Anda di halaman 1dari 6

Merdeka Dengan Sastra

Oleh M. Ilhamul Qolbi

Tak ada satu hal pun yang tak dapat diciptakan atau dihancurkan atau diperbaiki
dengan kata-kata. - Cicero

Indonesia saat ini menginjak usia 73 tahun. Usia yang tidak bisa dibilang prematur lagi untuk
menjadi sebuah bangsa yang maju. Pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia melahirkan
kemerdekaan bagi segenap rakyat Indonesia. Merdeka dari kolonialisme Belanda, merdeka dari
fasisme Jepang, bahkan secara perlahan merdeka dari feodalisme, ketahayulan, serta mitos
yang membelenggu masyarakat Indonesia. Kemerdekaan itu melahirkan Pancasila yang
melalui beberapa tahap, yaitu pertumbuhan nilai (400-1500), identifikasi nilai (1500-1800),
idealisasi nilai (1800-1942), puncak idealisasi nilai (1942-1945) hingga sampai saat ini
operasionalisasi nilai (1945-sekarang).

Bagaimana implementasi nilai itu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? Seperti halnya
yang dikemukakan oleh Cicero, tidak ada satu hal pun yang tidak dapat diciptakan atau
dihancurkan atau diperbaiki melalui kata-kata. Sungguh, bahasa sebagai medium
berkomunikasi menjadi sangat penting. Bahasa, dalam hal ini kata-kata, bukan hanya berbicara
masalah teknis saja, tetapi unsur estetis yang menjadi jiwa dari bahasa itu sendiri. Salah satu
keterwakilan medium dari kata-kata yang penuh jiwa itu sastra. Dan, kita bisa menjadi merdeka
dalam arti yang sesungguhnya dengan itu.

Apa itu Sastra?

Jika ada satu kata yang bisa mewakili sastra, kata yang muncul pertama kali adalah anugerah.
Bahkan, jika dikaitkan dengan bangsa Indonesia, erat sekali kaitannya. Jamal D. Rahman,
seorang penyair dan Pimpinan Redaksi Majalah Sastra Horison itu dengan lantangnya
mengatakan bahwa Puisi, salah satu dari jenis karya sastra, merupakan ibu kandung dari
Indonesia. Jika analoginya sebagai Ibu, lalu seberapa pentingkah sastra ini?

Menurut A. Teeuw dalam Sastra dan Ilmu Sastra (1984: 22-23), kata sastra mempunyai banyak
sebutan, antara lain literature (Inggris), Literatur (Jerman), dan littérature (Prancis). Semua kata
tersebut berasal dari bahasa Latin litteratura yang merupakan terjemahan dari kata Yunani
grammatika. Litteratura dan gramatika masing-masing terbentuk dari kata dasar littera dan
gramma yang berarti huruf atau tulisan.

Huruf atau tulisan merupakan medium dari bahasa. Yudi Latif dalam bukunya mengungkapkan
lima alasan mengapa huruf atau tulisan ini menjadi sangat penting peranannya dalam kemajuan
bangsa.

Pertama, tradisi tulis merupakan sarana olah ketepatan. Seseorang belajar untuk menulis,
sebagian merupakan wahana untuk belajar mengemukakan dirinya secara benar dan tepat
dalam pembicaraan lisannya.
Kedua, keberaksaraan merupakan ukuran keberadaban. Ada tiga perbedaan tahapan
bagaimana manusia berhimpun ke dalam suatu bangsa. Melukiskan objek, cocok dihubungkan
dengan masyarakat liar; tanda dari kata dan proposisi dihubungkan dengan masyarakat
barbar, serta alfabet kepada masyarakat beradab.

Ketiga, keberaksaraan merupakan organ kemajuan. Literasi merupakan sebab pembangunan,


suatu pandangan yang mendorong komitmen UNESCO untuk melenyapkan iliterasi pada tahun
2000 sebagai katalis bagi modernisasi.

Keempat, keberaksaraan sebagai instrumen budaya dan perkembangan saintifik. Literasi


merupakan musuh dari ketakhayulan, mitos, dan magis. Kelima, keberaksaraan sebagai
instrumen dari perkembangan kognitif.

Selain kelima alasan di atas, alasan mengapa huruf atau tulisan menjadi sangat penting untuk
diperhitungkan dalam kemajuan bangsa bisa dilihat dari kilas balik sejarah bangsa Indonesia.

Cicero pernah mengatakan bahwa tidak ada satu hal pun yang tidak dapat diciptakan atau
dihancurkan atau diperbaiki dengan kata-kata. Semuanya bisa. Menurut penulis, hal itu tidak
berlebihan karena jika dilihat dari basis perjuangan kita, setiap gerakan kebangkitan bermula
dari kata. Seperti halnya kata ‘kemadjoean’ atau perubahan kata indische menjadi indonesische
hingga indonesia, memainkan atau menciptakan diskursus yang sangat penting dalam cara
orang-orang kepulauan ini merumuskan diri, kenyataan sekitar, serta tujuan-tujuan hidupnya.

Nama adalah tanda pengenal diri yang memberi kesadaran eksistensial. Ketika bangsa
Belanda menciptakan nama Hindia untuk wilayah jajahan mereka, yang patut dibongkar terlebih
dahulu adalah nama yang diberikan oleh musuh saat itu. Sampai pada akhirnya muncul nama
Indonesische, yang merujuk pada suatu geo-kultur di kawasan Austronesia yang berciri
kepulauan dan bercorak kultur India. Pada 1922, perkumpulan pelajar Indonesia di belanda,
Indische Vereeniging, berubah menjadi Indonesische Vereeniging. Akhir 1924, Indonesische
Vereeniging berganti menjadi Perhimpunan Indonesia.

Itulah kata. Hanya sekumpulan huruf, tetapi sangat bermakna.

Secara sederhana, produk dari tulisan kita kenal dengan adanya karya fiksi dan non fiksi. Fiksi
itu pengertian mudahnya tidak nyata, rekaan, imajinasi, khayalan. Sedangkan non fiksi
diidentikkan dengan data, fakta, dan penelitian. Dan, sastra dalam hal ini menempati posisi
yang pertama.

Beberapa bulan yang lalu, sempat viral terkait fenomena fiksi yang diungkapkan oleh Rocky
Gerung. Terlepas dari setuju atau tidaknya pernyataannya waktu itu, ada satu hal yang bisa kita
sepakati bersama bahwa masyarakat saat ini memandang fiksi itu menjadi suatu hal yang
bertendensi negatif. Ia muncul sebagai kebohongan semata karena bersifat khayalan, rekaan,
dan sebagainya.

Padahal, esensi dari fiksi itu bukan benar atau tidaknya cerita itu pernah terjadi di dunia nyata,
tetapi bagaimana seorang pembaca bisa memahami nilai dari cerita tersebut bukan hanya dari
segi intelegensinya, daya resap emosionalnya pun tidak boleh diabaikan. Tentunya terlepas
apakah cerita tersebut benar-benar terjadi atau tidak.

Jadi, sastra itu merupakan hasil kreativitas manusia didasarkan pada luapan emosi yang
mampu mengungkapkan aspek estetik baik antara aspek kebahasaan maupun aspek makna.
Selain estetik, sastra juga dikenal dengan Dulce et Utile, dua fungsi yang harus ada dalam
setiap karya sastra. Dulce yang berarti menghibur, dan utile yang berarti bermanfaat.

Keadaan Zaman

Secara berturut-turut masyarakat berkembang dari masyarakat primitif, masyarakat agraris,


masyarakat industri, dan kemudian pada perkembangan lanjut menjadi masyarakat informasi.
Bob Gordon dari Universitas Northwestern, seperti dikutip Paul Krugman (2013), mencatat,
sebelumnya telah terjadi tiga revolusi industri. Pertama, ditemukannya mesin uap dan kereta
api (1750-1830). Kedua, penemuan listrik, alat komunikasi, kimia, dan minyak (1870- 1900).
Ketiga, penemuan komputer, internet, dan telepon genggam (1960-sampai sekarang).

Revolusi Industri gelombang keempat, yakni dikenal dengan istilah industri 4.0 pertama kali
diperkenalkan pada Hannover Fair 2011 yang ditandai revolusi digital. Revolusi keempat ini
pula yang memunculkan masyarakat informasi yang saat ini sedang kita hadapi bersama.

Keadaan zaman saat ini tidak terlepas dari tiga kata kunci yang berkaitdan dengan hal di atas,
yaitu industri, teknologi, dan sumber daya manusia. Namun, seperti halnya yang dikatakan oleh
Yudi Latif, di kalangan masyarakat kita masih terjadi miskonsepsi dari ketiga kunci tersebut.

Pertama industrialisasi. Kata tersebut sering dinisbatkan menjadi sekedar bagaimana cara
memperoleh dan mengembangkan teknologi yang terintegrasi ke dalam proses-proses
produksi. Sehingga memunculkan pandangan bahwa pendidikan berorientasi industri berarti
pendidikan yang sanggup memasok ‘suku cadang’ siap pakai (siap latih) bagi perputaran roda
mesin dan laju produksi.

Padahal, Sudjatmoko (1987) mengatakan bahwa hampir semua keputusan pembangunan


(apalagi plihan industrialisasi) akan mempunyai akibat etis dan kemanusiaan. Perlu adanya
harmonisasi antara technosphere dan sociosphere. Sehingga, proses industrualisasai dan
pembentukan masyarakat industri pun seharusnya selalu berjalan berkelindan.

Kedua teknologi. Kata tersebut sering diidentikan sebagai alat, yang akhirnya muncul
penekanan kepada bidang-bidang keteknikan. The Asian and Pasific Centre for Transfer of
Technology (APCTT) merumuskan setidak-tidaknya ada empat komponen teknologi,
technoware (unsur perangkat keras), infoware (unsur informasi), humanware (unsur sumber
daya manusia) dan organware (unsur manajemen dan lingkungan sosial). Pada intinya,
berbicara teknologi bukan hanya sebatas techno-enginering, tetapi juga socio-enginering.

Ketiga sumber daya manusia. Miskonsepsi yang terjadi adalah perlu ditekankan adanya holistic
education. Bersandar pada multiple intellegences. Fenomena sekarang ini, masyarakat akan
menilai seseorang itu berkompeten atau tidak hanya dilihat dari kemampuan logical-
mathematical intellegence. Padahal, Howard Garner merumuskan ada kecerdasan lain seperti
linguistic intellegence, musical intellegence, bodily-kinesthetic intellegence, spatial intellegence,
personal intellegence, dan social intellegence.

Jika miskonsepsi ini dihilangkan, kualifikasi sumber daya manusia yang memenuhi tantangan
ini bukan hanya berbasis pada kemampuan teknis, melainkan mampu beradaptasi secara
berkesinambungan dengan proses-proses pemecahan masalah dan daya kreatifnya yang
berdasarkan nilai-nilai keberadaban.

Sastra dan Fondasi Pembangunan Karakter

Dapat diambil kesimpulan bahwa tiga kata kunci di atas yakni teknologi, industri, dan sumber
daya manusia harus mempunyai karakter yang menjadi fondasi. Apapun kompetensi yang
dibangun di atas fondasi ini akan berdiri tegak dengan baik dan benar. Karena pada dasarnya
posisi karakter bukan jadi pendamping kompetensi, melainkan jadi dasar, ruh, atau jiwanya.

Bagaimana pembangunan fondasi karakter kita?

Karakter erat kaitannya dengan nilai, termasuk salah satunya nilai kebudayaan. Seperti yang
diungkapkan oleh Yudi Latif, gerakan kebudayaan merupakan jantung reformasi sosial.

Namun, cerminan media massa kita saat ini cenderung berbahasa politik (who’s the wining,
siapa yang menang) atau ekonomi (where’s the botttom line, di mana untungnya). Perlu narasi
wacana baru, yaitu satu bahasa dominan baru, bahasa kebudayaan, yaitu tentang what’s right
(apa kebenarannya).

Seperti halnya William W. Lowrence (1985), ilmu dan teknologi mempengaruhi nilai-nilai
budaya, sebaliknya budaya mempengaruhi kinerja teknologi. Ilmu dan teknologi tidak bisa
tumbuh subur tanpa topangan budaya yang kondusif, sebaliknya kebudayaan dan masyarakat
tak dapat berfungsi dengan wajar tanpa didukung oleh perkembangan yang sehat dari ilmu dan
teknologi.

Selain kebudayaan, pengembangan karakter meupakan pendekatan holistik yang


menghubungkan dimensi moral pendidikan dengan ranah sosial dan sipil dari kehidupan sosial.

Kepaduan antara kebudayaan, moral, dan sosial itulah muncul sastra sebagai wahana
pengembangan karakter kita. Sastra bukan hanya bahasa kebudayaan yang diperbincangkan di
atas, tetapi juga sekaligus bahasa sosial dan moral yang terpadu menjadi satu. Sastra menjadi
bahasa kebudayaan (yang mengutamakan apa kebenarannya), sekaligus menjadi
pembelajaran moral dan pengungkapan realita sosial yang memberikan keteladanan. Karena,
nilai-nilai keteladanan dan kepahlawanan ini tidaklah diajarkan (taught) secara kognitif dalam
rumus ‘pilihan ganda’, melainkan ditangkap (caught) lewat penghayatan emotif melalui sastra.

Menengok negara maju seperti Inggris, puisi-puisi Shakespeare menjadi bacaan wajib sejak
sekolah dasar dalam rangka menanamkan tradisi etik dan kebudayaan masyarakat tersebut. di
Swedia, enak spanduk dibentangkan di hari raya berisi kutipan dari karya-karya kesusastraan.
Di Prancis, sastrawan-sastrawan agung menghuni pantheon (kuil untuk semua dewa); jejak-
jejak singgahnya di beberapa tempat diberi tanda khusus.
Lantas, bagaimana posisi sastra di negara kita?

Miskonsepsi yang dibicarakan di atas, memunculkan ancaman vokasionalisme baru, yakni


suatu konsepsi lembaga pendidikan yang menekankan keterampilan teknis. Bahkan
keterampilan teknis itu merambah ke pembelajaran bahasa, pengajaran bahasa mengabaikan
dimensi kesastraan, seraya memberikan perhatian yang berlebihan pada pengajaran tata
bahasa dalam disiplin keilmuan dan kejuruan yang spesifik. Meminjam istilah Putu Wijaya,
sastra menjadi ‘penumpang gelap’ pendidikan bahasa di Indonesia.

Bahasa Indonesia, yang dideklarasikan melalui Sumpah Pemuda pada tahun 1928, rupanya
masih cenderung dipahami dari sisi sisi keteknisan saja. Akibatnya, yang muncul di sekolah
adalah pengajaran bahasa yang berkutat pada hafalan ruang lingkup unsur-unsur, struktur, dan
pengertian teks semata. Atau pembentukan kata, kalimat, yang semuanya besifat teknis.
Sedangkan jika menyinggung sastra, yang muncul hanya unsur pembangun, hafalan
periodisasi, dan unsur keteknisan lainnya.

Bahkan, potensi makna ganda di dalam suatu karya yang seharusnya dapat dimanfaatkan
untuk menciptakan suasana khas dari sastra, malah tercerabut dengan opsi pilhan ganda.
Padahal, keambiguan yang diciptakan dalam karya sastra disebabkan karena tidak adanya
hubungan fisik antara pengarang dan pembaca. Kata aku dalam sebuah puisi misalnya, bukan
berarti menyangkut tentang diri si pengarang. Keambiguan makna ini yang kemudian disebut
sebagai keindahan sastra, malah menjadi tercerabut dari akarnya.

Mengutip dari Boris Pasternak bahwa “Literature is the art of discovering something
extraordinary about ordinary people, and saying with ordinary words something extraordinary.”
Namun, keluarbiasaan itu diciutkan ke dalam teknis yang bukan hanya sederhana, tetapi
kehilangan esensinya.

Akhirnya, kapasitas pembelajaran yang seperti itu, jika dipaksakan bergerak, maka yang timbul
adalah makhluk zombie. Pertumbuhan penampilan fisiknya tak diikuti perkembangan rohaninya.

Padahal, sebagai negara demokrasi, proses perekrutan sumber daya insani idealnya tidak bisa
mengandalkan keturunan seperti dalam aristokrasi; tidak juga pada kekayaan bawaan seperti
dalam plutokrasi; tetapi harus berjejak pada prestasi warga negara di segala bidang, atau yang
disebut dengan meritokrasi. Prestasi ini, tanpa didasari dengan karakter yang kuta, yang
muncul adalah kita akan menjadi budak teknologi, dan hanya sekedar menjadi objek teknologi.
Bukan pelaku.

Jika Abdul Rivai dalam majalah Bintang Hindia (1902) mengatakan bahwa ‘bangsawan usul’
sudah sepatutnya beralih menjadi ‘bangsawan pikiran’, yaitu pengetahuan dan pencapaianlah
yang menentukan kehormatan seseorang. Maka, revolusi digital pun perlu melahirkan
bangsawan pikiran yang tidak hanya lihai dalam pengetahuan, tetapi dalam moral yang menjadi
karakter hingga berwujud perilaku, yang pada akhirnya sama, menentukan kehormatan
seseorang.

Wallahu A’lam.
Penulis merupakan guru SMA Dharma Karya Jakarta, aktivis Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT)
Ciputat dan alumni Pondok Pesantren Mahadut Tholabah Babakan Lebaksiu Tegal.