Anda di halaman 1dari 16

TAFSIR BIL MA’TSUR DAN TAFSIR BIL RA’YI

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah “Studi Al-Qur‟an”

Dosen Pengampu: Dr. H. Baharuddin Fanani, M.A

Muchammad Nurussobach

NIM: 17770011

PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM

MALANG

2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejak dahulu kajian tafsir cukup mendapat perhatian dan berkembang
cukup pesat dalam tradisi keilmuan Islam. Kajian itu terkemas dan tersusun
rapi dalam semua data-data ilmu tafsir dengan aneka corak penulisan. Para
ulama telah mencoba mengklasifikasikan corak penafsiran al-qur‟an dari
berbagai sudut pandang dan dengan tingkat keterkaitan yang berbeda. Ada
yang menukik kepada pokok persoalan yang diangkat al-qur‟an dan ada yang
hanya menyentuh kulitnya saja.
Dalam pembahasan dikotomi penafsiran, tafsir dapat dibagi menjadi
dua, pertama tafsir dengan penukilan atau riwayah (tafsir bil ma’tsur) dan yang
kedua, penafsiran dengan pendapat atau rasio (tafsir bir ra’yi). Penafsiran
secara rasional seakan diposisikan dalam kedudukan yang kedua setelah tafsir
bil ma’tsur.
Kelahiran tafsir bir ra’yi selain karena kebutuhan mendesak pada
zamannya, juga sebagai kritik membangun terhadap aliran tafsir bil riwayah
atau bil ma’tsur, yang dianggap terlalu sedikit dan rigid. Dan kedua hal ini lah
yang akan dibahas lebih lanjut oleh penulis dalam makalah ini, yakni tafsir bil
ma’tsur dan tafsir bir ra’yi.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan tafsir bil ma’tsur dan tafsir bil ra’yi?
2. Apa macam-macam tafsir bil ma’tsur dan tafsir bil ra’yi?
3. Bagaimana pendapat Ulama‟ tentang tafsir bil ra’yi?

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Tafsir Bil Ma’tsur

Kata al ma’tsur adalah isim maf’ul dari kata )‫ واثارة‬- ‫(أثر – يأثر – أثرا‬
yang secara etimologis berarti menyebutkan atau mengutip (naqala) dan
memuliakan atau menghormati (akrama). al-atsar juga berarti sunah, hadis,
jejak, pengaruh dan kesan.1 Sedangkan secara terminologis tafsir bil ma‟tsur
adalah tafsir yang disandarkan kepada riwayat-riwayat yang shahih secara
tertib.2 Jadi di dalam tafsir bil ma’tsur tetap ada analisis tetapi sebatas adanya
riwayat. Artinya, penafsiran akan berjalan terus selama masih ada riwayat. 3
Sejalan dengan pengertian harfiah di atas Muhammad bin Ali As-
Shabuni, memformulasikan tafsir bi riwayah sebagai berikut; “Tafsir bi
ma’tsur/riwayah ialah tafsir yang terdapat dalam al-Qur‟an atau al-Sunah
atau pendapat sahabat, dalam rangka menerangkan apa yang dikehendaki
Allah Swt tentang penafsiran al-Qur‟an berdasar al-Sunah Nabawiyah.4
Menurut Nashruddin Baidan tafsir bil ma‟tsur adalah tasfir yang langsung
ditunjukkan oleh Nabi bahwa ayat-ayat tersebut ditafsirkan oleh ayat lain.5
Dengan demikian maka tafsir bi ma’tsur adakalanya menafsirkan al-
Qur‟an dengan al-Qur‟an, al-Qur‟an dengan al-Sunnah atau menafsirkan al-
Qur‟an dengan pendapat sahabat.
Dari definisi diatas bisa dikemukakan bahwa tafsir bil
riwayah/ma’tsur dapat dibedakan dalam tiga bentuk:

1
Muhammad Amin Suma, Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an 2, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001), hlm.
47-48.
2
Mashuri Sirojuddin Iqbal, Pengantar Ilmu Tafsir, (Bandung: Angkasa, 1987), hlm. 114.
3
Nashiruddin Baidan, Metodologi Tafsir Al-Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2005),
hlm, 46.
4
Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ikhtisar Ulumul Qur’an Praktis, (Jakarta: Pustaka Amani, 2001),
hlm. 99.
5
Nashruddin Baidan, Metode Penafsiran Alquran Kajian kritis terhadap Ayat Ayat yang Mirip,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm, 42.

2
1. Tafsir al-Qur‟an Dengan al-Qur‟an
Allah berfirman:

       

Artinya: Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, kecuali
yang diterangkan kepadamu.6

Kata: (    ) ditafsirkan dengan ayat lain:

          
Artinya: Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi,
(daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah.7

2. Penafsiran Al-Qur‟an Dengan Hadits


Allah berfirman:

     


Artinya: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja
yang kamu sanggupi.8

Nabi menafsirkan kata Al-Quwwatu (‫ )القّ ّوة‬dengan Ar-Ramyu


(‫ )الرمي‬yang artinya panah. Sabda Nabi “ ingat sesungguhnya kekuatan
adalah anak panah”.

3. Penafsiran Al-Qur‟an Dengan Pendapat Sahabat


Bagian ketiga dari tafsir bil ma’tsur adalah tafsir sahabat ini juga
termasuk tafsir yang bisa diterima sebagai pegangan. Karena para
sahabat telah berkumpul dengan Rasulullah Saw. Dan mereka telah
menyaksikan wahyu dan turunnya, mereka tau asbabun nuzul, mereka
mempunyai kesucian jiwa, dan keunggulan dalam memahami secara

6
QS. Al-Hajj (22) : 30.
7
QS. Al-Maidah (5): 3.
8
QS. Al-Anfal (8): 60.

3
benar dan selamat terhadap kalam Allah Swt. Bahkan menjadikan
mereka mampu menemukan rahasia-rahasia Al-Qur‟an lebih banyak
dibandingkan siapapun orangnya. 9
Adapun tafsir para tabi‟in ada perbedaan pendapat dikalangan
ulama. Sebagian ulama berpendapat, tafsir itu termasuk ma’tsur, karena
para tabi‟in itu bertemu sahabat. Ada pula yang berpendapat, tafsir
mereka sama dengan tafsir bir ra’yi. Artinya, para tabi‟in itu mempunyai
kedudukan yang sama dengan mufasir yang hanya menasirkan
berdasarkan kaidah bahasa Arab.10

B. Kelemahan Tafsir Bil Ma’tsur

Tafsir bil ma’tsur, memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan


diunggulkan posisinya, tapi tidak berarti kitab-kitab tafsir bil ma’stur/riwayah
terlepas dari berbagai kelemahan. Terutama ketika dihubungkan dengan tafsir
al-Qur‟an yang diwarisi dari sahabat dan tabi‟in. Ada beberapa kelemahan
didalamnya, diantaranya:11
1. Mencampuradukkan antara yang sahih dengan yang tidak sahih, seperti
dapat dikenali dari berbagai informasi yang dinisbatkan kepada sahabat
dan tabi‟in tanpa memiliki rangkaian sanad yang valid, sehingga
membuka peluang antara yang kebenaran dan kebatilan.
2. Dalam kitab tafsir bir riwayah sering dijumpai kisah-kisah Israiliyyat,
yang penuh dengan kurafat, tahayul, dan bid‟ah yang bertentangan
dengan akidah Islam.
3. Sebagian pengikut mazhab-mazhab tertentu seringkali mengklaim
pendapat mufasir-mufasir tertentu misalnya tafsir Ibnu Abbas tanpa
membuktikan kebenaran yang sesungguhnya.
4. Sebagian orang kafir zindiq yang memusui orang Islam serigkali
menyisipkan (kepercayaannya) melalui sahabat dan tabi‟in
9
Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ibid., hlm.105.
10
Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ibid., hlm.106.
11
Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ibid., hlm. 107.

4
sebagaimana mereka juga berusaha menyisipkannya melalui Rasulullah
Saw. Di dalam hadis-hadis nabawiyah. Guna menghancurkan Islam dari
dalam.

Setelah kita cermati beberapa kelebihan tafsir bi ma’stur/bir riwayah,


dan sekaligus kelemahan-kelemahannya, maka kita dapat mengerti jika tafsir bi
ma’stur/bir riwayah, dapat kita kelompokkan menjadi dua, yakni tafsir bi
riwayah yang sahih dan tidak sahih. Tafsir riwayah yang sahih yakni tafsir
yang didasarkan kepada periwayatan yang sanad maupun matannya dapat
dipertanggung jawabkan ilmu hadis. Sedangkan tafsir bir riwayah yang tidak
sahih adalah tafsir yang didasarkan kepada riwayat-riwayat yang tidak dapat
dibenarkan.

C. Pengertian Tafsir Bil Ra’yi


kata (‫ )دراية‬berakar dari kata ( ‫ ودراية‬- ‫ )دري – يدري – دريا – ودرية‬yang
artinya mengerti, mengetahui dan memahami. Kata dirayah merupakan
sinonim dengan kata ra’yun (‫ )رأي‬yang berasal dari kata (‫ )رأي – يري – رأية‬yang
berarti melihat (bashara), mengerti (adraka), menyangka atau mengira atau
menduga (basiba). Kata ar ra’yu juga bisa diartikan dengan I‟tiqad, akal
pikiran, ijtihad dan bahkan qiyas (analogi).12
Adapun yang dimaksud tafsir bi al-ra’yi adalah suatu tafsir di mana
mufassir dalam menjelaskan makna ayat berdasarkan pemahaman dan
istinbathnya dengan akal semata-mata yakni bukan pemahaman yang sesuai
dengan ruh syari‟ah.13 Keadaan itu menunjukkan bahwa penjelasan-
penjelasan Nabi. SAW tidak dapat dipisahkan dari pemahaman maksud isi
yang terdapat di dalam kandungan Al-Qur‟an.14
Yang intinya ialah menafsirkan al-Qur‟an dengan lebih
mengutamakan pendekatan kebahasaan dari berbagai seginya yang luas
dengan dasar dan kaidah yang benar. Jadi jelas bahwa tafsir bi al-ra’yi

12
Muhammad Amin Suma, Op. cit., hlm.70-71.
13
Mashuri Sirojuddin Iqbal, Op. cit., hlm. 115.
14
Abdul Muin Salim, Metodologi Ilmu Tafsir, (Yogyakarta: Teras, 2005), hlm. 97.

5
hanyalah sekedar pendapat berdasarkan ide semata, atau hanya sekedar
gagasan yang terlintas dalam fikiran seseorang.
Menurut al-Qurtubi r.a: “barangsiapa berkata tentang al-Qur‟an
(menafsirkan) dengan sesuatu dugaan atau gagasan yang terlintas dalam
fikirannya tanpa ada dasarnya, maka haram”.15 Seperti halnya sabda Nabi
Saw.

‫ (اخرجو الرتميذ والنسائي و ابو‬.‫فليتبوأ مقعده من النّار‬


ّ ‫من قال يف القران برأيو او مبا ال يعلم‬
)‫ ىذا حسن‬: ‫داود وقال الرتمذي‬

Artinya: “Barang siapa menafsirkan al-Quran dengan akalnyanya atau dengan


sesuatu yang tidak diketahui, maka ambillah tempat duduknya di neraka”.

Menurut al Qurtubi, hadis di atas mempunyai dua penafsiran:


“pertama, yaitu barang siapa berkata tentang al-Qur‟an dengan sesuatu yang
sama sekali tidak dia ketahui dari mazhab sahabat atau tabi‟in, berarti dia
telah menghadapi kemarahan Allah Swt. Kedua, barangsiapa berkata sesuatu
tentang al-Qur‟an padahal dia tahu bahwa yang benar bukanlah itu, maka
ambillah tempat duduknya di neraka”.16
Lantas al-Qurtubi memilih yang kedua. Dan itulah yang lebih tepat di
antara dua penafsiran tersebut. Sebagian ulama berpendapat bahwa ma‟na ar
ra’yu dalam hadis di atas adalah al hawa yang berarti kehendak. Jadi barang
siapa berkata sesuatu tentang al-Qur‟an menurut kehendak sendiri, meskipun
dia benar tetap dianggap salah. Karena dia telah menetapkan suatu hukum
pada al-Qur‟an dengan tidak mengetahui dasarnya serta tidak berpegang
pada mazhab ahli atsar dan menuqilnya.17

15
Mashuri Sirojuddin Iqbal, Ibid., hlm. 115.
16
Muhammad Ali Shabuni, Op. cit., hlm. 276.
17
Muhammad Ali Shabuni, Ibid., hlm. 276.

6
Pembagian Tafsir bir Ra’yi:
1. Tafsir Mahmud
Adalah penafsiran yang sesuai dengan tujuan syar‟i (Allah),
yang jauh dari kebodohan dan kesesatan, sesuai dengan kaidah bahasa
Arab serta berpegang pada uslub-uslub-nya dalam memahami nash-
nash al-Qur‟an al-Karim.18 Jadi barangsiapa menafsirkan al-Qur‟an
dengan pendapatnya, yakni dengan ijtihadnya dan dengan memenui
syarat-syarat tersebut, dalam memberikan makna-makna terhadap
ayat-ayat al-Qur‟an, maka penafsiran itu telah patut disebut “tafsir
mahmud”.
Contoh dalam menafsirkan kata dzarrah (‫ذرة‬
ّ ) dalam surah al-
Zalzalah ayat 7 dan 8, dengan benda- benda terkecil misalnya, atom,
newton dan energi yang oleh ulama-ulama klasik ditafsirkan sebagai
biji sawi, biji gandum, dan lain-lain. Demikian pula kata al-qalam
(‫ )القلم‬dalam surah al-Alaq dan surah al-Qalam. Kata al-qalam oleh
mufassir klasik (salaf) bahkan mufasirin kontemporer (khalaf)
sekalipun umum diartikan dengan pena. Penafsiran yang demikian
tentu tidak salah, mengingat alat tulis yang paling tua yang dikenal
manusia adalah pena. Tapi kata qalamun ketika diartikan yang lain,
misalkan pensil, bolpoin spidol, mesin tik, dan komputer pada zaman
sekarang juga dapat dibenarkan mengingat arti asal qalamun seperti
dalam kamus adalah alat yang digunakan untuk menulis. 19
2. Tasir Madzmum
Tafsir al madzmum adalah penfsiran al-Qur‟an tanpa dasar
ilmu atau dengan kehendaknya sendiri tanpa mengetahui kaidah-
kaidah bahasa atau syari‟ah, atau menafsirkan ayat Allah berdasarkan
mazhabnya yang rusak maupun bid‟ahnya yang yang tersesat, atau
dengan sengaja dia menyimpangkan apa yang ditekankan Allah Swt.

18
Muhammad Ali Shabuni, Ibid., hlm. 276.
19
Muhammad Amin Suma, Op. cit., hlm.73.

7
padahal dia tau bahwa kehendak Allah itu demikian dan demikian.
Tafsir semacam ini yang disebut tafsir al madzmum atau tafsir al
batil.20
Contoh: firman Allah Swt.

     

Artinya: (Ingatlah) suatu hari (kiamat) Kami panggil tiap-tiap


manusia dengan imamnya.21
Orang bodoh yang mengaku alim menafsiri ayat tersebut
bahwa: Allah memanggil manusia pada hari kiamat dengan nama
ibunya karena hendak menutupi mereka. Mereka menafsirkan kalimat
“al-Imam” dengan kalimat “al-Ummahat”. Dia mengira bahwa kata
“al-Imam” bentuk jamak dari kata “al-Ummahat” seperti terdapat
dalam firman Allah Swt.22

  

Artinya: “Dan ibu-ibu yang menyusukanmu”.23


Jadi jelas bahwa yang dimaksud kata “imam” bukanlah bentuk
jamak dari kata “ummun”. Karena akan menyalai tata bahasa dan
syara‟.

Jika dikaji dengan seksama, pembagian di atas kurang netral atau


kurang etis, sebab setiap tafsir pasti ada cacatnya. Sedangkan menurut Asy-
Syatibhi, suatu tafsir harus:24

1. Berdasarkan bahasa Arab atau pengetahuan orang Arab pada masanya.


2. Tidak boleh dihubungkan dengan ilmu kecuali yang diketahui oleh
sahabat.

20
Muhammad Ali Ash-Shabuni, Op.cit., hlm. 252.
21
QS. Al-Isra‟ (17): 71.
22
Muhammad Ali Ash-Shabuni, Op.cit., hlm. 253.
23
(QS. An-Nisa‟: 23)
24
Rachmat Syafe‟i, Pengantar Ilmu Tafsir, (Bandung: Pustaka Setia, 2006), hlm. 244.

8
Sementara itu, menurut Ibnu Taimiyah, penafsiran harus diambil dari
riwayat sahabat, sedangkan riwayat lainnya ditolak. Perlu di sini syarat-syarat
seorang mufassir yang harus dipenuhi adalah:25

1. Mempunyai iktikad yang lurus dan benar serta selalu menetapi ketentuan-
ketentuan agama.
2. Ikhlas, semata-mata bermaksud untuk bertaqarrub kepada Allah dalam
setiap amalnya.
3. Selalu bersandar dan berpedoman kepada riwayat yang bersumber dari
Rasulullah SAW. Dan para sahabatnya serta menjauhi bid‟ah.
4. Menguasai lima belas ilmu yang diperlukan oleh seorang mufassir yakni
ilmu bahasa Arab, nahwu dan shorof, istiqoq, ma‟ani, badi‟, bayan, qirat,
ushuluddin, usul fiqh, asbab an nuzul, nasikh mansukh, fiqh, hadits dan
ilmu mauhibah.

Adapun lima hal yang harus ditinggalkan mufassir, adalah: 26

1. Memaksa untuk cepat-cepat merasa faham maksud ayat tanpa lebih dahulu
memenuhi syarat-syarat seorang mufassir.
2. Terlalu jauh memasuki hal-hal yang merupakan monopoli Allah untuk
mengetahuinya.
3. Melakukan kegiatan berdasarkan hawa nafsu dan mencari keuntungan diri
sendiri.
4. Menafsirkan ayat-ayat untuk mendukung pendapat madzhab yang fasid.
5. Memastikan bahwa tafsirannya itulah satu-satunya yang sesuai dengan
maksud suatu ayat tanpa membedakan dalil.

25
Rachmat Syafe‟i, Ibid, hlm. 244.
26
Rachmat Syafe‟i, Ibid, hlm. 245.

9
D. Sumber-sumber penafsiran
Sumber-sumber yang harus diambil sebagai dasar penafsiran itu
ada empat seperti yang diterangkan oleh imam As-Suyuthi dalam kitabnya
“Al-Itqan“:27
1. Menukil dari Rasulullah Saw. Dengan teliti dan meninggalkan yang
dha’if dan maudu’.
2. Mengambil dari ucapan sahabat dalam menafsirkan. Karena ucapan
para sahabat memiliki kedudukan hukum marfu’.
3. Mengambil bahasa Arab secara mutlak. Sesungguhnya al-Qur‟an itu
diturunkan dengan bahasa Arab yang terang. Serta meninggalkan apa
yang tidak tepat yang terkandung dalam bahasa Arab.
4. Mengambil sesuatu yang sesuai dengan kalam dan berdasarkan
aturan syara‟. Seperti do‟a Nabi Saw. Untuk Ibnu Abbas r.a:

‫هم ف ّقهو يف الدين وعلّمو التّأويل‬


ّ ّ‫الل‬
Artinya: “Ya Allah, pahamkan dia pada agama serta ajarkan
kepadanya takwil”.

E. Pendapat Ulama Terhadap Tafsir Bil Ra’yi


Mengenai boleh dan tidaknya tafsir bil ra’yi, para ulama berbeda
pendapat yang terbagi menjadi dua mazhab:
1. Mazhab pertama, berpendapat bahwa tafsir bil ra’yi tidak
diperbolehkan mereka mengetengahkan argumentasi sebagai berikut: 28
a. Sesungguhnya tafsir bil ra’yi adalah mengatakan sesuatu tentang
kalamullah tanpa berdasarkan suatu ilmu, ini jelas dilarang.
Sebagaimana firman Allah Swt:

27
Muhammad Ali Ash-Shabuni, Op.cit., hlm. 255.
28
Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ibid., hlm. 268.

10
       

Artinya: dan (supaya kamu) mengatakan terhadap Allah apa yang


tidak kamu ketahui.29
b. Adanya ancaman sebagaimana tersebut dalam hadis bagi yang
menafsirkan Al-Qur‟an dengan pendapatnya:

‫ (اخرجو الرتميذ‬.‫فليتبوأ مقعده من النّار‬


ّ ‫من قال يف القران برأيو او مبا ال يعلم‬
)‫ ىذا حسن‬: ‫والنسائي و ابو داود وقال الرتمذي‬
Artinya: “Barang siapa menafsirkan al-Quran dengan akalnyanya
atau dengan sesuatu yang tidak diketahui, maka ambillah tempat
duduknya di neraka.”.

c. Firman Allah Swt.

        



Artinya: Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu


menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada
mereka dan supaya mereka memikirkan.30
Pada ayat ini Allah menyandarkan keterangan kepada
Rasulullah Saw. Karena itu dapatlah diketahui bahwa tidak ada
bagi selain beliau yang mampu memberikan keterangan terhadap
makna-makna al-Qur‟an.

d. Para sahabat dan tabi‟in tidak mau berkata sesuatu tentang al-
Qur‟an debgan pendapat mereka. Seperti yang diriwayatkan Abu
„Ubaid bin Salam, bahwa Abu Bakar Ash Siddiq

29
QS. Al-Baqarah (2): 169.
30
QS. An-Nahl (16): 44.

11
2. Mazhab kedua berpendapat bahwa mereka (jumhur ulama) yang
memperbolehkan tafsir bir ra’yi dengan alasan sebagai berikut:31
a. Sesusungguhnya Allah Swt. Telah memerintahkan kepada kita agar
merenungkan al-Qur‟an sebagaimana firman Allah Swt:
ۡ ۡ ۡ
ِ ‫كَِٰتب أنزل َٰنوُ إِل ۡيك ُم ََٰبك لِّيدَّبَّرٓواْ ءايَٰتِ ِوۦ ولِي تذ َّكر أ ُْولُواْ ٱۡللب‬
‫َٰب‬ ُ
Artinya: Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu
penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya
dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai
fikiran.32
b. Allah memerintahkan kepada orang-orang yang hendak menggali
hukum agar kembali kepada ulama, sebagaimana firman Allah
Swt:

ۡۗ ۡ ۢ ۡ ۡ
‫ول وإِ ََٰلٓ أ ُْوِِل ٱۡل ۡم ِر ِمن ُه ۡم لعلِموُ ٱلَّ ِذين ي ۡست نبِطُونوُۥ ِمن ُه ۡم‬
ِ ‫ٱلرس‬
ُ َّ ‫َل‬ِ‫ول ۡو رُّدوهُ إ‬
Artinya: “kalau mereka serahkan hal itu kepada rasul atau pada
orang yang mempunyai urusan di antara mereka, niscaya orang-
orang meneliti di antara mereka mengetahui akan hal ini”.33
c. Mereka berkata: kalau saja tafsir dengan ijtihad tidak
diperbolehkan, tentunya ijtihadpun tidak diperbolehkan, dan tentu
saja banyak hukum yang tidak tergali, ini tidak benar. Karena
seorang mujtahid dalam hukum syarak akan diberikan pahala baik
dia benar maupun salah, sepanjang ia telah menguras
kemampuannya dan mengerahkan usahanya untuk mencapai
kebenaran.
d. Para sahabat dalam hal bacaan al-Qur‟an berbeda-beda dalam
menafsirkannya. Juga telah maklum apa yang mereka katakan
tentang al-Qur‟an itu mereka dengar dari Nabi Saw. Nabi hanya
menerangkan yang bersifat pokok (dharuri). Beliau meninggalkan
yang sebagian kiranya dapat dicapai oleh pengetahuan, akal, dan

31
Muhammad Ali Ash-Shabuni, Op.cit., hlm. 271.
32
QS. Shad (38): 29.
33
QS. An-Nisa‟ (4): 83.

12
ijtihad mereka. Kalau Nabi menerangkan semua makna al-Qur‟an,
tentunya tidak terjadi perbedaan di antara mereka dalam
menafsirkannya.
e. Abu Bakar r.a pernah berkata, “ aku mengemukakan pendapat ini
berlandaskan pikiranku. Jika benar, maka itu dari Allah Swt. Dan
jika salah maka itu dariku dan dari setan”.
f. Sesungguhnya Nabi Saw. Telah mendoakan kepada Ibnu Abbas
dengan sabdanya:

‫هم ف ّقهو يف الدين وعلّمو التّأويل‬


ّ ّ‫الل‬
Artinya: “Ya Allah, pahamkan dia pada agama serta ajarkan
kepadanya takwil”.

Kalu saja takwil itu hanya terbatas pada pendengaran dan


naqal, maka tidak ada gunanya mengkhususkan Ibnu Abbas
dengan do‟a tersebut. Oleh karenaya, hal itu menunjukkan bahwa
takwil adalah tafsir bir ra’yi (dengan akal) dan ijtihad.

13
BAB III
PENUTUPAN

A. Kesimpulan
Tafsir bi ma’tsur/riwayah ialah tafsir yang terdapat dalam al-Qur‟an
atau al-Sunah atau pendapat sahabat, dalam rangka menerangkan apa yang
dikehendaki Allah Swt tentang penafsiran al-Qur‟an berdasar al-Sunah
Nabawiyah. Dengan demikian maka tafsir bil ma’tsur adakalanya menafsirkan
al-Qur‟an dengan al-Qur‟an, al-Qur‟an dengan al-Sunnah atau menafsirkan al-
Qur‟an dengan pendapat sahabat.
Adapun yang dimaksud tafsir bi al-ra’yi adalah: penafsiran al-Qur‟an
yang dilakukan berdasarkan ijtihad mufasir setelah menggali lebih dahulu
bahasa arab dari berbagai aspeknya serta mengenali lafad-lafad bahasa Arab
dan segi argumentasinya serta mempertimbangkan asbabun nuzul dan sarana
lain yang dibutuhkan oleh mufasir.

Kelebihan tafsir bil ma’tsur/riwayah adalah dianggap paling berkualitas


dan baik terutama yang dalam bentuk tafsir al-Qur‟an dengan al-Qur‟an, tafsir
al-Qur‟an dengan al-Sunnah Nabawiyah, kemudian paling mendekati
kebenaran, dan lazim diposisikan sebagai penafsiran yang paling utama.
Adapun kelemahan tafsir bil ma’tsur/riwayah adalah bercampur dengan
riwayat yang tidak sahih bahkan isra‟iliyah, sering tercatat nama-nama mufasir
terkemuka tanpa ada bukti yang benar, kemudian mudah disusupi orang-orang
kafir zindiq yang memusuhi al-Qur‟an.

Kelebihan tafsir bir ra’yi adalah lebih rasional, relatif dinamis dan
mudah menyesuaikan dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Adapun
kelemahan tafsir bir ra’yi adalah sulit menghindarkan diri dari subyektivitas
mufasirnya dan dalam hal-hal tertentu cenderung dipaksakan.

14
DAFTAR PUSTAKA

Amin, Suma Muhammad, Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an 2, (Jakarta: Pustaka Firdaus,


2001)
Ali, Ash-Shabuni, Muhammad Ikhtisar Ulumul Qur’an Praktis, (Jakarta: Pustaka
Amani, 2001)

Baidan, Nashiruddin, Metodologi Tafsir Al-Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar


Offset, 2005)

Baidan, Nashruddin, Metode Penafsiran Alquran Kajian kritis terhadap Ayat Ayat
yang Mirip, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002)

Muin, Salim Abdul, Metodologi Ilmu Tafsir, (Yogyakarta: Teras, 2005)

Syafe‟i, Rachmat, Pengantar Ilmu Tafsir, (Bandung: Pustaka Setia, 2006)

Sirojuddin, Iqbal Mashuri, Pengantar Ilmu Tafsir, (Bandung: Angkasa, 1987)

15