indonesia yang telah
larutan Na Cl fisiologis 0,65 %/kg mendukung dan memberi bantuan
bobot tubuh). dana penelitian Hibah Bersaing ini.
Jurnal PERIKANAN dan KELAUTAN 15,1 (2010) : 1-15
Pengaruh Kombinasi Penyuntikan Hcg Dan Ekstrak 14
Kelenjar Hipofisa Ikan Mas Terhadap Daya Rangsang Ovulasi Dan
Kualitas Telur Ikan Pantau

DAFTAR PUSTAKA Nagahama, Y., 1983. The fungtional


Donaldson, E. M., G. A. Hunter. 1983. morphology of teleost gonads.
Induced fish maturation, p. 223-275.In : Hoar, D.J.,
ovulation and spermiation in Randall, D.J. & Donaldson, E.
cultured fish. pp. 405 -441. In M. (eds). 1983. Fish
W. S. hoar, D. J. Randall and physiology, Vol. IX B.
E. M. Donaldson, ed Fish Academic press, Inc.
Physiology, Volume. IX,
Reproduction (Part B). Pardinan dan Sukendi. 2002. Pengaruh
academic Press., New York. Kombinasi Penyuntikan hCG
dan Ekstrak Kelenjar Hipofisa
Epler, P. 1981. Effect of steroid and Ikan Mas terhadap Daya
gonadotropin hormone on the Rangsang Ovulasi dan
maturation of carp ovaries. Kualitas Telur Ikan Baung
Part VI, A supposed (Mystus nemurus CV).
mechanism of carp oocyte Program Studi Budidaya
maturation ovulation. Pol. Perairan Fakultas Perikanan
Arch. Hydrobiol 28 : 127 - dan Ilmu Kelautan
134. Universitas Riau Pekanbaru.

Ginzburg, A. S. 1972. Fertilization in Putra, R. M. dan Sukendi. 2005.


fishes and problem of Pengaruh Kombinasi
polyspermy. T. A. Detlaf (ed). Penyuntikan hCG dan ekstrak
Winer Bidery Ltd. Jerusalem. kelenjar hipofisa ikan mas
terhadap daya rangsang
Hardjamulia, A. 1987. Beberapa aspek ovulasi dan kualitas telur ikan
pengaruh penundaan kapiek (Puntius schwanefeldi
frekuensi pemijahan terhadap Blkr). Lembaga Penelitian
potensi produksi ikan mas Universitas Riau Pekanbaru.
(Cyprinus carpio L). Disertasi
Program Studi Ilmu Perairan. Sukendi. 1995. Pengaruh kombinasi
Program Pascasarjana IPB. penyuntikan ovaprim dan
Bogor. prostaglandin F2  terhadap
perubahan histology ovarium
Mollah, M. F. A and E. S. P. Tan. ikan dumbo (Clarias
1983. hCG induced spawning gariepinus Burcheel).
of the catfish, Clarias Lembaga Penelitian
macrocephalus Gunther. Universitas Riau.
Aquaculture 35 : 239 – 247.
Jurnal PERIKANAN dan KELAUTAN 15,1 (2010) : 1-15
Pengaruh Kombinasi Penyuntikan Hcg Dan Ekstrak 15
Kelenjar Hipofisa Ikan Mas Terhadap Daya Rangsang Ovulasi Dan
Kualitas Telur Ikan Pantau

Sukendi. 2001. Biologi Reproduksi Tam, O. K. And Lam. T. J. 1986.


dan Pengendaliannya dalam Induced breeding and early
Upaya Pembenihan Ikan development of the Marble
Baung (Mystus nemurus CV) Goby (Oxyeleotris marmorata
dari Perairan Sungai Kampar Blkr). Aquakulture 2 : 411 –
Riau. Disertasi Program 423.
Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor.