Anda di halaman 1dari 5

http://chemceria.blogspot.com/2012/09/praktek-reaksi-redoks-antara-cu-dengan_24.

html DIAKSES,
SABTU, 7 September 2018

LAPORAN RESMI

PERCOBAAN SEL ELEKTROKIMIA

(ELECTROPLATING)

Disusun Oleh :

Novita Chandra Sari / Kimia Industri / 12500 / 18

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 2 DEPOK SLEMAN YOGYAKARTA

(STM PEMBANGUNAN YOGYAKARTA)

2011/2012

I. TUJUAN :

1. Siswa dapat menuliskan reaksi redoks yang terjadi antara logam Cu dan Ag

2. Siswa dapat menghitung endapan yang dihasilkan dari reaksi redoks

II. DASAR TEORI

Elektroplating (penyepuhan) merupakan proses elektrolisis yang dapat digunakan untuk melapisi
logam dengan logam lainnya. Elektroplating dimanfaatkan untuk melindungi logam dari korosi dan
memperbaiki penampilan benda. Biasanya benda yang disepuh terbuat dari logam yang murah seperti
besi lalu disepuh dengan logam yang mahal seperti emas dan perak. Harga produk akhir menjadi jauh
lebih mahal jika logam tersebut disepuh. Contoh jam tangan yang dilapisi dengan emas atau sendok
yang dilapisi dengan perak melalui proses elektroplating.
Proses elektroplating perak dapat dilihat di atas, sendok dari besi yang akan dilapisi dengan perak
diletakkan sebagai katode, sedangkan sepotong logam perak murni sebagai anode. Reaksi yang terjadi
sebagai berikut.

Katoda : Ag+(aq) + e– àAg(s)

Anoda : Ag(s) àAg+(aq) + e–

Reaksi sel : Ag (Anode) àAg (Katode)

Pada industri skala besar electroplating digunakan untuk proses pemurnian logam tembaga. Tembaga
dengan kemurnian tinggi sangat diperlukan terutama jika digunakan sebagai penghantar listrik (kabel),
karena pengotor dapat mengurangi konduktivitas listrik tembaga. Tembaga kotor sebagai anode,
sedangkan lembar tipis tembaga murni sebagai katode. Proses secara keseluruhan merupakan transfer
atom tembaga dari anode ke katode.

Katoda : Cu2+(aq) + 2e–àCu(s) murni

Anoda : Cu(s) kotor àCu2+(aq) +2e–

Cu(s) kotor àCu(s) murni

Tembaga teroksidasi lebih cepat daripada perak dan emas. Logam tersebut biasanya merupakan
pengotor tembaga yang mengumpul di bawah anode pada sel elektrolisis. Kumpulan logam berharga
tersebut disebut lumpur-anode yang biasanya cukup untuk membayar biaya pemurnian (electrorefining)
tembaga.

III. ALAT-ALAT

1. Beker gelas 4 buah

2. Pemanas Spiritus 2 buah

3. Kaki tiga dan Kassa 2 buah

4. Gelas Arloji 2 buah

5. Pipet tetes 2 buah

6. Penjepit tabung 1 buah

7. Neraca analitik 1 buah

IV. BAHAN-BAHAN

1. Larutan AgNO3 0,1 M

2. Larutan AgNO3 0,2 M

3. Logam Tembaga (Cu)


4. Aquadest

V. LANGKAH KERJA

1. Membersihkan semua peralatan yang akan digunakan dan menggunakan perlengkapan


keselamatan kerja selama praktikum.

2. Menyiapkan 2 potong kawat tembaga sepanjang 10 cm lalu membersihkannya dengan amplas.

3. Menimbang 2 potong kawat tembaga tersebut dan mencatat beratnya.

4. Mengambil larutan AgNO3 0,1 M sebanyak 50 ml lalu memasukkanya dalam beker gelas 100 ml,
memanaskan selama 5 menit, memasukkan 1 potong kawat tembaga dalam larutan tersebut
dan memanaskan lagi selama 5 menit.

5. Melakukan langkah nomor 4 menggunakan larutan AgNO3 0,2 M.

6. Mendinginkan larutan AgNO3 dan menimbang kawat tembaga dengan neraca analitik dan
menghitung selisih beratnya.

VI. TABEL PENGAMATAN

AgNO3
Massa a Massa b
Perlakuan
(g) Konsentrasi (M) Volume (mL) (g)

I 1,3296 0,1 50 2,8491

II 1,3630 0,2 50 3,9567

Keterangan :

· massa a : massa kawat tembaga sebelum proses

· massa b : massa kawat tembaga setelah proses

VII. PERSAMAAN REAKSI

AgNO3 → Ag2+ + NO32-

Cu → Cu + e

Ag2+ + 2e → Ag

VIII. PERHITUNGAN
· Perlakuan I :

- Berat perak = Berat kawat tembaga setelah – berat kawat tembaga sebelum

= 2,8491 gram – 1,3296 gram

= 1,5195 gram

- Kadar = 2,8491 gram – 1,3296 gram x 100 %

1,3296 gram

= 1,142824909747292 X 100%

= 114,2824909747292 %

· Perlakuan II

- Berat perak = Berat kawat tembaga setelah – berat kawat tembaga sebelum

= 3,9567 gram - 1,3630 gram

= 2,5937 gram

- Kadar = 3,9567 gram - 1,3630 gram X 100%

1,3630 gram

= 1,902934702861335 X 100%

= 190,2934702861335 %

X. PEMBAHASAN

Dari praktek percobaan sel eloktrokimia Galvani-Volta, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan,
yaitu diantaranya :

a. Sebelum melakukan percobaan, kawat Cu harus dibersihkan menggunakan amplas terlebih dahulu
bertujuan untuk menghilangkan oksidator pada logam agar penyepuhan dapat berjalan sempurna.

b. Pada saat menimbang kawat tembaga setelah penyepuhan, sebaiknya kawat dalam keadaan
kering, karena hasil penimbangan berpengaruh terhadap kadar perak yang dihasilkan. Oleh karena itu
sebelum melakukan penimbangan kawat tembaga harus dikeringkan terledih dahulu dengan cara
mengoven kawat tembaga tersebut.
c. Sebelum melakukan proses penyepuhan kawat harus diikat menggunakan tali, agar kawat mudah
diambil setelah proses. Pada saat mengambil kawat tembaga setelah penyepuhan harus hati hati, agar
perak yang menempel pada kawat tembaga tidak rontok.

XI. KESIMPULAN

Dari praktek diatas dapat disimpulkan bahwa :

1. Berat perak hasil penyepuhan pada perlakuan pertama (menggunakan AgNO3 0,1 M) yaitu 1,5195
gram dengan kadar 114,2824909747292 %. Sedangkan berat perak hasil penyepuhan pada perlakuan
kedua (menggunakan AgNO30,2 M) yaitu 2,5937 gram dengan kadar 190,2934702861335 %.

2. Jadi semakin tinggi kadar AgNO3 maka semakin tinggi berat perak yang diperoleh.

Yogyakarta, 23 Maret 2012

Pembimbing Praktikan

( Cahyono Agus, S.Pd ) ( Dra. Endang P) ( Novita Chandra Sari )