Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH ENERGI DAN LINGKUNGAN

KAITAN ENERGI DAN LINGKUNGAN TERHADAP


PEMANASAN GLOBAL

KELOMPOK 2

1. R.A Dwi Putri Ananda Sri Rizky


2. Muhammad Evit Kurniawan

7 EG.A

Dosen Pembimbing : Ida Febriana,S.Si,M.T

JURUSAN TEKNIK KIMIA


PROGRAM STUDI D4 TEKNIK ENERGI
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa kami panjatkan ke hadirat Allah


SWT,Karena atas karunia dan rahmat-Nya serta dengan diiringi
denganusaha yang kami lakukan, kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
semua pihak yang telah membantu kami untuk menyelesaikan makalah ini
tepat pada waktunya . Semoga apa yang telah kami tulis dalam makalah ini
dapat bermanfaat bagi kita semua kedepannya. Sebelumnya, kami
mengucapkan mohon maaf yang sebesar- besarnya apabila tulisan pada
makalah kami ini terdapat kesalahan, karena manusia tidak akan pernah
sempurna walaupun manusia itu selalu berusaha dan mencoba untuk
menjadi seseorang yang sempurna karena kesempurnaan itu hanyalah milik
Allah SWT.

Palembang, September 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI
Hal
KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I PENDAAHULUAN .................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 4

2.1 Energi ....................................................................................................... 4

2.1.1 Definisi energi ................................................................................... 4

2.1.2 Sumber Energi Indonesia .................................................................. 4

2.1.3 Penyebab Kerusakan Energi ............................................................. 9

2.1.4 Dampak Pengunaan Energi ............................................................. 10

2.2 Lingkungan Hidup .................................................................................. 12

2.2.1 Definisi Lingkungan Hidup............................................................. 12

2.2.2 Penyebab Kerusakan Lingkungan Hidup ........................................ 13

2.2.3 Dampak dari Kerusakan Lingkungan Hidup................................... 14

2.3 Kaitan Energi dan Lingkungan Terhadap Global Warming................... 20

2.3.1 Keterkaitan Energi dan Lingkungan Hidup .................................... 22

2.3.1.1 Perubahan Bahan Bakar Fosil .................................................. 23

2.3.1.2 Polutan yang dihasilkan pada pembakaran bahan bakar fosil . 25

BAB III ................................................................................................................. 27

PENUTUP ............................................................................................................. 27

3.1 Kesimpulan ............................................................................................. 27

3.2 Saran ....................................................................................................... 27

ii
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ iii

iii
BAB I
PENDAAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Energi merupakan salah satu tulang punggung utama jalannya
peradaban. Kemajuan suatu bangsa membutuhkan dukungan ketersediaan
energi. Sebagai contoh, pada tahun 2006, negaramaju seperti Amerika
mengkonsumsi 21,4% energi dunia, sedangkan Cina yang dianggapsebagai
kekuatan industri baru mengkonsumsi 15,6% energi dunia [BP, 2008].
Peningkatankebutuhan energi di satu sisi serta ketidakstabilan harga dan
pasokan energi konvensional di sisilain, memunculkan isu keamanan energi
(energy security) di berbagai negara di dunia. Kesadaran mengenai dampak
negatif penggunaan sumber energi fosil terhadap lingkungan,khususnya
atmosfer bumi, memunculkan berbagai upaya untuk meningkatkan
penggunaansumber energi baru dan terbarukan yang rendah emisi CO2 nya
atau penggunaan bahan bakar fosil yang disertai upaya untuk
mengeliminasi/meminimalkan emisi GRK (Gas Rumah Kaca) keatmosfer,
seperti Carbon Capture and Storage (CCS). Dengan demikian, di samping
bermasalahdengan dirinya sendiri (ketidakstabilan harga dan
pasokan),penggunaan bahan bakar fosil secarakonvensional juga
menimbulkan permasalahan lingkungan hidup.
Bertambahnya jumlah penduduk, kemajuan teknologi, dan
peningkatan perekonomianmenyebabkan peningkatan konsumsi energi dunia.
International Energy Agency(IEA, 2007) melaporkan peningkatan konsumsi
energi dunia hampir dua kali lipat dari 6.128 Mtoe pada tahun1973 hingga
11.435 Mtoe pada tahun 2005. Meski bila dilihat sisi jumlah, penggunaan
bahan bakar fosil semakin meningkat, namun akibat masalah ketersediaan
dan harga yang fluktuatif, persentase penggunaan minyak bumi mengalami
penurunan; dari 46,2% pada tahun 1973menjadi 35% pada tahun 2005.

1
Penurunan persentase penggunaan minyak bumi tersebutdikompensasi oleh
kenaikan penggunaan gas (16% menjadi 20,7%) dan batubara (24,4%menjadi
25,3% ),serta sumber energi nuklir (0,9% menjadi 6,3%). Selama kurun
waktu yangsama, penggunaan sumber energi air mengalami peningkatan dari
1,8% menjadi 2,2%,sedangkan sumber-sumber energi yang lain seperti surya,
panas bumi, dan angin mengalami peningkatan dari 0,1% menjadi 0,5%.
Selain itu, pembakaran biomassa dan sampahmenyumbang suplai energi
sekitar 10%. Dari gambaran tersebut, terlihat bahwa peradaban duniasaat ini
masih sangat ditopang oleh bahan bakar fosil.
Seperti halnya komposisi energi dunia, Indonesia juga masih bertumpu
pada minyak bumi untuk pemenuhan kebutuhan energinya; bahkan dengan
persentase yang lebih tinggi (54,4% dari totalenergi [DESDM, 2005]).
Namun kesadaran kolektif bangsa Indonesia terkait permasalahan
padaminyak bumi, yakni penurunan tingkat produksi domestik (kurang dari 1
juta barel per-hari),cadangan yang tidak besar (sekitar 24 tahun pada tahun
2007) ,serta ketidakstabilan hargaminyak dunia menumbuhkan keinginan
bangsa ini untuk mengurangi ketergantungannyaterhadap minyak bumi. Hal
tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 5 tahun 2005tentang
Kebijakan Energi Nasional. Dalam peraturan tersebut, pada tahun 2025
konsumsiminyak bumi diharapkan turun menjadi 20%, gas alam naik menjadi
30%, batubara naik menjadi33%, sedangkan energi baru dan terbarukan naik
menjadi 17%. Target capaian energi terbarukan pada perpres tersebut (yakni
15%) cukup maju dibandingkan dengan negara tetangga sepertiAustralia yang
hanya 6% pada tahun 2029-2030 [Australia¶s Energy Outlook, 2006],
sedangkanIndia mentargetkan kontribusi tenaga air dan nuklir sebesar 11,8%
pada tahun 2031-2032 [WEC,2006]. Guna mencapai target penggunaan
energi terbarukan tersebut, baru-baru ini Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral telah mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 32Tahun 2008
yang mewajibkan berbagai sektor pengguna energi untuk menggunakan
BahanBakar Nabati (BBN).

2
1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang sudah dipaparkan di atas, maka dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan Energi , Lingkungan dan Pemanasan Global?
2. Bagaimana Keterkaitan energi terhadap lingkungan hidup?
3. Bagaimana pengaruh pegunaan energi terhadap pemanasan global yang
terjadi?
4. Bagaimana cara menangulangi pemanasan global akibat pengunaan
energi?

1.3 Tujuan Penulisan


Mengingat pentingnya mengetahui tentang kaitan energi dan lingkungan
terhadap global warning , maka makalah ini dibuat dengan tujuan sebagai
berikut :
1. Dapat mengetahui energi , lingkungan dan pemanasan global
2. Dapat mengetahui keterkaitan energi terhadap lingkungan
3. Dapat mengetahui pengaruh dari pengunaan energi terhadap global
warming
4. Dapat mengetahui penyebab dan dampak global warming
5. Dapat mengetahui bagaimana cara mengatasi global warming

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Energi

2.1.1 Definisi energi


Kata energi berasal dari bahasa Yunani, yaitu ergon yang berarti kerja.
Jadi, energi didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja atau
usaha. Energi merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan di
alam ini, terutama bagi kehidupan manusia, karena segala sesuatu yang
kita lakukan memerlukan energi.
Energi di alam ini tersedia dalam berbagai bentuk, misalnya energi
kimia, energi listrik, energi kalor, dan energi cahaya. Energi akan
bermanfaat jika terjadi perubahan bentuk dari suatu bentuk energi ke
bentuk lain. Sebagai contoh, setrika listrik akan bermanfaat jika terjadi
perubahan energi listrik menjadi energi kalor. Benda yang bergerak
maupun diam ternyata mempunyai suatu energi yang tersimpan. Energi
yang ditimbulkan sebagai akibat gerakan suatu benda disebut energi
kinetik, sedangkan energi yang tersimpan dalam suatu benda karena
kedudukannya disebut energi potensial.

2.1.2 Sumber Energi Indonesia


Sumber energi di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua,
yaitu: sumber energi fosil dan sumber energi terbarukan. Sumber energi
fosil terdiri atas minyak bumi, gas alam dan batubara. Cadangan minyak

4
bumi saat ini sudah sangat terbatas sedangkan cadangan gas alam masih
mencukupi dan cadangan batubara masih melimpah. Batubara merupakan
sumber energi fosil dengan cadangan terbesar, yaitu sebesar 36,34 x 109
ton. Sedangkan cadangan gas alam sebesar 137,79 TSCF (Tera Standard
Cubic Feet) dan minyak bumi sebesar 9,09 x 109 SBM (Setara Barel
Minyak). Sedangkan energi terbarukan dapat berupa energi air,
geothermal, energi angin dan energi matahari. Tetapi yang sampai saat ini
sudah dikembangkan secara komersial hanya energi air dan geothermal.
Cadangan energi terbarukan dinyatakan dalam GW yang merupakan
kapasitas terpasang yang mampu untuk dikembangkan. Cadangan energi
air sebesar 75,62 GW dan geothermal sebesar 16,10 GW. Cadangan energi
terbarukan ini belum banyak dimanfaatkan pada saat ini. Sampai tahun
1997 pemanfaatan energi air hanya sebesar 3 % dan geothermal sebesar 2
%. Secara ringkas cadangan dan produksi (termasuk penggunaan dalam
negeri dan diekspor) untuk masing-masing sumber energi ditunjukkan
pada Gambar 1. Di sini masing masing energi yang dinayatakn dalam
satuan fisik disamakan menjadi satuan energi yaitu SBM supaya dapat
digambarkan dalam dimensi yang sama. Pada Gambar 1 terlihat bahwa
batubara mempunyai cadangan yang melimpah tetapi penggunaannya
masih sangat sedikit. Bila dilihat dari rasio cadangan dibagi produksi (R/P
Ratio) maka batubara masih mampu untuk digunakan selama lebih dari
500 tahun. Sedangkan gas alam dan minyak bumi mempunyai R/P Ratio
masing-masing sebesar 43 tahun dan 16 tahun dengan asumsi bahwa tidak
ditemukan cadangan yang baru. Dengan melihat cadangan batubara ini,
diperkirakan bahwa di masa depan batubara akan mempunyai peran yang
besar sebagai penyedia energi nasional.

5
Gambar 1. Cadangan dan Produksi Energi (Sugiyono,2000)

A. Energi Terbarukan
Energi terbarukan merupakan sumber energi alam yang dapat
langsung dimanfaatkan dengan bebas. Selain itu, ketersediaan energi
terbarukan ini tak terbatas dan bisa dimanfaatkan secara terus menerus.
Adapun contoh dari energi terbarukan ini adalah sebagai berikut
1. Angin
Angin merupakan salah satu sumber energi yang tak pernah
ada habisnya. Selama bumi ini masih ada, maka angin akan tetap
ada selamanya karena ketersediaannya tidak terbatas. Angin sendiri
seringkali dimanfaatkan dalam teknologi kincir angin, khususnya
di negara dengan intensitas angin sangat banyak. Angin ini
nantinya akan mendorong turbun dari kincir angin yang bisa
menghasilkan energi listrik.
2. Matahari
Matahari merupakan sumber energi paling penting dalam
kehidupan manusia. Sumber energi panas dari matahari juga
banyak digunakan untuk berbagai macam aktivitas, seperti
fotosintesis buatan, listrik tenaga surya, menjemur pakaian dan lain
sebagainya.
3. Air Laut Pasang

6
Pemanfaatan air laut pasang atau gelombang dari air laut ini
kian dijadikan sebagai sumber energi terbarukan untuk
menghasilkan listrik.
4. Panas Bumi
Sumber energi panas bumi atau geothermal sendiri merupakan
energi panas dari kerak bumi. Energi geothermal in diperoleh
akibat peluruhan radioaktif dan juga pelepasan kalor atau panas
secara terus menerus di dalam bumi
5. Tumbuhan
Produk yang dihasilkan dari tanaman atau tumbuhan ini
sebenarnya bisa diolah untuk kebutuhan produk yang lain,
misalnya kertas, kayu bakar hingga produk lainnya yang bisa
dimanfaatkan. Akan tetapi, kekurangan dari energi terbarukan ini
adalah bisa mengakibatkan beragam bencana alam apabila
digunakan secara terus menerus tetapi tidak diimbangi dengan
pelestarian tumbuhan tersebut.
6. Biofuel
Macam-macam sumber energi terbarukan berikutnya adalah
biofuel. Biofuel merupakan bahan bakar hayati yang dihasilkan
dari bahan-bahan organik. Sumber dari energi terbarukan ini
adalah tanaman yang memiliki kandungan gula tinggi seperti tebu
dan sorgum serta tanaman yang memiliki kandungan minyak
nabati tinggi seperti kelapa sawit, ganggang dan jarak.
7. Air
Selain air laut pasang, energi air juga energi alternatif yang
dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil. Sumber
energi yang satu ini didapatkan dengan memanfaatkan energi
potensial dan energi kinetik yang dimiliki oleh air Di Indonesia
sendiri sudah terdapat puluhan PLTA untuk menghemat sumber
daya tak terbarukan.
8. Biomassa

7
Biomassa merupakan energi terbarukan yang mengacu pada
bahan biologis yang berasal dari organisme yang masih hidup
ataupun yang belum lama mati. Sumber utama dari energi
biomassa sendiri adalah limbah, alkohol dan juga bahan bakar
kayi. Saat ini di Indonesia juga sudah terdapat pembangkit listrik
biomassa salah satunya yaitu PLTBM Pulubala di Gorontalo yang
memanfaatkan tongkol jagung

B. Energi Tak Terbarukan


Selain macam-macam sumber energi terbarukan di atas, kita juga
sangat familiar dengan sumber energi tak terbarukan. Kekurangan dari
sumber energi tak terbarukan ini, yakni ketersediannya yang sangat
terbatas. Sehingga apabila sudah habis, energi ini tak akan dapat
diperbarui kembali. Adapun contoh dari sumber energi tak terbarukan
yang satu ini adalah sebagai berikut:

1. Sumber energi dari hasil fosil


Sumber energi yang satu ini sebenarnya masih dapat
diperbaharui lagi, namun membutuhkan waktu sampai ratusan
bahkan jutaan tahun lamanya. Sumber energi yang satu ini tak lain
berasal dari timbunan makhluk hidup yang telah mati lalu terkubur
di bawah tanah sampai jutaan tahun, adapun contohnya adalah batu
bara dan minyak bumi.
2. Sumber energi dari mineral alam
Mineral alam dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi seusai
melewati beragam tahapan proses yang sifatnya sangat lama.
Adapun contohnya adalah unsur uranium yang dapat menghasilkan
sebuah energi nuklir.
3. Minyak mentah
Sumber energi tak terbarukan berikutnya adalah minyak
mentah. Minyak mentah adalah sumber daya yang terbentuk dalam

8
bentuk cair antara lapisan kerak bumi. Ini dikarenakan minyak
mentah diambil dengan cara melakukan pengeboran jauh k dalam
tanah dan memompa keluar cairan. Yang kemudian cairan tersebut
disempurnakan dan digunakan untuk membuat berbagai macam
produk. Negara penghasil minyak bumi terbesar adalah Rusia,
Amerika, Arab Saudi dan masih banyak lagi.
4. Gas
Sama halnya dengan minyak mentah gas juga terdapat di
bawah kerak bumi dan untuk mendapatkannya harus dibor dan
dipompa keluar. Metana dan etana merupakan jenis gas paling
umum yang seringkali diperoleh dari proses ini.

5. Bahan bakar nuklir


Bahan bakar nuklir diperoleh melalui penambangan dan
pemurnian bijih uranium. Uranium sendiri merupakan unsur alami
yang ada di dalam inti bumi. Jika dibandingkan dengan sumber
daya yang tidak bisa diperbarui lainnya bahan bakar nuklir adalah
yang paling bersih.

2.1.3 Penyebab Kerusakan Energi

Saat ini perkembangan dan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan


Teknologi atau yang sering disebut Iptek memang memberikan dampak
yang positif bagi kehidupan, yaitu dapat menyederhanakan dan
mempermudah aktivitas-aktivitas dalam kehidupan.Namun, tidak hanya
dampak positif saja yang diberikan oleh kemajuan di bidang iptek ini,
tetapi juga dampak-dampak negatif.Penyebab daripada kerusakan
lingkungan diantaranya asap dari kendaraan bermotor dapat
menyebabkan polusi dan gas rumah kaca apabila kadarnya telah berlebih,
pembakaran fosil seperti pada pembangkitan tenaga listrik, kendaraan
bermotor, AC, computer, pembakaran hutan juga menyebabkan
konsentrasi gas rumah kaca meningkat.Pemakaian bahan bakar fosil yang

9
menghasilkan kontributor pemanasan global yaitu Karbondioksida (CO2),
metana (CH4) yang dihasilkan agrikultur dan peternakan (terutama dari
sistem pencernaan hewan-hewan ternak), nitrogen oksida (NO) dari
pupuk, dan gas-gas yang digunakan untuk kulkas dan pendingin ruangan
(CFC). Dimana gas-gas tersebut sangat sulit untuk diuraikan di atmosfer
bumi. Rusaknya hutan-hutan yang seharusnya berfungsi sebagai
penyimpan CO2 juga makin memperparah keadaan ini karena pohon-
pohon yang mati akan melepaskan CO2 yang tersimpan di dalam
jaringannya ke atmosfer.
Penyumbang terbesar kerusakan lingkungan hidup secara
menyeluruh, adalah polusi yang ditimbulkan oleh pembakaran bahan
bakar fosil, seperti batubara, bahan bakar minyak, dan gas alam secara
besar-besaran.Dari pembakaran itu berakibat terjadinya emisi rumah kaca
sebagai penyebab pemanasan global.

2.1.4 Dampak Pengunaan Energi

Penggunaan energi fosil akan menghasilkan emisi seperti: partikel,


SO2, NOx, dan CO2. Emisi partikel, SO2, dan NOx adalah bahan polutan
yang berhubungan langsung dengan kesehatan manusia. Disamping itu,
masyarakat internasional juga menaruh perhatian terhadap isu lingkungan
global seperti terjadinya pemanasan global. Emisi CO2 merupakan
sumber terbesar yang bertanggung jawab terhadap terjadinya pemanasan
global. Emisi CO2 tidak berhubungan langsung dengan kesehatan.
Pengaruh partikel emisi terhadap kesehatan dan lingkungan secara
ringkas dijelaskan pada Tabel 1.

Tabel 1. Pengaruh Partikel Emisi Terhadap Kesehatan dan


Lingkungan (Princiotta, 1991)

10
Berdasarkan hasil proyeksi penggunaan energi dapat dibuat proyeksi
emisi CO2 berdasarkan tetapan emisi yang dikeluarkan oleh IPCC
(Intergovermental Panel on Climate Change). Pada Gambar 3
ditunjukkan proyeksi emisi CO2 karena penggunaan energi di Indonesia
selama kurun waktu 1995 - 2025. Pada tahun 1995 total emisi CO2
sebesar 156 juta 6 ton per tahun dan meningkat menjadi 1.077 juta ton
per tahun pada tahun 2025 atau meningkat rata-rata sebesar 6,6 % per
tahun dalam kurun waktu 30 tahun.

Grafik 1. Proyeksi Emisi CO2

Berdasarkan World Development Report 1998/99 dari Bank Dunia,


total emisi CO2 dunia pada tahun 1995, baik berasal dari penggunaan
energi maupun dari sumber lain sebesar 22.700 juta ton. Negara yang
mempunyai emisi CO2 terbesar adalah Amerika Serikat yaitu sebesar
5.468 juta ton atau sebesar 24,1 % dari total emisi CO2 dunia, sedangkan
Indonesia mempunyai emisi sebesar 296 juta ton atau sebesar 1,3 % dari

11
total emisi CO2 dunia. Pada Gambar 4 ditampilkan emisi CO2 dari
negara-negara yang dipilih. Meskipun Indonesia belum mempunyai
kewajiban untuk mengurangi emisi CO2 ini, namun sebagai anggota
masyarakat global, Indonesia turut serta berinisiatif melakukan studi dan
membuat strategi untuk menguranginya.

Gambar 2. Emisi CO2 dari Negara-Negara yang Dipilih (1995)

2.2 Lingkungan Hidup

2.2.1 Definisi Lingkungan Hidup

Menurut Undang Undang No. 23 Tahun 1997[1], lingkungan hidup


adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk
hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi
kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk
hidup lain. Sedangkan ruang lingkup lingkungan hidup Indonesia meliputi
ruang, tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber Wawasan
Nusantara dalam melaksanakan kedaulatan, hak berdaulat, dan
yurisdiksinya.Dalam lingkungan hidup terdapat ekosistem, yaitu tatanan
unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan
saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan
produktivitas lingkungan hidup.Merujuk pada definisi di atas, maka
lingkungan hidup Indonesia tidak lain merupakan Wawasan Nusantara,
yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan
iklim tropis dan cuaca serta musim yang memberikan kondisi alamiah dan

12
kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya, tempat bangsa
Indonesia menyelenggarakan kehidupan bernegara dalam segala aspeknya.

2.2.2 Penyebab Kerusakan Lingkungan Hidup

Saat ini perkembangan dan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan


Teknologi atau yang sering disebut Iptek memang memberikan dampak
yang positif bagi kehidupan, yaitu dapat menyederhanakan dan
mempermudah aktivitas-aktivitas dalam kehidupan.Namun, tidak hanya
dampak positif saja yang diberikan oleh kemajuan di bidang iptek ini,
tetapi juga dampak-dampak negatif.Penyebab daripada kerusakan
lingkungan diantaranya asap dari kendaraan bermotor dapat menyebabkan
polusi dan gas rumah kaca apabila kadarnya telah berlebih, pembakaran
fosil seperti pada pembangkitan tenaga listrik, kendaraan bermotor, AC,
computer, pembakaran hutan juga menyebabkan konsentrasi gas rumah
kaca meningkat.Pemakaian bahan bakar fosil yang menghasilkan
kontributor pemanasan global yaitu Karbondioksida (CO2), metana (CH4)
yang dihasilkan agrikultur dan peternakan (terutama dari sistem
pencernaan hewan-hewan ternak), nitrogen oksida (NO) dari pupuk, dan
gas-gas yang digunakan untuk kulkas dan pendingin ruangan (CFC).
Dimana gas-gas tersebut sangat sulit untuk diuraikan di atmosfer bumi.
Rusaknya hutan-hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyimpan CO2
juga makin memperparah keadaan ini karena pohon-pohon yang mati akan
melepaskan CO2 yang tersimpan di dalam jaringannya ke atmosfer.
Penyumbang terbesar kerusakan lingkungan hidup secara menyeluruh,
adalah polusi yang ditimbulkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, seperti
batubara, bahan bakar minyak, dan gas alam secara besar-besaran.Dari
pembakaran itu berakibat terjadinya emisi rumah kaca sebagai penyebab
pemanasan global.

13
2.2.3 Dampak dari Kerusakan Lingkungan Hidup

Dampak kerusakan lingkungan hidup seperti pemanasan global, saat


kini sudah mulai dirasakan di berbagai belahan bumi ini.Seperti terjadinya
peningkatan suhu udara, permukaan air laut naik, yang bisa
menenggelamkan pulau-pulau kecil, dan daratan di sekitar pantai,
terjadinya perubahan iklim, yang kini sudah terjadi di beberapa tempat
termasuk di negeri ini.Menurut sumber-sumber yang bisa dipercaya,
keganasan topan yang akhir-akhir ini suka melanda salah satu bagian di
daratan Amerika, diprediksi oleh para ahli sebagai efek dari pemanasan
global.
 Global Warming
Efek rumah kaca adalah proses masuknya radiasi dari sinar
matahari dan karena ada GRK maka radiasi tersebut terjebak di
dalam atmosfer sehingga menaikkan suhu permukaan bumi. GRK
inilah yang menyerap gelombang panas dari sinar matahari yang
dipancarkan bumi. GRK yang penting ialah CO2, Methane (CH4),
Nitrous Oxide (N2O), Chloroflourocarbon (CFC) (yang dapat
dibagi menjadi dua, yaitu: Haloflourocarbon (HFC) dan
Perfluorocarbon (PFC)), dan Sulfur Hexafluoride (SF6).
Sumbangan terjadinya pemanasan global yang terbesar adalah CO2
sebesar 61 %, diikuti oleh CH4 sebesar 15 %, CFC sebesar 12 %,
N2O sebesar 4 % dan sumber lain sebesar 8 % (Callan, 2000).
Yang menjadi sumber utama dari emisi CO2 adalah penggunaan
energi dan penggundulan hutan. Untuk selanjutnya dalam makalah
ini faktor yang mempengaruhi pemanasan global hanya ditinjau
dari emisi CO2 akibat penggunaan energi.
Radiasi sinar matahari yang terjebak akan memberi
kehangatan bagai makhluk hidup di bumi. Efek ini sebenarnya
bukanlah sesuatu yang buruk. Justru dengan efek ini memberikan
kesempatan adanya kehidupan di bumi. Kalau tidak ada efek

14
rumah kaca maka suhu rata-rata permukaan bumi bukanlah 15 oC
seperti sekarang tetapi –18 oC. Yang menjadi masalah adalah
jumlah GRK ini bertambah secara berlebihan sehingga bisa
mengakibatkan kerusakan lingkungan secara global. GRK yang
bertambah secara berlebihan ini akan menahan lebih banyak radiasi
dari pada yang dibutuhkan oleh kehidupan di bumi, sehingga
terjadi gejala yang disebut pemanasan global. Dampak dari
pemasan global ini antara lain yaitu: suhu air laut naik, perubahan
pola iklim seperti curah hujan, perubahan frekuensi dan intensitas
badai, dan tinggi permukaan air laut naik karena mencairnya es di
kutub. Secara lengkap GRK yang menjadi sebab terjadinya
pemanasan global ditunjukkan pada Tabel 3. Setiap GRK
mempunyai potensi pemanasan global (Global Warming Potential
- GWP) yang diukur secara relatif berdasarkan emisi CO2 dengan
nilai 1. Makin besar nilai GWP makin bersifat merusak.
Beberapa studi telah dilakukan untuk membuat estimasi
keuntungan bila dilakukan pencegahan terjadinya pemanasan
global. Ada dua studi yang penting yaitu dari OECD (Organisation
of Economic Co-operation and Development) di Paris dan studi
dari ekonom Wilfred Beckerman. Studi yang pertama membuat
estimasi biaya untuk menanggulangi akibat pemanasan global baik
untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

15
1. Penyebab Terjadinya Global Warming
a. Polusi Karbondioksida Dari Pembangkit Listrik Bahan
Bakar Fosil
Ketergantungan kita yang semakin meningkat pada
listrik dari pembangkit listrik bahan bakar fosil membuat
semakin meningkatnya pelepasan gas karbondioksida sisa
pembakaran ke atmosfer. Sekitar 40% dari polusi
karbondioksida dunia, berasal dari produksi listrik Amerika
Serikat. Kebutuhan ini akan terus meningkat setiap harinya.
Sepertinya, usaha penggunaan energi alternatif selain fosil
harus segera dilaksanakan. Tetapi, masih banyak dari kita
yang enggan untuk melakukan ini.

b. Polusi Karbondioksida Dari Pembakaran Bensin Untuk


Transportasi.
Sumber polusi karbondioksida lainnya berasal dari
mesin kendaraan bermotor. Apalagi, keadaan semakin
diperparah oleh adanya fakta bahwa permintaan kendaraan
bermotor setiap tahunnya terus meningkat seiring dengan
populasi manusia yang juga tumbuh sangat pesat.
Sayangnya, semua peningkataan ini tidak diimbangi
dengan usaha untuk mengurangi dampak.

c. Gas Metana Dari Peternakan & Pertanian.


Gas metana menempati urutan kedua setelah
karbondioksida yang menjadi penyebab terdinya efek
rumah kaca. Gas metana dapat bersal dari bahan organik
yang dipecah oleh bakteri dalam kondisi kekurangan
oksigen, misalnya dipersawahan. Proses ini juga dapat
terjadi pada usus hewan ternak, dan dengan meningkatnya

16
jumlah populasi ternak, mengakibatkan peningkatan
produksi gas metana yang dilepaskan ke atmosfer bumi.

d. Aktivitas Penebangan Pohon


Seringnya penggunaan kayu dari pohon sebagai bahan
baku membuat jumlah pohon kita makin berkurang.
Apalagi, hutan sebagai tempat pohon kita tumbuh semakin
sempit akibat beralih fungsi menjadi lahan perkebunan
seperti kelapa sawit. Padahal, fungsi hutan sangat penting
sebagai paru-paru dunia dan dapat digunakan untuk
mendaur ulang karbondioksida yang terlepas di atmosfer
bumi.

e. Penggunaan Pupuk Kimia Yang Berlebihan


Pada kurun waktu paruh terakhir abad ke-20,
penggunaan pupuk kimia dunia untuk pertanian meningkat
pesat. Kebanyakan pupuk kimia ini berbahan
nitrogenoksida yang 300 kali lebih kuat dari
karbondioksida sebagai perangkap panas, sehingga ikut
memanaskan bumi. Akibat lainnya adalah pupuk kimia
yang meresap masuk ke dalam tanah dapat mencemari
sumber-sumber air minum kita.
2. Akibat dari Global Warming
Air bersih semakin sulit didapat (hanya 20% penduduk
dunia yang dapat memperolehnya). Badai semakin sering
terjadi, penyakit baru bermunculan, kita telah kehilangan lebih
dari 1000 spesies dalam waktu singkat, es di kutub mencair dan
permukaan air laut meningkat, dan masih banyak lagi.
3. Cara Menangulangi Global Warming
Melihat luasnya dampak negatif yang akan ditimbulkan
oleh isu pemanasan global ini, maka ada baiknya manusia

17
mulai memikirkan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk
mengurangi pemanasan global. Baik secara individu, kelompok
maupun masyarakat.Ada beberapa cara ampuh mengurangi dan
mengatasi pemanasan global yaitu :
1. Program Menanam Pohon
Kampanye pun sudah di lakukan oleh pemerintah pusat dan
daerah, perusahaan besar pun sudah mengalokasikan
dana Corporate Social Responsibiliy (CSR)-nya untuk
menanam pohon. Tidak sampai di situ saja, banyak gerakan
organisasi masyarakat yang gemar menggalakan menaman
pohon, bahkan ada yang dengan suka rela membagi pohon
gratis untuk di tanam setiap rumah. Kini banyak pihak
yang sepakat bahwa menanam pohon adalah satu cara untuk
mencegah pemanasan global. Hanya saja, perlu lebih baik
lagi dalam perencanaan dan pelaksanaannya.
2. Kurangi Bangunan Rumah Kaca
Banyaknya bangunan rumah kaca membuat suhu panas bisa
meningkat beberapaderajat celcius. Oleh sebab itu, harus di
kurangi, harus ada kebijakan pemerintah yang tegas tentang
pembangunan gedung-gedung yang mencoba mencakar langit
(walau tida bisa). Aspirasi ini harus terus di sampaikan, kalau
bisa pemerintah memberikan denda kepada pengembang
properti (developer) yang membangun rumah tanpa
menganalisa tentang dampak lingkungan dalam proyek
mereka.
3. Cerdas Dalam Berkendara
jika Anda punya kantor atau sekolah yang bisa di tempuh
dengan berjalan kaki, maka itu lebih baik di lakukan dengan
jalan kaki, jangan malah menaiki mobil. Sama – sama kita
ketahui bahwa sebab pemanasan global karena CO2 yang di
keluarkan dari bahan bakar kendaraan bermotor.

18
4. Hemat Listrik
Listrik juga menjadi faktor dalam menaikan suhu panas.
Jika demikian alangkah bijaknya untuk membiasakan hemat
listrik. Seperti di rumah, ketika siang hari mematikan alat
listrik yang tidak digunakan lagi. Memang harus massal di
lakukan, bukan hanya oleh peorangan saja. Sangat
disayangkan masih ditemukan banyaknya lampu jalan yang
menyala di siang hari. Dalam hal ini pemerintah belum
menjadi contoh bagi masyarakat. Tapi tidak salah jika kita
mulai dari diri kita sendiri, keluarga, tetangga dan seterusnya.
Mudah- mudahan generasi masa depan bisa cerdas dan hemat
dalam penggunaaan listrik.

5. Saluran Ventilasi Rumah Yang Cukup

Jika Anda mau mencegah pemansan global masuk


kerumah, maka yang Anda lakukan selain memasang AC,
adalah memperbanyak saluran ventilasi di rumah. Supaya
angin bisa masuk kedalam rumah dan memberikan
kesejukan. Dan supaya angin tetap banyak masuk kerumah
Anda, maka jangan lupa Anda menanam pohon di
pekarangan rumah Anda.
6. Membersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat
penerangan hingga 5%).

19
7. Kurangi penggunaan AC. Jika terpaksa memakai AC (tutup
pintu dan jendela selama AC menyala. Atur suhu sejuk
secukupnya, sekitar 21-24o C) & alihkan panas limbah mesin
ACtadi untuk mengoperasikan water-heater.
8. Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik
ketimbang memakai mesin (dryer) yang banyak
mengeluarkan emisi karbon.
9. Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).
10. Kurangilah penggunaan sampah plastik. Hampir semua
sampah plastic menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar.
Atau Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk
didaur ulang kembali. Lebih baik bawa tas yang bisa dipakai
ulang untuk mengurangi penggunaan plastik.
11. Kurangilah konsumsi daging.Berdasarkan penelitian, untuk
menghasilkan 1 kg daging, sumber daya yang dihabiskan
setara dengan 15 kg gandum. Bayangkan bagaimana kita bisa
menyelamatkan bumi dari kekurangan pangan jika kita
bervegetarian.
12. Hindari makan makanan fast food. Fast food merupakan
penghasil sampah terbesar di dunia.
13. Jangan membeli bunga potong.Jika daerah Anda bukan
penghasil bunga hias, maka bisa dipastikan bunga itu dikirim
dari tempat lain. Hal ini akan menghasilkan “jejak karbon”
yang besar.

2.3 Kaitan Energi dan Lingkungan Terhadap Global Warming

Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungan tempat manusia


tumbuh dan tinggal. Lingkungan bahkan menjadi faktor utama bagi
perkembangan manusia. Isu lingkungan mulai bermunculan pada abad
modern sekarang ini di mana industri sudah tidak bisa dipisahkan lagi dari

20
kehidupan dan kebutuhan manusia. Terlepas dari berbagai fenomena
kerusakan lingkungan secara alami karena bencana alam seperti badai, gempa
bumi, dan sebagainya, pengelolaan yang salah telah menimbulkan banyak
masalah lingkungan yang dampaknya akan segera dirasakan dalam waktu
yang singkat.
Salah satu fenomena kerusakan lingkungan yang menjadi ancaman global
adalah kelangkaan energi. Tidak bisa dipungkiri, era globalisasi ditunjukan
dengan perkembangan berbagai teknologi yang mempermudah pemenuhan
kebutuhan manusia. Berbagai fasilitas hidup tidak dihadirkan secara
traditional lagi. Mesin-mesin sebagai bagian dari berbagai peralatan/teknologi
telah berkembang secara pesat. Dalam hal ini mesin-mesin seperti pada dunia
industri/pabrik dan kendaraan bermotor membutuhkan bahan bakar minyak
ataupun gas. Era globalisasi ditunjukan dengan pesatnya persebaran
penggunaan teknologi tersebut.
Sebagaimana yang kita ketahui minyak dunia sebagai energi untuk
kebutuhan hidup manusia sifatnya tak terbarukan. Energi yang demikian
diperoleh dari sumber daya alam yang waktu pembentukannya sampai jutaan
tahun. Dikatakan tak terbarukan karena, apabila sejumlah sumbernya
dieksploitasikan, maka untuk mengganti sumber sejenis dengan jumlah sama,
baru mungkin atau belum pasti akan terjadi jutaan tahun yang akan datang.
Hal ini karena, di samping waktu terbentuknya yang sangat lama, cara
terbentuknya lingkungan tempat terkumpulkan bahan dasar sumber energi ini
pun tergantung dari proses dan keadaan geologi saat itu.
Ketika kebutuhan akan bahan bakar minyak menjadi sebuah kebutuhan
global, di mana semua negara di dunia membutuhkannya untuk
keberlangsungan hidup, hal itu akan menjadi ancaman di masa selanjutnya.
Energi yang berasal dari bumi tersebut memiliki jumlah yang terbatas. Yang
dimaksud dengan terbatas di sini adalah walaupun jumlahnya melimpah akan
tetapi ketika di ambil dan bahkan di eksploitasi secara terus menerus maka
tentunya akan berkurang. Pada tahap selanjutnya bisa diprediksi akan habis,

21
sementara untuk mendapatkannya kembali membutuhkan waktu yang sangat
lama.
Sementara itu industrialisasi dan teknologi kendaraan telah
menyumbangkan kerusakan alam secara global. Banyaknya emisi gas yang
dihasilkan memunculkan sebuah fenomena. Temperatur global meningkat
dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca yang disebabkan oleh
meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4),
dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam
atmosfer bumi. Fenomena itulah yang kita sebut sebagai pemanasan global
(global warming).
Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata
atmosfer, laut dan daratan bumi. Temperatur rata-rata global pada permukaan
bumi telah meningkat 0.18 °C selama seratus tahun terakhir.
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa,
sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan
abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi
gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia melalui efek rumah kaca.1
Peningkatan temperatur global diperkirakan akan menyebabkan
perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut,
meningkatnya intensitas kejadian cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah
dan pola hujan. Pada intinya, pemanasan global merupakan peningkatan
temperatur di planet bumi secara global, meliputi peningkatan temperatur
atmosfer, temperatur laut dan temperatur daratan bumi.

2.3.1 Keterkaitan Energi dan Lingkungan Hidup

Tidak bisa disanggah lagi kalau di era kini, segala aktivitas yang
dilakukan masyarakat modern sangat ketergantungan kepada ketersediaan
energi. Kemajuan suatu negara akan sangat terkait dengan kecukupan

22
ketersediaan energi di negara tersebut.Sebut saja negara-negara maju
seperti Amerika, Jepang, dan negara-negara Eropa lainnya, bahkan
Korea.Ketersediaan energi di negara-negara tersebut sangat memadai
untuk melakukan kegiatan di berbagai bidang yang bisa diandalkan untuk
pembangunan bangsa dan negaranya.Namun dalam pengadaan energi
tentu saja harus memperhatikan factor kelestarian lingkungan hidup.
Lingkungan hidup suatu negara akan sangat berkaitan dengan negara lain,
karena kita tinggal di bumi yang sama. Sebab itu pula setiap negara sangat
berkewajiban untuk sungguh-sungguh memperhatikan dan mencegah hal-
hal yang bisa menjadi penyebab kerusakan lingkungan hidup.

2.3.1.1 Perubahan Bahan Bakar Fosil


Perubahan energi dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya dengan berbagai
cara sering mempengaruhi lingkungan dan udara yang kita hirup, dan dengan
demikian mempelajari energi tidaklah lengkap tanpa mempertimbangkan
dampaknya terhadap lingkungan . Bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak
bumi, dan gas alam telah memotori perkembangan industri dan fasilitas
kehidupan modern yang kita nikmati sekitar awal abad 19, tetapi semua ini
tidaklah tanpa efek samping yang tidak diinginkan. Dari tanah yang kita tanam
dan air yang kita minum sampai udara yang kita hirup, lingkungan telah
menerima dampak yang sangat besar untuk semua itu. Polutan yang dihasilkan
pada pembakaran fosil merupakan faktor terbesar terjadinya asap, hujan asam, dan
pemanasan global dan perubahan iklim5). Polusi lingkungan telah melampaui
batas ambang dimana menjadi ancaman yang serius bagi tanaman, satwa liar, dan
kesehatan manusia. Polusi udara telah menjadi penyebab berbagai masalah
kesehatan termasuk asma dan kanker. Diperkirakan lebih dari 60.000 orang di
Amerika Serikat meninggal dunia setiap tahunnya karena penyakit jantung dan
paru- paru yang berkaitan dengan polusi udara.

Ratusan unsur dan senyawa, seperti benzena dan formaldehid diketahui


teremisi pada pembakaran batubara, minyak bumi, gas alam, dan kayu di

23
pembangkit-pembangkit tenaga listrik, mesin kendaraan, tungku pembakaran, dan
bahkan perapian. Beberapa senyawa ditambahkan ke bahan bakar cair untuk
berbagai alasan (seperti MTBE atau methyl tertiary buthyl ether yang digunakan
untuk meningkatkan angka oktan pada bahan bakar dan juga oksigenasi bahan
bakar pada musim dingin untuk mengurangi asap perkotaan), yang mana dapat
menggangu kesehatan mata dan pernapasan. Sumber terbesar polusi udara adalah
dari kendaraan bermotor, dan polutan yang dikeluarkan oleh kendaraan biasanya
dikelompokkan sebagai hidrokarbon (HC), nitrogen oksida (NOx), dan karbon
monoksida (CO) (Gbr 1). Emisi HC merupakan komponen besar dari emisi
senyawa volatil organik (VOCs), dan ini umumnya digunakan secara bergantian
untuk emisi kendaraan bermotor. Sebagian besar dari emisi VOC atau HC
disebabkan oleh penguapan pada saat pengisian bahan bakar atau tumpahan ketika
spitback atau oleh penguapan dari tangki gas karena penutup yang tidak tertutup
rapat. Pelarut, bahan pembakar, dan produk pembersih untuk rumah tangga yang
mengandung benzena, butana, atau produk HC lainnya juga merupakan sumber
penting dari emisi HC.

Gambar 2. Emisi gas Kendaraan

Peningkatan pencemaran lingkungan pada tingkat yang mengkhawatirkan dan


peningkatan kewaspadaan dari bahayanya itu sendiri, membuat perlu
dilakukannya pengendalian pencemaran lingkungan dengan menggunakan
undang-undang dan kesepakatan internasional. di Indonesia ada AMDAL. Di
Amerika Serikat, Undang- Undang Udara Bersih (The Clean Air Act) pada tahun
1970 (di daerah yang ditandai dengan asap selama 14 hari di Washington pada

24
tahun itu) menetapkan batas polutan yang dihasilkan pembangkit-pembangkit
besar dan kendaraan. Standar ini difokuskan pada emisi hidrokarbon, nitrogen
oksida, dan karbon monoksida4). Mobil-mobil baru harus

memiliki alat konversi katalis (catalytic converter) pada sistem pembuangannya


untuk mengurangi emisi HC dan CO. Sebagai manfaat lain, pemisahan timbal
dari bensin pada catalytic converter menyebabkan penurunan yang drastis pada
emisi timbal beracun.

Seperti di Amerika Serikat batas emisi untuk HC, NO, dan CO dari mobil telah
menurun secara berkala sejak tahun 1970. The Clean Air Act tahun 1990
membuat persyaratan yang lebih ketat tentang emisi, terutama untuk ozon, CO,
Nitrogen Dioksida, dan unsur partikel (PM). Sebagai hasilnya, sekarang ini
fasilitas industri dan kendaraan menghasilkan sebagian kecil dari polutan sama
seperti yang mereka hasilkan beberapa dekade yang lalu. Emisi HC dari mobil.
Contohnya, penurunan dari sekitar 5 gpkm (gram per km) pada tahun 1970
menjadi 0,25 gpkm pada tahun 1980 dan sekitar 0,06 gpkm pada tahun 1999. Ini
adalah penurunan yang drastis karena sebagian besar gas beracun yang dihasilkan
dari kendaraan bermotor dan bahan bakar cair adalah hidrokarbon4).

Anak-anak sangat rentan terhadap dampak yang dihasilkan oleh polusi udara
karena organ tubuh mereka masih dalam masa perkembangan. Mereka juga
terkena polusi yang lebih banyak karena mereka lebih aktif, dan bernapas lebih
cepat. Orang yang mempunyai masalah dengan jantung dan paru-paru, terutama
asma, faktor terbesarnya adalah disebabkan oleh polusi udara. Hal ini menjadi
jelas jika tingkat polusi udara di lingkungan mereka mencapai tingkat yang sangat
tinggi.

2.3.1.2 Polutan yang dihasilkan pada pembakaran bahan bakar fosil


Asap Dan OzonJika anda tinggal di daerah metropolitan seperti Los
Angeles, anda mungkin terbiasa dengan asap perkotaan – asap berwarna kuning
gelap atau kecoklatan yang membentuk gumpalan udara yang mengambang di
daerah-daerah berpenduduk pada hari musim panas2). Asap sebagian besar terdiri

25
dari lapisan bawah ozon (O3), tetapi juga banyak mengandung unsur-unsur kimia
lainnya, termasuk karbon monoksida (CO), unsur partikel seperti debu, senyawa
volatil organic (VOCs) seperti benzene, butane, dan hidrokarbon lainnya. Lapisan
bawah ozon yang berbahaya jangan disamakan dengan lapisan ozon yang
berguna di stratosfer untuk melindungi bumi dari sinar ultraviolet matahari yang
berbahaya. Ozon di bagian permukaan tanah merupakan polutan dengan beberapa
pengaruh yang merugikan kesehatan. Sumber utama nitrogen oksida dan
hidrokarbon adalah kendaraan bermotor. Hidrokarbon dan nitrogen oksida
bereaksi terhadap sinar matahari pada hari yang cerah untuk membentuk lapisan
bawah ozon, yaitu komponen utama dari asap. Puncak dari pembentukan asap

biasanya pada sore hari saat suhu tertinggi dan banyak sinar matahari. Meskipun
lapisan bawah asap dan ozon terbentuk di daerah perkotaan dengan lalu lintas
yang padat atau daerah industri, namun angin yang bertiup dapat membawanya
beberapa ratus mil ke kota lain. Ini menunjukkan bahwa polusi tidak mengenal
batas, dan merupakan masalah global.

Gambar 3. Polutan pembakaran bahan bakar fosil

26
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil diskusi kami dapat disimpulkan bahwa :

1. Perubahan energi dari satu bentuk ke bentuk lainnya seperti proses


pembakaran, emisi gas buang, dan emisi gas pada industri dapat
menyebabkan terjadinya pemanasan global
2. Pemanasan global terjadi dikarekan pengumpulan gas – gas emisi ( CO2,
NOx, SOx, dan CH4) pada atmosfer yang akan memantulkan kembali panas
ke permukaan bumi

3.2 Saran
Penyaji masih merasa bahhwa dalam penulisan dan kelengkapan materi masih
terdapat kekurangan, untuk itu perlu diadakan diskusi dan bimbingan kepada
dosen pengampuh agar materi yang disampaikan telah memenuhi garis – garis
besar yang ada

27
DAFTAR PUSTAKA

Reed, S. Environment and Security. 2007.


http://www.climate.org/topics/environmental-security/index.html,
diakses 10 September 2018

Warrick, J. and Pincus, W. (2008, September 10). Reduced Dominance Is


Predicted for U.S. The Washington Post.
http://www.washingtonpost.com/wp-
dyn/content/article/2008/09/09/AR2008090903302.html diakses tanggal
10 September 2018

https://www.academia.edu/9394728/ENERGI_DAN_MANFAATNYA_BAGI_M
ANUSIA(diakses tanggal 10 September 2018)

https://yukez.wordpress.com/2009/02/12/definisi-lingkungan-hidup/(diakses
tanggal 10 September 2018)

http://artechno02.blogspot.com/2016/11/pengertian-energi-bentuk-
energi.html(diakses tanggal 10 September 2018)

http://energilingkunganhidupkita.blogspot.com/2011/05/keterkaitan-energi-dan-
lingkungan-hidup.html(diakses tanggal 10 September 2018)

Astra, I Made. 2010. Jurnalistik ENERGI DAN DAMPAKNYA TERHADAP


LINGKUNGAN. Jakaarta. Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Jakarta

iii