Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menulis adalah sebuah keterampilan, keterampilan tidak akan terwujud


tanpa adanya pelatihan. Penting bagi kita membentuk diri supaya memiliki
keterampilan yang baik yaitu dengan terus menerus berlatih menulis dengan cara
yang benar.
Dalam penulisan artikel ilmiah perlu diperhatikan dan diterapkan kaidah-
kaidah penulisan yang telah ditetapkan. Kaidah penulisan artikel ilmiah dapat
dibagi dua yaitu kaidah yang bersifat universal dan kaidah yang bersifat
selingkung. Secara umum kaidah yang bersifat universal lebih terfokus pada
aturan-aturan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sedangkan
kaidah yang bersifat selingkung berkaitan dengan norma-norma penulisan artikel
yang bertolak dari konvensi aturan-aturan penulisan yang lebih bersifat teknis
yang harus diikuti oleh penulis artikel untuk wadah terbitan yang menjadi tujuan.
Maka, dalam makalah ini akan dibahas mengenai pengertian kaidah
selingkung, kaidah penulisan artikel ilmiah, cara kaidah penulisan universal dan
kaidah penulisan selingkung dan contoh kaidah selingkung dalam penulisan karya
ilmiah di Unnes.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dirumuskan permasalahan:


1. Apa yang dimaksud dengan kaidah selingkung?
2. Apa yang dimaksud dengan kaidah penulisan artikel ilmiah?
3. Bagaimanakah cara kaidah penulisan universal dan kaidah penulisan
selingkung?

1
4. Bagaimanakah contoh kaidah selingkung dalam penulisan karya ilmiah di
Unnes?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian kaidah selingkung.


2. Untuk mengetahui kaidah penulisan artikel ilmiah.
3. Untuk mengetahui cara kaidah penulisan universal dan kaidah penulisan
selingkung.
4. Untuk mengetahui contoh kaidah selingkung dalam penulisan karya ilmiah
di Unnes.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kaidah Selingkung

Kaidah selingkung adalah aturan-aturan yang sifatnya berlaku dalam


lingkungan tertentu, misalnya departemen satu berbeda dengan departemen
lainnya, pemda satu berbeda dengan pemda lainnya, majalah satu berbeda dengan
majalah lainnya, jurnal satu berbeda dengan jurnal lainnya. Dengan demikian,
apabila kita menyusun karya tulis ilmiah, kita harus mengikuti aturan yang ada di
lingkungan yang dimaksud. Selingkung merupakan kaidah yang dijadikan
pedoman kebahasaannya. Dengan kata lain, penggunaan selingkung merupakan
ciri khas gaya bahasa sekaligus tata tertib yang dapat ditemukan dalam buku-buku
produksi sebuah penerbitan. Sifatnya luwes, berubah-ubah sesuai kesepakatan
internal antara para editor di penerbit bersangkutan.
Dalam penulisan artikel ilmiah perlu diperhatikan dan diterapkan kaidah-
kaidah penulisan yang telah ditetapkan. Kaidah penulisan artikel ilmiah dapat
dibagi dua yaitu kaidah yang bersifat universal dan kaidah yang bersifat
selingkung. Secara umum kaidah yang bersifat universal lebih terfokus pada
aturan-aturan penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar. Sedangkan
kaidah yang bersifat selingkung berkaitan dengan norma-norma penulisan artikel
yang bertolak dari konvensi aturan-aturan penulisan yang lebih bersifat teknis
yang harus diikuti oleh penulis artikel untuk wadah terbitan yang menjadi tujuan.

2.2 Kaidah Penulisan Artikel Ilmiah

Dalam penulisan artikel ilmiah (hasil penelitian atau hasil pemikiran) perlu
diperhatikan dan diterapkan kaidah-kaidah penulisan yang telah ditetapkan.
Kaidah penulisan artikel ilmiah dapat dipilah menjadi dua, yaitu kaidah-kaidah
penulisan yang bersifat “universal” dan kaidah-kaidah penulisan yang bersifat

3
‘selingkung”. Secara umum kaidah penulisan yang bersifat ‘universal’ lebih
terfokus pada aturan-aturan penggunaan bahasa Indonesia yang berkaitan dengan
norma ketatabahasaan, dalam hal ini norma bahasa Indonesia baku dan tidak baku
(Lumintaintang,1996).
Kaidah penulisan artikel ilmiah yang bersifat selingkung berkaitan dengan
norma-norma penulisan artikel ilmiah yang bertolak dari konvensi aturan-aturan
penulisan yang bersifat teknis yang harus diikuti oleh penulis artikel untuk wadah
terbitan satu dengan yang lain biasa tidak sama. Karena itu, penulis artikel perlu
mengetahui aturan yang ditetapkan oleh wadah terbitan menjadi tujuannya,
misalnya kaidah selingkung Jurnal Ilmu Pendidikan (JIP) jika panulis hendak
mengirimkan artikelnya ke JIP.

2.3 Kaidah Penulisan Universal dan Kaidah Penulisan


Selingkung

2.3.1 Kaidah Penulisan Universal

Tata tulis artikel yang bersifat “universal” (dalam konteks Indonesia)


mengacu pada penggunaan ragam bahasa Indonesia (tulis) yang baku. Unsur
utama dalam bahasa Indonesia (tulis) yang baku adalah ejaan. Ejaan dalam
penyampaian ide/gagasan seseorang secara tertulis direpresentasikan dengan kata
kepada orang lain (sasaran komunikasi) mempunyai kedudukan yang sangat
penting. Dikatakan oleh Rifai (1995) bahwa kata yang digunakan untuk
menyampaikan satuan-satuan makna dengan corak, nuansa dan kekuatan yang
berbeda-beda. Kekuatan kata dalam bahasa tulis sepadan dengan warna dalam
lukisan, nada dalam musik, dan bentuk dalam ukiran. Unsur utama dalam bahasa
tulis (ejaan) inilah yang membedakannya dengan ragam bahasa lisan, yang lebih
menekankan unsur lafal. Sedangkan unsur yang lain yang menjadi ciri bahasa
Indonesia tulis yang baku adalah peristilahan, bentuk dan pilihan kata,
pengalimatan, pengalinaan, dan tanda baca (Lumintaintang,1996).
Unsur-unsur bahasa Indonesia (tulis) diatas harus diperhatikan, dicermati,
dan digunakan dalam menulis artikel ilmiah. Hal ini mengarahkan kita untuk

4
mengatakan bahwa tidak tepat lagi pemakaian tanda baca (koma) yang
dihubungkan dengan panjang-pendeknya nafas. Mengapa? arena dalam
penyampaian gagasan ide seseorang yang dipresentasikan dengan bahasa tulis,
setiap pemakaian tanda baca akan memiliki nilai semantik.

2.3.2 Kaidah Penulisan Selingkung

Kaidah penulisan ini lebih berorientasi pada konvensi aturan penulisan


artikel yang bersifat teknis. Kaidah penulisan selingkung ini mungkin berbeda
antar wadah terbitan satu dengan yang lain, baik dalam satu lembaga maupun
antar lembaga. Faktor penyebab adanya perbedaan kaidah selingkung antar
penerbitan jurnal antara lain konteks bidang, karakteristik, lembaga penaung,
asosiasi profesi, dan jenis pengelompokan artikel. Beberapa hal yang terkait
dengan gaya selingkung dalam wadah terbitan jurnal adalah: sistematika
penulisan, cara merujuk, cara menulis daftar rujukan, penulisan/penyajian tabel,
penulisan/penyajian gambar, dan penulisan identitas penulis.
Dalam penerbitan, ada istilah yang disebut gaya selingkung. Gaya
selingkung ini merupakan gaya bahasa yang ditentukan penerbit sebagai salah ciri
khas. Selain itu, gaya selingkung ini bisa dibilang merupakan gaya bahasa baku
bagi penerbit terkait. Sayangnya, gaya selingkung tersebut sering kali
bertentangan dengan ejaan baku yang berlaku.
Pada tataran morfologi, pelanggaran kaidah morfologi sebagai perwujudan
gaya selingkung penerbit juga dimunculkan. Sebagai contoh, kata mempercayai
bagi sejumlah penerbit merupakan bentuk yang baku, alih-alih memercayai.
Padahal proses pembentukannya sama saja seperti pada kata memukul, yaitu
memperoleh akhiran -i untuk kemudian mendapat awalan meN-. Kata-kata yang
lain bisa disebutkan di sini, yaitu mengkomunikasikan, mempertahankan, dan
sebagainya.

2.4 Contoh Kaidah Selingkung dalam Penulisan Karya Ilmiah


di Unnes

5
2.4.1 Jurnal Pendidikan

Berikut adalah contoh aturan penulisan artikel jurnal pendidikan yang


berlaku di Universitas Negeri Semarang. Format penulisan artikel ini merupakan
acuan utama bagi para penulis. Setiap naskah harus disertai surat pengantar yang
menyatakan bahwa tulisan merupakan hasil karya penulis atau para penulis dan
belum pernah dipublikasikan.
1. Tulisan diketik pada kertas ukuran A4, dalam satu kolom menggunakan
spasi ganda, jenis huruf Arial, ukuran 9, dengan jarak tepi 2 cm di semua
sisi. Artikel naskah penelitian asli harus berisi tentang materi yang belum
pernah diterbitkan di jurnal lain sebelumnya dan tidak melebihi 6.000 kata
dalam penulisannya serta tidak memuat lebih dari 8 gambar/tabel.
2. Proses peninjauan naskah ditujukan untuk memastikan bahwa naskah
jurnal yang diterima mempunyai kualitas yang baik untuk dipublikasikan.
Naskah akan langsung ditolak oleh editor tanpa tinjauan formal jika
dianggap: 1) tidak sesuai dengan topik dalam ruang lingkup jurnal, 2)
kurang bermanfaat, 3) cakupan dan tujuannya tidak mendalam, 4) tidak
meningkatkan pengetahuan ilmiah, dan 5) tidak lengkap penulisannya.
3. Naskah yang sudah sesuai dengan pedoman penulisan artikel akan
diperiksa oleh mitra bestari selama maksimum 2 minggu dan komentar
mitra bestari akan disampaikan kepada penulis dalam waktu maksimum 3
minggu sejak pengiriman pertama. Naskah yang sudah direvisi penulis
diharapkan sudah dikembalikan ke Editor selama maksimum satu minggu.
4. Struktur artikel diberi penomoran yang jelas di setiap bagiannya. Setiap
sub bagian harus diberi nomor 1.1 (lalu 1.1.1, 1.1.2, … dst), sedangkan
abstrak tidak diberi penomoran. Rumus matematika lebih baik
menggunakan garis miring (/) untuk menyatakan pembagian contoh X/Y.
Pada prinsipnya penulisan variabel adalah dicetak miring.
5. Keterangan gambar pastikan setiap gambar/ilustrasi memiliki keterangan.
Keterangan tersebut ditulis secara terpisah, tidak menempel pada
gambar/ilustrasi.

6
6. Tabel penomorannya sesuai dengan letaknya dalam artikel. Tabel
sebaiknya digunakan dengan efektif dan tidak digunakan untuk
mengulangi hasil yang telah dipresentasikan pada bagian hasil penelitian
dan pembahasan.
7. Judul ditulis secara padat, jelas dan informatif, maksimum 20 kata.
Sebaiknya hindari penggunaan singkatan dan rumus.
8. Nama dan alamat institusi ditulis lengkap dengan nama dan nomor jalan
(lokasi), kode pos, nomor telepon, nomor telepon genggam, nomor
faksimili, dan alamat e-mail.
9. Abstrak harus ringkas dan faktual. Abstrak berisi pemaparan tujuan
penelitian secara jelas, hasil penelitian dan kesimpulan. Abstrak ditulis
secara terpisah dari artikel. Pencantuman kajian pustaka sebaiknya
dihindari, tetapi jika sangat diperlukan hendaknya nama pengarang dan
tahun penerbitan dapat dicantumkan. Penulisan singkatan yang tidak
standar sebaiknya juga dihindari, tetapi jika sangat diperlukan sebaiknya
kepanjangan dari singkatan tersebut dicantumkan pada awal
penyebutannya. Jumlah kata tidak melebihi 200 kata, ditulis dalam bahasa
Indonesia dan Inggris.
10. Kata kunci (keywords) maksimal 5 kata atau kelompok kata. Pendahuluan
berisi tujuan dari artikel/penelitian dirumuskan dan disajikan dengan latar
belakang yang memadai dan menghindari kajian pustaka yang terlalu rinci
serta penyajian hasil penelitian.
11. Metode yang digunakan harus disertai dengan referensi, hanya modifikasi
yang relevan yang harus dijelaskan. Ditekankan pada cara kerja dan cara
analisis data sedangkan untuk naskah telaah pustaka tanpa metode.
12. Hasil dan Pembahasan ditampilkan menyatu secara jelas dan ringkas.
Bagian pembahasan hendaknya membahas manfaat dari hasil penelitian,
bukan mengulangi bagian tersebut. Hasil penelitian dan pembahasan dapat
digabungkan dan hindari kutipan yang terlalu luas.
13. Simpulan utama dari penelitian ini dapat disajikan secara singkat pada
bagian kesimpulan.

7
14. Pustaka dalam naskah ditulis dalam bentuk nama belakang penulis dan
tahun. Pada kalimat yang diacu dari beberapa penulis nama penulis
diurutkan berdasarkan kebaharuan pustaka. Naskah yang ditulis oleh dua
penulis, maka nama keduanya disebutkan, sedangkan naskah yang ditulis
oleh tiga penulis atau lebih maka hanya nama penulis pertama ditulis
diikuti et al. Kutipan dalam artikel harus dicantumkan dalam daftar
pustaka. Setiap referensi yang dikutip dalam abstrak juga harus ditulis
secara penuh dalam daftar pustaka. Sumber yang tidak terpublikasi tidak
dianjurkan untuk dicantumkan dalam daftar pustaka tapi dapat ditulis
dalam teks artikel.
15. Dalam penulisan daftar pustaka penulis hendaknya mengikuti aturan yang
telah ditetapkan. Referensi artikel minimal 80% bersumber dari jurnal
nasional atau internasional.
16. Naskah diketik tanpa tanda hubung (-), kecuali kata ulang. Simbol α, β, α
dimasukkan melalui fasilitas insert, bukan mengubah jenis huruf. Kata-
kata dan tanda baca sesudahnya tidak diberi spasi. Pemberitahuan naskah
dapat diterima atau ditolak akan diberitahukan sekitar satu bulan semenjak
penerimaan naskah. Naskah dapat ditolak apabila materi yang
dikemukakan tidak sesuai dengan misi jurnal, kualitas materi rendah,
format tidak sesuai, gaya bahasa terlalu rumit, terjadi ketidakjujuran
keaslian penelitian dan korespondensi tidak ditanggapi.
Penulisan daftar pustaka sebagai berikut;
a. Jurnal : Meltzer, D.E. 2002. The
Relantionship Between Mathematics
Preparation and Conceptual Learning Gains in
Physics. AmJ Phys, 70 (7): 120-137.
b. Buku : Sukmadinata, N.S. 2005. Metode
Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
c. Prosiding : Liliasari. 2011. Membangun
Masyarakat Melek Sains Berkarakter Bangsa

8
melalui Pembelajaran. Prosiding Seminar
Nasiona Pendidikan IPA dengan tema
Membangun Masyarakat Melek (Literate) IPA
yang Berkarakter Bangsa melalui
Pembelajaran. Semarang, 16 April 2011.
d. Skripsi, Tesis, Desetasi : Parmin. 2005.
Kualitas Pembelajaran Biologi melalui
Pendekatan Sains Lingkungan Teknologi dan
Masyarakat (Salingtemas). (Tesis). Semarang:
Universitas Negeri Semarang.

2.4.2 Kaidah Penulisan/ Kaidah Selingkung Artikel Konseptual Unnes

1) Judul
Judul dalam artikel konseptual berfungsi sebagai label yang mencerminkan
secara tepat intisari yang terkandung dalam artikel. Sebab itu, pemilihan kata yang
dipakai di dalam judul hendaknya dilakukan secara cermat. Di samping aspek
ketepatannya, pemilihan kata untuk judul perlu juga mempertimbangkan
pengaruhnya terhadap daya tarik judul bagi pembaca. Judul artikel sebaiknya
terdiri atas 5-15 kata.
2) Nama Penulis dan Lembaga Asal
Seperti pada penulisan nama dan asal lembaga pada artikel hasil
penelitian, penulis nama pengarang pada artikel konseptual dilakukan tanpa
disertai gelar akademik atau gelar lain apapun. Nama lembaga tempat bekerja
penulis dicantumkan sebagai catatan kaki di halaman pertama artikel. Jika artikel
ditulis oleh dua orang atau lebih, semua ditulis secara berurutan mulai dengan
penulis utama. Apabila semua penulis berasal dari lembaga yang sama, nama
lembaga asal hanya ditulis sekali. Namun apabila penulis berasal dari lembaga
yang berlainan semua nama lembaga asal penulis harus dicantumkan pada catatan
kaki, mulai dengan lembaga asal penulis utama dengan penanda 1, 2, 3 dan
seterusnya dengan format superscrip.
3) Abstrak dan Kata Kunci

9
Untuk artikel hasil penelitian konseptual, abstrak berisi ringkasan isi
artikel yang dituangkan secara padat. Abstrak untuk artikel jenis ini bukanlah
komentar atau pengantar dari penyunting atau redaksi. Abstrak berisi pernyataan
ringkas dan padat tentang gagasan terpenting di dalam artikel. Gagasan itu antara
lain mencangkup masalah, tujuan, dan ringkasan hasil pemikiran sebagai
tekanannya.
Abstrak yang mendahului artikel berbahasa indonesia hendaknya ditulis
dalam bahasa Inggris, sedangkan untuk artikel yang berbahasa inggris dilengkapi
dengan abstrak berbahasa indonesia. Panjang abstrak antara 50 sampai dengan 75
kata dan ditulis dalam satu paragraf. Dengan ketikan berspasi tunggal
menggunakan format yang lebih sempit daripada teks utama (margin kanan dan
kiri menjorok masuk 1,2 cm). Abstrak diikuti dengan kata kunci (key words) yang
merupakan kata pokok yang menggambarkan daerah masalah yang diteliti atau
istilah yang menggambarkan gagasan pokok artikel. Kata kunci dapat berupa kata
tunggal atau gabungan kata. Jumlah kata kunci dalam artikel ilmiah antara 3
sampai dengan 5 buah. Kata ini diperlukan untuk penelusuran lebih lanjut
kedalam sistem informasi dan telekomunikasi menggunakan teknologi internet.
4) Pendahuluan
Berbeda dengan isi pendahuluan di dalam artikel hasil penelitian, bagian
pendahuluan dalam artikel konseptual berisi uraian yang mengantarkan pembaca
kepada topik utama yang akan dibahas. Sebab itu, isi bagian pendahuluan
menguraikan berbagai yang mampu menarik pembaca untuk mendalami bagian
selanjutnya. Selain itu bagian pendahuluan hendaknya diakhiri dengan rumusan
singkat tentang hal pokok yang akan dibahas. Bagian pendahuluan tidak perlu
diberi judul.
5) Isi
Isi pada artikel konseptual sangat bervariasi. Bagian ini dapat berupa (1)
evaluasi terhadap teori yang ada, yang mencangkupi ragam, kelebihan, dan
kekurangannya, (2) deskripsi, eksplanasi, analisis, dan diskusi tentang fenomena
yang muncul dalam suatu komunitas, (3) strategi pengelolaan perkara tertentu, (4)
perbandingan antar teori untuk menjembatani kesenjangan diantaranya, (5)

10
kemungkinan penerapan suatu teori didalam kelompok masyarakat tertentu, (6)
telaah terhadap teori tertentu dan kemungkingan replikasinya dalam kondisi dan
situasi yang berlainan, dan sebagainya.
Walaupun Isi jenis artikel ini tidak perlu dibagi menjadi sub bagian, tiap
paragraf harus disusun secara sistematis dengan memperhatikan koherensi antara
bagiannya. Teks yang disusun dengan runtut, lugas, padu, dan jelas akan mampu
meyakinkan pembacanya untuk mengikuti alur pikir yang hendak disampaikan
oleh penulis kepada pembacanya.
6) Penutup
Istilah penutup digunakan sebagai judul bagian akhir artikel konseptual
jika isinya hanya berupa catatan akhir atau yang sejenisnya. Jika uraian pada
bagian akhir berisi simpulan hasil pembahasan pada bagian sebelumnya, perlu
dimasukkan pada bagian kesimpulan. Kebanyakan artikel konseptual
membutuhkan simpulan.
Beberapa artikel konseptual yang dilengkapi dengan saran. Jika hendak
ditampilakan, saran yang mencakupi aspek pengembangan ilmu, penerapan teori,
dan aspek lain dapat ditempatkan dalam bagian tersendiri.
7) Catatan Akhir
Pada dasarnya catatan akhir dalam artikel konseptual serupa dengan
catatan akhir pada artikel ilmiah. Catatan ini berupa keterangan tambahan yang
diberikan kepada istilah khusus, nama tokoh, nama lembaga, tahun tertentu,
simbol dan sebagainya yang temuat di dalam artikel. Pencantuman catatan akhir
ini dilakukan dengan alasan bahwa walaupun dibutuhkan dan dianggap penting,
catatan tambahan dapat dianggap mengganggu tampilan nas pokok jika disispkan
kedalamnya.
8) Daftar Rujukan
Seperti pada artikel hasil penelitian, daftar rujukan atau references pada
artikel konseptual harus lengkap dan sesuai dengan rujukan yang disajikan dalam
nas artikel. Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujuakan yang
disebutkan dalam nas harus disajiakan dalam daftar rujukan.

11
2.4.3 Kaidah Selingkung dalam Penulisan Skrips Unnes

2.4.3.1 Pedoman Penulisan Skripsi

Skripsi merupakan karya ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa jenjang strata
satu (S-1) berdasarkan hasil penelitian lapangan, uji laboratorium, dan/atau
kepustakaan. Pada dasarnya kaidah penulisan ilmiah, seperti tugas akhir, skripsi,
tesis, dan disertasi tidak ada perbedaan yang prinsip. Oleh karena itu, untuk
penulisan skripsi, tesis, dan disertasi digunakan pedoman penulisan yang sama.
Dalam penulisan karya ilmiah, norma-norma yang harus diperhatikan dan
ditaati, antara lain menyangkut pengutipan dan perujukan, perizinan terhadap
bahan yang digunakan, penyebutan sumber data atau informan, serta kaidah
selingkung seperti bentuk dan format, struktur isi, ukuran kertas dan huruf, serta
bahasa Indonesia yang baik dan benar (EYD). Dalam penulisan karya ilmiah,
penulis harus secara jujur menyebutkan rujukan bahan atau pikiran yang diambil
dari sumber atau orang lain. Pemakaian bahan atau pikiran dari sumber atau orang
lain tanpa disertai rujukan termasuk kecurangan atau pencurian karena mengakui
tulisan, temuan atau hasil pemikiran orang lain sebagai karya intelektualnya
sendiri. Penulis karya ilmiah harus menghindarkan diri dari kegiatan plagiat.
Rujukan yang dipilih: terbaru, berkualitas tinggi, ditulis/diucapkan oleh orang
yang dapat dipertanggungjawabkan bidang keahliannya. Setelah bagian
pendahuluan ini, diuraikan secara berturut-turut format dan tata tulis skripsi.
Penyajian uraian ini didasari anggapan bahwa sosok skripsi pada dasarnya sama
dengan karya ilmiah lainnya. Oleh karena itu, uraian itu menggunakan pola umum
yang berlaku dan bagian yang berbeda sebagai ciri khas kaidah selingkung.
Skripsi merupakan karya ilmiah yang ditujukan untuk konsumsi masyarakat
akademik. Oleh karena itu, penulisan karya ilmiah ini cenderung teknis dan baku,
baik format maupun tata tulisnya.

2.4.3.2 Format Skripsi

Struktur atau bentuk skripsi dan tugas akhir dapat dirinci menjadi 3 (tiga)
bagian, yakni bagian awal, bagian pokok, dan bagian akhir. Bagian awal dimulai
dari sampul sampai dengan halaman sebelum bab pendahuluan. Bagian pokok

12
dimulai dari pendahuluan (Bab I) sampai dengan penutup (Bab V), dan sesudah
itu merupakan bagian akhir.
a.) Bagian Awal
Bagian awal skripsi dan tugas akhir terdiri atas: sampul, lembar kosong
berlogo Universitas Negeri Semarang bergaris tengah 3 cm, lembar judul, lembar
persetujuan pembimbing, lembar pengesahan, lembar pernyataan, lembar moto
dan persembahan, sari (abstrak) dalam bahasa Indonesia, prakata, daftar isi, daftar
singkatan dan tanda teknis (kalau ada), glosarium, daftar tabel (kalau ada), daftar
gambar (kalau ada), dan daftar lampiran.
Lembar bagian awal ini diberi nomor halaman dengan huruf Romawi kecil
pada kaki halaman bagian tengah. Penghitungan nomor halaman dimulai dari
lembar persetujuan pembimbing sampai dengan lembar sebelum bab pendahuluan.
1. Sampul
Pada sampul bagian tengah atas terdapat logo Universitas Negeri
Semarang, bergaris tengah 3 cm. Di bawahnya dituliskan judul dengan
huruf kapital tebal berukuran 16 pt font Times New Roman. Di bawahnya
tertulis kata SKRIPSI yang dicetak dengan huruf kapital tebal berukuran
14 pt font Times New Roman, diikuti pada baris berikutnya dengan
kalimat yang berbunyi “Untuk memperoleh gelar Sarjana ... (isi nama
program studi) pada Universitas Negeri Semarang.” (ukuran huruf 12 pt
font Times New Roman).
Di bawahnya dituliskan dengan huruf berukuran 14 pt font Times New
Roman kata: Oleh (tanpa tanda baca), di bawahnya lagi dituliskan Nama
dan di bawahnya lagi NIM mahasiswa (tanpa tulisan Nama dan NIM).
Pada kaki halaman dituliskan dengan huruf kapital, tebal berukuran 14 pt
font Times New Roman secara berturut-turut nama: Jurusan Pendidikan
Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, dan Tahun Ujian Skripsi
(tulis angka tahun), masing-masing pada baris yang berbeda. Semua
tulisan pada halaman sampul menggunakan huruf tegak dan diatur secara
simetris dengan komposisi yang serasi. Sampul dibuat dari bahan tebal.

13
Di punggung sampul dibubuhkan Logo (berdiri), Nama dan NIM
(memanjang), judul (memanjang), serta tulisan Skripsi atau Tugas Akhir
dan tahun dengan menggunakan huruf berukuran 10 pt font Times New
Roman. Untuk penulisan sistematika atau pemeringkatan judul dan
subjudul dalam karya ilmiah terdapat dua aturan, yaitu menggunakan jenis
huruf, ukuran, pencetakan, serta letak yang berbeda dan menggunakan
angka Arab atau perpaduan angka Arab dan huruf latin. Cara penulisan
yang digunakan di Unnes menggunakan cara yang kedua, yaitu:
a. Judul karya ilmiah atau judul bab ditulis di tengah atas halaman,
menggunakan huruf kapital semua, dicetak tebal (bold). Bab ditulis
dengan angka romawi (misalnya: BAB IV).
b. Subjudul peringkat pertama diberi nomor dengan huruf Latin
kapital/besar (A), ditulis rata tepi kiri, menggunakan huruf kecil
(nonkapital) tegak, diawali dengan huruf kapital pada awal setiap kata,
kecuali kata konjungsi atau preposisi, dicetak tebal, atau
menggunakan dua angka Arab (1.1). Angka Arab pertama
menunjukkan bab dan angka Arab kedua menunjukkan subjudul
peringkat pertama.
c. Subjudul peringkat kedua diberi nomor dengan angka Arab (1.),
ditulis mengikuti nomor subbsab diatasnya, menggunakan huruf kecil
(nonkapital) tegak, diawali dengan huruf kapital pada awal setiap kata,
kecuali kata tugas dicetak tebal, atau menggunakan tiga angka Arab
(1.1.1).
d. Subjudul peringkat ketiga diberi nomor dengan huruf Latin kecil (a.),
ditulis mengikuti nomor subbab diatasnya, menggunakan huruf kecil
(nonkapital) tegak, kecuali kata tugas dicetak tebal, atau menggunakan
empat angka Arab (1.1.1.1).
e. Subjudul peringkat keempat diberi nomor dengan angka Arab diberi
kurung (1), huruf Latin kecil, ditulis mengikuti subbab diatasnya,
menggunakan huruf kecil (nonkapital) tegak, diawali dengan huruf

14
kapital pada awal setiap kata, kecuali kata tugas dicetak tebal, atau
menggunakan lima angka Arab (1.1.1.1.1).

Contoh
BAB I

JUDUL BAB

1.1 Subjudul Peringkat Pertama


1.1.1 Subjudul Peringkat Kedua
1.1.1.1 Subjudul Peringkat Ketiga
1.1.1.1.1 Subjudul Peringkat Keempat
Dan seterusnya..

2. Lembar Berlogo
Lembar kosong berlogo merupakan pembatas antara sampul dan halaman
judul.
3. Halaman Judul
Lembar ini berisi tulisan seperti lembar sampul, dan dicetak pada kertas
HVS putih dengan bobot terendah 80 gram.
4. Pernyataan Keaslian
Lembar ini berjudul PERNYATAAN (ditulis pada bagian tengah atas
dengan huruf kapital tegak) dan berisi pernyataan bahwa Skripsi atau
Tugas Akhir ini hasil karya (penelitian dan tulisan) sendiri, bukan buatan
orang lain, dan tidak menjiplak karya ilmiah orang lain, baik sebagian
maupun seluruhnya.
5. Persetujuan Pembimbing
Lembar ini berjudul PERSETUJUAN PEMBIMBING (ditulis pada bagian
tengah atas dengan huruf kapital tegak) dan berisi pernyataan berikut:
Skripsi ini telah disetujui untuk diuji. Selanjutnya di bawahnya
dicantumkan Semarang, (diisi tanggal, bulan, dan tahun persetujuan) dan

15
di bawahnya disediakan tempat untuk tandatangan pembimbing dengan
dicantumkan nama pembimbing lengkap dengan gelar dan NIP-nya dan
diketahui Ketua Jurusan.
6. Pengesahan Kelulusan
Lembar ini berjudul PENGESAHAN KELULUSAN (ditulis pada bagian
tengah atas dengan huruf kapital tegak) dan berisi pernyataan berikut:
skripsi atau Tugas Akhir ini telah dipertahankan di hadapan Panitia Penguji
Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang pada
hari ....... tanggal, nama bulan dan tahun. Selanjutnya disediakan tempat
untuk tandatangan Ketua dan Anggota penguji, beserta nama lengkap
dengan gelar dan NIP-nya serta diketahui Dekan.
7. Moto dan Persembahan
Jika ada, lembar ini berjudul MOTO DAN PERSEMBAHAN (ditulis pada
bagian tengah atas dengan huruf kapital tegak). Moto merupakan
ungkapan bijak untuk kehidupan, yang dipilih berkaitan dengan judul
skripsi. Persembahan merupakan pernyataan bahwa karya ilmiah ini
dipersembahkan kepada siapa atau apa.
8. Prakata
Lembar ini berjudul PRAKATA (ditulis pada bagian tengah atas dengan
huruf kapital tegak). Dalam prakata boleh dikemukakan ungkapan puji
syukur meskipun yang pokok adalah ucapan terima kasih dan penghargaan
kepada orang orang, lembaga, atau lainnya yang langsung atau tidak
langsung membantu pelaksanaan penelitian dan penulisan skripsi. Ucapan
terima kasih kepada seseorang ditulis secara lugas, yaitu langsung
menyebutkan nama beserta gelarnya, tanpa didahului dengan kata sapaan
seperti: Bapak/Ibu. Dalam prakata tidak boleh ada pernyataan bahwa
penulis yakin akan adanya banyak kesalahan atau kekurangan dalam
skripsi atau tugas akhirnya dan atas dasar itu penulis minta maaf, serta
mengharapkan kritik dari pembaca. Jika penulis yakin bahwa skripsi atau
tugas akhirnya itu masih banyak kesalahan atau kekurangan, maka harus

16
diperbaiki dulu sebelum ujian karena kesalahan ilmiah tidak dapat
diselesaikan dengan permintaan maaf.
9. Abstrak
Abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia dengan spasi tunggal berisi
identitas, kata kunci, dan isi abstrak. Identitas meliputi nama penulis, tahun
lulus, judul skripsi (ditulis miring), diikuti dengan tulisan Sarjana
Pendidikan Universitas Negeri Semarang, nama-nama pembimbing dan
jumlah halaman skripsi. Antara bagian yang satu dengan lainnya dipisah
dengan tanda titik.
Kata Kunci terdiri atas tiga sampai lima kata atau gabungan kata. Isi
abstrak meliputi latar belakang masalah, rumusan atau fokus masalah atau
tujuan, pendekatan dan metode yang digunakan, hasil yang diperoleh,
simpulan, dan saran. Butir-butir itu hendaklah ditulis dalam empat
paragraf. Teks abstrak tidak boleh lebih dari 350 kata.
10. Daftar Isi
Daftar isi berisi judul-judul yang terdapat pada bagian awal skripsi mulai
persetujuan pembimbing sampai daftar tabel (jika ada), daftar gambar (jika
ada), daftar lampiran, bagian isi (pokok) skripsi mulai bab pertama sampai
terakhir beserta subbab tiap-tiap, dan judul pada bagian akhir skripsi.
Kecuali judul subbab, semuanya diketik dengan huruf kapital. Judul-judul
itu diikuti titik-titik sepanjang baris, diikuti nomor halaman tempat judul
itu terdapat pada lembar skripsi.
11. Daftar Singkatan dan Lambang (jika ada)
Daftar ini memuat singkatan beserta kepanjangannya dan tanda teknis
beserta makna atau penggunaannya. Singkatan dan lambang jangan
dicampur, tetapi bisa diketik dalam satu halaman karena keduanya
mempunyai fungsi teknis yang sama, yakni untuk kemudahan.
12. Glosarium
Glosarium merupakan daftar istilah-istilah khusus yang digunakan dalam
skripsi. Istilah-istilah tersebut disertai dengan definisinya.
13. Daftar Tabel

17
Daftar tabel memuat nomor dan judul tabel, diikuti titik-titik seperti pada
daftar isi, lalu disusul nomor halaman tempat tabel terdapat dalam teks.
Judul tabel yang lebih dari satu halaman diketik dengan spasi satu. Jarak
antara judul tabel yang satu dengan yang lain dalam daftar ini satu
setengah spasi.
14. Daftar Gambar
Cara membuat daftar gambar sama dengan cara membuat daftar tabel.
15. Daftar Lampiran
Cara membuat daftar lampiran sama dengan cara membuat daftar tabel.

18
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

1. Kaidah selingkung adalah aturan-aturan yang sifatnya berlaku dalam


lingkungan tertentu, misalnya departemen satu berbeda dengan
departemen lainnya, pemda satu berbeda dengan pemda lainnya, majalah
satu berbeda dengan majalah lainnya, jurnal satu berbeda dengan jurnal
lainnya.
2. Kaidah penulisan artikel ilmiah dapat dipilah menjadi dua, yaitu kaidah-
kaidah penulisan yang bersifat “universal” dan kaidah-kaidah penulisan
yang bersifat “selingkung”.
3. Tata tulis artikel yang bersifat “universal” (dalam konteks Indonesia)
mengacu pada penggunaan ragam bahasa Indonesia (tulis) yang baku.
Kaidah selingkung lebih berorientasi pada konvensi aturan penulisan
artikel yang bersifat teknis.
4. Contoh kaidah selingkung dalam penulisan karya ilmiah di UNNES ada
jurnal pendidikan, kaidah penulisan/ kaidah selingkung artikel konseptual
Unnes, dan kaidah selingkung dalam penulisan skripsi Unnes.

3.2 Saran

Bagi seorang calon pengajar, tentunya kita dituntut untuk lebih luas
memahami berbagai kaidah penulisan. Pemahaman kaidah selingkung
memperkaya pengetahuan dan memberikan pemahaman yang lebih luas, agar
nantinya kita dapat menguasai berbagai kaidah penulisan, sehingga para peserta
didik yang diajar lebih mengenal berbagai macam kaidah penulisan.

19
DAFTAR PUSTAKA

Wardhani, I.G.A.K., dkk. 2011. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Jakarta: Universitas
Terbuka.

Kusmana, Suherli. 2009. Merancang Karya tulis Ilmiah. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya.

Pedoman Penulisan Skripsi Unnes 2016.

Vieka Rika. 2016. Kaidah Selingkung. Online “http://nay-


hyukvie.blogspot.co.id/2014/05/kaidah-selingkung.html” diunduh kamis, 05
Maret 2017 pukul 19.21 WIB.

20