Anda di halaman 1dari 11

AKUNTANSI KEPERILAKUAN

SAP 1

OLEH:

Nama NIM

I Gusti Agung Malyani Ratnantari 1315351171

Devy Kusuma Cendana 1315351182

Kadek Ria Citra Dewi 1315351183

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2016
PENGANTAR AKUNTANSI KEPERILAKUAN

1. AKUNTANSI KEPERILAKUAN – TINJAUAN UMUM


Akuntansi merupakan suatu sistem untuk menghasilkan informasi keuangan yang
digunakan oleh para pemakainya dalam proses pengambilan keputusan bisnis. Tujuan
informasi tersebut adalah memberikan petunjuk dalam memilih tindakan yang paling baik
untuk mengalokasikan sumber daya yang langka pada aktivitas bisnis dan ekonomi. Motivasi
dan perilaku dari pelaksana sistem informasi akuntansi menjadi aspek penting dari suatu
sistem informasi akuntansi. Pihak pemakai laporan keuangan dapat dibagi menjadi dua
kelompok yaitu pemakai internal (internal user) dan pemakai eksternal (external user).
Pemakaian oleh pihak internal dimaksudkan untuk melakukan serangkaian evaluasi kinerja.
Pihak eksternal juga memiliki suatu rangkaian perilaku yang dapat mempengaruhi
pengambilan keputusan organisasi. Pihak eksternal sama dengan pihak internal, tetapi mereka
labih berfokus pada jumlah investasi yang mereka lakukan dalam organisasi tersebut.
Binberg dan Shields (1989) mengklasifikasikan riset akuntansi keperilakuan dalam lima
aliran (school) , yaitu :
1. Pengendalian manajemen (management control)
2. Pemrosesan informasi akuntansi (accounting information processing)
3. Desain sistem informasi (information system design)
4. Riset audit (audit research)
5. Sosiologi organisasional (organizational sociology)
Informasi akuntansi dirancang untuk suatu dasar bagi pengambilan banyak keputusan
penting di dalam maupun diluar perusahaan. Sistem informasi dimanfaatkan untuk membantu
dalam proses perencanaan, pengkoordinasian dan pengendalian yang kompleks, serta
aktivitas yang saling berhubunga untuk memotivasi orang-orang pada semua tingkatan
didalam perusahaan Awal perkembangan riset akuntansi keperilakuan menekankan pada
aspek akuntansi manajemen khususnya penganggaran (budgeting), namun yang dominan
dalam hal ini terus berkembang dan bergeser searah akuntansi keuangan, sistem informasi
akuntansi, dan audit. Banyaknya volume riset atas akuntansi keprilakuan dan meningkatnya
sifat spesialisasi riset, serta tinjauan studi secara periodik, akan memberikan manfaat untuk
beberapa tujuan berikut ini :
1. Memberikan gambaran state of the art terhadap minat khusus dalam bidang baru
yang ingin diperkenalkan.
2. Membantu dalam mengidentifikasikan kesenjangan riset.
3. Untuk meninjau dengan membandingkan dan membedakan kegiatan riset melalui
sub bidang akuntansi, seperti audit, akuntansi manajemen, dan perpajakan, sehingga
para peneliti dapat mempelajarinya melalui sub bidang lain.
Akuntansi keprilakuan menggunakan metedologi ilmu pengetahuan perilaku untuk
melengkapi gambaran informasi dengan mengukur dan melaporkan faktor manusia yang
mempengaruhi keputusan bisnis dan hasil mereka. Secara lebih terperinci ruang lingkup
akuntansi keprilakuan meliputi:
1. Mempelajari pengaruh antara perilaku manusia terhadap konstruksi, bangunan dan
penggunaan system informasi akuntansi yang diterapkan dalam perusahaan dan
organisai, yang berarti bagaimana sikap dan gaya kepemimpinan manajemen
mempengaruhi sifat pengendalian akuntansi dan desain organisasi; apakah desain
system pengendalian akuntansi bias diterapkan secara universal atau tidak.
2. Mempelajari pengaruh system informasi akuntansi terhadap perilaku manusia, yang
berarti bagaimana system akuntansi mempengaruhi kinerja, motivasi, produktivitas,
pengambilan keputusan, keputusan kerja dan kerja sama.
3. Metode untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku manusi dan strategi untuk
mengubahnya, yang berarti bagaiman system akuntansi dapat dipergunakan untuk
mempengaruhi perilaku, dan bagaiman mengatasi resistensi itu. Di sini muncul
istilah freezing (membekukan) dan unfreezing (mencairkan). ContoHnya perubahan
sistem. Perubahan sistem bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi perlu upaya untuk
sampai pada aplikasi sistem itu sendiri karena bisa jadi ada resistensi di situ.
Manfaat utama dari bidang baru ini adalah menyediakan informasi bisnis yang
memungkinkan para CEO,CFO,dan perencana strategis lainnya untuk mengukur dan
mempengaruhi variabel-variabel yang secara konvensional tidak dapat diukur tetapi sangat
menentukan bisnis mereka.

Akuntansi Konvensional
Merupakan akuntansi sebagai suatu disiplin jasa yang mampu memberikan informasi
yang relevan dan tepat waktu mengenai masalah keuangan perusahaan dan untuk membantu
pemakai internal dan eksternal dalam proses pengambilan keputusan ekonomi. Informasi
keuangan melalui pelaporan keuangan sebagai hasil dari sistem informasi keuangan memiliki
tujuan yang beberapa diantaranya adalah :
1. Menyediakan informasi laporan keuangan yang dapat dipercaya dan bermafaat bagi
investor serta kreditor sebagai dasar pengambilan keputusan dan pemberian kredit.
2. Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan perusahaan dengan menunjukan
sumber-sumber ekonomi (kekayaan) perusahaan serta asal dari kekayaan tgersebut
3. Menyediakan informasi keuangan yang dapat menunjukkan kinerja perusahaan
dalam menghasilkan laba
4. Menyediakan informasi keuangan yang dapat menunjukkan kemampuan perusahaan
dalam melunasi utang-utangnya
5. Menyediakan informasi keuangan yang dapat menunjukkan sumber-sumber
pendanaan perusahaan
6. Menyediakan informasi keuangan yang dapat membantu para pemakai dalam
memperkirakan arus kas masuk ke dalam perusahaan.

Akuntansi sebagai Suatu Sistem Informasi


Sistem dapat diartikan sebagai suatu kesatuan yang kompleks dan dibentuk dari
berbagai komponen yang saling berkaitan. Karakteristik sistem secara keseluruhan harus
memiliki sasaran, input output, dan lingkungan untuk mencapai target geser yang telah
ditetapkan.

Akuntansi adalah Sistem


Sistem informasi yang baru dapat juga menimbulkan hubungan kerja yang baru
diantara karyawan yang ada, perubahan pekerjaan, bahkan mungkin perubahan struktur
organisasi. Dukungan manajemen puncak merupakan suatu faktor penting yang menent
penting yang menentukan efektukan efektivitas penerimaan sistem informasi dalam
organisasi. Jackson (1986) mengemukakan beberapa alasan mengapa keterlibatan manajemen
puncak dalam pengembangan sistem informasi merupakan hal yang penting, yaitu :
1. Pengembangan sistem merupakan bagian yang terintegrasi dengan perencanaan
perusahaan.
2. Manajemen puncak merupakan fokus utama dalam proyek pengembangan sistem.
3. Manajemen puncak menjamin penekanan tujuan perusahaan daripada aspek
teknisnya.
4. Pemilihan sistem yang akan dikembangkan didasarkan pada kemungkinan manfaat
yang akan diperoleh dan manajemen puncak mampu untuk menginterprestasikan hal
tersebut.
5. Keterlibatan manajemen puncak akan memberikan kegunaan dan pembuatan
keputusan yang lebih baik dalam pengembangan sistem.
Keterlibatan pemakai dalam pengembangan sistem informasi adalah bagian integral
dari kesuksesan suatu sistem informasi. Keterlibatan pemakai ini harusnya ada pada semua
tahap yang dinamakan siklus hidup pengembangan sistem. Tahapan tersebut adalah
perencanaan, analisis, perancangan, implementasi dan pascaimplementasi. Untuk mengukur
keterlibatan pemakai ini, Ives dan Olson (1984) mengemukakan enam tingkatan keterlibatan
pemakai dalam pengembangan sistem informasi, yaitu :
1. Tidak ada keterlibatan (no-involvement)
2. Keterlibatan simbolis (symbolic involvement)
3. Keterlibatan atas saran orang lain (involvement by advice)
4. Keterlibatan dengan pengendalian yang lemah (involvement by weak control)
5. Keterlibatan dengan melakukan (involvement by doing)
6. Keterlibatan dengan pengendalian yang kuat (involvement by strong control)
Keterlibatan Manajemen Puncak Dalam Pengembangan Sistem

Perencanaan Strategis Perencanaan Sistem Implementasi

a. Kandungan proses a. Pengendalian rencana


a. Integrasi Sistem
perencanaan strategis implementasi
b. Tingkat rincian b. Keterbatasan sumber
b. Kegunaan rencana
rencana proyek daya
c. Pencapaian tujuan
c. Keterpaduan dalam rencana c. Integrasi hardware
perencanaan
d. Pengkoordinasian tindakan
d. Perencanaan proyek
perencanaan

Akuntansi adalah Informasi


Akuntansi dapat dipandang sebagai suatu informasi. Perusahaan harus berupaya
untuk mengoptimalkan peran informasi ini untuk mencapai tujuannya. Informasi yang
diperlukan oleh manajemen harus memiliki karakteristik seperti akurat dan tepat waktu.
Tersedianya informasi secara cepat, relevan, dan lengkap lebih dikarenakan adanya
kebutuhan yang sangat dirasakan oleh masing-masing unit bisnis untuk mendapatkan posisi
keunggulan kompetitif. Agar proyek pengembangan sistem informasi tidak sia-sia, perlu
dipahami tahapan-tahapan dalam pengembangan sistem tersebut seperti yang diutarakan oleh
Bodnar dan Hopwood (1995), yaitu :
1. Perencanaan dan analisis sistem yang meliputi formulasi dan evaluasi solusi-solusi
masalah sistem dan penekanannya pada tujuan keseluruhan sistem
2. Perancangan sistem yaitu proses menspesifikan rincian solusi yang dipilih oleh
proses analisis sistem
3. Implementasi sistem yaitu proses menempatkan rancangan prosedur-prosedur dan
metode baru atau revisi ke dalam operasi
Sebagai sistem informasi, akuntansi juga sering disebut "bahasa bisnis" yang dapat
menyediakan atau memberikan informasi penting mengenai kegiatan ekonomi. Dikatakan
seperti itu sebab akuntansi dapat berperan sebagai media komunikasi yang
mengkomunikasikan berbagai fenomena, gejala, dan peristiwa ekonomi yang terjadi disuatu
organisasi bisnis kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan fenomena, gejala dan
peristiwa ekonomi tersebut.

2. PERKEMBANGAN SEJARAH AKUNTANSI KEPRILAKUAN


Riset Akuntansi Keprilakuan merupakan bidang baru yang secara luas berhubungan
dengan perilaku individu, kelompok, dan organisasi bisnis, terutama yang berhubungan
dengan proses informasi akuntansi dan audit.
Studi terhadap perilaku Akuntan atau perilaku non akuntan telah banyak dipengaruhi
oleh fungsi meliputi masalah yang berhubungan dengan :
1. Pembuatan keputusan dan pertimbangan oleh akuntan dan auditor.
2. Pengaruh dan fungsi akuntansi seperti partisipasi dalam penyusunan anggaran,
karakteristik sistem informasi, dan fungsi audit terhadap perlaku baik karyawan,
manajer, investor,maupun Wajib Pajak.
3. Pengaruh dari fungsi tersebut, seperti informasi akuntansi dan peggunaan
pertimbangan dalam pembuatan keputusan.
Pada bulan Juni 1951, Controllership Foundation of America mensponsori suatu riset
untuk menyelidiki dampak anggaran terhadap manusia. Sejumlah penjelasan dan kesimpulan
dari hasil riset mengenai perangkap keprilakuan pada anggaran dan pembuatan anggaran
dalam banyak pemikiran masih bersifat sementara, dan oleh karena itu masih perlu
disempurnakan. Riset lain yang dilakukan oleh Chris Argyris lebih berfokus pada hubungan
antara manusia dengan anggaran. Riset tersebut memperkenalkan permasalahan bidang serta
dimensi akuntansi keprilakuan bagi khalayak bisnis yang lebih luas. Selain itu hasil riset dari
Maslow, McGregor, dan Likert telah banyak mempertimbangkan studi mengenai aplikasi
ilmu pengetahuan keprilakuan dalam bisnis.
Paradigma riset perilaku yang dilakukan oleh Steadry (1960) dalam disertasinya di
Carnegie Mellon University telah menggali pengaruh anggaran motivasional (motivational
budget) dengan menggunakan suatu eksperimen analog. Selanjutnya disusul oleh karya
benston (1963) serta Chruchill dan Cooper (1965) yang memfokuskan pada akuntansi
manajerial dan pengaruh fungsi akuntansi pada perilaku. Riset-riset ini berlanjut pada tahun
1970-an dengan satu rangkaian studi oleh Mock (1969, 1973) Barefield (1972), Magee dan
Dickhout (1978), Benbasat dan Dexter (1979). Fokus dari studi-studi tersebut adalah pada
akuntansi manajerial, namun penekanannya mengalami pergeseran dari pengaruh fungsi
akuntansi ke perilaku terhadap pemrosesan informasi oleh pembuat keputusan.
Riset yang dilakukan oleh Ashton (1974) dan Libby (1975) memfokuskan pada kinerja
dari pembuat keputusan. Khususnya Auditor, dan ditujukan pada kemampuan auditor untuk
mengombinasikan bagian-bagian informasi ke dalam suatu pertimbangan menyeluruh yang
meliputi konsistensi, konsensus, wawasan diri auditor, dan penggunaan informasi tersebut.
Pentingnya bidang baru dari riset ini membuat banyak kemajuan pada aplikasi teori dan
teknik eksperimental terhadap studi perilaku dalam konteks akuntansi. Hal ini telah
meningkatlan relevansi dari pengakuan masalah-masalah perilakudalam bidang akuntansi
secara umum dan audit secara khusus, yaitu dalam mempelajari dan membuat pertimbangan
secara kritis untuk meningkatkan efektivitas fungsi audit.
Dyckman (1998) telah membuat gambaran perkembangan yang menunjukkan secara
kronologis beberapa kejadian utama yang menggambarkan pertumbuhan pengaruh perilaku
dalam bidang akuntansi setelah tahun 1960.
Pertumbuhan studi akuntansi keprilakuan mulai muncul dan berkembang, terutama
diprakarsai oleh akademisi profesi akuntansi. Hal ini dapat dilihat dari diterbitkannya jurnal-
jurnal akuntansi seperti journal of Accounting, Organization , and Society (AOS) dan
Research in Audit Program pada tahun 1976 oleh Peit Marwick.

3. LANDASAN TEORI DAN PENDEKATAN AKUNTANSI KEPRILAKUAN


Hudayati (2002) menjelaskan bahwa sebagai bagian dari ilmu keprilakuan (behavioral
science), teori-teori akuntansi keprilakuan dikembangkan dari riset empiris atas perilaku
manusia dalam organisasi.
a. Dari Pendekatan Normatif ke Deskriptif
Seiring dengan perkembangan teknologi produksi, permasalahan riset diperluas dengan
diangkatnya topik mengenai penyusunan anggaran, akuntansi pertanggungjawaban
(responsibility accounting), dan masalah harga transfer (transfer pricing). Meskipun
demikian, berbagai riset tersebut masih bersifat normatif, yaitu hanya mengangkat
permasalahan mengenai desain pengendalian manajemen dengan berbagai model seperti arus
kas yang didiskonto (discounted cash flow), atau pemograman linear (linear programming)
guna membantu manajer membuat keputusan ekonomi yang oprimal, tanpa melibatkan
fackor-faktor lain yang mempengaruhi efektivitas desain oengendalian manajemen, seperti
perilaku manusia serta kondisi lingkungan organisasi.
Sejak Tahun 1950-an, tepatnya sejak C Argyris menerbitkan risetnya pada tahun 1952,
desain riset akuntansi manajemen mengalami perkembangan yang signifikan dengan
dimulainya usaha untuk menghubungkan desain system pengendalian manajemen suatu
organisasi dengan perilaku manusia. Sejak saat itu, desain riset lebih bersifat deskriptif dan
diharapkan lebih bisa menggambarkan kondisi nyata yang dihadapi oleh para pelaku
organisasi.

b. Dari pendekatan Universal ke pendekatan Kontijensi


Riset akuntansi keprilakuan pada awalnya dirancang dengan pendekatan universal
(universalistic approach), seperti riset Argyris di tahun 1952, Hpwood (1972), dan Otley
(1978). Akan tetapi pendekatan ini memiliki banyak kelemahan, sehingga muncul pendekatan
lain yang selanjutnya mendapat perhatian besar dalam bidang riset, yaitu pendekatan
kontijensi (contingency approach).
Pendekatan universal menyatakan bahwa suatu sistem pengendalian bisa diterapkan
dalam karakteristik perusahaan dan kondisi lingkungan apa pun. Sedangkan Pendekatan
kontijensi secara umum menyatakan bahwa pembuatan dan penggunaan desain sistem
pengendalian manajemen bergantung pada karakteristik organisasi dan kondisi lingkungan
dimana sistem tersebut akan diterapkan.
Kompleksitas desain riset yang menggunakan pendekatan kontijensi bisa dibagi dalam
empat tingkatan. Pertama, desain riset yang menguhubungkan satu variabel kontijensi dengan
satu variabel sistem pengendalian. Kedua, Desain riset yang menguji interaksi antara satu
variabel kontijensi dan satu variabel sistem pengendalian terhadap variabel dependen tertentu
(variable konsekuensi), seperti kinerja atau kepuasan kerja. Ketiga, desain riset yang menguji
interaksi antara satu variabel kontijensi dengan lebih dari satu variabel sistem pengendalian
manajemen terhadap variabel konsekuensi. Keempat, desai riset yang memasukkan berbagai
variabel kontijensi untuk menentukan desain pengendalian yang optimal.

4. ASPEK-ASPEK PENTING DALAM AKUNTANSI KEPRILAKUAN


Menurut Schiff dan Lewin (1974) ada lima aspek dalam akuntansi keprilakuan, yaitu:
a. Teori Perusahaan dan Keprilakuan Manajerial
Teori organisasi modern mempunyai perhatian dalam menjelaskan perilaku komponen
entitas perusahaan sebagai dasar untuk memahami tindakan dan motif-motif mereka. Teori
organisasi modern memandang adanya interaksi antarelemen organisasi untuk mendukung
tujuan organisasi. Perusahaan adalah sebuah entitas yang lengkap. Secara spesifik, teori
organisasi modern berkonsentrasi pada perilaku pengarahan tujuan perusahaan, motivasi dan
karakteristik penyelesaian masalah.

b. Penganggaran dan Perencanaan


Fokus dari area ini adalah formulasi tujuan organisasi dan interaksi perilaku individu.
Beberapa dimensi penting dalam area ini adalah proses partisipasi anggaran, level kesulitan
dalam pencapaian tujuan, level aspirasi, dan adanya konflik antara tujuan individual dengan
tujuan organisasi. Keselarasan antara tujuan individu dengan tujuan organisasi menjadi
kerangka manajerial mengembangkan organisasi. Dua isu penting dalam bidang
penganggaran dan perencanaan adalah organizational slck dan budgetary slack.

c. Pengambilan keputusan
Fokus dalam bidang ini adalah teori-teori dan model-model tentang pengambilan
keputusan. Ada teori normative, paradox, dan model deskriptifdalam pengambilan keputusan.
Teori normative adalah bagaimana seharusnya orang mengambil keputusan. Paradoks adalah
sesuatu bertentangan dengan teori normatuf, sedangkan model deskriptif menjelaskan apa
yang terjadi ketika orang mengambil keputusan berdasarkan fakta-fakta empiris yang ada.
Apa informasi (subject matter) yang digunakan untuk pengambilan keputusan informasi yang
digunakan tetaplah informasi akuntansi.

d. Pengendalian
Aspek pengendalian sangat penting dalam organisasi perusahaan. Semakin besar
perusahaan, memerlukan tindakan pengendalian yang semakin intensif. Pengendalian selalu
dihubungkan dengan pengukuran kinerja dan adaptasi individu terhadap pengendalian.
Dimensi penting dalam pengendalian adalah struktur organisasi, pengengalian internal,
desentralisai-sentralisasi dan hubungan antara dan antar hirearki administrasi. Perkembangan
terbaru dalam pengendalian internal adalah diakuinya lingkunagn pengendalian sebagai salah
satu kunci dalam mengendalikan operasional perusahaan.
e. Pelaporan keuangan
Aspek keprilakuan dalam pelaporan keuangan meliputi perataan laba dan keandalan
informasi akuntansi dan relevansi informasi akuntansi bagi investor. Perataan laba adalah
bagian dari manajemen laba yang disebabkan oleh pihak manajemen mempunyai informasi
privat untuk kepentiangan dirinya. Manajemen laba intinya adalah masalah keprilakuan, yaitu
perilaku manajemen yang mementingkan dirinya sendiri dalam suatu pola keagenan. Ruang
lingkup manajemen laba termasuk didalamnya aslah pemilihan metode akuntansi, estimasi,
klasifikasi, dan format yang digunakan dalam pengungkapan yang bersifat wajib. Yang perlu
diperhatikan disini adalah antara format/bentuk sama pentingnya dengan isi yang
disajikan/yang dilaporkan. Orang bisa terpengaruh dengan perbedaan format, padahal
memiliki isi yang sama.
DAFTAR PUSTAKA

Irfan Lubis, Arfab. (2014). Akuntansi Keperilakuan. Jakarta: Selemba Empat, Edisi 2
http://akuntansikeperilakuan.blogspot.co.id/2009/07/pengantar-akuntansi-
keperilakuan_9945.html
http://kurniatynawawi.blogspot.co.id/2012/06/pengantar-akuntansi-keperilakuan_18.html