Anda di halaman 1dari 27

Analisis Praktik Distribusi Zakat pada Badan Amil Zakat Nasional

(BAZNAS) Kota Yogyakarta


Abstract
Zakat is a potential source of funds that can be used to build the welfare of Muslims.
The development of zakat in the distribution of zakat is expected to generate self-reliance
mustahiq. In practice, there are still many mustahiq who consider that zakat as a free gift and
less responsible in its management. In addition, there are still many distributions of zakat
done by amil that is not appropriate benefits. This is because these zakat institutions stand to
tend independently and launch their own weak programs to build coordination and synergy
between one institution with other institutions. So many issues arise related to the distribution
of zakat funds.
In this case Yusuf al-Qardhawi argues that the government plays an active role in the
distribution of zakat funds so that zakat funds can be distributed properly and can be on
target, by pointing directly the amil zakat in order to avoid individual interests. Furthermore
Yusuf al-Qardhawi said that zakat funds should be distributed in the form of consumptive and
productive so that the zakat funds more effective and efficient when accepted by the
mustahiq.
In Indonesia, many adopted the basic concepts formulated by Yusuf al-Qardhawi on
the management and distribution of zakat. However, as good as any conceptualization of the
management and distribution of zakat will certainly face many problems and obstacles in
implementing it. In general, Muslims expect a lot for the implementation of zakat can be
done with the best based on Islamic Shari'a. Various efforts have been made by the
government including scholars and scientists for the implementation of zakat in Indonesia can
be implemented.
Abstrak

Zakat merupakan sumber dana potensial yang dapat digunakan untuk membangun
kesejahteraan umat Islam. Perkembangan zakat dalam pendistribusian zakat diharapkan dapat
memunculkan kemandirian mustahiq. Dalam prakteknya,masih banyak mustahiq yang
menganggap bahwa zakat sebagai pemberian Cuma-Cuma dan kurang bertanggung jawab
dalam pengelolaannya. Selain itu juga masih banyaknya pendistribusian zakat yang dilakukan
oleh amil yang tidak tepat manfaat. Hal itu dikarenakan lembaga-lembaga zakat ini berdiri
cenderung independen dan mencanangkan program masing-masing yang lemah membangun
koordinasi dan sinergi antar satu lembaga dengan lembaga lainnya. Sehingga muncul banyak
permasalahan yang terkait dengan pendistribusian dana zakat.
Dalam permasalahan ini Yusuf al-Qardhawi berpendapat bahwa pemerintah sangat
berperan aktif dalam pendistribusian dana zakat agar dana zakat dapat didistribusikan dengan
baik dan dapat tepat sasaran ,dengan cara menunjuk secara langsung para amil zakat agar
tidak terjadi kepentingan-kepentingan individu. Selanjutnya Yusuf al-Qardhawi mengatakan
bahwa sebaiknya dana zakat didistribusikan dalam bentuk konsumtif dan produktif agar dana
zakat lebih efektif dan efisien ketika diterima oleh para mustahiq.
Di Indonesia banyak mengadopsi konsep-konsep dasar yang dirumuskan oleh Yusuf
al-Qardhawi ini mengenai pengelolaan dan pendistribusian zakat. Akan tetapi, sebaik apapun
konseptualisasi dari pengelolaan dan pendistribusian zakat itu tentu akan menghadapi banyak
persoalan dan hambatan dalam mengimplementasikannya. Secara umum umat Islam berharap
banyak agar pelaksanaan zakat dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya berdasarkan syariat
Islam. Berbagai macam usaha telah dilakukan oleh pemerintah termasuk para ulama dan
ilmuan agar implementasi zakat di Indonesia dapat terlaksana.

Latar Belakang
Ketentuan dalam Al Quran dan Sunnah tentang kewajiban mengeluarkan zakat bagi
umat manusia merupakan bukti bahwa betapa Islam sangat mengutamakan kemakmuran
kehidupan manusia. Zakat mencerminkan bahwa kehidupan haruslah selaras dan saling
melengkapi, secara sistem kehidupan ekonomi menciptakan mereka yang kaya untuk
semakin kaya, dan begitulah sebaliknya. Dalam Islam, zakat menduduki posisi yang sangat
penting, tidak saja menjadi bagian dari rukun Islam, tetapi juga menjadi indikator dan
penentu apakah seseorang itu menjadi saudara seagama atau tidak. Hal tersebut tercantm
dalam surat At Taubah ayat 103, yang artinya “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka,
dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka.
Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka, dan Allah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Kemudian terdapat juga dalam surat al Muzammil
potongan ayat 20 “dan dirikanlah shalat serta tunaikanlah zakat”.

Allah menerangkan zakat beriringan dengan shalat menunjukkan bahwa zakat dan
shalat mempunyai hubungan yang erat sekali dalam hal keutamaannya. Shalat dipandang
utama dalam ibadah badaniyah, sedangkan zakat dipandang utama dalam ibadah
maliyahDengan demikian, orang yang mengabaikan kewajiban zakat sesungguhnya telah
melakukan keingkaran dan kedurhakaan besar kepada Allah SWT. Dalam surat at Taubah
ayat 60 juga menentukan siapa yang berhak untuk menerima zakat, yaitu fakir, miskin, amil,
muallaf, riqab, gharim, sabilillah, ibnu sabil. Pendistribusian zakat kepada golongan yang
telah ditetapkan dalam syara’ yaitu delapan asnaf akan membawa maslahah.1

Zakat berdasarkan ayat di atas dapat dikatakan sebagai jaminan sosial bagi kelompok
yang sangat membutuhkan materi. Pembentukan Badan Amil Zakat merupakan wujud nyata
perhatian pemerintah terhadap kehidupan umat islam, sehingga diperlukan sebuah

1
Hebby Rahmatul Utamy, Keadilan Ekonomi dalam Pendistribusian Zakat oleh BAZNAS Kab. Tanah Datar,
Jurnal Tamwil, Vol.1, No. 2, Juli-Desember 2015.
mekanisme yang mampu mengalirkan kekayaan yang dimiliki oleh kelompok masyarakat
mampu (the have) kepada kelompok masyarakat tidak mampu (the have not).2

Zakat adalah instrumen penting dalam sektor ekonomi islam dan mendorong
kemajuan dan kemakmuran umat islam di seluruh dunia. Untuk itu, institusi zakat perlu
diatur dan diurus dengan efisien dan sistematis karena sejak sekian lama zakat menjadi
wilayah dan medium terpenting untuk pengurusan ekonomi dalam masyaralat islam. Melalui
sistem pendistribusian yang baik, zakat dapat menjadi alternative kestabilan krisis ekonomi
yang sedang melanda dunia.

Pemerintah telah membentuk Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 tentang


pengelolaan zakat. Undang-undang memuat tentang pengelolaan zakat yang terorganisir
dengan baik, transparan dan profesional dilakukan oleh amil resmi yang ditunjuk oleh
pemerintah, baik Lembaga Amil Zakat (LAZ) maupun Badan Amil Zakat (BAZ). Zakat yang
tela dikumpulkan oleh lembaga pengelola zakat harus segera disalurkan kepada para
mustahiq sesuai dengan skala prioritas yang telah ditentukan.3

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, yang menjadi pokok
masalah adalah:

1. Bagaimana mekanisme pendistribusian zakat pada BAZNAS Kota Yogyakarta dilihat


dari sudut pandang Yusuf Qardhawi?
2. Bagaimana transparasi pengelola dana zakat pada BAZNAS Kota Yogyakarta?
3. Bagaimana efektifitas pendistribusian dana zakat BAZNAS Kota Yogyakarta?

Metode Penelitian
Penelitian ini mendeskripsikan tentang pelaksanaan pendistribusian zakat produktif
pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Yogyakarta. Metode penulisan penelitian
ini meliputi beberapa jenis, diantaranya:

Jenis penelitian adalah penelitian lapangan (field research), penulis langsung ke


lapangan untuk memperoleh data-data yang berkaitan dengan penelitian ini.4 Dimana
penelitian bersifat deskriptif analisis, data yang terkumpul bersifat pengamatan dari awal

2
Didin Hafiduddin, Agar Harta Berkah dan Bertambah (Jakarta: Gema Insani, 2009), cet. Ke-3, hlm. 103.
3
Didin Hafiduddin, Zakat dalam Perekonomian Modern, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), cet ke-1, hlm.
132.
4
Bambang Suggono, Metodologi Penelitian Hukum (Jakarta: PT Grafindo Raya, 2003) hlm. 37.
hingga akhir yang menamplkan fakta melalui teknik pengumpulan jenis data. Menggunakan
pendekatan normatif dan sisiologis yang menggunakan data primer berupa wawancara dan
data sekunder berupa data atau dokumen yang diperoleh. Metode analisis yang digunakan
adalah kualitatif.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang sudah tertera d atas, maka penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis pandangan hukum islam terhadap model penyaluran
dana zakat di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Yogyakarta pada tahun
2018.
2. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan hukum Islam
dalam memberikan pemahaman terhadap penyaluran dana zakat. Selain itu, juga dapat
dijadikan sebagai acuan referensi pihak lain yang tertarik untuk melakukan penelitian
dalam bidang yang sama terutama tentang pendistribusian atau penyaluran dana zakat
di lembaga pengelola zakat.

Kajian Pustaka
1. Penelitian Sebelumnya
Berikut beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya sesuai dengan topik
pembahasan ini:

Pertama, skripsi Andri Setiawan, Analisis Pendapat Yusuf Al Qardhawi tentang


Konsep Distribusi Zakat dalam Kitab Fiqhuz Zakat (Studi pada Tahun 2015). Hasil
penelitian menunjukkan: Bahwa idealitas Yusuf Qardhawi terhadap pengelolaan dan
distribusi zakat, menurut beliau agar dana zakat dapat berfungsi dengan semestinya
dan didistribusikan tepat sasaran maka pengelolaan zakat harus diserahkan
sepenuhnya oleh pemerintah, dengan menyerahkan zakat kepada pemerintah
menghindari adanya kepentingan-kepentingan individu dan sosial. Secara konseptual,
bahwa ide dari Yusuf al Qardhawi tentang pengelolaan dan pendistribusian zakat
sangat relevan apabila diterapkan dalam konteks Indonesia.5

5
Andri Setiawan, Analisis Pendapat Yusuf Al Qardhawi tentang Konsep Distribusi Zakat dalam Kitab Fiqhuz
Zakat, Skripsi, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2015.
Kedua, skripsi Fand Achmad Suseno, “Manajemen Distribusi Zakat Untuk
Pendidikan Santri TPA Di Baznas Kota Yogyakarta,(Studi pada Program Yogya
Taqwa Tahun 2013)”. Hasil penelitian menunjukkan : 1) Manajemen distribusi zakat
untuk pendidkan santri TPA oleh BAZNAS kota Yogyakarta dilakukan dengan
prinsip-prinsip manajemen modern,yakni perencanaan,pengorganisasian,pelaksanaan
dan pengawasan,dan dilakukan dengan hasil pendataan dan penelitian kebenaran
mustahik delapan asnaf. Mendahulukan orang-orang yang tidak erdaya memenuhi
kebutuhan dasar secara ekonomi dan sangat memerlukan bantuan dan mengutamakan
santri TPA mustahiq daerah kota Yogyakarta. 2) dilakukan dengan kemaslahatan
menciptakan generasi ulama yang berkualitas dan berkuantitas,membantu
meningkatkan iman dan takwa serta akhlak anak-anak santri TPA se-kota Yogyakarta
untuk berdakwah dan menyebarluaskan ajaran agama Islam yang berada di kota
Yogyakarta khususnya. 3) faktor pendukung Baznas Kota Yogyakarta benyak
melakukan kerjasama dalam pendataan dan pendistribusian zakat. Faktor penghambat
terdapat pada laporan surat pertanggungjawaban dari Unit TPA kepada BAZNAS
Kota Yogyakarta.6

2. Landasan Teori

a) Zakat
Zakat diartikan sebagai pemberian sesuatu yang wajib diberikan dari
sekumpulan harta tertentu, menurut sifat-sifat dan ukuran tertentu kepada golongan
tertentu yang berhak menerimanya.7 Sedangkan menurut Undang-Undang RI
Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, yang dimaksud dengan zakat
adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk
diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat islam.8
b) BAZNAS
Badan Amil Zakat merupakan organisasi pengelola zakat yang dibentuk
oleh pemerintah, terdiri dari unsur masyarakat dan pemerintah dengan tugas
mengumpulkan, mendistribusikan, dan mendayagunakan zakat sesuai dengan

6
Fand Achmad Suseno, “Manajemen Distribusi Zakat Untuk Pendidikan Santri TPA Di Baznas Kota
Yogyakarta,(Studi pada Program Yogya Taqwa Tahun 2013), Skrpsi, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2013.
7
Supani, Zakat di Indonesia: Kajian Fikih dan Perundang-Undangan (Yogyakarta: Grafindo Lentera Media,
2010), hlm. 1.
8
Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, Bab I, Pasal I.
ketentuan agama.9 Sedangkan menurut Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2011
tentang Pengelolaan Zakat Pasal 6 dijelaskan bahwa Badan Amil Zakat Nasional
(BAZNAS) merupakan lembaga yang berwenang melakukan tugas pengelolaan
zakat secara nasional.10
c) Distribusi
Kata distribusi lebih lekat dengan sektor perekonomian, distribusi sendiri
sering diartikan sebagai kegiatan penyaluran barang ataupun jasa dari satu pihak
ke pihak lainnya, dalam dunia ekonomi biasanya kegiatan ini akan
menghubungkan antara si produsen dengan konsumen. Adapun definisi menurut
KBBI yaitu, penyaluran, pembagian, atau pengiriman kepada beberapa orang atau
ke beberapa tempat.11

Pembahasan
1) Pengertian Zakat
Menurut lughat arti zakat adalah tumbuh (al Numuww) seperti pada zakat Al
Zar’u yang artinya bertambaha banyak dan mengandung berkat seperti pada zaka’ al malu
dan suci(thoharoh) seperti pada nafsan zakiyah dan qad aflaha man zakkaha12

Sedangkan menurut Istilah zakat adalah sebagian harta yang telah diwajibkan
oleh Allah swt untuk diberikan kepada orang yang berhak menerimanya sebagaiman yang
telah dinyatakan dalam Al Qur’an atau juga boleh diartikan dengan kadar tertentu atas
harta tertentu yang diberikan kepada orang-orang tertentu dengan lafadz zakat yang juga
digunakan terhadap bagian tertentu yang dikeluarkan dari orang yang telah dikenai
kewajiban untuk mengeluarkan zakat13

Menurut Imam Maliki dalam mendefinisikan zakat bahwa zakat adalah


mengeluarkan sebagian yang khusus dari harta yang khusus pula yang telah mencapai
nishab(batas kuantitas yang mewajibkan zakat) kepada orang-orang yang berhak
menerimanya dengan catatan kepemilikan itu penuh dan mencapai haul, bukan barang
tambang dan bukan pertanian.

9
Opcit, hlm. 170.
10
Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, Bab II, Pasal 6.
11
https://kbbi.web.id, diakses pada tanggal 30 Mei 2018 pukul 09.44 WIB.
12
Lahmanudin Nasution, Fiqih 1, (Bandung: Jaya Baru, 1998) h: 145
13
Syaikh Muhammad Abdul Malik Ar Rahman, 1001 Masalah Dan Solusinya, (Jakarta: Pustaka Cerdas Zakat,
2003), h: 2
Menurut madzhab Syafii zakat adalah sebuah ungkapan untuk keluarnya harta
atau tubuh sesuai dengan cara khusus, sedangkanmadzhab Hambali mengatakan Zakat
adalah hak yang wajib dikeluarkan dari harta yang khusus untuk kelompok yang khusus
pula.14 Adapun menurut Yusuf Qardhawi zakat ialah bagian dari harta dengan persyaratan
tertentu, yang Allah SWT wajibkan kepada pemiliknya (muzakki), untuk diserahkan
kepada yang berhak menerimanya (mustahiq) dengan persyaratan tertentu pula.15

2) Tujuan Zakat
Allah mewajibkan hambanya untuk melakukan sesuatu seperti halnya
mewajibkan membayar zakat bukan tanpa alasan, semua yang telah Allah syariatkan
tentunya memilik tujuan masing-masing yang cukup jelas. Diantara tujuan
diwajibkannya pembayaran zakat adalah sebagai berikut:
a. Mengangkat derajat fakir miskin dan membantunya keluar dari kesulitan hidup serta
penderitaan.
b. Membantu pemecahan permasalahan yang dihadapi oleh para gharimin, ibnu sabil
dan mustahiq lainnya.
c. Menolong orang yang lemah dan menderita, agar dia dapat menunaikan
kewajibannya terhadap Allah dan terhadap makhluk-Nya.
d. Membentangkan dan membina tali persaudaraan sesama umat Islam dan manusia
pada umumnya.Menghilangkan sifat kikir pemilik harta.
e. Membersihkan sifat dengki dan iri dari hati orang-orang miskin.
f. Menjembatani jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin dalam masyarakat.
g. Mengembangkan rasa tanggung jawab sosial pada diri seseorang.
h. Mendidik manusia untuk berdisiplin menunaikan kewajiban dan menyerahkan hak
orang lain yang ada padanya.
i. Sarana pemerataan pendapatan (rezeki) untuk mencapai keadilan sosial.
3) Hikmah Zakat
Diantara hikmah disyariatkannya zakat adalah bahwa pendistribusiannya mampu
memperbaiki kedudukan masyarakat dari sudut moral dan material dimana ia dapat
menyatukan anggota-anggota masyarakatnya menjadi seolah-olah sebuah tubuh yang
satu, selain dari itu zakat juga dapat membersihkan jiwa anggota masyarakat dari sifat

14
Wahbah Al Zuhayly, Al Fiqh Al IslamiAdillatuh, (Damaskus: Dar Al Fikr, 1995), h: 83-85
15
Yusuf qardhawi, Hukum Zakat, cet. Ke-10 (Jakarta: PT. Pustaka Litera Antar Nusa, 2007), hlm. 510.
pelit dan bakhil. Zakat juga merupakan benteng keamanan dalam sistem ekonomi islam
sebagai jaminan kearah stabilitas dan kesinambungan sejarah sosial masyarakat.

Diantara hikmah zakat yang lain yang saling menguntungkan baik dari pihak
pemberi (muzakki) maupun dari pihak penerima (mustahiq) antara lain:

a. Menolong orang yang lemah dan susah agar dia dapat menunaikan kewajibannya
terhadap Allah dan terhadap makhluk Allah (masyarakat)
b. Membersihkan diri dari sifat kikir dan akhlak yang tercela, serta membayarkan
amanat kepada orang yang berhak dan berkepentingan
c. Sebagai ucapan syukur dan trimakasih atas nikmat kekayaan yang diberikan
kepadanya
d. Guna menjaga kejahatan-kejahatan yang akan timbul dari si miskin dan yang susah
e. Guna mendekatkan hubungan kasih sayang dan cinta mencintai antara si miskin
dan si kaya16
f. Penyucian dari bagi orang yang berpuasa dari kebatilan dan kekokohan untuk
memberi makan kepada orang miskin serta sebagai rasa syukur kepada Allah atas
selesainya menunaikan kewajiban puasa17
4) Orang yang Wajib Membayar Zakat
Orang yang wajib berzakat disebut dengan muzakki. Golongan yang diwajibkan
untuk membayar zakat antara lain sebagai berikut.

a. Orang muslim

Para ulama sepakat bahwa zakat tidak diwajibkan kepada non-muslim. dasarnya
yaitu hadis shahihyang menjelaskan tentang instruksi nabi kepada Mu’az bin Jabal
ketika beliau mengutusnya ke Yaman: “….Yang pertama yang harus kamu lakukan
adalah mengajak mereka agar meyakini agar Tiada Tuhan selain Allah dan
Muhammad adalah RasulNya. Apabila mereka menyambut seruanmu, maka ajarkanlah
bahwa Allah mewajibkan mereka salat lima kali dalam sehari. Dan bila mereka
mengerjakannya, maka barulah kamu beritahukan kepada mereka bahwa Allah
mewajibkan mereka berzakat, yang dipungut dari orang kaya mereka dan diberikan
kepada orang yang miskin”. Dengan ini dijelaskan bahwa kewajiban zakat berkaitan

16
Syaikh Muhammad Abdul Malik Ar Rahman, opcit, h: 17
17
Sulaiman Rasyid, opcit, h: 217-218
dengan keislaman seseorang dan merupakan salah satu dari lima landasan tempat
berdirinya bangunan keislaman.

b. Merdeka

Zakat tidak wajib atas budak, karena budak tidak memiliki apa-apa, bahkan ia
sendiri adalah milik tuannya. Kalaupun ia memilikii sesuatu, maka itu bukanlah
pemilikan yang sempurna (penuh).

c. Dewasa dan Berakal Sehat


Zakat diwajibkan kepada orang yang berakal sehat dan orang yang dewasa.
Sedangkan anak-anak dan orang gila (tidak berakal) tidak diwajibkan. Akan tetapi ada
perbedaan pendapat antara para ulama mengenai wajib atau tidaknya anak-anak dan
orang gila berzakat. Beberapa ulama seperti Abu Ja’far al-Baqie, Hasan, Mujahid dan
lain-lain berpendapat bahwa harta anak-anak dan orang gila tidak wajib dikeluarkan
zakatnya. Alasannya, yang pertama zakat adalah ibadah mahdhah seperti salat dan
ibadah ini perlu niat, yang tidak dipunyai oleh anak-anak atau orang gila, kalaupun
mereka bisa melakukannya, tidaklah dianggap.

Kedua, didukung oleh hadist rufi’al qalam ‘an tsalatsattin: ‘anish shabiyyi hatta
yablugha, ‘anin naa’imi hatta yastayqazha, wa ‘anil majnuuni hattayfiiqa. Ketiga,
menurut firman Allah dalam AL-Qur’an Surat ke-9 ayat 103. Dan keempat yaitu
kemslahatan yang menjadi perhatian islam dalam setiap penetapan hukumnya.

Jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in dan orang yang sesudah mereka
berpendapat bahwa harta anak-anak dan orang gila wajib dikeluarkan zakatnya.
Alasannya yaitu pertama, Nash ayat dan hadist yang mewajibkan zakat bersifat umum,
mencakup pada semua harta orang kaya, tanpa mengecualikan anak-anak dan orang
gila. Kedua, hadis riwayat Syafi’I dari Yusuf bin Mahak. Ketiga, tindakan para sahabat,
seperti Umar, Ali, Abdullah bin Umar, Aisyah, dan Jabir bin Abdullah yang
mewajibkan zakat atas kekayaan anak-anak. Keempat, dari sisi makna dari
diwajibkannya zakat dimana makna tersebut untuk membantu orang yang
membutuhkan dan mensyukuri nikmat Allah, karena itu anak-anak dan orang gila bila
memang kaya tidak terlepas dari kewajiban zakat ini. Sehingga menurut Yusuf
Qardhawi berpendapat bahwa mewajibkan zakat harta anak dan orang gila lebih kuat
dalilnya dan ia mengaskan bahwa kekayaan anak dan orang wajib zakat karena zakat
merupakan kekayaan bukan yang terkait dengan kekayaan bukan dengan orang, yang
tidak gugur karena pemiliknya masih anak-anak atau orang gila.18

d. Milik sempurna

Milik sempuna merupakan kemampauan pemilik harta untuk mengontrol dan


menguasai barang miliknya tanpa tercampur hak orang lain pada waktu datangnya
kewajiban membayar zakat.

e. Bebas dari hutang

Pemilik sempurna yang dijadikan persyaratan wajib zakat dan harus lebih dari
kebutuhan primer haruslah cukup dari satu nisab yang sudah bebas dari hutang.

f. Berkembang secara rill atau estimasi

Berkembang secara rill adalah harta yang dimiliki oleh seseorang dapat
berpotensi untuk tumbuh dan dikembangkan melalui kegiatan usaha maupun
perdagangan. Sedangkan estimasi adalah harta yang nilainya mempunyai kemungkinan
bertambah. ⁷

g. Nisab

Nisab adalah sejumlah harta yang mempunyai jumlah tertentu yang ditentukan
secara hukum, yang mana harta tidak wajib dizakati jika kurang dari ukuran tersebut.
Ukuran nisab yaitu terpenuhinya kebutuhan primer.⁸ Menurut para ulama madzahab
Syafi’I, Maliki, Hanbali, dan sebagian besar ulama, kewajiban zakat fitrah itu bukan
hanya untuk orang kaya, namun diwajibkan untuk orang yang sudah mempunyai harta
satu nisab.⁹

h. Cukup haul.

Harta kekayaan harus sudah ada atau dimiliki selama satu tahun dalam
penanggalan islam.19

5) Orang yang Berhak Menerima Zakat

18
Isnawati Rais, Muzakki dan Kriterianya dalam Tinjauan Fikih Zakat, (Majelis Ulama Indonesia).
19
Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat, Studi Komparatif Mengenai Status dan Filsafat Zakat Berdasarkan Al Quran
dan Hadits, Alih bahasa Salman Hrun, dkk, (Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa, 2007), hlm. 155.
Para ulama ahzab berpendapat bahwa golongan yang berhak menerima zakat itu
ada delapan. Dan semuanya sudah disebutkan dalam surah At-Taubah ayat 60, seperti
berikut :

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang


miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk
mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah,
dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Namun kalau tentang definisi atau golongan klompok tersebut, semua mahzab
mempunyai pendapat yang berbeda, seperti keterangan berikut :

1) Fakir
Menurut Imam Hanafi, orang fakir adalah orang yang mempunyai harta kurang
dari nishab, sekalipun dia sehat dan mempunyai pekerjaan. Adapun orang yang
mempunyai harta sampai nishab apapun bentuknya yang dapat memenuhi kebutuhan
primer, berupa tempat tinggal (rumah), alat-alat rumah, dan pakaian, maka orang
yang memiliki harta seperti itu atau lebih, tidak boleh diberikan zakat. Alasannya
bahwa orang yang mempunyai harta sampai nishab, maka wajib menerima zakat.
Adapun madzhab-madzhab lain berpendapat bahwa, yang dianggap kebutuhan
itu bukan berdasarkan yang dimiliki, tetapi kebutuhan. Maka barang siapa yang tidak
membutuhkan, diharamkan untuk menerima zakat, walaupun tidak mempunyai
sesuatu. Dan orang yang membutuhkan tentu dibolehkan untuk menerima zakat,
sekalipun dia mmpunyai harta sampai nishab, karena yang dimakan fakir itu artinya
yang membutuhkannya, Allah SWT berfirman :
“wahai manusia, kamu semua adalah orang-orang fakir di hadapan Allah.”
Menurut Syafi’i dan Hambali yaitu, orang yang mempunyai separuh dari
kebutuhannya, ia tidak bisa digolongkan kedalam golongan fakir, dan ia tidak boleh
menerima zakat.
Sedangkan menurut Imamiyah dan Malikiyah : orang fakir menurut syara’
adalah orang yang tidak mempunyai bekal untuk berbelanja selama satu tahun dan
juga tidak mempunyai bekal untuk menghidupi keluarganyya, orang yang mempunyai
rumah dan peralatannya atau binatang ternak, tapi tidak mencukupi kebutuhan
keluarganyya selama satu tahun, maka ia boleh diberi zakat.
2) Miskin

Menurut Imamiyah, hanafi dan maliki: orang miskin adalah orang yang keadaan
ekonominya lebih buruk dari orang fakir.

Adapun menurut Hambali dan syafi’i : orang fakir adalah orang yang keadaan
ekonominya lebih baik daripada orang miskin, karena yang dinamakan fakir adalah
orang yang tidak mempunyai sesuatu, atau orang yang mempunyai separuh
darikebutuhannya, sedangkan orang miskin ialah orangyang memiliki separuh dari
kebutuhannya. Maka yang separuh lagi dipenuhi dengan zakat.
walau bagaimanapun penafsiran tentang fakir dan miskin, sebenarnya secara esensial
tidak ada perbedaan diantara mazhab-mazhab itu, karena yang dimaksudkan adalah
bahwa zakat itu mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan yang sangat
mendesak, seperti: tempat tinggal (papan), pangan, pakaian, kesehatan,pengajaran,
dan lain-lain yang menjadi keharusan dalam kehidupannya.
Para ulama mazhab sepakat selain maliki, bahwa orang yang wajib mengeluarkan
zzakat tidak boleh memberikannya kepada kedua orangtuanya, kakek neneknya, anak-
anaknya, dan putra-putra mereka (cucu), juga pada istrinya. Maliki justru
membolehkan memberikannya kepada kakek dan neneknya, dan juga pada anak
keturunanya, karena memberikan nafkah kepada mereka tidak wajib, menurut Maliki.
Para ulama mazhab sepakat bahwa zakat itu boleh diberikan kepada saudara-
saudaranya, paman dari bapak dan paman dari ibu. Zakat itu hanya tidak boleh
diberikan kepada ayah dan anak-anaknya, kalau zakat yang akan diberikan kepada
ayah dan anak itu merupakan bagian untuk fakir dan miskin. Tetapi kalau zakat yang
diberikan itu bukan termasuk bagian yang akan diberikan kepada orang fakir dan
miskin, maka bapak dan anakya boleh menerima zakat atau mengambilnya, misalnya
kalau bapak dan anak tersebut menjadin orang yang berjuang (berperang) dijalan
allah, atau termasuk muallaf, atau orang yang banyak hutang untuk menyelesaikan
masalah dan memperbaiki serta mendukung agama.
3) Orang – orang yang menjadi amil zakat

Orang-orang yang menjadi amil zakat adalah orang-orang yang bertugas untuk
meminta sedekah, menurut kesepakatan semua mazhab.

4) Para muallaf
Orang-orang muallaf yang dibujuk hatinya adalah orang-orang yang cenderung
menganggap sedekah itu untuk kemaslahatan islam.

5) Riqab (orang-orang yang memerdekakan budak)

Ruqab adalah orang yang membeli budak dari harta zakatnya untuk
memerdekakannya.

6) Orang yang mempunyai hutang

Al-Gharimun adalah orang-orang yang mempunyai hutang yang dipergunakan untuk


perbuatan yang bukan maksiat. Dan zakat diberikan agar mreka dapat membayar
hutang mereka, menurut kesepakatan para ulama mazhab.

7) Orang yang berada di jalan Allah

Orang yang berada dijalan allah adalah menurut empat mazhab: orang-orang yang
berpegangan secara suka rela untuk membela islam.

8) Ibnu sabil

Ibnu sabil adalah orang asing yang menempuh perjalanan ke negri lain dan sudah
tidak punya harta lagi. Zakat boleh diberikan kepadanya sesuai dengan ongkos
perjalanan untuk kembali ke negaranya.20

9) Konsep Distribusi Zakat

Seperti sudah kita ketahui, bahwa zakat itu dalam al- Qur’an disebutkan secara
ringkas, maka secara khusus pula al- Qur’an telah memberikan perhatian dengan
menerangkan kepada siapa zakat itu harus didistribusikan. Dan menurut Yusuf Al-
Qaradhawi seorang mukmin yang tidak mengeluarkan zakat tidak berbeda dengan orang
musyrik. Dan tidak diperkenankan para penguasa/pejabat tinggi membagikan zakat
semaunya sendiri, karena dikuasai nafsu atau karena adanya fanatic buta, juga oleh
mereka yang memiliki ambisi besar yang tidak segan –segan meraih milik orang yang
bukan haknya. Mereka takkan dibiarkan merebut hak orang yang benar-benar
dalam kekurangan dan sangat membutuhkan itu.21

20
Muhammad Jawad Mughniyah, fiqih lima mahzab: ja’fari, hanafi, maliki, syafi’i,hambali , Penerbit Lentera,
Jakarta, hlm. 163-164.
21
Yusuf Al-Qaradhawi, Hukum Zakat, hlm.507
Menurut Didin Hafidhuddin mengenai distribusi zakat adalah dana zakat yang
dialokasikan untuk kepentingan mustahiq (8 asnaf: fakir, miskin, amil, mualaf, ar-riqab,
garim, sabilillah, dan ibnu sabil) dan diperuntukan dana zakat pada usaha-usaha
pengentasan kemiskinan, pengembangan sumber daya manusia dan juga bantuan
modal usaha bagi pengusaha mikro dan kecil.22

Adapun dalam Undang-undang No. 38 tahun 1999 pasal 16 ayat 1 dan 2 tentang
pengelolaan zakat, penjelasan distribusi zakat adalah hasil pengumpulan zakat yang
digunakan untuk mustahiq harus sesuai dengan ketentuan agama dan pendayagunaanya
juga berdasarkan skala prioritas kebutuhan mustahiq dan dapat dimanfaatkan untuk
usaha produktif.23 Disinilah muncul hawa nafsu akan harta kemudian diambil oleh
orang yang tidak berhak, sedang yang lebih berhak menerima tidak mendapatkan,
oleh karena itu tidak heran bila al- Qur’an memberikan perhatian khusus, yang
kemudian dijelaskan dan diperinci lagi oleh sunah.

Dengan datangnya Islam, maka perhatian pertama ditujukan kepada golongan


yang sangat membutuhkan. Bagian terbesar harta zakat khusus diperuntukkan bagi
mereka yang berhak menerima, disamping dari hasil sumber penghasilan Negara, dengan
petunjuk seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an mengenai kaum mustahik zakat dan
penjelasan yang diberikan oleh sunah Rasullah SAW serta para Khulafa Rasyidin,. Oleh
karena itu al-Qur’an lebih mengutamakan golongan-golongan ini dan al-Qur’an
diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas dan supaya ahli-ahli bahasa Arab dapat
mendahulukan yang lebih penting.

Pada awalnya dana zakat lebih didominasi oleh pola pendistribusian


konsumtif,namun demikian pada mutakhir saat ini pendistribusian dilakukan secara
produktif. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam buku Akutansi dan Manajemen
Zakat karangan M. Arief Mufraini, Lc., M.Si. Beliau berpendapat bahwa bentuk
distribusi dikategorikan dalam empat bentuk berikut:

a) Distribusi bersifat ‘konsumtif tradisional’, yaitu zakat dibagikan kepada mustahik


untuk dimanfaatkan secara langsung, seperti zakat fitrah yang diberikan kepada
fakir miskin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau zakat mal yang
diberikan kepada para korban bencana alam.

22
Didin Hadidhudin, Zakat dalam Perekonomian Modern, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), hlm. 344
23
Pasal 16 UU No.38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat
b) Distribusi bersifat ‘konsumtif kreatif’, yaitu zakat diwujudkan dalam bentuk
lain dari barangnya semula, seperti diberikan dalam bentuk alat-alat sekolah
atau beasiswa.
c) Distribusi bersifat ‘produktif tradisional’, dimana zakat diberikan dalam bentuk
barang-barang yang produktif seperti kambing, sapi, alat cukur dan lain
sebagainya. Pemberian dalam bentuk ini akan dapat menciptakan suatu usaha
yang membuka lapangan kerja bagi fakir miskin.
d) Distribusi dalam bentuk ‘produktif kreatif’, yaitu zakat yang diwujudkan dalam
bentuk permodalan baik untuk bangun proyek sosial atau menambah modal
pedagang pengusaha kecil.
10) Pola Pendistribusian Zakat

Zakat dapat diberikan secara konsumtif dan dapat pula diberikan secara produktif.\

a. Konsumtif
Penyaluran zakat secara konsumtif terbagi dalam dua bentuk :
1) Konsumtif Tradisional,yakni zakat yang diberikan secara langsung kepada
mustahik, seperti beras dan jagung.
2) Konsumtif Kreatif,yakni penyaluran zakat secara langsung dalam bentuk lain,
dengan harapan dapat bermanfaat lebih baik, seperti beasiswa, peralatan
sekolah, dan pakaian anak-anak yatim.
b. Produktif.

Terdapat dua bentuk pendistribusian zakat secara produktif:

1) Produktif Tradisional, yaitu zakat yang diberikan dalam bentuk barang-barang


yang dapat berkembang biak atau alat utama bekerja, seperti sapi, kambing,
alat cukur, dan mesin jahit.
2) Produktif Kreatif, yaitu penyaluran zakat yang diberikan dalam bentuk modal
kerja sehingga penerimanya dapat mengembangkan usahanya setahap lebih maju.

Menurut Arif Mufraini pola distribusi zakat dapat pula dikembangkan dalam
bentuk investasi dana zakat, akan tetapi pola ini belum dibahas secara mendetail oleh
para ulama salaf (terdahulu). Arif mufraini juga berpendapat bahwa pendistribusian
zakat secara produktif sangat efektif untuk dapat memproyeksikan perubahan seorang
mustahik menjadi muzakki, sedangkan pola menginvestasikan dana zakat diharapkan
dapat efektif memfungsikan sistem zakat sebagai suatu bentuk jaminan sosiokultural
masyarakat muslim, terutama untuk golongan miskin atau dapat juga disebut sebagai
sekuritisasi sosial.

Di zaman Rasulullah SAW dan penerusnya di era keemasan islam, telah meletakkan
dasar-dasar pengelolaan manajemen zakat yang sangat baik. Pada masa Rasulullah,
para sahabat muhajirin yang miskin dan menjadi penerima zakat dalam waktu satu
tahun karena dalam salah satu cara pembagian zakat diperuntukkan bagi
pengembangan perekonomian masyarakat, maka mampu meningkatkan daya hidup
mereka dari harta zakat.

Kaitan dengan dana zakat yang digunakan kearah produktif, kegiatan produksinya dapat
dilakukan dengan berbagai macam bentuk. Yusuf al-Qardhawi menegaskan bahwa
harta zakat diperbolehkan untuk mendirikan pabrik atau perusahaan-perusahaan,
kemudian kepemilikan dan keuntungan perusahaan tersebut diperuntukkan kepada
fakir miskin sehingga keperluan mereka dapat tercukupi untuk sepanjang masa.

Dalam pengelolaan zakat terdapat muzaki,mustahik dan amil yang berguna untuk
mengoptimalisasi pendayagunaan zakat dan diperlukan pengelolaan zakat oleh lembaga
zakat yang professional dan mampu mengelola zakat secara tepat sasaran. Selama ini
pengelolaan zakat berdasarkan Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang
Pengelolaan Zakat dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan
hukum dalam masyarakat sehingga diganti dengan dengan UU No. 23 tahun 2011
tentang Pengelolan Zakat. Pengelolaan zakat yang diatur dalam Undang-Undang ini
meliputi kegiatan perencanaan, pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan.
Dalam upaya mencapai tujuan pengelolaan zakat, dibentuk Badan Amil Zakat Nasional
(BAZNAS) yang berkedudukan di ibu kota negara, BAZNAS provinsi, dan BAZNAS
kabupaten/kota. BAZNAS merupakan lembaga pemerintah nonstruktural yang bersifat
mandiri dan bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri. BAZNAS merupakan
lembaga yang berwenang melakukan tugas pengelolaan zakat secara nasional. Di
samping dibentuknya BAZNAZ yang merupakan lembaga independen, masyarakat
dapat membentuk Lembaga Amil Zakta (LAZ) yang dimotori pihak swasta yang
harus mendapat izin pejabat yang berwenang seperti Menteri atau pejabat yang
ditunjuk oleh Menteri terkait dan harus melaporkan kegiatannya secara berkala
kepada pejabat yang berwenang. Selain menerima zakat, BAZNAS atau LAZ juga
dapat menerima infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya.Pendistribusian
dan pendayagunaan infak,sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya dilakukan
sesuai dengan syariat Islam dan dilakukan sesuai dengan peruntukan yang
diikrarkan oleh pemberi dan harus dilakukan pencatatan dalam pembukuan tersendiri.24

11) Distribusi Zakat di BAZNAS Kota Yogakarta

Madzhab Syafi’i mengatakan sebagaimana dikutip oleh Wahbah Al Zuhaily, bahwa


zakat wajib dikeluarkan kepada delapan golongan, baik itu zakat fitrah maupun zakat mal.
Dalam Al Quran Surat At Taubah ayat 60 telah dijelaskan kelompok-kelompok yang berhak
menerima zakat.

Penjabaran rumusan kedelapan golongan tersebut dilakukan oleh manusia yang


memenuhi syarat untuk berijtihad dalam hukum Islam. Di Indonesia sendiri tidak ada riqab
dalam pengertian semula, oleh karena itu diisi oleh pengertian baru yaitu pembebasan
manusia dari perbudakan lintah darat ataupun rentenir.25 Pengelolaan zakat di Indonesia telah
diatur dalam Undang-Undang No. 23 tahun 2011 tentang pengelolaan zakat. Pendistribusian
zakat untuk usaha produktif diatur dalam pasal 27 ayat 1, 2, dan 3.

Prosedur pendayagunaan zakat untuk usaha produktif ditetapkan sebagai berikut: a)


melakukan studi kelayakan, b) menetapkan jenis usaha produktif, c) melakukan bimbingan
dan penyuluhan, d) melakukan pemantauan, pengendalian, dan pengawasan, e) mengadakan
evaluasi, dan f) membuat pelaporan.26 Apabila prosedur tersebut dijalankan maka
pelaksanaan pendistribusian zakat untuk usaha produktif berjalan maksimal. Serta
pelanggaran-pelanggaran atau penyelewengan tidak akan terjadi atau dapat diminimalisir.
Seperti penggunaan dana yang seharusnya untuk modal digunakan untuk membeli alat-alat
elektronik, untuk dikonsumsi dengan membelanjakan kebutuhan sehari-hari.

Yusuf Qardhawi dalam pernyataanya ada tiga tujuan yang terkandung dalam zakat
sebagaimana dikutip oleh Asnani yaitu menciptakan keadilan sosial, mengangkat derajat
ekonomi orang-orang lemah, dan membuat mustahiq menjadi muzakki. Hal ini hanya
mungkin terjadi jika sumber-sumber zakat dimanfaatkan sebagai modal dalam proses
produksi, orientasi kegiatan masyarakat selalu ke arah produktif, berguna dan berhasil guna,
dan memandang jauh ke depan dengan pengorbanan yang dilakukan masa kini. Dengan

24
Diambil dari penjelasan UU No.23 tahun 2011 tentang pengelolaan zakat
25
Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf (Jakarta: Universitas Indonesia Press: 1998)
hlm.48.

26
Suparman Usama, Hukum Islam: Asas-asas dan Pengantar Studi Hukum Islam dan Tata Hukum Indonesia
(Jakarta:Gaya Media Pratama, 2004), hlm. 173-174.
demikian, akan tercipta masyarakat yang berjiwa produktif, bukan masyarakat yang berjiwa
konsumtif.27

Pendistribusian zakat pada BAZNAS Kota Yogyakarta berdasarkan delapan asnaf


yang telah ditetapkan dalam Al Quran yakni, fakir, miskin, amil, muallaf, riqab, gharim, fi
sabilillah, dan ibnu sabil. Namun dalam penyalurannya sendiri delapan asnaf tersebut tidak
dipukul rata, memang tedapat delapan asnaf kemudian dari delapan tersebut harus ada yang
menjadi prioritas. Hal tersebut terpacu dengan keadaan yang sekarang yang tentunya sudah
berbeda jika diartikan secara tekstual. BAZNAS Kota Yogyakarta sendiri dalam
penyalurannya mayoritas dananya terkonsentrasi kepada fakir miskin dengan penyaluran
yang lebih banyak bersifat konsumtif sekali habis. Namun, konsumtif disini bukan berarti
untuk kebutuhan makan saja, akan tetapi untuk kegiatan seperti amal jariyah santri (sekali
habis) yang arahnya sendiri untuk penguatan spiritualnya.

Menurut pihak BAZNAS Kota Yogyakarta sendiri pembagian zakat produktif


ataupun konsumtif sendiri melihat kondisi masing-masing wilayah, dan kebetulan di Kota
Yogyakarta sendiri produktifitas masyarakat sudah terpenuhi dari segi data pemerintah,
seperti kesehatan, pemberdayaan lingkungan dan pendidikan melalui terobosan-terobosan
yang ada di pemerintah kota. Bantuan untuk agama islam sendiri bisa dibilang belum ada,
jadi BAZNAS Kota Yogyakarta sendiri lebih banyak mendistribusikan dananya untuk
kegiatan-kegiatan spiritual. Seperti jariyah santri menempati pendistribusian terbesar,
kemudian ada juga santunan TPQ juga pengelola masjid di Kota Yogyakarta. Menurut
mereka jika semua ke kegiatan produktif, maka pihak mana yang akan melirik soal
spritualnya. Zakat dari Islam harusnya ke pedoman Islam, yaitu lebih ketaatan terhadap rukun
Islam.28 Berikut beberapa program pokok BAZNAS Kota Yogyakarta:

1. Yogya Taqwa
Pentasyarufan ZIS yang diarahkan pada peningkatan pemahaman, penghayatan, dan
pengamalan ajaran islam, peningkatan ketersediaan sarana prasarana tempat
ibadah/madrasah, penguatan syiar islam, beasiswa jariyah santri TKA/TPA,
pengembangan Madrasah Diniyah (madin) berbasis Sekolah Dasar, dan Madrasah Al
Quran. Berikut beberapa kegiatan Yogya Taqwa yaitu:

27
Asnani, Zakat Produktif dalam Perspektif Hukum Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hlm. 23.
28
Wawancara dengan Muhaimin S. Si Bagian Pentasharufan, tanggal 24 Mei 2018 di Kantor Baznas Kota
Yogyakarta
 Bantuan Jariah/SPP santriTKA/TPA/Madin.
 Bantuan Pmbangunan/renovasi tempat ibadah/madrasah
 Bantuan sarana prasarana tempat ibadah/madrasah
 Bisharoh ustadz, kaum rois, dan penjaga masjid kurang mampu
 Pengembangan BADKO TKA/TPA kota
 Pengembangan BADKO TKA/TPA rayon
 Gerakan unit TKA/TPA/Madin
 Gerakan cinta ZIS
 Pengukuran arah kiblat masjid/mushola
 Pengembangan mushola/masjid binaan
2. Yogya Cerdas
Pentasyarufan ZIS untuk mendukung peningkatan kualitas dan kuantitas peserta didik
kurang mampu tingkat TK/RA s.d. SMA/MA/SMK dengan program beasiswa anak
asuh, rumah cerdas BAZNAS serta beasiswa mahasiswa produktif. Berikut kegiatan
Yogya Cerdas yaitu:
 Bantuan pendidikan anak asuh
 Bantuan pendidikan siswa miskin sekolah/madrasah
 Bantuan pendidikan anak pegawai
 Bantuan pendidikan siswa/mahasiswa berprestasi
3. Yogya Sejahtera
Pentasyurufan ZIS untuk meningkatkan ekonomi jamaah yang kurang mampu namun
memiliki kegiatan ekonomi produktif, khususnya yatim/piatu, dhuafa’, difabel,
ustadz, penyuluh, penjaga masjid dan muallaf kurang mampu. Berikut ini kegiatan
Yogya Sejahtera:
 Pemberdayaan ekonomi muallaf
 Pemberdayaan ekonomi ustadz
 Pemberdayaan Ekonomi Produktif
 Kampung Sejahtera
 Sekolah Saudagar Mustahiq
4. Yogya Sehat
Pentasyurufan ZIS untuk membantu masyarakat kurang mampu yang terkena musibah
sakit. Berikut ini kegiatan Yogya Sehat yaitu:
 Santunan sakit kepala keluarga dhuafa’
 Santunan sakit pegawai non PNS
 Khitaan ceria
 Apotik jama’ah
5. Yogya Peduli
Program BAZNAS Kota Yogyakarta dengan tujuan meringankan beban masyarakat
yang terkena bencana alam, BAZNAS tanggap bencana (BTB). Berikut ini kegiatan
Yogya Peduli yaitu:
 Bantuan musibah bencana
 Bantuan pembiayaan musibah sakit
 Bantuan musafir kehabisan bekal

Meskipun lebih berkonsentrasi untuk penurunan dana fakir miskin yang bersifat
konsumtif, BAZNAS Kota Yogyakarta sendiri juga memiliki program sebagai penyaluran
zakat produktif seperti yang telah diatur dalam SOP dan RKAT BAZNAS itu sendiri. Seperti:

1. Program Ekonomi Produktif


a. Syarat dan kriteria sebagai berikut:
1) Jamaah majelis taklim/muallaf/difable/ustadz/jamaah kurang mampuwilayah Kota
Yogyakarta dan aktif mengikuti pengajian atau pembinaan.
2) Memiliki ketrampilan/usaha yang berpotensi untuk bisa dikembangkan.
3) Bersedia didampingi tenaga ahli yang ditunjuk oleh BAZNAS Kota Yogyakarta.
b. Jumlah dan waktu:
1) Bantuan untuk calon penerima 80 mustahiq.
2) Bantuan diberikan setahun sekali dan setiap semester (setelah bantuan diberikan)
diwajibkan memberikan laporan perkembangan unit usaha.
3) Ditasharufkan di Bulan Maret.
4) Ketentuan lebih lanjut mengenai bantuan pemberdayaan ekonomi jamaah kurang yang
belum tertuang dalam point a dan b akan dituangkan dalam KAK/TOR.
2. Kampung Sejahtera
Syarat atau kriteria dan Waktu:
1) Lokasi di wilayah Kota Yogyakarta dan ditentukan BAZNAS Kota Yogyakarta.
2) Membuat RKAT Tahun 2018 Kampung sejahtera.
3) Membuat surat permohonan dan proposal setiap triwulan ke BAZNAS Kota
Yogyakarta untuk pencairan dana.
4) Bersedia menyampaikan laporan penggunaan bantuan dana setiap semester I dan II.
5) Ditasharufkan Januari-Desember.
6) Ketentuan lebih lanjut mengenai Kampung Sejahters yang belum tertuang dalam point
akan dituangkan dalam KAK/TOR.
3. Sekolah Saudagar Mustahiq
Syarat atau Kriteria dan Waktu:
1) Masyarakat Kurang mampu wilayah Kota Yogyakarta (domisili administrasi di Kota
Yogyakarta).
2) Menyerahkan Surat Keterangan Tidak Mampu dari RT, RW, Kelurahan/ Fotocopy
KMS/KIS dll.
3) Menyerahkan surat rekomendasi dari Takmir masjid/mushola/Pengurus majelis taklim
setempat.
4) Mengikuti kegiatan sesuai jadwal.
5) Hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang beragama islam.
6) Ketentuan lebih lanjut mengenai sekolh saudagar mustahiq yang belum tertuang akan
dituangkan dalam KAK/TOR.29
12) Analisis distribusi zakat BAZNAS Kota Yogyakarta dalam pandang Yusuf
Qardhawi

Adapun berkenaan dengan konsep mengenai pengelolaan zakat dalam hal ini Yusuf
Qardhawi mengungkapkan sebagai berikut:

“Para petugas pengumpul zakat (amil) melaksanakan pekerjaan pengumpul zakat. Tugas
mereka menyerupai tugas para penagih pajak pada zaman kita sekarang. Diantara tugas itu,
ialah melakukan sensus terhadap orang-orang wajib zakat, seperti harta yang mereka miliki,
dan besar harta yang wajib dizakat. Kemudian menagihnya dari para wajib zakat, lalu
menyimpan dan menjaganya, untuk kemudian diserahkan kepada pengurus pembagi zakat.
Di setiap tempat dan daerah perlu adanya cabang urusan pengambil zakat”.

Dari kutipan akhir diatas menjelaskan bahwa, lembaga-yang khusus menangani zakat
seperti LAZ atau BAZ pada zaman sekarang dan diharapkan lembaga-lembaga seperti ini ada
di setiap tempat dan daerah guna mempermudah para petugas zakat dalam endata para
muzakki, mengumpulkan harta zakat dan mendistribusikannya. Selain itu, adanya cabang-
cabang lembaga zakat di suatu tempat dan daerah mempermudah petugas zakat dalam
mengawasinya agar tidak salah mendistribusikannya. Hal ini, sejalan yang dilakukan oleh

29
Buku SOP BAZNAS Kota Yogyakarta.
BAZ dan LAZ saat ini, BAZNAS Kota Yogyakarta sendiri misalnya yang fokus mengontrol
dan mengelola dana zakat di lingkup Kota Yogyakarta itu sendiri. Adapun dalam proses
pengelolaan dan pengajuan tetap berkesinambungan dengan BAZNAS provinsi dan
BAZNAS pusat yang bertempat di Jakarta.

Yusuf Qardhawi juga mengutip bahwa, “Negara wajib mengatur dan mengangkat
orang-orang yang bekerja dalam urusan zakat yang terdiri dari pengumpul, penyimpan,
penulis, penghitung dan sebagainya. Zakat mempunyai anggaran khusus yang dikeluarkan
daripada gaji para pelaksananya.”

Berdasarkan kutipan di atas diperoleh keterangan bahwa, seorang amil zakat harus
diangkat oleh pemerintah agar tidak terjadi kesalahan dalam pendistribusian zakat. Dengan
ditunjuknya amil zakat oleh pemerintah menunjukkan bahwa para amil zakat benar-benar
berkompeten di bidangnya, profesional, jujur, dan amanah. Selain itu dengan ditunjuknya
amil zakat secara langsung oleh pemerintah dapat menghindari kepentingan-kepentingan
individu atau kelompok dan pemerintah telah menyiapkan anggaran atau gaji kepada mereka.
Hal tersebut seperti yang sedang dilaksanakan BAZNAS saat ini, yang dibentuk dan ditunjuk
oleh pemerintah guna mengelola dana zakat di daerah masing-masing, bahkan di seluruh
Indonesia.

“Zakat dapat didistribusikan secara konsumtif dan dapat pula secara produktif. Distribusi
zakat produktif pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW. Menurut Yusuf Qardhawi,
pemerintah islam dapat mengembangkan harta zakat dengan cara membangun pabrik-pabrik
atau perusahaan-perusahaan, kemudian keuntungannya dipergunakan untuk kepentingan
fakir miskin sehingga akan terpenuhi kebutuhan hidup mereka sepanjang masa”.

Berdasarkan petikan diatas menunjukkan bahwa, zakat dapat diberikan secara


konsumtif dan produktif, namun Yusuf Qardhawi lebih menganjurkan kepada distribusi yang
produktif karena pemerintah dapat mengembangkan harta zakat dengan cara membangun
pabrik-pabrik atau perusahaan-perusahaan, kemudian keuntungannya dapat dipergunakan
untuk kepentingan para mustahik. Adapun pendistribusian zakat melalui yang dimiliki oleh
BAZNAS Kota Yogyakarta, ada yang bersifat konsumtif dan produktif melalui program-
program seperti yang telah tertera di atas. Namun, dalam prakteknya dana zakat lebih
dominan untuk konsumtif habis, dengan kuat alasan bahwa di Kota Yogyakarta sendiri
pemerintah sudah banyak program mengenai pemberdayaan ekonomi di wilayah Kota
Yogyakarta itu sendiri.30

Menurut penulis manajemen pendistribuan zakat khususnya yang bersifat penyaluran


produktif pada BAZNAS Kota Yogyakarta sudah berjalan melalui prosedur yang cukup baik
yaitu, setelah adanya proposal yang masuk pihak BAZNAS sendiri melakukan studi
kelayakan atau survei, dan jika disetujui dalam rapat, maka akan digulirkan dana. BAZNAS
sendiri juga tidak sembarang dalam melakukan penyeleksian studi kelayakan jadi
kemungkinan besar tidak bertentangan dengan syariat islam, pihak BAZNAS juga melakukan
pengawasan melalui laporan-laporan yang telah disepakati dalam KAK/TOR, juga diawasi
langsung oleh Kementrian Agama Kota Yogyakarta.

Hal ini sesuai dan sejalan dengan Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia No.
581 Tahun 1999 Pasal 29 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 dan
Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Dengan Keputusan Menteri
Agama tersebut ada ikatan yang mengikat antara pemberi modal (BAZNAS) dan penerima
modal (mustahiq) berupa bimbingan, penyuluhan, pemantauan, pengendalian, pengawasan,
evaluasi, dan pelaporan. Dengan demikian antara BAZNAS dan mustahiq ada ikatan untuk
berjalan bersama-sama mencapai kesejahteraan.31

Kesimpulan

Berdasarkan uraian tentang pendistribusian zakat pada BAZNAS Kota Yogyakarta


diatas,keseluruhan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa:

Muzakki pada BAZNAS Kota Yogyakarta adalah PNS/Pegawai/Polri yang beragama


Islam, instansi pemerintah, BUMD, DPRD, KODIM, Pengadilan di wilayah Kota.
Mekanisme pendistribusian zakat di BAZNAS Kota sudah sepenuhnya sesuai dengan hukum
Islam, karena dalam mendistribusikan dana zakat sudah merata. Baznas lebih berfokus pada
pendistribusian zakat konsumtif karena pemerintah kota Yogyakarta sendiri sudah
menyalurkan dananya untuk program-program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Selain
itu sudah adanya pengawasan yang maksimal dari pihak BAZNAS dan sudah adanya
pelaporan dari mustahik. Transparansi dana zakat BAZNAS Kota Yogyakarta sudah sesuai

30
Wawancara dengan Muhaimin S. Si Bagian Pentasharufan, tanggal 24 Mei 2018 di Kantor Baznas Kota
Yogyakarta
31
Emi Hartatik, Analisis Praktik Pendistribusian Zakat Produktif pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZDA)
Kabbupaten Magelang, Az Zarqa’, Vol. 7, No. 1, Juni 2015.
dengan UU No.23 Tahun 2011. Sudah adanya pelaporan kepada BAZNAS provinsi dan
publikasi masyarakat, melalui website BAZNAS Kota Yogyakarta. Dalam pendistribusian
sudah tidak ada lagi nepotisme yang diindikasikan oleh partai politik dan hal ini
menyebabkan peningkatan pada semangat kerja pengurus di tambah dengan bertambahnya
penerimaan masukan dari berbagai pihak.

Zakat merupakan sumber dana yang potensial untuk kesejahteraan umat. Implikasi
zakat konsumtif terhadap mustahik pada BAZNAS Kota Yogyakarta sudah mampu merubah
mustahik menjadi muzakki, dan mampu merubah mustahik menjadi munfiq. Hal tersebut
dikarenakan jumlah bantuan yang diberikan sesuai dengan jumlahnya dan banyaknya
pemahaman mustahik tentang dana zakat konsumtif.
DAFTAR PUSTAKA

Skripsi
Andri Setiawan, Analisis Pendapat Yusuf Al Qardhawi tentang Konsep Distribusi Zakat
dalam Kitab Fiqhuz Zakat, Skripsi, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta, 2015.
Fand Achmad Suseno, “Manajemen Distribusi Zakat Untuk Pendidikan Santri TPA Di
Baznas Kota Yogyakarta,(Studi pada Program Yogya Taqwa Tahun 2013), Skrpsi,
Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2013.
Jurnal
Hebby Rahmatul Utamy, Keadilan Ekonomi dalam Pendistribusian Zakat oleh BAZNAS Kab.
Tanah Datar, Jurnal Tamwil, Vol.1, No. 2, Juli-Desember 2015.
Emi Hartatik, Analisis Praktik Pendistribusian Zakat Produktif pada Badan Amil Zakat
Nasional (BAZDA) Kabbupaten Magelang, Az Zarqa’, Vol. 7, No. 1, Juni 2015.
Buku
Didin Hafiduddin, Agar Harta Berkah dan Bertambah (Jakarta: Gema Insani, 2009), cet. Ke-
3
Didin Hafiduddin, Zakat dalam Perekonomian Modern, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002),
cet ke-1.
Bambang Suggono, Metodologi Penelitian Hukum (Jakarta: PT Grafindo Raya, 2003).
Supani, Zakat di Indonesia: Kajian Fikih dan Perundang-Undangan (Yogyakarta: Grafindo
Lentera Media, 2010).
Isnawati Rais, Muzakki dan Kriterianya dalam Tinjauan Fikih Zakat, (Majelis Ulama
Indonesia).
Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat, Studi Komparatif Mengenai Status dan Filsafat Zakat
Berdasarkan Al Quran dan Hadits, Alih bahasa Salman Hrun, dkk, (Bogor: Pustaka
Litera Antar Nusa, 2007).
Muhammad Jawad Mughniyah, fiqih lima mahzab: ja’fari, hanafi, maliki, syafi’i,hambali ,
Penerbit Lentera, Jakarta.
Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf (Jakarta: Universitas
Indonesia Press: 1998).
Suparman Usama, Hukum Islam: Asas-asas dan Pengantar Studi Hukum Islam dan Tata
Hukum Indonesia (Jakarta:Gaya Media Pratama, 2004).
Asnani, Zakat Produktif dalam Perspektif Hukum Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008)
Buku SOP BAZNAS Kota Yogyakarta.
Lain-lain
Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat
https://kbbi.web.id, diakses pada tanggal 30 Mei 2018 pukul 09.44 WIB.
Wawancara dengan Muhaimin S. Si Bagian Pentasharufan, tanggal 24 Mei 2018 di Kantor
Baznas Kota Yogyakarta
Pasal 16 UU No.38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat