Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN REFLEKSI KASUS

SEORANG PASIEN DENGAN BENJOLAN PADA SCROTUM SINISTRA


SUSPEK HERNIA SCROTALIS SINISTRA

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kepanitraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu
Syarat Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Bedah
Di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus

Disusun oleh:

Muthiatul Luthfi Aliqah – 30101307014


Ganis Surya Murti – 30101306953
Aqida Mulyaning Tyas – 30101306879
Dyah Farah Deta – 30101407173
Salma Savita - 30101407320

Pembimbing :

dr. Tri Djoko Widagdo, Sp. B

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


RSUD dr. LOEKMONO HADI KUDUS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
2018
FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG

SEMARANG 2018

A. IDENTITAS

1. Nama : Tn. SW

2. Umur : 62 tahun

3. Jenis kelamin : laki laki

4. Pekerjaan : Petani

5. Status : Menikah

6. Tanggal Masuk : 01 Juni 2018

7. Masuk Jam : 15.30 WIB

8. Ruang : Cempaka 2

B. ANAMNESA

Anamnesa dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 02 Juni 2018 jam 16.00
WIB di kamar Cempaka 2, RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus

1. Keluhan Utama : Terdapat benjolan pada kantong pelir sebelah kiri

2. Riwayat Penyakit Sekarang :

 Lokasi : benjolan pada kantong pelir sebelah kiri

 Onset : Sejak 1 bulan yang lalu

 Kualitas : Awal terasa benjolan muncul kecil seperti kelereng,

lama-lama benjolan terasa semakin membesar seperti kepalan tangan.

Awalnya Benjolan keluar jika digunakan untuk aktifitas fisik kemudian

masuk kembali jika beristirahat atau berbaring, tetapi pasien belum

pernah memeriksakan benjolan tersebut sebelumnya.


 Kuantitas : Nyeri terus-menerus saat bekerja atau melakukan aktifitas

 Kronologis : ± 1 bulan yang lalu pasien merasakan nyeri pada daerah

kantong pelir, Akhir-akhir ini beliau bercerita kesibukan pekerjaannya sebagai

seorang petani kebun dan sering melakukan aktivitas berat seperti mencangkul

dan mengangkut tanah dengan menggunakan karung. Selain itu pasien juga

mengeluh perut kembung dan terasa sakit. Perut kembung mulai dirasakan

sejak 2 minggu yang lalu. Nyeri dirasakan bila berpindah posisi dari berdiri ke

duduk ataupun tidur namun bila sudah berbaring nyeri pada daerah kantong

pelir lama-lama hilang.

 Faktor yang memperberat : Saat bekerja walaupun sambil duduk dan

saat pasien bangun tidur akan duduk terasa sangat nyeri atau sebaliknya

 Faktor yang memperingan : istirahat dan tidak beraktivitas berat

 Gejala yang menyertai : nyeri perut dan perut kembung, sesak

nafas

3. Riwayat Penyakit Dahulu :

- Riwayat Operasi : disangkal

- Riwayat Hipertensi : disangkal

- Riwayat penyakit serupa : disangkal

- Riwayat Penyakit Jantung : disangkal

- Riwayat DM : disangkal

- Riwayat Asma : disangkal

- Riwayat penyakit maag : disangkal

- Riwayat alergi obat : disangkal

4. Riwayat Penyakit Keluarga

- Riwayat Hipertensi : disangkal

- Riwayat Penyakit Jantung : disangkal

- Riwayat DM : disangkal
5. Riwayat Sosial Ekonomi

Pasien menggunakan BPJS non PBI. Kesan ekonomi : cukup

C. PEMERIKSAAN FISIK

a. Status Present

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang (skor VAS 4 – 6)

Kesadaran : Composmentis

GCS : E4M6V5

Vital Sign :

 T : 108/79 mmHg
 N : 61 x/’
 RR : 20 x/’
 T : 36,8oC

 TB : -

 BB : -

 SP02 : 98

 GDS : 109

b. Status Internus

 Mata : Conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

 Leher :

o Sikap : Simetris

o Pergerakan : Normal

o Kaku kuduk : (-)

 Thorax :
Jantung : S1 S2 reguler, gallop (-), murmur (-)
Paru : Vesikuler (+/+) N, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

 Abdomen :
Inspeksi : dbn
Auskultasi : bising usus (+) normal
Palpasi : Hepar tidak teraba, lien tidak teraba
Perkusi : timpani

 Extremitas :

Superior Inferior
Oedem -/- -/-
Varises -/- -/-

D. STATUS LOKALIS
- Lokasi : Regio Scrotalis Sinistra
- Inspeksi : - Terlihat benjolan sebesar kepalan tangan di daerah scrotalis
Sinistra, diameter ± 6 cm.
 Warna kulit sama dengan daerah sekitarnya
 Tidak terdapat fistel
- Palpasi : Teraba benjolan, bentuk bulat lonjong, sebesar kepalan tangan,
konsistensi kenyal, nyeri tekan
Benjolan tidak dapat didorong masuk dengan jari kelingking dalam
posisi pasien berbaring
- Finger test : Benjolan teraba dengan ujung jari
- Auskultasi : bising usus (-)

E. DIAGNOSIS KERJA : Benjolan pada scrotum


- Hidrokel
- Torsio Testis
- Orchotis
- Varicocele
- Tumor Testis

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Cek Darah Rutin, EKG, poto thorax
A. Laboratorium darah lengkap
(Dilakukan pada tanggal 1 Juni 2018 pukul 14:45)
Hemoglobin 7,2 (L) g/dL 14,0 – 18,0
Eritrosit 3,31 (L) Jt/ul 4,5 – 5,9
Hematokrit 23,8 (L) % 40 – 52
Trombosit 229 10^3/ul 150-400
Lekosit 5,7 10^3/ul 4.0 – 12.0
Netrofil 63,4 % 50 – 70
Limfosit 7,4 (L) % 25 – 40
Monosit 7,6 % 2-8
Eusinofil 20,8 (H) % 2-4
Basofil 0,4 % 0-1
MCH 21,8 (L) Pg 27 – 31
MCHC 30,3 (L) g/dl 33,0 – 37,0
MCV 71,9 (L) fL 79,0 – 99,0
RDW 18,1 (H) % 10,0 – 18,0
MPV 8,9 Fl 6,5 – 11,0
PDW 8.7 (L) Fl 10,0 – 18,0

GDS 113 mg/dl 70-140


Ureum 32,4 mg/dl 19 – 44
Kreatinin 0,7 mg/dl 0,6 – 1,3
Kolestrol 138 mg/dl <= 200

Albumin 3,6 (L) g/dl 3,5-5,2


SGOT 18 U/L 0-50
SGPT 11 U/L 0 - 50

HBsAG Negative Negative


Anti HIV Non reaktif Non reaktif
Anti HCV Negatif Negative
G. DIAGNOSIS KLINIS : Hernia scrotalis sinistra inkarserata ireponibilis

H. Tatalaksana :
- Konservatif :

- Inf. RL 20 tpm
- O2 3L/m
- Inj. Ketorolac 3x1 amp
- Inj. Cefotaxim 2x1 gr
- Inj. Ranitidine 2x1 amp
- Inj. Ondancetron 1 amp ekstra
- Pasang DC+NGT

- Operatif :
Hernioraphy

I. Prognosa
 Quo ad vitam : dubia ad bonam
 Quo ad functionam : dubia ad bonam
 Quo ad sanactionam : dubia ad bonam
BAB II
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek
atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan pada hernia abdomen, isi perut
menonjol melalui defek atau bagian lemah dari muskulo aponeurotik dinding perut.
Hernia terdiri dari cincin, kantong dan isi hernia. Semua hernia terjadi melalui celah
lemah yang potensial pada dinding abdomen (lokus minoris resistensiae baik bawaan
maupun didapat).
Penyebab terjadinya hernia yaitu dicetuskan oleh peningkatan tekanan intra
abdomen dan kelemahan otot dinding perut (karena usia).
- Hernia dibagi menurut terjadinya : a.Kongenital, b. Akuisita,
- menurut letaknya : a. Hernia diaphragma, b. Hernia umbilical, c.
Hernia inguinal, d. Hernia femoralis,
- dan menurut sifatnya : a. Reponible, b. Irreponible, c. Inkarserata, d.
Strangulata.

Tujuh puluh lima persen dari seluruh hernia abdominal terjadi di inguinal.
Hernia ingunalis dibagi menjadi 2, yaitu hernia ingunalis medialis dan hernia
ingunalis lateralis. Jika kantong hernia ingunalis lateralis mencapai scrotum, maka
disebut hernia scrotalis. Hernia ingunalis lateralis lebih sering terjadi dan diantara itu
pria lebih sering kejadiaannya dibandingkan wanita karena pengaruh aktifitas pria
dengan mengangkat beban lebih besar.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau
bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan pada hernia abdomen, isi perut
menonjol melalui defek atau bagian lemah dari muskulo aponeurotik dinding
perut. Hernia terdiri dari cincin, kantong dan isi hernia. Semua hernia terjadi
melalui celah lemah yang potensial pada dinding abdomen (lokus minoris
resistensiae baik bawaan maupun didapat) yang dicetuskan oleh peningkatan
tekanan intra abdomen yang berulang atau berkelanjutan dan kelemahan otot
dinding perut.
B. Etiologi
Penyebab terjadinya hernia dapat berupa kongenital ataupun akuisial (faktor
pencetus selama hidup).
 Kongenital
Kanalis inguinalis adalah kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke-8
kehamilan, terjadi desensus testis melalui kanal tersebut. Penurunan testis
tersebut akan menarik peritoneum kedaerah skrotum sehingga terjadi
penonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis
peritoneum. Pada bayi yang sudah lahir, umumnya prosesus ini sudah
mengalami obliterasi sehingga isi perut tidak dapat melalui kanal tersebut.
Namun dalam beberapa hal, sering kali kanalis ini tidak menutup. Karena
testis kiri turun lebuh dahulu, maka kanalis inguinalis kanan lebih sering
terbuka. Bila kanalis kiri terbuka biasanya yang kanan juga terbuka.
Dalam keadan normal, kanalis yang terbuka ini akan menutup pada usia 2
bulan. Bila prosesus terbuka terus ( karena tidak mengalami obliterasi ),
akan timbul hernia inguinalis lateralis kongenital.
 Akuisial (didapat)
1. peninggian tekanan intra abdomen kronik yang dapat mendorong isi
hernia melewati melewati annulus internus yang cukup lebar, seperti
batuk kronik, pekerjaan mengangkat benda berat, konstipasi, dan
asites. Peninggian tekanan intra abdomen juga dapat membuka
kembali kanalis inguinalis.
2. Anulus inguinalis internus yang cukup lebar sehingga dapat dilalui
oleh kantong dan isi hernia.
3. kelemahan otot dinding perut karena usia, malnutrisi, ataupun
paralisis dari saraf motorik.
4. Konstitusi tubuh. Orang kurus cenderung terkena hernia jaringan
ikatnya yang sedikit. Sedangkan pada orang gemuk juga dapat terkena
hernia karena banyaknya jaringan lemak pada tubuhnya yang
menambah beban kerja jaringan ikat penyokong pada LMR (Locus
minoris resistance).
5. Banyaknya preperitoneal fat banyak terjadi pada orang gemuk.

C. Anatomi
Regio inguinalis untuk beberapa struktur merupakan tempat peralihan dari
daerah perut ke organ – organ kelamin luar dan ke tungkai bagian atas. Garis
pemisah anatomis antara kedua daerah tersebut di bentuk oleh ligamentum
inguinale (poupart) yang terletak diantara tuberculum ossis pubikum, pada sisi
medialnya dan spina illiaka anterior superior, pada sisi lateralnya. Sebenarnya
ligamentum inguinale ini merupakan tempat pertemuan fascia yang menutupi
permukaan perut dan fascia yang menutupi permukaan tungkai (fascia lata).
Kanalis Inguinalis
Kanalis inguinalis pada orang dewasa panjangnya kira-kira 4 cm dan
terletak 2-4 cm kearah caudal ligamentum inguinal. Kanal melebar diantara
cincin internal dan eksternal. Kanalis inguinalis mengandung salah satu vas
deferens atau ligamentum uterus. Funikulus spermatikus terdiri dari serat-serat
otot cremaster, pleksus pampiniformis, arteri testicularis, ramus genital nervus
genitofemoralis, ductus deferens, arteri cremaster, limfatik, dan prosesus
vaginalis.
Kanalis inguinalis harus dipahami dalam konteks anatomi tiga dimensi.
Kanalis inginalis berjalan dari lateral ke medial, dalam ke luar dan cepal ke
caudal. Kanalis inguinalis dibangun oleh aponeurosis obliquus ekternus
dibagian superficial, dinding inferior dibangun oleh ligamentum inguinal dan
ligamentum lacunar. Dinding posterior (dasar) kanalis inguinalis dibentuk oleh
fascia transversalis dan aponeurosis transverses abdominis.
Annulus Inguinalis Interna
Suatu lubang berbentuk oval pada fascia transversalis, terletak sekitar 3
cm di atas ligamentum inguinalis, pertengahan antara SIAS dan symphisis
pubis. Di sebelah medial annulus interna terdapat av. epigastrika inferior.
Pinggir annulus merupakan origo fascia spermatica interna pada pria atau
pembungkus bagian dalam ligamen rotundum rotundum uteri pada wanita.
Annulus Inguinalis Eksterna
merupakan defek berbentuk segitiga (Hesselbach’s triangle) pada
aponeurosis m. obliquus externus abdominis dan dasarnya dibentuk oleh crista
pubica. Pinggir annulus merupakan origo fascia spermatica externa. Batas
lateral adalah arteri epigastrika inferior, batas medial adalah m. rectus
abdominis bagian lateral, dan batas inferior adalah ligamen inguinalis.

Pembuluh darah epigastric inferior menjadi batas superolateral dari


trigonum Hesselbach. Tepi medial dari trigonum dibentuk oleh membrane
rectus,dan ligamentum inguinal menjadi batas inferior. Hernia yang melewati
trigonum Hesselbach disebut sebagai direct hernia, sedangkan hernia yang
muncul lateral dari trigonum adalah hernia indirect.
Apponeurosis Obliqus Eksternus
Aponeurosis otot obliquus eksternus dibentuk oleh dua lapisan: superficial
dan profunda. Bersama dengan aponeorosis otot obliqus internus dan
transversus abdominis, membentuk sarung rectus dan akhirnya linea alba.
External oblique aponeurosis menjadi batas superficial dari kanalis inguinalis.
Ligamentum inguinal terletak dari spina iliaca anterior superior ke tuberculum
pubicum.
Otot obliqus Internus
Otot obliqus abdominis internus menjadi tepi atas dari kanalis inguinalis
.bagian medial dari internal oblique aponeurosis menyatu dengan serat
dariaponeurosis transversus abdominis dekat tuberculum pubicum untuk
membentuk conjoined tendon.

Fascia Tranversalis
Fascia transversalis dianggap suatu kelanjutan dari otot transversalis dan
aponeurosisnya.
Hernia terdiri dari cincin hernia, kantong dan isi hernia.

1. Kantong Hernia
Pada hernia abdominalis berupa peritonium parietalis
2. Isi hernia
Isi dari hernia bervariasi, tetapi yang paling sering adalah organ dalam.
Pada abdomen isi terbanyak adalah usus halus dan omentum majus.
Kemungkinan lainnya termasuk usus besar dan appendiks, vesica
urinaria, ovarium (dengan atau tanpa tuba falopi) dan cairan ascites.
3. Pintu Hernia
Merupakan Locus Minoris Resistance (LMR) yang dilalui oleh kantong
hernia.
D. Klasifikasi Hernia
Menurut sifatnya, hernia dibagi menjadi empat, yaitu :

1. Hernia Reponible
Yaitu bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar jika berdiri atau
mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada
keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.

2. Hernia Irreponible

Bila isi kantong tidak dapat direposisi kembali kedalam rongga perut. Ini
biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peritoneum
kantong hernia. Hernia ini disebut hernia akreta. Dapat juga terjadi
karena leher yang sempit dengan tepi yang kaku (misalnya pada :
femoral, umbilical). Tidak ada keluhan rasa nyeri ataupun sumbatan usus.
Hernia ireponibel mempunyai resiko yang lebih besar untuk terjadi
obstruksi dan strangulasi daripada hernia reponibel.
3. Hernia Strangulata

Yaitu bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia, isi kantong terperangkap
dan terjadi gangguan pasase usus serta gangguan vaskularisasi sehingga
dapat terjadi nekrosis. Strangulasi usus yang paling sering terjadi
dan menyebabkan nekrosis yang terinfeksi (gangren). Mukosa usus
terlibat dan dinding usus menjadi permeabel terhadap bakteri, yang
bertranslokasi dan masuk ke dalam kantong dan dari sana menuju
pembuluh darah. Usus yang infark dan rentan, mengalami perforasi
(biasanya pada leher pada kantong hernia) dan cairan lumen yang
mengandung bakteri keluar menuju rongga peritonial menyebabkan
peritonitis. Terjadi syok sepsis dengan gagal sirkulasi dan kematian.

4. Hernia Inkerserata

Yaitu bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia, berarti isi kantong
terperangkap, tidak dapat kembali ke dalam rongga perut disertai
terjadinya gangguan pasase usus. iasanya obstruksi terjadi pada leher
kantong hernia. Jika obstruksi terjadi pada kedua tepi usus, cairan
berakumulasi di dalamnya dan terjadi distensi (closed loop obstruction).
Biasanya suplai darah masih baik, tetapi lama kelamaan dapat terjadi
strangulasi. Oleh sebab itu, hernia ireponibel yang mengalami obstruksi
dapat juga disebut dengan inkarserata.
Tipe khusus Hernia lainnya

1. Sliding Hernia

Hernia ini adalah dimana struktur extraperitoneal membentuk


sebagian dinding kantong. Apabila sebagian dinding kantong hernia
terbentuk dari organ yang merupakan isi hernia seperti caecum, kolon
sigmoid atau kandung kemih, disebut sliding hernia. Sliding hernia dapat
terjadi karena isi kantong berasal dari organ yang letaknya
retroperitoneal. Alat bersangkutan tidak masuk ke kantung hernia,
melainkan tergeser dari retroperitoneal.

2. Hernia Ritcher

Pada hernia tipe ini, hanya sebagian dari usus yang terperangkap
(biasanya usus halus). Isi dari kantung hernia terdiri dari hanya satu sisi
dari dinding usus. Bahayanya hernia ini adalah usus dapat mengalami
iskemi tanpa perkembangan nyata dari gejala obstruksi. Biasanya pasase
usus masih ada, mungkin terganggu karena usus terlipat sehingga disertai
obstruksi usus.

Menurut letaknya, hernia dibagi menjadi beberapa yaitu :

1. Hernia Inguinalis

Merupakan hernia yang paling sering terjadi. Hernia inguinalis


merupakan hernia yang terjadi di kanalis inguinalis, yang dibatasi oleh :

Kraniolateral : annulus inguinalis internus yang merupakan bagian


terbuka dari fascia tranversalis dan apponeurosis m. tranversus
abdominus.

Medial bawah : annulus inguinalis eksternus yang merupakan bagian


terbuka dari aponeurosis m.oblikus eksternus.

Atap : aponeurosis m. oblikus eksternus.

Dasar : ligamentum inguinale

Pada pria kanalis inguinalis ini berisi facikulus spermatikus, vasa


spermatika, nervus spermatikus, m.kremaster, prosesus vaginalis
peritonei, dan ligamentum rotundum, pada wanita berisi ligamentum
rotundum.

Pada orang yang sehat ada tiga mekanisme yang dapat mencegah
terjadinya hernia inguinalis, yaitu kanalis inguinalis yang berjalan
miring, adanya struktur m.oblikus internus abdominis yang
menutup annulus inguinalis internus ketika berkontraksi, dan
adanya facia transversalis yang kuat yang menutupi trigonum
Hasselbach yang umumnya hampir tidak berotot. Gangguan pada
mekanisme ini dapat menyebabkan terjadinya hernia.

Klasifikasi Hernia Inguinalis

a. Hernia Ingunalis Lateralis (Indirek)

Terjadi karena keluar dari rongga peritoneum melalui annulus


inguinalis internus yang terletak sebelah lateral dari pembuluh darah
epigastrika inferior, kemudian hernia masuk kedalam kanalis inguinalis
dan jika cukup panjang, menonjol keluar dari annulus inguinalis
eksternus. Apabila hernia ini berlanjut, tonjolan akan sampai ke
skrotum, ini disebut hernia skrotalis. Kantong hernia berada di dalam
m.kremaster terletak anteromedial terhadap vas deferens dan struktur lain
dalam tali sperma.

Disebut indirek karena keluar melalui dua pintu dan saluran yaitu
annulus dan kanalis inguinalis. Pada bayi dan anak, hernia lateralis
disebabkan oleh kelainan bawaan berupa tidak menutupnya prosesus
vaginalis peritoneum sebagai akibat proses penurunan testis ke skrotum.

Gambaran klinik

 Pada umumnya keluhan pada orang dewasa berupa benjolan di lipat


paha yang timbul pada waktu mengedan , batuk atau mengangkat
beban berat dan menghilang pada waktu istirahat baring.
 Pada bayi dan anak-anak adanya benjolan yang hilang timbul dilipat
paha biasanya diketahui oleh orang tua. Jika hernia mengganggu dan
anak atau bayi sering gelisah, banyak nangis, dan kadang-kadang
perut kembung, harus dipikirkan kemungkinan hernia strangulata.
Pemeriksaan fisik

 Inspeksi : diperhatikan keadaan asimetris pada kedua sisi lipat


paha, skrotum atau labia dalam posisi berdiri atau berbaring. Pasien
diminta mengedan atau batuk sehingga adanya benjolan atau keadaan
asimetris dapat dilihat
 Palpasi : dilakukan dalam keadaan ada benjolan hernia, diraba
konsistensinya, dan dicoba mendorong apakah benjolan dapat
direpoisi. Setelah benjolan tereposisi dengan jari telunjuk atau jari
kelingking pada anak-anak, kadang cincin hernia dapat teraba berupa
annulus inguinalis yang melebar.

b. Hernia Ingunalis Medialis (Direk)

Terjadi karena hernia menonjol langsung ke depan melalui


trigonum Hasselbach, daerah yang dibatasi oleh :

Inferior : ligamentum inguinale

Lateral : pembuluh darah epigastrika inferior

Medial : tepi otot rectus

Dasar trigonum Hasselbach dibentuk oleh facia transversa yang


diperkuat oleh serat aponeurosis m. transversus abdominis yang kadang-
kadang tidak sempurna sehingga daerah ini potensial untuk menjadi
lemah. Hernia inguinalis medialis, karena tidak keluar melalui kanalis
inguinalis dan tidak ke skrotum, umumnya tidak disertai strangulasi
karena cincin hernia longgar.

Hernia inguinalis direk ini hampir selalu disebabkan factor


peninggian tekanan intra abdomen kronik dan kelemahan otot dinding di
trigonum Hasselbach. Oleh karena itu hernia ini umumnya terjadi
bilateral, khususnya pada pria tua. Hernia ini jarang, bahkan hampir
tidak pernah mengalami inkarserasi dan strangulasi. Mungkin terjadi
hernia geser yang mengandung sebagian dinding kantong kemih. Kadang
ditemukan pada segala umur dengan defek kecil di m. oblikus internus
abdominis dengan cincin kaku dan tajam yang sering mengalami
strangulasi.

Pemeriksaan fisik

Inspeksi : terlihat adanya massa tumor pada annulus inguinalis eksterna


yang mudah mengecil bila tidur. Karena besarnya defek pada dinding
posterior maka hernia ini jarang sekali menjadi ireponibilis.

Palpasi : jika ditekan pada annulus inguinalis interna pada saat pasien
berdiri atau mengejan, tetap akan timbul benjolan karena hernia ini
langsung menuju annulus unguinalis eksterna sehingga disebut hernis
direkta. Bila hernia ini dimasukkan sampai ke skrotum, maka hanya akan
sampai ke bagian atas skrotum, sedangkan testis dan funikulus
spermatikus dapat dipisahkan dari massa hernia. Bila jari dimasukkan
dalam annulus inguinalis eksterna, tidak akan ditemukan dinding
belakang. Bila pasien di suruh mengejan tidak akan terasa tekanan dan
ujung jari dengan mudah dapat meraba ligamentum Cooper pada ramus
superior tulang pubis.

2. Hernia Femoralis

Hernia femoralis adalah hernia yang terjadi pada kanalis femoralis.


Kanalis femoralis ini terletak medial dari v. femoralis di dalam lacuna
vasorum dorsal dari ligamentum inguinalis, tempat v. safena magna
bermuara di dalam v. femoralis.

Batas kranioventral : ligamentum inguinalis

Batas kaudodorsal : pinggir os pubis yang terdiri dari ligamentum


iliopektineale ( ligamentum Cooper )

Batas lateral : v. emoralis

Batas medial : ligamentum lakunare Gimbernati

Umumnya dijumpai pada wanita tua. Kejadian pada perempuan kira –


kira 4 kali laki – laki.Keluhan biasanya berupa benjolan dilipat paha
yang muncul terutama pada waktu melakukan kegiatan yang menaikan
tekanan intra abdomen seperti mengankat barang atau batuk. Benjolan
ini hilang pada waktu berbaring. Pada pemeriksaan fisik ditemukan
benjolan lunak dilipat paha dibawah ligamentum inguinale di medial V.
femoralis dan lateral tuberkulum pubikum.

Pintu masuk hernia femoralis adalan annulus femoralis. Selanjutnya isi


hernia masuk kedalam kanalis femoralis yang berbentuk corong sejajar
dengan V. femoralis sepanjang kurang lebih 2 cm dan keluar pada fossa
ovalis pada lipat paha.

3. Hernia Umbilikalis

Hernia umbilikalis merupakan hernia congenital pada umbilicus yang


hanya ditutup peritoneum dan kulit, berupa penonjolan yang
mengandung isi rongga perut yang masuk melalui cincin umbilicus
akibat peninggian tekanan intra abdomen, biasanya jika bayi menangis.
Angka kejadian hernia ini lebih tinggi pada bayi premature.

Hernia umbilikalis pad orang dewasa merupakan lanjutan hernia


umbilikalis pada anak. Peninggian tekanan karena kehamilan, obesitas
atau asites merupakan factor predisposisi.
4. Hernia Epigastrika

Hernia epigastrika atau hernia linea alba adalah hernia yang keluar
melalui defek dilinea alba antara umbilicus dan prosesus xifoideus. Isi
hernia terdari penonjolan jaringan lemak preperitoneal dengan atau tanpa
kantong peritoneum. Linea alba dibentuk oleh anyaman serabut
aponeurosis lamina anterior dan posterior sarung M. rektus. Anyaman ini
sering hanya satu lapis saja. Disamping itu linea alba disebelah cranial
umbilicus lebih lebar dibandingkan dengan yang sebelah kaudal
sehingga merupakan predisposisi terjadinya hernia epigastrika. Hernia
ini muncul sebagai tonjolan lunak di linea alba yang merupakan ‘lipoma’
preperitoneal. Kalau defek linea alba melebar baru kemudian keluar
kantong peritoneum yang dapat kosong atau berisi omentum. Hernia ini
ditutupi oleh kulit, lemak subkutis, lemak preperitoneal dan peritoneum.

E. Patofisiologi

Kanalis inguinalis dalam kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke 2-8 dari
kehamilan, terjadinya desensus vestikulorum melalui kanal
tersebut.Penurunan testis itu akan menarik peritoneum ke daerah scrotum
sehingga terjadi tonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis
peritonea. Bila bayilahir umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi,
sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut. Tetapi dalam
beberapa hal sering belum menutup, karena testis yang kiri turun terlebih
dahulu dari yang kanan, makakanalis inguinalis yang kanan lebih sering
terbuka. Dalam keadaan normal, kanalyang terbuka ini akan menutup pada
usia 2 bulan.

Bila prosesus terbuka sebagian, maka akan timbul hidrokel. Bila kanal terbuka
terus, karena prosesus tidak berobliterasi maka akan timbul herniainguinalis
lateralis kongenital. Biasanya hernia pada orang dewasa ini terjadi keranausia
lanjut, karena pada umur tua otot dinding rongga perut melemah.
Sejalandengan bertambahnya umur, organ dan jaringan tubuh mengalami
prosesdegenerasi. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup. Namun
karena daerahini merupakan locus minoris resistance, maka pada keadaan
yang menyebabkan tekanan intraabdominal meningkat seperti batuk- batuk
kronik, bersin yang kuat dan mengangkat barang-barang berat, mengejan.
Kanal yang sudah tertutup dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis
lateralis karena terdorongnya sesuatu jaringan tubuh dan keluar melalui defek
tersebut.

Pria lebih banyak dari wanita, karena adanya perbedaan proses perkembangan
alat reproduksi pria dan wanita semasa janin. Potensial komplikasi terjadi
perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi
hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Terjadi penekanan terhadap cincin
hernia,akibat semakin banyaknya usus yang masuk, cincin hernia menjadi
sempit dan menimbulkan gangguan penyaluran isi usus. Timbulnya edema bila
terjadi obtruksi usus yang kemudian menekan pembuluh darah dan kemudian
terjadi nekrosis. Bilat erjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut
kembung, muntah,konstipasi. Bila inkarserata dibiarkan, maka lama kelamaan
akan timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi
nekrosis.

F. Penegakan Diagnosis
a. Anamnesis
Anamnesis yang terarah sangat membantu dalam menegakkan diagnosis.
Uraian lebih lanjut tentang keluhan utama, misalnya bagaimana sifat keluhan,
dimana lokasi dan kemana penjalarannya, bagaimana awal serangan dan urutan
kejadiannya, adanya faktor yang memperberat dan memperingan keluhan,
adanya keluhan lain yang berhubungan perlu ditanyakan dalam diagnosis.
Gejala dan tanda klinik hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada
hernia reponibel keluhan satu- satunya adalah adanya benjolan di lipat paha
yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengejan, dan
menghilang setelah berbaring. Keluhan nyeri jarang dijumpai, kalau ada
biasanya dirasakan didaerah epigastrium atau para umbilical berupa nyeri
visceral karena regangan pada mesenterium sewaktu satu segmen usus halus
masuk kedalam kantong hernia. Nyeri yang disertai mual atau muntah baru
timbul kalau terjadi inkarserasi karena ileus atau srangulasi karena nekrosis
atau gangren. Pasien sering mengeluh tidak nyaman dan pegal pada daerah
inguinal, dan dapat dihilangkan dengan reposisi manual kedalam kavitas
peritonealis. Tetapi dengan berdiri atau terutama dengan gerak badan, maka
biasanya hernia muncul lagi.
b. Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
Pembengkakan yang timbul mulai dari regio inguinalis dan
mencapai labium majus atau sampai dasar skrotum, selalu merupakan
hernia inguinalis lateralis. Kalau tidak ada pembengkakan yang dapat
kila lihat, penderita disuruh batuk. Kalau pembengkakan yang kemudian
terlihat kemudian berada di atas lipatan inguinal dan berjalan miring dan
lateral atas menuju ke medial bawah, maka pembengkakan tersebut
adalah hernia inguinalis lateralis. Tetapi kalau pembengkakan itu
kelihatannya langsung muncul ke depan, maka kita berhadapan dengan
hernia inguinalis medialis.
2. Palpasi
Dapat untuk menentukan macam hernianya. Untuk memeriksa
pelipatan paha kiri digunakan tangan kiri, pelipatan paha kanan dipakai
tangan kanan.
Caranya:
 Zieman’s test : Jari ke 2 diletakkan diatas annulus internus ( terletak
diatas ligamentum inguinale pada pertengahan SIAS dan tuberkulum
pubikum ). Jari ke 3 diletakkan diatas annulus eksternus ( terletak
diatas ligamentum inguinale sebelah lateral tuberkulum pubikum ). Jari
ke 4 diletakkan diatas fossa ovalis ( terletak dibawah ligamentum
inguinale disebelah medial dari a. femoralis ). Lalu penderita disuruh
batuk atau mengejan, bila terdapat hernia akan terasa impulse atau
dorongan pada ujung jari pemeriksa. Teknik ini dikerjakan bila tidak
didapatkan benjolan yang jelas.
 Thumb test: Teknik ini dilakukan bila benjolannya jelas. Benjolan
dipegang diantara ibu jari dan jari lain, kemudian cari batas atas dari
benjolan tersebut. Bila batas atas dapat ditentukan, berarti benjolan
berdiri sendiri dan tiak ada hubungan dengan kanalis inguinalis ( jadi
bukan merupakan suatu kantong hernia). Bila batas atas tidak dapat
ditentukan berarti benjolan itu merupakan kantong yang ada
kelanjutannya dengan kanalis inguinalis), selanjutnya pegang leher
benjolan ini dan suruh penderita batuk untuk merasakan impulse pada
tangan yang memegang benjolan itu.

 Finger test: Gunakan tangan kanan untuk hernia sisi kanan, pakai
tangan kiri untuk hernia sisi kiri. Dengan jari kelingking kulit scrotum
diinvaginasikan, jari tersebut digeser sampai kuku berada diatas
spermatic cord dan permukaan volar jari menghadap ke dinding ventral
scrotum. Dengan menyusuri spermatic cord kearah proksimal maka
akan terasa jari tersebut masuk melalui annulus eksternus, dengan
demikian dapat dipastikan selanjutnya akan berada dalam kanalis
inguinalis. Bila terdapat hernia inguinalis lateralis, terasa impulse pada
ujung jari, bila hernia inguinalis medialis maka teraba dorongan pada
bagian samping jari.

3. Perkusi
Bila isinya gas pada usus akan berbunyi timpani
4. Auskultasi
Terdengar suara usus, bila auskultasi negatif maka kemungkinan isi
hernia berupa omentum. Auskultasi juga bisa untuk mengetahui
derajat obstruksi usus.
c. Pemeriksaan Penunjang
Herniografi
Dalam teknik ini, 50—80 ml medium kontras iodin positif di
masukkan dalam wadah peritoneal dengan menggunakan jarum
yang lembut. Pasien berbaring dengan kepala terangkat dan
membentuk sudut kira- kira 25 derajat. Tempat yang kontras di
daerah inguinalis yang diam atau bergerak dari sisi satu ke sisi lain
akan mendorong terwujudnya kolam kecil pada daerah inguinal. Tiga
fossa inguinal adalah suprapubik, medial dan lateral. Pada umumnya
fossa inguinal tidak mcncapai ke seberang pinggir tulang pinggang
agak ke tengah dan dinding inguinal posterior. Hernia tak langsung
muncul dari fossa lateral yang menonjol dari fossa medial atau
hernia langsung medial yang menonjol dari fossa suprapubik.
G. Penatalaksanaan
Operatif
Prinsip dasar operasi hernia terdiri dari :
 Herniotomy, dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya,
kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlengketan,
kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit ikat setinggi mungkin
kemudian dipotong.
 Hernioplasty, dilakukan tindakan memperkecil annulus inguinalis
internus dan memperkuat dinding belakang kanalis ingunalis.
Hernioplasty lebih penting artinya dalam menvegah terjdinya residif
dibandingkan dengan herniatomy.
Macam-macam Teknik Hernioplasty
Berdasarkan pendekatan operasi, banyak teknik herniorraphy
dapat diklompokkan dalam 4 kategori utama :
Open Anterior Repair
Kelompok 1 operasi hernia (teknik Bassini, McVay dan Shouldice) melibatkan
pembukaan aponeurosis otot obliquus abdomins ekternus dan membebaskan
funikulus spermatikus. fascia transversalis kemudian dibuka,dilakukan
inspeksi kanalis spinalis, celah direct dan indirect. Kantunghernia biasanya
diligasi dan dasar kanalis spinalis di rekonstruksi.
a. Bassini
Muskulus obliqus internus dan muskulus transversus abdominis
dijahitkan pada ligamentum inguinale. Funikulus spermaticus diletakkan
ventral dari muskulus tadi tetapi dorsal dari aponeurosis muskulus
obliqus eksternus sehingga kanalis inguinalis kedua muskuli tadi
memperkuat dinding belakang dari kanalis inguinalis, sehingga locus
minoris resistantence hilang.
b. Shouldice
Membuka lantai inguinalis dan mengimbrikasi fascia transversalis
dengan teknik jahitan kontinyu.

c. Ferguson
Yaitu funiculus spermaticus ditaruh di sebelah dorsal dari musculus
obliqus externus dan internus abdominis dan muskulus obliqus internus
dan transversus dijahitkan pada ligamenturn inguinale dan meletakkan
funiculus spermaticus di dorsal, kemudian aponeurosis muskulus obliqus
externus dijahit kembali sehingga tidak ada lagi kanalis inguinalis.
d. Mc Vay
menjahitkan fascia tranversa, M. tranversus abdominis, M. oblikus
internus abdominis ke ligamentum Cooper.

Teknik kelompok ini berbeda dalam pendekatan mereka dalam


rekontruksi,tetapi semuanya menggunakan jahitan permanen untuk
mengikat fasciadisekitarnya dan memperbaiki dasar dari kanalis
inguinalis, kelemahannyayaitu tegangan yang tejadi akibat jahitan
tersebut, selain dapat menimbulkan nyeri juga dapat terjadi neckosis otot
yang akan menyebakanjahitan terlepas dan mengakibatkan kekambuhan.
Open Posterior Repair
Posterior repair (iliopubic tract repair dan teknik Nyhus) dilakukan dengan
membelah lapisan dinding abdomen superior hingga ke cincin luar dan masuk
ke properitoneal space. Diseksi kemudian diperdalam kesemua bagian kanalis
inguinalis. Perbedaan utama antara teknik ini dan teknik open anterior adakah
rekonrtuksi dilakukan dari bagian dalam. Posterior repair sering digunakan
pada hernia dengan kekambuhan karena menghindari jaringan parut dari
operasi sebelumnya.

Tension Free Repair with Mesh


Teknik Lichtenstein menggunakan pendekatan awal yang sama degan teknik
open anterior. Akan tetapi tidak menjahit lapisan fascia untuk memperbaiki
defek , tetapi menempatkan sebuah prostesis, mesh yang tidak diserap. Mesh
ini dapat memperbaiki defek hernia tanpa menimbulkan tegangan dan
ditempatkan disekitar fascia.

Laparoscopy
Laparoscopic herniorrhaphies dilakukan menggunakan salah satu pendekatan
transabdominal preperitoneal (TAPP)atau total extraperitoneal (TEP) .
pendekatan TAPP dilakukan dengan meletakkan trokar laparoscopic dalam
cavum abdomen dan memperbaiki region inguinal dari dalam. Ini
memungkinkan mesh diletakkan dan kemudian ditutupi dengan peritoneum.
sedangkan pendekatan TAPP adalah prosedur laparoskopic langsung yang
mengharuskan masuk ke cavumperitoneal untuk diseksi. Konsekuensinya, usus
atau pembuluh darah bisa cidera selama operasi.
H. Komplikasi
Komplikasi dari Open Repair dan Laparoscopy
Open Repair Laparoscopy Repair
Berat Berat
Hemorraghe Hemorraghe
Testicular atrophy Cedera usus
Terpotongnya vas deferens Cedera vesica urinaria
Cedera usus Cedera pembuluh darah besar
Cedera vesica urinaria
Ringan Ringan
Scrotal ecchymosis Retensi urin
Infeksi luka Cedera saraf
Retensi urin Infeksi luka
Kekambuhan Obstruksi usus halus
Hydrocele
Terjepitnya saraf
Terpotongnya saraf

BAB IV
KESIMPULAN
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau
bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan pada hernia abdomen, isi perut
menonjol melalui defek atau bagian lemah dari muskulo aponeurotik dinding perut.
Hernia terdiri dari cincin, kantong dan isi hernia.
Penyebab terjadinya hernia yaitu berupa kongenital dan didapat seperti
peningkatan tekanan intra abdomen dan kelemahan otot dinding perut (karena usia).
Hernia dibagi menurut terjadinya : a. Kongenital, b. Akuisita, menurut
letaknya : a. Hernia diaphragma, b. Hernia umbilical, c. Hernia inguinal, d.
Hernia femoralis, dan menurut sifatnya : a. Reponible, b. Irreponible, c.
Inkarserata, d. Strangulata.
Penegakan diagnosis berupa anamnesis, pemeriksaan fisik (inspeksi, palpasi,
perkusi dan auskultasi), pemeriksaan penunjang.
Penatalaksanaan dari hernia inguinalis lateralis yang paling rasional berupa
pembedahan berupa herniotomi dan hernioplasty baik dilakukan open hernia repair
maupun laparoscopy repair.

DAFTAR PUSTAKA
1. Tyran Tyrial. [homepage on internet]. Referat Hernia [updated July 16, 2010].
Available from:
http://www.scribd.com/doc/34415270/Referat-Hernia

2. Permata Dhinar. [homepage on internet]. Referat Hernia [updated May 10,


29012]. Available from :
http://www.scribd.com/doc/93160982/Hernia-Inguinalis

3. Medscape Reference [homepage on internet]. Hernias [updated April 21, 2014]


Available from: http://emedicine.medscape.com/article/775630-overview

4. Current Options in Inguinal Hernia Reapir in adult patients [updated 2011]


Available from :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3306028

5. World Journal of Laparoscopic Surgery [homepage on internet] Laparoscopic


versus Open repair of Inguinal Hernia [updated January-April 2008] Available
from :
http://www.jaypeejournals.com/eJournals/ShowText.aspx?
ID=106&Type=FREE&TYPurnals/images/JPLOGO.gif&IID=12&isPDF=YE
S