Anda di halaman 1dari 21

TUGAS ASTRONOMI

MAKALAH SISTEM KOORDINAT PADA ILMU ASTRONOMI

Dosen pengampu : Yesiana Arimurti, S.Si.,M.Sc.

Disusun Oleh :

Nama : Wahyu Nurfauzi

NIM : K2315061

Prodi/Kelas : Pendidikan Fisika 2015A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.


Astronomi merupakan cabang ilmu yang melibatkan pengamatan benda-benda
langit (seperti bintang, planet, komet, nebula, gugus bintang atau galaksi) serta
fenomena alam yang terjadi diluar atmosfer bumi (seperti radiasi latar belakang
kosmik). Pengetahuan tentang benda-benda langit telah menjadi perdebatan sejak
lama, rasa ingin tahu dan penasaran manusia mendorong mereka untuk terus
melakukan penelitian tentang segala sesuatu yang belum mereka temui atau belum
terpecahkan khususnya yang berkaitan dengan alam semesta, karena begitu luasnya
kajian tentang alam semesta yang belum diketahui batasnya, meskipun Nabi
Muhammad SAW telah melakukan isra dan miraj hingga menembus langit ke tujuh
atas seijin Allah SWT. Namun, sampai saat ini belum ada seorang manusia pun yang
dapat menembus langit tersebut dan pengetahuan manusia hanya sebatas di langit
pertama yang juga belum diketahui batasnya.

Berbagai pendapat dan hipotesis bermunculan dengan tujuan memberikan


informasi paling mutakhir dan valid. Keingintahuan ini terlihat dari orang-orang
Yunani kuno yang mempelajari astronomi, namun terkadang juga digunakan untuk
keperluan astrologi karena keterbatasan pengetahuan. Alam semesta ini diciptakan
dalam keadaan yang teratur rapi. Keteraturan gerakan bintang termasuk matahari,
planet, satelit, komet dan benda langit lainnya menyebabkan gerakan benda-benda
tersebut dapat dipelajari dengan seksama. Dengan memahami gerakan benda-benda
langit tersebut, orang-orang Yunani kuno dapat memperkirakan peristiwa-peristiwa
yang terjadi di masa depan dengan akurat. Kapan matahari terbenam, terjadi bulan
purnama, gerhana matahari dan lain-lain dapat dihitung dengan ketelitian tinggi.
Untuk memudahkan pemahaman terhadap posisi benda–benda langit, diperkenalkan
beberapa sistem koordinat. Setiap sistem koordinat memiliki koordinat masing–
masing. Posisi benda langit seperti matahari dapat dinyatakan dalam sistem koordinat
tertentu. Selanjutnya nilainya dapat diubah ke dalam sistem koordinat yang lain
melalui suatu transformasi koordinat.

Untuk menyatakan letak suatu benda langit diperlukan suatu tata koordinat yang
dapat menyatakan secara pasti kedudukan benda langit tersebut. Tata koordinat

2
tersebut terdiri dari tata koordinat horison, tata koordinat ekuator,dan tata koordinat
ekliptika. Tiap-tiap tata koordinat tentunya memiliki cara penggunaan sistem yang
berbeda serta terdapatnya berbagai macam keuntungan dan kelemahan dalam
penggunaan sistem tersebut. Dengan demikian penggunaan suatu sistem koordinat
bergantung pada hasil yang kita inginkan, apakah hasil yang didapat ingin digunakan
untuk waktu sesaat atau untuk waktu yang lama dan dapat dipakai secara universal.
Oleh karena itu didalam makalah ini penulis berusaha untuk menjelaskan mengenai
hal itu.

B. Rumusan Masalah.
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Mengapa tata koordinat bola langit digunakan untuk menetukan posisi bintang?
2. Bagaimana menentukan posisi benda langit berdasarkan tata koordinat bola
langit?
3. Tata koordinat apa saja yang digunakan pengamat untuk menentukan posisi benda
langit?

C. Tujuan Penulisan.
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk:
1. Dapat menjelaskan peran koordinat bola pada penentuan posisi benda-benda
langit.
2. Dapat mengetetahui posisi benda langit menggunakan tata koordinat bola.
3. Dapat mendeskripsikan macam-macam koordinat untuk mengamati benda-benda
pada bola langit.

D. Manfaat Penulisan.
Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya bagi
penulis dan umumnya bagi pembaca, yakni
1. Sebagai informasi dan pengetahuan dari ilmu astronomi spesialisasi pada
koordinat bola langit dan posisi bintang.
2. Sebagai motivasi untuk mengkaji lebih dalam tentang alam semesta.

3
BAB II
PEMBAHASAN

I. Pengertian Sistem Koordinat Langit.


Sistem Koordinat langit diterjemahkan sebagai nilai dalam suatu tatanan referensi
yang dipergunakan untuk menentukan kedudukan benda langit dalam bola langit.
Sedangkan bola langit adalah sebuah bola dengan jari-jari tak terhingga dan berpusat
di pusat bumi, dari bumi semua benda langit diproyeksikan ke bola langit. Ia adalah
lingkaran khayal yang merupakan batas pandangan mata pengamat ke angkasa
tempat benda-benda langit yang seolah-olah menempel pada langit. Sedangkan dalam
keterangan lain disebutkan bahwa bola langit adalah ruangan yang maha luas yang
berbentuk bola yang dapat kita lihat sehari-hari tempat matahari, bulan, dan bintang-
bintang bergeser setiap saat. Bintang-bintang itu dilihat seolah-olah berserak
disebuah kulit bola sebelah dalam, walaupun letak sesungguhnya sangat berjauhan.

Koordinat yang diperlukan untuk menggambarkan posisi suatu benda langit


disebut koordinat bola langit. Untuk menyatakan letak suatu benda langit diperlukan
suatu tata koordinat yang dapat menyatakan secara pasti kedudukan benda langit
tersebut. Tata koordinat tersebut terdiri dari tata koordinat horison, tata koordinat
ekuator, dan tata koordinat ekliptika. Tiap-tiap tata koordinat tentunya memiliki cara
penggunaan sistem yang berbeda serta terdapatnya berbagai macam keuntungan dan
kelemahan dalam penggunaan sistem tersebut. Dengan demikian penggunaan suatu
sistem koordinat bergantung pada hasil yang kita inginkan, apakah hasil yang didapat
ingin digunakan untuk waktu sesaat atau untuk waktu yang lama dan dapat dipakai
secara universal.

Dalam menentukan posisi benda langit tentunya kita harus menentukan terlebih
dahulu tempat atau benda yang akan menjadi acuan dalam pengamatan sehingga, kita
dapat dengan mudah dalam menentukan posisi benda yang akan diteliti. Tentunya
dari ketiga jenis koordinat bola langit yang akan dijelaskan untuk titik acuan di
tentukan oleh pengamat itu sendiri, artinya tergantung posisi si pengamat itu sendiri
berada di daerah mana dan disebelah mana.

Bola langit adalah bola khayal dengan radius tak hingga yang tampak berotasi,
konsentrik dan koaksial dengan bumi, dan semua obyek langit dibayangkan berada

4
pada kulit bola sebelah dalam. Bola langit digunakan untuk menentukan posisi
benda-benda langit sehingga memudahkan dalam pengamatan. Untuk menyatakan
letak suatu benda langit diperlukan suatu tata koordinat yang dapat menyatakan
secara pasti kedudukan benda langit. Pada intinya tata koordinat langit hanya
menaruh perhatian pada “arah” letak sebuah benda langit saja, dan tidak
memperhitungkan jarak benda langit tersebut.

Z
E

KLS
T
Keterangan :
U S
P Lingkaran SBUTS : horizon pengamat
Lingkaran EBKTE : ekuator langit
KLU B
Lingkaran besar yang tegak lurus ekuator
langit: lingkaran deklinasi (lingkr jam)
K
N
Gambar Bola Langit
 Bola langit.
Bola khayal yang merupakan tempat kedudukan proyeksi benda-benda langit.
 Zenith (Z).
Titik pada bola langit di atas pengamat.
 Nadir (N).
Titik pada bola langit di bawah pengamat.
 Horison.
Bidang datar (lingkaran) yang dibuat melalui pengamat dengan sumbu garis
vertikal (Z-N).
 Perpanjangan sumbu putar bumi (garis KU-KS) merupakan sumbu putar bola
langit memotong bola langit di Kutub Langit Utara (KLU) dan Kutub Langit
Selatan (KLS).
 Lingkaran Ekuator.
Lingkaran besar yang tegak lurus sumbu putar langit (KLU-KLS)
Membagi bola langit menjadi 2 bagian yang sama besar.
 Lingkaran jam (lingkaran deklinasi).
Lingkaran besar yang melalui kutub-kutub langit (KLU, KLS) dan berpotongan
tegak lurus dengan ekuator langit.

5
 Meredian langit.
Lingkaran besar yang melalui kutub-kutub langit (KLU, KLS), Zenith (Z) dab
Nadir (N).
Memotong horison pada titik utara (U) dan Selatan (S), pertengahan antara titik
utara (U) dan Selatan (S) pada horison merupakan titik Timur (T) dan titik Barat
(B).

II. Macam-macam Tata Koordinat Langit.


A. Tata Koordinat Horison.
a. Dasar Sistem Koordinat Horison.
Tata koordinat ini adalah tata koordinat yang paling sederhana dan paling
mudah dipahami. Tetapi tata koordinat ini sangat terbatas, yaitu hanya dapat
menyatakan posisi benda langit pada satu saat tertentu, untuk saat yang
berbeda tata koordinat ini tidak dapat memberikan hubungan yang mudah
dengan posisi benda langit sebelumnya. Karena itu menyatakan saat benda
langit pada posisi itu sangat diperlukan dan tata koordinat lain diperlukan agar
dapat memberikan hubungan dengan posisi sebelum dan sesudahnya.

Bola langit dapat dibagi menjadi dua bagian sama besar oleh satu bidang
yang melalui pusat bola itu, menjadi bagian atas dan bagian bawah. Bidang
itu adalah bidang horisontal yang membentuk lingkaran horizon pada
permukaan bola, dan bagian atas adalah letak benda-benda langit yang
tampak, dan bagian bawahnya adalah letak dari benda-benda langit yang tidak
terlihat saat itu.

Horizon adalah batas pemandangan atau kaki langit, merupakan pertemuan


antara kaki langit dan permukaan bumi, garis ini membentuk lingkaran
dengan titik pusat dimana kita berdiri, sebagian bola langit berada di atas dan
sebagian lagi ada dibawah horizon, sehingga dapat kita bayangkan bola langit
yang besar dengan bumi dengan sebagai pusatnya (seperti pada gambar di
atas). Untuk memudahkan horizon dibagi atas 3 jenis berdasarkan pandangan
kita terhadap pandangan kita antara langit dan bumi.

6
Z

R
Keterangan :
Tz

U S Azimuth bintang R : Busur SBR’


P
 Tinggi bintang R : Busur R’R
R Jarak zenith bintang R : Busur ZR
t’ B

N
Gambar Posisi bintang R dalam tata koordinat horison.
 Posisi benda langit : (azimuth bintang (A) , tinggi bintang (t))
(azimuth bintang (A) , jarak zenith (z))
 Azimuth bintang (A) : busur sepanjang horison diukur dari titik acuan
sampai lingkaran vertikal bintang ybs.
 Tinggi bintang (t) : busur pada lingkaran vertikal dari horison sampai
bintang ybs.
 Jarak zenith (z) : busur pada lingkaran vertikal dari titik Zenith (Z)
sampai bintang ybs, shg z = 900 - t
 Lingkaran vertikal : lingkaran besar yang melalui Zenith (Z) dan tegak
lurus horizon.

Disetiap tempat di permukaan Bumi mempunyai lingkaran meridian yang


berbeda-beda tergantung bujur tempat itu (yang berbujur sama mempunyai
lingkaran meridian yang sama).

Pada dasarnya garis Utara-Selatan adalah perpanjangan sumbu Bumi


yang melalui kutub Utara dan kutub Selatan. Titik Utara di Kutub Utara
sering disebut Titik Utara Sejati (True North), dan sebaliknya Titik Selatan
Sejati (True South), yang mana letaknya berbeda dengan Kutub Utara
Magnetik dan Kutub Selatan Magnetik. Apabila dilihat dari zenith maka
dengan putaran searah jarum jam akan mendapatkan arah Utara, Timur,
Selatan dan Barat dengan besar perbedaan sudutnya sebesar 90o.

Horizon adalah batas pemandangan atau kaki langit, merupakan


pertemuan antara kaki langit dan permukaan bumi, garis ini membentuk
lingkaran dengan titik pusat dimana kita berdiri, sebagian bola langit berada

7
di atas dan sebagian lagi ada dibawah horizon, sehingga dapat kita bayangkan
bola langit yang besar dengan bumi dengan sebagai pusatnya (seperti pada
gambar di atas).

b. Macam-macam Horizon.
Untuk memudahkan horizon dibagi atas 3 jenis berdasarkan pandangan
kita terhadap pandangan kita antara langit dan bumi.
1. Horizon Kodrat (alam).
Apabila kita berdiri disebuah tanah yang luas dan datar atau
ditengah samudra/laut, kita melihat seolah-olah kubah langit bertemu
dengan permukaan bumi. Perpotongan lengkung langit dengan bidang
datar ini disebut horizon kodrat. Horizon Kodrat akan berubah sesuai
dengan kedudukan dari si pengamat. Makin tinggi tempat si pengamat
maka makin rendah horizon kodrat.
2. Horizon Astronomi
Untuk menentukan letak benda-benda dilangit maka kita harus
menggunakan bidang datar yang tidak brubah-ubah dan tidak tergantung
kepada sipengamat. Horizon astronomi adalah tempat bidang yang datar
yang dibuat dari mata si pengamat sampai menyentuh lengkung langit.
3. Horizon Sejati
Horizon sejati adalah bidang datar yang ditarik memotong melalui titik
pusat bumi dan memotong garis vertikal tegak lurus (90').

Di samping ke-3 tersebut diatas kita mengenal titik Zenit yang ada tepat
diatas kita (tempat berdiri) dan titik yang berada dibawah kaki kita terus
menembus bola langit yang berada dibawah disebut nadir. Titik nadir dan
zenith dihubungkan dengan garis lurus melalui tempat kita berdiri dan tentu
saja melalui pusat bumi.
 Zenith adalah titik yang berada di bola langit tepat diatas sipengamat, jika
kita buat garis vertikal maka garis ini akan membentuk sudut 90' (tegak
lurus) dengan horizon sejati.
 Nadir adalah titik yang berada pada bola langit bawah, bila ditarik garis
melalui pengamat ketitik ini membentuk garis yang tegak lurus terhadap
horizon sejati.

8
 Vertikal adalah garis atau bidang yang berdiri tegak lurus dengan garis atau
bidang sejati.

Pada sistem koordinat horizon, letak bintang ditentukan hanya berdasarkan


pandangan pengamat saja. Sistem koordinat horizon tidak dapat
menggambarkan lintasan peredaran semu bintang, dan letak bintang selalu
berubah sejalan dengan waktu. Namun, sistem koordinat horizon penting
dalam hal pengukuran adsorbsi cahaya bintang.

Sistem koordinat horizon memakai bidang horizon sebagai bidang dasar


terhadap mana posisi-posisi bintang–bintang ditentukan. Untuk menyatakan
posisi-posisi bintang di bola langit itu, maka sistem koordinat horizon
menggunakan dua buah unsur, yaitu:
1. Tinggi bintang
2. Azimuth bintang

Kordinat - kordinat dalam sistem koordinat horizon adalah:


1) Bujur suatu bintang dinyatakan dengan azimut (Az). Azimut umumnya
diukur dari selatan ke arah barat sampai pada proyeksi bintang itu di
horizon, seperti pada gambar azimut bintang adalah 220°. Namun ada pula
azimut yang diukur dari Utara ke arah timur, oleh karena itu sebaiknya
Anda menuliskan keterangan tentang ketentuan mana yang Anda gunakan.
2) Lintang suatu bintang dinyatakan dengan tinggi bintang (a), yang diukur
dari proyeksi bintang di horizon ke arah bintang itu menuju ke zenit.
Tinggi bintang diukur 0° – 90° jika arahnya ke atas (menuju zenit) dan 0° –
-90° jika arahnya ke bawah.

Letak bintang dinyatakan dalam (Az, a). Setelah menentukan letak bintang,
lukislah lingkaran almukantaratnya, yaitu lingkaran kecil yang dilalui bintang
yang sejajar dengan horizon (lingkaran PQRS).

Untuk menentukan tinggi sebuah bintang P, maka terlebih dahulu kita


adakan sebuah lingkaran vertikal yang melalui bintang P, lingkaran vertikal
bintang P tersebut Memotong horizon pada titik R. Dengan demikian maka
tinggi d/p bintang P = busur R-P.

9
Tinggi sebuah bintang dihitung mengikuti lingkaran vertikal bintang yang
bersangkutan, mulai dari horizon sampai pada bintang tersebut. Azimuth
sebuah bintang mengikuti lingkaran horizon mulai dari titik selatan, dengan
arah SBUT, sampai pada proyeksi di horizon bintang tersebut.

Berdasarkan ketentuan mengenai azimuth bintang saperti tersebut di atas,


maka nilai azimuth bintang P = busur SBUTR. Dengan mengenal istilah
tersebut akan memudahkan kita dalam memahami sistem koordinat horison
dengan ordinatnya yaitu, Azimuth dan Tinggi (A,h).

Tinggi benda langit dapat digambarkan pada bola langit dengan membuat
lingkaran besar yang melalui zenith, benda langit itu dan tegak lurus pada
horison (lingkaran vertikal), diukur dari horison dengan nilainya 0o-90o.

Dengan mengenal istilah tersebut akan memudahkan kita dalam


memahami tata koordinat horison dengan ordinatnya yaitu, Azimuth dan
Tinggi (A,h). Tinggi benda langit dapat digambarkan pada bola langit dengan
membuat lingkaran besar yang melalui zenith, benda langit itu dan tegak lurus
pada horison (lingkaran vertikal), diukur dari horison dengan nilainya 0o-90o.

Untuk menyatakan Azimuth terdapat 2 versi:


 Versi pertama menggunakan titik Selatan sebagai acuan.
 Versi kedua yang dianut secara internasional, diantaranya dipakai pada
astronomi dan navigasi menggunakan titik Utara sebagai acuan, berupa
busur UTSB.

Kedua versi tersebut menggunakan arah yang sama, yaitu jika dilihat dari
zenith arahnya searah perputaran jarum jam yang nilainya 0o-360o.

c. Keuntungan dan Kelemahan.


 Keuntungan.
Keuntungan dalam penggunaan sistem koordinat horison yaitu pada
penggunaannya yang praktis. Sistem koordinat yang sederhana dan secara
langsung dapat dibayangkan letak objek pada bola langit.

10
 Kelemahan.
Kelemahan dalam penggunaan system koordinat ini adalah karena
tergantung pada tempat di muka bumi. Bila tempatnya berbeda,
horisonnyapun berbeda dan tergantung waktunya, karena terpengaruh oleh
gerak harian. koordinat alt-azimuth hanya berlaku lokal (di sekitar
pengamat) saja. Ketinggian dan azimuth sebuah bintang pada saat yang
sama akan memiliki nilai yang berbeda jika dilihat dari tempat yang jauh.
Misalkan seorang pengamat di Semarang ingin memberitahukan sebuah
objek yang ditemukannya kepada pengamat lain di Bandung dengan
memberikan koordinat alt-azimuth objek tersebut, maka pengamat di
Bandung akan kesulitan menemukan objek yang dimaksud.

B. Tata Koordinat Ekuator


a. Dasar Sistem Koordinat Ekuator.
Z
E

KL Keterangan :
T  S  0 : sudut yang dibentuk oleh

R R busur S – KLS
U P
S t wb membentuk busur EBKγ
α : busur γKBR’
B
KL δ : busur R’R

U
 K
N
Gambar posisi bintang R dalam tata koordinat ekuator, diamati dari suatu
tempat pada  0 LS. Bintang tersebut mempunyai asensiorekta  dan
deklinasi  pada waktu t wb.
 Posisi benda langit : (Asensiorekta (), deklinasi ())
(Sudut jam bintang (h), deklinasi ())
 Asensiorekta () bintang : busur sepanjang ekuator langit diukur dari
titik acuan (titik Aries) ke arah yang berlawanan dengan peredaran semu
harian benda-benda langit sampai lingkaran jam bintang ybs.
 Titik Aries () : titik potong antara ekuator langit dan ekliptika.

11
 Deklinasi () bintang : busur sepanjang lingkaran jam yang diukur dari
ekuator langit sampai kedudukan bintang ybs.
 Deklinasi () bintang bernilai (+) untuk bintang-bintang yang berada di
belahan utara bola langit (dari 00 s.d. +900)
 Deklinasi () bintang bernilai (-) untuk bintang-bintang yang berada di
belahan selatan bola langit (dari 00 s.d. -900).
 Sudut jam bintang (h): sudut antara meredian dan lingkaran jam bintang.
 Waktu sideris : Sudut jam titik Aries ()
sehingga h =  - 

Koordinat ekuator adalah suatu sistem lingkaran yang dibentuk untuk


mengetahui panjatan tegak benda langit (asensio rekta) dan deklinasi pada
bola langit. Pada sistem koordinat ekuator, koordinat yang digunakan adalah
koordinat Aksensiorekta () dan Deklinasi (). Aksensiorekta adalah panjang
busur yang dihitung dari titik Aries atau disebut juga dengan titik gamma ()
pada lingkaran ekuator langit sampai ke titik kaki dengan arah penelusuran ke
arah timur, dengan rentang antara 0 s.d. 24 jam atau 00 s.d. 3600. Sedangkan
deklinasi adalah panjang busur dari titik kaki pada lingkaran ekuator langit ke
arah kutub langit sampai ke letak benda pada bola langit. Deklinasi bernilai
positif jika ke arah KLU dan bernilai negatif jika ke arah KLS, dengan
rentang antara 00 s.d. 900 atau 00 s.d. -900.

Dalam penggunaan sistem koordinat ekuator, terdapat hubungan antara


waktu matahari dengan waktu bintang (waktu sideris). Dimana Waktu
Menengah Matahari (WMM) = sudut jam Matahari + 12 jam. Hubungan ini
tentunya berkaitan juga dengan tanggal-tanggal istimewa titik Aries terhadap
Matahari. Tanggal-tanggal istimewa tersebut adalah :
1. Sekitar tanggal 21 Maret (TMS), Matahari berimpit dengan Titik Aries.
Jam 0 WMM = jam 12 waktu bintang.
2. Sekitar tanggal 22 Juni (TMP), saat Matahari di kulminasi bawah, titik
Aries berhimpit dengan titik Timur. Jam 0 WMM = jam 18 waktu bintang.
3. Sekitar tanggal 23 September (TMG), saat Matahari di kulminasi bawah,
titik Aries berada di titik kulminasi atas. Jam 0 WMM = jam 0 waktu
bintang.

12
4. Sekitar tanggal 22 Desember (TMD), saat Matahari di kulminasi bawah,
titik Aries berhimpit dengan titik Barat. Jam 0 WMM = jam 06 waktu
bintang.

Sudut antara kutub Bumi (poros rotasi Bumi) dan horizon disebut tinggi
kutub (φ). Jika diperhatikan lebih lanjut, ternyata nilai φ = ϕ, dengan φ diukur
dari Selatan ke KLS jika pengamat berada di lintang selatan dan φ diukur dari
Utara ke KLU jika pengamat berada di lintang utara. Jadi untuk pengamat
pada ϕ = 90° LU lingkaran ekliptika akan berimpit dengan lingkaran horizon,
dan kutub lintang utara berimpit dengan zenit, sedangkan pada ϕ = 90° LS
lingkaran ekliptika akan berimpit dengan lingkaran horizon, dan kutub
lintang selatan berimpit dengan zenit.

Sistem koordinat ini dapat menyatakan letak benda langit dalam skala
waktu relatif panjang. Sekalipun perubahan unsur-unsur koordinatnya relatif
kecil terhadap waktu.

Dalam setiap pembahasan sistem koordinat benda langit, setiap benda


langit selalu dipandang terproyeksi pada suatu bidang bola khayal yang
digambarkan sebagai bola langit. Bola yang memuat bidang khayal tersebut
disebut bola langit. Ukuran bola Bumi diabaikan terhadap bola langit
sehingga setiap pengamat di muka Bumi dianggap berada di pusat bola langit.

Pada pembahasan mengenai bola pada umumnya, setiap lingkaran pada


bola langit yang berpusat di pusat bola dan membagi bola menjadi dua bagian
yang sama besar disebut lingkaran besar, sedangkan lingkaran lainnya disebut
lingkaran kecil.

Dalam bujur, asensiorekta dihitung sepanjang lingkaran yang sejajar


ekuator. Asensiorekta dihitung ke arah timur mulai dari titik Aries atau titik
Vernal Ekuinok yang merupakan salah satu titik perpotongan antara bidang
ekliptika dan ekuator langit, tempat Matahari berada pada tanggal 21 Maret.
Asensio rekta dilambangkan dengan " ", kadang-kadang disebut juga RA (dari
bahasa Inggris Right Ascension) dan dinyatakan dalam satuan sudut (jam,
menit, detik), dengan 1 jam = 360 derajad / 24 jam = 15 derajad. Dalam

13
pengamatan praktis seringkali harga ini tidak diketahui bahkan harus
ditentukan sehingga digunakan besaran lain yang bersifat lokal, yaitu sudut
jam atau HA (dari bahasa Inggris Hour Angle).

Seperti halnya lintang, deklinasi diukur dari ekuator ke arah kutub.


Deklinasi bernilai positif bila benda langit yang diamati berada di belahan
langit utara, dan negatif bila benda langit yang diamati berada di belahan
bumi selatan. Deklinasi dilambangkan dengan " " dan dinyatakan dalam
satuan sudut (derajat, menit, detik).

Sistem koordinat ekuator merupakan sistem koordinat yang paling penting


dalam astronomi. Letak bintang-bintang, nebula, galaksi dan lainnya
umumnya dinyatakan dalam tata koordinat ekuator. Pada tata koordinat
ekuator, lintasan bintang di langit dapat ditentukan dengan tepat karena
faktor lintang geografis pengamat (φ) diperhitungkan, sehingga lintasan edar
bintang-bintang di langit (ekuator Bumi) dapat dikoreksi terhadap pengamat.
Sebelum menentukan letak bintang pada tata koordinat ekuator, sebaiknya
kita mempelajari terlebih dahulu sikap bola langit, yaitu posisi bola langit
menurut pengamat pada lintang tertentu.

Sudut antara kutub Bumi (poros rotasi Bumi) dan horizon disebut tinggi
kutub (φ). Jika diperhatikan lebih lanjut, ternyata nilai φ = ϕ, dengan φ diukur
dari Selatan ke KLS jika pengamat berada di lintang selatan dan φ diukur dari
Utara ke KLU jika pengamat berada di lintang utara. Jadi untuk pengamat
pada ϕ = 90° LU lingkaran ekliptika akan berimpit dengan lingkaran horizon,
dan kutub lintang utara berimpit dengan zenit, sedangkan pada ϕ = 90° LS
lingkaran ekliptika akan berimpit dengan lingkaran horizon, dan kutub
lintang selatan berimpit dengan zenith.

b. Kegunaan Sistem Koordinat Ekuator


1).Sudut Jam Bintang Lokal ( SJBL) adalah panjang busur dalam jam (1
jam = 150 busur dan 1 derajat = 4 menit), dihitung dari titik kulminasi
atasnya pada meridian langit ke arah barat.
2).Jam bintang adalah sudut jam bintang titik Aries.
3).Sudut jam bintang lokal = Jam bintang – Asensio Rekta.

14
4).Koordinat ekuator bersifat universal dan standar. Sistem koordinat ini
umumya dipakai dalam astronomi karena tidak terpengaruh oleh letak
dan waktu pengamat di permukaan bumi.

Dalam penggunaan keperluan praktis umumnya system koordinat ekuator


ini seringkali dinyatakan dalam koordinat sudut jam lokal (t) dan deklinasi.

C. Sistem Koordinat Ekliptika


a. Dasar Sistem Koordinat Ekliptika
Koordinat ekliptika adalah suatu sistem lingkaran yang dibentuk untuk
mengetahui bujur ekliptika dan lintang ekliptika pada bola langit. Koordinat
ekliptika terdiri dari bujur ekliptika (l) dan lintang ekliptika (b).Pada sistem
koordinat ini, bumi menjadi pusat koordinat. Matahari dan planet-planet
lainnya nampak bergerak mengitari bumi.

Bujur ekliptika adalah panjang busur yang diukur dari titik Aries ke
arah timur sepanjang lingkaran ekliptika sampai ke titik kaki langit (K).
Adapun rentang bujur ekliptika adalah s/d 360 o . Lintang ekliptika adalah
panjang busur yang diukur dari titik kaki langit (K) di lingkaran ekliptika
ke arah kutub ekliptika sampai ke letak benda langit. Harga positif ke arah
KEU atau negatif ke arah KES. Rentang lintang ekliptika ) adalah 00 s/d 900
atau 00 s/d – 900 .
Ekliptika dan equator / khatulistiwa langit saling
berpotongan membentuk sudut 23,50 pada horizon dengan titik perpotongan
sebagai titik musim semi (Aries)dan titik musim rontok (R). Untuk
menentukan posisi benda langit pada tata koordinat ekliptika yaitu dengan
menggunakan panjang astronomi dan lebar astronomi. Ekliptika adalah jalur
yang dilalui oleh suatu benda dalam mengelilingi suatu titik pusat sistem
koordinat tertentu. Ekliptika pada benda langit merupakan suatu bidang edar
berupa garis khayal yang menjadi jalur lintasan benda-benda langit dalam
mengelilingi suatu titik pusat sistem tata surya.

15
Gambar. Tata Koordinat Eliptika

Seandainya bumi dijadikan sebagai titik pusat sistem koordinat, maka


ekliptika merupakan bidang edar yang dilalui oleh benda-benda langit seperti
planet dan matahari untuk mengelilingi bumi. Dan bila matahari dijadikan
sebagai titik pusat sistem koordinat, maka ekliptika merupakan bidang yang
terbentuk sebagai lintasan orbit bumi yang berbentuk elips dengan matahari
berada pada titik pusat elips tersebut. Sama halnya dengan sistem ekuator,
sistem koordinat ekliptika juga merupakan sistem yang tetap tidak
dipengaruhi oleh gerak semu harian bumi. Sistem ini biasanya digunakan
untuk menentukan kedudukan benda benda langit anggota tata surya seperti
satelit, planet dan matahari karena anggota tata surya kedudukannya tetap
berada di selatan ekliptika. Dalam sistem ini penentuan posisi benda langit
yang diperlukan adalah bujur ekliptika atau ecliptic longitude dan lintang
ekliptika atau ecliptic latitude.

b. Sistem Koordinat Ekliptika Heliosentrik dan Sistem Koordinat Ekliptika


Geosentrik
Sistem Koordinat Ekliptika Heliosentrik dan Sistem Koordinat Ekliptika
Geosentrik sebenarnya identik. Yang membedakan keduanya hanyalah
manakah yang menjadi pusat koordinat. Pada Sistem Koordinat Ekliptika
Heliosentrik, yang menjadi pusat koordinat adalah matahari (helio =
matahari). Sedangkan pada Sistem Koordinat Ekliptika Geosentrik, yang
menjadi pusat koordinat adalah bumi (geo = bumi). Karena itu keduanya

16
dapat digabungkan menjadi Sistem Koordinat Ekliptika. Pada Sistem
Koordinat Ekliptika, yang menjadi bidang datar sebagai referensi adalah
bidang orbit bumi mengitari matahari (heliosentrik) yang juga sama dengan
bidang orbit matahari mengitari bumi (geosentrik).

1. Sistem Koordinat Ekliptika Heliosentrik (Heliocentric Ecliptical


Coordinate)
Pada koordinat ini, matahari (sun) menjadi pusat koordinat. Benda
langit lainnya seperti bumi (earth) dan planet bergerak mengitari matahari.
Bidang datar yang identik dengan bidang xy adalah bidang ekliptika yaitu
bidang bumi mengitari matahari.

Gambar . Sistem Koordinat Ekliptika Heliosentrik


1. Pusat koordinat: Matahari (Sun).
2. Bidang datar referensi: Bidang orbit bumi mengitari matahari (bidang
ekliptika) yaitu bidang xy.
3. Titik referensi: Vernal Ekuinoks (VE), didefinisikan sebagai sumbu x.
4. Koordinat:
a. r = jarak (radius) benda langit ke matahari
b. l = sudut bujur ekliptika (ecliptical longitude), dihitung dari VE
berlawanan arah jarum jam
c. b = sudut lintang ekliptika (ecliptical latitude), yaitu sudut antara
garis penghubung benda langit-matahari dengan bidang ekliptika.

17
2. Sistem Koordinat Ekliptika Geosentrik (Geocentric Ecliptical
Coordinate)
Pada sistem koordinat ini, bumi menjadi pusat koordinat. Matahari dan
planet-planet lainnya nampak bergerak mengitari bumi. Bidang datar xy
adalah bidang ekliptika, sama seperti pada ekliptika heliosentrik.

Gambar Sistem Koordinat Ekliptika Geosentrik


1. Pusat Koordinat: Bumi (Earth)
2. Bidang datar referensi: Bidang Ekliptika (Bidang orbit bumi mengitari
matahari, yang sama dengan bidang orbit matahari mengitari bumi)
yaitu bidang xy.
3. Titik referensi: Vernal Ekuinoks (VE) yang didefinisikan sebagai sumbu
x.
4. Koordinat:
a. Jarak benda langit ke bumi (seringkali diabaikan atau tidak perlu
dihitung)
b. Lambda = Bujur Ekliptika (Ecliptical Longitude) benda langit
menurut bumi, dihitung dari VE.
c. Beta = Lintang Ekliptika (Ecliptical Latitude) benda langit menurut
bumi yaitu sudut antara garis penghubung benda langit-bumi dengan
bidang ekliptika.

c. Kegunaan Koordinat Ekliptika :


0
1).Lingkaran ekliptika membuat sudut kemiringan 23 ½ terhadap
lingkaran ekuator langit.

18
2).Titik perpotongan ekliptika dengan ekuator langit setiap tanggal 21
Maret disebut titik Aries atau Titik Musim Semi (TMS) di belahan bumi
utara, dan matahari berada maksimum di belahan langit utara setiap
tanggal 22 Juni (23 ½ 0) disebut Titik Musim Panas (TMP) atau Titik
Cancer. Matahari maksimum berada di belahan langit selatan (-23 ½o)
dicapai matahari setiap tanggal 22 Desember, dan dinamakan Titik
Musim Dingin (TMD) atau Titik Capricornus.
3).Sistem koordinat ekliptika umumnya digunakan untuk mengetahui
posisi matahari dan anggota tata surya lainnya.

Dari penjelasan ke tiga koordinat bola langit tersebut dapat ditentukan


perbedaannya sebagai berikut:

Sistem Bidang Acuan Arah Acuan Lintang Bujur


Horison Bidang Horison Titik Utara Tinggi: h Azimut : A
+ :kearah Zenit Ke Timur
- kearah Nadir 0-3600
Ekuator Ekuator Langit Vernal Equnox Deklinasi: Asensioreta:
+: ke arah KLU Ke Timur 0-24 jam
-: kea rah KLS

Eliptikal Bidang Eliptikal Vernal Equnox Lintang: Bujur : l


+: kearah KEU ke Timur 0-360o
- : kearah KES

19
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Koordinat yang diperlukan untuk menggambarkan posisi suatu benda langit


disebut koordinat bola langit. Untuk menyatakan letak suatu benda langit diperlukan
suatu tata koordinat yang dapat menyatakan secara pasti kedudukan benda langit
tersebut. Sistem koordinat bola langit terdiri dari tata koordinat horison, tata
koordinat ekuator dan tata koordinat ekliptika. Tiap-tiap tata koordinat memiliki cara
penggunaan sistem yang berbeda serta terdapatnya berbagai macam keuntungan dan
kelemahan dalam penggunaan sistem tersebut. Koordinat horizon mudah untuk
dilukis tetapi hanya dapat digunakan pada waktu dan tempat tertentu saja (dalam
kurun waktu yang pendek). Koordinat ekuator dapat digunakan dalam jangka waktu
yang lama, tetapi cara melukisnya cukup rumit. Koordinat ekliptika digunakan untuk
menentukan kedudukan benda benda langit anggota tata surya seperti satelit, planet
dan matahari karena anggota tata surya kedudukannya tetap berada di selatan
ekliptika. Pada intinya tata koordinat langit hanya menaruh perhatian pada “arah”
letak sebuah benda langit saja, dan tidak memperhitungkan jarak benda langit
tersebut.

B. Saran

Dengan semakin canggihnya ilmu pengetahuan dan teknologi, para astronom terus
melakukan penelitian mengenai berbagai benda yang ada dilangit. Oleh sebab itu,
kita sebagai mahasiswa tidak cukup dengan hanya menggali informasi mengenai
keberadaan benda-benda langit. Tentunya kita juga perlu mengetahui dan memahami
serta mampu menggambarkan posisi benda langit.

20
DAFTAR PUSTAKA

Christiani, Desi. 2014. Makalah Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa. Diperoleh
pada 18 Oktober 2017 dari http://desyphysics.blogspot.co.id/2014/10/v-
behaviorurldefaultvmlo.html
Latifah W, Erni. 2011. Sistem Koordinat Equatorial. Diperoleh pada 14 Oktober 2017
dari http://kafeastronomi.com/sistem-koordinat-equatorial.html
Sukardiyono. 2006. Bola Langit dan Tata Koordinat. Diperoleh pada 14 Oktober
2017 dari http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/sukardiyono-dr-
msi/pembinaan-tim-olimpiade-astronomi-sman-8-yk.doc
Susanti, Niluh. 2015. Makalah Sistem Koordinat Langit. Diperoleh pada 14 Oktober
2017 dari http://niluhsusantiphysics2013.blogspot.co.id/2015/03/makalah-sistem-
koordinat-langit.html
Tsamratul Fuadah, Nisa. 2013. IPBA Koordinat Bola Langit. Diperoleh pada 14
Oktober 2017 dari http://nisatsamratulfuadah.blogspot.co.id/2013/04/ipba-
koordinat-bola-langit.html
Yuniar, Eka. 2013. Makalah IPBA-Sistem Koordinat Bola Langit. Diperoleh pada 14
Oktober 2017 dari http://ekhayuniarphysic10.blogspot.co.id/2014/01/makalah-
ipba-sistem-koordinat-benda.html

21