Anda di halaman 1dari 353

PROSIDING PERTEMUAN ILMIAH TAHUNAN 2017

PERHIMPUNAN DOKTER FORENSIK INDONESIA

Tim Editor:
Dedi Afandi
Agus Purwadianto
Budi Sampurna
Herkutanto
Ade Firmansyah Sugiharto
Ahmad Yudianto
Rika Susanti
Yoni Fuadah Syukriyani
Beta Ahlam Gizela
Mohammad Tegar Indrayana
Sigid Kirana Lintang Bhima
Syarifah Hidayah Fatriah

Fakultas Kedokteran Universitas Riau


PROSIDING PERTEMUAN ILMIAH TAHUNAN 2017
PERHIMPUNAN DOKTER FORENSIK INDONESIA

ISBN 978-602-50127-0-9

Tim Editor:
Dedi Afandi
Agus Purwadianto
Budi Sampurna
Herkutanto
Ade Firmansyah Sugiharto
Ahmad Yulianto
Rika Susanti
Yoni Fuadah Syukriyani
Beta Ahlam Gizela
Mohammad Tegar Indrayana
Sigid Kirana Lintang Bhima
Syarifah Hidayah Fatriah

Desain Sampul dan Tata Letak


Ihsan Putra
Septy Dwi Indriani

Penerbit:
Fakultas Kedokteran Universitas Riau

Redaksi:
Fakultas Kedokteran Universitas Riau
Jl. Diponegoro 1, Pekanbaru, Riau (28133)
Telp: (0761) 839264
Fax: (0761) 839265
Email: penerbit.fkur@gmail.com

Cetakan pertama, Juli 2017

Hak cipta dilindungi Undang-undang


Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan cara apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit.
SEKAPUR SIRIH

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Shalom, Om swastiatu, Namo Budhaya, Salam


Sejawat

Atas nama Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) dan Panitia
Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) tahun 2017,
kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan pertisipasi rekan - rekan sejawat untuk dapat
hadir pada tanggal 15 - 16 Juli 2017 bertempat di Hotel Pangeran kota Pekanbaru Provinsi Riau.

PIT PDFI kali ini mengangkat tema yang sangat menarik yaitu “Meningkatkan Peran
Kerjasama Lintas Sektoral dalam Penanganan Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak”.
Pengambilan tema ini dilator-belakangi adanya kerjasama Pengurus Pusat PDFI dan
Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Kerjasama ini adalah
salah satu bentuk dukungan negara terhadap profesi kedokteran forensik di Indonesia. Adanya
kerjasama ini diharapkan hak-hak perempuan dan anak di Indonesia terjamin dengan baik.
Rangkaian acara yang akan diadakan berupa sesi ilmiah yang mencakup Simposium Nasional,
Workshop Nasional, serta presentasi ilmiah baik presentasi oral maupun poster. Pada
kesempatan kali ini juga akan diadakan rapat tahunan PDFI dan tentu jamuan serta kunjungan
wisata khas Pekanbaru - Riau.

Terima kasih
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kalau berkunjung ke kampung halaman


Janganlah pulang terburu-buru
Kalau tuan dan puan berkesempatan
Mari berkumpul di Pekanbaru

Pekanbaru, Juli 2017

Ketua Pengurus Pusat PDFI Ketua Panitia

Dr. dr. Ade Firmansyah Sugiharto, SpF dr. M. Tegar Indrayana, SpF

ii
SUSUNAN KEPANITIAAN
Surat Keputusan Pengurus Pusat PDFI Nomor: 003/PP.PDFI/II/2017 tanggal 17 Februari 2017

Pelindung : Gubernur Riau


Rektor Universitas Riau
Kapolda Riau
Ketua PP Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia
Ketua IDI Wilayah Riau
Penasehat : Dekan FK Universitas Riau
Kabiddokkes RS Bhayangkara Pekanbaru
Karumkit Bhayangkara Pekanbaru Polda Riau
Steering Committee / Scientific : Dr. dr. Dedi Afandi, DFM, SpF, Universitas Riau
Committee Prof.Dr.dr. Agus Purwadianto, SpF, SH, MSi, DFM, Universitas Indonesia
Prof. dr. Budi Sampurna, SpF, SH, SpKP, DFM, Universitas Indonesia
Prof. Dr. dr. Herkutanto, SpF, SH, LLM, Universitas Indonesia
Dr. dr. Ade Firmansyah Sugiharto, SpF, Universitas Indonesia
Dr. dr. Ahmad Yudianto, SpF, M.Kes, SH, Universitas Airlangga
Dr. dr. Rika Susanti, SpF, Universitas Andalas
Dr. dr. Yoni Fuadah Syukriyani, SpF, Msi, DFM, Universitas Padjadjaran
dr. Beta Ahlam Gizela, SpF, Universitas Gadjah Mada
dr. Mohammad Tegar Indrayana, SpF, Universitas Riau
dr. Sigid Kirana Lintang Bhima, SpKF, Universitas Diponegoro
dr. Syarifah Hidayah Fatriah, SpF, Universitas Riau
Panitia Pelaksana
Ketua : dr. Mohammad Tegar Indrayana, SpF
Sekretaris : dr. Syarifah Hidayah Fatriah, SpF
Wakil Sekretaris : dr. Ica Annajmi
Bendahara : dr. Chunin Widyaningsih
Seksi Kesekretariatan : dr. Yeni Octavia, Sp.Rad dr. Ihsan Putra
dr. Alven Edra Gerry Pratama, S. Ked
Seksi Acara : AKBP dr. Khodijah, MM dr. Ade Milda
dr. Evaline, M.Kes dr. Citra Manela SpF
dr. Fadilla Rizki Putri dr. Prisa Kusparwati, SpF
Seksi Ilmiah : Dr. dr. Rika Susanti, SpF dr. Taufik Hidayat, SpF
Dr. dr. Dedi Afandi, DFM, SpF Nurul Hidayati Syam
dr. Septy Dwi Indriani
Seksi Publikasi & Dokumentasi : dr. M. Hadrian Priatna Yugfira Ananta
Yogie
Seksi Transportasi & Akomodasi : Kompol Supriyanto dr. Trigen Rahmat Yulis
dr. Leonardo, SpF dr. Handra
Ady Satria A, S. Ked
Seksi Konsumsi : dr. Citra Ayu Anggreli

iii
JADWAL ACARA

PERTEMUAN ILMIAH TAHUNAN 2017

“Meningkatkan Peran Kerjasama Lintas Sektoral dalam Penanganan Kasus


Kekerasan Perempuan dan Anak”

Saturday, July 15th 2017


Time Pertemuan Ilmiah Tahunan Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia 2017
Registration
07.00 – 08.00
Balairung – 1st Floor

08.00 – 12.30
Rapat Organisasi PDFI
Balairung – 1st Floor

Poster Presentation PIT PDFI 2017


11.00 – 12.30
Free Room beside Balairung – 1st Floor

PEMBUKAAN
13.30 – 14.30
Grand Ballroom – 1st floor

Keynote Speaker
“NATIONAL STRATEGY ELIMINATION : ELIMINATION OF VIOLENCE AGAINST CHILDREN”
14.30 – 15.00
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak*
Grand Ballroom, 1st Floor

15.00 – 16.20
Oral Presentation PIT PDFI 2017
Bertuah Room (I, II, III) – 2nd floor
Oral Presentation A Oral Presentation B Oral Presentation C
15.00 – 16.20 Bertuah Room I Bertuah Room II Bertuah Room III
Chairman : dr. Sigid Kirana Lintang Chairman : dr. Oktavinda Safitry, SpF, Chairman : Dr. dr. Ahmad Yudianto,
Bhima, SpKF M.Pd.Ked SpF., MKes., SH
PLENARY LECTURE: What to do if you are sued ?
16.30 – 18.05 Moderator: Dr.dr. Dedi Afandi, DFM, SpF
Grand Ballroom, 1st Floor
Avoiding Legal Sue by Maintaining Competency
16.30 – 16.50
dr. Gatot Suharto, SpF, SH, M.Kes, DFM – Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
Basic Tort and Clinical Negligence Issues
16.50 – 17.10
Prof. Dr. dr. Herkutanto SpF (K), SH., LLM.,DFM – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Preparation and Proving Your Case in Court
17.10 – 17.30
Prof. dr. Budi Sampurna SpF(K). SH, SpKP, DFM - Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Role of Clinical Advisory Board in JKN-KIS Era
17.30 – 17.50
Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, SpF(K), SH, MSi, DFM - Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
18.00 – 18.05 Discussion
18.05 Closing
Dinner + Pelantikan Pengurus Cabang + Durian’s Party
19.00 – 22.00
Pool Side Hotel Pangeran

iv
SIMPOSIUM NASIONAL

“Forensic Medicine Update: from Medico-legal to Clinical Practice”

SABTU, 15 JULI 2017


JAM SIMPOSIUM
07.00 – 07.30 REGISTRASI SIMPOSIUM
07.30 – 09.30 SIMPOSIUM I : Clinical Forensic Medicine in Daily Practice
Moderator : AKBP dr. Khodijah, MM
07.30 – 08.00 Visum et Repertum: Aspek medikolegal dan penentuan derajat luka
Dr. dr. Dedi Afandi, DFM, SpF - Fakultas Kedokteran Universitas Riau
08.00 – 08.30 Alur penanganan kasus korban hidup di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer
Dr. dr. Rika Susanti, SpF - Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
08.30 – 09.00 Pembuatan visum et Repertum Korban Hidup
dr. Syarifah Hidayah Fatriah, SpF - Fakultas Kedokteran Universitas Riau
09.00 – 09.20 Diskusi
09.20 – 09.30 Coffee break
09.30 – 11.20 SIMPOSIUM II : Forensic Pathology in Primary Health Care
Moderator : dr. Syarifah Hidayah Fatriah, SpF
09.30 – 10.00 Teknik Pemeriksaan Luar pada jenazah di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer
dr. Citra Manela, SpF - Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
10.00 – 10.30 Identifikasi Jenazah dan Kerangka
dr. Taufik Hidayat, SpF - Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
10.30 – 11.00 Pembuatan visum et Repertum Korban Mati
dr. M. Tegar Indrayana, SpF - Fakultas Kedokteran Universitas Riau
11.00 – 11.20 Diskusi
11.20 – 13.00 SIMPOSIUM III : Child Abuse and Sexual Assault
Moderator : Dr.dr. Rika Susanti, SpF
11.20 – 11.10 Kekerasan terhadap Perempuan dan Aspek Medikolegal
dr. Lipur Riyantiningtyas Budi Setyawati, SH, SpF – Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada
11.10 – 11.40 Kekerasan Pada Anak dan Aspek Medikolegal
dr. Eriko Prawestiningtyas, SpF – Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
11.40 – 12.10 Teknik Pemeriksaan Kasus Kekerasan Seksual
dr. Oktavinda Safitry, SpF, MPd.Ked – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
12.10 – 12.40 Pembuatan Visum et Repertum pada Kasus Kekerasan Seksual dan Anak
dr. Andriani, SpF - RSUP Fatmawati
12.40 – 13.00 Diskusi
13.00 – 13.20 ISHOMA
13.20 – 13.40 PEMBUKAAN
13.40 – 14.10 Keynote Speaker
“NATIONAL STRATEGY ELIMINATION: ELIMINATION OF VIOLENCE AGAINST CHILDREN”
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak *
14.10 – 16.30 SIMPOSIUM IV: Role of Doctor in Criminal Justice System
Moderator : dr. M. Tegar Indrayana, SpF
14.10 – 14.40 Pengambilan sampel pada kasus dugaan tindak pidana di layanan primer
Dr. dr. Yoni Fuadah Syukriani, M.Si, DFM, SpF – Fakultas Kedokteran UNPAD
14.40 – 15.10 Dokter sebagai Saksi Ahli di Pengadilan
KOMPOL dr. Dhiwangkoro Aji Kadarmo, SpF, DFM – BIDDOKKES POLDA DIY
15.10 – 15.40 Entrepreneunship dalam Pengelolaan Departemen Kedokteran Forensik dan Medikolegal : Lesson Learn
From Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo
Dr. dr. Yuli Budiningsih, SpF - Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

15.40 – 16.10 Penanganan Kasus Kekerasan pada Anak : Lesson Learn Kasus Kematian Siswa SMA Taruna Nusantara
AKBP Dr. dr. Summy Hastri Purwanti, SpF, DFM – BIDDOKKES POLDA NTB
16.10 – 16.30 Diskusi

v
WORKSHOP NASIONAL

Sunday, July 16th 2017


Registration
07.00 – 08.00
Grand Ballroom – 1st Floor
WORKSHOP A
08.00 – 11.00
Litigation or Non-Litigation ?
Document as Evidence: discovery, proving, and entering
08.00 – 08.20
Prof. dr. Budi Sampurna SpF(K). SH, SpKP, DFM - Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Medicolegal Analysis: Tools and Health Claim Statement Post analysis
08.20 – 08.40
Prof. Dr. dr. Herkutanto SpF (K), SH., LLM., DFM - Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Patients' Access to Remedies
08.40 – 09.00
Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, SpF(K), SH, MSi, DFM - Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Practice: Record Medicolegal Case Form (Tata cara pengisian Rekam Kasus Medikolegal)
09.00 – 10.30 Facilitators: Dr. dr. Dedi Afandi, DFM, SpF, Dr. dr. Rika Susanti, SpF , dr. Kirana Sampurna, SpM., M.H.Kes,
dr. Putri Dianita Ika Melia, SpF, MCRM
10.30 – 11.00 Feed Back and Discussion
WORKSHOP B
11.00 – 14.00
USAGE RAPE KIT
Panduan Praktik Klinik Kekerasan Seksual
11.00 – 11.20
Dr. dr. Ade Firmansyah Sugiharto, SpF – FKUI
Alur Penanganan Kasus Kekerasan Seksual
11.20 – 11.40
dr. Dudut Sustyadi, SpF – FK UDAYANA
Sosialisasi Rape Kit
11.40 – 12.00
DR. dr. Erwin G. Kristanto, SpF, SH – FK Universitas Sam Ratulangi
Practice: Usage Rape Kit
12.00 – 13.30
Facilitators: DR. dr. Erwin G. Kristanto, SpF, SH, dr. Ade Firmansyah Sugiharto, SpF, dr. Dudut Sustyadi, SpF
13.30 – 14.00 Feed Back and Discussion
14.00 Closing and Lunch

vi
DAFTAR ISI

SEKAPUR SIRIH ii
SUSUNAN KEPANITIAAN iii
JADWAL ACARA iv
DAFTAR ISI vii
1. Keynote Speech 1
Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

2. Kekerasan Seksual Dan Perdagangan Terhadap Anak 8


Abdullah Arief Syahputra, Rika Susanti

3. Perbandingan Penyebab Kematian Medis (Medical Cause of Death) Berdasarkan 14


Standar ICD 10 di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2017
Aberta Karolina, Noverika Windasari, Chevi Sayusman

4. Kekerasan Tumpul yang Menyebabkan Patah Tulang Tengkorak 20


Agung Hadi Pramono, Gatot Suharto

5. Peran dan Tugas Mediko-Etikolegal Dewan Pertimbangan Klinis 26


Agus Purwadianto

6. Clinical Pathological Findings in Multiple Death Due to Dissolved Alcohol Toxicity 31


Andrew Ren Salendu, Putri Dianita Ika Meilia

7. Peran Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Dalam Membantu Menegakkan 36


Hukum
Aryo Valianto, Noorman Herryadi

8. Studi Evaluasi Pelaksanaan Informed Consent Pada Tindakan Invasif Berisiko 40


Tinggi di RSUP. Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
Beta Ahlam Gizela

9. Kelengkapan Administrasi Staf Medis Kedokteran Forensik Rsup Dr. Kariadi 50


Semarang Dalam Menghadapi Akreditasi Rumah Sakit
Bianti H. Machroes, Arif R. Sadad, RP. Uva Utomo

10. Penyiapan dan Pembuktian Kasus di Pengadilan 55


Budi Sampurna

11. Alat Bukti Sah Surat: Penemuan, Pembuktian, dan Keterterimaan 62


Budi Sampurna

12. Laporan Kasus Otopsi Jenazah pada Pasien Schizophrenia yang Dianiaya Oleh 68
Penghuni Panti Rehabilitasi
C. Andryani, Noverikawindasari, Fitri Agustina Huspa

13. Luka Bacok Atau Luka Iris pada Jari Tangan Kanan 72
Chotimah Zainab, Ratna Relawati

14. Efek Penambahan Natrium Florida Pada Penyimpanan Sampel Darah Yang 77
Mengandung Heroin dan Morfin
Citra Manela, Wibisana Widya Atmaka, Ade Firmansyah Sugiharto

15. Hubungan Antara Panjang Ulna Dengan Jenis Kelamin dan Tinggi Badan 83
Dadan Rusmanjaya, RP Uva Utomo

16. Penentuan Umur Berdasarkan Pemeriksaan Radiologi (Laporan Kasus) 88


Dedi Afandi

17. Karakteristik Demografi Kasus Pembunuhan yang Diperiksa di Departemen 91


Forensik dan Medikolegal RSUPN Cipto Mangunkusumo Tahun 2014-2016
Denys Putra Alim, Yuli Budiningsih

vii
18. Kematian Akibat Kekerasan Tumpul Kepala pada Korban yang Ditemukan di Dalam 98
Sumur
Dewanto Yusuf Priyambodo, I.B.G. Surya Putra Pidada

19. Pekerja Proyek Bangunan Dengan Trauma Tembus Dada 102


Dwi Fitrianti Arieza Putri, Ahmad Yudianto

20. Kekerasan Tajam pada Abdomen yang Mengakibatkan Kematian 107


Dwi Fitrianti Arieza Putri, Soekry Erfan Kusuma

21. Kekerasan pada Anak dan Aspek Medikolegal 112


Eriko Prawestiningtyas

22. Hubungan Keberadaan Visum Et Repertum dengan Putusan Hakim pada Tindak 118
Pidana Penganiayaan
Gregorius Yoga Panji Asmara, Andy Yok Siswosaputro

23. Kualitas Visum Et Repertum (VeR) Kasus Delik Susila Dokter Umum di RS Abdoel 122
Moeloek Bandar Lampung
Handayani Dwi Utami, Rodiani

24. Luka Sedang Akibat Patah Tulang Rongga Mata 131


Hendrik Septiana, Santosa

25. Kasus Kematian Mendadak pada Diseksi Aorta 137


Insil Pendri Hariyani, Fitri Ambar Sari

26. Perbandingan Karakteristik Pola Rugae Palatina Antara Suku Dayak Bukit, Suku 145
Banjar Hulu dan Suku Dayak Ngaju
Iwan Aflanie, Haifa Madina

27. Analisa Pidana Sodomi pada Anak 153


Juli Purwaningrum, Soekry Erfan Kusuma

28. Kepastian Hukum Penyesuaian Jenis Kelamin di Indonesia 159


Klarisa, Budi Sampurna

29. Karakteristik Jenazah Tidak Dikenal yang Diperiksa di RSUP Dr. Hasan Sadikin 171
Bandung Tahun 2016
Kristina Uli, Nita Novita

30. Kekerasan Dalam Rumah Tangga pada Pria 175


Liya Suwarni, Julia Ike Haryanto

31. Validitas Resapan Darah pada Tulang Sebagai Petunjuk Intravitalitas pada 181
Ekshumasi
Made Ayu Mira Wiryaningsih, Oktavinda Safitry

32. Cedera Kepala Berakibat Mati Lemas 189


Marlis Tarmizi, Gatot Suharto

33. Profil Korban Kasus Pemeriksaan Kerangka di Provinsi Riau Periode 2010-2014 192
Mohammad Tegar Indrayana, Dedi Afandi, Earfistik Tim Vio Lovya

34. Temuan Otopsi pada Kasus Kekerasan Tajam 197


Mustika Chasanatusy Syarifah, Ahmad Yudianto

35. Difference in The Usage Of 10% Formalin And 5% Boraks As Embalming Fluid on 203
Liver of White Rats (Rattus Norvegicus) Wistar Strain After 0 – 24 Hours of Death
Nabil Bahasuan, Muhammad Rafif Amir

36. Peran Pemeriksaan Histopatologi Dalam Otopsi: Studi Kasus Jenazah Mati 208
Mendadak yang Diperiksa di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2016
Nita Novita

viii
37. Hubungan Kekerabatan Populasi Melayu – Cina Daratan Berdasarkan 13 Lokus Strs 212
nDNA
Nur Adibah, Yoni Syukriani Fuadah, Noverika Windasari

38. Perbandingan Pemeriksaan Selaput Dara pada Korban Dugaan Perkosaan di RSUP 217
Dr. Hasan Sadikin Bandung dan RSUD Soreang Kabupaten Bandung
Purwanto Panji Sasongko, Noorman Herryadi, Andri Andrian Rusman, Desy Linasari

39. Intoksikasi Dekstrometorfan Sebagai Penyebab Kematian 225


Raja Al Fath Widya Iswara, Saebani

40. Reliabilitas Expert Opinions (Dokter Spesialis Forensik) pada Fotografi Forensik 230
Dalam Menilai Usia Luka Memar
Reyhan Andika Firdausi, Aria Yudhistira, Herkutanto

41. Kematian pada Kasus Cedera Tulang Belakang Bagian Servikal Akibat Kekerasan 238
Tumpul
Rika Susanti, Taufik Hidayat

42. Perbandingan Indeks Sefalik Antara Populasi Batak dan Populasi Sunda di 245
Bandung (Studi Kasus Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran)
Riza Rivani, Yoni Syukriani Fuadah, Andri Andrian Rusman, Desy Linasari

43. Perbandingan Sidik Jari Guna Identifikasi 252


Saliyah, Soekry Erfan Kusuma

44. Gambaran Kasus Kejahatan Seksual di Salah Satu Rumah Sakit Tersier di Kota 260
Bandung Periode 2012-2017
Sani Tanzilah, Yendri Suryanti

45. Hubungan Antara Lebar Panggul dengan Jenis Kelamin dan Tinggi Badan 264
Stephanie Renni Anindita, Arif Rahman Sadad, Tuntas Dhanardhono

46. Gambaran Histopatologi Intravital, Perimortem dan Post Mortem Luka Iris Pada 269
Kulit Dan Otot Punggung Tikus Wistar Ratus Novegicus
Stephanie Renni Anindita, Bianti Hastuti Machroes, Julia Ike Haryanto

47. Pembuktian Malpraktik 276


Syarifah Hidayah Fatriah, Budi Sampurna

48. Analisis Antropologi Forensik pada Kasus Penemuan Rangka di Dalam Koper 281
Taufik Hidayat, Rika Susanti

49. Muatan Area Profesionalitas Luhur Berbasis Keislaman pada Kepaniteraan Klinik 286
Ilmu Kedokteran Forensik di FK Unsyiah Banda Aceh
Taufik Suryadi

50. Laporan Kasus Persetubuhan di Bawah Umur 292


Thathit Bimo Tangguh Setiogung

51. Analisa Faktor Penghambat Bantuan Ahli Dalam Kasus Kekerasan Seksual 299
Tuntas Dhanardhono, Sigid Kirana Lintang Bhima

52. Intensive Care Unit (ICU) Menggunakan Model Survival Studi Kasus: Rumah Sakit 306
Universitas Kristen Indonesia, Jakarta
Wilson Rajagukguk, Rospita Siregar

53. Pelayanan Kedokteran Forensik di Tingkat Primer 317


Yoni Syukriani

54. Ujian Nasional PPPDS Ilmu Kedokteran Forensik 324


Yudha Nurhantari

55. Aspek Medikolegal Kekerasan Seksual pada Penderita Gangguan Mental 329
Yudhiya Meglan Haryanto, Bianti Hastuti Machroes

ix
APENDIX
MARS PDFI
Susunan Personalis Pengurus Pusat Pdfi Dan Kolegium Kedokteran Forensik Indonesia Masa
Bakti 2016-2019
MoU Deputi Perlindungan Perempuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak dan PP PDFI

x
Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

KEKERASAN SEKSUAL DAN PERDAGANGAN TERHADAP ANAK


Abdullah Arief Syahputra1, Rika Susanti1

Abstrak PENDAHULUAN
Perlindungan terhadap anak telah diatur oleh secara Anak memiliki hak konstitusional
tegas dalam dalam peraturan perundang-undangan
khusus yaitu dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun untuk mendapatkan perlindungan dari
2002 tentang Perlindungan Anak. Undang-undang ini
kemudian telah dua kali mengalami perubahan yaitu
kekerasan seksual, terkandung dalam
pertama kali diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Undang-Undang Dasar Negara Republik
Tahun 2014. Setiap orang yang melanggar hak seorang
anak untuk dilindungi sudah seharusnya diganjar Indonesia tahun 1945, pada pasal 28 B ayat
hukuman seperti yang telah diatur dalam undang- (2) dan pasal 4, Undang-Undang no. 23 tahun
undang. Makalah ini merupakan sebuah laporan kasus.
Bahwa dilaporkan telah terjadi perdagangan dan 2002 tentang Perlindungan Anak.
kekerasan seksual pada anak perempuan, berusia 16
tahun, oleh temannya sendiri, seorang perempuan Berdasarkan norma tersebut, Negara
berusia 18 tahun, kepada seorang pria tidak dikenal. dipandang berkewajiban dan
Korban dipaksa masuk ke dalam sebuah mobil dan
dipaksa untuk membuka pakaiannya. Pelaku memaksa bertanggungjawab atas perlindungan anak
korban dan memasukan kelaminnya ke kelamin korban
selama kurang lebih lima belas menit dan ejakulasi diluar. dari kekerasan seksual.1 Kekerasan seksual
Setelah itu, pelaku mengantarkan korban ke tempat sebagai segala jenis kegiatan atau hubungan
semula dan memberikan uang sebesar empat ratus ribu
rupiah. Kejadian tersebut terjadi pada bulan Mei tahun seksual yang dipaksakan dan/atau tanpa
2016 dan diperiksa pada bulan Desember tahun 2016,
sehingga sudah tidak ditemukan tanda kekerasan dan
persetujuan (consent) dari korban. Di
pada pemeriksaan genitalia ditemukan robekan lama Indonesia, pada umumnya definisi dan jenis
yang sampai dasar dan robekan lama yang tidak sampai
dasar. Pemeriksaan laboratorium sederhana tidak dapat kekerasan seksual yang dianut diambil dari
dilakukan karena kejadian sudah terlalu lama berlalu. kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP),
Seorang dokter dituntut untuk dapat menentukan adanya
tanda-tanda persetubuhan, adanya tanda-tanda khususnya dalam Bab XIV tentang kejahatan
kekerasan, serta memperkirakan umur korban
berdasarkan keilmuan yang dimilikinya. terhadap Kesusilaan. Kekerasan seksual
Kata Kunci: Kekerasan seksual pada anak, terhadap anak.2
perdagangan anak
Kekerasan seksual terhadap anak
Afiliasi Penulis : 1. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal akan memberikan dampak atau efek yang
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP. Dr. M. Djamil Padang.
Korespondensi: Abdullah Arief Syahputra, Email: tidak ringan kepada anak sebagai korban.
aasputra20@gmail.com HP 085274591109
Kebanyakan korban perkosaan mengalami
psychological disorder yang disebut popurst-
traumatic stress disorder (PTSD) yang
gejalanya berupa ketakutan yang intens,
kecemasan yang tinggi, dan emosi
pascaperistiwa tersebut.2
Perdagangan anak merupakan salah
satu bentuk tindakan kejahatan yang dapat
dilakukan oleh seseorang atau sekelompok
orang atau sebuah lembaga terhadap orang
yang usianya belum mencapai 18 tahun,
termasuk janin yang masih berada dalam
kandungan. Perdagangan anak menurut

8 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Abdullah Arief, Kekerasan seksual.....

Office of Drug Control and Crime Prevention Setiap orang yang melanggar hak
(ODCCP) adalah suatu tindakan perekrutan, seorang anak untuk dilindungi sudah
pemindahan, pengiriman, penempatan atau seharusnya diganjar hukuman seperti yang
menerima anak-anak dibawah umur untuk telah diatur dalam undang-undang nomor 35
tujuan eksploitasi dan itu dengan tahun 2014, yaitu dalam BAB XII mengenai
menggunakan ancaman, kekerasan, ataupun ketentuan pidana yang diberlakukan pada
pemaksaan lainnya seperti penculikan, pelaku pelanggaran terhadap macam-macam
penipuan, kecuranagan, penyalahgunaan jenis larangan yang tercantum dalam BAB
wewenang maupun posisi penting.3 XIA. Khusus untuk kekerasan seksual diatur
Perdagangan anak biasanya bertujuan untuk dalam beberapa pasal yaitu pasal 81, pasal 82
eksploitasi dalam hal pekerjaan, eksploitasi dan pasal 88.5
seksual, pekerjaan illegal seperti mengemis, Selain undang-undang khusus yang
perdagangan adopsi dan perjodohan dengan mengaturnya, ketentuan mengenai
pemaksaan. Data UNICEF menyebutkan kekerasan seksual dari dulu sudah lama
setiap tahunnya, sekitar 1,2 juta anak di dunia diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum
menjadi korban perdagangan anak. Di Pidana pada BAB XIV tentang Kejahatan
Indoesia, sebanyak 100.000 anak menjadi Terhadap Kesusilaan. Khusus untuk tindak
korban perdagangan anak setiap tahun, dan pidana perkosaan dan perbuatan cabul,
dari jumlah tersebut, 400.000 hingga 700.000 terdapat dalam pasal 285, pasal 286, pasal
diantaranya menjadi korban prostitusi.3 287, pasal 289, dan pasal 290.7
Perlindungan terhadap anak telah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002
diatur oleh secara tegas dalam dalam tentang Perlindungan Anak dalam Pasal 83
peraturan perundang-undangan khusus yaitu menentukan larangan bagi setiap orang untuk
dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun menempatkan, membiarkan, melakukan,
2014 tentang Perlindungan Anak. Dalam menyuruh melakukan, atau turut serta
peraturan ini lebih diperjelas mengenai melakukan penculikan, penjualan, dan/atau
kekerasan seksual pada anak yang perdagangan anak. Namun, ketentuan KUHP
sebelumnya belum terlalu disinggung. Hal ini dan Undang-Undang Perlindungan Anak
dapat terlihat dari poin kekerasan seksual tersebut tidak merumuskan pengertian
pada pasal 15 sehingga menekankan bahwa perdagangan orang yang tegas secara hukum,
setiap anak berhak untuk memperoleh dan memberikan sanksi yang terlalu ringan dan
perlindungan dari kejahatan seksual di luar tidak sepadan dengan dampak yang diderita
bentuk kekerasan lainnya. Peraturan korban. Oleh karena itu, dibentuk undang-
Pemerintah Pengganti Undang-Undang undang khusus tentang tindak pidanan
Nomor 1 Tahun 2016, dibuat dikarenakan perdagangan orang yang dituangkan dalam
peraturan sebelumnya dinilai belum
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 pada
memberikan efek jera terhadap pelaku pasal 2, pasal 12, dan pasal 17.8
kekerasan seksual terhadap anak, sehingga
sanksi pidana terhadap pelaku diperberat METODE
dalam Pasal 81 ayat 5 dan 7 dimana pelaku
Makalah ini merupakan sebuah
kejahatan seksual dapat dipidana mati,
pembahasan laporan kasus dan merujuk ke
seumur hidup, atau tindakan kebiri kimia.4,5,6
beberapa literatur.

9 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Abdullah Arief, Kekerasan seksual.....

ILUSTRASI KASUS dasar, arah jam 3 dan 7. Pemeriksaan


Dilaporkan sebuah kasus laboratorium tidak dapat diperiksa.
perdagangan dan kekerasan seksual pada
anak, dengan surat permintaan Visum et
Repertum pada bulan Desember tahun 2016.
Kejadian tersebut terjadi pada bulan Mei
tahun 2016. Korban seorang perempuan,
berusia 16 tahun, bertempat tinggal di
Padang, beragama islam dan berstatus
sebagai pelajar. Awal mula kejadian, korban
dibawa temannya, perempuan, berusia 18
tahun, ke jembatan Siti Nurbaya di Padang Gambar 1. Pemeriksaan genitalia luar dan
dengan mengendarai sepeda motor. selaput dara.
Sesampainya disana, korban dikenalkan
dengan seorang pria dan dipaksa dengan HASIL DAN PEMBAHASAN
mendorong korban untuk naik kedalam mobil
Pada kasus ini, permintaan surat
pria tersebut. Setelah masuk, mobil dikunci
Keterangan Ahli berupa surat permintaan
dan melaju ke daerah Kampung Kaliang.
visum korban kejahatan seksual telah
Setelah mobil berhenti, pelaku memaksa
dikirimkan oleh penyidik kepolisian kepada
korban untuk membuka baju dengan
instansi kesehatan, dalam hal ini Rumah Sakit
menginjak kaki dan tangan korban, lalu
Umum Pusat dr. M. Djamil Padang, dimana
membuka pakaian korban dengan paksa,
prosedur tersebut telah sesuai dengan
setelah itu memasukkan kemaluan pelaku ke
wewenang penyidik serta peraturan
kemaluan korban selama 15 menit dan
perundang-undangan yang berlaku. Oleh
diakhiri dengan ejakulasi di luar. Setelah itu
karena itu, menjadi kewajiban dokter untuk
korban diantarkan ke tempat semula dan
melakukan pemeriksaan terhadap korban
diberikan uang sebesar 400 ribu rupiah.
sesuai dengan keperluan penyidikan.
Pemeriksaan dilakukan pada bulan
Selanjutnya dokter ahli kedokteran
Desember tahun 2016, korban datang
kehakiman wajib membuat surat Keterangan
dengan keadaan sadar, keadaan umum baik,
Ahli berdasarkan hasil pemeriksaan yang
emosi tenang, sikap selama pemeriksaan
telah dilakukan terhadap korban. Surat
cukup membantu, penampilan bersih dan
Keterangan Ahli berupa Visum et Repertum
pakaian telah diganti. Perkembangan seks
ini yang nantinya akan berfungsi sebagai alat
sekunder sudah berkembang, riwayat haid
bukti yang sah sesuai dengan KUHAP pasal
teratur dengan haid pertama pada usia 13
184 ayat (1).
tahun, lama haid kurang lebih 1 minggu dan
Persetubuhan adalah suatu peristiwa
hari pertama haid terakhir pada tanggal 1
dimana alat kelamin laki-laki masuk ke dalam
Desember tahun 2016. Tidak ditemukan luka-
alat kelamin perempuan, sebagian atau
luka pada tubuh korban.
seluruhnya dan dengan atau tanpa terjadinya
Pada pemeriksaan selaput dara,
pancaran air mani. Adanya robekan pada
ditemukan robekan lama sampai dasar, arah
selaput dara hanya menunjukkan adanya
jam 4 dan 9, dan robekan lama tidak sampai
benda padat/kenyal yang masuk, dengan
demikian bukan merupakan tanda pasti

10 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Abdullah Arief, Kekerasan seksual.....

persetubuhan. Robekan selaput dara yang dilakukan karena kejadian persetubuhan


terbentuk bergantung pada faktor besarnya telah lama terjadi.
zakar dan ketegangannya, seberapa jauh Kekerasan tidak selamanya
zakar masuk, keadaan selaput dara serta meninggalkan bekas/luka, tergantung dari
posisi persetubuhan. Jika zakar masuk penampang benda, daerah yang terkena
seluruhnya & keadaan selaput dara masih kekerasan, serta kekuatan dari kekerasan itu
cukup baik, pada pemeriksaan diharapkan sendiri. Adanya luka berarti adanya
adanya robekan pada selaput dara. Jika kekerasan, namun tidak ada luka bukan
elastis, tentu tidak akan ada robekan. Derajat berarti tidak ada kekerasan. Kekerasan bisa
penetrasi dapat dibagi dua, yaitu penetrasi terjadi dengan cara pemberian zat-zat yang
minimal atau sebagian dan penetrasi dapat melemahkan daya korban sesuai Pasal
seluruhnya atau total. Penetrasi minimal 89 KUHP. Dengan berlalunya waktu, luka
adalah menggesekkan penis di antara labia dapat sembuh atau tidak ditemukan,
pada vulva tanpa memasukkan penis ke racun/obat bius telah dikeluarkan dari tubuh.
dalam vagina, adanya luka lecet, hiperemi, Pada kasus ini, korban mengaku
atau memar pada vulva dapat ditemukan mengalami kekerasan dari pelaku yang
pada penetrasi yang minimal. Sedangkan membekap mulut korban serta menginjak
penetrasi total adalah menggesekkan penis kedua tangan korban agar korban berhenti
dengan memasukkan penis ke dalam vagina. melawan. Sayangnya, dikarenakan faktor
Hal yang dapat ditemukan pada penetrasi waktu dimana kejadi sudah lama terjadi,
total antara lain robekan pada selaput dara, tanda-tanda kekerasan ini sudah tidak
tanda penyembuhan luka berupa jaringan mungkin lagi ditemukan.
parut halus di sepanjang dinding vagina, pada Dalam kasus ini, sebenarnya terdapat
anak yang prepubertas dapat mengalami 2 kasus berbeda dengan 2 pelaku berbeda
trauma genital yang berat yang memerlukan yang dapat diperkarakan hukum secara
tindakan surgical repair, serta ditemukannya terpisah. Pertama, kasus perdagangan anak
ejakulat yang mengandung spermatozoa bila yang dilakukan pelaku wanita dan kedua,
disertai dengan ejakulasi. Yang merupakan kasus pemerkosaan yang dilakukan pelaku
tanda pasti adanya persetubuhan adalah pria.
adanya pancaran air mani (ejakulasi) di dalam Pada kasus pertama, pelaku wanita
vagina. yang merupakan teman korban, memenuhi
Dari pemeriksaan pada kasus ini kriteria tindak pidana perdagangan orang
ditemukan adanya robekan lama, sampai yang diatur dalam Undang-Undang
dasar, arah jam 4 dan 9, serta robekan lama, Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan
tidak sampai dasar, arah jam 3 dan 7. Hal ini Orang. Pelaku wanita ini melanggar Pasal 2
menunjukkan adanya penetrasi total akibat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007
benda tumpul yang sudah lama terjadi, yang karena telah merekrut dan mengirim korban
tidak memastikan adanya persetubuhan. di dalam wilayah negara Republik Indonesia
Temuan ini sesuai dengan keterangan korban yang menyebabkan korban tereksploitasi
bahwa pernah terjadi persetubuhan kurang secara seksual, dan diancam dengan pidana
lebih 7 bulan yang lalu. Dikarenakan hal itu penjara paling singkat 3 tahun dan paling
pula, pemeriksaan cairan mani tidak dapat lama 15 tahun dan pidana denda paling
sedikit Rp.120.000.000,00 (seratus dua puluh

11 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Abdullah Arief, Kekerasan seksual.....

juta rupiah) dan paling banyak sengaja melakukan kekerasan memaksa anak
Rp.600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah). melakukan persetubuhan dengannya,
Karena korban adalah anak berusia <18 dipidana dengan pidana penjara paling lama
tahun, ancaman pidananya ditambah 1/3 15 tahun dan paling singkat 5 tahun dan
(sepertiga) seperti yang telah diatur dalam denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00
Pasal 17. Selain itu, Undang-Undang (lima miliar rupiah). Dikarenakan pelaku
Perlindungan Anak juga mengatur tindak meggunakan atau memanfaatkan korban
pidana perdagangan anak ini dalam Pasal 83 tindak pidana perdagangan orang dengan
yang telah mengalami perubahan dengan cara melakukan persetubuhan dengan
ancaman pidana penjara paling lama 15 korban tindak pidana perdaganan orang,
tahun dan paling singkat 3 tahun dan denda dikenakan ancama pidana yang sama
paling banyak Rp.300.000.000,00 (tiga ratus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 yaitu
juta rupiah) dan paling sedikit pidana penjara paling singkat 3 tahun dan
Rp.60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah). paling lama 15 tahun dan pidana denda
Pada kasus kedua, pelaku pria paling sedikit Rp.120.000.000,00 (seratus dua
melanggar Pasal 285 KUHP yang mengatur puluh juta rupiah) dan paling banyak
bahwa pelaku kekerasan yang memaksa Rp.600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).
seorang wanita bersetubuh dengan dia di
luar perkawinan, diancam karena melakukan
perkosaan dengan pidana penjara paling SIMPULAN
lama 12 tahun. Pasal yang dikenakan juga Peranan seorang dokter dalam
dapat ditambah dengan Pasal 287 pengumpulan bukti salama pemeriksaan
dikarenakan korban yang mengalami tindak medis forensik memiliki hubungan langsung
perkosaan tersebut adalah anak berumur 16 dengan keberhasilan penuntutan kasus. Selain
tahun dan belum lagi waktunya untuk itu, seorang dokter dituntut untuk dapat
dikawin atau bersetubuh, dengan sanksi menetukan adanya tanda-tanda
pidana paling lama 9 tahun. Selain itu, persetubuhan, adanya tanda-tanda kekerasan,
berdasarkan Undang-Undang Perlindungan serta memperkirakan umur korban
Anak yang mengalami dua kali perubahan, berdasarkan keilmuan yang dimilikinya.
pelaku juga melanggar ketentuan Pasal 81
yang mengatur bahwa pelanggar yang

DAFTAR PUSTAKA

1. Sitompul, A.H. 2015. Kajian Hukum Tentang 3. Soraya A, Rusyidi B, Irfan M. 2016.
Perlindungan Terhadap Anak Korban
Tindak Kekerasan SeksualTerhadap Anak di
Trafficking. Bandung: Universitas
Indonesia. Lex Crimen. Vol. IV, no. 1, pp.46-
Padjadjaran, (15): pp.78-83.
55.

2. Probosiwi R., Bahransyaf D. 2015. Pedofilia 4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002


tentang Perlindungan Anak.
dan Kekerasan Seksual: Masalah dan
Perlindungan Terhadap Anak. Yogyakarta:
Kementrian Sosial RI, pp. 29-40. 5. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014
tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak.

12 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Abdullah Arief, Kekerasan seksual.....

8. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007


6. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang.
Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang
Perubahan kedua atas Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak.

7. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana pada


BAB XIV tentang Kejahatan Terhadap
Kesusilaan.

13 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

PERBANDINGAN PENYEBAB KEMATIAN MEDIS


(MEDICAL CAUSE OF DEATH) BERDASARKAN STANDAR ICD 10 DI
RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG TAHUN 2017
Aberta Karolina1, Noverika Windasari1, Chevi Sayusman1

Abstrak PENDAHULUAN
Sebab kematian penting untuk diketahui pada setiap Rekam medis adalah berkas yang
kematian. Dokter di Rumah Sakit berperan penting
dalam menentukan sebab kematian medis (medical berisikan catatan dan dokumen tentang
cause of death). Penyebab kematian medis penting
dalam kaitannya dengan kesehatan masyarakat,
identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan,
penelitian, survey, epidemiologi, program pencegahan, tindakan dan pelayanan lain yang telah
keamanan publik, kedokteran, dan administrasi
kesehatan. Untuk mengetahui apakah penulisan diberikan kepada pasien.1 Peranan rekam
penyebab kematian medis (medical cause of death) medis di institusi pelayanan sangat
pada rekam medis di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
telah sesuai dengan standar WHO International diperlukan, karena rekam medis tersebut
Classification of Disease (ICD) 10. Kajian dilakukan
dengan cara membandingkan penulisan penyebab dapat dijadikan sebagai penyedia fakta atas
kematian medis (medical cause of death) pada setiap pelayanan yang telah diberikan kepada
sampel dengan standar WHO ICD 10. Hasil akan
disajikan dalam bentuk tabel dan grafik mengenai pasien, alat komunikasi antar petugas,
kesesuaian penyebab kematian medis. Melalui
penelitian sebab kematian pada rekam medik,
sebagai alat bukti yang sah diperlukan, juga
menggambarkan permasalahan pengisian sebab sebagai bukti pembayaran. Rekam medis
kematian pada rekam medik di RSHS.
Kata Kunci: Medical Cause of Death, Standar harus dibuat secara tertulis, lengkap dan
International WHO ICD-10, rekammedis. jelas dan dalam bentuk Teknologi Informasi
Afiliasi Penulis : 1. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Elektronik yang diatur lebih lanjut dengan
Universitas Padjadjaran – Rumah Sakit (RSUP) Dr. Hasan Sadikin
Bandung 2. Universitas Padjadjaran – Rumah Sakit (RSUP) Dr. Hasan peraturan tersendiri.1-4
Sadikin Bandung. Korespondensi: Noverika windasari, Email:
n_windasari@ymail.com, Telp. 022-2041171 Sebab kematian penting untuk
diketahui pada setiap kematian. Semua
kematian harus tersertifikasi atau tercatat
secara medis. Dokter di Rumah Sakit
berperan penting dalam menentukan dan
memastikan sebab kematian medis (medical
cause of death) seorang pasien, untuk itu
dokter dituntut wajib melengkapi rekam
medis dengan benar dan lengkap. Penyebab
kematian medis penting dalam kaitannya
dengan kesehatan masyarakat, penelitian,
survei, epidemiologi, program pencegahan,
keamanan publik, kedokteran, dan
1-5
administrasi kesehatan. Statistik data
kematian berdasarkan penentuan single
underlying cause of death, yaitu penyakit
atau cidera yang mengawali terjadinya

14 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Aberta Karolina, Perbandingan.....

rangkaian peristiwa yang mengakibatkan dipakai oleh seluruh Negara anggota dari
kematian secara lansung.1,2,5-9 badan kesehatan dunia. Di Indonesia telah
Data penyebab kematian yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri
disusun berdasarkan ICD-10 merupakan Kesehatan RI, No. 50/MENKES/SK/I/1998,
sumber data yang dapat dipakai untuk dimana Rumah Sakit dan Puskesmas
menghitung angka harapan hidup, angka diwajibkan melaksanakan pengkodean
kematian menurut penyebab dan umur. penyakit sebagai pendataan rekam medis.10
Selain itu data penyebab kematian dapat ICD-10 merupakan klasifikasi
dijadikan sebagai bahan pertimbangan statistik, yang terdiri dari sejumlah kode
untuk mengambil keputusan terkait dengan alpha-numerik yang satu sama lain berbeda
upaya pencegahan dari penyakit atau kasus menurut kategori, yang mengambarkan
yang mematikan (preventif primer) sehingga konsep seluruh penyakit. Klasifikasi dalam
status kesehatan masyarakat menjadi lebih ICD-10 mencakup panduan yang berisi Rules
baik.2 atau peraturan yang spesifik untuk
Hanya paramedik yang terlatih dapat menggunakannya. Pelaksanaan pengodean
dipercaya dalam mengisi rekam medis, dan diagnosis tersebut harus lengkap dan akurat
mendiagnosis sebab kematian secara tepat. sesuai dengan arahan ICD-10 (WHO, 2004).10
Pada banyak Negara berkembang proporsi ICD-10 digunakan sebagai dasar
orang yang meninggal di luar rumah sakit dalam mempersiapkan data statistik
cukup tinggi, sehingga cause of death tidak kematian. WHO menyusun sertifikat
teregistrasi oleh seorang dokter, melainkan kematian yang merupakan sertifikat
oleh koroner, polisi, kepala desa, petugas kematian yang merupakan sumber utama
registrasi atau petugas lainnya yang tidak data mortalitas dan digunakan sebagai dasar
pernah mendapatkan pelatihan secara pembuatan laporan penyebab kematian.
medis. Pernyataan Cause of death pada Laporan tentang penyebab kematian
sertifikat kematian dibuat oleh petugas non sangatlah berguna agar rumah sakit dapat
medis sehingga tidak dapat dipercaya dan membuat klasifikasi tentang penyebab
dinilai tidak akurat. Beberapa kematian yang kematian utama yang dapat digunakan
diakibatkan oleh penyakit yang tidak untuk evaluasi kualitas pelayanan,
terdefinisi dan penyebab penyakit non kebutuhan tenaga medis dan alat-alat
spesifik, sepert: “old age”, “fever” and medis.10
“stopped breathing”. Dimana diagnosis Penyebab dasar kematian
tersebut tidak bernilai dan tidak dimasukan (Underlying Cause Of Death) adalah sebab
ke dalam disease control and prevention dasar terjadi serentet sebab-sebab kematian
programmes. Sehingga tingginya proporsi yaitu: penyakit terjadinya cedera sebagai
kematian yang tersertifikasi secara medis pemicu serentetan kejadian yang
merupakan tantangan penting dan terbesar mengakibatkan kematian, terjadinya
dalam sistem kesehatan pada Negara kecelakaan atau kekerasan yang
berkembang.1,2,5-9 menghasilkan fatal. 1,2,5-10

WHO telah menetapkan bahwa ICD- Beberapa kesalahan-kesalahan


10 sebagai buku klasifikasi internasional umum yang sering terjadi pada penulisan
mengenai penyakit edisi terbaru yang harus

15 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Aberta Karolina, Perbandingan.....

sebab kematian medis pada rekam medis patologisnya, misalnya: poorly


pasien:10 differentiated adenocarcinoma of lung,
1. Mekanisme urutan rangkaian penulisan right upper lobe.
sebab kematian, seperti: immediate, Berdasarkan survei pendahuluan yang
intermediate, dan underlying cause of dilaksanakan di RSUP Dr. Hasan Sadikin
death tidak berurutan. Bandung diketahui bahwa secara umum
2. Penulisan cause of death dengan
kelengkapan penulisan penyebab kematian
mencantumkan terminal events atau medis (medical cause of death) pada rekam
kondisi akhir sebelum kematian, misalnya: medis telah dilakukan oleh sebagian besar
respiratory distress syndrome, gagal napas dokter, namun kesesuaian penulisan sebab
(respiratory failure). henti jantung (cardiac kematian medis sebagian besar belum sesuai
arrest), syok (syok sepsis, syok
dengan standar WHO ICD-10. Dokter
kardiogenik, syok neonatorum, syok menetapkan sebab kematian medis yang
obstruktif), acute liver failure dan multiple tertulis pada rekam medis pasien tanpa
organ disfunction. melihat kembali aturan atau Rule yang ada di
3. Penulisan proses fungsional maupun ICD-10 tentang penulisan sebab kematian
struktur penyakit non spesifik dengan medis. Hal ini menyebabkan masih
multiple possible causes dapat diketemukannya adanya ketidaksesuaian
dicantumkan namun hanya sebagai dalam menuliskan sebab kematian medis,
intermediate atau immediate cause of yang akan berpengaruh terhadap laporan
death tidak sebagai underlying cause of mortalitas yang berkenaan dengan penyakit
death, misalnya: perdarahan (klasifikasi 10 besar penyakit penyebab
gastrointestinal. kematian), epidemiologi, monitoring survei,
4. Penulisan kondisi sebab kematian tidak program pencegahan, kemanan publik,
boleh lebih dari satu pada satu baris pada
kedokteran dan administarsi kesehatan.
Part I, hanya boleh dicantumkan pada Part Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti
II saja. tertarik untuk melakukanpenelitian dengan
5. Harus dapat membedakan komplikasi judul ”Perbandingan Penyebab Kematian
yang menyebabkan kematian dengan Medis (Medical Cause Of Death) Berdasarkan
underlying cause of death, sehingga Standar ICD-10 Di RSUP Dr. Hasan Sadikin
komplikasi tersebut dapat dicantumkan Bandung Tahun 2017”.
pada bagian paling bawah Part I.
6. Pada pasien yang telah lama dirawat yang
mengalami komplikasi sehingga METODE
menyebabkan kematian, terkadang Penelitian ini bersifat deskriptif yang
komplikasi tersebut dibuat sebagai menggambarkan tentang kelengkapan
underlying cause of death, yang penulisan penyebab kematian medis (medical
seharusnya dicantumkan adalah penyakit cause of death) pada rekam medis pasien di
atau cedera yang menyebabkannya. RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2017
7. Pada pernayataan cause of death dan kesesuaian penulisan sebab kematian
sebaiknya mencantumkan detail deskripsi medis dengan standar WHO ICD-10, dengan
yang berhubungan dengan aspek pendekatan secara retrospektif dimana

16 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Aberta Karolina, Perbandingan.....

peneliti mengumpulkan data-data yang ada Tabel 2. Tingkat Kesesuaian Penulisan Sebab
pada masa lalu atau yang pernah terjadi. Data Kematian Medis (Medical Cause Of Death)
diambil dari rekam medis pasien yang Dibandingkan standar WHO ICD-10.
meninggal di RSUP Dr. Hasan Sadikin, Penulisan Sebab Kematian Bulan Bulan Bulan Total
Bandung pada Januari - Maret 2017, yaitu Medis Januari Februari Maret
Sesuai 3 7 4 14
sebanyak 895 kematian. Sampel diambil (13,63%) (31,81%)
( (19,05%)
( (21,53%)
berdasarkan rumus Slovin dengan tingkat
Tidak sesuai 19 15 17 51
kepercayaan 90%. Berdasarkan rumus (86,37%) (68,19%) (80,95%)
(7 (78,24%)
tersebut, didapatkan 90 sampel, kemudian Total 22 22 21 65
dibagi masing-masing 30 sampel setiap (100%) (100%) (100%) (100%)

bulannya. Pengambilan sampel dilakukan


secara acak. Setiap sampel rekam medis akan
dinilai kelengkapan penulisan penyebab Didapatkan hampir mendekati 80%
kematian medis (medical cause of death) dan rekam medis yang disertai sebab kematian
dibandingkan kesesuaian dengan standar medis tidak sesuai dengan standar WHO
WHO (ICD-10). ICD-10. Dokter klinis masih mengisi sebab
kematian medis dengan terdapat kesalahan-
HASIL DAN PEMBAHASAN
kesalahan penulisan yang sebagaimana telah
Berdasarkan analisis dari 90 total disebutkan pada pendahuluan di atas dan
sampel rekam medis pasien yang meninggal, terdapat pada standar WHO ICD-10, salah
ternyata hanya 65 (72,2%) rekam medis yang satu contohnya adalah:
dilengkapi dengan penulisan sebab kematian penulisan cause of death dengan
medis (medical cause of death), sedangkan mencantumkan terminal events atau kondisi
terdapat 25 (27,8%) rekam medis yang tidak akhir sebelum kematian, misalnya:
dilengkapi dengan penulisan sebab kematian respiratory distress syndrome, gagal napas
medis (medical cause of death) (Tabel 1). (respiratory failure), henti jantung (cardiac
arrest), syok (syok sepsis, syok kardiogenik,
syok neonatorum, syok obstruktif), acute
Rekam Medis Bulan Bulan Bulan Total
Januari Februari Maret liver failure dan multiple organ disfunction.
Tanpa dilengkapi sebab 8 8 9 25 Selain itu juga terdapat penulisan sebab
kematian medis (26,7%) (26,7%)( (30%)
( (27,8%)
kematian medis yang tidak berhubungan
Dilengkapi sebab kematian 22 22 21 65 antara sebab kematian IA dan IB (Tabel 3).
medis (73,3%) (73,3%)( (70%)
(7 (72,2%)
Total 30 30 30 90
(100%) (100%) (100%) (100%)

Tabel 1. Gambaran Penulisan Penyebab


Kematian Medis (Medical Cause Of Death)
Januari – Maret Tahun 2017

17 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Aberta Karolina, Perbandingan.....

No Kesalahan-Kesalahan Penulisan Sebab Bulan Bulan Bulan Total dokter dibandingkan dengan standar WHO
Kematian Medis Januari Februari Maret
1. Penulisan terminal event atau kondisi
ICD-10 juga masih rendah (21,53%). Sebagian
akhir sebelum kematian: besar ketidaksesuaian tersebut disebabkan
- Respiratory Distress Syndrome 4 2 4 10
- Gagal napas (respiratory failure) 5 2 8 15 karena sebab kematian medis diisi dengan
- Henti jantung (cardiac arrest) 2 1 1 4 kesalahan-kesalahan penulisan yang
- Syok (syok sepsis, syok 7 10 2 19
kardiogenik, syok neonatorum, sebagaimana telah disebutkan pada
syok obstruktif) pendahuluan di atas dan terdapat pada
- Acute Liver Failure 1 - - 1
- Multiple Organ Disfunction - - 1 1 standar WHO ICD-10, yaitu: penulisan cause
Total 19 15 16 50
2. Tidak berhubungan antara sebab of death dengan mencantumkan terminal
kematian IA dan IB: events atau kondisi akhir sebelum kematian,
- IA: tumor kolon; - - 1
IB: Decompensatio cordis. misalnya: respiratory distress syndrome, gagal
Total - - 1 napas (respiratory failure), henti jantung
(cardiac arrest), syok (syok sepsis, syok
Tabel 3. Gambaran Kesalahan-Kesalahan kardiogenik, syok neonatorum, syok
Penulisan Sebab Kematian Medis obstruktif), acute liver failure dan multiple
organ disfunction. Selain itu juga terdapat
Berdasarkan asal dokter klinis yang penulisan sebab kematian medis yang tidak
mengisi rekam medis tersebut, sampel berhubungan antara sebab kematian IA dan IB
terbanyak yang sesuai dengan standar (Tabel 3).
WHO ICD-10 berasal dari SMF Ilmu
Penyakit Dalam, diikuti SMF Ilmu Kesalahan-kesalahan yang timbul dapat
Kesehatan Anak dan Neurologi (Tabel 3). disebabkan oleh berbagai pihak, baik pihak
SMF/Bagian Diisi Tidak dokter maupun pihak rumah sakit.
Diisi
Sesuai Tidak Kurangnya pengetahuan dan pemahaman
sesuai
sebagian besar dokter klinis mengenai
Ilmu Kesehatan Anak 7 7 6
Neurologi 9 2 3 penulisan sebab kematian medis pada rekam
IPD 11 8 7
Anastesi 2 2 1 medis yang sesuai dengan standar WHO ICD-
Obstetri & Gynekologi 0 1 2
Jantung 2 0 2 10, dan pihak rumah sakit belum membuat
Bedah Umum 2 5 2
Bedah Orthopedi 2 0 0
aturan yang tegas untuk dokter klinik
Bedah Plastik 0 1 0 mengenai kewajiban melengkapi dan
Bedah Anak 1 0 0
Bedah Saraf 0 3 1 menulis sebab kematian medis pada rekam
Urologi 0 0 1
medis sesuai dengan standar WHO ICD-10.
Sebaiknya perlu adanya sosialisasi pada
Tabel 4. Rincian Hasil Sampel Rekam
dokter-dokter rumah sakit mengenai
Medis berdasarkan SMF/Bagian
penulisan yang sesuai dengan standar WHO
Berdasarkan hasil penelitian, dapat ICD-10 dan atau dengan memberikan
disimpulkan bahwa belum semua dokter klinis pelatihan-pelatihan mengenai tata cara
melengkapi rekam medis, terutama dalam penulisan sebab kematian medis seuai
mengisi sebab kematian medis pasien yang dengan standar WHO ICD-10, serta adanya
meninggal di RSUP Dr. Hasan Sadikin aturan yang tegas untuk dokter klinik
Bandung. Tingkat kesesuaian penulisan sebab mengenai kewajiban melengkapi dan
kematian medis (medical cause of death) oleh

18 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Aberta Karolina, Perbandingan.....

menulis sebab kematian medis pada rekam standar WHO ICD-10 masih sangat rendah
medis sesuai dengan standar WHO ICD-10. yaitu sebanyak 21,53% sampel rekam medis.
Sebagian besar ketidaksesuaian tersebut
SIMPULAN disebabkan karena sebab kematian medis diisi
dengan kesalahan-kesalahan penulisan yang
Penentuan kelengkapan penulisan
sebagaimana telah disebutkan pada
sebab kematian medis (medical cause of
pendahuluan di atas dan terdapat pada
death) di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
standar WHO ICD-10, dimana kesalahan-
Januari-Maret tahun 2017 telah dilengkapi
kesalahan yang timbul dapat disebabkan oleh
sebanyak 72,2% dari seluruh rekam medis,
berbagai pihak, baik pihak dokter maupun
namun kesesuaian penulisan sebab kematian
pihak rumah sakit.
medis (medical cause of death) dengan

DAFTAR PUSTAKA

1. Permenkes No: Cause, Degree of Contribution, and


269/MENKES/PER/III/2008 Determination of Manner of Death.
2. Badan Penelitian dan Pengembangan Jurnal. Tersedia dalam
Depkes RI. (2008). Buku Panduan http://dx.doi.org/10.4172/2157-
Penentuan Kode Penyebab Kematian 7145.1000221 [Diakses tanggal 2 Juni
Menurut ICD-10. Jakarta. 2017]
3. Pedoman Pengisian Rekam Medis 8. Dayapala, A., The Cause Of Death –
RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Should It Be Revisited In Sri Lanka? Sri
2014. Lanka Journal of Forensic Medicine,
4. Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. Science & Law-May 2015-Vol.6 No.1
Hasan Sadikin Bandung, Pedoman Base Hospital, Awissawella, Sri Lanka
Pelayanan Rekam Medis. 2014 9. Dimaio V. J. M, Handbook of Forensic
5. Huffman, E.K., Health Information Pathology: Cause, Mechanism, And
Management. Illinois: Physicians Manner Of Death. 2nd Edition,
Record Company. 1994. London New York: Taylor&Francis
6. Jemal, A., Ward, E., hao, Y. 2005. Group; 2007. p.15-22.
Trend In The Leading Causes Of 10. World health Organization, ICD-10
Death In The United States, 1970- International Statistical Classifcation of
2002. Jurnal. Tersedia dalam Diseases and Related Health Problems
www.jama.jamanetwork.com 10th Revision Volume 2 Instruction
[Diakses tanggal 4 Juni 2013] manual 2010 Edition.
7. Yu, X., Wang, H., Feng, L., Zhu, J.,
2014. Quantitative Research in
Modern Forensic Analysis of Death
Cause: New Classification of Death

19 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

KEKERASAN TUMPUL YANG MENYEBABKAN PATAH TULANG


TENGKORAK
Agung Hadi Pramono1, Gatot Suharto1

Abstrak PENDAHULUAN
Fraktur tulang tengkorak sering terjadi pada kasus
Berdasarkan surat permintaan visum
kecelakaan kendaraan bermotor dan jatuh, fraktur
akibat serangan atau perkelahian sebanyak 10% oleh penyidik untuk memeriksakan korban
dari kasus. Korban mengalami penganiayaan oleh atas nama mr. XXX, jenis kelamin laki-laki,
orang tidak dikenal saat pasien keluar rumah. umur 18 tahun, korban mengalami
Korban keluar dengan mengendarai motor. Tiba-
penganiayaan oleh orang dikenal saat pasien
tiba korban menabrak sesuatu hingga terjatuh,
kemudian korban dipukuli oleh warga setempat. keluar rumah. Saat korban keluar rumah
Setelah itu terjadi kekerasan pada korban oleh dengan mengendarai motor. Baru beberapa
orang-orang tersebut. Sehingga Korban saat, tiba-tiba korban menabrak sesuatu
mengalami luka di beberapa bagian tubuh hingga
tidak sadarkan diri. Dengan pemeriksaan korban
hingga terjatuh, kemudian korban dipukuli
dan pemeriksaan penunjang seperti CT-SCAN, oleh warga setempat. Setelah itu terjadi
Rontgen Thorax Supine dan Laboratorium Patologi kekerasan pada korban oleh orang-orang
Klinik. Radiologis dengan CT-Scan non kontras tersebut. Sehingga Korban mengalami luka di
didapatkan hasil EDH, ICH, fraktur kompresi dan
Leukosit 14 x 103, kesan leukositosis. Dari
beberapa bagian tubuh hingga tidak sadarkan
pemeriksaan atas korban tersebut maka saya diri.
simpulkan bahwa korban adalah seorang laki-laki,
umur kurang lebih enam belas tahun. Dari hasil METODE
pemeriksaan didapatkan luka yang sudah
mendapatkan perawatan medis; didapatkan luka Dengan pemeriksaan korban terhadap
akibat kekerasan tumpul berupa luka memar pada tubuh korban dan pemeriksaan penunjang
wajah; luka lecet di beberapa bagian tubuh; seperti CT-SCAN, Rontgen Thorax Supine dan
didapatkan patah tulang atap tengkorak, tulang Laboratorium Patologi Klinik.
dasar tengkorak, dan tonjolan tulang mata bagian
dalam; didapatkan perdarahan diatas selaput
HASIL DAN PEMBAHASAN
keras otak, perdarahan dibawah selaput keras
otak dan perdarahan otak bagian dalam. Akibat
Pemeriksaan terhadap tubuh korban:
luka tersebut menimbulkan bahaya maut.
Kata Kunci: Trauma tumpul, Fraktur, Perdarahan Korban tersebut mengalami
otak, KUHP penganiayaan dengan terdapat luka memar
Afiliasi penulis: 1. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas dibeberapa bagian tubuh dan luka lecet
Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang dan RSUP dokter Kariadi
Semarang.
dibeberapa bagian tubuh. Pada anggota gerak
atas terdapat dua buah luka yang sudah
mendapatkan perawatan medis Luka pertama
pada punggung jari ketiga ruas pertama,
bentuk menyerupai garis setelah
mendapatkan tiga buah jahitan, ukuran
panjang 3,5 cm, di sekitar luka terdapat
memar warna kemerahan, luka kedua pada
20 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Agung Hadi Pramono, Kekerasan.....

pangkal jari keempat sampai pangkal jari


kelima, bentuk menyerupai garis setelah
mendapatkan enam buah jahitan, ukuran
panjang 4 cm, di sekitar luka terdapat memar
warna kemerahan. Pada anggota gerak bawah
terdapat 4 buah luka yang sudah mendapat
perawatan medis pada wajah, disekitar luka
terdapat luka lecet dan memar. Luka pertama
tepat di pelipis kanan, 2 buah jahitan, ukuran
panjang 2 cm; luka kedua tepat pada dahi sisi
kiri, mendapatkan 5 buah jahitan, ukuran
panjang 2 cm; luka ketiga tepat pada pelipis
Gambar 2. Rontgent Thorax
kiri, mendapatkan 3 buah jahitan, ukuran
panjang 3 cm; luka keempat tepat di pangkal
Pemeriksaan Laboratorium didapatkan
hidung, mendapatkan 3 buah jahitan, ukuran
hasil pemeriksaan laboratorium leukosit 14 x
2 cm. Teraba derik tulang atap tengkorak
103, kesan leukositosis.
kepala sisi kiri.
Laporan hasil Operasi craniotomy:
Dari hasil pemeriksaan radiologis dengan CT-
 Terdapat patah tulang atap
Scan non kontras: Didapatkan hasil dengan
tengkorak sisi kiri yang tertekan
kesan EDH, ICH, fraktur kompresi dan rontgen
masuk merobek selaput keras otak.
Thorax Supine tidak ada kelainan.
 Terdapat patah tulang dasar
tengkorak bagian tengah kepala sisi
kiri.
 Terdapat patah tulang rongga mata
sisi kiri.
 Terdapat jendalan darah diatas
selaput otak kiri sebanyak 30 ml
 Terdapat jendalan darah dibawah
selaput keras otak sebanyak 62 ml
Dari hasil pemeriksaan terhadap tubuh
korban dan pemeriksaan penunjang lainnya,
maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
didapatkan luka yang sudah mendapatkan
perawatan medis; didapatkan luka akibat
kekerasan tumpul berupa luka memar pada
wajah; luka lecet di beberapa bagian tubuh;
Gambar 1. CT Scan didapatkan patah tulang atap tengkorak,
tulang dasar tengkorak, dan tonjolan tulang
mata bagian dalam; didapatkan perdarahan
diatas selaput keras otak, perdarahan
dibawah selaput keras otak dan perdarahan

21 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Agung Hadi Pramono, Kekerasan.....

otak bagian dalam yang dapat menimbulkan


bahaya maut.

1) Luka akibat kekerasan benda tumpul


a) Abrasi
Abrasi adalah luka yang paling
Gambar 3. Tindakan Craniotomi superfisial. Definisinya ialah luka yang
penetrasinya tidak mencapai ketebalan
PEMBAHASAN LUKA penuh dari epidermis. Abrasi yang
a. Definisi Luka sesungguhnya tidak menyebabkan
Luka adalah rusaknya struktur dan perdarahan, karena pembuluh darah
fungsi anatomis normal akibat proses berada di dermis. Namun, karena terjadi
patologis yang berasal dari internal pengerutan alami pada papilla dermis,
maupun eksternal dan mengenai organ banyak abrasi memasuki korium dan
tertentu. Ada beberapa cara menentukan perdarahan terjadi. Definisi lainnya
klasifikasi luka. Sistem klasifikasi luka menjelaskan abrasi sebagai luka superfisial
memberikan gambaran tentang status pada kulit, yaitu penetrasi dari bagian
intregitas kulit, penyebab luka, keparahan teratas dermis lebih jarang daripada
atau luasnya cedera atau kerusakan epidermis, sehingga perdarahan dapat
jaringan kebarsihan luka, atau gambaran terjadi.5
kualitas luka, misalnya warna luka.1 b) Kontusio atau memar
b. Mekanisme luka Meskipun sering bersamaan dengan
Gaya mekanik yang menyebabkan abrasi dan laserasi, memar murni terjadi
luka mungkin berasal dari alat atau obyek karena kebocoran pada pembuluh darah
yang bergerak, atau gerakan tubuh itu dengan epidermis yang utuh oleh karena
sendiri. Contohnya antara lain, gaya lawan proses mekanis. Ekstravasasi darah dengan
yag dihasilkan oleh inersia tubuh, kekakuan diameter lebih dari beberapa millimeter
yang dari beberapa obyek yang diam disebut memar atau kontusio.
terhadap tubuh yang jatuh. 4
c) Luka Gores/Laserasi
Berbeda dengan luka iris dimana
pada luka gores jaringan yang rusak
c. Klasifikasi Luka merobek bukan mengiris.

Tabel 1. Klasifikasi luka berdasarkan sifat 2) Luka Akibat Kekerasan Benda Tajam
serta penyebabnya. 7
22 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Agung Hadi Pramono, Kekerasan.....

Benda-benda yang dapat Ketika kepala membentur suatu


mengakibatkan luka dengan sifat luka objek atau tanah, awalnya cedera terjadi
seperti ini adalah benda yang memiliki sisi pada kulit kepala – laserasi, kontusi, atau
tajam, baik berupa garis maupun runcing, abrasi. Laserasi dapat memproduksi
yang bervariasi dari alat-alat seperti pisau, perdarahan yang besar disebabkan karena
golok, dan sebagainya hingga keping kaca, banyaknya vaskularisasi pada kulit kepala.
gelas, loga, sembilu, bahkan tepi kertas Hanya pada situasi yang tidak biasa cedera
atau rumput. Ciri-ciri umum dari luka ini dapat mengancam nyawa.
akibat benda tajam adalah: Garis batas 2) Fraktur Tengkorak
luka biasanya teratur, tepinya rata, Tipe kedua dari cedera ini dapat
sudutnya runcing dan dasar luka berbentuk mengenai tengkorak. Pada umumnya,
garis atau titik. kapanpun kepala bertabrakan dengan
 Garis batas luka biasanya teratur, suatu objek yang memiliki permukaan
tepinya rata, sudutnya runcing dan datar yang luas, titik benturan pada
dasar luka berbentuk garis atau titik. tengkorak menyesuaikan bentuk
 Bila ditautkan akan menjadi rapat permukaan yang mengenainya. Saat
(karena benda tersebut hanya tengkorak memipih dan membengkok ke
memisahkan, tidak menghancurkan dalam, secara berdampingan, namun pada
jaringan) dan membentuk lurus atau daerah yang lebih jauh, tengkorak juga
sedikit lengkung. membengkok keluar oleh karena
 Tebing luka rata dan tidak ada jembatan gelombang deformitas yang meliputi area
jaringan. sentral dari pembengkokan ke dalam dan
Daerah di sekitar garis batas luka tidak ada area perifer dari pembengkokan keluar.
memar.8 Pembengkokan keluar ini dapat terjadi
pada jarak yang jauh dari titik benturan.
CEDERA KRANIOCEREBRAL Ketika tengkorak melengkung tajam, lebar
Trauma kepala dapat dibagi menjadi dari pembengkokan ke dalam dan keluar
2 kategori besar berdasarkan mekanisme ini tidak sebesar area yang tidak
yang menyebabkan cedera: cedera karena melengkung. Jika terjadi fraktur tengkorak,
benturan dan cedera karena akselerasi atau fraktur bisa tidak terjadi pada titik yang
deselerasi. Cedera karena benturan terjadi terbentur, melainkan pada titik yang
ketika suatu objek terbentur atau membengkok keluar. Fraktur linier terjadi
membentur kepala. Cedera ini berefek lokal pada permukaan luar tulang tengkorak
oleh karena kontak antara kepala dan objek. oleh karena kekuatan yang dihasilkan oleh
Secara khusus, cedera ini terdiri atas: pembengkokan tulang keluar. Pada
- Cedera jaringan lunak: laserasi, abrasi, dan pembengkokan ke dalam, tulang tengkorak
kontusi kulit kepala mencoba kembali ke konfigurasi
- Fraktur tengkorak (2
normalnya.
- Edema serebri
- Perdarahan Subarachnoid (SAH).2 Kualifikasi Luka
1) Cedera Jaringan Lunak Penentuan berat ringannya luka
tersebut dicantumkan dokter dalam bagian
23 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Agung Hadi Pramono, Kekerasan.....

kesimpulan Visum et Repertum berupa c. Kehilangan salah satu panca


kualifikasi luka. Kualifikasi luka tersebut indera
adalah9 d. Mendapat cacat berat
1. Luka ringan e. Menderita sakit lumpuh
Luka ringan adalah luka yang tidak f. Terganggunya daya pikir selama
menimbulkan penyakit atau halangan empat minggu lebih
dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau g. Gugur atau matinya kandungan
mata pencariannya. Hukuman terhadap seorang perempuan. Hukuman
luka ringan ini tercantum pada pasal 352 dapat dijatuhkan berdasarkan
ayat 1 KUHP: Kecuali yang tersebut pada dalam KUHP Pasal 351 ayat 2 dan
pasal 353 dan 356, maka penganiyaan ayat 3, Pasal 353, Pasal 354,
yang tidak menimbulkan penyakit atau Pasal 355. 9
halangan untuk menjalankan pekerjaan SIMPULAN
jabatan atau pencarian, diancam, sebagai a. Pasien datang tidak selalu didampingi
penganiayaan ringan, dengan pidana oleh polisi/ penyidik dengan membawa
penjara paling lama tiga bulan atau pidana surat permintaan Visum et Repertum
denda paling banyak empat ribu lima ratus b. Penentuan kualifikasi luka tidak selalu
rupiah. berbanding lurus dengan hasil pemeriksaan
2. Luka sedang dan atau hasil pengobatan, melainkan
Luka sedang adalah luka yang perlu juga mempertimbangkan keadaan
menimbulkan penyakit atau halangan dan progresifitas kelainan saat korban
dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau datang.
mata pencariannya untuk sementara Penentuan kualifikasi luka harus
waktu. Hukuman dapat dijatuhkan dipertimbangkan dengan seksama
berdasarkan pasal 351 ayat 1 KUHP: berdasarkan ilmu kedokteran yang baik untuk
penganiayaan diancam dengan pidana menentukan nasib dan keadilan seseorang.
penjara paling lama dua tahun delapan
bulan atau pidana denda paling banyak
empat ribu lima ratus rupiah.
3. Luka berat
Luka berat adalah sebagaimana
tercantum di dalam pasal 90 KUHP, yaitu:
a. Jatuh sakit atau mendapat luka
yang tidak memberi harapan
akan sembuh sama sekali, atau
yang menimbulkan bahaya maut.
b. Tidak mampu terus-menerus
untuk menjalankan tugas jabatan
atau pekerjaan pencarian

24 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Agung Hadi Pramono, Kekerasan.....

DAFTAR PUSTAKA

1. Atmadja D S. Derajat Luka Pada Kasus Yayasan Penerbit IDI; 1994.


Perlukaan Dan Keracunan. 2010
7. C Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas
2. E L Nelson JM, J F Annegers, E R Laws, K P Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta:
Offord. Incidence Of Skull Fractures In Olmsted Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
County, Minnesota Neurosurgery 1984. Kedokteran Universitas Indonesia;1997.

3. Sapoetra MH. Visum et Repertum. Semarang: 8. Santosa, Relawati R, Maryono, Pranarka K,


Universitas Katolik Soegijapranata; 2007. Intarniati, Rahman A, et al. Tanya Jawab Ilmu
Kedokteran Forensik. Semarang : Badan
4. Sampurna ZS, Tjetjep Dwidja Siswaja. Peranan Penerbit Universitas Diponegoro; 2009.
Ilmu Kedokteran Forensik Dalam Penegakan
Hukum. Jakarta. 2003. 9. Kitab Undang-undang Hukum Pidana

5. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik.


Jakarta: Binarupa Aksara; 1997.

6. Purwadianto A. Visum Et Repertum Kasus


Perlukaan Dalam Pendidikan Kedokteran
Berkelanjutan. pertama C, editor. Jakarta:

25 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

PERAN DAN TUGAS MEDIKO-ETIKOLEGAL


DEWAN PERTIMBANGAN KLINIS

Agus Purwadianto1

Abstrak PENDAHULUAN
Menindak lanjuti Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun Dalam kehidupan modern seperti saat
2013 tentang Jaminan Kesehatan Pasal 43 ayat (1)
huruf a dalam rangka menjamin kendali mutu dan biaya ini, ilmu pengetahuan dan teknologi
dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2016,
Menteri Kesehatan selaku penanggung jawab eksekutif
berkembang pesat secara eksponensial,
membentuk Dewan Pertimbangan Klinis (clinical termasuk bidang ilmu kedokteran dan
advisory board) melalui Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor pelayanan kesehatan. Teknologi informasi dan
HK.02.02/MENKES/151/2016. Dua fungsi utama DPK komunikasi di era digital dan globalisasi
ialah upaya penguatan sistem dalam penyelenggaraan
Jaminan Kesehatan Nasional dan penyelesaian menciptakan banyak perubahan sosial.
sengketa klinis tripartit antara health provider – pasien
dan BPJS (berdasarkan pasal 26 ayat 3 Perpres Penggunaan teknologi tersebut di pelbagai
tersebut). DPK memberikan rekomendasi hasil putusan bidang kehidupan akan secara bermakna
kasus kepada Menteri Kesehatan, mendorong dibentuk
dan digunakannya Clinical Pathway oleh dokter dan mengubah perilaku masyarakat. Demikian
fasilitas pelayanan kesehatan yang didasarkan pada
Panduan Praktik Klinis dan Pedoman Nasional pula dengan kejahatan sebagai perilaku yang
Pelayanan Kedokteran yang dibuat organisasi profesi. dianggap merugikan masyarakat, mengalami
Dalam setahun, DPK berhasil memutuskan 6 kasus,
minimal menghemat Rp. 83,5 Milyar/tahun dari kasus, perluasan maupun peningkatan (diversifikasi)
melancarkan terhalangnya putusan Dewan
Pertimbangan Medis selama ini yang dikoordinasikan
baik mutu maupun kuantitasnya, termasuk
oleh BPJS. Pendekatan imparsial independen sebagai dalam penyelenggaraan Jaminan Kesehatan
ruh spesialis forensik dan medikolegal dan kemampuan
mengungkap secara etikolegal penyimpangan indikasi Nasional (JKN) yang dimulai awal tahun 2015.
medis/terapi sebagai pangkal error, waste, abuse dan JKN yang secara bertahap dikembangkan dan
berlanjut ke fraud sistem pembiayaan JKN merupakan
kompetensi inti anggota DPK dan juga TPK yang diperkuat satu sistem pelayanan kesehatan
sedang dalam pembentukan di setiap propinsi dibantu
tim sekretariat Dinas Kesehatan setempat. Ke depan, dengan tekad pada tahun 2019 seluruh
DPK bersama BPJS akan memperkuat fungsi penentu penduduk Indonesia akan dicakup program
kondisi khusus untuk mengecualikan obat/alkes di luar
INA-CBG’s dan jalur klaim terpisah dalam rangka Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) selain
keselamatan pasien JKN (berdasarkan pasal 27 ayat 3
Perpres tersebut).
memiliki dimensi kemanfaatan dan kebaikan,
tidak terbebas dari dimensi kejahatan.
Kata kunci: pertimbangan klinis, jaminan kesehatan
nasional, mediko-etikolegal, imparsial independen Implementasi program nasional ini
berdasarkan UU No. 40 Tahun 2009 tentang
Afiliasi penulis: 1. Departemen Kedokteran Forensik dan Medikolegal,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sistem Jaminan Sosial Nasional dan UU No. 24
Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial (BPJS) yang ditindaklanjuti oleh
Pemerintah tidak terbebas dari potensi
kejahatan sebagai faktor penyerta dari para
aktor yang terlibat. Demikian pula
pelaksanaan JKN yang didasarkan
padaPeraturan Presiden Nomor 12 Tahun

26 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Agus Purwadianto, Peran dan Tugas.....

2013 tentang Jaminan Kesehatan, Menteri khusus obat/alat kesehatan maupun jalur
Kesehatan sebagai penjamin kendali mutu klaim terpisah di luar skema INA-CBG’s dalam
dan kendali biaya penyelenggaraan JKN pengaturan tersendiri dalam rangka upaya
berupaya untuk mewujudkan Indonesia kendali mutu – kendali biaya, sepanjang
sebagai negara kesejahteraan dalam bidang dalam rangka keselamatan pasien JKN.
kesehatan. Konstelasi pelayanan kesehatan Dalam fungsi penyelesaian sengketa
era JKN pada dasarnya terdiri atas interaksi klinis, DPK memberikan rekomendasi hasil
tiga pihak, yakni:(1) BPJS, (2) pemberi putusan kasus kepada Menteri Kesehatan
pelayanan kesehatan yang mencakup fasilitas untuk ditindaklanjuti sesuai kewenangannya,
pelayanan kesehatan beserta tenaga terutama bila kasus tersebut berdampak
kesehatannya dan (3) pasien sebagai bagian nasional khususnya yang tinggi biaya. Fungsi
dari masyarakat. Konstelasi “tripartit”/tiga lain DPK ialah mendorong dibentuk dan
pihak dan dinamika interaksi para pihak digunakannya Clinical Pathway (CP) oleh
sebagai “bangunan baru” tak bebas dari dokter dan fasilitas pelayanan kesehatan
potensi kejahatan yang menyertainya. Bentuk berdasarkan sumberdaya yang telah dipakai
dan jenis kejahatan yang menyertainya dalam penanganan pasien sesuai
merupakan suatu penerapan pengabdian baru kebutuhannya. CP didasarkan pada Panduan
bagi dokter spesialis ilmu kedokteran forensik Praktik Klinis (PPK) yang wajib dibuat
dan medikolegal yang selama ini memiliki pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan
kemampuan analisis mediko-etikolegal dan Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran
ekspertis/pendapat ahli dalam pembuktian (PNPK) yang dibuat organisasi profesi. CP,
forensik dari kasus kejahatan yang mengenai sebagai “rekam medik plus”, artinya sebagai
tubuh manusia. barang bukti, secara mediko-etikolegal
merupakan sumber acuan utama
Fungsi Dewan Pertimbangan Klinis penyelesaian sengketa yang sifatnya teknis
Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun dan operasional berdasarkan keputusan klinis
2013 tentang Jaminan Kesehatan pasal 43 yang tepat pada penanganan pasien di
ayat (1) huruf a ditindaklanjuti Peraturan klinik/rumah sakit.
Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2016 CP merupakan hasil interaksi khas
tentang Pertimbangan Klinis dan Keputusan antara turunan PPK yang utamanya
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor berasaskan evidence-based medicine (EBM)
HK.02.02/MENKES/151/2016. Ketentuan dengan keunikan konteks pasien dari
perundang-undangan tersebut menegaskan interpretasi dinamika “kebutuhan pasien –
fungsi Dewan Pertimbangan Klinis (DPK atau kepentingan terbaik pasien” berbasis value-
clinical advisory board) yang dijalankan para based medicine (VBM), yang dimungkinkan
anggotanya di tingkat nasional. Dua fungsi diterapkannya wewanti (disclaimer) dokter
utama DPK ialah upaya penguatan sistem klinisi. Kekurangpahaman klinisi terhadap
dalam penyelenggaraan JKN dan penyelesaian kaidah dasar bioetika (KDB) dengan
sengketa klinis“tripartit” sebagaimana ketrampilan penerapan prinsip prima facie-
dimaksudpasal 26 ayat 3 Perpres tersebut. nya yang sering menjadi penentu keputusan
Dalam penguatan sistem, DPK bersama klinis membuat mereka enggan membuat CP
BPJS dapat merekomendasikan suatu kondisi dengan baik, tepat dan rapi. CP yang dilandasi

27 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Agus Purwadianto, Peran dan Tugas.....

keputusan klinis mengandung KDB akan untuk mengelabui pihak lainnya. Fraud dapat
memudahkan klinisi mengatasi dilema kendali dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi.
mutu – kendali biaya kasus yang ditanganinya. Klinisi sebagai dokter penanggung jawab
CP demikian dengan sendirinya memperkecil pelayanan (DPJP) beserta tenaga kesehatan
kejadian “lintasan menuju fraud” yang lain sebagai mitranya dalam penanganan
merupakan kejahatan terorganisasikan antara medis yang berpusat ke diri pasien. Klinisi
profesional dan korporasi, suatu varian dari yang profesional membingkai suatu
bentuk dan jenis kejahatan kerah putih. kemampuan interkolaborasi, bertekad
Lintasan menuju fraud bila ditinjau dari kadar semaksimal mungkin membuat CP setiap
penyimpangan perilaku pemberi pelayanan pasien JKN yang ditanganinya sebagai wujud
kesehatan yang terdiri dari rantai alur yang perilaku trias tanggungjawab profesi yakni
dimulai dari tahap error  waste  abuse  responsibilitas, akuntabilitas dan liabilitas.
fraud. Error sebagai pangkal penyimpangan Trias tanggungjawab disebut juga
awal terjadi karena ketidak-tahuan penulisan tanggungjawab etikolegal karena mencakup
keliru koding tanpa disertai niat jahat. sekaligus alur dengan urutan tanggungjawab
Khususnya oleh interpretasi koder yang bukan etis, disiplin dan hukum.
dokter, menafsirkan diagnosis dokter yang
tidak sesuai dengan ICD-10. Waste terjadi Identifikasi Peran Dokter Spesialis Forensik
inefisiensi (awal gagalnya kendali biaya) dan Medikolegal.
karena pemberian pelayanan yang tidak Dokter spesialis forensik dan
perlu/tidak sesuai dengan ICD-9 CM, karena medikolegal berkompeten melakukan
koding sebelumnya salah. Sedangkan abuse, pengumpulan dan pendokumentasian benda
ada aktor yang melihat kesempatan untuk bukti medis untuk disimpulkan dalam
menyimpangi aturan (misalnya beda tarif kesimpulan visum et repertum. Analisis
antara rawat jalan dengan rawat inap) mediko-etikolegal dalam kurikulum
sehingga melakukan tindakan upcoding. Juga pendidikan diasah ketika menganalisis kasus
memulangkan pasien sebelum waktunya pelanggaran etika dan hukum kedokteran.
karena paket manfaat masa perawatannya Kemampuan analisis kausalitas kompleks dari
tidak akan dibayar pihak BPJS kemudian medik ke hukum dan sebaliknya dari kasus
(bloody discharge).1 Selain itu juga rumah forensik yang ditanganinya, baik yang tertulis
sakit hanya akan menerima pasien JKN yang atau yang kemudian dijadikan kesaksian ahli
kaya dengan perlakuan lebih nyaman setelah serta pelatihan moot court persidangan etik
membayar premi tambahan atau tidak dan disiplin kedokteran dalam kurikulumnya
memberi insentif kepada pasien JKN penerima akan menajamkan kemampuan penyelesaian
bantuan iuran (dikenal sebagai cream sengketa klinis. Fungsinya sebagai “amicus
skimming). Abuse dalam bentuk tidak- curiae” (sahabat pengadilan) dan obyektifitas
tepatan tagihan pada umumnya dilakukan keilmuannya menempatkan posisinya sebagai
secara bersama-sama beberapa aktor pihak imparsial independen. Dalam sengketa
pemberi pelayanan kesehatan masih klinis, yang hampir semua menyidangkan
berdasarkan pelayanan sesungguhnya. masalah obat dan alat kesehatan, posisi
Sedangkan fraud merupakan tahapan akhir spesialis forensik dan medikolegal tidak
yang dilakukan bersama-sama secara sengaja memiliki konflik kepetingan. Hal-hal di atas

28 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Agus Purwadianto, Peran dan Tugas.....

menjadikan profesi spesialis tersebut lebih pendekatan kronologis, faktor-faktor


cepat memahami prosedural sidang penyebab fraud, baik faktor utama dokter/RS,
kemahkamahan, penulisan putusan pihak pasien atau BPJS sendiri. Demikian pula
sebagaimana menulis visum et repertum, pemahaman secara diakronis akan
mampu melakukan penjarakan (detachment) mempertimpangkan adanya aktor yang
dengan profesi spesialis lainnya, manajemen tamak, kesempatan dan paparan dari aktor
rumah sakit, pasien bahkan BPJS sendiri. pelaku. Selain itu juga kondisi lingkungan di
Karenanya SpFM layak menduduki anggota sekitar tempat kejadia perkara: adanya faktor
Tim Pertimbangan Klinis (TPK) propinsi predisposisi, enabler dan reinforcer.
tertentu. TPK merupakan penyelesai lini awal
sengketa klinis, sedangkan DPK menjadi SIMPULAN
majelis banding. 1. Selama masih didapati kelemahan
Dalam setahun, DPK yang dipimpin sistem dalam penyelenggaraan JKN
seorang SpFM berhasil memutuskan 6 kasus yang beberapa diantaranya belum
sengketa klinis. Untuk kasus anti kanker yang dihasilkannya ketentuan teknis
masuk golongan monoclonal antibody) operasional selama itu pula akan
dengan putusannya mengeluarkan obat didapati potensi jahat pelbagai aktor
tersebut dalam skema JKN, menurut profesi kedokteran.
perhitungan BPJS, bahwa DPK minimal 2. SpFM berpotensi besar untuk diangkat
menghemat Rp. 83,5 Milyar/tahun dari kasus menjadi anggota TPK Propinsi karena
tersebut.1 Kasus sengketa klinis lain yang kompetensinya. Namun untuk
diselesaikan adalah pembahasan masalah berkiprah diperlukan pemahaman
medis sekunder atau bahkan tersier yang mediko-etikolegal tingkat spesialistik
pada umumnya ada perbedaan tarif antara tertentu sebagaimana kedudukan
rawat jalan dengan rawat inap. Putusan dari SpFM sebagai spesialis untuk lebih
DPK pada akhirnya akan masuk ke pendekatan mampu mengungkap maupun
etikolegal berupa sistem integritas menjeratkan para aktor penyelenggara
pembayaran, yang akan mempersyaratkan JKN.
pemahaman lintasan menuju fraud sebagai

29 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Agus Purwadianto, Peran dan Tugas.....

DAFTAR PUSTAKA
1. Health Services Reseacrh Network, NHS
European Office Briefing, October, 2013,
Issue 16.

2. Data dari BPJS, tertanggal 2015.

30 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

CLINICAL AND PATHOLOGICAL FINDINGS IN MULTIPLE DEATHS DUE


TO DISSOLVED ALCOHOL TOXICITY
Andrew Rens Salendu 1, Putri Dianita Ika Meilia2

Abstract BACKGROUND
Dissolved alcohol intoxication, including methanol, is Alcohols can be divided into two
a serious problem in developing countries and has a
high mortality rate. Diagnosing alcohol intoxication major categories: ethyl alcohol (the only
can be problematic if there are limited resources and
if the patients are being admitted with clinical
type considered safe to drink and which is
manifestations which are already severe. This case used as an ingredient in alcoholic
report discusses five patients admitted into the
Emergency Ward of RSUP Persahabatan, Jakarta, beverages, fuels, solvents, disinfectants
with a history of ingesting dissolved alcohol; two of and presservatives), and others (methyl
them died soon after receiving emergency treatment.
Afterwards, autopsy was done and samples were alcohol and isopropyl alchohol, both of
taken from several organs and contents of the
gastrointestinal tracts of the two victims. The which are highly poisonous)1. The routes of
samples were given to the police for further tests in exposure include ingestion, inhalation and
the criminalistics laboratory. The diagnosis of alcohol
poisoning was established based on patient history, absorption through the skin. When
clinical findings, laboratory workouts done during the
patients hospital stay, post-mortem findings from ingested, its metabolized forms can cause
autopsy, and toxicology examinations. metabolic acidosis, neurologic sequelae,
Keyword: Alcohol, Methanol, Intoxication, Autopsy,
Toxicology and death.
Methanol is a colorless, water
Afiliation : 1. Forensic Medicine and Mortuary Department RSUP soluble liquid, and is metabolized by the
Persahabatan. Correspondence: Andrew Rens Salendu, email :
andysalendu@gmail.com, Mobile: +62 815-8688-2150 enzyme alcohol dehidrogenase into
formaldehyde and further into formic acid
by aldehyde dehydrogenease.. Both
formaldehyde and formic acid are toxic
substances, resulting in depression of the
central nervous system and acidosis and
lead to poor prognosis2. Aspiration of
vomit is a secondary event that an also be
the cause of death. The level of methanol
in blood consedered toxic/fatal is 400
mg/l, although this varies depending on
the individual and on the provision of
treatment. Co-ingestion of methanol with
ethanol will delay metabolism and further
delay the onset of toxicity3.The onset of
symptom onset can be from a few hours to
thirty hours.4
Globally, 3.8% of deaths were
atributable to alcohol, and its harmful use is

31 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Andrew Rens, clinical and pathological...

the leading risk factor for death in men aged difficulties, stomach pain, nausea,
15-595. Although the exact number of vomiting, and headaches. Of the five, two
alcohol poisoning casualties (both patients exhibited decreasing
intentialonal and unintentional) in Indonesia consciousness. Blurred or loss of vision
is difficult to determine, reports by the could not be determined due to the
media show that it remains a common depressed state of the central nervous
problem in the developing world, especially system.
among the lower socioeconomic classes.
Due to the high price of legal/imported Patient A (AS) Time admitted : 11.23, 26/11/2017.
alcoholic beverages, those unable to afford Time of Death : 00.40, 27/11/2017
Time of External Examination and autopsy : 07.20, 27/11/2017
them turn to illegal alcoholic drinks
Patient B (RBS) Time admitted : 11.00, 26/11/2017.
(“alkohol oplosan”=bootleg liquor, or
Time of Death : 07:53, 27/11/2017
dissolved alcohol), and these have a high Time of External Examination and autopsy : 13:30, 27/11/2017
incident of mortality6. In 2017, there were at
least 21 deaths in the Java island alone
Table 1. Timeline of hospital stay
reported in the media to be caused by
dissolved alcohol.
Normal Key:
Patient A Patient B
levels
RESULT AND DISCUSSION Ph 7.350-7.450 6,76 6,741

35-45
On November 26th, 2016, five men Pco2
mmHg
27,6 33,7

were admitted to the emergency ward of Po2


75-100
323,7 263,6
Normal
mmHg
Persahabatan Hospital. All five shared the 21-25
Hco3 4 4,6
Mmol/L
same history of drinking a concoction Urea (mg/dl) 19-44 mg/dl 34 36 Elevation

which consists of an unspecified energy Kreatinin 0,6-1,2


1,7 1,8
(mg/dl) mg/dl
drink and 70% alchohol the previous Glucose 70-200 Depressio
240 274
evening. After being reported to the mg/dl mg/dl n

Leucocyte
police, further information was obtained count
5-10 10^3/ul 14.48 28.88
that the patients have drunk at the same Na
135-145
132
mEq/l 131
locale in Cakung, an area in Eastern 3.5-4.5
K
mEq/l 5.8 6.4
Jakarta, that the concoction also included 98.00-107
Cl 103
water, honey and artifical coloring mEq/L 95

Clinical Findings
substances, and that there are five other Blood

victims that were referred to another pressure mmHg 201/91 90/70


Pulse x/minutes 101 90
hospital. The drink was sold at the cheap Respiratory
x/minutes 56 26
rate
price of 15.000 IDR/bottle.7 The five
patients in the emergency ward all showed
Table 2. Summary of clinical and
the same clinical presentation, though with
laboratory findings
varying degrees of severity. All presented
with generalized weakness, breathing
From the information above, the
presence of metabolic acidosis, elevated

32 | I S B N :978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Andrew Rens, clinical and pathological...

anion gap are valuable in supporting the the right fist, weighing three hundred and
diagnosis of alcohol intoxication. Blood and twenty grams. Soft white-red foam and
urine were also taken for alcohol testing, mucus were found in the trachea, while the
however, due to limitations in alcohol lungs were rubbery and oedematous, with
examination the samples were not taken the right lung weighing 825 grams and the
before the patients died. One of the patients left lung 850 grams. The liver was brown,
was tested for drug consumption with the rubbery, and weighted 1500 grams.
family’s consent, and the results (opiates, Examination of the gastrointestinal tracts
marijuana, amphetamine and cocaine) were showed general blood vessel enlargement,
all negative. with greenish-brown liquid inside stomach,
After the police issued an autopsy duodenum, small and large instestines.
request, and with the consent of both During autopsy, samples from all vital
families, autopsy was done with the results organs and contents of the gastrointestinal
as summarized below: tracts were taken and submitted to the
Patient A: External examination policemen-in-charge for further tests in the
showed reddish-violet livor mortis; capillary government criminalistics laboratory. The
enlargement in palpebral conjunctivae, above samples, plus two plastic bottles
cyanosis on tissues underneath hand containing the remains of drinks with a
cuticles; no signs of physical trauma or reddish tint, were examined, with the
needle tracks. The brain had an appearance objective to determine whether they contain
of generalized edema and general poisonous or harmful substances. The
enlargement of blood vessels. The size of the methods used were the Conway method,
heart was one and a half size of the right fist, Microdiffusion test, Gutzeits Test and
with cicatrix on the frontal side, measuring GC/GCMS. The results were postive for
7x5 centimeters. The respiratory tract was methanol and ethanol on all liquids taken
devoid of aspired substance, while the lungs from the gastrointestinal tracts during
were rubbery and oedematous, with the autopsy. The results from the remaining
right lung weighing 374 grams and the left drink showed positive result for methanol
lung 328 grams. The liver was brown, (10,94%) and Ethanol (3,78%). The results
rubbery, and weighted 1077 grams. The showed that all gastrointestinal contents
pelvis renalis part of the kidney showed contain the same substance that was found
ptechial hemorrages. Examination of the sold by the peddlers at the scene of the
gastrointestinal tract showed ptechial crime.
hemorrages on gastric mucose and general Gastrointestinal tracts were taken and
blood vessel enlargement, with brownish- submitted to the policemen-in-charge for
black liquid inside stomach, duodenum, further tests in the government
small and large instestines. criminalistics laboratory. The above samples,
Patient B: External examination plus two plastic bottles containing the
showed dark violet livor mortis; no signs of remains of drinks with a reddish tint, were
physical trauma or needle tracks. The brain examined, with the objective to determine
had general enlargement of blood vessels on whether they contain poisonous or harmful
cerebrum, cerebrum, and brain stem. The substances. The methods used were the
size of the heart was one and a half size of Conway method, Microdiffusion test,

33 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Andrew Rens, clinical and pathological...

Gutzeits Test and GC/GCMS. The results findings, and toxicology examinations. The
were postive for methanol and ethanol on standard remains blood level alcohol tests,
all liquids taken from the gastrointestinal however, blood methanol is measured using
tracts during autopsy. The results from the gas chromatography in specialty
remaining drink showed positive result for laboratories, and the measurement can take
methanol (10,94%) and Ethanol (3,78%). The many hours to a few days to complete9.
results showed that all gastrointestinal Simple examinations such as the Conway
contents contain the same substance that Method should be ready for screening and
was found sold by the peddlers at the scene quick results. Other alternative methods in
of the crime. clinical cases are breath analysis and saliva
dipstick.10 Further work should include
ophthalmology consult (for retinal damage
with blindness), complete neurological and
psychiatric consults (for presence of
dysfunction and psychological changes), and
laboratory workout for lactate and
osmolarity levels to determine the elevation
Clinical manifestations of acute alcohol
of osmolal gap. Microscopic pathological
intoxications are heterogenous, involving
organ examinations, if done, can provide
several different organs with effects on
further proof of the toxic effects of alcohol,
metabolism, behaviour, and organic effects
which include necrosis of the putamen.
(heart, gastrointestinal tract, lungs,
Additional information regarding history and
neurologic system) Clinical diagnosis of
scene evidence can be obtained by close
alcohol intoxication is obtained through the
coordination with the policemen in charge.
following steps8:

CONCLUTION

The conclusion of death due to


alcohol poisoning was drawn from the
patients’ history, clinical findings, autopsy

REFERENCES
1. Bigelow, BC. Edgar, KJ. UXL ENCYCLOPEDIA 5. Trestrail III, JH. Criminal Poisoning, Humana
OF DRUGS & ADDICTIVE Press, p121
2. SUBSTANCES, VOL.1. Thomson-Gale, 2006. 6. Global status report on alcohol and health
p26-29 2011. Retrieved from
3. Prahlow J. Forensic Pathology for Police, http://www.who.int/substance_abuse/public
Death Investigators, Attorneys and Forensic ations/global_alcohol_report/msbgsruprofile
Scientists. Humana Press, 2010. P288 s.pdf
4. Methanol poisoning outbreaks. World Health 7. Alcohol in Indonesia. In Wikipedia. Retrieved
Organization. Retrieved May 1st, 2017 from June 19, 2017, from
http://www.who.int/environmental_health_ https://en.wikipedia.org/wiki/Alcohol_in_Ind
emergencies/poisoning/methanol_informatio onesia#Illegal_alcohol.
n.pdf

34 | I S B N 978-602-50127-0-9
: Pekanbaru, 15-16 Juli 2017
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Andrew Rens, clinical and pathological...

8. Bellarminus, R. (2016, November 28). Ini American Society of Nephrology.


Bahan Miras Oplosan yang Tewaskan 10 Published online before print November
Orang di Cakung. Retrieved June 19, 2007. Retrieved June 19, 2017, from
2017, from http://cjasn.asnjournals.org/content/3/1/
http://megapolitan.kompas.com/read/20 208.full
16/11/28/13272311/ini.bahan.miras.oplo
san.yang.tewaskan.10.orang.di.cakung 11. Vonghia L. Leggio L. Ferrulli A. Et al. Acute
alcohol intoxication. European Journal of
9. Loomis TA. Hayes AW. Loomis’ Essentials Internal Medicine. Vol 19. Issue 8, 2008.
of Toxicology, Fourth Edition. Academic p561-56
Press, 1996. p 251

10. Kraut, JA. Kurtz, I. Toxic Alcohol


Ingestions: Clinical Features, Diagnosis,
and Management. Clinical Journal of the

35 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

Peran Otopsi Forensik Dalam Penegakkan Hukum


Aryo Valianto1, Noorman Herryadi2

Abstrak PENDAHULUAN
Kematian adalah suatu keadaan yang menyebabkan Awal tahun 2016 lalu telah terjadi
terjadinya gangguan permanen pada sistem susunan
saraf pusat, sistem kardiovaskuler dan sistem suatu kasus yang cukup menyedot perhatian
respirasi, apabila salah satu sistem terganggu, maka
akan mempengaruhi sistem lainnya. Untuk
publik. Tewasnya seorang wanita di sebuah
mengetahui penyebab kematian (cause of death), cafe sesaat setelah ia meminum kopi.
perlu dilakukan pemeriksaan luar dan dalam terhadap
jenazah (otopsi). Otopsi forensik dilakukan apabila ada Dugaan siapa pelaku mengerucut kepada
permintaan dari pihak kepolisian berupa Surat teman korban yang memesankan minuman
Permintaan Visum (SPV) untuk melakukan
pemeriksaan luar dan dalam. Dengan mengkaji dari tersebut, selanjutnya berita tentang dugaan
literatur yang ada tentang pentingnya mengetahui
cause of death (COD) terhadap suatu kasus yang peracunan mulai beredar di media online
diduga ada tindak pidana, diharapkan ilmu kedokteran sebelum pemeriksaan resmi untuk
forensik dan medikolegal memang berperan penting
dalam menegakkan hukum. memastikan penyebab kematian korban
Kata Kunci: Forensik, Cause of death, Surat
dilakukan. Persidangan kasus ini pun
Permintaan Visum, Otopsi, Sianida
disiarkan di televisi secara luas. Masyarakat
Afiliasi Penulis : 1. Dept./SMF Forensik dan Medikolegal Fakultas
Kedokteran Universitas Padjadjaran – RSUP Dr. Hasan Sadikin menyaksikan perseteruan antara pihak jaksa
Bandung Korespondensi: Aryo Valianto, email:
ryoedogawa@gmail.com yang menuntut dan pengacara yang
membela kliennya. Masing-masing pihak
memanggil saksi-saksi termasuk saksi ahli
untuk dimintakan pendapatnya. Saksi ahli
dalam bidang ilmu kedokteran forensik dan
medikolegal dihadirkan, masing-masing
mengutarakan pendapat berdasarkan
keilmuwannya.
Ilmu Kedokteran Forensik merupakan
salah satu cabang spesialistik dari ilmu
kedokteran yang mempelajari pemanfaatan
ilmu kedokteran untuk kepentingan
penegakan hukum serta keadilan.1 Pada
zaman dulu orang lebih mengenal pelayanan
forensik dengan pelayanan patologi, yaitu
pelayanan forensik untuk korban yang
meninggal. Dalam membantu proses
peradilan guna terangnya suatu perkara
pidana, seorang dokter juga mempunyai
kewajiban yang tidak kalah pentingnya
dengan tugas kemanusiaan. Korban
kejahatan harus memperoleh keadilan yang

36 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Aryo Valianto, Peran Otopsi...

memadai, terdakwa perlu diganjar dengan Pada kasus dengan dugaan


memperoleh hukuman yang setimpal (sesuai keracunan, maka sampel yang diperlukan
dengan kejahatan yang terbukti), sedangkan antara lain:7-9
orang yang tidak bersalah harus dilindungi  Darah dari jantung sebanyak 50 ml – 100
dari hukuman yang tidak seharusnya dia ml.
terima.2  Darah dari vena femoralis atau vena
Sumbangan Ilmu Kedokteran subclavia sebanyak 10 ml – 20 ml.
Forensik dalam membantu penyelesaian  Isi lambung sebanyak 50 ml atau
proses penyidikan perkara pidana yang sebanyak yang didapatkan.
menyangkut nyawa manusia, dituangkan  Urine sebanyak 50 ml atau sebanyak yang
dalam bentuk Visum et Repertum.3 Visum et didapatkan.
Repertummenjadi pengganti barang bukti  Organ-organ seperti otak, hati, paru-paru,
dalam pasal 184 Kitab Undang-undang ginjal, otot, jaringan lemak.
Hukum Pidana digolongkan ke dalam bukti  Empedu.
surat.4 Visum et Repertum ini baru bisa  Kulit kepala, rambut, kuku jari tangan dan
dibuat apabila pihak kepolisian (penyidik) kaki.
mengajukan secara langsung Surat  Vitreus humour.
Permintaan Visum et Repertum, seperti yang  Cairan perikardium sebanyak 50 ml at au
telah disebutkan pada pasal 133 KUHAP (1) tsebanyak yang didapatkan.
Dalam hal penyidik untuk kepentingan
 Cairan serebrospinal.
peradilan menangani seorang korban baik
 Kulit dan jaringan di bawah kulit seluas 2
luka, keracunan ataupun mati yang diduga
cm X 2 cm X 1 cm (bila racun diduga
karena peristiwa yang merupakan tindak
masuk melalui kulit ).
pidana, ia berwenang mengajukan
 Isi usus halus dan usus besar secukup
permintaan keterangan ahli kedokteran
yang diperlukan.
kehakiman atau dokter atau ahli lainnya. (2)
 Cairan di rongga dada (bila sudah ada
Permintaan keterangan ahli sebagaimana
proses pembusukan).
dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
 Tulang dan sum-sum tulang (bila proses
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan
pembusukannya sudah tingkat lanjut).
dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
 Belatung dan serangga lainnya yang
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan
ditemukan pada jenazah yang sudah
bedah mayat.5
membusuk.
HASIL DAN PEMBAHASAN Contoh kasus yang akan dibahas
Kematian adalah suatu keadaan yang pada tulisan ini berdasarkan jurnal laporan
menyebabkan terjadinya gangguan kasus kematian yang disebabkan oleh
permanen pada sistem susunan saraf pusat, keracunan sianida. Kasus pertama adalah
sistem kardiovaskuler dan sistem respirasi, kasus keracunan sianida akibat kecelakaan,
apabila salah satu sistem terganggu, maka seorang pria yang memiliki toko perhiasan
akan mempengaruhi sistem lainnya.6 Untuk dan biasa bekerja dengan menggunakan
mengetahui penyebab kematian pada gold plating powder yang mengandung
seseorang, perlu dilakukan pemeriksaan sianida.10 Kasus kedua merupakan penelitian
otopsi. kasus kematian akibat keracunan sianida di

37 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Aryo Valianto, Peran Otopsi...

Pusat Nasional Forensik (National Forensic organ dalam seperti jantung dan paru-paru
Service Headquarters) di Seoul, Korea.11 pun dapat berwarna merah terang.10,12
Kasus ke tiga adalah kasus seorang laki-laki Namun, tidak semua kasus memberikan
yang meninggal setelah meminum sebotol gambaran seperti ini. Dari empat jurnal di
bir di sebuah bar.12 Kasus ke empat adalah atas, dua jurnal menyebutkan temuan
penyelidikan terhadap empat kasus tersebut, namun dua jurnal yang lain tidak
13
kematian akibat keracunan sianida. menyebutkan.
Untuk dapat menunjukkan suatu Dari keempat jurnal di atas,
tindak pidana merupakan sebab dari suatu dilakukan pemeriksaan otopsi sesuai dengan
akibat yang terjadi, perlu dipahami bahwa di prosedur standar, disertai dengan
antara keduanya harus terdapat hubungan pengambilan sampel untuk pemeriksaan
sebab akibat. Hubungan kausal tersebut toksikologi. Sampel yang diambil antara lain
diputuskan oleh hakim berdasarkan paru-paru, hati, jantung, otak, darah yang
keyakinannya akan alat-alat bukti yang berasal dari jantung, darah dari vena
ditunjukkan di depan pengadilan. Menurut femoralis, isi lambung, empedu, ginjal, limpa
teori yang sederhana, setiap syarat yang dan mouth swab. Sianida ditemukan pada
berkaitan dengan peristiwa pidana tersebut darah jantung, darah vena femoral, isi
merupakan sebab, dan masing-masingnya lambung, hati, ginjal dan limpa. Kadar
memiliki nilai atau bobot hubungan yang mematikan dari sianida adalah 1-100 mg/L di
sama. Menurut teori yang lebih kompleks dalam darah, 0,1-43 mg/kg di dalam hati dan
hubungan dari masing-masing syarat adalah 2-4000 mg/L di dalam isi lambung.10-13
berbeda-beda. Tiap-tiap teori memandang Kematian akibat keracunan sianida
bobot hubungan dengan melihat kepada jarang ditemukan (karena kasusnya jarang),
pengetahuan umum yang ada dengan sehingga setiap kasus mati mendadak perlu
kemungkinan adanya perubahan kompleks dievaluasi ulang dan dipertimbangkan
keadaan menuju ke arah terjadinya akibat, adanya kemungkinan telah terjadi kasus
dan syarat yang demikian disebut sebagai keracunan.12 Bukti-bukti yang didapat pada
sebab.14 pemeriksaan kedokteran forensik
Melihat contoh sebab akibat merupakan bukti-bukti tidak langsung
dengan kasus keracunan sianida, maka harus (sirkumtansial) yang dihasilkan dari suatu
diketahui reaksi sianida di dalam tubuh dan perbuatan tindakan pidana. Pemeriksaan
bagaimana mekanismenya sampai kedokteran forensik yang sesuai dengan
menyebabkan kematian. Sianida mengikat prosedur yang benar dan akurat, akan
ion besi pada komplek a-a3 sitokrom membantu menegakkan hukum.14
oksidase yang menyebabkan terhambatnya SIMPULAN
metabolisme aerobik, oksigen tidak bisa Visum et Repertum merupakan surat
diikat oleh enzim sitokrom oksidase, oksigen yang berisi laporan hasil pemeriksaan
tidak dapat masuk ke dalam sel, sehingga kedokteran forensik atas barang bukti dalam
ATP tidak dapat dihasilkan. Hal ini rangka penyidikan polisi. Dan sebaiknya,
selanjutnya menyebabkan gangguan yang dokter saat melakukan pemeriksaan
cepat pada fungsi organ-organ vital. Darah mendapatkan informasi tentang keadaan
yang kaya akan oksigen, memberikan warna korban yang diperiksanya, baik melalui
lebam mayat warna merah terang. Organ- heteroanamnesa maupun autoanamnesa.12

38 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Aryo Valianto, Peran Otopsi...

Tanpa otopsi yang sesuai dengan memecahkan kasus tindak pidana sehingga
prosedur yang benar, tidak mungkin dapat terdakwa dapat dihukum (sesuai dengan
ditentukan sebab kematian secara pasti.3 kejahatan yang terbukti dalam mahkamah)
Dengan otopsi yang dilengkapi pemeriksaan dan keadilan dapat ditegakkan.12
penunjang, hasilnya dapat membantu

DAFTAR PUSTAKA

1. Budianto A, dkk, Ilmu Kedokteran Forensik, Edition. New Jersey: Humana Press. 2007. 76-
edisi pertama, cetakan kedua, Jakarta : Bagian 77p.
Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia: 1997. 9. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik
Indonesia Nomor 10 tahun 2009 Paragraf 3
2. Rumancay S, Rohmah NI. Ekshumasi Untuk tentang Pemeriksaan Barang Bukti Keracunan,
Membantu Proses Peradilan. Prosiding Konas Pasal 59 ayat 2.
PDFI 2016. Hal 34
10. Pradhan M, Pawar A, Chand S, Behera C, Dikshit
3. Idris AM, Tjiptomartono AL. Penerapan Ilmu PC. Accidental Cyanide Poisoning From
Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan. Inhalation Of Gold Polishing Chemical:An
Cetakan kedua. Jakarta: Sagung Seto. 2011. Hal Unusual Case Report. J Punjab Acad Forensic
1, 48 Med Toxicol 2012;12(2)

4. Sapardja SE. Peranan Visum et Repertum Bagi 11. Lee KS, Rhee JS, Yum HS. Cyanide Poisoning
Penegakkan Hukum Yang Adil dan Berkepastian Deaths Detected at The National Forensic
Hukum. Prosiding Konas PDFI 2016. Hal 130. Service Headquarters in Seoul of Korea: A Six
Year Survey (2005~2010). Official Journal of
5. Soerodibroto S. KUHP & KUHAP Dilengkapi Korean Society of Toxicology. Vol. 28, No. 3, pp.
Yurisprudensi Mahkamah Agung dan Hoge 195-199 (2012)
Raad, edisi keempat, cetakan ketujuh,
RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2002. 12. Nnoli MA, Legbosi NL, Nwafor PA, Innocent I,
Chukwuonye. Toxicological Investigation of
6. Idries AM, Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik, Acute Cyanide Poisoning of a 29-year-old Man:
edisi pertama, cetakan pertama, Binarupa A Case Report. Iranian Journal of Toxicology.
Aksara, 1997. Volume 7, No 20, Spring 2013.

7. G, Meyer VL. Recommendation for Sampling 13. Shafi H, Imran M, Usman FH, Ashiq MZ, Sarwar
Postmortem Spesimens for Forensic M, Tahir MA. Toxicological Investigation of
Toxicologycal Analyses and Special Aspects of A Acute Cyanide Poisoning Cases: Report of Four
Postmortem Toxicology Investigations. Cases. Arab Journal of Forensic Sciences and
Guideline for Quality Control in Forensic Forensic Medicine 2015; Volume 1 Issue (2),
Toxicologycal Analyses. June 2004. 230-236.

8. Trestrail HJ. Criminal Poisoning Investigational 14. Sugiharto FA. Praktek Forensik Berbasis Bukti:
Guide for Law Enforcement, Toxicologists, Menghubungkan Bukti Sirkumtansial dengan
Forensic Scientists and Attorneys. Second Pendapat Ahli. Prosiding Konas PDFI 2016. Hal
134.

39 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


STUDI EVALUASI PELAKSANAAN INFORMED CONSENT PADA
TINDAKAN INVASIF BERISIKO TINGGI
DI RSUP. DR. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN
Beta Ahlam Gizela1

Abstrak PENDAHULUAN
Informed Consent adalah akad antara dokter dan pasien Hubungan antara dokter dan pasien
dalam transaksi terapeutik, sebelum dilakukan langkah
pemeriksaan maupun tindakan medis lebih lanjut. dalam suatu pengobatan adalah hubungan
Informed Consent sangat penting bagi hubungan dokter
dan pasien, mengingat di dalamnya terbingkai hubungan
berdasarkan kepercayaan. Seorang pasien
saling percaya, saling membutuhkan, saling datang kepada dokter untuk mendapatkan
menghormati, dan saling membantu dalam mengatasi
masalah kesehatan yang dihadapi pasien. Informed pengobatan adalah dilandasi rasa percaya
Consent pula yang nantinya dapat digunakan sebagai bahwa dokter tersebut dapat
alat penengah tatkala terjadi perselisihan antara pasien
dan dokter jika terjadi luaran dari tindakan medis yang menyembuhkan penyakitnya. Seiring dengan
tidak diharapkan. Setiap dokter harus melakukan
Informed Consent, dengan baik dan benar sesuai perkembangan peri kehidupan manusia,
dengan jenis kasus yang ditangani. Melakukan informed landasan kepercayaan tersebut perlu
consent dengan baik dan benar adalah sesuai dengan
kaidah etik dan hukum. Tujuan penelitian ini adalah dilembagakan, dalam suatu aturan etik dan
melakukan evaluasi pelaksanaan informed consent
antara dokter dan pasien, agar mampu memberikan
hukum.
perlindungan hukum baik bagi dokter maupun pasien. Pada tindakan medis, dikenal yang
Artikel ini disusun berdasarkan penelitian dengan desain
observasional. Dokumentasi pemberian informasi dan disebut informed consent, yaitu kontrak
persetujuan tindakan di bagian Bedah lebih lengkap
dibandingkan dengan bagian Penyakit Dalam (belum
antara dokter dan pasien. Kontrak di sini
100%). Perbedaan ini secara statistik juga bermakna tentu tidak memiliki pengertian
(Chi square). Kesadaran dokter bagian Bedah atas
potensi terjadinya sengketa medis yang mengikuti sebagaimana kontrak yang dikenal dalam
tindakan berisiko tinggi mempengaruhi upaya mereka dunia bisnis yang serba matematis. Kontrak
dalam membuat dokumentasi yang lebih baik. Data
serial menunjukkan tidak ada peningkatan kelengkapan antara dokter dan pasien lebih bertujuan
dokumentasi informed consent selama 6 bulan.
Kelengkapan dokumentasi informed consent bagian agar pasien mengetahui apa yang menjadi
Bedah lebih baik daripada bagian Penyakit Dalam, dan pilihan sebelum memutuskan untuk memilih
perlu terus ditingkatkan. Kesadaran untuk melindungi
kepentingan pasien dan dokter perlu terus tindakan medis tertentu.
disosialisasikan.
Informed consent, yang terdiri dari
Afiliasi Penulis : 1. Fakultas Kedokteran UGM/RSUP dr. Soeradji dua komponen yaitu pejelasan dan
Tirtonegoro.
Korespondensi: Beta Ahlam Gizela, email : betagizela@ugm.ac.id, persetujuan medis, dapat dilakukan secara
Telp/Hp: 08157927896
0274280298 lisan atau tertulis. Untuk tindakan yang
bersifat invasif dan mengancam jiwa
dibutuhkan informed consent dibuat
tertulis. Dokumen ini menjadi penting jika
kemudian terjadi kerugian pasca tindakan
medis, yang umumnya berkembang menjadi
tuntutan pasien terhadap dokter yang
merawatnya.
Dari latar belakang yang telah
disampaikan, muncul permasalahan tentang
bagaimana pelaksanaan informed consent
tindakan invasif dan berisiko tinggi di RSUP dr.
Soeradji Tirtonegoro dan pendokumentasian
informed consent tindakan invasif dan

40 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Beta Ahlam Gizela, Studi Evaluasi...

berisiko tinggi di RSUP dr. Soeradji nonmaleficence, dan justice yang ditujukan
Tirtonegoro. untuk menjaga ketersediaan akses layanan
kesehatan bagi yang membutuhkan. Untuk
METODE menjaga kepentingan kedua belah pihak,
Penelitian bertujuan untuk ada berbagai hal dalam hubungan dokter
memperoleh gambaran mengenai dan pasien yang kemudian diatur khusus
pelaksanaan informed consent tindakan masalah hak dan kewajiban dokter dan
invasif dan berisiko tinggi di RSUP dr. pasien, rahasia medis, dan informed
Soeradji Tirtonegoro. Dalam penelitian ini consent. Pada tindakan medis, dikenal yang
dilakukan kajian etik dan hukum yang disebut informed consent, yaitu kontrak
bertujuan untuk evaluasi terhadap antara dokter dan pasien. Kontrak di sini
manajemen informed consent tindakan tentu tidak memiliki pengertian
invasif dan berisiko tinggi, yang merupakan sebagaimana kontrak yang dikenal dalam
hal mendasar dalam pelayananan dunia bisnis yang serba matematis. Kontrak
kesehatan. antara dokter dan pasien lebih bertujuan
Desain penelitian ini adalah agar pasien mengetahui apa yang menjadi
observasional. Subjek penelitian adalah pasien pilihan sebelum memutuskan untuk
memilih tindakan medis tertentu 1.
yang mengalami tindakan medis invasif
berisiko tinggi di RSUP Dr. Soeradji Informed consent yang terdiri dari
Tirtonegoro. Besar sampel dihitung dua komponen yaitu penjelasan dan
berdasarkan Stratified Simple Sampling. Data persetujuan medis, dapat dinyatakan
pelaksanaan informed consent diambil dari (expressed consent) secara lisan (oral) atau
dokumentasi rekam medis dan wawancara tertulis (written), ataupun tidak
dengan tenaga kesehatan. Hasil penelitian dinyatakan (implied) dimana pasien
dianalisis secara statistik deskriptif, analitik, melakukan gerakan yang menunjukkan
dan kualitatif. jawabannya; misal pada pendonor darah
yang mengulurkan lengannya ketika akan
HASIL DAN PEMBAHASAN diambil darahnya. Untuk tindakan yang
bersifat invasif dan mengancam jiwa
Hubungan antara dokter dan pasien dibutuhkan informed consent tertulis.
dalam suatu pengobatan adalah hubungan Dokumen ini menjadi penting jika
berdasarkan kepercayaan. Seorang pasien kemudian terjadi kerugian pasca tindakan
datang kepada dokter untuk mendapatkan medis, yang umumnya berkembang
pengobatan dengan dilandasi rasa percaya menjadi tuntutan pasien terhadap dokter
bahwa dokter tersebut dapat yang merawatnya 2.
menyembuhkan penyakitnya. Seiring dengan Dalam pelayanan medis dikenal
perkembangan peri kehidupan manusia, prinsip dasar etik kedokteran yaitu
landasan kepercayaan tersebut perlu autonomy, prinsip beneficence,
dilembagakan, dalam suatu aturan etik dan nonmaleficence, dan justice. Penegakan
hukum. prinsip-prinsip di atas terutama ditujukan
Dalam pelayanan medis dikenal untuk menjaga ketersediaan akses layanan
prinsip dasar etik kedokteran yaitu kesehatan bagi yang membutuhkan. Untuk
autonomy, prinsip beneficence, menjaga kepentingan kedua belah pihak,

41 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia

ada berbagai hal dalam hubungan dokter pasien dementia dan idiot) dan gangguan
pasien yang kemudian diatur khusus kesadaran (misalnya pada kondisi pasien
masalah hak dan kewajiban dokter dan pingsan, koma dan stroke) maka
pasien, rahasia medis, dan informed diperbolehkan mengambil informed
consent, sebagaimana tercantum dalam consent dari istri/suami pasien, anak
Kode Etik Kedokteran Indonesia dan pasien, orang tua atau wali (jika pasien
Undang-Undang Praktik Kedokteran. masih anak-anak) atau anggota keluarga
Pemahaman informed consent pasien yang lain. Hal ini disebut proxy
secara sederhana adalah bahwa sebelum consent. Proxy consent sedapat mungkin
diminta untuk memberi persetujuan harus mendekati apa yang sekiranya akan
terhadap suatu tindakan, pasien telah diberikan oleh pasien apabila pasien
diberi informasi tentang tindakan yang tersebut mampu memberikannya3.
akan dilakukan, risiko, alternatif, serta Penetapan batas usia dewasa dalam buku
tingkat keberhasilannya. Secara rinci ini berlandasan pada KUHPerdata. Batas
informasi yang harus disampaikan adalah usia dewasa menurut Manual Konsil
deskripsi tindakan yang direkomendasikan, Kedokteran Indonesia tentang persetujuan
risiko, dan keuntungannya, alternatif tindakan medik selanjutnya mengacu pada
tindakan lain yang bisa ditempuh, akibat batas usia dewasa atau bukan anak-anak
jika tidak dilakukan tindakan, kemungkinan menurut Undang-Undang Perlindungan
keberhasilan tindakan (termasuk apa yang Hak Anak4.
dimaksud dengan keberhasilan), lamanya Penelitian dilakukan pada pasien
penyembuhan42 | P a g e , dan informasi rawat inap bagian Bedah dan Penyakit
lain yang dianggap perlu 1. Dalam. Penelitian dilakukan dengan
Pasien yang bisa dimintai informed melakukan kajian dokumen rekam medis
consent adalah pasien yang cakap atau pasien yang dirawat dalam kurun waktu 6
kompeten. Secara hukum, seseorang bulan. Seratus pasien diambil dari tiap
dianggap cakap (kompeten) adalah jika bagian. Gambaran pasien berdasarkan
telah dewasa, sadar, dan berada dalam kelompok usia ditampilkan dalam gambar
keadaan mental yang tidak dibawah 1. Pasien didominasi dengan kelompok
pengampuan. Dewasa diartikan telah dewasa, kelompok usia yang mampu
mencapai usia 21 tahun, atau yang telah melakukan informed consent jika syarat
pernah menikah. Doktrin informed consent pasien kompeten lainnya terpenuhi.
tidak berlaku pada kondisi keadaan darurat
medis, ancaman terhadap kesehatan
masyarakat, pelepasan hak memberikan
consent (waiver), clinical privilege, dan
pasien tidak kompeten. Pada kondisi
pasien tidak bisa memberikan informed
consent sendiri karena masih anak-anak
(usia pasien kurang dari 21 tahun),
gangguan kognisi (misalnya pada kondisi

42 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Beta Ahlam Gizela, Studi Evaluasi...

Gambar 1. Distribusi pasien berdasarkan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan
usia dalam tahun (%) dilakukan oleh dokter atau dokter gigi
terhadap pasien harus mendapat
Seratus pasien yang terlibat dalam persetujuan. Persetujuan diberikan setelah
penelitian diambil secara acak, dan pasien mendapat penjelasan secara
diperoleh distribusi berdasarkan jenis lengkap. Penjelasan yang diberikan
kelamin, pasien perempuan cenderung sekurang-kurangnya mencakup diagnosis
lebih banyak dari laki-laki. Hasil disajikan dan tata cara tindakan medis; tujuan
dalam gambar 2. Jenis kelamin tidak tindakan medis yang dilakukan; alternatif
mempengaruhi kompetensi seorang pasien tindakan lain dan risikonya; risiko dan
dalam melakukan informed consent. komplikasi yang mungkin terjadi; dan
prognosis terhadap tindakan yang
5
dilakukan .
Dalam Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor
290/Menkes/Per/III/2008 Tentang
Persetujuan Tindakan Kedokteran
diuraikan bahwa persetujuan tindakan
kedokteran diberikan oleh pasien atau
keluarga terdekat setelah mendapat
penjelasan secara lengkap mengenai
Gambar 2. Distribusi pasien berdasarkan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi
jenis kelamin (%). yang akan dilakukan terhadap pasien.
Dalam pelaksanaan informed Semua tindakan kedokteran yang akan
consent, sering timbul kendala yang lazim dilakukan terhadap pasien harus mendapat
ditemui baik oleh dokter maupun oleh persetujuan terlebih dahulu. Persetujuan
pasien. Keluhan pasien antara lain bahasa dapat diberikan secara tertulis maupun
yang dipakai oleh dokter untuk lisan. Persetujuan diberikan setelah pasien
menjelaskan terlalu teknis, perilaku dokter mendapat penjelasan yang diperlukan
yang terlihat terburu-buru atau tidak tentang perlunya tindakan kedokteran
perhatian, atau tidak ada waktu untuk dilakukan. Setiap tindakan kedokteran
tanya jawab, pasien sedang stress yang mengandung risiko tinggi harus
emosional sehingga tidak dapat mencerna memperoleh persetujuan tertulis yang
informasi, pasien dalam kondisi tidak sadar ditandatangani oleh yang berhak
atau mengantuk. Sebaliknya dokterpun memberikan persetujuan. Tindakan
juga mengeluhkan pasien yang tidak mau kedokteran yang tidak berisiko tinggi dapat
diberitahu, pasien yang tidak mampu diberikan dengan persetujuan lisan6.
memahami, risiko terlalu umum atau Tindakan berisiko tinggi terbanyak pada
jarang terjadi, situasi gawat darurat, atau penelitian di kedua bagian adalah transfusi
waktu yang sempit 3. dan eksisi biopsi. Jumlah responden
UU Praktik Kedokteran (UU No. 29 dengan tindakan risiko tinggi di bagian
th. 2004) Pasal 45 tentang Informed bedah sebanyak 86 pasien dan bagian
Consent mengamanatkan setiap tindakan dalam sebanyak 40 pasien (Gambar 3).

43 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia

Telah disampaikan bahwa pasien


diminta persetujuan setelah mendaaptkan
informasi yang cukup tentang tindakan
medis yang akan dilakukan. Penjelasan
harus diberikan langsung kepada pasien
dan atau keluarga terdekat, baik diminta
maupun tidak diminta. Penjelasan
Gambar 3. Distribusi pasien berdasarkan sekurang-kurangnya mencakup diagnosis
tindakan berisiko tinggi (%) dan tata cara tindakan kedokteran; tujuan
tindakan kedokteran yang dilakukan;
Dalam keadaan gawat darurat, alternatif tindakan lain dan risikonya; risiko
untuk menyelamatkan jiwa pasien dan dan komplikasi yang mungkin terjadi;
atau mencegah kecacatan tidak diperlukan prognosis terhadap tindakan yang
6
persetujuan tindakan kedokteran. dilakukan, dan perkiraan pembiayaan .
Keputusan untuk melakukan tindakan Penjelasan diberikan oleh dokter
kedokteran diputuskan oleh dokter atau atau dokter gigi yang merawat pasien atau
dokter gigi dan dicatat di dalam rekam salah satu dokter atau dokter gigi dari tim
medik, yang sesegera mungkin wajib dokter yang merawatnya. Jika dokter atau
diberikan penjelasan kepada pasien setelah dokter gigi yang merawatnya berhalangan
pasien sadar atau kepada keluarga untuk memberikan penjelasan secara
terdekat6. langsung, maka pemberian penjelasan
Persetujuan tindakan kedokteran harus didelegasikan kepada dokter atau
dapat dibatalkan atau ditarik kembali oleh dokter gigi lain yang kompeten. Tenaga
yang memberi persetujuan sebelum kesehatan tertentu dapat membantu
dimulainya tindakan. Pembatalan memberikan penjelasan sesuai dengan
persetujuan tindakan kedokteran harus kewenangannya. Tenaga kesehatan
dilakukan secara tertulis oleh yang tertentu yang dimaksud adalah tenaga
memberi persetujuan. Pasien juga memiliki kesehatan yang ikut memberikan
hak untuk menolak suatu tindakan. pelayanan kesehatan secara langsung
Penolakan tindakan kedokteran dapat kepada pasien6.
dilakukan oleh pasien dan atau keluarga Penjelasan harus diberikan secara
terdekatnya setelah menerima penjelasan lengkap dengan bahasa yang mudah
tentang tindakan kedokteran yang akan dimengerti atau cara lain yang bertujuan
dilakukan. Penolakan tindakan kedokteran untuk mempermudah pemahaman.
harus dilakukan secara tertulis. Akibat Penjelasan dimaksud dicatat dan
penolakan atau pembatalan persetujuan didokumentasikan dalam berkas rekam
tindakan kedokteran menjadi tanggung medis oleh dokter atau dokter gigi yang
jawab pasien. Penolakan tindakan memberikan penjelasan dengan
kedokteran tidak memutuskan hubungan mencantumkan tanggal, waktu, nama, dan
dokter dan pasien6. tanda tangan pemberi penjelasan dan
penerima penjelasan. Jika dokter atau

44 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Beta Ahlam Gizela, Studi Evaluasi...

dokter gigi menilai bahwa penjelasan pertengkaran, perbantahan, pertikaian,


tersebut dapat merugikan kepentingan perkelahian, perselisihan dan perkara di
kesehatan pasien atau pasien menolak dalam pengadilan. Sedangkan pemahaman
diberikan penjelasan, maka dokter atau sengketa medik adalah perbedaan
dokter gigi dapat memberikan penjelasan pendapat, pertengkaran, perbantahan,
tersebut kepada keluarga terdekat dengan pertikaian, perkelahian, perselisihan
didampingi oleh seorang tenaga kesehatan sampai terjadinya perkara dalam
lain sebagai saksi6. pengadilan antara dokter dan pasien atau
Dilakukan kajian dokumen rekam keluarganya. Harus dipahami bahwa tidak
medis untuk mellihat kelengkapan rekam setiap kejadian yang tidak diinginkan dalam
medis, termasuk keberadaan catatan atau sebuah hubungan terapeutik akan menjadi
dokumen informed consent dalam tindakan sengketa medis. Jika komunikasi antara
berisiko tinggi. Rekam medis yang paling pihak dokter dan pihak pasien, termasuk
tidak lengkap pada saat melakukan keluarga, dapat dijalin dengan baik,
hemodialisis, kemoterapi, dan transfusi tentunya pihak pasien akan makin
(gambar 4), kemungkinan dianggap sebagai memahami apakah musibah yang terjadi
proses rutin. Insisi, hernia, ektomi, eksisi merupakan bagian dari risiko medis atau
biopsi, dan debridemen, juga masih di kesalahan medis yang dapat menjadi
bawah 80% kelengkapan rekam medisnya. sengketa7.
Kelengkapan rekam medis dan
dokumen informed consent memegang
peranan penting dalam pembuktian kasus
sengketa medis. Kelengkapan rekam medis
di bagian bedah dan penyakit dalam
disajikan pada gambar 5 dan 6.

Gambar 4. Persentase kelengkapan rekam


medis pada pasien dengan tindakan
berisiko tinggi

Pemberian persetujuan tindakan


kedokteran tidak menghapuskan tanggung Gambar 5. Kelengkapan rekam medis
gugat hukum dalam hal terbukti adanya berdasarkan tindakan risiko tinggi di bagian
kelalaian dalam melakukan tindakan Bedah
kedokteran yang mengakibatkan kerugian Penelitian mendapatkan data
pada pasien6. kemoterapi dan transfusi menjadi tindakan
Gugatan hukum kepada dokter oleh berisiko tinggi yang terbanyak tidak diikuti
pasien tentu merupakan kondisi yang tidak dengan kelengkapan rekam medis di
pernah diinginkan dalam hubungan dokter bagian Bedah. Eksisi dan insisi jadi tindakan
dan pasien. Gugatan hukum ini dikenal lainnya yang kelengkapan rekam medisnya
pula dengan sengketa medis. Pengertian kurang. Transfusi dan hemodialisis
sengketa menurut Kamus Besar Bahasa merupakan tindakan risti di Penyakit Dalam
Indonesia adalah perbedaan pendapat,

45 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia

yang tidak diikuti dengan kelengkapan malpraktik. Kejadian lain yang tidak
rekam medis. termasuk malpraktik yaitu perjalanan
penyakit yang semakin berat, reaksi tubuh
yang tidak dapat diramalkan, komplikasi
penyakit, dan penyakit-penyakit
koinsidensi. Perbuatan atau sikap medis
dimasukkan dalam kategori lalai apabila
memenuhi empat unsur yaitu duty,
derelection of duty, damage, dan direct
Gambar 6. Kelengkapan rekam medis causal relationship. Dokter yang diadukan
berdasarkan tindakan risiko tinggi di bagian harus membuktikan beberapa hal untuk
Penyakit Dalam bisa terbebas dari tuntutan yaitu berupa
absence of duty (tidak ada kewajiban atau
Umumnya alasan pasien untuk tidak terjadi hubungan dokter-pasien),
melayangkan gugatan malpraktik adalah tidak ada derelection of duty (tidak ada
negligance (kelalaian), international pelanggaran/penyimpangan berdasarkan
misconduct (sikap buruk yang dilakukan standard of care), tidak ada direct causal
dengan sengaja), breach of a contract (pasien harus dapat membuktikan bahwa
guaranteeing a specific terapeutic result damage yang ditimbulkan adalah
(pelanggaran sebuah kontrak yang foreseeble), serta bukti lain yang
menjamin sebuah hasil pengobatan), menguatkan posisi dokter
defamation (pencemaran nama baik), (contributory/comparative negligence atau
devulgence of confidential information comaparative fault, keterbatasan undang-
(membocorkan rahasia), anauthorized undang, pencabutan/pembatalan kontrak
procedure (melakukan tindakan medik tanpa hubungan dokter-pasien) 8.
persetujuan), failure to prevent injuries Gugatan hukum terhadap
incertain non patients (kegagalan dalam pelayanan kesehatan terus berkembang.
mencegah cedera pada seseorang yang Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia,
bukan pasien)8. tetapi juga di berbagai negara. Beberapa
Sedangkan malpraktik, oleh World tahun terakhir gugatan hukum yang
Medical Association (WMA) didefinisikan dihadapi para dokter bertambah banyak8.
sebagai kegagalan dokter untuk mematuhi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) mencatat
standar pengobatan dan perawatan yang 405 laporan masalah medis dalam kurun
menimbulkan cidera pada pasien. WMA waktu tiga tahun terakhir; 73 diantaranya
mengingatkan tidak semua kegagalan dilaporkan ke kepolisian. Komisi Nasional
medis disebabkan oleh malpraktik Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)
9
kedokteran (WMA, 2005). Kejadian yang mencatat selama periode Juni-Oktober
tidak diinginkan yang tidak dapat diduga 2006 terdapat 7% dari 1365 kasus
sebelumnya dan terjadi pada saat pengaduan yang diterima terkait dengan
dilakukan tindakan medis sesuai dengan hak atas kesehetan dan lingkungan
standar tidak termasuk dalam pengertian hidup10. Di Amerika Serikat kecenderungan

46 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Beta Ahlam Gizela, Studi Evaluasi...

tuntutan hukum kepada dokter telah


terjadi lebih dahulu. Tercatat sekitar tahun
1970-1980 mulai terjadi peningkatan
tuntutan hukum terhadap dokter. Surat
kabar setempat, Dallas Morning News,
melaporkan salah satu kondisi ekstrim
terjadi di Texas, negara bagian Amerika, Gambar 8. Dokumentasi persetujuan
dalam satu tahun terakhir lebih dari 50% tindakan dalam informed consent (%).
dokter mengalami tuntutan hukum. Gambar 7 menunjukkan bahwa di
Keadaan itu diikuti dengan peningkatan bagian Bedah, pemberian informasinya
klaim asuransi malpraktek sejak tahun lebih lengkap dibandingkan dengan bagian
1990-an11. Sedangkan di Jepang Penyakit Dalam, walaupun kelengkapan
peningkatan jumlah tuntutan hukum informasinya belum mencapai 100%.
terhadap dokter terjadi setelah tahun Gambar 8 menunjukkan bahwa bagian
1999, yaitu dari 14 kasus pertahun Bedah mempunyai dokumentasi
sebelum tahun 1998 menjadi sekitar 35 persetujuan tindakan lebih lengkap dari
kasus pertahun setelah tahun 1999 12. pada Bagian Dalam. Perbedaan
Melihat perkembangan di dalam kelengkapan dokumentasi pemberian
dunia kedokteran dan perkembangan informasi dan persetujuan tindakan antara
hubungan dokter dan pasien yang semakin bagian Bedah dan Penyakit Dalam ini
kompleks, menjadi keharusan bagi setiap secara statistik juga bermakna (uji beda
dokter untuk memiliki kemampuan proporsi dengan Chi square). Kesadaran
melakukan akad dalam transaksi dokter bagian Bedah atas potensi
terapeutik, agar seluruh proses terjadinya sengketa medis yang mengikuti
pemeriksaan dan pengobatan pasien dapat tindakan berisiko tinggi mempengaruhi
berlangsung dengan baik, serta melindungi upaya mereka dalam membuat
kepentingan medis dan hukum kedua dokumentasi yang lebih baik.
belah pihak. Akad dalam transaksi Data serial dalam penelitian ini
terapeutik telah dibahas pada bagian awal, (gambar 9) menunjukkan tidak ada
yaitu apa yang disebut dengan informed peningkatan kelengkapan dokumentasi
consent. Penelitian ini mendapati informed consent selama 6 bulan. Perlu
pendokumentasian pemberian informasi dilakukan kampanye terus menerus kepada
dan persetujuan tindakan medis dalam selluruh tenaga kesehatan untuk
rekam medis belum sempurna. memperbaiki hal ini, agar terlindungi
kepentingan pasien dan dokter dengan
lebih baik. Itikad baik merupakan dasar
dari transaksi terapetik, namun tidak cukup
untuk melindungi kedua belah pihak jika
terjadi sengketa medis.

Gambar 7. Dokumentasi pemberian


informasi dalam rekam medis (%).

47 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia

pasien/keluarga dan dokter yang memberi


penjelasan. Tentu saja hal ini akan menjadi
titik rawan dalam keharmonisan hubungan
dokter dan pasien, karena jika terjadi
sengketa medis akibat hasil tindakan yang
Gambar 9. Kecenderungan kelengkapan tidak diinginkan, pembuktian hukum akan
informed consent (%) dalam 6 bulan. terkendala oleh tidak adanya dokumen
Temuan dalam penelitian kali ini masih lebih informed consent yang lengkap13.
baik dibandingkan dengan penelitian
terdahulu. Hasil penelitian tentang SIMPULAN
pelaksanaan informed consent pada tindakan Kesimpulan yang dapat ditarik dari
operasi di Rumah Sakit di Daerah Istimewa penelitian ini adalah kelengkapan
Yogyakarta yang peneliti lakukan pada tahun dokumentasi informed consent bagian
2008, didapatkan temuan bahwa sebagian Bedah lebih baik daripada bagian Penyakit
besar dokter responden hanya Dalam, dan perlu terus ditingkatkan.
mendokumentasikan persetujuan tindakan Kesadaran untuk melindungi kepentingan
medis yang ditandatangani oleh pasien dan dokter perlu terus
pasien/keluarga dan dokter, tanpa satu pun disosialisasikan.
yang mendokumentasikan penjelasan yang
telah diberikan dengan ditandatangani oleh

DAFTAR PUSTAKA 6.

1. Annas, G., 1992. “The Rights of the


Patients”, 2nd edition. Human Press, New
Jersey. 7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 290 Tahun 2008 tentang
2. Fatwa IDI No.319/PB/A4/88 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran.
Informed Consent.
8. Jacobalis S. 2004. “Etika profesi dan etika
3. Sampurna, B., Siswaja, T.D., Samsu, Z. institusi sebagai landasan untuk menangkal
2005. “Bioetik dan Hukum Kedokteran”. malpraktek medi di rumah sakit”. Dalam
Pustaka Dwipar, Jakarta Timur. Proceeding Pertemuan Nasional III Jaringan
Bioetika dan Humaniora Kesehatan
4. Undang-Undang Nomot 23 tahun 2002 Indonesia (JBHKI). Jakarta: FKUI, 30
yang diamandemen dengan Undang- November – 2 Desember 2004.
Undang nomor 35 tahun 2014 tentang
Perlindungan Hak Anak 9. Wasisto B, Suganda S. 2004. “Perilaku
Profesional sebagai kontinum etis, disiplin
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor dan hukum dalam mencegah masyarakat
29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. gemar menggugat (litigous society)”.
Dalam Proceeding Pertemuan Nasional III

48 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Beta Ahlam Gizela, Studi Evaluasi...

Jaringan Bioetika dan Humaniora 13. Mayeda M, Takaze K. 2005. “Need for
Kesehatan Indonesia (JBHKI). Jakarta: enforcement of ethicolegal education – an
FKUI, 30 November – 2 Desember 2004. analysis of the survey of post graduate
clinical trainees”. BMC Medical Ethics
10. World Medical Association. 2005. 2005.
“World Medical Association Statement on
Medical Malpractice”. Adopted by the 44th 14. Gizela BA. 2008. Manajemen Informed
World Medical Assembly, Marbella, Spain, Consent Tindakan Invasif pada Rumah Sakit
September 1992 and rescinded at WMA Tipe A dan B di Daerah Istimewa
General Assembly, Santiago. Yogyakarta. Laporan penelitian dana
masyarakat Fakultas Kedokteran UGM.
11. SUAR Warkat Warta. 2006. Vol. 07 no. 04 Yogyakarta.
tahun 2006.

12. Cohen Th, Huges KA. 2007. Medical


malpractice insurance claims in seven
states, 2000-2004. [On line]. Maret 2007.
NCJ 216339. Washington DC: Bureau of
Justice Statistics. Diunduh dari
www.ojp.usjdoj.gov pada 23 Oktober 2007.

49 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

KELENGKAPAN ADMINISTRASI STAF MEDIS KEDOKTERAN


FORENSIK RSUP Dr. KARIADI SEMARANG MENGHADAPI
AKREDITASI RUMAH SAKIT
Bianti H. Machroes1, Arif R. Sadad1, RP. Uva Utomo1

Abstrak klinis Kedokteran Forensik. Dalam mempersiapkan


akreditasi Rumah Sakit khususnya pada pelayanan
Akreditasi Rumah Sakit merupakan pengakuan
Kedokteran Forensik diperlukan keseriusan baik dalam
terhadap Rumah Sakit yang diberikan oleh lembaga
pelayanan, persiapan fasilitas serta administrasinya
independen penyelenggara akreditasi yang ditetapkan
sebagai pedoman sekaligus payung hukum dalam
oleh Menteri Kesehatan, setelah dinilai bahwa Rumah
pelaksanaan pelayanan Kedokteran Forensik di
Sakit itu memenuhi Standar Pelayanan Rumah Sakit
Rumah Sakit. Dalam penulisan ini kami mencoba
yang berlaku untuk meningkatkan mutu pelayanan
berbagi pengalaman tentang penyiapan administrasi
Rumah Sakit secara berkesinambungan menurut
KSM Kedokteran Forensik dalam pelaksanaan
PERMENKES RI no. 12 Tahun 2012 tentang
pelayanan guna kepentingan akreditasi.
Akreditasi Rumah Sakit. Beberapa waktu yang lalu
RSUP Dr.Kariadi Semarang yang merupakan salah
Kata Kunci: Akreditasi Rumah Sakit, RSUP Dr. Kariadi,
satu UPT Kementerian Kesehatan dan rumah sakit
Kedokteran Forensik, Administrasi
rujukan untuk wilayah Indonesia bagian Tengah telah
dilakukan akreditasi Joint Commission International
Afiliasi Penulis : 1. Departemen Forensik dan Medikolegal, Fakultas
(JCI) versi terbaru dan reakreditasi Komisi Akreditasi
Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang.
Rumah Sakit (KARS) versi terbaru. Pada penilaian Korespondensi: Bianti H.Machroes
akreditasi baik Joint Commission International (JCI)
maupun Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)
meliputi bidang pelayanan, administrasi serta fasilitas PENDAHULUAN
dan sarana prasarana dari seluruh unit yang ada di
Rumah Sakit tak terkecuali pelayanan Kedokteran Tugas Rumah Sakit adalah
Forensik. Pelayanan Kedokteran Forensik merupakan memberikan pelayanan kesehatan
salah satu pelayanan yang ada di RSUP Dr. Kariadi.
Pelayanan Kedokteran Forensik di RSUP Dr. Kariadi perorangan secara paripurna. Untuk dapat
meliputi pelayanan visum luar, pelayanan otopsi,
pelayanan visum klinis, pelayanan embalming, memberikan pelayanan kesehatan secara
pelayanan rekonstruksi tubuh jenazah dan pelayanan paripurna, Rumah Sakit harus menjaga dan
pemulasaraan jenazah. Dalam pelaksanaan
pelayanan Kedokteran Forensik di RSUP Dr. Kariadi meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
maka dibentuklah Kelompok Staf Medis (KSM)
Kedokteran Forensik yang merupakan dokter – dokter Salah satu upaya untuk menjaga sekaligus
Spesialis Kedokteran Forensik dari Instansi RSUP Dr. meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
Kariadi dan Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro. Dalam menghadapi akreditasi Rumah adalah melalui pelaksanaan akreditasi
Sakit, KSM Kedokteran Forensik telah mempersiapkan
diri termasuk kelengkapan administrasi. Tujuan
Rumah Sakit. Akreditasi Rumah Sakit
penulisan ini adalah sebagai bahan acuan untuk merupakan pengakuan terhadap Rumah
menetapkan kewenangan klinis di Rumah Sakit,
sebagai salah satu bahan acuan untuk penentuan tarif Sakit yang diberikan oleh lembaga
pelayanan Kedokteran Forensik di Rumah Sakit, dan independen penyelenggara akreditasi yang
sebagai bahan acuan bagi persiapan Rumah Sakit
menghadapi akreditasi Rumah Sakit. Metode yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan, setelah
digunakan untuk penulisan ini adalah menggunakan
metode deskriptif dengan melihat berbagai tinjauan dinilai bahwa Rumah Sakit itu memenuhi
pustaka. Kelengkapan administrasi untuk staf medis Standar Pelayanan Rumah Sakit yang berlaku
Kedokteran Forensik di RSUP Dr.Kariadi meliputi:
Daftar pelayanan yang dapat dilakukan dokter untuk meningkatkan mutu pelayanan Rumah
spesialis Kedokteran Forensik di RSUP Dr.Kariadi;
Daftar rincian kewenangan klinis dokter spesialis
Sakit secara berkesinambungan menurut
Kedokteran Forensik di RSUP Dr.Kariadi; Penentuan PERMENKES RI no. 12 Tahun 2012 tentang
penilaian kuantitas untuk indikator kinerja dokter
spesialis Kedokteran Forensik; Penentuan penilaian Akreditasi Rumah Sakit.
kualitas untuk indikator kinerja dokter spesialis
Kedokteran Forensik; dan Pembuatan panduan praktik

50 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Bianti H. Machroes, Kelengkapan Administrasi.....

Beberapa waktu yang lalu RSUP Dr. Kariadi Kedokteran Forensik di Rumah Sakit, dan
Semarang yang merupakan salah satu UPT sebagai bahan acuan bagi persiapan Rumah
Kementerian Kesehatan dan rumah sakit Sakit menghadapi akreditasi Rumah Sakit.
rujukan untuk wilayah Indonesia bagian
Tengah telah dilakukan akreditasi Joint METODE
Commission International (JCI) versi terbaru Metode penulisan yang digunakan pada
dan reakreditasi Komisi Akreditasi Rumah artikel ini adalah metode deskriptif.
Sakit (KARS) versi terbaru. Pada penilaian Penulisan artikel ini merupakan penjabaran
akreditasi baik Joint Commission dari berbagai tinjauan pustaka dan
International (JCI) maupun Komisi Akreditasi pengalaman KSM Kedokteran Forensik saat
Rumah Sakit (KARS) meliputi bidang dilakukannya penilaian oleh tim akreditasi.
pelayanan, administrasi serta fasilitas dan
HASIL DAN PEMBAHASAN
sarana prasarana dari seluruh unit yang ada
di Rumah Sakit tak terkecuali pelayanan Kelengkapan administrasi untuk staf medis
Kedokteran Forensik. Pelayanan Kedokteran Kedokteran Forensik di RSUP Dr. Kariadi
Forensik merupakan salah satu pelayanan meliputi:
yang ada di RSUP Dr. Kariadi. Pelayanan 1. Daftar pelayanan yang dapat dilakukan
Kedokteran Forensik di RSUP Dr. Kariadi dokter spesialis Kedokteran Forensik di
meliputi pelayanan visum luar, pelayanan RSUP Dr.Kariadi.
otopsi, pelayanan visum klinis, pelayanan
embalming, pelayanan rekonstruksi tubuh
jenazah dan pelayanan pemulasaraan
jenazah. Dalam pelaksanaan pelayanan
Kedokteran Forensik di RSUP Dr.Kariadi
maka dibentuklah Kelompok Staf Medis
(KSM) Kedokteran Forensik yang merupakan
dokter – dokter Spesialis Kedokteran
Forensik dari Instansi RSUP Dr.Kariadi dan
Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro. Dalam menghadapi akreditasi
Rumah Sakit, KSM Kedokteran Forensik telah Tabel 1. Pelayanan Kedokteran Forensik RSUP
mempersiapkan keseluruhan pokok Dr.Kariadi
penilaian termasuk kelengkapan 2. Daftar rincian kewenangan klinis dokter
administrasi. Beberapa hal yang penting spesialis Kedokteran Forensik di RSUP
dalam kelengkapan administrasi KSM Dr.Kariadi.
Kedokteran Forensik yaitu penetapan
kewenangan klinis, penilaian indikator
kinerja dokter spesialis, dan panduan
praktek klinik.
Tujuan penulisan ini yaitu sebagai bahan
acuan untuk menetapkan kewenangan klinis
di Rumah Sakit, sebagai salah satu bahan
acuan untuk penentuan tarif pelayanan

51 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Bianti H. Machroes, Kelengkapan Administrasi.....

5. Pembuatan panduan praktik klinis


Kedokteran Forensik.

Tabel 5. Panduan Praktek Klinis Pemeriksaan


Tabel 2. Rincian Kewenangan Klinis Luar Jenazah

3. Penentuan penilaian kuantitas untuk 1. Daftar pelayanan yang dapat dilakukan


indikator kinerja dokter spesialis dokter spesialis Kedokteran Forensik di
Kedokteran Forensik. RSUP Dr.Kariadi.
Untuk menentukan jenis pelayanan yang
dapat dilakukan KSM Kedokteran Forensik
di Rumah Sakit dilakukan melalui rapat
KSM, Bagian dan Instalasi. Yang menjadi
pertimbangan adalah jumlah tenaga, alat
yang tersedia, sarana dan prasarana.
Prinsipnya pelayanan tersebut mampu
Tabel 3. Indikator Penilaian Kuantitas dilaksanakan KSM Kedokteran Forensik di
RSUP Dr.Kariadi dengan sumber daya yang
4. Penentuan penilaian kualitas untuk
tersedia.
indikator kinerja dokter spesialis
2. Daftar rincian kewenangan klinis dokter
Kedokteran Forensik.
spesialis Kedokteran Forensik di RSUP
Dr.Kariadi.
Setelah penentuan jenis pelayanan yang
dapat dilakukan selanjutnya KSM
Kedokteran Forensik mengadakan rapat
kembali untuk membuat rincian
kewenangan klinis. Rincian kewenangan
klinis yang telah dibuat oleh KSM
Kedokteran Forensik dibicarakan dengan
Komite Medik untuk disahkan oleh
Direktur Utama.
3. Penentuan penilaian kuantitas untuk
indikator kinerja dokter spesialis
Tabel 4. Indikator Penilaian Kualitas
Kedokteran Forensik.

52 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Bianti H. Machroes, Kelengkapan Administrasi.....

Dari jenis pelayanan Kedokteran Forensik SIMPULAN


yang telah tersusun maka dibuatlah
Dalam mempersiapkan akreditasi
pembobotan atau pemberian nilai pada
Rumah Sakit khususnya pada pelayanan
masing – masing rincian pelayanan. Hasil
Kedokteran Forensik diperlukan keseriusan
pembobotan ini kemudian dibicarakan
baik dalam pelayanan, persiapan fasilitas
dengan Bagian SDM untuk penentuan
serta administrasinya sebagai pedoman
target sebagai penilaian kuantitas indikator
sekaligus payung hukum dalam pelaksanaan
kinerja dokter spesialis Kedokteran
pelayanan Kedokteran Forensik di Rumah
Forensik.
Sakit. Kelengkapan administrasi KSM
4. Penentuan penilaian kualitas untuk
Kedokteran Forensik yaitu daftar pelayanan
indikator kinerja dokter spesialis
kedokteran forensik yang dapat dilakukan di
Kedokteran Forensik.
Rumah Sakit, Panduan Praktik Klinis sebagai
Berbagai pelayanan Kedokteran Forensik
acuan standar pelayanan yang akan
yang telah disusun dipilih pelayanan yang
dilakukan, Rincian kewenangan klinis dokter
menjadi unggulan dari KSM Kedokteran
spesialis Kedokteran Forensik sesuai dengan
Forensik. Pelayanan Kedokteran Forensik
kompetensi yang dimiliki, Penilaian kunatitas
yang menjadi unggulan ditentukan derajat
dan kualitas kinerja dokter spesialis
prosentase kualitas artinya bahwa dalam
Kedokteran Forensik dalam melakukan
melakukan pelayanan memiliki nilai
pelayanan. Dalam penulisan ini kami
kualitas pelayanan dari 0% – 100%.
mencoba berbagi pengalaman tentang
5. Pembuatan panduan praktik klinis
penyiapan administrasi KSM Kedokteran
Kedokteran Forensik.
Forensik dalam pelaksanaan pelayanan guna
Setiap jenis pelayanan yang dilakukan KSM
kepentingan akreditasi.
Kedokteran Forensik secara rinci mulai dari
awal pelayanan dimulai hingga
penyelesaian pelayanan dibuatlah panduan
praktik klinis. Bilamana terjadi hal – hal
yang tidak sesuai atau tidak dapat
dilaksanakan serta mengalami
perkembangan dalam pelaksanaan
pelayanan maka akan disesuaikan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 4. Di Maio VJM., Dana SE., Handbook of


Peraturan Kementerian Kesehatan Republik Forensic Pathology. Boca Raton Florida. CRC
Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Press. 2007.
Akreditasi Rumah Sakit. 2012.
5. Dolinak D., Matshes E.W., Lew E.O., Forensic
2. Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2009 Pathology: Principles and Practice. Burlington
Tentang Kesehatan. 2009. Mass: Elsevier. 2007.

3. Undang – Undang Nomor 44 Tahun 2009 6. Farrugia A, Ludes B. Diagnostic of Drowning in


Tentang Rumah Sakit. 2009. Forensic Medicine. Forensic Medicine – From

53 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Bianti H. Machroes, Kelengkapan Administrasi.....

Old Problems to New Challenges. September.


2011. 12. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Peranan
Ilmu Forensik Dalam Penegakan Hukum. Ilmu
7. Amir A., Rangkaian ilmu kedokteran forensik. Kedokteran Forensik Universitas Indonesia.
Fakultas Kedokteran Univertitas Sumatera Jakarta. 2008.
Utara. Medan. 2011.
13. Sampurna B. Peran Forensik dalam Kasus
8. Hariadi Apuranto, Buku Ajar Ilmu Kedokteran Asuransi. Dalam: Indonesian Journal of Legal
Forensik dan Medikolegal, edisi ketujuh. and Forensic Sciences, Vol 1. 2008.
Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas 14. Stark MM.
History and Development of
Airlangga. Surabaya. 2011. Clinical Forensik Medicine. Dalam: Clinical
Forensic Medicine: A Physician Guide Edition
9. Idries A, tjiptomartono A. Penerapan Ilmu 2nd. Human Press Inc. Totowa. 2011.
Kedokteran Forensik dalam proses
Penyidikan. Sagung Seto. Jakarta. 2010. 15. Rika Susanti. Paradigma Baru Peran Dokter
Dalam Pelayanan Kedokteran Forensik.
10. Herkutanto (2005) Peningkatan kualitas Majalah Kedokeran Andalas No.2 Vol.36.
pembuatan Visum et Repertum (VeR) Padang. 2012.
Kecederaan di Rumah Sakit melalui Pelatihan
dokter unit gawat darurat (UGD). JMPK Vol.
08/No.03. Jakarta. 2005.

11. Howard C, Adelman M. Establishing The Time


of Death in : Forensic Medicine. New York :
Infobase Publishing. 2007.

54 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

PENYIAPAN DAN PEMBUKTIAN KASUS DI PENGADILAN


Budi Sampurna1

Abstract PENDAHULUAN
In the medicolegal management of a medical Kasus dugaan malpraktik medis yang
malpractice allegations, it is important to diajukan kepada dokter umumnya berupa
prepare the case pre- and during trial in court of
justice, and proving whether or not an error or
kasus kelalaian medis, meskipun sebagian
an omission was committed. diantaranya ternyata berupa penyerangan
In pre-trial times, physicians should prepare the (assault, battery), penistaan, penyerangan
chronology of events, which is extracted from hak pribadi/pasien, tindakan medis tanpa
medical records and other documentary
evidences, testimony of witnesses, and prepare consent, ataupun pembukaan rahasia
to get opinions of expert witnesses in certain kedokteran.1 Ke dalam kelompok kelalaian
issues needed. This preparation includes the medik dapat dimasukkan kelalaian hadir
preparation of witnesses, and selecting and tepat waktu, kelalaian monitoring dan
preparing potential experts to be examined.
Meanwhile, during the trial, it is necessary to pengawasan, kelalaian memberikan
prepare a list of questions for witnesses and penjelasan yang adekuat, kelalaian
experts, both proposed by the physician and the memperingatkan risiko, kelalaian konsultasi,
opponent, to get sufficient evidence. It should be kelalaian menyampaikan informasi tepat
considered the relevance, admissibility, and the
weight of evidences. waktu, kegagalan mendiagnosis, kegagalan
Afiliasi Penulis : 1. Departemen Forensik dan Medikolegal, Fakultas
memilih terapi yang tepat sesuai standar,
Kedokteran Universitas Indonesia-RSUPN Dr.CiptoMangunkusumo, dan berbagai kelalaian atau kegagalan lain
Jakarta
Korespondensi: Budi Sampurna
yang diduga mengakibatkan kecederaan,
kematian atau kerugian pada pasien. Secara
ringkas dapat disebut sebagai failure to
exercise a degree of skill that would be
reasonably expected of a doctor in similar
circumstances.2
World Medical Association (WMA)
mengingatkan bahwa tidak semua
kegagalan medis adalah akibat malpraktek
medis. Suatu peristiwa buruk yang tidak
dapat diduga sebelumnya (unforeseeable)
yang terjadi saat dilakukan tindakan medis
yang sesuai standar tetapi mengakibatkan
cedera pada pasien tidak termasuk ke
dalam pengertian malpraktik. “An injury
occurring in the course of medical
treatment which could not be foreseen and
was not the result of the lack of skill or

55 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Budi Sampurna, Penyiapan dan.....

knowledge on the part of the treating atau email bla tidak memiliki cukup waktu
physician is untoward result, for which the tatap muka.
physician should not bear any liability”.3 Dalam perkara pidana, penyiapan
sudah harus dilakukan sejak akan
PENYIAPAN dimulainya pemeriksaan oleh penyidik.
Persiapan pertama yang harus Setelah menyiapkan bukti fakta yang
dilakukan adalah mengumpulkan dan membentuk ceritera kronologi kasus
memastikan kelengkapan persyaratan sebagaimana diuraikan di atas, para saksi
administratif, baik bagi rumah sakit atau dipersiapkan untuk diperiksa oleh penyidik.
fasilitas pelayanan kesehatan maupun bagi Perlu diperhatikan pada penyiapan para
sumber daya manusianya. Rumah sakit saksi agar mereka hanya menjawab
harus memiliki izin operasional, memiliki tentang hal/kejadian yang dialami,
kelengkaan fasilitas dan SDM yang sesuai didengar dan dilihatnya sendiri, serta
dengan kelasnya, serta sebaiknya telah merupakan bidang kerjanya. Petunjuk
terakreditasi. Para tenaga medis dan tersebut diperlukan untuk menghindari
tenaga kesehatan lainnya harus memiliki kesalahan jawaban yang bersifat “hearsay”
STR, SIP atau SIK, dan Kewenangan klinis. atau “secondary information”.
Untuk “memenangkan” kasus dugaan Penyiapan tersangka atau dokter yang
malpraktik medis diperlukan penyiapan diduga sebagai pelaku malpraktik atau
kasus untuk menemukan bukti fakta yang kelalaian medis memerlukan penanganan
membentuk ceritera kronologi kasus, baik yang lebih intensif. Pada tahap awal perlu
yang ditemukan di dalam catatan rekam dilakukan konseling yang baik untuk
medis, barang bukti, ataupun yang meningkatkan ketahanan mental dokter
diperoleh dari wawancara dokter, perawat, agar mampu menjalani semua proses
dan pasien/keluarganya. Selain itu hukum. Selanjutnya, meningkatkan
diperlukan bukti pembenaran kasus yang kesadaran mengenai kasus medikolegal,
dapat diperoleh dari dokumen pedoman, pemahaman mengenai hukum kedokteran
standar, regulasi ataupun kepustakaan. serta hubungan sebab akibat antara
Dalam hal tertentu, diperlukan pendapat kondisi pasien - lingkungan - tindakan
ahli yang menguatkan temuan dalam medis atau operatif - serta kecederaan,
pedoman, standar, regulasi dan kematian atau kerugian pasien.
kepustakaan. Seluruh bukti fakta dan Apabila dugaan malpraktik terjadi di
dokumen disiapkan dalam bentuk alat rumah sakit, perlu dilakukan pembahasan
bukti yang sah untuk dapat diajukan ke klinis (semacam audit klinis) oleh komite
persidangan guna pembuktian. Sedangkan medis dengan melibatkan para staf yang
pendapat ahli dipersiapkan dengan terkait dan staf lain sebagai mitra bestari
menemukan ahli yang kompeten dan (peer group). Rekam medis tidak boleh
bersedia untuk diajukan ke persidangan. diubah pada tahap ini. Hal-hal yang lupa
Apabila peristiwa cukup kompleks, perlu dicatat dapat dibuatkan catatan, disertai
dipertimbangkan untuk dilakukan simulasi buktiya, di lembar kertas (atau halaman)
tanya jawab dengan ahli. Simulasi tersebut tersendiri. Pembahasan klinis harus
dapat dilakukan dalam diskusi tatap muka dilakukan dengan cukup kritis agar dapat
atau dapat pula melalui surat-menyurat menemukan titik-titik kekuatan dan

56 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Budi Sampurna, Penyiapan dan.....

kelemahan kasus. Temuan ini diperlukan Penyitaan surat atau tulisan lain dari
untuk dapat menentukan cara mereka yang berkewajiban menurut
penyelesaian kasus yang efektif dan undang-undang untuk merahasiakannya,
efisien, apakah melalui persidangan sepanjang tidak menyangkut rahasia
pengadilan ataukah melalui cara negara, hanya dapat dilakukan atas
penyelesaian sengketa di luar pengadilan. persetujuan mereka atau atas izin khusus
Tahap penyiapan adalah tahap ketua pengadilan negeri setempat kecuali
menemukan atau memproduksi bukti fakta undang-undang menentukan lain.
dan bukti dokumen, yang kelak akan Dalam hal rekam medis sudah dalam
diajukan ke pengadilan guna pemeriksaan bentuk elektronik, maka penyidik dapat
pada proses pembuktian. Pada tahap menyita print-out nya atau juga mengkopi
tersebut dapat saja penggugat atau bentuk elektroniknya. Perlu diperhatikan
penyidik meminta bukti dokumen dari bahwa rumah sakit harus mampu
rumah sakit. Umumnya mereka meminta memperlihatkan bahwa keotentikan dan
salinan rekam medis dan standar prosedur keamanan sistem rekam medis dapat
rumah sakit. Rumah sakit atau dokter diandalkan sebagaimana diatur dalam
dapat memberikan isi rekam medis dalam Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008
bentuk ringkasan, sebagaimana diatur tentang Informasi dan Transaksi
6
dalam Pasal 12 jo Pasal 4 ayat (2) Elektronik.
Permenkes nomor 269 tahun 2008 tentang Standar Prosedur adalah dokumen
Rekam Medis4. Perlu diperhatikan bahwa yang tidak mengandung rahasia yang
ringkasan rekam medis tersebut harus diatur dengan undang-undang sehingga
dibuat sedemikian rupa sehingga dapat salinannya dapat diberikan kepada
mencerminkan perjalanan keadaan dan penyidik.
penanganan pasien selama dalam Sementara itu, penggugat atau kuasa
perawatan dokter/di rumah sakit. penggugat tidak memiliki kewenangan
Oleh karena Rekam Medis untuk melakukan penyitaan, namun
mengandung hal-hal yang bersifat rahasia memiliki hak untuk meminta isi rekam
sebagaimana diatur dalam peraturan medis sebagaimana diuraikan di atas.
perundang-undangan, maka penyitaan Selain itu mereka juga memiliki hak untuk
rekam medis hanya atas persetujuan memperoleh standar prosedur rumah sakit
pemilik rekam medis atau dengan izin apabila ditetapkan demikian sebagaimana
khusus ketua pengadilan. Penyitaan harus diatur dalam Undang-Undang nomor 14
dilakukan dengan baik agar pelayanan tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi
terhadap pasien tidak akan terganggu, Publik.7
kecuali pasien telah meninggal dunia. Dalam perkara perdata, pembuktian
Alangkah lebih baik apabila penyidik hanya dilakukan dengan menggunakan
mengambil fotokopi yang telah disahkan preponderance of evidenceatau balancing
saja selama masa pra-persidangan, dan of evdence, sehingga untuk
akan memperoleh aslinya setelah masuk ke memenangkannya diperlukan bukti-bukti
tahap persidangan. yang lebih kuat dari bukti yang diajukan
Pasal 43 Undang-Undang Nomor 8 tahun oleh lawan – sehingga cukup meyakinkan
1981 tentang Hukum Acara Pidana.5 hakim dalam membuat putusan.

57 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Budi Sampurna, Penyiapan dan.....

Sedangkan dalam perkara pidana, tetapi tidak dapat / tidak mungkin


pembuktian dilakukan dengan dihindari (unavoidable), karena
menggunakan tingkat kepastian yang tindakan yang dilakukan adalah satu-
tinggi, yaitu mencapai beyond reasonable satunya cara terapi dan risiko tersebut
doubt atau sampai tidak ada lagi keragu- telah diinformasikan dan disetujui
raguan yang beralasan. pasien.
Pembuktian 3. Hasil dari suatu kelalaian medik.
Pada masa pembuktian, pihak lawan 4. Hasil dari suatu kesengajaan, yaitu
mengajukan bukti adanya kelalaian atau kesengajaan untuk membuat
malpraktik sebagaimana diuraikan di atas. kecederaan/ kematian/kergian.
Mereka akan menggunakan segala alat Kemungkinan terakhir ini hampir tidak
bukti yang sah, seperti keterangan saksi, mungkin terjadi di dunia pelayanan
dokumen, keterangan dan pendapat ahli, kedokteran.
atau mungkin juga barang bukti. Kelalaian medik terjadi apabila
Sebenarnya yang dipersiapkan disini adalah terdapat 4 komponen secara bersamaan,
upaya pembuktian untuk menggagalkan yaitu adanya “kewajiban” untuk melakukan
gugatan perdata atau dakwaan pidana. atau tidak melakukan sesuatu, adanya
Untuk itu diperlukan bukti yang kuat yang “pelanggaran kewajiban” tersebut, adanya
membuktikan bahwa gugatan perdata atau “kecederaan/kematian/kerugian” pasien,
dakwaan pidana adalah tidak benar, dan dan adanya “hubungan sebab-akibat”
membuktikan bahwa yang dilakukan antara pelanggaran kewajiban tersebut
dokter sudah sesuai dengan standar dengan kecederaan/kematian/kerugian.
profesi, standar prosedur operasional, dan Tidak terbuktinya salah satu komponen
regulasi, serta telah menerapkan tersebut dapat menggagalkan gugatan
pengetahuan dan keterampilan yang akan perdata atau dakwaan pidana kelalaian.
dilakukan oleh rata-rata profesional yang Membuktikan bahwa adanya
sejenis bila menghadapi situasi dan kondisi “kewajiban” itu tidak benar dapat
yang identik. Melalui pembuktian tersebut dilakukan melalui dua cara, yaitu
maka dapat dibuktikan bahwa tidak terjadi membuktikan bahwa tidak ada perikatan
kesalahan atau kelalaian dari pihak dokter. antara dokter (atau rumah sakit) dengan
Dengan menggunakan logika hukum, pasien atau membuktikan bahwa standar
suatu adverse outcome (hasil yang tidak profesi dan standar prosedur tidak
diharapkan) di bidang medik dapat mewajibkan hal tersebut. Cara yang
diakibatkan oleh beberapa kemungkinan, pertama hampir tidak mungkin dilakukan
yaitu : karena hubungan antara rumah sakit
1. Hasil dari perjalanan penyakitnya dengan pasien hampir tidak mungkin
sendiri, tidak berhubungan dengan ditolak. Standar profesi umumnya tidak
tindakan medis yang dilakukan dokter. bersifat rinci, melainkan bersifat umum
2. Hasil dari suatu risiko yang tak dapat sehingga hanya dapat dimanfaatkan untuk
dihindari, yaitu risiko yang tak dapat kewajiban yang bersifat pokok. Standar
diketahui sebelumnya (unforeseeable); prosedur yang baik yang bersifat prosedur
atau risiko yang meskipun telah rinci akan dapat membantu memilah mana
diketahui sebelumnya (foreseeable) kewajiban yang pokok dan mana yang

58 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Budi Sampurna, Penyiapan dan.....

bersifat alternatif, kewajiban yang relevan umumnya dibahas sekaligus atau secara
dan yang tidak relevan dengan bersamaan. Dalam posisinya sebagai
output/outcome yang dipertanyakan, tergugat, dokter harus membela diri
kewajiban manajemen ataukah kewajiban dengan membuktikan bahwa tidak ada
dokter/tenaga kesehatan, kewajiban yang kecederaan/ kematian/kerugian pada
bersifat mutlak dan yang bersifat nisbi atau pasien akibat dari tindakan kelalaian
kondisional, dan lain-lain. Dalam hal (pelanggaran kewajiban) dokter, atau
kewajiban di standar prosedur tidak cukup bahwa kecederaan/kematian/kerugian
kuat, maka pedoman pelayanan klinis yang tersebut tidak berhubungan dengan
bersifat nasional atau kepustakaan harus tindakan dokter (remoteness of damages),
dicari untuk dapat merinci sifat kewajiban- atau setidaknya bahwa
kewajiban tersebut. kecederaan/kerugian yang merupakan
Membuktikan bahwa tidak terjadi akibat dari tindakan atau kelalaian dokter
“pelanggaran kewajiban” tentu saja tidaklah sebesar yang digugat.
didasarkan kepada hasil bahasan Dalam menilai remoteness of damages
sebelumnya tentang “kewajiban”. Mulailah dikenal dua pendekatan, yaitu :
menilai kewajiban yang bersifat pokok, 1. Pendekatan pertama didasarkan atas
mutlak dan relevan dengan pandangan bahwa tergugat
output/outcome yang dipersoalkan, seperti bertanggung-jawab atas segala akibat
ada atau sesuaikah kompetensi dan langsung dari kelalaiannya, tanpa
kewenangan klinis yang dimiliki, tepatkah mempertimbangkan apakah hal
rencana terapi, tepatkah indikasi medis, tersebut tidak biasa ataupun tidak
adakah kontra indkasi yang nyata, apakah terduga (unusual or unexpected).
alternatif terapi dan risikonya sudah Pendekatan ini mengakibatkan
didiskusikan dengan pasien/keluarga, pembuktian remoteness kerugian pada
adakah kedaruratan medis yang memaksa, dasarnya sama dengan pembuktian
sudahkah memperoleh informed consent kausalitas (directness).
dengan tata-cara yang adekuat, dan hal-hal 2. Pendekatan kedua didasarkan atas
pokok lainnya. Kemudian dilanjutkan pandangan bahwa seseorang hanya
dengan mengupas langkah-langkah atau bertanggung-jawab atas akibat-akibat
prosedur satu per-satu. Buktikan bahwa yang secara reasonable dapat
setiap isu di atas terjawab dengan diantisipasi, bahkan juga pada keadaan
memuaskan, memiliki landasan berpikir, ia tidak diragukan lagi sebagai penyebab
alasan faktual atau alasan ilmiah, dan kerugian atau kecederaan tersebut.
dilakukan tepat waktu. Buktikan pula Pada pendekatan ini pengujian
bahwa pelanggaran kewajiban yang remoteness dilakukan dengan menilai
dituduhkan, bila memang ada, tidak foreseeability nya risiko atau bahaya;
memiliki hubungan dengan bila ternyata unforeseeable berarti
kecederaan/kematian atau kerugian kerugian tersebut remote.
pasien. Di dalam praktik kedua pendekatan
Membuktikan adanya tersebut tidaklah mudah diterapkan dan
“kecederaan/kematian/kerugian” dan dipilih mana yang benar, oleh karena
“sebagai akibat pelanggaran kewajiban” kenyataan tidaklah sedemikian sederhana.

59 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Budi Sampurna, Penyiapan dan.....

Remoteness sebenarnya terletak diantara ahli sedemikian rupa agar jawabannya


kedua cara pendekatan tersebut di atas. menuju ke salah satu jawaban di atas.
Pertanyaan yang diajukan dapat berbunyi Memang betul bahwa apabila informasi
“apakah kalau tidak terjadi pelanggaran medis yang tersedia tidak mencukupi maka
kewajiban yang dimaksud, maka peristiwa penyebab yang akurat belum tentu dapat
yang merugikan tersebut tidak akan ditemukan, dan hal tersebut seringkali
terjadi?”. Bila pertanyaan ini yang diajukan menjadi kendala bagi ahli. Namun
maka jawabannya sangat bergantung demikian analisis epidemiologis dan
kepada apakah telah terjadi pelanggaran analisis sebab-akibat dapat dilakukan untuk
kewajiban oleh dokter yang merawat, menjelaskan mengapa dan bagaimana
apakah peristiwa tersebut merupakan kecederaan, kematian atau kerugian pasien
risiko yang sudah dapat dibayangkan dapat terjadi.
(foreseeable) atau tidak, apakah risiko Di dalam praktik medikolegal, dikenal
tersebut dapat dihindari (avoidable) atau 4 tes yang umum dipakai, yaitu Bolam test
tidak, apakah risiko tersebut telah untuk menguji prosedur standar/adekuat,
diantisipasi dengan sebagaimana mestinya, Bolitho test untuk menguji logical care,
dan apakah risiko tersebut telah Montgomerry test untuk menguji proper
diinformasikan dan disetujui sebelumnya and adequate information consent dan
(informed consent) oleh pasien. Chester test untuk menguji causation.
Sedapat mungkin pertanyaan-pertanyaan
tersebut di atas dapat dijawab dengan
bukti fakta yang diberikan para saksi, bukti SIMPULAN
dokumen berupa rekam medis dan Penyiapan kasus sangat diperlukan
pedoman atau standar, serta keterangan guna mencapai pembuktian yang
tergugat tentang isi dokumen dengan menyeluruh, jelas dan meyakinkan para
penjelasan yang diperkuat dengan hakim dalam persidangan, oleh karena
kepustakaan. pada tahap penyiapan kasus telah dimulai
Dalam tahap pembuktian, seringkali pembentukan kerangka konsep
kita memerlukan penguatan argumen dari “pembelaan” disertai dengan penyiapan
pendapat ahli, baik yang mendukung kelengkapan bukti yang dibutuhkan.
bahwa kecederaan/kematian/kerugian Upaya pembuktian di persidangan
yang terjadi bukan disebabkan oleh merupakan penerapan kerangka konsep
tindakan dokter yang melanggar kewajiban “pembelaan” melalui pengajuan bukti yang
ataubahwa kecederaan/kematian/kerugian relevan, dapat diterima (admissible) dan
tersebut disebabkan oleh penyebab yang memiliki bobot (weight) yang cukup untuk
lain. Pada waktu ahli dihadapkan ke meyakinkan hakim bahwa dalil yang
persidangan, tergugat atau kuasanya harus diajukan penggugat atau dakwaan jaksa
mampu memberikan pertanyaan kepada penuntut umum tidak terbukti.

60 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Budi Sampurna, Penyiapan dan.....

DAFTAR PUSTAKA

1. Budi Sampurna. Malpraktek dan Pelanggaran 6. Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008


Etik dalam Profesi Kedokteran Jiwa. PIDT tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Psikiatri, 7 Juli 2003.
7. Undang-Undang Nomor 14 tahun 2008 tentang
2. Rajesh Bardale. Principles of Forensic Keterbukaan Informasi Publik Penelope P, Eva
Medicine and Toxicology. Jaypee Brothers B, Barry M, editors. International Encyclopedia
Medical Publisher Ltd. New Delhi, 2011. P23 of Education. Oxford: Elsevier; 2010. p. 406-12.

3. WMA. Statement on Medical Malpractice,


adopted by the 4th World Medical Assembly,
Marbella, Spain, September 1992.

4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269


tahun 2008 tentang Rekam Medis.
5. Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981
tentang Hukum Acara Pidana. Lembaran
Negara.

61 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

ALAT BUKTI SAH SURAT: PENEMUAN, PEMBUKTIAN, DAN


KETERTERIMAAN
Budi Sampurna1

Abstract PENDAHULUAN
Legal evidence of “surat” or documentary evidence is Di dalam Undang-Undang nomor 8
interpreted as stated in Article 187 in Law number 8
year 1981 regarding Criminal Procedure Code. The tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
documentary evidences include official reports and
other letters/documents in the official form made by
(KUHAP) ditemukan frasa “bukti”, “barang
public officials, letters/documents made in accordance bukti” dan “alat bukti”, namun demikian
with the provisions of legislation or letters made by
officials concerning matters of their respective yang diuraikan lebih lanjut hanya alat bukti
responsibilities, and certificates of expert opinion sah. Menurut Pasal 184 alat bukti sah
based on his expertise.
Whether documentary evidence is important and meliputi keterangan saksi, keterangan ahli,
essential is dependent on how relevant the discovered
petunjuk, surat, dan keterangan terdakwa. 1
documentary evidence, how its role in verifying the
case or proving the questioned issue(s), and the Sedangkan mengenai barang bukti tidak
admissibility of documentary evidence - including its secara jelas diatur dalam Undang-Undang
weight.
Keywords: document as evidence, discovery, proving, tersebut.
entering Beberapa pasal dalam KUHAP
memang mengatur tentang barang bukti,
Afiliasi Penulis : 1. Departemen Forensik dan Medikolegal, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia-RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, seperti Pasal 5, Pasal 8, Pasal 18, Pasal 21,
Jakarta.
Korespondensi: Budi Sampurna Pasal 181, Pasal 194, dan Pasal 203, tetapi
tidak ada yang menjelaskan pengertian
barang bukti dan bagaimana hubungannya
dengan alat bukti.
Meskipun demikian dengan
mendasarkan kepada Pasal 39 ayat (1)
mengenai barang yang dapat disita dan
pendapat para pakar hukum seperti Andi
Hamzah, Martiman Prodjohamidjojo dan
Ansori Hasibuan, Flora Dianti dalam
menjawab konsultasi hukum dalam
hukumonline.com menyimpulkan bahwa
barang bukti meliputi:2
a. Barang yang dipergunakan untuk
melakukan tindak pidana.
b. Barang yang dipergunakan untuk
membantu melakukan suatu tindak pidana.
c. Benda yang menjadi tujuan dari
dilakukannya suatu tindak pidana.
d. Benda yang dihasilkan dari suatu tindak
pidana.

62 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Budi Sampurna, Alat Bukti Sah.....

e. Benda tersebut dapat memberikan suatu d. Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada
keterangan bagi penyelidikan tindak hubungannya dengan isi dari alat
pidana tersebut, baik berupa gambar pembuktian yang lain.
ataupun berupa rekaman suara. Terlihat di atas bahwa alat bukti sah surat
f. Barang bukti yang merupakan penunjang merupakan documentary evidence yang
alat bukti. resmi yang memuat keterangan tentang
Mengenai kapan sesuatu benda/barang di kejadian atau keadaan yang dibuat oleh
atas menjadi barang bukti juga tidak diatur pejabat yang berwenang atau
dalam KUHAP. Namun mengingat Pasal 21 bertanggungjawab untuk itu.
menyebutkan bahwa salah satu alasan Sementara itu Kitab Undang-
penahanan adalah kekhawatiran akan Undang Hukum Perdata mengatur bahwa
merusak atau menghilangkan barang bukti, pembuktian dapat dilakukan dengan bukti
maka berarti barang bukti juga dapat tertulis (Pasal 1866), baik berupa tulisan
berupa barang yang belum berada dalam otentik ataupun tulisan di bawah tangan
pengelolaan penegak hukum. (Pasal 1867). Selanjutnya diterangkan
dalam Pasal 1868 bahwa akta otentik ialah
Alat bukti sah surat suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang
Alat bukti sah surat menurut Pasal ditentukan undang-undang oleh atau
187 KUHAP terdiri dari 4 kategori 1, yaitu dihadapan pejabat umum yang berwenang
dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan untuk itu di tempat akta itu dibuat.3
dengan sumpah: Oleh karena pembuatan rekam
a. Berita acara dan surat lain dalam bentuk medis memenuhi persyaratan sebagai
resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang surat otentik, yaitu diwajibkan dan diatur
berwenang atau yang dibuat di tata cara pembuatannya dengan peraturan
hadapannya, yang memuat keterangan perundang-undangan, maka rekam medis
tentang kejadian atau keadaan yang dapat dijadikan alat bukti sah surat. Pasal
didengar, dilihat atau yang dialaminya 13 ayat (1) huruf b Peraturan Menteri
sendiri, disertai dengan alasan yang Kesehatan Nomor 269 tahun 2008 tentang
jelas dan tegas tentang keterangannya itu Rekam Medis memperkuatnya dengan
b. Surat yang dibuat menurut ketentuan menyebutkan pemanfaatannya sebagai
peraturan perundang-undangan atau surat alat bukti dalam proses penegakan
yang dibuat oleh pejabat mengenai hal hukum.4
yang termasuk dalam tata laksana yang Rekam medis dapat diperlakukan
menjadi tanggung jawabnya dan yang sebagai alat bukti sah surat apabila ia berisi
diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu tentang hal-hal yang relevan dengan
hal atau sesuatu keadaan; perkara, dalam hal ini apabila memuat
c. Surat keterangan dari seorang ahli yang hasil pemeriksaan, diagnosis, pemberian
memuat pendapat berdasarkan informasi (komunikasi-informasi-edukasi),
keahliannya mengenai sesuatu hal atau persetujuan tindakan kedokteran,
sesuatu keadaan yang diminta secara resmi pengobatan, tindakan medis, tindakan
dari padanya; operatif, perawatan, dan lain-lain yang
berkaitan dengan pasien sebagai korban
suatu dugaan tindak pidana atau gugatan

63 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Budi Sampurna, Alat Bukti Sah.....

terhadap tindakan dokter yang huruf c, maka yang dipentingkan adalah


mengakibatkan kecederaan / kematian bahwa visum et repertum atau surat
/kerugian bagi pasien. keterangan ahli tersebut dibuat
Visum et repertum atau surat berdasarkan permintaan resmi penyidik.
keterangan ahli juga dikelompokkan Pada pembuatan visum et repertum
sebagai alat bukti sah surat. Banyak pakar mayat, setelah dokter menerima
hukum yang mempersoalkan “dualisme” permintaan visum et repertum maka
posisi keterangan ahli, di Pasal 186 dokter akan menginformasikannya kepada
dinyatakan sebagai alat bukti sah keluarganya. Dokter akan memeriksa
keterangan ahli tetapi di Pasal 187 mayat sesuai dengan jenis pemeriksaan
dinyatakan sebagai alat bukti sah surat. yang diminta penyidik dan disetujui
Perbedaannya sebetulnya jelas, yaitu pada keluarganya. Seluruh hasil pemeriksaan,
ABS keterangan ahli yang menjadi bukti baik pemeriksaan luar, pemeriksaan bedah
adalah keterangan dan pendapat ahlinya, mayat, dan pemeriksaan penunjang akan
sedangkan pada ABS surat yang menjadi didokumentasikan dalam bentuk visum et
bukti adalah “barang bukti”(pasien, mayat, repertum. Jadi, visum et repertum mayat
sampel bahan, anak peluru, dll) yang memuat “bukti fakta” yang ditemukan
diperiksa yang dituangkan dalam bentuk pada mayat dalam bentuk documentary
documentary evidence. evidence.
Pada pembuatan visum et repertum
Penemuan atau Produksi Alat Bukti Sah korban hidup, pasien dapat datang ke
Surat dokter sudah dengan surat permintaan
Alat bukti sah surat pada umumnya visum et repertum dari penyidik dan dapat
diproduksi atas permintaan penyidik yang pula belum melapor ke polisi sehingga
berwenang setelah peristiwa pidana belum membawa surat permintaan visum
tersebut dilaporkan, baik pada masa et repertum. Pasien yang terluka dan
penyelidikan ataupun pada masa membutuhkan pertolongan medis segera
penyidikan. Penyidik mengajukan pada umumnya akan datang ke dokter
permintaan visum et repertum kepada terlebih dahulu sebelum melapor ke polisi,
dokter di rumah sakit, utamanya rumah sehingga belum membawa surat
sakit milik pemerintah pusat atau permintaan visum et repertum.
pemerintah daerah, atau rumah sakit yang Pasien yang sudah membawa surat
merawat pasien akibat peristiwa pidana permintaan visum et repertum umumnya
yang dimaksud. adalah mereka yang lukanya tidak
Pada pembuatan visum et repertum membutuhkan pertolongan medis segera
mayat cukup jelas diatur bahwa atau yang kejadiannya segera diketahui
pemeriksaan mayat atau pemeriksaan polisi.
bedah mayatnya dilakukan atas Penyidik tidak mencantumkan jenis
permintaan penyidik (Pasal 134 KUHAP), pemeriksaan apa yang harus dilakukan
sedangkan pada pembuatan visum et dokter karena ia menyerahkan sepenuhnya
repertum korban hidup tidak diatur kepada standar pengelolaan medis pasien
tentang tata-cara pemeriksaannya. yang berlaku di fasilitas pelayanan
Sebagaimana diuraikan pada Pasal 187 kesehatan setempat.

64 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Budi Sampurna, Alat Bukti Sah.....

Setelah pemeriksaan mayat atau mampu memperlihatkan bahwa


pasien selesai, dokter membuat visum et keotentikan dan keamanan sistem rekam
repertumnya dengan format, isi, dan medis dapat diandalkan sebagaimana
standar yang mengacu kepada best diatur dalam Undang-Undang Nomor 11
practice atau standar profesi dokter tahun 2008 tentang Informasi dan
spesialis terkait. Peraturan perundang- Transaksi Elektronik.7
undangan tidak mengatur kapan visum et ABS surat juga dapat diproduksi dari
repertum harus selesai dan dapat diambil saksi fakta dan ahli dalam bentuk berita
oleh penyidik pemintanya. acara pemeriksaan, khususnya apabila
Pasal 136 KUHAP dan Pasal 28 ayat saksi atau ahli tersebut tidak dapat
(1) dan Pasal 125 Undang-Undang nomor dihadirkan di persidangan.
36 tahun 2009 tentang Kesehatan5
mengatur bahwa seluruh biaya Pembuktian dengan ABS Surat
pemeriksaan untuk kepentingan hukum Pada dasarnya pembuktian suatu
ditanggung oleh negara melalui APBN dan perkara di pengadilan adalah dengan cara
APBD. mengajukan bukti-bukti yang relevan dan
Pada kasus dugaan kelalaian medis admissible ke pemeriksaan di persidangan.
atau malpraktik medis, rekam medis dapat Dalam suatu perkara dugaan kelalaian
dijadikan alat bukti sah surat. Penyidik medik, penggugat atau penuntut umum
dapat meminta rekam medis dalam bentuk akan mengajukan dalil atau dakwaan yang
ringkasan dari dokter atau rumah sakit menyatakan bahwa tergugat atau
yang merawatnya, sesuai dengan Pasal 12 terdakwa telah melakukan pelanggaran
jo Pasal 4 ayat (2) Permenkes nomor 269 atau penyimpangan atas kewajibannya
tahun 2008 tentang Rekam Medis. Perlu untuk melakukan sesuatu atau tidak
diperhatikan bahwa ringkasan rekam melakukan sesuatu sebagaimana diatur
medis tersebut harus dibuat sedemikian dalam regulasi, standar atau pedoman, dan
rupa sehingga dapat mencerminkan pelanggaran atau penyimpangan tersebut
perjalanan keadaan dan penanganan telah mengakibatkan cedera/mati/kerugian
pasien selama dalam perawatan dokter/di pada pasien dengan kausalitas langsung
rumah sakit. atau setidaknya proximate cause.
Oleh karena Rekam Medis Untuk itu penggugat atau penuntut
mengandung hal-hal yang bersifat rahasia, umum mengajukan bukti fakta dan bukti
maka penyitaan rekam medis hanya atas pendukung yang relevan yang diperoleh
persetujuan pemilik rekam medis atau dari saksi, rekam medis, visum et
dengan izin khusus ketua pengadilan, repertum, standar dan pedoman. Seringkali
sebagamana diatur dalam Pasal 43 penggugat atau penuntut umum juga
Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 mengajukan ahli untuk memperkuat
tentang Hukum Acara Pidana.6 gugatan atau dakwaannya. Seluruh bukti
Dalam hal rekam medis sudah dalam tersebut dapat diajukan dalam bentuk ABS
bentuk elektronik, maka penyidik dapat surat, meskipun pada umumnya
menyita print-out nya atau juga keterangan saksi dan ahli diberikan di
“mengkopi” bentuk elektroniknya. Perlu depan pengadilan, terutama pada perkara
diperhatikan bahwa rumah sakit harus pidana. Di sisi lainnya, pihak tergugat atau

65 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Budi Sampurna, Alat Bukti Sah.....

terdakwa mengajukan bukti fakta dan bukti (balancing of evidence atau preponderance
pendukung yang berlawanan atau of evidence) dan bila salah satu lebih tinggi
setidaknya melemahkan dalil dalam dari yang lain (perbandingan 51:49 sudah
gugatan atau dakwaan. cukup) maka pihak tersebut dianggap
Keterangan saksi umumnya dinilai memenangkan perkara.
kebenarannya oleh hakim dengan Sedangkan pada perkara pidana,
memperhatikan (Pasal 185 ayat (6) pembuktian harus mencapai tingkat “sah
KUHAP):1 dan meyakinkan” atau beyond reasonable
a. persesuaian antara keterangan saksi satu doubt. Pasal 183 KUHAP
dengan yang lain; 
 mengeksplisitkannya dalam frasa “Hakim ...
b. persesuaian antara keterangan saksi ia memperoleh keyakinan...” atau berarti
dengan alat bukti lain; 
 tidak ada keraguan lagi.1
c. alasan yang mungkin dipergunakan oleh Apabila perbuatan yang
saksi untuk memberi keterangan yang didakwakan tidak terbukti secara sah dan
tertentu; meyakinkan maka terdakwa diputus bebas,
d. cara hidup dan kesusilaan saksi serta apabila perbuatan tersebut terbukti tetapi
segala sesuatu yang pada umumnya dapat perbuatan tersebut bukan suatu tindak
mempengaruhi dapat tidaknya keterangan pidana maka terdakwa diputus lepas dari
itu dipercaya. 
 segala tuntutan hukum, dan apabila
Keterangan ahli juga dinilai oleh hakim, pengadilan berpendapat bahwa terdakwa
dan apabila terdapat keberatan yang bersalah melakukan perbuatan yang
beralasan dari pihak terdakwa maka hakim didakwakan maka pengadilan menjatuhkan
dapat memutuskan untuk dilakukan pidana (Pasal 191 dan Pasal 193 ayat (1)
penelitian ulang. KUHAP).1
Pada dasarnya semua bukti yang
SIMPULAN
relevan adalah admisibel atau dapat
diterima sepanjang memenuhi persyaratan Penemuan dan produksi ABS surat
dan tata cara yang diatur dalam hukum merupakan proses awal yang penting dari
acara, seperti keterangan saksi tidak boleh suatu pembuktian suatu perkara, yang wajib
hearsay, harus diberikan di bawah sumpah, mematuhi ketentuan persyaratan dan tata
cara yang diatur dalam hukum acara.
keterangan ahli harus berdasarkan data
Pembuktian adalah puncak dari proses
atau fakta yang valid, dokumen harus tersebut yang terjadi di sidang pengadilan.
terjaga keotentikannya, dan lain-lain. Keberhasilan pembuktian seringkali
Meskipun semua bukti dapat diterima, membutuhkan kerangka konsep pembuktian
namun bobotnya bisa berbeda satu dengan dari sejak awal, dengan mengindahkan
lainnya, bergantung kapada kekuatan relevansi dan bobot masing-masing bukti
relevansinya. untuk mencapai pembuktian mencapai
Pada perkara perdata bukti dari tingkat yang sah dan meyakinkan.
masing-masing pihak diperbandingkan

66 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Budi Sampurna, Alat Bukti Sah.....

DAFTAR PUSTAKA

1. Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 6. Budi Sampurna. Penyiapan dan Pembuktian


tentang Hukum Acara Pidana Kasus di Pengadilan. Pertemuan Ilmiah
Tahunan Perhimpunan Dokter Forensik
2. Flora Dianti. Apa perbedaan alat bukti dengan Indonesia. Pekanbaru, 15-16 Juli 2017.
barang bukti. www.hukumonline.com, kamis
10 november 2011. Diunduh tanggal 1 Juli 7. Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008
2017. tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik.
3. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269


tahun 2008 tentang Rekam Medis.

5. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009


tentang Kesehatan

67 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

LAPORAN KASUS OTOPSI JENAZAH PADA PASIEN SCHIZOPHRENIA


YANG DIDUGA DIANIAYA OLEH PENGHUNI PANTI REHABILITASI
C. Andryani1, Noverika Windasari1, Fitri Agustina Huspa2

Abstrak PENDAHULUAN
Seorang ahli forensik harus bersikap netral dan objektif Dalam kepentingan penegakan hukum
dalam menyampaikan hasil pemeriksaan. Laporan ini
tentang korban seorang pria, 52 tahun, yang diduga dan memecahkan masalah kriminal,
mengalami penganiayaan oleh penjaga dan sesama adakalanya penyidik membutuhkan bantuan
pasien di pondok rehabilitasi. Korban dirawat selama 2 ahli kedokteran forensik. Dokter forensikakan
hari di RSHS dengan keluhan demam dan mengalami
kejang dua kali disertai susah makan dan minum. Pada melakukan pemeriksaan jenazah berdasarkan
pemeriksaan ditemukan status gizi yang kurang, permintaan tertulis berupa Surat Permintaan
osteomyelitis dan gingivitis etregio mandibular superior
dan inferior, hygene yang tidak baik disertai decubitus di Visum dari penyidik kepolisian. Hasil
punggung bagian bawah dan gangguan jiwa dengan pemeriksaan tersebut dikenal dengan Visum
diagnosa Schizophrenia herbefrenik. Selama perawatan
di RSHS, pihak panti mewakili keluarga korban, meminta
et Repertum.1-2
agar korban dipindahkan ke RS swasta dan Berdasarkan data kepolisian daerah
mendapatkan perawatan di RS swasta selama 6 hari. Jawa Barat, pada tahun 2015, tingkat
Selama perawatan, kondisi korban memburuk dan
kemudian korban meninggal dunia. Otopsi forensik kriminalitas tertinggi berada di Kota
diminta oleh penyidik terkait dugaan penganiayaan Bandung, yakni sebesar 4.016 kasus. Jumlah
berdasarkan laporan keluarga. Hasil otopsi
menunjukkan beberapa luka lecet pada rongga mulut kasus kriminalitas ini terbilang menurun
bagian dalam dan jari jempol kaki kanan, serta dibandingkan kejadian kriminalitas tahun
kerusakan gusi dan tulang pada rahang akibat infeksi 2014 yang mencapai 4.639 kasus. Sementara
kronis dalam rongga mulut. Dari hasil pemeriksaan
dalam terdapat tanda-tanda infeksi kronis di dalam pada tahun 2010 tercatat terdapat 5.643
rongga. penebalan dan pengerasan pada dinding kasus, tahun 2011 mencapai 4.848 kasus,
pembuluh darah jantung, bercak-bercak keputihan dan
pembentukan jaringan ikat pada otot jantung yang meningkat pada tahun 2012menjadi 5.312
merupakan tanda-tanda kematian sebagian otot jantung. kasus, dan menurun di tahun 2013 menjadi
Pemeriksaan cairan dalam rongga abdomen terdapat
peradangan kronis, pemeriksaan mikrobiologi pada
4.316 kasus.3
nanah dan cairan dalam rongga perut ditemukan Penelitian ini berupa laporan kasus
sekumpulan bakteri non-spesifik. Dari hasil pemeriksaan mengenai pemeriksaan forensik pada
pada kasus ini, kecurigaan keluarga terhadap dugaan
penganiayaan tidak terbukti. jenazah yang diduga meninggal akibat tindak
Kata Kunci: otopsi, schizophrenia, penganiayaan pidana penganiayaan di panti rehabilitasi.
Afiliasi Penulis : 1. Program Pendidikan Dokter Spesialis I 2. Dosen
Hasil Visum et Repertum diharapkan dapat
Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Universitas membantu dalam keputusan hakim.
Padjadjaran-Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin
Bandung. Korespondensi: C. Andryani. Email:
nyad_tobing@yahoo.com No. hp 022-2041171 KASUS
Otopsi medikolegal dilakukan
terhadap jenazah pria, Tn. IS, usia 52 tahun
yang diduga meninggal akibat penganiayaan.
Jenazah merupakan penghuni panti
rehabilitasi di daerah lembang selama 2
bulan. Keluarga menduga bahwa Tn. IS
merupakan korban penganiayaan oleh
penjaga dan sesama pasien di panti
rehabilitasi tersebut. Hal tersebut diperkuat
oleh pernyataan korban semasa masih
dalam perawatan kepada keluarga. Akhirnya

68 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 C. Andryani, Laporan Kasus.....

keluarga melapor ke Kepolisian daerah Jawa


Barat Resor Cimahi Sektor Lembang. Pada
awalnya, korbanmengalami kejang satu kali
di panti rehabilitasi, kemudian diantar oleh
penjaga panti rehabilitasi ke Rumah Sakit
Hasan Sadikin (RSHS) dan dirawat selama 2
hari, dengan keluhan demam dan
mengalami kejang dua kali disertai susah
makan dan minum. Pada
pemeriksaanterdapat penurunan kesadaran, Gambar 1. Rongga abdomen berisi cairan
osteomyelitis dan gingivitispada rahang atas
kental kekuningan disertai pus, terdapat
dan rahang bawah disertai sepsis, status gizi
yang kurang, hipokalemi, hipokalsemi, perlengketan usus.
decubitusdi punggung bagian bawah serta
gangguan jiwa dengan diagnosa
Schizophrenia herbefrenik. Pada korban
direncanakan akan dilakukan Lumbal punksi,
CT Scan Kepala, X ray panoramik, nekrotomi
debridement, dan sequesterektomi. Namun,
pihak panti mewakili keluarga korban,
meminta agar korban dipindahkan ke RS
swasta dan kemudian mendapatkan
perawatan di RS swasta selama 6 hari.
Selama perawatan, kondisi korban
memburuk dan kemudian korban meninggal
dunia.
Pemeriksaan otopsi forensik dilakukan Gambar 2. Robekan pada colon transversum.
atas permintaan penyidik terkait dugaan
penganiayaan berdasarkan laporan keluarga. Pada pemeriksaan histopatologi
Pemeriksaan jenazah dilakukan pada tanggal terdapat perdarahan dan sebukan sel
19 Januari 2017, pukul 16.10 WIB diruang
radang pada otak besar, otak kecil, batang
bedah jenazah Bagian Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal Rumah Sakit Dr. otak, selaput tebal otak, jantung, otot dada
Hasan Sadikin Bandung oleh tim dokter dan otot perut, kulit perut bagian dalam,
forensik FKUNPAD-RSHS disaksikan oleh ginjal, usus besar, usus halus, lambung,
pihak kepolisian. hati, limpa dan paru-paru yang merupakan
Pada pemeriksaan luar terdapat tanda-tanda kerusakan organ akibat infeksi
beberapa luka lecet pada rongga mulut bagian yang menyebabkan gangguan pengaturan
dalam, serta kerusakan gusi dan tulang pada
organ-organ tubuh. Pada pemeriksaan juga
rahang akibat infeksi kronis dalam rongga
mulut. Dari pemeriksaan dalam terdapat terdapatarterosklerosis pada dinding a.
tanda-tanda infeksi kronis di dalam rongga Coronariadan miokard infak. Pemeriksaan
perut yang ditandai dengan adanya sitologipada cairan dalam rongga abdomen
perlengketan pada organ-organ dalam terdapat tanda-tanda peradangan kronis.
abdomen. Terdapat sekumpulan nanah di Pemeriksaan mikrobiologi pada nanah dan
bawah omentum tepat di atas kolon cairan dalam rongga perut ditemukan
transversum, perforasi pada kolon
sekumpulan bakteri non-spesifik.Dari hasil
transversum, disertai sekumpulancairan
kekuningan di dalam rongga abdomen. pemeriksaan, kematian korban disebabkan

69 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 C. Andryani, Laporan Kasus.....

oleh sepsis dan peritonitis akibat penyakit berlubangoleh sinus-sinus yang


infeksi kronis. memungkinkan pus keluar.4-5
Berdasarkan hasil pemeriksaan
HASIL DAN PEMBAHASAN terdapat infeksi kronis di dalam rongga
Dalam menentukan sebab abdomen, ditandai dengan adanya
kematian, tentunya tidak hanya dari perlengketan pada organ-organ dalam
pemeriksaan luar, namun membutuhkan abdomen, pus di bawah omentum, sebukan
pemeriksaan dalam yangditunjang dengan sel radang dan perdarahan pada dinding
pemeriksaan histopatologi.1-2Pada kasus usus, lambung dan peritoneum. Terdapat
ini, dugaan penganiayaan yang dilakukan perforasi kolon transversum disertai
oleh petugas di panti rehabilitasi menjadi sekumpulan cairan kekuningan dalam
dasar bagi keluarga untuk melapor kepada rongga abdomen, yang dapat menyebabkan
penyidik untuk dilakukan otopsi peritonitis dan dapat menyebabkan
medikolegal. kematian. Pemeriksaan sitologi pada pus
Pejabat kepolisian negara Republik dan cairan dalam rongga abdomen terdapat
Indonesia sebagai penyidik diberi sekumpulan sel-sel limfosit dan makrofag
wewenang khusus oleh undang-undang menunjukkan tanda-tanda peradangan
untuk melakukan penyidikan, seperti kronis. Pemeriksaan mikrobiologi pada pus
termuat dalam KUHAP pasal 7 ayat 1 yaitu dan cairan tersebut terdapat sekumpulan
salah satunya menerima laporan atau bakteri non spesifik.
pengaduan dari seorang tentang adanya Pada pemeriksaan histopatologi pada organ-
tindak pidana.5 organ dalam terdapat perdarahan dan
Dalam kasus ini, korban didiagnosis sebukan sel radang pada otak besar, otak
osteomyelitis pada tulang rahang. kecil, batang otak, selaput tebal otak,
Osteomyelitis paling sering disebabkan jantung, ginjal, limpa dan paru-paru yang
oleh bakteri Staphylococcus aureus, selain merupakan tanda-tanda kerusakan organ
itu dapat juga disebabkan oleh Salmonella, akibat sepsis yang menyebabkan gangguan
Streptococcus, dan Pneumococcus. Infeksi pengaturan organ-organ tubuh sehingga
pada tulang dapat mengenai bagian dapat menyebabkan kematian. Dari hasil
metafisis bahkan seluruh tulang. Tulang pemeriksaan, kematian korban disebabkan
terinfeksi oleh bakteri melalui 3 jalur: oleh sepsis dan peritonitis akibat penyakit
hematogen, melalui infeksi didekatnya infeksi kronis, sehingga kecurigaan keluarga
atau secara langsung selama pembedahan. terhadap dugaan penganiayaan tidak
Reaksi inflamasi awal menyebabkan terbukti.
trombosis, iskemia dan nekrosis tulang. Pus
dapat menyebarke bawah ke dalam rongga
medula atau menyebabkan abses
subperiosteal sehingga terbentuk
suquestra tulang yang mati. Pembentukan
tulang baru dibawahperiosteum dan
disekitar jaringan granulasi dan

70 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 C. Andryani, Laporan Kasus.....

DAFTAR PUSTAKA

1. Idries, A. M, Tjiptomarnoto, A.L.Penerapan 4. Robbins, Kumar. Pathophisology. Elsevier.


Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses 1995. hlm 463-4.
Penyidikan. Fungsi penyidikan dan banyuan
ilmu-ilmu forensik khususnya ilmu 5. Dettmeyer RB. Forensic Histopathology 1st
kedokteran forensik.Jakarta: Sagung Seto. ed. New York: Springer. 2011. Hal 191-205.
2008. hlm 4-8.
6. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
2. Idries, A.MTjiptomarnoto, A.L. Penerapan (KUHAP).
Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses
Penyidikan. Luka kekerasan dan
Penganiayaan. Jakarta: Sagung Seto. 2008.
hlm 49-51.

3. Ridwan Kamil tambah CCTV untuk kurangi


kriminalitas di Bandung. Diakses pada tanggal
15/6/2017 dari laman http: sp.
Beritasatu.com/2016/11/9.

71 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

LUKA BACOK ATAU LUKA IRIS PADA JARI TANGAN KANAN

Chotimah Zainab1, Ratna Relawati2

Abstrak PENDAHULUAN
Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang
semua aspek yang berkaitan dengan kekerasan
terhadap jaringan tubuh manusia yang masih hidup.
Traumatologi adalah ilmu yang
Dalam menyelesaikan suatu perkara terutama suatu mempelajari tentang semua aspek yang
tindak pidana, tidak jarang penyidik membutukan
bantuan dari ahli dalam bidang pengetahuan masing- berkaitan dengan kekerasan terhadap
masing. Bilamana bantuan ini berhubungan dengan jaringan tubuh manusia yang masih hidup.
bidang kedokteran maka sudah pasti dokter yang
diminta bantuan adalah dokter. Tidak jarang dokter Dalam menyelesaikan suatu.
ikut serta dalam memeriksa korban dalam menderita
luka atas permintaan penyidik. Tindakan kriminal yang Perkara terutama suatu tindak
disertai dengan kekerasan benda tajam sering terjadi, pidana, tidak jarang penyidik membutukan
hal ini karena mudahnya memperoleh senjata tajam
dimana-mana. Laporan kasus penganiayaan yang bantuan dari ahli dalam bidang pengetahuan
mengenai jari tangan kanan yang mengakibat luka
terbuka. Pada pemeriksaan didapatkan korban
masing-masing. Bilamana bantuan ini
seorang laki-laki dengan kesadaran penuh, tensi berhubungan dengan bidang kedokteran
150/90mmHg, Nadi 112x/menit, Pernafasan 24x/menit,
Temperature 36 derajad Celsius, terdapat 4 luka maka sudah pasti dokter yang diminta
terbuka pada jari kedua, ketiga, keempat dengan bantuan adalah dokter. Tidak jarang dokter
ukuran masing-masingluka 4,5 cm x 2 cm, 2cm x
1,5cm, 2cm x 1,3 cm, 2 cm x 1 cm, batas tegas, tepi ikut serta dalam memeriksa korban dalam
rata, ujung lancip, tidak terdapat jembatan jaringan.
Hasil rontgen didapatkan Multipel opasitas kecil bentuk menderita luka atas permintaan penyidik.
dan tepi ireguler batas sebagian tak tegas pada aspek Tindakan kriminal yang disertai dengan
medial phalang proksimal digiti II manus kanan
dengan differential diagnosa fragmen fraktur, corpus kekerasan benda tajam sering terjadi,hal ini
alienum. Jika dari sudut medik, luka merupakan
kerusakan jaringan akibat trauma maka dari sudut
karena mudahnya memperoleh senjata
hukum, luka merupakan kelainan yang dapat tajam dimana-mana. 1
disebabkan oleh suatu tindak pidana baik yang bersifat
sengaja, kurang hati-hati atau ceroboh. Untuk Dalam tindak pidana, ada tiga benda
menentukan berat ringannya hukuman perlu yang berkaitan langsung dengan tindak
ditentukan lebih dahulu berat ringannya luka. Pada
laporan kasus penganiayan yang mengenai jari tangan pidana yang dikenal sebagai barang bukti,
kanan mengakibatkan luka yang dapat menimbulkan
penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan yaitu korban, pelaku, dan alat atau senjata.
jabatan/pekerjaan mata pencaharian untuk sementara Korban dan pelaku merupakan barang bukti
waktu.
Kata Kunci: traumatologi, luka akibat benda tajam, biologi, sedangkan alat atau senjata
kualifikasi luka
merupakan bukti non biologis. Sebagai suatu
Afiliasi Penulis : 1. Program Pendidikan Dokter Spesialis I, Ilmu barang bukti, keadaan awal pemeriksaan
Kedokteran Forensik dan Medikolegal, Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro Semarang/RSUP Dr. Kariadi Semarang, 2. Staf Pengajar harus didokumentasikan oleh seorang ahli
Bagian Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro/RSUP Dr. Kariadi Semarang. atau dokter untuk dijadikan alat bukti di
Pengadilan.Pemeriksaan oleh dokter kita
kenal sebagai pemeriksaan forensic dan hasil
dokumentasi dari pemeriksaan dikenal
sebagai Visum et Repertum.2
Pada prinsip penentuan derajad luka
dilakukan harus berdasarkan dampak cedera

72 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Chotimah Zainab, Luka Bacok....

tersebut terhadap kesehatan tubuh a. Jenis kelamin : Laki-laki


korban.Pembatasan dalam penentuan derajad b. Umur : 45tahun
luka berdasarkan pasal 90 KUHP yang c. Berat badan : 93,5kg
mendefinisikan versi hukum.Hal penting lain d. Tinggi badan : 167cm
dalam Visum et Repertum adalah formulasi e. Warna kulit : sawo matang
dalam kesimpulan untuk mencegah kesalahan f. Warna rambut : hitam dan
interpretasi oleh penyidik.3 Oleh karena itu beruban distribusi tidak merata, pendek
salah satu informasi penting dicantumkan dan lurus
dalam VeR korban hidup adalah derajad g. Keadaan gizi : kesan gizi lebih (IMT
luka.Informasi inilah penyidik dalam 33,5kg/m2)
menentukan tindak pidana yang terjadi,pasal 2. Keadaan umum / tanda-tanda vital :
yang dilanggar serta seberapa besar ancaman a. Tingkat kesadaran : sadar penuh
sanksinya.1 b. Denyut nadi : 100x/menit
c. Tekanan darah :
LAPORAN KASUS 150/90 mmHg
d. Pernafasan : 24x/menit
Pada hari sabtu, 7 Januari 2017 kurang
lebih pukul 21.00 WIB, seorang laki-laki
Status lokalis pada anggota gerak
datang ke IGD RSUP Kariadi dengan jari
atas kanan terdapat empat buah luka
tangan kanan terbalut kassa berdarah. Dari
terbuka pada jari tangan kanan, yaitu:
anamnesa pasien telah terjadi pertengkaran
1)Luka terbuka pertama pada jari kedua
antara korban dengan dua orang yang tidak
sisi depan, bentuk celah, ukuran panjang
dikenal akibat salah paham. Pelaku membawa
empat koma lima sentimeter, dan lebar
samurai kemudian tiba-tiba mengayunkan
dua sentimeter, batas tegas, tepi rata,
kearah korban, korban menangkis dengan
tidak terdapat jembatan jaringan, tebing
tangan kanan, akibatnya jari tangan korban
luka rata, terdiri dari kulit, jaringan ikat,
mengalami luka terbuka pada jari kedua,
lemak, otot, dasar luka otot; 2)Luka
ketiga dan keempat. Sebelum mendapatkan
terbuka kedua pada jari ketiga sisi depan
perawatan lebih lanjut dari dokter spesialis
ruas pertama, bentuk teratur, ukuran
Bedah, tim IGD menghubungi bagian forensik
panjang dua sentimeter, dan lebar satu
untuk melakukan identifikasi luka pada
koma lima sentimeter, batas tegas, tepi
korban. Setelah tim forensic melakukan
rata, tidak terdapat jembatan jaringan,
pemeriksaan luka-luka, selanjutkan diberikan
tebing luka rata, terdiri dari kulit, jaringan
edukasi pelaporan ke pihak berwajib untuk
ikat, lemak, otot, dasar luka otot; 3)Luka
dapat diproses secara hukum agar dapat
terbuka ketiga pada jari ketiga sisi depan
dibuatkan Visum et Repertum yang dapat
ruas kedua, bentuk celah, ukuran panjang
dipakai dalam proses peradilan.
dua sentimeter, dan lebar satu koma tiga
HASIL DAN PEMBAHASAN sentimeter, batas tegas, tepi rata, tidak
terdapat jembatan jaringan, tebing luka
Dari pemeriksaan atas korban rata, terdiri dari kulit, jaringan ikat, lemak,
tersebut diatas didapatkan temuan- otot, dasar luka otot; 4).Luka terbuka
temuan sebagai berikut: keempat pada jari keempat sisi depan ruas
1. Identitas Umum Korban : kedua, bentuk teratur, ukuran panjang dua

73 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Chotimah Zainab, Luka Bacok....

sentimeter, dan lebar satu sentimeter, Perlu diperhatikan bahwa pada luka
batas tegas, tepi rata, tidak terdapat iris, panjang dan kedalaman luka tidak
jembatan jaringan, tebing luka rata, terdiri dapat memberikan gambaran mengenai
dari kulit, jaringan ikat, lemak, otot, dasar karakteristik senjata yang digunakan. Ciri
luka otot. khas luka iris adalah luka terbuka dengan
tepi rata, kedua ujung tajam,tidak terdapat
jembatan jaringan,serta daerah disekitar
luka relatif bersih. Pada umumnya,
kedalaman luka iris akan dangkal pada
permulaan luka, kemudian bertambah
dalam, dan menjadi dangkal pada akhir
Gambar 1. luka terbuka pada jari tangan luka.6
kanan Bentuk luka iris sendiri tergantung
pada posisinya terhadap serat-serat elastis
3. Temuan dari pemeriksaan Penunjang pada kulit (garis-garis Langer). Luka iris
a. Pemeriksaan radiologi yang terletak paralel akan mengahasilkan
celah luka yang rapat, sedangakan luka
yang terletak tegak lurus terhadap Langer
akan menghasilkan celah luka yang
mengganga.6 Secara umum, luka iris tidak
berakibat fatal oleh karena kedalamanya
yang cukup dangkal, kecuali jika luka iris
tersebut terjadi pada daerah vital yang
mengandung pembuluh darah besar
b. Terapi dari bagian bedah seperti leher,pergelangan tangan,atau
 Pro debridement rekonstruksi (R/ lipatan paha.7
hari rabu) Jika sesorang mengalami serangan
 Cek lab lengkap maka reflek akan melindungi diri. Untuk
 Injeksi ceftriaxone 2 gram/24 jam perlindungan diri akan menggunakan
 Injeksi ketorolac 30 mg/8 jam ekstremitas untuk mempertahankan diri
dari serangan, sehingga luka-luka
Perlukaan terjadi pada permukaan pertahanan pada umumnya terdapat pada
tubuh, sehingga penting untuk mengetahui lengan, tangan,tungkai bawah. Luka
struktur anatomis dan histologi dari kulit peertahanan adalah luka-luka yang
dan jaringan subkutan. Secara histologis diperoleh korban pada saat berusaha
kulit tersusun dari lapisan (dari superfisial melindungi/mempertahankan diri
ke profunda ) adalah epidermis,dermis dan 8
terhadap suatu serangan.
jaringan subkutan.4 Luka iris merupakan 1. Aspek Medikolegal visum Hidup
luka yang terjadi akibat persentuhan a. Visum et Repertum dan Rekam Medis
dengan permukaan yang tajam,dimana Visum et Repertum” adalah keterangan
ukuran panjang luka lebih besar dari pada tertulis yang dibuat oleh dokter dalam
dalam luka.5 kapasitasnya sebagai ahli atas
permintaan resmi dari penegak hukum

74 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Chotimah Zainab, Luka Bacok....

yang berwenang tentang apa yang pekerjaan atau mata pencariaanya


dilihat dan yang ditemukan pada objek untuk sementara waktu. Hukuman
yang diperiksanya dengan mengingat dapat dijatuhkan berdasarkan pasal 351
sumpah ketika menerima jabatan. ayat 1 KUHP: penganiayaan diancam
Dalam KUHAP sendiri, istilah Visum et dengan pidana penjara paling lama dua
Repertum ini tidak ada yang ada hanya tahun delapan bulan atau pidana denda
istilah Alat Bukti Surat yang dibuat paling banyak empat ribu lima ratus
dengan sumpah.1 rupiah
b. Tata cara permintaan visum et c. Luka berat
repertum untuk korban hidup :9 1) Luka berat adalah sebagaimana
Permintaan harus secara tertulis, tidak tercantum didalam pasal 90 KUHP yaitu:
dibenarkan secara lisan, telepon atau 1) Jatuh sakit atau mendapat luka yang
melalui pos; 2)Korban adalah barang tidak memberi harapan akan sembuh
bukti, maka permintaan visum et sama sekali, atau yang menimbulkan
repertum harus diserahkan sendiri oleh bahaya maut; 2)Tidak mampu terus-
polisi bersama-sama korban; 3)Tidak menerus untuk menjalankan tuga
dibenarkan permintaan visum et jabatan atau pekerjaan; 3)Kehilangan
repertum tentang suatu peristiwa yang salah satu panca indera; 4)Mendapat
lampau. cacat berat; 5)Menderita sakit lumpuh;
2. Kualifikasi Luka 6)Terganggunya daya piker selama
Penentuan berat ringannya luka empat minggu lebih; 7)Gugur atau
dicantumkan dokter dalam bagian matinya kandungan seorang
kesimpulan VeR berupa kualifikasi luka. perempuan.
Kualifikasi luka tersebut adalah :10
a. Luka ringan SIMPULAN
Luka yang tidak menimbulkan Kualifikasi derajad luka yang harus
penyakit atau halangan dalam dicantumkan oleh dokter didalam laporan
menjalankan pekerjaan atau mata visum et Repertum adalah berdasarkan ilmu
pencahariannya. Hukuman terhadap kedokteran, yakni berupa prognosis yang
luka ringan ini tercantum pada pasal 352 dapat dinilai secara medis satelah dokter
ayat 1 KUHP: Kecuali yang tersebut pada tersebut melakukan pemeriksaan dan
pasal 353 dan 356, maka penganiayaan penanganan terhadap pasien / korban.
yang tidak menimbulkan penyakit atau Prognosis ini diharapkan dapat membantu
halangan untuk menjalankan pekerjaan penyidik dalam membuat terang kasus/
jabatan atau perkara.
pencarian,diancam,sebagai Berdasarkan hasil pemeriksaan, maka
penganiayaan ringan,dengan pidana pada kasus ini dapat menimbulkan penyakit
penjara paling lama tiga bulan atau atau halangan dalam menjalankan
pekerjaan/pencaharian untuk sementara
pidana paling banyak empat ribu lima
waktu dan perlu perawatan kurang lebih
ratus rupiah. satu minggu.
b. Luka Sedang
Luka yang menimbulkan penyakit
atau halangan dalam menjalankan

75 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Chotimah Zainab, Luka Bacok....

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman Bagi Pathologists. (Karch SB, ed.). Totowa, New
Dokter dan Penegak Hukum, oleh Sofwan Jersey: Humama Press; 2007
Dahlan,2007
7. DiMaio VJ, DiMaio D. Forensic Pathology. 2nd
2. Admadja D S.Derajad Luka pada Kasus ed. (Geberth VJ, ed.). Boca Raton: CRC Press
Perlukaan Dan Keracunan, 2010 LLC;2001

3. Sampurna ZS,Tjetjep dwidja Siswaja. Peranan 8. www.exploreforensics.co.uk defensive


Ilmu Kedokteran Forensik Dalam Penegakkan Wounds – explore forensic By: Jack claridge (
. Jakarta. 2003 5 Dec 16 )

4. Saukko P, Knight B. Knight’s Forensic 9. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal


Pathology.3rd ed. London : Edward Arnold Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
Ltd.;2004 Surabaya: 2010

5. Shepherd R. Simpson’s Forensic Medicine. 10. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (


12th ed. (Shepherd R, ed.). New KUHP)
York:Arnold;2003

6. Shkrum MJ, Ramsay DA, Forensic Pathology


Of Trauma: Common Problem for the

76 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

EFEK PENAMBAHAN NATRIUM FLORIDA PADA PENYIMPANAN


SAMPEL DARAH YANG MENGANDUNG HEROIN DAN MORFIN
Citra Manela1, Wibisana Widya Atmaka2, Ade Firmansyah3

Abstrak PENDAHULUAN
Pemakaian Heroin dan morfin masih cukup tinggi di Penyalahgunaan heroin masih tinggi di
Indonesia. Penelitian ini membahas tentang efek
penambahan Natrium Florida sebagai pengawet Indonesia.1 Heroin dalam tubuh sangat
sampel darah pada penyimpanan darah mengandung
Heroin (6 monoacethylmorpine dan morfin) di kulkas
cepat diubah menjadi 6
suhu 5 - 15 0 C selama 3 hari. Penelitian ini merupakan monoacetylmorphine. Sehingga kita
penelitian analitik eksperimental dalam lingkungan
yang terkontrol terhadap 8 subjek penelitian. Masing- mengetahui seseorang mengkonsumsi
masing subjek diambil 9 ml darah kemudian dibagi ke heroin dengan ditemukannya 6
dalam 3 tabung. Tabung pertama langsung diperiksa
kadar 6 monoacetylmorphine dan morfin nya dengan monoacetylmorphine didarah. Setelah
alat GC- MS. Kemudian tabung kedua dan ketiga
disimpan selama 3 hari dikulkas suhu 5 - 15 0 C. pengambilan darah dari tubuh manusia,
Tabung kedua diberi penambahan natrium flourida, proses hidrolisis heroin tetap berlanjut
sementara tabung ketiga tidak. Pada hari ketiga, darah
di tabung kedua dan tabung ketiga dilakukan walaupun diluar tubuh. 6
pemeriksaan kadar 6 monoacethylmorpine dan morfin.
Rata-rata perbedaan kadar antara sebelum dan monoacetylmorphin akan dirubah menjadi
sesudah penyimpanan pada sampel yang morfin, dan morfin akan dirubah menjadi
ditambahkan natrium florida adalah 203,6 ± 252,4
ng/ml dengan signifikansi (p) = 0,057. Rata-rata morfin glukoronat.2,3 Pada situasi dimana
perbedaan kadar morfin antara sebelum dan sesudah
penyimpanan sampel tanpa penambahan natrium
terjadi keterlambatan pengiriman sampel ke
florida adalah 411,9 ± 475,2 ng/ml dengan signifikansi laboratorium utuk pemeriksaan konfirmasi
(p) = 0,044. Dengan penambahan natrium florida
dapat mencegah perubahan 6 monoacetylmorphine maka diperlukan metode penyimpanan
menjadi morfin pada 50% sampel penelitian. Pada darah untuk menjaga stabilitas kadar 6
sampel yang disimpan natrium florida, tidak ada
perbedaan bermakna antara kadar morfin sebelum monoacetylmorphine dan morfin pada
dan sesudah penyimpanan selama 3 hari dikulkas
suhu 5 0 C – 15 0 C. terdapat perbedaan bermakna sampel darah.
pada sampel tanpa natrium florida antara kadar morfin Penyimpanan sampel darah yang
sebelum dan sesudah penyimpanan selama 3 hari
dikulkas suhu 5 0 C – 15 0 C. direkomendasikan adalah dengan
Kata Kunci: petunjuk penulisan, jurnal, kerangka
penambahan Natrium Florida sebagai
Afiliasi Penulis : 1. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, 2. pengawet dan potasium oksalat / EDTA
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Korespondensi: Citra
Manela, email : manela_84@yahoo.com, Telp/Hp: 081382363552 sebagai antikoagulan yang disimpan pada
kulkas suhu 4 0 C.4 Pada prakteknya sering
pengiriman sampel darah kurang diperhatikan
mulai dari penggunaan antikoagulan dan
pengawet yang sesuai hingga suhu
penyimpanan sampel. Oleh karena itu peneliti
tertarik melihat efek dari natrium florida yang
ditambahkan pada sampel darah pada
penyimpanan sampel yang mengandung
heroin dan morfin. Apakah natrium florida

77 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Citra Manela, Efek Penambahan....

dapat membantu menjaga stabilitas kadar Pada kulit subjek tampak abses, phlebitis,
heroin dan morfin pada sampel terebut dan infeksi kulit lainnya akibat suntikan.

METODE Kriteria Drop- Out dalam penelitian ini


Penelitian ini adalah penelitian analitik adalah hasil pemeriksaan sampel melalui
eksperimental dalam lingkungan terkontrol. GC/MS menunjukkan hasil error. Jumlah
Variabel bebasnya adalah natrium florida. sampel tidak cukup untuk pemeriksaan
Terdapat 2 variabel terikat yaitu kadar 6 GC/MS.
monoacetylmorphine pada hari ketiga dan
kadar morfin pada hari ketiga .Penelitian ini HASIL DAN PEMBAHASAN
dilaksanakan di Puskesmas Kecamatan Johar
Baru dan sampel darah akan disimpan Penelitian ini dilakukan terhadap 8 orang
dikulkas bagian forensik FKUI-RSCM, Jakarta. pasien Puskesmas Johar Baru yaitu pengguna
Pemeriksaan Gas Chromatography Mass heroin yang mengikuti layanan jarum suntik
Spectrometry ( GC MS ) akan dilakukan steril.
dilaboratorium kesehatan daerah (Labkesda
jakarta). Periode penelitian selama bulan
Juni tahun 2014.
Sampel penelitian adalah sampel
darah pasien puskesmas kecamatan Johar
Baru yang mengkonsumsi heroin yang
mengikuti program layanan jarum suntik
steril dan memenuhi kriteria penerimaan
dan penolakan. Jumlah sampel setelah
dimasukkan ke rumus uji hipotesa dua rerata
berpasangan adalah 8.18 Sampel diambil
dengan cara consecutive sampling pada
setiap subjek yang memenuhi kriteria
penerimaan.
Kriteria Penerimaan:
1. Laki-laki atau perempuan yang berumur
diatas 18 tahun.
2. Menggunakan heroin 30 menit - 3 jam
sebelum pengambilan darah ( dari
anamnesa).
3. Karena 6 MAM mulai terdeteksi 30 menit Proses hidrolisis 6
monoacetylmorphine menjadi morfin tetap
setelah pemakaian intravena dan masih
terjadi diluar tubuh. Pada pemeriksaan sampel
terdeteksi didarah 1-3 jam setelah
hari pertama terhadap zat 6
penggunaan intravena. Sedangkan morfin
monoacetylmorphine tidak ditemukan adanya
masih terdeteksi didarah hingga 24 jam.
zat tersebut. Karena pada kedelapan sampel ,
4. Bersedia ikut serta dalam penelitian 6 monoacetylmorphinenya telah berubah
Kriteria penolakan menjadi morfin. Tetapi pada pemeriksaan hari
ketiga pada darah yang disimpan dengan

78 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Citra Manela, Efek Penambahan....

penambahan Natrium Florida, 50% dari bermakna antara kadar morfin sebelum dan
sampel di temukan adanya zat sesudah penyimpanan dalam kulkas selama 3
6 monoacetylmorphine. Hal ini menunjukkan hari. Hasil yang sama juga tampak jika
dilakukan One Pair T test terhadap selisih
dengan penambahan natrium florida telah
relatif kadar morfin sebelum dan sesudah
mencegah perubahan 6 monoacetylmorphine penyimpanan. Pada tabel 4.5 tampak bahwa
menjadi morfin. nilai p = 0,334 (p > 0,05). Selisih relatif
terendah terdapat pada sampel nomor 7
sebanyak 2,4 % dan tertinggi pada sampel
nomor 1 sebanyak 32,6 %. Rata-rata
penurunan selisih relatif 16,2 ± 12,42 %.

Pada penyimpanan sampel dengan


penambahan natrium florida, terlihat
penurunan kadar morfin pada hari ketiga pada
kedelapan sampel. Rata-rata kadar morfin hari
pertama adalah 860,2 ± 669,5 ng/ml menurun
menjadi 656,6 ± 425,8 ng/ml pada hari
ketiga.
Nilai selisih absolut diperoleh dari
menghitung perbedaan antara sebelum
penyimpanan dan setelah penyimpanan.
Selisih terendah terjadi pada sampel nomor 3
sebanyak 5,37 ng/ml dan tertinggi pada sampel Pada penyimpanan sampel tanpa
nomor 1 sebanyak 688,51 ng/ml. Rata-rata natrium florida, terlihat penurunan kadar
perbedaan antara sebelum dan sesudah morfin pada hari ketiga pada kedelapan
penyimpanan pada sampel yang ditambahkan sampel. Rata–rata kadar morfin hari pertama
natroum florida adalah 203,6 ± 252,4 ng/ml. adalah 860,2 ± 669,5 ng/ml menurun menjadi
Untuk mengetahui apakah distribusi 448,2 ± 270,7 ng/ml pada hari ketiga.
data kadar morfin, dilakukan uji Shapiro-Wilk Selisih absolut terendah terjadi pada
dengan hasil data kadar morfin hari pertama sampel nomor 3 sebanyak 42,11 ng/ml dan
nilai signifikasi (p) = 0,358 dan kadar morfin tertinggi pada sampel nomor 1 sebanyak
hari ketiga yang disimpan dengan penambahan 688,51 ng/ml. Rata-rata perbedaan antara
natrium florida p= 0,578. Karena p > 0,05 sebelum dan sesudah penyimpanan pada
maka distribusi data normal. Selanjutnya untuk sampel tanpa penambahan natrium florida
menentukan apakah ada perbedaan bermakna adalah 411,9 ± 475,2 ng/ml.
antara kadar morfin hari pertama dan kadar Selisih relatif terendah terdapat pada
morfin hari ketiga yang disimpan dengan sampel nomor 8 sebanyak 18% dan tertinggi
penambahan natrium florida, maka dilakukan pada sampel nomor 1 sebanyak 69,5 %. Rata –
uji t-paired untuk menguji hipotesa. Hasilnya rata penurunan selisih relatif 42,1 ± 18,8 %.
menunjukkan p = 0,057 (p > 0,05), yang Untuk menentukan distribusi data
berarti pada sampel yang disimpan dengan kadar morfin, dilakukan uji Shapiro-Wilk
natrium florida, tidak terdapat perbedaan dengan hasil data kadar morfin hari pertama

79 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Citra Manela, Efek Penambahan....

nilai signifikasi (p)= 0,358 dan kadar morfin


hari ketiga tanpa penambahan natrium florida
p= 0,67. Karena p > 0,05 maka distribusi data
normal. Selanjutnya untuk menentukan apakah
ada perbedaan bermakna antara kadar morfin
hari pertama dan kadar morfin hari ketiga
tanpa penambahan natrium florida, maka
dilakukan uji t-paired untuk menguji hipotesa.
Hasilnya menunjukkan p = 0,044 (p < 0,05),
yang berarti pada sampel yang disimpan tanpa
natrium florida, terdapat perbedaan bermakna
antara kadar morfin sebelum dan sesudah
penyimpanan dalam kulkas selama 3 hari.
Hasil yang sama juga didapatkan jika
dilakukan uji One Pair T test terhadap selisih
relatif kadar morfin yang disimpan tanpa
natrium florida. Pada tabel 4.8 tampak nila p = Heroin didalam tubuh akan cepat
0,00 (< 0,05) dihidrolisis menjadi 6 monoacetylmorphine.
Dalam waktu 10 - 40 menit setelah pemakaian
intravena, semua heroin berubah menjadi 6
monoacetylmorphine (6MAM). Degradasi 6
MAM dan morfin terjadi sangat cepat baik in
vivo maupun in vitro. Kecepatan degradasi ini
salah satunya dipengaruhi oleh penambahan
pengawet (natrium florida).
Proses hidrolisis 6
monoacetylmorphine menjadi morfin tetap
terjadi diluar tubuh. Pada pemeriksaan sampel
hari pertama terhadap zat 6
monoacetylmorphine tidak ditemukan adanya
zat tersebut. Karena pada kedelapan sampel, 6
monoacetylmorphinenya telah berubah
menjadi morfin. Oleh karena itu dianjurkan
penambahan natrium florida pada darah
sebelum dibawa ke laboratorium. Karena
dalam waktu 1 jam saja yaitu dari Puskesmas
Johar Baru ke Labkesda telah merubah 6
monoacetylmorphine menjadi morfin. Tetapi
Untuk mengetahui apakah ada pada pemeriksaan hari ketiga pada darah yang
perbedaan bermakna antara selisih absolut disimpan dengan penambahan Natrium
kadar morfin yang disimpan dengan natrium Florida, 50% dari sampel di temukan adanya
florida dan tanpa natrium florida maka zat 6 monoacetylmorphine. Hal ini
dilakukan uji Wilcoxon untuk menguji menunjukkan dengan penambahan natrium
hipotesa (distribusi data tidak normal). Hasil florida telah mencegah perubahan 6
menunjukkan p = 0,012 (p < 0,05 ), yang monoacetylmorphine menjadi morfin
berarti terdapat perbedaan yang bermakna Pada pemeriksaan hari ketiga pada
antara kadar morfin yang disimpan dengan sampel darah yang ditambahkan natrium
natrium florida dan tanpa natrium florida. florida ditemukan 6 monoacetylmorphine pada
Hasil yang sama juga didapatkan jika 4 sampel. Jika dibandingkan dengan kadar
dilakukan uji T berpasangan terhadap selisih morfin hari ketiga yang disimpan dengan
relatif kadar morfin sebelum dan sesudah natrium florida, kadar 6 monoacetylmorphine
penyimpanan dengan dan tanpa natrium ini adalah 1,1 % - 1,9 % dari kadar
florida, didapatkan nilai p < 0,05.

80 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Citra Manela, Efek Penambahan....

morfinnya. Sehingga pada 4 sampel yang kulit lainnya akibat penggunaan jarum suntik.
negatif jika dilakukan perhitungan yaitu 1,1 - Tetapi pemeriksaan paling akurat terhadap
1,9 % dari kadar morfinnya didapatkan kadar 6 adanya infeksi yaitu dengan pemeriksaan
MAM berada dibawah LOD GC MS darah lengkap.
dilabkesda, dimana LOD labkesda yaitu 10
ng/ml. Sehingga hasil yang negatif bukan Selain adanya bakteri didarah, faktor
berarti bahwa kadarnya negatif, tetapi lain yang dapat mempengaruhi kadar morfin
kadarnya berada di bawah LOD GC MS yang ini adalah pH. Pada penelitian ini pH tidak
digunakan ( Labkesda ). Sedangkan menurut diatur, karena itu dianggap sebagai variabel
kepustakaan LOD GC MS terhadap kadar perancu. pH yang dianjurkan untuk
6 MAM ini adalah 0,75 ng/ml. 39 penyimpanan darah yang mengandung heroin
Pada kedelapan sampel darah yang adalah pH 3, dimana pada sampel ditambarkan
disimpan dengan natrium florida tampak larutan buffer.9
penurunan kadar morfin pada hari ketiga yaitu
Uji hipotesa terhadap selisih kadar
sebesar 203,6 ± 252,4 ng/ml. Tetapi jika
morfin sampel yang disimpan dengan natrium
dibandingkan dengan sampel darah yang
florida dan tanpa natrium florida didapatkan
disimpan tanpa natrium florida tampak
hasil terdapat perbedaan yang bermakna antara
penurunan lebih besar yaitu sebesar 411,9 ±
kadar morfin yang disimpan dengan natrium
475,2 ng/ml.
florida dan tanpa natrium florida.
Hasil uji hipotesa menunjukkan bahwa
Pemilihan mesin Gas Chromatography
pada sampel darah yang ditambahkan natrium
Mass Chromatrography (GC MS) untuk
florida, tidak ada perbedaan bermakna antara
pemeriksaan kuantitatif dipilih oleh peneliti
kadar morfin sebelum dan sesudah
karena metode ini merupakan gold standar
penyimpanan selama 3 hari. Hal ini
untuk pemeriksaan 6 MAM dan morfin. Selain
membuktikan natrium florida dapat menjaga
itu juga bisa digunakan LC MS, tetapi
stabilitas morfin hingga hari ketiga, walaupun
dilaboratorium kesehatan daerah (Labkesda) ,
disimpan pada suhu 5 0 C – 15 0 C (suhu kulkas
alat LC MS tersebut masih baru dan belum
bagian forensik FKUI-RSCM). Sedangkan
dilakukan standarisasi.
suhu penyimpanan sampel yang
direkomendasikan oleh the royal college of
pathologist bagian forensik dan medikolegal
adalah kulkas suhu 40 C.19 SIMPULAN
Uji hipotesis terhadap sampel darah 1. Dengan penambahan natrium florida
yang disimpan tanpa natrium florida dapat mencegah perubahan 6
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan monoacetylmorphine menjadi morfin
bermakna antara kadar morfin sebelum dan pada 50% sampel penelitian
sesudah penyimpanan selama 3 hari. Hal ini 2. Tanpa penambahan natrium florida tidak
menunjukkan tanpa penambahan natrium dapat mencegah perubahan 6
florida, walaupun disimpan dikulkas suhu 5- monoacetylmorphine menjadi morfin
15 0 C, kadar morfin didarah tidak dapat 3. Pada sampel yang disimpan dengan
dijaga. natrium florida, tidak ada perbedaan
Perbedaan selisih kadar morfin antara bermakna antara kadar morfin sebelum
hari ketiga dan hari pertama juga dipengaruhi dan sesudah penyimpanan selama 3 hari
oleh bakteri yang ada didarah. Penggunaan dikulkas suhu 50 C – 150 C.
heroin yang terbanyak adalah secara intravena. 4. Pada sampel yang disimpan tanpa
Sehingga kemungkinan infeksi sangatlah natrium florida , terdapat perbedaan
besar. Pada para pengguna heroin dapat yang bermakna antara kadar morfin
ditemukan flebitis, abses, nekrosis dan miositis sebelum dan sesudah penyimpanan
kronis.12 Pada penelitian ini sesuai kriteria selama 3 hari dikulkas suhu 50 C – 150
penolakan, subjek yang ikut dalam penelitian C.
ini yaitu dimana pada pemeriksaan fisik tidak
ditemukan adanya flebitis, abses dan infeksi

81 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Citra Manela, Efek Penambahan....

DAFTAR PUSTAKA

1. Butar-butar Darwin. Jurnal data pencegahan dan 9. Evgenia V Pindel et al. Purification and cloning of
pemberantasan penyalahgunaan dan a broad substrate specificity human liver
peredaran gelap narkoba tahun 2012. Edisi carboxylesterase that catalizes the hydrolysis
tahun 2013. Badan Narkotika Nasional of cocaine and heroin. The Journal of biological
Republik Indonesia. 2013. chemistry. 1997 ; 272 (23) : 14769-14775.

2. Kamendulis L M, Brzezinski M R, Pindel EV, 10. M.Espinosa Bosch, A.Ruiz Sanchez, F.Sanchez
Bosron W F, Dean R A. Metabolism of cocaine Rojas, C. Bosch Ojeda. Morphine and its
and heroin is catalized by the same human metabolites : analytical methodologies for its
liver carboxylesterases. J Pharmacol Exp determination. Journal of Pharmaceutical and
Ther. 1996 ; 279 (2): 713-717 biomedical analysis.2007 ; 43 : 799-815

3. Sompop Bancharit, Christopher L Morton, Yu 11. Marks Dawn B, Marks Allan B, Smith Colleen
Xue, Philip M Potter, Matthew R Redinbol. M. Biokimia Kedokteran Dasar. EGC. Jakarta.
Structural basis of heroin and cocaine 2000.
metabolism by a promiscuous human drug
processing enzyme. Nature Structural Biology. 12. Saukko Pekka, Knight Bernard. Poisoning and
May 2003 ; 10(5) : 349 – 356. Pathologist. In : Knight’s Forensic Pathology. 3rd
ed. Edward Arnold. UK. 2004. p. 541-551
4. S Kerrigan. Sampling, storage and Stability. In :
Clarke’s Analytical Forensic Toxicology. 2rd 13. Liras paloma, Kasparian Stephen S, Umbreit
ed.2008.p.335-354 Wayne W. Enzymatic transformation of
morphine by hydroxysteroid dehydrogenase
5. Karch Steven B. Karch’s Pathology of Drug from Pseodomonas testosteroni. American
Abused. Third Edition. CRC Press. 2002. Society for Microbiology. October 1975; 30 (4):
650-656
6. Katzung Bertram G. Basic and Clinical
Pharmacology. Ed.10.Sanfransico. 2006. 14. Vermeire A, Remon J P. Stability and
compability of morphine. International Journal
7. Michael D Cole. The analysis of controlled of Pharmaceutics.1999; 87: 17-51.
substances. John Wiley & Sons, Ltd. 2003.
Dahlan Sopiyudin M. Langkah-langkah membuat
8. Rook Elisabeth J, Huitema Alwin DR, Brink Win proposal penelitian. Sagung Seto. 2008.
Van Den, Ree Jan M, Beijnen Jos H.
Pharmacocinetics and pharmacocinetic
Variablity of Heroin and its metabolites.
Current Clinical Pharmacology. 2006; 1: 109-
118.

82 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

HUBUNGAN ANTARA PANJANG ULNA DENGAN JENIS KELAMIN DAN


TINGGI BADAN

Dadan Rusmanjaya1, R.P Uva Utomo2, Bianti H. Machroes2

Abstrak PENDAHULUAN
Jenis kelamin dan tinggi badan merupakan salah satu Tulang adalah jaringan hidup yang
parameter yang digunakan dalam identifikasi. Perkiraan
yang paling tepat untuk pengukuran Tinggi Badan dapat strukturnya dapat berubah apabila mendapat
dihitung dengan tulang panjang. Ulna merupakan tulang
panjang yang sering digunakan untuk menentukan tinggi
tekanan. Seperti jaringan ikat lain, tulang
badan maupun jenis kelamin. Pada penelitian ini terdiri atas sel-sel, serabut-serabut, dan
dilakukan pengukuran panjang ulna untuk mengetahui
adanya hubungan antara panjang ulna dan jenis kelamin matriks. Tulang bersifat keras oleh karena
dengan tinggi badan. Penelitian ini merupakan penelitian matriks ekstraselularnya mengalami
observasional analitik dengan pendekatan cross
sectional. Sampel sebanyak 167 sampel (46 orang laki- kalsifikasi, dan mempunyai derajat elastisitas
laki dan 121 orang perempuan). Penentuan jenis
kelamin dan pengukuran tinggi badan serta panjang tertentu akibat adanya serabut-serabut
ulna. Pengukuran menggunakan satu meteran dengan organik. 1
unit centimeter oleh 1 (satu) pemeriksa secara
bergantian. Pengukuran tinggi badan dari puncak kepala Dapat dibedakan dua jenis tulang,
(vertex) sampai ke tumit (heel) dan pengukuran panjang
ulna dari proksimalolecranon sampai ujung distal
yakni tulang kompakta dan tulang spongiosa.
processus styloideus ulna. Berdasarkan uji Pearson Perbedaan antara kedua jenis tulang tadi
terdapat hubungan signifikan (p<0,05) antara panjang
ulna kanan dan kiri dengan tinggi badan laki-laki dan ditentukan oleh banyaknya bahan padat dan
perempuan. Berdasarkan uji spearman rho terdapat
hubungan yang signifikan (p<0,05) antara panjang ulna
jumlah serta ukuran ruangan yang ada di
kanan dan kiri dengan jenis kelamin. Berdasarkan dalamnya. Semua tulang memiliki kulit luar
backward linier regresion didapatkan empat hubungan
antara panjang ulna dengan tinggi badan pada masing- dan lapisan substansia spongiosa di sebelah
masing jenis kelamin. Pada penelitian ini mencari dalam, kecuali apabila masa substansia
hubungan antara panjang ulna dengan jenis kelamin dan
tinggi badan didapatkan hubungan yang signifikan spongiosa diubah menjadi cavitas medullaris
sehingga pada pengukuran panjang ulna dapat
menentukan tinggi badan seseorang. Parameter (rongga sumsum).2
identifikasi yang dapat digunakan yaitu jenis kelamin dan Menghitung tinggi badan dengan
tinggi badan. Pengukuran tinggi badan berhubungan
dengan panjang tulang panjang. tulang merupakan elemen penting dari ilmu
Kata Kunci: Forensik, Forensik Antropologi, Tulang
Panjang, Jenis Kelamin, Tinggi Badan
forensik. Perkiraan yang paling tepat
berdasarkan pada tulang panjang di
Afiliasi Penulis : 1. Program Pendidikan Dokter Spesialis 1, Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal, Fakultas Kedokteran Universitas ekstremitas bawah atau ekstremitas atas.
Diponegoro/RSUP Dr. Kariadi Semarang, 2. Staf Medis KSM Kedokteran
Forensik dan Medikolegal RSUP Dr.Kariadi Semarang.
Korespondensi: dr. Dadan Rusmanjaya, email
Ulna adalah tulang panjang yang sering
Rusmanjaya.dadan@gmail.com, Telp/Hp: (024) 8413993. digunakan untuk memperkirakan tinggi
badan. Sejumlah penulis telah menyelidiki
estimasi tinggi badan berdasarkan
pengukuran ulna dan tulang lain dari
ekstremitas atas (Rao et al, 1989;. Badkur dan
Nath, 1990; Mall et al, 2001.).
Beberapa penulis telah memaparkan
persamaan metode berdasarkan tulang
panjang (Breitinger 1937; Telkkä, 1950;

83 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Dadan Rusmanjaya, Hubungan Antara.....

Trotter dan Gleser, 1958; Muñoz et al, 2001); dengan 7 Februari 2017. Hipotesis pada
namun ternyata juga diketahui bahwa rumus penelitian ini yaitu pengukuran panjang tulang
yang berlaku untuk satu populasi tidak selalu ulna dapat menentukan jenis kelamin dan
memberikan hasil yang akurat untuk populasi tinggi badan seseorang dan rumus penentuan
lain. tinggi badan dengan menggunakan
Beberapa penulis telah memaparkan pengukuran panjang tulang ulna. Untuk
persamaan metode berdasarkan tulang mendapatkan data, peneliti Membuat
panjang (Breitinger 1937; Telkkä, 1950; formulir informed consent sebagai instrument
Trotter dan Gleser, 1958;. Muñoz et al, 2001); pengumpulan data, melakukan informed
namun ternyata juga diketahui bahwa rumus consent terhadap subjek penelitian,
yang berlaku untuk satu populasi tidak selalu melakukan pengumpulan data-data dengan
memberikan hasil yang akurat untuk populasi menggunakan instrument penelitian berupa
lain. Seorang peneliti yang pertama kali formulir consent yang diisi oleh mahasiswa/I
melaporkan ini pada tahun 1899, yang dan pengukuran langsung tinggi badan dan
menyatakan bahwa metode formula panjang tulang ulna mahasiswa/I tersebut,
diturunkan untuk satu populasi seharusnya melakukan pengolahan, analisis dan
hanya diterapkan pada kelompok lain dengan interpretasi data, penulisanlaporan penelitian.
hati-hati. Pada tahun 1929, Stevenson Pengukuran menggunakan satu meteran
membenarkan adanya perbedaan antar- dengan unit centimeter oleh 1 (satu)
populasi sehubungan dengan estimasi tinggi pemeriksa secara bergantian. Pengukuran
badan (Lundy, 1985). Kebanyakan penelitian tinggi badan dari puncak kepala (vertex)
sejak saat itu telah menekankan bahwa rumus sampai ke tumit (heel) dan pengukuran
regresi untuk estimasi tinggi badan harus panjang ulna dari proksimalolecranon sampai
spesifik pada populasi tertentu (Krogman dan ujung distal processus styloideus ulna.
Iscan, 1986).
Data yang diperoleh di olah
Rumus diturunkan oleh Trotter dan
menggunakan SPSS for Windows versi 20
Gleser (1958) merupakan yang paling sering
dengan tingkat kemaknaan yang digunakan
digunakan untuk estimasi tinggi badan. Di
besarnya 0,05. Untuk mengetahui hubungan
Turki, rumus Trotter-Gleser untuk kulit putih
antar variabel digunakan uji statistik
telah paling banyak digunakan untuk studi
Kolmogorov - Smirnov, dilakukan dalam batas
forensik dan antropologi; Namun, akurasi
kepercayaan (α = 0,05) yang berarti bila
formula ini untuk penduduk Turki belum
diperoleh nilai p ≤ 0,05 ditemukan adanya
dievaluasi secara rinci.
hubungan yang signifikan secara statistik
METODE antara variabel bebas dan variabel tergantung
Penelitian ini merupakan penelitian 167 subyek diikutsertakan dalam penelitian
observasional analitik dengan pendekatan yang memenuhi kriteria inklusi, terdiri dari 46
cross sectional. Sampel penelitian dengan laki-laki dan 121 perempuan. Pada Tabel 1
consecutive sampling didapatkan jumlah tercantum distribusi panjang ulna kanan dan
sampel sebanyak 167 sampel (46 orang laki- kiri pada Pria serta Wanita. Berdasarkan Tabel
laki dan 121 orang perempuan) dengan 2 pada uji Uji pearson Hubungan Antara
rentang usia pria dan wanita pada usia 21-25 Panjang Ulna dengan Tinggi Badan
tahun pada tanggal 27 Januari 2017 sampai menunjukkan bahwa sebagian besar data

84 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Dadan Rusmanjaya, Hubungan Antara.....

tidak terdistribusi normal dengan nilai p< Tabel 4. Hubungan Antara Panjang Ulna dan
Jenis Kelamin dengan Uji Spearman
0,05. Kemudian dilakukan uji korelasi pearson.
Pada uji korelasi pearson didapatkan
hubungan yang bermakna Panjang Ulna
dengan Tinggi Badandengan nilai p < 0,05
(Tabel 3). Pada uji korelasi Spearmens
didapatkan hubungan yang bermakna Antara
Panjang Ulna dan Jenis Kelamindengan tinggi
badan dengan nilai p < 0.05 (Tabel 4). Pada
Tabel 5. Uji Regresi Linear Terhadap Tinggi
Tabel 5 menunjukan hasil uji regresi linear
Badan
dalam menentuan rumus yang dapat
digunakan dalam menentukan tinggi badan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 1. Distribusi Panjang Ulna Kanan dan Kiri


pada Pria serta Wanita

Terdapat perbedaan tinggi badan pada


pria dibanding perempuan, hal ini disebabkan
Tinggi badan berbeda-beda antara individu
yang satu dengan individu yang lain. Menurut
Supariasa (2002) hal tersebut berdasarkan
Tabel 2. Uji pearson Hubungan Antara Panjang dua faktor, yaitu:
1. Faktor Internal
a. Genetik
Pada usia dewasa seks hormon
berkontribusi dalam remodeling tulang
dengan memperlambat penyerapan
tulang lama dan mempercepat deposit
tulang baru (Tortora dan Derrickson,
2011).
b. Jenis Kelamin
Sejak usia 12 tahun, anak pria sering
mengalami pertumbuhan lebih cepat
Tabel 3. Hubungan Antara Panjang Ulna dibandingkan wanita. Pria mempunyai
dengan Tinggi Badan dengan Uji Pearson lemak subkutan yang lebih sedikit,
sehingga membuat bentuknya lebih
angular. Sedangkan wanita dewasa
cenderung lebih pendek dibandingkan
pria dewasa dan mempunyai tulang
yang lebih kecil dan lebih sedikit massa
otot. Wanita lebih banyak mempunyai
lemak subkutan (Snell, 2012).

85 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Dadan Rusmanjaya, Hubungan Antara.....

2. Faktor Eksternal (metotreksat), anti kejang, anti


a. Lingkungan koagulan (heparin, warfarin). Beberapa
Lingkungan pra natal dari masa obat tertentu dapat meningkatkan
konsepsi sampai lahir mempengaruhi resiko terkena osteoporosis.
bayi yang akan dilahirkan menjadi Pengobatan tiroid juga berperan
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan terhadap timbulnya osteoporosis
lahir mati. Lingkungan post natal (Supariasa, 2002).
mempengaruhi pertumbuhan bayi d. Penyakit
setelah lahir antara lain lingkungan Beberapa penyakit dapat
biologis, seperti ras/suku bangsa, jenis menyebabkan atrofi pada bagian
kelamin, umur, gizi, perawatan tubuh, sehigga terjadi penyusutan
kesehatan, kepekaan terhadap tinggi badan. Beberapa penyakit
penyakit infeksi dan kronis, adanya tersebut adalah:
gangguan fungsi metabolisme dan 1) Kelainan akibat gangguan sekresi
hormon. Selain itu faktor fisik dan hormon pertumbuhan dapat
biologis, psikososial dan faktor menyebabkan gigantisme,
keluarga yang meliputi adat istiadat kretinisme dan dwarfisme.
yang berlaku dalam masyarakat turut (Schteingart, 2012).
berpengaruh (Supariasa, 2002). 2) Kelainan pada sikap tubuh dapat
b. Gizi berupa skoliosis, kifosis dan
Beberapa zat gizi yang dibutuhkan lordosis. (Fauci et al., 2008).
dalam pertumbuhan dan remodeling Pada lanjut usia biasanya menderita
tulang adalah mineral dan vitamin. osteoporosis. Osteoporosis merupakan
Sejumlah besar kalsium dan fosfat penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh
dibutuhkan dalam proses penurunan densitas masa tulang dan
pertumbuhan tulang, dan sejumlah perburukan mikroarsitektur tulang sehingga
kecil magnesium, fluoride dan tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
mangan. Vitamin A menstimulasi Angka kejadian laki-laki dibanding perempuan
aktivitas osteoblas. Vitamin C adalah 1:2 dengan usia diatas 70 tahun. 3
dibutuhkan untuk mensintesis kolagen,
protein utama dari tulang. Vitamin D DISKUSI
membantu pertumbuhan tulang
Berdasarkan uji Pearson antara
dengan carameningkatkan absorbsi
panjang ulna dengan tinggi badan pada pria
kalsium dari makanan pada sistem
didapatkan korelasi yang kuat dengan nilai (p)
gastrointestinal ke dalam darah.
< 0.05. Nilai korelasi Pearson 0,574 dan 0,619
Vitamin K dan B12 juga dibutuhkan
menunjukkan bahwa arah korelasi positif
untuk sintesis protein tulang (Tortora
dengan kekuatan korelasi yang kuat. Dari hasil
dan Derrickson, 2011).
analisis regresi linier responden
c. Obat-obatan
Pemakaian beberapa jenis obat juga perempuan diperoleh nilai p adalah sebesar
dapat mengganggu metabolisme 0,000. Karena nilai p< 0,005 maka rumus layak
tulang. Jenis obat tersebut antara lain untuk digunakan. Berdasarkan uji Pearson
kortikosteroid, sitostatika antara panjang ulna dengan tinggi badan pada

86 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Dadan Rusmanjaya, Hubungan Antara.....

wanita didapatkan korelasi yang kuat dengan


nilai (p) < 0.05. Nilai korelasi Pearson 0,612 SIMPULAN
dan 0,659 menunjukkan bahwa arah korelasi Terdapat hubungan antropometri
positif dengan kekuatan korelasi yang kuat. tangan dengan jenis kelamin. Dimana
Dari hasil analisis regresi linier responden antropometri tangan laki-laki lebih besar
perempuan diperoleh nilai p adalah sebesar daripada perempuan. Terdapat hubungan
0,000. Karena nilai p< 0,005 maka rumus layak antara panjang tulang pengumpil kanan dan
untuk digunakan. Berdasarkan uji Spearman's kiri dengan jenis kelamin. Dimana tulang
rhoantara panjang ulna dengan jenis kelamin pengumpil kanan dan kiri pada laki-laki lebih
didapatkan korelasi yang kuatdengan nilai (p) panjang daripada perempuan. Terdapat
< 0.05. Nilai uji Spearman's rhoantara 0,396 hubungan antara tinggi badan dengan jenis
dan 0, 398 menunjukkan bahwa arah korelasi kelamin. Dimana tinggi badan laki-laki lebih
positif dengan kekuatan korelasi yang kuat. tinggi daripada perempuan.
Dari hasil analisis regresi linier responden
perempuan diperoleh nilai p adalah sebesar
0,000. Karena nilai p< 0,005 maka rumus layak
untuk digunakan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Syaifuddin. Struktur dan Komponen Tubuh 6. Handkerchief el-Ahmed. Refarat Fraktur


Manusia. Jakarta: Penerbit Buku Tulang Radius. Diunduh dari:
Kedokteran EGC; 2002. http://www.kumpulaninformasi.com/articl
e-el-ahmed-handkerchief-referat-fraktur-
2. Irianto, Kus. Struktur dan Fungsi Tubuh tulang-radius.html
Manusia. Bandung: Yrama Widya; 2004.
7. Mann RW. The Forensic
3. Watson, Roger. Anatomi dan Fisiologi. Anthropologist.http://www.crimeandclues.
Jakarta: EGC; 2002. com[diakses 3 February 2017]
4. Iknes Sihombing ,Sunny Wangko ,Sonny J. 8. Glinka J, Artaria MD, Koesbardiati T.
R. Kalangi Bagian Anatomi-Histologi Metode Pengukuran Manusia Airlangga
Fakultas Kedokteran Universitas Sam University Press. Surabaya : 2008.
Ratulangi Manado. Jurnal Biomedik,Volume
4, Nomor 3, Suplemen, November 2012, 9. Munim Idris, Penerapan Ilmu Kedokteran
hlm. S18-28 . diunduh dari : Forensik dalam Proses Penyidikan Edisi
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/bio Revisi Cetakan I 2008 CV. Sagung Seto
medik/article/view/1210.com
10. Etty Indriati Ph.D. Identifikasi Rangka
5. Referensi: Buranda Theopilus et. al., Manusia Aplikasi Antropologi. In : Konteks
Osteologi dalam: Diktat Anatomi Biomedik Hukum.Gajah Mada Universitas Press.
I. Penerbit Bagian Anatomi FK Unhas. Cetakan pertama, Juli 2004.
Makassar. 2011. Hal 4-7.

87 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

PENENTUAN UMUR BERDASARKAN PEMERIKSAAN RADIOLOGIS


(LAPORAN KASUS)
Dedi Afandi1

Abstrak PENDAHULUAN
Penentuan umur sangat diperlukan terutama apabila Penentuan umur secara kedokteran
tidak didapatkan riwayat atau dokumen yang legal.
Pada laporan kasus ini akan disajikan penentuan umur forensik terkadang diperlukan pada beberapa
seorang terperiksa yang diduga memalsukan umurnya
agar dapat mengikuti kategori umur tertentu dari suatu
kasus, baik terhadap individu hidup atau
cabang olahraga. Metode yang digunakan adalah korban mati. Pada penentuan umur seorang
pemeriksaan radiologis gigi (panoramik) dan tulang
humerus. individu seringkali dimintakan kepada dokter
Kata Kunci: penentuan umur, panoramik, penyatuan spesialis forensik. untuk menentukan apakah
epifise
yang bersangkutan Kasus hukum pidana atau
Afiliasi Penulis : 1. KJF Kedokteran Forensik dan Medikolegal, Fakultas
Kedokteran Universitas Riau. Korespondensi: Dedi Afandi, email : perdata yang memerlukan prakiraan usia
dediafandi4n6@gmail.com
pada individu hidup, antara lain kasus
pemalsuan usia ketenagakerjaan, pernikahan,
atlet, perwalian anak, keimigrasian.
Pembuktian hukum akan usia penting untuk
menentukan apakah individu tersebut masih
dalam kategori anak atau sudah dewasa,
berkaitan dengan adanya perbedaan proses
hokum atau peradilan pada anak dengan
orang dewasa.1,2
Pada tulisan ini akan disajikan sebuah
kasus penentuan umur dari seorang atlet yang
diduga memalsukan umurnya untuk dapat
mengikuti kelas umur yang lebih rendah dari
suatu cabang olahraga.

LAPORAN KASUS
Seorang individu, laki-laki, usia tidak
diketahui, dibawa oleh penyidik ke KJF
Kedokteran Forensik dan Medikolegal
Fakultas Kedokteran Universitas Riau. Dalam
surat permintaan tersebut meminta agar
dilakukan pemeriksaan untuk menentukan
umur tersangka atas dugaan pemalsuan umur
untuk mengikuti kejuaraan daerah dalam
suatu cabang olahraga.

88 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Dedi Afandi, Penentuan Umur.....

Dilakukan pemeriksaan fisik umum Menurut Etty Indriati:


didapatkan bahwa jeniskelamin laki-laki, tinggi a. Tampak penyatuan epifisis pada daerah
badan 165 cm dan berat badan 60 kg. Telah
trochlea dari tulang humerus (lengan
terdapat tanda alat kelaminsekunder pada
beberapa tempat seperti ketiak dan pubis. atas). Maka perkiraan usia 11 s/d 15

Selanjutnya terhadap terperiksa tahun.


dilakukan pemeriksaan foto rontgen panorami b. Tampak penyatuan epifisis pada daerah
gigi, dan dan humerus (lengan atas)
caput dari tulang humerus (lengan atas).
AP/Lateral dengan 2 sendi.
Maka perkiraan usia kurang dari 14
Hasil analisis dari pemeriksaan
radiologis tersebut didapatkan hasil sebagai tahun.
berikut: c. Mulai tampak penyatuan epifisis pada
1. Berdasarkan foto rontgen panoramik gigi- daerah epicondylus lateralis dari tulang
geligi: humerus (lengan atas). Maka perkiraan
a. Menurut Schour dan Massler: Akar usia 11 s/d 17 tahun.
gigi permanen premolar 1 bawah Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut
tumbuh lengkap. Gigi permanen di atas maka dapat disimpulkan “Berdasarkan
molar 2 atas dan bawah mulai gambaran rontgen panoramik gigi-geligi dan
erupsi. Maka perkiraan usia 12 tulang lengan atas maka dapat disimpulkan
tahun ± 6 bulan. bahwa perkiraan usia terperiksa adalah
b. Menurut Johanson: Pada gigi sebelas tahun sampai dengan dua belas tahun
molar 3, bentuk mahkota terlihat enam bulan”.
dan setengah darinya
menunjukkan mineralisasi (tampak PEMBAHASAN

setengah mahkota sudah Penentuan umur pada individu hidup


terbentuk). Maka perkiraan usia harus dilaksanakan secara hati-hati dan
menggunakan metode yang sesuai.
kurang lebih 12 tahun (11,4 ± 2,4).
Umumnya metode yang digunakan tidak
c. Menurut Gustafson dan Koch: bersifat invasif. Prinsipnya semakin banyak
Tampak mineralisasi setengah dari metode yang digunakan maka hasilnya akan
lebih akurat.1,3 Pertimbangan lainnya dalam
mahkota molar 3. Maka perkiraan
pemilihan metode prakiraan yang sesuai
usia 9,5 s/d 14,5 tahun. adalah: jumlah kasus, sarana prasarana yang
2. Berdasarkan foto rontgen humerus tersedia, serta budaya dan agama yang dianut
individu yang akan diidentifikasi.1
AP/Lateral dengan 2 sendiri:
Terhadap terperiksa harus
dilaksanakan pemeriksaan fisik umum, tanda
perkembangan alat kelamin sekunder,

89 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Dedi Afandi, Penentuan Umur.....

pemeriksaan foto panoramik serta gigi juga merupakan material yang sangat
pemeriksaan rontgen yang sesuai.3 Pada keras dan sulit terbakar sempurna.2
umumnya untuk kasus atlet yang sering Pada terperiksa juga dilakukan
ditanyakan apakah terperiksa berusia di atas pemeriksaan rontgent foto rontgen humerus
batas kelompok umur dari cabang olahraga
AP/Lateral dengan 2 sendi. Perkiraan umur
yang diikuti. berdasarkan penyatuan ephypise dengan
Pada kasus ini, penyidik meminta klasifikasi dari Etty Indriati.2 Penyatuan atau
kejelasan apakah terperiksa berusia 14 tahun penutupan epifise berbeda untuk bagian
atau di atas 14 tahun. Pemeriksaan tulang yang satu dengan tulang yang lain.
radiografis melalui metode atlas dan diagram Penyatuan epifise terjadi pada usia tertentu
Gustafson dan Koch sesuai untuk diaplikasikan dari kehidupan sehingga dapat digunakan
pada usia pertumbuhan dan perkembangan untuk memperkirakan usia seseorang.
gigi sulung dan permanen pada usia 6 bulan
sampai 16 tahun.4-6 Metode penentuan umur SIMPULAN
melalui gigi memiliki berbagai keunggulan
Penentuan umur, terutama pada kasus
seperti Gigi mengalami tahap pertumbuhan
yang diduga individu yang berusia kurang dari
dan perkembangan serta perubahan
18 tahun, maka pemeriksaan foto panoramik
degeneratif yang terjadi pada usia tertentu,
gigi dan penyatuan epifise pada beberapa
sehingga dapat digunakan sebagai indicator
tulang dapat digunakan.
prakiraan usia individu dari sejak usia
intrauterin sampai usia dewasa. Usia dental
relatif lebih sedikit dipengaruhi oleh faktor
lain dibandingkan bagian tubuh lain, selain itu

DAFTAR PUSTAKA

1. Putri AS, Nehemia B. Prakiraan usia and problems in practical implementation.


individu melalui pemeriksaan gigi untuk Vienna: University of Vienna; 2007. 1-8 p.
kepentingan forensik kedokteran gigi.
2013;62(3):55–63. 5. Blenkin M, Taylor J. Age estimation charts
for a modern Australian population.
2. Indriati E. Antropologi forensik: identifikasi Forensic Sci Int. 2012;221:106–12.
rangka manusia, aplikasi antropologi
biologis dalam konteks hukum. Yogyakarta: 6. AlQahtani SJ, Hector MP LH. Brief
Gajah Mada University Press; 2010. 59-78 communication: the London atlas of
p. human tooth development and eruption.
Am J Phys Anthropol. 2010;142:481–90.
3. Schmeling A, Geserick G, Reisinger W, Olze
A. Age estimation. Forensic Sci Int.
2007;165(2–3):178–81.

4. Meinl A. The Application of Dental Age


Estimation Methods :comparative validity

90 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

Karakteristik Demografi Kasus Pembunuhan yang Diperiksa di


Departemen Forensik dan Medikolegal RSUPN Cipto Mangunkusumo
Tahun 2014-2016
Denys Putra Alim1, Yuli Budiningsih2

Abstrak PENDAHULUAN
Pembunuhan merupakan bentuk kejahatan yang paling Pembunuhan merupakan bentuk
tua karena telah ada sejak jaman peradaban manusia
dimulai dan merupakan bentuk pelanggaran hak asasi kejahatan yang paling berat dan yang paling
manusia yang paling berat. Insiden kasus pembunuhan
meningkat diseluruh dunia, pola kasus pembunuhan
tua karena telah ada sejak jaman peradaban
mengalami perubahan karena adanya berbagai macam manusia dimulai dan tertulis dalam Kitab
faktor yang mempengaruhi. Mengetahui karakteristik
demografi korban kasus pembunuhan di RS Cipto Suci. Pembunuhan juga merupakan suatu
Mangunkusumo. Penelitian ini adalah penelitian bentuk pelanggaran hak asasi manusia yang
deskriptif observasional pada rekam medik kasus-kasus
pembunuhan di Departemen Forensik dan Medikolegal paling berat karena telah menghilangkan hak
RSCM tahun 2014-2016. Kriteria eksklusi adalah korban
yang berusia kurang dari 1 tahun. Data dikumpulkan dan orang lain untuk hidup dan merupakan
diolah dengan program SPSS versi 17. Data numerik penyebab utama pada kasus-kasus kematian
dengan sebaran normal ditampilkan dalam nilai rerata,
standar deviasi sedangkan data kategorik dalam nilai yang tidak wajar.1 Terdapat berbagai macam
absolut dengan persentase. Didapatkan 153 rekam
medis kasus pembunuhan di RSCM selama tahun 2014- tipe pembunuhan yang sekarang dikenal
2016. Median usia sebesar 30 tahun dengan jumlah laki- namun tidak semuanya tergolong sebagai
laki lebih banyak dibanding perempuan (81,70% vs
17,65%). Jumlah kasus yang autopsi sebanyak 116 pembunuhan yang disengaja (intentional
kasus (75,82%) sebab kematian terbanyak adalah
kekerasan tajam (60,87%) disusul oleh kekerasan
and/or unlawful) misalnya membunuh untuk
tumpul (36,52%). Secara umum korban kasus mempertahankan diri atau membunuh
pembunuhan terbanyak adalah laki-laki kecuali pada
kasus asfiksia/strangulasi dimana terdapat jumlah karena intervensi hukum secara legal atau
korban perempuan yang lebih banyak (9 vs 6 korban). karena ketidaksengajaan. Jumlah
Pada kasus kekerasan tajam di dada didapatkan
sebanyak 40,63% korban mengalami luka terbuka pada pembunuhan yang disengaja telah memakan
kandung jantung sedangkan pada kasus dengan
kekerasan tajam di punggung didapatkan 40,54% korban 437.000 jiwa pada tahun 2012 di seluruh
mengalami luka terbuka pada paru kiri. Korban dunia dan hampir sepertiga kasus tersebut
pembunuhan sebagian besar berjenis kelamin laki-laki
berusia antara 26 hingga 35 tahun. Sebab kematian terjadi di Asia (28%). Tingkat pembunuhan di
paling banyak akibat kekerasan tajam pada punggung
yang menembus rongga tubuh.
seluruh dunia sebesar 6,2 per 100.000
Kata Kunci: Demografi Forensik, Pembunuhan, RS populasi sedangkan di Asia sebesar 2,9 per
Cipto Mangunkusumo, Sebab kematian.
100.000 populasi. Tingkat pembunuhan di
Afiliasi Penulis : 1. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2.
Departemen Forensik dan Medikolegal RSUPN Cipto Mangunkusumo Indonesia secara nasional sebesar 0,7 per
Korespondensi: dr. Denys Putra Alim, email: denys_lim@yahoo.com
100.000 populasi sedangkan di Jakarta pada
tahun 2011 sebesar 0,8 per 100.000
populasi.2
Pembunuhan dapat dilakukan dalam
berbagai macam bentuk dan cara
pembunuhan yang mencakup kekerasan
tajam, kekerasan tumpul, senjata api,
penjeratan, pembunuhan dengan cara

91 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Denys Putra Alim, Departemen Forensik.....

gantung, pembekapan, penenggelaman, regio tubuh tertentu serta dampak kekerasan


pembakaran, peracunan dan lain tersebut pada organ dalam tubuh.
sebagainya.1-3 Pemilihan dan penggunaan
cara-cara membunuh ini sangat bervariasi TUJUAN
dari satu daerah ke daerah yang lain dan dari
satu negara ke negara yang lain karena Mengetahui data demografi, jenis luka
berbedanya faktor-faktor yang dan sebab kematian pada mayat korban
mempengaruhi kejadian pembunuhan pembunuhan di RS Cipto Mangunkusumo
tersebut. Begitu pula dengan karakteristik tahun 2014 hingga 2016.
korban kasus pembunuhan, setiap daerah
akan memiliki karakteristik yang berbeda-
METODOLOGI
beda. Secara global, perbandingan jenis
kelamin korban korban kasus pembunuhan Penelitian ini adalah penelitian
adalah hampir 4:1 dimana jenis kelamin laki- deskriptif observasional yang dilakukan pada
laki lebih banyak dibanding perempuan.2,4,5 sampel berupa rekam medik kasus-kasus
Bagaimanakah dengan karakteristik pembunuhan yang diperiksa di Departemen
korban pembunuhan di Indonesia khususnya Forensik dan Medikolegal RSCM tahun 2014
di Jakarta? Apakah terdapat perbedaan hingga 2016. Kriteria eksklusi yang digunakan
dengan karakteristik pembunuhan di adalah korban yang berusia kurang dari 1
tempat-tempat lainnya? Dengan tahun. Sampel penelitian diambil secara total
mengetahui jawaban pertanyaan di atas, population sampling. Untuk mencari rekam
maka kita akan mendapatkan gambaran medis sampel, peneliti mengumpulkan nomor
mengenai pola kasus pembunuhan di Jakarta kasus pembunuhan dari database elektronik
yang mungkin dapat digunakan sebagai milik internal Departemen Forensik dan
indikator stress di masyarakat dan juga Medikolegal RSCM yang memuat tentang
sebagai informasi tambahan untuk aparat nomor rekam medis, nama, usia, jenis kelamin
penegak hukum dalam menerapkan strategi- dan jenis kasus pembunuhan kemudian
strategi hukum yang tepat sasaran dan peneliti mengambil rekam medis dari ruang
efisien.6 rekam medis berdasarkan nomor pada daftar
elektronik untuk dipelajari. Rekam medis
Insiden kasus pembunuhan meningkat ditelaah satu per satu dan data yang
di seluruh dunia dan pola kasus pembunuhan dikumpulkan adalah waktu pemeriksaan,
juga mengalami perubahan/pergeseran nama, usia, jenis kelamin, asal daerah
karena adanya pertambahan jumlah pengirim, antropometri, jenis pemeriksaan
penduduk, perubahan gaya hidup, kebutuhan forensik patologi, prosedur medikolegal
manusia yang selalu berubah, kemiskinan, pelabelan mayat, jenis-jenis luka pada regio-
suasana politik, terorisme, tingkat regio tubuh yang terkena, proses
pengangguran dan kemudahan untuk pembusukan, temuan pada autopsi dan sebab
mendapatkan berbagai macam senjata yang kematian korban yang dicatat menggunakan
dapat digunakan untuk membunuh.1,3 Oleh Microsoft Excel 2007. Data kemudian
karena itulah penelitian ini dilakukan untuk diverifikasi, dilakukan coding dan diolah
mengetahui karakteristik demografi korban menggunakan program Statistical Program for
pembunuhan yang mencakup usia dan jenis Social Sciences versi 17. Data yang bersifat
kelamin yang rentan, jenis kekerasan pada

92 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Denys Putra Alim, Departemen Forensik.....

numerik dengan sebaran data normal manusia sehingga tidak dapat diketahui jenis
ditampilkan dalam nilai rerata dan standar kelaminnya.
deviasinya sedangkan bila sebaran data tidak
normal maka ditampilkan dalam nilai median
dan nilai terendah serta tertingginya. Data
yang bersifat kategorik ditampilkan dalam
bentuk nilai frekuensi dengan persentasenya.
Hasil pengolahan data ditampilkan dalam
bentuk gambar, tabel dan grafik agar lebih
ringkas dan mudah dipahami.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Setelah melakukan pencarian dalam


database elektronik, didapatkan total 171
kasus pembunuhan di RSCM selama tahun
2014-2016 namun sebanyak 18 kasus tidak
berhasil didapatkan rekam medisnya sehingga
sampel yang dianalisis sebanyak 153 subjek.
Alur pembagian kasus ditampilkan pada
Gambar 1.
Tabel 1. Karakteristik Demografi Subjek
Penelitian

Tidak semua kasus pembunuhan ini


dilakukan pemeriksaan autopsi, hanya
sebesar 75,82% yang dilakukan autopsi dan
sebagian besar kasus yang tidak diautopsi
dikarenakan surat permintaan visum dari
Gambar 1. Bagan Kasus Pembunuhan di RSCM penyidik memang hanya meminta untuk
Tahun 2014-2016
dilakukan pemeriksaan luar saja (18,30%).

Berdasarkan Tabel 1. di atas Tingkat penolakan keluarga terhadap

didapatkan bahwa usia korban pembunuhan autopsi hanya sebesar 4,58%. Mayat

memiliki rentang yang sangat lebar mulai korban pembunuhan yang diterima di

dari usia 1 tahun hingga usia 71 tahun RSCM hampir seluruhnya (97,4%) tidak

dimana jumlah korban terbanyak ada pada sesuai dengan prosedur medikolegal

kelompok usia didominasi oleh jenis kelamin pelabelan mayat dimana sesuai dengan

laki-laki sebesar 81,70% dan terdapat 1 KUHAP pasal 133 seharusnya mayat diberi

kasus yang berupa potongan kaki kanan label yang dicap dan dilak pada ibu jari kaki
kanan atau bagian tubuh lainnya. Sebagian

93 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Denys Putra Alim, Departemen Forensik.....

besar mayat berasal dari daerah Jakarta regio yang paling sering mendapatkan
Barat (26,14%) dan Pusat (22,22%) kekerasan sedangkan bila ditinjau dari jenis
lukanya, maka luka lecet yang paling sering
meskipun ada kasus yang berasal dari luar
ditemukan pada tubuh (40%).
kota Jakarta (11,11%).

Berdasarkan Tabel 3. sebab kematian


paling banyak diakibatkan oleh kekerasan
Grafik 1. Sebaran Kasus Pembunuhan tajam (60,87%) dibandingkan kekerasan
berdasarkan Bulan dan Tahun Kejadian tumpul (36,52%) dimana kekerasan tajam
paling banyak pada regio punggung (17,39%)
sedangkan kekerasan tumpul paling banyak
Berdasarkan Grafik 1. dapat diketahui bahwa
pada regio kepala (20,87%). Namun, regio
jumlah mayat korban pembunuhan yang
tubuh yang paling banyak menyebabkan
diperiksa di RSCM semakin menurun tiap
kematian adalah regio leher (26,96%).
tahunnya. Secara keseluruhan didapatkan
Terdapat 1 kasus mayat dikenal namun sudah
bulan Maret dan Mei memiliki angka korban
mengalami pembusukan lanjut dan organ-
pembunuhan paling tinggi yang diperiksa di
organ dalam sudah hancur sehingga tidak bisa
RSCM.
diketahui sebab kematiannya, namun hasil
Tabel 2. Hasil Sebaran Luka pada 153 Kasus pemeriksaan luar didapatkan adanya
Pembunuhan di RSCM Tahun 2014-2016
kekerasan tumpul pada kepala dan lengan kiri.

Berasarkan Tabel 2. didapatkan data bahwa


patah tulang baik terbuka (1,36%) maupun
Grafik 2. Jenis Kasus Pembunuhan
tertutup (0,60%), luka terbuka baik tepi rata
Berdasarkan Jenis Kelamin (n=152)
(4,71%) maupun tidak rata (5,70%), luka lecet
(10,91%) dan memar (8,59%) paling banyak
ada di kepala. Luka tembak masuk paling Berdasarkan Grafik 2. di atas dapat diketahui
sering ditemukan di punggung (0,20%) bahwa kelompok laki-laki mengalami hampir
sedangkan luka tembak keluar ada pada dada seluruh jenis kasus pembunuhan yang lebih
(0,07%) dan lengan kanan (0,07%). Jenis luka banyak daripada kelompok perempuan.
bakar paling banyak ditemukan pada anggota Perempuan lebih banyak mengalami
gerak atas (lengan kanan dan kiri sama-sama asfiksia/strangulasi dibandingkan dengan laki-
0,20%). Berdasarkan jumlah luka yang laki.
diterima, regio kepala (32,04%) merupakan

94 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Denys Putra Alim, Departemen Forensik.....

resapan darah di bawah kulit leher maupun


otot lebih sering ditemukan pada kasus
penjeratan sedangkan patahnya rawan
gondok atau rawan cincin lebih sering
ditemukan pada kasus pencekikan.

Tabel 6. Karakteristik Luka Terbuka pada Hasil


Otopsi Organ Dalam Dada Berdasarkan Jenis
Kekerasannya.

Berdasarkan Tabel 6. diketahui bahwa


kekerasan tajam di dada paling banyak
menembus ke kandung jantung (40,63%) dan
jantung (31,25%) sedangkan kekerasan tajam
Berdasarkan Tabel 4. didapatkan data bahwa di punggung menembus ke paru kiri (40,54%).
54,31% korban memiliki resapan darah pada Terdapat 2 kasus pada paru kanan dan 1 kasus
kulit kepala bagian dalam namun hanya pada paru kiri yang mengalami kekerasan
24,14% yang mengalami patah tulang tajam baik dari dada maupun dari punggung.
tengkorak. Tulang dada yang patah ada pada Meskipun jarang, kekerasan tumpul di dada
5,17% korban dan iga-iga yang paling banyak maupun punggung dan kekerasan tajam di
patah adalah iga sisi kiri depan (16,38%) dan perut juga dapat membuat luka terbuka pada
belakang (9,48%). Organ dalam dada yang organ dalam dada.
paling sering mengalami luka terbuka adalah
paru kiri baga bawah (17,24%) dan kandung
DISKUSI
jantung (16,38%) sedangkan organ dalam
Selama periode Januari 2014 hingga
perut yang paling sering mengalami robekan
Desember 2016 didapatkan 153 kasus
adalah hati baga kanan (8,62%) dan usus halus
pembunuhan yang dapat dianalisis dimana
(8,62%).
jumlah kasus yang dilakukan autopsi
sebanyak 116 kasus (75,82%). Tidak semua
kasus dilakukan autopsi karena sebanyak 28
kasus (18,3%) hanya diminta pemeriksaan
Tabel 5. Temuan Hasil Otopsi Pada Kasus luar saja oleh penyidik sedangkan angka
Asfiksia/Strangulasi.
penolakan keluarga hanya sebesar 7 kasus
Kasus asfiksia/strangulasi dibagi (4,58%). Hal ini dapat terjadi karena
menjadi kasus pembekapan, pencekikan dan berdasarkan hukum di Indonesia yaitu
penjeratan berdasarkan pola lukanya. KUHAP pasal 133, maka penyidiklah yang
Pembekapan didasarkan adanya jejas pada memiliki wewenang untuk meminta jenis
daerah mulut dan penjeratan didasarkan pemeriksaan kepada dokter ahli kehakiman
adanya jejas yang melingkari leher sedangkan atau dokter lainnya.7 Dokter disini dapat
pencekikan didasarkan adanya jejas di daerah bertindak sebagai pemberi saran apabila
leher. Berdasarkan Tabel 5. diketahui bahwa kasus kematian tidak wajar perlu dilakukan

95 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Denys Putra Alim, Departemen Forensik.....

autopsi meski keputusan akhir ada di tangan tajam pada kepala yang mencapai 100% dan
penyidik. Hal ini yang membedakan dengan senjata api yang mencapai 96,97%. Jenis,
negara-negara yang menganut sistem lokasi dan jumlah tulang tengkorak yang
koroner dimana semua kematian harus patah merupakan indikator tidak langsung
diinvestigasi sampai terbukti adalah untuk mengukur tingkat keparahan
kematian wajar. Hal ini menyebabkan angka kekerasan yang terjadi hingga dapat
autopsi yang dilakukan menjadi tinggi. berujung kematian.9 Penelitian oleh Patel DJ
memberikan gambaran kekerasan tumpul
Karakteristik korban dalam penelitian
paling banyak di kepala (24,34%) sedangkan
ini memiliki median usia 30 tahun dengan
kekerasan tajam paling banyak di dada
kelompok usia 26-35 tahun yang paling
(25,98%) dan perut (23,16%).5
banyak serta perbandingan laki-laki dengan
Sebab kematian karena senjata api
perempuan adalah 4,6:1. Hasil penelitian-
pada penelitian ini sebesar 2,61% dan bila
penelitian lain memiliki gambaran yang
dibandingkan dengan penelitian lain di
sama mengenai perkiraan usia dan jenis
Amerika2 (66%), Pakistan3 (60,14%), India5
kelamin korban pembunuhan, misalnya pada
(15,18%), Afrika2 (28%), Eropa2 (13%),
penelitian Hugar BS et al. didapatkan usia
Malaysia6 (8%) dan di Bangkok10 (2,1%). Hal
20-29 tahun (49,25%) dan jenis kelamin laki-
ini dapat dikarenakan Indonesia tidak
laki (71,75%),1 penelitian UNODC didapatkan
melegalkan masyarakatnya untuk memiliki
usia 15-29 tahun (52%) dan jenis kelamin
senjata api, hanya untuk polisi/petugas
laki-laki (79%),2 penelitian Ullah A
khusus lainnya sedangkan di negara yang
didapatkan usia 31-40 tahun (31%) dan 21-
melegalkan masyarakatnya memiliki senjata
30 tahun (30,84%) serta jenis kelamin laki-
api maka angka kejadian kematiannya
laki (67,24%),3 penelitian Patel didapatkan
menjadi sangat tinggi.
usia 21-30 tahun (36,7%) dan jenis kelamin
laki-laki (77,22%).5 Hal ini mungkin dapat
dijelaskan dengan kecenderungan kelompok SIMPULAN
usia ini untuk melakukan aksi-aksi kejahatan Korban kasus pembunuhan yang
dibanding kelompok usia lainnya.8 diperiksa di Departemen Forensik RS Cipto
Hasil penelitian ini didapatkan sebab Mangunkusumo tahun 2014-2016 paling
kematian paling sering akibat kekerasan banyak berusia antara 26 hingga 35 tahun dan
tajam di punggung dan kekerasan tumpul di berjenis kelamin laki-laki. Sebab mati paling
kepala. Hal yang sama juga dikemukakan banyak disebabkan oleh kekerasan tajam
oleh Ambade et al bahwa kekerasan tumpul pada regio punggung yang menembus rongga-
mayoritas berada di kepala (80,8%) namun rongga rubuh. Temuan hasil autopsi pada
kekerasan tajam berada di daerah dada kekerasan tajam di dada paling banyak
(72,5%).8 Penelitian oleh Chattopadhyay S et menembus kandung jantung dan jantung
al juga menunjukkan hasil bahwa jenis sedangkan kekerasan tajam di punggung
kekerasan paling banyak di kepala adalah menembus ke paru kiri.
kekerasan tumpul (41,76%) namun tingkat
mortalitasnya hanya sebesar 65,79%
dibandingkan tingkat mortalitas kekerasan

96 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Denys Putra Alim, Departemen Forensik.....

DAFTAR PUSTAKA

1. Hugar BS, Chandra GYP, Harish S, Jayanth 2010; 32(2): 81-6.


SH. Pattern of homicidal deaths. J Indian
Acad Forensic Med. 32(3): 194-8. 7. Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana
(KUHAP).
2. Global Study on Homicide. United Nations
Office on Drugs and Crime. 2013. 8. Ambade VN, Godbole HV. Comparison of
wound patterns in homicide by sharp and
3. Ullah A, Raja A, Yasmin, Abdul Hamid A, blunt force. Forensic Science International.
Khan J. Pattern of causes of death in 2006; 156:166-70.
homicidal cases on autopsy in Pakistan.
Gomal J Med Sci. 2014; 12:218-21. 9. Chattopadhay S, Tripathi C. Skull fracture
and haemorrhage pattern among fatal and
4. Khalil ZH, Naeem M, Adil M, Khan MZI, nonfatal head injury assault victims – a
Abbas SH, Faqirullah. Analysis of autopsy critical analysis. J Inj Violence Res. 2010;
record of unnatural deaths in Peshawar 2(2): 99-103.
district. J Postgrad Med Inst. 2013; 27(4):
392-6. 10. Myint S, Rerkamnuaychoke B, Peonim V,
Riengrojpitak S, Worasuwannarak W. Fatal
5. Patel DJ. Analysis of homicidal deaths in firearm injuries in autopsy cases at central
and around Bastar Region of Chhattisgarh. Bangkok, Thailand: A 10-year retrospective
J Indian Acad Forensic Med. 2012; 34(2): study. Journal of Fornsic and Legal
139-42. Medicine. 2014; 28:5-10.

6. Bhupinder S, Kumara TK, Syed AM. Pattern


of homicidal deaths autopsied at Penang
Hospital, Malaysia, 2007-2009; a
preliminary study. Malaysian J Pathol.

97 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

Kematian Akibat Kekerasan Tumpul Kepala pada Korban yang


Ditemukan di Dalam Sumur
Dewanto Yusuf Priyambodo1, I.B.G Surya Putra Pidada1

Abstrak PENDAHULUAN
Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih banyak Kekerasan terhadap perempuan dan
terjadi di Indonesia. Beberapa di antaranya berakibat
luka berat dan kematian. Seorang perempuan berusia anak masih menjadi masalah utama di
13 tahun ditemukan meninggal di dalam sumur setelah
dinyatakan hilang selama 2 hari. Korban awalnya diduga
seluruh dunia, terutama di Indonesia. Pada
meninggal karena bunuh diri, sehingga dimakamkan penelitian Pongoh et al di Manado,
oleh keluarga setelah ditemukan lalu dilakukan
pemeriksaan oleh petugas dari puskesmas setempat. kekerasan terhadap perempuan terhitung
Hasil pemeriksaan oleh petugas puskesmas sekitar dan kebanyakan merupakan
menunjukkan tidak adanya tanda kekerasan dan dari
vagina terdapat cairan berwarna putih. Penyidikan oleh kekerasan tumpul. Kekerasan tersebut
polisi berkembang menjadi dugaan pembunuhan,
sehingga dilakukan ekshumasi pada 7 hari pasca banyak terjadi di rumah dan dilakukan oleh
kematian. Tidak terdapat tanda kekerasan pada keluarga dari anak dan perempuan tersebut.
pemeriksaan luar. Pemeriksaan dalam menunjukkan
memar pada cranium sebelah kanan, jaringan otak Kematian akibat cedera menempati
sebelah kanan yang berwarna lebih merah dan retak 1,2
pada basis cranii bagian kanan dan dikonfirmasi sebagai
urutan .
luka intravital melalui pemeriksaan mikroskopis. Kepala dan leher menjadi bagian tubuh
Pemeriksaan diatom paru menunjukkan hasil negatif
sehingga korban dinyatakan meninggal sebelum yang paling banyak terdampak kekerasan,
dimasukkan ke dalam sumur. Pada swab vagina tidak
didapatkan adanya spermatozoa. Sebab kematian
dan biasanya merupakan rangkaian dari
adalah trauma tumpul pada kepala dengan cara kekerasan seksual. Kekerasan yang terjadi
dibunuh. Jenazah meninggal lebih dari 24 jam dari saat
pemeriksaan. pada kepala seringkali fatal, sehingga
Kata Kunci: trauma tumpul, diatom paru, sebab mati mengakibatkan cedara berat dan
Afiliasi Penulis : 1. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan meninggalnya korban. Kematian akibat
Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada.
Korespondensi: Dewanto Yusuf Priyambodo cedera menjadi penyebab kematian
terbanyak setelah stroke dan hipertensi.
Kekerasan yang terjadi pada perempuan
seringkali disertai dengan persetubuhan, baik
atas paksaan maupun suka sama suka1-4.
Pemahaman mengenai kekerasan
sangatlah penting dalam dunia kedokteran
forensik, mengingat banyaknya kematian
korban akibat kekerasan atau cedera
tersebut.

LAPORAN KASUS
Seorang anak perempuan usia 13
tahun dinyatakan hilang pada 21 April 2016.
Dua hari kemudian, jenazah ditemukan di
sumur di dekat rumah korban. Karena diduga

98 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Dewanto Yusuf Priyambodo, Kematian.....

bunuh diri dengan menceburkan diri ke


dalam sumur, orang tua korban memutuskan
untuk mengubur jenazah korban setelah
visum awal oleh petugas puskesmas
setempat. Beberapa hari kemudian, polisi
melakukan penyidikan berdasarkan laporan
orang hilang, kemudian menduga ada tindak
kriminal pembunuhan. Polisi meminta tim Gambar 2. Temuan retak pada tulang
Kedokteran Forensik RSUP Dr. Sardjito untuk tengkorak bagian dalam
melakukan ekshumasi pada 30 April 2017.
Pada pemeriksaan saat ekshumasi, Pada permukaan dalam jalan nafas
seluruh jenazah dalam kondisi membusuk. terdapat sisa jendalan darah dan tidak
Pada pemeriksaan luar didapatkan luka-luka ditemukan bintik perdarahan.
yang ada pada jenazah tidak dapat dinilai.
Tidak teraba derik tulang pada seluruh
bagian tubuh.
Pemeriksaan dalam menunjukkan
seluruh organ terlihat utuh, namun dalam
keadaan membusuk. Didapatkan adanya
memar pada kulit kepala bagian dalam dan
fraktur pada calvaria cranii. Konfirmasi
menggunakan mikroskopis menunjukkan Gambar 3. Tidak terlihat adanya cairan
adanya tanda intravital. Dasar tulang kepala pada liang vagina
pada bagian depan tengah, terdapat retak
tulang memanjang melalui tepi tengah Pada kedua paru setelah dilakukan
melintasi tegmen timpani hingga mencapai pengirisan terdapat cairan warna merah
fossa posterior. berbuih. Pemeriksaan diatom menggunakan
sampel jaringan paru tidak menunjukkan
hasil positif, sementara pada air sumur
terdapat diatom.
Pemeriksaan diatom dilakukan untuk
menentukan apakah korban meninggal
setelah atau sebelum masuk ke dalam air.
Jika ditemukan diatom dalam jumlah
tertentu pada organ dalam (paru, ginjal,
tulang, ataupun otak) maka disimpulkan
Gambar 1. Penampakan tengkorak bagian bahwa kemungkinan besar korban masih
luar dalam keadaan hidup saat masuk ke dalam
air, sehingga air beserta diatom masuk ke
dalam tubuh jenazah. Pada korban yang
meninggal sebelum dimasukkan ke dalam air,
epiglotis menutup dan tidak ditemukan
diatom pada organ dalam 5-7.

99 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Dewanto Yusuf Priyambodo, Kematian.....

Pemeriksaan diatom pada kasus ini Interval saat kematian sulit


menunjukkan bahwa korban tidak meninggal ditentukan pada kasus ini, karena telah
dengan cara ditenggelamkan maupun berada terjadi pembusukan lanjut pada jenazah.
di air pada saat masih hidup. Korban Pada kasus ini, penggalian makam dilakukan
meninggal sebelum dimasukkan ke dalam pada hari ketiga pasca pemakaman.
sumur. Penggalian kronologis kejadian mungkin
Pemeriksaan toksikologi arsen dan dapat membantu menentukan saat
9
sianida pada tanah di sekitar makam dan kematian .
pada organ-organ dalam tubuh menunjukkan Kondisi jenazah pada saat ekshumasi
hasil negatif. seringkali dalam keadaan membusuk dan
Pemeriksaan mikroskopis dari apusan akan menyulitkan pemeriksaan terhadap
vagina menunjukkan adanya kepala sperma. luka-luka pada jenazah. Hal ini juga terjadi
Hal ini sejalan dengan yang dinyatakan pada kasus yang diperiksa. Perlukaan fatal
Cummings dan Trelka8 bahwa dalam interval pada cranium mempermudah dokter dalam
3-5 hari pasca koitus, hanya ditemukan menentukan sebab kematian.
kepala sperma saja. Luka pada jaringan lunak akan
Tabel 1. Temuan sperma pada beberapa menghilang pada interval post mortem yang
interval pasca koitus (Sumber: Cummings bervariasi. Luka pada kulit akan tersamarkan
PM, Trelka DP, Springer KM. Atlas of setelah 24 jam. Luka pada organ dalam
Forensic Histopathology. Cambridge: menghilang pada interval yang bervariasi,
Cambridge University Press; 2011) bergantung vaskularisasi pada organ
tersebut. Semakin banyak vaskularisasi,
Periode Penampakan Histokimiawi Enzimatik makin cepat organ tersebut membusuk
pasca mikroskopis
sehingga cedera akan lebih sulit dinilai.
koitus
<12 jam Sperma Acid phosphatase (+) Organ seperti prostat dan uterus relatif lama
motil P30 (+) membusuk. Organ otak merupakan organ
lengkap
dengan vaskularisasi yang banyak dan
dengan ekor
12-24 Sperma non- 18-24 jam: Acid jaringan ikat yang tidak kuat sehingga cepat
jam motil phosphatase tidak membusuk dengan bentuk membubur10.
lengkap terdeteksi
Perlukaan yang mengenai hingga
dengan ekor
1-5 hari Hanya 24-48 jam: P30 tidak tulang relatif mudah ditemukan dan
kepala terdeteksi dilakukan pemeriksaan. Selain itu, luka pada
sperma
tulang masih dapat ditemukan hingga jangka
DISKUSI waktu pemakaman yang lama. Pemeriksaan
Dari pemeriksaan pada kasus tersebut penunjang berupa pemeriksaan mikroskopis
dapat disimpulkan bahwa sebab kematian (patologi anatomi) dapat dilakukan untuk
adalah kekerasan tumpul pada kepala melihat apakah perlukaan tersebut.
sebelah kanan. Korban meninggal sebelum Perlukaan pada tengkorak berupa fraktur
masuk ke dalam air sumur. Persetubuhan berhubungan dengan perdarahan pada otak.
dikofirmasi dengan adanya sel sperma pada Perdarahan sebanyak 35-100 mL dianggap
apusan vagina. Jenazah meninggal lebih dari fatal karena mengganggu status neurologis
24 jam dari saat pemeriksaan. korban10. Karena kondisi jenazah yang

100 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Dewanto Yusuf Priyambodo, Kematian.....

membusuk, perdarahan pada otak tidak matang terkait beberapa hal, seperti biaya
dapat diukur. dan manfaat yang akan didapat11.
Pemeriksaan dengan ekshumasi Menurut penulis, sebaiknya kasus
seperti yang dilakukan pada jenazah serupa diperiksa sejak awal penemuan
merupakan salah satu jenis pemeriksaan jenazah agar tanda-tanda patologis lebih
dalam kedokteran forensik. Pengertian mudah ditemukan, seperti adanya
ekshumasi sendiri adalah penggalian jenazah perdarahan. Adanya koordinasi dan edukasi
yang telah dimakamkan (inhumasi) untuk pada petugas medis dengan polisi dapat
pemeriksaan postmortem. Otopsi pertama mempercepat deteksi adanya kematian tidak
maupun re-otopsi dilakukan saat ekshumasi wajar, sehingga pemeriksaan segera dapat
untuk menemukan informasi baru. dilakukan setelah jenazah ditemukan11.
Ekshumasi memiliki beberapa kelemahan
sehingga harus dipertimbangkan matang-

DAFTAR PUSTAKA diversity of freshwater diatom assemblages


1. Pongoh A, Mallo J, Siwu J. Pola Kekerasan pada from Franz Josef Land Archipelago : a northern
Korban Kejahatan Seksual yang Meninggal dan outpost for freshwater diatoms. 2016;1–22.
Diperiksa di RSUD Prof.Dr.R.Kandou Manado.
Bagian Ilmu Kedokt Forensik dan Med Fak 7. Payne-James JJ, Jones R, Karch SB, Manlove J.
Kedokt Univ Sam Ratulangi Manad. Simpson’s Forensic Medicine. Hodder Stought
Ltd. 2011;13:264.
2. Kemenkes RI. Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) 2013. Badan Penelit dan Pengemb 8. Cummings PM, Trelka DP, Springer KM. Atlas of
Kesehat Kementeri Kesehat RI Tahun 2013. Forensic Histopathology. Cambridge:
2013; Cambridge University Press; 2011.

3. Badan Penelitian dan Pengembangan 9. Kojo N, Siwu J, Mallo JF. Efektifitas Ekshumasi
Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) dalam Memperkirakan Saat Mati di Bagian Ilmu
2007. Lap Nas 2007. 2008;1–384. Forensik dan Medikolegal FK UNSRAT BLU
RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou. Skripsi Fak Kedokt
4. Kalangit A, Mallo J, Tomuka D. Peran Ilmu Univ Sam Ratulangi Manad. 2015;3:658–62.
Kedokteran Forensik Dalam Pembuktian Tindak
Pidana Pemerkosaan Sebagai Kejahatan 10. Bardale R. Principles of Forensic Medicine and
Kekerasan Seksual. Skripsi Univ Sam Ratulangi Toxicology. New Delhi: Jaypee Brothers
Manad [Internet]. 2012; Available from: Medical Publishers (P) LTD; 2011.
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/eclinic/
article/view/4861 11. Saukko P, Knight B. Knight’s Forensic Pathology
[Internet]. Bureau S, Vandenbergh L,
5. Verma K. Role of Diatoms in the World of Ueberberg A, Smith D, Larking S, editors.
Forensic Science. 2013;4(2):2–5. Hachette Livre, United Kingdom: Edward
Arnold (Publishers) Ltd; 2004. Available from:
6. Pla-rabés S, Hamilton PB, Ballesteros E, Gavrilo www.hoddereducation.com.
M, Friedlander AM, Sala E. The structure and

101 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

PEKERJA PROYEK BANGUNAN DENGAN TRAUMA TEMBUS DADA


(STUDI KASUS)
Dwi Fitrianti Arieza Putri1, Ahmad Yudianto2

Abstrak PENDAHULUAN
Tingkat permintaan visum hidup yang semakin tinggi Tingkat permintaan visum hidup yang
menunjukkan kesadaran aparat hukum yang semakin
meningkat akan pentingnya pemeriksaan luka guna semakin tinggi menunjukkan kesadaran
pembuatan visum et repertum. Trauma adalah
penyebab utama kematian kelima untuk warga
aparat hukum yang semakin meningkat akan
Amerika terutama untuk usia dibawah 44 tahun. pentingnya pemeriksaan luka guna
Cedera akibat trauma tercatat sebanyak 180.000
kematian dan 9 juta lainnya mengakibatkan kecacatan pembuatan visum et repertum. Permintaan
terjadi Amerika Serikat setiap tahun. Trauma pada visum hidup selama tahun 2015 – 2016 di
dada dapat terjadi akibat dari kekerasan tumpul,
seperti jatuh atau kecelakaan lalu lintas, atau akibat IRD RSUD Dr. Soetomo yang diterima bagian
dari trauma tembus (penetrasi), seperti tertusuk atau
luka tembak. Trauma tembus pada dada memberikan kedokteran forensik dan medikolegal
kontribusi sekitar 25% dari trauma yang dapat tercatat sebanyak 120 kasus.1
menyebabkan kematian dan menyumbang 50%
kematian global akibat trauma. Trauma adalah penyebab utama
Berikut ini merupakan laporan kasus: seorang pekerja
bangunan terjatuh dari lantai 4 di daerah Wiyung pada
kematian kelima untuk warga Amerika
tanggal 17 November 2016 ditemukan dengan posisi terutama untuk usia dibawah 44 tahun.
terlentang dengan dada dan paha tertusuk oleh besi
beton sampai tertembus. Pada pemeriksaan luka Cedera akibat trauma tercatat sebanyak
ditemukan besi yang menembus dada kanan dua buah
dan dada kiri satu buah, serta pada anggota gerak
180.000 kematian dan 9 juta lainnya
bawah kanan satu buah. Pada pemeriksaan foto X- mengakibatkan kecacatan terjadi Amerika
Ray dada dengan hasil tampak patah tulang iga kanan
ke tiga sampai ke enam dan patah tulang iga kiri ke Serikat setiap tahun. Trauma pada dada
tiga. Luka tersebut akibat kekerasan tumpul. Luka dapat terjadi akibat dari kekerasan tumpul,
tersebut dapat menimbulkan bahaya maut.
seperti jatuh atau kecelakaan lalu lintas,
Afiliasi Penulis : 1. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. atau akibat dari trauma tembus (penetrasi),
Korespondensi: Dwi Fitrianti Arieza Putri, Instalasi Kedokteran
Forensik dan Medikolegal, RSUD Dr. Soetomo, Jl. Mayjen Prof. Dr. seperti tertusuk atau luka tembak. Trauma
Moestopo No. 6 – 8 Surabaya 6028, Telp. (031) 5501545 – 49, Fax
(031) 5501545email: df.arieza@gmail.com tembus pada dada memberikan kontribusi
sekitar 25% dari trauma yang dapat
menyebabkan kematian, sedangkan
mortalitasnya (angka kematian) adalah
10%.2,3
Jenis trauma pada dada sangat
bervariasi dan pada dasarnya bergantung
pada lingkungan kekerasan atau kinematika
dan tingkat keparahan kecelakaan di wilayah
geografis yang beragam di seluruh dunia.
Kelainan akibat dari trauma dada baik
karena kekerasan tumpul maupun karena
trauma tembus (penetrasi) dapat meliputi
patah tulang iga (rib fracture), patah tulang

102 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Dwi Fitrianti Arieza Putri, Pekerja.....

sternum (sternal fracture), flail chest, jejas bangunan tersebut tiba di IRD RSUD Dr.
pada paru (pulmonary lesions), Soetomo Surabaya tanggal 17 November
pneumothoraks simple 2016 pukul 12.00 WIB
(simple pneumothorax), pneumothoraks Pada pemeriksaan fisik ditemukan
tension tension pneumothorax), keadaan umum tampak kesakitan dengan
pneumothoraks terbuka (open kesadaran baik (compos mentis), tekanan
pneumothorax), hemothoraks, kontusio darah 110/70 mmHg, frekuensi nadi
pulmonum (pulmonary contusion), robekan 97x/menit, laju pernapasan 28x/menit, suhu
pada paru (pulmonary laceration), jejas pada tubuh 370C.
mediastinum (mediastinum lesions), jejas
pada jantung (cardiac lesions),
pneumopericardium, pneumomediastinum,
cedera pada pembuluh darah (vascular
injuries), jejas pada trakea dan bronkus
(tracheobronchial lesions), kerusakan
diafragma, serta terjadinya efek sistemik. Tabel 1. Observasi Tanda-Tanda Vital di IRD
Kelainan tersebut dibagi menjadi empat pada saat Datang (17/11/2016)
kelompok:3
1. Dinding torak, Pada dada tampak 3 buah besi beton
2. Paru, menembus dan 1 buah menembus pada paha
3. Mediastinum, dan kanan. Padapunggung kanan, 9 cm dari garis
4. Luka diafragma. pertengahan belakang (GPB), 23 cm dari
Pada hasil penelitian 100 pasien dengan puncak bahu, ditemukan luka terbuka tepi
trauma dada di sebuah rumah sakit di tidak rata dengan besi beton menembus
Gujarat, India menyebutkan bahwa cedera hingga dada kanan, 8 cm dari garis
yang paling sering terjadi adalah fraktur pertengahan depan (GPD), 24 cm dari puncak
tulang rusuk yang terlihat pada 76,2% bahu. Pada punggung kanan, 3 cm dari GPB,
pasien, diikuti oleh pneumotoraks (30,8%), 20 cm dari puncak bahu, ditemukan luka
kontusi paru (26,2%), dan haemotoraks terbuka tepi tidak rata dengan besi beton
(18,5%). Cedera lainnya relatif jarang terjadi menembus hingga dada kanan, 4 cm dari GPD,
– flail chest didiagnosis pada 11 pasien 12 cm dari puncak bahu. Pada punggung kiri,
(2,2%), laserasi paru pada 4 pasien (0,8%), 6 cm dari GPB, 17 cm dari puncak bahu,
cedera jantung dan diafragma pada 2 pasien ditemukan luka terbuka tepi tidak rata dengan
(0,4%) dan 1 pasien (0,2%) dengan cedera besi beton menembus hingga dada kiri, 5 cm
trakeobronkial.4 dari GPD, 15 cm dari puncak bahu,. Pada paha
kanan sisi luar, 19 cm di atas lutut ditemukan
LAPORAN KASUS luka terbuka dengan tepi tidak rata dengan
Seorang pekerja bangunan terjatuh besi beton menembus hingga paha kanan sisi
dari lantai 4 (kurang lebih 12 meter) di depan, 4 cm di atas lutut.
daerah Wiyung pada tanggal17 November
2016, ditemukan dengan posisi terlentang
dengan dada dan paha tertusuk oleh besi
panjang sampai tertembus. Pekerja

103 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Dwi Fitrianti Arieza Putri, Pekerja.....

Dari hasil pemeriksaan tersebut, maka


diberikan pengobatan dan penatalaksaan dari
bagian bedah thoraks dan kardiovaskuler
(BTKV) yaitu pemberian oksigen dengan
masker, infus cairan tetes cepat, operasi cito
torakotomi eksplorasi untuk ekstraksi corpus
alienum (besi beton) oleh bagian bedah TKV
serta operasi ekstraksi corpus alienum (besi
Gambar 1. Luka Tembus pada Dada beton) dan debridement oleh bagian bedah
ortopedi.

PEMBAHASAN
Pada kasus di atas ditemukan trauma
dada dengan patah tulang iga ke 3 hingga iga
ke 6 kanan (fraktur segmental costae 6
dekstra dan fraktur linier costae 3,4,5
dekstra), patah tulang iga ke 3 kiri,
hematopneumothoraks kanan, memar paru
kanan (contusion pulmonum dekstra), serta
emfisema subcutis pada dinding dada kanan.
Trauma pada dada berpotensi
Gambar 2. Luka Tembus pada Tungkai Atas berbahaya (menimbulkan bahaya maut) dan
penanganannya harus tepat. Pada patah
Pada pemeriksaan foto X-Ray dada tulang iga menyebabkan pengembangan
dengan hasil hematopneumothoraks kanan, dinding dada yang tidak maksimal,
memar paru kanan (contusion pulmonum menyebabkan robekan pada lapisan pleura
dekstra), patah tulang iga ke 3 hingga iga ke 6 serta organ paru-paru sehingga dapat
kanan (fraktur segmental costae 6 dekstra dan mengancam transportasi oksigen ke
fraktur linier costae 3,4,5 dekstra), patah jaringan, hal ini dapat terjadi dengan dua
tulang iga ke 3 kiri, serta emfisema subcutis cara yaitu melalui mekanisme hipovolemia
pada dinding dada kanan. Sedangkan pada akibat dari perdarahan hebat dan melalui
pemeriksaan foto X-ray tungkai kanan atas kerusakan dari paru-paru itu sendiri.
tidak ditemukan patah tulang paha. Terjadinya hipoksia ini berbahaya bagi
tubuh, karena dapat menyebabkan juga
terjadinya trauma pada otak. Tanda dari
terjadinya hipoksia dapat dilihat dari adanya
respirasi paradoxal, dyspnea dan cyanosis
juga dapat terjadi akibat adanya hipoksia
yang progresif.2,6
Trauma tumpul pada dada secara
signifikan meningkatkan kebutuhan akan
penggunaangan ventilasi (ventilator) dan
waktu tinggal ICU, bila dibandingkan dengan

104 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Dwi Fitrianti Arieza Putri, Pekerja.....

trauma selain pada dada. Telah dibuktikan meningkatkan penggunaan sumber daya di
bahwa memar paru satu sisi (contusion rumah sakit.9
pulmonum unilateral) mempunyai tingkat Berdasarkan KUHP, kualifikasi luka
mortalitas sebanyak 25%, dan tingkat dibagi menjadi luka yang tidak menimbulkan
mortalitasnya meningkat menjadi 38% jika penyakit atau halangan untuk menjalankan
terkena pada kedua paru, dan apabila pekerjaan jabatan atau mata pencaharian
disertai dengan pneumothoraks maka (sebagai penganiayaan ringan/ pasal 352),
tingkat mortalitasnya mencapai 50%.4 luka yang menimbulkan penyakit atau
Penatalaksanaan pada kasus ini halangan untuk menjalankan pekerjaan
adalah dimulai dari ABC (airway, breathing, jabatan atau mata pencaharian (sebagai
dan circulation). Pada airway (jalan napas) penganiayaan/ pasal 351 ayat 1), perbuatan
dengan pemberian oksigen untuk mencegah yang mengakibatkan luka berat (pasal 351
hipoksia dan gangguan pernapasan serta ayat 2). Sedangkan yang termasuk luka berat
evaluasi jalan napas yang patent, termuat dalam pasal 90 KUHP, yaitu: 10
pengembangan dinding dada yang  jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak
maksimal, dan pemasangan ventilator jika memberi harapan akan sembuh sama sekali,
diperlukan, breathing (pernapasan) dengan atau yang menimbulkan bahaya maut;
dekompresi yang kemudian dilanjutkan  tidak mampu terus-menerus untuk
dengan tindakan torakotomi, dan circulation menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan
(sirkulasi) dilakukan melalui perkiraan pencarian;
volume kehilangan darah, dan penggantian  kehilangan salah satu pancaindera;
cepat (resusitasi) cairan yang hilang melalui  mendapat cacat berat;
cairan infus intravena. Tindakan torakotomi  menderita sakit lumpuh;
ini berfungsi untuk eksplorasi luka tembus  terganggunya daya pikir selama empat
pada dada, apakah ada organ yang terkena minggu lebih;
serta repair organ yang terkena.2,7,8  gugur atau matinya kandungan seorang
Pada trauma tumpul dada kelainan perempuan.
yang paling sering terjadi adalah patah SIMPULAN
tulang iga, dimana komplikasinya dapat Berdasarkan uraian di atas maka luka
menyebabkan kematian (menimbulkan tembus pada dada akibat kekerasan tumpul
bahaya maut), menyebabkan kerusakan yakni adanya trauma tembus dada (blunt
paru dalam jangka panjang, meningkatkan penetrating injury). Luka tersebut merupakan
lamanya waktu perawatan, serta luka yang menimbulkan bahaya maut.

DAFTAR PUSTAKA
1. Daftar Register Visum Hidup RSUD Dr. Soetomo 3. Shah, Jigar V. dan Solanki, Mehul I. 2015.
Tahun 2015 – 2016. Analytic Study of Chest Injury. IJSS Journal of
Surgery, January-February 2015, Volume 1,
2. Robinson, Bryce RH dan Ingalls, Nichole K. Issue 1.
2011. Blunt and Penetrating Chest Trauma:
Initial Evaluation and Management. General 4. Lugo, Víctor Whizar; Gastelum, Alejandra
Surgery Board Review Manual Volume 10, Part Sauceda; Armas, Adriana Hernández; Garnica,
1. Francisco Garzón dan Gómez, Maribel
Granados. 2015. Chest Trauma: An Overview.

105 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Dwi Fitrianti Arieza Putri, Pekerja.....

Journal of Anesthesia & Critical Care: Open Traumatic Hemothorax. J Trauma Treat, an
Access, Volume 3 Issue 1 – 2015. open access journal, Volume 5 Issue 3 –
1000326.
5. Pasha, Mehboob Alam; Mokhtar, Mohd.Faris;
dan Ghazali, Mohd.Ziyadi. 2015. A 10-year 9. Unsworth, Annalise; Curtis, Kate; dan Asha,
retrospective review of chest trauma in Stephen Edward. 2015. Treatments For Blunt
Hospital Universiti Sains Malaysia. IOSR Journal Chest Trauma And Their Impact On Patient
of Dental and Medical Sciences (IOSR-JDMS) Outcomes And Health Service Delivery.
Volume 14, Issue 8 Ver. IV (Aug. 2015), PP 68- Scandinavian Journal of Trauma, Resuscitation
74. and Emergency Medicine (2015) 23:17

6. Saukko, Pekka dan Knight, Bernard. 2016. 10. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Knight’s Forensic Pathology Fourth Edition
Chapter 6. CRC Press Taylor&Francis Group,
LLC.

7. Mattox, Kenneth L.; Wall, Matthew J.Jr.; dan


Tsai, Peter. 2013. TRAUMA Seventh Edition
Chapter 24. United States: The McGraw-Hill
Companies, Inc.

8. Mahoozi, Hamid Reza; Volmerig, Jan; dan


Hecker, Erich. 2016. Modern Management of

106 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

KEKERASAN TAJAM PADA ABDOMEN YANG MENGAKIBATKAN


KEMATIAN
Dwi Fitrianti Arieza Putri1, Soekry Erfan Kusuma1

Abstrak PENDAHULUAN
Kekerasan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Kematian akibat kekerasan tajam tidak
(KBBI) adalah perihal (yang bersifat, berciri) keras;
atau perbuatan seseorang atau kelompok orang yg umum terjadi dibandingkan dengan kematian
menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau
menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain;
akibat kekerasan tumpul, luka tembak,
atau paksaan. Dalam traumatologi forensik kekerasan asfiksia, dan intoksikasi obat. Cara kematian
akibat mekanik dibagi menjadi dua yaitu kekerasan
tajam dan kekerasan tumpul. Dari total semua kasus yang sering terjadi terkait dengan kekerasan
yang dilakukan otopsi jenazah di Instalasi Kedokteran tajam adalah pembunuhan, diikuti dengan
Forensik dan Medikolegal RSUD dr.Soetomo selama
tahun 2016 (Januari – Desember 2016), sebanyak 5% bunuh diri. Sedangkan kejadian kecelakaan
adalah kasus dengan kekerasan tajam.Seorang laki-
laki, berusia 63 tahun. Pada pemeriksaan luar selaput yang tidak disengaja bisa terjadi namun relatif
lendir kelopak mata atas dan bawah tampak pucat, jarang. Sebuah laporan oleh Center for
ditemukan luka terbuka dengan tepi rata pada kepala
belakang satu buah, pada dada kanan satu buah, Disease Control di Amerika Serikat
pada perut tiga buah, pada lengan kanan satu buah,
pada lipat siku kiri satu buah dan pada telapak tangan mengevaluasi kematian dengan kekerasan
kiri satu buah. Terdapat patah tulang iga ke enam, yang terjadi di 16 negara bagian selama tahun
patah tulang jari-jari dan usus yang terburai keluar.
Pada pemeriksaan dalam ditemukan pelebaran 2006. Kekerasan tajam menyumbang 1,7%
pembuluh darah pada selaput otak, patah tulang iga
keenam dan ketujuh kanan. Ditemukan bintik
dari semua kasus bunuh diri, dibandingkan
perdarahan pada otak, serta ginjal kanan dan kiri, dengan 3 kasus bunuh diri teratas: senjata api
ditemukan perdarahan pada jaringan penggantung
usus, usus halus terpotong pada dua tempat, serta (51,3%), gantung / tercekik / mati lemas
saluran pengeluaran ginjal kanan terputus. Pada (hanging/strangulation/suffocation) (22,1%),
pemeriksaan histopatologi forensik ditemukan
pelebaran pembuluh darah dan kongesti pada organ dan keracunan (18,4%). Kekerasan tajam
paru dan ginjal.
Dari temuan pada kasus di atas dapat disimpulkan menyumbang 12,1% dari semua pembunuhan
sebab kematian akibat kekerasan tajam pada perut dibandingkan dengan 65,8% untuk senjata api
sehingga menembus usus, penggantung usus dan
saluran pengeluaran ginjal kanan sehingga dan 4,6% untuk kekerasan tumpul.1
menimbulkan perdarahan dan mati lemas (asfiksia)
akibat kekurangan oksigen.
Berdasarkan data di Instalasi
Kata Kunci: Traumatologi, Kekerasan tajam, Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD
Perdarahan, Asfiksia.
dr. Soetomo selama tahun 2016 (Januari –
Afiliasi Penulis : 1. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan
MedikolegalFakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. Desember 2016) didapatkan bahwa dari total
Korespondensi: Dwi Fitrianti Arieza Putri, email:
df.arieza@gmail.com Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal, semua kasus yang dilakukan otopsi jenazah,
RSUD Dr. Soetomo, Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No. 6 – 8 Surabaya
6028, Telp. (031) 5501545 – 49. sebanyak 5% adalah kasus dengan kekerasan
tajam.2
Penentuan cara kematian pada
umumnya, dan pembedaan antara
pembunuhan dan bunuh diri pada khususnya,
merupakan masalah utama dalam bidang
forensik. Sebuah penelitian yang dilakukan
pada populasi besar diperlukan untuk
menentukan secara statistik terkait parameter

107 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Dwi Fitrianti Arieza Putri, Kekerasan Tajam.....

yang dapat membantu untuk membedakan tembak masuk dan/atau luka tembak
antara pembunuhan dan bunuh diri akibat keluar.5
kekerasan tajam. 3
Dalam ilmu kedokteran forensik, luka LAPORAN KASUS
adalah hasil dari kekerasan fisik, yang Seorang laki-laki berumur 63 tahun
merusak kontinuitas jaringan tubuh. Trauma terlibat pertengkaran dengan rekannya dan
dijelaskan sebagai luka pada tubuh yang berakhir dengan kematian. Korban sempat
disebabkan oleh kekerasan fisik, mekanik dibawa ke rumah sakit terdekat tetapi
atau kimiawi, yang dapat menyebabkan luka dinyatakan meninggal, kemudian jenazah
atau kemungkinan komplikasi. Secara medis, dikirim ke Instalasi Kedokteran Forensik dan
kekerasan mengacu kepada perilaku yang Medikolegal RSUD Dr. Soetomo Surabaya
mengakibatkan cedera atau cedera itu untuk dilakukan otopsi. Menurut saksi mata
sendiri. Kekerasan ini bisa berakibat secara (anak korban) yang melihat kejadian
psikologis maupun secara fisik. Mekanisme tersebut, korban dibacok berkali-kali oleh
cedera mengacu pada berbagai kekuatan rekannya, sempat ada perlawanan dari
yang umumnya terkait dengan trauma korban tetapi karena penyerangan bertubi-
(misalnya proyektil, kekerasan tajam, tubi akhirnya korban terjatuh.
kekerasan tumpul, trauma termal serta Pada pemeriksaan luar ditemukan
trauma multipel). Identifikasi luka mengenai pucat pada selaput lendir kelopak mata
mekanisme cedera tergantung pada pola kanan dan kiri. Luka terbuka dengan tepi
luka dan juga kontribusi baik faktor intrinsik rata pada kepala samping kanan dengan
dan ekstrinsik dari mekanisme perlukaan. panjang 3,5 cm; pada dada kanan bawah 4
Sebagai contoh, pada permukaan yang cm; pada perut kanan 12,5 cm; pada tengah
memiliki kemiripan yang jelas akan perut 15,5 cm; pada perut kiri 20 cm; pada
menghasilkan pola luka yang berbeda jika lengan atas kanan 7 cm; pada ujung jari
dipukul dengan kecepatan yang berbeda, kelingking kanan 1 x 0,5 cm; pada ujung jari
dan biasanya proyektil dengan kecepatan manis kanan 1 x 0,5 cm; pada ujung ibu jari
tinggi dapat diperlambat oleh kecepatan tangan kanan 0,5 x 0,5 cm; di bawah lipatan
yang sedang. Cedera yang diakibatkan oleh siku 8 cm; dan pada punggung tangan yang
trauma mekanik pada umumnya dibagi menembus telapak tangan kiri dengan
menjadi dua kategori yaitu kekerasa tumpul panjang 4 cm. Ditemukan patah tulang iga
dan kekerasan tajam. Terkadang, tidak ke enam kanan, patah tulang jari telunjuk,
adanya luka eksternal pada kulit atau alat jari tengah, jari manis, dan jari kelingking
kelamin tidak mengecualikan adanya tangan kiri, serta usus dan jaringan
kemungkinan cedera serius pada organ penggantung usus terburai. Luka lecet pada
internal/bagian tubuh.4 punggung atas kiri, punggung bawah kiri,
Kekerasan mekanik diklasifikasikan tengah punggung, dan lipatan siku tangan
menjadi kekerasan tajam, kekerasan tumpul, kiri.
dan senjata api. Luka akibat kekerasan tajam
meliputi luka iris, luka tusuk, serta luka
bacok, pada kekerasan tumpul meliputi luka
lecet, luka memar, serta luka robek,
sedangkan senjata api mengakibatkan luka

108 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Dwi Fitrianti Arieza Putri, Kekerasan Tajam.....

dasar, saluran pengeluaran ginjal kanan


terputus, serta ditemukan pelebaran
pembuluh darah otak dan dasar kepala, organ
paru, hepar dan limpa pucat, serta kongesti
pada ginjal kanan dan kiri. Dari hasil
pemeriksaan histopatologi ditemukan
jaringan paru dengan pembuluh darah
melebar kongesti dan jaringan ginjal dengan
pembuluh darah melebar kongesti dan sedikit
daerah perdarahan.

SIMPULAN

Dampak fatal yang paling umum


terjadi pada trauma abdomen adalah
Pada pemeriksaan dalam ditemukan perdarahan dari organ-organ dalam. Organ
patah tulang iga keenam kanan dan iga enam limpa dan mesenterium cenderung akan
dan ketujuh kiri, usus halus terpotong pada mengalami perdarahan paling banyak dan
dua tempat, jaringan penggantung usus cepat, akan tetapi pada beberapa kasus
terpotong pada bagian tengah perut hingga ke dapat terjadi perdarahan yang

109 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Dwi Fitrianti Arieza Putri, Kekerasan Tajam.....

membutuhkan waktu beberapa jam. dipertahankan (seperti perdarahan pada


Mesenterium mengandung banyak rongga atau jaringan tubuh), besi dipulihkan
pembuluh darah yang tidak ditutupi oleh dan didaur ulang untuk digunakan dalam
jaringan parenkim seperti di hati atau limpa, sintesis hemoglobin.7
sehingga pendarahan biasanya lebih besar
dari robekan yang terjadi, walaupun Penyebab dari cedera sel sangat
kematian tidak seketika dapat terjadi. Karena beragam, mulai dari akibat adanya kekerasan
semua pendarahan di perut, kecuali adanya fisik (trauma) hingga kelainan/abnormalitas
robekan pada aorta, akan membutuhkan selular, seperti mutasi yang menyebabkan
waktu yang terakumulasi, tergantung dari kekurangan enzim penting yang mengganggu
aktivitas korban setelah terjadinya trauma.6 fungsi metabolik normal. Beberapa
mekanisme yang dapat menjelaskan
Tanda klinis perdarahan tergantung kerusakan sel antara lain akibat adanya
pada volume darah yang hilang, tingkat di kekurangan oksigen. Hipoksia adalah
mana ia terjadi, dan lokasinya. Kehilangan kekurangan oksigen,yang menyebabkan
cepat hingga 20% volume darah mungkin cedera sel dengan mengurangi respirasi
berdampak kecil pada orang dewasa sehat, oksidatif aerobik. Hipoksia ini sangat penting
akan tetapi kehilangan darah yang lebih yang menjadi penyebab umum dari cedera
besar dapat menyebabkan syok hemoragik dan kematian sel. Penyebab hipoksia
(hipovolemik).Perdarahan yang berlangsung termasuk penurunan aliran darah (iskemia),
kronis dan berulang (seperti pada ulkus oksigenasi yang tidak adekuatdari darah
peptikum atau perdarahan menstruasi) akan karena kegagalan kardiorespirasi, dan
menyebabkan hilangnya zat besi dan dapat penurunan kapasitas pembawa oksigen
menyebabkan anemia defisiensi zat besi. dalam darah, seperti padaanemia atau
Sebaliknya, ketika sel darah merah keracunan karbon monoksida atau pada
keadaan kehilangan darah yang banyak. paling banyak dan cepat. Pada keadaan
Bergantung pada beratnya keadaan kehilangan banyak darah akan menyebabkan
hipoksia, sel mungkindapat beradaptasi, terjadinya hipoksia yang dapat
mengalami cedera, atau mati. Misalnya, jika mengakibatkan cedera dan kematian sel.
arteri menyempit, jaringan yang disuplai
oleh pembuluh darah tersebut pada awalnya
dapat mengecil (atrofi), sedangkan pada
keadaan hipoksia berat atau mendadak
dapat menyebabkan cedera dan kematian
sel.8

SIMPULAN
Berdasarkan ilustrasi kasus di atas
dapat disimpulkan bahwa pada trauma
abdomen dapat menyebabkan kematian
karena perdarahan dari organ-organ dalam,
dimana organ limpa dan mesenterium
cenderung akan mengalami perdarahan

110 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Dwi Fitrianti Arieza Putri, Kekerasan Tajam.....

DAFTAR PUSTAKA

1. Prahlow, Joseph A. 2016. Forensic Autopsy Injuries / Wounds Found On The Human
of Sharp Force Injuries. Tersedia Body. J Punjab Acad Forensic Med Toxicol
http://emedicine.medscape.com/public/vp 2011;11(2).
track_iframe.html. Diakses tanggal 2 Mei
5. Idries, Abdul Munim dan Tjiptomartono,
2017.
Agung Legowo. 2013. Penerapan Ilmu
Kedokteran Forensik dalam Proses
2. Daftar Register Jenazah Instalasi
Penyidikan Edisi Revisi. Jakarta: CV. Sagung
Kedokteran Forensik dan Medikolegal
Seto.
RSUD Dr. Soetomo Surabaya Tahun 2015 –
2016
6. aukko, Pekka dan Knight, Bernard. 2016.
Knight’s Forensic Pathology Fourth Edition
3. Brunel, Christophe; Fermanian,
Chapter 6. CRC Press Taylor&Francis
Christophe; Durigon, Michel; dan Lorin,
Group, LLC.
Geoffroy de la Grandmaison. 2010.
Homicidal and suicidal sharp force
7. Kumar, Vinay; Abbas, Abul K.; dan Aster,
fatalities: Autopsy parameters in relation
Jon C. 2015. Robbins and Cotran
to the manner of death. Forensic Science
Pathologic Basis of Disease Ninth Edition
International 198 (2010) 150–154.
Chapter 4. Philadelphia: Elsevier Inc.
4. Sharma, Mukesh; Khajja, B.S.; Jha,
8. Kumar, Vinay; Abbas, Abul K.; dan Aster,
Shainendra; Mathur, G.K.; dan Mathur,
Jon C. 2015. Robbins and Cotran
V.N. 2011. Forensic Interpretation Of
Pathologic Basis of Disease Ninth Edition
Chapter 2. Philadelphia: Elsevier Inc.

111 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

KEKERASAN PADA ANAK DAN ASPEK MEDIKOLEGAL

Eriko Prawestiningtyas1

Abstrak PENDAHULUAN
Kekerasan pada anak adalah setiap perbuatan pada Teori kekerasan
anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau
penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau Terdapat tiga teori yang mencoba
penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan menjelaskan mengapa seseorang melakukan
perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan
secara melawan hukum. (UU 35 Tahun 2014, Tentang tindak kekerasan. Teori yang pertama
Perlindungan Anak). Terdapat beberapa faktor mengapa
anak sering menjadi pelaku atau korban pelaku memandang agresi atau kekerasan
kekerasan antara lain: pengaruh pola asuh, tontonan merupakan insting dari manusia. Konrad
bermuatan kekerasan, game online bermuatan
kekerasan, permisifitas lingkungan, teman sebaya Lorenz berteori bahwa sifat agresif
bahkan kultur di satuan pendidikan. Diperlukan
keterbukaan wawasan bersama tentang apa dan
merupakan insting yang bertujuan untuk
bagaimana kekerasan terhadap anak dan perlindungan mempertahan kelangsungan dari spesies.
yang mampu diberikan untuk menanggulanginya serta
pengetahuan tentang adanya regulasi yang mengatur Tetapi, berbeda dengan dorongan biologis
upaya perlindungan terhadap kekerasan anak. Anak
merupakan makhluk yang rentan sehingga mudah untuk
seperti rasa haus dan lapar, tidak terdapatnya
dijadikan objek kekerasan, eksploitasi bahkan mekanisme homeostatic yang berhubungan
kekejaman. Sedangkan yang berlaku saat ini
perlindungan anak masih dilakukan secara tradisional dengan agresifitas. Sekarang sebagian besar
dan belum menjadi perhatian penuh bagi para ahli telah meninggalkan teori yang pesimis ini.
pemangku perlindungan anak baik pemerintah, negara,
masyarakat, keluarga dan orangtua. Terdapat empat Teori kedua memandang agresifitas
perlakuan salah terhadap anak sehingga muncul berupa
kekerasan emosi, verbal, fisik dan seksual yang sebagai respons akan rasa frustasi. Rasa
semuanya jelas melanggar hak anak. Sehingga terbitlah frustasi sendiri didefinikan sebagai suatu
UU no 35/2014 tentang perlindungan anak yang
merevisi UU sebelumnya no 23/2002 yang bertujuan keadaan yang muncul di mana aktivitas
menggugah partisipasi semua jejaring untuk mau
sebagai pelaku aktif pelindung anak, menjadi pemantau
dengan tujuan mengalami hambatan.
dan bahkan pelapaor bila menemui kekerasan pada Semakin dekat seseorang mendekati tujuan
anak dengan cara arif dan bijaksana sesuai prinsip yang
terbaik bagi anak. atau hasil ketika usahanya terhambat, maka
Kata kunci: kekerasan pada anak, UU perlindungan semakin besar rasa frustasinya dan berakibat
anak
makin tingginya resiko melakukan agresifitas.
Afiliasi Penulis : 1. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Brawijaya-RSUD Dr. Saiful Anwar Malang Teori frustasi-agresifitas menyatakan bahwa
Korespondensi: Eriko Prawestiningtyas.
agresifitas diawali oleh frustasi, tetapi tidak
dapat menjelaskan mengapa tidak semua
frustasi menjadi tindak agresif.
Sekarang diketahui bahwa reaksi
terhadap frustasi dapat bervariasi dan tak
dapat diprediksi. Jadi frustasi hanyalah salah
satu mekanisme yang dapat memproduksi
agrsifitas. Lebih jauh lagi, selain tindakan
agresif, rasa frustasi dapat juga menghasilkan
perilaku penghindaran dan penyangkalan.

112 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Eriko Prawestiningtyas, Kekerasan Pada….

Teori frustasi-agresifitas menggantikan anak dan orang tua yang tidak jarang berujung
teori insting dengan adanya pengaruh pada kematian atau kecacatan yang parah.
lingkungan terhadap perilaku agresif. Ini Kekerasan dapat pula merupakan
memicu analisa lebih lanjut mengenai resiko dari pekerjaan pekerjaan tertentu
hubungan lingkungan sosial terhadap perilaku seperti polisi, penjaga penjara, pekerja sosial,
yang menghasilkan teori terbaru yang pekerja di bidang kesehatan terutama petugas
menyatakan tindak agresif merupakan ambulans, perkerja UGD, dan perawat, guru,
fenomena yang atau renspon yang didapat pekerja hiburan malam, penjaga toko,
atau dipelajari. Efek dari teori ini adalah pengemudi, dan pegawai bank. Kekerasan
perilaku agresif dapat dicegah maupun diobati lainnya adalah kekerasan yang menyertai
selama masih sebagai bentuk ekstrim dari kejadian kriminalitas termasuk di dalamnya
perilaku normal, bukan perilaku patologis. Hal melukai korban, pemerkosaan, dan
ini dapat dilihat dari penelitian yang dilakukan pembunuhan. Jenis jenis kekerasan lainnya
diberbagai negara dimana rendahnya angka adalah pemerkosaaan murni dan penyiksaan.
kekerasan di singapura disebabkan oleh Insiden dari tindak kekerasan
ketatnya pengaruh oleh pemerintah dalam umumnya lebih banyak ditemukan di dareah
menjalankan peraturan. perkotaan dan daerah sekitarnya
Akan tetapi, terkadang ada faktor lain dibandingkan dengan daerah lainnya, bahkan
yang dapat mempengaruhi terjadinya dibandingkan dengan pedesaan dengan
kekerasan antara lain pengaruh alkohol dan populasi yang tinggi.
napza. Pada penelitian di Inggris, didapatkan
peningkatan angaka kekerasan pada akhir Kekerasan Pada Anak
minggu, festival, dan hari libur di mana Kekerasan pada anak, di Indonesia,
banyak masyarakat yang mengkonsumsi peraturan mengacu pada UU RI nomer 34
alkohol. Pda suatu penelitian, dilaporkan tahun 2014 tentang perlindungan anak,
sekitar 69% dari korban maupun pelaku adalah setiap perbuatan terhadap Anak yang
menunjukkan hasil positif pada pemeriksaan berakibat timbulnya kesengsaraan atau
kadar alkohol di nafas. penderitaan secara fisik, psikis, seksual,
dan/atau penelantaran, termasuk ancaman
Macam Kekerasan untuk melakukan perbuatan, pemaksaan,
Kekerasan dapat dibagi berdasarkan atau perampasan kemerdekaan secara
tempat kejadiannya dan bagaimana suatu melawan hukum.
kekerasan itu berlangsung. Penggolongan Dalam rangka perlindungan dan
yang pertama yaitu kekerasan dalam pencegahan kekerasan pada anak,
keluarga. Kekerasan dalam keluarga dapat pemerintah juga telah memfasilitasi
berupa kekerasan fisik, kekerasan seksual, dan berdirinya lembaga indpenden yang berfungsi
anak anak yang menyaksikan berbagai bentuk untuk mengontrol keamanan, kenyamanan
kekerasan. Lebih spesifik lagi, dapat dan terpenuhinya hak-hak anak yaitu dengan
dijabarkan menjadi battered spouse or wife adanya Komisi Perlindungan Anak Indonesia.
syndrome termasuk di dalamnya terdapat Diketahui bahwa anak merupakan
kekerasan fisik, kekerasan mental, dan amanat Tuhan yang diberikan kepada
pemerkosaan intra-marital. Kekerasan lainnya orangtua yang berarti mengandung makna
adalah penganiayaan dan penelantaran pada bahwa terdapat unsur amanat dan

113 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Eriko Prawestiningtyas, Kekerasan Pada….

kepercayaan yang diberikan untuk dapat Anak tercantum dalam UU perlindungan anak
diperlakukan dengan sebaik-baiknya. Anak no 35 tahun 2014 dinyatakan sebagai
juga merupakan generasi masa depan serta seseoramh yang belum berusia delapanbelas
penentu masa depan tidak hanya keluarga tahun (18) termasuk anak yang masih didalam
bahkan bangsa Negara termasuk dirinya kandungan.
sendiri. Berdasarkan data demografi diperoleg Pada kenyataannya akhir akhir ini
bahwa hamper sepertiga penduduk Indonesia terdapat peningkatan laporan terkait dengan
adalah anak-anak sehingga berdasarkan kekerasan anak, meskipun sudah ada norma
jumlah populasi yang besar tersebut maka masyarakat dan peraturan yang mengatur
diperlukan komitmen bersama dan peraturan langsung tentang hakekat dan perlindungan
yang lebih bersifat mengikat untuk bersama- anak. Terdapat beberapa jenis kkerasan pada
sama menjaga anak dan memenuhi semua anak (Suharto, 1997), yaitu: 1) kekerasan fisik;
kebutuhan anak dalam pemenuhan hak anak. 2) kekerasan seksual; 3) kekerasan psikologis;
Terdapat beberapa norma umum yang dan 4) kekerasan social.
mengatur hak anak seperti dalam UU dasar Terdapat beberapa factor mengapa
Negara RI hingga peraturan khusus yang sering terjadi kekerasan dengan anak sebagai
memang mengatur tentang perlindungan korban, yaitu dapat dipengaruhi oleh pola
anak dalam hal pencegahan kekerasan pada asuh, factor tontonan (TV maupun games)
anak. yang bermuatan kekerasan fisik maupun
Dalam UUD RI pasal 28B ayat 2 nonfisik,pengaruh permifisitas lingkungan,
dinyatakan bahwa “setiap anak berhak atas teman sebaya maupun kultur di satuan
kelangsungan hidup, tumbuh dan pendidikan maupun di lingkungan rumah
berkembang serta berhak atas perlindungan tinggal.
dari kekerasan dan diskriminasi. UU terterntu Faktor pola asuh dapat menjadi
yang mengatur dalam perlindungan anak pemicu kekerasan pada anak anatara lain bila
antara lain: UU 35 tahun 2014 tentang pola pengasuhan disertai dengan latar
perlindungan anak, dan UU khusus yang belakang warisan. Terdapat juga kekerasan
mengatur tentang Protokol opsional konvensi yang mungkin dilakukan oleh tenaga pendidik
hak-hak anak mengenai penjualan anak, maupun orang tua yang mengatasnamakan
prostitusi anak dan pornografi anak dalam UU “proses pendidikan”. Faktor lingkungan
RI no 10 tahun 2012. sekolah dan tempat tinggal juga sangat
Dalam rangka perlindungan anak pula rentan, dengan maraknya bullying dari kakak
pemerinta menerbitkan peraturan bilamana kelas, teman, dll. Dalam lingkungan rumah
anak tersangkut dengan perkara pidana tangga tidak jarang juga dipengaruhi oleh
dengan menerbitkan UU RI no 11 tahun 2012 factor diharm dan disfungsi keluarga karena
tentang Sistem peradilan pidana anak. beberapa factor pula seperti permasalahan
Adapun prinsip perlidungan anak ekonomi maupun social. Tidak jarang juga
adalah harus bersifat non diskriminasi, kekerasan muncul akibat tafsir keagamaan.
memperhatikan kepentingan terbaik bagi Berdasarkan hasil riset yang dilakukan
anak, memperhatikan hak hidup, KPAI tahun 2012, diperoleh hasil bahwa
kelangsungan hidup dan perkembangan serta kekerasan pada anak Fakta kekerasan anak
mendengarkan pendapat anak. memperlihatkan bahwa dari 1026 responden
anak (SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA) yang

114 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Eriko Prawestiningtyas, Kekerasan Pada….

berhasil ditemui dan memberikan Usaha pencegahan


pengakuannya, tercatat: 91% responden anak Prinsip dari mencegah kekerasan pada
mengaku masih mendapatkan perlakuan anak adalah dengan melakukan pencegahan
tindak kekerasan di keluarga; 87,6% berbasis kemitraan. Bagi keluarga, satuan
responden anak mengaku mengalami tindak pendidikan dan masyarakat, maka diperlukan
kekerasan di lingkungan sekolah dan 17,9% persepsi yang sama dalam hal konsep
responden anak yang pernah mengalami perlindungan anak, “batas kekerasan” dan
bentuk perlakuan kekerasan di masyarakat. “batas pendidikan/pengasuhan” antar
Keluarga sebagai system sosial terkecil pendidik dan tenaga kependidikan, orangtua
memiliki kontribusi dalam menimbulkan dan masyarakat. Melakukan gerakan
kekerasan pada anak antara lain karena factor terintegrasi dalam hal sosialisasi pencegahan
orangtua (tidak mempunyai konsep pola asuh kekerasan melalui berbagai media masyarakat
anak, orangtua memiliki riwayat trauma masa dan forum berbasis warga dan masyarakat,
kecil, agresif dan emosional, orang tua serta bersama membangun system
tunggal, permasalahan ekonomi, riwayat pencegahan dan penanganan kasus kekerasan
KDRT dalam keluarga, permasalahan hukum dan bullying baik di sekolah, keluarga dan
atau pengaruh obat, alkohol maupun masyarakat.
narkoba, gangguan psikologis lain). Dilain
pihak satuan pendidikan diluar sekolah Usaha penanganan Korban
sebagai tempat perlindungan tidak menutup Bila terdapat korban kekerasan anak, maka
kemungkinan sebagai tempat timbulnya terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan
kekerasan pada anak. Ini bisa terjadi bila yang juga berprinsip integrasi semua
system dan peraturan sekolah tidak memiliki komponen masyarakat, terutama dalam hal
visi perlindungan pada anak, paradigma pendampingan terhadap korban. Dalam hal ini
mengajar lebih dominan daripada mendidik, dibutuhkan komitmen pendampingan
pemahaman terhadap regulasi minimal, serta bersama anatar orangtua, masyarakat,
kemampuan memposisikan anak sebagai lingkungan dan sekolah baik dlam hal
subjek pedidikan dan bukan objek pendidikan memperbaiki dan meningkatkan proses
yang masih lemah. Pada lingkungan sekitar komunikasi serta pola pengasuhan,
anak juga memiliki kontribusi dalam menciptakan lingkungan yang ramah dan
menimbulkan kekerasan bila kontribusi kondusif, pemulihan psikologis serta
keluarga lemah, anak cenderung mencari meningkatkan kepercayaan diri serta minat
jatidiri diluar secara tidak tepat serta bakat anak paska kekerasan terjadi.
masyarakat yang cenderung acuh terhadap
kewaspadaan komunitas. Aspek medikolegal kekerasan pada anak
Kekerasan seksual pada anak dapat Dalam hal item perlindungan pada
berupa perlakuan pra kontak seksual antara anak, dicantumkan bahwa anak berhak
anak dengan orang yang lebih besar (melalui memperoleh perlindungan dari 6 hal
kata, sentuhan, gambar visual, exhibitionism), tercantum dalam pasal 15 dan 16 UU RI 35
maupun perlakuan kontak seksual secara tahun 2014 tentang perlindungan anak yang
langsung antara anak dengan orang dewasa termasuk perlindungan dari pelibatan dalam
(incest, perkosaan, eksploitasi seksual) peristiwa yang mengandung unsur kekerasan.

115 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Eriko Prawestiningtyas, Kekerasan Pada….

Terdapat Bab khusus yang mengatur larangan 2. Luka sedang: yang tergolong luka yang
yaitu Bab XI A tentang Larangan. menimbulkan penyakit atau halangan
Dalam hal kekerasan pada anak, diatur untuk menjalankan pekerjaan atau
tersendiri dalam pasal 76C-F. Dengan pencaharian.
ketentuan sanksi pidana diatur dalam pasal 3. Luka berat, menurut KUHP pasal 90, maka
80-83. Adapun kekerasan atau trauma yang “luka berat” berarti :
timbul dapat menyebabkan luka dan sampai a. Jatuh sakit atau mendapat luka yang
kematian. Dalam hubungan dengan aspek tidak memberi harapan akan sembuh
hukum, akibat luka juga tercantum dalam: sama sekali atau yang menimbulkan
1. KUHP pasal 352 yaitu : penganiayaan yang bahaya maut.
tidak menimbulkan penyakit atau b. Tidak mampu secara terus menerus
halangan untuk menjalankan pekerjaan untuk menjalankan tugas jabatan atau
jabatan atau mata pencaharian (sebagai pekerjaan pencaharian.
penganiayaan ringan). c. Kehilangan salah satu panca indera.
2. KUHP pasal 351:1 yaitu penganiayaan d. Mendapat cacat berat.
yang menimbulkan penyakit atau e. Menderita sakit lumpuh.
halangan untuk menjalankan pekerjaan f. Terganggu daya pikir selama 4 minggu
jabatan atau mata pencaharian. lebih.
3. KUHP pasal 351:2 yaitu penganiayaan g. Gugur atau matinya kandungan
yang menimbulkan luka berat. seorang perempuan.
4. KUHP pasal 90 terkait kriteria luka berat
5. KUHP pasal 338,340,355,359 (mati) SIMPULAN

Mengutip pernyataan Franklin D


Secara istilah bahasa “luka” dianalogkan Roosevelt yakni “kita mungkin tidak dapat
dengan akibat dari suatu penganiayaan atau menyiapkan masa depan anak kita, tetapi
trauma. Istilah penganiayaan hanya setidaknya kita bisa menyiapkan anak kita
merupakan istilah hukum dan tidak dikenal untuk masa depan” dengan selalu mengingat
dalam istilah kedokteran, oleh karena bahwa setiap anak memiliki hak, yang wajib
penganiayaan dapat menimbulkan luka maka dilindungi agar dapat hidup, tumbuh,
dalam penulisan visum et repertum digunakan berkembang dan berpartisipasi optimal sesuai
istilah luka sebagai pengganti kata harkat dan martabat kemanusiaan.
penganiayaan. Dengan kriteria kualifikasi luka
terdiri dari:
1. Luka ringan: yang tergolong luka yang
tidak menimbulkan penyakit atau
halangan untuk menjalankan pekerjaan
jabatan atau pencaharian.

DAFTAR PUSTAKA
1. Prahlow, Joseph A. 2016. Forensic Autopsy of 2. Daftar Register Jenazah Instalasi Kedokteran
Sharp Force Injuries. Tersedia Forensik dan Medikolegal RSUD Dr. Soetomo
http://emedicine.medscape.com/public/vptr Surabaya Tahun 2015 – 2016.
ack_iframe.html. Diakses tanggal 2 Mei 2017.

116 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Eriko Prawestiningtyas, Kekerasan Pada….

3. Brunel, Christophe; Fermanian, Christophe; 7. Kumar, Vinay; Abbas, Abul K.; dan Aster, Jon
Durigon, Michel; dan Lorin, Geoffroy de la C. 2015. Robbins and Cotran Pathologic Basis
Grandmaison. 2010. Homicidal and suicidal of Disease Ninth Edition Chapter 4.
sharp force fatalities: Autopsy parameters in Philadelphia: Elsevier Inc.
relation to the manner of death. Forensic
Science International 198 (2010) 150–154. 8. Kumar, Vinay; Abbas, Abul K.; dan Aster, Jon
C. 2015. Robbins and Cotran Pathologic Basis
4. Sharma, Mukesh; Khajja, B.S.; Jha, of Disease Ninth Edition Chapter 2.
Shainendra; Mathur, G.K.; dan Mathur, V.N. Philadelphia: Elsevier Inc.
2011. Forensic Interpretation Of Injuries /
Wounds Found On The Human Body. J Punjab
Acad Forensic Med Toxicol 2011;11(2).

5. Idries, Abdul Munim dan Tjiptomartono,


Agung Legowo. 2013. Penerapan Ilmu
Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan
Edisi Revisi. Jakarta: CV. Sagung Seto.

6. Saukko, Pekka dan Knight, Bernard. 2016.


Knight’s Forensic Pathology Fourth Edition
Chapter 6. CRC Press Taylor&Francis Group,
LLC.

117 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

HUBUNGAN KEBERADAAN VISUM ET REPERTUM DENGAN


PUTUSAN HAKIM PADA TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN
Gregorius Yoga Panji Asmara1, Andy Yok Siswosaputro1

Abstrak
Proses pemidanaan di Indonesia menggunakan teori PENDAHULUAN
pembuktian negatief wettelijk bewijstheorie. Salah satu
alat bukti yang sah dapat berupa Visum et Repertum, Visum et Repertum merupakan alat
yang mana berperan dalam mengungkap terjadinya bukti yang mampu mengungkapkan
suatu tindak pidana penganiayaan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat kebisuan seonggok tubuh manusia yang
hubungan keberadaan Visum et Repertum dengan
putusan hakim pada tindak pidana penganiayaan.
menjadi korban dalam sebuah tindak
Penelitian ini berjenis observasional analitik dengan pidana. Visum et Repertum semata-mata
pendekatan cross sectional. Sampel diambil secara
purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan merupakan laporan tentang apa yang dilihat
eksklusi dari lembar putusan hakim mengenai tindak dan ditemukan, tampak dalam pemeriksaan
pidana penganiayaan di Pengadilan-pengadilan Negeri
se-Karesidenan Surakarta (n=80). Kualifikasi luka fisik tubuh manusia yang menggantikan
yang tercantum pada bagian kesimpulan Visum et
Repertum sebagai variabel bebas dan lama pidana barang bukti yang ada di tempat kejadian
penjara putusan hakim sebagai variabel terikat. perkara (KUHAP Pasal 187). Visum et
Analisis menggunakan uji Spearman. Uji Spearman
memberikan hasil bahwa keberadaan Visum et Repertum dibuat oleh dokter sebagai orang
Repertum berhubungan dengan putusan hakim dalam
tindak pidana penganiayaan. Hubungan tersebut
yang dianggap kompeten dalam
berkekuatan rendah (correlation coefficient = 0,243). menerjemahkan kebisuan tubuh manusia
Keberadaan Visum et Repertum berhubungan positif
dengan putusan hakim pada tindak pidana berdasarkan ilmu medik. Hal ini berarti
penganiayaan. bahwa dokter dengan kemampuan di bidang
Kata kunci: Visum et Repertum, kualifikasi luka,
putusan hakim, pidana penjara, tindak pidana medik memberikan kontribusi dalam
penganiayaan
penyelesaian perkara pidana terkait dengan
Afiliasi Penulis : 1.Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
keberadaan alat bukti sebagaimana tertuang
Korespondensi: Gregorius Yoga Panji Asmara.
dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara
Pidana. Dokter yang tidak profesional dalam
pembuatan Visum et Repertum akan
mempengaruhi kualitas Visum et Repertum
sehingga mengakibatkan pembuktian
perkara pidana tidak sesuai dengan kejadian
yang nyata dan akan berpengaruh pula pada
putusan.
Putusan pidana dapat dijatuhkan
kepada terdakwa apabila terdapat sekurang-
kurangnya dua alat bukti yang sah, dengan
keyakinan penuh dari hakim (KUHAP Pasal
183). Seringkali dalam mengungkap
kebenaran suatu tindak pidana, keahlian
penegak hukum diuji, terutama dalam

118 | I S B N :
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Gregorius Yoga Panji Asmara, Hubungan.....

melengkapi bukti-bukti yang diperlukan berupa lama pidana penjara. Kualifikasi luka
guna menunjang penyelesaian perkara dikelompokkan menjadi tiga, yakni luka
pidana. Kesulitan dalam membuktikan ringan, sedang, dan berat. Lama pidana
perkara mengakibatkan permasalahan tidak penjara dalam satuan bulan. Data yang
dapat diselesaikan sendiri.(1) Kebutuhan didapat kemudian dianalisis menggunakan uji
akan keterlibatan ahli di bidang ilmu di luar Spearman.7,8
ilmu hukum seperti ilmu kedokteran,
menunjang akurasi hasil pemeriksaan, yang HASIL
dengan pengetahuan keilmuan itu Pada hasil uji Spearman didapatkan
digunakan sebagai pertimbangan hukum.(2) nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,030 yang
Perihal alat bukti sah yang berhubungan menunjukkan hubungan yang signifikan
dengan ahli bidang ilmu yaitu keterangan antara Visum et Repertum dengan putusan
ahli (KUHAP Pasal 184). Visum et Repertum hakim. Correlation coefficient dengan nilai
dapat diartikan sebagai keterangan ahli 0,243, menunjukkan hubungan yang cukup
maupun surat, mengingat dibuat oleh dokter rendah antara Visum et Repertum dengan
dan sesuai dengan kesepakatan yang dibuat putusan hakim. Hasil uji Spearman dapat
antara IKAHI dengan IDI pada tahun 1986 di dilihat pada tabel 1.
Jakarta.(3) Keterkaitan unsur-unsur tindak
pidana satu dengan yang lainnya sangat Tabel 1. Hasil Uji Korelasi Spearman
dibutuhkan, terkhusus dalam menentukan VeR Putusan
Hakim
putusan. VeR Correlation
Putusan pidana pada perkara yang Coefficient 1,000 ,243
Sig. (2-
secara sah dan meyakinkan terjadi, dapat tailed) . ,030
N 80 80
berupa pidana penjara. Perihal lama pidana Putusan Correlation
penjara dipengaruhi oleh berbagai aspek, Hakim Coefficient ,243 1,000
Sig. (2- ,030
termasuk salah satunya adalah derajat luka tailed) .
N 80 80
(kualifikasi luka) yang mana tercantum di
dalam Visum et Repertum. Penelitian ini
Penelitian yang dilakukan pada 80
bertujuan untuk mengetahui apakah
(delapan puluh) lembar putusan dari 7
terdapat hubungan keberadaan Visum et
(tujuh) pengadilan negeri di Karesidenan
Repertum dengan putusan hakim pada
Surakarta menunjukkan hasil penelitian
tindak pidana penganiayaan.
bahwa keberadaan Visum et Repertum
berhubungan positif dengan putusan hakim.
METODE
Penelitian ini bersifat observasional Hal ini ditunjukkan dengan hasil uji
analitik dengan pendekatan cross sectional, Spearman dengan nilai sig. (2-tailed) sebesar
dengan sampel 80 lembar putusan hakim, 0,030. Korelasi yang cukup rendah antara
diambil secara purposive sampling.(4,5,6) Visum et Repertum dengan putusan
Variabel yang digunakan adalah keberadaan hakimdilihat dari nilai correlation coefficient
Visum et Repertum dan putusan hakim. Visum uji Spearman sebesar 0,243. Hasil penelitian
et Repertum yang diambil berupa kualifikasi menunjukkan hipotesis diterima.
luka yang tercantum pada bagian Implikasi dari penelitian ini
kesimpulannya. Putusan hakim yang diambil menunjukkan adanya hubungan keberadaan

119 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Gregorius Yoga Panji Asmara, Hubungan.....

Visum et Repertum dengan putusan hakim. kehilangan mata pencaharian dan implikasi
Fungsi Visum et Repertum adalah sebagai lainnya seperti yang telah tercantum pada
salah satu alat bukti yang sah terkait tindak Pasal 90 KUHP. Visum et Repertum sebagai
pidana penganiayaan (KUHAP Pasal 184). satu-satunya alat bukti pengungkap
Visum et Repertum menjembatani kebisuan tubuh hanya dapat dikeluarkan
kebenaran dari kebisuan tubuh manusia oleh dokter.(12) Dokter menjadi penentu
dengan hukum.(8) Kualifikasi luka ringan, dan kebenaran yang diungkapkan menjadi
sedang dan berat dapat diketahui melalui salah satu pertimbangan hakim dalam
bagian kesimpulan dari Visum et Repertum memberikan putusan lama tidaknya pidana
yang diungkapkan oleh dokter sebagai orang penjara yang dijatuhkan. Faktor di luar
yang dianggap ahli dalam bidang medis. model penelitian yang juga memiliki
Sehubungan dengan kualifikasi hubungan dengan putusan hakim bisa
luka tersebut, tujuan pemeriksaan forensik berupa alat bukti lainnya seperti
adalah untuk mengetahui penyebab luka / keterangan saksi, keterangan ahli,
sakit dan derajat keparahan luka / sakit petunjuk, dan keteranan terdakwa.
tersebut, yang mana hal ini penting untuk Keyakinan diri dari hakim itu sendiri juga
mengetahui rumusan delik dalam KUHP.(9) menjadi faktor di luar model, sesuai
Dokter dalam menentukan kualifikasi luka dengan teori pembuktian yang dianut di
tersebut tidak boleh menuliskan keluhan Indonesia, yakni negatief wettelijk
subjektif korban apabila keluhan subjektif bewijstheorie.(13)
tersebut tidak dapat dibuktikan secara Keterbatasan penelitian ini antara
objektif. Pertaruhan hak asasi manusia lain belum pernah ada penelitian
menjadi nyata dengan kesalahan sebelumnya mengenai bagaimana
pembuatan Visum et Repertum.(10) hubungan keberadaan Visum et Repertum
Visum et Repertum sebagai salah dengan putusan hakim. Tinjauan pustaka
satu alat bukti yang sah menurut KUHAP dalam studi interdisipliner pun masih
Pasal 184 berperan cukup penting. Sebuah jarang dilakukan. Keterbatasan lain dalam
perkara menjadi terang dengan adanya penelitian ini adalah pembatasan cakupan
Visum et Repertum yang menunjukkan variabel keberadaan Visum et Repertum.
sejauh mana atau separah apa akibat yang Variabel bebas dalam penelitian ini yang
terjadi dalam tindak pidana penganiayaan. berupa keberadaan Visum et Repertum
Kebutuhan Visum et Repertum juga hanya sebatas bagian kesimpulan Visum et
ditunjukkan melalui data di beberapa Repertum, tanpa melihat isi Visum et
rumah sakit yang menunjukkan bahwa Repertum secara menyeluruh.
Visum et Repertum pada unit gawat Kualifikasi luka berdasarkan
darurat yang diperlukan pada kasus kebutuhan hukum juga sering menjadi suatu
perlukaan dan keracunan mencapai 50- hal yang membingungkan untuk seorang
70%.(11) Perkara tindak pidana dokter, terkhusus pada luka ringan dan
penganiayaan dengan implikasi luka berat sedang.(14) Ketidakpastian pendapat dokter
menjadi pertimbangan tersendiri, sebagai dasar pengambilan keputusan dapat
mengingat implikasi terhadap korban yang menjadi keputusan yang tidak
menjadi terganggu, dalam hal aktivitas menguntungkan dalam proses peradilan.(9)
kesehariannya, bahkan bisa terjadi Hasil penelitian di Jakarta menunjukkan

120 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Gregorius Yoga Panji Asmara, Hubungan.....

bahwa hanya 15,4% Visum et Repertum sehingga menjadi sebuah keterbatasan, pula
perlukaan RSU DKI Jakarta berkualitas baik, untuk mengetahui sejauh mana seorang
dengan kualitas bagian kesimpulan 65,94% dokter dapat mengungkapkan kebisuan
(kualitas sedang).(15) Hal ini menunjukkan tubuh sesuai dengan kebutuhan hukum.
bahwa keberadaan Visum et Repertum
sebagai alat bukti yang sah pun harus SIMPULAN
diimbangi dengan kualitas Visum et Keberadaan Visum et Repertum
Repertum pula. Sejauh ini belum ada berhubungan positif dengan putusan hakim
penelitian mengenai kualitas Visum et pada tindak pidana penganiayaan.
Repertum di wilayah Keresidenan Surakarta,

DAFTAR PUSTAKA
1. Kansil CST. Pengantar Ilmu Hukum Dan Tata 9. Herkutanto. Pemberlakuan Pedoman
Hukum Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka; Pembuatan Visum et Repertum (VeR) Korban
2002. Hidup dan Trauma-Related Injury Severity
Score (TRISS) untuk Meningkatkan Kualitas
2. Soeparmono. Keterangan Ahli dan Visum et VeR [Disertasi]. Jakarta: Universitas
Repertum dalam Aspek Hukum Acara Pidana. Indonesia; 2005.
Semarang: Satya Wacana; 2002.
10. Sutarno H. Hukum Kesehatan: Eutanasia,
3. Idries MA. Penerapan Ilmu Kedokteran
Keadilan dan Hukum Positif di Indonesia.
Forensik dalam Proses Penyidikan. Jakarta:
Malang: Setara Press; 2014.
Sagung Seto; 2013.

4. FletcherRH, FletcherSW, FletcherGS. Clinical 11. Atmadja DS. Aspek Medikolegal Pemeriksaan
Epidemiology: The Essentials, edisi Korban Perlukaan dan Keracunan di Rumah
5.Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; Sakit. Prosiding ilmiah Simposium
2009. Tatalaksana Visum et Repertum Korban
Hidup padaKasus Perlukaan dan Keracunan di
5. Setiawan N. Teknik Sampling. Proseding Rumah Sakit; 2014 Juni 23; Jakarta,
Diklat Metodologi Penelitian Sosial. Bogor: Indonesia.
Departemen Pendidikan Nasional Inspektorat
Jenderal; 2005. 12. Gerstenfeld PB. Crime & Punishment in
United States. Pasadena California: Salem
6. Murti B. Desain dan Ukuran Sampel untuk Press; 2008.
Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif di Bidang
Kesehatan. Yogyakarta : Gadjah Mada 13. Hiariej EO. Teori dan Hukum Pembuktian.
University Press; 2010. Jakarta: Erlangga; 2012.

7. Dahlan S. Statistik untuk Kedokteran dan 14. Sampurna B, Samsu Z. Peranan Ilmu Forensik
Kesehatan. Jakarta: Epidemiologi Indonesia; dalam Penegakan Hukum. Jakarta: Pustaka
2015. Dwipar; 2003.

8. Afandi D. Visum et Repertum pada Korban 15. Herkutanto. Kualitas Visum et Repertum
Hidup. Jurnal Ilmu Kedokteran. 2009:3(2):79- Perlukaan di Jakarta dan Faktor yang
84. Mempengaruhinya. Maj Kedokt Indon. 2004;
54(9):355-60.

121 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

KUALITAS Visum et Repertum (VeR) KASUS DELIK SUSILA


DOKTER UMUM DI RS ABDOEL MOELOEK BANDAR LAMPUNG
Handayani Dwi Utami1, Rodiani2

Abstrak PENDAHULUAN
Permintaan Visum et Repertum (VeR) pada kasus Tindak pidana kejahatan setiap
korban perlukaan akibat penganiayaan atau kekerasan
terhadap anak/perempuan seperti kejahatan susila, tahunnya mengalami peningkatan. Tindak
jumlahnya semakin meningkat. Penelitian sebelumnya
menunjukkan VeR yang dibuat dokter di fasilitas
pidana kejahatan di wilayah Propinsi
pelayanan kesehatan primer/ UGD/pusat kekerasan Lampung setiap tahunnya cenderung
terpadu RS, kualitasnya cenderung beragam dan
buruk. Untuk mengetahui kualitas VeR kasus delik mengalami peningkatan. Kejahatan seksual
susila yang dibuat dokter umum di RS Abdoel Moeloek merupakan satu kejahatan yang semakin
(RSAM) Lampung. Desain penelitian ini adalah
deskriptif retrospektif cross sectional terhadap data marak terjadi di seluruh pelosok negeri dan
VeR perlukaan korban delik kesusilaan di RSAM
periode 2010-2015. Data diperoleh dari dokumen VeR tidak hanya melibatkan orang dewasa
di bagian Unit Gawat Darurat, Bagian Obsgin, WKK, namun baik pelaku maupun korban cukup
dan Instalasi Forensik RSAM Bandar Lampung.
Kemudian dianalisis dengan menggunakan skoring beragam dari berbagai usia, kalangan dan
Herkutanto terhadap ke 13 unsur VeR, sedangkan
analisis deskriptif dilakukan terhadap data korban latar belakang sosial ekonomi dan
perlukaan, jenis kekerasan, derajat luka serta kualitas pendidikan. Dalam mencari data dan
VeR. Selama tahun 2011-2015 terdapat 2917 kasus
visum hidup yang ditangani di RSAM yang terbagi atas informasi untuk membantu penyidikan pada
kasus penganiayaan 2197 kasus (75,3%), KDRT 118
kasus (4%), delik susila 472 kasus (16%) dan
kasus yang berhubungan dengan manusia,
kecelakaan lalu lintas 130 kasus(4,7%). Dari 472 penyidik meminta bantuan dari ahli, yaitu
kasus delik susila, hanya 462 visum yang dapat
dianalisis, dengan hasil rerata keseluruhan adalah dokter atau dokter ahli kehakiman.1
baik pada bagian pendahuluan (100) dan pemberitaan Permintaan Visum et Repertum (VeR) pada
(81.79) namun masih buruk dibagian kesimpulan
(40.37). Terjadi peningkatan jumlah kasus hingga kasus dengan korban perlukaan termasuk
mencapai puncaknya pada tahun 2013 yaitu sebanyak
151 (32,68%) kasus. Terdapat peningkatan kualitas korban delik susila jumlahnya lebih banyak
pemberitaan dengan nilai terbaik di tahun 2015 dibandingkan pada kasus lainnya, seperti
dengan skor 83,01. Hal ini tidak berkorelasi positif
dengan kualitas kesimpulan yang justru menurun pada kasus kematian, ataupun kejahatan
tahun 2015 dengan skor 30,89. Kualitas visum delik
susila secara keseluruhan sudah baik pada bagian
pskiatrik.
pendahuluan (100) dan pemberitaan (81.79) namun Berdasarkan data dari beberapa
masih buruk pada bagian kesimpulan (40.37).
Kata kunci: visum, kualitas, delik susila, luka rumah sakit, kasus perlukaan dan keracunan
Afiliasi Penulis : 1. Staf Ilmu Kedokteran Forensik FK Universitas
yang memerlukan pemeriksaan untuk
Islam Indonesia/ Universitas Lampung. 2. Staf bagian Ilmu Kebidanan
dan Kandungan FK Universitas Lampung/ RSAM Abdoel Moeloek
memenuhi permintaan akan VeR pada Unit
Lampung Korespondensi: Handayani Dwi Utami. Forensic Medical
Science Staff of Islamic University of Indonesia. Address: Soekiman Gawat Darurat mencapai 50-70%.2,3 Dokter
Wirdjosanjojo Building. 2nd Floor. Islamic University of Indonesia.
Kaliurang St KM 14,5 Besi Ngaglik Sleman. Yogyakarta. yang bekerja di Unit Gawat Darurat dalam
haniforensic@gmail.com, handayani.dwi@uii.ac.id WA/SMS
081392351829 membuat VeR tidak selalu dokter spesialis
forensik. Berdasarkan SKDI 2012 kompetensi
dokter umum dalam membuat VeR adalah 4
(empat), artinya seorang dokter umum
harus dapat membuat VeR dengan baik dan
benar. Pemberian VeR adalah salah satu

122 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Handayani Dwi Utami, Kualitas Visum....

bentuk pelayanan medikolegal di Rumah penelitian di Puskesmas juga dilakukan oleh


Sakit. Kualitas VeR yang dihasilkan tentu Simaremare (2016) mengenai kualitas VeR
mencerminkan kualitas pelayanan di tempat perlukaan di tingkat Puskesmas didapatkan
tersebut. 4 hasil kualitasnya adalah sedang.5 Namun
Untuk menegakkan bukti dari suatu penelitian itu tidak menganalisis secara
tindak kejahatan, pihak kepolisian spesifik terkait jenis kasusnya. Hingga saat
melaksanakan penyidikan dengan mencari ini penulis belum menemukan penelitian
data dan informasi dari ahli, yaitu dokter kualitas VeR terutama VeR pada kasus delik
spesialis forensik atau non spesialis forensik susila di Lampung. Sehingga penelitian ini
untuk membuat Visum et Repertum (VeR). diharapkan mampu menjawab pertanyaan
Surat ini merupakan keterangan tertulis dari mengenai kualitas VeR kasus delik susila
dokter yang dibuat atas permintaan penyidik yang dibuat dokter umum di Propinsi
yang berwenang tentang pemeriksaan Lampung.
medik pada manusia, baik hidup maupun
mati berdasarkan sumpah dan keilmuannya. VISUM ET REPERTUM
Pada kenyataannya VeR tidak hanya dibuat VeR dibuat berdasarkan permintaan
oleh dokter spesialis forensik di Rumah Sakit dari pihak yang berwenang yaitu penyidik
rujukan. Dokter umum di fasilitas pelayanan pembantu sebagaimana bunyi pasal 7 ayat
kesehatan primer juga membuat VeR. Sesuai (1) butir h dan pasal 11 KUHAP. Yang
dengan SKDI tahun 2012 dokter umum harus termasuk pentidik menurut KUHAP pasal 6
dapat membuat VeR dengan benar. Dari ayat (1) jo PP 27 tahun 1983 pasal 2 ayat (1)
berbagai penelitian yang telah dilakukan di adalah Pejabat Polisi Negara RI yang diberi
berbagai daerah di Indonesia, ditemukan wewenang khusus oleh UU dengan pangkat
bahwa kualitas VeR yang dibuat dokter serendah-rendahnya Pembantu Letnan Dua,
umum beragam. Sebagian besar penelitian sedangkan penyidik pembantu berpangkat
tersebut menunjukkan VeR yang dibuat serendah-rendahnya Sersan Dua.8,9,10
dokter umum di fasilitas pelayanan Kedudukan VeR dalam suatu proses
kesehatan primer kualitasnya cenderung peradilan adalah sebagai suatu alat bukti
buruk, disebabkan banyak faktor yang yang sah sebagaimana yang tertulis di pasal
mempengaruhinya.4,5,6 184 KUHAP ayat (1). VeR berperan dalam
Beberapa penelitian mengenai proses pembuktian perkara pidana terhadap
kualitas VeR telah dilakukan. Dari penelitian kesehatan jiwa manusia, artinya dokter tidak
Herkutanto (1997) hanya 15,4% VeR yang hanya memeriksa pasien tetapi juga
berkualitas baik dari 34 Rumah sakit di DKI memeriksa saksi/korban tindak pidana.
Jakarta. Di Pekanbaru, Roy (2007) Pemeriksaan tersebut dilakukan secara rinci
menyatakan dari 102 sampel VeR perlukaan dan kemudian dituangkan dalam bentuk
berkualitas buruk. Di kota Dumai, penelitian VeR.10,11
mengenai ini juga dilakukan oleh Maulana Secara umum dikenal dua jenis VeR
(2014) dengan hasil kualitas yang buruk dari yaitu visum untuk orang hidup (kasus
166 sampel VeR perlukaan.5,7,8,9 perlukaan, keracunan, perkosaan, pskiatri,
Penelitian-penelitian mengenai dan lain-lain) dan visum jenazah.
kualitas VeR sebagian besar dilakukan di Berdasarkan waktu visum untuk orang hidup
Rumah Sakit. Selain di Rumah Sakit, dibedakan menjadi:12

123 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Handayani Dwi Utami, Kualitas Visum....

1. Visum seketika yang dibuat langsung adanya persetubuhan dilakukan dengan


setelah korban diperiksa. Ini merupakan pemeriksaan fisik terhadap kemungkinan
visum yang paling banyak dibuat dokter. deflorasi hymen, laserasi vulva atau vagina,
2. Visum sementara yaitu visum saat serta adanya cairan mani dan sel sperma
korban masih dalam perawatan dalam vagina. Dalam kesimpulan VeR
biasanya untuk menentukan jenis kejahatan susila harus memuat usia korban,
perlukaan, dan pada visum ini tidak jenis luka, jenis kekerasan, dan tanda
terdapat kesimpulan. persetubuhan.10
3. Visum lanjutan yaitu visum yang 3. VeR jenazah
diberikan setelah korban sembuh dari VeR jenazah dibagi menjadi12:Visum
perawatan atau meninggal dan dengan pemeriksaan luar dan visum dengan
merupakan lanjutan dari visum pemeriksaan luar dan dalam (autopsi).
sementara dan sudah memuat 4. VeR pskiatrik atau VeRPsychiatricum.
kesimpulan. Dokter yang membuat Visum ini perlu dibuat sesuai dengan
kesimpulan tidaklah harus dokter yang pasal 44 ayat (1) KUHP yang berbunyi
membuat visum sementara. “Barangsiapa melakukan perbuatan yang
Berikut adalah jenis-jenis VeR: tidak dapat dipertanggungjawabkan
1. VeR perlukaan (termasuk keracunan) padanya disebabkan karena jiwanya cacat
Suatu perlukaan dapat membawa dalam tubuhnya (gebrekkige ontwikkeling)
dampak dari segi fisik, psikis, social dan atau terganggu karena penyakit (zielkelijke
pekerjaan, oleh karena itu derajat perlukaan storing), tidak dipidana”.Visum ini
diperlukan oleh hakim di peradilan untuk diperuntukkan bagi tersangka atau terdakwa
menentukan beratnya sanksi pidana yang pelaku pidana, bukan korban sebagaimana
dijatuhkan. Dalam pemberitaan VeR pembuatan VeR lainnya.
biasanya disebutkan keadaan umum korban Cara Pengukuran Kualitas VeR
sewaktu datang, luka atau cedera atau Cara pengukuran kualitas VeR pada
penyakit yang ditemukan berikut uraian penelitian ini dilakukan dengan
letak, jenis, sifat serta ukurannya, mengembangkan metode skoring
pemeriksaan penunjang, tindakan medis Herkutanto yang pernah dilakukan di
yang dilakukan, riwayat perjalanan penyakit departemen Ilmu Kedokteran Forensik FKUI.
selama perawatan dan keadaan akhir saat
perawatan berakhir. Pada bagian
kesimpulan harus tercantum luka atau
cedera atau penyakit yang ditemukan
kemudian jenis benda yang mengakibatkan
serta derajat perlukaan.
2. VeR kejahatan susila.
Dokter diminta membuat visum jenis
ini jika ada kasus dugaan adanya
persetubuhan yang diancam KUHP meliputi
pemerkosaan, persetubuhan pada wanita
tak berdaya, persetubuhan dengan wanita
yang belum cukup umur. Pembuktian

124 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Handayani Dwi Utami, Kualitas Visum....

skor rata-rata dan pembobotan.


Pembobotan dilakukan dengan cara
mengalikan nilai skor rata-rata dengam
suatu faktor pengali, sebagai berikut :
a. Skor rata-rata bagian pendahuluan
dikalikan 1
b. Skor rata-rata bagian pemberitaan
dikalikan 5
c. Skor rata-rata bagian kesimpulan
dikalikan 8
Kemudian nilai kualitas VeRtersebut
didapatkan dengan cara menjumlahkan nilai
dari kelompok variabel 1,2 dan 3 yang dibagi
dengan bobot total dikalikan 100%. Dari
hasil tersebut, adapun kriteria kualitas yang
didapatkan sebagai berikut:
a. Kualitas VeR buruk bila nilai
persentase (<50%),
b. sedang (50%-75%) dan
c. baik (>75%) .

METODE
Desain penelitian yang digunakan
adalah deskriptif retrospektif cross sectional
terhadap data VeR perlukaan korban delik
kesusilaan di RSAM periode 2010-2015.
Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah
seluruh VeR perlukaan korban delik
kesusilaan di RSAM periode 2010-2015.
Kriteria ekslusi pada penelitian ini adalah
seluruh Visum et Repertum yang tidak
lengkap. Kriteria lengkap adalah : lembaran
yang hilang, lembar kosong, identitas tidak
lengkap, tidak ada otorisasi dan tanda
tangan penulis, tidak mencakup semua
bagian visum yang ada. Variabel bebas:
dokter pembuat, waktu kejadian, jenis
kelamin, umur korban, deskripsi
pemeriksaan, kesimpulan visum. Variabel
terikat : kualitas visum delik susila yang
dibuat oleh dokter umum.
Setelah masing-masing variabel
Data yang dikumpulkan untuk variabel
mendapat skor, dilakukan penghitungan nilai
unsur-unsur VeR diperoleh dari data sekunder

125 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Handayani Dwi Utami, Kualitas Visum....

yaitu dokumen VeR di bagian Unit Gawat kemudian stabil dan menurun ditahun 2015.
Darurat, Bagian Obsgin, WKK, dan Instalasi Demikian pula trend untuk kasus yang lain
Forensik RSAM Bandar Lampung. Setelah kecuali kasus kecelakaan dan KDRT
pengolahan data tersebut selesai dilakukan, meningkat kembali pada tahun 2015.
kemudian hasil penelitian akan disajikan Melihat dinamika kasus perlukaan yang
dalam bentuk tabel, diagram. Analisis data ditangani, kita bisa melihat lebih detil pada
dari variabel unsur-unsur VeR dilakukan tabel 2 berikut yang akan menampilkan data
dengan menggunakan metode skoring kasus delik susila perbulan selama 5 tahun
Herkutanto terhadap ke 13 unsur VeR. Ketiga pengamatan. Dinamika jumlah kasus
belas unsur visum diberi skor 0,1 dan 2 perbulan dan pertahun sangat dipengaruhi
dengan nilai tertinggi 2, sedangkan analisis oleh multifaktorial. Selain faktor
deskriptif dilakukan terhadap data korban ekonososiokultural, tingkat pendidikan dan
perlukaan, jenis kekerasan, derajat luka serta pengamalan kehidupan beragama dan
kualitas VeR. kebiasaan hidup sehat terutama kesadaran
Selama kurun waktu 5 tahun ( 2011-2015) sehat reproduksi di masyarakat, pengaruh
terdapat 2917 kasus visum hidup yang global dan akses informasi yang meningkat
ditangani di RSAM yang terbagi atas kasus juga dipengaruhi lifestyle masyarakat seperti
yang terlihat aktivitas pada bulan tertentu
penganiayaan 2197 kasus (75,3%) , KDRT 118
kasus (4%), delik susila 472 (16%) kasus dan juga berpengaruh pada insidensi kasus delik
kecelakaan lalu lintas 130 kasus(4,7%). Untuk susila di masyarakat.5,6
melindungi kerahasiaan data pasien, maka
sebelum melakukan penelitian, peneliti
terlebih dahulu akan mengajukan ethical
clearance. Penelitian ini tidak menggunakan
subyek penelitian manusia secara langsung
atau responden karena menggunakan data
sekunder berupa Rekam Medis atau Visum et
Repertum, maka penelitian ini akan mengikuti
alur perijinan sesuai ketentuan di Fasilitas
Kesehatan. Rekam Medis dijamin
kerahasiaannya dengan cara koding sehingga Pola perbulan dapat dilihat kasus
data mentah yang diambil terjaga meningkat di bulan Januari, Mei, dan
kerahasiannya. cenderung stabil tinggi di bulan Agustus –
Desember. Jumlah kasus rendah pada bulan
Februari, Maret, Juni Juli. Dari 472 kasus delik
susila yang dapat dianalisa kualitas visumnya
hanya 462 visum dengan hasil sebagai berikut
:

Jika kita lihat terjadi fluktuasi kasus


delik susila dari tahun ke tahun dengan
puncaknya di tahun 2013, terjadi lonjakan
yang cukup tajam ditahun 2012 dan 2013

126 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Handayani Dwi Utami, Kualitas Visum....

ukuran luka dan pemeriksaan penunjang


1. Nilai pendahuluan yang dilakukan pada pasien selama
Nilai bagian pendahuluan dari 462 visum penatalaksanaan pasien. Pada hasil
selama 5 tahun yang dianalisis menunjukkan pengamatan selama 5 tahun hanya tahun
bahwa penulisan pendahuluan 462 visum 2011 kualitas pemberitaan berada pada level
menunjukkan nilai sempurna (100). sedang (66,4—berada pada range 50-75 )
Pendahuluan memuat identitas dokter sedangkan pada 4 tahun berikutnya berada
pemeriksa, identitas penyidik peminta dan pada level baik (>75).
identitas korban/pasien. Dari pengamatan 3. Nilai kesimpulan
didapatkan hasil pencapaian kualitas Adalah kualitas penilaian subyektif
penulisan pendahuluan sudah baik. Terbukti medis dokter terhadap hasil pemeriksaan
dengan nilai sempurna dari tahun ke tahun. media yang dihubungkan dengan aspek
Hasil ini senada dengan penelitian-penelitian medikolegal, memuat 2 unsur yaitu
serupa di center kesehatan lain yang kesimpulan jenis luka akibat kekerasan serta
menangani visum et repertum. 4,5,6,7,8 gradasi/kualifikasi luka. Kualitas dinilai
2. Nilai pemberitaan. berdasarkan metode skoring Hekutanto
Pemberitaan visum seperti dalam skor dengan kriteria sebagai berikut : baik (>75),
Herkutanto seharusnya mencakup minimal sedang (50-75), dan buruk (<50).
hal-hal berikut ini : mencakup 6 unsur yaitu
Anamnesis, Tanda vital, Lokasi luka, HASIL
Karakteristik luka, Ukuran luka, Pengobatan Hasil penelitian ini menunjukkan
dan Perawatan. kualitas dinilai berdasarkan ternyata dari tahun ke tahun kualitas
metode skoring Hekutanto dengan kriteria penulisan kesimpulan visum delik susila di
sebagai berikut : baik (>75%), sedang (50%- RSAM dalam 5 tahun terakhir masih pada
75%), dan buruk (<50%). Pada penelitian ini kriteria buruk. Pencapaian poin yang
yang dinilai tidak termasuk anamnesis dan maksimal di bagian pendahuluan dan bagian
tanda vital. Berbeda dengan pencapaian pemberitaan ternyata belum berkorelasi
kualitas penulisan pendahuluan, bagian positif terhadap kualitas kesimpulan visum
pemberitaan menunjukka variasi dari tahun yang dihasilkan. Dari pengamatan
ke tahun. Walaupun masih seragam dan didapatkan bahwa dokter penulis visum
berkisar pada angka 80 namun pada tahun belum mencantumkan jenis
2011 kualitas pemberitaan hanya berada kelainan/klasifikasi luka dan
pada skor 66,4. Perubahan pencapaian skor gradasi/kualifikasi luka dengan benar.
ini dapat terjadi karena sejak tahun 2011 Sehingga skor kualitas visum masih di angka
terdapat dokter SpF yang menjadi supervisor 40 an.
bagi penulisan visum di instalasi forensik. Pada bagian kesimpulan, penentuan
Pendidikan dan pembelajaran S1 juga derajat luka merupakan permasalahan yang
sudah menekankan pada pentingnya paling sering ditemui. Derajat luka sangat
penulisan deskripsi luka / kelainan merujuk berkaitan dengan jenis penganiayaan yang
pada kaidah penulisan luka yang terstandar. dilakukan dan berat ringannya ancaman
Pencapaian yang belum sempurna ini jika hukuman terhadap pelaku. Sesungguhnya
dicermati dari tahun ke tahun bagian yang penentuan derajat luka tidak sulit bagi
sering tidak ditulis adalah koordinat luka, dokter, namun hingga saat ini belum ada

127 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Handayani Dwi Utami, Kualitas Visum....

standarisasi dari penentuan derajat luka. Ketrampilan klinis dalam menentukan


Dokter hanya akan membuat derajat luka derajat luka ini penting untuk dikuasai oleh
berdasarkan pemikiran mereka masing– dokter umum karena kekeliruan dokter
masing, sehingga derajat luka bisa berbeda dalam penyimpulan kualifikasi luka dapat
antara satu dokter dengan dokter yang menimbulkan ketidakadilan bagi korban
lainnya. 5,6,11,12,13 maupun pelaku pidana.7,11,14
Fenomena ini tentu saja merupakan Hasil wawancara Simare-mare (2015)
sebuah kondisi yang memprihatinkan bagi terhadap dokter-dokter yang bertugas di
proses pencapaian kompetensi klinis puskesmas menunjukkan bahwa beberapa
medikolegal seperti yang seharusnya tertera faktor yang turut berpengaruh terhadap
dalam SKDI 2006 maupun 2012. Bahwa kualitas visum yang dihasilkan dokter
kompetensi dokter umum dalam hal klinis puskesmas adalah : proporsi antara jumlah
forensik medikolegal adalah mampu dokter dan jumlah kunjungan pasien.
membuat laporan visum pemeriksaan luar. Semakin sedikit dokter dan semakin tinggi
kompetensi ini mencakup kemampuan kunjungan pasien, maka beban kerja yang
membuat deskripsi luka akibat kekerasan semakin berat membuat kualitas visum yang
mekanik, fisika dan kimiawi serta menulis dihasilkan tidak maksimal karena
visum dengan baik ( kompetensi 3 - 4A).4 terbatasnya waktu pemeriksaan dan
Berdasar pada penelitian sebelumnya penanganan pasien. Rerata puskesmas ini
dan standar kompetensi yang harus dicapai mempunyai 3-6 dokter dengan kunjungan
oleh dokter Indonesia dan demi sebuah pertahun 25.662 – 61.998 pasien, sehingga
perbaikan sistem pendidikan dan pengajaran rerata load 1 dokter adalah 10.000/tahun
forensik dan medikolegal yang lebih baik, atau 834/bulan, 33/hari. Sebenarnya
maka penelitian ini diadakan guna menelisik kalkulasi ini mungkin nampak tidak overload
sebenarnya di lapangan seberapa baik jika pembagian pemeriksaan pasien merata
kompetensi dokter umum dalam membuat pada semua dokter, namun pada kenyataan
visum hidup / klinis dan hal-hal apa saja yang di lapangan setiap hari yang bertugas di
mempengaruhi kualitas visum yang mereka puskesmas tidak selalu dokter fullteam,
hasilkan. Apakah materi dan model karena sebagian dokter disibukkan dengan
pembelajaran forensik tentang traumatologi, agenda puskesmas yang lain terkait
deskripsi luka dan dokumen medikolegal manajerial maupun studi lanjut maka fakta
terutama visum di tingkat S1 dan real di lapangan bisa jadi perbandingannya
kepaniteraan sudah cukup efektif, efisien tidak sesuai dengan simulasi di atas.5,6,8
dan memadai untuk mencapai kompetensi Selain ketersediaan dokter,
yang diinginkan seperti termaktub dalam kurangnya kompetensi, pengetahuan dasar
SKDI.4 dan pelatihan lanjutan/ refreshing
Kemampuan mendeskripsikan luka pembuatan dan penulisan VeR pada dokter
mempengaruhi isi pemberitaan, dan umum juga menjadi faktor yang
4,11
penilaian kualifikasi luka dari deskripsi luka berpengaruh pada kualitas visum. Dalam
berpengaruh pada kualitas kesimpulan. Ini kaitan dengan fenomena ini maka fakultas
menjadi evaluasi pembelajaran forensik. kedokteran sebagai stake holder dan
Institusi wajib memberikan support pada provider dokter layanan primer ini sudah
dokter puskesmas untuk kompetensi ini. seharusnya jika kembali berbenah. Fakultas

128 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Handayani Dwi Utami, Kualitas Visum....

seyogyanya mengambil kenyataan ini tahun menunjukkan peningkatan yang cukup


sebagai cermin untuk menilai seberapa signifikan. Idealnya sebuah rumah sakit
efektif metode pembelajaran yang selama pendidikan seperti RSAM yang dilengkapi
ini diselenggarakan terkait pencapaian dengan pelayanan instalasi forensik juga
kompetensi lulusan di lapangan. Dalam hal menyediakan dokter spesialis forensik yang
ini ketrampilan klinis menulis visum. Apakah bertanggung jawab pada penyelenggaraan
pemberian materi traumatologi forensik, pelayanan forensik baik klinis maupun
deskripsi luka dan aspek medikolegalnya jenazah. Dokter SpF juga bertindak sebagai
dalam blok terintegrasi di level S1 dan supervisor bagi kualitas visum yang
kepaniteraan klinik selama 2-3 minggu sudah dihasilkan oleh sejawat dari instalasi lain
cukup untuk memberikan bekal yang semisal dokter UGD dokter bangsal dan
adequat bagi kompetensi penulisan visum dokter Obgin/Bedah/ Anak. 15,16
yang baik? 6 Kesimpulan
Di pihak lain, RS sebagai institusi Hasil penelitian deskriptif
penyedia layanan kesehatan masyarakat observasional ini menunjukkan pada kita
juga dapat memetik sebuah informasi bahwa kemampuan dokter di RSAM Lampung
bahwa kemampuan/kompetensi dokter yang dalam menulis visum secara keseluruhan
menyelenggarakan pemeriksaan dan
sudah baik pada bagian pendahuluan (100)
menulis visum masih perlu untuk dan pemberitaan (81.79) namun masih
mendapatkan pembinaan secara memprihatinkan/buruk dibagian kesimpulan
berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas (40.37).
visum yang dihasilkan. Mengingat prevalensi
dan insidensi peminta visum dari tahun ke

DAFTAR PUSTAKA
1. Nuraga R. Perbedaan Tingkat Pengetahuan 5. Simaremare M. Kualitas Visum et Repertum
Dokter Umum tentang Penulisan Visum et perlukaan di Puskesmas Wilayah Sleman
Repertum(Karya Tulis Ilmiah). Semarang, Yogyakarta Periode 01 Januari 2009-31
2012 Desember 2014 (Karya Tulis Ilmiah).
Yogyakarta: Fakultas Kedokteran UII. 2016.
2. Herkutanto. Peningkatan Kualitas Pembuatan
VeR Perlukaan pada Korban Hidup. 6. Utami, H.D, Simare-mare, S, Kualitas Visum et
Disampaikan pada Kongres Nasional Repertum Klinis di Puskesmas Sebagai
Persatuan Dokter Forensik Indonesia. Ciawi, Evaluasi dan feedback Pembelajaran, 2016,
1997. Prosiding Seminar Konas dan PIT PDFI
Bandung Mei 2016
3. Herkutanto. Kualitas Visum et Repertum
perlukaan di Jakarta dan faktor yang 7. Maulana R. Kualitas Visum et Repertum
mempengaruhinya. Majalah Kedokteran perlukaan di RSUD Dumai periode 1 januari
Indonesia. 2004; 54 (9): 355-60 2008-30 September 2012 (skripsi).
Pekanbaru: Fakultas Kedokteran UniVeRsitas
4. Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Riau; 2014.
Kompetensi Indonesia. Jakarta, 2012.:
[homepage on internet]. Available from 8. Roy J. Kualitas Visum et Repertum perlukaan
www.kki.go.id/assets/data/arsip/SKDI_Perko di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru periode 1
nsil,_11_maret_13.pdf Januari 2004 – 30 September 2007 (skripsi).

129 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Handayani Dwi Utami, Kualitas Visum....

Pekanbaru: Fakultas Kedokteran Universitas 12.Soeparmono, R. Keterangan Ahli & Visum et


Riau; 2007. Repertum dalam Aspek Hukum Acara Pidana.
Semarang: CV. Mandar maju. 2002.
9. Afandi D. Visum et Repertum pada Korban 13.Abraham, dkk. Tanya Jawab Ilmu Kedokteran
Hidup. Jurnal ilmu Kedokteran. 2009; 3 Forensik. Semarang: Badan Penerbit
(2):79-84 Universitas Diponegoro. 2010.

10.Siswadja TD. Tata laksana Pembuatan Visum 14.Tim Mahardika. KUHP dan KUHAP. Penerbit
et Repertum Perlukaan dan Keracunan. Pustaka Mahardika. 2010.
Simposium Tatalaksana VeR Korban Hidup
pada Kasus Perlukaan dan Keracunan di 15.Achadiat, Chrisdiono M. Dinamika Etika dan
Rumah Sakit. Jakarta: RS Mitra Keluarga Hukum Kedokteran dalam Tantangan Zaman.
Kelapa Gading, Rabu 23 Juni 2004. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
2007.
11.Budiyanto, Arif, dkk. Ilmu Kedokteran
Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik 16.Peran Dokter Umum Dalam Aspek
Fakultas Kedokteran UniVeRsitas Indonesia. Medikolegal [homepage on
1997. internet].http://www.scribd.com/doc/55153
129/Peran-Dokter-Umum-Dalam-Aspek-
Medikolegal

130 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

LUKA SEDANG AKIBAT PATAH TULANG RONGGA MATA


Hendrik Septiana1, Santosa2

Abstrak PENDAHULUAN
Cedera wajah bisa menyebabkan patah (fraktur) pada Laporan kasus
tulang-tulang yang membentuk orbita (rongga mata).
Trauma tumpul pada mata dan daerah orbita dapat Kronologis Peristiwa (Pengakuan Korban):
menyebabkan kerusakan pada dinding tulang orbita
yang relatif tipis. Daerah tulang orbita yang paling
Pada tanggal 14 Maret 2017, kira-kira
rentan terhadap trauma adalah dinding inferior dan pukul 11.30 WIB, pada saat jam istirahat
medial. Apabila fraktur terjadi hanya pada dinding
orbita, dapat terjadi suatu kondisi yang disebut fraktur ketika berada di samping gedung sekolah
blow-out atau blow-in. Pada fraktur blow-out apabila untuk jajan tiba-tiba didatangi orang yang
tekanan pada daerah orbita cukup kuat, maka dapat
terjadi penurunan isi orbita ke tempat terjadinya tidak dikenal kurang lebih sepuluh orang dan
fraktur, biasanya terjadi penurunan isi orbita ke sinus
maksillaris. Fraktur juga bisa mempengaruhi fungsi meminta uang kepada korban. Korban
otot-otot yang menggerakkan mata, sehingga terjadi menolak memberikan uangnya, kemudian
penglihatan ganda (diplopia) atau menghalangi
pergerakan mata ke kanan, kiri, atas maupun bawah. langsung dipukul berkali-kali di daerah wajah
Laporan kasus penganiayaan yang menyebabkan
patah tulang rongga mata. Pada laporan kasus ini dan kepala. Korban mengaku keluar darah
korban seorang laki-laki usia 15 tahun di pukul dari hidung. Pada saat melarikan diri korban
beberapa kali di daerah wajah dan kepala yang terjadi
di sekolah oleh temannya. Korban mengalami cedera terjatuh dan terluka di bagian tangan.
pada sekitar mata dan mengeluh pandangan menjadi
kabur. Hasil pemeriksaan luar didapatkan lebam pada
Korban mengeluh pusing. Mual dan muntah
kelopak mata kiri, Selaput biji mata dan kelopak mata disangkal korban.
kiri tampak pelebaran pembuluh darah dan bercak
perdarahan dan fraktur linear daerah tulang mata. Pemeriksaan: Dari pemeriksaan atas tubuh
Didapatkan luka akibat kekerasan tumpul berupa luka korban tersebut diatas didapatkan temuan –
memar pada kelopak mata kiri; luka lecet pada alis
mata kiri dan ruas jari-jari tangan kanan; Terdapat temuan sebagai berikut:
darah pada rongga hidung sisi kiri, tampak patah
tulang mata sisi kiri; pergeseran dinding hidung ke sisi I. Bagian Tubuh Tertentu
kiri. Sehingga menimbulkan halangan atau penyakit a. Mata :
dan mengganggu aktifitas sehari-hari sehingga
memerlukan perawatan untuk sementara waktu. Alis: terdapat sebuah luka lecet tepat
Kata Kunci: Trauma tumpul, Fraktur
pada alis mata kiri, bentuk tidak teratur,
Afiliasi Penulis : Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal dengan panjang 0,1 cm dan lebar 0,1
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/RSUP. Dr. Kariadi
Semarang
Korespondensi: Hendrik Septiana, Email: dhik.dr80@gmail.com HP
cm, batas tidak tegas, tepi tidak rata,
(024)8413993
warna kemerahan.

1) Kelopak mata :
i. Kanan: tidak ada kelainan

131 | I S B N :
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Hendrik Septiana, Luka Sedang....

ii. Kiri: terdapat sebuah luka memar i. Kanan: tidak ada kelainan
pada kelopak mata kiri, bentuk tidak ii. Kiri tampak perdarahan dan
teratur, dengan ukuran panjang 4cm pelebaran pembuluh darah pada
lebar 2,5 cm, batas tidak tegas, selaput biji mata mata kiri
warna kebiruan, pada perabaan lebih 3) Selaput kelopak mata:
menonjol dari permukaan kulit i. Kanan: tidak ada kelainan
sekitar. ii. Kiri: tampak pelebaran pembuluh
2) Selaput biji mata: darah pada selaput kelopak mata kiri.

II. Konsul bagian Mata : tidak ada kelainan.


III. Konsul bagian THT : rencana MSCT Scan-
3D Maxillofacial.
IV. Pemeriksaan Radiologi :
1. X-Foto Cranium (Water-Lateral) :
curiga ada darah di rongga hidung sisi
kiri. HASIL DAN PEMBAHASAN
Definisi
Traumatologi berasal dari kata
trauma dan logos.Trauma berarti kekerasan
atas jaringan tubuh yang masih hidup,
sedangkan logos berarti ilmu. Jadi
2. MSCT
traumatologi merupakan ilmu yang
Kepala Tanpa Kontras :terdapat darah
mempelajari semua aspek yang berkaitan
pada rongga hidung sisi kiri, tampak
dengan kekerasan terhadap jaringan tubuh
patah tulang mata sisi kiri, pergeseran
manusia1.
dinding hidung ke sisi kiri.
Kekerasan yang mengenai tubuh
seseorang dapat menimbulkan efek pada
fisik maupun psikisnya.

Adapun pembagian luka sebagai berikut:

Trauma Tumpul
Trauma tumpul adalah trauma oleh
benda keras dan tumpul yang mengakibatkan
berbagai jenis luka. Benda-benda yang dapat
mengakibatkan luka dengan sifat luka seperti
ini adalah benda yang memiliki permukaan
tumpul. Luka yang terjadi dapat berupa
memar (kontusio, hematom), luka lecet

132 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Hendrik Septiana, Luka Sedang....

(ekskoriasi, abrasi) dan luka terbuka/robek oleh reaksi inflamasi (misalnya kemerahan
(vulnus laseratum). karena vasodilatasi), tapi warna berubah
dari waktu ke waktu. Setelah itu, warna
Luka Memar merah menjadi hitam kebiruan. Kemudian
Memar adalah suatu perdarahan setelah beberapa hari, itu menjadi agak hijau
dalam jaringan bawah kulit/kutis akiba (setelah 4 sampai 7 hari), kuning atau coklat
pecahnya kapiler dan vena, yang disebabkan (setelah 7 hari)3.
oleh kekerasan benda tumpul. Memar ini Blow-out fracture adalah fraktur
paling sering terlihat pada kulit, tetapi juga tulang dasar orbita yang disebabkan
dapat terjadi dalam jaringan lebih dalam, peningkatan tiba-tiba dari tekanan
termasuk otot dan internal organ. Tingkat intraorbital tanpa keterlibatan rima orbita.
kerusakan pembuluh darah umumnya Sebagian besar blow-out fracture terjadi
sebanding dengan gaya yang diberikan: pada dasar orbita dan sebagian kecil terjadi
semakin besar kekuatan, pembuluh darah pada dinding medial dengan atau tanpa
mengalami kerusakan lebih parah, semakin disertai fraktur dasar orbita. Tingkat
besar kebocoran darah dan lebih besar keparahan bervariasi mulai dari fraktur
memar.2 Luka memar kadangkala memberi minimal yang kecil yaitu bergesernya salah
petunjuk tentang bentuk benda satu dinding orbita yang tidak memerlukan
penyebabnya, misalnya jejas ban yang tindakan bedah hingga kerusakan dinding
sebenarnya adalah suatu perdarahan tepi orbita yang parah yang menyebabkan
(marginal haemorrhage). deformitas tulang dan perubahan
Letak, bentuk dan luas luka memar kedudukan bola mata . 4

dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti Diagnosis blow-out fracture


besarnya kekerasan, jenis benda penyebab ditegakkan berdasarkan anamnesa,
(karet,kayu,besi), kondisi dan jenis jaringan ( pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
jaringan ikat longgar, jaringan lemak), usia, penunjang. Adanya riwayat trauma tumpul
jenis kelamin, corak dan warna kulit, pada wajah dapat digali dari anamnesa.
kerapuhan pembuluh darah, penyakit Standar baku emas untuk menegakkan
(hipertensi, penyakit kardiovaskular, diatesis diagnosa blow-out fracture adalah CT scan
hemoragik). kepala dimana terlihat adanya fraktur di
Memar terjadi berhari- hari atau tulang dasar orbita dan atau di dinding
berminggu-minggu untuk kembali medial orbita. Diagnosa banding dari blow-
memecahkan dan menjadi bentuk cacat out fracture adalah zigomaticomaxillary
sementara. Ketika ini terjadi, darah dari complex fracture dan naso-orbito-ethmoidal
kapiler pecah lolos di dekat permukaan kulit fracture5
kemudian bocor keluar di bawah kulit. Kasus blow out fracture sebagian
Dengan tidak ada tempat untuk pergi, darah besar hanya diobservasi untuk melihat
terjebak, pembentukan tanda merah atau penyerapan hematom. Indikasi operasi yang
keunguan yang lembut. Pertama, adalah disarankan untuk dilakukan operasi adalah
kemerahan. Warna awal merah memar adanya diplopia, enophtalmus, fraktur luas
adalah produk dari pigmentasi kulit alami dan hasil CT scan menunjukkan adanya otot
manusia, warna pigmen dalam darah yang terjepit dan tidak ada perbaikan klinis
extravasasi, dan setiap warna ditambahkan dalam 1-2 minggu.Komplikasi dapat terjadi
133 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Hendrik Septiana, Luka Sedang....

akibat trauma awal maupun terapi


pembedahan. Prognosis umumnya baik, bila
dilakukan penatalaksanaan yang tepat6.

Gambar 3. Dasar tulang orbita (American Academy


of Ophthalmology staff, 2011-2012a)
Gambar 1. Tulang orbita, dilihat dari depan
(American Academy of Ophthalmology, 2011- Blow-out fracture disebabkan oleh
2012a)
trauma tumpul tak langsung pada orbita
Gambar 2. A. Dinding lateral tulang orbita. B. yang merupakan mekanisme proteksi untuk
Dinding medial tulang orbita (American Academy mengurangi tekanan intraorbita yang
of Ophthalmology staff, 2011-
2012a) meningkat secara tiba-tiba dengan
dekompresi melalui bagian paling lemah dari
dinding orbita yaitu dasar orbita dan dinding
medial orbita.

Derajat Luka Dari Aspek Hukum


Dalam Kitab Undang-undang Hukum
Pidana (KUHP) dikenal luka kelalaian atau
karena yang disengaja. Luka yang terjadi ini
disebut “Kejahatan Terhadap Tubuh atau
Misdrijven Tegen Het Lijf”. Kejahatan
terhadap jiwa ini diperinci menjadi dua yaitu
kejahatan doleuse (yang dilakukan dengan
sengaja) dan kejahatan culpose (yang
dilakukan karena kelalaian atau kejahatan).1
Jenis kejahatan yang dilakukan
dengan sengaja diatur dalam Bab XX, pasal-
pasal 351 s.d. 358. Jenis kejahatan yang
disebabkan karena kelalaian diatur dalam
pasal 359, 360 dan 361 KUHP. Dalam pasal-
pasal tersebut dijumpai kata-kata, “mati,
menjadi sakit sementara atau tidak dapat
menjalankan pekerjaan sementara”, yang
tidak disebabkan secara langsung oleh
terdakwa, akan tetapi ‘karena salahnya’
diartikan sebagai kurang hati-hati, lalai, lupa
dan amat kurang perhatian.

134 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Hendrik Septiana, Luka Sedang....

Ada 3 kualifikasi luka pada korban hidup, suatu luka kedalam derajat luka sedang.
yaitu:2 kedokteran forensik maupun ahli lainnya
1. Luka ringan / luka derajat I (setiap dokter) dalam tiap kejadian secara
Luka derajat I adalah apabila luka tersebut kasus demi kasus.
tidak menimbulkan penyakit atau tidak (4) Dengan penganiayaan disamakan merusak
menghalangi pekerjaan korban. Hukuman bagi kesehatan orang dengan sengaja.
pelakunya menurut KUHP pasal 352 ayat 1. (5) Percobaan melakukan kejahatan ini tidak dapat
Pasal 352 KUHP: di hukum.
(1) Selain daripada yang tersebut dalam pasal 353 3. Luka berat / luka derajat III
dan 356, maka penganiayaan yang tidak Luka derajat III menurut KUHP pasal 90 ada 6,
menjadikan sakit atau halangan untuk yaitu:
melakukan jabatan atau pekerjaan sebagai - Luka atau penyakit yang tidak dapat sembuh
penganiayaan ringan, dihukum penjara selama- atau membawa bahaya maut
lamanya tiga bulan atau denda sebanyak- - Luka atau penyakit yang menghalangi
banyaknya Rp4.500. Hukuman ini boleh pekerjaan korban selamanya
ditambah dengan sepertiganya bila kejahatan - Hilangnya salah satu panca indera
itu dilakukan terhadap orang yang bekerja - Cacat berat
padanya atau yang ada di bawah perintahnya. - Terganggunya akan selama > 4 minggu
(2) Percobaan melakukan kejahatan ini tidak dapat - Gugur atau matinya janin dalam kandungan ibu
dihukum. Disinilah dokter berperan besar sekali sebagai
2. Luka sedang / luka derajat II saksi ahli di depan pengadilan. Hakim akan
Luka derajat II adalah apabila luka tersebut mendengarkan keterangan spesialis.
menyebabkan penyakit atau menghalangi
pekerjaan korban untuk sementara waktu.
SIMPULAN
Hukuman bagi pelakunya menurut KUHP pasal Pada kasus penganiayaan ini korban
351 ayat 1. Pasal 351 KUHP: berusia lima belas tahun. Didapatkan luka akibat
(1) Penganiayaan dihukum dengan hukuman kekerasan tumpul berupa luka memar pada
penjara selama-lamanya dua tahun delapan kelopak mata kiri; luka lecet pada alis mata kiri
bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp dan ruas jari-jari tangan kanan; Terdapat darah
4.500,- pada rongga hidung sisi kiri, tampak patah tulang
(2) Jika perbuatan itu menjadikan luka – luka mata sisi kiri; pergeseran dinding hidung ke sisi
berat, yang bersalah diancam dengan pidana kiri. Sehingga menimbulkan halangan atau
penjara paling lama lima tahun. penyakit dan mengganggu aktifitas sehari-hari
(3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan sehingga memerlukan perawatan untuk
pidana penjara selama-lamanya tujuh tahun. sementara waktu. Pelaku terjerat pasal
dipertimbangkan untuk diserahkan kepada pengniayaan dan dikarenakan masih di bawah
komisi perlindungan anak. umur maka perlu.
Dalam penerapan pasal 351 KUHP
membutuhkan pemahaman secara menyelurh
mengenai ayat-ayat yang terkandung dalam
pasal tersebut agar tepat dalam menetapkan

135 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Nama Penulis Pertama, Penggalan judul.....

DAFTAR PUSTAKA

1. Dahlan, Sofwan., Ilmu Kedokteran Forensik, clinical science course. Section 7. San
Pedoman Bagi Dokter dan Penegak Hukum, Fransisco. American Academy of
Universitas Diponegoro Semarang, 2007. Ophthalmology, p 95-106.

2. Simpson’s., Forensic Medicine, 13th Ed, Jason 7. Chaudry, I.A. 2010. Orbital Fractures: Timing
Payne-James London, February 2011. of Surgical Repair. Saudy Journal of
Ophthalmology, 24:35-36.

3. Sophie Robin et all, 2015. Use of a Model of a


8. American Academy of Ophthalmology Staff.
Blood-Induced Bruise for the Evaluation of
2005. Ocular Motility Examination. In:
Formulations on Bruising.Journal of
Practical Ophthalmology. San Fransisco.
Cosmetics, Dermatological Sciences and
American Academy of Ophthalmology, Ed 5. p
Applications, 2015, 5, 7-14.
101-119.

4. Furuta dkk, M., Yago, K. and Iida, T. 2006.


9. Salam, R.A. and Toukhy, E.E. 2009.
Correlation Between Ocular Motility and
Management of Orbital Trauma and
Evaluation of Computed Tomography in
Fractures. In: Clinical Diagnosis &
Orbital Blow-out fracture. American Journal
Management of Ocular Trauma. New Delhi.
of Ophthalmology. 142:1019-1025.
Jaypee Brotherhs Medical Publisher (P) LTD.
p108-124
5. Joseph, M.J. and Glaves, I.P., 2011, Orbital
Fractures : a Review. Clinical Ophthalmology,
5:95-100.

6. American Academy of Ophthalmology Staff.


2011-2012b. Orbital Trauma. In: Orbit,
Eyelids, and Lacrimal System. Basic and

136 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

KEMATIAN MENDADAK PADA DISEKSI AORTA LAPORAN KASUS


Insil Pendri Hariyani1, Fitri Ambar Sari2

Abstrak PENDAHULUAN
Kematian mendadak adalah kematian natural dalam
24 jam dari munculnya gejala (WHO, ICD-10 2016).
Menurut World Health Organization
Pada kematian mendadak, penyebab tercepat (WHO), kematian mendadak adalah
hampir selalu ditemukan pada sistem
kardiovaskular. Walaupun jarang, diseksi aorta kematian natural dalam 24 jam dari
torakalis adalah penyakit mematikan yang paling munculnya gejala, akan tetapi hal ini
umum yang mengenai aorta dan paling umum dari
pada ruptur aneurisma aorta abdominalis.Angka sangat lama untuk sebagian klinisi dan
kejadian diseksi aorta diperkirakan 5-30 per juta
orang per tahun. Studi berdasarkan populasi telah patologis, yang hanya menerima
memperkirakan angka kejadian diseksi aorta akut definisinya sebagai kematian yang terjadi
sekitar 3 kasus per 100.000 orang per tahun. Angka
prevalensi diseksi aorta setelah otopsi adalah 1 - 3 dalam 1 jam dari munculnya gejala
%. Diseksi aorta yang tidak diterapi memiliki angka
mortalitas 25-33 % dalam 24 jam, 50 % dalam 48
penyakit.1 Pada kematian mendadak,
jam, 75-80 % dalam 2 minggu, dan menjadi 90 % penyebab tercepat hampir selalu
setelah 3 bulan tanpa terapi yang tepat.
Jenazah adalah seorang laki-laki berkebangsaan ditemukan pada sistem kardiovaskular,
Jepang berusia sekitar 63 tahun, panjang badan 173 walaupun secara topografi lesinya bukan
cm dan berat badan 88 kg.Pada pemeriksaan luar
tidak ditemukan luka-luka pada jenazah dan pada jantung atau pembuluh darah.1
ditemukan tanda-tanda perbendungan. Pada
pemeriksaan dalam ditemukan darah dan bekuan Diseksi aorta akut adalah bagian dari
darah di dalam kandung jantung, robekan pada sindrom aorta akut, merupakan penyakit
dinding aorta, dan lapisan tunika intima aorta yang
terpisah dari tunika media dan adventisia mulai dari kardiovaskular yang mengancam jiwa dan
arkus aorta hingga aorta abdominalis, aterosklerosis
pada dinding dalam aorta serta tanda-tanda
berhubungan dengan usia, memiliki
perbendungan pada organ-organ dalam. Hasil morbiditas dan mortalitas yang tinggi
pemeriksaan histopatologi menunjukkan ruptur
miokard, sebukan eritrosit dan sebukan PMN pada dikarenakan komplikasi yang secara
sediaan jantung,proliferasi tunika media, potensial fatal. Berdasarkan data otopsi,
pembentukan false lumen antara tunika intima dan
tunika media pada sediaan arteri koroner serta diseksi aorta akut dipercaya merupakan
pembentukan false lumen antara tunika media dan
tunika adventisia disertai sebukan eritrosit pada keadaan patologis aorta yang sangat
sediaan dinding aorta. mengancam jiwa.2 Walaupun jarang,
Kata Kunci: Diseksi Aorta, Tamponade Jantung,
Kematian Mendadak diseksi aorta torakalis adalah penyakit
Afiliasi Penulis : Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan mematikan yang paling umum yang
Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RSUPN.
Dr.Cipto Mangunkusumo mengenai aorta dan paling umum dari
Korespondensi: Fitri Ambar Sari, Email: fitri_ambar@yahoo.com-
insil.pendri@yahoo.com HP ( 021 ) 3106976 pada ruptur aneurisma aorta abdominalis.3
Angka kejadian pasti diseksi aorta sulit
untuk ditentukan karena banyak kasus
yang tidak terdiagnosis, akan tetapi angka
kejadian diseksi aorta diperkirakan 5-30
per juta orang per tahun.4,5 Studi
berdasarkan populasi telah
memperkirakan angka kejadian diseksi
aorta akut sekitar 3 kasus per 100.000
orang per tahun.2,3 Setidaknya terdapat
7000 kasus per tahun di Amerika Serikat.4

137 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Insil Pendri Hariyani, Kematian Mendadak.....

Diketahui bahwa 3 dari 1000 pasien yang penyakit hipertensi, penyakit jantung
masuk unit gawat darurat dengan nyeri ataupun penyakit degeneratif lainnya.
dada atau punggung, atau keduanya, Korban tidak rutin memeriksakan
memiliki diseksi aorta.2 Angka prevalensi kesehatannya ke dokter, sehingga riwayat
diseksi aorta setelah otopsi adalah 1 - 3 %.2 penyakit sebelumnya tidak begitu jelas.
Angka kejadian diseksi aorta akut setelah Pemeriksaan luar dilakukan pada
operasi jantung mayor adalah 0,03 - 0,1 %, tanggal 8 November 2016 pukul 19.20
dengan angka kejadian tertinggi terjadi WIB. Pada saat dilakukan pemeriksaan luar
pada pasien yang telah menjalani operasi jenazah dibungkus dengan sebuah kantong
penggantian katup aorta (0,5 - 1 %). Diseksi mayat dan 2 helai kain berbahan katun.
aorta akut akibat tindakan medis memiliki Jenazah tidak berpakaian. Tidak
angka kejadian 0,12 – 0,16 %.2 ditemukan luka-luka pada jenazah serta
Angka mortalitas diseksi aorta ditemukan tanda-tanda perbendungan
meningkat 1 - 2 % per jam jika tidak berupa sedikit pelebaran pembuluh darah
terdiagnosis, membuat diagnosis yang di selaput kelopak mata dan jaringan di
cepat dan akurat menjadi penting.3,6Diseksi bawah kuku yang berwarna ungu.
aorta yang tidak diterapi memiliki angka Berdasarkan kondisi lebam dan kaku
mortalitas 25-33 % dalam 24 jam, 50 % mayat, diperkirakan jenazah sudah
dalam 48 jam, 75-80 % dalam 2 minggu, meninggal sekitar 2-12 jam sebelum
dan menjadi 90 % setelah 3 bulan tanpa pemeriksaan luar dilakukan.
terapi yang tepat.2,3,6 Dengan penanganan Pemeriksaan dalam dilakukan pada
medis di rumah sakit angka mortalitas tanggal 10 November 2016 pukul 09.15
sekitar 55,9 % untuk diseksi aorta Tipe A WIB. Pada pemeriksaan dalam ditemukan
dan 32,1 pada diseksi aorta Tipe B.2 robekan pada aorta asenden dengan tepi
Intervensi bedah (untuk Tipe A) tidak rata sepanjang 5 cm; darah di dalam
mengurangi angka mortalitas menjadi 26,6 kandung jantung sebanyak sekitar 400 ml
% dan intervensi endoskopik (untuk Tipe B) dan bekuan darah sekitar 450 gram;
mengurangi angka mortalitas menjadi 9,6 resapan darah di aorta, atrium kanan dan
%.5 ventrikel kiri; tunika intima mulai dari aorta
asenden, aorta desenden hingga aorta
KASUS abdominalis tampak terpisah dari tunika
Pada tanggal 8 November 2016 media dan adventisia; ateroskerosis pada
Kamar Jenazah RSCM mendapat kiriman aorta torakalis dan abdominalis; tanda-
jenazah laki-laki berkebangsaan Jepang tanda perbendungan seperti edema paru,
berusia sekitar 63 tahun, panjang badan pelebaran pembuluh darah pada otak,
173 cm, berat badan 88 kg yang menurut saluran pencernaan, hati, ginjal, dan
surat permintaan keterangan ahli dari kandung kemih.
Kepolisian Sektor Metro Tanah Abang Pada pemeriksaan histopatologi
ditemukan di sebuah kamar hotel di ditemukan ruptur miokard disertai
Jakarta Pusat pada tanggal 8 November sebukan eritrosit dan sebukan sel
2016 sekitar pukul 14.30 WIB. polimorfonuklear, diseksi aorta, diseksi
Menurut keterangan dari pihak arteri koroner dan perbendungan pada
keluarga, korban tidak memiliki riwayat jaringan otak, paru dan hati.

138 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Insil Pendri Hariyani, Kematian Mendadak....

PEMBAHASAN kasus kronis).6 Diseksi aorta merupakan


Jenazah yang diperiksa pada kasus penyebab tidak umum untuk kematian
ini adalah seorang laki-laki berusia sekitar mendadak, tetapi merupakan penyebab
63 tahun dengan riwayat hipertensi tidak kedua tersering dari hemoperikardium
diketahui. Angka kejadian tertinggi dari dan tamponade jantung.1
diseksi aorta pada dekade keenam dan Ketika darah cukup terakumulasi,
ketujuh kehidupan, dengan rerata laki- tekanan di kandung jantung meningkat
laki pada usia 62 tahun di antara ribuan dan mulai mencegah pengisian pasif
subjek di Register Internasional Diseksi atrium saat fase diastol.1Kardiak output
Aorta Akut (International Registry of menurun, begitu juga dengan tekanan
Acute Aortic Dissection / IRAD).2,4 Secara darah sistemik dan tekanan vena
keseluruhan laki-laki dua kali lipat lebih meningkat.1 Jika hal ini terus
rentan dari pada perempuan (68% vs. berlangsung, kematian akan terjadi,
32%) dan juga rentan pada usia muda, walaupun jangka waktunya bervariasi
dengan laki-laki memiliki rerata usia 60 dan hampir tidak mungkin untuk
tahun dan perempuan 67 tahun.2,4 menghitung secara retrospektif pada
Sekitar tiga perempat dari pasien temuan patologi.1
memiliki riwayat hipertensi.4
Pada pemeriksaan dalam kandung
jantung dalam keadaan utuh dan
ditemukan adanya darah dan bekuan
darah di dalam kandung jantung.
Keadaan ini menunjukkan adanya
tamponade jantung dan
hemoperikardium yang pada kasus ini
Gambar 1. Darah dan bekuan darah di
terjadi karena adanya robekan pada
dalam kandung jantung
dinding aorta serta kantong aneurisma
pada aorta yang mengalami diseksi.
Tiga sistem utama digunakan untuk
Menurut literatur, normalnya kandung
mengklasifikasikan diseksi aorta, yaitu (1)
jantung berisi cairan sekitar 15-50 ml dan
DeBakey I, II, and III, (2) Stanford tipe A
akan mulai meregang jika berisi
dan B, dan (3) diseksi aorta “proksimal”
setidaknya 200 ml cairan.1 Telah
dan “distal”.2 Ketiga sistem ini
dinyatakan bahwa sekitar 400-500 ml
menggunakan lokasi anatomi dari
darah di dalam kandung jantung sudah
robekan intima pada dinding aorta dan
cukup untuk mengakibatkan kematian.1
panjang lumen palsu untuk membuat
Pada kasus ini, ditemukan darah di dalam
klasifikasi diseksi aorta.2 Klasifikasi
kandung jantung sebanyak sekitar 400 ml
DeBakey tipe I didefinisikan sebagai
dan bekuan darah sekitar 450 gram.
diseksi dengan robekan intima pada aorta
Penyebab utama kematian pada
asenden dan lumen palsu diseksi
diseksi aorta adalah ruptur kantong
berlanjut ke seluruh aorta.2,9 Pada
aneurisma (80 – 86 %), biasanya di dalam
DeBakey tipe II, hanya aorta asenden
kandung jantung (70 % pada kasus akut,
yang terlibat dan pada DeBakey tipe III,
20 % pada kasus subakut dan 25 % pada

139 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Insil Pendri Hariyani, Kematian Mendadak.....

robekan intima berlokasi di aorta


desenden, tanpa keterlibatan arkus aorta
dan aorta asenden.2,9 terdapat
subklasifikasi pada klasifikasi DeBakey
tipe III, yaitu tipe IIIa, dimana diseksi
terlokalisasi hanya pada aorta torakalis
dan tipe IIIb, dimana diseksi mencapai
aorta abdominalis.2,9
Pada klasifikasi Stanford,
keterlibatan dari aorta asenden
digunakan untuk mengkategorisasikan
Gambar 2. Klasifikasi Diseksi Aorta11
terlepas dari lokasi anatomi dari robekan
intima.2 Yang termasuk diseksi Stanford
Dinding aorta dibentuk oleh tiga
tipe A adalah diseksi yang melibatkan
lapisan: tunika intima pada bagian dalam,
aorta asenden (DeBakey I dan II) dan
tunika media pada bagian tengah dan
diseksi Stanford tipe B hanya melibatkan
tunika adventisia di bagian luar.9 Tunika
aorta desenden (DeBakey III).2,9 Jarang
intima dibentuk dari barisan endotel,
terjadi, diseksi yang dimulai pada aorta
yang sangat aktif secara metabolik yang
desenden juga dapat meluas secara
disokong oleh jaringan ikat longgar
proksimal ke arah arkus aorta dan aorta
dibawahnya.9 Jaringan ikat inilah yang
asenden.9 Hal ini adalah sebuah kasus
memungkinkan tunika intima bergerak ke
spesial dari diseksi tipe B dan disebut
arah tunika media pada saat aorta
diseksi retro-A.9
mengembang atau berkontraksi di fase
Istilah diseksi aorta “proksimal”
sistol dan diastol. Tunika media terdiri
diberikan pada diseksi bagian proksimal
atas jaringan lapisan lamelar serat
dari pangkal arteri subklavia kiri, tanpa
elastin.9 Diantara lapisan serat elastin
memperhatikan keterlibatan segmen
adalah sel otot polos konsentris dan serat
distal pada titik anatomi ini.2 Diseksi
kolagen, proteoglikan dan glikoprotein.9
aorta “distal” diberikan pada diseksi
Serat elastin terdiri dari elastin, bahan
bagian distal dari pangkal arteri subklavia
yang sangat elastis yang dapat teregang
kiri dan tidak melibatkan bagian
hingga 2-3 kali dari panjang asalnya.9
proksimal aorta dari titik tersebut.2
Elastin adalah bahan yang memberikan
Klasifikasi terkini membagi diseksi aorta
aorta kemampuan untuk distensi.9 Serat
ke dalam lima tipe. Berbagai jenis
kolagen, sebaliknya, sangat kaku dan
klasifikasi ini dilukiskan dalam Gambar 2.
hingga 5000 kali lebih kaku dari pada
Diseksi aorta yang ditemukan
elastin.9 Kolagen memberi aorta struktur
pada kasus ini termasuk dalam kategori
yang kokoh dan kuat terhadap stres
DeBakey I dan Stanford tipe A, karena
hemodinamik akibat aliran darah.9
diseksi yang ditemukan melibatkan aorta
Lingkaran dari otot polos juga memberi
asenden, desenden dan abdominalis.
kontribusi untuk kekakuan pembuluh
aorta.9 Di bawah pengaruh sistem
otonom, sel otot polos di tunika media

140 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Insil Pendri Hariyani, Kematian Mendadak....

berkontraksi dan relaksasi, memberi diseksi aorta selama 16 tahun (1993-


aorta tonus vaskularnya.9 Lapisan paling 2008) ditemukan aterosklerosis muncul
luar, tunika adventisia, terbentuk dari sebagai faktor risiko utama
serat kolagen yang kuat dan jaringan berkembangnya diseksi aorta yang fatal,
ikat.9 Vasa vasorum (pembuluh dari diidentifikasi pada 73% kasus.7
pembuluh) adalah pembuluh darah kecil Perubahan aterosklerosis mungkin
yang ada pada tunika adventisia dan berkontribusi melalui plak ulkus yang
bagian luar tunika media.9 Pembuluh- menimbulkan kerusakan pada tunika
pembuluh darah ini menyediakan nutrisi intima untuk kemudian menjadi diseksi
untuk tunika media dan adventisia aorta.7
karena dinding aorta sangat tebal untuk
menyediakan nutrisi dari darah di dalam
lumen aorta melalui difusi.9 Walaupun
kelihatannya terlalu sederhana, diseksi
aorta akut terjadi ketika dinding aorta,
telah melemah akibat proses penyakit,
menjadi lebih rusak akibat stres elevasi
dari hipertensi sistemik.9 Diseksi aorta
akut klasik dimulai dengan robekan pada
lapisan tunika intima.9 Darah kemudian Gambar 3. Proses Robeknya Dinding
mendorong robekan untuk membuka dan Aorta pada Diseksi Aorta11
membelah sepanjang lapisan tunika
media pada dinding aorta yang sakit,
membentuk lumen palsu.9 Diseksi dapat
meluas secara distal, proksimal atau
keduanya sepanjang aorta.9 Pada
sebagian besar kasus (90%), seiring
diseksi meluas, juga terdapat sebuah
robekan sekunder pada lapisan
intimomedial, memungkinkan darah
kembali mengalir ke lumen aorta yang
benar.9 Saat robekan primer biasanya
berlokasi di aorta torakalis, robekan
sekunder berlokasi di aorta desenden
bagian bawah atau aorta abdominalis.9
Pada kasus ini ditemukan robekan pada Gambar 4. (a) Robekan pada Aorta
aorta asenden dan hanya terdapat satu Asenden, (b) Diseksi pada Robekan di
robekan. Aorta Asenden dan (c) Diseksi (panah
Pada saat otopsi juga ditemukan hijau) dan Aterosklerosis pada Aorta
ateroskerosis pada aorta torakalis dan Abdominalis
abdominalis. Berdasarkan studi yang
dilakukan oleh Bailey K dkk pada tahun
2012 terhadap otopsi pada 369 kasus

141 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Insil Pendri Hariyani, Kematian
Mendadak.....

Pada pemeriksaan histopatologi Disertai Sebukan Eritrosit dan Sebukan


ditemukan ruptur miokard disertai Sel Polimorfonuklear (perbesaran 40x)
sebukan eritrosit dan sebukan sel
polimorfonuklear pada jaringan otot
jantung, gambaran diseksi aorta dan
diseksi arteri koronaria disertai sebukan
eritrosit serta gambaran perbendungan
pada jaringan otak, paru dan hati.
Pada diseksi aorta akut tipe A,
biasanya disertai dengan stroke, infark
miokard akut, tamponade jantung atau
insufisiensi katub aorta.9 Infark
miokard akut terjadi pada 1-2 % pasien
dengan diseksi aorta tipe A, karena
tekanan ekstrinsik dari pangkal arteri
Gambar 6. Gambaran histopatologi
koronaria oleh pelebaran lumen palsu
pada (a) Diseksi pada aorta
atau sumbatan dengan flap tunika
(perbesaran 4x), (b) Sebukan eritrosit
intima.12 Arteri koronaria kanan lebih
pada diseksi aorta (perbesaran 100x),
sering terlibat daripada arteri koronaria
(c) Diseksi pada arteri koronaria
kiri, bermanifestasi sebagai infark
(perbesaran 4x), (d) Sebukan eritrosit
miokard akut inferior.12
pada diseksi arteri koronaria
Lumen palsu diseksi sering
(perbesaran 40x)
pecah dan mengakibatkan darah keluar
SIMPULAN
ke kandung jantung melalui tunika
Kematian pada jenazah laki-laki
media dan adventisia yang tersisa.1 Hal
berkebangsaan Jepang, berusia sekitar
ini mengakibatkan hemoperikardium
63 tahun ini termasuk ke dalam mati
masif dan tamponade jantung yang
wajar (natural death). Dari
berhubungan dengan ruptur infark
pemeriksaan luar tidak ditemukan
miokard.1Kematian dapat disebabkan
tanda-tanda kekerasan dan ditemukan
oleh komplikasi ruptur, regurgitasi
tanda-tanda perbendungan. Pada
aorta, atau infark miokard akut jika
pemeriksaan dalam ditemukan diseksi
tidak dilakukan pembedahan.10
aorta yang termasuk ke dalam
klasifikasi Stanford tipe A dan DeBakey
I. Selain itu ditemukan pula robekan
pada aorta asenden, yang
menyebabkan perdarahan di dalam
kandung jantung sehingga
Gambar 5. Gambaran Histopatologi mengakibatkan tamponade jantung
Otot Jantung Ditemukan Ruptur yang mengganggu pergerakan jantung
Miokard dan mengakibatkan kematian. Dari
gambaran histopatologi ditemukan

142 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

adanya infark miokard pada otot menghambat pergerakan jantung dan


jantung, diseksi aorta dan diseksi arteri akhirnya akan mengganggu aliran
koronaria yang disertai sebukan darah ke otot jantung ataupun karena
eritrosit serta gambaran perbendungan diseksi arteri koronaria yang juga akan
pada jaringan otak, paru dan hati. Pada mengganggu aliran darah ke otot
kasus ini infark miokard dapat terjadi jantung.
karena tamponade jantung yang

DAFTAR PUSTAKA
1. Saukko P. Knight B. Knights Forensic 2009 [Diunduh 13 April 2017].
Pathology. Fourth Edition. 2016. Tersedia dari:
London: CRC Press. Page: 221, 515- http://www.google.co.id
516, 537-538 6. Salo D. Fiesseler F. Baldino K. Patel
2. Ayala Iván Alejandro De León. Chen H. Patients With Acute Thoracic
Ying-Fu. Acute Aortic Dissection: An Aortic Dissection: A One-Year Case
Update [Online Journal]. 2012 Series of Patients Presenting to An
[Diunduh pada 27 April 2017]. ED [Online Journal]. 2014 [Diunduh
Tersedia dari: pada 27 April 2017]. Tersedia dari:
http://www.clinicalkey.com http://www.clinicalkey.com
3. Tai Henry Chih-Hung. Chen Wei- 7. Bailey K. Duflou J. Puranik R. Fatal
Lung. Acute Aortic Dissection Cases of Aortic Dissection: an
Mimicking as Ureteral Calculus Autopsy Study [Online Journal].
[Online Journal]. 2016 [Diunduh 2012 [Diunduh pada: 27 April 2017].
pada 27 April 2017]. Tersedia dari: Tersedia dari:
http://www.clinicalkey.com http://www.clinicalkey.com
4. Isselbacher Eric M. Epidemiology of 8. Steuer J. Björck M. Mayer D.
Thoracic Aortic Aneurysms, Aortic Wanhainen A. Pfammatter T. Lachat
Dissection, Intramural Hematoma M. Distiction Between Acute and
and Penetrating Atherosclerotic Chronic Type B Aortic Dissection: Is
Ulcers [Online Journal]. 2007 There a Sub-acute Phase? [Online
[Diunduh pada: 18 April 2017]. Journal]. 2013 [Diunduh pada: 27
Tersedia dari: April 2017]. Tersedia dari:
http://www.google.co.id http://www.clinicalkey.com
5. Demengiu S. Ceausu M. Hostiuc S. 9. Tran TP. Khoynezhad A. Current
Curca G C. Demengiu D. Turculet C. Management of Type B Aortic
Spontaneous Aortic Dissection Due Dissection [Online Journal]. 2009
To Cystic Medial Degeneration. [Diunduh pada: 27 April 2017].
Report of A Sudden Death Case and Tersedia dari:
Literature Review [Online Journal]. http://www.google.co.id

143 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Insil Pendri Hariyani, Kematian
Mendadak.....

10. Mabun JMH. Diseksi Aorta: 12. Tang L. Hu XQ. Zhou SH. Acute
Kegawatdaruratan Kardiovaskular Stanford Type A Aortic Dissection
[Online Journal]. 2016 [Diunduh Mimicking Acute Myocardial
pada: 27 April 2017]. Tersedia dari: Infarction: A Hidden Catastrophe
http://www.google.co.id Which Should Prompt Greater
11. Wahyudi D. Dakota I. Kaligis RWM. Vigilance [Online Journal]. 2014
Sunu I. Laporan Kasus Endovaskular [Diunduh pada: 21 Juni 2017].
Stent Graft pada Diseksi Aorta Tipe Tersedia dari:
B [Online Journal]. 2007 [Diunduh http://www.google.co.id
pada: 13 April 2017]. Tersedia
dari:http://www.google.co.id

144 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

PERBANDINGAN KARAKTERISTIK POLA RUGAE PALATINA


ANTARA SUKU DAYAK BUKIT, SUKU BANJAR HULU DAN SUKU
DAYAK NGAJU

Iwan Aflanie1,Haifa Madina2

Abstrak PENDAHULUAN
Rugae palatina merupakan suatu pola asimetris dan Indonesia merupakan negara
tidak teratur terletak pada sepertiga anterior dari
palatum. Pola rugae palatina yang terbentuk kepulauan yang terdiri atas kurang lebih
memperlihatkan dominasi pola rugae tertentu pada
suatu populasi, sehingga pola rugae bisa digunakan
13.667 pulau besar dan kecil yang satu
dalam identifikasi populasi. Suku Dayak Bukit sama lain terpisah oleh lautan (1,2).
memiliki dua teori asal mula yang berbeda. Menurut
Radam Suku Dayak Bukit lebih dekat Indonesia terdiri dari beragam suku bangsa
kekerabatannya dengan Suku Banjar Hulu, dengan jumlah penduduk 255 juta jiwa
sedangkan menurut Tjilik Riwut Suku Dayak Bukit
merupakan sub suku dari Suku Dayak Ngaju. lebih pada tahun 2015 (2). Pulau
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan
karakteristik pola rugae palatina antara Suku Dayak Kalimantan merupakan pulau terbesar di
Bukit, Suku Banjar Hulu,dan Suku Dayak Ngaju. Indonesia yang terdiri dari 5 provinsi yaitu
Penelitian ini merupakan penelitian observasional
analitik dengan rancangan cross sectional ada provinsi Kalimantan Selatan dengan
menggunakan model studi 156 total sampel terdiri
dari 52 sampel Suku Dayak Bukit, 52 sampel Suku
jumlah penduduk sebesar 3.854.485 jiwa
Banjar Hulu, dan 52 sampel Suku Dayak Ngaju yang dan Kalimantan Tengah dengan jumlah
kemudian dilakukan pengamatan pola rugae palatina
pada rahang atas. Hasil penelitian pada Suku Dayak 2.495.000 yang terdiri dari beberapa suku
Bukit dan Suku Banjar Hulu yang dominan adalah
pola wavy. Pola rugae pada Suku Dayak Ngaju yang
diantaranya Suku Dayak Bukit, Suku Banjar
dominan adalah pola divergen. Hasil penelitian Hulu,dan Suku Dayak Ngaju (2,3).
dianalisis menggunakan uji Chi Square didapatkan
nilai p=0,0001 (p<0,05) menunjukkan terdapat Dayak adalah istilah umum yang
perbedaan karakteristik rugaepalatina antara Suku pertama kali digunakan oleh para
Dayak Bukit, Suku Banjar Hulu dan Suku Dayak
Ngaju. Pada uji lanjutan didapatkan hasil bahwa antropolog Barat untuk menunjuk
Suku Dayak Bukit dan Suku Banjar Hulu
menunjukkan kemungkinan kekerabatan karena penduduk asli Kalimantan, kebanyakan
tidak terdapat perbedaan karakteristik pola rugae orang Dayak tinggal di pegunungan
dibandingkan Suku Dayak Ngaju. Berdasarkan
penelitian yang telah dilakukan disimpulkan bahwa Meratus (3,4). Ada dua teori pendahulu
karakteristik pola rugae palatina dapat digunakan
untuk mengidentifikasi Suku Dayak Bukit, Suku
yang berbeda satu sama lain tentang asal
Banjar Hulu, dan Suku Dayak Ngaju. usul sejarah antara Suku Dayak Bukit, Suku
Kata Kunci: Pola rugae palatina, Suku Dayak Bukit,
Suku Banjar Hulu, Suku Dayak Ngaju Banjar Hulu, dan Suku Dayak Ngaju.
Afiliasi Penulis : Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas
Pertama teori menurut Tjilik Riwut pada
Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. 2.
Program Studi Pendidikan Dokter Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi,
tahun 1979 yang menyatakan bahwa Suku
Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. 3. Bagian Ilmu
Kedokteran Forensik Rumah Sakit Umum Provinsi Ulin, Banjarmasin Dayak Bukit atau Orang Bukit termasuk ke
dalam rumpun Dayak Ngaju yang
mendiami daerah Pelaihari, Hulu Riam
Kiwa dan Pegunungan Meratus (4). Kedua
yaitu teori menurut Radam pada tahun
1987 bahwa nenek moyang Orang Bukit
(Dayak Bukit) mereka berasal dari dataran

145 | I S B N :
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Iwan Aflanie, Perbandingan....

rendah di suatu muara sungai di tepi laut terdapat perbedaan dari segi bentuk pola
dan menjadi cikal bakal Orang Banjar (5). wavy dan curved ditemukan lebih dominan
Pada tahun 1997 Radam menyatakan pada perempuan daripada laki-laki, namun
bahwa Suku Banjar merupakan hasil akhir tidak ada perbedaan signifikan pada pola
dari pencampuran berbagai suku seperti lainnya seperti straight, circular, divergen
Orang Ngaju, Orang Maanyan, Orang Bukit dan convergen (15).
sebagai inti dan telah bercampur dengan Berdasarkan uraian di atas dan
unsur Melayu, Jawa, Maanyan, Bukit dan mengingat belum adanya penelitian
suku kecil lainya yang telah diikat oleh terhadap perbandingan karakteristik pola
agama islam dan berbahasa banjar (3,6,7). rugae palatina antara Suku Dayak Bukit,
Asal mula hubungan Suku Dayak Bukit dan Suku Banjar Hulu, dan Suku Dayak Ngaju,
Suku Banjar Hulu ini memang masih maka peneliti memandang perlu
kontroversi dikalangan sarjana (3,8). melakukan penelitian ini untuk
Identifikasi korban dalam keadaan jenazah mengetahui perbedaan dan menganalisa
yang mungkin membusuk, terbakar dan karakteristik pola rugae palatina pada
terpisah dalam bentuk fragment akan Suku Dayak Bukit, Suku Banjar Hulu,dan
menyulitkan proses identifikasi sehingga Suku Dayak Ngaju agar nantinya
rongga mulut memberikan sumbangsih diharapkan bisa dijadikan sebagai salah
yang besar dalam identifikasi forensik satu acuan dalam menentukan identitas
(10,11). Identifikasi melalui gigi dapat seseorang yang berada pada Suku Dayak
dilakukan pemeriksaan DNA, usia, jenis Bukit, Suku Banjar Hulu,dan Suku Dayak
kelamin, ras, dan golongan darah (11,12). Ngaju.
Pada korban dengan rahang edentulous
yang tidak memungkinkan identifikasi METODE
dengan mengunakan gigi-geligi, maka Penelitian ini adalah penelitian
diperlukan metode alternatif untuk dapat yang bersifat observasional analitik dan
membantu proses identifikasi korban. dilakukan secara cross sectional untuk
Metode tersebut adalah analisa terhadap mengetahui perbandingan karakteristik
rugae palatina. Pemanfaatan rugae pola rugae palatina antara Suku Dayak
palatina sebagai salah satu metode Bukit, Suku Banjar Hulu, dan Suku Dayak
identifikasi menunjukkan prospek yang Ngaju.
menjanjikan karena morfologinya yang Populasi yang diambil untuk
unik pada tiap individu (13,14). penelitian ini adalah masyarakat
Identifikasi jenis kelamin antara Kalimantan Selatan dan Tengah yaitu laki-
perempuan dan laki-laki tidak didapatkan laki dan perempuan pada Suku Dayak
perbedaan pola rugae palatina yang Bukit di Desa Kiyu, Suku Banjar Hulu, dan
berarti, tetapi ada beberapa penelitian Suku Dayak Ngaju yang dipilih
yang menyatakan bahwa jumlah pola menggunakan metode purposive
rugae palatina pada perempuan lebih sampling yaitu pemilihan sampel
tinggi dibandingkan laki-laki (13,14). berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi.
Penelitian yang dilakukan oleh Shilpa Jain Dari sampel diperoleh model cetakan dari
et al (2015) terhadap 40 subjek dental stone. Besar sampel dihitung
perempuan dan 40 subjek laki-laki dengan rumus slovin (38). Berdasarkan

146 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Iwan Aflanie, Perbandingan....

perhitungan rumus di atas besar sampel secara hati-hati dengan perbandingan


yang didapatkan minimal 52 orang bubuk dan air sesuai aturan pabrik. Air
sampel pada Suku Dayak Bukit di Desa ditempatkan dalam rubber bowl terlebih
Kiyu, sedangkan besar sampel pada Suku dahulu, kemudian taburkan bubuk sedikit
Banjar Hulu dan Suku Dayak Ngaju demi sedikit ke dalam air. Pengadukan
mengikuti jumlah sampel di Desa Kiyu dilakukan dengan cepat dengan gerakan
dengan tingkat kesalahan 0,05. memutar secara periodik untuk
Variabel bebas dalam penelitian ini mencegah gumpalan dan porus.
adalah suku, yang mana terdiri dari Suku Pengadukan dilakukan sampai diperoleh
Dayak Bukit, Suku Banjar Hulu, dan Suku adukan yang halus biasanya dalam waktu
Dayak Ngaju. Variable terikat pada 1 menit. Hasil cetakan yang diperoleh
penelitian ini adalah pola rugae palatine dari tahap pencetakan pada rahang atas
yaitu straight, curved, wavy, circular, langsung diisi dengan gips tipe 4 pada
divergen, dan convergen. Variable bagian cetakan rugae palatina kemudian
terkendali pada penelitian ini adalah diatasnya diisi dengan gips tipe 3 yang
teknik pembuatan model studi yang telah diaduk halus. Tunggu gips sampai
terdiri dari alginate, gypsum tipe 3, setting lalu keluarkan dari cetakan,
gypsum tipe 4, air, pengadukan alginate, kemudian di dapatkan model studi.
pencetakan rahang atas, pengadukan Penggambaran pola rugae palatina
gypsum, dan pengecoran hasil cetakan. dilakukan dengan menandai pola rugae
Tahapan yang dilakukan dalam palatal pada palatum model rahang atas
penelitian ini adalah sebagai berikut : dengan menggunakan pensil. Pengukuran
Sebelum mencetak gigi, subjek penelitian panjang pola ruga palatal dilakukan pada
melalui tahapan persiapan dengan model rahang atas menggunakan
pengisian lembar kesediaan menjadi penggaris atau jangka sorong. Klasifikasi
subjek penelitianyang berisi persetujuan pola yang paling sering digunakan adalah
yang menyatakan setuju menjadi sampel klasifikasi yang dibuat oleh Thomas dan
dalam penelitian ini. Sebelum mencetak, Kotze. Klasifikasi tersebut meliputi
subjek penelitian dipersilahkan untuk jumlah, panjang, ukuran dan unifikasi dari
duduk dalam keadaan rileks dengan rugae. Panjang rugae dibagi atas : lebih
posisi rahang bawah sejajar dengan dari 5 mm (rugae primer), 3-5 mm (rugae
lantai. Pilih sendok cetak yang sesuai sekunder), dan kurang dari 2-3 mm
dengan lengkung rahang atas subjek (rugae tambahan). Bentuk rugae
penelitian. Setelah didapatkan sendok diklasifikasikan menjadi kurva (curved),
cetak yang sesuai dengan rahang atas bergelombang (wavy), lurus (straight),
subjek, operator mengaduk bahan cetak dan sirkular (circular). Convergen dimana
dengan perbandingan air dan bubuk rugae bercabang dua dari arah pusat dan
sesuai dengan petunjuk pabrik di dalam menyatu saat menuju bagian lateral.
rubber bowl menggunakan spatula. Divergen dimana rugae berasal dari pusat
Mengisikan adonan alginat ke dalam dan menyebar bercabang dua saat
sendok cetak rahang atas. Pencetakan menjauh dari pusat. Pola rugae palatina
dilakukan oleh satu orang yang ahli dalam paling banyak muncul maksimal ada 4
mencetak. Pengadukan yang dilakukan pola pada tiap individu berdasarkan
147 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Iwan Aflanie, Perbandingan....

penelitian yang dilakukan oleh Subhash disimpulkan tidak ada perbedaan yang
Chandra et al pada populasi Ranchi dan signifikan antara dua orang pengamat.
Patna, sehingga pada penelitian ini
apabila ada satu pola yang sama muncul Tabel 5.1 Gambaran Polar Rugae Palatina
dengan jumlah ≥ 2 maka disimpulkan Pada Suku Dayak Bukit
sebagai pola rugae dominan yang muncul
pada individu tersebut.
Data yang didapat pada penelitian
di analisa berdasarkan hasil pengamatan
karakteristik pola ruga palatal dengan
SPSS versi 21 dan Uji Hipotesa
menggunakan Chi square.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Berdasarkan tabel 5.1 menunjukan
Juli-September 2016 di Desa Kiyu bahwa pola rugae palatina yang paling
Kecamatan Batang Alai Timur untuk banyak muncul pada Suku Dayak Bukit
mendapatkan Suku Dayak Bukit, di adalah pola wavy kemudian diikuti
Barabai untuk Suku Banjar Hulu, dan di dengan curvy,divergen, straight ,
Kabupaten Pulang Pisau di Kalimantan convergen, dan yang paling sedikit
Tengah untuk mendapatkan Suku Dayak muncul adalah pola circular.
Ngaju.
Tabel 5.2 Gambaran Pola Rugae Palatina
HASIL DAN PEMBAHASAN Pada Suku Banjar Hulu
Uji reliabilitas intra observer pada
karakteristik pola rugae palatina
didapatkan dari hasil pengamatan satu
orang observer dalam waktu yang
berbeda dilakukan dengan uji Kappa
Cohen. Hasil uji Kappa Cohen
menunjukkan p=0,0001 (p<0,05) dengan
nilai koefisien sebesar 0,915, nilai
koefisien mendekati 1 sehingga dapat
disimpulkan terdapat nilai kecocokan
yang tinggi antara pengamatan pertama Berdasarkan tabel 5.2 menunjukan bahwa
dan kedua (lampiran 16). Uji reliabilitas pola rugae palatina yang paling banyak
inter observer pada karakteristik pola muncul pada Suku Banjar Hulu adalah pola
rugae palatina didapatkan dari hasil wavy kemudian diikuti dengan
pengamatan dua orang observer dalam curvy,divergen, straight, convergen, dan
waktu yang sama dilakukan dengan uji yang paling sedikit muncul adalah pola
Kappa Cohen. Hasil uji Kappa Cohen circular.
menunjukkan p=0,0001 (p<0,05) dengan
nilai koefisien sebesar 0,860, nilai
koefisien mendekati 1 sehingga dapat

148 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Iwan Aflanie, Perbandingan....

Tabel 5.3 Gambaran Pola Rugae Palatina geografi antara satu populasi dengan
Pada Suku Dayak Ngaju populasi lainnya bisa mempengaruhi pola
rugae palatina yang muncul dan tentunya
juga dipengaruhi oleh faktor genetik.

Tabel 5.5 menunjukkan adanya perbedaan


bermakna karakteristik pola rugae palatina
antara Suku Dayak Bukit dengan Suku
Dayak Ngaju dan Suku Banjar Hulu dengan
Berdasarkan tabel 5.3 menunjukan
Suku Dayak Ngaju dengan nilai p<0,0
bahwa pola rugae palatina yang paling
banyak muncul adalah pola divergen
kemudian diikuti dengan wavy,curvy,
straight, convergen, dan yang paling
sedikit muncul adalah pola circular.

Tabel 5.4 Hasil Uji Fisher’s Exact pada


Perbandingan Karakteristik Pola Rugae
Palatina Dominan Antara Suku Dayak Bukit
Tabel 5.5 menunjukan adanya
dan Suku Banjar Hulu.
perbedaan bermakna karakteristik pola
rugae antara Suku Dayak Bukit dengan
Suku Dayak Ngaju dan Suku Banjar Hulu
dengan Suku Dayak Ngaju, sehingga
Tabel 5.4 menunjukkan tidak memperkecil kemungkinan kekerabatan
terdapat perbedaan bermakna Suku Dayak Bukit dengan Suku Dayak
karakteristik pola rugae antara Suku Dayak Ngaju berdasarkan karakteristik pola rugae
Bukit dengan Suku Banjar Hulu, sehingga palatina. Hasil penelitian ini tidak sejalan
menunjukkan adanya kemungkinan dengan teori menurut Tjilik Riwut pada
kekerabatan pada kedua suku tersebut tahun 1979 yang menyatakan bahwa Suku
berdasarkan pola rugae palatina. Hal ini Dayak Bukit atau Orang Bukit termasuk ke
sejalan apabila dikaitkan dengan teori dalam rumpun Dayak Ngaju yang
menurut Radam tahun 1987 menyatakan mendiami daerah Pegunungan Meratus,
bahwa nenek moyang Orang Bukit (Dayak sedangkan pada penelitian ini Suku Dayak
Bukit) berasal dari dataran rendah di suatu Bukit dibandingkan dengan Suku Dayak
muara sungai dan menjadi cikal bakal Ngaju menunjukan perbedaan pola rugae
Orang Banjar, sehingga hasil penelitian ini dominan yang muncul (4). Penelitian yang
menunjukan kesesuaian dengan teori dilakukan oleh Swetha. S (2015) pada
tersebut (5). Penelitian yang dilakukan populasi India bagian Utara dan Selatan
oleh Subhash Candra (2016) juga danIbeachu P et al (2014) pada Suku Igbo
menunjukkan tidak terdapat perbedaan dan Suku Ikwerre di Nigeria juga
pola rugae palatina pada populasi Ranchi menunjukkan terdapat perbedaan pola
dan Patna di India (23). Hasil ini rugae palatina (16,17), sehingga sejalan
menunjukan bahwa kedekatan wilayah dengan hasil penelitian ini dimana
149 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Iwan Aflanie, Perbandingan....

perbedaan wilayah geografis dan etnik palatina juga potensial untuk


budaya antara satu populasi dengan mengidentifikasi keturunan seseorang
populasi lainnya bisa mempengaruhi
perbedaan pola rugae palatina yang SIMPULAN
muncul dan tentunya juga dipengaruhi Berdasarkan hasil penelitian yang
oleh faktor genetik dan lingkungan. telah dilakukan, didapatkan kesimpulan
Di Indonesia telah dilakukan bahwa Terdapat perbedaan karakteristik
penelitian mengenai perbedaan pola rugae pola rugae palatina pada Suku Dayak
palatina pada penduduk Suku Jawa dengan Bukit, Suku Banjar Hulu, dan Suku Dayak
keturnan Cina di Jawa Tengah oleh Eva Tri Ngaju. Perbedaan tersebut menunjukan
(2013) dalam Dishe Hidayani tahun 2016 kemungkinan kekerabatan Suku Dayak
dengan hasil terdapat perbedaan Bukit dengan Suku Banjar Hulu lebih dekat
bermakna pola rugae palatina (37). Suku karena didapatkan kemiripan pola rugae
Jawa termasuk dalam sub-ras Deutro palatina dibandingkandengan Suku Dayak
Melayu sedangkan keturunan Cina Ngaju.
termasuk dalam ras Mongoloid (39,40). Hal Setelah penelitian ini, diharapkan
ini sejalan dengan hasil penelitian adanya penelitian lanjutan mengenai
mengingat Suku Dayak Ngaju merupakan karakteristik pola rugae palatina pada
keturunan Proto Melayu dan Suku Banjar suku lainnya yang ada di Indonesia, agar
Hulu keturunan Deutro Melayu juga dapat dikembangkan dan menambah
terdapat perbedaan bermakna pola rugae referensi dalam odontologi forensik.
palatina. Berdasarkan hal
tersebutmenunjukkan bahwa rugae

DAFTAR PUSTAKA
1. Suara kita. Jakarta: 2014 [cited 2017 Feb Hukum, Kasus. Depok: Filsafat UI Press,
19]. Available from: 2006. 170-171p.
http://www.suarakita.org/2014/11/gender- 5. Arus Pelangi. Peringatan Hari Mengenang
ketiga-seberapa-pentingkah/ Kekerasan dan Diskriminasi Terhadap
2. Edisi News. Jakarta: 2013 [cited 2017 Feb Transgender [internet]. Jakarta, 2014 [cited
19]. Available from: 2017 Feb 19]. Available from:
http://edisinews.com/berita-jumlah-waria- http://aruspelangi.org/siaran-pers/siaran-
di-indonesia-diklaim-7-juta-orang.html pers-peringatan-hari-mengenang-
3. Pusat Kebijakan dan Manajemen kekerasan-dan-diskriminasi-terhadap-
Kesehatan. Dilema Hukum tentang transgender-se-dunia/
Pengakuan Eksistensi Waria: Sebuah 6. BBC. Trensosial Transgender [internet].
Perspektif Sejarah [internet]. Jakarta; 2010 Jakarta; 2015 [cited 2017 Feb 19]. Available
[cited 2017 Feb 19]. Available from: from:
http://kebijakanaidsindonesia.net/id/comp http://www.bbc.com/indonesia/majalah/20
onent/content/article/38-info-proyek- 15/11/151120_trensosial_transgender
project-info/progress-report/1267-dilema- 7. Admin. Pembuatan Akta Kelahiran. Depok:
hukum-tentang-pengakuan-eksistensi- 2017 [cited 2017 Feb 19]. Available from:
waria-sebuah-perspektif-sejarah http://disdukcapil.depok.go.id/trend-
4. Saraswati LG, Basari T, Adian DG, pembuatan-akta-kelahiran-tahun-2013/
Boangmanalu SB, Wijayanto E, Haryatmoko, 8. Gupta S, Imborek KL, Krasowski MD.
Arivia G, et al. Hak Asasi Manusia Teori, Challenges in Transgender Healthcare: The

150 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Iwan Aflanie, Perbandingan....

Pathology Perpective. Medscape [cited B978032328048800302X?scrollTo=%23hl00


2017 Feb 19]. Available from: 00018
http://www.medscape.com/viewarticle/869 17. Hidalgo MA, Kuhns LM, Kwon S, Mustanski
424_2 B, Garofalo. R. Child Abuse And Neglect: The
9. Centre of Genetics Education [internet]. An Impact of Childhood Gender Expression on
Introduction to DNA, Genes, and Childhood Sexual Abuse and
Chromosomes. NSW; 2016 [Updated 2016 Psychopathology among Young Men Who
June 10; cited 2017 Feb 19]. Available from: Have Sex With Men [internet]. United
http://www.genetics.edu.au/Publications- States: Elsevier, 2015 [cited 2017 Feb 19].
and-Resources/Genetics-Fact- Available from:
Sheets/FactSheetDNAGenesChromosomes https://www.clinicalkey.com/#!/content/jo
10. U. S Library of Medicine [internet]. USA; urnal/1-s2.0-S0145213415001623
2017 [cited 2017 Feb 19]. Available from: 18. Webmd [internet]. What is Gender
https://ghr.nlm.nih.gov/primer/basics/chro Dysphoria?; 2017 [cited 2017 Feb 19].
mosome Available from:
11. WHO. Gender and Genetics [internet]. USA; http://www.webmd.com/mental-
2017 [cited 2017 Feb 19]. Available from: health/gender-dysphoria#2
http://www.who.int/genomics/gender/en/i 19. Hukum Online [internet]. Jakarta; 2015
ndex1.html [cited 2017 Feb 19]. Available from:
12. Kliegman RM, Stanton BF, Geme JWS, Schor http://www.hukumonline.com/klinik/detail
NF. Textbook of Pediatrics: Sexual Identity /lt5499758a512e5/prosedur-hukum-jika-
Development [internet]. United States: ingin-berganti-jenis-kelamin
Elsevier, 2016 [cited 2017 Feb 19]. Available 20. Komnasham [internet]. Undang Undang
from: Republik Indonesia Nomor 39 tahun 1999
https://www.clinicalkey.com/#!/content/bo Tentang Hak Asasi Manusia. Jakarta; 1999
ok/3-s2.0- [cited 2017 Feb 19]. Available from:
B9781455775668001101?scrollTo=%23hl00 https://www.komnasham.go.id/files/14752
00891 31474-uu-nomor-39-tahun-1999-tentang-
13. Smith S, Whitwell S. Core Psychiatry: $H9FVDS.pdf
Gender and Sexuality in Psychiatry 21. United Nation. Declaration of Human Rights
[internet]. United States: Elsevier, 2012 [internet]. USA: 2015 [cited 2017 feb 21].
[cited 2017 Feb 19]. Available from: Available from:
https://www.clinicalkey.com/#!/content/bo http://www.un.org/en/udhrbook/pdf/udhr
ok/3-s2.0- _booklet_en_web.pdf
B9780702033971000240?scrollTo=%23s002 22. WHO. 25 Questions and Answers of Health
0 and Human Rights [internet]. France; 2002
14. Allen L. Obstetrics And Gynecology Clinics: [cited 2017 Apr 13]. Available from:
Disorders of Sexual Development [internet]. http://www.who.int/hhr/information/25_q
United States: Elsevier, 2009 [cited 2017 uestions_hhr.pdf
Feb 19]. Available from: 23. American Civil Liberties Union. Know Your
https://www.clinicalkey.com/#!/content/jo Rights: Transgender People and Law. USA;
urnal/1-s2.0-S0889854509000060 2017. [cited 2017 Feb 19]. Available from:
15. Fields L. What It Means to be Transgender. https://www.aclu.org/know-your-
[cited 2017 Feb 19]. Available from: rights/transgender-people-and-law
http://www.webmd.com/a-to-z- 24. WHO. Principles for the protection of
guides/features/transgender-what-it-means persons with mental illness and the
16. Forcier M. Ferri’s Clinical Advisor: Gender improvement of mental health care
Dysphoria Disorder and Gender [internet]. USA; 1991 [cited 2017 Apr 15].
Noncornformity [internet]. United States: Available from:
Elsevier, 2017 [cited 2017 Feb 19]. Available http://www.who.int/mental_health/policy/
from: en/UN_Resolution_on_protection_of_perso
https://www.clinicalkey.com/#!/content/bo ns_with_mental_illness.pdf
ok/3-s2.0- 25. WHO. Constitution Of The World Health
Organization [internet]. USA; 2006 [cited

151 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Iwan Aflanie, Perbandingan....

2017 Apr 15]. Available from: 31. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta
http://www.who.int/governance/eb/who_c [cited 2017 May 04]. Availabe from:
onstitution_en.pdf http://kbbi.web.id/norma
26. Australian Government. Guidelines on the 32. Republika. Jakarta: 2016 [cited 2017 May
Recognition of Sex and Gender [internet]; 04]. Available from:
2013 [updated November 2015, cited 2017 http://khazanah.republika.co.id/berita/duni
Feb 19]. Available from: a-islam/fatwa/16/02/19/o2sba1394-
https://www.ag.gov.au/Publications/Docu lengkap-fatwa-mui-tentang-operasi-alat-
ments/AustralianGovernmentGuidelinesont kelamin
heRecognitionofSexandGender/AustralianG 33. Keputusan Menteri Kesehatan Republik
overnmentGuidelinesontheRecognitionofSe Indonesia nomor 191/MENKES/SK/III/1989
xandGender.pdf tentang penunjukkan Rumah Sakit dan Tim
27. Human Right Watch. The Netherlands: Ahli Sebagai Tempat dan Pelaksanaan
Victory for Transgender Rights [internet]; Operasi Penyesuaian Kelamin. Sumber: Biro
2017 [cited 2017 Feb 19]. Available from: Hukum Departemen Kesehatan RI.
https://www.hrw.org/news/2013/12/19/ne 34. Undang-Undang No. 23 tahun 2006 tentang
therlands-victory-transgender-rights DISDUKCAPIL. [cited 2017 June 19].
28. Lambda Legal. Know Your Right [internet]; Available from:
2015. USA [updated 2015 March 2; cited http://disdukcapil.limapuluhkotakab.go.id/
2017 Feb 19]. Available from: downlot.php?...UU_NO_23_2006.
http://www.lambdalegal.org/know-your- 35. Undang-Undang no. 24 tahun 2013 tentang
rights/article/trans-changing-birth- Perubahan atas undang-undang nomor 23
certificate-sex-designations tahun 2006 tentang administrasi
29. USAID. Being LGBT in Asia: Thailand Country kependudukan. [cited 2017 June 19].
Report. United Nation Development Available from:
Programe [internet]; 2014 [cited 2017 Feb http://www.bpn.go.id/Publikasi/Peraturan-
19]. Available from: Perundangan/Undang-Undang/undang-
https://www.usaid.gov/sites/default/files/d undang-nomor-24-tahun-2013-4797
ocuments/1861/Being_LGBT_in_Asia_Thail
and_Country_Report.pdf
30. Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan. [cited 2017 June 19]. Available
from:
http://sireka.pom.go.id/requirement/UU-
36-2009-Kesehatan.pdf

152 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

ANALISA PIDANA SODOMI PADA ANAK

Juli Purwaningrum1, Soekry E2

Abstrak PENDAHULUAN
Perilaku menyimpang tampaknya sudah semakin marak Perilaku menyimpang tampaknya
di tengah masyarakat kita, terutama penyimpangan
seksual. Kita sudah tidak asing lagi mendengar istilah sudah semakin marak di tengah masyarakat
homoseksual, biseksual, lesbian, bahkan yang terdengar
mengerikan seperti sodomi. Komisi nasional perlindunan
kita, terutama penyimpangan seksual. Kita
anak mencatat jenis kejahatan anak tertinggi sejak tahun sudah tidak asing lagi mendengar istilah
2007 adalah tindak sodomi terhadap anak. Pada tahun
2007 dari 1992 kasus kejahatan anak yang masuk homoseksual, biseksual, lesbian, bahkan
KOMNAS ANAK waktu itu sebanyak 1161 kasus atau yang terdengar mengerikan seperti sodomi.
61,8% adalah kasus sodomi anak. Dari tahun 2007
sampai akhir maret 2008 jumlah kasus sodomi anak Komisi Perlindungan Anak Indonesia
sudah naik sebesar 50%. Pada bulan maret 2011 dari
pantauan KOMNAS ANAK ada 156 kasus kekerasan menemukan banyak aduan kekerasan pada
seksual khususnya sodomi pada anak. Sodomi adalah anak pada tahun 2010. 171 kasus pengaduan
istilah hukum yang digunakan untuk merujuk kepada
tindakan seks “tidak alami” yang bergantung pada yang masuk, sebanyak 67,8 % terkait dengan
yuridiksinya dapat terdiri atas seks oral atau seks anal
atau semua bentuk pertemuan organ non kelamin
kasus kekerasan. Kasus kekerasan tersebut
dengan alat kelamin, baik dilakukan secara yang paling banyak terjadi adalah kasus
heteroseksual, homoseksual atau antara manusia dan
hewan. Gejala itu tampaknya sudah mulai merebak ke kekerasan seksual yaitu sebesar 45,7 % (53
masyarakat bawah dan seringkali memakan korban,
terutama anak-anak. Pelaku merasa anak merupakan
kasus). Komisi Nasional Perlindungan Anak
makhluk yang lemah yang tidak dapat membela diri (Komnas Anak) mencatat jenis kejahatan
sehingga seringkali dijadikan objek. Sodomi berdampak
pada fisik dan psikis korban. Secara fisik, korban bisa anak tertinggi sejak tahun 2007 adalah
menderita penyakit kulit eritema, anus robek, bekas luka tindak sodomi terhadap anak. Para pelaku
perianal, kutil dubur, iritasi usus besar, penyakit menular
seksual, menderita gangguan otot anus dan nyeri saat biasanya adalah guru sekolah, guru privat
buang air besar. Sedangkan secara psikis, korban
sodomi dapat menderita ketakutan, kecemasan, mudah termasuk guru ngaji, dan sopir pribadi.
marah, gangguan tidur, gangguan makan, merasa Tahun 2007 jumlah kasus sodomi anak
rendah diri, depresi, memiliki ketakutan berlebihan,
merasa gugup, stress, menyalahgunakan alkohol dan tertinggi di antara jumlah kasus kejahatan
narkoba, memiliki masalah dalam hubungan intim, tidak
berprestasi di kantor atau sekolah hingga mencoba
anak lainnya. 1.992 kasus kejahatan anak
bunuh diri. Dalam hukum pidana di Indonesia, pasal- yang masuk ke Komnas Anak tahun itu,
pasal dalam KUHP maupun peraturan perundang-
undangan lainnya belum mengatur tentang sodomi sebanyak 1.160 kasus atau 61,8 % adalah
secara tersendiri. Hukum pidana Indonesia sampai saat kasus sodomi anak. Tahun 2007 sampai akhir
ini hanya mengenal istilah pencabulan dan
persetubuhan, perbuatan sodomi dapat dikategorikan Maret 2008 kasus sodomi anak sendiri sudah
sebagai pencabulan. Berdasarkan dari latar belakang
permasalahan yang ada maka penulisan artikel ini naik sebesar 50 %. Komisi Nasional
bertujuan untuk mengetahui faktor yang mendasari Perlindungan Anak telah meluncurkan
tindakan kejahatan sodomi pada anak, mengetahui
akibat perbuatan sodomi pada anak dan mengetahui Gerakan Melawan Kekejaman Terhadap
analisa pidana atas sodomi pada anak yang merupakan
kekerasan seksual pada anak.
Anakkarena meningkatnya kekerasan tiap
Kata Kunci: fisik, penyimpangan seksual, pidana, tahun pada anak. Tahun 2009 lalu ada 1998
psikis, sodomi
kekerasan meningkat pada tahun 2010
Afiliasi Penulis: 1. Departemen Kedokteran Forensik dan
Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. menjadi 2335 kekerasan dan sampai pada
Korespondensi: Juli Purwaningrum, email: jupforensik@gmail.com
Maret 2011 berdasarkan pantauan Komisi
Nasional Perlindungan Anak ada 156

153 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Juli Purwaningrum, Kematian Mendadak....

kekerasan seksual khususnya sodomi pada laporan tertulis, publikasi dan dokumen
anak.1 Tahun 2013, unit perlindungan elektronik serta catatan lain yang
Perempuan dan Anak Bareskrim Mabes Polri berhubungan dengan materi penelitian.
mencatat sepanjang tahun 2013 Teknik pengumpulan data yang dilakukan
sekurangnya terjadi 1600 kasus asusila mulai oleh peneliti adalah dengan menggunakan
dari pencabulan hingga kekerasan fisik pada metode dokumentasi. Menurut Nawawi
anak.3 (2003:231) Dokumentasi adalah mencari
Hingga saat ini kasus kekerasan data mengenai hal-hal atau variable yang
terhadap anak masih menjadi masalah yang berupa catatan, buku, surat kabar, majalah,
belum terpecahkan. Kasus kekerasan seksual prasasti, notulen rapat, agenda dan
ini sebenarnya bukan hanya terjadi di sebagainya, sehingga data yang diperoleh
Indonesia saja tapi juga terjadi di negara lain. pun valid dan mempunyai acuan dalam
Ketakuatan dan pemikiran bahwa ini adalah penulisan penelitian.
sebuah aib membuat korban dari kekerasan Teknik analisis data yang digunakan
seksual ini sulit untuk mengungkapkan dan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif
melaporkan kasus yang ia alami pada orang dengan pendekatan kualitatif.
lain atau pihak berwajib. Tidak adanya ciri-ciri
yang signifikan yang ditunjukkan oleh pelaku
sodomi membuat kasus ini sulit untuk
diberantas. Kasus inilah yang bisa membuat
bangsa ini menjadi bangsa tanpa generasi.3
Hukum khusus yang mengatur tentang
sodomi belum ada di Indonesia. Istilah sodomi
belum dikenal dalam hukum pidana di
Bagan 1. Komponen-komponen analisis data
Indonesia, sehingga dalam praktiknya kasus
sodomi dikenakan dengan pasal-pasal tentang HASIL
pencabulan.4
Berdasarkan data yang didapat dari bank data
METODE perlindungan anak KPAI diperoleh bahwa
Penelitian menggunakan pendekatan anak sebagai korban kekerasan seksual
penelitian deskriptif kualitatif untuk (pemerkosaan, pencabulan, sodomi/pedofilia,
mendeskripsikan analisa pidana sodomi dsb) mengalami kenaikan di tahun 2011
pada anak dan peneliti ingin memberikan sampai 2014 dan mengalami penurunan di
gambaran atau deskriptif mengenai analisa tahun 2014 sampai 2016
pidana sodomi pada anak. Fokus penelitian
merupakan pokok pembahasan yang PEMBAHASAN
menjadi tujuan penelitian. Fokus penelitian Sodomi adalah istilah hukum yang
yaitu mengetahui faktor yang mendasari digunakan untuk merujuk kepada tindakan
perbuatan sodomi, akibat perbuatan sodomi seks "tidak alami", yang bergantung pada
dan analisa pidana kasus sodomi di yuridiksinya dapat terdiri atas seks oral, seks
Indonesia. anal atau semua bentuk pertemuan organ
Sumber utama penelitian berupa data non-kelamin dengan alat kelamin, baik
kasus yang diperoleh penulis melalui arsip, dilakukan secara heteroseksual,

154 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Juli Purwaningrum, Kematian Mendadak....

homoseksual, atau antara manusia dan biasanya diam kaarena takut


hewan. Istilah ini berasal dari bahasa ketahuan,apabila ketahuan akan memicu
latin“peccatum Sodomiticum” atau "Dosa kemarahan keluarga sang anak tersebut.
kaum Sodom”. Hukum Sodomi melarang
semua aktivitas seks yang tidak lazim dalam B. Tanda-tanda dan efek pada anak
standar moral keagamaan Yahudi, Kristen, korban sodomi
dan Islam.2
Secara fisik, anak yang telah menjadi
A. Alasan Melakukan Sodomi korban sodomi akan memiliki anus
berbentuk corong, mirip dengan tabung kaca
Orang menyukai disodomi karena yang ada pada lampu semprong, benar-
dubur kaya akan ujung saraf sehingga orang benar “bolong” seperti tabung. Akibat
tersebut bisa memperoleh kenikmatan perlakuan sodomi korban biasanya akan
ketika disodomi, dan orang suka menyodomi mengalami masalah dengan organ
karena kedua otot utama sekitar dubur bisa pencernaannya, terutama saat buang air
meremas-remas alat kelamin sehingga yang besar akan kesulitan menahan. Diperlukan
menyodomi memperoleh sensasi pemeriksaan lebih lanjut oleh tim medis,
5
kenikmatan. Dalam sejarah tumbuh apakah terjadi luka atau robekan pada
kembang anak termasuk organ reproduksi, daerah di sekitar anus. Kondisi luka tersebut
pada awalnya alat kelaminlah yang menjadi akan memudahkan tertularnya berbagai
fokus si anak, akan tetapi kalau sesorang infeksi pada korban, karena air mani di
tersebut memperoleh rangsangan pada dalam anus/rektum seorang pengadu bisa
sekitar duburnya baik secara sukarela menguatkan bukti dugaan hubungan intim
maupun terpaksa, maka yang bersangkutan anal.
akan menyimpan memori kenikmatan
tersebut. Masalah sodomi terjadi pada Anak yang telah menjadi korban sodomi
orang dibawah umur terutama anak-anak juga akan mengalami gangguan psikologis.
yang menimbulkan kekerasan sampai Anak korban sodomi akan mengalami stress,
pembunuhan.5 depresi, goncangan jiwa, adanya perasaan
bersalah dan menyalahkan diri sendiri, rasa
Setiap kasus yang diungkap pelakunya takut berhubungan dengan orang lain,
adalah orang yang dekat korban. Tak sedikit bayangan kejadian dimana anak menerima
pula pelakunya adalah orang yang memiliki kekerasan seksual, mimpi buruk, insomia,
dominasi atas korban, seperti orang tua dan ketakutan dengan hal yang berhubungan
guru. Pelaku sodomi pada anak-anak bisa dengan penyalahgunaan termasuk benda,
dibagi menjadi 2 (dua) berdasar identitas bau, tempat, kunjungan dokter, masalah
pelaku, yaitu keluarga dan bukan keluarga. harga diri, disfungsi seksual, sakit kronis,
Sodomi yang dilakukan orang lain biasanya kecanduan dan keinginan bunuh diri. Selain
dikenal oleh sang anak dan telah itu muncul gangguan-gangguan psikologis
membangun relasi dengan anak tersebut, seperti pasca trauma stress disorder,
kemudian sang anak dibujuk dan sodomi kecemasan, gangguan kepribadian,
mulai dilakukan kemudian sang anak gangguan identitas dissosiatif,
diberikan imbalan. Anak yang telah disodomi kecenderungan untuk reviktimisasi dimasa

155 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Juli Purwaningrum, Kematian Mendadak....

dewasa, bulimia nervosa bahkan adanya atau sepatutnya harus diduganya, bahwa
cedera fisik pada anak.6,7 umumnya belum lima belas tahun atau kalau
umumnya tidak jelas, yang bersangkutan
Sodomi sering tidak terungkap karena belum waktunya untuk dikawin;(3) Barang
adanya penyangkalan terhadap peristiwa siapa membujuk seseorang yang
tersebut, anak-anak korban kekerasan diketahuinya atau sepatutnya harus
seksual sering tidak mengerti bahwa dirinya diduganya bahwa ummnya belum lima belas
menjadi korban. Korban sulit mempercayai tahun atau kalau umumnya tidak jelas yang
orang lain sehingga merahasiakan peristiwa bersangkutan atau kutan belum waktunya
tersebut, selain itu anak cenderung takut untuk dikawin, untuk melakukan atau
melaporkan karena mereka merasa membiarkan dilakukan perbuatan cabul,
terancam akan mengalami konsekuensi yang atau bersetubuh di luar perkawinan dengan
buruk bila melapor, anak merasa malu. orang lain.” Pasal 292 KUHP menyebutkan:”
Dampak pelecehan seksual yang terjadi Orang dewasa yang melakukan perbuatan
ditandai dengan adanya powerlessness, cabul dengan orang lain sesama kelamin,
dimana korban merasa tidak berdaya dan yang diketahuinya atau sepatutnya harus
tersiksa ketika mengungkap peristiwa diduganya belum dewasa, diancam dengan
pelecehan seksual tersebut.6 pidana penjara paling lama lima tahun”.11

C. Hukum Sodomi di Indonesia Pasal-pasal yang juga mengatur


tentang hukuman bagi pelaku kekerasan
Hukum pidana di Indonesia, istilah seksual terhadap anak di bawah umur
sodomi belum dikenal. Pasal-pasal dalam terdapat dalam pasal 285 dan 289 KUHP.10
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Dalam pasal 285 ditentukan hukuman
maupun peraturan perundang-undangan penjara selama-lamanya 12 tahun dan pada
lainnya belum mengatur tentang sodomi pasal 289 disebutkan hukuman penjara
secara tersendiri. Hukum pidana Indonesia selama-lamanya 9 tahun.10,11 Dari paparan
sampai saat ini hanya mengenal istilah pasal-pasal tentang hukuman bagi pelaku
pencabulan dan persetubuhan. Perbuatan pelecehan seksual terhadap anak dibawah
sodomi dapat dikategorikan sebagai umur di atas maka dapat disimpulkan bahwa
pencabulan sehingga kasus sodomi hukuman bagi si pelaku bervariasi
dikenakan dengan pasal-pasal tentang bergantung kepada perbuatannya yaitu
pencabulan yang diatur dalam KUHP apabila perbuatan tersebut menimbulkan
maupun peraturan perundang-undangan di luka berat seperti tidak berfungsinya alat
luar KUHP.9 reproduksi atau menimbulkan kematian
maka hukuman bagi si pelaku lebih berat
Dalam pasal 290 KUHP disebutkan:
yaitu 15 tahun penjara. Tetapi apabila tidak
“Dengan hukuman penjara selama-lamanya
menimbulkan luka berat maka hukuman
tujuh tahun dihukum:(1) Barang siapa
yang dikenakan bagi si pelaku adalah
melakukan perbuatan cabul dengan
hukuman ringan.10,11
seseorang, padahal diketahuinya bahwa
orang itu pingsan atau tidak berdaya;(2) Undang-Undang No.23 Tahun 2002
Barang siapa melakukan perbuatan cabul tentang Perlindungan Anak, ada dua buah
dengan seseorang padahal diketahuinya

156 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Juli Purwaningrum, Kematian Mendadak....

pasal yang mengatur tentang ancaman


hukuman bagi pelaku pelecehan seksual SIMPULAN
terhadap anak dibawah umur yaitu pasal 81
Dari tabulasi data KPAI didapatkan
dan pasal 82. Pasal 81 berbunyi: “(1) Setiap
peningkatan kejahatan sodomi terhadap
orang yang dengan sengaja melakukan
anak tahun 2011 sampai 2014 dan terjadi
kekerasan atau ancaman kekerasan
penurunan tahun 2015 sampai 2016.
memaksa anak melakukan persetubuhan
Peningkatan kejahatan sodomi terjadi karena
dengannya atau dengan orang lain, dipidana
beberapa hal antara lain kenikmatan saat
dengan pidana penjara paling lama 15 (lima
sodomi, memori sodomi yang melekat ketika
belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun
menjadi korban, anak-anak yang tidak
dan denda paling banyak Rp.300.000.000,00
berdaya dan mudah dibujuk, orang tua yang
(tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit
kurang perhatian terhadap anak, kurangnya
Rp.60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah”,
kesadaran hukum masyarakat. Pennurunan
(2) Ketentuan pidana sebagaimana
kejahatan sodomi terjadi karena
dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi
meningkatnya kesadaran masyarakat tentang
setiap orang yang dengan sengaja
hukum sodomi. Berkurangnya masyarakat
melakukan tipu muslihat, serangkaian
yang menganggap kasus sodomi sebagai aib
kebohongan, atau membujuk anak
sehingga melaporkan ke polisi menambah
melakukan persetubuhan dengannya atau
penurunan kejahatan sodomi.
dengan orang lain”. Pasal 82 berbunyi:
Setiap orang yang dengan sengaja
SARAN
melakukan kekerasan atau ancaman
kekerasan, memaksa, melakukan tipu Kerjasama pihak dari peran orang tua,
muslihat, serangkaian kebohongan, atau keluarga, masyarakat dan pihak berwajib
membujuk anak untuk melakukan atau sangat diperlukan untuk memberantas
membiarkan dilakukan perbuatan cabul, sodomi di Indonesia. Adanya penyuluhan-
dipidana dengan pidana penjara paling lama penyuluhan tentang hukum kekerasan seksual
15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 perlu dilakukan bahkan sampai kedaerah
(tiga) tahun dan denda paling banyak pelosok di Indonesia seiring dengan adanya
Rp.300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sodomi yang merebak kemana-mana. Apalagi
dan paling sedikit Rp.60.000.000,00 (enam dengan adanya kemajuan teknologi sekarang
puluh juta rupiah). 10 Bagian simpulan berisi ini, hal itu bisa dimanfaatkan sebagai media
temuan penelitian yang merupakan jawaban untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia
atas pertanyaan penelitian atau berupa tentang hukum yang berlaku di Indonesia.
intisari pembahasan hasil penelitian.
Simpulan disajikan dalam bentuk paragraph,
tidak dalam bentuk poin-poin.

DAFTAR PUSTAKA

1. https://id.wikipedia.org/wiki/Kejahatan_seks 2. https://id.wikipedia.org/wiki/Sodomi
ual_terhadap_anak_di_Indonesia

157 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Juli Purwaningrum, Kematian Mendadak....

3. www.kompasiana.com/larasiin/sodomi- 8. Stark, Margaret M. 2005. Clinical Forensic


merenggut-generasi- Medicine A Physician’s Guide Second Edition.
bangsa_56e7b9f4947a61080d130046 Totowa-New Jersey : Humana Press Inc

4. www.alodokter.com/dampak-sodomi-terasa- 9. Hutabarat, Agustin L. 2013. Sodomi, Tindak


hingga-kemudian-hari Pidana atau Bukan?. www.hukumonline.com

5. www.kompasiana.com/tulang62/dubur-oh- 10. Widiyati, Ratna. 2015. Tindak Pidana Terkait


dubur_54ff5805a33311c44f50f960 Sodomi Terhadap Anak Dalam Perspektif
Perlindungan Anak. Surabaya : Program Studi
6. Noviana, Ivo. 2015. Kekerasan Seksual Magister Hukum Minat Studi Ilmu Hukum
Terhadap Anak : Dampak Dan Fakultas Hukum Universitas Airlangga
Penanganannya. Jakarta : Pusat Penelitian
dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, 11. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Kementrian Sosial RI
7. https://www.kaskus.co.id/thread/5534aefdd 12. Nawawi, H. Hadari. 2003. Metode Penelitian
44f9fca798b4569/inilah-yang-terjadi-setelah- Bidang Sosial. Yogyakarta : Gaja Mada
anak-disodomi/ University Press

13. https://www.kpai.go.id

158 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

KEPASTIAN HUKUM PERUBAHAN JENIS KELAMIN DI INDONESIA


ULASAN ARTIKEL

Klarisa1, Budi Sampurna2

Abstrak PENDAHULUAN
Pada umumnya negara hanya mengenal 2 jenis
kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. Orang yang
memiliki lebih dari satu jenis kelamin dalam tubuhnya
Transeksualisme merupakan salah
dianggap memiliki kelainan dan memerlukan satu komponen dari LGBT atau yang sering
perbaikan berupa penyesuaian alat kelamin agar
sesuai dengan jenis kelaminnya yang dominan atau disebut lesbian, gay, biseksual, dan
yang “lebih tepat”. Kadang juga terdapat orang yang transgender (termasuk didalamnya
memiliki satu jenis kelamin tetapi dirasakan tidak
sesuai oleh orang tersebut, dan ia merasa lebih transeksualisme). Jumlah keberadaan
nyaman bersikap dan berperilaku sebagai orang
dengan jenis kelamin lawannya. Keadaan ini memicu transgender dan transeksualisme di dunia
seseorang menjadi transgender dan bahkan sampai tidak pernah ada perhitungan yang pasti
transeksualisme. Ketika seseorang memutuskan untuk
mengubah jenis kelaminnya, banyak hal yang harus karena berbagai faktor, namun karena
dikaji dan dijalani, seperti ketepatan jenis kelamin,
kesiapan mental, penetapan secara hukum, hingga
adanya kesadaran yang meningkat terhadap
perubahan status di akta. Dilakukan tinjauan terhadap hak asasi manusia, komunitas ini makin
latar belakang terjadinya transgender hingga pilihan
untuk melakukan transeksualisme. Selain itu dilakukan tampak di permukaan dan makin banyak
juga tinjauan kebijakan hukum di beberapa negara orang yang terbuka terhadap identitas
yang kemudian dibandingkan dengan peraturan
perundang-undangan di Indonesia. Tinjauan peraturan dirinya1,2.
perundang-undangan di Indonesia di bidang tersebut
menunjukkan masih kurangnya pengaturan mengenai Di Indonesia, transgender yang sering
norma, standar, prosedur, dan kriteria mengenai disebut sebagai waria, secara perlahan
perubahan jenis kelamin yang memberikan
perlindungan hukum bagi orang yang membutuhkan tetapi pasti ada dan bertambah jumlahnya.
dan petugas kesehatan.
Kata Kunci: transgender, transeksualisme, peraturan
Pada tahun 2005, disinyalir terdapat 400.000
perundang-undangan. orang waria dan di tahun 2010 dikatakan
Afiliasi Penulis : 1. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Program bahwa jumlah waria sekitar 1.6% dari 240
Pendidikan Dokter Spesialis Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal juta penduduk Indonesia. Sejarah
RSUPN Cipto Mangunkusumo
Korespondensi: Klarisa, email: klarisasalimdr@gmail.com, keberadaan transgender di Indonesia
Telp/Hp: (021)3106976 / (021)3154626
berawal dari sekitar tahun 1965 dan
mencapai puncaknya di tahun 1970, saat itu
didirikan Asosiasi Waria Indonesia oleh
Gubernur Jakarta, Ali Sadikin. Keberadaan
para transgender termasuk didalamnya
transeksualisme ini menjadi suatu polemik di
dalam masyarakat. Komunitas ini di awal
keberadaannya masih dapat diterima,
namun dengan berjalannya waktu yaitu
sekitar tahun 1980, mulai bermunculan
pertentangan terhadap mereka 1,2.

159 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Klarisa, Kepastian Hukum....

Banyak alasan yang menjadi dasar bagian resepsionis yang biasanya diisi oleh
sulitnya penerimaan terhadap mereka, mulai wanita dan dengan diterimanya trangender
dari sudut pandang agama, norma, serta laki-laki ke wanita maka resepsionis tersebut
hukum yang mengatur bahwa pembagian akan terlihat wanita tetapi bersuara laki-laki.
jenis kelamin hanya 2 yaitu laki-laki dan Ataukah harus diakui perubahan gendernya
perempuan, juga adanya stigma bahwa tanpa atau dengan perubahan jenis kelamin
transgender merupakan sumber penyakit misalkan seorang transgender wanita
seperti HIV, bahkan di beberapa negara menjadi laki-laki yang ditempatkan di bagian
keberadaan transgender yang merupakan tenaga kerja laki-laki seperti tenaga
minoritas seksual dianggap membahayakan keamanan. Ataukah juga diakui sebagai
kesehatan dan moral masyarakat 1, 2, 3, 4, 5, 6. gender dan jenis kelamin baru 5, 6, 7, 8.
Permasalahan dalam kehidupan
PERMASALAHAN TRANSGENDER DAN sosial juga dapat meluas dan tidak terbatas
TRANSEKSUALISME hanya di bidang ketenagakerjaan, melainkan
Kesadaran dan kemajuan jaman akan juga pendidikan, kesehatan, dll. Di dalam
keberadaan kaum ini seharusnya membuka kehidupan sehari-hari, seorang transgender
pandangan lebih luas tentang masalah yang mendapatkan kesulitan dalam memperoleh
akan muncul apabila keberadaan mereka penempatan di toilet, kelas pendidikan yang
tidak diakomodasi dengan baik. Selama hanya satu jenis kelamin, ruang perawatan
masih ada diskriminasi terhadap mereka di rumah sakit yang tidak mencampur laki-
maka penindasan akan terus terjadi, laki dengan perempuan namun seorang
pekerjaan tidak diberikan sehingga trangender laki-laki menjadi perempuan
kehidupan perekonomian tidak membaik, akan sulit ditempatkan di ruang perawatan
kesehatan mereka tidak terurus bahkan perempuan sedangkan dirinya tidak akan
stigma bahwa mereka adalah sebagai mau diletakkan di dalam ruang perawatan
sumber penularan HIV bisa jadi terjadi, laki-laki, coverage asuransi kesehatan,
ditambah lagi keabsahan surat-surat penting perhitungan hak waris yang mana akan lebih
yang perlu mencantumkan jenis kelamin. banyak untuk laki-laki daripada perempuan
Keberadaan surat-surat ini sangat penting sehingga pertanyaannya adalah bagaimana
seperti akta lahir, surat pernikahan, untuk bila ahli warisnya trangender perempuan
mengurus bank/pinjaman, dan lain-lain. menjadi laki-laki, apakah akan
Karena itu keinginan untuk merubah jenis tetapmendapat jatah lebih banyak atau
kelamin pada akhirnya bukan menjadi suatu tetap dengan porsi perempuan, dll 5, 6, 7, 8.
hal yang bisa terus dianggap tidak ada dan
ini akan menjadi salah satu bentuk tugas TINJAUAN PUSTAKA
bagi suatu negara agar dapat
mengakomodasi kebutuhan tersebut 5, 6, 7, 8
. 2.1 SEKS ATAU JENIS KELAMIN
Permasalahan lain yang muncul adalah Secara biologis manusia dilahirkan
dari sudut pandang hak asasi manusia, dengan jenis kelamin tertentu yaitu laki-laki
masih perlu diperdebatkan juga tentang atau perempuan, hal ini disebabkan karena
makna diterimanya konsep transgender. adanya kromosom yang terdapat didalam
Apakah keberadaan mereka cukup diakui tubuh manusia. Kromosom adalah struktur
dan diterima sebagai tenaga kerja, seperti di dalam sel inti yang terdiri dari DNA yang

160 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Klarisa, Kepastian Hukum....

terikat dengan histon dan protein lain. tampak pada sindroma turner dengan
Didalam nukleus sel tubuh manusia terdapat monosomi 45X, sindroma klinefelter yang
46 kromosom, dimana 23 berasal dari sel memiliki 47 XXY, karena memiliki 2 buah
telur dan 23 berasal dari sperma. Pada saat kromosom X mengakibatkan perkembangan
pembuahan terjadi kromosom tersebut akan abnormal dari testis dan perkembangan seks
saling berpasangan. Bila sel telur dengan 22 sekunder inkomplit yang terkadang individu
kromosom-X bertemu dengan sperma berpenampilan perempuan 9,10, 11, 12, 13, 14.
dengan 22 kromosom-Y, akan menyebabkan
diferensiasi testis pada usia sekitar 10 2.3 GENDER
minggu kehamilan dan individu tersebut Gender merujuk pada konstruksi
menjadi laki-laki sedangkan saat sel telur sosial, kultural, dan simbol-simbol dari
dengan 22 kromosom-X bertemu dengan femininitas dan maskulinitas yang terdapat
sperma 22 kromosom-X maka ovarium akan dalam suatu masyarakat. Definisi ini
berkembang karena pengaruh dari testis mengasumsikan bahwa seks tidak dapat
determinating factor (TDF) tidak ada diubah sedangkan gender bisa berubah.
sehingga akan terbentuk anatomi tubuh Peran tingkah laku gender mengacu pada
perempuan 9, 10, 11. aktivitas, ketertarikan, penggunaan simbol,
gaya, ataupun hal personal lain dan atribut
2.2 KELAINAN PADA PEMBENTUKAN sosial yang dikenali sebagai feminin atau
JENIS KELAMIN maskulin. Identitas gender ini mulai
Jenis kelamin dapat mengalami berkembang saat seorang anak berusia 18
kelainan yang disebabkan kegagalan bulan, di usia 2 sampai 4 tahun seorang anak
diferensiasi seksual akibat dari mutasi atau sudah dapat membedakan gendernya dan
anomali struktur gen seperti hermafrodit menggunakan kata ganti him atau her ,
yang memiliki ovarium sekaligus testis, sampai di usia 5 atau 6 tahun seorang anak
hyperplasia adrenal congenital atau sudah secara stabil menyadari gendernya 11,
14, 17
androgenital syndrome yang mempengaruhi .
wanita dengan 46 XX namun penampilan
pria akibat kelainan resesif autosom yang 2.4 TRANSEKSUALISME
diturunkan sehingga terjadi defisiensi Dalam tumbuh kembang seorang
kortisol, sindrom insensitifitas androgen manusia, kadang terdapat ketidaknyamanan
yaitu kelainan resesif berkaitan dengan dalam menjalani gender yang dimiliki
kromosom X dimana secara genetik individu dengan seksualitas secara anatomis yang
tersebut laki-laki namun memiliki payudara dimiliki, yang secara kejiwaan dikenal
yang berkembang dan penampilan seperti dengan gender identity disorder. Gender
wanita akibat jaringan tubuhnya tidak identity disorder ada 2 yaitu gender
berespon terhadap hormon androgen tetapi nonconformity atau transgender identity dan
justru estrogen. Kelainan pada kromosom gender dysphoria 13, 16, 15, 18.
juga dapat menyebabkan kelainan pada jenis Gender nonconformity atau
kelamin yaitu pada kondisi aneuploidy. transgender identity terjadi ketika seseorang
Aneuploidy merupakan suatu kondisi jumlah merasakan keganjilan pada gender
kromosom berkurang (monosomi) atau berdasarkan kromosom, hormon, organ, dan
berlebih (polisomi). Kondisi aneuploidy bisa karakteristik seksual sekunder yang didapat

161 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Klarisa, Kepastian Hukum....

seseorang sejak lahir. Dimana kelainan dapat menimbulkan kecemasan, stress,


genetik yang dimiliki oleh seorang individu maupun depresi sehingga dapat
dapat mempengaruhi dirinya dalam mengganggu fungsi hidup sehari-hari. Pada
menjalankan kehidupan sehari-hari, sebagai tahapan yang lebih parah, apabila kondisi
contoh pada penderita sindrom Klinefelter ketidaknyamanan ini tidak diatasi dapat
seolah-olah tubuhnya adalah perempuan menimbulkan kegilaan bahkan keinginan
dan dengan makin berjalannya waktu dapat untuk bunuh diri. Seseorang yang
muncul testis di alat kelaminnya yang dapat mengalami Gender dysphoria pada saat awal
membuat bingung individu tersebut. Kondisi akan disarankan untuk mengkomunikasikan
medis yang timbul akibat kelainan ini secara rasa tidak nyaman tersebut, apabila tidak
umum akan membuat individu tersebut ada perubahan maka langkah selanjutnya
mencoba untuk menyesuaikan dengan jenis dapat dilakukan terapi hormon sampai
kelamin yang seharusnya, meski mungkin ia akhirnya operasi perubahan jenis kelamin.
sudah hidup dengan jenis kelamin lain Perubahan jenis kelamin pada seseorang
sepanjang hidupnya. Untuk dapat merubah yang mengalami Gender dysphoria akan
jenis kelamin secara anatomis dan legal ini menemui lebih banyak kesulitan karena
dibutuhkan kejelasan prosedur pelaksanaan secara anatomis dan biologis tidak ada
dari segi medis maupun hukum agar pada indikasi kuat untuk dilakukan operasi
akhirnya dapat dilakukan perubahan di akta tersebut, selain itu dibutuhkan suatu
individu ini 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19. evaluasi mental yang sangat mendalam
Gender dysphoria terjadi ketika untuk penilaiannya, karena sangat tidak
identitas gender seseorang tidak sesuai wajar apabila sesorang mengganti jenis
dengan yang dimilikinya dengan disertai rasa kelaminnya berkali-kali. Kesulitan lainnya
tidak nyaman dan tidak suka terhadap dalam pengesahan penggantian jenis
karakteristik gender eksternal dan memiliki kelamin Gender dysphoria adalah keyakinan
keinginan untuk merubah secara berbeda masyarakat bahwa kondisi ini merupakan hal
dari saat lahir, sebagai contoh seorang yang yang tabu, kurang mendalami ajaran agama,
lahir sebagai laki-laki tetapi merasa di dalam kurang mensyukuri hidup, tidak sesuai
dirinya adalah seorang perempuan, sehingga dengan etika, dan lain sebagainya. Padahal
dalam kesehariannya orang tersebut akan menurut DSM V (Diagnostic and Statistical
mengenakan atribut perempuan. Beberapa Manual of Mental Disorders) yang
gejala yang dapat dilihat: mereka bertahan diterbitkan tahun 2013, kondisi tersebut
dengan jenis kelamin yang dirasakan bukanlah bagian dari gangguan jiwa selama
didalam dirinya meski bertentangan dengan tidak ada hendaya ataupun handaya dalam
penampilan fisik, mereka mencari teman menjalankan kehidupan sehari-hari
yang sesuai dengan jenis kelamin yang termasuk dalam berinteraksi dengan sekitar,
dirasakan, menghindari mainan yang tidak yang bila terjadi hendaya maupun handaya
sesuai dengan jenis kelamin yang dirasakan, justru terapi lebih lanjut dalam mengatasi
memilih kencing dengan posisi jongkok ketidaknyamanan tersebut yang harus
daripada berdiri jika dia merasa dirinya dilakukan bahkan bisa sampai anjuran untuk
perempuan padahal lelaki. terapi hormone bahkan perubahan jenis
Ketidaknyamanan akan jenis kelamin kelamin. Di Indonesia, dalam memandang
yang tidak sesuai dengan yang dirasakan gender identity disorder beberapa ahli masih

162 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Klarisa, Kepastian Hukum....

menggunakan Pedoman Penggolongan dan akhirnya melakukan pekerjaan seperti


Diagnosis Gangguan Jiwa / PPDGJ ke III yang mengamen di pinggir jalan dengan
mengacu pada DSM IV dan diterbitkan tahun memperlihatkan bagian tubuh tertentu
1995, dimana keadaan ini masih dianggap hingga menjadi pekerja seks komersil atau
sebagai suatu gangguan kejiwaan yang PSK. Legalitas ini juga akan berakhir pada
seharusnya diperbaiki atau diterapi tanpa para transgender yang memutuskan untuk
harus mengubah jenis kelamin 13, 14, 15, 16, 17, mengganti kelaminnya, dimana perubahan
18, 19
. jenis kelamin akan mempengaruhi akta dan
ijazah, seperti akta kelahiran. Di Indonesia,
2.5 DASAR KEBERADAAN TRANSGENDER menurut Disdukcapil, akta akan menjadi
DAN TRANSEKSUALISME bukti bahwa Negara mengakui identitas
Keberadaan transgender dan seseorang sebagai warga negara dan
transeksualisme di seluruh dunia masih menjamin dirinya mendapat hak-haknya
menjadi sebuah kontrovesi, terlepas dari sebagai warga Negara, salah satunya adalah
penolakan-penolakan tersebut, keberadaan hak mendapat warisan 6, 7.
mereka seharusnya tetap dilindungi atau
diapresiasi karena adanya hak asasi manusia 2.5.1 DEKLARASI HAK ASASI MANUSIA
yang melekat pada diri mereka sebagai Transgender (termasuk didalamnya
seorang individu. Saat menilik hal tersebut, transeksualisme) dalam lingkup HAM (Hak
ada beberapa hal yang menjadi masalah Asasi Manusia) termasuk dalam lingkup
karena keberadaannya sebagai seorang minoritas seksual, dimana mereka tetap
manusia. Berawal dari legalitas keberadaan memiliki hak karena bukan dianggap
mereka di tengah struktur masyarakat, menyimpang seksual. Istilah ini sebagai salah
selama mereka tidak diakui sebagai seorang satu tindakan politis untuk penghapusan
individu utuh, maka akan banyak terdapat diskriminasi. Bagaimanapun, sebagai
stigma yang biasanya muncul dari manusia mereka tetap memiliki hak sebagai
penampilan atau cara mereka bertingkah individu dan hak sebagai kelompok.
laku dan berkomunikasi. Stigma negatif yang Keberadaan mereka yang masih
melekat akan membuat mereka menjadi tersingkirkan dari pengakuan sosial akan
lapisan masyarakat yang rentan terhadap memperlemah status terhadap hak.
berbagai bentuk kekerasan, baik kekerasan Menurut Imannuel Kant, negara yang
fisik seperti penyiksaan, kekerasan psikis beradab dinilai atas dasar kontrak sosial
seperti hinaan, kekerasan seksual, adanya yang mengekspresikan konsep humanitas,
paksaan untuk menikah dengan lawan jenis hak setiap orang dijamin, dengan batasan
sebagai bentuk dari usaha “menyehatkan” tertentu agar kebebasan individu lainnya
mereka, termasuk ketidakadilan dalam juga terjaga. Ada 3 prinsip dasar Kant yang
mendapatkan pekerjaan. dapat menjadi pertimbangan keberadaan
Ketiadaan lapangan pekerjaan yang hak manusia yaitu kebebasan dimana setiap
bersedia menampung diakibatkan dari orang mempunyai hak untuk mendapatkan
masyarakat yang juga kadang merasa tidak kebahagiaan sesuai dengan keinginannya
cocok bila dilayani oleh mereka, hal ini sendiri selama tidak melanggar hukum dan
makin menguatkan mereka mencoba sesuai dengan prinsip hukum universal,
berbagai macam cara untuk bertahan hidup prinsip kedua adalah kesetaraan untuk

163 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Klarisa, Kepastian Hukum....

memiliki kesempatan untuk menempati termasuk makanan, tempat tinggal,


posisi atau pangkat sesuai kebakatannya, perawatan kesehatam dan pelayanan sosial,
dan ketiga adalah otonomi yang lebih dan masih banyak lagi. Hak untuk sehat
menyoroti kemampuan suatu negara merupakan standar tertinggi yang dapat
menghasilkan produk hukum publik yang dicapai untuk sehat. Di dalam HAM, juga
dapat diterima oleh masyarakat. Seiring terdapat hak berdasarkan kesehatan salah
dengan perkembangan HAM, maka satunya dinyatakan bahwa HAM
keberadaan transgender dapat dimasukkan menggunakan cara pandang gender, dimana
ke generasi 1 yaitu hak – hak sipil dan politik, faktor biologis dan sosiokultural memainkan
untuk hak sipil yang dimiliki adalah hak peranan penting dalam mempengaruhi dan
untuk menentukan nasib sendiri, hak untuk membedakan kesehatan antara perempuan
hidup, dan hak untuk tidak disiksa. dan laki-laki 24, 25.
Berdasarkan Deklarasi Hak Asasi Manusia di Menurut WHO, sehat adalah suatu
artikel 1 tertulis “All human beings are born kondisi bebas dari penyakit atau kelemahan
free and equal in dignity and rights. They are secara utuh baik fisik, mental dan keadaan
endowed with reason and conscience and sosial. Dari sudut pandang ini, dapat dilihat
should act towards one another in a spirit of bahwa seseorang yang mengalami gender
brotherhood.” Dan artikel 2 berbunyi identity disorder, baik karena gender
“Everyone is entitled to all the rights and nonconformity atau transgender identity
freedoms set forth in this Declaration, maupun gender dysphoria tetap mendapat
without distinction of any kind, such as race, perlindungan dari segi HAM untuk
colour, sex, language, religion, political or memperbaiki fisiknya. Jika mengalami
other opinion, national or social origin, gender nonconformity atau transgender
property, birth or other status. Furthermore, identity maka ia berhak untuk menyesuaikan
no distinction shall be made on the basis of jenis kelaminnya dan menghilangkan atribut
the political, jurisdictional or international kelamin yang ada di tubuhnya, sedangkan
status of the country or territory to which a pada gender dysphoria, untuk mendapatkan
person belongs, whether it be independent, kesehatan mental dan terhindar dari
trust, non-self-governing or under any other gangguan mental akibat rasa tidak nyaman
limitation of sovereignty.” 4, 18, 23 yang dimilikinya, maka orang tersebut pun
Bagaimana dengan hak asasi manusia berhak untuk mengubah jenis kelaminnya.
yang berhubungan dengan kesehatan? Dan pada gender dysphoria, tidak dapat
Terdapat hubungan kompleks antara dikatakan secara mentah sebagai suatu
kesehatan dan HAM, yaitu kebijakan atau gangguan mental hingga tidak boleh
program kesehatan dapat menjunjung atau dilakukan penyesuaian jenis kelamin karena
melanggar HAM serta kurangnya perhatian adanya pelanggaran terhadap nilai
terhadap kesehatan dapat diatasi dengan masyarakat karena menurut “Principles for
melindungi dan memenuhi kebutuhan akan Protection of Persons with Mental Illness and
HAM, seperti menghindari penyiksaan The Improvement of Mental Health Care”
sehingga setiap manusia memiliki yang dikeluarkan oleh komisi HAM
kemerdekaan untuk menentukan apakah Perserikatan Bangsa Bangsa tahun 1991,
dirinya dapat dijadikan obyek percobaan, dalam menentukan kelainan atau gangguan
mendapat standar kehidupan yang layak mental, tidak boleh dipengaruhi oleh konflik

164 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Klarisa, Kepastian Hukum....

keluarga atau profesional, atau adanya Beberapa negara di dunia sudah


ketidaksesuaian dengan moral, sosial, atau memiliki kebijakan-kebijakan untuk
nilai politik maupun nilai kepercayaan di mengatur perubahan jenis kelamin. Di
komunitas orang tersebut 24, 25. Amerika Serikat, hukum yang dijadikan
pegangan untuk perubahan jenis kelamin
2.5.2 UNDANG-UNDANG HAK ASASI tergantung dari negara bagian yang
MANUSIA DI INDONESIA ditempati, seperti di Texas untuk perubahan
Di Indonesia ada undang-undang jenis kelamin sempat dilarang pada tahun
yang mendukung keberadaan HAM sehingga 1999 dengan alasan apapun, namun pada
secara tidak langsung dapat mendukung tahun 2009 keadaan ini berubah dimana
keberadaan transgender (termasuk perubahan jenis kelamin sudah dapat
transeksualisme) yaitu Undang-Undang disahkan melalui pengadilan. Di New York,
nomor 39 tahun 1999 pasal 2 yang perubahan jenis kelamin disahkan oleh
menyatakan bahwa “Negara Republik departemen kesehatan setelah menerima
Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi berkas surat sah mengenai perubahan
hak asasi manusia dan kebebasan dasar tersebut dari dokter, perawat, asisten
manusia sebagai yang secara kodrati dokter, yang berlisensi praktek di Amerika
melekat pada dan tidak terpisahkan diri Serikat, memberikan terapi, meninjau, dan
manusia, yang harus dilindungi, dihormati, mengevaluasi perubahan jenis kelamin
dan ditegakkan demi peningkatan martabat dengan mencantumkan nomor registrasi
kemanusiaan, kesejahteraan, dan lisensi praktek, pernyataan tidak bias dalam
kecerdasan serta keadilan”, pasal 3 ayat 1 penilaian, dan pasien tersebut telah
“Setiap orang dilahirkan bebas dengan menerima terapi yang tepat. Di Hawai jenis
harkat dan martabat manusia yang sama kelamin yang diakui adalah yang sesuai
dan sederajat serta dikaruniai akal dan hati dengan keadaan saat itu, sehingga
nurani untuk hidup bermasyarakat, perubahan dapat dilakukan dengan syarat
berbangsa, dan bernegara dalam semangat dokter yang merawat memiliki relasi yang
persaudaraan” dan ayat 3 yang berbunyi baik dengan pasien, telah dilakukan terapi
“Setiap orang berhak atas perlindungan hak dan evaluasi terhadapat riwayat medis,
asasi manusia dan kebebasan dasar pasien telah mendapat terapi klinis yang
manusia, tanpa diskriminasi” dan terakhir di sesuai dan perubahan jenis kelamin telah
pasal 4 “Hak untuk hidup, hak untuk tidak selesai sempurna dan dokter telah
disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan memeriksa adanya perubahan jenis kelamin
hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak dari saat lahir dengan yang sekarang. Sedikit
diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi berbeda dalam alur pengesahannya, di
dan persamaan dihadapan hukum, dan hak Oregon, untuk perubahan jenis kelamin
untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang didahului dengan penilaian medis yang
berlaku surut adalah hak asasi manusia yang menyatakan telah dilakukan penyesuaian
tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun jenis kelamin “sexual reassignment” seperti
dan oleh siapapun.” 20 operasi, terapi hormonal, dan terapi lainnya,
yang berlanjut dengan pengajuan ke
2.6 KEPASTIAN HUKUM PERUBAHAN pengadilan untuk pengesahan 23, 26, 27, 28, 29.
JENIS KELAMIN DI BEBERAPA NEGARA

165 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Klarisa, Kepastian Hukum....

Di benua Eropa yaitu Belanda Norma menurut Kamus Besar Bahasa


perubahan jenis kelamin di surat sah dapat Indonesia adalah aturan atau ketentuan yang
dilakukan dengan atau tanpa adanya operasi mengikat warga kelompok dalam masyarakat,
pergantian jenis kelamin. Sedangkan di dipakai sebagai panduan, tatanan, dan
Australia terdapat panduan tersendiri untuk pengendali tingkah laku yang sesuai dan
perubahan jenis kelamin, dimana perubahan berterima.
ini dapat dilakukan asalkan ada surat yang Dalam hal penyesuaian jenis kelamin,
menyatakan jenis kelamin saat ini dari beberapa norma agama di Indonesia
dokter (bedah, urologi, kebidanan, menyatakan secara tegas tidak menyetujui
endokrinologi, psikiatri maupun dokter adanya pergantian jenis kelamin karena
umum) atau dari pencatatan wilayah23, 26, 27, dianggap melawan kodrat manusia yang
28, 29
. sudah diciptakan secara sempurna, namun
Di salah satu wilayah Asia yang Fatwa MUI masih memungkinkan adanya
terkenal memiliki banyak transgender, yaitu penyesuaian jenis kelamin pada kasus
Thailand, tidak memiliki hukum yang seseorang dengan jenis kelamin ganda. Hal ini
mengatur dengan pasti apakah operasi secara bebas dapat dikatakan bahwa
penggantian jenis kelamin dilegalkan atau penyesuaian jenis kelamin masih dapat
tidak, sehingga tindakan yang diistilahkan
dilakukan namun dengan kriteria dan tatacara
dengan Sexual reassignment Surgery (SRS) tertentu. Kriteria agar dapat dilakukan
ini tetap dilakukan asalkan si peminta penyesuaian jenis kelamin inilah yang masih
berusia 18 tahun ke atas yang sudah dipertanyakan, karena aturan secara terinci
disetujui orang tua atau usia di atas 20 tahun mengenai penyesuaian jenis kelamin terakhir
disertai dengan pernyataan dari 2 orang ada di dalam Keputusan Menteri Kesehatan
psikiatris (yang salah satunya memiliki lisensi Republik Indonesia nomor
di Thailand) bahwa tindakan ini diperlukan. 191/MENKES/SK/III/1989 tentang
Di Thailand perubahan dari perempuan ke penunjukkan Rumah Sakit dan Tim Ahli
laki-laki lebih sulit dicari dan lebih mahal Sebagai Tempat dan Pelaksanaan Operasi
daripada sebaliknya 23, 26, 27, 28, 29 . Penyesuaian Kelamin. Di dalam Kepmenkes ini
dikatakan bahwa pada asasnya manusia
2.7 KEPASTIAN HUKUM PENYESUAIAN terdiri dari jenis laki-laki dan wanita, tetapi
JENIS KELAMIN DI INDONESIA pada kenyataannya terdapat orang-orang
Menilik dari beberapa peraturan yang berjenis kelamin berlawanan dengan
perundang-undangan di negara lain yang keadaan jiwanya, sehingga menimbulkan
secara tegas menyebutkan aturan perubahan penderitaan batin atau gangguan jiwa, dan
jenis kelamin, penyesuaian jenis kelamin di bila perlu dilakukan operasi penyesuaian
Indonesia tidak secara tegas dikatakan di kelamin sebagai tindakan terakhir. Selain itu
dalam Undang-Undang Kesehatan no. 36 ditimbang pula bahwa masalah operasi
tahun 2009, hanya disebutkan dalam pasal 69, penyesuaian kelamin bukan hanya
yaitu bedah plastik dan rekonstruksi hanya menyangkut bidang ilmu kedokteran, tetapi
dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang juga menyangkut bidang yang luas didalam
berwenang, tidak boleh bertentangan dengan masyarakat, antara lain bidang hukum dan
norma yang berlaku dalam masyarakat dan sebagainya.
tidak ditujukan untuk mengubah identitas.

166 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Klarisa, Kepastian Hukum....

Dan terakhir, bahwa untuk membutuhkan operasi penyesuaian jenis


melaksanakan operasi sebagaimana yang kelamin maupun tenaga kesehatan yang
dimaksud maka perlu ditunjuk rumah sakit melakukan 30, 31, 32, 33, 34, 35.
sebagai tempat pelaksanaaan operasi dan tim
ahli pelaksana dengan Keputusan Menteri SIMPULAN
Kesehatan. Dapat dilihat bahwa Kepmenkes
ini masih belum mengatur secara rinci kriteria Penyesuaian jenis kelamin bagi
dan tatacara apa saja yang dibutuhkan untuk transgender dan transeksualisme memang
penyesuaian jenis kelamin, termasuk langkah- masih menjadi kontroversi di masyarakat
langkah hukum apa saja yang harus dilakukan sehingga dibutuhkan peran pemerintah
sebelum keputusan operasi tersebut disetujui. untuk membuat aturan yang secara tegas
Langkah hukum yang diatur di Indonesia mengatur kepastian prosedural baik secara
hanya dapat ditemukan dalam Undang- hukum maupun medis bagi orang-orang
Undang Disdukcapil no. 23 tahun 2006 yang yang membutuhkan operasi tersebut
telah diubah dengan Undang-Undang No. 24 sehingga tidak lagi diperlukan ada jenis
tahun 2013 pasal 56, dikatakan bahwa kelamin ketiga atau yang sering disebut
pencatatan peristiwa penting lainnya waria. Karena perlu disadari secara penuh,
dilakukan oleh Pejabat Pencatatan Sipil atas perubahan dari penyesuaian jenis kelamin
permintaan yang bersangkutan setelah bukanlah hal sepele dimana bisa berganti
adanya penetapan pengadilan negeri yang terus menerus, sehingga penilaian kejiwaan
telah memperoleh kekuatan hukum tetap. serta kesiapan pasien perlu ditilik dengan
Didalam penjelasan disebutkan bahwa sangat mendalam, jangan sampai hanya
“Peristiwa Penting lainnya” adalah peristiwa menjadi keinginan sesaat tanpa
yang ditetapkan oleh pengadilan negeri untuk memperhatikan konsekuensinya.
dicatatkan pada Instansi Pelaksana, antara Dengan berkaca pada peraturan-
lain perubahan jenis kelamin. Aturan inipun peraturan yang sudah baku di luar negeri,
tidak secara jelas menyebutkan proses apa tanpa harus kehilangan jati diri dan norma di
saja yang harus dilalui agar seseorang yang Indonesia, ada baiknya jika dibuat suatu
membutuhkan penyesuaian jenis kelamin aturan yang dapat mendukung operasi
harus melalui tahapan apa saja sebelum penyesuaian jenis kelamin mulai dari kriteria
sampai ke pengadilan negeri, karena memang siapa saja dan dalam kondisi apa saja
Indonesia menganut sistem hukum yang diperlukan penyesuaian sampai tatacara
mengamanahkan pengaturan yang detil dan seperti evaluasi awal kejiwaan dan fisik
teknis ke peraturan di bawah Undang- seseorang yang membutuhkan penyesuaian.
Undang, misalnya peraturan Kriteria siapa dan pada kondisi apa saja serta
pemerintah.Kriteria dan tatacara penyesuaian tatacara yang harus dilakukan sebelum
jenis kelamin ini sebaiknya dibahasterlebih operasi dilakukan secara rinci sebaiknya
dahulu oleh para ahli agama, bio-etika, sosial, ditetapkan oleh profesi sedangkan legalitas
psikologi, serta perwakilan profesi kedokteran secara umum, dalam arti operasi
yang terkait. Penetapan kriteria dan tatacara penyesuaian jenis kelamin dapat dilakukan
penyesuaian jenis kelamin yang baik yang di Indonesia dan diakui oleh hukum dapat
kemudian dijadikan peraturan ditetapkan melalui peraturan perundang-
pemerintahdapat melindungi orang yang undangan.

167 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Klarisa, Kepastian Hukum....

DAFTAR PUSTAKA 2017 Feb 19]. Available from:


http://www.medscape.com/viewarticle/869
1. Suara kita. Jakarta: 2014 [cited 2017 Feb 424_2
19]. Available from:
http://www.suarakita.org/2014/11/gender- 9. Centre of Genetics Education [internet]. An
ketiga-seberapa-pentingkah/ Introduction to DNA, Genes, and
Chromosomes. NSW; 2016 [Updated 2016
2. Edisi News. Jakarta: 2013 [cited 2017 Feb June 10; cited 2017 Feb 19]. Available from:
19]. Available from: http://www.genetics.edu.au/Publications-
http://edisinews.com/berita-jumlah-waria- and-Resources/Genetics-Fact-
di-indonesia-diklaim-7-juta-orang.html Sheets/FactSheetDNAGenesChromosomes

3. Pusat Kebijakan dan Manajemen 10. U. S Library of Medicine [internet]. USA;


Kesehatan. Dilema Hukum tentang 2017 [cited 2017 Feb 19]. Available from:
Pengakuan Eksistensi Waria: Sebuah https://ghr.nlm.nih.gov/primer/basics/chro
Perspektif Sejarah [internet]. Jakarta; 2010 mosome
[cited 2017 Feb 19]. Available from:
http://kebijakanaidsindonesia.net/id/comp 11. WHO. Gender and Genetics [internet]. USA;
onent/content/article/38-info-proyek- 2017 [cited 2017 Feb 19]. Available from:
project-info/progress-report/1267-dilema- http://www.who.int/genomics/gender/en/i
hukum-tentang-pengakuan-eksistensi- ndex1.html
waria-sebuah-perspektif-sejarah
12. Kliegman RM, Stanton BF, Geme JWS, Schor
4. Saraswati LG, Basari T, Adian DG, NF. Textbook of Pediatrics: Sexual Identity
Boangmanalu SB, Wijayanto E, Haryatmoko, Development [internet]. United States:
Arivia G, et al. Hak Asasi Manusia Teori, Elsevier, 2016 [cited 2017 Feb 19]. Available
Hukum, Kasus. Depok: Filsafat UI Press, from:
2006. 170-171p. https://www.clinicalkey.com/#!/content/bo
ok/3-s2.0-
B9781455775668001101?scrollTo=%23hl00
5. Arus Pelangi. Peringatan Hari Mengenang 00891
Kekerasan dan Diskriminasi Terhadap
Transgender [internet]. Jakarta, 2014 [cited 13. Smith S, Whitwell S. Core Psychiatry:
2017 Feb 19]. Available from: Gender and Sexuality in Psychiatry
http://aruspelangi.org/siaran-pers/siaran- [internet]. United States: Elsevier, 2012
pers-peringatan-hari-mengenang- [cited 2017 Feb 19]. Available from:
kekerasan-dan-diskriminasi-terhadap- https://www.clinicalkey.com/#!/content/bo
transgender-se-dunia/ ok/3-s2.0-
B9780702033971000240?scrollTo=%23s002
6. BBC. Trensosial Transgender [internet]. 0
Jakarta; 2015 [cited 2017 Feb 19]. Available
from: 14. Allen L. Obstetrics And Gynecology Clinics:
http://www.bbc.com/indonesia/majalah/20 Disorders of Sexual Development [internet].
15/11/151120_trensosial_transgender United States: Elsevier, 2009 [cited 2017
Feb 19]. Available from:
7. Admin. Pembuatan Akta Kelahiran. Depok: https://www.clinicalkey.com/#!/content/jo
2017 [cited 2017 Feb 19]. Available from: urnal/1-s2.0-S0889854509000060
http://disdukcapil.depok.go.id/trend-
pembuatan-akta-kelahiran-tahun-2013/ 15. Fields L. What It Means to be Transgender.
[cited 2017 Feb 19]. Available from:
http://www.webmd.com/a-to-z-
8. Gupta S, Imborek KL, Krasowski MD. guides/features/transgender-what-it-means
Challenges in Transgender Healthcare: The
Pathology Perpective. Medscape [cited

168 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Klarisa, Kepastian Hukum....

16. Forcier M. Ferri’s Clinical Advisor: Gender 23. American Civil Liberties Union. Know Your
Dysphoria Disorder and Gender Rights: Transgender People and Law. USA;
Noncornformity [internet]. United States: 2017. [cited 2017 Feb 19]. Available from:
Elsevier, 2017 [cited 2017 Feb 19]. Available https://www.aclu.org/know-your-
from: rights/transgender-people-and-law
https://www.clinicalkey.com/#!/content/bo
ok/3-s2.0- 24. WHO. Principles for the protection of
B978032328048800302X?scrollTo=%23hl00 persons with mental illness and the
00018 improvement of mental health care
[internet]. USA; 1991 [cited 2017 Apr 15].
17. Hidalgo MA, Kuhns LM, Kwon S, Mustanski Available from:
B, Garofalo. R. Child Abuse And Neglect: The http://www.who.int/mental_health/policy/
Impact of Childhood Gender Expression on en/UN_Resolution_on_protection_of_perso
Childhood Sexual Abuse and ns_with_mental_illness.pdf
Psychopathology among Young Men Who
Have Sex With Men [internet]. United 25. WHO. Constitution Of The World Health
States: Elsevier, 2015 [cited 2017 Feb 19]. Organization [internet]. USA; 2006 [cited
Available from: 2017 Apr 15]. Available from:
https://www.clinicalkey.com/#!/content/jo http://www.who.int/governance/eb/who_c
urnal/1-s2.0-S0145213415001623 onstitution_en.pdf

26. Australian Government. Guidelines on the


18. Webmd [internet]. What is Gender Recognition of Sex and Gender [internet];
Dysphoria?; 2017 [cited 2017 Feb 19]. 2013 [updated November 2015, cited 2017
Available from: Feb 19]. Available from:
http://www.webmd.com/mental- https://www.ag.gov.au/Publications/Docu
health/gender-dysphoria#2 ments/AustralianGovernmentGuidelinesont
heRecognitionofSexandGender/AustralianG
19. Hukum Online [internet]. Jakarta; 2015 overnmentGuidelinesontheRecognitionofSe
[cited 2017 Feb 19]. Available from: xandGender.pdf
http://www.hukumonline.com/klinik/detail
/lt5499758a512e5/prosedur-hukum-jika- 27. Human Right Watch. The Netherlands:
ingin-berganti-jenis-kelamin Victory for Transgender Rights [internet];
2017 [cited 2017 Feb 19]. Available from:
20. Komnasham [internet]. Undang Undang https://www.hrw.org/news/2013/12/19/ne
Republik Indonesia Nomor 39 tahun 1999 therlands-victory-transgender-rights
Tentang Hak Asasi Manusia. Jakarta; 1999
[cited 2017 Feb 19]. Available from: 28. Lambda Legal. Know Your Right [internet];
https://www.komnasham.go.id/files/14752 2015. USA [updated 2015 March 2; cited
31474-uu-nomor-39-tahun-1999-tentang- 2017 Feb 19]. Available from:
$H9FVDS.pdf http://www.lambdalegal.org/know-your-
rights/article/trans-changing-birth-
21. United Nation. Declaration of Human Rights certificate-sex-designations
[internet]. USA: 2015 [cited 2017 feb 21].
Available from: 29. USAID. Being LGBT in Asia: Thailand Country
http://www.un.org/en/udhrbook/pdf/udhr Report. United Nation Development
_booklet_en_web.pdf Programe [internet]; 2014 [cited 2017 Feb
19]. Available from:
22. WHO. 25 Questions and Answers of Health https://www.usaid.gov/sites/default/files/d
and Human Rights [internet]. France; 2002 ocuments/1861/Being_LGBT_in_Asia_Thail
[cited 2017 Apr 13]. Available from: and_Country_Report.pdf
http://www.who.int/hhr/information/25_q
uestions_hhr.pdf 30. Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan. [cited 2017 June 19]. Available

169 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Klarisa, Kepastian Hukum....

from:
http://sireka.pom.go.id/requirement/UU- 34. Undang-Undang No. 23 tahun 2006 tentang
36-2009-Kesehatan.pdf DISDUKCAPIL. [cited 2017 June 19].
Availablefrom:http://disdukcapil.limapuluhk
31. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta otakab.go.id/downlot.php?...UU_NO_23_20
[cited 2017 May 04]. Availabe from: 06.
http://kbbi.web.id/norma
35. Undang-Undang no. 24 tahun 2013 tentang
32. Republika. Jakarta: 2016 [cited 2017 May Perubahan atas undang-undang nomor 23
04]. Available from: tahun 2006 tentang administrasi
http://khazanah.republika.co.id/berita/duni kependudukan. [cited 2017 June 19].
a-islam/fatwa/16/02/19/o2sba1394- Available from:
lengkap-fatwa-mui-tentang-operasi-alat- http://www.bpn.go.id/Publikasi/Peraturan-
kelamin Perundangan/Undang-Undang/undang-
undang-nomor-24-tahun-2013-4797
33. Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia nomor 191/MENKES/SK/III/1989
tentang penunjukkan Rumah Sakit dan Tim
Ahli Sebagai Tempat dan Pelaksanaan
Operasi Penyesuaian Kelamin. Sumber: Biro
Hukum Departemen Kesehatan RI.

170 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

KARAKTERISTIK JENAZAH TIDAK DIKENAL YANG DIPERIKSA DI


RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG TAHUN 2016

Kristina Uli1, Nita Novita1

Abstrak PENDAHULUAN
Jenazah tidak dikenal adalah yang tidak diketahui Pelayanan medikolegal di RSUP Dr.
identitasnya dan tidak ada orang yang mengakui
sebagai keluarga dan/atau mengurusnya. Selama Hasan Sadikin melakukan pemeriksaan
tahun 2016 di SMF Forensik dan Medikolegal RSUP
Dr. Hasan Sadikin Bandung, jumlah jenazah tidak
terhadap jenazah yang dikenal dan jenazah
dikenal yang diperiksa sebanyak 48 (13,8 %) jenazah yang tidak dikenal. Jenazah tidak dikenal
dari 349 jenazah. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah statistik deskriptif. Data yang adalah jenazah yang tidak diketahui
dianalisa merupakan data rekam medis dari jenazJah identitasnya dan tidak ada orang yang
tidak dikenal yang diperiksa selama periode 1 Januari
2016-1 Desember 2016. Karakteristik jenazah yang mengakui sebagai keluarga dan/atau
diamati dalam peneltian ini antara lain: jenis kelamin,
perkiraan usia, dan penyebab kematian. Hasil analisa mengurusnya. Jenazah yang tidak dikenal
menggambarkan jenazah tidak dikenal yang diperiksa: yang diperiksa selama tahun 2016 di SMF
laki-laki 34 jenazah (70,8 %) dan perempuan 14
jenazah (29,2 %), perkiraan usia terbanyak 51-60 Forensik dan Medikolegal RSUP Dr. Hasan
tahun, dan penyebab kematian terbanyak disebabkan
oleh infeksi. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini
Sadikin Bandung sebanyak (13,8 %) jenazah
adalah memperoleh gambaran katakteristik jenazah dari 349 jenazah. Pemeriksaan postmortem
tidak dikenal yang diperiksa.
Kata Kunci: jenazah tidak dikenal, karakteristik dilakukan oleh peserta didik dan karyawan di
jenazah, penyebab kematian
bawah pengawasan dokter ahli forensik.1
Afiliasi Penulis : 1. SMF Forensik dan Medikolegal RSUP Dr. Hasan
Sadikin. Korespondensi: Kristina Uli, email: ku.gultom@gmail.com.
METODE
Jenazah tidak dikenal yang diantar
oleh pihak kepolisian akan dilkukan
pemeriksaan setelah adanya Surat
Pemeriksaan Visum yang diantar oleh
penyidik. Karyawan kamar jenazah akan
melakukan pencatatan cara kematian
berdasarkan keterangan yang diberikan oleh
pihak kepolisisan. Pihak rumah sakit akan
menunggu kabar selanjutnya dari pihak
kepolisian apakah jenazah yang diantar
sebelumnya mempunyai identitas atau
tidak. Pihak rumah sakit akan melakukan
pemeriksaan dan penguburan. Dokter
pemeriksa melakukan pemeriksaan dan
membuat laporan Visum et Repertum.
Pembuatan cadaver dilakukan apabila
keadaan jenazah masih baik.2-4

171 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Kristina Uli, Karakteristik Jenazah....

Tingginya angka jenazah yang HASIL DAN PEMBAHASAN


diperiksa, menjadi perhatian untuk Selama periode 1 Januari - 1 Desember 2016
mengetahui karakteristik jenazah tidak jenazah tidak dikenal yang diperiksa sebanyak
dikenal yang diperiksa di SMF Forensik dan 48 kasus. Dari 48 kasus jumlah laki-laki 34
Medikolegal RSUP Dr. Hasan Sadikin (70,8 %) kasus dan perempuan 14 (29,2 %)
Bandung pada tahun 2016. Data yang kasus. Pada gambar 2 di bawah dijelaskan
dianalisa merupakan data rekam medis dari karakteristik jenazah tidak dikenal yang
jenazah tidak dikenal yang diperiksa selama diperiksa berdasarkan jenis kelamin.
periode 1 Januari 2016 - 1 Desember 2016.
Karakteristik yang diamati dalam peneltian
ini antara lain: jenis kelamin, perkiraan usia,
pemeriksaan dalam (otopsi), dan penyebab
kematian.2,5
Pemeriksaan terhadap jenazah tidak
dikenal dilakukan sesuai dengan Standar
Prosedur Operasional yang berlaku di SMF
Forensik dan Medikolegal RSUP Dr. Hasan
Sadikin Bandung. Pada gambar 1 di bawah
dijelaskan alur pemeriksaan jenazah tidak
Gambar 2. Karakteristik Jenazah Tidak
dikenal.2,5 Dikenal Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan karakteristik perkiraan


usia pada jenazah tidak dikenal yang diperiksa
diperoleh hasil analisa sebagai berikut: ≤ 20
tahun sebanyak 3 (6,25 %) kasus, 21-30 tahun
sebanyak 9 (18,75 %) kasus, 31-40 tahun
sebanyak 10 (20,83 %) kasus, 41-50 tahun
sebanyak 7 (14,58 %) kasus, 51-60 tahun
sebanyak 15 (31,25 %) kasus, 61-70 tahun
sebanyak 4 (8,33 %) kasus. Pada gambar 3 di
bawah dijelaskan karakteristik perkiraan usia
pada jenazah tidak dikenal yang diperiksa.

Gambar 1. Alur Jenazah Tidak Dikenal di


RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung 2
Gambar 3. Karakteristik Jenazah Tidak
Dikenal Berdasarkan Perkiraan Usia

172 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Kristina Uli, Karakteristik Jenazah....

Hasil penelitian ini menunjukkan


Dari 48 kasus jumlah jenazah tidak jenazah tidak dikenal yang diperiksa
dikenal yang diperiksa sebanyak 32 (66,7 %) berdasarkan jenis kelamin laki-laki lebih
jenazah dilakukan pemeriksaan dalam banyak dibandingkan dengan perempuan.
(otopsi). Dari 32 jenazah yang dilakukan Penelitian yang dilakukan oleh Hideto Susuki
otopsi penyebab kematian adalah infeksi 10 dkk dan Fawzi A.M. dkk menunjukkan hasil
(31,3 %) kasus, trauma 9 (28,1 %) kasus, yang sama dengan penelitian ini. 7,8
gangguan sirkulasi pembuluh darah 7 (21,9 Identifikasi perkiraan usia dapat dilakukan
%) kasus, penyakit pencernaan 1 (3,1 %) melalui pemeriksaan gigi dan penutupan
kasus, dan belum/tidak diketahui sutura. Hasil penelitian ini menunjukkan
penyebabnya 5 (15,6 %) kasus. Penyebab rentang usia jenazah tidak dikenal terbanyak
kematian pada jenazah tidak dikenal dapat pada usia 51-60 tahun.9,10
dilihat pada tabel 1. Penyebab kematian Dari 48 kasus hanya 32 kasus yang
dikategorikan berdasarkan Medical dilakukan otopsi. Infeksi merupakan
6
Certification of Cause of Death. penyebab kematian yang terbanyak pada
jenazah tidak dikenal yang diperiksa.
Tabel 1. Penyebab kematian pada jenazah Penentuan cara kematian di Indonesia
tidak dikenal
dilakukan oleh pihak kepolisian. Ahli forensik
No. Penyebab Kematian Jumlah tidak dihadirkan pada Tempat Kejadian
Perkara. Cara kematian tidak dapat
1 Infeksi 10 ditentukan pada penelitian ini. Di beberapa
2 Trauma 9 negara cara kematian dapat ditentukan oleh
Gangguan Sirkulasi ahli forensik, karena mereka dihadirkan
3 Pembuluh Darah 7 pada Tempat Kejadian Perkara.
Penyakit
4 Pencernaan 1
Belum/tidak SIMPULAN
5 diketahui 5 Hasil penelitian jenazah tidak dikenal
Jumlah 32 yang diperiksa menunjukkan jenis kelamin
laki-laki lebih banyak dibandingkan
PEMBAHASAN perempuan, usia terbanyak pada usia lanjut,
Jenazah tidak dikenal adalah jenazah dan penyebab kematian terbanyak
yang tidak diketahui identitasnya dan tidak disebabkan oleh penyakit. Masih diperlukan
ada orang yang mengakui sebagai keluarga penelitian lebih lanjut terkait karakteristik
dan/atau mengurusnya. Penelitian ini jenazah tidak dikenal yang diperiksa.
dilakukan terhadap jenazah tidak dikenal
yang diantar oleh pihak kepolisian untuk
dilakukan pemeriksaan. Hasil dari penelitian .
ini adalah mendapatkan gambaran
karakteristik jenazah tidak dikenal yang
diperiksa selama periode 1 Januari – 1
Desember 2016.1-5

173 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Kristina Uli, Karakteristik Jenazah....

DAFTAR PUSTAKA
1. SK PB IDI No. 231/PB/A4/07/90 tentang 7. Suzuki, H, Hikizi, W, Tamfuji, T, Abe, N, dan
definisi mati Fukunaga, T. 2013. Medicolegal death of
homeless persons in Tokyo Metropolis over
2. SPO Pembuatan Visum et Repertum (VeR) 12 years (1999-2010), Legal Medicine, Vol.
Forensik Klinik RSUP Dr. Hasan Sadikin 15, pp. 126-133
Bandung. 2014
8. Benomran, F. A. 2009. The medico-legal
3. Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1981 scene in Dubai: 2002-2007, Journal of
tentang bedah mayat klinis dan bedah mayat Forensic and Legal Medicine, Vol. 16, pp. 332-
anatomis serta transplantasi alat dan atau 337
jaringan tubuh manusia
9. Glinka, J., Artaria, M. D., dan Koesbardiati, T.
4. Undang-undang No. 8 tahun 1981 tentang 2008. Metode Pengukuran Manusia,
Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana Airlangga University Press,Surabaya
(KUHAP), pasal 1 ayat 28, pasal 120, pasal
133, pasal 136, dan pasal 179 10. Indriati, E. 2010. Antropologi Forensik, Gajah
Mada University Press, Yogyakarta
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008
Tentang Rekam Medis.

6. WHO. 1979. Medical Certification of Cause of


Death: Instructions for Physicians on Use of
International Form of Medical Certificate of
Cause of Death, Geneva

174 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA PADA PRIA


(LAPORAN KASUS)
Liya Suwarni1, Julia Ike Haryanto2

Abstrak PENDAHULUAN
Kekerasan dalam rumah tangga terhadap pria berkaitan Kekerasan Dalam Rumah Tangga
dengan kekerasan dalam rumah tangga yang dialami
oleh pria atau anak laki-laki dalam hubungan intim menjadi kasus yang tak pernah habis dibahas
seperti pernikahan, hidup bersama, atau dalam
keluarga. Seperti kekerasan dalam rumah tangga
karena meskipun berbagai instrumen
terhadap perempuan, kekerasan terhadap pria mungkin hukum, mulai dari internasional sampai pada
merupakan kejahatan, namun hukum bervariasi di
antara wilayah hukum. Norma sosial budaya mengenai tingkat nasional belum mampu menekan
perlakuan pria dengan wanita, dan wanita oleh pria, angka kasus Kekerasan Dalam Rumah
berbeda tergantung pada wilayah geografis, dan
perilaku kasar secara fisik oleh salah satu pasangan Tangga yang terjadi. Dengan jumlah kasus
terhadap yang lain dianggap berbeda sebagai kejahatan
serius untuk masalah yang lebih pribadi. Prevalensi dan yang semakin meningkat dari tahun ke
frekuensi KPI terhadap pria sangat diperdebatkan, tahun, hal ini menimbulkan keprihatinan
dengan studi yang berbeda menghasilkan kesimpulan
yang berbeda untuk negara yang berbeda, dan banyak tersendiri karena memicu tingginya angka
negara tidak memiliki data sama sekali. Beberapa
peneliti percaya bahwa sebenarnya jumlah korban pria
korban yang mengalami perlukaan akibat
cenderung lebih besar dari statistik yang dinyatakan oleh kekerasan dan juga meningkatnya angka
penegakan hukum, karena tingginya jumlah pria yang
tidak melaporkan kekerasan terhadap mereka. Sebuah perceraian. Kekerasan dalam rumah tangga
laporan kasus kekerasan dalam rumah tangga yang
dilakukan istri terhadap suami. Seorang pria berusia 33
dapat terjadi baik pada pria maupun wanita.
tahun mengalami kekerasan dalam rumah tangga akibat Namun pria sangat jarang melaporkan
dianiaya oleh istrinya, korban dicakar pada bagian pipi
kanan dan pipi kiri, dipukul dengan tangan kosong pada kekerasan yang dialami dengan berbagai
bagian wajah, digigit pada lengan atas kanan dan alasan. Tujuan untuk mengetahui pengertian
ditendang pada lutut kanan. Korban mengalami luka
memar dan luka lecet di beberapa bagian tubuh. kekerasan dalam rumah tangga, untuk
Kekerasan dalam rumah tangga dapat terjadi baik pada
pria maupun wanita. Namun pria sangat jarang mengetahui bentuk-bentuk kekerasan dalam
melaporkan kekerasan yang dialami dengan berbagai rumah tangga, untuk mengetahui jenis luka
alasan.
Kata Kunci: kekerasan dalam rumah tangga,pria, apa saja yang terjadi pada kekerasan dalam
traumatologi
rumah tangga.
Afiliasi Penulis: 1. PPDS Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang
2. Staf Pengajar IlmuKedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas METODE
Kedokteran Universitas Diponegoro/ RSUP Dr. Kariadi Jl. Dr. Sutomo
no.16 Semarang. Korespondensi: Liya Suwarni Metode penelitian yang dilakukan
adalah laporan kasus. Dengan kronologis
sebagai berikut : Kurang lebih dua hari
sebelum korban datang ke RSUP dr.Kariadi
Semarang, korban bertengkar dengan istri
korban, kemudian korban dicakar di pipi
kanan dan kiri lalu dipukul di wajah dengan
tangan kosong, korban pun digigit di lengan
atas kanan dan ditendang di lutut kanan.
Sebelumnya korban pernah mengalami
kejadian yang sama sebanyak dua kali.

175 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Liya Suwarni, Kekerasan Dalam.....

Korban adalah seorang pria berusia 33


tahun, dengan berat badan 90 kg dan tinggi
badan 160 cm, didapatkan indeks massa
tubuh 34,7 kg/m2.
Dari pemeriksaan fisik tubuh bagian luar,
didapatkan tanda –tanda vital sebagai
berikut:
 Kesadaran : sadar penuh
 Tekanan darah : 140/100 mmHg
 Nadi : 102 x/menit
 Suhu : 34,6 0 C
 Pernafasan : 20 x/menit
Pada pemeriksaan fisik luar didapatkan :

HASIL
Dari laporan kasus tersebut didapatkan
kesimpulan visum sebagai berikut :
Berdasarkan temuan-temuan yang di
dapatkan dari pemeriksaan atas korban
tersebut maka saya simpulkan bahwa

176 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Liya Suwarni, Kekerasan Dalam.....

korban adalah seorang laki-laki, umur tiga berada dalam rumah tangga yang
puluh tiga tahun dua bulan empat belas hari, bersangkutan. Kekerasan dalam rumah
kesan gizi lebih. Dari pemeriksaan luar tangga pada pria dilaporkan ada 10 kasus
didapatkan luka akibat kekerasan tumpul di RSUP Kariadi Semarang dengan rentang
berupa luka memar pada anggota gerak waktu Maret 2015 sampai dengan Maret
bawah kanan; Luka lecet pada beberapa 2017, sedangkan kekerasan dalam rumah
bagian tubuh. Akibat hal tersebut tidak tangga pada wanita dilaporkan ada 125
menimbulkan gangguan dan halangan dalam kasus dengan rentang waktu yang sama.
menjalankan aktivitas dan pekerjaan untuk
sementara waktu.
Kasus kekerasan dalam
rumah tangga periode Maret
2015 - Maret 2017 di RSUP
PEMBAHASAN dr.Kariadi Semarang
Pada Pasal 1 Undang-Undang No. 23 0 7%
Tahun 2004 Tentang Penghapusan
Kekerasan Dalam Rumah Tangga, bahwa
pri
yang dimaksud dengan kekerasan dalam 93%
a
rumah tangga adalah: “setiap perbuatan
terhadap seseorang terutama perempuan,
yang berakibat timbulnya kesengsaraan,
atau penderitaan secara fisik, seksual
Salah satu faktor risiko kekerasan dalam
psikologis, dan/atau penelantaran rumah
rumah tangga terjadi pada usia dewasa
tangga, termasuk ancaman untuk melakukan
muda yaitu berkisar antara 18 tahun hingga
perbuatan, pemaksaan, atau perampasan
29 tahun.4
kemerdekaan secara melawan hukum dalam
Bentuk-bentuk kekerasan dalam rumah
lingkup rumah tangga”.3
tangga menurut Undang-Undang Nomor 23
Ruang lingkup rumah tangga diatur
Tahun 2004:
dalam Pasal 356 KUHP, juga diatur dalam
 Kekerasan fisik (Pasal 6 UU PKDRT).
pasal 2 ayat 1 dan 2 UUPKDRT, yaitu:
Kekerasan fisik adalah perbuatan
1. 1. Lingkup rumah tangga dalam Undang
yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit
Undang ini meliputi:
atau Iuka berat
a. Suami, istri, anak
b. Orang-orang yang mempunyai  Kekerasan psikis (Pasal 7 UU PKDRT).
hubungan keluarga dengan orang Kekerasan psikis adalah perbuatan
sebagaimana dimaksud pada huruf a yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya
karena hubungan darah, perkawinan, rasa percaya diri, hilangnya kemampuan
yang menetap dalam rumah tangga, untuk bertindak, rasa tidak berdaya,
dan/atau. dan/atau penderitaan psikis berat pada
c. Orang yang bekerja membantu seseorang.
rumah tangga dan menetap dalam  Kekerasan seksual (Pasal 8 UU
rumah tangga tersebut. PKDRT).
2. Orang yang sebagaimana dimaksud Kekerasan seksual adalah setiap
dalam huruf c dipandang sebagai anggota perbuatan yang berupa pemaksaan
keluarga dalam jangka waktu selama hubungan seksual dengan cara tidak

177 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Liya Suwarni, Kekerasan Dalam.....

wajar dan atau tidak disukai, pemaksaan baik pada pria dan wanita yang paling sering
hubungan seksual dengan orang lain ditemukan adalah kekerasan fisik.
untuk tujuan komersial dan atau tujuan
tertentu. Tabel 1. Jenis kekerasan dalam rumah tangga
pada pria dan wanita
 Kekerasan ekonomi
Berupa tidak diberikannya nafkah selama
Jenis Kasus Kasus
perkawinan atau membatasi nafkah secara
kekerasan pada pada
sewenang-wenang, membiarkan atau
pria wanita
bahkan memaksa istri bekerja keras, juga
Kekerasan √ √
tidak memberi nafkah setelah terjadi
fisik
perceraian meskipun pengadilan
Kekerasan - √
memutuskan.
seksual
 Penelantaran Rumah Tangga (Pasal 9
Kekerasan √ √
UU PKDRT).
psikis
a) Setiap orang dilarang menelantarkan
Kekerasan - √
orang dalam lingkup rumah tangganya,
ekonomi
padahal menurut hukum yang berlaku
Penelantaran - √
baginya atau karena persetujuan atau
rumah tangga
perjanjian ia wajib memberikan
kehidupan, perawatan, atau
pemeliharaan kepada orang tersebut. Pada kekerasan fisik dapat berupa
b) Penelantaran yang dimaksud pemukulan, pencakaran hingga kekerasan
sebelumnya juga berlaku bagi setiap seksual. Sedangkan kekerasan fisik secara
orang yang mengakibatkan tidak langsung biasanya berupa memukul
ketergantungan ekonomi dengan cara meja, membanting pintu, memecahkan
membatasi dan/atau melarang untuk piring, gelas, tempat bunga dan lain – lain,
bekerja yang layak di dalam atau di luar serta berlaku kasar.6 Penyebab kekerasan
rumah sehingga korban berada di fisik yang terjadi pada kasus KDRT
bawah kendali orang tersebut. kemungkinan karena saat kejadian
Menurut Mansour Fakih, kekerasan berlangsung, pelaku sedang mengalami
adalah seseorang atau invasi terhadap fisik tekanan atau dibawah pengaruh alkohol
maupun integritas mental psikologi sehingga hilang kendali dan kemudian
sesorang. Kekerasan terhadap sesama dengan mudah menggunakan kekuatan
manusia pada dasarnya berasal dari fisik.7,8
berbagai sumber, namun salah satu Pada pemeriksaan fisik didapatkan
kekerasan terhadap salah satu jenis kelamin adanya luka memar, luka gores, dan luka
tertentu yang disebabkan oleh anggapan lecet. Luka memar adalah suatu perdarahan
gender. Kekerasan yang disebabkan bias akibat pecahnya pembuluh darah kapiler
gender ini di sebuat gender relatedviolence. dan vena dalam jaringan bawah kulit atau
Pada dasarnya kekerasan gender disebabkan kutis yang disebabkan oleh kekerasan benda
oleh ketidak setaraan kekuatan yang ada tumpul, perdarahan yang terjadi
dalam masyarakat.5 Jenis kekerasan yang menyebabkan darah meresap ke jaringan
terjadi pada kekerasan dalam rumah tangga sekitarnya. Luka lecet terjadi akibat cedera

178 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Liya Suwarni, Kekerasan Dalam.....

pada epidermis yang bersentuhan dengan Tabel 3. Lokasi luka pada kekerasan dalam
rumah tangga pria dan wanita
benda yang memiliki permukaan kasar atau
runcing. Luka gores dan luka lecet
Lokasi luka Korban Korban
diakibatkan oleh benda runcing (misalnya
pria wanita
kuku jari yang menggores kulit) yang
Kepala & √
menggeser lapisan tersebut terangkat
wajah
sehingga dapat menunjukkan arah
Ekstremitas √
kekerasan yang terjadi atau terjadi akibat
atas
benda tumpul yang digunakan pelaku saat
Ekstremitas
melakukan kekerasan terhadap korban.9
bawah
Benda tumpul yang umumnya sering
digunakan adalah peralatan rumahtangga, Punggung √
seperti panci, gayung, penggiling adonan, Lokasi luka yang paling sering
gantungan baju, dan lain –lain.10 ditemukan pada kekerasan dalam rumah
Tabel 2. Jenis luka pada kekerasan dalam
tangga pada pria yaitu di daerah kepala -
rumah tangga pada pria dan wanita wajah dan ekstremitas atas dikarenakan
lokasi tersebut mudah dijangkau oleh tangan
Jenis luka Korban Korban pelaku.
pria wanita
SIMPULAN
Memar √ √
1. Jenis kekerasan yang sering terjadi pada
Luka lecet √ √
kekerasan dalam rumah tangga baik pria
Luka gores - √
maupun wanita ialah kekerasan fisik.
2. Korban yang mengalami KDRT sebagian
Jenis cedera yang paling sering besar mengalami kekerasan yang
terjadi pada kekerasan dalam rumah tangga berulang.
pada pria adalah luka lecet. Hal ini terjadi
karena sebagian besar pelaku KDRT pada
pria lebih mudah menggunakan kuku
sebagai senjata untuk melukai pasangannya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Canadian Centre for Justice Statistics, Family 3. Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 Tentang
Violence in Canada : A Statistical Profile 2000 Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah
( Ottawa : Statistical Canada; Catalogue no. Tangga
85-224-XIE,2000) : 9
4. Baker RB, Sommers MS. Physical injury from
2. Gelles, Richard J. The Missing Persons in intimate partner violence: measurement
Domestic Violence : Male Victims. strategies and challenges. JOGNN.
[online].[accessed February 5,2002]. 2008;37:228-33.
Available on Internet :
<http/tsw.odyssey.on.ca/~balancebeam/Dom 5. Mansour Fakih, Analisis Gender dan
estic Violence/gelles.htm> Transformasi Sosial (Yokyakarta: Pustaka
Pelajar, 2012), 16.

179 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Liya Suwarni, Kekerasan Dalam.....

6. Sheridan DJ, Nash KR. Acute injury patterns of 9. M.B Brinherhoff and E. Lupri, “ Interspousal
intimate partner violence victims. Trauma Violence,” Canadian Journal of Sociology,13,4
Violence Abuse. 2007;8:281-9. (Fall 1988): 423-24

7. Nur Aziz Muslim, Jurnal Studi Gender 10. K.D.O’Leary, ”Are Women Relly more
Indonesia, Pusat Studi Gender IAIN Sunan Aggressive Than men in Intimate
Ampel Surabaya, 2012, 70. Relationships?” Psychological Bulletin, 126,
5(2000) : 685-689
8. Cook, Philip W. Abused Men. The Hidden Side
of Domestic Violence. Watport, Connecticut:
Praeger, 1997

180 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

VALIDITAS RESAPAN DARAH PADA TULANG SEBAGAI PETUNJUK


INTRAVITALITAS PADA EKSHUMASI
Made Ayu Mira Wiryaningsih1, Oktavinda Safitry2

Abstrak PENDAHULUAN
Bila penyidik dalam rangkaian penyidikannya Ekshumasi berasal dari bahasa Latin
memerlukan bantuan dokter untuk melakukan
pemeriksaan terhadap jenazah yang telah dikubur, yaitu “ex” yang berarti keluar dari dan
maka dokter wajib melaksanakan ekshumasi. Jenazah
yang diperiksa saat ekshumasi sering kali sudah “humus” yang berarti tanah, sehingga
mengalami proses pembusukan lanjut, bahkan sudah ekshumasi berarti keluar dari tanah.1 Istilah
mengalami skeletonisasi. Hal ini menjadi penyulit
dokter dalam menentukan ada tidaknya tanda-tanda ekshumasi atau penggalian kubur lebih
kekerasan, intravitalitas luka serta sebab kematian.
Tanda-tanda kekerasan yang paling mudah dilihat
banyak digunakan pada pengambilan jenazah
pada jenazah yang sudah membusuk lanjut dan yang telah sebelumnya dikubur/dimakamkan
mengalami skeletonisasi adalah ketika kekerasan
tersebut mengakibatkan patah tulang. Namun tidak untuk kemudian dilakukan pemeriksaan post-
semua kekerasan menyebabkan patah tulang. mortem (otopsi atau otopsi ulang),
Kekerasan tumpul mungkin hanya menimbulkan jejas
berupa pewarnaan (bercak) pada tulang yang dikenal dibandingkan dengan penemuan jenazah yang
sebagai suatu resapan darah. Dalam makalah ini
dibahas mengenai validitas resapan darah pada tulang sengaja dikubur untuk menyembunyikan
sebagai petunjuk intravitalitas pada kasus ekshumasi. kematian.2 Kecurigaan terhadap kematian
Kata Kunci: resapan darah, tulang, ekshumasi,
intravitalitas. seseorang mungkin baru timbul setelah
Afiliasi Penulis: 1. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jalan penguburan dilaksanakan. Dalam rangkaian
Salemba Raya no.6, Jakarta Pusat 10430, Indonesia, 2. Departement
Forensik dan Medikolegal RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jalan Salemba penyidikannya, penyidik memerlukan bantuan
Raya no. 4, Jakarta Pusat 10430, Indonesia.
Korespondensi: Made Ayu Mira Wiryaningsih, email : dokter untuk melakukan pemeriksaan mayat
ayumira.wiryaningsih@gmail.com, Telp/Hp: (021) 3106976
yang telah dikubur tersebut. Dalam hal ini,
maka dokter mempunyai kewajiban untuk
melaksanakan pemeriksaan tersebut (sesuai
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana).
Namun, hasil pemeriksaan terhadap mayat
yang telah lama dikubur tidak akan memberi
hasil sebaik bila mayat diperiksa saat masih
segar.3 Jenazah yang diperiksa saat ekshumasi
sering kali sudah mengalami proses
pembusukan lanjut, bahkan sudah mengalami
skeletonisasi. Hal ini menjadi penyulit dokter
dalam menentukan ada tidaknya tanda-tanda
kekerasan, intravitalitas luka serta sebab
kematian.
Tanda-tanda kekerasan yang paling
mudah dilihat pada jenazah yang sudah
membusuk lanjut dan mengalami
skeletonisasi adalah ketika kekerasan tersebut

181 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Made Ayu Mira Wiryaningsih, Validitas Resapan.....

menimbulkan jejas pada tulang, misalnya memastikan makam yang akan digali sudah
patah tulang.4 Namun, tidak semua betul tempat korban dimakamkan.
kekerasan, misalnya kekerasan tumpul, akan Pada pemeriksaan luar, jenazah
menyebabkan patah tulang, kekerasan dibungkus kain kafan yang tampak tertutup
tersebut mungkin hanya menimbulkan jejas tanah berwarna coklat kehitaman dan teraba
atau cidera pada jaringan lunak diatasnya. basah, kecuali pada bagian wajah yang tidak
Resapan darah, suatu tanda intravitalitas luka tertutup kain. Jenazah berjenis kelamin laki-
yang biasanya dapat dilihat pada jaringan laki dengan panjang tubuh seratus lima puluh
lunak yang cidera, dapat menimbulkan delapan sentimeter, dengan rambut berwarna
perubahan warna (bercak) pada tulang hitam, tumbuhnya lurus dan panjang sepuluh
dibawahnya. Perubahan warna pada tulang sentimeter, dan tampak sudah mengalami
ini, tidak hanya timbul akibat adanya resapan pembusukan lanjut. Wajah tampak berwarna
darah, tetapi juga dapat disebabkan oleh kehitaman, dengan bagian kepala yang
berbagai faktor. Penentuan suatu bercak pada mengalami skeletonisasi ditutupi tanah yang
tulang sebagai resapan darah tidaklah berwarna coklat kehitaman. Jaringan lunak
mudah.5 Dalam makalah ini dibahas pada sebagaian badan, kedua lengan atas,
mengenai validitas resapan darah pada tulang kedua paha dan tungkai bawah kanan
sebagai petunjuk intravitalitas pada kasus berwarna kelabu keputihan. Pada bagian
ekshumasi. tubuh lainnya, seperti sebagian dari kepala,
ILUSTRASI KASUS kedua lengan atas, kedua tangan, kedua
Pada tanggal dua puluh satu Januari tungkai bawah dan kedua kaki tampak sudah
tahun dua ribu tujuh belas, bertempat di mengalami skeletonisasi.
Makam Keluarga Kampung Susukan, Desa Jaringan lunak dan otot pada pipi dan
Mekajaya Kecamatan Panggarangan rahang tampak berwarna kecoklatan dan lebih
Kabupaten Lebak, telah dilakukan ekshumasi, gelap dibandingan jaringan disekitarnya.
sesuai dengan surat permintaan dari Secara perlahan, jaringan lunak dan otot-otot
Kepolisian Daerah Banten Resort Lebak. wajah dan tengkorak dilepas hingga tulang-
Dalam surat tersebut dinyatakan permohonan tulang wajah dapat dilihat dengan jelas.
untuk dilakukannya pemeriksaan luar dan Tampak dua buah bercak berwarna merah
dalam untuk menentukan sebab akibat kecoklatan yang melingkari kepala; yang
kematian pada mayat Tn. K (almarhum) yang pertama melewati tulang occipitalis bagian
diduga mengalami luka-luka terkait jeratan atas, zygomaticus kiri, maksillaris,
dileher yang diduga akibat tindak pidana zygomaticus kanan, tulang-tulang dasar
pembunuhan yang terjadi pada tanggal rongga mata, dan kembali ke occipitalis
sebelas Juni tahun dua ribu enam belas. Tim bagian atas; dan yang kedua melewati tulang
Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD occipitalis bagian bawah, processus
Dr. Drajat Prawiranegara Serang terlebih mastoideus kiri, mandibular, processus
dahulu telah dilakukan koordinasi dengan mastoideus kanan, dan kembali ke tulang
penyidik, keluarga serta tokoh-tokoh desa occipitalis bagian bawah. Selanjutnya pada
agar proses ekshumasi dapat berjalan dengan tulang dahi sisi kiri tampak bercak berwarna
lancar. Sebelum penggalian kubur dimulai merah kecoklatan berukuran tiga sentimeter
telah dilakukan identifikasi makam untuk kali tiga sentimeter. Selain itu, saat tulang
dahi dibersihkan dari tanah yang menempel

182 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Made Ayu Mira Wiryaningsih, Validitas Resapan.....

diatasnya, tampak bercak-bercak berwarna tumpul pada leher.


hitam yang tidak hilang saat dibersihkan.
Jaringan lunak dan otot leher dilepas PEMBAHASAN
selapis demi selapis. Seluruh otot leher bagian Ekshumasi, dilakukan atas perintah
depan hingga otot-otot leher bagian dalam penyidik, mempunyai tujuan untuk membuat
disekitar tulang belakang ruas leher tampak terang suatu perkara, khususnya perkara
berwarna merah kecoklatan, pembuluh nadi pidana.6 Prosedur ekshumasi diatur di dalam
dan pembuluh balik leher sisi kiri tampak lebih KUHAP dan memerlukan surat permintaan
gelap dibandingkan sisi kanan. Pada tulang dari penyidik. Disamping itu, ekshumasi juga
belakang ruas leher pertama hingga sisi kiri memerlukan persiapan lain, yaitu koordinasi
serta ruas leher keempat hingga keenam dengan penyidik, pihak pemerintah daerah
tampak bercak berwarna merah kecoklatan. dan keluarga.3 Pada kasus ini, ekshumasi
Pada leher sisi kiri bagian atas ditemukan dilakukan sesuai permintaan dari Polres Lebak
patahan tulang dengan tepi yang tidak rata dan koordinasi dengan penyidik dilakukan
berukuran satu koma lima sentimeter kali nol sebelum hingga selesai ekshumasi. Dari hasil
koma enam sentimeter dan nol koma empat koordinasi dengan penyidik, didapatkan
sentimeter. informasi bahwa korban diduga mengalami
Patahan tulang setelah direkontruksi luka-luka terkait jeratan dileher akibat tindak
merupakan patahan dari tulang rawan pidana pembunuhan yang terjadi tujuh bulan
gondok. Tulang lidah ditemukan di rongga sebelum dilakukan ekshumasi. Penyidik
mulut dan tampak terlepas pada memberikan gambaran mengenai kondisi
persambungannya. Tulang rawan gondok korban saat ditemukan dan tempat kejadian
ditemukan pada bagian leher, tampak perkara. Informasi diberikan secara lisan
terlepas pada persambungan di bagian tengah maupun melalui foto. Terhadap korban tidak
dan pada tanduk atas sisi kanan tampak patah dilakukan pemeriksaan forensik dan keluarga
dengan tepi tidak rata disertai warna ingin segera melaksanakan proses
kemerahan disekitar patahan tersebut. Selain pemakaman. Koordinasi dokter, penyidik dan
itu ditemukan patahan tulang rawan cincin pihak lain yang terkait memperlancar jalannya
dengan tepi tidak rata dan berwarna proses ekshumasi.
kemerahan. Pada umumnya, jenazah yang diperiksa saat
Pada pemeriksaan dalam, iga-iga ekshumasi sudah mengalami proses
tampak terlepas dengan tulang dada dan pembusukan dan sebagian sudah mengalami
tulang belakang pada persambungan. Organ- skeletonisasi. Skeletonisasi merupakan
organ dalam berupa masa lunak yang sudah pembusukan yang sangat lanjut, dimana
tidak dapat dinilai lagi strukturnya. Dari hasil jaringan lunak (kulit, otot serta organ-organ)
pemeriksaan histopatologi jaringan sudah hancur. Suatu jenazah dikatakan
didapatkan gambaran sel-sel yang sudah lisis, mengalami skeletonisasi bila jaringan lunak
sehingga sulit dievaluasi secara mikroskopis yang ada kurang dari 60%.4 Proses ini
tanda-tanda intravitalitas. Ditemukannya dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk
patah tulang rawan gondok dan cincin, iklim, microenviroment dan ada tidaknya
menunjukan adanya kekerasan tumpul pada hewan pengerat disekitar jenazah.
leher. Sehingga pada kasus ini, penyebab Skeletonisasi akan berlangsung lebih
kematian dapat dijelaskan akibat kekerasan cepat pada jenazah yang berada dipermukaan

183 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Made Ayu Mira Wiryaningsih, Validitas Resapan.....

tanah dibandingkan dengan jenazah yang tulang yang ditemukan dicurigai sebagai suatu
dikubur. Secara umum, jaringan lunak akan tanda intravitalitas akibat adanya suatu
hilang setelah dua tahun.7 Pada kasus ini, trauma.
ekshumasi dilakukan setelah di kubur selama Dalam bidang forensik, analisis
tujuh bulan, jenazah tampak sudah mulai terhadap lesi atau bercak pada tulang dapat
mengalami skeletonisasi akarena jaringan memberikan informasi yang signifikan. Pada
lunak ditemukan pada sebagian badan, kedua kasus ekshumasi, terutama saat pemeriksaan
lengan atas, kedua paha dan tungkai bawah jenazah yang telah mengalami pembusukan
kanan (<60%). Selain itu, organ-organ dalam lanjut, tulang-belulang dapat menunjukan
berupa masa lunak yang sudah tidak dapat adanya tanda-tanda kekerasan ataupun
dinilai strukturya serta terdapat beberapa menunjukan berbagai proses yang dapat
sendi yang sudah mengalami disartikulasi. mempengaruhi tulang. Jenazah dan tulang
Intravitalitas luka berupa reaksi yang telah lama dikubur akan mengalami
jaringan terhadap luka yang terjadi semasa perubahan tafonomi sehingga dapat
korban hidup. Tanda intravitalitas luka dapat mempersulit pemahaman terhadap proses
bervariasi dari ditemukannya resapan darah, perimortem luka. Analisis terhadap lesi atau
terdapatnya proses penyembuhan luka, bercak pada tulang membutuhkan suatu
serbukan sel radang, pemeriksaan histo- metodologi yang menyeluruh. Pertama harus
enzimatik, sampai pemeriksaan kadar ditentukan apakah lesi atau bercak pada
histamin bebas dan serotonin jaringan.3,6 tulang terjadi ante-, peri-, atau postmortem.
Deteksi temuan mikroskopis dan Yang kedua adalah mengklasifikasi jenis
hubungannya dengan interval postmortem, kekerasan dan mekanisme kekerasan. Dan
terutama dalam konteks ekshumasi, yang ketiga adalah hipotesis dokter terhadap
dipengaruhi oleh berbagai faktor. Sehingga alat yang digunakan untuk menimbulkan
penentuan tanda intravitalitas secara lesi/bercak tersebut.5
histologik sangat dibatasi oleh autolisis dan Pewarnaan pada tulang akibat suatu
proses pembusukan.8 Berdasarkan ada trauma perimortem yang menyebabkan
tidaknya tanda-tanda intravitalitas, trauma terjadinya resapan darah dapat dilihat pada
pada jaringan dapat dikatakan ante-, peri-, tulang hingga satu tahun setelah kematian
postmortem, Resapan darah pada jaringan pada lokasi terjadinya kekerasan tersebut.
bawah kulit dan otot merupakan suatu tanda Penguburan didalam tanah dianggap dapat
intravital, yaitu sebagai bukti adanya proses membantu mempreservasi resapan darah
reaksi inflamasi atau ekstravasasi sel-sel darah pada tulang.10 Pada umumnya, tulang pada
pada jaringan yang menunjukan bahwa suatu jenazah yang baru meninggal jika dilepaskan
trauma terjadi sebelum seseorang meninggal. ototnya akan memperlihatkan warna tulang
Namun bukti intravitalitas pada jaringan lunak putih kekuningan, kuning kecoklatan akibat
akan hilang seiring dengan terjadinya proses terjadinya retensi lemak dan cairan lain.
pembusukan, sehingga bukti intravitalitas Warna tulang akan mengalami perubahan
pada tulang penting dalam penentuan waktu selama proses pembusukan dan ketika tulang
terjadinya trauma terhadap kematian.9 Pada tersebut sudah kering.11 Perubahan warna
kasus ini, pemeriksaan histopatologi pada normal tulang menjadi coklat atau kemerahan
jaringan lunak dan otot ditemukan gambaran dapat mengindikasikan ada penyebab atau
sel-sel yang sudah lisis, sehingga bercak pada faktor lain yang menyebabkan perubahan

184 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Made Ayu Mira Wiryaningsih, Validitas Resapan.....

tersebut.12 Perbedaan warna (bercak) pada pendaran cahaya warna putih kebiruan yang
tulang telah digunakan untuk membedakan tampak pada ruang gelap.15
perimortem trauma dengan kerusakan Suatu penelitian oleh Introna dkk.
postmortem.13 (1999) menjelaskan hubungan antara interval
Dalam sebuah penelitian yang postmortem dengan adanya darah pada
terkontrol untuk menganalisis interval permukaan tulang dengan menggunakan
postmortem awal oleh Huclak dan Rogers luminol berdasarkan intensitas cahaya yang
(2009) menyimpulkan bahwa perubahan dipancarkan selama analisis luminol.
warna pada tulang akan dipengaruhi oleh Penelitian tersebut menyatakan bahwa
berbagai faktor, antara lain kondisi tanah, pemberian luminol memberikan reaksi yang
matahari, hemolisis, decomposisi (proses baik jika interval postmortemnya kurang dari
pembusukan) dan jamur.13 Berbagai literatur sepuluh tahun dan menunjukkan hasil yang
menyatakan bahwa perubahan warna pada negatif pada interval postmortem lebih dari
tulang akan tampak setelah dua minggu paska dua puluh lima tahun. Pemberian luminol
kematian.12 Hemolisis merupakan proses dilakukan pada tulang yang tidak
destruksi sel darah merah, yang memperlihatkan bercak yang dapat dilihat
mengakibatkan keluarnya hemoglobin. secara kasat mata.12 Perubahan warna pada
Adanya trauma yang menyebabkan hematom, tulang akibat hemolisis dapat dilihat secara
sehingga tulang terpapar dengan darah akan kasat mata namun belum ada penelitian yang
mempengaruhi warna tulang yang tampak menyebutkan mengenai hubungannya
setelah skeletonisasi.10,12 Hemolisis pada dengan interval postmortem. 13

tulang akan memperlihatkan bercak yang Selain akibat hemolisis, perubahan


gelap, berwarna coklat kemerahan, serta warna pada tulang dapat diakibatkan oleh
berbatas tegas.13 Ketika keluar dari tubuh, cairan dari proses pembusukan dan kondisi
darah akan mengalami perubahan warna dari lingkungan (tanah) sekitar jenazah. Selama
merah terang menjadi coklat tua, akibat proses pembusukan tubuh menghasilkan
oksidasi oksi-hemoglobin (HbO2) menjadi met- berbagai cairan dan gas. Hasil pembusukan
hempoglobin (met-Hb) dan hemichrome tersebut dikatakan dapat mempengaruhi
(HC).14 Selain itu, radiasi akibat sinar warna permukaan tulang dan dapat dilihat
ultraviolet dapat menyebabkan degradasi dalam jangka waktu lama setelah proses
dan/atau dekomposisi, melalui pemecahan pembusukan selesai.12 Bercak pada tulang
ikatan kimia pada reaksi fotolitik dan akibat pembusukan akan tampak sebagai
fotooksidative. Pada tulang, sinar ultraviolet bercak-bercak yang kecil, telokalisir dan tidak
membantu memecahkan komponen organik merata, gelap, warna kelabu kemerahan. Pada
yang berkontribusi pada warna tulang seperti potongan melintang tulang, bercak tulang
darah, lemak dan protein.11 Pemeriksaan yang timbul akibat pembusukan hanya berada
kimia untuk menentukan adanya darah pada pada permukaan luar tulang dan tidak
tulang mempunyai prinsip dasar untuk menembus korteks tulang. Bercak tulang
mendeteksi adanya hemoglobin atau akibat pembusukan dapat dilihat setelah
derivatnya, hal ini disebabkan oleh karena delapan minggu, namun belum diketahui
adanya aktivitas peroksidase pada heme. kapan dapat dilihat pertama kali.13
Luminol (suatu solusi alkali yang bereaksi Kondisi tanah disekitar jenazah dan
dengan hemoglobin) akan menghasilkan tulang juga dapat menimbulkan bercak pada

185 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Made Ayu Mira Wiryaningsih, Validitas Resapan.....

tulang. Mangan adalah suatu mineral yang dan jenis jaringan tubuh yang terkena, waktu
banyak ditemukan didalam tanah. Mangan hantaran energi tumbukan, serta luas
dioksida (MnO2) akan memberikan bercak permukaan yang terkena.16 Trauma tumpul
pada tulang yang berwarna hitam. Selain itu pada tulang, akan menyebabkan darah keluar
merkuri dalam tanah juga dapat menimbulkan dari vena dan arteri yang rusak akibat trauma
warna kehitaman pada tulang.11 Tanah yang tersebut ke jaringan disekitar lokasi trauma
berwarna kehitaman tersebut telah (hematom). Oleh karena itu, jika kekuatan
menimbulkan suatu bercak berwarna hitam kekerasan tumpul yang diberikan tidak sampai
pada tulang. Perubahan warna pada tulang menimbulkan patah tulang, adanya tanda-
tidak akan terjadi akibat kondisi tulang kurang tanda kekerasan masih dapat ditemukan.10
dari 150 hari dan staining terjadi pada tanah Selain menimbulkan hematom pada jaringan
yang kaya akan mineral.12 lunak diatas tulang, kekerasan tumpul dapat
Pada ilustrasi kasus ini, ketika otot pula menimbulkan hematom pada tulang itu
dilepaskan, tampak adanya bercak merah sendiri (bone bruising). Terdapat tiga jenis
kecoklatan pada tulang-tulang wajah, bone brusing: a). subperiosteal hematoma
tengkorak dan tulang-tulang belakang ruas (perdarahan subperiosteal, dimana terjadi
leher, sehingga menimbulkan suatu akumulasi darah antara periosteum dan
kecurigaan terhadap suatu trauma yang kortex tulang; b). interosseous hematoma
terjadi pada jaringan yang berada diatasnya. (timbul akibat trauma yang berulang pada
Perubahan warna pada tulang tersebut tulang); c). lesi subchondral. Adanya suatu
berwarna merah kecoklatan yang luas, perdarahan subperiosteal merupakan suatu
berbatas tegas, dengan pola yang tampak tanda intravitalitas. 16,17,18
melingkari wajah dan kepala, dan mengalami Perubahan warna pada tulang akibat
perubahan warna menjadi coklat kemerahan hemolisis akan timbul jika terdapat resapan
saat terpapar sinar matahari dan udara. Hal darah pada tulang tersebut. Resapan darah
ini menunjukkan bahwa perubahan warna pada tulang tersebut yang timbul akibat
pada tulang tersebut adalah akibat suatu kekerasan tumpul dapat dijelaskan dengan
proses hemolisis sel darah merah yang berada dua mekanisme: Pertama, adanya hematom
diatasnya, dan bukan karena cairan pada jaringan lunak disekitar tulang dan/atau
pembusukan. Saat dilakukannya ekshumasi, adanya hematom pada tulang itu sendiri.
tes luminol tidak dilakukan, hal ini karena Kedua, akibat perdarahan subperiosteal akut.
keterbatasan sarana dan prasarana saat Perdarahan subperiosteal ini jarang terjadi
dilakukan ekshumasi, serta perubahan warna akibat trauma. Literature lebih banyak
pada tulang akibat hemolisis sudah dilihat membahas mengenai subperiosteal
secara kasat mata. Bercak berwarna hematom, terutama pada bayi dan anak,
kehitaman pada tulang dahi dapat diakibatkan sebagai suatu tanda dari kekerasan fisik yang
oleh tanah disekitar jenazah. kronis. Adanya perdarahan pembuluh darah
Trauma tumpul dapat menyebabkan subperisoteal akut akan menyebabkan tulang
berbagai jenis luka, antara lain memar, luka tampak tidak simetris (deformitas pada
lecet, luka terbuka bahkan patah tulang. Luka tulang). Selain itu, dapat terlihat adanya
yang timbul dipengaruhi oleh berbagai faktor, mikrofraktur pada trabekula. Sebagai tanda
antara lain: usia korban, besar atau kekuatan dari proses akut, secara histologis bone
kekerasan, kondisi benda penyebab, kondisi bruising akan tampak adanya degenerasi

186 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Made Ayu Mira Wiryaningsih, Validitas Resapan.....

chrondosit, nekrosis osteosit, serta lacunae kasus ekshumasi.


yang tampak kosong 19,20 Literature
mengenai perdarahan subperiosteal yang UCAPAN TERIMA KASIH
akut, dan temuan postmortem, terutama Terimakasih kepada dr. Budi Suhendar,
temuannya pada ekshumasi masih sangat DFM, Sp. F (Kepala Instalansi Kedokteran
terbatas. Pada kasus ini, ditemukan bercak Forensik dan Medikolegal RSUD Dr. Dradjat
merah kecoklatan yang diduga akibat Prawranegara Serang) dan dr. Baety Adhayati,
resapan darah pada tulang. Tidak adanya Sp.F yang telah memberikan kesempatan
deformitas pada tulang, serta jaringan lunak untuk ikut dalam pemeriksaan kasus
diatas resapan darah tersebut yang tampak ekshumasi ini.
lebih gelap menunjukkan bahwa trauma
hanya menimbulkan cidera sebatas jaringan
lunak diatasnya, dan tidak sampai
menimbulkan perdarahan subperiosteal.
Namun untuk memastikan hal tersebut perlu
dilakukannya pemeriksaan lebih lanjut.

SIMPULAN
Koordinasi dengan penyidik pada
kasus ekshumasi sangatlah penting. Melalui
koordinasi tersebut, tim forensik
mendapatkan informasi mengenai kondisi
korban saat kematian, salah satunya adalah
foto korban saat kematian. Dalam foto
tersebut diperlihatkan bahwa wajah, kepala
dan leher korban terlilit oleh tali tambang.
Lilitan tali tersebut menyerupai pola resapan
darah pada tulang korban. Hal ini menambah
keyakinan bahwa perubahan warna pada
tulang merupakan suatu gambaran pola
resapan darah, suatu tanda intravitalitas, yang
timbul akibat kekerasan tumpul yang
mencederai jaringan lunak pada wajah kepala
dan leher, yang menunjukan korban masih
hidup saat terjerat tali.
Analisis terhadap lesi atau bercak pada
tulang membutuhkan suatu metodologi yang
menyeluruh. Pada kasus ini bercak tersebut
terjadi perimortem, akibat suatu kekerasan
tumpul yang menurut pola dan gambarannya
akibat jejas jerat tali. Resapan darah pada
tulang, yang terjadi akibat proses hemolisis,
dapat dijadikan petunjuk intravitalitas pada

187 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Made Ayu Mira Wiryaningsih, Validitas Resapan.....

12. Sauerwein, K.A. The Squence of Bone Staining


DAFTAR PUSTAKA and Its Application To The Postmortem
Interval. 2011. [Diunduh 3 Mei 2017]. Tersedia
dari
1. Aggrawal, A. Exhumation-Medical and Legal https://digital.library.txstate.edu/handle/1087
Aspects. 2001 [Diunduh 3 Mei 2017]. Tersedia 7/4274
dari
http://www.anilaggrawal.com/ij/vol_002_no_0 13. Huculak, M.A dan Roger, T.L. Reconstructing
02/ug002_002.html. the Squences of Events Surrounding Body
Disposition Based on Color Staining of Bone.
2. Knight, B dan Saukko, P. Knight’s Forensic Journal of Forensic Science (2009) 54(5): 979-
Pathology. New York: CRC Press (2016) 984
3. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, 14. Bremmer, R.H et al. Biphasic Oxdation of Oxy-
Winardi T, Abdul Mun'im, Sidhi, dkk. Ilmu Hemoglobin in Bloodstains. 2011. Plos
Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian One:6(7). [Diunduh 3 Mei 2017] Tersedia dari
Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/P
Universitas Indonesia (1997) MC3137592/
4. Blau, J. Handbook of Forensic Anthropology 15. Introna, F dan Vella, G.D. Determination of
and Archaelogy 2nd Edition. Routledge (2016). Postmortem Interval from Old Skeletal remains
by Image Analysis of Luminol Test Results.
5. Houck, M.M. Forensic Anthropology: Advanced 1999. Journal of Forensic Science; 44(3): 535-8
Forensic Science Series. Elsevier (2017)
16. Di Maio, Vincent J, Dominick Di Maio. 2001.
6. Idries, A dan Tjiptomartono, A. Penerapan Ilmu Forensic Pathology Second Edition. CRC Press :
Kedokteran Forensk dalam Proses Penyidikan. New York
2010. Jakarta: Sagung Seto
17. Dettmeyer, R. Verhoff, M.A, Schutz, H.F.
7. Payne-James, J et al. Simpson’s Forensic Forensic Medicine: Fundamentals and
Medicine, 13th Edition. 2011. London: Hodder Perseptives. 2014. Springer: Verlag Berlin
& Stoughton Ltd Heidelberg
8. Dettmeyer, R.B. Forensic Histopathology: 18. Bremmer, R.H et al. Biphasic Oxdation of Oxy-
Fundamentals and Prespectives. 2011. Hemoglobin in Bloodstains. 2011. Plos
Springer. Verlag Berlin Heidelberg One:6(7). [Diunduh 3 Mei 2017] Tersedia dari
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/P
9. Moraitis, K dan Spiliopoulou. Identification and MC3137592/
Differential Diagnosis of Perimortem Blunt
Force Trauma in Tubular Long Bones. 2006. 19. Som, P.M dan Curtin, H.D. Head and Neck
Forensic Science, Medicine and Pathology 2(4); Imaging 5th Edition. 2011. Elsevier
221-230
10. Calce, S.E dan Roger, R.L. Taphonomic Changes
20. Bobic, V. OsteoChondral Unit and Subchondral
to Blunt Force Trauma: A Preliminary Study.
Activity. 2010. [Diunduh 3 Mei 2017]. Tersedia
2007. Journal of Forensic Science 52(3): 519-
dari
527
https://www.slideshare.net/vbobic/vladimir-
11. Dupras, T.L dan Schultz, J.J. Manual Of Forensic
bobic-sub-chondral-treatment-columbia-
Taphonomy, Chapter 12: Taphonomic Bone
2010ppt
Staining and Color Changes in Forensic Context.
CRC Press (2013)

188 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

CEDERA KEPALA BERAKIBAT MATI LEMAS


Marlis Tarmizi1, Gatot Suharto2

Abstrak PENDAHULUAN
Setiap dokter mungkin diminta untuk memeriksa Setiap dokter mungkin diminta
seseorang yang telah menderita luka akibat kecelakaan,
tindakan menyakiti diri sendiri, tindakan bunuh diri atau untuk memeriksa seseorang yang telah
tindakan pembunuhan. Hal ini penting bagi dokter untuk
memeriksa semua luka dengan hati-hati dan
menderita luka akibat kecelakaan, tindakan
mendeskripsikan luka dengan benar. Pemeriksaan dan menyakiti diri sendiri, tindakan bunuh diri
deskripsi luka dapat memiliki implikasi medico-legal
yang jauh jangkauannya, mungkin tidak nampak selama atau tindakan pembunuhan.Hal ini penting
berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Banyak luka bagi dokter untuk memeriksa semua luka
dengan akibat bervariasi tergantung pada daerah tubuh
yang terluka. Sebuah luka tusuk pada anggota badan dengan hati-hati dan mendeskripsikan luka
mungkin tidak berakibat fatal, sedangkan cedera yang
mirip pada dada mungkin berakibat fatal. Cedera kepala dengan benar. Pemeriksaan dan deskripsi
sangat diwaspadai karena peran penting otak dalam luka dapat memiliki implikasi medico-legal
mempertahankan kehidupan individu. Laporan kasus
pembunuhan terhadap seorang laki-laki teman yang jauh jangkauannya, mungkin tidak
kencannya di perkebunan tebu dengan cara pemukulan
di kepala dengan sebatang pipa besi. Dari nampak selama berbulan-bulan bahkan
pemeriksaaan luar didapatkan hampir seluruh wajah, bertahun-tahun.1
Leher, Dada tampak bintik perdarahan. Tampak
pelebaran pembuluh darah pada kedua selaput kelopak Banyak luka dengan akibat
mata kanan dan kiri. Selaput lendir mulut tampak
kebiruan. Pada anggota gerak atas dan bawah ujung jari
bervariasi tergantung pada daerah tubuh
dan jaringan di bawah kuku tampak warna kebiruan. yang terluka. Sebuah luka tusuk pada
Luka akibat kekerasan tumpul berupa luka memar pada
kepala, anggota gerak atas kiri; luka lecet pada anggota anggota badan mungkin tidak berakibat
gerak atas kanan; luka robek pada kepala. Luka akibat fatal, sedangkan cedera yang mirip pada
kekerasan tajam berupa luka iris pada kepala, anggota
gerak atas kanan; luka tusuk pada dada. Dari dada mungkin berakibat fatal. Demikian
pemeriksaan dalam didapatkan luka akibat kekerasan
tumpul berupa luka memar pada kepala, leher; pula, efek dari pukulan ke dada mungkin
tenggorokkan, kerongkongan. Sebab kematian adalah menimbulkan akibat yang minimal namun
kekerasan tumpul pada kepala yang mengakibatkan
rusaknya jaringan otak sehingga menyebabkan mati konsekuensi dari pukulan yang sama untuk
lemas.
Kata Kunci: traumatologi, kekerasan tumpul, mati lemas
bagian di kepala mungkin menjadi bencana
Afiliasi Penulis : 1. Program Pendidikan Dokter Spesialis I Bagian
besar. Cedera kepala sangat diwaspadai
Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro / RSUP Dokter Kariadi Semarang.2. Staf
karena peran penting otak dalam
Bagian Ilmu kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro / RSUP Dokter Kariadi Semarang.
mempertahankan kehidupan individu.1
Korespondensi: Marlis Tarmizi, marlistarmizi@gmail.Com Telp.
(024) 8413993 Fax (024) 8313350

KASUS
Jenazah seorang laki-laki, umur ±
25 tahun ditemukan di kebun tebu yang jauh
dari pemukiman penduduk pada hari Rabu
tanggal 21 Desember 2016 pukul 06.30 WIB.
Jenazah dibawa oleh penyidik ke RSUP Dr.
Kariadi Semarang untuk otopsi. Pada
pemeriksaan luar ditemukan di daerah
berambut terdapat 2 buah luka memar dan

189 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Marlis Tarmizi, Cedera Kepala.....

8 buah luka terbuka. Wajah terdapat 2 buah


luka memar, sebuah luka terbuka dan
tampak bintik perdarahan hampir pada
seluruh wajah. Dada terdapat sebuah luka
terbuaka dan bintik perdarahan. Anggota
gerak atas dan bawah ujung jari dan jaringan
di bawah kuku tampak warna kebiruan.
Bagian tubuh tertentu, pada kedua selaput
kelopak mata tampak pelebaran pembuluh
darah. Kedua selaput biji mata tampak
pelebaran pembuluh darah, bintik Gambar 1. Resapan darah pada kulit kepala
sisi dalam
perdarahan dan bercak perdarahan.
Mulut, bibir atas dan bawah serta
selaput lendir mulut tampak kebiruan.
Pemeriksaan dalam ditemukan 6 buah
resapan darah di kulit kepala bagian dalam,
6 buah resapan darah pada tulang
tengkorak, tampak pelebaran pembuluh
darah mengisi lekukan dalam otak. Terdapat
resapan darah di bawah selaput otak besar
sisi kiri. Pada pengirisan tampak bintik –
bintik perdarahan. Pada otak kecil tampak
Gambar 2. Resapan darah pada tulang
pelebaran pembuluh darah, pada pengirisan
tengkorak
tampak bintik – bintik perdarahan. Terdapat
resapan darah pada seluruh tulang dasar
tengkorak sisi depan dan tengah.

Pada tenggorokan tampak buih halus. Pada


pengirisan dan penekanan paru kanan dan
Gambar 3. Resapan darah di bawah selaput
kiri tampak keluar buih halus dan darah
otak besar
warna merah gelap dan encer. Tampak
pelebaran pembuluh darah dan bintik
perdarahan pada permukaan jantung. pada
pengirisan hati keluar darah warna merah
gelap dan encer. Permukaan limpa licin,
warna merah kehitaman, pada pengirisan
keluar darah warna merah gelap dan encer.

190 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Marlis Tarmizi, Cedera Kepala.....

luka-luka, yang kalau diperiksa dengan teliti


akan dapat diketahui jenis penyebabnya,
yaitu benda-benda mekanik, benda-benda
fisik, kombinasi mekanik-fisik dan zat-zat
kimia korosif.2 Pada kasus diatas kekerasan
karena benda tumpul terutama pada bagian
kepala. Kelainan pada kulit kepala seperti
halnya kelainan pada kulit lainnya, dapat
terjadi luka memar, lecet atau robek. Luka-
luka itu mudah terjadi, karena kulitnya
menutupi dasar yang keras, disamping itu
luka yang ada sering merupakan petunjuk
adanya kelainan disebelah dalam.4 Pada
cedera kepala selain kelainan pada kulit
kepala dan patah tulang tengkorak, cedera
kepala dapat pula mengakibatkan
perdarahan dalam rongga tengkorak berupa
perdarahan epidural, subdural dan
subarakhnoid, kerusakan selaput otak dan
Gambar 4. Pada pengirisan otak besar dan jaringan otak.3
otak kecil tampak bintik – bintik perdarahan Kelainan pada otak terjadi bila
jaringan otak mengalami benturan dengan
PEMBAHASAN tulang atau bagian dalam duramater,
Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari
sehingga dapat menimbulkan memar otak,
semua aspek yang berkaitan dengan
robek otak dan edema otak.4 Hampir semua
kekerasan terhadap jaringan tubuh manusia
perdarahan subdural disebabkan disebabkan
yang masih hidup.2 Luka adalah suatu
oleh trauma, hanya beberapa keadaan
keadaan ketidak sinambungan jaringan
seperti neoplasma serebrum, aneurisma
tubuh akibat kekerasan3
serebrum dan gangguan bekuan darah yang
Kekerasan mengenai tubuh
bisa menyebabkan perdarahan subdural.5
seseorang dapat menimbulkan efek pada
fisik maupun psikisnya. Efek fisik berupa

DAFTAR PUSTAKA

1. Simpson,S Forensic Medicine. Edition 12 4. Hoediyanto, Hariadi A. Ilmu Kedokteran


Forensik dan medikolegal Ed.7. Surabaya:
2. Dahlan Sofwan. Ilmu Kedokteran Forensik. FK. Universitas Airlangga.
Pedoman Bagi Dokter Dan Penegak Hukum.
Semarang : Badan Penerbit Universitas 5. Shahrom Abd Wahid. Patologi Forensik. FK.
Diponegoro 2007. Universitas Kebangsaan Malaysia.
3. Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian
Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.

191 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

PROFIL KORBAN KASUS PEMERIKSAAN KERANGKA


DI PROVINSI RIAU PERIODE 2010-2014

Mohammad Tegar Indrayana1, Dedi Afandi1, Earfistik Tim Vio Lovya2

Abstrak PENDAHULUAN
Pemeriksaan kerangka merupakan proses identifikasi Kasus forensik yang telah ditangani
pada korban yang ditemukan tidak secara utuh,
melainkan hanya bagian sisa kerangkanya saja. selama ini dapat berupa kasus pada korban
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil
korban kasus pemeriksaan kerangka di Provinsi Riau
mati dan hidup. Berbicara hal tentang forensik
periode 2010-2014. Terdapat 103 jumlah autopsi yang pada umumnya identik dengan kasus pada
telah dilakukan selama 5 tahun terakhir dan 22
diantaranya merupakan kasus pemeriksaan kerangka. korban mati. Akan tetapi, tidak jarang pada
Data tersebut diperoleh dengan melihat Visum et kasus korban mati sulit dalam melakukan
Repertum (VeR) . Dari 22 kasus pemeriksaan kerangka,
17 orang (77,3%) laki-laki, 3 orang perempuan (13,6%), identifikasi untuk menentukan identitas
dan 2 orang (9,1%) tidak dapat ditentukan jenis
kelaminnya. Umur korban yang paling banyak pada korban tersebut.
kasus pemeriksaan kerangka ini berada diatas 12 tahun. Pada kasus korban mati yang hanya
Sedangkan jenis rangka yang paling ditemukan pada
kasus ini adalah tulang tengkorak. Tidak semua kasus ditemukan bagian kerangkanya saja,
pemeriksaan kerangka dapat ditentukan berdasarkan
perkiraan tinggi badan serta penyebab kematiannya. diharuskan melakukan identifikasi berupa
Ras mongolid merupakan ras yang paling banyak pemeriksaan kerangka. Proses identifikasi
ditemukan, yaitu 13 orang(59,1%). Tanda-tanda
kekerasan yang dapat ditemukan dan tidak dapat atau pemeriksaan kerangka ini bertujuan
ditemukan memiliki persentase yang sama. Penelitian ini
telah menunjukkan pentingnya pemeriksaan kerangka
untuk membuktikan bahwa kerangka tersebut
terutama pada korban yang tidak ditemukan jasadnya adalah kerangka manusia, serta menetukan
secara utuh.
Kata kunci: Autopsi, pemeriksaan kerangka, identifikasi ras, jenis kelamin, perkiraan umur, tinggi
badan, ciri-ciri khusus, deformitas, dan jika
Afiliasi Penulis : . Departemen Forensik dan Medikolegal Fakultas
Kedokteran Universitas Riau/ RSUD Arifin Achmad; 2. Program Studi dapat memungkinkan dilakukan rekonstruksi
Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Riau.
Korespondensi: Mohammad Tegar Indrayana, Departemen Forensik
wajah.1
dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Riau/ RSUD Arifin Salah satu tujuan pemeriksaan kerangka
Achmad, Jl Diponegoro No.1 Pekanbaru 28133. Email:
tegar.indrayana@lecturer.unri.ac.id, Telp\HP: 08127601246 adalah memperkirakan tinggi badan korban
mati berdasarkan jenis kerangka atau tulang
yang ditemukan. Telah dilakukan penelitian
mengenai perkiraan tinggi badan berdasarkan
panjang tulang telapak kaki oleh Wardhilah
2012, dan didapatkan hasil bahwa adanya
korelasi antara tinggi badan dengan panjang
telapak kaki kanan dan kiri. Sehingga dapat
dikatakan bahwa pemeriksaan kerangka
merupakan pemeriksaan yang dapat
dilakukan dalam penentuan salah satu jenis
identitas korban mati.2

192 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Mohammad Tegar Indrayana, Profil Korban Kasus..

METODE berumur diatas 12 tahun, dapat dilihat pada


Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif tabel.1. Dapat dikatakan bahwa rentang usia
restrospektif dengan melihat data VeR pada terbanyak merupakan usia yang aktif dan
korban mati kasus pemeriksaan kerangka di produktif.3 Hal ini sesuai dengan mayoritas
Provinsi Riau periode 2010-2014. Waktu dan pelaku dari tindakan kriminal juga berada
tempat penelitian berada di RSUD Arifin pada kelompok usia produktif.4
Achmad Pekanbaru dan Rumah Sakit
Bhayangkara, dimulai dari bulan Februari
hingga Juni.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Selama tahun 2010-2014 didapatkan 22


kasus pemeriksaan kerangka dari 103 jumlah
kasus autopsi pada periode tersebut.

60
Karakteristik korban berdasarkan jenis
kelamin yang paling banyak adalah laki-laki
50
dengan jumlah 17 orang (77,3%). Hal ini
40 sesuai dengan penelitian Basic 2013 di
Jumlah korban

30 Kroasia, dimana 85 % dari kasus penentuan


jenis kelamin berdasarkan sisa-sisa kerangka
20
yang ditemukan di Pantai Timur Adriatik dapat
10 dikategorikan baik, dengan hasil yang lebih
0 banyak pada laki-laki (86 %) dibandingkan
2010 2011 2012 2013 2014
Pemeriksaa
perempuan (80%).11 Teori mengatakan bahwa
0 4 2 4 12
n kerangka laki-laki cenderung lebih banyak beraktivitas
Autopsi dibanding wanita, memiliki tingkat emosional
4 23 11 23 50
forensik
dan interaksi sosial yang lebih tinggi, dan
Gambar 1 Distribusi jumlah korban autopsi cenderung menyelesaikan masalah dengan
forensik dan kasus pemeriksaan kerangka kekerasan.5
per tahun
Pada Gambar 1 dapat dilihat terjadi
peningkatan jumlah autopsi pada setiap
tahunnya, kecuali pada tahun 2012 yang
mengalami penurunan. Jumlah autopsi
tersebut berbanding lurus dengan jumlah
kasus pemeriksaan kerangka pada setiap
tahunnya, dimana juga hanya terjadi
penurunan pada tahun 2012.
Hasil penelitian berdasarkan karakteristik
korban menunjukkan bahwa korban mati
kasus pemeriksaan kerangka di RS
Bhayangkara dan RSUD Arifin Achmad
Pekanbaru periode 2010-2014 yang terbanyak
193 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Mohammad Tegar Indrayana, Profil Korban Kasus..

Salah satu hal yang dapat diidentifikasi


pada pemeriksaan kerangka adalah perkiraan
tinggi badan. Perkiraan tinggi badan tersebut
dapat diukur dari bagian atau jenis rangka
yang ditemukan, terutama tulang panjang.
Tinggi badan merupakan salah satu ciri
khas dari seseorang individu yang dapat
dijadikan sebagai parameter penting dalam
identifikasi personal.7 Pada penelitian kasus
pemeriksaan kerangka ini, perkiraan tinggi
badan yang dapat ditentukan lebih banyak
dari pada yang tidak dapat ditentukan yaitu
sebanyak 12 kasus.
Sehubungan dengan bagian kerangka
yang terbanyak kedua setelah tulang
tengkorak adalah tulang panjang, maka dapat
mempermudah identifikasi perkiraan tinggi
badan dari 22 orang korban mati tersebut.
Karena seluruh tulang panjang ditubuh
manusia memiliki hubungan linier dan positif
terhadap tinggi badan.8 Selain itu, berbagai
metode perkiraan tinggi badan pada saat ini
Pada pemeriksaan kerangka, bagian pada umumnya mengaitkan antara tinggi
atau jenis rangka yang paling banyak badan dengan panjang tulang panjang atau
ditemukan pada penelitian ini adalah tulang bagian dari tulang panjang atau tulang
tengkorak (95,5%) dan diikuti dengan tulang vertebra.9
panjang (72,7%). Alasan mengapa tulang
tengkorak cenderung lebih banyak ditemukan
adalah karena komposisi dari tulang
tengkorak tersebut.
Tulang tengkorak memiliki komposisi
yang terdiri atas tabula externa dan interna
dari substantia compacta tulang dan
dipisahkan oleh selapis substantia spongiosa.
Komposisi substantia compacta tulang Pada Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa
tengkorak lebih banyak dari pada substantia jenis ras yang paling banyak ditemukan pada
spongiosa yang lebih tipis dan mudah rapuh, pemeriksaan kerangka adalah ras mongoloid
sehingga menyebabkan tulang tengkorak sebanyak 13 orang (59,1%) dan tidak dapat
lebih padat dan tidak rentan rapuh apabila ditentukan sebanyak 9 orang (40,9%),
terkena tekanan dari luar. Sesuai dengan sementara itu untuk jenis ras kaukasoid dan
fungsinya yang protektif, tulang tengkorak negroid tidak ditemukan pada penelitian ini.
melindungi organ vital seperti otak. 6 Secara umum hampir seluruh wilayah
di Indonesia memang didominasi oleh ras

194 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Mohammad Tegar Indrayana, Profil Korban Kasus..

mongoloid, terutama dibagian Indonesia Hasil tersebut kurang lebih


Timur ras mongoloid merupakan ras yang menggambarkan bahwa daerah yang rawan
paling kuat.10 terjadi kasus pemeriksaan kerangka adalah
Pada penelitian ini, tanda kekerasan daerah luar Pekanbaru. Adanya permintaan
yang dapat ditemukan dan tidak dapat pembuatan VeR jenazah dari luar Pekanbaru
ditemukan pada pemeriksaan kerangka yang berasal dari kepolisian sektor Siak Hulu,
mempunyai persentase jumlah yang sama Kampar dan sector lainnya dikarenakan
banyak yaitu 50%. disekitar daerah tersebut belum ada instasi
Sedangkan penyebab kematian kasus yang dapat mengeluarkan VeR sehingga
pemeriksaan kerangka yang dapat ditentukan penyidik meminta bantuan kepada instasi
pada penelitian ini terdapat 10 kasus (45,5%) terdekat yaitu RS Bhayangkara dan RSUD
dan tidak dapat ditentukan sebanyak 12 kasus Arifin Achmad Pekanbaru.
(54,5%).
Sehingga bisa disimpulkan setiap SIMPULAN
korban mati pada kasus tersebut dapat Jumlah kasus pemeriksaan kerangka di
beresiko mengalami tanda kekerasan atau Provinsi Riau periode 2010-2014 sebanyak 22
tidak. Pada umunya, diantara 11 kasus yang kasus. Karakteristik korban kasus pemeriksaan
ditemukan tanda kekerasan didalamnya kerangka terbanyak berdasarkan umur dan
karena mengalami cedera sebelum jenis kelamin secara berurutan adalah: diatas
kematiannya. umur 12 tahun yang berjumlah 13 orang dan
Sedangkan untuk penyebab kematian, laki-laki sebanyak 17 orang. Untuk bagian
dari hasil penelitian yang telah diperoleh, atau jenis rangka yang paling banyak
lebih banyak kasus yang tidak dapat ditemukan dalam penelitian ini adalah tulang
ditentukan penyebab kematiannya dari pada tengkorak sebanyak 21 rangka. Sedangkan
dapat ditentukan, yaitu sebanyak 12 kasus. perkiraan tinggi badan yang dapat ditentukan
Karena hampir tidak mungkin untuk pada kasus pemeriksaan kerangka tersebut
menentukan penyebab kematian dari tulang terdapat 12 korban.
atau kerangka saja, kecuali jika didapati Ras yang paling banyak ditemukan
fraktur atau cedera, seperti fraktur pada berdasarkan identifikasi jenis rangka
tulang tengkorak atau pada bagian tulang tengkorak yang ditemukan pada penelitian ini
lainnya. Kemudian penyakit-penyakit pada adalah ras mongoloid sebanyak 13 kasus.
tulang, seperti karies atau nekrosis, atau Tanda kekerasan yang dapat ditemukan dan
bekas cedera bakar. tidak dapat ditemukan dari 22 kasus
Dari asal polsek di Riau dibagi menjadi pemeriksaan kerangka pada penelitian ini
2 yaitu polsek wilayah Pekanbaru dan polsek mempunyai jumlah yang sama yaitu 11 kasus.
wilayah di luar Pekanbaru. Berdasarkan Penyebab kematian terbanyak pada
penelitian tersebut, asal kepolisian yang penelitian ini sebagian besar tidak dapat
paling sering meminta pembuatan VeR ditentukan yaitu sebanyak 12 kasus. Asal
jenazah terhadap kasus pemeriksaan kepolisian yang paling banyak melakukan
kerangka adalah polsek yang berada di luar permintaan pembuatan VeR jenazah untuk
kota Pekanbaru yaitu sebanyak 17 VeR kasus pemeriksaan kerangka berasal dari luar
(77,3%). Pekanbaru yaitu 17 kasus.

195 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Mohammad Tegar Indrayana, Profil Korban Kasus..

DAFTAR PUSTAKA

1. Appleton K, House A, Dowell A. A survey of job 6. Charmaz K, Bryant A. Grounded Theory. In:
satisfaction, sources of stress and psychological Penelope P, Eva B, Barry M, editors.
symptoms among general practitioners in International Encyclopedia of Education.
Leeds. Br J Gen Pract. 1998;48(428):1059-63. Oxford: Elsevier; 2010. p. 406-12.

2. Engels Y, Campbell S, Dautzenberg M, van den 7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.


Hombergh P, Brinkmann H, Szecsenyi J, et al. Kebijakan Pelayanan Kesehatan Berbasis
Developing a framework of, and quality Penjaminan dan Asuransi Serta Dampaknya
indicators for, general practice management in bagi Rumah Sakit Pendidikan di Indonesia
Europe. Fam Pract. 2005;22(2):215-21. Annual Scientific Meeting (ASM) 2013
Universitas Gajah Mada; Yogyakarta: PKMK FK
3. Novelia E, Nurcahyo C, Evita B, Mursalina A, UGM; 2013.
Hermansyah T, Firdauzie A, et al. Pelayanan
Kesehatan Berkualitas Melalui Program Obat 8. The World Bank. Out-of-pocket health
Rujuk Balik. Info Askes. 2011:22-3. expenditure (% of private expenditure on
health): The World Bank; 2013b [cited 2013 26
4. BPS Indonesia. Kewarganegaraan, Suku Bangsa, March]. Available from:
Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk http://data.worldbank.org/
Indonesia. Hasil Sensus Penduduk 2010. Badan
Pusat Statistik (BPS) Jakarta: BPS Catalogue:
2102032; 2010b.

5. Glaser B. Doing Grounded Theory: Issues and


Discussion. Mill Valley, CA: Sociology Press;
1998

196 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

Temuan Otopsi Pada Kasus Kekerasan Tajam


Mustika Chasanatusy Syarifah1, H. Ahmad Yudianto1

Abstrak PENDAHULUAN
Jumlah kasus kematian tidak wajar yang diterima Berdasarkan data yang terdapat di
bagian Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal
RSUD dr. Soetomo Surabaya sepanjang awal tahun Instalasi Kedokteran Forensik dan
2017 mengalami peningkatan dibandingkan dengan
tahun sebelumnya. Salah satunya adalah kasus
Medikolegal RSUD dr. Soetomo Surabaya,
kematian dugaan pembunuhan dengan menggunakan terdapat 34 kasus kematian akibat
senjata tajam. Peran dokter forensik dalam kasus
kematian tidak wajar tersebut adalah melakukan kekerasan tajam pada tahun 2014 sampai
pemeriksaan untuk menentukan sebab kematian. Maret 2017. Kekerasan tajam yang
Jenazah laki-laki usia sekitar 30 tahun ditemukan
dalam keadaan berlumuran darah di pinggir jalan pada ditemukan dapat berupa luka tusuk, luka
tanggal 23 Maret 2017 pukul 05.30 WIB. Menurut hasil
penyelidikan Polres Pelabuhan Tanjung Perak bacok atau luka iris. Kebanyakan kasus
Surabaya, orang tersebut diketahui adalah sopir taksi kematian akibat kekerasan tajam tersebut
online yang diduga mengalami perampokan mobil.
Kondisi terakhir diketahui masih hidup oleh istrinya merupakan kasus pembunuhan dengan luka
saat berkomunikasi via telpon pada malam harinya
tanggal 22 Maret 2017 sekitar pukul 23.00 WIB. Pada
tusuk.1
pemeriksaan luar ditemukan 46 luka akibat kekerasan Dalam sebuah kasus pembunuhan
tajam pada leher, dada, perut dan anggota gerak atas.
Pada pemeriksaan dalam ditemukan luka terbuka dengan beberapa luka tusuk yang tembus ke
pada pembuluh nadi besar leher kanan, paru kanan
dan kiri, bilik jantung kanan, dan hati; patah tulang
beberapa organ vital dan menggunakan
pada tulang belakang, tulang tenggorok, tulang beberapa metode pembunuhan menjadi
selangka, tulang iga depan, tulang lengan atas, dan
tulang jari akibat kekerasan tajam. Hasil pemeriksaan tantangan bagi seorang dokter forensik
toksikologi tidak ditemukan kandungan narkotika, dalam menentukan sebab kematian, karena
psikotropika, dan racun lainnya. Pada kasus ini
terdapat beberapa luka yang dicurigai sebagai masing-masing luka tersebut dapat berperan
penyebab kematian, yaitu luka tusuk pada leher
kanan, dada kanan dan dada kiri. Sedangkan faktor signifikan dalam menentukan sebab
penyakit dan racun dikeluarkan karena tidak kematian.2 Sehingga dalam kesimpulan
ditemukan hasil positif dari pemeriksaan penunjang.
Menentukan penyebab kematian yang utama dari dapat ditentukan dengan jelas luka yang
kasus tersebut yaitu dengan menentukan luka
manakah yang menyebabkan perdarahan hebat
mana yang menjadi sebab matinya.
sehingga mengakibatkan kematian.
Kata Kunci: temuan otopsi, kekerasan tajam
LAPORAN KASUS
Afiliasi Penulis : 1. Departemen Ilmu Kedokteran Mayat laki-laki ditemukan dalam
Forensik dan Medikolegal, Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga, Instalasi Kedokteran Forensik keadaan berlumuran darah di pinggir jalan
dan Medikolegal RSUD dr. Soetomo Surabaya.
Korespondensi: dr. Mustika Chasanatusy Syarifah1
Larangan Kenjeran Surabaya pada tanggal 23
mustika.cs@gmail.com 628122549875 Maret 2017 pukul 05.30 WIB. Menurut
keterangan dari pihak kepolisian, mayat
tersebut adalah seorang sopir taksi online
yang diduga mengalami perampokan mobil.
Kondisi terakhir diketahui masih hidup oleh
istrinya saat berkomunikasi via telpon pada
malam harinya tanggal 22 Maret 2017
sekitar pukul 23.00 WIB. Karena suaminya

197 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Mustika Chasanatusy Syarifah, Temuan Otopsi....

tidak kunjung pulang, lalu si istri


menghubungi kembali pada tanggal 23
Maret 2017 sekitar pukul 04.00 WIB namun
telpon tidak aktif.

HASIL PEMERIKSAAN
Mayat tiba di IKF RSUD Dr. Soetomo
pada tanggal 23 Maret 2017 pukul 08.41 WIB
kemudian dilakukan pemeriksaan luar dan
dalam sesuai SPVR pada pukul 09.00 WIB. c. luka tusuk pada dada kanan (nomor 3)
Pada pemeriksaan luar ditemukan menembus bilik kanan jantung sedalam
a. seorang laki-laki, usia sekitar 35 tahun satu sentimeter
dengan pakaian berlumuran darah,
b. lebam mayat pada punggung hilang
dengan penekanan,
c. kaku mayat pada sendi-sendi tubuh dan
sulit digerakkan,
d. 46 luka tusuk pada kepala, leher, dada,
punggung, perut dan anggota gerak atas,
e. luka robek pada bibir bawah bagian
dalam,
f. luka memar pada dagu, d. luka tusuk pada dada kanan (nomor 6&7)
g. luka lecet pada dahi, pipi, dan anggota menembus hati sedalam 1 cm
gerak atas kiri,
h. kuku-kuku jari dan konjungtiva bawah
mata kiri tampak pucat.

Pada pemeriksaan dalam ditemukan:


a. luka tusuk pada dada kanan (nomor 2)
menembus tulang iga depan 3&4 kanan
hingga paru kanan baga atas sedalam 1
cm
b. luka tusuk pada dada kiri (nomor 1)
menembus tulang iga depan 3&4 kiri
hingga paru kiri baga atas sedalam 1 cm e. luku tusuk pada leher kanan (nomor 11)
menembus arteri karotid hingga
memotong trakea

198 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Mustika Chasanatusy Syarifah, Temuan Otopsi....

pembunuhan dapat menyerupai usaha


bunuh diri, tetapi tidak ada luka percobaan.
Target biasanya daerah tubuh yang tidak
terlindungi, dan dada sering menjadi target
karena dekat dengan penyerang, dan
mengetahui banyak organ vital disana.
Kebanyakan pelaku menggunakan tangan
kanan (tidak kidal) sehingga luka sering
didapatkan di sisi kiri korban dan sebagian
f. luka tusuk pada leher kanan (nomor besar menyerang dari depan.4
21&23) menembus tulang belakang sisi Disebutkan dalam sebuah penelitian
depan sedalam 0,3 cm, tahun 2014 di Jamaika membagi area tubuh
g. resapan darah pada kulit puncak kepala, yang paling sering terluka adalah dada,
otot dada iga depan 7, dan otak besar kemudian diikuti oleh dada dan perut, perut,
h. perdarahan pada selaput jala otak kepala, leher, kepala, serta dada dan
i. cairan darah pada rongga perut sejumlah kepala.5Sebagian besar luka tusuk pada
120 ml ekstremitas atas diperoleh korban saat
j. pucat pada seluruh organ. mereka mencoba membela atau melindungi
diri dari penyerang. Luka pertahanan dari
Hasil pemeriksaan toksikologi tidak ekstremitas bawah dapat juga terjadi namun
didapatkan kandungan narkotika, jarang.3
psikotropika dan racun lainnya. Hasil Pada kasus ini terdapat 46 luka
pemeriksaan golongan darah dengan hasil akibat kekerasan tajam, terdiri dari luka
“O”. Sebab mati orang tersebut akibat tusuk yang fatal pada daerah leher dan dada
kekerasan tajam pada leher kanan yang yang menembus hingga jantung, paru-paru
menembus pembuluh nadi besar dalam dan liver. Disertai juga adanya luka
hingga memotong trakea (luka tusuk nomer pertahanan pada anggota gerak atas, hal
11) yang menyebabkan perdarahan hebat. tersebut sering terjadi pada kasus
Perkiraan saat kematian 2-6 jam sebelum pembunuhan daripada pada kasus bunuh
pemeriksaan. diri atau kecelakaan. Dengan ciri-ciri luka
Luka tusuk merupakan luka yang terbuka, tepi rata, sudut tajam dan tumpul
dihasilkan oleh benda/alat yang berujung di sisi lainnya, kedalaman luka lebih dari
runcing dan bermata tajam, dengan ciri tepi panjang luka. Ciri-ciri tersebut dapat menjadi
luka rata, sudut tajam dan memiliki petunjuk atas jenis senjata tajam yang
kedalaman luka lebih panjang daripada digunakan, misalnya pisau bermata satu
panjang luka. Alat yang sering digunakan yang paling sering digunakan. Banyaknya
misalnya: pisau, bayonet, pedang atau lokasi luka tusuk pada sisi kanan korban,
keris.3 dapat menunjukkan bahwa pelaku
Kebanyakan luka tusuk pada bertangan kidal atau posisi pelaku
pembunuhan hanya satu luka dan dalam. dibelakang korban.
Tidak ada luka percobaan atau ragu-ragu. Luka tusuk pada dada dapat
Dapat disertai luka pertahanan atau tanda mengenai organ vital jantung atau aorta.
pengekangan. Luka tusuk di leher pada kasus Kematian akibat luka tusuk pada paru-paru

199 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Mustika Chasanatusy Syarifah, Temuan Otopsi....

lebih jarang terjadi. Luka tusuk fatal pada arteri vertebra atau patah tulang servikal.6
dada kanan biasanya mengenai ventrikel Pada kasus ini luka tusuk pada leher kanan
kanan, aorta atau atrium kanan. Sedangkan yang tembus ke tulang belakang ditemukan
pada dada kiri dapat mengenai ventrikel sedalam 0,3 cm dan tidak ditemukan adanya
kanan atau ventrikel kiri. Sebab mati yang ruptur arteri vertebra.
sering terjadi adalah akibat dari perdarahan Luka tusuk pada leher, kadang-
pericardium, berikutnya tamponade jantung. kadang pisau akan memutuskan tidak hanya
Kematian pada luka tusuk di paru-paru pembuluh darah besar, tapi juga trakea,
biasanya akibat hemothorax, juga dapat dengan menghasilkan pendarahan besar-
terjadi penumothorax.3 besaran ke pohon paru-paru.7 Luka tusuk
Pada kasus ini ditemukan luka tusuk pada leher biasanya terkait dengan
dada yang tembus ke paru-paru dan jantung kerusakan vaskular pada pembuluh darah
sedalam kurang lebih satu sentimeter. Pada besar, dengan luka pada arteri karotid
rongga dada tidak ditemukan adanya sebanyak 5-10% kasus trauma arteri.
perdarahan, hanya pada paru-paru Pembuluh darah servikal terlibat pada 25%
ditemukan resapan darah pada lokasi luka kasus trauma kepala dan leher.8 Asfiksiaasi
yaitu pada lobus atas sisi depan. Untuk disebabkan oleh sesak napas dengan darah
pemeriksaan pneumotoraks juga didapatkan dari luka tusuk pada leher dan trakea, atau
hasil negatif. Pada perikard tidak ditemukan emboli udara saat udara masuk ke sirkulasi
cairan darah, namun ditemukan ada resapan vena yang jauh lebih jarang terjadi.9
darah pada ventrikel kanan sampai ke Pada kasus ini luka tusuk pada leher
septum jantung kanan. Untuk pemeriksaan kanan yang tembus melalui arteri karotis
emboli udara didapatkan hasil negatif. interna hingga ke trakea dapat
Luka tusuk pada organ perut paling mengakibatkan perdarahan hebat. Adanya
sering melibatkan luka tembus pada hati. lendir disertai darah pada trakea juga dapat
Hati dan terutama limpa, dapat berdarah menunjukan adanya aspirasi pada saluran
secara ekstensif, menyebabkan napas. Namun darah yang ditemukan
hemoperitoneum.6 Pada kasus ini luka sepanjang saluran napas hanya berupa
tembus pada hati didapatkan dari luka tusuk lendir. Kedua paru-paru tampak pucat dan
pada dada kanan dengan arah tusukan ke pemeriksaan emboli udara didapatkan hasil
bawah. Luka tembus pada hati menimbulkan negatif.
resapan darah sedalam 1 cm. Didapatkan Penggunaan beberapa metode
cairan darah pada rongga perut sejumlah pembunuhan dalam satu kejadian dapat
120 ml. Luka tersebut dapat dikatakan tidak disebabkan oleh satu atau lebih pelaku
mematikan karena organ hati tidak ruptur dengan tujuan untuk mempercepat
dan jumlah perdarahan yang ada minimal. pembunuhan, atau memastikan hasilnya
Sedangkan luka tusuk yang tembus fatal. Hal tersebut biasanya direncanakan
hingga ke tulang belakang, termasuk kasus sebelumnya karena untuk memastikan
yang sangat jarang terjadi. Cedera pada bahwa pembunuhan tersebut berhasil.10
saraf tulang belakang akan menghasilkan Pada kasus ini diduga pelaku
kelumpuhan lengkap atau parsial di bawah melakukan dua metode pembunuhan, yaitu
tingkat cedera.3 Bagian yang mematikan dari dengan luka tusuk dan pembekapan. Hal ini
tulang belakang adalah jika terjadi ruptur dilihat dari hasil pemeriksaan adanya luka

200 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Mustika Chasanatusy Syarifah, Temuan Otopsi....

robek di bibir dan lecet pada dagu yang adanya perdarahan hebat. Sedangkan luka
biasanya ditemukan pada kasus tusuk yang tembus ke organ vital lainnya dan
pembekapan. Banyaknya luka perlawanan tanda-tanda pembekapan merupakan
pada ekstremitas atas korban menunjukkan kekerasan yang mengakibatkan lemahnya
adanya perlawanan kuat atau usaha untuk kondisi korban.
melarikan diri dari korban. Sehingga Jumlah perdarahan hebat tidak
memungkinkan pelaku untuk menggunakan hanya dapat ditemukan pada saat
beberapa metode pembunuhan tersebut. pemeriksaan, namun juga dapat dengan
memperkirakan jumlah darah yang terdapat
SIMPULAN pada pakaian korban, pada tempat kejadian
Kekerasan tajam umumnya terjadi perkara, atau lamanya proses perdarahan.
pada kasus pembunuhan, dan jenis luka
tusuk yang paling sering ditemukan. Luka
tusuk yang paling sering terjadi pada area
dada, perut, kepala dan leher.
Luka tusuk di leher yang menembus
pembuluh nadi besar hingga memotong
trakea mengakibatkan kematian karena

DAFTAR PUSTAKA

1. Instalasi Ilmu Kedokteran Forensik dan 7. Bohnert, Michael. Huttemann, Hartmut.


Medikolegal RSUD dr. Soetomo Surabaya. Schmidt, Ulrike. Homicides by Sharp. Force.
Buku Register Jenazah 2014-2017. Forensic Pathology Reviews Volume 4.
Surabaya. 2017 Humana Press 2006

2. Kaushik, Vijay Kumar. Sheikh, M. Which is 8. Kumar SR, Weaver FA, Yellin A. Cervical
the Cause of Death? - A Case Report. Ntl J of vascular injuries: carotid and jugular
Community Med 2017. vascular injuries. Surg Clin N Am 2001.

3. DiMaio, Vincent J. DiMaio, Dominick. 9. Henderson JP, Morgan SE, Patel F, Tiplady
Forensic Pathology Second Edition. Wound ME. Patterns of non-firearm homicide.
Caused by Pointed and Sharp-Edged Journal of Clinical Forensic Medicine. 2005.
Weapons. CRC Press. 2001.

4. Forensic Medicine, Pattern of Sharp Force 10. Kamaluddin M, Syariani N, Mat Saat GA.
Trauma, www.forensicmed.co.uk, 2012. Epidemiological Profiles of Murders and
Murder Victims in Peninsular Malaysia from
5. Neblett A. Sharp Force Injuries at the 2007 to 2011 as Reported by a Newspaper.
University Hospital of the West Indies, Journal of Humanities and social sciences
Kingston, Jamaica: A Seventeen-year 2014.
Autopsy Review. West Indian Med J. 2014.
11. Instalasi Ilmu Kedokteran Forensik dan
6. Knight, Bernard. Forensic Pathology Fourth Medikolegal RSUD dr. Soetomo Surabaya.
Edition. Chest and Abdominal Injuries. CRC Buku Register Jenazah 2014-2017.
Press 2016. Surabaya. 2017

201 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Mustika Chasanatusy Syarifah, Temuan Otopsi.....

12. Kaushik, Vijay Kumar. Sheikh, M. Which is 17. Bohnert, Michael. Huttemann, Hartmut.
the Cause of Death? - A Case Report. Ntl J of Schmidt, Ulrike. Homicides by Sharp. Force.
Community Med 2017. Forensic Pathology Reviews Volume 4.
Humana Press 2006
13. DiMaio, Vincent J. DiMaio, Dominick.
Forensic Pathology Second Edition. Wound 18. Kumar SR, Weaver FA, Yellin A. Cervical
Caused by Pointed and Sharp-Edged vascular injuries: carotid and jugular
Weapons. CRC Press. 2001. vascular injuries. Surg Clin N Am 2001.

14. Forensic Medicine, Pattern of Sharp Force 19. Henderson JP, Morgan SE, Patel F, Tiplady
Trauma, www.forensicmed.co.uk, 2012. ME. Patterns of non-firearm homicide.
Journal of Clinical Forensic Medicine. 2005.
15. Neblett A. Sharp Force Injuries at the
University Hospital of the West Indies, 20. Kamaluddin M, Syariani N, Mat Saat GA.
Kingston, Jamaica: A Seventeen-year Epidemiological Profiles of Murders and
Autopsy Review. West Indian Med J. 2014. Murder Victims in Peninsular Malaysia from
2007 to 2011 as Reported by a Newspaper.
16. Knight, Bernard. Forensic Pathology Fourth Journal of Humanities and social sciences
Edition. Chest and Abdominal Injuries. CRC 2014.
Press 2016.

202 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

DIFFERENCE IN THE USAGE OF 10% FORMALIN AND 5% BORAKS AS


EMBALMING FLUID ON LIVER OF WHITE RATS (Rattus Norvegicus)
WISTAR STRAIN AFTER 0 – 24 HOURS OF DEATH
Nabil Bahasuan1, Muhammad Rafif Amir1

Abstrak PENDAHULUAN
Embalming is the act of giving thorough antiseptic and Pengawet merupakan senyawa kimia,
preserving dead bodies. To prevent decomposition.
Formaldehyde is a material commonly used for digunakan sebagai agen antimikroba yang
preserving dead bodies. However, exposure to
formaldehyde can cause side effects, from mild
ditambahkan kedalam formulasi sediaan
symptoms to life threatening. Boraks has been known untuk mengontrol pertumbuhan dan
as an antiseptic, preservative and has similar functions
with formaldehyde. To know the differences in the kelangsungan hidup mikroba. Pengawet yang
usage of 10% formalin and 5% boraks as embalming digunakan harus bebas dari efek toksik atau
fluid on the Liver of white rats (Rattus norvegicus)
Wistar strain after 0 – 24 hours of death. This is a iritasi sesuai konsentrasi yang digunakan,
laboratory experimental research using post test only
control group design method. Using 16 rats that serta dapat mengatur stabilitas terhadap
randomly divided into 2 groups: control group which suhu, dan lama penyimpanannya tidak
was given 10% formalin and experimental group which
was given 5% Boraks. Each group was observed for 1 mempengaruhi wadah dan tutup sediaan.2
day, after this, we take liver for investigation. Result of
statistical analysis using Chi-Square test showed
Boraks pada saat ini sering sekali diberitakan
significancy value 0,302 (p>0,05) that means there is melalui media cetak karena
no significant differences in the usage of 10% formalin
and 5% boraks as embalming fluid on the Liver white penyalahgunaannya dalam bahan tambahan
rats (Rattus norvegicus) Wistar strain after 0 – 24
hours of death. There are no differences in the usage
makanan. Boraks seringkali ditemukan dalam
of 10% formalin and boraks 5% as embalming fluid on produk pangan seperti bakso, tahu dan
the Liver of white rats (Rattus norvegicus) Wistar strain
after 0 – 24hours of death. siomay.
Keywords: Embalming, Formalin, Boraks, Liver

Afiliasi Penulis : 1 Faculty of medical, Hang Tuah University Surabaya


Pada zaman modern ini dimana
Korespondensi: Nabil Bahasuan, habibdrnabil@yahoo.com, mobilitas semakin tinggi dan terjadi
0811348972
penyebaran penduduk ke seluruh penjuru
dunia, kematian yang terjadi jauh dari tempat
asalnya terkadang memerlukan pengangkutan
jenazah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Untuk melakukan hal tersebut diperlukan
transportasi umum yang sebagian besar
mengharuskan jenazah untuk diawetkan
terlebih dahulu guna mencegah pembusukan
dan penyebaran kuman ke lingkungan selama
di perjalanan.1

METODE
Formaldehid adalah suatu senyawa
kimia berbentuk gas dan baunya sangat

203 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Nabil Bahasuan, Difference In The Usage.....

menusuk. Formalin mengandung 37 persen Aktivitas enzim yang dihasilkan oleh


formaldehid dalam air. Biasanya ditambahkan bakteri yang menguraikan mayat dapat
metanol hingga 15 persen sebagai pengawet dipengaruhi oleh temperatur, selain itu
dan stabilisator.4 Formaldehid dapat perdedaan media dimana mayat berada
digunakan untuk membasmi sebagian besar seperti jenis tanah dapat mempengaruhi
bakteri, sehingga sering digunakan sebagai proses pembusukan mayat.5
disinfektan dan juga sebagai bahan pengawet.
Sebagai desinfektan, Formaldehid Jenis dan Desain Penelitian
dimanfaatkan untuk pembersih lantai, kapal, Penelitian ini merupakan penelitian
gudang, dan pakaian. Formaldehid dipakai eksperimental yang dilakukan di dalam
sebagai pengawet dalam vaksinasi. Dalam laboratorium (penelitian eksperimental
bidang medis, larutan formaldehid dipakai laboratoris).
untuk mengeringkan kulit, misalnya Metode penelitian yang digunakan adalah
mengangkat kutil. Larutan dari formaldehid post test only control group design. Dalam
sering dipakai dalam membalsem untuk metode penelitian ini digunakan 2 kelompok
mematikan bakteri serta untuk sementara tikus putih (Rattus norvegicus) galur Wistar:
mengawetkan bangkai.10 I. Kelompok tikus Wistar mati yang diberi
formalin 10%
Boraks adalah senyawa kimia turunan
II. Kelompok tikus Wistar mati yang diberi
dari logam berat boron (B), Boraks meru-
boraks 5%
pakan anti septik dan pembunuh kuman.
Pada kedua kelompok tikus tersebut
Bahan ini banyak digunakan sebagai bahan
dilakukan pengamatan selama 1 hari setelah itu
anti jamur, pengawet kayu, dan antiseptik
dilkakukan pengambilan organ hepar untuk
pada kosmetik.9 Boraks dan asam borat
pemeriksaan histopatologi.
banyak digunakan dalam dunia farmasi dan
pertanian. Bahan kimia tersebut mempunyai
SAMPEL
efek bakteristatik dan fungistatik.7
Sampel yang dipakai adalah tikus putih
Pembusukan adalah keadaan dimana (Rattus norvegicus) jantan galur Wistar
jaringan lunak tubuh mengalami berumur 2 – 3 bulan dengan berat badan awal
penghancuran oleh proses autolisa dan antara 120 – 160 gram sebanyak 16 ekor yang
aktivitas mikroorganisme. Autolisis adalah diperoleh dari Laboratorium Biokimia Fakultas
kerusakan jaringan dan organ melalui proses Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya,
kimiawi yang disebabkan oleh enzim yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
intraseluler. Organ yang kaya dengan enzim Kriteria inklusi:
akan mengalami proses autolisis lebih cepat a) Jenis Wistar
daripada organ yang tidak memiliki enzim, b) Umur 2 – 3 bulan
sehingga pankreas akan mengalami autolisis c) Berat badan 120-160 gram
lebih cepat daripada jantung. Autolisis ini d) Jenis kelamin jantan
tidak dipengaruhi oleh mikroorganisme, oleh e) Sehat (gerakan lincah, mata cerah, bulu
karena itu pada mayat yang bebas hama halus, nafsu makan baik, anatomi tubuh baik)
misalnya mayat bayi dalam kandungan tetap Kriteria eksklusi:
berlangsung proses autolisis. 3 a) Jenis bukan Wistar

204 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Nabil Bahasuan, Difference In The Usage.....

b) Umur kurang dari 2 bulan atau lebih dari 3 dosis, waktu pemberian embalming fluid, dan
bulan kondisi lingkungan
c) Berat badan lebih rendah dari 120-gram
atau lebih tinggi dari 160 gram HASIL DAN PEMBAHASAN
d) Kelompok sudah diberi perlakuan Pada kelompok hewan coba yang
berjumlah 8 ekor tikus diberi formalin 10%
Besar Sampel tidak terlihat adanya perubahan nekrosis sel
hepar, sedangkan pada kelompok hewan coba
Besar sampel yang dipakai dalam
yang diberi boraks 5% terdapat 1 ekor tikus
penelitian ini dihitung dengan rumus8 : Besar yang terdapat nekrosis dan 7 ekor tikus lain
sampel yang diperlukan untuk masing-masing tidak terdapat nekrosis.
kelompok adalah 8 tikus

n = (Zα/2 + Zβ)² σ²

Keterangan:

α = 0,05

Zα/2 = 1,96

Pada penelitian eksperimental


2 Gambar 1. Mikrosokopis hepar yang telah
/ =1 diberi boraks 5%

Sekarang:
2
n = (1,96 + 0,85) = 7,9  8

Teknik pengambilan sampel


Teknik pengambilan sampel pada
penelitian ini adalah dengan pengambilan
secara acak sederhana (simple random
sampling). Dimana pada teknik ini, setiap
anggota populasi memiliki kemungkinan yang
Gambar 2. Mikroskopis Hepar yang diberi
sama untuk dipilih menjadi sampel.6
formalin 10%

Variabel Penelitian
1. Variabel bebas: boraks dan formalin
2. Variabel terikat: derajat permbusukan hati
3. Variabel kendali: jenis hewan coba, umur,
jenis kelamin, berat badan awal hewan coba,

205 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Nabil Bahasuan, Difference In The Usage.....

terdapat perbedaan penggunaan formalin


10% dan boraks 5% sebagai bahan
pengawetan pada hepar tikus putih (Rattus
norvegicus) jantan galur Wistar setelah 0 – 24
jam kematian.
Berdasarkan hasil penelitian,
kelompok kontrol yang diberi formalin 10%
menunjukkan hasil pengawetan yang lebih
baik dibandingkan dengan kelompok
perlakuan yang diberi boraks 5%. Hal ini dapat
terjadi karena berbagai faktor, antara lain
aktivitas boraks melawan mikroorganisme,
kondisi boraks yang terkontaminasi, kondisi
tikus sebelum dilakukan prosedur penelitian,
Gambar 3. Perubahan nekrosis sel hepar dan kondisi lingkungan sekitar.
setelah pengawetan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan
bahwa pemberian formalin 10% dapat
Alasan tikus digunakan pada penelitian mengawetkan hewan coba lebih baik
ini adalah karena secara genetik karakteristik dibandingkan dengan pemberian boraks 5%.
biologi mereka mirip dengan manusia. Sampel Namun, boraks tetap dapat digunakan sebagai
yang digunakan pada penelitian ini yaitu alternatif apabila tidak terdapat formalin.
sebanyak 16 ekor tikus yang dibagi menjadi 2 Keuntungan menggunakan boraks antara lain
kelompok secara acak dan diamati selama 1 lebih mudah diperoleh, harga lebih murah,
hari. Kelompok tersebut adalah kelompok bau tidak tajam.
kontrol yang diberi formalin 10% dan
kelompok perlakuan yang diberi boraks 5%. SIMPULAN
Pada penelitian ini, tikus diberi
Dari hasil penelitian eksperimental
formalin 10% dan boraks 5% yang dimasukkan
yang sudah dilakukan dapat disimpulkan
melalui pembuluh darah aorta setelah 0 – 24
bahwa tidak terdapat perbedaan penggunaan
jam kematian. Pemberian larutan ini
formalin 10% dan boraks 5% sebagai bahan
menghambat proses perubahan postmortem
pengawetan pada hepar tikus putih (Rattus
pada tubuh tikus.
norvegicus) jantan galur Wistar setelah 0 – 24
Pada kelompok hewan coba yang
jam kematian.
berjumlah 8 ekor tikus diberi formalin 10%
tidak terlihat adanya perubahan nekrosis sel
hepar, sedangkan pada kelompok hewan coba
yang diberi boraks 5% terdapat 1 ekor tikus
yang terdapat nekrosis dan 7 ekor tikus lain
tidak terdapat nekrosis
Hasil uji statistik Chi-Square
menunjukkan nilai signifikansi p=0,302 yang
menunjukkan bahwa H0 diterima, sehingga
pada penelitian ini terbukti bahwa tidak

206 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Nabil Bahasuan, Difference In The Usage.....

DAFTAR PUSTAKA

1. Ajmani, ML 1998, Embalming: Principles and 7. Soine,T.O., and Wilson, C.O., 1957, Roger’s
Legal Aspects, 1st edition, Jaypee Brothers Inorganic Pharmaceutical Chemistry, Sixth
Medical Publishers, New Delhi Edition, 121-123; 214-217, Lea & Febiger,
Philadelphia
2. Clontz, L., 2009, Microbial Limit and
Bioburden Tests: Validation Approaches and
8. Steel, RGD., Torrie, JH 1991, Prinsip dan
Global Requirements, 2 nd Edition, CRC Press,
Prosedur Statistika Suatu Pendekatan
Boca Raton.
Biometrik (Terjemahan: Bambang Sumantri),
PT. Gramedia, Jakarta
3. Dahlan S. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman
Bagi Dokter dan Penegak Hukum. Semarang:
9. Svehla, G.. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik
Universitas Semarang; 2000: 47-62
Kualitatif Makro dan Semimikro, Terjemahan:
Setiono dan A. Hadyana Pudjatmaka. Jakarta:
4. Mulono, H.J,2005.Toksikologi Lingkungan.
PT. Kalman Media Pustaka
Surabaya:Universitas Airlangga.Hal: 134-135
10. Windholz dkk,1976, The Merck Index an
5. Nandy,A Purba. Principles of Forensic
Encylopedia of Chemical and Drugs,Ninth
Medicine. English:New Central Book
edition.Rahway USA :Merck & CO.,inc
Agency.2010

6. Notoatmodjo, Soekidjo 2010, Metode


Penelitian Kesehatan, Edisi Revisi, PT. Rineka
Cipta, Jakarta.

207 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017
The Indonesian Assoc