Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA

Diajukan untuk memenuhi sebagai tugas pengganti ujian tengah semester


(MID) mata kuliah pancasila yang di ampu oleh:

Zainal Arifin, S.Pd., M.Pd

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 1
 1612040020 RATNASARI B
 1612041002 ANDI NUR HANIAH
 1612040022 MULYANA RAZAQ
 1612040018 NURUL MUAWWANAH
 1612040016 SYARIFUDDIN

PRODI PENDIDIKAN FISIKA-B


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Penyayang dan lagi Maha
Pemurah, segala puji syukur atas kehendak-Nya yang telah melimpahkan rahmat
dan inayah-Nya kepada penyusun, sehingga makalah pancasila ini kami dapat
menyelesaikannya.
Adapun dari makalah ini penyusun mengangkat tema yaitu pancasila
sebagai sebagai dasar negara yang ditinjau dari hubungan pancasila dengan
pembukaan UUD 1945, pancasila dalam batang tubuh UUD 1945dan
implementasi pancasila dalam pembuatan kebijakan negara dibidang
poleksosbudhankam dan penyusun usahakan semaksimal mungkin dan tentunya
dengan bantuan berbagai pihak, terutama pada perpustakaan Universitas Negeri
Makassar, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu
penyusun tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.
Namun penyusun menyadari bahwa dalam makalah ini masih ada
kekurangan baik dari segi penyusun kata bahasanya, materi maupun segi lainnya.
Oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran pada pembaca, agar
penyusun dapat memperbaiki makalah ini. Dan semoga makalah ini bermanfaat
bagi kita semua.

Makassar, Mei 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................... ii

DAFTAR ISI ...................................................................................... iii

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ........................................................... 1


B. Rumusan Masalah ..................................................................... 2
C. Tujuan ....................................................................................... 3
D. Manfaat ..................................................................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Hubungan Pancasila Dengan Pembukaan UUD 1945 .............. 4


B. Penjabaran Pancasila Dalam Batang Tubuh UUD 1945 ........... 9
C. Iplementasi Pancasila Dalam Pembuatan Kebijakan Negara
Dibidang Poleksosbudhankam ............................................... 12

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ............................................................................. 20
B. Saran ........................................................................................ 20

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ 22


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pancasila adalah dasar filsafat negara Republik Indonesia yang
secara resmi disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan
tercantum dalam pembukaan UUD 1945, diundangkan dalam Berita
Republik Indonesia Tahun II No. 7 bersama-sama dengan batang tubuh
UUD 1945.
Sebagai dasar negara, Pancasila kembali diuji ketahanannya dalam
era reformasi sekarang. Merekahnya matahari bulan Juni 1945, 67 tahun
yang lalu disambut dengan lahirnya sebuah konsepsi kenengaraan yang
sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, yaitu lahirnya Pancasila. Sebagai
dasar negara, tentu Pancasila ada yang merumuskannya. Pancasila
memang merupakan karunia terbesar dari Tuhan YME dan ternyata
merupakan light-star bagi segenap bangsa Indonesia di masa-masa
selanjutnya, baik sebagai pedoman dalam memperjuangkan kemerdekaan,
juga sebagai alat pemersatu dalam hidup kerukunan berbangsa, serta
sebagai pandangan hidup untuk kehidupan manusia Indonesia sehari-hari,
dan yang jelas tadi telah diungkapkan sebagai dasar serta falsafah negara
Republik Indonesia
Dalam perjalanan sejarah eksistensi Pancasila sebagai dasar filsafat
negara Republik Indonesia mengalami berbagai macam interpretasi dan
manipulasi politik sesuai dengan kepentingan penguasa demi kokoh dan
tegaknya kekuasaan yang berlindung di balik legitimasi ideologi negara
pancasila. Dengan kata lain dalam keduduka seperti ini pancasila tidak lagi
diletakkan sebagai dasar filsafat serta pandangan hidup bangsa dan negara
Indonesia melainkan direduksi, di batasi dan di manipulasi demi
kepentingan politik penguasa pada saat itu.
Berdasarkan kenyataan tersebut diatas gerakan reformasi berupaya
untuk mengembalikan kedudukan dan fungsi pancasila yaitu sebagai dasar
negara Republik Indonesia, yang hal ini direalisasikan melalui ketetapan
sidang Istimewa MPR tahun1998 No.XXVIII/MPR/1998 disertai dengan
pencabutan P-4 dan sekaligus juga pecabutan pancasila sebagai satu
satunya asas bagi Orsospol di Indonesia. Ketetapan tersebut sekaligus juga
mencabut mandat MPR yang diberikan kepada presiden atas
kewenangannya untuk membudayakan pancasila melalui P-4 dan asas
tunggal pancasila. Monopoli pancasila demi kepentingan kekuasaan oleh
penguasa inilah yang harus segera diakhiri, kemudian dunia pendidikan
tinggi memiliki tugas untuk mengkaji dan memberikan pengetahuan
kepada semua mahasiswa untuk benar-benr mampu memahami pancasila
secara ilmiah dan objektif.
Pancasila ada jiwa raga seluruh rakyat Indonesia, yang
memberikan kontribusi atau kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia serta
membimbing dan mengajarkan nilai nilai kehidupan yang makin baik
untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.
Pancasila telah ditetapkan sebagai dasar negara dan telah diterima
oleh seluruh warga negara indonesia seperti yang tercantum pada
pembukaan Undang- Undang dasar 1945 yaitu merupakan kepribadian
negara dan cara pandang hidup bangsa, yang telah diuji kebenaran,
kemampuannya, sehingga tak ada satu kekuatan apapun dan mananappun
juga yang mampu memisahkan Pancasila dan Indonesia dari kehidupan
masyarakat Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana hubungan pancasila dengan pembukaan UUD 1945 ?
2. Bagaimana penjabaran pancasila dalam batang tubuh UUD 1945?
3. Bagaimana implementasi pancasila dalam pembuatan kebijakan negara
di bidang poleksosbudhankam ?
C. Tujuan Penulisan
Dalam penyusunan Makalah ini, penulis mempunyai beberapa
tujuan, yaitu:
1. Penulis ingin mengetahui hubungan pancasila dengan
pembukaan UUD 1945. Pembukaan Undang-Undang Dasar
1945 terdiri atas empat alinea di mana setiap alinea tersebut
memilki pesifikasi bilamana ditinjau dari segi isinya,
2. Penjabaran pancasila dalam batang tubuh UUD 1945, dan
3. Implementasi pancasila dalam pembuatan kebijakan negara
dibidang poleksosbudhankam.
D. Manfaat Penulisan
Manfaat dari pembuatan makalah ini yaitu, bagi pembaca dapat
mengetahui atau medapat ilmu mengenai pancasila sebagi dasar negara.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Hubungan Pancasila dengan Pembukaan UUD 1945


Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 terdiri atas empat alinea
dimana setiap alinea tersebut memiliki spesifikasi bilamana ditinjau
dari segi isinya. Alinea pertama,kedua dan ketiga memuat segolongan
pernyataan yang tidak memilikihubungan kausal organis dengan pasal-
pasalnya. Bagian-bagian tersebut memuat serangkaian pernyataan
yang menjelaskan peristiwa atau keadaan yang mendahului
terbentuknya negara indonesia, adapun bagian yang keempat (alinea
IV) memuat pernyataan mengenai keadaan setelah Negara Indonesia
terbentuk dan memiliki hubungan yang bersifat kausal dan organis
dengan pasal-pasal Undang-Undang Dasar 1945. Hubungan ini
menyangkut beberapa sudut yaitu:
1. Pertama : Undang-Undang Dasar ditentukan akan ada
2. Kedua : yang diatur dalam Undang-Undang Dasar adalah
tentang pembentukan pemerintahan negara yang memenuhi
berbagai syarat
3. Ketiga : negara Indonesia adalah berbentuk Republik yang
berkedaulatan rakyat
4. Keempat : ditetapkannya Pancasila sebagai dasar filsafat
negara Indonesia.

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang memuat


sifat-sifat fundamental dan asasi bagi negara tersebut, pada
hakikatnya mempunyai kedudukan tetap dan tidak dapat diubah.
Hal ini sebagaimana telah ditetapkan oleh MPR/MPRS, antara lain
termuat dalam : ketetapan oleh MPR/MPRS, yaitu ketetapan No.
XX/MPRS/1996, yang menerima baik Memorandum PR-GR
tanggal 9 Juni 1966 (Kaelan, 2001: 56-57).
Pancasila dan UUD 1945 berisi haluan-haluan bagi
kebijakan-kebijakan pemerintahan negara (state policies) dalam
garis besar dengan tingkat abstraksi perumusan nilai dan norma
yang bersifat umum dan belum operasional. Terbentuknya nilai-
nilai dan ide-ide yang terkandung di dalam haluan negara dalam
rumusan Pancasila dan UUD 1945 dilakukan oleh dan melalui
lembaga permusyawaratan rakyat, sedangkan upaya untuk
mengawal dalam praktik, agar nilai-nilai dan ide-ide yang
terkandung di dalam Pancasila dan UUD 1945 sungguh-sungguh
diwujudkan dalam praktik bernegara dilakukan oleh lembaga
peradilan konstitusi. Dengan kata lain, fungsi ‘state policy making’
berupa Pancasila dan UUD 1945 itu dilakukan oleh lembaga
Majelis Permusyawaratan Rakyat, sedangkan fungsi pengawalan
atas pelaksanaannya dalam praktik dilakukan oleh lembaga
peradilan (state policy adjudication) dalam rangka pengawasan
melalui penegakan hukum (enforcement). Di antara kedua kutub
fungsi ‘policy making’ dan ‘policy enforcing/controlling’ terdapat
wilayah ‘policy executing’ yang merupakan wilayah
tanggungjawab eksekutif kekuasaan pemerintahan negara.
Dengan perkataan lain, agenda nasional yang berkaitan
dengan Pancasila dan UUD 1945, harus lah diletakkan dalam tiga
konteks fungsi kekuasaan (trias politika), yaitu (i) fungsi
perumusan nilai dan pembentukannya menjadi sistem norma dalam
kehidupan bernegara dilakukan oleh MPR sebagai lembaga
perwakilan dan permusyawaratan; (ii) fungsi pelaksanaan,
pengamalan, pemasyarakatan, dan pembudayaan nilai-nilai
Pancasila dan UUD 1945 yang merupakan tanggungjawab cabang
kekuasaan pemerintahan negara yang dipimpin oleh Presiden
sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan; dan (iii) fungsi
pengawasan oleh lembaga peradilan, baik (a) karena terjadi
pelanggaran dalam elaborasi normanya, atau pun (b) karena terjadi
pelanggaran dalam penerapan norma atau kaedah hukumnya di
dalam praktik (Asshiddiqie Jimly, 2000: 2-3).
Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia
mempunyai implikasi bahwa Pancasila terikat oleh suatu kekuatan
secara hukum, terikat oleh struktur kekuasaan secara formal yang
meliputi suasana kebatinan atau cita-cita hukum yang menguasai
dasar Negara (Suhadi, 1998).
Cita-cita hukum tersebut terangkum didalam empat pokok
pikiran yang terkandung dalam Undang Undang Dasar 1945 yang
sama hakikatnya denganPancasila, yaitu :
1. Negara Persatuan “ Melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia “
2. Keadilan sosial “Negara hendak mewujudkan keadilan social
bagi seluruh rakyat Indonesia “
3. Kedaulaatan Rakyat “ Neara yang berkedaulatan rakyat
berdasarkan atas kerakyatan /perwakilan.”
4. Ketuhanan dan kemanusiaan “Negara berdasarkan atas
ketuhanan yang menurut dasar kemanusiaan yang adil dan
beradap.”
Pembukaan UUD 1945 adalah sumber motivasi dan
aspirasi perjuangan dan tekad bangsa Indonesia yang merupakan
sumber cita-cita luhur dan cita cita mahal, sehingga pembukaan
UUD 19445 merupakan tertib jukum yang tertinggi dan
memberikan kemutlakan agi tertib hukum Indonesia.
Pembukaan UUD 1945 bersama dengan UUD 1945
diundnagkan dalam berita Republik Indonesia tahun 11 No 7,
ditetapkan oleh PPKI tanggal 18 Agustus 1945. Pada hakekatnya
semua aspek penyelenggaraan pemerintah Negara yang
berdasarkan Pancasila terdapat dalam alenia IV pembukaan UUD
1945.
Dengan demikian Pancasila secara yuridis formal
ditetapkan sebagai dasar filsafat Negara Republik Indonesia
bersamaan dengan ditetapkan Pembukaan UUD 1945 dan UUD
1945. Oleh karena itu justru dalam pembukaan itulah secara
formal yuridis pancasila ditetapkan sebagai dasar filsafat Negara
Republik Indonesia.
Maka Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 mempunyai
hubungan timbal balik sebagai berikut :
Hubungan Secara Formal
Dengan dicantumkannya Pancasila secara formal di dalam
Pembukaan UUD 1945, maka Pancasila memporelehi kedudukan
sebagai norma dasar hukum positif. Dengan demikian tata
kehidupan bernegara tidak hanya bertopang pada asas-asas social,
ekonomi, politik, yaitu perpaduan asas-asas kultural, religigius dan
asas-asas kenegaraan yang unsurnya terdapat dalam Pancasila.
Jadi berdasarkan tempat terdapatnya Pancasila secarta
formal dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Bahwa rumusan Pancasila sebagai Dasar Negara Republik
Indonesia adalah seperti yang tercantum dalam Pembukaan
UUD 1945 alenia IV.
b. Bahwa Pembukaan UUD 1945, berdasarkan pengertian ilmiah,
merupakan pokok kaedah Negara yang Fundamental dan
terhadap tertib hukum Indonesia mempunyai dua macam
kedudukan yaitu :
 Sebagai dasarnya, karena Pembukaan UUD 1945 itulah yang
memberi factor-faktor mutlak bagi adanya tertib hukum
Indonesia.
 Memasukkkan dirinya di dalam tertib hukum sebagai tertib
hukum tertinggi.
c. Bahwa dengan demikian Pembukaan UUD 1945 berkedudukan
dan berfungsi, selain sebgai Mukaddimah dan UUD 1945
dalam kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, juga
berkedudukan sebagai suatu yang bereksistensi sendiri, yang
hakikat kedudukan hukumnya berbeda dengan pasal-Pasalnya.
Karena Pembukaan UUD 1945 yang intinya adlah Pancasila
tidak tergantung pada batang tubuh UUD 1945, bahkan sebagai
sumbernya.
d. Bahwa Pancasila dengan demikian dapat disimpulkan
mempunyai hakikat, sifat, kedudukan dan fungsi sebagai
pokokkaedah negara yang fundamental, yang menjelmakan
dirinya sebagai dasar kelangsungan hidup negara Republik
Indonesia yang di proklamirkan tanggal 17 Agustus 1945.
e. Bahwa Pancasila sebagai inti Pembukaan UUD 1945, dengan
demikian mempunyai kedudukan yang kuat, tetap dan tidak
dapat di ubah dan terletak pada kelangsungan hidup Negara
Republik Indonesia.
Hubungan secara material
Hubungan pembukaan UUD 1945 dengan Pncasila selain
hubungan yang bersifat formal, sebagaimana di jelaskan di atas
juga hubungan secara material sebagai berikut:
Bilamana kita tinjau kembali proses perumusan Pancasila
dan pembukaan UUD 1945, maka secara kronologis, materi yang
di bahas oleh BPUPKI yang pertama-tama adalah dasar filsafat
Pncasila baru kemudian Pembukaan UUD 1945. Setelah pada
sidang pertama pembukaan UUD 1945 BPUPKI membicarakan
dasar filsafat negara Pancasila berikutnya tersusunlah piagam
jakarata yang di susun oleh panitia 9, sebagai wujud bentuk
pertama pembukaan UUD 1945.
Jadi berdasar urut-urutan tertib hukum Indonesia
Pembukaan UUD 1945 adalah sebagai tertib hukum yang tertinggi,
adapun tertib hukum Indonesia bersumber pada Pancasila, atau
dengan kata lain sebagai sumber tertib hukum Indonesia. Hal ini
berarti secara material tertib hukum Indonesia dijabarkan dari nilai-
nilai yang terkandung dalam pancasila. Pancasila sebagai sumber
tertib hukum indonesia meliputi sumber nilai, sumber materi,
sumber bentuk dan sifat.
Selain itu dalam hubungannya dengan hakikat dan
kedudukan pembukaan UUD 1945 sebagai pokok kaidah negara
yang fubdamental, maka sebenarnya secara material yang
merupakan esensi atau inti sari dari pokok kaidah negara
fundamental tersebut tidak lain adalah pancasila (Kaelan, 2001: 90-
92).

B. Penjabaran Pancasila Dalam Batang Tubuh UUD 1945

Hubungan antara pancasila dalam batang tubuh Undang-


Undang Dasar 1945, yaitu penjelasan UUD 1945 menyatakan bahwa
pokok pikiran itu meliputi suasana kebatinan dari Undang-Undang
Dasar Negara Indonesia serta mewujudkan cita-cita hukum yang
menguasai hukum dasar negara, baik hukum dasar tertulis (convensi),
sedangkan pokok pikiran itu dijelmakan dalam pasal-pasal UUD 1945.
Maka dapatlah disimpulkan bahwa suasana kebatinan Undang-Undang
Dasar 1945 tidak lain adalah bersumber atau dijiwai oleh dasar filsafat
negara pancasila. Disinilah arti dan fungsi pancasila sebagai Dasar
Negara Republik Indoesia (Kaelan, 2001: 88).

Arti Batang Tubuh UUD 1945 ialah peraturan Negara yang


memuat ketentuan ketentuan pokok dan menjadi salah satu sumber
daripada perundang-undangan lainnya yang kemudian dikeluarkan
oleh negara itu.
Pembukaan UUD NRI tahun 1945 mengandung pokok-
pokok pikiran yang meliputi suasana kebatinan, citacita hukum dan
cita-cita moral bangsa Indonesia. Pokok-pokok pikiran tersebut
mengandung nilai-nilai yang dijunjung karena bersumber dari
pandangan hidup dan dasar negara, yaitu Pancasila. Pokok-pokok
pikiran dari Pancasila itulah yang dijabarkan ke dalam batang tubuh
melalui pasal-pasal UUD NRI tahun 1945.
Hubungan Pembukaan UUD NRI tahun 1945 yang memuat
Pancasila dengan batang tubuh UUD NRI tahun 1945 bersifat
kausal dan organis.
 Hubungan kausal mengandung pengertian Pembukaan UUD NRI
tahun 1945 merupakan penyebab keberadaan batang tubuh UUD
NRI tahun 1945.
 Hubungan organis berarti Pembukaan dan batang tubuh UUD NRI
tahun 1945 merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan
 Dengan dijabarkannya pokok-pokok pikiran Pembukaan UUD NRI
tahun 1945 yang bersumber dari Pancasila ke dalam batang tubuh,
maka Pancasila tidak saja merupakan suatu cita-cita hukum, tetapi telah
menjadi hukum positif.
 4 pokok pikiran yang diciptakan dan dijelaskan dalam batang tubuh:
 Pokok pikiran pertama berintikan ‘Persatuan’, yaitu; “negara
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia dengan berdasar atas persatuan dengan
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. yaitu
negara yang melindungi bangsa Indonesia seluruhnya.
 Pokok pikiran kedua berintikan ‘Keadilan sosial’(causa finalis)
yaitu; “negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat”. Hal ini menunjukkan bahwa pokok pikiran keadilan
sosial merupakan tujuan negara yang didasarkan pada kesadaran
bahwa manusia Indonesia mempunyai hak dan kewajiban yang
sama untuk menciptakan keadilan sosial dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
 Pokok pikiran ketiga berintikan ‘Kedaulatan rakyat’, yaitu;
“negara yang berkedaulatan rakyat, berdasar atas kerakyatan dan
permusyawaratan perwakilan”. Pokok pikiran ketiga
mengandung konsekuensi logis yang menunjukkan bahwa
sistem negara yang terbentuk dalam Undang-Undang Dasar
harus berdasar atas kedaulatan rakyat dan permusyawaratan
perwakilan.
 Pokok pikiran keempat berintikan ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’,
yaitu; “negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut
dasar kemanusiaan yang adil dan beradab’. Pokok pikiran
keempat menuntut konsekuensi logis, yaitu Undang-Undang
Dasar harus mengandung isi yang mewajibkan pemerintah dan
lain-lain penyelenggara negara untuk memelihara budi pekerti
kemanusiaan yang luhur dan memegang teguh cita-cita moral
rakyat yang luhur. Pokok pikiran ini juga mengandung
pengertian taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan pokok
pikiran kemanusiaan yang adil dan beradab sehingga mengandung
maksud menjunjung tinggi hak asasi manusia yang luhur dan
berbudi pekerti kemanusiaan yang luhur.
Dalam proses reformasi dewasa ini MPR melalui Sidang
Istimewa tahun 1998, mengembalikan kedudukan Pancasila
sebagai dasar negara Republik Indonesia yang tertuang dalam tap.
No. XVIII/MPR/1998. Oleh karena itu segala agenda dalam proses
reformasi, yang meliputi berbagai bidang selain mendasarkan pada
kenyataan aspirasi rakyat (sila IV) juga harus mendasarkan pada
nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila. Reformasi tidak
mungkin menyimpang dari nilai Ketuhanan.Kemanusiaan,
persatuan, kerakyatan serta keadilan, bahkan harus bersumber
kepadanya (Syahar, 1975)
Pembukaan UUD NRI tahun 1945 mengandung pokok-
pokok pikiran yang meliputi suasana kebatinan, citacita hukum
dan cita-cita moral bangsa Indonesia. Pokok-pokok pikiran
tersebut mengandung nilai-nilai yang dijunjung karena
bersumber dari pandangan hidup dan dasar negara, yaitu
Pancasila. Pokok-pokok pikiran dari Pancasila itulah yang
dijabarkan ke dalam batang tubuh melalui pasal-pasal UUD NRI
tahun 1945.
MPR RI telah melakukan amandemen UUD NRI tahun
1945 sebanyak empat kali yang secara berturut-turut terjadi
pada 19 Oktober 1999/ 18 Agustus 2000/ 9 November 2001/
10 Agustus 2002.
Batang tubuh UUD NRI tahun 1945 yang telah mengalami
amandemen dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu:
 Pasal-pasal yang terkait aturan pemerintahan negara dan
kelembagaan negara.
 Pasal-pasal yang mengatur hubungan antara negara dan
penduduknya yang meliputi warga negara, agama, pertahanan
negara, pendidikan, dan kesejahteraan sosial.
 Pasal-pasal yang berisi materi lain berupa aturan mengenai
bendera negara, bahasa negara, lambang negara, lagu kebangsaan,
perubahan UUD, aturan peralihan, dan aturan tambahan.
Contoh penjabaran Pancasila ke dalam batang tubuh
melalui pasal-pasal UUD NRI tahun 1945:
 Sistem pemerintahan negara dan kelembagaan negara
 Pasal 1 ayat (3) : Negara Indonesia adalah negara hukum.
Negara hukum yang dimaksud adalah negara yang
menegakkansupremasi hukum untuk menegakkan kebenaran dan
keadilan, dan tidak ada kekuasaan yang tidak
dipertanggungjawabkan.
 Pasal 3 Ayat (1) : Majelis Permusyawaratan Rakyat
berwenang mengubah dan menetapkan UndangUndang
Dasar;Ayat (2): Majelis Permusyawaratan Rakyat melantik
Presiden dan/atau Wakil Presiden. Ayat (3): Majelis
Permusyawaratan Rakyat hanya dapat memberhentikan Presiden
dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya menurut
Undang-Undang Dasar.
 Wewenang atau kekuasaan Majelis Permusyawaratan Rakyat
(MPR), sebagaimana disebutkan pada Pasal 3 ayat (1), (2), dan (3)
di atas menunjukkan secara jelas bahwa MPR bukan merupakan
penjelmaan seluruh rakyat Indonesia dan lembaga negara tertinggi.
Ketentuan yang terkait dengan wewenang atau kekuasaan MPR
tersebut juga menunjukkan bahwa dalam ketatanegaraan Indonesia
dianut sistem horizontal-fungsional dengan prinsip saling
mengimbangi dan saling mengawasi antarlembaga negara.
 Hubungan antara negara dan penduduknya yang meliputi warga
negara, agama, pertahanan negara, pendidikan, dan
kesejahteraan sosial.
 Pasal 26Ayat (2): Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang
asing yang bertempat tinggal di Indonesia.Orang asing yang menetap
di wilayah Indonesia mempunyai status hukum sebagai penduduk
Indonesia. Sebagai penduduk, maka pada diri orang asing itu
melekat hak dan kewajiban sesuai dengan ketentuan perundang-
undangan yang berlaku (berdasarkan prinsip yuridiksi teritorial)
sekaligus tidak boleh bertentangan dengan ketentuan hukum
internasional yang berlaku umum (general international law).
 Pasal 27Ayat (3): Setiap warga negara berhak dan wajib ikut
dalam upaya pembelaan negara.
 Pasal 29Ayat (2): Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap
penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk
beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
 Pasal 31Ayat (2): Setiap warga negara wajib mengikuti
pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya;
 Ayat (3): Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu
sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan
ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.
C. Implementasi Pancasila Dalam Pembuatan Kebijakan Negara
Dibidang Poleksosbudhankam

Sejarah implementasi pancasila memang tidak menunjukkan


garis lurus bukan dalam pengertian keabsahan substansialnya, tetapi
dalam konteks implementasinya. Tantangan terhadap pancasila sebagai
kristalisasi pandangan politik berbangsa dan bernegara bukan hanya
berasal dari faktor domestik, tetapi juga dunia internasional.
Pada zaman reformasi saat ini pengimplementasian pancasila sangat
dibutuhkan oleh masyarakat, karena di dalam pancasila terkandung
nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang sesuai dengan kepribadian
bangsa. Selain itu, kini zaman globalisasi begitu cepat menjangkiti
negara-negara di seluruh dunia termasuk Indonesia. Gelombang
demokratisasi, hak asasi manusia, neo-liberalisme, serta neo-
konservatisme dan globalisme bahkan telah memasuki cara pandang
dan cara berfikir masyarakat Indonesia. Hal demikian bisa
meminggirkan pancasila dan dapat menghadirkan sistem nilai dan
idealisme baru yang bertentangan dengan kepribadian bangsa.
Implementasi pancasila dalam kehidupam bermasyarakat pada
hakikatmya merupakan suatu realisasi praksis untuk mencapai tujuan
bangsa. Adapun pengimplementasian tersebut di rinci dalam berbagai
macam bidang antara lain politik, ekonomi, social, budaya, pertahanan
dan keamanan. Atau bisa juga di singkat menjadi
“POLEKSOSBUDHANKAM” .
Adapun pembagian implementasi pancasila yaitu:
1. Implementasi Pancasila dalam bidang Politik
Pembangunan dan pengembangan bidang politik harus
mendasarkan pada dasar ontologis manusia. Hal ini di dasarkan
pada kenyataan objektif bahwa manusia adalah sebagai subjek
Negara, oleh karena itu kehidupan politik harus benar-benar
merealisasikan tujuan demi harkat dan martabat manusia.
Pengembangan politik Negara terutama dalam proses
reformasi dewasa ini harus mendasarkan pada moralitas
sebagaimana tertuang dalam sila-sila pancasila dam esensinya,
sehingga praktek-praktek politik yang menghalalkan segala cara
harus segera diakhiri.
2. Implementasi Pancasila dalam bidang Ekonomi
Di dalam dunia ilmu ekonomi terdapat istilah yang kuat
yang menang, sehingga lazimnya pengembangan ekonomi
mengarah pada persaingan bebas dan jarang mementingkan
moralitas kemanusiaan. Hal ini tidak sesuai dengan Pancasila yang
lebih tertuju kepada ekonomi kerakyatan, yaitu ekonomi yang
humanistic yang mendasarkan pada tujuan demi kesejahteraan
rakyat secara luas (Mubyarto,1999). Pengembangan ekonomi
bukan hanya mengejar pertumbuhan saja melainkan demi
kemanusiaan, demi kesejahteraan seluruh masyarakat. Maka sistem
ekonomi Indonesia mendasarkan atas kekeluargaan seluruh bangsa.
3. Implementasi Pancasila dalam bidang Sosial dan Budaya
Dalam pembangunan dan pengembangan aspek sosial
budaya hendaknya didasarkan atas sistem nilai yang sesuai dengan
nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat tersebut.
Terutama dalam rangka bangsa Indonesia melakukan reformasi di
segala bidang dewasa ini. Sebagai anti-klimaks proses reformasi
dewasa ini sering kita saksikan adanya stagnasi nilai social budaya
dalam masyarakat sehingga tidak mengherankan jikalau di
berbagai wilayah Indonesia saat ini terjadi berbagai gejolak yang
sangat memprihatinkan antara lain amuk massa yang cenderung
anarkis, bentrok antara kelompok masyarakat satu dengan yang
lainnya yang muaranya adalah masalah politik. Oleh karena itu
dalam pengembangan social budaya pada masa reformasi dewasa
ini kita harus mengangkat nilai-nilai yang dimiliki bangsa
Indonesia sebagai dasar nilai yaitu nilai-nilai pancasila itu sendiri.
Dalam prinsip etika pancasila pada hakikatnya bersifat humanistic,
artinya nilai-nilai pancasila mendasarkan pada nilai yang
bersumber pada harkat dan martabat manusia sebagai makhluk
yang berbudaya.
4. Implementasi Pancasila dalam bidang Pertahanan dan Keamanan
Negara pada hakikatnya adalah merupakan suatu
masyarakat hukum. Demi tegaknya hak-hak warga negara maka
diperlukan peraturan perundang-undangan negara, baik dalam
rangka mengatur ketertiban warga maupun dalam rangka
melindungi hak-hak warganya. Oleh karena pancasila sebagai
dasar Negara dan mendasarkan diri pada hakikat nilai kemanusiaan
monopluralis maka pertahanan dan keamanan negara harus
dikembalikan pada tercapainya harkat dan martabat manusia
sebagai pendukung pokok negara. Dasar-dasar kemanusiaan yang
beradab merupakan basis moralitas pertahanan dan keamanan
negara. Maka dari pada itu pertahanan dan keamanan negara harus
mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila
pancasila. Dan akhirnya agar benar-benar negara meletakan pada
fungsi yang sebenarnya sebagai suatu negara hukum dan bukannya
suatu negara yang berdasarkan atas kekuasaan.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pancasila adalah pandangan hidup bangsa dan dasar negara


Republik Indonesia. Pancasila juga merupakan sumber kejiwaan
masyarakat dan negara Republik Indonesia. Maka manusia Indonesia
menjadikan pengamalan Pancasila sebagai perjuangan utama dalam
kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan kengaraan. Oleh karena itu
pengalamannya harus dimulai dari setiap warga negara Indonesia,
setiap penyelenggara negara yang secara meluas akan berkembang
menjadi pengalaman Pancasila oleh setiap lembaga kenegaraan dan
lembaga kemasyarakatan, baik dipusat maupun di daerah Adapun
makna Pancasila sebagai dasar negara sebagai berikut:
1. Sebagai dasar menegara atau pedoman untuk menata negara
merdeka Indonesia. Arti menegara adalah menunjukkan sifat
aktif daripada sekedar bernegara;
2. Sebagai dasar untuk aktivitas negara. Diartikan bahwa aktivitas
dan pembangunan yang dilaksanakan negara berdasarkan
peraturan perundangan yang merupakan penjabaran dari prinsip
– prinsip yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945;
3. Sebagai dasar perhubungan antar warga negara yang satu
dengan warga negara yang lainnya. Diartikan bahwa penerimaan
Pancasila oleh masyarakat yang berbeda – beda latar
belakangnya menjalin interaksi dan bekerja sama dengan baik.
B. Saran
Berdasarkan uraian di atas kiranya kita dapat menyadari bahwa
Pancasila merupakan dasar negara kita Republik Indonesia, maka kita
harus menjungjung tinggi dan mengamalkan sila-sila dari Pancasila
tersebut dengan setulus hati dan penuh rasa tanggung jawab.
DAFTAR PUSTAKA

Asshiddiqie Jimly. 2000. Membudayaka Nilai-Nilai Pancasila Dan Kaedah-


Kaedah Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945. Jakarta

http://riaviinola.blogspot.co.id/2014/09/hubungan-antara-pembukaan-uud-
1945_79.html

http://abiza-nge.blogspot.co.id/2014/09/penjabaran-batang-tubuh-uud-1945.html

Kaelan. 2001. Pendidikan Pancasila Edisi Reformasi. Paradigma: Yogyakarta

Notonagoro. 1980. Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila, Cet. 9. Jakarta:


Pantjoran Tujuh.

Syahar, H.Syaidus, 1975. Pancasila Sebagai Paham Kemasyarakatan Dan


Kenegaraan Indonesia, Alumni, Bandung.