Anda di halaman 1dari 23

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP ACUTE LYMPOBLASTIC LEUKIMIA


2.1. Definisi
Leukimia adalah proliferasi sel leukosit yang abnormal, ganas sering disertai
bentuk leukosit yang lain, dari pada normal dengan jumlah yang berlebihan dan
dapat menyebabkan anemia, trombositopenia dan diakhiri dengan kematian
(Hasan dalam Nanda, 2015).
Acute lymphoblastic Leukemia ( ALL atau juga disebut leukemia limfositik
akut ) adalah kanker darah dan sumsum tulang . Kanker jenis ini biasanya
semakin memburuk dengan cepat jika tidak diobati .ALL adalah jenis kanker
yang paling umum pada anak-anak . Pada anak yang sehat , sumsum tulang
membuat sel-sel induk darah ( sel yang belum matang ) yang menjadi sel-sel
darah dewasa dari waktu ke waktu . Sebuah sel induk dapat menjadi sel induk
myeloid atau sel induk limfoid (National Cancer Institute, 2014).
Acute Lympoblastic Leukimia (ALL) merupakan jenis leukemia dengan
karakteristik adanya proliferasi dan akumulasi sel-sel patologis dari sitem
limfopoetik yang mengakibatkan organomegali (pembersaran organ bagian
dalam ) dan kegagalan organ. ALL lebih sering ditemukan pada anak-anak 82%
dari pada umur dewasa 18 %. Insiden ALL akan mencapai puncaknya pada umur
3-7 tahun. Tanpa pengobatan sebagian anak-anak akan hidup 2-3 bulan setelah
terdiagnosis terutama diakibatkan oleh kegagalan sumsum tulang Nurarif,2015).
ALL adalah sel-sel pada keadaan normal berkembang menjadi limposit
berubah menjadi ganas dan dengan segera akan akan menggantikan sel-sel
normal didalam sumsum tulang (Muhtadi, 2014).
2.2.Etiologi
Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat factor predisposisi
yang menyebabkan terjadinya leukemia, yaitu:
1. Genetik
a. Adanya Penyimpangan Kromosom
Insidensi leukemia meningkat pada penderita kelainan congenital,
diantaranya pada sindrom Down, sindrom Bloom, Fanconi’s, sindrom
Wiskott-Aldrich, sindrom Ellis van Creveld, sindrom kleinfelter, D-Trisomy
sinrome, sindron Von Reckinghausen, dan neurofibromatosis. Kelainan-
kelainan kongenital ini dikaitkan erat dengan adanya perubahan informasi
gen, misalnya pada kromosom 21 atau C- group Trisomy, atau ola
kromosom yang tidak setabil seperti pada aneuploidy.
b. Saudara Kandung
Dilaporkan adanya resiko leukemia akut yang tinggi pada kembar identik
dimana kasus-kasus leukemia akut terjadi pada tahun pertama kelahiran. Hal
ini berlaku juga pada keluarga dengan insiden leukemia yang sangat tinggi.
c. Faktor Lingkungan
Beberapa factor lingkungan diketahui dapat menyebabkan kerusakan
kromosom dapatan, missal: radiasi, bahan kimia, dan obat-obatan yang
berhubungan langsung dengan insiden yang meningkat pada leukemia akut ,
khususnya ALL.
2. Virus
Dalam banyak prcobaan telah didapatkan fakta bahwa RNA virus
menyebabkan leukemia pada hewan termasuk primata. Penelitian pada
manusia menemukan adanya RNA dependent DNA polimerase pada sel-sel
leukemia tapi tidak ditemukan pada se-sel normal dan enzim ini berasal dari
virus tipe C yang merupakan virus RNA yang menyebabkan leukemia pada
hewan (Wiernik, 1985). Salah satu virus yang terbukti dapat mentyebabkan
leukemia pada manusia adalah Human T-Cell Leukimia jenis leukemia yang
ditimbulkan adalah Acute T-Cell Leukimia.
3. Bahan Kimia dan Obat-Obatan
Paparan kronis dari bahan kimia (Misal: benzene) dihubungkan
dengan peningkatan insiden leukemia akut, misalnya pada tukang sepatu
sering terpapar benzene. Selain benzene beberapa bahan lain yang
berhubungan terjadinya resiko tinggi AML, antara lain: produk-produk
minyak, cat, ethylene oxide, herbisida, pertisida, dan lading elektromagnetik.
Obat-obatan antineoplastik (missal: alkilator dan inhibitor topoisomere
II) dapat mengakibatkan penyimpangan kromosom yang menyebabkan
AML.Kloramfenycol, fenilbutazon, dan methoxypsoralen dilaporkan
menyebabakan kegagalan sumsum tulang yang lambat laun menjadi AML.
4. Radiasi
Hubungan yang erat antara radiasi dan leukemia (ANLL) ditemukan
pada pasein anxylosing spondilitis yang mendapat terapi radiasi, dan pada
kasus lain seperti peningkatan insiden laukimia pada penduduk jepang yang
selamat dari ledakan bom atom. Peningkatan resiko leukimia juga ditemukan
pada pasien yang mendapat terapi radiasi, miaslnya pembesaran Thymi, para
pekerja yang terekspose radiasi dan para radiologis.
5. Leukimia Sekunder
Leukimia yang terjadi setelah perawatan atas penyakit malignasi dan
disebut Secondary Acute Leukimia (SAL) atau treatment related leukemia.
Termasuk diantaranya penyakit Hodgin, limphoma, myeloma, dan kanker
payudara. Hal ini disebabkan karena obat obatan yang digunakan termasuk
gaolongan imunosupresif selain dapat merusakan DNA.
2.3.Klasifikasi
1. Leukimia Lyphoblastic Akut (ALL)
ALL dianggap sebagai proliferasi ganas limpoblast. Sering terjadi
pada anak-anak, laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan. Puncak
insiden usia 4 tahun, setelah usia 15 tahun ALL jarang terjadi. Limphosit
imatur proliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer sehingga
menggagu perkembangan sel normal. Secara morfologik menurut FAB ALL
dibagi menjadi tiga (3), yaitu:
L1: ALL dengan sel limphoblas kecil-kecil dan merupakan 84% dari ALL.
L2: ALL dengan sel limphoblas lebih besar, inti regularsi, kromatin
bergumpal, neucleoli prominen dan sitiplasmaa agak banyak. Sebesar
14% dari ALL
L3: ALL mirip dengan limpo Burkitt, yaitu sitoplasmabasofil dengn
banyak vakuola, sebanyak 1 % dari ALL.
2. Leukimia Non Lyphoblastic Akut
Secara morfologik yang umum dipakai adalah klasifikasi dari FAB :
M0: Myeloblastic without differentiation
M1: Myeloblastic without maturation
M2: Myeloblastic with maturation
M3: Acute promyelocytic
M4: Acute myelomoncytic
M5: Monocityc
a. M5a: tanpa maturasi
b. M5b: maturasi
M6: Erythroleukimia
M7: Acute megakaryocytic leukemia
2.4.Manifestasi klinik

Gejala klinik leukemia akut sangat bervariasi, tetapi pada umumnya timbul
cepat, dalam beberapa hari sampai minggu. Gejala leukemia akut dapat
digolongkan menjadi tiga yaitu;
1. Gejala kegagalan sumsum tulang:
a. Anemia menimbulkan gejala pucat dan lemah. Disebabkan karena
produksi sel darah merah kurang akibat dari kegagalan sumsum tulang
memproduksi sel darah merah.Ditandai dengan berkurangnya konsentrasi
hemoglobin, turunnya hematokrit, jumlah sel darah merah kurang.Anak
yang menderita leukemia mengalami pucat, mudah lelah, kadang-kadang
sesak nafas.
b. Netropenia menimbulkan infeksi yang ditandai demam, malaise, infeksi
rongga mulut, tenggorokan, kulit, saluran napas, dan sepsis sampai syok
septic.
c. Trombositopenia menimbulkan easy bruising, memar, purpura
perdarahan kulit, perdarahan mukosa, seperti perdarahan gusi dan
epistaksis. Tanda-tanda perdarahan dapat dilihat dan dikaji dari adanya
perdarahan mukosa seperti gusi, hidung (epistaxis) atau perdarahan
bawah kulit yang sering disebut petekia.Perdarahan ini dapat terjadi
secara spontan atau karena trauma. Apabila kadar trombosit sangat
rendah, perdarahan dapat terjadi secara spontan.
2. Keadaan hiperkatabolik yang ditandai oleh:
a. Kaheksia
b. Keringat malam
c. Hiperurikemia yang dapat menimbulkan gout dan gagal ginjal
d. Infiltrasi ke dalam organ menimbulkan organomegali dan gejala lain
seperti:
e. Nyeri tulang dan nyeri sternum
f. Limfadenopati superficial
g. Splenomegali atau hepatomegali biasanya ringan
h. Hipertrofi gusi dan infiltrasi kulit
i. Sindrom meningeal: sakit kepala, mual muntah, mata kabur, kaku kuduk.
j. Ulserasi rectum, kelainan kulit.
3. Infiltrasi organ lain yang kadang-kadang terjadi termasuk pembengkakan
testis pada ALL atau tanda penekanan mediastinum (khusus pada Thy-ALL
atau pada penyakit limfoma T-limfoblastik yang mempunyai hubungan dekat)
4. Gejala lain yang dijumpai adalah:
a. Leukostasis terjadi jika leukosit melebihi 50.000/µL. penderita dengan
leukositosis serebral ditandai oleh sakit kepala, confusion, dan gangguan
visual. Leukostasis pulmoner ditandai oleh sesak napas, takhipnea,
ronchi, dan adanya infiltrasi pada foto rontgen.
b. Koagulapati dapat berupa DIC atau fibrinolisis primer. DIC lebih sering
dijumpai pada leukemia promielositik akut (M3).DIC timbul pada saat
pemberian kemoterapi yaitu pada fase regimen induksi remisi.
c. Hiperurikemia yang dapat bermanifestasi sebagai arthritis gout dan batu
ginjal.
d. Sindrom lisis tumor dapat dijumpai sebelum terapi, terutama pada ALL.
Tetapi sindrom lisis tumor lebih sering dijumpai akibat kemoterapi.
(Bakta,I Made, 2007 :126-127).
2.5.Patofisiologi
Patofisiologi LLA Leukemia Limfoblastik Akut terjadi dikarenakan oleh
adanya perubahan abnormal pada progenitor sel limfosit B dan T. Pada LLA,
kebanyakan kasus disebabkan oleh adanya abnormalitas dari sel limfosit B.
Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya LLA seperti faktor genetika,
imunologi, lingkungan, dan obat-obatan. LLA terjadi karena pada sel
progenitornya mengalami abnormalitas (Gambar 2) (Roganovic, 2013).
Faktor genetika mempunyai peranan paling penting dalam proses terjadinya
LLA. Pada beberapa penelitian menyatakan bahwa terjadi gangguan pada gen
ARID5B dan IKZF yang ternyata berperan dalam regulasi transkripsi dan
diferensiasi sel limfosit B. Selain peranan genetik, faktor lingkungan seperti
radiasi dan beberapa bahan kimia, infeksi, serta imunodefisiensi juga
berpengaruh. Paparan terhadap radiasi meningkatkan angka kejadian LLA karena
menyebabkan adanya gangguan terhadap sel-sel darah yang berada di sumsum
tulang. Peranan infeksi terhadap kejadian LLA masih dalam proses
pengembangan oleh karena adanya tumpang tindih antara usia anak-anak terkena
infeksi dengan insidens puncak dari LLA (Roganovic, 2013).
Anak-anak dengan penyakit imunodefisiensi yang diobati dengan obatobatan
yang bersifat imunosupresif mempunyai resiko tinggi untuk mengalami
keganasan terutama limfoma. LLA bisa saja muncul tetapi jarang. Adanya
perkembangan sel kanker pada pasien immunocompromised berhubungan dengan
infeksi (Roganovic, 2013).

2.6.WOC ALL

2.7.Komplikasi
1. Infeksi
Komplikasi ini yang sering ditemukan dalam terapi kanker masa anak-anak
adalah infeksi berat sebagai akibat sekunder karena neutropenia. Anak
paling rentan terhadap infeksi berat selama tiga fase penyakit berikut:
a. Pada saat diagnosis ditegakkan dan saat relaps (kambuh) ketika proses
leukemia telah menggantikan leukosit normal.
b. Selama terapi imunosupresi
c. Sesudah pelaksanaan terapi antibiotic yang lama sehingga
mempredisposisi pertumbuhan mikroorganisme yang resisten.
Walau demikian , penggunaan faktor yang menstimulasi-koloni
granulosit telah mengurangi insidensi dan durasi infeksi pada anak-anak
yang mendapat terapi kanker. Pertahanan pertama melawan infeksi adalah
pencegahan (Wong, 2009:1141).
2. Perdarahan
Sebelum penggunaan terapi transfuse trombosit, perdarahan merupakan
penyebab kematian yang utama pada pasien leukemia. Kini sebagaian besar
episode perdarahan dapat dicegah atau dikendalikan dengan pemberian
konsentrat trombosit atau plasma kaya trombosit.
Karena infeksi meningkat kecenderungan perdarahan dan karena lokasi
perdarahan lebih mudah terinfeksi, maka tindakan pungsi kulit sedapat
mungkin harus dihindari.Jika harus dilakukan penusukan jari tangan, pungsi
vena dan penyuntikan IM dan aspirasi sumsum tulang, prosedur
pelaksanaannya harus menggunakan teknik aseptic, dan lakukan pemantauan
kontinu untuk mendeteksi perdarahan.
Perawatan mulut yang saksama merupakan tindakan esensial, karena
sering terjadi perdarahan gusi yang menyebabkan mukositis. Anak-anak
dianjurkan untuk menghindari aktivitas yang dapat menimbulkan cedera atau
perdarahan seperti bersepeda atau bermain skateboard, memanjat pohon atau
bermain dengan ayunan.(Wong, 2009:1141-1142)
Umumnya transfuse trombosit hanya dilakukan pada episode perdarahan
aktif yang tidak bereaksi terhadap terapi lokal dan yang terjadi selama terapi
induksi atau relaps. Epistaksis dan perdarahan gusi merupakan kejadian yang
paling sering ditemukan.
3. Anemia
Pada awalnya, anemia dapat menjadi berat akibat penggantian total
sumsum tulang oleh sel-sel leukemia. Selama terapi induksi, transfusi darah
mungkin diperlukan.Tindakan kewaspadaan yang biasa dilakukan dalam
perawatan anak yang menderita anemia harus dilaksanakan. (Wong, 2009)
2.8.Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan darah lengkap (Complete Blood Count) dan Apus Darah Tepi
a. Jumlah leukosit dapat normal, meningkat, atau rendah pada saat
diagnosis.Jumlah leukosit biasanya berbanding langsung dengan jumlah
blas. Jumlah leukosit neutrofil seringkali rendah
b. Hiperleukositosis (> 100.000/mm3) terjadi pada kira-kira 15% pasien dan
dapat melebih 200.000/mm3.
c. Pada umumnya terjadi anemia dan trombositopenia
d. Prporsi sel blast pada hitung leukosit bervariasi dari 0-100%
e. Hitung trombosit kurang dari 25.000/mm3
f. Kadar hemoglobin rendah
2. Aspirasi dan Biopsi sumsum tulang
Apus sumsum tulang tampak hiperselular dengan limpoblast yang
sangat banyak lebih dari 90% sel berinti pada ALL dewasa.Jika sumsum
tulang seluruhnya digantikan oleh sel-sel leukemia, maka aspirasi sumsum
tulang dapat tidak berhasil, sehingga touch imprintdari jaringan biopsy
penting untuk evaluasi gambaran sitologi.
Dari pemeriksaan sumsum tulang akan ditemukan gambaran monoton,
yaitu hanya terdiri dari sel limfopoetik patologis sedangkan sistem lain
terdesak (aplasia sekunder).
3. Pemeriksaan cairan serebrospinal (CSF)
Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien anak asimptomatik untuk
mendeteksi leukemia dengan cara pemeriksaan sitologi CSF yang akan
menunjukkan pleositosis dan adanya sel blas.
4. Sitokimia
Pada ALL, pewarnaan Sudan Black dan mieloperoksidase akan
memberikan hasil yang negative. Mieloperoksidase adalah enzim sitoplasmik
yang ditemukan pada granula primer dari precursor granulositik yang dapat
dideteksi pada sel blast AML.
Sitokimia berguna untuk membedakan precursor B dan B-ALL dari T-
ALL. Pewarnaan fosfatase asam akan positif pada limfosit T yang gans,
sedangkan sel B dapat memberikan hasil yang positif pada
pewarnaan periodic acid Schiff (PAS). TdT yang diekspresikan oleh
limpoblast dapat dideteksi dengan pewarnaan imunoperoksidase atau flow
cytometry
5. Imunofenotif (dengan sitometri arus/ Flow cytometry)
Reagen yang dipakai untuk diagnosis dan identifikasi subtype
imunologi adalah antibody terhadap:
a. Untuk sel precursor B: CD 10 (common ALL antigen),
CD19,CD79A,CD22, cytoplasnic m-heavy chain, dan TdT
b. Untuk sel T: CD1a,CD2,CD3,CD4,CD5 ,CD7,CD8 dan TdT
c. Untuk sel B: kappa atau lambda CD19,CD20, dan CD22
6. Sitogenetik
Analisi sitogenetik sangat berguna karena beberapa kelainan
sitogenetik berhubungan dengan subtype ALL tertentu, dan dapat memberikan
informasi prognostik. Translokasi t(8;14), t(2;8), dan t (8;22) hanya ditemukan
pada ALL sel B, dan kelainan kromosom ini menyebabkan disregulasi dan
ekspresi yang berlebihan dari gen c-myc pada kromosom 8.
7. Biopsi limpa
pemeriksaan ini memeperlihatkan poriferasi sel leukemia dan sel yang
berasal dari jaringan limpa yang terdesak, seperti limposit normal, RES,
granulosit, dan pulp cell.
2.9.Penatalaksanaan ALL
1. Transfusi darah
Biasanya diberikan jika kadar Hb kurang dari 6 g%. pada
trombositopenia yang berat dan perdarahan massif, dapat diberikan transfuse
trombosit dan bila terdapat tanda-tanda DIC dapat diberikan heparin.
2. Kortikosteroid (prednisone,kortison,deksametason)
Setelah dicapai remisi dosis dikurangi sedikit demi sedikit dan akhirnya
dihentikan.
3. Sitostatika
Selain sitostatika yang lama (6-merkatopurin atau 6-mp, metotreksat
atau MTX) pada waktu ini dipakai pula yang baru dan lebih poten seperti
vinkristin (Oncovin), rubidomisin (daunorubycine) dan berbagai nama obat
lainnya. umumnya sitostatiska diberikan dalam kombinasi bersama-sama
dengan prednisone. Pada pemberian obat-obatan ini sering terdapat akibat
samping berupa alopecia, stomatitis, leucopenia, infeksi sekunder atau
kandidiasis.Bila jumlah leukosit kurang dari 2000/ mm3 pemberiannya harus
hati-hati.
4. Infeksi sekunder dihindarkan (lebih baik pasien dirawat dikamar yang suci
hama)
5. Imunoterapi, merupakan cara pengobatan yang terbaru. Setelah tercapai remisi
dan jumlah sel leukemia cukup rendah (105-106), imunoterapi mulai diberikan
(mengenai cara pengobatan yang terbaru, masih dalam pengembangan)
Cara pengobatan berbeda-beda pada setiap klinik bergantung dari
pengalaman, tetapi prinsipnya sama yaitu dengan pola dasar:
a. Induksi
Dimaksudkan untuk mencapai remisi dengan berbagai obat tersebut
sampai sel blas dalam sumsum tulang kurang dari 5%.
b. Konsolidasi
Bertujuan agar sel yang tersisa tidak cepat memperbanyak diri lagi.
c. Rumat
Untuk mempertahankan masa remisi, agar lebih lama.Biasanya dengan
memberikan sitostatika setengah dosis biasa.
d. Reinduksi
Dimaksudkan untuk mencegah relaps. Biasanya dilakukan setiap 3-6
bulan dengan pemebrian obat-obat seperti pada induksi selama 10-14 hari.
e. Mencegah terjadinya leukemia pada susunan saraf pusat. Diberikan MTX
secara intratekal dan radiasi cranial.
f. Pengobatan immunologic
Pola ini dimaksudkan menghilangkan sel leukemia yang ada didalam
tubuh agar pasien dapat sembuh sempurna.Pengobatan seluruhnya
dihentikan setelah 3 tahun remisi terus menerus.Pungsi sumsum tulang
diulang secara rutin setelah induksi pengobatan (setelah 6 minggu).
B. Konsep Tumbuh Kembang Anak
1. Pengertian Tumbuh Kembang
Secara alamiah, setiap individu hidup akan melalui tahap pertumbuhan
dan perkembangan, yaitu sejak embrio sampai akhir hayatnya mengalami
perubahan ke arah peningkatan baik secara ukuran maupun secara
perkembangan. Istilah tumbuh kembang mencakup dua peristiwa yang
sifatnya saling berbeda tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu
pertumbuhan dan perkembangan.
Pertumbuhan adalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran, atau
dimensi tingkat sel organ, maupun individu yang bisa diukur dengan ukuran
berat (gram, pon, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang, dan
keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh) (Adriana,
2013).
Perkembangan (development) adalah bertambahnya skill
(kemampuan) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam
pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan.
Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan
tubuh, organ-organ, dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa
sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga
perkembangan emosi, intelektual, dan tingkah laku sebagai hasil interaksi
dengan lingkungannya (Soetjiningsih, 2012).
Pertumbuhan dan perkembangan secara fisik dapat berupa perubahan
ukuran besar kecilnya fungsi organ mulai dari tingkat sel hingga perubahan
organ tubuh. Pertumbuhan dan perkembangan kognitif anak dapat dilihat dari
kemampuan secara simbolik maupun abstrak, seperti berbicara, bermain,
berhitung, membaca,dan lain-lain.
2. Tahap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak dapat ditentukan oleh
masa atau waktu kehidupan anak. Menurut Hidayat (2008) secara umum
terdiri atas masa prenatal dan masa postnatal.
1. Masa prenatal
Masa prenatal terdiri atas dua fase, yaitu fase embrio dan fase fetus.
Pada masa embrio, pertumbuhan dapat diawali mulai dari konsepsi
hingga 8 minggu pertama yang dapat terjadi perubahan yang cepat dari
ovum menjadi suatu organisme dan terbentuknya manusia. Pada fase
fetus terjadi sejak usia 9 minggu hingga kelahiran, sedangkan minggu ke-
12 sampai ke-40 terjadi peningkatan fungsi organ, yaitu bertambah
ukuran panjang dan berat badan terutama pertumbuhan serta penambahan
jaringan subkutan dan jaringan otot.
2. Masa postnatal
Terdiri atas masa neonatus, masa bayi, masa usia prasekolah, masa
sekolah, dan masa remaja.
a) Masa neonatus
Pertumbuhan dan perkembangan post natal setelah lahir diawali
dengan masa neonatus (0-28 hari). Pada masa ini terjadi kehidupan
yang baru di dalam ekstrauteri, yaitu adanya proses adaptasi semua
sistem organ tubuh.
b) Masa bayi
Masa bayi dibagi menjadi dua tahap perkembangan. Tahap pertama
(antara usia 1-12 bulan): pertumbuhan dan perkembangan pada masa
ini dapat berlangsung secara terus menerus, khususnya dalam
peningkatan sususan saraf. Tahap kedua (usia 1-2 tahun): kecepatan
pertumbuhan pada masa ini mulai menurun dan terdapat percepatan
pada perkembangan motorik.
c) Masa usia prasekolah
Perkembangan pada masa ini dapat berlangsung stabil dan
masih terjadi peningkatan pertumbuhan dan perkembangan, khususnya
pada aktivitas fisik dan kemampuan kognitif. Menurut teori Erikson
(dalam Nursalam, 2005), pada usia prasekolah anak berada pada fase
inisiatif vs rasa bersalah (initiative vs guilty). Pada masa ini, rasa ingin
tahu (courius) dan adanya imajinasi anak berkembang, sehingga anak
banyak bertanya mengenai segala sesuatu di sekelilingnya yang tidak
diketahuinya.
Apabila orang tua mematikan inisiatifnya maka hal tersebut
membuat anak merasa bersalah. Sedangkan menurut teori Sigmund
Freud, anak berada pada fase phalik, dimana anak mulai mengenal
perbedaan jenis kelamin perempuan dan laki-laki. Anak juga akan
mengidentifikasi figur atau perilaku kedua orang tuanya sehingga
kecenderungan untuk meniru tingkah laku orang dewasa disekitarnya.
Pada masa usia prasekolah anak mengalami proses perubahan dalam
pola makan dimana pada umunya anak mengalami kesulitan untuk
makan. Proses eliminasi pada anak sudah menunjukkan proses
kemandirian dan perkembangan kognitif sudah mulai menunjukkan
perkembangan, anak sudah mempersiapkan diri untuk memasuki
sekolah (Hidayat, 2008).
d) Masa sekolah
Perkembangan masa sekolah ini lebih cepat dalam kemampuan
fisik dan kognitif dibandingkan dengan masa usia prasekolah.
e) Masa remaja
Pada tahap perkembangan remaja terjadi perbedaan pada
perempuan dan laki-laki. Pada umumnya wanita 2 tahun lebih cepat
untuk masuk ke dalam tahap remaja/pubertas dibandingkan dengan
anak laki-laki dan perkembangan ini ditunjukkan pada perkembangan
pubertas.
3. Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak menurut
Adriana, 2013 adalah :
1. Faktor internal
Berikut ini adalah faktor-faktor internal yang berpengaruh pada tumbuh
kembang anak, yaitu
a. Ras/etnik atau bangsa
Anak yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika tidak memiliki faktor
herediter ras/bangsa Indonesia atau sebaliknya.
b. Keluarga
Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi,
pendek, gemuk, atau kurus.
c. Umur
Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun
pertama kehidupan, dan pada masa remaja.
d. Jenis kelamin
Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat
daripada laki-laki. Akan tetapi setelah melewati masa pubertas,
pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat.
e. Genetik
Genetik (heredokonstitusional) adalah bawaan anak yaitu potensi anak
yang akan menjadi ciri khasnya. Ada beberapa kelainan genetik yang
berpengaruh pada tumbuh kembang anak, contohnya seperti kerdil.
f. Kelainan kromosom
Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan pertumbuhan
seperti pada sindroma Down’s dan sindroma Turner’s.
2. Faktor eksternal
Berikut ini adalah faktor-faktor eksternal yang berpengaruh pada tumbuh
kembang anak.
1. Faktor prenatal
a. Gizi
Nutrisi ibu hamil terutama pada trimester akhir kehamilan akan
memengaruhi pertumbuhan janin.
b. Mekanis
Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan kongenital
seperti club foot.
c. Toksin/zat kimia
Beberapa obat-obatan seperti Aminopterin atau Thalidomid dapat
menyebabkan kelainan kongenital seperti palatoskisis.
d. Endokrin
Diabetes mellitus dapat menyebabkan makrosomia, kardiomegali,
dan hyperplasia adrenal.
e. Radiasi
Paparan radiasi dan sinar Rontgen dapat mengakibatkan kelainan
pada janin seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi mental, dan
deformitas anggota gerak, kelainan kongenital mata, serta kelainan
jantung.
f. Infeksi
Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TORCH
(Toksoplasma, Rubella, Citomegali virus, Herpes simpleks) dapat
menyebabkan kelainan pada janin seperti katarak, bisu tuli,
mikrosefali, retardasi mental, dan kelainan jantung kongenital.
g. Kelainan imunologi
Eritoblastosis fetalis timbul atas dasar perbedaan golongan darah
antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibody terhadap sel
darah merah janin, kemudian melalui plasenta masuk ke dalam
peredaran darah janin dan akan menyebabkan hemolysis yang
selanjutnya mengakibatkan hiperbilirubinemia dan kerniktus yang
akan menyebabkan kerusakan jaringan otak.
h. Anoksia embrio
Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi plasenta
menyebabkan pertumbuhan terganggu.
i. Psikologi ibu
Kehamilan yang tidak diinginkan serta perlakuan salah atau
kekerasan mental pada ibu hamil dan lain-lain.
2. Faktor persalinan
Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat
menyebabkan kerusakan jaringan otak
3. Faktor pasca persalinan
a) Gizi
Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang
adekuat.
b) Penyakit kronis atau kelainan kongenital
Tuberculosis, anemia, dan kelainan jantung bawaan mengakibatkan
retardasi pertumbuhan jasmani.
c) Lingkungan fisik dan kimia
Lingkungan yang sering disebut melieu adalah tempat anak tersebut
hidup berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak (provider).
Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnya sinar matahari,
paparan sinar radioaktif dan zat kimia tertentu (Pb, Merkuri, rokok,
dan lain-lain) mempunyai dampak yang negatif terhadap
pertumbuhan anak.
d) Psikologis
Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak yang tidak
dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalu merasa
tertekan, akan mengalami hambatan di dalam pertumbuhan dan
perkembangan.
e) Endokrin
Gangguan hormon, misalnya pada penyakit hipotiroid, akan
menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan.
f) Sosioekonomi
Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan serta
kesehatan lingkungan yang jelek dan tidaktahuan, hal tesebut
menghambat pertumbuhan anak.
g) Lingkungan pengasuhan
Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu-anak sangat
memengaruhi tumbuh kembang anak.
h) Stimulasi
Perkembangan memerlukan rangsangan atau stimulasi, khususnya
dalam keluarga, misalnya penyediaan mainan, sosialisasi anak, serta
keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap kegiatan anak.
i) Obat-obatan
Pemakaian kortikosteroid jangka panjang akan menghambat
pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian obat perangsang
terhadap susunan saraf yang menyebabkan terhambatnya produksi
hormon pertumbuhan.
4. Aspek Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2009) menyebutkan
aspek-aspek perkembangan yang dapat dipantau meliputi: gerak kasar, gerak
halus, kemampuan bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian.
1. Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang
melibatkan otot-otot besar, seperti duduk, berdiri, dan sebagainya.
2. Gerak halus atau motorik halus adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian
tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan
koordinasi yang cermat seperti mengamati sesuatu, menjimpit, menulis
dan sebagainya.
3. Kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, berbicara,
berkomunikasi, mengikuti perintah dan sebagainya.
4. Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan mandiri anak (makan sendiri, membereskan mainan selesai
bermain), berpisah dengan ibu/pengasuh anak, bersosialisasi dan
berinteraksi dengan lingkungannya, dan sebagainya.
5. Konsep Anak Usia Sekolah
1. Definisi Anak Usia Sekolah
Anak diartikan sebagai seseorang yang usianya kurang dari delapan
belas tahun dan sedang berada dalam masa tumbuh kembang dengan
kebutuhan khusus, baik kebutuhan fisik, psikologis, sosial dan spiritual.
Sedangkan anak usia sekolah dapat diartikan sebagai anak yang berada dalam
rentang usia 6-12 tahun, dimana anak mulai memiliki lingkungan lain selain
keluarga (Supraptini, 2004).
Anak usia sekolah biasa disebut anak usia pertengahan. Periode usia
tengah merupakan periode usia 6-12 tahun (Santrock, 2008). Periode usia
sekolah dibagi menjadi tiga tahapan umur yaitu tahap awal 6-7 tahun, tahap
pertengahan 7-9 tahun dan pra remaja 10-12 tahun (DeLaune & Ladner, 2002;
Potter & Perry, 2005).
Kemampuan kemandirian anak dalam periode ini di luar lingkungan
rumah terutama di sekolah akan terasa semakin besar. Beberapa masalah
sudah mampu diatasi dengan sendirinya dan anak sudah mampu menunjukkan
penyesuaian diri dengan lingkungan yang ada. Rasa tanggung jawab dan rasa
percaya diri dalam menghadapi tugas sudah mulai terwujud, sehingga ketika
anak mengalami kegagalan sering kali dijumpai reaksi seperti kemarahan dan
kegelisahan (Hidayat, 2005)
Tidak seperti bayi dan anak usia pra-sekolah, anak-anak dalam usia
sekolah dinilai sudah mampu untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai sosial.
Anak usia sekolah menurut Erikson dalam Wong (2009) berada dalam fase
industri. Anak mulai mengarahkan energi untuk meningkatkan pengetahuan
dari kemampuan yang ada (Santrock, 2008). Anak belajar berkompetisi dan
bekerja sama dari aturan yang diberikan. Anak mulai ingin bekerja untuk
menghasilkan sesuatu dengan mengembangkan kreativitas, keterampilan, dan
keterlibatan dalam pekerjaan yang berguna secara sosial (Santrock, 2008;
Wong, 2009). Dalam fase ini, perkembangan anak membutuhkan peningkatan
pemisahan dari orang tua dan kemampuan menemukan penerimaan dalam
kelompok yang sebaya serta berperan dalam merundingkan masalah dan
tantangan yang berasla dari dunia luar (Nursalam, 2005)
2. Tahap Perkembangan Anak Usia Sekolah
Anak usia sekolah memiliki perubahan dari periode sebelumnya.
Harapan dan tuntutan baru dengan adanya lingkungan yang baru dengan
masuk sekolah dasar saat usia 6 atau 7 tahun (Hurlock, 2004). Anak usia
sekolah mengalami beberapa perubahan sampai akhir dari periode masa
kanak-kanak dimana anak mulai matang secara seksual pada usia 12 tahun
(Hurlock, 2004; Santrock, 2008; Wong, 2009).
Dalam tahap perkembangan anak di usia sekolah, anak lebih banyak
mengembangkan kemampuannya dalam interaksi soisal, belajar tentang nilai
moral dan budaya dari keluarga serta mulai mencoba untuk mengambil bagian
peran dalam kelompoknya. Perkembangan yang lebih khusus juga mulai
muncul dalam tahap ini seperti perkembangan konsep diri, keterampilan serta
belajar untuk menghargai lingkungan sekitarnya (Hidayat, 2005)
Terdapat tiga tahapan perkembang an anak usia sekolah menurut
teori tumbuh kembang, yaitu:
a. Perkembangan Kognitif (Piaget)
Dilihat dari sisi kognitif, perkembangan anak usia sekolah berada pada
tahap konkret dengan perkembangan kemampuan anak yang sudah mulai
memandang secara realistis terhadap dunianya dan mempunyai anggapan
yang sama dengan orang lain. Sifat ego sentrik sudah mulai hilang, sebab
anak mulai memiliki pengertian tentang keterbatasan diri sendiri. Anak
usia sekolah mulai dapat mengetahui tujuan rasional tentang kejadian dan
mengelompokkan objek dalam situasi dan tempat yang berbeda.
Pada periode ini, anak mulai mampu mengelompokkan, menghitung,
mengurutkan, dan mengatur bukti-bukti dalam penyelesaian masalah.
Anak menyelesaikan masalah secara nyata dan urut dari apa yang
dirasakan. Sifat pikiran anak usia sekolah berada dalam tahap
reversibilitas, yaitu anak mulai memandang sesutau dari arah sebaliknya
atau dapat disebut anak memiliki dua pandangan terhadap sesuatu.
Perkembangan kognitif anak usia sekolah memperlihatkan anak lebih
bersifat logis dan dapat menyelesaikan masalah secara konkret.
Kemampuan kognitif pada anak terus berkembang sampai remaja
(Hurlock, 2004)
b. Perkembangan Psikoseksual (Freud)
Pada perkembangan ini, anak usia sekolah berada pada fase laten
dimana perkembangannya ditunjukkan melalui kepuasan anak terhadap
diri sendiri yang mulai terintegrasi dan anak sudah masuk pada masa
pubertas. Anak juga mulai berhadapan dengan tuntutan sosial seperti
memulai sebuah hubungan dalam kelompok.
Pada tahap ini anak biasanya membangun kelompok dengan teman
sebaya. Anak usia sekolah mulai tertarik untuk membina hubungan
dengan jenis kelamin yang sama. Anak mulai menggunakan energi untuk
melakukan aktifitas fisik dan intelektual bersama kelompok sosial dan
dengan teman sebayanya, terutama dengan yang berjenis kelamin sama
(Hockenberry & Wilson, 2007; Wong, 2009)
c. Perkembangan Psikososial
Pada perkembangan ini, anak berada dalam tahapan rajin dan akan
selalu berusaha mencapai sesuatu yang diinginkan terutama apabila hal
tersebut bernilai sosial atau bermanfaat bagi kelompoknya. Pada tahap ini
anak akan sangat tertarik dalam menyelasaikan sebuah masalah atau
tantangan dalam kelompoknya. Hal ini disebabkan oleh adanya keinginan
anak untuk mengambil setiap peran yang ada di lingkungan sosial
terutama dalam kelompok sebayanya.
Pada tahap ini, anak menginginkan adanya pencapaian yang nyata.
Keberhasilan anak dalam pencapaian setiap hal yang mereka lakukan
akan meningkatkan rasa kemandirian dan kepercayaan diri anak. Anak-
anak yang tidak dapat memenuhi standar yang ada dapat mengalami rasa
inferiority (Muscari, 2005; Wong, 2009). Anak yang mengalami
inferiority harus diberikan dukungan dalam menjalankan aktivitasnya
(Sarafino, 2006). Pengakuan teman sebaya terhadap keterlibatan anak di
kelompoknya akan memberikan dukungan positif pada anak usia sekolah.
Perkembangan moral anak usia sekolah menurut Kohlberg berada di
tahap konvensional (Muscari, 2005). Perkembangan moral sejalan dengan
cara pikir anak usia sekolah yang lebih logis (Hockenberry & Wilson,
2007). Anak pada usia sekolah dapat lebih memahami standar perilaku
yang seharusnya mereka terapkan pada kehidupan sehari-hari. Anak
dalam tahap konvensional, mulai memahami bagaimana harus
memperlakukan orang lain sesuai dengan apa yang ingin diterima oleh
mereka dari orang lain (Muscari, 2005; Wong, 2009). Anak mulai melihat
berbagai cara pandang untuk menilai suatu tindakan benar atau salah
(Hockenberry & Wilson, 2007).
DAFTAR PUSTAKA

Rendle,John-Short dkk.1994.Ikhtisar Penyakit Anak Ed;VI,Jilid;II.Binarupa Aksara.


Jakarta
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. EGC.Jakarta
Soeparman-Waspadji,Sarwono.1994.Ilmu Penyakit Dalam;Jilid II.Balai Penerbit
FKUI.Jakarta
Gale,Danielle-Charette,Jane.2000.Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi.Penerbit
Buku Kedokteran;EGC.Jakarta
Hoffbrand,A.V dan Pettit,J.E.1987.Kapita Selekta Haematologi Ed;II.Penerbit Buku
Kedokteran;EGC.Jakarta
Wong, Donna L.2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatriks,Vol 2.Penerbit Buku
Kedokteran EGC.Jakarta