Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN FARMAKOTERAPI

KONSTIPASI DAN DIARE

Kelas : A3
Anggota Kelompok 1 :

1. Dewa Made Oka Saputra 21181107


2. Dulce De Sousa Tpoy 21181110
3. Emi Sapitri 21181113
4. Frida Damawulan 21181116
5. Hesti Tri Utami 21181119
6. Irma Astri Pebrialiani 21181122
7. LiaYulyyana 21181125
8. Louis Kevin Saekoko 21181126
9. Muhammad Bahtiar 21181116
10. Nissa Nur Sewastika 21181132
11. Ompi Elarda Hygianita 21181135
12. Reza Julian Darma 21181138
13. Rika Susanti 21181139
14. Siti Maryam 21181145
15. Tatang Suhendra 21181147
16. Windy Fawzini Karimah 21181150

SEKOLAH TINGGI FARMASI BANDUNG


PSPA 2018/2019
Bandung
A. Definisi
Definisi konstipasi
Gejala sindrom irritable bowel (IBS) / sindrom iritasi usus Sindrom yang
ditandai dengan gerakan usus yang jarang terjadi (buang air besar kurang dari 3 kali
per minggu).
Definisi diare
Ditandai dengan meningkatnya frekuensi buang air besar (biasanya lebih
dari tiga kali sehari). Diare adalah gangguan buang air besar/BAB ditandai dengan
BAB lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja cair, dapat disertai dengan
darah dan atau lendir. (Riskesdas, 2013). Diare adalah keadaan buang-buang air
besar dengan banyak cairan (mencret) dan merupakan gejala dari penyakit-penyakit
tertentu atau gangguan lain. Kasus ini banyak terdapat di negara-negara
berkembang dengan standar hidup yang rendah, dimana dehidrasi akibat diare
merupakan salah satu penyebab kematian penting pada anak-anak .
Seperti sembelit, diare bukanlah suatu penyakit melainkan merupakan
gejala dari suatu penyakit yang menjadi masalah mendasar pada beberapa orang.
Hal ini ditandai dengan peningkatan frekuensi buang air besar (biasanya lebih dari
tiga kali sehari), berat tinja, dan penurunan konsistensi tinja dibandingkan dengan
individu yang normal. Diare akut didefinisikan sebagai diare yang berlangsung
selama 14 hari atau kurang. Diare yang berlangsung lebih dari 30 hari disebut diare
kronis. Diare yang lebih dari 15 sampai 30 hari disebut sebagai diare persisten.

B. Etiologi
Etiologi konstipasi
Sembelit dapat terjadi di segala usia dan terjadi di sekitar 16% dari semua
orang dewasa dan 1/3 dari lansia dengan usia 60 tahun. Lebih dari 8 juta kunjungan
ke dokter, 1,1 juta di rawat inap, dan 5,3 juta mendapatkan resep setiap tahunnya.
Etiologi Diare
Sebagian besar kasus diare pada orang dewasa tergolong ringan dan
terselesaikan dengan cepat. Bayi dan anak-anak (terutama kurang dari 3 tahun)
sangat rentan terhadap efek dehidrasi diare, dan kejadian dalam kelompok usia ini
harus ditanggapi dengan serius.
Secara fisiologi, dalam lambung makanan dicerna menjadi bubur (chymus),
kemudian diteruskan ke usus halus untuk diuraikan lebih lanjut oleh enzim-enzim.
Setelah terjadi resorpsi, sisa chymus tersebut yang terdiri dari 90% air dan sisa-sisa
makanan yang sukar dicernakan, diteruskan ke usus besar (colon). Bakteri-bakteri
yang biasanya selalu berada di usus besar ini akan mencernakan lagi sisa-sisa (serat-
serat) tersebut, sehingga sebagian besarnya dapat diserap pula selama perjalanan
melalui usus besar.
Airnya juga diresorpsi kembali, sehingga lambat laun isi usus menjadi lebih
padat. Adanya peningkatan peristaltik usus hingga perlintasan chymus sangat
dipercepat dan masih mengandung banyak air pada saat meninggalkan tubuh
sebagai tinja, atau terjadi penumpukan cairan di usus akibat terganggunya resorpsi
air atau dan terjadinya hipersekresi, maka hal ini dapat menyebabkan terjadinya
diare.

C. Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare disebabkan oleh
beberapa gangguan seperti : gangguan osmotik, gangguan sekresi, dan gangguan
motilitas usus. Gangguan osmotik terjadi karena adanya makanan atau zat yang
tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam lumen usus
meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam lumes usus. Isi
rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya
sehingga timbul diare. Gangguan sekresi disebabkan oleh rangsangan tertentu
(misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi, air, dan
elektrolit ke dalam lumen usus dan selanjutnyatimbul diare karena peningkatan isi
lumen usus. Gangguan motilitas usus disebabkan karena adanya hiperperistaltik
usus yang akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap
makanan sehingga timbulah diare.

D. Penyebab
Penyebab Diare
- Intoleransi laktosa
- Penggunaan obat-obatan tertentu
- Infeksi virus,bakteri, dan jamur
- Inflamasi
Penyebab Konstipasi
Primer
- NTC
- STC
- Gangguan defekasi
Sekunder
- Kondisi endokrin / metabolik (diabetes melitus, hipokalemia,
hypomagnesemia, hipotiroidisme)
- Obstruksi mekanis (kanker usus besar)
- Obat-obatan (analgesik, antikolinergik, antidiare, produk yang mengandung
aluminium, CCB, klonidin, ondansetron, fenotiazin)
- Kondisi lain (diet, imobilitas, penyalahgunaan pencahar, dll

E. Penatalaksaan
1. Terapi Farmakologi
Konstipasi
- Methycellulose
- Polycarbophyl
- Docusate sodium
- Lactulose
- Bisakodil
- Senna
- Magnesium citrate
- Magnesium hydroxide
- Naloxegol
Diare
- Attapulgite
- Calcium polycarbophil
- Loperamide
- Diphenoxylate atropine
- Bismuth subsalicylate
2. Terapi Non Farmakologi
Konstipasi
- Perbanyak makanan mengandung serat
- Konsumsi lebih banyak air putih
- Perbanyak aktivitas fisik
Diare
- Diet makanan yang mudah dicerna
- Tidak mengkonsumsi makanan mengandung susu
- Pemberian oralit mencegah dehidrasi
F. Algoritma
Alogaritma Konstipasi
Alogaritma diare

G. Monitoring danEvaluasi
Perawatan Pasien dan Pemantauan Konstipasi
1. Kaji gejala pasien untuk menentukan apakah terapi pasien sesuai atau
apakah pasien harus dievaluasi oleh dokter. Tentukan jenis, frekuensi, dan
lamanya gejala; ada tidaknya sakit perut; dan mengecualikan adanya gejala
alarm.
2. Tinjau informasi yang tersedia untuk mengetahui penyebab atau jenis
konstipasi yang paling mungkin terjadi. Cantumkan faktor yang terkait dan
apa yang tampaknya membuatnya lebih baik atau lebih buruk. Kaji
kebiasaan makan, asupan cairan, dan tingkat aktivitas fisik.
3. Dapatkan riwayat pemakaian obat dan penggunaan suplemen secara
menyeluruh
4. Evaluasi pasien untuk mengetahui adanya reaksi obat yang merugikan,
alergi obat, dan interaksi obat. si.
5. Kembangkan rencana untuk menilai keefektifan penggunaan pencahar pada
kasus sembelit fungsional.
6. Berikan edukasi pasien tentang konstipasi, modifikasi diet, dan terapi obat.
Pertimbangkan untuk bertanya, "Apakah Anda meluangkan waktu untuk
buang air besar?“
Perawatan Pasien dan Pemantauan Diare
1. Kaji gejala tentukan jenis gejala, tingkat keparahan, frekuensi, dan faktor
pemburuknya. Ingatlah untuk menanyakan tentang perjalanan asing baru-
baru ini.
2. Tentukan apakah pasien mengalami dehidrasi.
3. Tentukan apakah pasien memiliki riwayat penyakit yang mungkin terkait
dengan diare.
4. Dapatkan riwayat penggunaan obat dan penggunaan suplemen diet secara
menyeluruh.
5. Tentukan apakah ada perawatan diare yang telah dicoba, termasuk
pengobatan di rumah.
6. Rujukan medis disarankan jika pasien hamil, menyusui, lebih muda dari 3
tahun atau lebih dari 70 tahun, atau memiliki banyak kondisi medis.
7. Bahas pentingnya menjaga nutrisi dengan memodifikasi diet.
H. Diskusi
1. Apakah terapi yang cocok untuk pasien penderita HIV ? pada pasien HIV
biasanya terjadi diare di berikan antibiotika, dan di berikan cairan elektrolit
karena penurunan imun, yang di terapi bukan diarenya melainkan HIV nya
sendiri yang merelaksasi usus.
2. Penyakit apa yang tidak boleh konstipasi ? stroke menyebabkan
pencernaan terganggu, harus selalu menggunakan obat agar tidak
konstipasi selama terapi maintenens harus di jaga agar tidak terjadi
konstipasi dan yang mengontrol saluran pencernaan rusak.
I. Daftar Pustaka
Dipiro, J.T., Robert, L.T., Gary, C.Y., Gary, R.M., Barbara, G.W., L, Michael
P. 2015.Pharmacotherapy a Pathopysiologi Approach. McGraw Hill
Education: Jakarta
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). 2013. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Kementerian RI tahun 2013. Departemen
Kesehatan RI: Jakarta

Anda mungkin juga menyukai