Anda di halaman 1dari 12

JOURNAL READING

Lifetime Risk of Blindness in Open-Angle Glaucoma


Tugas Kepanitraan Klinik
Bagian Ilmu Penyakit Mata RST Dr. Soedjono Magelang
Periode 21 Mei – 30 Juni 2018

Pembimbing:
dr. Dwidjo Pratiknjo, Sp.M
dr. YB. Hari Trilunggono, Sp.M

Disusun oleh :
Syifa Silviyah 1710221036

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAKARTA
2018
LEMBAR PENGESAHAN
JOURNAL READING
Lifetime Risk of Blindness in Open-Angle Glaucoma
Disusun dan diajukan untuk memenuhi persyaratan tugas
Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Penyakit Mata
Rumah Sakit Tk.II dr. Soedjono Magelang

Oleh :
Syifa Silviyah 1710221036

Magelang, Juni 2018


Telah dibimbing dan disahkan oleh,

Pembimbing,

(dr. Dwidjo Pratiknjo, Sp.M) (dr. YB. Hari Trilunggono, Sp.M)


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat dan karunia-Nya lah penulis dapat menyelesaikan Journal Reading yang
berjudul “Lifetime Risk of Blindness in Open-Angle Glaucoma”. Journal Reading
ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu
Penyakit Mata.
Penyusunan tugas ini terselesaikan atas bantuan dari banyak pihak yang
turut membantu terselesaikannya laporan ini. Untuk itu, dalam kesempatan ini
penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr.
Dwidjo Pratiknjo, Sp.M dan dr. Hari Trilunggono, Sp.M selaku pembimbing dan
seluruh teman kepaniteraan klinik Ilmu Penyakit Mata atas kerjasamanya selama
penyusunan tugas ini.

Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca


guna perbaikan yang lebih baik. Semoga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi
penulis sendiri, pembaca maupun bagi semua pihak-pihak yang berkepentingan.

Magelang, Juni 2018

Penulis
Resiko Kebutaan Pada Glaukoma Sudut Terbuka

Tujuan : Untuk menentukan risiko seumur hidup dan durasi kebutaan pada pasien
glaukoma sudut terbuka
Desain : Retrospektif
Metode : Peneliti mempelajari pasien glaukoma yang meninggal dari Januari
2006 sampai Juni 2010. Sebagian besar pasien glaukoma tinggal di kota Malmo
(n=305.000), daerah ini merupakan daerah yang dikelola oleh Departemen
Oftalmologi di Skane University Hospital di Malmo. Berdasarkan data rekam
medis, kami memperoleh data status lapang pandang, ketajaman penglihatan, dan
penurunan ketajaman penglihatan atau kebutaan sesuai kriteria WHO dan yang
disebabkan oleh glaukoma. Peneliti juga mencatat usia saat diagnosis, kematian
pasien dan waktu ketika terjadinya penrunan tajam penglihatan atau kebutaan.
Hasil : 592 pasien yang dilibatkan. Pada saat kunjungan terakhir terdapat 250
pasien (42%) menderita kebutaan pada salah satu matanya akibat glaukoma, 97
pasien (16.4%) memiliki kebutaan pada kedua mata dan 12 pasien (0.5%)
memiliki penurunan ketajaman mata. Median waktu dengan diagnosis glaukoma
adalah 12 tahun, usia rata-rata mulai terjadinya kebutaan bilateral adalah usia 86
tahun, dan waktu rata-rata terjadinya kebutaan bilateral adalah 2 tahun. Insiden
kumulatif kebutaan pada salah satu mata dan kebutaan bilateral akibat glaucoma
adalah 26.5% dan 5.5% masing-masing setelah 10 tahun 38.1% dan 13.5% setelah
20 tahun.
Kesimpulan : 1 dari 6 pasien glaukoma menderita buta bilateral pada kunjungan
terakhir. Durasi rata-rata kebutaan bilateral yaitu 2 tahun. (Am J Ophtalmol
20113;156:724-730.)

Risiko terjadinya gangguan penglihatan pada glaukoma merupakan


pertanyaan terpenting pada awal diagnosa pasien dengan glaukoma. Hal ini sudah
diketahui bahwa glaukoma sudut terbuka merupakan alasan utama terjadinya
kebutaan dan glaukoma merupakan etiologi terpenting kedua penyebab kebutaan
di dunia. Sudah terdapat beberapa penelitian mengenai risiko kebutaan pada
glaukoma, namun masih sedikit yang meneliti dengan mengikuti pasien glaukoma
sampai meninggal.
Peneliti mempunyai akses data yang besar dan memiliki perwakilan pada
pasien yang didiagnosa glaukoma di daerah binaan mereka (populasi 305.000).
Hal ini memberikan keuntungan pada penelitian ini untuk mengetahui risiko
penurunan ketajaman penglihatan dan kebutaan pada pasien dengan glaukoma
sudut terbuka serta waktu terjadinya gangguan penglihatan akibat dari glaucoma.

METODA
Penelitian retrospektif ini dilakukan mengikuti ajaran deklarasi Helsinki.
Regional Ethical Review Board of Lund Sweden telah menyetujui penggunaan
grafik retrospektif dan penggunaan data yang diperoleh.
Sekitar ¾ pasien yang sudah didiagnosis glaukoma dan di ikuti di Skane
University Hospital, Malmo. Pasien dengan gangguan penglihatan yang permanen
dirujuk ke Habilitation and Assistive Technology Service di Malmo. Peneliti
menggunakan pasien di dua rumah sakit termasuk di Habilitation and Assistive
Technology Service untuk mengidentifikasi pasien dengan manifestasi glaukoma
dengan kehilangan lapang pandang. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah
pasien yang meninggal pada tanggal 1 Januari 2006 sampai 30 Juni 2010, dengan
syarat pasien dengan glaukoma sudut terbuka primer (POAG) atau glaukoma
exofoliatif (PEXG). Pasien dengan glaukoma tipe lain termasuk kriteria eksklusi.
Data yang dicatat yaitu ketajaman penglihatan dan tes lapang pandang pasien
selama 3 tahun sebelum pasien meninggal. Pasien yang sudah mengalami
kebutaan pada kunjungan terakhirnya dimasukkan ke dalam kriteria inklusi
walaupun waktu diantara kunjungan terakhir dan waktu meninggalnya pasien
melebihi 3 tahun.
Pasien dibagi dalam 2 kelompok pada penelitian ini : kelompok pertama
yaitu pasien yang pertama kali dan menjalani pemeriksaan teratur di Skane
University Hospital, sehingga peneliti dapat memperoleh data ketajaman
penglihatan, lapang pandang penglihatan, dan usia saaat pasien terdiagnosis.
Kelompok kedua merupakan pasien yang sudah didiagnosis glaukoma di rumah
sakit lain dan di rujuk ke Skane University Hospital yang tinggal menjalani
perawatan. Untuk melengkapi data pada pasien ini, peneliti mengambil dari hasil
pertama pemeriksaan. Disini, peneliti membagi menjadi kelompok dengan data
yang didiagnosis sejak awal dan kelompok yang hanya follow up saja.
Data yang dibutuhkan oleh peneliti yaitu usia, usia saat meninggal, dan
waktu antara kunjungan terakhir dan waktu meninggalnya. Kelompok pasien yang
didiagnosis sejak awal sejumlah 423/592 (71.5%) dengan tipe glaukoma (POAG
atau PEXG), usia saat didiagnosis, dan berapa tahun sudah terdiagnosis glaukoma.
Jika terdapat exfoliasi sindrom peneliti masukkan ke dalam data penelitian jika
terdiagnosis berbarengan dengan diagnosis glaukoma atau 1 tahun setelahnya. Di
samping itu, tersedia data untuk melengkapi data exfoliasi sindrom di mata yang
telah menjalani operasi katarak sebelum diagnosis glaucoma ditegakkan
Syarat diagnosis glaucoma yaitu : 1. Menunjukan defek pada lapang
pandang yang berulang yang konsisten dengan glaucoma yang tidak disebabkan
oleh penyakit lain, 2. Hanya 1 uji lapangan pandang penglihatan tetapi dengan
defek pada lapang pandang yang konsisten dengan glaukoma dan sesuai dengan
kelainan pada optic disc. Atau 3. Sudah terjadi kebutaan (tajam penglihatan <0.05)
pada saat didiagnosis glaukoma.
Pasien yang termasuk criteria eksklusi yaitu pasien yang memiliki
penyakit lain yang membuat mustahil untuk menegakkan diagnosis glaukoma
dengan pasti atau untuk menentukan penurunan lapang pandang disebabkan oleh
glaucoma atau tidak ( co/ pasien dengan drusen disk optic atau endokrin
oftalmopaty).
Pasien secara rutin diikuti dengan standar otomatis perimetry
menggunakan perimeter Humphrey ( Carl Zeiss Meditec , Dublin , California ,
USA ) 30-2 atau 24-2 Full-Threshold atau program SITA. Defek visual lapang
pandang yang didefinisikan sebagai glaukoma jika mereka menunjukkan pola
yang konsisten dengan glaukoma ( misalnya, nasal step atau paracentral atau cacat
arkuata). Selain itu, Glaukoma Hemifield Test ( GHT ) telah diklasifikasikan
sebagai “borderline” atau “outside normal limits”. Lapang pandang dikatakan
positif palsu jika tanggapan yang kurang dari 15 % dan dikatakan buta jika pada
cetakan lapang pandang (thresholdvalue < 10 dB ). Mata Nonglaucomatous tanpa
pengukuran lapang pandang pada diagnosis, ditetapkan untuk sebuah mean
deviasi( MD ) yaitu dengan nilai 0 dB , menunjukkan bidang visual yang normal.
Dengan menggunakan criteria WHO untuk criteria penurunan penglihatan
(0.05[20/400] < VA < 0.3 [20/60] and/or 10 0< central VF < 200) dan kebutaan
( VA< 0,05 [20/400 ] dan / atau pusat VF < 10 derajat ), kita mendefinisikan 4
kategori penurunan penglihatan dan kebutan dengan penyebab utama glaukoma:
1. Penurunan visus unilateral 2.penurhnan visus bilateral 3.kebutaan unilateral, 4.
kebutaan bilateral : pasien dengan kedua mata buta , terutama disebabkan oleh
glaucoma setidaknya 1 mata .
Penyebab kecacatan visual ditentukan dengan meninjau grafik pasien dan
menganalisis informasi yang dihubungkan dengan penglihaan lapang pandang.
Pada kebanyakan pasien alasan utama untuk kecacatan visual jelas . Dalam
beberapa mata itu tidak mungkin untuk menentukan penyebab tunggal kecacatan
visual. kemudian kami mencatat kombinasi penyebab.
Tanggal pada saat diagnosis glaukoma dijadikan waktu untuk mengetahui
penglihatan lapang pandang yang menunjukkan glaukoma . Waktu untuk
penurunan visus atau kebutaan yaitu kunjungan pertama ketika bidang Humphrey
masing-masing kurang dari 20 derajat atau 10 derajat, atau ketika ketajaman
penglihatan berkurang menjadi di bawah 0,3 ( 20/60 ) atau 0,05 (20/400), masing-
masing. Bahkan dalam beberapa pasien yang telah kehilangan banyak kunjungan
berturut-turut selama masa tindak lanjut , semua data yang tersedia pada fungsi
visual dianalisis sejak tanggal dari kunjungan berikutnya .
Analisis Statistik
Waktu terjadinya kebutaan pada glaucoma dan hasil akhir penurunan
penglihatan dan kebutaan dari glaucoma termasuk criteria inklusi pada pasien.
Kejadian kumulatif dari kebutaan dan waktu dengan didiagnosis glaukoma
dihitung dalam data di Diagnosis kelompok. Kami memilih untuk menghitung
insiden kumulatif dengan metode competing risk. Selain itu, insiden kumulatif
untuk kebutaan pada setidaknya 1 mata dan
kebutaan bilateral dihitung dengan Kaplan- Meier method agar dapat
membandingkan hasil kami dengan hasil yang dipublikasikan sebelumnya
Semua perhitungan statistik dilakukan dengan SPSS versi 19.0 ( SPSS
Inc , Chicago , Illinois ,USA ) . Signifikansi statistik diatur ke P < .05 .

HASIL
592 pasien 662 PASIEN ( 89.4 % ) dengan glaukoma dengan hilangnya
lapang pandang masuk dalam criteria inklusi. 367( 62,0 % ) adalah perempuan
dan 372 pasien ( 62,8 % ) memiliki glaucoma pada kedua mata . 17 dari semua
pasien termasuk ( 2,9 % ) yang terdaftar dalam sistem administrasi habilitasi dan
Assistive Layanan Technology saja. Rata-rata waktu antara kunjungan terakhir
dan kematian adalah 8 bulan ( interquartil berkisar 3-16 bulan ) . Rata-rata usia
saat kematian adalah 87 tahun ( kisaran 50-103 tahun ) .
Ada 423 pasien dalam data di grup Diagnosis ( 71,5 % ). Pada pasien usia
rata-rata saat diagnosisi mulai 46-95 tahun. Glaukoma eksfoliatif ditemukan pada
setidaknya 1 mata pada 170 pasien ( 40,2 % ). Rata MD perimetric saat diagnosis
adalah -5.59±5.69. Median tajam penglihatan pada saat diagnosis adalah 0,8 ( 20 /
25 ). Tekanan intraokular rata-rata dalam semua mata glaukoma pada saat
diagnosis adalah 27,2 6 8,8 mm Hg
Jumlah pasien dengan low vision dan kebutaan dari glaukoma pada
kunjungan terakhir yang ditampilkan dalam Tabel . pada kunjungan terakhir , 42,2
% ( 250 dari 592 pasien ) dari semua pasien yang buta dari glaukoma setidaknya 1
mata dan 16,4 % di kedua mata . Alasan lain untuk kebutaan unilateral yaitu
dengan penyakit degenerasi macula ( 26 pasien ) , kombinasi katarak dan penyakit
lainnya ( 10 pasien ) , dan penyebab lainnya ( 32 pasien ) . Tujuh belas pasien
bilateral buta karena alasan selain glaucoma ( 16 dari AMD , 1 pasien dari alasan
lain ) .Tidak ada perbedaan yang spesifik secara statistic pada kedua kelompok
penelitian. Pasien dengan glaucoma yang menjadi buta bilateral, rata-rata
memakan waktu 2 tahun. Pasien yang menjadi buta bilaterl rata-rata terjadi pada
usia 86 tahun (kisaran 66-98 ; berarti 85,7 6 6.1 ) . Hanya 13 pasien ( 13,5 %
pasien buta dan 2,2 % dari semua pasien ) menjadi buta sebelum usia 80 tahun .
Durasi rata-rata dengan didiagnosis glaukoma adalah 12 tahun ( < 29/01 )
(rata-rata 11,2±6.6 ) , dan 74,7 % ( 316 dari 423 pasien) pasien memiliki diagnosis
glaukoma untuk lebih dari 6 tahun .
Kejadian kumulatif untuk kebutaan pada setidaknya 1 mata dan kebutaan
bilateral dari glaukoma adalah 26,5 % dan 5,5 % , masing-masing, pada 10 tahun
dan 38,1 % dan 13,5 % , masing-masing, pada 20 tahun setelah diagnosis. Yang
sesuai insiden kumulatif kebutaan yang disebabkan oleh alasan lain adalah 0,7 %
dan 0,7 % , masing-masing, pada 10 tahun dan 2,4 % dan 2,6 % , masing-masing,
pada 20 tahun. Perkiraan The Kaplan-Meier untuk kebutaan pada setidaknya 1
mata yang disebabkan oleh glaukoma adalah 33,1 % pada 10 tahun dan 73.2 %
pada 20 tahun dan 8,6 % pada 10 tahun dan 42,7 % pada 20 tahun untuk kebutaan
bilateral dari glaukoma

DISKUSI
Pada penelitian ini proporsi pasien ( 42,2 % ) yang mengalami buta
setidaknya 1 mata akibat dari glaucoma di rumah sakit terakhir atau Habilitation
and Assistive Technology Service visit, dan 16,4 % adalah buta bilateral akibat
dari glaukoma.
Salah satu keunggulan dari penelitian ini adalah ukuran sampel yang
relatif besar dan fakta bahwa fungsi visual diikuti selama mungkin , rata-rata
kurang dari 1 tahun sebelum kematian. Keunggulan lain yaitu peneliti
menggunakan sistem pendaftaran habilitasi dan Assistive Technology Layanan
selain administrasi pasien sistem rumah sakit kami untuk mengidentifikasi pasien
yang termask criteria inklusi, sehingga memungkinkan peneliti untuk
memasukkan pasien glaukom yang mungkin telah meminta bantuan dari layanan
social bukan dokter mata. Masyarakat yang tinggal di daerah binaan kami
memiliki kesempatan untuk mengakses layanan kami tanpa rujukan wajib. Pasien
awalnya didiagnosis dan diikuti oleh salah satu dokter mata.
Kami memilih untuk menganalisis tingkat penurunan penglihatan dan
kebutaan pada semua pasien ( n ¼ 592 ) . Dalam lebih dari 70 % ( n ¼423 ) dari
populasi penelitian kami, kami memiliki akses ke usia pasien, ketajaman visual ,
dan bidang visual dari saat diagnosis (Data di kelompok Diagnosis ) , sehingga
memungkinkan untuk menghitung kejadian kumulatif kebutaan glaukoma di grup
ini saja.

Proporsi pasien
dengan low vision dan
kebutaan adalah serupa
pada 2 kelompok , dengan
hasil 18,9 % pasien buta
bilateral dalam kelompok
Follow -up vs 15,4% buta
bilateral di Data di
Diagnosis kelompok. Hal
ini membuat kita percaya
bahwa hasil dapat
digeneralisasi untuk daerah
binaan, dan mungkin ke
utara Eropa. Populasi
penelitian terkandung
dominan subyek putih .
Oleh karena itu hasilnya
tidak dapat digeneralisasi
untuk populasi lain dengan
etnis yang berbeda .
Di sebagian besar
negara-negara Barat sekitar
50 % dari semua pasien glaukoma tidak menyadari penyakit mereka, dan
karenanya banyak pasien glaucoma yang meninggal tanpa tahu penyakit mereka.
Ini harus dipertimbangkan kemungkinan bahwa sebagian besar pasien glaukoma
dengan penyakit lanjut mengarah ke kebutaan atau rabun sebaiknya mencari
bantuan tenaga medis.
Untuk pengetahuan kita, hanya ada 3 penelitian yang diterbitkan
menganalisis kebutaan seumur hidup dari OAG. Salah satunya yaitu studi
Finlandia dilakukan oleh Forsman dan associates8 Hasil penelitian menunjukkan
mirip dengan kita namun dengan ukuran sampel yang lebih kecil . Dalam
penelitian ini 12 % dari pasien dengan glaukoma buta akibat glaukoma pada saat
kunjungan terakhir , hasil yang sebanding untuk kita.
Salah satu penjelasan adalah bahwa kami mengikuti pasien sampai mati ,
di kontras dengan Chen . Dalam kebutaan penduduk kita hampir selalu terjadi
pada usia tinggi dan hanya 13 pasien menjadi buta sebelum usia 80 tahun.
Dengan demikian , kami menemukan bahwa sekitar 1 dari 6 glaukoma
pasien adalah b buta bilateral pada kunjungan terakhir, sementara lebih dari 40 %
buta setidaknya 1 mata. Kebutaan sebagian besar terjadi pada usia lanjut, dan
sebagian besar pasien buta bilateral lebih tua dari 80 tahun ketika mata menjadi
buta
Harapan hidup telah meningkat pesat selama 50 tahun terakhir , dengan 10
tahun di Amerika Serikat , dan diperkirakan akan meningkat lebih lanjut. Dengan
harapan hidup lebih lama, pasien glaukoma akan memiliki penyakit untuk waktu
yang lama dan mungkin risiko seumur hidup dari kebutaan glaucoma dapat
meningkatkan lebih jauh