Anda di halaman 1dari 23

Visi Program Studi Ners :

Menghasilkan ners yang unggul dalam menerapkan ilmu dan teknologi keperawatan lanjut
usia

MAKALAH PENDIDIKAN KARAKTER

NILAI MORAL

Dosen Mata Kuliah: Endang Banon M.Kep., Ns. Sp. Kep.J.

DISUSUN OLEH:

Deby Fitriayuningsih P3.73.20.2.17.010


Desy Nurohma Aviyanti P3.73.20.2.17.011
Else Zulfia Martiyaningsih P3.73.20.2.17.012
Fahira Ishlah Amini P3.73.20.2.17.013
Fathiyyah Aulia Qawam P3.73.20.2.17.014
Febrilla Elena Crismonika P3.73.20.2.17.015
Fitra Rahmadilla Haryadi P3.73.20.2.17.016
Gita Savitri Hayuningtyas P3.73.20.2.17.017

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES JAKARTA III
2018
i
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang telah memberikan rahmat dan karunianya kepada kami, sehingga dapat menyelesaikan
makalah Pendidkan Krakter tentang Nilai Moral sebagai salah satu tugas wajib dan bukti
bahwa kami selaku penulis telah melaksanakan dan menyelesaikan makalah ini.

Adapun maksud dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai salah satu cara guna
memperdalam materi Pendidikan Karakter Dalam Keperawatan yang merupakan salah satu
mata kuliah yang diajarkan di Poltekkes Kemenkes Jakarta III.

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini tidak terlepas bimbingan, dorongan, serta
bantuan yang tak terhingga nilainya dari berbagai pihak. Untuk itu tim penulis
menyampaikan terimakasih setulusnya kepada:

1. Ibu Endang Banon, M.Kep., Ns. Sp. Kep.J. selaku dosen pembimbing kami pada mata
kuliah Keperawatan Dasar 1 di Poltekkes Kemenkes Jakarta III.

2. Dan kepada orang tua yang telah memberikan do'a, arah, dukungan, dan dorongan
dari segi material maupun moral.

Penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Harapan penulis
semoga makalah yang sederhana ini mampu memberikan informasi kepada pembaca tentang
pemeriksaan penunjang terlebih bagi kita sebagai perawat.

Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua, dan atas perhatian pembaca saya
ucapkan terimakasih.

Bekasi, 22 Maret 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

COVER .....................................................................................................................................ii
KATA PENGANTAR ..............................................................................................................ii
DAFTAR ISI........................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................................... 1
1.3 Tujuan ............................................................................................................................. 1
1.4 Manfaat ........................................................................................................................... 1
1.5 Sistematika Penulisan .................................................................................................... 2
BAB II ISI ................................................................................................................................. 3
2.1 Nilai Moral ...................................................................................................................... 3
2.1 1 Wawasan Moral atau Pengetahuan tentang Moral (Moral Knowing) ............... 3
2.1 2 Perasaan Moral ........................................................................................................ 4
2.1 3 Perilaku Moral ......................................................................................................... 4
2.1 4 Isu Moral ................................................................................................................ 10
BAB III PENUTUP ................................................................................................................ 19
3.1 Simpulan ....................................................................................................................... 19
3.2 Saran.............................................................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 20

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam masa kini remaja sudah banyak kehilangan nilai norma, etika, dan
moral. Sebenarnya norma sosial itu tumbuh dari proses kemasyarakatan dan hasil dari
kehidupan bermasyarakat. Individu dilahirkan dalam suatu masyarakat dan mengalami
sosialisasi untuk menerima aturan-aturan masyarakat yang sudah ada. Dalam hal ini norma,
etika, dan moral sangat berperan penting dalam menjalankan hubungan yang ada dalam
masyarakat. Karena dengan ketiga hal tersebut kita bisa hidup damai sesama manusia
berdasarkan norma yang ada, etika kita, dan moral yang kita miiki. Tapi dalam akhir-akhir ini
ketiga hal tersebut sudah mulai menghilang karena itu kami disini membuat makalah tentang
Norma, Etika, dan Moral.

1.2 Rumusan Masalah


- Apakah yang dimaksud dengan wawasan moral?

- Apa yang dimaksud perasaan moral?

- Apa saja yang ada didalam Issus moral?

1.3 Tujuan
- Untuk mengetahui definisi wawasan moral

- Untuk mengetahui perasaan moral

- Untuk mengetahui issus moral.

- Untuk mengetahui neglag yang berada dalam issus moral

- Untuk mengetahui Abuse pada lansia

1.4 Manfaat
- Menambah wawasan bagi mahasiswa tentang nilai moral

- Untuk Membuat mahasiswa lebih kritis dalam berfikir melalui suatu kasus.

1
1.5 Sistematika Penulisan
Makalah disusun dengan urutan sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan, menjelaskan latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat,


dan sistematika penulisan.

BAB II Pembahasan, menjelaskan tentang nilai moral.

BAB III Penutup, menjelaskan simpulan dan saran.

2
BAB II
ISI

2.1 Nilai Moral


Dalam pendidikan karakter, Lickona (1992) menekankan pentingnya tiga komponen
karakter yang baik (Components of good character) yaitu Pengetahuan tentang Moral
(Moral Knowing) , Perasaan tentang Moral (Moral Feeling) dan Perilaku tentang Moral
(Moral Action).

2.1 1 Wawasan Moral atau Pengetahuan tentang Moral (Moral Knowing)

Pengetahuan tentang Moral adalah hal yang penting untuk diajarkan, terdiri
dari enam hal, yaitu

2.1 1 1 Kesadaran Moral (Moral Awareness)


Kesadaran moral erupakan factor penting untuk memungkinkan
tindakan manusia selalu bermoral, berperilaku susila dan sesuai dengan norma
yang berlaku.
2.1 1 2 Mengetahui Nilai-nilai Moral (Knowing Moral Value)

Penting bagi kita mengetahu nilai-nilai moral karena itu adalah dasar
tatanan sosial agar kita dalam bersosialisasi di kehidupan masyarakat agar
mengetahui mana yang benar dan salah dan yang boleh dilakukan atau tidak
boleh dilakukan. Kita tidak bisa hidup sendiri, kita pasti membutuhkan
seseorang untuk bersama dengan kita disebuah lingkungan oleh karena itu
nilai-nilai moral harus kita ketahui agar orang lain dapat menerima diri kita.

2.1 1 3 Mengambil Perspektif (Perspektive Taking)


Mengambil perspektif adalah mengambil sudut pandang kita terhadap
orang lain, bagaimana mereka berprilaku dan bagaimana karakternya. Kita
tidak boleh mengambil sudut pandang seseorang dengan asal tetapi kita harus
melihat dalam kediupan mereka sehari-harinya.
2.1 1 4 Pertimbangan Moral (Moral Reasoning)
Pertimbangan moral bisa juga disebut dengan penalaran moral atau
nilai. Dalam kehidupan orang pasti mempunyai beberapa penilaian dalam
kehidupannya, dan ini membuat orang meningkatkan kemampuan

3
mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan menggunakan
pertimbangan moral atau sesuai dengan penalaran moral yang ia ketahui.
2.1 1 5 Pengambilan Keputusan (Decision Making)
Dalam pengambilan keputusan kita tidak boleh mementingkan keputusan
kita sendiri, kita harus melihat keputusan orang lain dan tanggapan orang lain
tentang keputusan kita. Dan setelah keputusan kita buat kita harus
bertanggung jawab pada apapun keputusan kita dan berpastisipasi dalam
mewujudkannya.
2.1 1 6 Pengetahuan Diri Sendiri (Self Knowledge)
Pengetahuan diri sendiri adalah bagaimana kita mempelajari diri kita
sendiri, dan bagaimana kita menilai apakah diri kita benar atau salah dalam
melakukan tindakan. Nilai moral adalah tolak ukur bagi diri kita untuk
menjadi orang yeng lebih baik.

2.1 2 Perasaan Moral


1. Hati Nurani: memiliki dua sisi, yaitu sisi kognitif adalah pengetahuan tentang apa
yang benar, sisi emosi adalah perasaan wajib bertindak tantang kebenaran.
2. Harga Diri: Jika kita mengukur harga diri kita sendiri berarti kita menilai diri
sendiri. Jika kita menilai diri sendiri, berarti kita merasa hormat terhadap diri
sendiri. Dengan demikian, kita akan mengurangi penyalahgunaan pikiran dan
badan kita sendiri. Harga diri atas nilai-nilai, seperti tanggung jawab, kejujuran,
dan kebaikan atas dasar keyakinan dan kemampuan mereka sendiri.
3. Empati: kemampuan untuk mengidentifikasi dengan atau seolah-olah mengalami
sendiri apa yang dialami orang lain, dan dilakukan untuk orang lain.
4. Menyukai Kebaikan: Bentuk tertinggi dari karakter, termasuk menjadi tertarik
dengan kebaikan yang sejati.
5. Kontrol Diri: kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri, dan hal ini
diperlukan juga untuk mengekang kesenangan diri sendiri.
6. Kerendahan Hati: bagian dari aspek afektif dari pengetahuan terhadap diri sendiri
yang merupakan bagian terpenting dari karakter yang baik.

2.1 3 Perilaku Moral


2.1 3 1 Pengertian Perilaku Moral

4
Moral berasal dari kata mores (bahasa latin) yang berarti tata cara
dalam kehidupan, adat istidat atau kebiasaan (Gunarsa, 2003). Tidak hanya itu,
moral menurut Shaffer (dalam Ali, 2006) memiliki beberapa istilah yang lain
diantaranya moral diartikan juga sebagai rangkaian nilai tentang berbagai
macam perilaku yang harus dipatuhi. Selain itu, moral menurut Rogers (dalam
Ali, 2006) diartikan sebagai standar baik dan buruk yang ditentukan bagi
individu oleh nilai-nilai sosial budaya dimana individu sebagai anggota sosial.
Sedangkan perkembangan moral seseorang terus mengalami perubahan sesuai
dengan usia atau masa kehidupan orang tersebut. Perkembangan moral pada
anak-anak dan remaja mengiringi kematangan kognisi, anak muda mencapai
kemajuan dalam penilaian moral ketika mereka menekan egosentrisme dan
menjadi cakap dalam pemikiran abstrak (Papalia,Old dan Feldmen, 2008).
Selain itu, Magdalena (2014) menjelaskan bahwa perilaku moral seseorang
adalah hasil dari pengetahuan dan perasaan individual tentang moral. Dari
beberapa pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku moral
adalah perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai moral yang berlaku dalam
kelompok sosial yang timbul dari hati dengan rasa tanggung jawab atas
tindakan tersebut.
2.1 3 2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Moral
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku moral pada remaja yaitu
sebagai berikut :
1. Modeling
Menurut Santrock (2003) Ketika remaja dihadapkan pada model yang
bertingkah laku “secara moral”, para remaja pun cenderung meniru tingkah
laku model tersebut. Ketika remaja dihukum karena tingkah laku yang tidak
bermoral atau tidak dapat diterima, tingkah laku ini bisa dihilangkan, namun
memberikan sanksi berupa hukuman dapat mengakibatkan efek samping
emosional pada remaja. Selain itu, efektivitas meniru model tergantung pada
karakteristik model itu sendiri (misalnya kekuasaan, kehangatan, keunikan dan
lain-lain) dan kehadiran proses kognitif, seperti kode simbolik dan
perumpamaan untuk meningkatkan ingatan mengenai tingkah laku moral
2. Situasional
Sebagai tambahan, menurut Santrock (2003) peranan faktor lingkungan
dan kesenjangan antara pemikiran moral dan tindakan moral, para ahli teori

5
pembelajaran sosial juga menekankan bahwa tingkah laku tergantung pada
situasinya. Mereka mengatakan bahwa remaja cenderung tidak menunjukkan
tingkah laku yang konsisten dalam situasi sosial yang berbeda-beda. Menurut
Penelitian yang dilakukan oleh Reed dkk (2009) menyatakan bahwa faktor
situasi mempengaruhi perilaku moral seseorang.
3. Lingkungan
Menurut Gunarsa (2003) kepribadian seorang individu tidak dapat
berkembang, demikian pula halnya dengan moral dimana nilai-nilai moral
yang dimiliki seorang remaja merupakan sesuatu yang diperoleh dari luar
dirinya. Anak belajar dan diajar oleh lingkungannya mengenai bagaimana ia
harus bertingkah laku yang baik dan tingkah laku yang tidak baik atau salah.
Lingkungan ini dapat berarti orang tua, saudara, teman-teman, guru dan
sebagainya.
4. Diri
Self adalah pengorganisasian mengenai informasi keterhubungan diri
dimana terdapat banyak elemen yang tergabung di dalamnya dan membentuk
beberapa konsistensi psikologis (Cernove & Trioathi, 2009). Self yang
memiliki inti atau pokok yang menjadi sentral diri disebut sebagai esensi dari
inti self yang disebut sebagai identitas (identity). Dengan perkembangan moral
cara berperan pun bertambah luas. Sementara bertambah banyaknya peran
yang dipegang, semakin banyak pengalaman yang merangsang perkembangan
moral. Salah satu syarat untuk menjalankan suatu peran adalah kesempatan
berpartisipasi dengan suatu kelompok. Partisipasi pergaulan dengan kelompok
dimana remaja menurut Panut dan Umami (1995) harus menjalankan peran
sosialnya adalah :
a. Kelompok keluarga, anak sebagai anggota keluarga harus menjalankan
peran sosial sebagai anak terhadap orangtua dan sesama saudara.
Kelompok keluarga dapat mempengaruhi perkembangan moral dengan
cara mengikutsertakan anak dalam beberapa pembicaraan dan dalam
pengambilan keputusan keluarga.
b. Kelompok teman sebaya, dalam kelompok ini ia harus menjalankan peran
sosial sebagai salah satu anggota kelompok. Kelompok teman sebaya
mempengaruhi perkembangan moral jika remaja ikut serta secara aktif
dalam tanggung jawab dan penentuan maupun keputusan kelompok.

6
c. Kelompok yang bertalian dengan status sosial-ekonomis.
Beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan mengenai faktor yang
mempengaruhi perilakumoral adalah modeling, situasional, lingkungan,dan
diri .
2.1 3 3 Proses Pembentukkan Perilaku Moral
Menurut Kurtines dan Gerwitz (1992) terdapat empat komponenyang
menyusun perilaku moral, yaitu :
a. Menginterpretasi situasi dan mengidentifikasi permasalahan moral
b. Memperkirakan apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang
c. Memillih diantara nilai-nilai moral untuk memutuskan apa yang secara
aktual akan dilakukan
d. Melaksanakan tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai moral
Sedangkan menurut Gunarsa (2003) proses pembentukan
perilaku moral adalah :
a. Melalui pengajaran langsung atau melalui instruksi-instruksi
Pembentukan perilaku moral disini melalui penanaman pengertian tentang apa
yang betul dan apa yang salah oleh orang tua atau beberapa orang yang ada di
sekitarnya.
b. Melalui identifikasi
Seseorang mengidentifikasikan dirinya dengan orang atau model, maka orang
tersebut cenderung untuk mencontoh pola-pola perilaku moral dari model
tersebut.
c. Melalui proses coba dan salah
Seorang anak ataupun remaja belajar mengembangkan perilaku moralnya
dengan mencoba-coba suatu perilaku. Anak atau remaja melihat apakah
dengan ia berperilaku tertentu, lingkungan akan menerimanya atau
menolaknya.
2.1 3 4 Aspek–Aspek Perilaku Moral
Menurut Daradjat (1976) untuk menentukan moral seseorang, tentu
ada patokan dan ketentuan minimal. Misal, suatu perbuatan, tindakan atau
perkataan tertentu padasuatu masyarakat merupakan gejala dari kemerosotan
moral tapi di kalangan lain, mungkin sebagai penghargaan dan justru
merupakan nilai kebaikan. Menurut Daradjat (1976) untuk mengukur perilaku
moral yang ada di Indonesia maka aspek yang diambil adalah landasan hidup

7
dari setiap warga negara indonesia adalah pancasila dimana aspek-aspek
perilaku moral menurut Daradjat (1976) adalah sebagai berikut :
a. Berkata jujur, yaitu perkataan yang sesuai dengan kejadian aslinya
b. Berbuat benar, yaitu perbuatan yang tidak menentang peraturan yang
berlaku
c. Berlaku adil, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya.
d. Berani, yaitu kesiapan fisik dan mental untuk menghadapi suatu peristiwa.
2.1 3 5 Perilaku Moral Dalam Keperawatan
Etika keperawatan mempunyai berbagai dasar penting seperti
advokasi, akuntabilitas, loyalitas, kepedulian, rasa haru, dan menghormati
martabat manusia. Di antara pernyataan ini yang lazaim termaktub dalam
standar praktik keperawatan dan telah menjadi bahan kajian dalam waktu lama
adalah advokasi, akuntabilitas, dan loyalitas (Fry, 1991; lih. Creasia, 1991).
a) Advokasi
Pada dasarnya peran perawat sebagai advokat pasien adalah memberi
informasi dan memberi bantuan kepada pasien atas keputusan apa pun yang
dibuat pasien. Memberi informasi berarti menyediakan penjelasan atau
informasi sesuai dengan kebutuhan pasien. Memberi bantuan mengandung dua
peran, yaitu peran aksi dan peran nonaksi. Dalam menjalankan peran aksi,
perawat memberikan keyakinan kepada pasien bahwa mereka mempunyai hak
dan tanggung jawab dalam menentukan pilihan atau keputusan sendiri dan
tidak tertekan dengan pengaruh orang lain. Sedangkan peran nonaksi
mengandung arti pihak advokat seharusnya menahan diri untuk tidak
mempengaruhi keputusan pasien (kohnke, 1989; lih. Megan, 1991).
Creasia dan Parker (2000) menjelaskan bahwa konsep advokasi memiliki
tiga pengertian, yaitu:
a. Model perlindungan terhadap hak
Model ini menekankan pada perawat untuk melindungi hak klien agar
tidak ada tindakan tenaga kesehatan yang akan merugikan pasien selama
dirawat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menginformasikan kepada
pasien tentang semua hak yang dimilikinya, memastikan pasien
memahami hak yang dimilikinya, melaporkan pelanggaran terhadap hak
pasien dan mencegah pelanggaran hak pasien.
b. Model pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai yang dianut pasien

8
Model ini menekankan pada perawat untuk menyerahkan segala
keputusan tentang perawatan yang akan dijalankan oleh pasien kepada
pasien itu sendiri, sesuai dengan nilai-nilai yang dianut pasien. Perawat
tidak diperbolehkan memaksakan nilai-nilai pribadinya untuk membuat
keputusan pada pasien, melainkan hanya membantu pasien mengeksplorasi
keuntungan dan kerugian dari semua alternatif pilihan atau keputusan.
c. Model penghargaan terhadap orang lain
Model ini menekankan pada perawat untuk menghargai pasien sebagai
manusia yang unik. Perawat harus menyadari bahwa sebagai manusia yang
unik, pasien memiliki kebutuhan yang berbeda-beda satu sama lain.
Perawat harus mempunyai semua yang terbaik bagi pasien sesuai dengan
kebutuhannya saat itu.Beberapa sikap yang harus dimiliki perawat,
adalah:
 Bersikap asertif
Bersikap asertif berarti mampu memandang masalah pasien dari
sudut pandang yang positif. Asertif meliputi komunikasi yang jelas
dan langsung berhadapan dengan pasien.
 Mengakui bahwa hak-hak dan kepentingan pasien dan keluarga
lebih utama walaupun ada konflik dengan tenaga kesehatan yang
lain.
 Sadar bahwa konflik dapat terjadi sehingga membutuhkan
konsultasi, konfrontasi atau negosiasi antara perawat dan bagian
administrasi atau antara perawat dan dokter.
 Dapat bekerjasama dengan tenaga kesehatan lain,Perawat tidak
dapat bekerja sendiri dalam memberikan perawatan yang
berkualitas bagi pasien. Perawat harus mampu berkolaborasi
dengan tenaga kesehatan lain yang ikut serta dalam perawatan
pasien.
 Tahu bahwa peran advokat membutuhkan tindakan yang politis,
seperti melaporkan kebutuhan perawatan kesehatan pasien kepada
pemerintah atau pejabat terkait yang memiliki wewenang/otoritas.

9
b) Loyalitas
Merupakan suatu konsep yang berbagai segi, meliputi simpati, peduli,
dan hubungan timbal balik terhadap pihak yang secara professional
berhubungan dengan perawat. Ini berarti ada pertimbangan tentang nilai dan
tujuan orang lain sebagai nilai dan tujuan sendiri. Hubungan professional
dipertahankan dengan cara menyusun tujuan bersama, menepati janji,
menentukan masalah dan prioritas, serta mengupayakan pencapaian kepuasan
bersama (Jameton, 1984; Fry, lih.Creasia, 1991). Loyalitas merupakan elemen
pembentuk kombinasi manusia yang mempertahankan dan memperkuat
anggota masyarakat keperawatan dalam mencapai tujuan. Loyalitas dapat
mengancam asuhan keperawatan bila terjadi konflik antara anggota profesi
atau teman sejawat, loyalitas lebih penting daripada kualitas asuhan
keperawatan.
c) Akuntabilitas
Mengandung arti dapat mempertanggungjawabkan suatu tindakan yang
dilakukan dan dapat menerima konsekuensi dari tindakan tersebut (Kozier,
1991).
Fry (1990) menyatakan bahwa akuntabilitas mengandung dua komponen
utama, yakni tanggung jawab dan tanggung gugat. Ini berarti bahwa tindakan
yang dilakukan perawat dilihat dari praktik keperawatan, kode etik dan
undang-undang dapat dibenarkan atau absah.Untuk mencapai kualitas asuhan
keperawatan yang tinggi dan hubungan dengan berbagai pihak yang harmonis,
maka aspek loyalitas harus dipertahankan oleh setiap perawat baik.

2.1 4 Isu Moral


2.1 4 1 Definisi Neglect
Pengabaiaan (neglect) didefinisikan sebagai jenis penganiayaan yang
mengacupada kegagalan oleh pengasuh untuk memberikan yang diperlukan,
perawatanyang sesuai dengan usia meski secara finansial mampu melakukannya
atauditawarkan berarti keuangan atau lainnya untuk melakukannya (USDHHS,
2007).

10
Neglect adalah kelalaian individu dalam melakukan sesuatu yang sebenarnya
dapat dia lakukan atau melakukan sesuatu yang dihindari orang lain
(Creighton,1986).
Menurut Hanafiah dan Amir (1999) mengatakan bahwa kelalaian (neglected)
adalah sikap yang kurang hati-hati, yaitu tidak melakukan apa yang seseorang
dengan sikap hati-hati melakukannya dengan wajar,atau sebaliknya melakukan
apa yang seseorang dengan sikap hati-hati tidak akan melakukannya dalam
situasi tersebut.
Guwandi (1994) mengatakan bahwa kelalaian (neglected) adalah kegagalan
untuk bersikap hati-hati yang umumnya seorang yang wajar dan hati-hati akan
melakukan di dalam keadaan tersebut,ia merupakan suatu tindakan yang seorang
dengan hati-hati yang wajar tidak akan melakukan di dalam keadaan yang sama
atau kegagalan untuk melakukan apa yang seorang lain dengan hati-hati yang
wajar justru akan melakukan di dalam keadaan yang sama.
Dapat disimpulkan bahwa kelalaian adalah melakukan sesuatu yang harusnya
dilakukan pada tingkatan keilmuannya tetapi tidak dilakukan atau melakukan
tindakan dibawah standar yang telah ditentukan. Kelalaian praktek keperawatan
adalah seorang perawat tidak mempergunakan tingkat ketrampilan dan ilmu
pengetahuan keperawatan yang lazim dipergunakan dalam merawat pasien atau
orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama.
2. 1 4 1 1 Jenis-Jenis Neglect
Para ahli mendefinisikan empat jenis pengabaian yakni:
1. Physical neglect (Pengabaian fisik)
Pengabaian fisik umumnya melibatkan orang tua atau pengasuh yang
tidak memberikan kebutuhan dasar pada anak (misalnya, makanan
pakaian, memadaidan tempat tinggal). Kegagalan atau penolakan untuk
menyediakan kebutuhanmembahayakan kesehatan fisik anak,
kesejahteraan, pertumbuhan psikologis dan perkembangan.
Pengabaian fisik juga termasuk meninggalkan anak, pengawasan tidak
memadai, penolakan terhadap anak yang mengarah ke pengusiran
darirumah dan kegagalan untuk secara memadai menyediakan untuk
keselamatan anak dan kebutuhan fisik dan emosional. Pengabaian fisik
yang parah dapat berdampak pada perkembangan anak dengan
menyebabkan gagal tumbuh, gizi buruk, penyakit serius, kerusakan fisik

11
berupa luka, memar, luka bakar atau cedera lainnya karena kurangnya
pengawasan, dan seumur hidup harga diri yangrendah.
2. Educational neglect (Pengabaian pendidikan)
Pengabaian pendidikan melibatkan kegagalan dari orang tua atau pengasuh
untuk mendaftarkan anak usia sekolah wajib di sekolah atau menyediakan
homeschooling yang sesuai atau diperlukan pelatihan pendidikan khusus,
sehingga memungkinkan anak atau pemuda untuk tidak terlibat dalam
kebiasaan membolos. Pengabaian pendidikan dapat menyebabkan anak
gagal untuk memperoleh keterampilan hidup dasar, putus sekolah atau
terus menampilkan perilaku yang mengganggu. Pengabaian pendidikan
bisa menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan anak, kesejahteraan
emosional, fisik atau pertumbuhan psikologis normal dan perkembangan,
terutama ketika anak memiliki kebutuhan pendidikan khusus yang tidak
terpenuhi.
3. Psychological neglect Emotional (Pengabaian psikologi emosional)
Pengabaian psikologi dan emosional meliputi tindakan seperti terlibat
dalampertengkaran orang tua yang ekstrim di hadapan anak,
memungkinkan seoranganak untuk menggunakan obat-obatan atau
alkohol, menolak atau gagal untuk menyediakan membutuhkan perawatan
psikologis serta terus-menerus meremehkan kasih sayang. Perilaku orang
tua yang dianggap menganiaya anak secara emosional meliputi:
 Mengabaikan (kegagalan konsisten untuk merespon kebutuhan
anak untuk stimulasi, merawat, dorongan dan perlindungan atau
kegagalan untuk mengakui keberadaan anak).
 Menolak (aktif menolak untuk menanggapi kebutuhan anak -
misalnya, menolak untuk menunjukkan kasih sayang).
 Menghina secara verbal (meremehkan, nama panggilan atau
mengancam).
 Mengisolasi (mencegah anak dari memiliki kontak sosial yang
normal dengan anak-anak lain dan orang dewasa)
 Meneror (mengancam anak dengan hukuman ekstrim atau
menciptakan iklim teror dengan memainkan pada ketakutan masa
kanak-kanak); dan kerusakan atau pemanfaatan (mendorong anak

12
untuk terlibat dalamperilaku merusak, ilegal atau antisosial).
Sebuah pola perilaku orangtua dapat menyebabkan citra diri yang
rendah pada anak, penyalahgunaan narkoba atau alkohol, perilaku
merusak dan bahkan bunuhdiri. Yang lebih parah yakni
mengabaikan stimulasi dan perawatan kebutuhanbayi dapat
menyebabkan bayi gagal untuk berkembang dan bahkan kematian
bayi.
2.1 4 1 2 Medical neglect (Pengabaian Medis)
Pengabaian medis adalah kegagalan untuk menyediakan perawatan
kesehatan yang tepat bagi seorang anak (walaupun secara finansial mampu
melakukannya), sehingga menempatkan anak beresiko cacat atau mati.
Menurut NCANDS, padatahun 2005, 2 % anak-anak (17.637 anak-anak) di
Amerika Serikat menjadi korban dari kelalaian medis (USDHHS, 2007).
Pengabaian tidak hanya ketikaorangtua menolak perawatan medis untuk anak
dalam keadaan darurat atau untuk penyakit akut, tetapi juga ketika orangtua
mengabaikan rekomendasi medis untuk anak dengan penyakit kronis yang
seharusnya bisa diobati, namun malah terjadi kecacatan pada anak.Bahkan
dalam situasi non-darurat, pengabaikan medis dapat mengakibatkan kesehatan
secara keseluruhan semakin memburuk. Orangtua mungkin menolak
perawatan medis untuk anak-anak mereka untuk alasan yang berbeda , seperti
agama atau keyakinan, ketakutan atau kecemasan tentang kondisi medis atau
perawatan dan masalah keuangan. Lembaga perlindungan anak umumnya
akan campur tangan bila:
 Perawatan medis sangat diperlukan dalam keadaan darurat
akut(misalnya, seorang anak perlu transfusi darah untuk mengobati
syok);
 Seorang anak dengan penyakit kronis yang mengancam nyawa
namuntidak menerima perawatan medis diperlukan (misalnya, anak
dengandiabetes tidak menerima obat-obatan); atau
 Seorang anak memiliki penyakit kronis yang dapat
menyebabkankecacatan atau kematian jika tidak ditangani (misalnya,
anak dengankatarak bawaan perlu dioperasi untuk mencegah
kebutaan).Dalam kasus ini, jasa lembaga perlindungan anak dapat

13
mencari perintahpengadilan untuk perawatan medis guna
menyelamatkan nyawa anak ataumencegah cedera yang mengancam
nyawa,atau kecacatan.

Meskipun penelantaran medis sangat berhubungan dengan kemiskinan,


ada beberapa hal yang menyebabkan ketidakmampuan seorang pengasuh
untuk memberikan perawatan yang diperlukan yakni : kurangnya sumber daya
keuangan, keengganan pengasuh untuk mengetahui perawatan itu sendiri
danpenolakan untuk menyediakan perawatan. Anak-anak dan keluarga mereka
mungkin membutuhkan pelayanan meskipun orang tua mungkin tidak sengaja
lalai. Ketika kemiskinan membatasi sumber daya orangtua untuk menyediakan
kebutuhan bagi anak, terdapat lembaga yang menawarkan bantuan guna
mencukupi kebutuhan anak tersebut.Sampurno (2005), menyampaikan bahwa
suatu perbuatan atau sikap tenaga kesehatan dianggap lalai, bila memenuhi
empat (4) unsur, yaitu:

1. Duty atau kewajiban tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan atau


untuk tidak melakukan tindakan tertentu terhadap pasien tertentu pada
situasi dan kondisi tertentu.
2. Dereliction of the duty atau penyimpanagan kewajiban
3. Damage atau kerugian, yaitu segala sesuatu yang dirasakan oleh pasien
sebagai kerugian akibat dari layanan kesehatan yang diberikan oleh
pemberi pelayanan.
4. Direct cause relationship atau hubungan sebab akibat yang nyata, dalam
hal ini harus terdapat hubungan sebab akibat antara penyimpangan
kewajiban dengan kerugian yang setidaknya menurunkan “Proximate
cause”
2.1 4 1 3 Beberapa Bentuk Neglect dalam Keperawatan
Pelayanan kesehatan saat ini menunjukkan kemajuan yang cepat, baik
dari segi pengetahuan maupun teknologi, termasuk bagaimana
penatalaksanaan medis dan tindakan keperawatan yang bervariasi. Sejalan
dengan kemajuan tersebut kejadian malpraktik dan juga adanya kelalaian juga
terus meningkat sebagai akibat kompleksitas dari bentuk pelayanan kesehatan
khususnya keperawatan yang diberikan dengan standar keperawatan. (Craven
& Hirnle, 2000).

14
Beberapa situasi yang berpotensial menimbulkan tindakan kelalaian
dalam keperawatan diantaranya yaitu :
1. Kesalahan pemberian obat
Bentuk kelalaian yang sering terjadi. Hal ini dikarenakan begitu
banyaknya jumlah obat yang beredar metode pemberian yang bervariasi.
Kelalaian yang sering terjadi, diantaranya kegagalan membaca label obat,
kesalahan menghitung dosis obat, obat diberikan kepada pasien yang tiak
teoat, kesalahan mempersiapkan konsentrasi, atau kesalahan rute
pemberian. Beberapa kesalahan tersebut akan menimbulkan akibat yang
fatal, bahkan menimbulkan kematian.
2. Mengabaikan Keluhan Pasien
Termasuk perawat dalam melalaikan dalan melakukan observasi dan
memberi tindakan secara tepat. Padahal dapat saja keluhan pasien menjadi
data yang dapat dipergunakan dalam menentukan masalah pasien dengan
tepat (Kozier, 1991)
3. Kesalahan Mengidentifikasi Masalah Klien
Kemunungkinan terjadi pada situasi RS yang cukup sibuk, sehingga
kondisi pasien tidak dapat secara rinci diperhatikan. (Kozier, 1991).
4. Kelalaian di ruang operasi
Sering ditemukan kasus adanya benda atau alat kesehatan yang tertinggal
di tubuh pasien saat operasi. Kelalaian ini juga kelalaian perawat, dimana
peran perawat di kamar operasi harusnya mampu mengoservasi jalannya
operasi, kerjasama yang baik dan terkontrol dapat menghindarkan
kelalaian ini.
5. Timbulnya Kasus Decubitus selama dalam perawatan
Kondisi ini muncul karena kelalaian perawat, kondisi ini sering muncul
karena asuhan keperawatan yang dijalankan oleh perawat tidak dijalankan
dengan baik dan juga pengetahuan perawat terdahap asuhan keperawatan
tidak optimal.
6. Kelalaian terhadap keamanan dan keselamatan Pasien
Contoh yang sering ditemukan adalah kejadian pasien jatuh yang
sesungguhnya dapat dicegah jika perawat memperhatikan keamanan
tempat tidur pasien. Beberapa rumah sakit memiliki aturan tertentu
mengenai penggunaan alat-alat untuk mencegah hal ini.

15
2.1 4 1 4 Dampak Neglect
Neglect (kelalaian) yang dilakukan oleh perawat akan memberikan
dampak yang luas, tidak saja kepada pasien dan keluarganya, juga kepada
pihak rumah sakit, individu perawat pelaku kelalaian dan terhadap profesi.
Selain gugatan pidana, juga dapat berupa gugatan perdata dalam bentuk ganti
rugi. (Sampurna, 2005).
Bila dilihat dari segi etika praktik keperawatan, bahwa kelalaian
merupakan bentuk dari pelanggaran dasar moral praktek keperawatan baik
bersifat pelanggaran autonomy, justice, nonmalefence, dan lainnya. (Kozier,
1991) dan penyelesainnya dengan menggunakan dilema etik. Sedangkan dari
segi hukum pelanggaran ini dapat ditujukan bagi pelaku baik secara individu
dan profesi dan juga institusi penyelenggara pelayanan praktik
keperawatan, dan bila ini terjadi kelalaian dapat digolongan perbuatan pidana
dan perdata (pasal 339, 360 dan 361 KUHP).

2.1 4 2 Kekerasan terhadap Lansia


Dalam kehidupan sosial, kita mengenal adanya kelompok rentan, yaitu semua
orang yang menghadapi hambatan atau keterbatasan dalam menikmati standar
kehidupan yang layak bagi kemanusiaan dan berlaku umum bagi suatu
masyarakat yang berperadaban. Salah satu contoh kelompok rentan tersebut
adalah orang-orang lanjut usia (lansia).
Ternyata, walau sudah memiliki keterbatasan, lansia juga rentan terhadap
kekerasan. Menurut statistik, lebih dari dua juta lansia mengalami kekerasan
setiap tahunnya.Kekerasan pada lansia adalah suatu kondisi ketika seorang lansia
mengalami kekerasan oleh orang lain; yang seringkali dalam banyak kasus,
berasal dari orang-orang yang mereka percayai. Karenanya, mencegah kekerasan
pada lansia dan meningkatkan kesadaran akan hal ini, menjadi suatu tugas yang
sulit.
Statistik dari Dinas Pelayanan di New Zealand menunjukkan bahwa
kebanyakan, orang-orang yang melakukan kekerasan terhadap lansia, merupakan
anggota keluarga atau orang yang berada pada posisi yang mereka percayai,
seperti: pasangan hidup, anak, menantu, saudara, cucu, ataupun perawat.
Kekerasan pada lansia bisa dikelompokkan menjadi beberapa tipe:
1. Kekerasan Fisik

16
Tipe kekerasan ini terjadi ketika lansia mengalami kekerasan fisik dalam
bentuk apapun juga, didorong atau terpapar oleh tindakan yang bisa
melukai mereka secara fisik.
2. Kekerasan Emosional
Ketika lansia diperlakukan secara memalukan. Contohnya bisa berupa:
diancam seperti halnya seorang anak kecil; tidak dianggap di dalam
keluarga dan pergaulan; dihiraukan/diabaikan, atau lain-lain, yang
kesemua itu bisa mengakibatkan luka secara emosional.
3. Kekerasan Seksual
Jika lansia terkena resiko untuk diperkosa; atau ketika ada tindakan
memalukan seperti pemaksaan untuk membuka baju, dll. Penggunaan
bahasa yang tidak layak dan sindiran berbau seks. Kesemua perilaku itu
bisa dikategorikan ke dalam tindakan kekerasan seksual.
4. Kekerasan Finansial
Hal ini bisa terjadi, ketika seseorang yang bertanggungjawab atas kondisi
keuangan seorang lansia, mencuri uangnya; mencegah lansia dari
mengambil uangnya, untuk memenuhi keperluan perawatan yang
dibutuhkan atau bahkan sekedar memenuhi kebutuhan dasarnya.
5. Kekerasan oleh Perawat Pribadi
Seorang perawat yang salah merawat atau mengancam lansia, merupakan
contoh tindakan kekerasan oleh perawat pribadi.

2.1 4 2 1 Gejala-Gejala

Kita bisa mengetahui ketika terjadi kekerasan pada lansia, dengan


memperhatikan beberapa kondisi berikut:
1. Ketegangan atau argumentasi yang kerap terjadi antara lansia dan perawat
2. Perubahan perilaku atau kepribadian pada lansia
3. Kehilangan berat badan,
4. Tanda-tanda malnutrisi (kekurangan nutrisi)
5. Dehidrasi
6. Kecemasan
7. Depresi
8. Putus harapan hidup, dan keinginan untuk bunuh diri
9. Tanda-tanda trauma fisik

17
10. Kondisi tempat tinggal yang tidak bersih
11. Kondisi fisik lansia yang kotor/tidak dimandikan
12. Pengabaian lansia di tempat umum.

Gejala yang lebih spesifik terhadap jenis kekerasan tertentu bisa kita lihat
sebagai berikut:

 Kekerasan fisik: tanda luka yang tidak jelas, seperti memar, bekas
parut; patah tulang, dislokasi, pembengkakan; pecah kaca mata; tanda
bekas dicekik; perawat yang tidak mengizinkan anda untuk
menengok/mengunjungi lansia. Kekerasan emosional: perilaku perawat
yang suka mengancam, sering menghilang; perilaku lansia yang
terlihat “kehilangan kesadaran” seperti berbicara sendiri, bergoyang-
goyang, menghisap-hisap sesuatu.
 Kekerasan seksual: luka pada payudara atau daerah genital; infeksi
genital; perdarahan pada vagina atau anus; menemukan pakaian yang
robek atau tidak berpakaian.
 Kekerasan finansial: penarikan uang secara signifikan dari rekening
lansia; perubahan mendadak pada kondisi keuangan; kehilangan uang
atau barang di rumah lansia; tagihan yang belum terbayarkan, kurang
perawatan medis, meskipun lansia tersebut memiliki cukup uang;
pembelian barang yang tidak perlu.

2.1 4 2 2 Pencegahan

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah kekerasan pada
lansia. Proses pencegahan/preventif pada tindak kekerasan terhadap lansia bisa
mencakup beberapa langkah praktis berikut:
1. Memperlakukan lansia dengan cinta dan rasa hormat
2. Menelpon dan mengunjungi mereka sesering mungkin
3. Memberikan lebih banyak perhatian, meskipun jika mereka memiliki
perawat pribadi sendiri
4. Jika mencurigai adanya kekerasan pada lansia, laporkan segera

18
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan
Pengetahuan tentang Moral adalah hal yang penting untuk diajarkan, terdiri dari enam
hal, yaitu Kesadaran Moral (Moral Awareness), Mengetahui Nilai-nilai Moral (Knowing
Moral Value), Mengambil Perspektif (Perspektive Taking), Pertimbangan Moral (Moral
Reasoning), Pengambilan Keputusan (Decision Making),dan Pengetahuan Diri Sendiri
(Self Knowledge).
Moral berasal dari kata mores (bahasa latin) yang berarti tata cara dalam kehidupan,
adat istidat atau kebiasaan (Gunarsa, 2003). Tidak hanya itu, moral menurut Shaffer
(dalam Ali, 2006) memiliki beberapa istilah yang lain diantaranya moral diartikan juga
sebagai rangkaian nilai tentang berbagai macam perilaku yang harus dipatuhi. Selain itu,
moral menurut Rogers (dalam Ali, 2006) diartikan sebagai standar baik dan buruk yang
ditentukan bagi individu oleh nilai-nilai sosial budaya dimana individu sebagai anggota
sosial. Sedangkan perkembangan moral seseorang terus mengalami perubahan sesuai
dengan usia atau masa kehidupan orang tersebut. Perkembangan moral pada anak-anak
dan remaja mengiringi kematangan kognisi, anak muda mencapai kemajuan dalam
penilaian moral ketika mereka menekan egosentrisme dan menjadi cakap dalam
pemikiran abstrak (Papalia,Old dan Feldmen, 2008).

3.2 Saran

Pembelajaran tentang moral dalam keperawatan ini harus lebih dipelajari dengan cara
dibentuk dan dibiasakan oleh mahasiswa/i sejak dini. Hal tersebut bertujuan agar dalam
praktik keperawatannya nanti perawat tidak hanya mampu dalam masalah hardskill akan
tetapi mampu juga dalam masalah softskill sehingga dapat menerapkan sikap-sikap yang
mencerminkan jati diri seorang perawat yang professional.

19
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/10090817/konsep_moral_dalam_praktik_keperawatan.
Tanggal akses: 17 Maret 018
http://mata-maya.com/pengetahuan-perasaan-dan-tindakan-merupakan-karakter/
Efendi, Ferry Uddan Makhfudi. 2009.
Keperawatan Komunitas Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
http://xa.yimg.com/kq/groups/22656131/552826850/name/Kekerasan+terhadap+Lansia.p
df
http://mata-maya.com/pengetahuan-perasaan-dan-tindakan-merupakan-karakter/ diakses
17 Maret 2018 pukul 07.24

20