Anda di halaman 1dari 9

TATANAN SOSIAL DAN PENGENDALIAN SOSIAL

Kelompok 2 Kelas A

Anggota:
Agata Indah
Ahmad Guntur
Aida Fajriyatin F
Chrisma Orasa K
A. Tatanan Sosial
Kita hidup dalam suatu lingkungan sosial yang bukan apa adanya. Lingkungan sosial tersebut mempunyai
sejumlah prasyarat yang menjadikannya dapat terus berjalan dan bertahan. Prasyarat- prasyarat inilah yang
kita sebut tatanan sosial (sosial order). Konsep tatanan sosial merupakan konsep dasar yang harus dipahami
dengan baik oleh mereka yang mempelajari sosiologi. Karena konsep tatanan sosial ini terkait erat dengan
konsep-konsep dasar lainnya. Apabila Anda memahami dengan baik konsep-konsep dasar ini, maka Anda
akan dapat menganalisis fenomena sosial dengan baik.

Prinsip yang bisa kita ambil adalah adanya pengaturan dan ketertataan dari suatu lingkungan sosial. Atas
dasar pemenuhan kebutuhan, individu-individu membentuk lingkungan sosial tertentu, di mana individu-
individu tersebut saling berinteraksi atas dasar status dan peranan sosialnya yang diatur oleh seperangkat
norma dan nilai. Suatu lingkungan sosial di mana individu-individunya saling berinteraksi atas dasar status
dan peranan sosial yang diatur oleh seperangkat norma dan nilai diistilahkan dengan tatanan sosial (social
order). Demikian juga dengan tatanan sosial. Semua persyaratan, antara lain adanya sejumlah individu,
interaksi, status dan peranan, nilai dan norma serta proses harus terpenuhi sehingga tatanan sosial tersebut
bisa tetap berlangsung dan terpelihara.

B. Struktur Sosial

Struktur sosial secara etimologis berarti susunan masyarakat. Struktur Sosial secara definitif merupakan
skema penempatan nilai-nilai sosial-budaya dan organ-organ masyarakat pada posisi yang dianggap sesuai,
demi berfungsinya organisme masyarakat sebagai suatu keseluruhan, dan demi kepentingan masing-masing
bagian.

Skema dibangun secara objektif, agar dapat mengenal posisi yang diberikan masyarakat kepada nilai-nilai
sosial budaya, dan organ-organ atau komponen sosial yang menjadi milik masyarakat. Nilai-nilai sosial
budaya terdiri dari ajaran agama, ideologi, dan kaidah-kaidah moral serta peraturan sopan santun. Organ
masyarakat merupakan semua komponen yang bersama-sama mewujudkan masyarakat seperti kelompok
sosial maupun lembaga-lembaga sosial.

Struktur sosial merupakan sebuah hubungan timbal balik antara posisi-posisi sosial dan antara peranan-
peranan sosial. Struktur sosial dapat pula dimaknai sebagai sebuah tatanan sosial dalam kehidupan
masyarakat. Dalam struktur sosial lazim dijumpai adanya ketidaksamaan sosial. Ketidaksamaan sosial ini
umumnya dilihat dalam dua aspek, yaitu ketidaksamaan sosial secara horizontal (perbedaan antarindividu
atau kelompok dalam masyarakat yang tidak menunjukkan adanya tingkatan yang lebih tinggi atau lebih
rendah) dan ketidaksamaan sosial secara vertikal (perbedaan antarindividu atau kelompok dalam
masyarakat yang menunjukkan adanya tingkatan lebih rendah atau lebih tinggi).

Para ahli sosiologi merumuskan definisi struktur sosial sebagai berikut:

 George Simmel: Struktur sosial adalah kumpulan individu serta pola perilakunya.
 George C. Homans: Struktur sosial merupakan hal yang memiliki hubungan erat dengan perilaku
sosial dasar dalam kehidupan sehari-hari.
 William Kornblum: Struktur sosial adalah susunan yang dapat terjadi karena adanya pengulangan
pola perilaku individu dan kelompok.
 Soerjono Soekanto: Struktur sosial adalah hubungan timbal balik antara posisi-posisi dan peranan-
peranan sosial.
 Abdul Syani: Struktur sosial sebagai sebuah tatanan sosial dalam kehidupan masyarakat.
 Coleman. Struktur sosial adalah sebuah pola hubungan antarmanusia dan antarkelompok manusia.
 Talcott Parsons. Struktur sosial merujuk pada saling keterkaitan antarinstitusi.

Ralph Linton (1968) menambahkan bahwa struktur sosial terdiri atas dua konsep penting, yaitu status
dan peran.
1. Status atau kedudukan
Status merupakan pencerminan hak dan kewajiban dalam tingkah laku manusia. Cara-cara
memperoleh status atau kedudukan adalah sebagai berikut:
a. Ascribed status. Status yang diberikan kepada individu tanpa memandang kemampuan atau
perbedaan antarindividu yang dibawa sejak lahir.
b. Achieved status. Status yang memerlukan kualitas tertentu yang harus diraih melalui
persaingan dan usaha pribadi.
c. Assigned status. Status yang diperoleh melalui penghargaan atau pemberian dari pihak lain atas
jasa-jasa tertentu.

Dalam kehidupan masyarakat selalu ada benturan-benturan atau pertentangan yang dialami seseorang,
sehubungan dengan status yang dimilikinya. Hal ini disebut konflik status.
a. Konflik status individual. Dirasakan oleh orang yang bersangkutan dalam bathinnya sendiri.
Contohnya seorang perempuan harus memilih antara bekerja atau menjadi ibu rumah tangga.
b. Konflik status antarkelompok. Terjadi antara kelompok yang satu dengan yang lainnya. Contohnya
peraturan yang dikeluarkan oleh suatu instansi sering bertentangan dengan peraturan instansi lain.
c. Konflik status antarindividu. Terjadi antara individu yang satu dengan individu yang lain.
Contohnya seorang istri bertengkar dengan suaminya mengenai pengasuhan anak.

Pada umumnya orang juga menggunakan simbol-simbol tertentu untuk menunjukkan kedudukannya dalam
masyarakat. Simbol tersebut dapat berupa gaya bicara, cara berpakaian, dan penggunaan gelar
kebangsawanan maupun akademis.
2. Peranan
Peranan merupakan aspek yang dinamis dari suatu status atau kedudukan. Jika seseorang
melaksanakan hak-hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya, ia telah menjalankan
peranannya. Peranan adalah tingkah laku yang diharapkan dari orang yang memiliki kedudukan
atau status. Konflik peranan timbul jika orang harus memilih peranan dari dua status atau lebih
yang dimilikinya. Umumnya konflik timbul karena peranan-peranan itu saling bertentangan.
Contohnya konflik peranan seseorang yang berstatus sebagai guru sekaligus ibu.

Ciri-ciri Struktur Sosial

1. Muncul pada kelompok masyarakat


Struktur sosial hanya bisa muncul pada individu-individu yang memiliki status dan peran. Status
dan peranan masing-masing individu hanya bisa terbaca ketika mereka berada dalam suatu sebuah
kelompok atau masyarakat.
Pada setiap sistem sosial terdapat macam-macam status dan peran indvidu. Status yang berbeda-
beda itu merupakan pencerminan hak dan kewajiban yang berbeda pula.
2. Berkaitan erat dengan kebudayaan
Kelompok masyarakat lama kelamaan akan membentuk suatu kebudayaan. Setiap kebudayaan
memiliki struktur sosialnya sendiri. Indonesia mempunyai banyak daerah dengan kebudayaan yang
beraneka ragam. Hal ini menyebabkan beraneka ragam struktur sosial yang tumbuh dan
berkembang di Indonesia.

Hal-hal yang memengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia adalah sbb:

a. Keadaan geografis
Kondisi geografis terdiri dari pulau-pulau yang terpisah. Masyarakatnya kemudian
mengembangkan bahasa, perilaku, dan ikatan-ikatan kebudayaan yang berbeda satu sama lain.
b. Mata pencaharian
Masyarakat Indonesia memiliki mata pencaharian yang beragam, antara lain sebagai petani,
nelayan, ataupun sektor industri.
c. Pembangunan
Pembangunan dapat memengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia. Misalnya pembangunan
yang tidak merata antra daerah dapat menciptakan kelompok masyarakat kaya dan miskin.
3. Dapat berubah dan berkembang
Masyarakat tidak statis karena terdiri dari kumpulan individu. Mereka bisa berubah dan
berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Karenanya, struktur yang dibentuk oleh mereka pun
bisa berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Fungsi Struktur Sosial

1. Fungsi Identitas
Struktur sosial berfungsi sebagai penegas identitas yang dimiliki oleh sebuah kelompok. Kelompok
yang anggotanya memiliki kesamaan dalam latar belakang ras, sosial, dan budaya akan
mengembangkan struktur sosialnya sendiri sebagai pembeda dari kelompok lainnya.
2. Fungsi Kontrol
Dalam kehidupan bermasyarakat, selalu muncul kecenderungan dalam diri individu untuk
melanggar norma, nilai, atau peraturan lain yang berlaku dalam masyarakat. Bila individu tadi
mengingat peranan dan status yang dimilikinya dalam struktur sosial, kemungkinan individu
tersebut akan mengurungkan niatnya melanggar aturan. Pelanggaran aturan akan berpotensi
menibulkan konsekuensi yang pahit.
3. Fungsi Pembelajaran
Individu belajar dari struktur sosial yang ada dalam masyarakatnya. Hal ini dimungkinkan
mengingat masyarakat merupakan salah satu tempat berinteraksi. Banyak hal yang bisa dipelajari
dari sebuah struktur sosial masyarakat, mulai dari sikap, kebiasaan, kepercayaan dan kedisplinan.

C. Institusi Sosial

Elemen yang lain dari struktur sosial adalah institusi sosial. Institusi sosial berkaitan erat dengan upaya
individu untuk memenuhi kebutuhannya, di mana untuk itu individu berusaha membentuk dan
mengembangkan serangkaian hubungan sosial dengan individu lainnya. Serangkaian hubungan sosial
tersebut terlaksana menurut pola-pola tertentu. Pola resmi dari suatu hubungan sosial ini terjadi di dalam
suatu sistem yang disebut dengan sistem institusi sosial.
Judson R. Landis (1986: 255) mendefinisikan institusi sosial sebagai norma-norma, aturan-aturan, dan pola-
pola organisasi yang dikembangkan di sekitar kebutuhan-kebutuhan atau masalah-masalah pokok yang
terkait dengan pengalaman masyarakat. Dari definisi ini maka bisa kita pahami bahwa institusi sosial
merujuk pada upaya masyarakat untuk memenuhi kebutuhan atau untuk mengatasi masalah. Dalam rangka
memenuhi kebutuhan atau mengatasi masalah tersebut, maka kita jumpai banyak sekali institusi sosial
dalam masyarakat. Besar kecilnya sosial yang ada di masyarakat sangat tergantung pada sederhana dan
kompleksnya kebutuhan atau masalah dari masyarakat tersebut. Para sosiolog telah berusaha membuat
penggolongan institusi sosial yang ada di masyarakat atas dasar fungsi dari institusi sosial tersebut.

Durkheim mengemukakan bahwa sosiologi mempelajari institusi. Dalam bahasa Indonesia dijumpai
terjemahann berlainan dari konsep institution. Selo Soemardjan dan Soelaeman, misalnya, menggunakan
istilah “lembaga kemasyarakatan” sebagai terjemahan konsep social institution.

Institusi sosial adalah organisasi norma-norma untuk melaksanakan sesuatu yang dianggap penting,
institusi berkembang berangsur-angsur dari kehidupan sosial manusia. Bila kegiatan penting tertentu
dibakukan, dirutinkan, diharapkan dan disetujui, maka prilaku itu telah melembaga. Peran yang melembaga
adalah peran yang telah dibakukan disetujui dan diharapkan, dan biasanya dipenuhi dengan cara-cara yang
sungguh-sungguh dapat diramalkan, lepas dari siapa orang yang mengisi peran itu. Institusi mencakup
sekumpulan unsur kelembagaan (norma prilaku, sikap, nilai, symbol, ritual dan ideologi) fungsi manifest
(tujuan yang dikehendaki) dan fungsi laten (hasil/akibat yang tidak dikehendaki dan tidak direncanakan).
Lima institusi dasar yang penting dalam masyarakat yang kompleks adalah Institusi keluarga, keagamaan,
perintahan, perekonomian, dan pendidikan

1. Institusi Keluarga

Keluarga merupakan lembaga sosial dasar. Bentuk lembaga ini sangat berbeda, bervariasi. Keluarga yang
berdasarkan pertalian perkawinan atau kehidupan suami istri disebut keluarga kehidupan suami istri
(conjungal fanily), yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak. Namun, dalam banyak masayarakat keluarga
bersifat kerabat, hubungan sedarah, (consanguine), yaitu kelompok keluarga hubungan sedarah yang jauh
lebih besar dengan suatu lingkaran pasangan.

Suatu keluarga mungkin merupakan : Suatu kelompok yang mempunyai nenek moyang yang sama; Suatu
kelompok kekerabatan yang disatukan oleh darah atau perkawinan; Pasangan perkawinan dengan atau
tanpa anak ; Pasangan tanpa nikah yang mempunyai anak; Satu orang dengan beberapa anak.

Perkawinan adalah suatu pola social yang disetujui, dengan dua orang atau lebih membentuk keluarga
perkawinan neo local yakni pasangan suami istri membangun rumah tangganya sendiri; perkawinan patri
local, dimana pasangan nikah tinggal bersama keluarga suami; dan dari perkawinan matri local dimana
pasangan suami istri tinggal bersama keluarga istri.
Semua masyarakat mempraktekan endogamy yakni kawin dengan orang dari dalam kelompoknya sendiri,
dan juga eksogami, yakni kawin dengan orang dari luar kelompok sendiri. Meskipun kebanyakan
perkawinan bersifat mono gami yaitu satu pria dengan satu wanita, banyak masyarkat mengijinkan poligami
yang memperbolehkan seorang pria kawin lebih dari satu wanita ada tiga bentuk poligami. Bentuk yang
pertama adalah perkawinan kelompok yakni perkawinan beberapa pria dan beberapa wanita bentuk yang
sangat jarang ditemukan adalah poliandri dimana satu istri memiliki banyak suami; sedangkan bentuk
poligami yang umum adalah poligini, yakni seorang suami mempunyai lebih dari satu istri pada saat yang
sama.

2. Institusi Agama

Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama (bahasa Inggris:
Religion, yang berasar dari bahasa Latin religare, yang berarti “menambatkan”), adalah sebuah unsur
kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia. Dictionary of Philosophy and Religion (Kamus
Filosofi dan Agama) mendefinisikan Agama sebagai berikut:
… sebuah institusi dengan keanggotaan yang diakui dan biasa berkumpul bersama untuk beribadah, dan
menerima sebuah paket doktrin yang menawarkan hal yang terkait dengan sikap yang harus diambil oleh
individu untuk mendapatkan kebahagiaan sejati.

Agama biasanya memiliki suatu prinsip, seperti “10 Firman” dalam agama Kristen atau “5 rukun Islam”
dalam agama Islam. Kadang-kadang agama dilibatkan dalam sistem pemerintahan, seperti misalnya dalam
sistem teokrasi. Agama juga mempengaruhi kesenian.
Semua agama besar menekankan kebajikan seperti kejujuran dan cinta sesama. Kebajikan ini sangat penting
bagi keteraturan prilaku masyarakat manusia, dan agama membantu manusia untuk memandang serius
kebajikan seperti itu.

Institusi agama merupakan system keyakinan dan praktek keagamaan yang penting dari masyarakat yang
telah dibakukan dan dirumuskan serta yang dianut secara luas dan dipandang perlu dan benar. Agama
berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya lebih dari prilaku moral. Agama menawarkan suatu pandangan
dunia dan jawaban atas berbagai persoalan yang membingungkan manusia. Agama mendororng manusia
untuk tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri melaikan memikirkan kepentingan sesama.

3. Institusi pendidikan
Lembaga pendidikan dikembangkan sebagai suatu upaya sistematis untuk mengajarkan apa yang tidak bisa
dipelajari secara mudah dalam lingkungan keluarga. Lembaga pendidikan primer adalah sekolah formal,
yang bermula dari jenjang sekolah kanak-kanak hingga jenjang perguruan tinggi. Pendidikan formal
mencangkup berbagi jenis sekolah seperti: sekolah korepondensi, sekolah bagi para siswa sambilan (part
time) dan siswa yang bertempat tinggal jauh; sekolah kejuruan yang menawarkan beraneka ragam latihan
dan keterampilan khusus; ditambah dengan latihan pendidikan magang; serta program pendidikan industry
yang diselenggarakan oleh banyak perusahaan besar dengan tujuan untuk melatih para karyawan mereka
sendiri. Disamping itu berbagai bentuk pendidikan informal berlangsung, baik dalam kondisi yang
menyenangkan maupun yang buruk, dirumah, dijalanan, dan melalui media massa_terutama televisi.

Institusi pendidikan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lembaga-lembaga lainnya, oleh karena itu
institusi pendidikan selalu berjuang untuk memperoleh otonomi dari lembaga-lembaga tersebut. Alat untuk
melindungi otonomi pendidikan meliputi kebebasan akademik dan jabatan akademik. Kebebasan akademik
mengandung pengertian ;(1)sekolah harus dikelola oleh para pendidik dengan campur tangan pihak luar
yang terbatas, dan (2) para sarjana dan guru besar diperkenankan melakukan penelitian, mempublikasikan
dan mengajar tanpa harus kawatir terhadap penekanan, meskipun penelitian atau apa yang mereka ajarkan
terbukti tidak disenangi orang. Jabatan tetap akademik melindungi tenaga pengajar dari pemberhentian
mendadak yang disebabkan baik oleh pandangan tenaga pengajar meupun hanya adanya sikap-sikap pilih
kasih kepala sekolah atau pengawas sekolah.
4. Institusi Politik Ekonomi

Institusi-institusi politik ekonomi adalah sarana yang distandirasi untuk memlihara ketertiban dalam proses
produksi dan distribusi barang dan jasa. Institusi-institusi politik-ekonomi memiliki tiga pola yakni:
a. System ekonomi campuran, dimana keuntungan dan pemilikan swasta digabungkan dengan beberapa
unsur sosialisme dan paham negara kesejahteraan
b. System komunisme, yang mencangkup pengertian bahwa pencarian keuntungan swasta tidak
diperkenankan dan perusahaan penting dikelola oleh negara
c. System fasisme, yang berarti bahwa perusahaan swasta diperkenakan berjalan dibawah pengendalian
negara secara otoriter
System ekonomi campuran, yang paling banyak berkembang didunia dewasa ini sedang berjuang
menghadapi resesi, inflasi, dan konflik yang menyangkut masalah sejauh mana batas fungsi Negara dalam
mensejahterakan rakyatnya.
Fungsi nyata dari Institusi-institusi politik-ekonomi adalah untuk memelihara ketertiban, menciptakan
konsensus, dan meningkatkan produksi semaksimal mungkin. Tidak ada satupun masyarakat yang telah
berhasil memenuhi segenap fungsi tersebut. Fungsi laten dari Institusi -institusi politik ekonomi banyak
jumlahnya, antara lain adalah merusak kebudayaan tradisional dan mempercepat pengrusakan lingkungan
hidup.

D. Pengendalian Sosial

Pengendalian sosial adalah suatu mekanisme untuk mencegah penyimpangan sosial serta mengajak dan
mengarahkan masyarakat untuk berperilaku dan bersikap sesuai norma dan nilai yang berlaku. Dengan
adanya pengendalian sosial yang baik diharapkan mampu meluruskan anggota masyarakat yang berperilaku
menyimpang / membangkang.

Berikut ini adalah cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan sosial masyarakat :
1. Pengendalian Lisan (Pengendalian Sosial Persuasif)
Pengendalian lisan diberikan dengan menggunakan bahasa lisan guna mengajak anggota kelompok
sosial untuk mengikuti peraturan yang berlaku.
2. Pengendalian Simbolik (Pengendalian Sosial Persuasif)
Pengendalian simbolik merupakan pengendalian yang dilakukan dengan melalui gambar, tulisan,
iklan, dan lain-lain. Contoh : Spanduk, poster, Rambu Lalu Lintas, dll.
3. Pengendalian Kekerasan (Pengendalian Koersif)
Pengendalian melalui cara-cara kekerasan adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk membuat si
pelanggar jera dan membuatnya tidak berani melakukan kesalahan yang sama. Contoh seperti main
hakim sendiri.