Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN EVALUASI PROGRAM PUSKESMAS

PENEMUAN KASUS BARU TB BTA +


DI PUSKESMAS PEKUNCEN

TAHUN 2018

Pembimbing Lapangan :
dr. Dhini Pusptosari

Disusun Oleh :
Riyanda Rama Putri G4A016027

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


JURUSAN KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO

2018
2

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN EVALUASI PROGRAM PUSKESMAS


PENEMUAN KASUS BARU TB BTA +
DI PUSKESMAS PEKUNCEN

Disusun untuk memenuhi sebagian syarat dari


Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Masyarakat
Jurusan Kedokteran
Fakultas Kedokteran
Universitas Jenderal Soedirman

Disusun oleh:
Riyanda Rama Putri G4A016027

Telah dipresentasikan dan disetujui :


Tanggal Juni 2018

Preseptor Lapangan

dr. Dhini Puspitosari


NIP. 19810129.200501.2.011
3

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang
disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis yang dapat menyerang
berbagai organ terutama paru-paru (Kemenkes RI, 2015). WHO
mendefinisikan penderita TB sebagai penderita yang terbukti secara positif
terinfeksi tuberkulosis berdasarkan hasil apusan basil tahan asam TB dibagi
menjadi sputum positif atau sputum negatif (WHO,2011). TB masih menjadi
salah satu masalah kesehatan masyarakat di dunia yang dapat menimbulkan
kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) meskipun telah diterapkan
upaya pengendaliannya berupa strategi DOTS sejak tahun 1995 (Aditama &
Chairil, 2002). Laporan World Health Organization pada tahun 2013
menyatakan bahwa terdapat 8,6 juta kasus baru TB pada tahun 2012 dan 1,1
juta (13%) merupakan pasien TB dengan HV positif. Pada tahun 2012
perkirakan terdapat 450000 orang menderita MDR TB dan 170000 meninggal
akibat TB (Kemenkes, 2014).
Setiap tahun diperkirakan terdapat sekitar 9 juta penderita baru dan
kematian 3 juta orang akibat TB. Pada tahun 2011 Indonesia (dengan 0,38-0,54
juta kasus) menempati urutan keempat setelah India, Cina, Afrika Selatan
dengan kontribusi penderita tuberkulosis terbesar (Kemenkes, 2013). Sekitar
75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomi
yaitu rentang usia 15-50 tahun. Selain merugikan secara ekonomi, TB juga
memberikan dampak buruk lainnya secara sosial, seperti stigma dan bahkan
dikucilkan oleh masyarakat (Kemenkes, 2014).
Pada tahun 2016, kasus baru TB BTA positif di Indonesia ditemukan
sebanyak 156.723 kasus dimana 95.382 kasus (61%) laki-laki dan 61.341 kasus
(39%) perempuan. Jumlah kasus tertinggi yang dilaporkan terdapat di provinsi
dengan jumlah penduduk yang besar, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa
Tengah. Kasus baru TB BTA positif di tiga provinsi tersebut merupakan hampir
sekitar 40% dari jumlah seluruh kasus baru di Indonesia. Penemuan kasus baru
dan tercatat TB BTA positif di Jawa Tengah pada tahun 2015 adalah sebesar
4

115,17 kasus per 100.000 penduduk dengan total 38.899 kasus baru. Penemuan
ini meningkat dari tahun 2014 yaitu sebanyak 55,99 per 100.000 penduduk.
Puskesmas Pekuncen merupakan salah satu puskesmas di Kabupaten
Banyumas Provinsi Jawa Tengah dengan jumlah penduduk yaitu sebesar
36.352 jiwa. Pada Pusekesmas ini, kasus TB Paru (BTA Positif) dari data yang
telah diolah pada tahun 2017 sebanyak 24 kasus, sedangkan yang sembuh 18
orang (75%), masih dalam pengobatan 5 orang, dan meninggal selama
pengobatan 1 orang. Target minimal Angka Penemuan Penderita TB Paru BTA
positif (Case Detection Rate/CDR) dalam Program Penanggulangan
Tuberkulosis Nasional yaitu sebesar 70%. Target berdasarkan Dinas Kesehatan
Kabupaten Banyumas adalah sebesar 100%. Sedangkan target Puskesmas
Pekunncen itu sendiri sebesar 100%. Berdasarkan data yang diperoleh dari
bulan Januari hingga Desember 2017, cakupan penemuan penderita TB BTA
positif (Case Detection Rate/CDR) hanya sebesar 27.43% dan masih jauh dari
SPM yang ditetapkan oleh puskesmas yaitu 100%. Hal ini dimungkinkan
karena kurangnya skrining atau kurang aktifnya pemegang program, medis dan
paramedis untuk melakukan penjaringan di keluarga penderita TB BTA positif.
Permasalahan yang saat ini dihadapi Puskesmas Pekuncen dalam
pemberantasan TB adalah penemuan deteksi kasus BTA positif dan
kesembuhan pengobatan kasus TB yang masih belum mencapai target. Hal ini
mungkin terjadi dikarenakan penemuan kasus hanya mengandalkan pasien
yang berkunjung ke BP saja dan memiliki tanda dan gejala TB selain itu
kepatuhan masyarakat yang masih rendah dalam pengobatan. Sementara
deteksi secara aktif dan kedisiplinan pengobatan TB dengan melibatkan
masyarakat, terutama kader kesehatan belum berjalan dengan baik.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mampu menganalisa masalah kesehatan dan metode pemecahan masalah
kesehatan di Puskesmas Pekuncen.

2. Tujuan Khusus
5

a. Mengetahui gambaran umum keadaan kesehatan di wilayah kerja


Puskesmas Pekuncen.
b. Mengetahui secara umum program penemuan kasus TB BTA positif di
puskesmas Pekuncen.
c. Mengetahui pelaksanaan dan keberhasilan program penemuan kasus
TB BTA positif di puskesmas Pekuncen
d. Menganalisis kekurangan dan kelebihan program penemuan kasus TB
BTA positif di puskesmas Pekuncen
C. Manfaat Penulisan
1. Manfaat Praktis
a. Memberikan informasi kepada pembaca mengenai faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap program penemuan kasus TB BTA positif di
puskesmas Pekuncen.
b. Sebagai bahan pertimbangan bagi puskesmas, khususnya penanggung
jawab program penemuan kasus TB BTA positif di puskesmas
Pekuncen dalam melakukan evaluasi dalam kinerja program tersebut.
c. Sebagai bahan perbaikan program penemuan kasus TB BTA positif di
puskesmas Pekuncensehingga dapat mengoptimalkan mutu pelayanan
kepada masyarakat
2. Manfaat Teoritis
Menjadi dasar untuk penelitian selanjutnya bagi pihak yang
membutuhkan.

II. ANALISIS SITUASI


6

A. Deskripsi Situasi dan Kondisi Puskesmas dan Wilayah Kerjanya


1. Keadaan Geografis
Kecamatan Pekuncen merupakan salah satu bagian wilayah dari
Kabupaten Banyumas. Kecamatan ini merupakan kecamatan yang berada
di wilayah utara Kabupaten Banyumas. Kecamatan Pekuncen memiliki
luas wilayah kurang lebih 9,27 km2 dengan batas wilayah sebagai berikut:
a. Sebelah utara : Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes
b. Sebelah selatan : Kecamatan Ajibarang Kabupaten
Banyumas
c. Sebelah timur : Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas
d. Sebelah barat : Kecamatan Gumelar Kabupaten Banyumas
Kecamatan Pekuncen terdiri dari 16 desa di wilayah kerjanya.
Desa-desa yang termasuk dalam wilayah kerja Kecamatan Pekuncen yaitu,
Desa Pekuncen, Desa Kranggan, Desa Karangkemiri, Desa Banjaranyar,
Desa Cikawung, Desa Krajan, Desa Glempang, Desa Pasiraman Lor, Desa
Pasiraman Kidul, Desa Karangklesem, Desa Candinegara, Desa
Cikembulan, Desa Cibangkong, Desa Semedo, dan Desa Petahunan. Dari
16 desa tersebut Desa Krajan mempunyai wilayah yang terluas yaitu
sekitar 24,61 km2, sedangkan desa dengan luas wilayah paling sempit yaitu
Desa Pasiraman Kidul dengan luas sekitar 0,8 km2.
2. Keadaan Demografi Kecamatan Pekuncen
a. Pertumbuhan Penduduk
Berdasarkan data Desa, tahun 2017 jumlah penduduk Kecamatan
Pekuncen adalah 81.771 jiwa, yang terdiri dari 41.582 jiwa laki-laki
(50,85%) dan 40.189 jiwa perempuan (49,14 %). Terdiri dari 21.221
rumah tangga/KK dengan rata-rata jiwa/rumah tangga adalah 4 orang.
Jumlah penduduk Kecamatan Pekuncen tahun 2017 yang
tertinggi/terbanyak adalah di Desa Pekuncen yaitu sebanyak 8.949 jiwa
dan paling sedikit adalah Desa Pasiraman Kidul sebanyak 1.918 jiwa.

b. Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk Kecamatan Pekuncen pada tahun 2017 yaitu
sebesar 882 jiwa/km2. Tingkat kepadatan tertinggi yaitu di Desa
Cikembulan sebesar 2.677 jiwa/km2, sedangkan Desa Krajan memiliki
tingkat kepadatan tersendah yaitu sebesar 210 jiwa/km2.
7

Tabel 2.1 Kepadatan Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas Pekuncen Tahun 2017
Luas Wilayah Kepadatan
No Desa
(km2) Penduduk (/km2)
1 Pekuncen 10.0 895,80
2 Kranggan 1.6 2224,20
3 Karang Kemiri 6.8 1008,86
4 Banjaranyar 3.1 2032,25
5 Cikawung 2.1 2118,66
6 Krajan 24.6 210,65
7 Glempang 9.6 331,56
8 Pasiraman Lor 1.1 2621,43
9 Pasiraman Kidul 0.8 2427,85
10 Karang Klesem 3.3 1611,01
11 Candi Negara 2.8 1666,90
12 Tumiyang 7.0 895,41
13 Cikembulan 2.0 2677,16
14 Cibangkong 6.8 1087,98
15 Semedo 6.1 916,67
16 Petahunan 5.2 799,42
Jumlah 92,7 882
Sumber : Kecamatan Pekuncen Tahun 2017
c. Jumlah Penduduk Menurut Golongan Umur
Berdasarkan data statistik kecamatan, dapat diketahui bahwa
proporsi penduduk menurut umur di Kecamatan Pekuncen adalah
kelompok umur terbesar pada umur 35-39 tahun yaitu sebanyak 6.666
jiwa, sedangkan kelompok umur terkecil yaitu pada kelompok umur 70-
74 tahun sebanyak 2.163 jiwa.
Tabel 2.2 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Golongan Umur di
Kecamatan Pekuncen tahun 2017
Kelompok Laki-laki Perempuan Jumlah
Umur
(tahun)
0–4 1.839 1.881 3.720
5–9 3.042 2.615 5.657
10 – 14 3.085 2.828 5.913
15 – 19 3.256 2.952 6.208
20 – 24 3.272 3.117 6.389
25 – 29 3.065 2.931 5.996
30 – 34 3.386 3.235 6.621
35 – 39 3.505 3.377 6.882
40 – 44 3.279 3.250 6.529
45 – 49 2.863 2.800 5.663
50 – 54 2.536 2.654 5.190
55 – 59 2.199 2.264 4.463
60 – 64 1.804 1.779 3.583
65 – 69 1.488 1.398 2.886
70 – 74 1.136 1.148 2.284
8

> 75 1.834 1.953 3.787


Jumlah 41.582 40.189 81.771
Sumber : Kecamatan Pekuncen Tahun 2017
B. Keadaan Sosial Ekonomi
1. Tingkat Pendidikan
Berdasarkan data pendidikan penduduk Kecamatan Pekuncen pada
tahun 2017, tingkat pendidikan terbanyak adalah Sekolah Dasar (SD/MI).
Berikut data tingkat pendidikan penduduk Kecamatan Pekuncen:
Tabel 2.3 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Kecamatan
Pekuncen Tahun 2017
No. Tingkat Pendidikan Jumlah penduduk
1 Tidak/Belum tamat SD 13.955
2 SD/MI 28.010
3 SMP/MTs 11.698
4 SMA/MA 7.910
5 SMK 593
6 DIPLOMA I/DIPLOMA II 350
7 AKADEMI/ DIPLOMA III 543
8 UNIVERSITAS/DIPLOMA IV 617
9 S2/S3 (MASTER/DOKTOR) 24
Sumber: Kecamatan Pekuncen Tahun 2017
2. Petugas Kesehatan
Tenaga kesehatan adalah salah satu sumber daya yang dapat
digunakan untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat Kecamatan
Pekuncen yang optimal. Puseksemas Pekuncen memiliki 73 orang tenaga
kesehatan dengan perincian sesuai tabel sebagai berikut:
Tabel 2.4 Jenis Ketenagaan di Puskesmas Pekuncen Tahun 2017
No Jenis Tenaga Jumlah (orang)
1 Dokter Umum 3
2 Dokter Spesialis 0
3 Dokter Gigi 1
4 Dokter Gigi Spesialis 0
5 Bidan 23
6 Perawat 11
7 Perawat Gigi 1
9 Tenaga Kefarmasiaan 1
10 Apoteker 1
11 Nutrisionis 1
12 Dietisien 0
13 Kesehatan Lingkungan 2
14 Kesehatan Masyarakat 1
15 Tenaga Keterapian Fisik 0
16 Tenaga administrasi 12
17 Staf Kebersihan, dll 5
Jumlah 73
9

Sumber: Profil Puskesmas Pekuncen 2017


C. Gambaran Derajat Kesehatan Masyarakat
Untuk menggambarkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja
Puskesmas Pekuncen, dapat dilihat dari angka kematian (mortalitas) dan
angka kesakitan (morbiditas), sebagai berikut:
1. Angka Kematian (Mortalitas)
Derajat kesehatan suatu masyarakat dapat dilihat dari kejadian
kematian dalam masyarakat. Disamping itu angka kematian juga dapat
digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan
kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Berikut ini akan
diuraikan perkembangan tingkat kematian pada periode tahun 2017 yaitu
sebagai berikut:
a. Angka Kematian Bayi dan Balita
Pada tahun 2017 terdapat 1039 kelahiran hidup dimana jumlah
lahir mati sebanyak 5 bayi. Angka kematian bayi (AKB) di kecamatan
Pekuncen pada tahun 2017 adalah sebesar 4,8 per 1000 kelahiran hidup.
Sementara itu, jumlah kematian balita adalah sebanyak 3 balita.
b. Angka Kematian Ibu
Berdasarkan hasil laporan dari petugas KIA Puskesmas Pekuncen
diketahui tidak ada kematian ibu di tahun 2017, jumlah kematian ibu
bersalin sebanyak 0 orang, dan jumlah kematian ibu nifas juga
sebanyak 0 orang. Sehingga Angka Kematian Ibu (AKI) di Kecamatan
Pekuncen sebesar 0 per 100.000 kelahiran hidup.
2. Angka Kesakitan (Morbiditas)
Morbiditas merupakan keadaan sakit dimana terjadinya penyakit
atau kondisi yang mengubah kesehatan dan kualitas hidup. Berikut ini
jumlah kesakitan pada periode tahun 2017 yaitu :
a. Jumlah Kasus Diare
Berdasarkan data dari programer P2 Diare Puskesmas Pekuncen,
jumlah target penemuan kasus diare di tahun 2017 yaitu sebanyak 2208
kasus atau sebesar 20% dari jumlah penduduk. Berdasarkan analisis
pelaporan kasus dapat diketahui bahwa kejadian diare tahun 2017
sebanyak 896 kasus sudah tertangani 100%.
b. Jumlah Kasus Malaria
Kasus penyakit Malaria Klinis tahun 2017 sebanyak 0 kasus atau
sebesar 0,00 per 1.000 penduduk. Tidak ditemukannya kasus penyakit
malaria klinis dikarenakan Kecamatan Pekuncen bukan termasuk
10

wilayah endemik penyakit malaria. Kasus Malaria di Puskesmas


Pekuncen biasanya merupakan kasus yang berasal atau dibawa dari
wilayah luar Pulau Jawa. Meski demikian penyakit ini perlu diwaspadai
oleh petugas kesehatan di daerah manapun.
c. TB Paru BTA (+)
Jumlah kasus baru TB Paru BTA Positif pada tahun 2017 sebanyak
24 kasus atau CNR (Case Notification Rate) kasus baru BTA positif
sebesar 29,35%. Sedangkan jumlah seluruh kasus TB sebanyak 49
kasus atau CNR (Case Notification Rate) seluruh kasus TB sebesar
59,92%. Data yang diolah tahun 2017 kasus TB Paru (BTA Positif)
sebanyak 24 kasus, sedangkan yang sembuh 18 kasus, masih dalam
pengobatan 5 orang, dan meninggal selama pengobatan1 orang.
d. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
Pada tahun 2017 di Kecamatan Pekuncen tidak ditemukan kasus
DBD. Hal ini dikarenakan program pencegahan Demam Berdarah
dengan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) di desa-desa rutin
dilaksanakan baik di tingkat RW, RT, dan Dasawisma.

e. HIV
Jumlah kasus HIV-AIDS di kecamatan Pekuncen pata tahun 2017
adalah 0 kasus. Kasus HIV-AIDS merupakan fenomena gunung es
sehingga kemungkinan adanya kasus HIV-AIDS yang tidak terdeteksi
atau tidak terdata. Hingga saat ini belum adanya kerjasama tentang
laporan data penyakit HIV-AIDS dari rumah sakit.
f. Acute Flaccid Paralysis (AFP)
Jumlah penemuan kasus AFP di kecamatan Pekuncen pada tahun
2017 sebanyak 0 kasus.
g. Pneumonia Balita
Jumlah kasus pneumonia pada balita tahun 2017 ditemukan atau
ditangani di Kecamatan Pekuncen adalah sebanyak 74 kasus dari
jumlah perkiraan penemuan kasus pneumonia balita sebanyak 175 atau
sebesar 42,2%.
D. Status Gizi Masyarakat
Tujuan umum dari upaya perbaikan gizi puskesmas adalah untuk
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan setiap keluarga di
wilayah Puskesmas untuk mencapai Keluarga Sadar Gizi agar dapat terwujud
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Tujuan khususnya yaitu untuk
11

meningkatkan cakupan dan kualitas pemberdayaan keluarga menuju Keluarga


Sadar Gizi dan untuk meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan gizi
(pelayanan gizi masyarakat dan pelayanan gizi perorangan).
Berdasarkan hasil pemantauan status gizi balita di Pekuncen pada
tahun 2017 dengan jumlah balita yang ditimbang sebanyak 4.214 balita dari
4.856 semua balita. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat pastiripasi
masyarakt sebanyak 86,8%. Jumlah balita yang dibawah garis merah (BGM)
di wilayah Pekusmas Pekuncen sebanyak 6 balita dan Gizi Buruk sebanyak 1
anak yang semuanya sudah mendapat perawatan. Standar Pelayanan Minimal
(SPM) untuk balita dengan gizi kurang dan gizi buruk telah mencapai 100%
mendapatkan perawatan, sehingga sudah memenuhi target yang ditentukan.

E. Pencapaian Pembangunan Kesehatan


Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/
kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di
suatu wilayah kerja. Puskesmas sebagai pusat pembangunan kesehatan
memegang peranan yang penting karena fungsi dari puskesmas adalah
mengembangkan dan membina kesehatan masyarakat serta
menyelenggarakan pelayanan kesehatan terdepan dan terdekat dengan
masyarakat dalam bentuk kegiatan pokok yang menyeluruh dan terpadu di
wilayah kerjanya.
Menurut Permenkes 75 Tahun 2014, prinsip penyelenggaraan
puskesmas meliputi paradigma sehat, pertanggungjawaban wilayah,
kemandirian masyarakat, pmerataan, teknologi tepat guna dan keterpaduan
serta kesinambungan. Tugas puskesmas sendiri yaitu melaksanakan kebijakan
kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah
kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya kecamatan yang sehat.
Dalam menyelenggarakan tugas puskesmas tersebut, puskesmas
menyelenggarakan fungsi yaitu penyelenggaraan UKM (Upaya Kesehatan
Masyarakat) tingkat pertama di wilayah kerjanya dan penyelenggaraan UKP
(Upaya Kesehatan Perorangan) tingkat pertama di wilayah kerjanya.
Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama
dan upaya kesehatan perorangan tingkat pertama secara terintegrasi dan
12

berkesinambungan. Upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama meliputi


upaya kesehatan masyarakat esensial dan upaya perawatan kesehatan
masyaraat. Upaya masyarakat esensial meliputi :
1. Pelayanan promosi kesehatan
2. Pelayanan kesehatan lingkungan
3. Pelayanan kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana
4. Pelayanan gizi
5. Pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit
Di Puskesmas Pekuncen penyelenggaraan upaya kesehatan esensial
telah dilaksanakan dan digunakan untuk mendukung pencapaian standar
pelayanan minimal kabupaten/kota dalam bidang kesehatan. Untuk kesehatan
masyarakat pengembangan yang memerlukan uaya yang bersifat inovatif dan
atau bersifat ekstensifikasi dan intensifikasi pelayanan, menyesuaikan potensi
yang ada di puskesmas. Puskesmas Pekuncen dalam hal ini melaksanakan
Posbindu dan Posyandu Lansia sebagai upaya kesehatan masyarakat
pengembangan. Upaya kesehatan perorangan tingkat pertama di Puskesmas
Pekuncen dilaksanan dalam bentuk unit BP umum, BP gigi, Farmasi,
Laboratorium, KIA dan KB, Rawat Inap dan IGD.
Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Banyumas ditujukan pada
masih rendahnya derajat kesehatan, status gizi, dan kesejahteraan sosial. Oleh
karena itu pembangunan kesehatan ditujukan dalam upaya perbaikan
kesehatan masyarakat melalui perbaikan gizi, kebersihan lingkungan,
pencegahan dan pengendalian penyakit, penyediaan air bersih serta pelayanan
kesehatan ibu dan anak. Selain itu beberapa penyakit infeksi cenderung
meningkat kembali (re-emerging disease) seperti penyakit TB. Penyakit
infeksi baru (new emerging disease) juga telah muncul, utamanya yang
disebabkan karena virus seperti: HIV/AIDS dan penyakit yang pernah
meledak seperti flu burung. Perubahan gaya hidup yang tidak sehat, penyakit
jantung dan pembuluh darah (Kardiovaskuler), kanker dan penyakit tidak
menular lainnya juga cenderung meningkat.
1. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
a. Demam berdarah dengue (DBD)
Berdasarkan data petugas P2 DBD Puskesmas Pekuncen pada
tahun 2017 diketahui bahwa tidak ada kasus penyakit DBD. Upaya
pemberantasan demam berdarah terdiri dari 3 hal yaitu, Peningkatan
kegiatan surveilance penyakit dan vektor; Diagnosis dini dan
13

pengobatan dini; serta Peningkatan upaya pemberantasan vektor


penular DBD/PSN. Selain PSN dengan 3M, salah satu wujud kegiatan
PSN yang dilakukan di Kecamatan Pekuncen adalah kegiatan
Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) yang dilakukan oleh kader kesehatan.
b. Penyakit ISPA dan Pneumonia
Pada tahun 2017 Jumlah kasus pneumonia pada balita diketahui
sebanyak 74 kasus dan semua kasus sudah tertangani (100%). Perkiraan
jumlah kasus pneumonia balita adalah sebanyak 175 kasus, penderita
pneumonia balita yang ditemukan sebesar 42,2% dan belum memenuhi
target. Sedangkan jika dibandingkan dengan SPM untuk balita dengan
pneumonia yang ditangani sebesar 100% maka Puskesmas Pekuncen
sudah memenuhi standar SPM.
c. TB paru
Pada tahun 2017 terdapat 24 kasus baru BTA positif, angka
pengobatan lengkap sebesar 23 kasus dan kasus pasien TB yang
sembuh sebanyak 22 atau sebesar 92%.
d. Penyakit Kusta
Pada tahun 2017 terdapat 2 penderita Kusta tipe MB (Kusta
Basah), yang seluruhnya sudah diobati. Upaya pencegahan dan
pemberantasan penyakit kusta dilakukan dengan melakukan penemuan
dini kasus kusta dan pengawasan terhadap penderita, keluarga penderita
dan orang-orang yang melakukan kontak dengan penderita.
e. Penyakit HIV-AIDS dan IMS
Berdasarakan data Puskesmas, jumlah kasus penyakit HIV-
AIDS dan IMS pada tahun 2017 sebanyak 0 kasus. Angka ini bisa
merupakan keadaan sebenarnya dan bisa juga bukan. Hal ini karena
kasus penyakit HIV-AIDS dan IMS merupakan fenomena gunung es,
sehingga bisa saja di kecamatan Pekuncen terdapat penderita HIV-
AIDS dan IMS tapi tidak terdata karena penderita sulit terdeteksi.
2. Pembinaan Kesehatan Lingkungan dan Santasi Dasar
a. Pendataan Rusah Sehat
Salah satu usaha guna pembinaan Kesehatan Lingkungan adalah
dengan dilakukannya pendataan rumah sehat. Berdasarkan hasil
pendataan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa dari sebnyak
17.551 rumah yang ada diperoleh sebanyak 2,443 rumah yang termasuk
dalam rumah sehat.
14

b. Akses Rumah Tangga Terhadap Air Bersih


Akses rumah tangga terhadap air bersih dari 81.914 jumlah
penduduk didapatkan bahwa sebanyak 59.505 jumlah penduduk atau
76.914% jumlah penduduk memiliki akses bekelanjutan terhadap air
minum yang layak.
c. Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar
1) Persediaan Air Bersih
Diperoleh dari jumlah penduduk sebanyak 81.914 yang memiliki
persediaan air bersih layak sebanyak 59.505 jumlah penduduk atau
76,914%.
2) Kepemilikan Jamban
Penduduk dengan akses sanitasi yang layak (jamban sehat) sebanyak
43.660 penduduk dari 81.914 jumlah penduduk. Jumlah jamban yang
sehat yaitu sebesar 53.3%.
d. Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat
Berdasarkan data petugas sanitarian Puskesmas Pekuncen, dapat
diketahui bahwa terdapat2 restauran yang sudah memenuhi syarat
sanitasi. Sedangkan untuk sarana pendidikan terdapat 48 sekolah yang
telah diperiksa dan 33 diantaranya sudah memenuhi syarat.Hasil
pendataan pada TUPM lainya didapatkan hasil bahwa jumlah TUPM
sebanyak 66 TUPM dan yang berkategori sehat sebanyak 47 TUPM
atau sebesar 71,2%.
3. Perbaikan Gizi Masyarakat
a. Cakupan Bayi dan Balita Mendapat Pelayanan Kesehatan
Pada tahun 2017 diketahui bahwa jumlah bayi umur 6-11 bulan
sebanyak 1.209 orang dan sebanyak 1.209 telah mendapat vitamin A 1
kali atau 100%. Balita umur 12 – 59 bulan sebanyak 4.224 orang dan
4.224 atau 100% telah mendapat vit A.
b. Cakupan Ibu Hamil Mendapat Tablet Fe
Pada tahun 2017 jumlah sasaran ibu hamil di wilayah
Puskesmas Pekuncen sebanyak 1331 orang. Dari jumlah tersebut yang
sudah mendapat tablet Fe sebanyak 1.178 orang atau sebesar 88.5%.
Jumlah ibu hamil yang ada di puskesmas sebesar 1.178 orang, sehingga
cakupan pemberian tablet fe sudah mencapai 100%.

4. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)-KB


15

a. Cakupan Kunjungan Neonatus, Bayi dan Berat Bayi Lahir Rendah


(BBLR) yang Ditangani
Diketahui bahwa cakupan kunjungan neonatus KN1 di
Puskesmas Pekuncen adalah sebanyak 1093, adapun cakupan
kunjungan KN1 Sebesar 1.093 atau 100% dan KN Lengkap adalah
sebanyak 1093 atau sebesar 100 %. Jumlah bayi lahir hidup sebanyak
1.093 bayi dengan jumlah bayi dengan Berat Bayi Lahir Rendah
(BBLR) sebanyak 57 orang atau sebesar 5.2% dan sudah 100%
mendapat penanganan.
b. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil (K1, K4), Persalinan Ditolong Tenaga
Kesehatan dan Pelayanan Ibu Nifas
Jumlah sasaran ibu hamil di wilayah Puskesmas Pekuncen pada
tahun 2017 tercatat sebanyak 1.331 orang, sedangkan untuk jumlah ibu
hamil di wilayah Puskesmas Pekuncen adalah sebanyak 1.178 orang.
Pemeriksaan kesehatan ke petugas kesehatan untuk kunjungan pertama
(K1) sebanyak 1.178 orang jika dibandingkan sasaran tahun 2017
sebesar 88.5%. Sedangkan yang melakukan kunjungan ke empat (K4)
sebanyak 1.096 orang atau 82.4 %. Jumlah target ibu bersalin/nifas
sebanyak 1.270 orang, dan ibu bersalin yang ditolong tenaga kesehatan
sebanyak 1.090 atau sebesar 85.8%. Sedangkan yang mendapat
palayanan nifas sebanyak 1.087 orang atau 85.6%. Sasaran target
program KIA tidak dapat memenuhi target dikarenakan jumlah sasaran
yang di tetapkan di awal tahun terlalu tinggi.
c. Pemeriksaan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat
Pada tahun 2017 di Kecamatan Pekuncen terdapat jumlah siswa
Sekolah Dasar (SD) baru sebanyak 1.183 orang dengan jumlah
diperiksa sebanyak 1.108 orang atau sebesar 95%.
d. Jumlah PUS, Peserta KB, Peserta KB Baru, dan KB Aktif
Berdasarkan data koordinator KB Puskesmas Pekuncen,
diketahui bahwa jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) di wilayah
Puskesmas Pekuncen sebanyak 14.331 orang. Dari jumlah PUS yang
ada tersebut jumlah peserta KB baru sebanyak 2.048 orang atau 14.3 %.
Sedangkan jumlah peserta KB aktif sebanyak 11.933 orang atau 83.3%.
5. Promosi Kesehatan
16

Promosi kesehatan merupakan bagian integral dari Pembangunan


Kesehatan Nasional. Hal ini dapat dilihat bahwa Promosi kesehatan
merupakan salah satu pilar dalam pembangunan kesehatan melalui
peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap
orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya
melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia yang
ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku hidup bersih dan
sehat serta dalam lingkungan yang sehat, memiliki kemampuan untuk
menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata,
serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh
wilayah Republik Indonesia. Guna mewujudkan visi tersebut, program-
program yang dilakukan oleh Puskesmas Pekuncen khususnya dalam
bidang Promosi Kesehatan adalah melalui kegiatan-kegiatan berikut:
a. Penyuluhan Kesehatan
Penyuluhan kesehatan bisa dilakukan secara langsung maupun
tidak langsung. Penyuluhan tidak langsung bisa berupa pembagian
leafleat, poster, pemutaran film maupun melalui media-media lainnya.
Kegiatan penyuluhan kelompok yang dilakukan di Puskesmas
Pekuncen pada tahun 2017 terdapat 179 kali penyuluhan kelompok
dengan jumlah total sasaran dari kelompok potensial sebesar 1.884,
masyarakat umum yang terdiri dari peserta posbindu, pusling, posyandu
dan kelas ibu hamil sebanyak 2.597 orang, sasaran dari siswa sekolah
sebanyak 1.756 orang. Sedangkan materi yang disampaikan bervariasi
menyesuaikan jenis sasaran dari penyuluhan. Materi yang disampaikan
di kegiatan Posbindu atau Pusling biasanya seputar penyakit
degenaratif, pencegahan penyakit menular dan PHBS, untuk kegiatan
Posyandu materi yang disampaikan adalah seputar Kesehatan ibu dan
anak, Gizi dan Asi eksklusif.
Dari hasil laporan kegiatan penyuluhan massa yang dilakukan di
Puskesmas diketahui sebagian besar dilakukan pada penyuluhan
kelompok, penyuluhan ini sebagian besar ditujukan kepada siswa
sekolah dan peserta pusling/posbindu dengan media pemutaran film
sedangkan materi yang disampaikan adalah yang berhubungan dengan
17

proses perkembangan siswa sekolah yang masih remaja berupa


Penyuluhan Narkoba dan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR).
b. Stratifikasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Tatanan Rumah
Tangga
Berdasarkan hasil pendataan PHBS tatanan rumah tangga di wilayah
Kecamatan Pekuncen dapat diketahui, dari 22.970 rumah tangga yang
ada terdapat sebanyak 5.895 atau sebesar 25.7% rumah tangga yang di
pantau. Dan dari seluruh rumah yang dipantau sebesar 5.183 rumah
atau sebesar 87.9% masuk dalam kategori rumah tangga sehat.
c. Posyandu
Program promosi kesehatan juga melakukan upaya-upaya guna
mengembangkan pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan.
Salah satu bentuknya adalah pembinaan Posyandu. Guna meningkatkan
kualitas Posyandu, salah satunya adalah dengan dilakukan stratifikasi
Posyandu. Jumlah posyandu di wilayah Puskesmas Pekuncen sebanyak
124 Posyandu. Hasil yang diperoleh dari stratifikasi posyandu tahun
2017 adalah sebagai berikut:
1) Posyandu dengan strata Pratama sebanyak 7 posyandu atau sebesar
5,65%.
2) Posyandu dengan strata Madya sebanyak 55 posyandu atau sebesar
44,35%.
3) Posyandu dengan strata Purnama sebanyak 40 posyandu atau sebesar
32,36%.
4) Posyandu dengan strata Mandiri sebanyak 22 posyandu atau sebesar
17,24%.
6. Sumber daya
a. Sarana prasarana
1) 1 Puskesmas Induk: Kantor, Ruang pendaftaran dan ruang rekam
medik, Balai pengobatan umum 2 ruang, Balai pengobatan gizi,
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), Laboratorium, Ruang
alat dan Gudang obat, Ruang Gawat Darurat, Ruang Rawat inap,
Ruang Poli KIA dan KB, Ruang Persalinan dan nifas.
2) 2 Puskesmas Pembantu
3) 16 Pos Kesehatan Desa
4) 3 mobil ambulance
b. Sumber daya manusia (SDM)
18

Dalam melaksanakan fungsinya Puskesmas Pekuncen tahun


2017 memiliki sumber daya manusia sebagai pelaksana kegiatan dan
program-program yang ada. Adapun sumber daya manusia tersebut
terdiri dari tenaga medis sebanyak 4 orang (3 orang dokter umum, 1
orang dokter gigi), tenaga perawat 11 orang, perawat gigi 1 orang,
bidan 23 orang, tenaga gizi 1 orang, tenaga kesehatan masyarakat 1
orang, sanitarian 2 orang, tenaga staf administrasi sebanyak 12 orang,
tenaga farmasi 2 orang, tenaga analis 1 orang, staf kebersihan dan lain-
lain sejumlah 5 orang.
c. Pembiayaan Kesehatan
Anggaran adalah suatu rencana yang disusun secara sistematis
meliputi seluruh kegiatan yang dinyatakan dalam unit (kesatuan) uang
dan berlaku untuk jangka waktu (periode) tahun pelaporan. Dana
BLUD tahun 2017 adalah sebesar Rp 5.557.016.589. Sedangkan untuk
dana BOK adalah sebesar Rp 402.935.000. Penyelenggaraan
Pembiayaan untuk keluarga miskin dan masyarakat rentan di
Kecamatan Pekuncen tahun 2017 meliputi Jaminan Kesehatan Nasional
dan Jamkesda. Jumlah masyarakat di wilayah Kecamatan Pekuncen
yang memiliki Jaminan Kesehatan Nasional PBI (APBN) sebanyak
40.135 sedangkan Jaminan Kesehatan Nasional PBI (APBD) sebanyak
1.286, sedangkan untuk pekerja penerima upah/PPU termasuk
didalamnya TNI/POLRI, PNS, BUMN, BUMD, dan pensiunan sebesar
2.545.
III. ANALISIS SISTEM PADA PROGRAM KESEHATAN

A. Analisis Sistem
1. Input
a. Man
Sumber daya manusia di Puskesmas Pekuncen dalam
menjalankan program Penemuan kasus Tuberkulosis (TB) BTA Positif
secara kuantitatif sudah baik. Puskesmas Pekuncen memiliki sumber
daya manusia yang secara kuantitatif sudah baik. Puskesmas memiliki 3
dokter umum, 1 dokter gigi, 12 perawat umum, 23 bidan yang bertugas
19

sebagai bidan desa atau bidan puskesmas, 2 pelaksana kesehatan


lingkungan, 1 tenaga promosi kesehatan, 2 farmasi, 1 ahli gizi, 1 tenaga
sanitasi, dan 1 analisis kesehatan.
Pemegang program penemuan kasus Tuberkulosis (TB) BTA
Positif di Puskesmas Pekuncen adalah seorang perawat, yang
bertanggung jawab kepada Kepala Puskesmas.
b. Money ( Pembiayaan Kesehatan)
Dari segi keuangan, anggaran didapatkan dari BOK (Bantuan
Operasional Kesehatan) dan BLUD (Badan Layanan Umum Daerah).
c. Material ( Sarana Kesehatan)
Logistik dan obat di Puskesmas Pekuncen didapatkan dari Dinas
Kesehatan Kabupaten Banyumas. Jumlah dan jenisnya disesuaikan
dengan perencanaan yang telah diajukan Puskesmas Pekuncen.
Puskesmas juga memiliki laboratorium dan peralatan seperti reagen
pemeriksaan bakteriologis dahak suspek TB, tersedianya ruang khusus
TB DOTS yang dapat digunakan untuk menunjang terlaksananya
program.
d. Method
Metode kegiatan program Penemuan kasus Tuberkulosis (TB) BTA
Positif di Puskesmas Pekuncen meliputi passive case finding dan active
case finding. Passive case finding yaitu penemuan pasien baru TB Paru
BTA positif yang dilakukan di balai pengobatan puskesmas oleh dokter.
Active case finding dilakukan dengan screening ke rumah warga yang
terkonfirmasi TB Paru BTA positif untuk pemeriksaan keluarga yang
kontak dengan pasien.
e. Minute
Kegiatan program penemuan kasus Tuberkulosis (TB) BTA Positif di
Puskesmas Pekuncen sudah rutin dilakukan di dalam Puskesmas. Adanya
penyuluhan / promosi kesehatan tentang TB kepada warga desa Pekuncen
dijadwalkan setiap 1 bulan sekali yang dilakukan saat kegiatan pusling,
posyandu balita, posyandu lansia.
f. Market
Sasaran kegiatan program penemuan kasus Tuberkulosis (TB) BTA
positif meliputi seluruh desa di wilayah kerja puskesmas Pekuncen.
20

2. Proses
a. Perencanaan
Telah dibuat suatu Standar Operational Procedur (SOP) untuk
pelaksanaan program TB di Puskesmas Pekuncen. Program CDR TB
Paru di dalam puskesmas sudah memiliki perencanaan yang baik, berupa
dan preventif seperti kegiatan penemuan TB dan pemantauan penyakit
TB Paru.
b. Pengorganisasian
Kerjasama yang dilakukan bersama bidan desa (PKD), Balai Pengobatan
di Puskesmas Pekuncen dan tempat praktek dokter mandiri.
c. Penggerakan dan Pelaksanaan Program
Penggerakan dan Pelaksanaan Program UKM untuk TB dilaksanakan
oleh pemegang program TB, dokter dokter di Balai Pengobatan, petugas
laboratorium, dan bekerja sama dengan PKD, bidan desa di wilayah kerja
Puskesmas Pekuncen dan juga kader kesehatan untuk menindak lanjuti
program pengelolaan penyakit menular.
d. Pengawasan dan Penilaian
Penggerakan dan Pelaksanaan Program UKM TB dari internal dilakukan
oleh Kepala Puskesmas dan juga pelaksana pemegang program TB.
Sedangkan pengawasan dan pengendalian ekternal dilakukan oleh Dinas
Kesehatan Wilayah Banyumas.
3. Output
Berdasarkan profil kesehatan Puskesmas Pekuncen, data yang diolah
tahun 2017 kasus TB Paru (BTA Positif) sebanyak 24 kasus, sedangkan
yang sembuh 18 orang, masih dalam pengobatan 5 orang, dan meninggal
selama pengobatan 1 orang. Target minimal Angka Penemuan Penderita TB
Paru BTA positif (Case Detection Rate/CDR) dalam Program
Penanggulangan Tuberkulosis Nasional yaitu sebesar 70% dan target
Puskesmas Pekuncen sebesar 100%. Berdasarkan data yang diperoleh,
cakupan penemuan penderita TB BTA positif (CDR) hanya sebesar 27.43%
dan masih jauh dari SPM yang ditetapkan oleh puskesmas yaitu 100%. Hal
ini dimungkinkan karena kurangnya skrining atau kurang aktifnya
pemegang program, medis dan paramedis untuk melakukan penjaringan di
keluarga penderita TB BTA positif. Tidak tercapainya target penemuan
kasus TB Paru menunjukkan kelemahan program UKM TB Paru dari segi
21

output, dikarenakan kesadaran masyarakat Kecamatan Pekuncen yang masih


rendah baik untuk memeriksakan diri ke puskesmas, berobat, sembuh, serta
memutus penularan penyakit. Rendahnya kesadaran masyarakat Kecamatan
Pekuncen dikarenakan rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai
penyakit TB Paru, baik mengenai penyakitnya, tanda dan gejalanya, cara
pengobatannya, efek yang terjadi setelah pengobatan, efek samping dari
pengobatan, serta cara pencegahan penularan TB.
4. Outcome
Dampak program yang diharapkan adalah :
a. Menurunnya angka morbiditas dan mortalitas
b. Menurunnya jumlah kasus tuberkulosis
c. Meningkatnya cakupan pengobatan tuberkulosis Menurunnya angka
morbiditas dan mortalitas

B. Identifikasi Isu Strategis (Analisis SWOT)


Target minimal Angka Penemuan Penderita TB Paru BTA positif (Case
Detection Rate/CDR) dalam Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasional
yaitu sebesar 70%. Namun, Case Detection Rate kasus TB BTA positif di
wilayah kerja Puskesmas Pekuncen sampai akhir tahun 2017 hanya 27.43%
dan masih jauh dari SPM yang ditetapkan oleh puskesmas yaitu 100%. Hal ini
menunjukkan bahwa program penemuan kasus TB BTA positif masih di bawah
standar yang ditetapkan.
1. Strength
Aspek kekuatan yang berperan dalam angka CDR penyakit TB
dijabarkan sebagai berikut:
Input
a. Man
1) Adanya 3 orang dokter umum, 1 orang dokter gigi sebagai tenaga
kesehatan
2) Adanya 1 orang pemegang program penanggulangan TB yang sudah
mengikuti pelatihan dan memiliki latar belakang pendidikan sebagai
perawat
22

3) Adanya 1 analis kesehatan yang dapat membantu pelaksanaan program


penanggulangan TB
b. Money
Dana untuk kegiatan program Puskesmas Pekuncen berasal dari
BOK dan BLUD. Sumber dana tersebut sudah mencukupi dalam
program penanggulangan TB meliputi kegiatan promotif dan preventif
seperti penyuluhan, pelacakan kasus TB Paru, dan pemantauan kasus TB
Paru.
c. Material
Terdapat obat TB Paru yang dapat diperoleh masyarakat secara
gratis. Pemberian masker secara gratis terhadap pasien TB BTA positif.

d. Method
Penemuan pasien baru TB Paru BTA positif di Puskesmas Pekuncen
sudah dilakukan secara pasif dan aktif. Penemuan pasien baru TB Paru
BTA positif secara pasif dilakukan di balai pengobatan puskesmas oleh
dokter. Pasien dengan keluhan klasik TB dilakukan edukasi mengenai
penyakit TB dan untuk melakukan pemeriksaan sputum 3 kali dan
selanjutnya dikonsultasikan ke analis laboratorium untuk pemeriksaan.
Selanjutnya pasien yang terdiagnosis TB Paru BTA positif akan diberi
edukasi agar orang yang memiliki kontak erat dengan pasien
memeriksakan diri ke puskesmas karena ada kemungkinan tertular.
Penemuan pasien baru TB Paru BTA positif secara aktif dilakukan
dengan screening ke rumah warga yang terkonfirmasi TB Paru BTA
positif untuk pemeriksaan keluarga yang kontak dengan pasien.Keluarga
pasien yang memiliki kontak erat dengan pasien dilakukan pemeriksaan
sputum.Untuk mendukung pelaksanaan program penemuan kasus baru
TB BTA Positif berupa pembentukan kader TB di setiap desa yang
berjumlah 1 orang di setiap desanya.

e. Minute
Adanya penyuluhan/promosi kesehatan tentang TB kepada warga
desa Pekuncen dijadwalkan setiap 1 bulan sekali yang dilakukan saat
kegiatan pusling, posyandu balita, posyandu lansia.
23

f. Market
Sasaran dari program penemuan kasus baru TB Paru BTA Positif
adalah masyarakat seluruh desa di wilayah kerja Puskesmas Pekuncen.
Proses
Penemuan kasus TB Paru didapatkan secara aktif dan pasif. Penemuan
pasif yaitu dengan deteksi dini tanda dan gejala penyakit TB Paru di ruang
periksa umum Puskesmas oleh dokter umum. Penemuan aktif dilakukan
dengan screening ke rumah warga yang terkonfirmasi TB Paru BTA positif
untuk pemeriksaan keluarga yang kontak dengan pasien.
2. Weakness
Aspek kelemahan dari program pengobatan (TB) Paru terdapat pada
beberapa aspek yaitu:
Input
a. Man
1) Hanya 1 petugas khusus di bidang UKM TB paru, hal ini dapat
menyebabkan tugas kerja yang diberikan melebihi dari kemampuan
petugas.
2) Petugas khusus di bidang UKM TB paru masih kurang aktif dalam
menggerakkan tenaga kesehatan lain dalam menjalankan program.
b. Method
1) Penemuan kasus TB yang sifatnya cenderung pasif salah satunya
ditunjukkan dengan belum ada program screening secara aktif untuk
kelompok khusus yang rentan atau beresiko tinggi sakit TB seperti
pada pasien HIV, DM, dan malnutrisi. Kemudian belum ada program
penjaringan pada kelompok yang rentan karena berada di lingkungan
yang berisiko tinggi terjadi penularan TB, seperti: tempat
penampungan pengungsi, daerah kumuh, tempat kerja, asrama dan
panti jompo.
2) Pemeriksaan sputum pada orang yang memiliki kontak erat dengan
pasien yang terdiagnosis TB Paru BTA Positif sudah dilakukan, namun
belum dilakukan sesegera mungkin setelah pasien terdiagnosis TB
BTA Positif.
24

3) Penyuluhan mengenai TB belum dilakukan secara rutin, sehingga


masyarakat belum memahami dan menyadari pentingnya untuk
memeriksakan diri secara mandiri ketika memiliki gejala TBC ataupun
ketika memiliki kontak erat dengan pasien TB BTA positif.
4) Evaluasi kerja tentang pelaksanaan program penemuan kasus baru TB
BTA Positif antar pemegang program dan kader desa setiap 3 bulan
sekali belum dilakukan secara optimal.
c. Minute
Promosi kesehatan (penyuluhan) mengenai TB Paru yang
dijadwalkan setiap 1 bulan sekali belum dilakukan setiap bulannya
karena kesibukan dari pemegang program. Penyuluhan mengikuti
kegiatan pusling, posyandu lansia, atau posyandu balita kurang optimal
karena penyuluhan menjadi tidak fokus.
Proses
Penjaringan atau penemuan kasus TB Paru secara aktif dan
penyuluhan secara aktif kepada masyarakat langsung yang belum berjalan
secara optimal. Pelaporan akan temuan pasien kasus baru TB Paru BTA
Positif belum dilakukan secara optimal oleh tenaga kesehatan dan kader
desa ke Pemegang Program UKM TB Paru di Puskesmas dikarenakan
adanya kesibukan antar individu.
3. Opportunity
a. Adanya kader desa yang bersedia melakukan program penemuan kasus
baru TB Paru BTA Positif
b. Warga Kecamatan Pekuncen memiliki antusiasme tinggi mengenai
kesehatan. Hal ini terlihat dari warga yang sangat mudah dikumpulkan
dalam acara kesehatan, misalnya Posyandu Balita maupun Posyandu
Lansia.
c. Adanya dukungan dari lintas sektoral seperti dinas kesehatan, kepala
desa, ketua RW dan ketua RT dalam melaksanakan, mendukung
program penemuan kasus baru TB Paru BTA Positif.
d. Adanya dana pemerintah yang diberikan untuk kegiatan pelacakan
pasien baru TB Paru BTA Positif.
4. Threat
25

a. Pemahaman masyarakat terhadap penyakit TB dan dasar kebiasaan


hidup bersih dan sehat masyarakat masih rendah, hal ini dapat
meningkatkan tingkat penularan TB dimana jika faktor enviromental
susah diubah maka faktor kebiasaan harus diubah agar dapat
memotong rantai penularan penyakit.
b. Masih sedikit kader yang berperan aktif dalam melaporkan penemuan
kasus baru TB BTA positif ke pemegang program TB.
c. Keadaan geografis beberapa desa di kecamatan Pekuncen yang luas,
berbukit-bukit dan jauh dari Puskesmas.
d. Adanya praktik swasta (dokter dan bidan mandiri) yang kurang
optimal dalam pelaporan data terkait temuan kejadian TB Paru BTA
positif dikarenakan kurang adanya kerjasama antar pihak puskesmas
dan praktik swasta.
26

IV. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

A. Pembahasan Isu Strategis


Berdasarkan hasil analisis SWOT, terdapat beberapa permasalahan yang
terjadi dalam program penemuan kasus baru TB Paru BTA Positif di
Puskesmas Pekuncen yaitu :

1. Pemegang Program penemuan kasus baru TB Paru BTA Positif di


Puskesmas hanya 1 petugas hal ini dapat menyebabkan tugas kerja yang
diberikan melebihi dari kemampuan petugas.
2. Kurang optimalnya kerjasama antara pemegang program dengan kader
desa dalam penemuan kasus baru TB Paru BTA positif.
3. Adanya Praktik swasta (dokter dan bidan mandiri) yang kurang optimal
dalam pelaporan data terkait temuan kejadian kasus baru TB Paru BTA
positif ke Puskesmas.
4. Pemeriksaan/pelacakan sputum pada warga desa yang memiliki kontak
erat dengan pasien yang terdiagnosis TB Paru BTA positif belum
dilakukan sesegera mungkin setelah pasien terdiagnosis TB Paru BTA
positif dikarenakan adanya kesibukan antar individu dan masih takutnya
kader desa akan penularan TBC saat pengumpulan sputum ketika
melakukan pemeriksaan (pelacakan), sehingga pelacakan belum berjalan
dengan optimal.
5. Evaluasi kerja tentang pelaksanaan program penemuan kasus baru TB
BTA Positif antar pemegang program dan kader desa setiap 3 bulan sekali
belum dilakukan secara optimal.
6. Kader-kader di desa yang kurang berperan aktif dalam melaporkan pasien
TB ke pemegang program TB.
7. Penyuluhan tentang penyakit TB belum dilaksanakan secara rutin,
sehingga masih banyak masyarakat yang belum memahami tentang
penyakit TB.
8. Masyarakat yang belum mandiri untuk membawa orang yang memiliki
kontak erat dengan pasien TB Paru BTA positif ke Puskesmas untuk di
periksa sputum dikarenakan kurang pahamnya akan penyakit TB.
27

9. Masyarakat yang memiliki gejala dasar TB sebagian besar belum


memeriksakan diri ke Puskesmas hanya membeli obat di warung
dikarenakan masih kurang pahamnya masyarakat akan mengenai penyakit
TB dan komplikasinya.
Berdasarkan data yang diperoleh tahun 2017, (Case Detection Rate/CDR)
hanya sebesar 27.43% dan masih jauh dari SPM yang ditetapkan oleh
puskesmas yaitu 100% dan target penemuan kasus TB Paru BTA positif yaitu
sebesar 70%.
B. Alternatif Pemecahan Masalah
Beberapa alternatif pemecahan masalah yang kami ajukan adalah sebagai
berikut.
1. Pemegang Program UKM TB di Puskesmas dianjurkan untuk memegang
program UKM TB saja, sehingga pemegang program lebih optimal dalam
melakukan tugasnya
2. Menjalin kerjasama antara praktik swasta (dokter dan bidan mandiri) dalam
pelaporan data terkait temuan kejadian TB Paru BTA positif dalam bentuk
program Public Private Mix dan lebih di optimalkan kerjasama antara
pemegang program dengan kader desa dalam penemuan kasus baru TB
Paru BTA Positif.

3. Menjalin kerjasama dengan bidang lain seperti Promkes dan Kesling.


Kerjasama antar pemegang program bertujuan untuk mengendalikan TB
secara komprehensif salah satunya dalam bentuk deteksi aktif dan
pencegahan pada kelompok rentan seperti pasien diabetes melitus (DM) di
kegiatan prolanis atau posyandu lansia.
4. Melakukan home visite rutin setiap bulan dalam rangka mendeteksi kontak
serumah pasien TB.
5. Petugas kesehatan dan kader lebih aktif lagi dalam pelacakan sputum
terhadap warga desa yang memeliki kontak erat dengan pasien TB Paru
BTA Positif serta melakukan screening aktif pada masyarakat umum
maupun kelompok khusus yang rentan terkena TB.
6. Lebih dioptimalkan evaluasi kerja antar pemegang program penemuan
kasus baru TB Paru BTA Positif dan kader desa setiap 3 bulan sekali, serta
lebih dioptimalkan pemberian edukasi kepada kader TB tentang penularan,
28

pencegahan penyakit TB sehingga kader desa lebih aktif dan tidak takut dan
dapat melakukan pelacakan sesegera mungkin pada warga desa yang
memiliki kontak erat dengan pasien TB Paru BTA positif.
7. Lebih dioptimalkan pemberian edukasi ke masyarakat mengenai penyakit
TBC melalui penyuluhan rutin, sehingga masyarakat dapat secara mandiri
sesegera mungkin memeriksakan dirinya apabila memiliki gejala TBC dan
warga desa yang memiliki kontak erat dengan pasien TB dapat sesegera
mungkin datang ke puskesmas secara mandiri untuk diperiksa sputumnya.
8. Edukasi secara intensif dengan lisan maupun tulisan (pemberian leaflet) di
poli rawat jalan kepada pasien TB dan keluarganya tentang penyakit, cara
penularan, pengobatan, serta pentingnya menjaga kepatuhan minum obat.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


29

A. Kesimpulan
1. Program kesehatan penemuan kasus Tuberkulosis (TB) BTA Positif tahun
2017 belum efektif dan belum memenuhi standar SPM.
2. Program kesehatan penemuan kasus Tuberkulosis (TB) BTA Positif masih
perlu diperbaiki, antara lain:
a. Keterlibatan bidan desa, kader, organisasi dan masyarakat untuk
menemukan kasus TB BTA positif.
b. Upaya untuk memotivasi dan menciptakan komunikasi yang efektif
dengan bidan desa dalam pelaksanaan program penemuan kasus TB
BTA positif, ikut untuk memberdayakan masyarakat, dan aktif dalam
melakukan penyuluhan pada masyarakat dan kader.
B. Saran
1. Bagi Puskesmas
a. Membuat program kerja screening untuk penemuan kasus
Tuberkulosis
b. Meningkatkan kerjasama antar pemegang program di puskesmas dan
kerjasama dengan praktik swasta (dokter dan bidan mandiri)
c. Menjadwalkan kegiatan penyuluhan tentang penyakit tuberculosis di
semua desa
2. Bagi bidan dan kader desa
a. Meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda dan gejala penyakit TB
b. Menjalin komunikasi yang efektif dengan masyarakat dan puskesmas
dalam rangka penanganan kasus TB
c. Memberikan penyuluhan tentang tuberkulosis di setiap momen
pertemuan warga
3. Bagi masyarakat
a. Meningkatkan pengetahuan mengenai penyakit TB
b. Berperan secara akif dalam pengendalian TB
30

DAFTAR PUSTAKA

Aditama, TY,. Chairil, AS,. 2002. Jurnal Tuberkulosis Indonesia. Jakarta:


Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. 2014. Profil Kesehatan Provinsi Jawa
Tengah. Semarang: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
Kemenkes RI. 2011. Strategi Nasional Pengendalian TB di Indonesia 2010-2014.
Jakarta: Kementrian Kesehatan RI
Kemenkes RI. 2014. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana
Tuberkulosis. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI
Kemenkes RI. 2014. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta:
Kementrian Kesehatan RI
Kementerian Kesehatan RI. 2015. Pusat Data Dan Informasi Kementerian
Kesehatan RI: Tuberkulosis Temukan Obati Sampai Sembuh. Infodatin.
World Health Organization. 2011. World Global Tuberculosis Control 2011.
Geneva: World Health Organization.