Anda di halaman 1dari 83

LAPORAN AKHIR 

Feasibility Study Pengembangan Trayek Penyeberangan di Pelabuhan Kendal 

ANALISIS DATA
5.1. Analisis Transportasi
5.1.1. Infrastruktur Jalan
Bila dilihat dari kondisi topografi, Kabupaten Kendal terbagi menjadi 2 (dua) daerah
dataran, yaitu daerah dataran rendah (pantai) dan daerah dataran tinggi (pegunungan).
Wilayah Kabupaten Kendal bagian utara merupakan daerah dataran rendah dengan
ketinggian antara 0 - 10 meter dpl, yang meliputi Kecamatan Weleri, Rowosari,
Kangkung, Cepiring, Gemuh, Ringinanom, Pegandon, Ngampel, Patebon, Kendal,
Brangsong dan Kaliwungu. Sedangkan bagian selatan merupakan daerah dataran tinggi
yang terdiri atas tanah pegunungan dengan ketinggian antara 10 - 2.579 meter dpl,
meliputi Kecamatan Plantungan, Pageruyung, Sukorejo, Patean, Boja, Limbangan,
Singorojo, dan Kaliwungu Selatan.
Kabupaten Kendal sebagai Kota Satelit dari Kota Semarang telah membuat
hubungan kedua daerah ini saling membutuhkan dan saling melengkapi. Kota Semarang
sebagai pusat perekonomian, perdagangan dan industri, memberi harapan bagi
masyarakat di Kabupaten Kendal untuk mengadu nasib di Kota Semarang. Dengan
berkembangnya perekonomian di Kota Semarang maka akan ikut meningkatkan
perekonomian daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan Kota Semarang, seperti
yang terjadi di Kecamatan Boja Kabupaten Kendal yang ikut merasakan manfaat dari
meningkatnya perekonomian di Kota Semarang. Sebenarnya, pertumbuhan ekonomi
dan penduduk di wilayah pinggiran Kota Semarang dan Kabupaten Kendal ini mulai
meningkat sejak jalan raya Jerakah-Mijen dilebarkan pada tahun 2004-2012 yang lalu.
Dampak positif dari pelebaran jalan ini adalah meningkatnya perekonomian di kedua
wilayah karena akses jalan yang lebih mudah dan lancar. Namun, sejalan dengan
meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan penduduk, kepadatan lalu lintas di wilayah ini
juga meningkat. Hal itu dapat kita lihat saat jam berangkat dan pulang kerja dimana
jalan raya Semarang-Boja padat oleh kendaraan pribadi khususnya kendaraan roda dua.
5. ANALISIS DATA 

Dari aspek transportasi Kendal berada di jalur pantura yang merupakan jalur
penghubung Pulau Jawa di sisi Utara yang sangat ramai, Angkutan umum antarkota
pada umumnya dilayani oleh bus. Kendal juga dilintasi jalur kereta api, ada tiga stasiun
(Weleri, Kalibodri dan Kaliwungu) dengan stasiun terbesarnya adalah Weleri.
Kebanyakan kereta api jarak jauh tidak singgah di stasiun ini.
Transportasi merupakan suatu sistem yang digunakan untuk memindahkan barang
dan/atau manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Dasar model transportasi terbagi
menjadi tiga, yaitu aktivitas, pergerakan, dan jaringan. Jaringan yangd imaksud adalah
jaringan jalan yang terbagi menjadi dua, yaitu jaringan jalan primer dan jaringan
sekunder. Jaringan jalan primer, di mana menghubungkan antar kota dalam skala
nasional yang ditunjukkan adanya jalan arteri primer (Jalan Soekarno-Hatta) yang
menghubungkan antara Kecamatan Kaliwungu dengan Kecamatan Patebon dan
merupakan jalan utama penghubung antara Kabupaten Batang dengan Kota Semarang.
Sedangkan jaringan jalan sekunder, di mana menghubungkan antar zona atau aktivitas.
Jaringan jalan sekunder ditunjukkan dengan adanya jalan lokal baik primer atau
sekunder, dimana jalan tersebut menghubungkan antar-bangkitan, yaitu zona
permukiman-zona komersial atau zona komersial-zonakomersial lain dikarenakan di
Kota Kendal terdapat tiga pasar yang saling terhubung, yaitu Pasar Induk Kendal, Pasar
Patukangan, dan Pasar Kebondalem.
Dari aspek jaringan jalan, data BPS tahun 2015 menyebutkan bahwa panjang total
jalan di Kabupaten Kendal mencapai 771 km, dengan kondisi baik sepanjang 286 km
atau 37 persen, kondisi sedang sepanjang 173 km atau 22 persen, kondisi rusak
sepanjang 197 km atau 26 persen, dan kondisi rusak parah sepanjang 115 km atau 15
persen. Dari data tersebut apabila ditotal untuk kondisi rusak adalah sepanjang 312 km,
atau mencapai 40 persen dari total panjang jalan. Namun hal ini telah diperbaiki pada
tahun anggaran 2016 sehingga tingkat kerusakan jalan menurun pada tahun 2017
menjadi sekitar 35 persen.
Peta jaringan jalan di Kabupaten Kendal dapat dilihat pada gambar berikut ini.

 
 
  5 - 2 
5. ANALISIS DATA 

Gambar 5. 1. Peta Jaringan Jalan Kabupaten Kendal

Dari aspek infrastruktur, pembangunan dan pengembangan infrastruktur di Kabupaten


Kendal menjadi salah satu prioritas di tahun 2018 dan 2019 (termasuk sebagai 6 daerah
di Jawa Tengah, selain Kota Semarang, Kabupaten Demak, Kabupaten Semarang, Kota
Salatiga dan Kabupaten Grobogan). Infrastruktur jalan juga menjadi salah satu prioritas
penanganan. Hal ini disebabkan karena pada tahun 2017 terdata bahwa kondisi jalan
yang rusak sekitar 17,37 persen dan yang rusak berat sekitar 17,25 persen, sehingga
total jalan yang kondisinya rusak sekitar 34,62 persen. Sedangkan kondisi infrastruktur
jalan yang baik sekitar 46,56 persen dan yang kondisi sedang sekitar 19,98 persen atau
total jalan yang kondisinya baik sekitar 65,38 persen. Pada tahun 2018 Dinas PUPR
Kabupaten Kendal juga telah menganggarkan dana sekitar Rp. 50 Miliar untuk
perbaikan jalan sepanjang 45 km.
Contoh foto kerusakan jalan dapat dilihat pada gambar berikut ini.

 
 
  5 - 3 
5. ANALISIS DATA 

Gambar 5. 2. Contoh Kondisi Kerusakan Jalan di Salah Satu Ruas Jalan di Kendal
Kerusakan jalan diakibatkan karena banyaknya kendaraan berat yang melintas,
khususnya yang membawa material untuk proyek Jalan Tol Semarang – Batang (sekitar
Pasar Gladak Kaliwungu), serta banyaknya kendaraan berat yang mengangkut hasil
pertambangan bahan galian golongan C (di Kecamatan Kaliwungu Selatan).
Di tahun 2018, anggaran untuk pembangunan infrastruktur terbanyak di wilayah
Sukorejo, Plantungan, Pageruyung dan Patean. Peta infrastruktur di Kabupaten Kendal
dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 5. 3. Infrastruktur Kabupaten Kendal

 
 
  5 - 4 
5. ANALISIS DATA 

(sumber : Kementerian PU)


5.1.2. Analisis Penumpang Kondisi Eksisting
Pengguna jasa kapal penyeberangan sebagian besar merupakan pegawai swasta
yang bekerja pada perkebunan sawit. Para pekerja tersebut membawa keluarga serta
kerabatnya untuk bekerja di Pulau Kalimantan di bidang yang sama. Selain Pegawai
swasta beberapa penumpang juga ada yang bergerak pada usaha mandiri atau
wiraswasta serta ada beberapa penumpang yang berstatus sebagai pelajar dan
mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di daerah Pulau Jawa namun berasal
dari Pulau Kalimantan.
Berikut ini disajikan hasil survey data primer terhadap penumpang KM
Kalibodri.

Gambar 5. 4. Karakteristik Penumpang


Gambar di atas memperlihatkan karakteristik penumpang kapal penyeberangan
kondisi eksisting untuk trayek Kendal – Kumai, yang menunjukkan bahwa sebagian
besar (75 persen) penumpang merupakan pegawai swasta, disusul 15 persen adalah
wiraswasta, dan sisanya 5 persen terdapat pelajar dan mahasiswa.

 
 
  5 - 5 
5. ANALISIS DATA 

Gambar 5. 5. Maksud Perjalanan Penumpang


Sesuai dengan analisis sebelumnya yang menggambarkan karakteristik
penumpang, maka maksud perjalanan penumpang juga serupa, yakni bahwa sebagian
besar penumpang bertujuan untuk bekerja (89 persen), dan sekolah (11 persen).
Dari hasil survey pada penumpang KMP Kalibodri didapatkan data bahwa para
penumpang tidak terlalu sering dalam menggunakan jasa kapal tersebut hal tersebut
dapat dilihat dari frekuensi penggunaan kapal dalam waktu 1 tahun dimana sebagian
besar penumpang hanya menggunakan 2-3 kali dalam waktu 1 tahun.

Gambar 5. 6. Frekuensi Perjalanan Penumpang

 
 
  5 - 6 
5. ANALISIS DATA 

Gambar di atas menunjukkan bahwa frekuensi terbesar perjalanan penumpang


adalah 2 – 3 kali per tahun (48 persen), disusul 1 kali per tahun (24 persen), 3 – 4 kali
per tahun (19 persen), dan lebih dari 6 kali per tahun (9 persen).
Dari aspek pemilihan moda, kebanyakan penumpang lebih memilih pesawat
sebagai pilihan moda transportasi alternatif apabila sedang tidak ada jalur
penyeberangan, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini, yaitu sebanyak 81
persen akan memilih menggunakan moda transportasi udara, sedangkan 19 persen tetap
memilih moda penyeberangan.

Gambar 5. 7. Alternatif Moda Transportasi


Dari aspek tujuan perjalanan, penumpang KMP Kalibodri paling banyak
melakukan perjalanan dengan tujuan ke daerah Kumai yaitu sebanyak 33 persen, disusul
ke daerah Kalimantan Barat sebanyak 24 persen, Pangkalan Bun sebesar 19 persen,
Banjarmasin sebesar 14 persen, dan Kalimantan Tengah sebesar 10 persen, seperti yang
terlihat pada gambar di bawah ini.

 
 
  5 - 7 
5. ANALISIS DATA 

Gambar 5. 8. Tujuan Perjalanan Penumpang

5.2. Analisis Tata Ruang terhadap Kawasan


Pelabuhan
5.2.1. Umum
Perkembangan (fisik) merupakan manifestasi spesial dari pertambahan
penduduk sebagai akibat dari meningkatnya proses urbanisasi dan proses alamiah
(melalui kelahiran), yang pada gilirannya meningkatkan kepadatan penduduk serta
mendorong proses pemekaran kota, sedangkan perubahan merupakan sinyalemen yang
lebih bersifat non fisik, yaitu suatu fenomena sosial budaya yang merupakan bagian dari
evolusi peradaban masyarakat kota yang berkembang semakin kompleks bersama waktu
dan dapat dilihat dari perubahan tata nilai dan perilaku. Pertumbuhan dan
perkembangan kawasan perkotaan ditandai dengan kemanfaatan lahan melalui pola tata
guna lahan, baik tata guna lahan urban pada kawasan perkotaan maupun lahan rural
pada kawasan pedesaaan, dimana pada kenyatannya kehidupan yang ada pada suatu
perkotaan tidak dalam konstan atau tetap dalam bentuk monumental yang statis, tetapi
tumbuh, tenggelam dan berkembang secara dinamis. Dengan adanya pertumbuhan
perkotaan secara dinamis tersebut, maka pola pergeseran dan perubahan tataguna lahan
juga tumbuh dan berkembang secara dinamis pula.

 
 
  5 - 8 
5. ANALISIS DATA 

Pertumbuhan dan perkembangan penggunaan lahan kota sebagai akibat


pertambahan penduduk yang selalu meningkat, pada gilirannya telah mengakibatkan
peningkatan permintaan atas tanah di kota dengan sangat kuat, untuk memenuhi
kegiatan usahanya. Sedangkan persediaan tanah sangat terbatas baik luas maupun
penyebarannya, sehingga tanah sudah menjadi komoditi yang nilainya ditentukan oleh
kekuatan pasar.
Kabupaten Kendal merupakan daerah yang sangat strategis, karena termasuk perkotaan
KEDUNGSEPUR (Kendal, Demak, Ungaran, Semarang dan Purwodadi) serta
berbatasan langsung dengan Kota Semarang (hinterland). Dampak perkembangan
ekonomi Kota Semarang yang cukup tinggi serta jumlah penduduk yang besar secara
langsung akan mempengaruhi wilayah Kendal. Di samping itu Kabupaten Kendal juga
merupakan jalur utama lalu lintas (jalur pantura) sehingga berpotensi untuk
meningkatkan tingkat sosial ekonomi penduduknya.
Secara fisik sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi kota modern yaitu telah
dibangunnya berdirinya berbagai bangunan baru yang menggantikan gedung lama dan
disisi lain perubahan non fisik juga terjadi, yaitu pergeseran pola hidup yang agraris
kepada pola hidup yang kapitalis (buruh pabrik atau bergadang). Ini terdorong oleh
tuntutan perubahan dan orientasi pola kehidupan masyarakat yang makin mengarah
pada pentingnya nilai ekonomi yang komersial. Gejala ini ditandai dengan berubahnya
fungsi-fungsi bangunan yang semula berfungsi sebagai rumah kemudian beralih fungsi
menjadi tempat usaha, seperti rumah makan, toko, rumah pemondokan, bengkel,
industri rumah tangga dan lain sebagainya.
Pengelolaan dan pengalokasian penggunaan lahan dalam hubungannya dengan
penataan/perencanaan struktur ruang kota yang diharapkan mampu mewadahi segala
aktivitas yang dilakukan warga kota dan mengurangi kesenjangan pembangunan antar
wilayah sehingga pola struktur tata ruang mampu menjadi “entry point” bagi ekselerasi
pembangunan kota. Masyarakat berperan sekali dalam pembangunan, dengan diberi
penerangan langsung tentang apa yang sedang dilakukan dan mengapa hal tersebut baik
untuk mereka, maka mereka (masyarakat) dapat menentukan sikapnya.

 
 
  5 - 9 
5. ANALISIS DATA 

Pola penggunaan lahan/ruang yang terjadi dalam suatu kota terbentuk oleh tiga aspek,
yaitu;
(1) Sistem Kegiatan Manusia (activity system), aspek ini berkaitan dengan aktivitas
yang dilakukan oleh manusia yang memanfaatkan ruang untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya.
(2) Proses merubah ruang/lahan (land development system), aspek ini berkaitan dengan
pembangunanpembangunan yang dilakukan oleh masyarakat yang pada akhirnya
mengubah fungsi dari lahan/ruang.
(3) Sistem Lingkungan (enviromental system), aspek ini berkaitan dengan fisik
dasar/bentuk lahan yang akan dijadikan wadah bagi segala aktivitas manusia, dalam
konteks ini apakah ruang itu mampu/bisa dijadikan wadah bagi aktivitas atau
sebaliknya, karena kondisi dari bentuk lahan tersebut.
Penggunaan lahan diperkotaan bukanlah suatu yang statis, secara fisik pertumbuhan
dan perkembangan kawasan perkotaan ditandai dengan perubahan fungsi lahan yang
bersifat rural ke arah penggunaan lahan yang bersifat urban dengan pengertian lain
bahwa perkembangan lahan perkotaan kecenderungan mengarah kepada penggunaan
lahan untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat terbangun seperti ; lahan pemukiman, lahan
perdagangan, lahan industri, lahan perkotaan, serta untuk fasilitas-fasillitas perkotaan.
Sedangkan secara nilai (land value), perkembangan penggunaan lahan perkotaan selalu
mengarah kepada nilai lahan yang bersifat profit oriented (keuntungan ekonomi),
sehingga pada umumnya lahan perkotaan dimanfaatkan secara optimal untuk
pencapaian profit, dan agak mengabaikan pelayanan publik (publik service).
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kendal merupakan kebijakan Pemerintah
Kabupaten Kendal dan strategi pemanfaatan ruang wilayah kabupaten dan dasar dalam
penyusunan program pembangunan yang menetapkan lokasi kawasan yang harus
dilindung, lokasi pengembangan kawasan budidaya termasuk kawasan produksi, dan
kawasan permukiman, pola jaringan prasarana dan sarana wilayah, serta kawasan
strategis dalam wilayah Kabupaten Kendal yang akan diprioritaskan pengembangannya
dalam kurun waktu perencanaan yaitu 20 (dua puluh) tahun. Tujuan dibuatnya rencana
tata ruang wilayah adalah untuk mewujudkan ruang wilayah sebagai kota industry yang

 
 
  5 - 10 
5. ANALISIS DATA 

didukung oleh pertanian, produktif, prospektif, dan berkelanjutan menuju penguatan


ekonomi masyarakat.
5.2.2. Peraturan Daerah Kabupaten Kendal Nomor 20 Tahun 2011 tentang
Rencana Tata​ ​Ruang Wilayah Kabupaten Kendal Tahun 2011 – 2031
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Kendal Nomor 20 Tahun 2011
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kendal Tahun 2011 – 2031,
disebutkan bahwa beberapa kebijakan yang mendukung kawasan pelabuhan adalah :
pengembangan sarana prasarana wilayah untuk mendukung kegiatan industri; yang
dilakukan dengan strategi meningkatkan akses dari kawasan industri ke ​pelabuhan ​dan
pasar. Di dalam Perda ini pula rencana transportasi laut merupakan sistem prasarana
utama di wilayah Kabupaten Kendal. Pada pasal 11 tertera bahwa, rencana
pengembangan prasarana transportasi laut meliputi :
a. Pengembangan pelabuhan penumpang berada di Kecamatan Kaliwungu;
b. Rencana jalur kapal penyeberangan melayani jalur Kendal – Kumai Kalimantan
Tengah;
c. Pelabuhan sebagaimana dimaksud akan digunakan untuk melayani angkutan laut
dan angkutan penyeberangan; dan
d. Rencana pengembangan pelabuhan Kendal berada di Kecamatan Kaliwungu.
Khusus pada PKL (Pusat Kegiatan Lokal) perkotaan Kaliwungu juga diarahkan pada
pengembangan fasilitas dasar kawasan industri, pusat perdagangan, jasa skala regional,
dan fasilitas pelayanan transportasi laut skala nasional.
Sedangkan perwujudan rencana struktur ruang wilayah dalam aspek perwujudan sistem
prasarana di bidang transportasi laut disebutkan (Pasal 49 ayat 3) bahwa pengembangan
prasarana transportasi laut mencakup kegiatan:
1. peningkatan pelabuhan penyeberangan (ASDP);
2. penyusunan revisi Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Pelabuhan Kendal;
3. penyusunan masterplan pelabuhan kendal; dan
4. rencana pembangunan pelabuhan Kendal.
Untuk ketentuan umum peraturan zonasi sistem jaringan prasarana untuk prasarana
transportasi laut disusun dengan ketentuan : a. keselamatan dan keamanan pelayaran; b.

 
 
  5 - 11 
5. ANALISIS DATA 

pemanfaatan ruang untuk kebutuhan operasional dan pengembangan kawasan


pelabuhan perikanan dan pendaratan ikan dengan tingkat intensitas menengah hingga
tinggi yang kecenderungan pengembangan ruangnya dibatasi; c. pelarangan alih fungsi
lahan yang berfungsi lindung di sepanjang kawasan sempadan pantai; dan d. pelarangan
kegiatan yang dapat mengganggu fungsi lindung sebagai sarana fasilitas umum.
Ketentuan umum peraturan zonasi sistem jaringan prasarana untuk alur pelayaran
disusun dengan memperhatikan: pemanfaatan ruang pada badan air di sepanjang alur
pelayaran dibatasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
pemanfaatan ruang pada kawasan pesisir di sekitar badan air di sepanjang alur pelayaran
dilakukan dengan tidak mengganggu aktivitas pelayaran.
5.2.3. Peraturan Daerah Kabupaten Kendal Nomor 25 Tahun 2007 tentang
Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Pelabuhan Kaliwungu Kabupaten
Kendal
Di skala mikro khususnya pada Pelabuhan Kaliwungu Kendal, rencana detail
tata ruang telah diatur di dalam Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Kendal Nomor 25
Tahun 2007 tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Pelabuhan
Kaliwungu Kabupaten Kendal, yang bertujuan untuk mengatur agar pembangunan
pelabuhan dan pengoperasian kawasan Pelabuhan Kaliwungu, dapat memberikan nilai
tambah yang optimal khususnya di bidang sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan
bagi masyarakat luas. RDTR ini juga bertujuan untuk mewujudkan ruang pada kawasan
pelabuhan yang aman, produktif, dan berkelanjutan dengan kegiatan menyusun rencana
detail Tata Ruang Kawasan Pelabuhan sebagai dasar dalam pelaksanaan pembangunan
guna memanfaatkan dan mengembangkan ruang bagi kegiatan sosial ekonomi berupa
transportasi dan pendukung, sarana-prasarana kawasan industri, dan penerbitan
perizinan lokasi pembangunan dan perencanaan investasi yang dilaksanakan
pemerintah, pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah. Secara fungsi RDTR ini
adalah sebagai dasar dalam pemberian rekomendasi pemanfaatan ruang; dan sebagai
dasar dalam pengembangan fungsi pelayanan berbagai kegiatan pemerintah, jasa
kepelabuhan, jasa penunjang kepelabuhan serta jasa kawasan.
Wilayah perencanaan RDTR ini seluas 500 hektar yang terdiri dari :

 
 
  5 - 12 
5. ANALISIS DATA 

1. wilayah perairan, seluas ± 389 Ha (tiga ratus delapan puluh sembilan) hektar,
meliputi area di dalam break water terbangun selebar + 1.125 m 2 , dari titik
terluar break water timur sepanjang + 875 m 2 ke arah timur dan titik terluar
break water barat sepanjang + 975 m 2 ke arah barat.
2. wilayah daratan, seluas ± 111 Ha (seratus sebelas) hektar, membentang secara
linier sejauh + 2.975 m 2 dan + 240 m 2 ke selatan.
Wilayah tersebut dibagi ke dalam zona sebagai berikut :
1. kawasan kolam pelabuhan (Basin), dengan luas ± 154 (seratus lima puluh
empat) ha, yang mencakup :
a. Garis sempadan bangunan depan sepanjang 8 ( delapan ) meter; dan
b. Garis sempadan bangunan belakang bersinggungan dengan garis pantai
sepanjang 100 M (seratus) meter dari titik pasang tertinggi dari daratan.
2. kawasan dermaga khusus, dengan luas ± 28 (dua puluh delapan) ha, mencakup :
a. Garis sempadan bangunan depan sepanjang 8 ( delapan ) meter;
b. Garis sempadan bangunan belakang bersinggungan dengan garis pantai.
3. kawasan angkutan barang, dengan luas ± 40 (empat puluh) ha, mencakup :
a. Garis sempadan bangunan 8 ( delapan ) meter;
b. Koefisien dasar bangunan 60%. (enam puluh persen)
4. kawasan pelabuhan angkutan penumpang, dengan luas ± 18 (delapan belas) ha,
dengan aturan :
a. Garis sempadan bangunan 8 (delapan) meter;
b. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) sebesar 40% (empat puluh persen);
c. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) sebesar 60% (enam puluh persen);
d. Ketinggian Bangunan maksimal setinggi 2 (dua) lantai;
e. Kemiringan atap maksimal sebesar 35 0 - 40 0 (tiga puluh lima derajad
sampai dengan empat puluh derajad ).
5. kawasan Marina (Waterfront Area), dengan luas ± 85 (delapan puluh lima) ha,
dengan aturan :
a. Garis sempadan bangunan sebesar 8 ( delapan ) meter;
b. Garis sempadan bangunan belakang bersinggungan dengan garis pantai;

 
 
  5 - 13 
5. ANALISIS DATA 

c. Koefisien dasar bangunan 60% ( enam puluh persen );


d. Koefisien lantai bangunan 40% ( empat puluh persen ).
6. kawasan penyangga, dengan luas ± 2,5 (dua koma lima) ha, dengan aturan :
a. Garis sempadan bangunan sebesar 8 ( delapan ) meter; dan
b. Garis sempadan bangunan belakang bersinggungan dengan garis pantai.
7. wilayah perairan yang merupakan kawasan pelabuhan yang pemanfaatannya
milik Pemerintah Daerah dan tidak dapat digunakan oleh sektor privat, dengan
luas ± 172,5 ( seratus tujuh puluh dua koma lima ) ha.
5.2.4.Analisis Sebaran Bangunan dan Guna Lahan
Kondisi wilayah Kabupaten Kendal dengan wilayah seluas 1.002,23 Km​2
memiliki 20 kecamatan yang terdiri dari 286 kelurahan, 1.140 dukuh, 1.490 RW dan
6.451 RT. Jumlah penduduk yang terdaftar pada tahun menurut Badan Pusat Statistika
Kabupaten Kendal mencapai 961.989 jiwa dengan kepadatan penduduknya sebesar
959,84 jiwa/km​2​. Kabupaten Kendal bisa dikatakan sebagai kabupaten yang mempunyai
wilayah agraris. Hal ini ditunjukan dengan besarnya luas lahan yang digunakan untuk
pertanian. Dari seluruh luas lahan yang ada di Kabupaten Kendal, lahan yang
dipergunakan untuk tanah sawah sebesar 25,93 %. Penggunaan lahan selain untuk tanah
sawah meliputi tegalan 20,89 %, hutan 15,69 %, perkebunan 7,85 %, lahan bukan
pertanian 23,71 %, dan lain – lain 5,93 %.

 
 
  5 - 14 
5. ANALISIS DATA 

Gambar 5. 9. Luas Penggunaan Tanah Kabupaten Kendal, 2016


Berdasarkan data guna lahan di wilayah Kabupaten Kendal maka masih
dimungkinkan pengembangan penggunaan lahan untuk kegiatan pelabuhan. Namun
deminkian, sesuai dengan Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007
dan Keputusan Presiden Nomor 51 tahun 2016 tentang sempadan pantai masih banyak
terjadi pelanggaran terhadap pemanfaatan ruang wilayah oleh pelaku ekonomi
(investor) dan masyarakat seperti adanya bangungan di sempadan pantai baik untuk
kegiatan perikanan tambak, perdagangan, maupun tempat tinggal. Disamping itu,
kawasan pesisir sangat rentan bencana seperti gelombang pasang, abrasi dan tsunami.
Pola ruang khususnya di Kecamatan Kaliwungu didominasi peruntukan kawasan
industri.

Gambar 5. 10. Peta sebaran bangunan di Kecamatan Kaliwungu (​Sumber :


BPN Online)
Kecamatan kaliwungu merupakan satu dari 20 kecamatan di Kabupaten Kendal
dengan wilayah sebelah Utara berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Luas wilayah
Kecamatan Kaliwungu mencapai 47,73 Km​2 dengan desa terluas di Kecamatan
Kaliwungu adalah Desa Mororejo dengan luas wilayah sebesar 14,35 Km​2 (30,07%).
Dengan luasan tersebut, sebagian besar wilayah Kecamatan Kaliwungu digunakan
sebagai lahan bukan pertanian yang berupa rumah/bangunan, hutan Negara rawa-rawa,

 
 
  5 - 15 
5. ANALISIS DATA 

dan lainnya yaitu mencapai 21,21 Km​2 (44,3%), selebihnya untuk lahan sawah sebesar
7,94 Km​2​ (16,62%) dan lahan pertanian bukan sawah sebesar 18,59 Km​2​ (38,95%).

Gambar 5. 11. Luas Penggunaan Tanah Kecamatan Kaliwungu, 2016


Lokasi Pelabuhan Kendal di Kecamatan Kaliwungu menurut RTRW Kabupaten
Kendal merupakan kawasan peruntukan indsutri. Untuk dapat menuju lokasi Pelabuhan
Kendal dapat ditempuh melalui jalan akses menuju pelabuhan. Jalan akses Pelabuhan
Kendal menghubungkan langsung lokasi Pelabuhan Kendal menuju jalan arteri utama
yang berstatus sebagai jalan nasional. Jalan itu merupakan jalur utama lintas pantai
utara Pulau Jawa.

Gambar 5. 12. Lokasi Pelabuhan dan Jalan Akses menuju Pelabuhan Kendal

 
 
  5 - 16 
5. ANALISIS DATA 

Gambar 5. 13.
5.3.Analisis Sosial
Kecamatan Kaliwungu merupakan satu dari 20 kecamatan di Kabupaten Kendal
Propinsi Jawa Tengah, dengan wilayah sebelah Utara berbatasan dengan Laut jawa,
sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Kaliwungu Selatan, sebelah Barat
berbatasan dengan Kecamatan Brangsong dan sebelah Timur berbatasan dengan Kota
Semarang, dengan ketinggian tanah antara 0 sampai dengan 4,5 meter di atas
permukaan laut. Luas wilayah Kecamatan Kaliwungu mencapai 47,73 Km2 dengan
sebagian besar wilayahnya digunakan sebagai lahan bukan pertanian yang berupa
rumah/bangunan, hutan negara, rawa-rawa dan lainnya yaitu mencapai 21,21 Km2
(44,43%), selebihnya untuk lahan sawah sebesar 7,94 Km2 (16,62%) dan lahan
pertanian bukan sawah sebesar 18,59 Km2 (38,95%).
Apabila dilihat menurut luas wilayah desa, desa terluas di Kecamatan Kaliwungu
adalah Desa Mororejo dengan luas wilayah sebesar 14,35 Km2 (30,07 persen dari luas
wilayah Kecamatan Kaliwungu), sementara desa dengan luas terkecil adalah Desa
Karangtengah dengan luas hanya sebesar 1,2 Km2 (2,52 persen dari luas wilayah
Kecamatan Kaliwungu). Menurut jarak kantor desa ke ibu kota Kecamatan Kaliwungu,
Desa Wonorejo merupakan desa terjauh dengan jarak sejauh 3,5 Km sedangkan desa
terdekat adalah Desa Sarirejo yang merupakan desa tempat ibukota Kecamatan
Kaliwungu.
Jumlah penduduk Kecamatan Kaliwungu tahun 2016 sebanyak 58.734 jiwa, terdiri
dari 29.487 jiwa (50,20 %) laki-laki dan 29.247 jiwa (49,80 %) perempuan. Desa
dengan jumlah penduduk terbesar adalah Desa Kutoharjo yaitu mencapai 11.795 jiwa
(20,08 persen dari total jumlah penduduk Kecamatan Kaliwungu). Sementara itu, Desa
Kumpulrejo merupakan desa dengan jumlah penduduk terkecil di Kecamatan
Kaliwungu yaitu sebesar 2.706 jiwa (4,61 persen dari total jumlah penduduk Kecamatan
Kaliwungu). Kepadatan penduduk di Kecamatan Kaliwungu tahun 2016 sebesar
1.231jiwa/km2, hal ini menunjukkan bahwa setiap 1 km2 luas wilayah di Kecamatan
Kaliwungu dihuni oleh sekitar 1.231 jiwa. Kepadatan penduduk di Kecamatan
Kaliwungu selama tiga tahun terakhir mengalami naik turun, pada tahun 2014 sebesar

 
 
  5 - 17 
5. ANALISIS DATA 

1.232 jiwa/km2 menurun menjadi 1.219 jiwa/km2 pada tahun 2015. Desa terpadat di
Kecamatan Kaliwungu adalah Desa Kutoharjo dengan kepadatan penduduk sebesar
5.098 jiwa/km2, sedangkan Desa Wonorejo merupakan desa dengan kepadatan
penduduk terkecil yaitu sebesar 342 jiwa/km2. Piramida penduduk Kecamatan
Kaliwungu tahun 2016 cenderung berbentuk kerucut dengan struktur umur penduduk
tergolong penduduk usia muda. Apabila dilihat menurut kelompok umur, penduduk
terbesar berada pada kelompok umur 15 - 19 tahun yaitu sebesar 6.230 jiwa. Sedangkan
jumlah penduduk terkecil berada pada kelompok umur 75 + tahun yaitu sebesar 837
jiwa.
Aspek pendidikan merupakan sarana penting dalam mencetak sumber daya manusia
yang berkualitas, untuk itu diperlukan prasarana pendidikan yang bagus dan
representatif guna mendukung wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun. Di Kecamatan
Kaliwungu terdapat fasilitas pendidikan mulai dari sekolah pra sekolah (Taman Kanak –
Kanak) hingga SLTA. Jumlah sekolah pra sekolah pada tahun 2016 sebesar 26 unit
dengan jumlah murid sebesar 1.754 murid, jumlah sekolah setingkat SD di kecamatan
ini mencapai 31 unit dengan 6.833 orang murid. Sementara sekolah setingkat SLTP
sebanyak 7 unit dengan jumlah murid sebesar 1.720 murid dan terdapat 4 unit sekolah
SLTA sederajat dengan 1.065 orang murid.
Di bidang kesehatan, prasarana yang ada di Kecamatan Kaliwungu tersedia
Puskesmas 1 unit, puskemas pembantu 1 unit, 4 rumah bersalin, praktik dokter umum
sebanyak 16 orang, 6 pos kesehatan desa, 13 apotek atau toko obat dan posyandu
sebanyak 77 unit.
Penyandang cacat tubuh sebagai salah satu penyandang masalah kesejahteraan
sosial perlu mendapat perhatian agar mereka dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Oleh
karena itu, pemberian santunan dan rehabilitasi sosial bagi penyandang cacat dan orang
jompo/terlantar mutlak diberikan. Penderita cacat di Kecamatan Kaliwungu pada tahun
2016 sebanyak 74 orang. Persentase terbanyak adalah penderita cacat tubuh sebesar
35,13 persen dan penderita cacat mental sebesar 28,38 persen.
Kondisi perekonomian di Kecamatan Kaliwungu tahun 2016 tidak mengalami
peningkatan dari tahun sebelumnya (masih tetap seperti tahun 2015). Bank Umum di

 
 
  5 - 18 
5. ANALISIS DATA 

Kecamatan Kaliwungu masih tetap dari tahun sebelumnya yaitu berjumlah 11 unit dan
terdapat Bank Syariah sebanyak 2 unit dan BPR 4 unit. Begitu juga dengan jumlah
lembaga keuangan bukan bank pada masing-masing desa masih berjumlah sama dengan
tahun sebelumnya yaitu terdapat 21 Koperasi Simpan Pinjam (KSP), 2 ​money changer,​
dan 1 BKD. Sarana lain yang menunjang perputaran uang yang ada di Kecamatan
Kaliwungu adalah sektor perdagangan. Secara umum, kondisi sarana perdagangan di
Kecamatan Kaliwungu pada tahun 20156 adalah terdapatnya 5 lokasi pasar umum dan
10 minimarket. Jumlah pasar umum dan minimarket di Kecamatan Kaliwungu tidak
mengalami perubahan selama dua tahun terakhir. Tahun 2015 merupakan tahun pertama
kalinya Indonesia mengucurkan Dana Desa sesuai amanat UU No. 6 Tahun 2014
tentang Desa. Dana ini diharapkan agar dimanfaatkan oleh pemerintah desa untuk
membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan
masyarakat desa. Jumlah dana desa di Kecamatan Kaliwungu pada tahun 2016 sebesar
5,8 milyar rupiah dengan Desa Kutoharjo merupakan desa yang mendapatkan dana desa
terbesar yaitu
sebesar 681,83 juta rupiah. Sedangkan desa dengan anggaran dana desa terkecil
adalah Desa Karangtengah yaitu sebesar 602,41 juta rupiah.
Dari aspek perubahan guna lahan, hasil penelitian Septiofani, dkk (2015)
menyebutkan bahwa terjadi perubahan guna lahan sawah di kecamatan ini dari semula
seluas 1.183,534 Ha (28,75%) di tahun 2010 menjadi 1.158,056 Ha di tahun 2014. Jenis
perubahan tersebut yaitu sawah menjadi permukiman (61,06%), sawah menjadi gedung
(9,70%), sawah menjadi industri (12,11%), sawah menjadi kebun (1,42%), sawah
menjadi lahan kosong (12,27%) dan sawah menjadi sempadan sungai 1 (3,44%). Jenis
perubahan terbesar adalah menjadi permukiman yaitu sebesar 61,06 persen.
Berkurangnya lahan sawah berpengaruh negatif terhadap nilai pendapatan petani,
dimana usaha berproduksi padi di sawah tidak memberikan masukan yang mencukupi
bagi kehidupan sehari-hari petani, sehingga hal tersebut mendorong petani untuk
menjual lahan sawahnya untuk beralih ke usaha lain. Dampak sosial ekonomi dapat
dilihat dari responden yang memiliki mata pencaharian selain petani cenderung
mengkonversikan lahan sawah yang dimiliki. Konversi yang dilakukan lebih banyak

 
 
  5 - 19 
5. ANALISIS DATA 

menjadi sektor non pertanian dengan membangun kios/pertokoan untuk meningkatkan


pendapatan petani.
Kecamatan Kaliwungu merupakan kawasan pesisir, sehingga kaya akan sumber
daya alam seperti perikanan dan menyebabkan kegiatan ekonomi didominasi oleh
perikanan. Namun dikarenakan letaknya yang strategis dan terdapat pelabuhan
menyebabkan kegiatan ekonomi lainnya seperti industri tertarik berada di kecamatan
tersebut. Kegiatan industri memilih wilayah di kecamatan yang ada di Kabupaten
Kendal dikarenakan nilai UMR-nya yang lebih rendah dibanding daerah lainnya.
Kegiatan industri yang ada memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positifnya
adalah meningkatkan keberagaman pekerjaan dan memberikan peluang lapangan
pekerjaan baru. Di samping dampak positif, terdapat pula dampak negatif dari
keberadaan kegiatan industri tersebut di antaranya adalah perubahan penggunaan lahan,
spekulasi lahan, dan kerusakan lingkungan akibat limbah industri yang tidak terkelola
dengan baik.
Merebaknya kegiatan industri di wilayah KIK (Kawasan Industri Kendal) ini secara
langsung maupun tidak langsung memberikan dampak pembangunan yang dinilai
kurang merata, di mana pembangunan terjadi disekitar kawasan industri khususnya
pembangunan infrastruktur dan sumber daya sedangkan wilayah lainnya terutama
wilayah pesisir tidak mengalami pembangunan seperti kawasan industri, yang
menyebabkan ketimpangan pembangunan. Akses yang mudah dan cepat menuju
kawasan industri berbeda dengan menuju kawasan pesisir, di mana masih terdapat
banyak jalan yang rusak. Kegiatan industri yang ada juga menyebabkan peralihan
penggunaan lahan dan kepemilikan lahan. Selain itu kegiatan industri menyebabkan
penggunan sumber daya yang tidak sebanding dengan penghasilan masyarakat.
Penghasilan masyarkat yang rendah karena UMR yang lebih rendah dibanding daerah
industri lainnya sedangkan penggunaan sumber daya dan kerusakan lingkungan yang
tinggi akibat kegiatan industri tersebut.
Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh kawasan pesisir seperti kemiskinan
akibat ketimpangan pembangunan, kerusakan sumber daya serta lingkungan akibat
limbah industri yang tidak diolah dengan baik, rendahnya kemandirian organisasi sosial,

 
 
  5 - 20 
5. ANALISIS DATA 

minimnya infrastruktur dan kesehatan lingkungan di pemukiman pesisir. Permasalahan


lainnya yang terdapat di kawasan pesisir terutama di kecamatan ini adalah belum
terdapatnya kelembagaan sosial seperti kelompok nelayan, tidak terdapat manajemen
dan strategi perencanaan yang baik untuk kawasan pesisir, serta konsentrasi
pengembangan di sektor industri. Konsentrasi pengembangan di sektor industri,
menyebabkan pengembangan yang dapat dilakukan di kawasan pesisir seperti kegiatan
pariwisata dan pengolahan hasil perikanan tidak berjalan dengan baik.
Kawasan pesisir ini juga memiliki problematika sebagai daerah rawan bencana alam
seperti bencana banjir, gelombang pasang, longsor, dan abrasi yang meluas tiap
tahunnya. Hal ini menjadikan kawasan pesisir ini menjadi kawasan yang seharusnya
dikelola dengan baik, karena memiliki keuntungan (dari aspek industri, iklim investasi
serta budi daya perikanan), namun memiliki kelemahan atau dampak berupa aspek
sosial kemasyarakatan serta tantangan fisik berupa rawan bencana. Oleh karena itu
untuk menghadapi tantangan tersebut diperlukan perkuatan pembangunan infrastruktur
yang berkelanjutan/sustainable dan berwawasan lingkungan, perkuatan ekonomi, sosial,
kelembagaan masyarakat, strategi dan pengaturan wilayah, serta menjaga aspek
kelestarian lingkungan.
2.
5.4. Analisis Potensi dan Produktivitas Ekonomi
Wilayah
Selama tahun 2016 secara umum terjadi kenaikan harga barang/jasa atau inflasi di
Kabupaten Kendal. Hal ini tercermin dari perkembangan Indeks Harga
Konsumen dan Laju Inflasi tahun kalender 2016 yaitu sebesar 2,45 persen (tahun dasar
2012). Inflasi ini menurun dibandingkan tahun 2015 sebesar 4,13 persen. Hal ini
dipengaruhi oleh naiknya harga-harga kebutuhan pokok serta kebutuhan lain yang
menjadi penyusun angka inflasi sebagai akibat dari kenaikan BBM pada November
2015. Pada umumnya, kenaikan harga kebutuhan pokok masarakat selain
dipengaruhi oleh kejadian luar biasa seperti kenaikan BBM, juga dipengaruhi oleh hari
raya. Kenaikan harga yang tinggi biasanya terjadi menjelang bulan puasa dan Hari
Raya Idul Fitri karena pada saat itu konsumsi masyarakat meningkat tajam. Meskipun

 
 
  5 - 21 
5. ANALISIS DATA 

lebaran idul fitri terjadi pada hal itulah yang menyebabkan inflasi pada bulan Juli
2016, mencapai nilai tertinggi disbanding bulan-bulan lainnya mencapai 1,03 persen.
Inflasi yang cukup tinggi juga terjadi pada bulan November 2016 sebesar 0,67 persen.
Pada bulan Februari, April dan Agustus Kabupaten Kendal mengalami deflasi, salah
satu penyebabnya adalah turunnya harga BBM pada bulan April 2016.
Berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kendal
tahun 2016 secara total sebesar 5,6 persen. Jika dibandingkan dengan tahun
sebelumnya, angka pertumbuhan ini meningkat cukup baik. Pertumbuhan ekonomi
sebesar 5,6 persen ini didukung oleh pertumbuhan positif di semua kategori lapangan
usaha. Laju pertumbuhan terbesar terjadi pada kategori pertambangan dan penggalian
yang naik hampir 90 persen. Sektor lain yang juga tumbuh cukup tinggi
adalah kategori jasa perusahaan yang naik 10,6 persen dan jasa keuangan dan asuransi
yang tumbuh 9,4 persen. Sedangkan kategori lapangan usaha yang lain tumbuh
berkisar antara 2 sampai 8 persen. Besarnya peran masing-masing
sektor dalam pembentukan total PDRB mencerminkan struktur perekonomian wilayah
yang bersangkutan. Perekonomian Kendal masih didominasi oleh 3 (tiga) kategori
ekonomi yang utama, yakni sektor Industri Pengolahan, Pertanian, serta Perdagangan
Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor. Kontribusi ketiga
sektor ini dalam perekonomian Kabupaten Kendal mencapai 74,11 persen. Pertumbuhan
ekonomi di Kabupaten Kendal dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 5. 14. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Kendal 2013 – 2016


Gambar 5. 15. (sumber : BPS, 2017)

 
 
  5 - 22 
5. ANALISIS DATA 

Tingkat kesejahteraan masyarakat secara umum bisa ditunjukkan oleh


meningkatnya tingkat PDRB perkapita suatu wilayah. PDRB per kapita penduduk
atas dasar harga berlaku Kabupaten Kendal dalam kurun 2012 - 2016 naik dari Rp 25,15
juta perkapita pertahun menjadi Rp 35,57 juta perkapita pertahun atau rata-rata
meningkat sebesar 10,36 persen per tahun. Akan tetapi bila ditelaah lebih lanjut,
kenaikan itu bukanlah kenaikan riil, karena kenaikan yang terjadi lebih disebabkan oleh
pengaruh kenaikan tingkat harga barangdan jasa atau inflasi. Kenyataan tersebut
tercermin dari nilai PDRB per kapita atas dasar harga konstan, di mana dalam kurun
waktu yang sama perolehannya hanya naik dari Rp 22,94 juta menjadi Rp27,55 juta
atau naik rata-rata sebesar 5,02 persen per tahun.
Salah satu indikator harga untuk melihat tingkat inflasi dan deflasi adalah
dengan melihat angka Indeks Harga Implisit Produk Domestik Regional Bruto. Berbeda
dengan indeks harga konsumen, indeks implisit menggambarkan perubahan harga
ditingkat produsen. Pada tahun 2016 indeks harga implisit PDRB Kabupaten
Kendal sebesar 129,12, lebih tinggi dibanding tahun 2015 yaitu sebesar 124,77. Hal ini
menggambarkan bahwa di tingkat produsen terjadi kenaikan harga sebesar
29,12 persen dibanding tahun sebelumnya.
Selama lima tahun terakhir, terjadi peningkatan aktivitas ekonomi yang besar di
Kabupaten Kendal, terutama dari sisi investasi fisik. Adanya peningkatan pembangunan
infrastruktur jalan desa, pembangunan Kawasan Industri Kendal (KIK) yang
tercatat sebanyak 60 perusahaan telah masuk di dalamnya, dan proyek pembangunan
jalan tol Semarang-Batang sejak 2015 memberikan pengaruh positif dalam PDRB
Kabupaten Kendal. Nilai PDRB Kabupaten Kendal selama lima tahun terakhir terus
mengalami peningkatan yang cukup signifikan seiring dengan peningkataninvestasi di
Kendal.
Komponen konsumsi rumah tangga di tahun 2016 memiliki peranan terbesar
dalam pembentukan PDRB Pengeluaran Kabupaten Kendal dengan kontribusi sebesar
60,94 persen. Menempati urutan kedua, komponen ekspor memberikan kontribusi
sebesar 52,87 persen. Kemudian komponen PMTB menempati urutan ketiga dengan

 
 
  5 - 23 
5. ANALISIS DATA 

kontribusi sebesar 28,24 persen sementara komponen konsumsi pemerintah menempati


urutan keempat dengan kontribusi sebesar 5,62 persen. Berbeda dengan kondisi Jawa
Tengah, dominasi konsumsi rumah tangga cenderung tergantikan oleh komponen
ekspor dan investasi, kondisi Kendal justru memperlihatkan kecenderungan akan
penurunan peranan ekspor dari tahun ke tahun dan peningkatan besar pada investasi.
Sementara itu, peranan konsumsi rumah tangga masih tergolong stabil dan tidak
menunjukkan goncangan yang berarti.
DI tahun 2012, kontribusi konsumsi rumah tangga di Kendal sebesar 60,70
persen kemudian meningkat menjadi 61,48 persen di tahun 2013. Terjadi sedikit
penurunan kontribusi di tahun 2014 menjadi sebesar 60,93 persen dan kemudian
meningkat kembali menjadi 60,98 persen di tahun 2015. Di tahun 2016, kontribusi
konsumsi rumah tangga kembali sedikit menurun jika dibandingkan tahun sebelumnya,
yaitu sebesar 60,94 persen. Kendati menurun, angka tersebut masih lebih tinggi jika
dibandingkan kondisi lima tahun yang lalu. Menempati urutan kedua, kontribusi ekspor
Kendal selama lima tahun terakhir cenderung menurun dimana pada tahun 2012,
kontribusi ekspor mencapai 58,23 persen. Pada tahun 2013, kontribusi ekspor menurun
menjadi 53,68 persen dan terus menurun hingga mencapai 50,29 persen di tahun 2015.
Dengan adanya peningkatan investasi yang memacu kegiatan produksi di Kendal
mampu memberikan efek berkelanjutan, yaitu meningkatnya ekspor hasil industri
sehingga meingkatkan kontribusi ekspor menjadi 52,87 persen di tahun 2016.
Komponen PMTB selama lima tahun terakhir memberikan kontribusi yang semakin
besar dari tahun ke tahun. Pda tahun 2012, PMTB memberikan kontribusi sebesar 26,32
persen terhadap perekonomian Kendal. Kontribusi ini meningkat menjadi 27,16 persen
di tahun 2013 dan 27,54 persen di tahun 2014. Kontribusi PMTB terus meningkat
seiring dengan meningkatnya investasi di Kendal dimana pada tahun 2015 dan 2016
mencapai angka 27,82 persen dan 28,24 persen.
Pertumbuhan investasi dipicu dari meningkatnya aktivitas pembangunan fisik
mulai dari pembangunan infrastruktur jalan desa, pembangunan dan peresmian
Kawasan Industri Kendal, serta pembangunan jalan tol Semarang - Batang.
Diresmikannya Kawasan Industri Kendal (KIK) pada pertengahan tahun 2016 juga

 
 
  5 - 24 
5. ANALISIS DATA 

memicu para investor untuk membuka usaha yang berbasis industri di wilayah Kawasan
Industri Kendal. Fenomena tersebut turut memicu peningkatan perekonomian Kendal.
Dari aspek Net Ekspor Antar – Daerah (atau ekspor antar daerah dikurangi
impor antar daerah), selama kurun waktu 2012-2016, nilai net ekspor atas dasar harga
berlaku cenderung positif, kendati pada tahun 2012 dan 2013 sempat mengalami nilai
negatif. Artinya, selama periode tersebut ada kecenderungan bahwa nilai ekspor Kendal
masih lebih tinggi daripada nilai impornya di mana nilai net ekspor tertinggi dicapai
pada tahun 2016 sebesar 1.108 miliar rupiah. Hampir sejalan dengan nilai net ekspor
atas dasar harga berlaku, net ekspor atas dasar harga konstan justru selalu menunjukkan
nilai positif dan mencapai angka tertinggi di tahun 2016, yaitu sebesar 2.445 miliar
rupiah. Dilihat dari segi share yang diperikan terhadap PDRB pengeluaran, besarnya
kontribusi net ekspor tahun 2016 ini tidak begitu besar namun meningkat 0,01 poin
dibandingkan tahun sebelumnya di mana besarnya kontribusi net ekspor tahun ini
adalah 3,28 persen. Kontribusi net ekspor menunjukkan arah positif yang artinya ekspor
barang/jasa ke luar Kabupaten Kendal masih mendominasi dibandingkan dengan impor
barang/jasa yang masuk ke Kabupaten Kendal. Hal ini merupakan gambaran awal
bahwa perekonomian Kendal di 2016 cukup berkembang pesat.
5.4.1. Pertanian
Dari aspek produktivitas pertanian, proporsi terluas penggunaan tanah di
Kabupaten Kendal adalah untuk tanah sawah yaitu 259,74 km² atau sebesar 25,92
persen dari seluruh luas tanah yang ada. Pada tahun 2013 produktivitas padi, baik padi
sawah maupun gogo sebesar 52,29 kuintal per hektar. Angka ini turun 7,97% dari tahun
sebelumnya. Rata-rata produktivitas padi tertinggi tahun 2013 ada di Kecamatan
Rowosari sebesar 54,67 kw/ha dan disusul Kecamatan Kangkung dengan produktivitas
54,40 kuintal per hektar. Secara umum produktivitas tanaman palawija pada tahun 2013
mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan tahun 2012. Palawija yang mengalami
kenaikan produksi adalah tanaman jagung, ketela pohon, ketela rambat, dan kedelai.
Sedangkan yang mengalami sedikit penurunan produksi adalah kacang tanah dan
kacang hijau.

 
 
  5 - 25 
5. ANALISIS DATA 

Dari beberapa komoditas tanaman buah-buahan yang ada di Kabupaten Kendal


yang mempunyai produksi di atas 20.000 kuintal adalah pisang, mangga, jambu biji,
nangka, rambutan, dan durian. Komoditas buah yang paling tinggi produksinya selama
tiga tahun terakhir adalah pisang. Produksi tanaman buah-buahan tersebut berfluktuatif
setiap tahunnya. Produksi tanaman sayuran di Kabupaten Kendal tahun 2014 yang
mengalami kenaikan produksi antara lain adalah bawang merah, kacang-kacangan,
cabai, buncis, dan terong.Sedangkan yang mengalami penurunan produksi antara lain
adalah kubis, sawi, bawang daun, wortel, tomat, ketimun, dan labu siam.
Dari aspek perkebunan, terdapat sekitar 20 jenis komoditas tanaman per
kebunan yang diusahakan. Tanaman perkebunan yang memberikan sumbangan besar
dalam perekonomian Kabupaten Kendal diantaranya adalah teh, karet, kakao, tembakau
rakyat, kelapa, tebu rakyat, kopi, aren, kapuk dan cengkeh.
Dari aspek kehutanan, data dari Perum Perhutani mencatat ada 20.389,70 hektar
hutan yang berada dalam KPH Kendal yang terbagi menjadi tiga wilayah administrasi
yaitu Batang, Kendal dan Kota Semarang. Dari jumlah tersebut 125,7 hektar adalah
hutan suaka alam/wisata dan sisanya adalah hutan produksi. Sedangkan luas hutan yang
ada di Kabupaten Kendal sendiri sebesar 13.010,5 hektar. Total nilai produksi kayu jati
tahun 2014 tercatat 8.089,751 meter kubik dengan nilai 1,4 milyar rupiah.
Dari aspek peternakan populasi ternak besar (sapi perah/potong, kerbau, kuda)
terbanyak di Kabupaten Kendal tahun 2014 adalah sapi potong 28.637 ekor, sedangkan
untuk ternak kecil (kambing, domba, babi) populasi terbanyak adalah domba 127.293
ekor. Kecamatan Sukorejo merupakan penghasil ternak besar terbanyak di Kabupaten
Kendal. Populasi unggas di Kabupaten Kendal pada tahun 2014 semuanya mengalami
penurunan. Penurunan populasi tertinggi terjadi pada itik sebesar 28,16 persen.
Pemotongan ternak besar di RPH terbanyak adalah sapi 2.066 ekor atau naik 105,57
persen. Sedangkan ternak kecil yang paling banyak dipotong adalah kambing sebanyak
85 ekor. Produksi telur ayam kampung dan itik menyebar di seluruh kecamatan di
Kabupaten Kendal dengan total produksi sebanyak 231.769 Kg untuk ayam kampung
dan 1.689.934 Kg untuk telur itik. Produksi telur ayam ras hanya terdapat di daerah
dataran tinggi, Kecamatan Brangsong dan Ngampel. Jumlah produksi telur ayam ras

 
 
  5 - 26 
5. ANALISIS DATA 

sebanyak 32.991.728 kg, sedangkan produksi telur burung puyuh selama tahun 2014
sebanyak 98.818 Kg.
Di bidang perikanan, Kabupaten Kendal yang mempunyai topografi daerah
bervariasi, sangat bagus bagi usaha budidaya perikanan. Sub sektor perikanan meliputi
perikanan laut dan perikanan darat. Perikanan darat terdiri dari usaha budidaya tambak
dan kolam serta perairan umum. Produksi perikanan laut yang dihasilkan oleh Tempat
Pelelangan Ikan (TPI) di empat tempat, pada tahun 2014 menghasilkan 2.055.180 Kg
ikan dengan nilai Rp. 14.623.651.000,-. Produksi tahun ini naik 12,75 persen jika
dibandingkan dengan tahun yang lalu. Apabila dilihat dari nilainya, maka pada tahun
2014 mengalami kenaikan 52,29 persen jika dibandingkan dengan tahun 2013. Produksi
ikan tambak tahun 2014 mengalami kenaikan sebesar 5,57 persen, dengan nilai produksi
Rp. 224.612.425,-. Sementara hasil produksi ikan dari kolam dan perairan umum pada
tahun 2014 sebesar 1.487.433 kg.
5.4.2. Industri dan Perdagangan
Dari aspek perindustrian, Data Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu
Kabupaten Kendal menunjukkan pada tahun 2013 total realisasi peizinan sebesar 3.994
perizinan. Total nilai investasi selama tahun 2013 yang berasal dari UMKM mencapai
186,456 triliun rupiah sedangkan dari PMDN (perusahaan besar) tidak ada investasi.
Untuk sektor air minum Total Air minum yang telah disalurkan pada tahun 2014 di
Kabupaten Kendal sebanyak 7.667.069 meter kubik, atau senilai 31,25 milyar rupiah.
Persentase pengguna terbanyak adalah rumah tangga, sosial khusus ( tempat ibadah,
sekolah, panti dsb), dan sisanya untuk niaga, sosial umum, instansi pemerintah dan
lain-lain.

 
 
  5 - 27 
5. ANALISIS DATA 

Gambar 5. 16. Rencana Pengembangan KIK


5.4.3. Analisis dengan Model ​Location Quotient (LQ)
Analisis ​Location Quotient (​ LQ) digunakan untuk mengetahui sektor-sektor
ekonomi manakah yang termasuk kedalam sektor basis (​basic sector​) atau berpotensi
ekspor dan manakah yang bukan merupakan sektor basis (​non basic sector)​ . Apabila
hasil perhitungannya menunjukkan angka lebih dari satu (LQ > 1) berarti sektor tersebut
merupakan sektor basis. Sebaliknya apabila hasilnya menunjukkan angka kurang dari
satu (LQ < 1) berarti sektor tersebut bukan sektor basis. Hasil perhitungan ​Location
Quotient ​(LQ) Kabupaten Kendal selama 5 tahun (dari tahun 1999 – 2003)
selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 5.1. Hasil Perhitungan ​Indeks Location Quotient​ (LQ) berdasarkan
atas harga berlaku di Kabupaten Kendal 2003 – 2007
Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun
Sektor
2003 2004 2005 2006 2007
Pertanian 1,168 1,195 1,23 1,245 1,25
Pertambangan &
1,11 0,7 1,07 1,1 1,11
galian
Industri pengolahan 1,166 1,136 1,11 1,079 1,18

 
 
  5 - 28 
5. ANALISIS DATA 

Listrik, gas, air


1,31 1,167 1,25 1,45 1,55
bersih
Bangunan 0,78 0,679 0,64 0,69 0,62
Perdagangan, hotel,
0,855 0,585 0,89 0,86 0,85
restoran
Pengangkutan &
0,48 0,45 0,48 0,55 0,56
komunikasi
Keu.persewaan &
0,67 0,73 0,77 0,93 0,8
jasa persuasi
Jasa-jasa 0,86 0,9 0,96 0,97 0,93

Tabel 5.2. Hasil Perhitungan ​Indeks Location Quotient​ (LQ) berdasarkan


atas harga konstan berlaku di Kabupaten Kendal 2003 – 2007
Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun
Sektor
2003 2004 2005 2006 2007
Pertanian 1,14 1,17 1,14 1,16 1,18
Pertambangan
0,899 0,91 0,9 0,96 0,96
& galian
Industri
1,24 1,2 1,25 1,24 1,25
pengolahan
Listrik, gas,
1,63 1,64 1,3 1,38 1,43
air bersih
Bangunan 0,64 0,5 0,48 0,5 0,49
Perdag, hotel,
0,85 0,87 0,88 0,9 0,92
restoran
Pengangkutan
0,498 2 0,49 0,49 0,49
& komunikasi
Keu.persewaa
n & jasa 0,64 0,68 0,7 0,69 0,71
perushn
Jasa-jasa 0,79 0,8 0,79 0,79 0,79

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan metode LQ di atas dapat


dilihat bahwa dalam kurun waktu lima tahun terakhir belum ada pergeseran sektor.
Dimana yang dimaksud pergeseran sektor disini yaitu pergeseran dari sektor basis ke

 
 
  5 - 29 
5. ANALISIS DATA 

sektor non basis dan begitu pula sebaliknya. Selain itu, dalam perhitungan ini dapat
diketahui bahwa yang menjadi sektor basis adalah sektor pertanian; industri pengolahan;
listrk, gas, dan air bersih. Sektor non basis adalah sektor perdagangan, hotel dan
restoran; bangunan; keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan. Adanya urutan sektor
non basis seperti hal tersebut sangatlah tepat dengan keadaan perekonomian di Kab.
Kendal. Di mana seperti yang kita tahu bahwa sektor-sektor non basis tersebut sangat
mendorong terus berkembanya sektor basis di Kab. Kendal.
Berkembangnya sektor basis seperti hal tersebut sangat cocok dengan wilayah
Kab. Kendal di mana pada wilayah dataran tinggi seperti di Kendal Selatan sangat
cocok untuk kegiatan pertanian. Sektor pertanian yang juga merupakan sektor basis
banyak berkembang di wilayah Kec. Boja, Kec. Patean dimana pada wilayah ini
berkembang sektor perkebunan yang merupakan subsektor dari sektor pertanian.
Sedangkan di wilayah dataran rendah berkembang sektor indusrti. Sektor industri yang
banyak berkembang di sini adalah sektor industri pengolahan pengolahan furniture yang
berorientasi ekspor ke Eropa, Amerika dan negara-negara lainnya. Selain itu juga
berkembang sektor pengolahan hasil laut, industri kecil konveksi dan dll.
Berkembangnya sektor ini di wilayah dataran rendah Kab. Kendal karena adanya
kemudahan dalam memperoleh bahan baku untuk memproduksi hal tersebut.
Meskipun sektor basis merupakan sektor yang paling potensial untuk
dikembangkan dan untuk memacu pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kendal, akan
tetapi kita tidak boleh melupakan sektor non basis. Karena dengan adanya sektor basis
tersebut maka sektor non basis dapat dibantu untuk dikembangkan menjadi sektor basis
baru. Tidak hanya itu saja, tanpa adanya sektor non basis yang diperhatikan maka
kegiatan perekonomian di sektor yang lain tidak akan bisa berkembang.
Berdasarkan perhitungan diatas dapat diketahui bahwa selama lima tahun
terakhir tidak terjadi pergeseran sektor basis di Kab. Kendal. jadi di sini bisa dilihat
bahwa setiap sektor selama kurun waktu lima tahun terakhir posisi setiap sektor sama.
Setelah melakukan analisis dengan menggunakan analisis LQ, maka dapat
diketahui masing-masing sektor basis dan non basis ekonomi Kabupaten Kendal.
Setelah diketahui potensi tiap sektor, selanjutnya diharapkan adanya pengelolaan yang

 
 
  5 - 30 
5. ANALISIS DATA 

lebih terfokus pada sektor yang lebih mampu mendorong perkembangan ekonomi
Kabupaten Kendal. Dengan menitikberatkan pada sektor-sektor yang mempunyai
pengaruh yang besar pada perekonomian sehingga diharapkan hasilnya dapat optimal.
Dalam penelitian ini analisis pengembangan sektor basis di Kabupaten Kendal
berdasarkan PDRB atas harga berlaku yaitu sektor industri pengolahan terutama industri
non migas, sektor pertanian dan sektor listrik, gas, dan air bersih. Berikut akan di bahas
sektor yang menjadi sektor basis di Kabupaten Kendal.
A. Sektor Industri dan Pengolahan
1. Sentra Industri Kecil Mebel dari Kayu/Furniture
Di Kabupaten Kendal banyak terdapat kegiatan industri mebel kayu/furniture yang
lokasinya tersebar di pelosok daerah, baik yang mengelompok dalam satu
pedesaan/sentra maupun yang terpencar antara 1 hingga 4 perusahaan dari yang
berskala kecil maupun besar.
Bahan yang digunakan berupa kayu jati yang berasal dari Perum Perhutani maupun
jati tanaman rakyat, juga kayu non jati (sengon, mahoni, kalimantan, dan lain-lain)
yang persediaannya cukup banyak di pasaran. Walaupun perkembangan furniture
kurang begitu cepat, namun usaha ini berjalan cukup lancar dalam melayani
kebutuhan mebelair dan bahan bangunan serta produksi lain yang dibutuhkan
masyarakat, perkantoran, keperluan pabrik tekstil, dan lain-lain. Seperti disebutkan
di atas bahwa di Kabupaten Kendal terdapat industri furniture dan pengolah kayu
menengah dan besar namun dengan produk berorientasi pasar ekspor ke
negara-negara Eropa, Amerika dan negara lainya dengan jenis produk antara lain
kayu olahan dan mebelair seperti Hartco di Kecamatan Patean, dan sebagainya.
2. Sentra Industri Kecil Emping Melinjo
Tanaman melinjo banyak tumbuh di Kecamatan Pageruyung, Plantungan dan Kecamatan
Patebon sehingga beberapa desa di kecamatan tersebut merupakan daerah sentra
industri kecil pembuatan emping melinjo. Sentra emping melinjo berada di
Kecamatan Plantungan, Kecamatan Pageruyung dan Patebon yang merupakan usaha
turun temurun dari nenek moyang mereka dan masih dikerjakan dengan peralatan
yang sederhana.

 
 
  5 - 31 
5. ANALISIS DATA 

Jumlah industri kecil emping melinjo pada tahun 2007 mencapai 152 unit usaha dan mampu
menyerap tenaga kerja sebanyak 169 orang. Salah satu kendala yang dihadapi oleh
pengrajin industri kecil pembuatan emping melinjo di sentra adalah penyimpanan
pasca panen buah melinjo sebagai bahan bakunya, sementara ini buah melinjo yang
dipanen apabila permintaan emping melinjo berkurang maka buah melinjo tadi
dijual ke tengkulak. Emping melinjo di sentra industri pembuatan emping melinjo di
Kecamatan Plantungan sudah banyak dikenal oleh masyarakat Kabupaten Kendal
bahkan di luar Kabupaten, misalnya Semarang, Magelang, Pekalongan, dan Batang.
Untuk produksi emping melinjo Kabupaten Kendal bentuknya agak pulen dan tidak
retak apabila ditumbuk.
3. Sentra Industri Kecil Konveksi
Industri kecil pembuatan pakaian jadi/konveksi di Kabupaten Kendal mempunyai
perkembangan yang cukup baik. Keberadaan industri kecil ini menyebar merata di
daerah, sedangkan untuk sentra industri kecil pembuatan pakaian jadi diantaranya
adalah di Desa Kutoharjo, Krajan Kulon, dan Desa Protomulyo Kecamatan
Kaliwungu serta di Desa Cepiring dan Pandes Kecamatan Cepiring. Jumlah industri
kecil pembuatan pakaian jadi/konveksi pada tahun 2007 mencapai 70 unit usaha dan
mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 230 orang.
Industri kecil pembuatan pakaian jadi ini sebagian besar dikerjakan dengan peralatan
sederhana, mesin jahit dikerjakan dengan tenaga manusia atau manual dan belum
menggunakan tenaga mekanis/tenaga listrik. Adapun jenis produk yang dihasilkan
antara lain kemeja pria, celana panjang, pakaian anak-anak dan pakaian wanita.
4. Sentra Industri Kecil Gerabah
Pada tahun 1970-an jumlah pengrajin industri kecil gerabah di Kabupaten Kendal
lebih dari 200 unit usaha yang terdapat di Kecamatan Kota Kendal dan Kecamatan
Weleri. Namun dengan kemajuan peradaban manusia sekarang ini banyak
diproduksi barang substitusi sehingga jumlah industri gerabah mengalami
penurunan drastis menjadi 40 unit usaha pada tahun 2007. Dari sejumlah 40 unit
usaha tersebut dikerjakan oleh orang-orang yang sudah tua, sedangkan generasi
muda sudah tidak tertarik pada kegiatan kerajinan gerabah. Jumlah tenaga kerja

 
 
  5 - 32 
5. ANALISIS DATA 

yang terserap oleh industri kecil gerabah sebanyak 52 orang.Barang-barang yang


dibuat antara lain periuk, cobek, tungku, wajan dan barang-barang bersifat seni
seperti aneka pot/vas bunga, barang hiasan ruang tamu, hiasan taman, dan lain-lain
yang dipesan oleh penggemar barang seni.
5. Sentra Industri Kecil Bata Merah
Guna memenuhi kebutuhan bahan bangunan daerah lokal dan daerah sekitarnya,
masyarakat Kabupaten Kendal memanfaatkan potensi tanah dari lokasi yang kurang
subur (tanah tadah hujan, berem sungai, tanah kebun, tanah urugan) untuk
pembuatan bata merah.
Sentra industri bata merah di Kabupaten Kendal sebanyak 185 unit usaha yang
tersebar di berbagai kecamatan, yaitu Desa Kebonadem, Desa Rejosari Kecamatan
Brangsong; Kelurahan Tunggulrejo Kecamatan Kota Kendal; Desa Banjarejo dan
Kaligading Kecamatan Boja; Desa Merbuh Kecamatan Singorojo; Desa
Karangsuno, Mulyosari, Botomulyo, Gondang, dan Pandes Kecamatan Cepiring;
Desa Tambaksari Kecamatan Rowosari; serta Desa Karanganom dan Payung
Kecamatan Weleri. Jumlah tenaga kerja yang terserap sebanyak 634 orang.
6. Sentra Industri Kecil Genteng
Sentra industri kecil genteng letaknya tersebar di Kabupaten Kendal, desa yang
potensial penghasil genteng press/non press adalah Desa Taman Gede Kecamatan
Gemuh, Desa Meteseh Kecamatan Boja, Desa Kaliputih - Singorojo dan Tegorejo -
Pegandon. Usaha genteng di daerah sentra merupakan usaha yang di kelola secara
turun temurun dengan peralatan yang sederhana/tradisional.
Daerah pemasaran produk industri genteng berbeda-beda antara daerah sentra yang
satu dengan daerah sentra yang lain karena masing-masing sentra mempunyai
pangsa pasar tersendiri. Produk industri genteng Meteseh dan produk industri
genteng Taman Gede pemasarannya sudah merambah ke luar Kabupaten Kendal
dan sudah cukup dikenal oleh masyarakat luas. Sedangkan produk industri genteng
non press yang dihasilkan oleh sentra genteng dari Desa Tegorejo sasaran
pemasarannya adalah untuk kelas menengah ke bawah.
7. Sentra Industri Kecil Gula Aren

 
 
  5 - 33 
5. ANALISIS DATA 

Salah satu industri yang berkembang di Kecamatan Limbangan adalah industri


pembuatan gula aren. Pembuatan gula aren ini dikelola oleh hampir setiap warga di
tiap-tiap desa di Kecamatan Limbangan. Tanaman aren yang ber kembang ini tidak
lepas dari daya dukung sumber daya alam, tanaman aren sebagai bahan baku
pembuatan gula aren tumbuh tersebar di daerah / wilayah Kecamatan Limbangan.
Pada umumnya desa yang menjadi sentra gula aren di Kecamatan Limbangan
sifatnya home industri walaupun sebagian ada juga yang sudah diusahakan skala
sedang maupun penampungan dari pengrajin-pengrajin setempat.
Pemasaran hasil produksi selama ini dilakukan oleh para pedagang yang langsung
membeli ke pengrajin dengan cara memesan atau meminjami dulu uang untuk
modal tambahan. Daerah pemasar an gula aren di sentra Kecamatan Limbangan
meliputi Kabupaten Kendal serta Semarang dan sekitarnya.
8. Sentra Industri Kecil Bordir
Bordir di Kabupaten Kendal yang potensial dan berkembang adalah daerah
Kecamatan Kaliwungu. Produk industri kecil bordir di daerah ini sudah cukup
dikenal oleh masyarakat luas. Kecamatan Kaliwungu sendiri tidak terlepas dari
sebutan “Kota Santri” dimana banyak terdapat pesantren dan sarana pendidikan
keagaman Islami yang mana santri-santrinya berasal dari seluruh nusantara.
Pembuatan bordir di Kecamatan Kaliwungu cukup baik perkembangannya. Hal ini
dilihat dari perkembangan selama ini yaitu dengan adanya Koperasi Bordir “Mekar
Sari”. Koperasi ini menampung bordir yang diusahakan secara home industri.
Produk yang paling banyak diproduksi adalah busana muslim, hal ini disebabkan
banyaknya pesanan baik yang datang dari lokal maupun dari luar daerah misal
Jakarta, Surabaya, Bali, bahkan Australia. Tempat sentra Bordir terdapat di dekat
area masjid Kaliwungu yaitu Desa Krajankulon, Sarirejo, Protomulyo dan
Kutoharjo.
9. Sentra Industri Kecil Pengolahan Hasil Laut
Terinasi merupakan salah satu komoditi ekspor di Kabupaten Kendal yang
mempunyai prospek yang cukup baik. Sentra industri terinasi di Kec. Cepiring
pengelolaannya ditangani dengan mana- jemen yang baik, karena usaha ini sudah

 
 
  5 - 34 
5. ANALISIS DATA 

merupakan perusahaan sehingga mampu menyerap tenaga kerja yang cukup banyak.
Terinasi hasil olahan memang mempunyai spesifikasi khusus, karena memang
sebagian besar untuk konsumsi ekspor sehingga kualitas produk sangat diperhatikan.
Pada umumnya spesifikasi itu adalah warnanya bersih, tidak menggumpal, dan
besarnya hampir seragam. Hasil produk pengolahan terinasi diekspor ke Jepang,
Taiwan, dan sedang dijajaki ke negara-negara di Asia dan Eropa.
10. Sentra Industri Kecil Terasi
Terasi adalah produk makanan yang terbuat dari nener. Terasi digunakan untuk
penyedap bumbu makanan di Indonesia. Di Kabupaten Kendal sentra industri skala
rumah tangga pembuatan terasi yang potensial adalah di Desa Korowelang Anyar
Kecamatan Cepiring, Gempolsewu - Rowosari, Karangsari - Kendal, Desa
Wonorejo - Kaliwungu, Desa Pidodo Wetan dan Pidodo Kulon Kecamatan Patebon,
serta Kec. Kangkung. Nener merupakan bahan baku utama pembuatan terasi yang
hidup baik di perairan laut maupun perairan darat (tambak), yang pada musim
tertentu nener banyak berkembang sehingga hal ini sangat berpengaruh terhadap
produksi terasi.
Dalam proses pembuatan terasi sebagian industri-industri kecil belum menggunakan
peralatan teknologi tepat guna melainkan masih menggunakan peralatan yang
sederhana yaitu alat penumbuk. Pemasaran terasi dari sentra-sentra ini sebagian
besar masih di sekitar Kabupaten Kendal.
11. Sentra Industri Kecil Kerupuk
Industri kerupuk merupakan bagian dari industri kecil yang ada di Kabupaten
Kendal. Ketika terjadi krisis ekonomi, industri kecil kerupuk di Kabupaten Kendal
mampu bertahan bahkan berkembang cukup baik dan menggembirakan. Hal ini
terlihat dengan adanya pertumbuhan unit usaha dan penyerapan tenaga kerja.
Melihat kondisi sekarang ini industri kecil kerupuk yang potensial untuk
berkembang adalah industri kecil kerupuk di Desa Sarirejo, Protomulyo, Krajan
kulon Kec. Kaliwungu, Kelurahan Kebondalem, Langenharjo, Tunggulsari dan
Sijeruk Keca-matan Kota Kendal, Desa Gemuh Blanten Kecamatan Gemuh, Desa
Boja Kecamatan Boja, Desa Kertosari Kecamatan Singorojo, Desa Lanji, Sukolilan

 
 
  5 - 35 
5. ANALISIS DATA 

dan Kebonharjo Patebon, Desa Karangsuno - Cepiring, dan Desa Parakan Sebaran
Kecamatan Pageruyung.
Industri kecil pembuatan kerupuk sebagian besar dikelola secara tradisional oleh
ibu-ibu rumah tangga/home industri. Kualitas produk kerupuk di sentra-sentra ini
masih perlu ditingkatkan lagi agar mampu bersaing dengan produk sejenis dari
daerah lain. Adapun jenis produksi kerupuk yang dihasilkan antara lain kerupuk
udang, kerupuk coklat (kerupuk rembulung), kerupuk petis, dan kerupuk goreng
pasir.
B. Sektor Pertanian
Sesuai kondisi wilayah dan iklimnya, maka sektor yang paling berkembang di
kabupaten ini adalah sektor pertanian yang meliputi subsektor pertanian tanaman
pangan, subsektor perkebunan, subsektor peternakan, serta subsektor kelautan dan
perikanan dan sektor pertambangan dan energi.
1. Pertanian Tanaman Pangan
Mengingat kondisi wilayahnya sangat dipengaruhi oleh iklim tropis dengan curah hujan
yang cukup tinggi, maka pertanian tanaman pangan menjadi salah satu sektor unggulan
di kabupaten ini. Komoditasnya sebagian besar adalah buah-buahan segar di samping
bawang merah, cabe, jahe, kunyit, kacang-kacangan dan ubi jalar. Secara rinci luas
lahan dan jumlah produksi masing-masing komoditi dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 5.3. Luas Lahan dan Produksi Berbagai Komoditas Tanaman
Pangan
No Komoditi Luas Lahan (Ha) Produksi (Ton)

1 Durian 925 14.047

2 Mangga 2.311 10.933

3 Rambutan 893 5.283

4 Pisang 19.500 17.514

5 Sawo 12.941 1.528

6 Bengkoang 10,5 4.345

7 Kacang pajang 987 3.787

 
 
  5 - 36 
5. ANALISIS DATA 

8 Bawang merah 683 6.026

9 Jahe 10,5 1,4

10 Jangung 11.545 58.926

11 Ubi jalar 325 6.066

12 Kacang tanah 4.190 4.710

13 Kacang hijau 1.039 1.070


14 Kunyit 10,4 -

2. Perkebunan
Pada subsektor perkebunan prospeknya cukup bagus. Berbagai jenis komoditi
perkebunan tersebar secara merata di seluruh kecamatan, meliputi cengkeh, kapuk,
jambu mete, tebu, karet, aren, kapulogo, kemukus, vanili, lada, kemiri, teh, kelapa
dalam, kelapa hibrida, kopi robusta, kopi arabika dan tembakau.
Komoditi cengkeh, aren dan teh potensinya banyak terdapat di Kecamatan
Plantungan, Sukorejo, Patean serta Limbangan. Sementara untuk jenis komoditi
kapuk, kemukus, kopi arabika, kopi robusta, lada, kemiri dan kelapa hibrida potensi
terbesarnya terdapat di Kecamatan Patean dan Singorojo. Komoditi kapulogo, lada,
vanili, kopi arabika dan kelapa juga banyak ditemui di Kecamatan Boja. Khusus
produksi karet terkonsentrasi di Kecamatan Limbangan, yang juga memiliki potensi
untuk jenis komoditi seperti : aren, kapulogo, kemukus, kemiri, lada, vanili, kopi
arabika dan robusta.
3. Peternakan
Potensi pada subsektor ini meliputi ternak sapi, kerbau, kambing, domba dan ayam.
Setiap tahunnya kabupaten ini mampu menghasilkan produksi daging sapi sebesar
447,515 ton, kerbau 1,8 ton, kambing 160,897 ton, domba 57,758 ton serta ayam
sebesar 2.077,717 ton. Di sisi lain produksi telur tiap tahunnya juga cukup besar
yaitu mencapai 17.546,707 ton.
4. Perikanan
Potensi pada subsektor ini terdapat di Kecamatan Rowosari dan Kecamatan Kota
Kendal, meliputi perikanan laut dan perikanan air tawar. Kedua wilayah ini sangat
potensial untuk dikembangkan sebagai sentra perikanan yang didukung oleh

 
 
  5 - 37 
5. ANALISIS DATA 

produktifitas yang tinggi dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Hasil produksi
perikanan air tawar antara lain: ikan lele, bandeng dan udang, sementara dari
perikanan laut produksi unggulannya berupa teri nasi. Untuk melengkapi tingginya
produktifitas perikanan, saat ini telah terdapat empat Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
yaitu TPI Tawang, TPI Bandengan, TPI Tanggul Malang, TPI Sendang Sekucing.
5. Listrik, gas, dan air bersih
Listrik, gas, dan air bersih merupakan salah satu sektor basis di Kab. Kendal. Hal ini
bisa terjadi karena pada Kab. Kendal salah satu sektor basis adalah industri
pengolahan dimana pada sektor ini listrik, gas, dan air bersih merupakan subsektor
yang mendukung kelangsungan sektor ini. Sehingga secara tidak langsung
keberadaan sektor industri ini mempengaruhi jumlah penerimaan pada PDRB. Salah
satu sub sektor yang paling berkembang dalam hal ini adalah sub sektor listrik,
dimana pada tahun 2003 sebesar 78.121,13; pada tahun 2004 sebesar 72.7674,30;
pada tahun 2005 sebesar 86.329,04; pada tahun 2006 sebesar 102.551,94; pada
tahun 2007 sebesar 126.592,09.
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan metode LQ dapat diketahui bahwa
yang menjadi sektor basis adalah sektor pertanian, industri pengolahan, dan listrk,
gas, dan air bersih. Sektor non basis adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran;
bangunan; keuangan; persewaan; persewaan jasa perusahaan. Adanya urutan sektor
non basis seperti hal tersebut sangatlah tepat dengan keadaan perekonomian di Kab.
Kendal. Sektor-sektor non basis tersebut sangat mendorong terus berkembanya
sektor basis di Kab. Kendal. Selain itu, dapat dilihat bahwa dalam kurun waktu lima
tahun terakhir belum ada pergeseran sektor. Dimana yang dimaksud pergeseran
sektor disini yaitu pergeseran dari sektor basis ke sektor non basis dan begitu pula
sebaliknya. Pengaruh sektor basis terhadap perekononomian di Kab. Kendal cukup
besar. Dari adanya alokasi tenaga kerja yang cukup banyak ini bisa dilihat bahwa
perekonomian rakyat berkembang dengan baik. Banyaknya tenaga kerja yang
terserap dapat menimbulkan tingginya tingkat produktivitas tenaga kerja di daerah
tersebut. Dengan semakin banyaknya atau meningkatnya produktivitas di tiap sektor
bisa menyebabkan semakin meningkatnya perekonomian daerah tersebut yang

 
 
  5 - 38 
5. ANALISIS DATA 

kemudian berdampak pada semakin meningkatnya perekonomian masyarakat lewat


naiknya pendapatan per kapita mereka.

5.5. Analisis Pengembangan Trayek


5.5.1. Analisis Trayek Eksisting (Pelabuhan Kendal – Pelabuhan Kumai)
1. Profil Pelabuhan Kendal

Gambar 5. 17. Pelabuhan Kendal


Pelabuhan Tanjung Kendal – Pelabuhan Kendal terletak di Desa
Wonorejo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal. Pelabuhan ini tergolong
baru, karena baru diresmikan pada tahun 2015. Tujuan dari pembangunan
pelabuhan ini, diharapkan bisa membantu pelayaran yang super sibuk pada
pelabuhan yang telah ada sebelumnya, yaitu Pelabuhan Tanjung Emas yang
ada di kota Semarang. Jika dihitung jaraknya kedua pelabuhan ini cukup
berdekatan, karena jarak Kabuparten Kendal dan Kota Semarang yang memang
bersebelahan. Nantinya Pelabuhan Kendal akan dijadikan pelabuhan bayangan
yang akan melayani pelayaran penting ke seluruh Indonesia, baik untuk
penumpang maupun untuk barang. Untuk sementara Pelabuhan yang berada di
dekat Terminal Mangkang ini melayani penyeberangan ke Kumai, Kabupaten
Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Tapi ada penambahan rute
penyeberangan pada agustus 2016, yaitu tujuan ke Pulau Karimunjawa. Kapal

 
 
  5 - 39 
5. ANALISIS DATA 

Express Bahari 2C milik PT. Pelayaran Inti Sakti Makmur, Palembang ini,
melayani rute Kendal - Karimunjawa 2 kali dalam seminggu.

Gambar 5. 18. Pintu Gerbang Pelabuhan Kendal


2. Analisis Trayek Eksisting
Angkutan penyeberangan di Pelabuhan Kendal pada kondisi eksisting hanya
melayani trayek Pelabuhan Kendal – Pelabuhan Kumai Kabupaten Kota Waringin
Kalimantan Tengah, dengan menggunakan kapal KMP Kalibodri, yang pada tahun
2017 lalu melayani 4 (empat) perjalanan per bulan, dengan jumlah penumpang
rata-rata per perjalanan adalah sebesar 350 penumpang. Data dari UPTD Pelabuhan
Penyeberangan Kendal menyebutkan bahwa pada tahun 2018 ini di bulan Juni
terdapat 81 penumpang pada perjalanan pertama dan pada perjalanan kedua
membawa 523 penumpang, serta mengangkut 1 truk besar, 2 truk sedang, 12 mobil
dan 22 sepeda motor. Sedangkan pada bulan Juli pada pemberangkatan pertama
jumlah penumpang adalah 490 penumpang, pada pemberangkatan kedua naik
menjadi 565 penumpang serta mengangkut 10 truk besar, 7 truk sedang, 14 mobil,
dan 36 sepeda motor. Grafik perbandingan jumlah penumpang KMP Kalibodri pada
Juni dan Juli tahun 2018 dapat dilihat berikut ini.

 
 
  5 - 40 
5. ANALISIS DATA 

Gambar 5. 19. Perbandingan Jumlah Penumpang KMP Kalibodri Juni – Juli


2018
Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa terjadi kenaikan sangat signifikan jumlah
penumpang sebesar 442 penumpang pada bulan Juni, atau sebesar 545 persen,
namun turun 6,3 persen di trip pertama bulan Juli, namun naik kembali 15,3 persen
di trip kedua bulan Juli 2018. Dari angka jumlah penumpang ini juga dapat
dirata-rata yaitu sebesar 415 penumpang per perjalanan, dengan garis tren logaritmis
sebagai berikut ini.

Gambar 5. 20. Garis Tren Penumpang KMP Kalibodri


Dari rata-rata jumlah penumpang di atas, maka apabila diberlakukan tarif
sebesar Rp. 116.000,- per penumpang, maka rata-rata pendapatan (dari penumpang)

 
 
  5 - 41 
5. ANALISIS DATA 

adalah sebesar Rp. 48.140.000,- per perjalanan. Ini belum termasuk pemasukan dari
tariff kendaraan, yang apabila dihitung berdasarkan volume kendaraan yang
diseberangkan pada Juli 2018 (mengangkut 14 mobil, 17 truk, dan 36 sepeda motor
dengan tarif masing-masing yaitu Rp. 2,1 juta, Rp. 4juta dan Rp. 200ribu) maka
pendapatan dari volume kendaraan ini sebesar Rp. 104.600.000,-. Sehingga total
pendapatan adalah sebesar Rp. 152.740.000,- per perjalanan.
5.5.2. Analisis Trayek Pengembangan I (Pelabuhan Kendal – Pelabuhan Bahaur,
Pulang Pisau, Kalimantan Tengah)
Pelabuhan Bahaur terletak di Bahaur Hilir, Kahayan Kuala, Pulang Pisau,
Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), dengan posisi koordinat ​3°14'20.8"LS
114°05'54.4"BT. Kabupaten Pulang Pisau yang beribukotakan Pulang Pisau
memiliki luas wilayah 8.997 km2 dan berpenduduk 120.062 jiwa (hasil sensus
2010) ini merupakan daerah yang cukup berkembang, yang dibentuk pada tahun
2002. Batas wilayah kabupaten ini adalah sebelah Utara berbatasan
dengan Kabupaten Gunung Mas, sebelah Selatan berbatasan dengan laut Jawa,
sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Kapuas, dan sebelah Barat berbatasan
dengan Kabupaten Katingan dan Kota Palangka Raya. Kabupaten Pulang Pisau
terdiri dari 8 kecamatan, 91 desa definitif, 1 desa persiapan, yaitu Desa Sukamaju,
UPT Anjir Pulang Pisau dan 2 kelurahan, yakni Kelurahan Pulang Pisau dan
Kelurahan Kalawa.
Pelabuhan Bahaur terletak di Desa Bahaun Hilir di Kecamatan Kahayan Kuala.
Kecamatan ini memiliki luas wilayah ± 1.155,00 km​2 ​dengan jumlah penduduk
sebanyak ± 20.940 jiwa (laporan kependudukan Kecamatan Kahayan Kuala).
Beberapa alasan dipilihnya pelabuhan ini menjadi salah satu pelabuhan tujuan
adalah sebagai berikut ini.
1. Adanya rencana pengembangan Pelabuhan Bahaur yang digagas Pemerintah
Daerah serta Pemerintah Pusat (termasuk pengembangan trayek
penyeberangan Bahaur – Paciran (Jawa Timur) yang akan dioperasikan).
2. Adanya 5 proyek prioritas dari Kementerian Perencanaan dan Pembangunan
Nasional (PPN)/Bappenas di Kalteng, yang salah satunya adalah

 
 
  5 - 42 
5. ANALISIS DATA 

peningkatan struktur jalan akses menuju Pelabuhan Bahaur-Pulang Pisau,


dengan anggaran hingga mencapai Rp. 160 miliar, dengan pembagian
alokasi anggaran sebesar Rp. 60M dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dan
Rp. 100M dari Pemerintah Provinsi Kalteng secara tahun jamak.
3. Kesamaan bentuk dermaga antara pelabuhan Kendal dan pelabuhan Bahaur
yang sama-sama memiliki dermaga untuk memfasilitasi kapal dengan pintu
kapal belakang.
Peta Pelabuhan Bahaur dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 5. 21. Pelabuhan Bahaur


Batas-batas daerah lingkungan kerja dan daerah lingkungan kepentingan Pelabuhan
Bahaur tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan RI Nomor KM 16 Tahun
1998 tentang Batas-batas Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan
Kepentingan Pelabuhan Pulang Pisang dan Pelabuhan Bahaur, dengan rincian
berikut ini.
1. Daerah lingkungan kerja Daratan Pelabuhan Bahaur seluas 500.000 meter
persegi dimulai titik A yang terletak di ujung sebelah Barat Laut tanah
Pelabuhan pada Desa Perawan di perbatasan penduduk dengan tanah
pelabuhan pada koordinat 3°15'38" LS dan 114°06'10" BT selanjutnya
ditarik garis lurus ke arah Timur melewati Desa Perawan dan menyeberang
Jalan Bahaur sampai titik B yang terletak di tepi Sungai Kahayan pada
koordinat 3°15'40" LS dan 114°06'22" BT selanjutnya ditarik garis

 
 
  5 - 43 
5. ANALISIS DATA 

menyusur tepi Sungai Kahayan ke arah Barat Daya sampai titik C yang
terletak di tepi Sungai Kahayan pada koordinas 3°15'45" LS dan 114°06'22"
BT selanjutnya ditarik garis ke arah Barat Daya menyusur tepi Sungai
Kahayan dan menyeberang Muara Sei Tinggiran sampai di titik D yang
terletak di Muara Sungai Tinggiran pada koordinat 3°15'54" LS dan
114°06'21" BT selanjutnya ditarik garis menyusur tepi Sungai Kahayan ke
arah Barat Daya sampai di titik E yang terletak di tepi Sungai Kahayan di
sebelah Timur Pos Pelabuhan Bahaur pada koordinat 3°16'00" LS dan
114°06'21" BT selanjutnya ditarik garis menyusur tepi Sungai Kahayan ke
arah Barat Daya sampai di titik F yang terletak di tepi Sungai Kahayan pada
koordinat 3°16'05" LS dan 114°06'22" BT selanjutnya ditarik garis
menyusur tepi Sungai Kahayan ke arah Barat Daya sampai di titik G yang
terletak di tepi Sungai Kahayan pada koordinat 3°16'07" LS dan 114°06'20"
BT selanjutnya ditarik garis lurus menyeberang Jalan Bahaur melewati
perbatasan tanah penduduk/Desa Perawan dengan tanah pelabuhan sampai di
titik H yang terletak di tanah penduduk/Desa Perawan dengan tanah
pelabuhan pada koordinat 3°16'07" LS dan 114°06'08" BT selanjutnya
ditarik garis lurus ke arah Utara melewati Desa Perawan/perbatasan tanah
penduduk dengan tanah pelabuhan dan kembali ke titik A.
2. Daerah lingkungan kerja Perairan Pelabuhan Bahaur yang luasnya 284 Ha,
dimulai dari titik A2 yang terletak di Tanjung Damaran pada koordinat
3°19'17" LS dan 114°06'49" BT selanjutnya ditarik garis menyusur tepi
Sungai Kahayan ke arah Timur Laut sampai pada titik B2 yang terletak di
Muara Terusan ke Sungai Kapuas pada koordinat 3°14'11" LS dan
114°06'59" BT selanjutnya ditarik garis menyusur tepi Sungai Kahayan ke
arah Timur Laut sampai pada titik C2 yang terletak di Tanjung Takoloh pada
koordinat 3°08'55" LS dan 114°08'50" BT selanjutnya ditarik garis
menyusur tepi Sungai Kahayan ke arah Timur Laut sampai pada titik D2
yang terletak di tepi Sungai Kahayan pada koordinat 3°04'06" LS dan
114°09'33" BT selanjutnya ditarik garis memotong Sungai Kahayan ke arah

 
 
  5 - 44 
5. ANALISIS DATA 

Barat sampai pada titik E2 yang terletak di Desa Pangkoh pada koordinat
3°04'06" LS dan 114°09'46" BT selanjutnya ditarik garis menyusur tepi
Sungai Kahayan ke arah Barat Daya sampai pada titik F2 yang terletak di
Tanjung Taberau pada koordinat 3°04'48" LS dan 114°10'30" BT
selanjutnya ditarik garis menyusur tepi Sungai Kahayan ke arah Barat Daya
sampai pada titik G2 yang terletak di Pelabuhan Bahaur pada koordinat
3°12'48" LS dan 114°06'53" BT selanjutnya ditarik garis menyusur tepi
Sungai Kahayan ke arah Selatan sampai pada titik H2 yang terletak di
Tanjung Perawan pada koordinat 3°17'28" LS dan 114°06'00" BT
selanjutnya ditarik garis menyusur tepi Sungai Kahayan ke arah Barat Daya
sampai pada titik I2 yang terletak di Desa Bapuju pada koordinat 3°20'30"
LS dan 114°03'58" BT selanjutnya ditarik garis lurus memotong Muara
Sungai Kahayan ke arah Timur Laut dan kembali ke titik A2.
3. Area tanah yang merupakan Daerah Lingkungan Kerja Daratan Pelabuhan
diberikan Hak Pengelolaan (HPL) kepada PT (Persero) Pelabuhan Indonesia
III sesuai peraturan perundangan yang berlaku, dengan kewajiban :
a. Membebaskan tanah yang masih dikuasai oleh Pihak Ketiga yang
terletak di dalam Daerah Lingkungan Kerja Daratan Pelabuhan.
b. Membentuk Panitia Penunjuk Batas Daerah Lingkungan Kerja
Daratan Pelabuhan yang terdiri dari PT (Persero) Pelabuhan
Indonesia III, Badan Pertanahan Nasional setempat dan Pemda
berdasarkan koordinat geografi pada peta yang dalam
pelaksanaannya dimungkinkan adanya penyesuaian dengan keadaan
lapangan.
c. Mendaftarkan area tanah yang merupakan Daerah Lingkungan Kerja
Daratan Pelabuhan untuk memperoleh Hak Pengelolaan, sesuai
peraturan perundangan yang berlaku.
4. Hak pengelolaan (HPL) PT (Persero) Pelabuhan Indonesia III :
a. Merencanakan peruntukan dan penggunaan tanah.
b. Menggunakan tanah tersebut untuk keperluan pelaksanaan usaha.

 
 
  5 - 45 
5. ANALISIS DATA 

c. Menyerahkan bagian-bagian dari tanah tersebut kepada Pihak Ketiga


menurut persyaratan yang ditentukan oleh PT (Persero) Pelabuhan
Indonesia III yang meliputi segi-segi peruntukan, penggunaan,
jangka waktu dan keuangannya, dengan ketentuan bahwa pemberian
hak atas tanah tersebut dilakukan oleh Pejabat Badan Pertanahan
Nasional, sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
5. PT (Persero) Pelabuhan Indonesia III berwenang memberi izin membuat
bangunan di dalam Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan
Pelabuhan kepada Pihak Ketiga sesuai dengan rencana induk pelabuhan dan
dengan standar bangunan yang berlaku serta memperhatikan pertimbangan
Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Kapuas.
Dari aspek komoditas unggulan, terdapat berbagai macam komoditas yang
selama ini diangkut, baik dari Kendal ke Pulang Pisau dan sebaliknya. Berbagai macam
komoditas yang terdistribusi dari Kendal ke Pulang Pisau adalah : buah, CPO, gula,
daging dan ternak, semen, minyak goreng, kargo makanan, beras, ikan, dan kayu
gelondongan, dengan nilai volume per tahun seperti tersaji pada gambar di bawah ini
(data ATTN, 2016).

Gambar 5. 22. Distribusi Komoditas Kendal – Pulang Pisau

 
 
  5 - 46 
5. ANALISIS DATA 

Sebaliknya, berbagai macam komoditas yang terdistribusi dari Pulang Pisau ke


Kendal adalah : buah, biji-bijian pertnian, biji-bijian lainnya, CPO, daging dan ternak,
minyak goreng, general cargo makanan, sayur, beras, ikan, dengan nilai volume per
tahun seperti tersaji pada gambar di bawah ini.

Gambar 5. 23. Distribusi Komoditas Pulang Pisau - Kendal


5.5.3. Analisis Trayek Pengembangan II (Pelabuhan Kendal – Pelabuhan Sampit)
Pelabuhan Sampit terletak di Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi
Kalimantan Tengah, dengan posisi koordinat 2°32'16.0" LS 112°57'52.6" BT.
Kabupaten Kotawaringin timur merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan
Timur dengan Ibukota terletak di Kota Besi. Kabupaten Kotawaringin Timur memiliki
luas wilayah sebesar 16.496 km​2 dan berpenduduk kurang lebih sebanyak 373.842 jiwa
pada tahun 2010. Wilayah Utara Kabupaten Kotawaringin Timur pada bagian Utara dan
Timur berbatasan dengan Kabupaten Katingan, bagian Barat berbatasan dengan
Kabupaten Seruyan, dan pada bagian Selatan berbatasan dengan Laut Jawa. Secara
administratif, Kabupaten Kotawaringin Timur terdiri dari 17 Kecamatan, 178 Desa dan
17 Kelurahan. Wilayah Kabupaten Kotawaringn Timur dialiri oleh satu sungai besar,
yaitu Sungai Mentaya yang memiliki panjang kurang lebih 400 Km dan yang dapat
dilayari sejauh kurang lebih 270 km dengan rata – rata kedalaman – 6 meter dan lebar
400 meter. Pelabuhan Sampit, Terminal Bagendang dan Pos pemanduan Samuda
terletak di Sungai Mentaya.

 
 
  5 - 47 
5. ANALISIS DATA 

Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 414 Tahun 2013 dan


Rencana Tata Ruang Provinsi Kalimantan Tengah, Pelabuhan Sampit telah ditetapkan
sebagai pelabuhan utama. Pelabuhan Sampit sendiri merupakan satu kesatuan dari
pelabuhan di Kota Sampit dan pelabuhan di Bagendang. Pelabuhan di Kota Sampit
dikhususkan sebagai pelabuhan penumpang, sedangkan Pelabuhan di Bagendang
difungsikan sebagai pelabuhan multipurpose.
Beberapa alasan dipilihnya pelabuhan ini menjadi salah satu pelabuhan tujuan
adalah sebagai berikut ini.
1. Adanya rencana pengembangan Pelabuhan Sampit yang digagas Pemerintah
Daerah serta Pemerintah pusat.
2. Pengembangan Pelabuhan Sampit dilakukan karena arus barang
perdagangan naik rata – rata 106% dari tahun 2016 – 2017, arus peti kemas
tumbuh 143% dari 40.673 TEU’s menjadi 58.165 TEU’s. Begitupun
kunjungan kapal yang naik dari 1.075 unit menjadi 1.673 unit.
3. Jumlah rata – rata penumpang mengalami kenaikan sebesar 4,7 % per tahun

Gambar 5. 24. Arus Kunjungan Kapal dan Penumpang di Pelabuhan Sampit

 
 
  5 - 48 
5. ANALISIS DATA 

Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 104 Tahun 2015


tentang Rencana Induk Pelabuhan Sampit, estimasi arus naik and turun penumpang di
Pleabuhan Sampit didekati menggunakan model analisis regresi dengan metoda enter.
Hasil analisis menunjukan bahwa variable – variable potensi hinterland yang
berpengaruh secara signifikan terhadap arus naik dan turun penumpang orang di
Pelabuhan Sampit adalah produksi palawija, produksi kacang-kacangan, produksi
sayuran, luas wilayah perkebunan, dan produksi iperikanan. Sedangkan jumlah
penduduk, PDRB Kabupaten Kotawaringin Timur atas dasar harga konstan tahun 2000,
dan PDRB Kabupaten Kotawaringin Timur atas dasar harga berlaku, tidak berpegaruh
terhadap arus penumpang naik di Pelabuhan Sampit. Berikut ini merupakan peta lokasi
Pelabuhan Sampit.

Gambar 5. 25. Pelabuhan Sampit

Fasilitas utama Pelabuhan Sampit terdiri dari fasilitas tambat, lapangan


penumpukan dan kolam pelabuhan. Dengan kondisi teknis rata – rata 80% sampai
dengan 95 %, sedangkan untuk pelayanan angkutan penumpang disediakan terminal
penumpag dengan kapasitas untuk 1.000 penumpang. Selain itu, guna memperlancar
operasional Pelabuhan Sampit juga telah memiliki beberapa Fasilitas penunjang.
Fasilitas penunjang di Pelabuhan Sampit terdiri dari bangunan jalan, gedung kantor dan

 
 
  5 - 49 
5. ANALISIS DATA 

lapangan parker, instalasi air, dan listrik dengan kondisii teknis 50% sampai dengan
60% untuk bangunan jalan dan 80% sampai dengan 90% untuk bangunan gedung.
Penyediaan air bersih mempunyai kapasitas 20 M​3​/jam dengan bahan baku air dari air
sungai, sedangkan kapasitas listrik terpasang 36,20 KVA, terutama digunakan untuk
bangunan kantor, terminal penumpang, dan penerangan pelabuhan.

Tabel 5.4. Kondisi Eksisting Dermaga Sampit

Panjang Lebar Kedalaman


Titik Dermaga
(m) (m) Kolam (M LWS)
A Dermaga Sampit 316 10 -5
B Dermaga Multipurpose I Bagendang 120 25 -6,5
C Dermaga Multipurpose II Bagendang 120 25 -6,5
D Dermaga CPO I Bagendang 100 5 -6,5
E Dermaga CPO II Bagendang 141,5 5 -6,5
Dari aspek komoditas unggulan, terdapat berbagai macam komoditas yang selama
ini diangkut, baik dari Kendal ke Sampit dan sebaliknya. Berbagai macam komoditas
yang terdistribusi dari Kendal ke Sampit adalah : buah, CPO, gula, daging dan ternak,
semen, minyak goreng, kargo makanan, beras, ikan, dan kayu gelondongan, dengan
nilai volume per tahun seperti tersaji pada gambar di bawah ini (data ATTN, 2016).

 
 
  5 - 50 
5. ANALISIS DATA 

Gambar 5. 26. Distribusi Komoditas Kendal – Sampit


Sebaliknya, berbagai macam komoditas yang terdistribusi dari Sampit ​ke Kendal
adalah : buah, biji-bijian pertnian, biji-bijian lainnya, CPO, daging dan ternak, minyak
goreng, general cargo makanan, sayur, beras, ikan, dengan nilai volume per tahun
seperti tersaji pada gambar di bawah ini.

Gambar 5. 27. Distribusi Komoditas Sampit - Kendal


5.5.4. Analisis Trayek Pengembangan III (Pelabuhan Kendal–Pelabuhan
Ketapang)

 
 
  5 - 51 
5. ANALISIS DATA 

3. Pelabuhan Sukabangun terletak di Kabupaten Ketapang Provinsi


Kalimantan Barat dengan posisi koordinat 1°47'29.3"LS 109°57'16.0"BT.
Kabupaten Ketapang merupakan salah satu Daerah Tingkat II di wilayah Provinsi
Kalimantan Barat. Ibukota Kabupaten Ketapang terletak di Kota Ketapang, sebuah
kota yang terletak di tepi Sungai Pawan. Kabupaten ini memiliki luas wilayah
sebesar 31.240,74 Km​2 dengan penduduk berjumlah 427.460 jiwa berdasarkan
sensus yang dilakukan pada tahun 2010. Batas wilayah administrative Kabupaten
Ketapang di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Sanggau dan Kabupaten
Sekadau, di sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Jawa, di sebelah barat
berbatasan dengan Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten kayong Utara, dan Selat
Karimata, sedangkan di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Melawi,
Kabupaten Sintang dan Provinsi Kalimantan Tengah. Wilayah Kabupaten Ketapang
terdiri dari 20 Kecamatan, dimana 13 Kecamatan berada di daerah perhuluan dan
selebihnya merupakan kawasan pesisir, yaitu wilayah kecamatan yang sebagian
wilayah desanya berbatasan langsung dengan laut/pantai.
Dari aspek komoditas unggulan, terdapat berbagai macam komoditas yang selama
ini diangkut, baik dari Kendal ke Ketapang dan sebaliknya. Berbagai macam komoditas
yang terdistribusi dari Kendal ke Ketapang adalah : buah, CPO, gula, daging dan ternak,
semen, minyak goreng, general kargo makanan, general kargo non makanan, beras, dan
ikan, dengan nilai volume per tahun seperti tersaji pada gambar di bawah ini (data
ATTN, 2016).

 
 
  5 - 52 
5. ANALISIS DATA 

Gambar 5. 28. Distribusi Komoditas Kendal – Ketapang


4. Sebaliknya, berbagai macam komoditas yang terdistribusi dari Ketapang
ke Kendal adalah : buah, biji-bijian pertnian, biji-bijian lainnya, CPO, daging dan
ternak, minyak goreng, kopi, general cargo makanan, sayur, beras, dengan nilai
volume per tahun seperti tersaji pada gambar di bawah ini.

5.
Gambar 5. 29. Distribusi Komoditas Ketapang - Kendal

 
 
  5 - 53 
5. ANALISIS DATA 

6.
5.6. Analisis Kelayakan Finansial
Analisis kelayakan finansial adalah landasan untuk menentukan sumber daya
finansial yang diperlukan untuk tingkat kegiatan tertentu dan laba yang bisa diharapkan.
Kebutuhan finansial dan pengembalian (return) bisa sangat berbeda, tergantung pada
pemilihan alternative yang ada bagi sebagian besar usaha baru. Analisis kelayakan
finansial dari usaha baru memerlukan pemilihan alternative untuk diterapkan.
Pendekatan anlitis bagi masalah ini dipusatkan pada empat langkah dasar, yaitu :
1. Penentuan kebutuhan finansial total dengan dana- dana yang diperlukan untuk
operasional.
2. Penentuan sumber daya finansial yang tersedia serta biaya biayanya, yaitu berupa
pencapaian sumber dan dana biaya modal.
3. Penentuan aliran kas di masa depan yang bisa diharapkan dari operasi dengan cara
analisa aliran kas di pada selang waktu relative singkat.
4. Penentuan pengembalian yang diharapkan melalui analisa pengembalian dari
investasi.
Analisis finansial ini dilakukan dengan menggunakan biaya sesungguhnya
termasuk pajak dan kontinensi harga maupun fisik. Analisis kelayakan finansial pada
penelitian ini menggunakan indicator nilai Benefit Cost Ratio (BCR). BC Ratio atau
Benefit-Cost ratio merupakan manfaat bersih tambahan yang diterima proyek dari setiap
1 satuan biaya yang dikeluarkan, yang menunjukkan gambaran berapa kali lipat manfaat
(benefit) yang diperoleh dari biaya (cost) yang dikeluarkan. Nilai B/C Ratio diperoleh
melalui perbandingan antara nilai total present value (pv) benefit dengan nilai total
present value (pv) cost. Hasil perbandingan tersebut apa bila bernilai ≥ 1 maka proyek
fisibel atau layak untuk dilakukan.
5.6.1. Analisis Perkiraan Biaya Operasional Angkutan Penyeberangan Trayek
Pengembangan Kendal – Bahaur
Perhitungan biaya operasional dilakukan guna memperkirakan besarnya biaya
atau jumlah biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan kegiatan pokok yaitu pada
penelitian ini adalah angkutan penyeberangan trayek pengembangan dari Pelabuhan

 
 
  5 - 54 
5. ANALISIS DATA 

Kendal di Kabupaten Kendal Provinsi jawa Tengah menuju Pelabuhan Bahaur


Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah. Rincian perhitungan biaya
operasional angkutan penyeberangan dibuat dengan berdasarkan pada Keputusan
Menteri Perhubungan Nomor : KM. 58 Tahun 2003 Tentang Mekanisme Penetapan dan
Formulasi Perhitungan Tarif Angkutan Penyeberangan.
Untuk memudahkan perhitungan biaya pokok pada penelitian ini, komponen pada
biaya pokok dikelompokan menurut teknik pendekatan sebagai berikut:
1. Biaya langsung, yaitu biaya yang berkaitan langsung dengan produk jasa yang
dihasilkan yang terdiri atas biaya tetap dan biaya tidak tetap.
2. Biaya tidak langsung, merupakan biaya yang secara tidak langsung berhubungan
dengan produk jasa yang dihasilkan yang terdiri atas biaya tetap dan biaya tidak
tetap.
Berdasarkan pengelompokan di atas, jenis biaya tetap merupakan biaya yang tidak
berubah (tetap) walaupun terjadi perubahan pada volume produksi jasa sampai ke
tingkat tertentu. Biaya yang berubah apabila terjadi perubahan pada volume produksi
jasa. Berikut ini merupakan rincian perhitungan perkiraan biaya pokok angkutan
penyeberangan trayek pengembangan Kendal – Bahaur.
Tabel 5.5. Tabel Perhitungan Biaya Pokok Jasa Angkutan Penyeberangan
Bahaur
Perhitungan Biaya Pokok Jasa Angkutan Penyeberangan
Data Teknis
1. Jarak Lintasan = 359,62 Mile
2. Tonage Kapal Penyeberangan = 1.626,29 GT
3. Kecepatan Operasional = 11,00 Knot
4. Waktu Tempuh /Trip = 28,41 Jam
5. Motor Induk
a. Ukuran mesin = 2.000,00 PK
b. Jumlah Mesin = 2,00 Buah
6. Motor Bantu
a. Ukuran Mesin = 500,00 PK

 
 
  5 - 55 
5. ANALISIS DATA 

b. Jumlah Mesin = 2,00 Buah


7. Ratio Pemakaian BBM = 0,26 L/PK/Jam
8. Ratio Pemakaian Pelumas = 0,0033 L/PK/Jam
9. Ratio Pemakaian Gemuk =
10. Ratio Pemakaian Air Tawar 200,00
L/Orang/H
a. Untuk Awak Kapal = 200,00
ari
L/Orang/
b. Untuk Penumpang = 0,50
Mile/Trip
c. Cuci Kapal = 5,00 L/GT/hari
11. Jasa Sandar =
Sesuai dengan dermaga yang dipakai dan peraturan yang berlaku.
12. Jumlah Awak Kapal =
Nakhoda = 1,00 orang
Perwira = 9,00 orang
Bintara = 2,00 orang
Kelasi = 12,00 orang
Rp
Gaji Rata - Rata = /orang
9.200.000,00
13. Jumlah Pegawai Darat =
14. Kapasitas Angkut
a. Penumpang = 400,00 orang
b. Kendaraan
MPU = 14,00 Kendaraan
TRUK = 18,00 Kendaraan
15. Hari Operasi = -
16. a. Frekuensi Rata-rata Per Hari = -
b. Frekuensi Rata-rata Per Tahun = 48,00 Trip
17. a. Produksi Mile Per Hari = -
b. Produksi Mile Per Tahun = 17.261,76 Mile

 
 
  5 - 56 
5. ANALISIS DATA 

18. Harga Kapal = 110.000.000.000,00


65.051.600.000,00
A. Biaya Langsung
1. Biaya Tetap
a. Biaya Penyusutan Kapal
Rp
Nilai Residu (5%) = /Tahun
5.500.000.000,00
Masa Penyusutan = 25,00 Tahun
Rp
Biaya Penyusutan Kapal = /Tahun
4.180.000.000,00
b. Biaya Bunga Modal
Jangka Waktu Pinjaman = 10,00 Tahun
Bunga Modal = 1,50 %
Rp
Biaya Bunga Modal = /Tahun
589.875.000,00
c. Biaya Asuransi Kapal
Premi Asuransi /Tahun = 1,50 %
Rp
Biaya Asuransi Kapal = /Tahun
1.650.000.000,00
d. Biaya Anak Buah Kapal
Rp
1) Gaji Upah = /Tahun
220.800.000,00
Rp
2) Tunjangan = /Tahun
165.600.000,00
Rp
Jumlah = /Tahun
386.400.000,00

2. Biaya Tidak Tetap


a. Biaya BBM

 
 
  5 - 57 
5. ANALISIS DATA 

Rp
1) Mesin Induk = /Tahun
7.303.534.818,47
Rp
2) Mesin Bantu = /Tahun
1.825.883.704,62
Rp
Jumlah = /Tahun
9.129.418.523,08
b. Biaya Pelumas
Rp
1) Mesin Induk = /Tahun
899.987.486,97
Rp
2) Mesin Bantu = /Tahun
224.996.871,74
Rp
Jumlah = /Tahun
1.124.984.358,71
c. Biaya Gemuk
Rp
Gemuk Untuk Kapal >1.000 GT = /Tahun
36.000.000,00
d. Biaya Air Tawar
Rp
1) Untuk Crew Kapal = /Tahun
46.080.000,00
Rp
2) Untuk Penumpang = /Tahun
690.470.400,00
Rp
3) Untuk Cuci Kapal = /Tahun
78.061.920,00
Rp
Jumlah = /Tahun
814.612.320,00
e. Biaya Repairs, Maintenance & Supplies (RMS)
Rp
Jumlah = /Tahun
5.000.000.000,00

B. Biaya Tidak Langsung

 
 
  5 - 58 
5. ANALISIS DATA 

1. Biaya Tetap
a. Biaya Pegawai Darat
Rp
1) Gaji Upah = /Tahun
450.000.000,00
Rp
2) Tunjangan = /Tahun
337.500.000,00
Rp
Jumlah = /Tahun
787.500.000,00
Rp
b. Biaya Pengelolaan & Manajemen = /Tahun
650.000.000,00

2. Biaya Tidak Tetap


Rp
a. Biaya Kantor = /Tahun
25.000.000,00
Rp
b. Biaya Pemeliharaan = /Tahun
2.500.000,00
Biaya Alat Tulis Kantor & Rp
c. = /Tahun
Barang Cetakan 6.500.000,00
Biaya Telepon, Telegram, Pos, Rp
d. = /Tahun
Listrik, & air tawar 10.000.000,00
Rp
e. Inventaris Kantor = /Tahun
5.500.000,00
Biaya Pengawasan dan Rp
f. = /Tahun
Perjalanan Dinas 5.500.000,00
Rp
Jumlah /Tahun
55.000.000,00

Rekapitulasi Biaya Pokok Jasa Angkutan Penyeberangan


A. Biaya Langsung
1. Biaya Tetap

 
 
  5 - 59 
5. ANALISIS DATA 

Rp
a. Biaya Penyusutan Kapal = /Tahun
4.180.000.000,00
Rp
b. Biaya Bunga Modal = /Tahun
589.875.000,00
Rp
c. Biaya Asuransi kapal = /Tahun
1.650.000.000,00
Rp
d. Biaya Anak Buah Kapal = /Tahun
386.400.000,00
2. Biaya Tidak Tetap
Rp
a. Biaya BBM = /Tahun
9.129.418.523,08
Rp
b. Biaya Pelumas = /Tahun
1.124.984.358,71
Rp
c. Biaya Gemuk = /Tahun
36.000.000,00
Rp
d. Biaya Air Tawar = /Tahun
814.612.320,00
Biaya Repairs, Maintenance & Rp
e. = /Tahun
Supplies 5.000.000.000,00
Rp
Jumlah Biaya Langsung = /Tahun
22.911.290.201,79

B. Biaya Tidak Langsung


1. Biaya Tetap
Rp
a. Biaya Pegawai Darat = /Tahun
787.500.000,00
Rp
b. Biaya Pengelolaan & Manajemen = /Tahun
650.000.000,00
2. Biaya Tidak Tetap

 
 
  5 - 60 
5. ANALISIS DATA 

Rp
a. Biaya Kantor = /Tahun
25.000.000,00
Rp
b. Biaya Pemeliharaan = /Tahun
2.500.000,00
Rp
c. Biaya Alat Tulis Kantor = /Tahun
6.500.000,00
Biaya Telepon, Listrik, & air Rp
d. = /Tahun
tawar 10.000.000,00
Rp
e. Inventaris Kantor = /Tahun
5.500.000,00
Rp
f. Biaya Perjalanan Dinas = /Tahun
5.500.000,00
Rp
Jumlah Biaya Tidak Langsung = /Tahun
1.492.500.000,00

Total Jumlah Biaya Pokok = Rp 24.403.790.201,79 /Tahun

Berdasarkan perhitungan di atas, dapat diperkirakan jumlah biaya yang


dibutuhkan untuk mengoperasikan angkutan penyeberangan trayek Kendal – Bahaur
selama satu tahun sebesar Rp. 24.403.790.201,79. Jumlah biaya tersebut berasal dari
biaya langsung sebesar Rp. 22.911.290.201,79 dan biaya tidak langsung sebesar Rp.
1.492.500.000,00. Komponen biaya terbesar berasal dari biaya pemakaian bahan bakar
minyak dengan jumlah mencapai Rp. 9.129.418.523,08 per tahun. Biaya pemakaian
bahan bakar menjadi komponen biaya terbesar dengan persentase 37,41 % dari total
jumlah biaya yang dikeluarkan.
Dari hasil peninjauan di lapangan, frekuensi keberangkatan kapal sejenis di
Pelabuhan Kendal dengan tujuan menuju Pelabuhan Kumai sebanyak empat kali dalam
satu bulan. Maka dapat disimpulkan dalam kurun waktu satu tahun, frekuensi
keberangkatan angkutan penyeberangan menuju Pelabuhan Kumai adalah sebanyak 48
kali. Dengan berdasarkan pendekatan tersebut, dapat diperkirakan jumlah biaya pokok

 
 
  5 - 61 
5. ANALISIS DATA 

tiap perjalanan pada trayek pengembangan Kendal – Bahaur. Perkiraan biaya pokok tiap
perjalanan angkutan penyeberangan trayek pengembangan Kendal – Bahaur dapat
dilihat pada uraian di bawah ini.
Tabel 5.6. Tabel Rekapitulasi Biaya Pokok Jasa Angkutan Penyeberangan
Bahaur Per Trip
Rekapitulasi Biaya Pokok Jasa Angkutan Penyeberangan
A
. Biaya Langsung
1. Biaya Tetap
a /Tri
. Biaya Penyusutan Kapal = Rp 87.083.333,33 p
b /Tri
. Biaya Bunga Modal = Rp 12.289.062,50 p
c /Tri
. Biaya Asuransi kapal = Rp 34.375.000,00 p
d /Tri
. Biaya Anak Buah Kapal = Rp 8.050.000,00 p
2. Biaya Tidak Tetap
a /Tri
. Biaya BBM = Rp 190.196.219,23 p
b /Tri
. Biaya Pelumas = Rp 23.437.174,14 p
c /Tri
. Biaya Gemuk = Rp 750.000,00 p
d /Tri
. Biaya Air Tawar = Rp 16.971.090,00 p
e /Tri
. Biaya Repairs, Maintenance & Supplies = Rp 104.166.666,67 p
/Tri
Jumlah Biaya Langsung = Rp 477.318.545,87 p

 
 
  5 - 62 
5. ANALISIS DATA 

B
. Biaya Tidak Langsung
1. Biaya Tetap
a /Tri
. Biaya Pegawai Darat = Rp 16.406.250,00 p
b /Tri
. Biaya Pengelolaan & Manajemen = Rp 13.541.666,67 p
2. Biaya Tidak Tetap
a /Tri
. Biaya Kantor = Rp 520.833,33 p
b /Tri
. Biaya Pemeliharaan = Rp 52.083,33 p
c /Tri
. Biaya Alat Tulis Kantor = Rp 135.416,67 p
d /Tri
. Biaya Telepon, Listrik, & air tawar = Rp 208.333,33 p
e /Tri
. Inventaris Kantor = Rp 114.583,33 p
/Tri
f. Biaya Perjalanan Dinas = Rp 114.583,33 p
/Tri
Jumlah Biaya Tidak Langsung = Rp 31.093.750,00 p

/Tri
Total Jumlah Biaya Pokok = Rp 508.412.295,87 p

Dalam satu kali perjalanan, angkutan penyeberangan Kendal – Bahaur akan


menempuh jarak sejauh 359,62 Mil. Jika diperkirakan kecepatan tempuh pada saat
perjalanan sebesar 11 Knot, maka diperlukan waktu 28,41 jam untuk sampai ke tujuan

 
 
  5 - 63 
5. ANALISIS DATA 

di Pelabuhan Bahaur. Berdasarkan perhitungan di atas, diketahui jumlah biaya pokok


operasional yang diperlukan dalam satu perjalanan mencapai Rp. 508.412.295,87. Biaya
bahan bakar minyak yang dikeluarkan dalam satu kali perjalanan mencapai Rp.
190.196.219,23.
Analisis perkiraan pendapatan dilakukan berdasarkan besarnya load faktor pada
tiap perjalanan. Load faktor merupakan rasio perbandingan nilai kegunaan dari
kapasitas muatan yang tersedia dari moda transportasi. Berdasarkan hasil pengamatan di
lapangan, pada pelabuhan yang sama telah diselenggarakan angkutan penyeberangan
dengan tujuan Pelabuhan Kumai. Dengan pendekatan tersebut, rencana pengembangan
trayek Kendal – Bahaur diasumsikan menggunakan jenis kapal yang sama, yaitu kapal
ferry jenis Ro-Ro dengan kapasitas penumpang mencapai 400 penumpang. Selain
muatan penumpang, kapal jenis ini juga memuat kendaraan beserta muatannya. Jumlah
kendaraan yang dapat diangkut dengan menggunakan kapal jenis ini meliputi kendaraan
berjenis Mobil Penumpang Umum sejumlah 14 unit kendaraan dan kendaraan berjenis
truk sejumlah 18 unit kendaraan.
Besaran tarif yang ditetapkan pada angkutan penyeberangan dari Pelabuhan
Kendal menuju Pelabuhan Kumai untuk penumpang sebesar Rp. 116.000,00/orang.
Untuk muatan kendaraan berjenis Mobil Penumpang dikenakan tarif sebesar Rp.
5.500.00,00/ kendaraan untuk satu kali perjalanan dari Pelabuhan Kendal menuju
pelabuhan Kumai. Tarif untuk kendaraan berjenis truk mencapai Rp.
14.500.000,00/kendaraan untuk satu kali perjalanan. Analisis perkiraan pendapatan
angkutan penyeberangan trayek pengembangan Kendal – Bahaur dihitung berdasarkan
pendekatan data – data di atas.
Analisis perhitungan perkiraan pendapatan angkutan penyeberangan Kendal –
Bahaur dilakukan dengan asumsi nilai load factor sebesar 100% dan besar tarif yang
ditetapkan sama dengan angkutan penyeberangan dari pelabuhan yang sama.
Perhitungan perkiraan pendapatan pada kondisi tersebut dapat dilihat pada uraian di
bawah ini.

Tabel 5.7. Analisis Pendapatan Penyeberangan Bahaur

 
 
  5 - 64 
5. ANALISIS DATA 

1. Kapasitas Penumpang = 400 Orang


Rp
Tarif =
116.000,00
Rp
Jumlah =
46.400.000,00
2. Kapasitas Muat Kendaraan Truk = 18 Unit
Rp
Tarif Kendaraan Truk =
14.500.000,00
Rp
Jumlah =
261.000.000,00
3. Kapasitas Muat kendaraan MPU = 14 Unit
Rp
Tarif =
5.500.000,00
Rp
Jumlah =
77.000.000,00
Rp
Jumlah Pendapatan = /Trip
384.400.000,00
Rp
Biaya Pokok = /Trip
508.412.295,87
Benefit Cost Ratio = 0,76

Dengan kondisi load factor sebesar 100 %, pendapatan yang diperoleh tiap satu
kali perjalanan mencapai Rp. 384.400.000,00. Perolehan jumlah pendapatan terbesar
berasal dari muatan kendaraan berjenis truk dengan pendapatan mencapai Rp.
261.000.000,00. Jika dibandingkan dengan jumlah biaya yang dikeluarkan untuk satu
kali perjalanan yang mencapai Rp. 508.412.295,87, maka didapatkan nilai Benefit Cost
Ratio (BCR) pada kondisi tersebut hanya sebesar 0,76. Nilai BCR tersebut
mengindikasikan bahwa pada kondisi tersebut rencana angkutan pengembangan Kendal
– Bahaur akan mengalami kerugian, sebesar Rp. 124.012.295,87 per trip.

 
 
  5 - 65 
5. ANALISIS DATA 

Perhitungan ulang perkiraan pendapatan dilakukan dengan mengubah besaran


tarif penumpang. Asumsi perubahan tarif penumpang pada trayek pengembangan
Kendal – Bahaur dilakukan dengan tujuan agar kegiatan angkutan penyeberangan ini
bisa mendapatkan keuntungan. Jumlah keuntungan yang wajar dalam usaha penyediaan
layanan angkutan yaitu sebesar 10%. Dengan asumsi tersebut, maka perhitungan
besaran tarif dan besarnya pendapatan dapat dilihat pada uraian di bawah ini.
1. Keuntungan 10 % (BCR = 1,1) = Rp. 50.841.229,59 /Trip
2. Jumlah Pendapatan = Rp. 508.412.295,87 + Rp. 50.841.229,59
= Rp. 449.253.525,46 /Trip
Jumlah P endapatan−P endapatan muatan kendaraan
3. Tarif Penumpang = kapasitas penumpang
Rp. 449.253.525,46 − Rp. 338.000.000,00
= 400

= Rp. 553.133,81 /penumpang


Formulasi perhitungan di atas dilakukan dengan tujuan untuk menentukan
besaran tarif khusus penumpang agar kegiatan angkutan penyeberangan Kendal –
Bahaur mendapatkan keuntungan sebesar 10% pada kondisi load factor sebesar 100%.
Keuntungan 10% yang diasumsikan sebagai keuntungan wajar yang diperoleh sebesar
Rp 50.841.229,59 /Trip. Berdasarkan formulasi perhitungan di atas, besaran tarif yang
ditentukan sebesar Rp. 553.113,81 /penumpang untuk satu kali perjalanan. Apabila nilai
load factor sebesar 50%, angkutan penyeberangan Kendal – Kumai akan mengalami
kerugian sebesar Rp. 59.785.533,14 dengan Benefit Cost Ratio Sebesar 0,88.

5.6.2. Analisis Perkiraan Biaya Operasional Angkutan Penyeberangan Trayek


Pengembangan Kendal – Sampit
7. Perhitungan biaya pokok dilakukan dengan mengacu pada harga – harga
pada tiap komponen yang didapatkan dari hasil survey data sekunder. Selain itu,
spesifikasi dan jenis kapal yang digunakan diasumsikan hamper sama dengan
jenis kapal yang beroperasi pada trayek penyeberangan Pelabuhan Kendal –
Pelabuhan Kumai. Perhitungan biaya pokok dilakukan dengan menggunakan
kapal dengan bobot sebesar 1,626.29 GT dengan mesin utama 2.000 PK sebanyak
2 buah. Kecepatan pelayaran sebesar 11 Knot dengan waktu tempuh 26,56 jam.

 
 
  5 - 66 
5. ANALISIS DATA 

Berikut ini merupakan rincian perhitungan perkiraan biaya pokok angkutan


penyeberangan trayek pengembangan Kendal – Sampit.
Tabel 5.8. Perhitungan Biaya Pokok Jasa Angkutan Penyeberangan
Sampit
Perhitungan Biaya Pokok Jasa Angkutan Penyeberangan
Data Teknis
1. Jarak Lintasan = 336.26 Mile
2. Tonage Kapal Penyeberangan = 1,626.29 GT
3. Kecepatan Operasional = 11.00 Knot
4. Waktu Tempuh /Trip = 26.56 Jam
5. Motor Induk
a. Ukuran mesin = 2,000.00 PK
b. Jumlah Mesin = 2.00 Buah
6. Motor Bantu
a. Ukuran Mesin = 500.00 PK
b. Jumlah Mesin = 2.00 Buah
7. Ratio Pemakaian BBM = 0.13 L/PK/Jam
8. Ratio Pemakaian Pelumas = 0.0033 L/PK/Jam
9. Ratio Pemakaian Gemuk =
10. Ratio Pemakaian Air Tawar 200.00
L/Orang/H
a. Untuk Awak Kapal = 200.00
ari
L/Orang/
b. Untuk Penumpang = 0.50
Mile/Trip
c. Cuci Kapal = 5.00 L/GT/hari
11. Jasa Sandar =
Sesuai dengan dermaga yang dipakai dan peraturan yang berlaku.
12. Jumlah Awak Kapal =
Nakhoda = 1.00 orang
Perwira = 9.00 orang
Bintara = 2.00 orang
Kelasi = 8.00 orang
Gaji Rata - Rata = Rp 9,200,000.00 /orang
13. Jumlah Pegawai Darat =
14. Kapasitas Angkut
a. Penumpang = 400.00 orang
b. Kendaraan
MPU = 14.00 Kendaraan
TRUK = 18.00 Kendaraan
15. Hari Operasi = -
16. a. Frekuensi Rata-rata Per Hari = -
b. Frekuensi Rata-rata Per Tahun = 48.00 Trip

 
 
  5 - 67 
5. ANALISIS DATA 

17. a. Produksi Mile Per Hari = -


b. Produksi Mile Per Tahun = 16,140.29 Mile
18. Harga Kapal = 110,000,000,000.00

65,051,600,000.00
A. Biaya Langsung
1. Biaya Tetap
a. Biaya Penyusutan Kapal
Nilai Residu (5%) = Rp5,500,000,000.00 /Tahun
Masa Penyusutan = 25.00 Tahun
Biaya Penyusutan Kapal = Rp4,180,000,000.00 /Tahun
b. Biaya Bunga Modal
Jangka Waktu Pinjaman = 10.00 Tahun
Bunga Modal = 1.50 %
Biaya Bunga Modal = Rp 589,875,000.00 /Tahun
c. Biaya Asuransi Kapal
Premi Asuransi /Tahun = 1.50 %
Biaya Asuransi Kapal = Rp1,650,000,000.00 /Tahun
d. Biaya Anak Buah Kapal
1) Gaji Upah = Rp 184,000,000.00 /Tahun
2) Tunjangan = Rp 138,000,000.00 /Tahun
Jumlah = Rp 322,000,000.00 /Tahun

2. Biaya Tidak Tetap


a. Biaya BBM
1) Mesin Induk = Rp3,414,518,360.21 /Tahun
2) Mesin Bantu = Rp 853,629,590.05 /Tahun
Jumlah = Rp4,268,147,950.26 /Tahun
b. Biaya Pelumas
1) Mesin Induk = Rp 841,516,847.55 /Tahun
2) Mesin Bantu = Rp 210,379,211.89 /Tahun
Jumlah = Rp1,051,896,059.44 /Tahun
c. Biaya Gemuk
Gemuk Untuk Kapal >1.000 GT = Rp 36,000,000.00 /Tahun
d. Biaya Air Tawar
1) Untuk Crew Kapal = Rp 38,400,000.00 /Tahun
2) Untuk Penumpang = Rp 645,611,725.44 /Tahun
3) Untuk Cuci Kapal = Rp 78,061,920.00 /Tahun
Jumlah = Rp 762,073,645.44 /Tahun
e. Biaya Repairs, Maintenance & Supplies (RMS)
Jumlah = Rp5,509,682,986.33 /Tahun

B. Biaya Tidak Langsung


1. Biaya Tetap

 
 
  5 - 68 
5. ANALISIS DATA 

a. Biaya Pegawai Darat


1) Gaji Upah = Rp 450,000,000.00 /Tahun
2) Tunjangan = Rp 337,500,000.00 /Tahun
Jumlah = Rp 787,500,000.00 /Tahun
b. Biaya Pengelolaan & Manajemen = Rp 650,000,000.00 /Tahun

2. Biaya Tidak Tetap


a. Biaya Kantor = Rp 25,000,000.00 /Tahun
b. Biaya Pemeliharaan = Rp 2,500,000.00 /Tahun
Biaya Alat Tulis Kantor & Barang
c. = Rp 6,500,000.00 /Tahun
Cetakan
Biaya Telepon, Telegram, Pos,
d. = Rp 10,000,000.00 /Tahun
Listrik, & air tawar
e. Inventaris Kantor = Rp 5,500,000.00 /Tahun
Biaya Pengawasan dan Perjalanan
f. = Rp 5,500,000.00 /Tahun
Dinas
Jumlah Rp 55,000,000.00 /Tahun

Rekapitulasi Biaya Pokok Jasa Angkutan Penyeberangan


A. Biaya Langsung
1. Biaya Tetap
a. Biaya Penyusutan Kapal = Rp4,180,000,000.00 /Tahun
b. Biaya Bunga Modal = Rp 589,875,000.00 /Tahun
c. Biaya Asuransi kapal = Rp1,650,000,000.00 /Tahun
d. Biaya Anak Buah Kapal = Rp 322,000,000.00 /Tahun
2. Biaya Tidak Tetap
a. Biaya BBM = Rp4,268,147,950.26 /Tahun
b. Biaya Pelumas = Rp1,051,896,059.44 /Tahun
c. Biaya Gemuk = Rp 36,000,000.00 /Tahun
d. Biaya Air Tawar = Rp 762,073,645.44 /Tahun
Biaya Repairs, Maintenance &
e. = Rp5,509,682,986.33 /Tahun
Supplies
Rp18,369,675,641.4
Jumlah Biaya Langsung = /Tahun
6

B. Biaya Tidak Langsung


1. Biaya Tetap
Rp
a. Biaya Pegawai Darat = /Tahun
787,500,000.00
Rp
b. Biaya Pengelolaan & Manajemen = /Tahun
650,000,000.00
2. Biaya Tidak Tetap
Rp
a. Biaya Kantor = /Tahun
25,000,000.00

 
 
  5 - 69 
5. ANALISIS DATA 

Rp
b. Biaya Pemeliharaan = /Tahun
2,500,000.00
Biaya Alat Tulis Kantor & Barang Rp
c. = /Tahun
Cetakan 6,500,000.00
Biaya Telepon, Telegram, Pos, Rp
d. = /Tahun
Listrik, & air tawar 10,000,000.00
Rp
e. Inventaris Kantor = /Tahun
5,500,000.00
Biaya Pengawasan dan Perjalanan Rp
f. = /Tahun
Dinas 5,500,000.00
Rp
Jumlah Biaya Tidak Langsung = /Tahun
1,492,500,000.00

Rp19,862,175,641.4
Total Jumlah Biaya Pokok = /Tahun
6
Tabel 5.9.
Berdasarkan perhitungan di atas, dapat diperkirakan jumlah biaya yang
dibutuhkan untuk mengoperasikan angkutan penyeberangan trayek Kendal – Sampit
selama satu tahun sebesar Rp. 19.862.175.641,46. Jumlah biaya tersebut berasal dari
biaya langsung sebesar Rp. 18.369.675.641,46 dan biaya tidak langsung sebesar
Rp1.492.500.000,00. Komponen biaya terbesar berasal dari biaya pemakaian bahan
bakar minyak dan biaya RMS Kapal dengan jumlah mencapai Rp. 4.268.147.950,26 dan
Rp. 5.509.682.986,33 per tahun. Biaya pemakaian bahan bakar menjadi komponen
biaya terbesar kedua dengan persentase 21,49% dari total jumlah biaya yang
dikeluarkan.
Tabel 5.10. Dari hasil peninjauan di lapangan, frekuensi keberangkatan kapal
sejenis di Pelabuhan Kendal dengan tujuan menuju kumai sebanyak empat kali dalam
satu bulan. Maka dapat disimpulkan dalam kurun waktu satu tahun, frekuensi
keberangkatan angkutan penyeberangan menuju Pelabuhan Kumai sebanyak 48 kali.
Dengan berdasarkan pendekatan tersebut, dapat diperkirakan jumlah biaya pokok tiap
perjalanan pada trayek pengembangan Kendal – Bahaur. Perkiraan biaya pokok tiap
perjalanan angkutan penyeberangan trayek pengembangan Kendal – Bahaur dapat
dilihat pada uraian di bawah ini.
Tabel 5.11. Tabel Rekapitulasi Biaya Pokok Jasa Angkutan Penyeberangan
Sampit Per Trip
Rekapitulasi Biaya Pokok Jasa Angkutan Penyeberangan
 
 
  5 - 70 
5. ANALISIS DATA 

A. Biaya Langsung
1. Biaya Tetap
a Rp
Biaya Penyusutan Kapal = /Trip
. 87,083,333.33
b Rp
Biaya Bunga Modal = /Trip
. 12,289,062.50
c Rp
Biaya Asuransi kapal = /Trip
. 34,375,000.00
d Rp
Biaya Anak Buah Kapal = /Trip
. 6,708,333.33
2. Biaya Tidak Tetap
a Rp
Biaya BBM = /Trip
. 88,919,748.96
b Rp
Biaya Pelumas = /Trip
. 21,914,501.24
c Rp
Biaya Gemuk = /Trip
. 750,000.00
d Rp
Biaya Air Tawar = /Trip
. 15,876,534.28
e Rp
Biaya Repairs, Maintenance & Supplies = /Trip
. 114,785,062.22
Rp
Jumlah Biaya Langsung = /Trip
382,701,575.86

B. Biaya Tidak Langsung


1. Biaya Tetap
a Rp
Biaya Pegawai Darat = /Trip
. 16,406,250.00
b Rp
Biaya Pengelolaan & Manajemen = /Trip
. 13,541,666.67
2. Biaya Tidak Tetap
a Rp
Biaya Kantor = /Trip
. 520,833.33
b Rp
Biaya Pemeliharaan = /Trip
. 52,083.33
c Biaya Alat Tulis Kantor & Barang Rp
= /Trip
. Cetakan 135,416.67
d Biaya Telepon, Telegram, Pos, Listrik, & Rp
= /Trip
. air tawar 208,333.33
e Rp
Inventaris Kantor = /Trip
. 114,583.33
Rp
f. Biaya Pengawasan dan Perjalanan Dinas = /Trip
114,583.33
Rp
Jumlah Biaya Tidak Langsung = /Trip
31,093,750.00

 
 
  5 - 71 
5. ANALISIS DATA 

Rp
Total Jumlah Biaya Pokok = /Trip
413,795,325.86
8.
9. Dalam satu kali perjalanan, angkutan penyeberangan Kendal – Sampit
akan menenmpuh jarak sejauh 336,26 Mil. Jika diperkirakan kecepatan tempuh
pada saat perjalanan sebesar 11 Knot, maka diperlukan waktu 26,56 jam untuk
sampai ke tujuan di Pelabuhan Sampit. Berdasarkan perhitungan di atas, diketahui
jumlah biaya pokok operasional yang diperlukan dalam satu perjalanan mencapai
Rp. 413.759.325,86. Biaya bahan bakar minyak yang dikeluarkan dalam satu kali
perjalanan mencapai Rp. 88.919748,96.
10.Analisis perhitungan perkiraan pendapatan angkutan penyeberangan
Kendal – Bahaur dilakukan dengan asumsi nilai load factor sebesar 100% dan
besar tarif yang ditetapkan sama dengan angkutan penyeberangan dari pelabuhan
yang sama. Perhitungan perkiraan pendapatan pada kondisi tersebut dapat dilihat
pada uraian di bawah ini.
Tabel 5.12. Analisis Pendapatan Penyeberangan Sampit
Analisis Pendapatan
1. Kapasitas Penumpang = 400 Orang
Rp
Tarif =
116,000
Rp
Jumlah =
46,400,000
Kapasitas Muat Kendaraan
2. = 18.00 Unit
Truk
Rp
Tarif Kendaraan Truk =
14,500,000
Rp
Jumlah =
261,000,000
Kapasitas Muat kendaraan
3. = 14.00 Unit
MPU
Rp
Tarif =
5,500,000
Rp
Jumlah =
77,000,000
Rp
Jumlah Pendapatan =
384,400,000

- 29,395,325.86
BCR 0.93
 
 
  5 - 72 
5. ANALISIS DATA 

11.
12.Dengan kondisi load factor sebesar 100 %, pendapatan yang diperoleh
tiap satu kali perjalanan mencapai Rp. 384.400.000,00. Perolehan jumlah
pendapatan terbesar berasal dari muatan kendaraan berjenis truk dengan
pendapatan mencapai Rp. 261.000.000,00. Jika dibandingkan dengan jumlah
biaya yang dikeluarkan untuk satu kali perjalanan yang mencapai Rp.
413.759.325,86, maka didapatkan nilai Benefit Cost Ratio (BCR) pada kondisi
tersebut hanya sebesar 0,93. Benefit Cost Ratio tersebut mengindikasikan bahwa
pada kondisi tersebut rencana angkutan pengembangan Kendal – Bahaur akan
mengalami kerugian, sebesar Rp. 29.395.325,86 per trip.
Perhitungan ulang perkiraan pendapatan dilakukan dengan mengubah besaran
tarif penumpang. Asumsi perubahan tarif penumpang pada trayek pengembangan
Kendal – Sampit dilakukan dengan tujuan agar kegiatan angkutan penyeberangan ini
bisa mendapatkan keuntungan. Jumlah keuntungan yang wajar dalam usaha penyediaan
layanan angkutan yaitu sebesar 10%. Dengan asumsi tersebut, maka perhitungan
besaran tarif dan besarnya pendapatan dapat dilihat pada uraian di bawah ini.
1. Keuntungan 10 % (BCR = 1,1) = Rp. 41.379.858,45 /Trip
2. Jumlah Pendapatan = Rp. 413.759.325,86+ Rp. 41.379.858,45
= Rp. 455.174.858,45 /Trip
Jumlah P endapatan−P endapatan muatan kendaraan
3. Tarif Penumpang = kapasitas penumpang
Rp. 455.174.8858,45 − Rp. 338.000.000,00
= 400

= Rp. 292.937,15 /penumpang


13.Formulasi perhitungan di atas dilakukan dengan tujuan untuk mentukan
besaran tarif khusus penumpang agar kegiatan angkutan penyeberangan Kendal –
Sampit mendapatkan keuntungan sebesar 10% pada kondisi load factor sebesar
100%. Keuntungan 10% yang diasumsikan sebagai keuntungan wajar yang
diperoleh sebesar Rp 41.379.532,59 /Trip. Berdasarkan formulasi perhitungan di
atas, besaran tarif yang ditentukan sebesar Rp. 292.937,15 /penumpang untuk satu
kali perjalanan. Apabila nilai load factor sebesar 50%, angkutan penyeberangan

 
 
  5 - 73 
5. ANALISIS DATA 

Kendal – Sampit akan mengalami kerugian sebesar Rp. 17.207.896,64 dengan


Benefit Cost Ratio sebesar 0,96.
5.6.3. Analisis Perkiraan Biaya Operasional Angkutan Penyeberangan Trayek
Pengembangan Kendal – Ketapang
14.Perhitungan biaya pokok dilakukan dengan mengacu pada harga – harga
pada tiap komponen yang didapatkan dari hasil survey data sekunder. Selain itu,
spesifikasi dan jenis kapal yang digunakan diasumsikan hampir sama dengan jenis
kapal yang beroperasi pada trayek penyeberangan sebelumnya. Perhitungan biaya
pokok dilakukan dengan menggunakan kapal dengan bobot sebesar 1,626.29 GT
dengan mesin utama 2.000 PK sebanyak 2 buah. Kecepatan pelayaran sebesar 11
Knot dengan waktu tempuh 28,87 jam. Berikut ini merupakan rincian perhitungan
perkiraan biaya pokok angkutan penyeberangan trayek pengembangan Kendal –
Ketapang.
Tabel 5.13. Tabel Perhitungan Biaya Pokok Jasa Angkutan Penyeberangan
Ketapang
Perhitungan Biaya Pokok Jasa Angkutan Penyeberangan
Data Teknis
1. Jarak Lintasan = 365.49 Mile
2. Tonage Kapal Penyeberangan = 1,626.29 GT
3. Kecepatan Operasional = 11.00 Knot
4. Waktu Tempuh /Trip = 28.87 Jam
5. Motor Induk
a. Ukuran mesin = 2,000.00 PK
b. Jumlah Mesin = 2.00 Buah
6. Motor Bantu
a. Ukuran Mesin = 500.00 PK
b. Jumlah Mesin = 2.00 Buah
7. Ratio Pemakaian BBM = 0.13 L/PK/Jam
8. Ratio Pemakaian Pelumas = 0.0033 L/PK/Jam
9. Ratio Pemakaian Gemuk =
10. Ratio Pemakaian Air Tawar 200.00
L/Orang/
a. Untuk Awak Kapal = 200.00
Hari
L/Orang/
b. Untuk Penumpang = 0.50
Mile/Trip
c. Cuci Kapal = 5.00 L/GT/hari
11. Jasa Sandar =
Sesuai dengan dermaga yang dipakai dan peraturan yang berlaku.
 
 
  5 - 74 
5. ANALISIS DATA 

12. Jumlah Awak Kapal =


Nakhoda = 1.00 orang
Perwira = 9.00 orang
Bintara = 2.00 orang
Kelasi = 8.00 orang
Rp
Gaji Rata - Rata = /orang
9,200,000.00
13. Jumlah Pegawai Darat =
14. Kapasitas Angkut
a. Penumpang = 400.00 orang
b. Kendaraan
MPU = 14.00 Kendaraan
TRUK = 18.00 Kendaraan
15. Hari Operasi = -
16. a. Frekuensi Rata-rata Per Hari = -
b. Frekuensi Rata-rata Per Tahun = 48.00 Trip
17. a. Produksi Mile Per Hari = -
b. Produksi Mile Per Tahun = 17,543.53 Mile
18. Harga Kapal = 110,000,000,000.00
65,051,600,000.00
A. Biaya Langsung
1. Biaya Tetap
a. Biaya Penyusutan Kapal
Rp
Nilai Residu (5%) = /Tahun
5,500,000,000.00
Masa Penyusutan = 25.00 Tahun
Rp
Biaya Penyusutan Kapal = /Tahun
4,180,000,000.00
b. Biaya Bunga Modal
Jangka Waktu Pinjaman = 10.00 Tahun
Bunga Modal = 1.50 %
Rp
Biaya Bunga Modal = /Tahun
589,875,000.00
c. Biaya Asuransi Kapal
Premi Asuransi /Tahun = 1.50 %
Rp
Biaya Asuransi Kapal = /Tahun
1,650,000,000.00
d. Biaya Anak Buah Kapal
Rp
1) Gaji Upah = /Tahun
184,000,000.00
Rp
2) Tunjangan = /Tahun
138,000,000.00
Rp
Jumlah = /Tahun
322,000,000.00

 
 
  5 - 75 
5. ANALISIS DATA 

2. Biaya Tidak Tetap


a. Biaya BBM
Rp
1) Mesin Induk = /Tahun
3,711,375,764.51
Rp
2) Mesin Bantu = /Tahun
927,843,941.13
Rp
Jumlah = /Tahun
4,639,219,705.64
b. Biaya Pelumas
Rp
1) Mesin Induk = /Tahun
914,678,119.71
Rp
2) Mesin Bantu = /Tahun
228,669,529.93
Rp
Jumlah = /Tahun
1,143,347,649.64
c. Biaya Gemuk
Rp
Gemuk Untuk Kapal >1.000 GT = /Tahun
36,000,000.00
d. Biaya Air Tawar
Rp
1) Untuk Crew Kapal = /Tahun
38,400,000.00
Rp
2) Untuk Penumpang = /Tahun
701,741,053.44
Rp
3) Untuk Cuci Kapal = /Tahun
78,061,920.00
Rp
Jumlah = /Tahun
818,202,973.44
e. Biaya Repairs, Maintenance & Supplies (RMS)
Rp
Jumlah = /Tahun
5,509,682,986.33

B. Biaya Tidak Langsung


1. Biaya Tetap
a. Biaya Pegawai Darat
Rp
1) Gaji Upah = /Tahun
450,000,000.00
Rp
2) Tunjangan = /Tahun
337,500,000.00
Rp
Jumlah = /Tahun
787,500,000.00
Rp
b. Biaya Pengelolaan & Manajemen = /Tahun
650,000,000.00

2. Biaya Tidak Tetap


Rp
a. Biaya Kantor = /Tahun
25,000,000.00
 
 
  5 - 76 
5. ANALISIS DATA 

Rp
b. Biaya Pemeliharaan = /Tahun
2,500,000.00
Biaya Alat Tulis Kantor & Rp
c. = /Tahun
Barang Cetakan 6,500,000.00
Biaya Telepon, Telegram, Pos, Rp
d. = /Tahun
Listrik, & air tawar 10,000,000.00
Rp
e. Inventaris Kantor = /Tahun
5,500,000.00
Biaya Pengawasan dan Rp
f. = /Tahun
Perjalanan Dinas 5,500,000.00
Rp
Jumlah /Tahun
55,000,000.00

Rekapitulasi Biaya Pokok Jasa Angkutan Penyeberangan


A. Biaya Langsung
1. Biaya Tetap
Rp
a. Biaya Penyusutan Kapal = /Tahun
4,180,000,000.00
Rp
b. Biaya Bunga Modal = /Tahun
589,875,000.00
Rp
c. Biaya Asuransi kapal = /Tahun
1,650,000,000.00
Rp
d. Biaya Anak Buah Kapal = /Tahun
322,000,000.00
2. Biaya Tidak Tetap
Rp
a. Biaya BBM = /Tahun
4,639,219,705.64
Rp
b. Biaya Pelumas = /Tahun
1,143,347,649.64
Rp
c. Biaya Gemuk = /Tahun
36,000,000.00
Rp
d. Biaya Air Tawar = /Tahun
818,202,973.44
Biaya Repairs, Maintenance & Rp
e. = /Tahun
Supplies 5,509,682,986.33
Rp
Jumlah Biaya Langsung = /Tahun
18,888,328,315.04

B. Biaya Tidak Langsung


1. Biaya Tetap
Rp
a. Biaya Pegawai Darat = /Tahun
787,500,000.00
Rp
b. Biaya Pengelolaan & Manajemen = /Tahun
650,000,000.00
2. Biaya Tidak Tetap

 
 
  5 - 77 
5. ANALISIS DATA 

Rp
a. Biaya Kantor = /Tahun
25,000,000.00
Rp
b. Biaya Pemeliharaan = /Tahun
2,500,000.00
Biaya Alat Tulis Kantor & Rp
c. = /Tahun
Barang Cetakan 6,500,000.00
Biaya Telepon, Telegram, Pos, Rp
d. = /Tahun
Listrik, & air tawar 10,000,000.00
Rp
e. Inventaris Kantor = /Tahun
5,500,000.00
Biaya Pengawasan dan Rp
f. = /Tahun
Perjalanan Dinas 5,500,000.00
Rp
Jumlah Biaya Tidak Langsung = /Tahun
1,492,500,000.00

Total Jumlah Biaya Pokok = Rp 20,380,828,315.04 /Tahun


15.
Berdasarkan perhitungan di atas, dapat diperkirakan jumlah biaya yang
dibutuhkan untuk mengoperasikan angkutan penyeberangan trayek Kendal – Ketapang
selama satu tahun sebesar Rp. 20.380.828.315,04, yang berasal dari biaya langsung
sebesar Rp. 18.888.328.315,04 dan biaya tidak langsung sebesar Rp 1.492.500.000,00.
Komponen biaya terbesar berasal dari biaya pemakaian bahan bakar minyak dan biaya
RMS Kapal dengan jumlah mencapai Rp. 4.639.219.705,64 dan Rp. 5.509.682.986,33
per tahun. Biaya pemakaian bahan bakar menjadi komponen biaya terbesar kedua
dengan persentase 21,49% dari total jumlah biaya yang dikeluarkan.
Tabel 5.14. Dari hasil peninjauan di lapangan, frekuensi keberangkatan kapal
sejenis di Pelabuhan Kendal dengan tujuan menuju Kumai adalah sebanyak empat kali
dalam satu bulan. Maka dapat disimpulkan dalam kurun waktu satu tahun, frekuensi
keberangkatan angkutan penyeberangan menuju Pelabuhan Kumai sebanyak 48 kali.
Dengan berdasarkan pendekatan tersebut, dapat diperkirakan jumlah biaya pokok tiap
perjalanan pada trayek pengembangan Kendal – Ketapang. Perkiraan biaya pokok tiap
perjalanan angkutan penyeberangan trayek pengembangan Kendal – Ketapang dapat
dilihat pada uraian di bawah ini.
Tabel 5.15. Tabel Rekapitulasi Biaya Pokok Jasa Angkutan Penyeberangan
Ketapang Per Trip
Rekapitulasi Biaya Pokok Jasa Angkutan Penyeberangan

 
 
  5 - 78 
5. ANALISIS DATA 

A. Biaya Langsung
1. Biaya Tetap
Rp
a. Biaya Penyusutan Kapal = /Trip
87,083,333.33
Rp
b. Biaya Bunga Modal = /Trip
12,289,062.50
Rp
c. Biaya Asuransi kapal = /Trip
34,375,000.00
Rp
d. Biaya Anak Buah Kapal = /Trip
6,708,333.33
2. Biaya Tidak Tetap
Rp
a. Biaya BBM = /Trip
96,650,410.53
Rp
b. Biaya Pelumas = /Trip
23,819,742.70
Rp
c. Biaya Gemuk = /Trip
750,000.00
Rp
d. Biaya Air Tawar = /Trip
17,045,895.28
Rp
e. Biaya Repairs, Maintenance & Supplies = /Trip
114,785,062.22
Rp
Jumlah Biaya Langsung = /Trip
393,506,839.90

B. Biaya Tidak Langsung


1. Biaya Tetap
Rp
a. Biaya Pegawai Darat = /Trip
16,406,250.00
Rp
b. Biaya Pengelolaan & Manajemen = /Trip
13,541,666.67
2. Biaya Tidak Tetap
Rp
a. Biaya Kantor = /Trip
520,833.33
Rp
b. Biaya Pemeliharaan = /Trip
52,083.33
Biaya Alat Tulis Kantor & Barang Rp
c. = /Trip
Cetakan 135,416.67
Biaya Telepon, Telegram, Pos, Listrik, & Rp
d. = /Trip
air tawar 208,333.33
Rp
e. Inventaris Kantor = /Trip
114,583.33
Rp
f. Biaya Pengawasan dan Perjalanan Dinas = /Trip
114,583.33
Rp
Jumlah Biaya Tidak Langsung = /Trip
31,093,750.00

 
 
  5 - 79 
5. ANALISIS DATA 

Rp
Total Jumlah Biaya Pokok = /Trip
424,600,589.90
16.
17.Dalam satu kali perjalanan, angkutan penyeberangan Kendal – Ketapang
akan menempuh jarak sejauh 365,49 Mil. Jika diperkirakan kecepatan tempuh
pada saat perjalanan sebesar 11 Knot, maka diperlukan waktu 28,87 jam untuk
sampai ke tujuan di Pelabuhan Ketapang. Berdasarkan perhitungan di atas,
diketahui jumlah biaya pokok opersional yang diperlukan dalam satu perjalanan
mencapai Rp. 424.600.589,90. Biaya bahan bakar minyak yang dikeluarkan dalam
satu kali perjalanan mencapai Rp. 96.650.410,53.
18.Analisis perhitungan perkiraan pendapatan angkutan penyeberangan
Kendal – Ketapang dilakukan dengan asumsi nilai load factor sebesar 100% dan
besar tarif yang ditetapkan sama dengan angkutan penyeberangan dari pelabuhan
yang sama. Perhitungan perkiraan pendapatan pada kondisi tersebut dapat dilihat
pada uraian di bawah ini.
Tabel 5.16. Analisis Pendapatan Penyeberangan Ketapang
Analisis Pendapatan
Oran
1. Kapasitas Penumpang = 400
g
Tarif = Rp 116,000
Jumlah = Rp 46,400,000
Kapasitas Muat Kendaraan
2. = 18.00 Unit
Truk
Tarif Kendaraan Truk = Rp 14,500,000
Jumlah = Rp 261,000,000
Kapasitas Muat kendaraan
3. = 14.00 Unit
MPU
Tarif = Rp 5,500,000
Jumlah = Rp 77,000,000
Jumlah Pendapatan = Rp 384,400,000

-
40,200,589.90
BCR 0.91
19.
20.Dengan kondisi load factor sebesar 100 %, pendapatan yang diperoleh
tiap satu kali perjalanan mencapai Rp. 384.400.000,00. Perolehan jumlah

 
 
  5 - 80 
5. ANALISIS DATA 

pendapatan terbesar berasal dari muatan kendaraan berjenis truk dengan


pendapatan mencapai Rp. 261.000.000,00. Jika dibandingkan dengan jumlah
biaya yang dikeluarkan untuk satu kali perjalanan yang mencapai Rp.
424.600.589,90, maka didapatkan nilai Benefit Cost Ratio (BCR) pada kondisi
tersebut hanya sebesar 0,91. Benefit Cost Ratio tersebut mengindikasikan bahwa
pada kondisi tersebut rencana angkutan pengembangan Kendal – Bahaur akan
mengalami kerugian, sebesar Rp. 40.200.589,90 per trip.
Perhitungan ulang perkiraan pendapatan dilakukan dengan mengubah besaran
tarif penumpang. Asumsi perubahan tarif penumpang pada trayek pengembangan
Kendal – Ketapang dilakukan dengan tujuan agar kegiatan angkutan penyeberangan ini
bisa mendapatkan keuntungan. Jumlah keuntungan yang wajar dalam usaha penyediaan
layanan angkutan yaitu sebesar 10%. Dengan asumsi tersebut, maka perhitungan
besaran tarif dan besarnya pendapatan dapat dilihat pada uraian di bawah ini.
1. Keuntungan 10 % (BCR = 1,1) = Rp. 42.460.058,99 /Trip
2. Jumlah Pendapatan = Rp. 424.600.589,90 + Rp. 42.460.058,99
= Rp. 467.060.648,89 /Trip
Jumlah P endapatan−P endapatan muatan kendaraan
3. Tarif Penumpang = kapasitas penumpang
Rp. 467.060.648,89 − Rp. 338.000.000,00
= 400

= Rp. 322.651,62 /penumpang


21. Formulasi perhitungan di atas dilakukan dengan tujuan untuk mentukan
besaran tarif khusus penumpang agar kegiatan angkutan penyeberangan Kendal –
Ketapang mendapatkan keuntungan sebesar 10% pada kondisi load factor sebesar
100%. Keuntungan 10% yang diasumsikan sebagai keuntungan wajar yang
diperoleh sebesar Rp 42.460.058,99 /Trip. Berdasarkan formulasi perhitungan di
atas, besaran tarif yang ditentukan sebesar Rp. 322.651,62 /penumpang untuk satu
kali perjalanan. Apabila nilai load factor sebesar 50%, angkutan penyeberangan
Kendal – Ketapang akan mengalami kerugian sebesar Rp. 22.070.265,45 dengan
Benefit Cost Ratio Sebesar 0,95.
22.

 
 
  5 - 81 
5. ANALISIS DATA 

5.7.Rekapitulasi dan Pembobotan Alternatif


Trayek Penyeberangan
23. Berdasarkan letak geografis, terdapat tiga lokasi pelabuhan yang
direkomendasikan untuk menjadi tujuan pengembangan trayek penyeberangan yang
sesuai dengan kondisi Pelabuhan Kendal. Pengembangann trayek penyeberangan
tersebut terdiri dari penyeberangan Kendal – Bahaur, Kendal – Sampit, dan Kendal
– Ketapang. Trayek pengembangan Kendal – Ketapang merupakan trayek
terpanjang dengan jarak 365,49 mil. Dengan kecepatan pelayaran sebesar 11 knot,
trayek Kendal – Ketapang dapat ditempuh selama 28,87 jam. Sedangkan pada
trayek Kendal – Bahaur dengan panjang 359,62 mil dapat ditempuh selama 28,41
jam. Selanjutnya, trayek Kendal – Sampit dengan jarak 336,26 mil dapat dditempuh
selama 26,56 jam.
24. Pemilihan alternatif pengembangan trayek penyeberangan dari
Pelabuhann Kendal dilakukan berdasarkan beberapa variabel yang telah dianalisis
pada sub bab sebelumnya. Variabel – variabel yang digunakan dalam pemilihan
alternative pengembangan trayek penyeberangan terdiri dari infrastruktur
pendukung, komoditas, dan ​benefit cost ratio (BCR). Analisis variabel infrastruktur
didasarkan pada data sekunder berupa Rencana Induk Pelabuhan pada tiap – tiap
lokasi maupun data lain yang berasal dari instansi terkait yang dapat mendukung
analisis. Analisis variabel komoditi pada alternatif trayek pengembangan
menggunakan data yang bersumber pada data Asal Tujuan Transportasi Nasional
Barang dari kementerian Perhubungan. Selanjutnya, analisis finansial dilakukan
berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan nomor 58 Tahun 2003 tentang
Mekanisme Penetapan Dan Formulasi Perhitungan Tarif Angkutan Penyeberangan.
Hasil rekapitulasi dan pembobotan terhadap alternatif pengembangan trayek
penyeberangan Pelabuhan Kendal dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
25.
26.
Tabel 5.17. Rekapitulasi dan Pembobotan Alternatif Trayek Penyeberangan

Nomo
Trayek Variabel Bobot Nilai
r
 
 
  5 - 82 
5. ANALISIS DATA 

Infrastruktu Ram door belakang


3
r
1 Kendal – Bahaur Keluar 140 ton/bln 0,83
Komoditi 3
Masuk 3297 ton/bln
BCR 0,91 2
Infrastruktu Ram door Samping
2
r
2 Kendal – Sampit Keluar 509 ton/bln 0,73
Komoditi 1
Masuk 1034 ton/bln
BCR 0,93 3
Infrastruktu Ram door belakang
3
r
3 Kendal - Ketapang Keluar 612 ton/bln 0,73
Komoditi 2
Masuk 2257 ton/bln
BCR 0,91 2
27.
28. Berdasarkan hasil pembobotan terhadap pengembangan trayek
penyeberangan Pelabuhan Kendal, trayek penyeberangan Kendal – Bahaur memiliki
nilai tertinggi. Hal tersebut dikarenakan, Pelabuhan Bahaur memiliki fasilitas
infrastruktur pendukung yang memenuhi spesifikasi teknis dan sesuai dengan jenis
kapal yang direncanakan. Dari sektor komoditi, Pelabuhan Bahaur memiliki jumlah
komoditas terbesar yang dikirim dari dan menuju Pelabuhan Kendal. Jumlah
komoditas yang dikirim dari Pelabuhan Kendal sebanyak 509 ton/bln, dan yang
menuju Pelabuhan Kendal sebanyak 3297 ton/bln.

 
 
  5 - 83