Anda di halaman 1dari 25

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Konteks Pembahasan
Setelah Rasulullah SAW Wafat diMadinah pada usia 63 tahun, pimpinan
pemerintahan dilanjutkan oleh para sehabatnya. Namun karena rasulullah SAW tidak
menertapkan calon penggantinya, serta tidak pula menertapkan prosedur atau tata cara
pemilihannya, maka proses pemilihan pengganti kepemimpinan ini mengalami
goncangan. Para pemimpin pemerintah setelah Rasulullah SAW tersebut dalam
sejarah dikenal dengan sebutan Khulafaur Rasyidin.1
Selanjutnya pemerintahan Islam dipimpin oleh empat orang sahabat
terdekatnya. yang disebut Khulafa’ al-Rasyidun (para pengganti yang mendapat
bimbingan ke jalan yang lurus). Empat khalifah tersebut adalah :
1. Abu Bakar As-Shiddiq 11-13 H/632-634 M
2. Umar ibn Al-Khaththab 13-23 H/634-644 M
3. Utsman ibn ‘Affan 23-35 H/644-656 M
4. Ali ibn Abi Thalib 35-40 H/656-661 M.
Para khlaifah tersebut menjalankan pemerintahan dengan bijaksana, karena
dekatnya pribadi mereka dengan Nabi Muhammad dan otoritas keagamaan yang
mereka miliki. Kekhalifahan awal ini secara politik didasarkan pada komunitas
muslim Arabia dan pada kekuatan kesukuan bangsa Arab yang berhasil menundukkan
imperium Timur Tengah.2
Setelah Rasulullah wafat, maka tongkat estafet kepemimpinan dalam Islam
digantikan oleh empat orang sahabatanya, yang dimulai dari Abu Bakar al-Shiddiq
sampai khalifah Ali yang lebih dikenal dengan khalifa’ al-Rasyidun.
Maka dari itu sistem pemerintahan khulafaurasyidin.perlu di jelaskan, dengan
harapan agar menambahpengetahun kita tentang Pemerintahan Islam pada masa
khulafaurasyidin.

1
Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Kencana 2011), hlm. 111-112
2
AliShodiqin, dkk. Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik Hingga Modern,( Yogyakarta:
Penerbit Jurusan SPI, fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga), hlm 51
2

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis akan merumuskan beberapa
masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan Al-Khulafa’ur Rosyidun ?
2. Bagaimana sistem pemerintahan pada masa Al-Khulafaur Rosyidun ?
3. Bagaiman kemajuan peradaban pada masa Al-Khulafa’ur Rosyidun?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penulisan makalah ini
adalah sebagai berikut:
1. Dapat mengetahui pengertian dari Al-Khulafa’ur Rosyidun.
2. Dapat mengetahui perkembangan sistem pemerintahan pada masa Al-
Khulafa’ur Rosyidun
3. Dapat mengetahui kemajuan peradaban pada masa Al-Khulafa’ur Rosyidun
3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Khulafa’ Ar-Rasyidun.


Secara harfiyah kata khalifah berasal dari kata khalf yang berarti wakil,
pengganti dan penguasa. Selanjutnya muncul istilah khalifah yang dapat diartikan
sebagai institusi politik Islam. Yang bersinonim dengan kata “imamah” yang
berarti pemerintahan.
Seselanjutnya muncul kata khulafa’ dan bentuk jamaknya khulafa’ atau
khalaif yang berarti orang yang menggantikan kedudukan orang lain dan
seseorang yang mengambil alih tempat orang lain sesudahnya dalam berbagai
persoalan Khalifah juga berarti Suktan Al-A’zam (kekuasaan paling besar aau
paling tinggi)3.
Adapun kata al-rasyidun secara harfiyah berasal dari kata rasyada yang
artinya cerdas, jujur dan amanah, dari kata rasyada kemudian berubah menjadi
kata benda atau kata nama rasyid dan jamaknya rasyidun yang berarti orang,
orang yang cerdas, ujur dan amanah. Dengan demikian secara sederhana
Khulafaur Rasyidun adalah para pemimpin yang menggantikan kedudukan
pimpinan sebelumnya dan menunjukan sikap yang cerdas, jujur dan amanah.
Selain itu khalifah juga diartikan pimpinan yang diangkat setelah nabi wafat
untuk menggantikan beliau melanjutkan tugas sebagai pemimpin agama dan
kepala pemerintahan. 4
Khulafaurrasyidin juga bermakana penganti-pengganti rasul yang
cendikiawan, adapun pencetus nomenklatur Khulfaurrasyidin dari orang-orang
Muslim terdekat dari Rosulullah seteleah beliau meninggal, karena mereka
menganngap empat tokoh ini yang selalau mendampingi Rasulullah ketika beliau
menjadi pemimpin dalam menjalankan tugasnya.5

B. Masa Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin


Sepeninggal Rasulullah, empat orang pengganti beliau adalah para pemimpin
yang adil dan benar. Mereka menyelamatkan dan mengembangkan dasar-dasar

3
Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Kencana 2011), hlm. 111-112
4
Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan..., hlm. 112
5
Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009), hlm. 47.
4

tradisi dari sang Guru Agung bagi kemajuan Islam dan umatnya. Oleh karena itu,
gelar Al-Khulafa Ar-Rasyidin yang mendapat bimbingan di jalan lurus diberikan
kepada mereka.
1. Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq
a. Biografi Abu Bakar Ash-Shidiq
Abu bakar memliki nama lengkap Abdullah bin Ustman bin Amir bin
Umar bin Ka’ab bin Tiim bin Mairah At-Tamimi. Abu bakar kecil bernama Abu
Ka’bah dan gelar abu bakar diberikan oleh rosulullah karena ia seorang yang
paling cepat masuk Islam, sedang gelar As-Sidiq yang berarti” amat
membernarkan adalah gelar yang di berikan kepadanya karena ia amat segera
membernarkan rasulullah SAW dalam berbagai macam peristiwa, terutama
peristiwa isra’ mi’raj. Yaitu ketika banyak orang sulit atau bahkan tidak percaya
atas kejadia isra’ mis’raj itu , tetapi justeru Abu Bakarlah yang tidak meragukan
kebenaran peristiwa itu. 6
b. Proses pengangkatan Khalifah Abu Bakar
Setelah Nabi wafat, sejumlah tokoh muhajirin dan Anshor berkumpul
dibalai kota Bani Sa’idah, Madinah. Mereka memusyawarahkan siapa yang akan
dipilih menjadi pemipimpin.7. dari kaum Anshor mencalonkan Saad Ibnu
Ubadah. Sedangkan Muhajirin mendesak Abu Bakar sebagai calon, karena dia
menganggap bahwa Abu Bakar paling layak sebagai pengganti Nabi. Di pihak
lain ada sekte yang menginginkan Ali bin Abi Thalib. Situasi kritis ini, pedang
hampir saja terhunus dari sarungnya. Masing-masing golongan berhak menjadi
estafet perjuangan Nabi. Namun berkat tindakan tegas dari Umar, Abu Bakar
dan Abu Ubaidah Ibnu Jarrah memkasa Abu Bakar sendiri untuk mengganti
Nabi Muhammad SAW. Masing-masing pihak menerima dan membai’atnya.8
c. Sistem Pemerintahan pada masa Khalifah Abu Bakar
Permasalahan pertama kali muncul sepeninggal rasulullah adalah
siapakah yang akan mengganti beliau sebagai kepala pemerintahan dan
abagaimana sistem permerintahannya. Masalah tersebut diserahkan kepada kaum
muslimin. Rasul mengajarkan suatu prinsip musyawarah sesuai dengan ajaran
Islam itu sendiri. Prinsip musyarwarah ini, dapat dibuktikan dengan peristiwa-

6
Imam Fuadi, Sejarah Peradaban Islam, (Yokyakarta: PT Teras Perum POLRI), hlm. 19-20.
7
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006 ), hlm. 35.
8
Fatah Syukur, Sejarah Peradaban ..., hlm. 50.
5

peristiwa yang terjadi dalam setiap penggantian pimpinan dari emapat khalifah
periode Khulafa’ Al-Rasyidun, meski dengan versi yang beragam. 9
Abu Bakar memangku jabatan khalifah selama dua tahun lebih sedikit,
yang dihabiskannya terutama untuk mengatasi berbagai masalah dalam negeri
yang muncul akibat wafatnya nabi. Terpilihnya Abu Bakar telah membangun
kembali kesadaran dan tekad umat untuk bersatu melanjutkan tugas mulia nabi.
Ia menyadari bahwa kekuatan kepemimpinannya bertumpu pada komunitas yang
bersatu ini, yang pertama kali menjadi perhatian khalifah adalah merealisasikan
keinginan nabi yang hamper tidak terlaksan,yaitu mengirimkan ekspedisi ke
perbatasan Suriah di bawah pimpinan Usamah. Hal tersebut dilakukan untuk
membalas pembunuhan ayahnya, Zaid, dan kerugian yang diderita oleh umat
Islam dalam perang Mu’tah. Sebagian sahabat menentang keras rencana ini,
tetapi khalifah tidak peduli. Nyatanya ekspedisi itu sukses dan membawa
pengaruh positif bagi umat Islam, khususnya di dalam membangkitkan
kepercayaan diri mereka yang nyaris pudar.
Wafatnya nabi mengakibatkan beberapa masalah bagi masyarakat
muslim. Beberapa orang Arab yang lemah imannya justru menyatakan murtad,
yaitu keluar dari Islam. Mereka melepaskan kesetiaan dengan menolak
memberikan baiat kepada khalifah yang baru dan bahkan menentang agama
Islam, karena mereka menganggap bahwa perjanjian-perjanjian yang dibuat
bersama Muhammad dengan sendirinya batal disebabkan kematian nabi.
Maka tidaklah mengherankan dengan banyaknya suku Arab yang
melepaskan diri dari ikatan agama Islam. Mereka adalah orang-orang yang baru
memasuki Islam. Belum cukup waktu bagi nabi dan para sahabatnya untuk
mengajari mereka prinsip-prinsip keimanan dan ajaran Islam. Memang, suku-
suku Arab dari padang pasir yang jauh itu telah dating kepada nabi dan
mendapat kesan mendalam tentang Islam, tetapi mereka hanyalah satu titik air di
samudera. Di dalam waktu beberapa bulan tidaklah mungkin bagi nabi dapat
mengatur pendidikan atau latihan yang efektif untuk masyarakat yang tersebar di

9
Ali Shodiqin, dkk. Sejarah Peradaban Islam..., hlm, 54
6

wilayah-wilayah yang sangat luas dengan sarana komunikasi yang sangat minim
pada saat itu.10.
Masa pemerintahan Abu Bakar sangat penting. Dia terutama yang
melakukan perang melawan riddah (kmurtadan) ketika beberapa suku mencoba
melepaskan diri dari umat Islam dan menegaskan kembali kemardekaan mereka,
tetapi ia tidak bisa dinggap sebagai meluasnya pembelotan dari agama.
Pemberontakan yang terjadi benar-benar murni politis dan ekonomis.
Abu Bakar memadamkan pemberontakan itu dengan kebijaksanaan dan
pengampunan, sehingga melengkapi unifikasi Arab. Dia menagangani keluhan-
keluhan pemberontakan dengan baik, sehingga tidak akan ada balasan dari
pemberontkan yang kembali ke masyarakat. 11
Adapun kebijakan dibidang pemerintahan pada masa Abu Bakar adalah:
1) Pemerintahan berdasarkan musyawarah
Apabila terjadi suatu parkara, Abu Bakar selalu mencari hukunya
dalam kita Allah, jika beliau tidak memperolehnya, maka beliau
mempelajari bagaimana rasul bertindak dalam suatu parkara dan jika
tidak ditemukan apa yang dicari, beliau mengumpulkan tokoh-tokoh
yang terbaik dan mengajak mereka bermusyawarah. Apapun yang
diputuskan mereka setelah pembahasan, diskusi dan penelitian beliaupun
menjadikannya sebagai suatu keputusan dan peraturan.
2) Amanat Baitul Maal
Para sahabat beranggapan bahwa Baitul Maal adalah amanat
Allah, dan masyarakat kaum muslimin. Karena itu mereka tidak
mengizinkan pemasukan sesuatu kedalamnya dan pengeluaran sesuatu
dirinya yang berlawan dengan apa yang telah ditetapkan oleh tindakan
syari’at. Mereka mengharamkan tindakan penguasa yang menggunakan
Baitul Maal untuk tujuan pribadi.
3) Konsep Pemerintahan
Politik dan Pemerintahan Abu Bakar telah beliau jelaskan sendiri
dalam pidatonya:

10.
Syed Mahmudunnasir, Islam, konsepsi dan Sejarahnya, (Bandung:Rosda Karya. 1991),
hlm.163
11.
Karen Armstrong, Islam A Short History, Sepintas Sejarah Islam, (Yogyakarta: Ikon
Teralitera, 2002), hlm 31-32
7

“ Wahai manusia ! aku telah diangkat untuk mengendalikan


urusanmu, padahal aku bukan orang yang terbaik diantara kamu Maka
jikalau aku dapat menunaikan tugasku dengan baik, maka bantulah
(ikutilah) aku, tetapi jika aku berlaku salah, maka luruskanlah! Orang
yang kamu anggap kuat, aku pandang lemah sampai aku dapat
mengambil hak daripadanya. Sedangkan orang yang kamu lihat lemah,
aku pandang kuat sampai aku dapat mengembalikan hak kepadanya.
Maka hendaklah kamu taat kepadaku selama aku taat kepada Allah dan
Rasul-Nya, namun bilamana aku tiada mematuhi Allah dan Rasul-Nya,
kamu tidaklah perlu mentaatiku. Dirikanlah shalat semoga Allah
merahmati kamu.”

Dari pidato Abu Bakar tersebut, menunjukkan garis besar politik


dan kebijaksanaan Abu Bakar dalam pemerintahan dimana didalamnya
terdapat prinsip kebebasan berpendapat, tuntutan ketaatan rakyat,
mewujudkan keadilan, dan sholat sebagai intisari takwa.
4) Kekuasaan Undang-Undang
Abu bakar tidak pernah menemparkan diri beliau diatas undang-
undang. Beliau juga tidak pernah memberi sanak kerabatnya suatu
kekuasaan yang lebih tinggi dari undang-undang dan mereka dihadapan
undang-undang adalah sama seperti haknya. Bik kaum muslimin atau
non muslim.12
Dari paparan diatas bisa kita lihat bahwa Abu Bakar sangat
menjunjung tinggi sebuat konstitusi, dimana beliau melakukan nepotisme
terhadap saanak kerabatnya sekalipun beliau berkuasa dan tidak membedakan
antara kaum Muslimin maupun non Muslim.
d. Peradaban pada masa khalifah Abu Bakr Ash-Shidhiq
Bentuk peradaban yang paling besar dan luar biasa yang merupakan
suatu kerja besar yang dilakukan pada masa pemerintahan Abu Bakar adalah
penghimpunan Al-Qur’an. Abu Bakar Ash-Shidiq memerintahkan Zaid bin
Tsabit untuk menghimpun Al-Qur’an dari pelapah kurma, kulit bintang dan
dari hafalan kaum muslimin. Hal ini dilakukan sebagai usaha untuk menjaga
kelestarian Al-Qur’an setelah syahidnya beberapa orang penghapal Al-Qur’an
pada perang yamamah. Umarlah yang mengususlkan pertama kali

12
Siti Zubaidah, Sejarah Peradaban Islam, (Medan : Wal-Ashri Publishing, 2013), hlm. 65-66.
8

penghimpunana Al-Qur’an ini. Sejak itulah Al-Qur’an dikumpulkan dalam


satu mushaf. Inilah untuk pertama kalinya Al-Qur’an dihimpun.13
Selain itu, peradaban Islam yang terjadi pada praktek pemerintahan
Abu Bakar terbagi beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut:
a. Dalam bidang pranata sosial ekonomi adalah mewujudkan keadilan dan
kesejahteraan sosial rakyat. Untuk kemaslahatan rakyat ini. Ia mengelola
zakat, infak dan sedekah yang berasal dari kaum muslimin, ghonimah harta
rampasan perang dan Jizyah dari warga non-muslim, sebagai sumber
pendapatan Baitul Mal.
b. Praktek pemerintahan Abu Bakar terpenting lainnya adalah mengenai
suksesi kepemimpinan dan inisiatifnya sendiri dengan menunjuk Umar bin
Khatthab untuk menggantikannya. Ada beberapa faktor yang mendorong
Abu Bakar untuk menunjuk atau mencalonkan Umar menjadi Khalifah.
Faktor utama adalah kekawatirannya akan terulang kembali peristiwa yang
sangat menegangkan di Tsaqifah bani Saidah yang nyaris menyulut umat
Islam ke urang perpecahan, bila tidak menunjuk sesorang yang akan
menggantikannya. Pada saat itu, antara kaum anshar dan muhajirin saling
mengklaim sebagai golongan yang berhak menjadi khalifah, artinya dari
segi politik dan pertahanan keamanan, Abu akar menghendaki adanya
stabilitas politik dan keamanan bila pergantian pimpinan telah tiba
saatnya,14
Dari penunjukan umar tersebut, ada beberapa hal yang perlu dicatat:
1) Abu Bakar dalam memilih tidak meninggalkan asas musyawarah. Ia
terlebih dahulu mengadakan konsultasi untuk mengetahui aspirasi
rakyat melalui tokoh-tokoh kaum muslimin
2) Abu Bakar tidak menunjuk salah satu putranya atau kerabatnya,
melainkan memilih seseorang yang mempunyai nama dan pendapat
tempat di hati masyarakat serta disegani oleh rakyat karena sifat-sifat
terpuji yang dimilikinya.
3) Pengukuhan umar menjadi Khalifah sepeninggal Abu Bakar berjalan
dengan baik dalam satu tabi’at umum dan terbuka tanpa ada

13
Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia), hlm, 73
14
Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban..., 74
9

pertentangan dikalangan kaum muslimin, sehingga obsesi Abu Bakar


untuk mempertahankan keutuhan umat Islam dengan cara penunjukan
itu terjamin. 15
e. Ibrah yang bisa diambil pada masa Khalifah Abu Bakar
1). Khalifah Abu Bakar berlangsung melalui Syura, Semua Ahlul Halli Wal-
Aqdi dari kalangan sahabat termasuk di dalamnya Ali ikut berpastisipasi
dalam pengambilan keputusan ini. Hal ini menunjukan bahwa tidak ada
satu nash pun baik Al-Qur’an maupun Sunnah yang menegaskan hak
Khalifah kepada seseorang sepeninggal rasulullah
2). Perbedaan pendapat yang terjadi di Tsaqifah bani Saidah antar para tokoh
sahabat, dalam rangka memusyawarahkan pemilihan Khalifah, merupakan
hal lumrahyang menjadi tuntutan pembahasan suatu permasalahan.
3). Nasihat Ali kepada Abu Bakar tidak terjun memerangi kaum murtad. Ali
mengkawatirkan kaum muslimin jika beliau terbunuh. Hal ini menjadi
bukti nyata kecintaan Ali kepada Abu Bakar.
4). Setiap muslim yang merenungkan sikap yang diambil Abu bakar terhadap
kabilah-kabilahyang murtad dan tekad yang begitu kuat untuk memerangi
kabilah-kabilah tersebut, sehingga berhasil meyakinkan para sahabat yang
awal mulanya tidak bersedia melakukannya. Niscaya akan meyakini
adanya hikmah Allah yang telah mengangkat orang yang sesuai dan untuk
menghadapi tugas yang sesuai pula.
5). Mungkin ada yang mengir bahwa semata-mata wasiat dan penunjukan
ganti dapat dinilai sebagai salah satu cara oengukuhan Imamah dan
pemerintahanm dengan dalil tindakan Abu Bakar yang telah mewasiatkan
kepada Umar.16

2. Khalifah Umar bin Khottab


a. Biografi Umar bin Khottab
Umar bin Al-Khottab yang memiliki nama lengap Umar bin Khatthab bin
Nufail bin Abd Al-Uzza bin Ribaah bin Abdillah bin Qart bin Razail bin ‘adi bin
Ka’ab bin Lu’ay adalah khalifah kedua yang mengganikan Abu Bakar Ash-

15
Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban..., hlm, 76
16
Said Ramadhan Al-Buthy, Sirah Nabawiyah, (Jakarta: PT: Rabbani Press, 2006), hlm, 535-536
10

Shidiq. Dia adalah salah seorang sahabat terbesar sepanjang sejarah sesudah
Nabi Muhammad SAW. Kebesarannya terletak pada keberhasilannya, baik
sebagai negarawan yang bijaksana maupun sebagai mujtahid yang ahli dalam
membangun negara besar yang ditegakkan atas prinsip-prinsip keadilan,
persamaan dan persaudaraan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Dalam banyak hal, umar bin khatthab dikenal sebagai tokoh yang sangat
bijaksana dan kreatif bahkan genius.17
b. Proses Pengangakatan Khalifah Umar Ibnu Al-Khatthab
Sebelum khalifah Abu Bakar wafat, beliau telah menunjuk Umar sebagai
pengganti posisinya dengan meminta pendapat dari tokoh-tokoh terkemuka dari
kalangan sahabat seperti Abdurrahman bin Auf, Ustman, dan Tholhah bin
Ubaidilah. Masa pemerintahan Umar bin Khattab berlangsung selama 10 tahun 6
bulan, yaitu dari tahun 13 H/634 M sampai tahun 23 H/644 M. Beliau wafat
pada usia 64 tahun. Selama masa pemerintahannya oleh Khalifah Umar
dimanfaatkan untuk menyebarkan ajaran Islam dan memperluas kekuasaan
keseluruh semenanjung Arab.
Ia meninggal pada tahun 644 M karena ditikam oleh Fairuz (Abu Lukluk),
budak Mughirah bin Abu Sufyan dari perang Nahrrawain yang sebelumnya
adalah bangsawan Persia. Menurut Suaib alasan pembunuhan politik pertama
kali dalam sejarah Islam adalah adanya rasa syu’ubiyah (fanatisme) yang
berlebihan pada bangsa Persia dalam dirinya. Sebelum meninggal Umar
mengangkat Dewan Presidium untuk memilih khalifah pengganti dari salah satu
anggotanya. Mereka adalah Usman, Ali, Tholhah, Zubair, Saad bin Abi Waqash
dan Abdurrahman bin Auf. Sedangkan anaknya (Abdullah bin Umar), ikut dalam
dewan tersebut, tapi tidak dapat dipilih, hanya memberi pendapat saja. Akhirnya
Ustmanlah yang terpilih setelah terjadi perdebatan yang sengit antar
anggotanya.18
c. Pemerintahan Umar Ibnu Al-Khatthab sebagai kholifah
Setelah Abu Bakar menyusul kepergian rosulullah, umar meneruskan
langkah-langkah untuk membangun kedaulatan Islam sampai berdiri tegak.
Kemampuan dalam melaksanakan pembangunan ditandai dengan keberhasilan

17
Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban..., hlm, 77
18
Siti Zubaidah, Sejarah Peradaban..., hlm, 77
11

dalam berbagai bidang. Pemerintahan dibawah pimpinan umar dilandasi


dengan prinsip musyawarah. Untuk melaksanakan prinsip musyawarah itu,
umar senantiasa mengumpulkan para sahabat yang terpandang dalam
memutuskan sesuatu bagi kepentingan rakyat, karena pemikiran dan pendapat
mereka sangatlah menentukan perkembangan kehidupan negara dan
pemerintahan.
Di era umar, gelombang ekspansi besar-besaran pertama terjadi, berkat
penaklukan-penakluan di zaman itu, wilayah kekuasaan Islam sudah meliputi
jazirah arab, palestina, syiriah sebagain besar wilayah syiriah dan mesir.
Seiring dengan meluasnya wilayah kekuasaan Islam, mengharuskan
dia mengatur sistem Administrasi kenegaraan yang baik dalam kehidupan
sosial kemasyarakatan, politik, hukum maupun ekonomi. Diantaranya yang
terpenting adalah sebgai berikut:
a. Bidang Administrasi kepemerintahan
Umar membagi wilayah kekuasaan Islam menjadi delapan Propinsi, yaitu:
Mekkah, Madinah, Basrah, Kufah, Palestina dan Mesir, dengan madinah
sebagai pusat pemerintahannya. Tiap-tiap wilayah dikepalai oleh Gubernur
yang telah diangkat oleh Khalifah. Dapat dikatakan bahwa Umar bin
Khotab telah menciptakan sistem desentralisasi dalam pemerintahan Islam.
b. Bidang Administrasi peradilan
Pada masa umar didirikan pengadilan dan admnistrasi yang tertib. Ia pun
mengangkat orang-orang yang dianggap cakap dan mampu menjadi Qodhi
(Hakim) diwilayah kekuasaan. Umar memisahkan antara kekuasaan
yudikatif dan eksekutif yang ada pada pemerintahan Abu Bakar. Khalifah
dan para pejabat administratif merangkap jabatan sebagai Hakim., maka
wewenang hakim hanya terbatas pada hal warisan. Keluarga dan
sejenisnya, sedangkan masalah Qisash dan Hudhud tetap wewenang
Khalifah
c. Bidang Administrasi militer
Seiring dengan meluasnya taklukan, untuk menyiapkan pasukan yang
profesional. Umar menciptakan sistem militer yang sebelumnya tidak
dikenal yaitu seluruh personel militer harus terdaftar dalam catatan negara
dan mendapat tunjangan sesuai dengan pangkatnya. Pembentukan militer
12

secara resmi menuntut untuk melakukan mekanisme baru yang sesuai


dengan aturan-aturan militer. 19
Khalifah Umar juga meletakkan prinsip-prinsip demokratis dalam
pemerintahannya dengan membangun jaringan pemerintahan sipil yang
sempurna. Kekuasaan Umar menjamin hak yang sama bagi setiap warga
Negara. Kekhalifahan bagi Umar tidak memberikan hak istimewa tertentu.
Tiada istana atau pakaian kebesaran, baik untuk Umar sendiri maupun untuk
bawahannya sehingga tidak ada perbedaan antara penguasa dan rakyat, dan
mereka setiap waktu dapat dihubungi oleh rakyat. Kehidupan khalifah
memang merupakan penjelmaan yang hidup dari prinsip-prinsip egaliter dan
demokratis yang harus dimiliki oleh seorang Kepala Negara.
Khalifah Umar dikenal bukan saja pandai menciptakan peraturan-
peraturan baru, ia juga memperbaiki dan mengkaji ulang terhadap
kebijaksanaan yang telah ada jika itu diperlukan demi tercapainya
kemaslahatan umat Islam. Misalnya mengenai kepemilikan tanah-tanah yang
diperoleh dari suatu peperangan (ghanimah). Khalifah Umar membiarkan
tanah digarap oleh pemiliknya sendiri di negeri yang telah ia taklukkan dan
melarang kaum muslimin memilikinya karena mereka menerima tunjangan
dari baitul mal atau gaji bagi prajurit yang masih aktif. Sebagai gantinya, atas
tanah itu dikenakan pajak (Al-Kharaj).20
d. Peradaban masa Umar Ibnu Al-Khatthab
Peradaban yang paling signifikan pada masa umar, selain pola
administrasi pemerintahan, peperangan dan sebagainya adalah pedoman dalam
peradilan. Pemikiran Khalifah Umar bin Khothab khususnya dalam peradilan
yang masih berlaku sampai sekarang,
Naskah-naskah hukum acara dari umar Amirul Mu’minin kepada
Abdullah bin Qais adalah sebagai berikut:

19
Jurnal Adabiyah vol 15, Nomor 2 tahun 2015
20
Abbas Mohammad Al-Akkad, Kecermerlangan Umar bin Khattab (Jakarta: Bulan Bintang,
1978), hlm. 169
13

1. Kedudukan lembaga peradilan


Kedudukan lembaga peradilan ditengan-tengan masyarakat suatu
negara hukumnya wajib dan sunnah yang harus diikuti dan dipatuhi
2. Memahahami kasus persoalan, baru memutuskannya
Pahami persoalan suatu kasus gugatan yang diajakukan kepada anda
dan ambillah keputusan setelah jelas persoalan mana yang benar dan mana
yang salah
3. Samakan pandangan anda kepada kedua pihak dan berlaku adillah
Duduklah kedua belah pihak di majlis yang sama, pandangan mereka
dengan pandangan yang sama, agar orang yang terhormat tidak
melecahkan anda dan orang yang lemah tidak merasa teraniaya
4. Kewajiban pembuktian
Penggugat wajib mebuktikan kugugatannya dan tergugat wajib
membuktikan bantahannya.
5. Lembaga damai
Penyeselaian perkara secara damai dapat dibenarkan, sepanjang tidak
menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal
6. Penundaan persidangan
Barang siapa yang menyatakan ada suatu hal yang tidak ada tempatnya
atau suatu keterangan, berilah tempo kepadanya untuk dilaluinya.
Kemudian, jika dia memberi keterangan, hendaklah anda memeberikan
kepadanya haknya.
7. Kebenaran dan keadilan adalah masalah yang universal.
Janganlah anda dihalangi oleh suatu putusan yang telah anda putuskan
pada hari ini, kemudian anda tinjau kembali putusan itu lalu anda ditunjuk
pada kebenaran untuk kembali pada kebenaran, karena kebenaran itu suatu
hal yang qadim yang tidak dapat dibatalkan oleh sesuatu.
8. Kewajiban menggali hukum yang hidup untuk melakukan penalaran yang
logis
Pergunakanlah kekuatan logis pada suatu kasus perkara yang
diajukan kepada anda dengan menggali dan memahami hukum yang
hidup, apabila hukum suatu perkara kurang jelas dalam Al-Qur’an dan
Sunnah. Kemudian bandingkanlah permasalahan tersebut satu sama lain
14

dan ketahuilah hukum yang serupa, kemudian ambillah mana yang lebih
mirip dengan kebenaran.
9. Orang Islam harus berlaku adil.
Orang Islam dengan orang Islam lainnya haruslah adil, terkecuali
orang yang pernah menjadi saksi atau pernah dijatuji hukuman had atas
orang yang ragukan asal-usulnya,
10. Larangan bersidang ketika sedang emosional
Jauilah diri anda dari marah, pikiran kacau, perasaan tidak senang,
dan berlaku kasar terhadap para pihak. Karena kebenaran itu hanya berada
di dalam iwa yang tenang dan niat yang bersih. 21
e. Ibrah yang bisa diambil pada masa Khalifah Umar ibn Khatab
1). Tindakan pertama yang dilakukan oleh Umar adalah memecat Khlaid bin
Walid. Karena kebanayakan penulis kontemporer telah melakukan
kesalahan dalam menggapi masalah pemecatan ini. Mereka
menjadikannya bahan untuk menggugat kedudukan Khalid,
2). Dianatara yang paling menonjol yang perlu kita catat adalah setiap orang
yang memperhatikan Khalifah Umar ialah kerjasama yang bersih anatar
Umar dan Ali dalam Khilafah Umar, Ali menjadi Mustasyar (penasehat
pertama) bagi umar dalam segala persoalan dan peoblematika. Setiap kali
Ali mengususlkan pendapat, Umar selalau melaksanakannya dengan
penuh kerelaan sehingga Umar pernah berkata, ‘seandainya tidak ada Ali,
niscaya Umar celaka.
3). Sebagaiman Khalifah Abu Bakar datang pada saat yang tepat. Dimana
tidak layak pada saat itu kecuali Abu Bakar, demikian pula Khalifah
Umar. Beliau menjadi orang yang sangat tepat menjadi Khalifah pada saat
itu,hal yan paling Agung yang pernah dilakukan Umar adalah memperluas
Futuhat Islamiyah ke ujung negeri-negeri perisa, Syam dan
Maroko.membangun negeri-negeri Islam, membentuk berbagai diwan dan
mengokohkan pilar-pilar negara Islam sebagai negera peradaban yang
paling kuat di permukaan bumi.22

21
Dedi Supriyadi,, Sejarah Peradaban..., hlm, 83-84
22
Said Ramadhan Al-Buthy, Sirah..., hlm.544-546
15

3. Khalifah Ustman bin Affan


a. Biografi Khalifah Ustman bin Affan
Nama lengkapnya Ustman bin Affan bin al-ash bin umayyah bin
Abdi Syams bin Abdi Manaf. Ia dilahiran di Tahi, sutu daerah yang
subur di wilayah Hijaz pada tahun ke enam setelah tahun gajah.
Usianya kira-kiran enam tahun lebih muda dari pada rouslullah. Pada
masa jahiliyyah ia disebut dengan Abu Amar, karena kelembutan dann
keramahannya pada sesema ia juga dijuluki Abu Layla, tetapi
setelahmasa Islam berkembang nama panggilannya adalah Abu
Abdullah. 23
b. Proses pengangkatan Ustman bin Affan
Sebelum meninggal, Umar telah memanggil tiga calon
penggantinya, yaitu Ustman, Ali dan Saad bin Abi Qaqash. Dalam
pertemuan dengan mereka secara pergantian, umar berpesan agar
penggantinya tidak mengangkat kerabat sebagai pejabat. Disamping
itu, umar telah membentuk dewan formatur yang bertugas memilih
penggantinya kelak. Dewan formatur yang dibentuk umar berjumlah 6
orang. Mereka Adalah Ali, Ustman, Saad bin Aby Waqash, Abd
Rahman bin Auf, Zubair bin Awwam dan Thalahah bin Ubaidah.
Disamping itu, Abdullah bin Umar di jadikan anggota. Tetapi tidak
memiliki hak suara.
Mekanisme pemilihan Khalifah ditentukan sebagai berikut:
1). Yang berhak menjadi Khlalifah adalah yang dipilih Anggota
formatur dengan suara terbanyak.
2). Apabila suara terbagi berimbang, maka Abdullah bin Umar yang
berhak menentukannya
3). Apabila campur tangan Abdullah bin Umar tidak diterima, calon
yang dipilih oleh Abdr Ar-rahman bin Auf harus diangkat menjadi

23
Yoli Hemdi, Gia Mutia, Umi Sholehah, Kulafaur Rasyidin (Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama 2017), hlm. 136
16

Khalifah. Kalau masih ada yang menentangnya, penentang tersebut


hendaklah dibunuh. 24
c. Pemerintahan pada masa Ustman bin Affan
Masa pemerintahan Ustman bin Affan termasuk yang paling lama
apabila dibandingkan dengan khalifah lainnya, yaitu selama 12
tahun:24-36 H./644-656 M.
Perluasan pemerintahan Islam pada masa Ustman bin Affan telah
mencapai Asia dan Afrika, seperti daerah herat, Kabulm Ghazni dan
Asia Tengah juga armenia, tunisia, Cyprus, Rhodes dan bagian yang
tersisa dari persia dan berhasil menumpas pemberontakan yang
dilakukan oleh persia. Dalam bidang sosial budaya, Ustman bin Affan
telah membangun bendungan besar untuk mencegah banjir dan
mengatur pembagian air ke kota, membangun jalan, jembatan, masjid
rumah penginapan para tamu dalam berbagai bentuk serta memperluas
masjid nabi di madinah.
Peperangan yang terjadi pada masa ini adalag perang Zatis
Sawari“Perang Tiang Kapal” suatu peperangan ditengah lautan yang
belum pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Khalifah Abu
Bakar dan Umar disebut Zatis Sawari, karena pada perang tersebut
dilakukan dilaut tengah dekat kota Iskandariyah antara tentara Romawi
dibawah pimpinan kaisar Costantine dengan laskar kaum muslimin
dibawah pimpinan Abdullah bin Abi Sarah, umat Islam mengerahkan
lebih kurang 200 Kapal. 25
d. Prestasi Usaman ibn Affan
Pada masa pemerintahan Ustaman ada beberapa prestasi yang
sangat berharga, baik untuk pemerintahan Islam maupun bagi kaum
muslimin pada umunya.
1. Perluasan daulah Islamiyah pada masa Ustman telah mencapai
daerah yang belum dibebaskan pada masa Umar ibn Khothob
seperti Afrika dan Kostantinopel

24
Dedi Supriyadi,, Sejarah Peradaban..., hlm, 7
25
Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban..., hlm, 88-89
17

2. Pembentukan armada laut pertama dalam sejarah Islam atas


usul Mu’awiyah
3. Renovasi dan perluasan Masjid Nabawi
4. Usaha penyeragaman bacaan Al-Qur’an. Hal ini dilakukan atas
laporan Hudzaifah Ibn Yaman, bahwa ketika ia bersama
pasukan muslimin yang lain terlibat dalam perang armenia dan
azarbaijan. Dalam perang itu banyak orang Syam yang
membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang berbeda. Bahkan hal
tersebut hampir menimbukan perpecahan yang membuat
mereka tercerai berai. Maka Usmanpun menunjuk empat orang
untuk tugas itu, yaitu: Abdullah ibn Zubair, Sa’id bin Ash, dan
Zaid bin Tsabit, Mushaf digandakan menjadi enam salinan yang
disebarkan masing-masing ke wilayah Syam, Mesir, Basrah,
Kufah dan Yaman, sedangkan satu Mushaf lagi ditinggal
dimadinah yang dinamakan Mushaf Iman.26
e. Peradaban pada masa Ustman bin Affan
Proses kodifikasi mushaf Al-Qur’an pada masa Khalifah Ustman
adalah karya terbesar yang sangat monumental. Pembukuan ini atas
dasar dan pertimbangan untuk mengakhiri perbedaan bacaan
dikalangan umat Islam yang diketahui pada saat eksepdisi militer ke
Armenia dan Azerbaijan. Pembukuan ini dilaksanakan oleh suatu
kepanitiaan yang diketuai Zaid bin Tsabit.
Adapun kegiatan pembangunan di wilayah Islam yang luas itu,
meliputi pembangun-pembangunan daerah-daerah pemukiman,
jembatan, jalan, masjid, wisma tamu, pembangunan-pembangunan kota
baru yang kemudian tumbuh pesat. Semua jalan menuju ke madinah
dilengkapi dengan Khalifah dan Fasilitas bagi para pendatang. masjid
Nabi dimadinah diperluas, tempat persediaan air dibangun dimadinah,
di kota-kota padang pasir dan ladang-ladang perternakan unta dan
kuda. Pembangunan berbagai sarana umum ini menunjukan bahwa

26
Ustman Muhammad Al-Khamis, Hiqbah Min Al-Tarikh, (Cet, 1, Kairo: Maktabah Al-Imam
Bukhori , 2006), hlm, 125
18

Ustamn sebagai Khalifah sangat memerhatikan kemashlatan publik


sebagai bentuk manifiestasi kebudayaan sebuah Masyarakat.27
f. Ibrah yang bisa diambil pada masa Khalifah Usman ibn Affan
1). Diantara keutamaan dan keistimewaan yang dapat dicatat pada
periode pemerintahan Usman bin Affan ialah banyaknya penaklukan
dan perluasan. Pada periode ini, seluruh Khurasan berhasil
ditaklukan. Demikian pula Afrika dan Andalusia. Disamping itu
tercatat pula sebuah prestasi mulia yaitu menyatukan orang dalam
bacaan Al-Qur’an yang terpercaya setelah berkembangnya bacaan
yang dikawatirkan dapat membingungkan orang. Juga seperti
prestasinya memperluas masjid Nabawi di Madinah Al-Munawarah.
2). Betapapun keras kritik yang dilontarkan kepada Ustman karena
kebijakannya dalam memilih para gubernur dan pembantunya dari
kaum kerabatnya, kita harus menyadari bahwa kebijakan tersebut
merupakan ijtihad pribadinya. Ustman bahkan telah
mempertahankan pendapat tersebut dihadapan sejumlah besar para
sahabatnya.
3). Bersamaan dengan munculnya benih-benih fitnah pada akhir-akhir
pemerintahan Ustman, muncul pula nama Abdullah bin Saba’ di
pentas sejarah.28

4. Khalifah Ali bin Abi Tholib


a. Biografi Ali bin Abi Thalib
Khalifah Ali bin Abi Thalib adalah Amirul Mu’minin keempat
yang dikenal dengan orang yang Alim, cerdas dan taat Agama. beliau
menjadi menantu Nabi, suami dari putri rasulullah yang bernama
Fathimah, itu adalah salah satu putri Rasulullah yang ada dan
mempunyai keturunan. Dari pihak Fatimah inilah Rasulullah
mempunyai keturunan sampai sekarang.
Khalifah Ali bin Abi Thalib merupakan orang yang pertama
kali masuk Islam dari kalangan anak-anak. Nabi Muhammad SAW.

27
Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban..., hlm, 92-93
28
Said Ramadhan Al-Buthy, Sirah..., hlm. 555-557
19

semenjak kecil diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib, kemudian


setelah kakeknya meninggal diasuh oleh pamannya Abu Thalib.
Karena hasrat hendak menolong dan membalas jasa kepada pamannya,
maka Ali diasuh oleh Nabi SAW. dan di didik. Pengetahuannya dalam
agama Islam amat luas. Karena dekatnya dengan Rasulullah, beliau
termasuk orang yang banyak meriwayatkan hadist Nabi.
Keberaniannya juga masyhur dan hampir di seluruh peperangan yang
dipimpin Rasulullah, Ali senantiasa berada di barisan muka.29

b. Proses pengangkatan Ali bin Abi Thalib


Pengukuhan Ali sebagai khalifah tidak semulus pengangkatan
tiga Khalifah sebelumnya. Ali di Bai’at di tengah-tengah suasana
berkabungan atas meinggalnya Ustman, pertentangan dan kekacauan
serta kebingungan umat Islam di Madinah. Sebab, kaum pemberontak
yang membunuh Ustman mendaulat Ali supaya bersedia dibai’at
menjadi Khalifah. Setelah Ustman terbunuh, kaum pemberontak
mendatangi sahabat senior satu persatu yang ada dikota Madinah,
seperti Ali ibn Abi Thalib, Thalhah, Zubair, Saad bin Abi Waqqash
dan Abdullah bin Umar bin Khottab agar bersedia menjadi Khalifah,
namun mereka menolak, akan tetapi baik kaum pemberontak maupun
kamu Anshor dan Muhajirin menginginkan Ali untuk menjadi
Khalifah. Ia didatangi beberapa kali oleh mereka agar bersedia dibai’at
menjadi Khlaifah. Namun Ali menolak sebab, ia menghendaki agar
urusan itu diselesaikan melalui Musyawarah dan mendapat persetujuan
dari sahabat-sahabat senior termuka. Akan tetapi setelah Masyarakat
mengemukakan bahwa Umat Islam perlu segara mempunyai pemimpin
agar tidak terjadi kekacauan yang lebih besar, Akhirnya Ali bersedia di
bai’at menjadi Khalifah.30
c. Pemerintahan pada masa Ali bin Abi Tholib
Setelah Ustman wafat, masyaraat beramai rami membaiat Ali
bin Abi Tholib sebagai Khalifah. Ali memerintah hanya eman tahun.
Selam masa pemerintahannya. Ia mengahapi berbagai pergolakan.

29
Siti Zubaidah, Sejarah Peradaban Islam, (Medan : Wal-Ashri Publishing, 2013), 116-117.
30
Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban..., hlm, 93
20

Tidak ada masa sedikit pun dalam pemerintahnnya yang dapat


dikatakan stabil. Setelah menduduki jabatan Khalifah, Ali memecat
para gubernur yang diangkat oleh Utsman. Dia yakin bahwa
pemberontakan-pemberontakan terjadi karena keteledoran mereka. Dia
juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan Ustman kepada
penduduk dengan menyerahkan hasil pendapatan kepada negara dan
memakai kembali sitem distribusi pajak tahunan diantara orang-orang
Islam sebagaimana yang pernah diterapkan Umar.31
Setelah Ali terangkat menjadi khalifah, selain melakukan
Reshuffle Kabinet. Masalah pertama yang harus diselesaikan adalah
terbunuh ustman, situasi negara belum aman karena belum tahu siapa
pembunuh Ustman, banyak pihak yang igin membalas kematian
Ustman dengan caranya sendiri seperti Mu’awiyah, Al-Zubair bin
Awwam, Thalhah bin Ubadah dan Aisyah ra. Hal ini sangat
mengancam kedaulatan negara. Dalam hal ini, menurut Ali
menstabilkan kondisi negara itu lebih penting, setelah itu baru
menangkap pembunuh Ustman.
Dan kebijakan ini tidak disepakati oleh Mu’awiyah, Al-Zubair
bin Awwam, Thalhah bin Ubadah dan Aisyah ra. Mereka berpendapat
menangkap pembunuh Usman harus disegerakan. Perbedaan pendapat
inilah yang menimbulkan polemik sampai terjadi perang Jamal.
Bahkan Mua’awiyah enggan membaiat Ali sebelum pembunuh
Ustman di eksekusi. Hingga Akhirnya terjadi perang Shiffin 32.
Bersamaan dengan hal itu, kebijaksanaan-kebijaksanaan Ali
juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur damaskus,
mu’awiyah yang di dukung oleh sejumlah pejabat tinggi yang merasa
kehilangan keududukan dan kejayaan. Setelah berhasil memadamkan
pemberontakan Zubair, Tholhah dan Aisyah, Ali bergerak dari kufah
menuju Damaskus dengan sejumlah besar tentara. Pasukan bertemu
dengan pasukan Mu’awiyah di Shiffin. Pertempuran terjadi disini
dengan nama perang Shiffin. Perang ini diakhiri dengan Arbitrase

31
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada 2013), hlm. 39.
32
Ustman Muhammad Al-Khamis, Hiqbah Min Al-Tarikh (Cet, 1, Kairo: Maktabah Al-Imam
Bukhori , 2006), hlm, 75
21

(Tahkim) tapi tahkim nampaknya tidak bisa menyelesaikan masalah,


malah timbul orang ketiga yaitu: Khawarij, orang-orang yang keluar
dari barisan Ali. Konsekuensinya. Di ujuang pemerintahan Ali ibn Abi
Tholib, umat Islam terpercah menjadi tiga kekuatan politik, yaitu
Mu’awiyah, Syi’ah (Pengikut Ali) dan Khawarij (orang-orang yang
keluar dari barisan Ali Keadaan ini tidak menguntungkan Ali.
Munculnya kelompok Khawarij, menjadikan tentaranya semakin
lemah dan posisi Mu’awiyah semakin kuat. 33
d. Ibrah yang bisa diambil pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib
1). Tuntutan qishash terhadap para pembunuh Ustman bukan menjadi
sebab terjadinya perselisihan. Sebab Ali memandang perlu
diadakannya penertiban dan penataan ulang terlebih dahulu, baru
kemudian berusaha membekuk para pembunuh Ustman dengan cara
yang lebih tenang dan cermat.
2). Berangkat dari keyakinan kita bahwa Ali setiap tindakannya beliau
tidak memerturutkan hawa nafsu atau kemaslahatan pribadinya
dalam semua tindakannya.
3). Siapa saja yang memperhatikan sikap kaum Khawarij dan revolusi
dalam rangka mendukung dan membela Ali sampai kemudian
membangkang dan memusuhinya adalah korban “ Ektrimisme”
semata-mata.
Aqidah dan perilaku Islam didasarkan dengan konsep
Wasathiyah, semantara itu batasan-batasan tentang wasathiyah ini
hanya bisa di pahami melalui kaidah-kaidah ilmu.34
e. Jiwa demokrasi pada masa Khulafa’Ar-rasyidin
Setiap orang yang ikut Musyawarah itu, memiliki hak suara
untuk mengutarakan pendapatnya. Dan semua parkara diletakkkan di
hadapan Ahlul Hali Wal Aqdi, yakni orang-orang yang merupakan
figur terpenting dalam Masyarakat tanpa perubahan dan pemalsuan. 35
Dasar utama untuk memecahkan masalah dan memutuskan
parkara dihadapan mereka adalah dalil yang benar, bukannya perasaan

33
Badri Yatim, Sejarah Peradaban..., hlm 40
34
Said Ramadhan Al-Buthy, Sirah..., hlm. 568-570
35
Abul A’la Al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan (Bandung: Mizan, 1996), hlm, 131.
22

takut dari seseorang, pengaruh seseorang atau demi mempertahankan


kepentingan seseorang, atau kecenderungan pada kelompok tertentu.
Para Khalifah bertemu dan berkumpul langsung dengan
rakyatnya bukan saja terjadi pada permusyawaratan, tetapi juga setelah
sholat lima waktu dan hari jum’at, Khulafa Ar-Rasyidin juga berjalan-
jalan dipasar tanpa dikawal prajurit, pengawal, sekretaris atau staf
pribadi. Pintu rumah Khalifah juga terbuka untuk rakyatnya ingin
bertemu untuk mengadu atau mengkritiknya. 36
Ciri khalifah masa ini adalah Khalifah yang betul-betul
menurut teladan Nabi. Mereka dipilih melalui sistem Musyawarah,
yang dalam istilah sekarang disebut Demokratis. Setelah priode ini,
pemerintahan Islam berbentuk Monarki. Kekuasaan diwariskan secara
turun temurun. Selain itu, seorang Khalifah pada masa Kahilfah
Rasyidah, tidak bertindak sendiri ketika negara menghadapi kesulitan,
mereka selalau bermusyawarah dengan pembesar-pembesar yang lain.
Sedangkan, khalifah-khalifah sesudah sering bertindak Otoriter. 37

36
Abul A’la Al-Maududi, Khilafah..., 131
37
Badri Yatim, Sejarah Peradaban..., hlm, 42
23

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pengertian Khulafaurrasyidin
Khulafa'ur Rasyidun adalah empat khalifah pertama dalam tradisi
Islam, sebagai pengganti Nabi Muhammad, yang dipandang sebagai pemimpin
yang mendapat petunjuk dan patut dicontoh. Mereka semuanya adalah sahabat
dekat Nabi Muhammad SAW, dan penerusan kepemimpinan mereka bukan
berdasarkan keturunan tetapi berdasarkan hasil dari musyawarah yang
dilakukan oleh para sahabat.
2. Sistem pemerintahan masa Khulafaurrasyidin
Abu Bakar sebagai Khalifah pernnya sangat besar diantaranya
berupaya mengumpulkan Al Qur’an agar tidak punah, membangun baitul Mal,
menumpas nabi-nabi palsu dan pembangkang zakat dan lain-lain.
Umar sebagai Khalifah yang sangat adil dan tidak memihak menjadi
bukti nyata bahwa sebagai pemimpin selayaknya kita berlaku demikian, adil
tidak memandang pangkat dan golongan, status dan usia, agama dan ras
budayanya. Umar bin Khattab membangun kantor-kantor perwakilan
pemerintahan dan menunjuk gubernur-gubernur serta mendirikan jawatan pos
dan perpajakan, merupakan gambaran umum bahwa dalam pemerintahannya
sudah semakin lengkap dan teratur.
Utsman bin Affan sebagai Khalifah membawa perubahan cukup
fantastis dalam pemerintahan Islam dan peradaban Islam. Pada masa
pemerintahannya armada angakatan laut dibangun sebagai bentuk gambaran
akan kuat dan lengkapnya militer dan pemerintahan pada masanya sehingga
disegani musuh.
Khalifah Ali bin Abi Thalib menggantikan kekhalifahan Umar dengan
sebuah proses yang panjang, dalam pemerintahannya banyak ditemukan
ganjalan-ganjalan sehingga roda sebuah pemerintahannya tidak berjalan
lancar. Akan tetapi beliau tetap mengemban amanah kekahalifahan dengan
baik.
24

3. Peradaban masa Khulafaurrasyidin


Peradaban masa Khulafaurrasyidin yaitu terbentuk organisasi negara
atau lembaga-lembaga yang dimiliki pemerintahan kaum muslimin sebagai
pendukung kemaslahatan kaum muslimin. Organisasi negara tersebut telah
dibina lebih sempurna, telah dijadikan sebagai suatu nizham yang mempunyai
alat-alat perlengkapan dan lembaga-lembaga menurut ukuran zamannya telah
cukup baik, diantaranya adalah:
1. Lembaga Politik
2. Lembaga Tata Usaha Negara
3. Lembaga Keuangan Negara
4. Lembaga Kehakiman Negara

B. Saran
Berdasarkan klarifikasi diatas, penulis yakin masih jauh dari kata sempurna
baik dari aspek penulisan atau pemaparan isi makalah, maka dari itu penulis
mengharap kritik dan saran yang membangun sebagai upaya menuju yang lebih
baik dari para pembaca.
25

DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin, 2011, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT Kencana Prenadamedia


Group

Ali Shodiqin, dkk. Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik Hingga Modern,
Yogyakarta: Penerbit Jurusan SPI, fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga

Syukur, Fatah, 2009, Sejarah Peradaban Islam, Semarang: Pustaka Rizki Putra,

Fuadi, Imam, Sejarah Peradaban Islam, Yokyakarta: PT Teras Perum POLRI

Yatim, Badri, 2006 , Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,

Mahmudunnasir,.Syed,,1991, Islam, konsepsi dan Sejarahnya, Bandung:Rosda Karya.

Armstrong, Karen, 2002, Islam A Short History, Sepintas Sejarah Islam, Yogyakarta:
Ikon Teralitera,

Zubaidah, Siti, 2013, Sejarah Peradaban Islam, Medan : Wal-Ashri Publishing,

Supriyadi, Dedi, 2016, Sejarah Peradaban Islam,, Bandung: CV Pustaka Setia

Al-Buthy, Said Ramadhan, 2006, Sirah Nabawiyah, Jakarta: PT: Rabbani Press,

Jurnal Adabiyah vol 15, Nomor 2 tahun 2015

Mohammad Al-Akkad, Abbas, 1978, Kecermerlangan Umar bin Khattab, Jakarta:


Bulan Bintang,
Yoli Hemdi, Gia Mutia, Umi Sholehah, 2017, Kulafaur Rasyidin, Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama

Muhammad Al-Khamis, Ustman, 2006, Hiqbah Min Al-Tarikh, Cet, 1, Kairo:


Maktabah Al-Imam Bukhori ,

Abul A’la Al-Maududi, 1996, Khilafah dan Kerajaan, Bandung: Mizan,