Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

“PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA”

OLEH KELOMPOK 1 :

GALIH ALIF MAULANA 1310611050


ABDUL AZIZ 1310611029
CATUR WAHYU WARDANI 1610611098

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

Jl. Karimata no. 49 telp (0333) 336738 kotak pos 104 Jember

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur Kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas
anugerah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan “MAKALAH
PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA”.
Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan Makalah ini selain untuk
menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Dosen pengajar, juga untuk lebih
memperluas pengetahuan para mahasiswa khususnya bagi penulis.
Penulis telah berusaha untuk dapat menyusun Makalah ini dengan baik, namun
penulis pun menyadari bahwa kami memiliki akan adanya keterbatasan kami
sebagai manusia biasa.
Oleh karena itu jika didapati adanya kesalahan-kesalahan baik dari segi
teknik penulisan, maupun dari isi, maka kami memohon maaf dan kritik serta
saran dari dosen pengajar bahkan semua pembaca sangat diharapkan oleh kami
untuk dapat menyempurnakan makalah ini terlebih juga dalam pengetahuan kita
bersama. Harapan ini dapat bermanfaat bagi kita sekalian

Jember, 22 Oktober 2017


Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 1
C. Tujuan .................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pancasila Dalam Konteks Perjuangan Bangsa ..................................... 3
B. Pancasila Sebagai Ideologi Negara ...................................................... 6
C. Pancasila Sebagai Filsafat .................................................................... 9
D. Pancasila Sebagai Paradigma Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa
Dan Bernegara ...................................................................................... 11
E. Pancasila Sebagai Etika Politik ............................................................ 16
F. Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Sebagi Identitas Dan
Karakter Bangsa ................................................................................... 20
G. Pancasila Dalam Konteks HAM ..........................................................

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan .......................................................................................... 22
B. Saran ..................................................................................................... 22

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pancasila adalah dasar filsafat negara Republik Indonesia yang
secara resmi disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan
tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, diundangkan dalam Berita
Republik Indonesia tahun II No.7 bersama-sama batang tubuh UUD 1945.
Sebagai dasar filsafat negara Republik Indonesia, Pancasila mengalami
berbagai macam interpretasi dan manipulasi politik. Karena hal tersebut
Pancasila tidak lagi diletakkan sebagai dasar filsafat serta pandangan hidup
bangsa dan negara Indonesia melainkan direduksi, dibatasi dan
dimanipulasi demi kepentingan politik penguasa pada saat itu.
Pancasila sebagai paradigma dimaksudkan bahwa Pancasila
sebagai sistem nilai acuan, kerangka-acuan berpikir, pola-acuan berpikir,
atau jelasnya sebagai sistem nilai yang dijadikan kerangka landasan,
kerangka cara, dan sekaligus kerangka arah atau tujuan bagi yang
menyandangnya diantaranya bidang politik, bidang ekonomi, bidang sosial
budaya, bidang hukum, bidang kehidupan antar umat beragama.
Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Kehidupan Bernegara
telah berhasil menyusun Pedoman Umum Implementasi Pancasila Dalam
Kehidupan Bernegara, namun masih perlu dirumuskan ke dalam
Paradigma yang secara operasional dapat digunakan sebagai pedoman dan
model baik dalam merumuskan kebijakan publik maupun sebagai acuan
kritik, untuk menentukan mana yang sesuai atau yang tidak sesuai dengan
Pancasila.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah Pancasila dalam Konteks Perjuangan Bangsa ?
2. Bagaimanakah Pancasila sebagai Ideologi Negara?
3. Bagaimanakah Pancasila sebagai Filsafat?

1
C. TUJUAN
Makalah ini bertujuan agar para pembaca bisa mengetahui
tentang Pancasila Indonesia yang sesungguhnya, dan dengan adanya
makalah ini juga di harapkan dapat menjadi pengetahuan bagi kita semua.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pancasila Sebagai Ideologi Negara


Ideologi berasal dari kata yunani yaitu iden yang berarti melihat,
atau idea yang berarti raut muka, perawakan, gagasan buah pikiran dan
kata logi yang berarti ajaran. Dengan demikian ideologi adalah ajaran atau
ilmu tentang gagasan dan buah pikiran atau science des ideas (AL-
Marsudi, 2001:57).
Puspowardoyo (1992 menyebutkan bahwa ideologi dapat
dirumuskan sebagai komplek pengetahuan dan nilai secara keseluruhan
menjadi landasan seseorang atau masyarakat untuk memahami jagat raya
dan bumi seisinya serta menentukan sikap dasar untuk mengolahnya.
Berdasarkan pemahaman yang dihayatinya seseorang dapat menangkap
apa yang dilihat benar dan tidak benar, serta apa yang dinilai baik dan
tidak baik.
Menurut pendapat Harol H. Titus. Definisi dari ideologi adalah:
Aterm used for any group of ideas concerning various political and
aconomic issues and social philosophies often applied to a systematic
scheme of ideas held by groups or classes, artinya suatu istilah yang
digunakan untuk sekelompok cita-cita mengenai bebagai macam masalah
politik ekonomi filsafat sosial yang sering dilaksanakan bagi suatu rencana
yang sistematis tentang suatu cita-cita yang dijalankan oleh kelompok atau
lapisan masyarakat.
Bila kita terapkan rumusan ini pada Pancasila dengan definisi-
definisi filsafat dapat kita simpulkan, maka Pancasila itu ialah usaha
pemikiran manusia Indonesia untuk mencari kebenaran, kemudian sampai
mendekati atau menanggap sebagai suatu kesanggupan yang
digenggamnya seirama dengan ruang dan waktu.
Hasil pemikiran manusia yang sungguh-sungguh secara
sistematis radikal itu kemuduian dituangkan dalam suatu rumusan

3
rangkaian kalimat yang mengandung suatu pemikiran yang bermakna
bulat dan utuh untuk dijadikan dasar, asas, pedoman atau norma hidup dan
kehidupan bersama dalam rangka perumusan satu negara Indonesia
merdeka, yang diberi nama Pancasila.
Kemudian isi rumusan filsafat yang dinami Pancasila itu
kemudian diberi status atau kedudukan yang tegas dan jelas serta
sistematis dan memenuhi persyaratan sebagai suatu sistem filsafat.
Termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke
empat maka filsafat Pancasila itu berfungsi sebagai Dasar Negara
Republik Indonesia yang diterima dan didukung oleh seluruh bangsa atau
warga Negara Indonesia.
Demikian isi rumusan sila-sila dari Pancasila sebagai satu
rangkaian kesatuan yang bulat dan utuh merupakan dasar hukum, dasar
moral, kaidah fundamental bagi peri kehidupan bernegara dan masyarakat
Indonesia dari pusat sampai ke daerah-daerah.
Sebagai ideologi suatu bangsa yang menjadi pandangan dan
pegangan hidup masyarakatnya, Pancasila haruslah bersifat universal
mencakup segala macam nilai-nilai sosial dan budaya Indonesia serta
menjadi orientasi dalam hidup oleh seluruh masyarakatnya. Sebagai
ideologi bangsa, maka keberadaannya selalu diimplementasikan ke dalam
perilaku kehidupan dalam rangka berbangsa, bernegara dan
bermasyarakat.
Kalau dikaji dari butir-butir kelima sila dalam ideologi Pancasila
tersebut, sebenarnya sudah mencakup gambaran pembentukan karakter
manusia Indonesia yang ideal, sebagai mana yang diharapkan para
penggali dari pancasila itu sendiri. Gambaran pembentukan manusia
Indonesia seutuhnya itu, dapat diilustrasikan
Pada sila pertama tersirat bagaimana manusia Indonesia
berhubungan dengan Tuhannya atau kepercayaannya.
Pada sila kedua tergambar bagaimana manusia Indonesia harus
bersikap hidup dengan orang lain sebagaimana layaknya manusia yang

4
punya pikiran dan ahklak hingga dia bisa bersikap sebagai mahkluk yang
tertinggi dibandingkan dengan mahkluk lainnya yaitu binatang.
Sila ketiga menerangkan bagaiama manusia Indonesia menciptakan
suatu pandangan betapa pentingnya arti persatuan dan kesatuan bangsa
dari pada bercerai berai seperti pada pepatah bersatu kita teguh dan
bercerai kita runtuh.
Sila keempat telah menegaskan bagaimana manusia Indonesia
mengimplementasikan cara bersikap dan berpendapat serta memutuskan
sesuatu menyangkut kepentingan umum secara bijak demi kelangsungan
kehidupan berdemokrasi yang terlindungi antara menyuarakan hak dan
kewajibannya berimbang dalam mengimplementasikannya.
Pada sila kelima dijabarkan bagaimana manusia Indonesia
mewujudkan suatu keadilan dan kemakmuran bagi seluruh masyarakat
Indonesia itu sendiri. Dari penjabaran kelima sila tersebut di atas, maka
sudah sepantasnya bahwa Pancasila beserta kelima silanya itu layak
dijadikan sebagai pandangan dan pegangan hidup serta dijadikan sebagai
pembimbing dalam menciptakan kerangka berpikir untuk menjalankan
roda demokratisasi dan diimplementasikan dalam segala macam praktik
kehidupan menyangkut berbangsa, bernegara dan bermasyarakat di dalam
Negara kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.
Maka mengamalkan dan mengamankan Pancasila sebagai dasar
Negara mempunyai sifat imperatif dan memaksa, artinya setiap warga
Negara Indonesia harus tunduk dan taat kepadanya. Siapa saja yang
melangggar Pancasila sebagai dasar Negara, harus ditindak menurut
hukum yakni hukum yang berlaku di Indonesia. Dengan kata lain
pengamalan Pancasila sebagai dasar Negara disertai sanksi-sanksi hukum.
Sedangkan pengamalan Pancasila sebagai weltanschuung, yaitu
pelaksanaan Pancasila dalam hidup sehari-hari tidak disertai sanksi-sanksi
hukum tetapi mempunyai sifat mengikat, artinya setiap manusia Indonesia
terikat dengan cita-cita yang terkandung di dalamnya untuk mewujudkan

5
dalam hidup dan kehidupanya, sepanjang tidak melanggar peraturan
perundang-undangan yang barlaku di Indonesia.
Jadi, jelaslah bagi kita bahwa mengamalkan dan mengamankan
Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia mempunyai sifat
imperatif memaksa. Sedangkan pengamalan atau pelaksanaan Pancasila
sebagai pandangan hidup dalam hidup sehari-hari tidak disertai sanksi-
sanksi hukum tetapi mempunyai sifat mengikat.
Pancasila sebagai filsafat bangsa dan Negara dihubungkan
fungsinya sebagai dasar Negara, yang merupakan landasan idiil bangsa
Indonesia dan Negara Republik Indonesia dapatlah disebut pula sebagai
ideologi nasional atau ideologi Negara.

B. Pancasila Dalam Konteks Perjuangan Bangsa


Berawal dari sidang pleno BPUPKI pertama yang diadakan pada
tanggal 28 Mei 1945 hingga 1 Juni 1945. Ketika itu, dr. Radjiman
Widyodiningrat dalam pidato pembukaannya selaku ketua BPUPKI
mengajukan pertanyaan kepada seluruh anggota sidang mengenai dasar
negara apa yang akan dibentuk untuk Indonesia. Pertanyaan ini menjadi
persoalan paling dominan sepanjang 29 Mei-1 Juni 1945 dan
memunculkan sejumlah pembicara yang mengajukan gagasan mereka
mengenai dasar filosofis Indonesia.
Pada tanggal 1 Juni 1945, secara eksplisit Ir. Soekarno
mengemukakan gagasannya mengenai dasar negara Indonesia dalam
pidatonya yang berjudul “Lahirnya Pancasila”. Menurut Drs. Mohammad
Hatta, pidato tersebut bersifat kompromis dan dapat meneduhkan
pertentangan tajam antara pendapat yang mempertahankan Negara Islam
dan mereka yang menghendaki dasar negara sekuler. Perdebatan tersebut
pada akhirnya dimenangkan kelompok yang menginginkan Islam sebagai
dasar negara, terbukti dengan dikeluarkannya Piagam Jakarta pada tanggal
22 Juni 1945.

6
Namun, dalam perkembangan selanjutnya, ternyata beberapa
rumusan Piagam Jakarta diganti dan menimbulkan kekecewaan umat
Islam terhadap pemerintahan Soekarno dan Mohammad Hatta dan terus
berkembang hingga masa pemerintahan Soeharto, sampai-sampai Carol
Gluck mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang terlalu banyak
meributkan masalah ideologi dibandingkan negara-negara lain. Melihat
pada perkembangan perumusan Pancasia sejak 1 Juni sampai 18 Agustus
1945, dapat diketahui bahwa Pancasila mengalami perkembangan fungsi.
Pada tanggal 1 dan 22 Juni, Pancasila yang dirumuskan Panitia
Sembilan dan disepakati oleh Sidang Pleno BPUPKI merupakan modus
kompromi antara kelompok yang memperjuangkan dasar negara
nasionalisme dan kelompok yang memperjuangkan dasar negara Islam.
Akan tetapi, pada tanggal 18 Agustus 1945 Pancasila yang dirumuskan
kembali oleh PPKI berkembang menjadi kompromi antara kaum
nasionalis, Islam dan Kristen-Katolik dalam hidup bernegara.
Pada era Orde Lama, dinamika perdebatan ideologi paling
sering dibicarakan oleh kebanyakan orang. Tampak ketika akhir tahun
1950-an, Pancasila sudah bukan lagi merupakan kompromi atau titik temu
bagi semua ideologi. Dikarenakan Pancasila telah dimanfaatkan sebagai
senjata ideologis untuk melegitimasi tuntutan Islam bagi pengakuan
negara atas Islam yang kemudian pada rentang tahun 1948-1962 terjadi
pemberontakan Darul Islam terhadap pemerintah pusat. Setelah
pemberontakan berhasil ditumpas, atas desakan AH Nasution, selaku
Pangkostrad dan kepala staf AD, pada 5 Juli 1959 Ir. Soekarno
mengeluarkan Dekrit Presiden untuk kembali pada UUD 1945 sebagai
satu-satunya konstitusi legal Republik Indonesia dan pemerintahannya
dinamai dengan Demokrasi Terpimpin.
Pada masa Demokrasi Terpimpin pun ternyata tidak semulus
yang diharapkan. Periode labil ini justru telah membubarkan partai Islam
terbesar, Masyumi, karena dianggap ikut andil dalam pemberontakan
regional berideologi Islam. Bahkan, Soekarno membatasi kekuasaan partai

7
politik yang ada serta mengusulkan agar rakyat menolak partai-partai
politik karena mereka menentang konsep musyawarah dan mufakat yang
terkandung dalam Pancasila. Soekarno juga menganjurkan sebuah konsep
yang dikenal dengan NASAKOM yang berarti persatuan antara
nasionalisme, agama dan komunisme. Kepentingan politis dan ideologis
yang saling bertentangan menimbulkan struktur politik yang sangat labil
sampai pada akhirnya melahirkan peristiwa G 30S/PKI yang berakhir pada
runtuhnya kekuasaan Orde Lama.
Selanjutnya pada masa Orde Baru, Soeharto berusaha
meyakinkan bahwa rezim baru adalah pewaris sah dan konstitusional dari
presiden pertama. Soeharto mengambil Pancasila sebagai dasar negara dan
ini merupakan cara yang paling tepat untuk melegitimasi kekuasaannya.
Berbagai bentuk perdebatan ternyata tidak semakin membuat stabilitas
negara berjalan dengan baik, tetapi justru struktur politik labil yang
semakin mengedepan dikarenakan Soeharto seringkali mengulang
pernyataan tegas bahwa perjuangan Orde Baru hanyalah untuk
melaksanakan Pancasila secara murni dan konsekuen, yang berarti bahwa
tidak boleh ada yang menafsirkan resmi tentang Pancasila kecuali dari
pemerintah yang berkuasa.
Pada masa reformasi (setelah rezim Soeharto runtuh), seolah
menandai adanya jaman baru bagi perkembangan perpolitikan nasional
sebagai anti-tesis dari Orde Baru yang dianggap menindas dengan
konfrimitas ideologinya. Pada era ini timbul keingingan untuk membentuk
masyarakat sipil yang demokratis dan berkeadilan sosial tanpa kooptasi
penuh dari negara. Lepas kendalinya masyarakat seolah menjadi fenomena
awal dari tragedi besar dan konflik berkepanjangan.
Tampaknya era ini mengulang problem perdebatan ideologi
yang terjadi pada masa Orde Lama, Orde Baru, yang berakhir dengan
instabilitas politik dan perekonomian secara mendasar. Berbagai bentuk
interpretasi monolitik selama ini cenderung mengaburkan dan
menguburkan makna substansial Pancasila dan berakibat pada Pancasila

8
yang menjadi sebuah mitos, selalu dipahami secara politis-ideologis untuk
kepentingan kekuasaan serta nilai-nilai dasar Pancasila menjadi nilai yang
distopia, bukan sekedar utopia

C. Pancasila Sebagai Sistem Filsafat


Definisi pancasila sebagai sistem filsafat adalah suatu satu
kesatuan yang saling berhubungan untuk satu tujuan tertentu, dan saling
berkualifikasi yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Jadi
pancasila pada dasarnya satu bagian atau unit-unit yang berkaitan satu
sama lain, dan memiliki fungsi serta tugas masing-masing.

D. Pancasila sebagai Paradigma Kehidupan dalam Bermasyarakat,


Berbangsa dan Bernegara
1. Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan
Tujuan negara yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yang
rinciannya adalah sebagai berikut : “melindungi segenap bangsa dan
seluruh tumpah darah indonesia” hal ini dalam kapasitasnya tujuan negara
hukum formal ataupun rumusan “memajukan kesejahteraan umum
mencerdaskan kehidupan bangsa“ hal ini dalam pengertian negara hukum
material, yang secara keseluruhan sebagai manifestasi tujuan
khusus/nasional.
Adapun tujuan internasional (tujuan umum) “ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,perdamain abadi dan
keadilan sosial”.
Secara filsofis hakikat kedudukan pancasila sebagai pradigma
pembangunnan nasional mengandung suatu konsekuensi bahwa dalam
segala aspek pembangunan nasional kita harus mendasarkan pada hakikat
nilai-nilai sila-sila pancasila.
Unsur-unsur hakikat manusia “monopluralisasi” meliputi
susunan kodrat manusia, rokhani (jiwa) dan raga, sifat kodrat manusia
makhluk individu dan makhluk sosial serta kedudukan kodrat manusia

9
sebagai makhluk pribadi berdiri sendiri dan sebagai makhluk Tuhan yang
Maha Esa.
a. Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Iptek
Ilmu pengetahuan dan teknologi pada hakikatnya merupakan
suatu hasil kreativitas rokhani manusia. Akal merupakan potensi
rokhaniah manusia dalam hubungan dengan intelektualitas, rasa dalam
bidang estetis dan kehendak dalam bidang moral(etika). Tujuan yang
esensial dari iptek adalah demi kesejahteraan umat manusia, sehingga
iptek pada hakikatnya tidak bebas nilai namun terikat oleh nilai.
Pengembangan iptek sebagai hasil budaya manusia harus didasakan
pada moral Ketuhana dan Kemanusiaan yang adil dan beradab.

b. Pancasila sebagai paradigma pembangunan Poleksosbudhankam


Pembangunan yang merupakan realisasi praksis dalam negara
untuk mencapai tujuan seluruh warga harus mendasarkan pada hakikat
manusia sebagai subjek pelaksanaan sekaligus tujuan pembangunnya.
Pembangunan yang merupakan realisasi praksis dalam Negara
harus berdasarkan pada hakikat manusia. Hakikat manusia adalah
‘monopoluralis’ artinya meliputi berbagai unsur yaitu rokhani-jasmani,
individu-makhluk sosial serta manusia sebagai pribadi-makhluk Tuhan
yang Maha Esa.
1) Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Bidang Politik
Drs. Moh.Hatta, menyatakan bahwa negara berdasarkan atas
Ketuhanan yang Maha Esa, atas dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab. Jadi dapat disimpulkan bahwa pengembangan politik
negara terutama dalam proses reformasi dewasa ini harus
mendasarkan pada moralitas sebagaimana tertuang dalam sila-sila
pancasila sehingga. Praktek-praktek politik yang menghalalkan
segala cara dengan memfitnah, memprovokasi menghasut rakyat
yang tidak berdosa untuk diadu domba harus segera diakhiri.

10
Pancasila dalam pengembangan kehidupan politik dapat dilakukan
dengan cara :
a) Mewujudkan tujuan negara demi peningkatan harkat dan
martabat manusia
b) Memposisikan rakyat Indonesia sebagai subjek dalam
kehidupan politik, bukan hanya sebagai objek politik penguasa
semata.
c) Sistem politik negara harus mendasar pada tuntutan hak dasar
kemanusiaan
d) Para penyelengggara dan politisi negara senantiasa memegang
budi pekerti kemanusiaan serta memegang teguh cita-cita moral
rakyat Indonesia
2) Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Ekonomi
Perkembangan ilmu ekonomi pada akhir abad ke-18
menumbuhkan ekonomi kapitalis. Atas dasar kenyataan objektif
inilah maka di Eropa pada awal abad ke-19 munculah pemikiran
sebagai reaksi atas perkelimbangan ekonomi tersebut yaitu
sosialisme komunisme yang memperjuangkan nasib kaum proletar
yag di tindas oleh kaum kapitalis.
Mubyarto mengembangkan ekonomi kerakyatan, yaitu
ekonomi yang humanistik yang mendasarkan pada tujuan demi
kesejahteraan seluruh bangsa. Tujuan ekonomi adalah untuk
memenuhi kebutuhan manusia, agar manusia menjadi lebih
sejahtera. Maka sistem ekonomi Indonesia mendasarkan atas
kekeluargaan seluruh bangsa.
Perwujudan pancasila sebagai paradigm pembangunan
bidang ekonomi dapat dilakukan dengan cara :
a) Sistem ekonomi negara senantiasa mendasar pada pemikiran
untuk mengembangkan ekonomi atas dasar moralitas
kemanusiaan dan ketuhanan

11
b) Menghindari pengembangan ekonomi yang mengarah pada
sistem monopoli persaingan bebas
c) Mengembangkan sisitem ekonomi kerakyatan dan
kekeluargaan yang ditujukan untuk mencapai kesejahteraan
rakyat secara luas

3) Pancasila Sebagai Paradigma Pengembangan Sosial Budaya


Dalam prinsip etika pancasila pada hakikatnya bersifat
humanistik, artinya nilai-nilai pancasila mendasarkan pada nilai
yang bersumber pada harkat dan martabat manusia sebagi mahkluk
yang berbudaya. Terdapat rumusan dalam sila kedua pancasila
yaitu “kemanusiaan yang adil dan beradab”. Pancasila merupakan
sumber normatif bagi peningkatan humanisasi
Dalam bidang sosial budaya. Sebagai kerangka kesadaran
pancasila dapat merupakan dorongan untuk :
a) Universalisasi yaitu melepaskan simbol-simbol dari keterkaitan
struktur, dan
b) Transendentalisasi yaitu meningkatkan derajat kemerdekaan
manusia, dan kebebasan spiritual (koentowijoyo,1986).
Perwujudan Pancasila sebagai paradigma pengembangan
bidang sosial budaya dapat dilakukan dengan cara:
a) Senantiasa berdasarkan sistem nilai yang sesuai dengan nilai-
nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia
b) Pembangunan ditujukan untuk meningkatkan derajat
kemerdekaan manusia dan kebebasan spiritual
c) Menciptakan sistem sosial budaya yang beradab
melaluipendkatan kemanusiaan secara universal

4) Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan HanKam


Negara pada hakikatnya adalah merupakan suatu
masyarakat hukum. Demi tegaknya hak-hak warga negara maka

12
diperlukan peraturan perundang-undangan negara, baik dalam
rangka mengatur ketertiban warga maupun dalam rangka
melindungi hak-hak warganya. Oleh karena itu pertahana dan
keamanan negara harus dikembangkan berdasarkan nilai-nilai yang
terkandung dalam pancasila. Pertahanan dan keamanan negara
harus dikembangkan berdasarkan nilai-nilai yang terkandung
dalam pancasila.
Pertahanan dan keamanan negara harus mendasarkan pada
tujuan demi tercapainya kesejahteraan hidup manusia sebagai
makhluk Tuhan yang Maha Esa (sila I dan ll). Pertahanan dan
keamanan negara haruslah mendasarkan pada tujuan demi
kepentingan warga dalam seluruh warga sebagai warga negara (sila
lll). Pertahanan dan keamanan harus mampu menjamin hak-hak
dasar, persamaan derajat serta kebebasan kemanusiaan (sila IV )
dan akhirnya pertahanan dan keamanan haruslah diperuntukan
demi terwujudnya keadilan dalam hidup masyarakat (terwujudnya
suatu keadilan sosial) agar benar-benar negara meletakan pada
fungsi yang sebenarnya sebagai suatu negara hukum dan bukannya
suatu negara yang berdasarkan atas kekuasaan.
Perwujudan nilai-nilai Pancasila dalam pembangunan
bidang hankam dapat dilakukan dengan cara:
a) Pertahanan dan keamanan negara harus berdasarkan kepada tujuan
demi tercapainya kesejahteraan hidup manusia sebagai makhluk
Tuhan.
b) Pertahanan dan keamanan negara harus berdasarkan pada tujuan
demi tercapainya kepentingan seluruh warga Negara Indonesia.
c) Pertahanan dan keamanan harus mampu menjamin hak asasi
manusia . persamaan derajat serta kebebasan manusia.
d) Pertahanan dan keamanan negara harus diperuntukan demi
terwujudnya keadilan dalam kehidupan masyarakat.

13
5) Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Kehidupan
Beragama
Dalam hal ini Negara menegaskan dalam pokok pikiran IV
bahwa ”negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, atas
asas dasar kemanusiaan yang adil dan beradab”. Hal ini berarti
bahwa kehidupan dalam negara mendasarkan pada nilai-nilai
ketuhanan. Negara memberikan kebebasan pada warganya untuk
memeluk agama serta menjalankan ibadah sesuai dengan agama
dan kepercayaan masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa
dalam negara indonesia memberikan kebebasan atas kehidupan
beragama/dengan lain perkataan menjamin atas demokrasi di
bidang agama. Dasar-dasar ajaran-ajaran sesuai dengan keyakinan
masing-masing maka dalam pergaulan hidup negara kehidupan
beragama hubungan antara pemeluk agama didasarkan atas nilai-
nilai kemanusiaan yang beraab hal ini berdasarkan pada nilai
bahwa semua pemeluk agama adalah sebagai bagian dari umat
manusia di dunia.

E. Pancasila Sebagai Etika Politik


Etika adalah kelompok filsafat praktis yang membahas tentang
bagaimana dan mengapa kita mengikuti suatu ajaran moral tertentu, atau
bagaimana kita harus mengambil sikap yang bertanggung jawab dengan
berbagai ajaran moral. Pengertian politik berasal dari kata “Politics”, yang
memiliki makna bermacam – macam kegiatan dalam suatu sistem politik
atau negara yang menyangkut proses penentuan tujuan – tujuan.
Etika politik adalah cabang dari filsafat politik yang
membicarakan perilaku atau perbuatan-perbuatan politik untuk dinilai dari
segi baik atau buruknya. Filsafat politik adalah seperangkat keyakinan
masyarakat, berbangsa, dan bernegara yang dibela dan diperjuangkan oleh
para penganutnya, seperti komunisme dan demokrasi.

14
Secara substantif pengertian etika politik tidak dapat dipisahkan
dengan subjeksebagai pelaku etika yaitu manusia. Oleh karena itu, etika
politik berkaitan eratdengan bidang pembahasan moral.hal ini berdasarkan
kenyataan bahwa pengertianmoral senantiasa menunjuk kepada manusia
sebagai subjek etika. Maka kewajibanmoral dibedakan dengan pengertian
kewajiban-kewajiban lainnya, karena yangdimaksud adalah kewajiban
manusia sebagai manusia, walaupun dalam hubungannya dengan
masyarakat, bangsa maupun negara etika politik tetap meletakkan
dasarfundamental manusia sebagai manusia.
Dasar ini lebih meneguhkan akar etika politikbahwa kebaikan
senantiasa didasarkan kepada hakikat manusia sebagai makhluk
yangberadab dan berbudaya berdasarkan suatu kenyataan bahwa
masyarakat, bangsamaupun negara bisa berkembang ke arah keadaan yang
tidak baik dalam arti moral.
Tujuan etika politik adalah mengarahkan kehidupan politik yang
lebih baik, baik bersama dan untuk orang lain, dalam rangka membangun
institusi-institusi politik yang adil. Etika politik membantu untuk
menganalisa korelasi antara tindakan individual, tindakan kolektif, dan
struktur-struktur politik yang ada. Penekanan adanya korelasi ini
menghindarkan pemahaman etika politik yang diredusir menjadi hanya
sekadar etika individual perilaku individu dalam bernegara. Nilai-nilai
Pancasila Sebagai Sumber Etika Politik. Dalam pelaksanaan dan
penyelenggaraan Negara, etika politik menuntut agar kekuasaan dalam
Negara dijalankan sesuai dengan:
1. Legitimasi hukum
2. Legitimasi demokratis
3. Legitimasi moral

15
F. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Sebagai Identitas dan
Karakter Bangsa
1. Pengertian Pancasila sebagai Identitas Nasional
Kata identitas berasal dari bahasa inggris, yaitu identity yang
memiliki pengertian harfiah ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri yang
melekat pada seseorang atau sesuatu yang membedakan dengan yang
lain. Dalam term antropologi ,indentitas adalah sifat khas yang
menerangkan dan dengan kesadaran diri pribadi sendiri, golongan
sendiri,kelompok sendiri, atau negara sendiri. Mengacu pada
pengertian ini identitas tidak terbatas pada individu semata tetapi
berlaku pula pada kelompok lain.
Sedangkan kata nasional merupakan identitas yang melekat
pada kelompok –kelompok yang lebih besar yang diikat oleh
kesamaan-kesamaan, baik fisik seperti budaya, agaman dan bahasa
maupun non fisik seperti keinginan, cita-cita dan tujuan. Himpunan
kelompok-kelompok inilah yanh kemudian disebut dengan istilah
identitas bangsa atau identitas nasional yang pada akhirnya melahirkan
tindakan kelompok yang diwujudkan dalam bentuk organisasi atau
pergerakan-pergerakan yang diberi atribut-atribut nasional. Kata
nasioanl sendiri tidak bisa dilepaskan dari kemunculan konsep
nasionalisme.
Sebagai identitas nasional, Pancasila sebagai kepribadian
bangsa harus mampu mendorong bangsa Indonesia secara keseluruhan
agar tetap berjalan dalam koridornya yang bukan berarti menentang
arus globalisasi, akan tetapi lebih cermat dan bijak dalam menjalani
dan menghadapi tantangan dan peluang yang tercipta. Bila
menghubungkan kebudayaan sebagai karakteristik bangsa dengan
Pancasila sebagai kepribadian bangsa, tentunya kedua hal ini
merupakan suatu kesatuan layaknya keseluruhan sila dalam Pancasila
yang mampu menggambarkan karakteristik yang membedakan
Indonesia dengan negara lain.

16
Identitas Nasional merupakan suatu konsep kebangsaan yang
tidak pernah ada padanan sebelumnya.Perlu dirumuskan oleh suku-
suku tersebut. Istilah Identitas Nasional secara terminologis adalah
suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis
membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lain. Eksistensi suatu
bangsa pada era globalisasi yang sangat kuat terutama karena pengaruh
kekuasaan internasional. Menurut Berger dalam The Capitalist
Revolution, era globalisasi dewasa ini, ideologi kapitalisme yang akan
menguasai dunia. Kapitalisme telah mengubah masyarakat satu persatu
dan menjadi sistem internasional yang menentukan nasib ekonomi
sebagian besar bangsa-bangsa di dunia, dan secara tidak langsung juga
nasib, sosial, politik dan kebudayaan.
2. Alasan Pancasila menjadi Identitas Nasional
Pancasila sebagai Kepribadian dan Identitas Nasional karena
Bangsa Indonesia sebagai salah satu bangsa dari masyarakat
internasional, memilki sejarah serta prinsip dalam hidupnya yang
berbeda dengan bangsa-bangsa lain di dunia .Tatkala bangsa Indonesia
berkembang menuju fase nasionalisme modern, diletakanlah prinsip-
prinsip dasar filsafat sebagai suatu asas dalam filsafat hidup berbangsa
dan bernegara.
Prinsip-prinsip dasar itu ditemukan oleh para pendiri bangsa
yang diangkat dari filsafat hidup bangsa Indonesia, yang kemudian
diabstraksikan menjadi suatu prinsip dasar filsafat Negara yaitu
Pancasila.Jadi, filsafat suatu bangsa dan Negara berakar pada
pandangan hidup yang bersumber pada kepribadiannya sendiri.
Dapat pula dikatakan pula bahwa pancasila sebagai dasar
filsafat bangsa dan Negara Indonesia pada hakikatnya bersumber
kepada nilai-nilai budaya dan keagamaan yang dimiliki oleh bangsa
Indonesia sebagai kepribadian bangsa.

17
3. Pengertian Pancasila sebagai Karakter Bangsa
Istilah karakter dapat diartikan sebagai sistem daya juang (
daya dorong , daya gerak , dan gaya hidup ) yang berisikan tata nilai
kebajikan dan moral yang berpatri dalam diri manusia . tat nilai itu
merupakan peroaduan aktualisasi potensi dari dalam diri manusia serta
internalisasi nilai nilai ahklak dengan moral dari luar ( lingkungan )
yang melandasi pemikiran , silkap , dan prilaku . dengan kata lain ,
karakter adalah nilai kebajikan ahlak dan moral yang terpatri dan
menjadi nilai instrinsik dalam diri manusia yang melandasi pemikiran ,
sikap dan prilakunya .
Karakter bangsa adalah akumulasi atau sinergi dari karakter
individu –individu warga bangsa yang berproses secara terus-menerus
dan kemudian mengelompok . karakter bangsa indonesia merupakan
kristilasasi nilai-nilainya kehidupan nyata bangsa indonesia yang
merupakan perwujudan dan pengalaman pancasila

4. Alasan Pancasila sebagai Karakter Bangsa


Melalui pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur
Pancasila, para generasi muda akan dapat menjadi warga negara yang
baik yang mampu memahami hak dan kewajibannya, memahami
ideologi negara secara utuh dan benar. Melalui pendidikan karakter
berbasis Pancasila ini, para generasi muda mampu menjadi warga
negara Indonesia yang baik, cerdas, terampil, dan berkarakter sesuai
dengan Pancasila dan UUD 1945.
Pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan
perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja sama
sebagai keluarga, masyarakat, dan bernegara dan membantu mereka
untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan kata lain pendidikan karakter mengajarkan bangsa ini, pemuda
negeri ini, untuk berpikir cerdas sehingga mampu mengatasi berbagai
macam masalah baru yang ada, meningkatkan kemampuan untuk

18
berbaur dengan bangsa lain dengan tetap mempertahankan identitas
dan budaya bangsanya.
Pancasila mempunyai tujuan yang salah satunya yaitu sebagai
pandangan hidup bangsa. Bahwa nilai-nilai Pancasila harus selalu
dijadikan landasan pokok dalam berpikir dan berbuat, dan hal ini
mengharuskan bangsa Indonesia untuk merealisasikan nilai-nilai
Pancasila itu kedalam sikap dan perilaku baik dalam perilaku hidup
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Salah satunya dengan
menerapkan pendidikan berkarakter.
Dengan berlandaskan pancasila maka tingkah laku kita akan
terlindungi dari hal-hal yang tidak sesuai dengan pancasila,
dikarenakan saat ini sudah berkembang tentang kenakalan remaja
dalam masyarakat seperti perkelahian masal (tawuran). Undang-
Undang No 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan Nasional pada pasal 3,
yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa. Hal tersebut juga terdapat pada pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945 alinea 4.
Pendidikan karakter tidak saja merupakan tuntutan Undang-
Undang dan peraturan pemerintah, tetapi juga oleh agama. Hal itu
dicerminkan dari sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.
Pembangunan karakter bangsa mempunyai tujuan yang salah satunya
yaitu untuk mengembangkan karakter bangsa sehingga mampu
mewujudkan masyarakat yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa,
berkemanusiaan yang adil dan beradab, berjiwa persatuan Indonesia,
berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan, serta berkeadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia.
Sebagai bangsa Indonesia kita harus mempunyai karakter
yang sesuai dengan pancasila, jadi setiap aspek karakter yang

19
diberikan harus dijiwai oleh ke lima sila Pancasila secara utuh.
Pendidikan karakter pada dasarnya dapat diberikan dalam setiap
pembelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan pancasila
perlu dikembangkan antara lain materi tentang norma atau ilai-nilai
sehingga karakter seseorang yang sesuai dengan pancasila dapat
dibentuk dari proses pembelajaran.
Membangun karakter adalah suatu proses atau usaha yang
dilakukan untuk membina, memperbaiki dan atau membentuk tabiat,
watak, sifat kejiwaan, ahlak (budi pekerti), insan manusia (masyarakat)
sehingga menunjukkan tingkah laku yang baik berdasarkan nilai-nilai
Pancasila.

G. Pancasila dalam Konteks HAM


Hak-hak asasi manusia dalam Pancasila dirumuskan dalam
pembukaan UUD 1945 dan terperinci di dalam batang tubuh UUD 1945
yang merupakan hukum dasar konstitusional dan fundamental tentang
dasar filsafat negara Republik Indonesia serat pedoman hidup bangsa
Indonesia, terdapat pula ajaran pokok warga negara Indonesia. Yang
pertama ialah perumusan ayat ke 1 pembukaan UUD tentang hak
kemerdekaan yang dimiliki oleh segala bangsa didunia. Oleh sebab itu
penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan
perikemanusiaan dan perikeadilan.
Hubungan antara Hak asasi manusia dengan Pancasila dapat
dijabarkan Sebagai berikut :
1. Sila ketuhanan yang maha Esa menjamin hak kemerdekaan untuk
memeluk agama , melaksanakan ibadah dan menghormati perbedaan
agama.
2. Sila kemanusiaan yang adil dan beradab menempatkan hak setiap
warga negara pada kedudukan yang sama dalam hukum serta serta
memiliki kewajiban dan hak-hak yang sama untuk mendapat jaminan
dan perlindungan undang-undang.

20
3. Sila persatuan indonesia mengamanatkan adanya unsur pemersatu
diantara warga Negara dengan semangat rela berkorban dan
menempatkan kepentingan bangsa dan Negara diatas kepentingan
pribadi atau golongan, hal ini sesuai dengan prinsip HAM dimana
hendaknya sesama manusia bergaul satu sama lainnya dalam semangat
persaudaraan.
4. Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan / perwakilan dicerminkan dalam kehidupan
pemerintahan, bernegara, dan bermasyarakat yang demokratis.
Menghargai hak setiap warga negara untuk bermusyawarah mufakat
yang dilakukan tanpa adanya tekanan, paksaan, ataupun intervensi
yang membelenggu hak-hak partisipasi masyarakat.
5. Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia mengakui hak milik
perorangan dan dilindungi pemanfaatannya oleh negara serta memberi
kesempatan sebesar-besarnya pada masyarakat.

21
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian tersebut pancasila sebagai dasar negara mempunyai
sifat imperatif atau memaksa serta memiliki nilai – nilai luhur yang terkandung
dalam pancasila yang bersifat obyektif – subyektif. Pancasila sebagai Ideologi
bangsa dan negara Indonesia itu sangat penting. Karena Ideologi merupakan
alat yang paling ampuh untuk menciptakan negara Indonesia yang kokoh,
bermartabat dan berbudaya tinggi.
Tanpa Ideologi bangsa akan rapuh dan hilang jati dirinya. Pancasila
sebagai sumber nilai menunjukkan identitas bangsa Indonesia yang
memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, hal ini menandakan
bahwa dengan Pancasila bangsa Indonesia menolak segala bentuk
penindasan, penjajahan darisatu bangsa terhadap bangsa yang lain.
Indonesia mempunyai Ideologi Pancasila diharapkan mampu untuk
membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik dari
sekarang. Ideologi juga diharapkan mampu untuk membangkitkan kesadaran
bangsa. Setiap pengambilan keputusan harus berdasarkan ideologi negara
Indonesia yaitu Pancasila. Supaya dalam pengambilan keputusan keputusan
tidak keluar dari aturan dan kaidah negara Indonesia.
Tidak hanya negara yang menganut ideologi Pancasila, tetapi juga
masyarakat Indonesia, masyarakat Indonesia dalam bertingkah laku juga harus
berpedoman teguh pada ideologi Pancasila supaya cita-cita yang diharapkan
oleh masyarakat tersebut dapat terwujud dengan benar
B. SARAN
Makalah yang kami susun semoga bisa membantu kita lebih memahami
tentang pancasila sebagai ideologi negara yang lebih mendalam. Mohon
permakluman dari semuanya jika dalam makalah kami ini masih terdapat
banyak kekeliruan baik bahasa maupun pemahaman. Karena tiadalah sesuatu
yang sempurna yang bisa manusia ciptakan.

22
DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat. 1980. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: PT.


Gramedia.
Nopirin. 1980. Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila, Cet. 9. Jakarta:
Pancoran Tujuh.
Notonagoro. 1980. Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila, Cet. 9. Jakarta:
Pantjoran Tujuh.
Salam, H. Burhanuddin, 1998. Filsafat Pancasilai sme. Jakarta: Rineka Cipta

23