Anda di halaman 1dari 8

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pengumpulan data dilaksanakan selama 2 minggu yang terhitung dari

tanggal 08 Oktober-14 oktober, 27-30 November, 12-14 Desember 2014 di

Puskesmas Layang Makassar. Data yang berhasil dikumpulkan sebanyak 100

responden.

Sampel yang terpilih sebanyak 100 orang dengan pengambilan sampel

dilakukan dengan car purposive sampling, dimana semua data pasien balita ISPA

yang terdapat di Puskesmas Layang Makassar Periode Januari-Desember 2012

Sampel yang terpilih sebanyak 100 orang dengan pengambilan sampel

dilakukan dengan cara purposive sampling, dimana semua data pasien balita ISPA

yang terdapat di puskesmas Layang Makassar Periode Januari – Desember 2012

dan dengan melakukan teknik wawancara langsung menggunakan kuisioner

terhadap subjek penelitian. Setelah dilakukan pengolahan data, hasil penelitian

kemudian disajikan dalam bentuk distibusi frekuensi univariat dan tabulasi silang

yang dapat diuraikan sebagai berikut :

V.1. Distribusi Variabel Penelitian

V.1.1. Karakteristik Sampel berdasarkan Variabel yang Diteliti (Univariat)

Tabel 5.1

Distribusi Penggunaan Obat Nyamuk

Obat Nyamuk Jumlah (n) Persentase (%)


Bakar 63 63,0
Semprot 24 24,0
Listrik 13 13,0
JUMLAH 100 100
Sumber : Data primer 2014

Grafik 5.1

Distribusi Penggunaan Obat Nyamuk

Penggunaan Obat Nyamuk


120

100

80

60 Jumlah (n)
Persentase (%)
40

20

0
Bakar Semprot Listrik JUMLAH

Sumber : Data primer 2014

Tabel 5.1 dan grafik 5.1 mengenai distribusi Penggunaan Obat

Nyamuk menunjukkan bahwa dari 100 responden sebanyak 63 responden

(63,0%) yang memakai obat nyamuk bakar, 24 responden (24,0%) yang

memakai obat nyamuk semprot, sedangkan yang menggunakan obat

nyamuk listrik 13 responden (13,0%).

Tabel 5.2

Distribusi kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Layang Makassar

Tahun 2012

ISPA Jumlah (n) Persentase (%)

Ya 50 50,0
Tidak 50 50,0

TOTAL 100 100


Sumber: Data primer 2014

Grafik 5.2

Distribusi kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Layang Makassar


Tahun 2012

Kejadian ISPA
120

100

80

60 Jumlah (n)
Persentase (%)
40

20

0
Ya Tidak TOTAL

Sumber : Data Primer 2014

Tabel 5.2 dan Grafik 5.2 mengenai distribusi kejadian ISPA pada

balita menunjukkan bahwa dari 100 responden sebanyak 50 responden

(50,0%) yang menderita ISPA dan 50 responden (50,0%) tidak menderita

ISPA.

V.1.2. Hubungan antara Variabel yang Diteliti (Bivariat)

Tabel 5.3 Distribusi kejadian ISPA dengan penggunaan obat nyamuk pada

balita di Puskesmas Layang Makassar Tahun 2012

Obat Nyamuk
Total
Bakar Semprot Listrik p
n % n % n % n %
ISPA Ya 42 42,0 7 7,0 1 1,0 50 50,0
Tidak 21 21,0 17 17,0 12 12,0 50 50,0 0,000
TOTAL 63 63,0 24 24,0 13 13,0 100 100
Sumber : Data primer 2014

Grafik 5.3 Distribusi kejadian ISPA dengan penggunaan obat nyamuk

pada balita di Puskesmas Layang Makassar Tahun 2012

Berdasarkan tabel 5.3 dan grafik 5.3 menunjukkan bahwa dari 63

responden (63,0%) ada 42 responden (42,0%) yang menderita ISPA dan

menggunakan obat nyamuk bakar, 7 responden (7,0%) yang menderita

ISPA dan menggunakan obat nyamuk semprot, dan 1 responden (1,0%)

yang menderita ISPA dan menggunakan obat nyamuk listrik. Sedangkan

responden yang tidak menderita ISPA dan menggunakan obat nyamuk


bakar adalah 21 responden (21,0%) yang tidak menderita ISPA dan

menggunakan obat nyamuk semprot 17 responden (17,0%) dan yang tidak

menderita ISPA yang menggunakan obat nyamuk listrik ada 12 responden

(12,0%).

V.1.2. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian diatas diperoleh bahwa dari 100

responden, ada 42 responden (42,0%) yang menggunakan obat nyamuk

bakar, 7 responden (7,0%) yang menggunakan obat nyamuk semprot dan 1

responden (1,0%) yang menggunakan obat nyamuk listrik. Hal ini

dikarenakan kondisi lingkungan yang sangat padat dan kurang bersih dan

juga kondisi ekonomi dari responden yang menyebabkan mereka lebih

memilih menggunakan obat nyamuk bakar yang murah dan lebih efektif.

Dari 100 responden tersebut ada 50 responden (50,0%) yang ISPA dan 50

responden (50,0%) yang tidak ISPA.

Jika dihubungkan antara hasil statistik dari penggunaan obat nyamuk

dengan kejadian ISPA pada balita, maka diperoleh bahwa diantara 100

responden ada 42 responden (42,0%) yang ISPA dengan menggunakan

obat nyamuk bakar, 7 responden (7,0%) yang ISPA dengan menggunakan

obat nyamuk semprot dan 1 responden (1,0%) yang ISPA dengan

menggunakan obat nyamuk listrik.

Keadaan ISPA yang diakibatkan oleh penggunaan obat nyamuk ini

dikarenakan adanya zat kimia sintetik aktif yang terkandung dalam obat
nyamuk yang dapat dengan mudah merusak sistem pernapasan. Hal ini

kurang disadari oleh responden bahwa dengan menggunakan obat nyamuk,

zat kimia dari obat nyamuk tidak dengan mudahnya hilang di udara,

telebih lagi benda-benda yang ada disekitar ruangan yang terdapat obat

nyamuk bisa menjadi penghantar zat kimia tersebut yang akan

memudahkan rusaknya sistem pernapasan, dan memicu terjadinya ISPA.

Dari hasil uji chi square didapatkan p value <0,05 (0,000) yang

menyatakan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti terdapat

hubungan antara penggunaan obat nyamuk dengan kejadian ISPA pada

balita.

Hal ini sesuai dengan teori bahwa dampak kandungan obat nyamuk

bagi pengguna adalah keracunan langsung dan gangguan kesehatan

jangka panjang yang disebabkan kontaminasi (paparan) secara langsung

ketika menggunakan obat antinyamuk, sehingga kandungan masuk ke

dalam tubuh manusia. (16)

Kandungan racun berbahaya pada obat nyamuk tergantung kadar

konsentrasi racun dan jumlah pemakaiannya. Misalnya, kadar konsentrasi

bahan aktif obat nyamuk semprot yang sedikit dapat bertambah banyak

jika disemprotkan berulang kali.(16)

Umumnya bahan aktif yang dipakai pada obat nyamuk adalah yang

cepat terurai dan berdaya racun tinggi, dalam arti mematikan nyamuk

dengan cepat. Namun, pemakaian obat nyamuk yang tidak benar, dapat

membahayakan kesehatan.(15,16)
Pada obat antinyamuk bakar mengandung zat kimia sintetik aktif

dari golongan pytheroid (alletrin, transflutrin, pralethrin, bioallethrin,

esbiothrin) yang sudah dibentuk sedemikian rupa sehingga mampu

dihantarkan asap untuk membunuh nyamuk dan serangga lainnya. Oleh

karena dipanaskan, tak menutup kemungkinan bahan aktif itu terurai

menjadi senyawa-senyawa lain yang jauh lebih reaktif dari sebelumnya.

Lebih membahayakan lagi bila obat antinyamuk bakar digunakan dalam

ruang tertutup. Pada jenis bakar, sifatnya yang kasat mata dan sangat

terasa membuat pengguna menghindari kontak langsung. Pengguna juga

akan melakukan tindakan melindungi diri seperti membuka jendela lebar-

lebar atau memastikan obat antinyamuk manakala matanya perih atau

napasnya makin sesak. Namun, tidak demikian hal-nya pada obat

antinyamuk listrik. Gangguan tidak terasa langsung sebab indera

penciuman tertipu oleh harumnya wewangian yang dikeluarkan. Selain

itu, obat antinyamuk jenis ini juga menimbulkan iritasi pada mata.

Seperti halnya obat antinyamuk bakar, obat antinyamuk listrik pun bisa

membuat napas kita jadi berat hingga sesak terutama bagi mereka yang

tidak tahan atau sensitive terhadap bahan kimia. Hanya saja efeknya tidak

langsung terasa. Kadang-kadang setelah beberapa kali atau lama

menggunakannya, efek obat antinyamuk jenis mat ini baru terasa. (14,15)

Risiko terbesar terdapat pada obat nyamuk bakar akibat asapnya

yang dapat terhirup. Sedangkan obat nyamuk semprot cair memiliki

konsentrasi berbeda, karena cairan yang dikeluarkan ini akan diubah


menjadi gas. Artinya, dosisnya lebih kecil. Sementara obat nyamuk

elektrik lebih kecil lagi, karena bekerja dengan cara mengeluarkan asap

tapi dengan daya elektrik. Karena, obat nyamuk lebih banyak mengenai

hirupan, maka yang biasanya yang terkena adalah pernapasan.(15,16)

Gangguan-gangguan pada organ tubuh manusia akan terjadi jika

pemakaian obat nyamuk tidak terkontrol atau dosisnya yang berlebihan.

Orang yang memiliki alergi akan lebih cepat menunjukkan reaksi. Alergi

yang paling banyak muncul biasanya mengenai saluran napasnya

sehingga menimbulkan batuk.(16)

V.1.3 Keterbatasan Penelitian

Meskipun telah berhasil membuktikan hipotesis penelitian, namun

peneliti merasakan adanya kelemahan-kelemahan dalam penelitian ini,

yaitu pada penelitian ini hanya memeriksa apakah menggunakan obat

nyamuk, sementara untuk kasus ISPA yang lebih berperan adalah

keadaan lingkungan sekitar dan daya tahan tubuh seseorang.