Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia dan


makhluk hidup lainnya, serta mempengaruhi kehidupan dan perkembangan
organisme yang hidup di dalamnya. Setiap tempat tinggal makhluk hidup pasti
banyak faktor-faktor yang mempengaruhi keberlangsungan proses interaksi di
dalamnya (Tunnisea, 2008). Faktor-fakor ini dapat dibagi berdasarkan komponen
ekosistemnya, yaitu faktor biotik dan faktor abiotik. Faktor biotik merupakan
faktor yang berasal dari komponen biotik atau komponen hidup dalam ekosistem
seperti manusia, hewan, dan tumbuhan, sedangkan faktor abiotik berasal dari
komponen tidak hidup seperti air, udara, dan matahari (Rahmawanto, dkk. 2015).

Kondisi semua jenis tempat tinggal makhluk hidup mulai dari air, tanah, dan
udara tidak mungkin sama setiap waktu, pada saat tertentu keadaan suatu
lingkungan akan sangat mungkin berubah bergantung pada faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Besarnya perubahan ini dapat dilihat salah satunya
menggunakan parameter fisik. Parameter fisik di dalamnya termasuk intensitas
cahaya, suhu udara, kelembaban, dan lain-lain. Pengukuran parameter fisik dapat
dilakukan dengan menggunakan berbagai macam alat (Gusmaweti dan Deswanti,
2015). Tinggi rendahnya suhu dipengaruhi oleh kedudukan matahari tehadap bumi
dan lamanya penyinaran matahari, serta ketinggian suatu tempat, semakin tinggi
suatu tempat, maka semakin rendah suhunya. Alat Ukur yang biasa digunakan
untuk mengukur suhu yaitu termometer (Hariyanto,dkk., 2008).

Kelembaban juga merupakan salah satu faktor fisika yang berkaitan erat
dengan suhu. Kelembaban menunjukkan banyaknya uap air diudara, bila ditanah
biasanya disebut kandungan air. Alat yang biasa digunakan untuk mengukur
kelembaban adalah Sling psychrometer (Hariyanto,dkk., 2008). Praktikum
parameter fisik ini pada dasarnya dapat menjadi media pembelajaran bagi
praktikan untuk mengetahui berbagai cara pengukuran parameter fisik dan untuk
mengatahui hubungan antar parameter fisik. Praktikum parameter fisik ini juga
dapat untuk mengetahui perhitungan serta analisis karakter secara statistik untuk

1
menentukan parameter fisika lingkungannya yang ada di tanah, air, dan udara
dalam suatu lokasi dan waktu yang berbeda.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah pada praktikum parameter fisik adalah sebagai berikut:
1. Apa saja parameter fisik komponen air, tanah, dan udara yang diukur?
2. Bagaimana hubungan atau korelasi antar parameter fisik?
3. Bagaimana fluktuasi harian dari suhu air dan penetrasi cahaya di Danau
Rektorat?
4. Bagaimana klasifikasi dan komposisi substrat tanah di Kolam FST?
5. Bagaimana kualitas air Danau Rektorat ditinjau dari nilai parameter fisik
yang diukur?

1.3 Tujuan
Tujuan pada praktikum parameter fisik adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui parameter fisik apa saja yang diukur
2. Mengetahui hubungan atau korelasi antar parameter fisik
3. Mengetahui fluktuasi harian dari suhu air dan penetrasi cahaya
4. Mengetahui klaifikasi dan komposisi substrat tanah
5. Mengetahui kualitas air ditinjau dari nilai parameter fisik yang diukur

1.4 Ruang Lingkup


Ruang lingkup pada praktikum parameter fisik ini, yaitu:
1. Menentukan hubungan atau korelasi dan membuat grafik persamaan
regresi suhu udara dengan kelembaban
2. Menentukan hubungan atau korelasi dan membuat grafik persamaan
regresi suhu tanah dengan kadar air dalam tanah
3. Menentukan hubungan atau korelasi dan membuat grafik persamaan
regresi intensitas cahaya dengan penetrasi cahaya
4. Menentukan fluktuasi harian dari suhu air dan penetrasi cahaya
5. Menentukan klasifikasi dan komposisi substrat tanah

1.5 Asumsi
Pengukuran parameter fisik lingkungan dilakukan dengan asumsi bahwa saat
pengukuran udara, air, dan tanah pada waktu yang berbeda akan menimbulkan
hasil yang berbeda.

1.6 Hipotesis
Hipotesis praktikum parameter fisik ini, yaitu:
H0 = Suhu air tidak memiliki pengaruh terhadap penetrasi cahaya
H1 = Suhu air memiliki pengaruh teradap penetrasi cahaya

2
(Halaman ini sengaja dikosongkan)

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Parameter
Parameter adalah segala ukuran yang dapat menggambarkan kondisi atau
keadaan dari sesuatu, misalnya untuk menggambarkan seberapa panas suatu
benda, kita menggunakan parameter panas, yaitu derajat Celcius, Kelvin dan
sebagainya. Membandingkan dua benda atau dua obyek, maka dalam percobaan
tersebut harus menggunakan parameter yang sama. Parameter fisika meliputi
temperatur, kelembaban, intensitas cahaya, komposisi substrat berdasar substrat,
dan arus. Parameter kimia meliputi salinitas, pH, DO, BOD, dan COD (Hariyanto,
dkk., 2008).

2.2. Parameter Fisik


Parameter fisik merupakan parameter yang dapat dilihat atau dirasakan
secara langsung. Parameter fisik dapat diamati akibat perubahannya, seperti
cahaya, suhu, kecerahan, kekeruhan, warna, padatan tersuspensi dan padatan
terlarut, hingga salinitas air. Parameter fisik meliputi suhu, kelembaban, intensitas
cahaya, dan kekeruhan air. Setip paremeter tersebut memiliki alat pengukurannya
masing-masing, seperti termometer, sling psychrometer, lux meter, dan lain-lain
(Michael, 2007).

2.2.1. Suhu
Suhu adalah besaran fisika yang hanya dapat dirasakan. Tubuh kita dapat
merasakan suhu dalam bentuk rasa panas atau dingin. Otak memberikan informasi
rasa dingin, ketika menyentuh es. Otak memberikan informasi rasa panas, ketika
berada di terik matahari. Suhu adalah ukuran derajat panas suatu benda (Abdullah,
2016).

4
2.2.2. Kelembaban
Kelembaban adalah konsentrasi uap air di udara.Angka konsentrasi ini dapat
diekspresikan dalam kelembaban absolut, kelembaban spesifik atau kelembaban
relatif.Alat untuk mengukur kelembaban disebut higrometer.Sebuah humidistat
digunakan untuk mengatur tingkat kelembapan udara dalam sebuah bangunan
(Suwardjo, 2008).

2.2.3. Intensitas Cahaya


Intensitas cahaya merupakan pancaran energi yang berasal dari proses
termonuklir yang terjadi di matahari, atau dapat dikatakan sumber utama untuk
proses-proses fisika atmosfer yang menentukan keadaan cuaca dan iklim di
atmosfer bumi. Radiasi surya memegang peranan penting dari berbagaai sumber
energi lain yang dimanfaatkan manusia. Cahaya bisa dikatakan sebagai suatu
bagian yang mutlak dari kehidupan manusia. Mengukur besar intensitas cahaya
dibutuhkan suatu alat ukur cahaya yang dapat digunakan untuk mengukur
besarnya cahaya dalam satuan lux (Hoesin,1983).

2.2.4. Kekeruhan Air


Kekeruhan adalah ukuran yang menggunakan efek cahaya sebagai
dasaruntuk mengukur keadaan air baku dengan skala NTU (Nephelometrix T
urbidity Unit) atau JTU (Jackson Turbidity Unit) atau FTU (Formazin Turbidity
Unit).Kekeruhan dinyatakan dalam satuan unit turbiditas, yang setara dengan 1
mg/literSiO2. Kekeruhan ini disebabkan oleh adanya benda tercampur atau benda
koloiddi dalam air. Benda tercampur atau benda koloiddi dalam air membuat
perbedaan nyata dari segi estetika maupun dari segikualitas air itu sendiri
(Effendi, 2003).

2.2.5. Kadar Air


Kadar air biasanya dinyatakan dalam banyaknya air yang hilang bila
massa tanah dikeringkan dalam oven pada suhu 1050C sampai diperoleh berat
tanah kering yang tetap. Penentuan kandungan air dalam tanah dapat ditentukan
dengan istilah nisbi, seperti basah dan kering dan istilah jenuh atau tidak jenuh.

5
Jumlah air yang ditahan oleh tanah dapat dinyatakan atas dasar berat atau isi
(Pairunan, dkk. 1997). Adapula disebut kadar air pada kapasitas lapang yaitu
apabila permukaan lapisan air berkisar 1/3 atm, dimana air memasuki tanah dan
tebal lapisan air tanah menipis, tegangan pada batas antara air dengan udara
meningkat dan akhirnya begitu besar sehingga menghentikan gerakan air
kebawah. Air dalam ruang pori makro tidak ada lagi, tetapi masih terdapat dalam
pori mikro (Foth, 1998).

2.2.6. Termometer
Alat untuk mengukur suhu adalah termometer. Satuan termometer yaitu
Celcius, Fahrenheit, Reamour, dan Kelvin. Termometer memanfaatkan sifat
termometrik zat untuk mengukur suhu. Sifat termometrik zat adalah sifat fisis zat
yang berubah jika dipanaskan, misalnya volume zat cair, panjang logam,
hambatan listrik seutas kawat platina, tekanan gas pada volume tetap, dan warna
pijar kawat (filamen) lampu (Kanginan 2002).

Gambar 2.1 Termometer


(Sumber: Sutrisno, 2012)

2.2.7. Sling Psychrometer


Sling psychrometer berfungsi untuk mengukur kelembaban nisbi udara
sesaat, psikrometer tipe sling merupakan gabungan dari termometer bola kering
dan bola basah dan pengaliran udaranya dengan diputar. Termometer pertama
mengukur suhu udara kering dan termometer kedua mengukur suhu udara basah.
Termometer bola kering ialah tabung air raksa yang dibiarkan kering sehingga
akan mengukur suhu udara sebenarnya, sedangkan termometer bola basah ialah
tabung air raksa yang dibasahi agar suhu yang terukur adalah suhu saturasi atau
titik jenuh, yaitu suhu yang diberikan agar uap air dapat berkondensasi. Kedua
bola termometer terpasang dalam tabung logam mengkilat (Kanginan, 2002).

6
Gambar 2.2 Sling Psychrometer
2.2.8. Lux Meter (Sumber: Kanginan, 2002)
Lux meter merupakan alat
untuk mengukur besarnya intensitas cahaya apada suatu ruang. Satuan ukuran Lux
Meter adalah lux. Lux meter dilengkapi sensor cahaya yang sangat peka terhadap
perubahan jumlah cahaya yang diterima. Lux meter biasanya digunakan dalam
ruangan. Kebutuhan pencahayaan setiap ruangan terkadang berbeda, semuanya
tergantung dan disesuaikan dengan kegiatan yang dilakukan. Lux meter dapat
bekerja secara otomatis mengukur intensitas cahaya dan menyesuaikannya dengan
cahaya yang dibutuhkan (Latifah, 2015).

Gambar 2.3 Lux meter


(Sumber: Poedjiadi, 1984)

2.2.9. Secchi Disk


Secchi disk adalah disk hitam dan putih yang diturunkan kedalam air dengan
tangan hingga kedalaman dimana ia menghilang dari pandangan. Sechhi disk
dikembangkan pertama kali oleh Profesor Secchi pada sekitar abad ke-19. Secchi
disk adalah alat untuk menghitung tingkat kekeruhan air secara kuantitatif.
Tingkat kekeruhan air tersebut dinyatakan dengan satuan nilai yang dikenal
dengan kecerahan Secchi disk (Jeffries dan Mills, 1996)

7
Gambar 2.4 Secchi Disk
2.2.10. Mesh
(Sumber: Jeffries, 1996)
Mesh merupakan alat untuk
mengayak suatu bahan. Pengayakan dimaksudkan untuk menghasilkan campuran
butir dengan ukuran tertentu, agar dapat diolah lebih lanjut sesuai yang
diinginkan. Pada proses pengayakan dibagi menjadi bahan kasar yang tertinggal
(aliran atas) dan bahan lebih halus yang lolos melalui ayakan (aliran bawah).
Bahan yang tertinggal adalah partikel-partikel yang berukuran lebih besar
daripada lubang ayakan, sedangkan bahan yang lolos berukuran lebih kecil dari
lubang ayakan (Bernasconi, 1995).

Gambar 2.5 Mesh


(Sumber: Ariswandi, 2017)

2.3. Hubungan antara suhu udara dan kelembaban


Suhu dan kelembaban udara sangat erat hubungannya, karena jika
kelembaban udara berubah, maka suhu juga akan berubah. Suhu udara rendah
pada musim penghujan, sedangkan kelembaban akan meningkat, memungkinkan
tumbuhnya jamur pada kertas, atau kertas menjadi bergelombang karena naik
turunnya suhu udara, (Durmishi, dkk., 2008). Kelembaban udara berbanding
terbalik dengan suhu udara. Semakin tinggi suhu udara, maka kelembaban
udaranya semakin kecil. Hal ini dikarenakan dengan tingginya suhu udara akan
terjadi presipitasi (pengembunan) molekul.
Hubungan kelembaban dengan suhu udara:

8
1. Apabila dipanaskan, udara memuai. Udara yang telah memuai menjadi lebih
ringan sehingga naik. Maka akibatnya, tekanan udara turun karena udaranya
berkurang.
2. Volume berbanding terbalik dengan tekanan
3. Kelembapan adalah konsentrasi uap air di udara. Angka konsentasi ini dapat
diekspresikan dalam kelembapan absolut, kelembapan spesifik atau
kelembapan relatif.

2.4. Hubungan antara suhu tanah dan kadar air


Suhu tanah setiap saat dipengaruhi oleh rasio energi yang diserap dan yang
dilepaskan. Hubungan perubahan konstan ini digambarkan dlam perhitungan
berdasarkan musim, bulanan, dan suhu tanah harian. Temperature harian atau jam
dari atmosfer udara dan tanah pada zona-zona yang menunjukkan penandaan
divergensi sesuai kondisi, (Brady,1984). Energi yang diserap dan dilepaskan
tersebut bergantung pada banyaknya air yang tertahan pada tanah. Menurut
Hardjowigeno (1992) bahwa air terdapat dalam tanah karena ditahan (diserap)
oleh massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air, atau karena keadaan drainase
yang kurang baik. Air dapat meresap atau ditahan oleh tanah karena adanya gaya-
gaya adhesi, kohesi, dan gravitasi. Air yang tertahan dalam tanah tersebut
berbanding terbalik dengan besarnya suhu harian tanah, semakin tinggi kadar air
dalam tanah semakin rendah suhu tanah.

2.5. Hubungan antara intensitas cahaya dan penetrasi cahaya


Kecerahan air atau intensitas cahaya erat hubungannya dan berbanding
terbalik dengan kelimpahan plankton terutama jenis phytoplankton yang berada di
dalam perairan tersebut, atau dengan kata lain semakin tinggi tingkat kecerahan
air maka kelimpahan phytoplankton akan semakin rendah dan sebaliknya semakin
rendah tingkat kecerahan air maka kelimpahan phytoplankton di perairan tersebut
semakin tinggi. Phytoplankton merupakan jenis tanaman berukuran renik yang
mempunyai zat hijau daun (klorofil) dan selalu melakukan fotosintesa dengan
bantuan sinar matahari. Produktivitas plankton akan meningkat dengan semakin
meningkatnya intensitas penyerapan cahaya matahari ke dalam perairan, sehingga

9
kelimpahan plankton akan semakin meningkat pula dan akan mengurangi tingkat
penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan, (Canter, L.W., 1977).
Penetrasi cahaya pada suatu perairan sangat dipengaruhi oleh:
1. Intensitas cahaya yang jatuh pada permukaan air,
2. Kelarutan bahan/zat-zat di dalam air, dan
3. Suspensi bahan dalam air.

10
(Halaman ini sengaja dikosongkan)

BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Tempat dan Waktu Praktikum


Praktikum Parameter Fisik dilaksanakan pada waktu dan tempat sebagai
berikut:
3.1.1. Tempat Praktikum
Praktikum Parameter Fisik dilaksanakan di Laboratorium 226 dan 227
Fakultas Sains dan Tekonologi Universitas Airlangga dengan koordinat
7°15'56"S 112°47'01.50"E, dan di Danau Rektorat Universitas Airlangga
Kampus C dengan koordinat -7.269251, 112.783241, serta di Kolam tengah

11
Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga dengan koordinat
-7.265761, 112.783437.

Gambar 3.1 Danau Rektorat Universitas Airlangga Kampus C


(Sumber: Anonim1, 2018)

Gambar 3.2 Kolam Tengah Fakultas Sains dan Teknologi Unair


(Sumber: Anonim2, 2018)

Gambar 3.3 Laboratorium 226 dan 227 Fakultas Sains dan Tekonologi
Universitas Airlangga
(Sumber: Anonim3, 2018)

12
3.1.2. Waktu Praktikum
Praktikum Parameter Fisik ini dilaksanakan dalam delapan periode,
yaitu mulai tanggal 12-21 Maret 2018 dengan waktu pengukuran pagi antara
pukul 06:30- 07:00 WIB, siang antara pukul 12:30-13:00 WIB.

3.2. Alat dan Bahan Praktikum


Alat yang digunakan dalam acara praktikum Parameter Fisik meliputi
termometer, Sling psychrometer, Soil tester, Secchi disk, Lux meter, dan Mesh
(ukuran 5, 10, 40, 60, 120, dan 200).

3.3. Cara Kerja


Parameter Fisik
 Mengukur suhu tanah, dan suhu air menggunakan termometer
 Mengukur suhu udara dan kelembaban udara menggunakan Sling
psychrometer
 Mengukur kadar air dalam tanah menggunakan soil tester
 Mengukur jarak penetrasi cahaya dalam air menggunakan Secchi disc
 Mengukur intensitas cahaya menggunakan Luxmeter
 Mengayak tanah menggunakan Mesh (ukuran 5, 10, 40, 60, 120, dan 200)

Mahasiswa mendapatkan data parameter fisik yang diambil pada pagi dan
siang, setiap hari selama delapan hari kerja

Gambar 3.4 Skema Kerja Parameter Fisik

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Parameter Fisik Komponen Air Tanah dan Udara Yang Diukur
Pengukuran pada praktikum parameter fisik dilakukan untuk mengetahui
hubungan antar parameter yang diukur, berdasarkan parameter fisik yakni
mengukur suhu udara, suhu tanah, intensitas cahaya, kadar air dalam tanah,
kelembaban serta mengamati jarak penetrasi cahaya pada perairan. Pengukuran
harian dilakukan selama 8 hari kerja secara berturut-turut. Pelaksanaan
pengukuran dilakukan di dua tempat yaitu kolam Fakultas Sains dan Teknologi

13
dan danau Universitas Airlangga. Alat yang digunakan berbeda-beda sesuai
parameter yang diukur.
Suhu udara dan kelembaban diukur dengan menggunakan sling psychrometer.
Cara mengukur suhu dan kelembaban menggunakan Sling Psychrometer adalah
dengan mengkalibrasi terlebih dahulu. Pengkalibrasian dilakukan dengan
membasahi ujung benang sampai pada ujung termometer basah, termometer basah
dibasahi agar suhu yang terukur adalah suhu saturasi/ titik jenuh yaitu, suhu yang
diperlukan agar uap air dapat berkondensasi. Pengukuran dilakukan dengan
memutar Sling Psychrometer hingga benang menjadi nasah uap selama kurang
lebih 2 menit, lalu akan muncul skala pada termometer kering dan basah. Cara
membaca suhu dan menentukan kelembaban yaitu dengan menambahkan suhu
basah san kering kemudian dibagi 2 sebagai suhu ruang. Suhu kering ditunjukkan
pada garis mendatar, suhu basah pada garis diagonal. Perpotongan antara suhu
basah dan kering merupakan kelembaban. Sling Psychrometer merupakan alat
semi-sensitif, praktikan harus berhati-hati saat memutar sling Psychrometer
selama pengambilan sampel.
Kadar air dalam tanah diukur dengan menggunakan soil tester. Soil tester
perlu dikalibrasi terlebih dahulu sebelum digunakan. Cara pengkalibrasian soil
tester yaitu dengan membasahi ujung runcing soil tester sampai pangkal yang
berwarna keemasan dengan akuades. Pengukuran dilakukan dengan menancapkan
soil tester pada tanah yang akan diukur kadar airnya. Soil tester ditancapkan
sedalam pangkal ujung meruncing yang berwarna keemasan. Nilai kadar air
didapat saat tombol putih dibagian samping soil tester ditekan, yang menyatakan
skala 3,5-8. Soil tester yang telah digunakan harus dibersihkan dan dikalibrasi
kembali. Pengukuran suhu tanah dilakukan ditempat yang sama, yaitu pada
lubang sisa tancapan soil tester untuk mengukur kadar air. Suhu tanah diukur
dengan menggunakan termometer alkohol biasa. Pengukuran dilakukan dengan
meletakkan termometer pada lubang tanah, lalu skala dibaca setelah alkohol pada
termometer konstan. Praktikan memegang termometer dengan benang diujung
termometer, tidak dianjurkan memegang termometer secara langsung saat
pengukuran karena akan mempengaruhi suhu yang diukur.

14
Intensitas cahaya diukur dengan menggunakan lux meter. Jenis lux meter
yang digunakan dalam pengukuran ini yaitu lux meter analog. Cara pengukuran
yaitu dengan mengubah range lux meter pada range tertinggi (+3000), lalu
mengarahkan sensor ke arah sumber cahaya. Dalam membaca hasil pengukuran
pada lux meter analog adalah melihat skala yang ditunjuk oleh penunjuk skala.
Lux meter memiliki dua skala, tetapi kedua skala tersebut pada dasarnya sama.
Berdasarkan pada praktikan ingin menggunakan skala yang mana. Skala yang
berada di bagian atas memiliki 60 skala, pada skala yang berada di bagian bawah
memiliki 50 skala. Tombol putar range terdapat beberapa kisaran yaitu 100, 300,
1000, dan 3000.
Jarak cahaya dapat menembus perairan atau biasa disebut penetrasi cahaya
diukur dengan menggunakan secchi disk. Penetrasi cahaya diukur dengan cara
menenggelamkan secchi disk pada perairan yang akan diukur penetrasinya sampai
hilang dari pandangan. Tali pada secchi disk yang telah ditenggelamkan ditandai
sedalam piringan secchi disk sampai tidak terlihat. Pengukuran penetrasi cahaya
dilakukan pada pagi dan siang hari, karena mengikuti sumber cahaya. Praktikan
harus mengetahui faktor lain yang mempengaruhi pengukuran penetrasi cahaya
seperti, penglihatan pada waktu pengukuran, faktor refleksi disk, warna air,
partikel lumpur dan material lain yang tersuspensi dalam air.

4.2. Bagaimana Hubungan atau Korelasi antar Parameter Fisik?


Korelasi adalah metode untuk mengetahui tingkat keeratan hubungan dua
variabel atau lebih yang digambarkan oleh besarnya koefisien korelasi. Besaran
yang diperoleh biasanya berada pada kisaran -1 sampai dengan 0, dan 0 sampai
dengan +1, atau antara -1 dan +1 (Mattjik dan Sumertajaya, 2000). Parameter fisik
merupakan parameter yang dapat dilihat atau dirasakan secara langsung. Sebanyak
tujuh parameter fisik diamati oleh praktikan yaitu penetrasi cahaya, intensitas
cahaya, kelembaban udara, suhu air, suhu tanah, kadar air dalam tanah, dan
komposisi substrat. Tiap parameter ini memiliki hubungan yang mempengaruhi
satu sama lain.

Praktikan melakukan pengukuran terhadap parameter fisik selama delapan


hari, pada tanggal 12 Maret 2018 hingga 21 Maret 2018. Pengukuran dilakukan

15
pada dua tempat yang berbeda yaitu Danau Rektorat Universitas Airlangga
Kampus C dan Kolam Tengah Fakultas Sains dan Teknologi Universitas
Airlangga.Waktu pengukuran dilakukan pada pukul 06:30-07:00 WIB untuk
pengukuran pagi hari dan pukul 12:30-13:00 WIB untuk pengukuran siang hari.
Setiap pengukuran dilakukan dengan teknik duplo.

4.2.1. Hubungan atau Korelasi Parameter Fisik Suhu Udara dengan


Kelembaban Udara.
Suhu adalah besaran fisika yang hanya dapat dirasakan, itu artinya suhu
udara adalah besaran fisika yang hanya dapat dirasakan pada udara sekitar
(Abdllah, 2016). Kelembaban adalah konsentrasi uap air di udara. Angka
konsentrasi ini dapat diekspresikan dalam kelembaban absolut, kelembaban
spesifik atau kelembaban relatif (Suwardjo, 2008). Alat yang digunakan praktikan
untuk melakukan penngukuran terhadap suhu udara dan kelembaban yaitu
dengan menggunakan sling psychrometer.

4.2.1.1. Hubungan atau Korelasi Parameter Fisik Suhu Udara dengan


Kelembaban Udara di Danau Rektorat Universitas Airlangga.
Pengukuran parameter fisik suhu udara dan kelembaban udara pertama
dilakukan di Danau Rektorat Universitas Airlangga Kampus C. Pengambilan data
dilakukan secara duplo dan bergantian antar kelompok. Hasil pengukuran yang
ada merupakan hasil dari rata-rata data sharing dengan kelompok praktikan lain.
Berikut hasil pengukuran praktikan:

Tabel 4.1 Data Pengamatan Saat Pagi Hari Di Danau Rektorat

Hari
Suhu Udara Kelembaban Udara Cuaca
ke-
1 26,625°C 84% Mendung
2 27,25°C 92% Mendung
3 25,75°C 84,75% Cerah Berawan
4 27,625°C 85% Cerah
5 27°C 85% Cerah
6 28°C 78,5% Cerah
7 25,375°C 85% Cerah Berawan

16
8 27,35°C 85% Cerah

Tabel 4.2 Data Pengamatan Saat Siang Hari Di Danau Rektorat

Hari
Suhu Udara Kelembaban Udara Cuaca
ke-
1 29°C 69%
2 29,25°C 77,5% Mendung
3 31,75°C 68,75% Terik
4 31,75°C 64% Terik
5 31,2°C 72,125% Gerimis
6 27,125°C 88% Cerah Berawan
7 32,5°C 58,5% Terik
8 32,75°C 63% Cerah Berawan

Hasil pengukuran pada tabel diatas merupakan rata-rata hasil pengukuran


yang telah dilakukan praktikan selama delapan hari pada pagi dan siang hari.
Berdasarkan data yang didapatkan praktikan maka dapat dianalisis hubungan atau
korelasi antara suhu udara dengan kelembaban udara di Danau Rektorat
Universitas Airlangga Kampus C. Menghubungkan kedua variabel ini dianalisis
melalui persamaan regresi linier sederhana. Berikut grafik persamaan regresi
liniernya:

Gambar 4.1 Grafik Regresi Antara Suhu Udara dan Kelembaban Udara di Danau
Rektorat Universitas Airlangga Kampus C

17
Berdasarkan data pegukuran, persamaan regresi liner yang didapatkan
untuk pengukuran pada pagi hari yaitu Y= -0,6968x + 103,68 dengan koefisien
determinasi (R2) sebesar 0,0278. Koefisien determinasi (R 2) ini menandakan
bahwa korelasi antara variabel suhu udara dengan variabel kelembaban udara
sebesar 2,78% sedangkan 97,22% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang
tidak diamati praktikan. Faktor-faktor lain yang memungkinkan dan tidak diamati
praktikan yang mempengaruhi hasil pengukuran dapat ditunjukkan melalui nilai
koefisien korelasi (r) yang didapatkan praktikan sebesar 0,1667. Besar nilai r ini
menunjukkan hubungan korelasi yang sangat lemah antar kedua variabel yaitu
variabel suhu udara dan variabel kelembaban udara pada pagi hari di Danau
Rektorat Universitas Airlangga Kampus C berdasarkan rentang koefisien korelasi
(Prasetyowati, 2016).

Persamaan regresi liner yang didapatkan untuk pengukuran pada siang hari
yaitu Y= -4,1609x + 197,71 dengan koefisien determinasi (R 2) sebesar 0,7922.
Koefisien determinasi (R2) ini menandakan bahwa korelasi antara variabel suhu
udara dengan variabel kelembaban udara sebesar 79,22% sedangkan 20,78%
sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diamati praktikan. Faktor-
faktor lain yang memungkinkan dan tidak diamati praktikan yang mempengaruhi
hasil pengukuran dapat ditunjukkan melalui nilai koefisien korelasi (r) yang
didapatkan praktikan sebesar 0,8939. Besar nilai r ini menunjukkan hubungan

18
korelasi yang sangat kuat antar kedua variabel yaitu variabel suhu udara dan
variabel kelembaban udara pada siang hari di Danau Rektorat Universitas
Airlangga Kampus C berdasarkan rentang koefisien korelasi (Prasetyowati, 2016).

Adanya perbedaan status korelasi pada pengukuran pagi hari dan siang
hari yaitu pada pagi hari menunjukkan korelasi yang sangat lemah, sedangkan
pada siang hari menunjukkan korelasi yang sangat kuat antara variabel suhu udara
dan variabel kelembaban udara dapat dipengaruhi oleh beberapa hal. Salah satu
faktornya yaitu adanya aktivitas lain seperti pergerakan dan berbincang-bincang di
sekitar pengukuran dengan sling psychrometer yang dapat mempengaruhi hasil
pengukuran suhu udara sebenarnya. Pemutaran sling psychrometer yang tidak
stabil juga dapat mempengaruhi besar nilai suhu udaranya. Perbedaan waktu dan
cuaca saat pengambilan data juga dapat mempengaruhi hasil pengukuran, Suhu
udara yang berubah dapat mempengaruhi besar nilai kelembaban udara, sehingga
menyebabkan hasil pengukuran yang tidak akurat.

4.2.1.2. Hubungan atau Korelasi Parameter Fisik Suhu Udara dengan


Kelembaban Udara di Kolam Tengah Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlangga.
Pengukuran parameter fisik suhu udara dan kelembaban udara
selanjutnya dilakukan di Kolam Tengah Fakultas Sains dan Teknologi Universitas
Airlangga. Pengambilan data dilakukan secara duplo dan bergantian antar
kelompok. Hasil pengukuran yang ada merupakan hasil dari rata-rata data sharing
dengan kelompok praktikan lain. Berikut hasil pengukuran praktikan:

Tabel 4.3 Data Pengamatan Saat Pagi Hari Di Kolam FST

Hari
Suhu Udara Kelembaban Udara Cuaca
ke-
1 25,125°C 89%
2 27,25°C 88,75% Mendung

19
3 26,25°C 88,5% Berawan
4 27°C 84% Cerah Berawan
5 27,125°C 84,5% Cerah Berawan
6 27°C 86% Cerah
7 25,75°C 89,25% Cerah Berawan
8 27°C 84% Cerah

Tabel 4.4 Data Pengamatan Saat Siang Hari Di Kolam FST

Hari
Suhu Udara Kelembaban Udara Cuaca
ke
1 29,75°C 79,25% Mendung Berawan
2 28,375°C 82,25%
3 32,125°C 66,25%
4 31,25°C 65,5% Cerah
5 31°C 72,5% Mendung Gerimis
6 27°C 88,75% Gerimis
7 31,375°C 57,25% Cerah
8 31,25°C 67,5% Cerah Berawan

Hasil pengukuran pada tabel diatas merupakan rata-rata pengukuran yang


telah dilakukan praktikan selama delapan hari pada pagi dan siang hari.
Berdasarkan data yang didaptkan praktikum maka dapat dianalisis hubungan atau
korelasi antara suhu udara dengan kelembaban udara di Kolam Tengah Fakultas
Sains dan Teknologi Universitas Airlangga. Menghubungkan kedua variabel ini
dianalisis malalui persamaan regresi linier sederhana. Berikut grafik persamaan
regresi liniernya:

Gambar 4.2 Grafik Regresi Antara Suhu Udara dan Kelembaban Udara di Kolam
Tengah Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga

20
Berdasarkan data pegukuran, persamaan regresi liner yang didapatkan
untuk pengukuran pada pagi hari yaitu Y= -2,0149x + 140,27 dengan koefisien
determinasi (R2) sebesar 0,4345. Koefisien determinasi (R2) ini menandakan
bahwa korelasi antara variabel suhu udara dengan variabel kelembaban udara
sebesar 43,45% sedangkan 56,55% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain
yang tidak diamati praktikan. Faktor-faktor lain yang memungkinkan dan tidak
diamati praktikan yang mempengaruhi hasil pengukuran dapat ditunjukkan
melalui nilai koefisien korelasi (r) yang didapatkan praktikan sebesar 0,6592.
Besar nilai r ini menunjukkan hubungan korelasi yang kuat antar kedua variabel
yaitu variabel suhu udara dan variabel kelembaban udara pada pagi hari di Kolam
Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga berdasarkan rentang koefisien
korelasi (Prasetyowati, 2016).

Persamaan regresi liner yang didapatkan untuk pengukuran pada siang hari
yaitu Y= -5,3222x + 233,49 dengan koefisien determinasi (R 2) sebesar 0,8182.
Koefisien determinasi (R2) ini menandakan bahwa korelasi antara variabel suhu
udara dengan variabel kelembaban udara sebesar 81,82% sedangkan 18,18%
sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diamati praktikan. Faktor-
faktor lain yang memungkinkan dan tidak diamati praktikan yang mempengaruhi
hasil pengukuran dapat ditunjukkan melalui nilai koefisien korelasi (r) yang
didapatkan praktikan sebesar 0,9045. Besar nilai r ini menunjukkan hubungan

21
korelasi yang sangat kuat antar kedua variabel yaitu variabel suhu udara dan
variabel kelembaban udara pada siang hari di Kolam Tengah Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Airlangga berdasarkan rentang koefisien korelasi
(Prasetyowati, 2016).

Kemiripan status korelasi antara pengukuran pada pagi hari dengan


pengukuran siang hari di Kolam Tengah Fakultas Sains dan Teknologi Universitas
Airlangga yaitu pada pagi hari korelasinya kuat dan pada siang hari korelasinya
sangat kuat menunjukkan kestabilan data hasil pengukuran. Kestabilan data hasil
pengukuran menunjukkan bahwa data yang didapatkan semakin akurat. Adanya
sedikit perbedaan dapat disebabkan karena perbedaan waktu dan cuaca
pengambilan data atau pengukuran. Perbedaan waktu pengukuran dapat
mempengaruhi suhu udara dan kelembaban udara.

Berdasarkan persamaan regresi linier dan korelasi keempat grafik


hubungan antara suhu udara dengan kelembaban udara menunjukkan bahwa
bahwa suhu dan kelembaban udara sangat erat hubungannya, karena jika
kelembaban udara berubah, maka suhu juga akan berubah. Di musim penghujan
suhu udara rendah, kelembaban tinggi, memungkinkan tumbuhnya jamur pada
kertas, atau kertas menjadi bergelombang karena naik turunnya suhu udara.
Kelembaban udara berbanding terbalik dengan suhu udara. Semakin tinggi suhu
udara, maka kelembaban udaranya semakin kecil. Hal ini dikarenakan dengan
tingginya suhu udara akan terjadi presipitasi (pengembunan) molekul
(Durmisihi,dkk., 2008)

4.2.2. Hubungan atau Korelasi Parameter Fisik Suhu Tanah dengan Kadar
Air dalam Tanah.
Suhu adalah besaran fisika yang hanya dapat dirasakan, itu artinya suhu
udara adalah besaran fisika yang hanya dapat dirasakan pada udara sekitar
(Abdllah, 2016). Kadar air biasanya dinyatakan dalam banyaknya air yang hilang
bila massa tanah dikeringkan dalam oven pada suhu 105 °C sampai diperoleh
berat tanah kering yang tetap. . Jumlah air yang ditahan oleh tanah dapat
dinyatakan atas dasar berat atau isi (Pairunan, dkk. 1997). Alat yang digunakan

22
dalam pengukuran suhu adalah termometer dan soil tester untuk mengukur kadar
air dalam tanah.

4.2.2.1. Hubungan atau Korelasi Parameter Fisik Suhu Tanah dengan Kadar
Air dalam Tanah di Danau Rektorat Universitas Airlangga Kampus
C.
Pengukuran parameter fisika suhu tanah dan kadar air pertama dilakukan
di Danau Rektorat Universitas Airlangga Kampus C. Pengambilan data dilakukan
secara duplo dan bergantian antar kelompok. Hasil pengukuran yang ada
merupakan hasil dari rata-rata data sharing dengan kelompok praktikan lain.
Berikut hasil pengukuran praktikan:
Tabel 4.5 Data Pengamatan Saat Pagi Hari Di Danau Rektorat

Hari
Suhu Tanah Kadar Air dalam Tanah Cuaca
ke
1 27,25°C 7,9% Mendung
2 27°C 8% Mendung
3 25,75°C 8% Cerah Berawan
4 25,52°C 7,325% Cerah
5 26,375°C 5,75% Cerah
6 27°C 8% Cerah
7 26°C 8% Cerah Berawan
8 26°C 8% Cerah

Tabel 4.6 Data Pengamatan Saat Siang Hari Di Danau Rektorat

Hari Suhu Tanah Kadar Air dalam Tanah Cuaca


ke
1 28,375°C 6,525%
2 28,5°C 6,3% Mendung
3 29°C 6,475% Terik
4 30,75°C 6,175% Terik
5 29,125°C 8% Gerimis
6 29°C 8% Cerah Berawan

23
7 29,5°C 8% Terik
8 29°C 8% Cerah Berawan

Hasil pengukuran pada tabel diatas merupakan rata-rata pengukuran yang


telah dilakukan praktikan selama delapan hari pada pagi dan siang hari.
Berdasarkan data yang didapatkan praktikum maka dapat dianalisis hubungan atau
korelasi antara suhu tanah dengan kadar air dalam tanah. Menghubungkan kedua
variabel ini dianalisis malalui persamaan regresi linier sederhana. Berikut grafik
persamaan regresi liniernya:

Gambar 4.3 Grafik Hubungan Antara Suhu Tanah dan Kadar Air dalam Tanah

Berdasarkan data pegukuran, persamaan regresi liner yang didapatkan


untuk pengukuran pada pagi hari yaitu Y= 0,1529x + 3,5963 dengan koefisien
determinasi (R2) sebesar 0,0185. Koefisien determinasi (R 2) ini menandakan
bahwa korelasi antara variabel suhu tanah dengan variabel kadar air dalam tanah
sebesar 1,85% sedangkan 98,15% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang
tidak diamati praktikan. Faktor-faktor lain yang memungkinkan dan tidak diamati
praktikan yang mempengaruhi hasil pengukuran dapat ditunjukkan melalui nilai
koefisien korelasi (r) yang didapatkan praktikan sebesar 0,1361. Besar nilai r ini
menunjukkan hubungan korelasi yang sangat lemah antar kedua variabel yaitu

24
variabel suhu tanah dan variabel kadar air dalam tanah pada pagi hari di Danau
Rektorat Universitas Airlangga Kampus C berdasarkan rentang koefisien korelasi
(Prasetyowati, 2016).

Persamaan regresi liner yang didapatkan untuk pengukuran pada siang hari
yaitu Y= -0,1066x + 10,293 dengan koefisien determinasi (R 2) sebesar 0,0079.
Koefisien determinasi (R2) ini menandakan bahwa korelasi antara variabel suhu
tanah dengan variabel kadar air dalam tanah sebesar 0,79% sedangkan 99,21%
sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diamati praktikan. Faktor-
faktor lain yang memungkinkan dan tidak diamati praktikan yang mempengaruhi
hasil pengukuran dapat ditunjukkan melalui nilai koefisien korelasi (r) yang
didapatkan praktikan sebesar 0,0888. Besar nilai r ini menunjukkan hubungan
korelasi yang sangat lemah antar kedua variabel yaitu variabel suhu tanah dan
variabel kadar air dalam tanah pada siang hari di Danau Rektorat Universitas
Airlangga Kampus C.

4.2.2.2. Hubungan atau Korelasi Parameter Fisik Suhu Tanah dengan Kadar
Air dalam Tanah di Kolam Tengah Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlngga
Pengukuran parameter fisika suhu tanah dan kadar air pertama dilakukan
di Kolam Tengan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga.
Pengambilan data dilakukan secara duplo dan bergantian antar kelompok. Hasil
pengukuran yang ada merupakan hasil dari rata-rata data sharing dengan
kelompok praktikan lain. Berikut hasil pengukuran praktikan:
Tabel 4.7 Data Pengamatan Saat Pagi Hari Di Kolam FST

Hari
Suhu Tanah Kadar Air dalam Tanah Cuaca
ke-
1 27°C 8%
2 25,625°C 6,375% Mendung
3 26,625°C 8% Berawan
4 27,5°C 8% Cerah Berawan
5 29°C 8% Cerah Berawan
6 26,25°C 8% Cerah
7 26,5°C 8% Cerah Berawan
8 26,625°C 8% Cerah

25
Tabel 4.8 Data Pengamatan Saat Siang Hari Di Kolam FST

Hari
Suhu Tanah Kadar Air dalam Tanah Cuaca
ke-
1 29°C 8% Mendung Berawan
2 29,5°C 8%
3 30,75°C 8%
4 30,625°C 7,375% Cerah
5 29,125°C 8% Mendung Gerimis
6 28°C 8% Gerimis
7 29,75°C 8% Cerah
8 29°C 8% Cerah Berawan

Hasil pengukuran pada tabel diatas merupakan rata-rata pengukuran yang


telah dilakukan praktikan selama delapan hari pada pagi dan siang hari.
Berdasarkan data yang didapatkan praktikum maka dapat dianalisis hubungan atau
korelasi antara suhu tanah dengan kadar air dalam tanah. Menghubungkan kedua
variabel ini dianalisis malalui persamaan regresi linier sederhana. Berikut grafik
persamaan regresi liniernya:

Gambar 4.4 Grafik Hubungan Antara Suhu Tanah dan Kadar Air dalam Tanah di
Kolam Tengah Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga

26
Berdasarkan data pegukuran, persamaan regresi liner yang didapatkan
untuk pengukuran pada pagi hari yaitu Y= 0,2881x + 0,0497 dengan koefisien
determinasi (R2) sebesar 0,2564. Koefisien determinasi (R2) ini menandakan
bahwa korelasi antara variabel suhu udara dengan variabel kelembaban udara
sebesar 25,64% sedangkan 74,36% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain
yang tidak diamati praktikan. Faktor-faktor lain yang memungkinkan dan tidak
diamati praktikan yang mempengaruhi hasil pengukuran dapat ditunjukkan
melalui nilai koefisien korelasi (r) yang didapatkan praktikan sebesar 0,5064.
Besar nilai r ini menunjukkan hubungan korelasi yang kuat antar kedua variabel
yaitu variabel suhu tanah dan variabel kadar air dalam tanah pada pagi hari di
Kolam Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga berdasarkan rentang
koefisien korelasi (Prasetyowati, 2016).

Persamaan regresi liner yang didapatkan untuk pengukuran pada siang hari
yaitu Y= -0,1252x + 11,61 dengan koefisien determinasi (R 2) sebesar 0,2646.
Koefisien determinasi (R2) ini menandakan bahwa korelasi antara variabel suhu
udara dengan variabel kelembaban udara sebesar 26,46% sedangkan 73,54%
sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diamati praktikan. Faktor-
faktor lain yang memungkinkan dan tidak diamati praktikan yang mempengaruhi
hasil pengukuran dapat ditunjukkan melalui nilai koefisien korelasi (r) yang
didapatkan praktikan sebesar 0,5144. Besar nilai r ini menunjukkan hubungan
korelasi yang sangat kuat antar kedua variabel yaitu variabel suhu tanah dan
variabel kadar air dalam tanah pada siang hari di Kolam Tengah Fakultas Sains
dan Teknologi Universitas Airlangga berdasarkan rentang koefisien korelasi
(Prasetyowati, 2016).

Terdapat perbedaan hasil korelasi yang didapat antara korelasi suhu tanah
dan kadar air dalam tanah yang ada pada Danau Rektorat Universitas Airlangga
Kampus C dengan hasil pengukuran di Kolam Tengah Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Airlangga. Korelasi hasil pengukuran suhu tanah dan kadar
air dalam tanah di Danau Rektorat Universitas Airlangga Kampus C menunjukkan
korelasi yang sangat lemah, sedangankan di Kolam Tengah Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Airlangga hasil pengukurannya menunjukkan korelasi yang
kuat. Hal ini dapat terjadi karena ada faktor-faktor yang tidak diperhitungkan oleh

27
praktikan. Faktor-faktor ini antara lain cuaca, ketelitian kerja, waktu, dan wilayah
pengambilan data praktikum.

Hubungan antara suhu tanah dan kadar air dalam tanah menurut
Hardjowigeno (1992) bahwa air terdapat dalam tanah karena ditahan (diserap)
oleh massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air, atau karena keadaan drainase
yang kurang baik. Air dapat meresap atau ditahan oleh tanah karena adanya gaya-
gaya adhesi, kohesi, dan gravitasi. Air yang tertahan dalam tanah tersebut
berbanding terbalik dengan besarnya suhu harian tanah, semakin tinggi kadar air
dalam tanah semakin rendah suhu tanah.

4.2.3. Hubungan atau Korelasi Paramter Fisik Intensitas Cahaya dan


Pentrasi Cahaya di Danau Rektorat Universitas Airlangga Kampus C.
Pengukuran parameter fisik intensitas cahaya dan penetrasi cahaya
dilakukan di Danau Rektorat Universitas Airlangga Kampus C. Pengambilan data
dilakukan secara duplo dan bergantian antar kelompok. Hasil pengukuran yang
ada merupakan hasil dari rata-rata data sharing dengan kelompok praktikan lain.
Berikut hasil pengukuran praktikan:

Tabel 4.9 Data Pengamatan Saat Pagi Hari Di Danau Rektorat

Hari
Intensitas Cahaya Penetrasi Cahaya Cuaca
ke-
1 3000 lux 24,5 cm Mendung
2 3000 lux 33,75 cm Mendung
3 3000 lux 33,725 cm Cerah Berawan
4 3000 lux 40,25 cm Cerah
5 3000 lux 19,75 cm Cerah
6 3000 lux 31,875 cm Cerah
7 3000 lux 34,5 cm Cerah Berawan
8 3000 lux 32,25 cm Cerah

Tabel 4.10 Data Pengamatan Saat Siang Hari Di Danau Rektorat

Hari
Intensitas Cahaya Penetrasi Cahaya Cuaca
ke-
1 3000 lux 39,5 cm
2 3000 lux 34,75 cm Mendung

28
3 3000 lux 38 cm Terik
4 3000 lux 35,5 cm Terik
5 3000 lux 35 cm Gerimis
6 3000 lux 17,25 cm Cerah Berawan
7 3000 lux 35 cm Terik
8 3000 lux 25,025 cm Cerah Berawan

Hasil pengukuran pada tabel diatas merupakan rata-rata pengukuran yang


telah dilakukan praktikan selama delapan hari pada pagi dan siang hari.
Berdasarkan data yang didapatkan praktikum maka dapat dianalisis hubungan atau
korelasi antara intensitas cahaya dengan penetrasi cahaya. Menghubungkan kedua
variabel ini dianalisis malalui persamaan regresi linier sederhana. Berikut grafik
persamaan regresi liniernya:

Gambar 4.5 Grafik Hubungan Antara Intensitas Cahaya dan Penetrasi Cahaya di
Danau Rektorat Universitas Airlangga Kampus C

Grafik hubungan antara intensitas cahaya dan penetrasi cahaya di Danau


Rektorat Universitas Airlangga menunjukkan tidak adanya regresi dan korelasi
yang terbentuk. Hal ini dapat terjadi karena variabel X yaitu intensitas cahaya
memiliki angka yang selalu sama yaitu 3000. Angka yang sama ini menyebabkan
garis grafik yang terbentuk adalah lurus, tidak ada kemiringan. Itulah mengapa
pada grafik antara hubungan intensitas cahaya dengan penetrasi cahaya di Danau

29
Rektorat Universitas Airlangga tidak memiliki regresi. Angka yang sama dalam
hasil pengukuran intensitas cahaya juga menyebabkan tidak terbentuknya korelasi
antara intensitas cahaya dan penetrasi cahaya karena angka intensitas cahaya yang
tidak pernah berubah walaupun angka penetrasi cahaya nya berubah-ubah.

Berdasarkan teori yang ada pada perairan kecerahan air erat hubungannya
dan berbanding terbalik dengan kelimpahan plankton terutama jenis
phytoplankton yang berada di dalam perairan tersebut, atau dengan kata lain
semakin tinggi tingkat kecerahan air maka kelimpahan phytoplankton akan
semakin rendah dan sebaliknya semakin rendah tingkat kecerahan air maka
kelimpahan phytoplankton di perairan tersebut semakin tinggi. Phytoplankton
merupakan jenis tanaman berukuran renik yang mempunyai zat hijau daun
(klorofil) dan selalu melakukan fotosintesa dengan bantuan sinar matahari.
Produktivitas plankton akan meningkat dengan semakin meningkatnya intensitas
penyerapan cahaya matahari ke dalam perairan, sehingga kelimpahan plankton
akan semakin meningkat pula dan akan mengurangi tingkat penetrasi cahaya
matahari ke dalam perairan (Canter, L. W., 1977).

Penetrasi cahaya pada suatu periaran sangat dipengaruhi oleh:

a) Intensitas cahaya yang jatuh pada permukaan air,


b) Kelarutan cahaya yang jatuh pada permukaan air,
c) Suspense bahan dalam air.

4.3. Fluktuasi Harian dari Suhu Air dan Penetrasi Cahaya di Danau
Rektorat
Praktikum parameter fisik suhu air dan penetrasi cahaya dilakukan di danau
rektorat selama delapan hari berturut-turut. Suhu adalah besaran yang hanya dapat
dirasakan. Alat yang digunakan untuk mengukur suhu air adalah termometer.
Penetrasi cahaya adalah kemampuan cahaya menembus kedalaman dalam perairan
yang dinyatakan dalam satuan panjang. Alat yang digunakan dalam pengukuran
penetrasi cahaya adalah secchi disk. Hasil pengukuran suhu air dan penetrasi
cahaya tidak selamanya stabil. Terjadi ketidaktetapan dalam pengukuran yang
dapat juga disebut fluktuasi.

4.3.1. Fluktuasi Harian dari Suhu Air di Danau Rektorat

30
Data yang didapatkan dari pengukuran suhu air di danau rektorat pada
pagi dan siang hari menunjukkan angka yang relatif stabil. Suhu air danau rektorat
pada siang hari yang terukur lebih tinggi daripada suhu air pada pagi hari.
Perbedaan suhu air danau rektorat pada pagi dan siang hari disebabkan oleh sudut
datang sinar matahari, yaitu sudut yang dibentuk oleh arah datangnya sinar
matahari dengan permukaan bumi. Sudut datang sinar matahari saat siang hari
tegak lurus dengan permukaan bumi, sehingga panas yang terasa lebih kuat
daripada suhu saat pagi hari, sehingga besarnya suhu air juga terpengaruh.

Gambar 4.6 Grafik Fluktuasi Harian Suhu Air dan Penetrasi Cahaya di Danau
Rektorat

Suhu air yang didapat dari pengukuran di danau rektorat pada pagi hari dan
siang hari kemudian di rata-rata. Rata-rata suhu air yang terukur pada percobaan
di danau rektorat selama delapan hari yaitu sebesar 29,7 oC. Data hasil yang
didapat kemudian dibuat dalam bentuk grafik. Grafik fluktuasi harian suhu air dari
percobaan yang dilakukan di danau rektorat menunjukkan grafik yang cukup
stabil, namun terdapat kenaikan suhu sedikit lebih besar pada hari ke tujuh yaitu
29 oC pada pagi hari dan 33,75 oC pada siang hari atau jika dirata-rata suhu nya
sebesar 31,375 oC. Besar suhu yang lebih tinggi dari hari lainnya disebabkan

31
karena pengaruh cuaca. Cuaca pada hari ke tujuh sangat cerah sehingga suhu air
pun lebih tinggi daripada hari lainnya.

4.3.2. Fluktuasi Harian dari Penetrasi Cahaya di Danau Rektorat


Data yang didapatkan dari pengukuran penetrasi cahaya di danau rektorat
pada pagi dan siang hari menunjukkan grafik yang tidak stabil. Awalnya, grafik
membentuk lengkungan seperti gunung, menandakan suatu peningkatan. Terdapat
penurunan tajam yang membuat grafik membentuk lengkungan kebawah seperti
lembah, namun garis grafik kembali meningkat, dan akhirnya kembali menurun.

Gambar 4.7 Grafik Fluktuasi Harian Suhu air dan Penetrasi Cahaya di Danau
Rektorat

Penetrasi cahaya di danau rektorat yang terukur pada hari pertama hingga
hari-hari berikutnya mengalami kenaikan secara konsisten, puncaknya yaitu pada
hari ke empat dimana penetrasi cahaya mencapai kedalaman tertinggi yaitu 40,25
cm pada pagi hari dan 35,5 cm pada siang hari atau jika dirata-rata sebesar 37,875
cm. Besar kedalaman penetrasi cahaya pada hari ke empat disebabkan oleh cuaca
yang cerah terik. Cerahnya cuaca menyebakan intensitas cahaya yang tinggi
sehingga membuat zooplankton bergerak ke dalam dan menyesuaikan diri pada
posisi kedalaman yang paling jauh. Pergerakan zooplankton ke perairan yang

32
lebih dalam menyebabkan penetrasi cahaya yang terukur tinggi. Hal ini
disebabkan karena zooplankton merupakan salah satu indikator kekeruhan, apabila
terdapat zooplankton yang mengumpul di permukaan air, akan membuat air
menjadi keruh sehingga penetrasi cahaya rendah. Selanjutnya pada hari ke lima
pengukuran, terjadi penurunan drastis pada grafik fluktuasi, besar penetrasi
cahaya yang terukur yaitu 19,75 cm pada pagi hari dan 35 cm pada siang hari atau
jika di rata-rata sebesar 27,375 cm. Penurunan grafik yang drastis disebabkan
karena cuaca pada hari ke lima tidak se terik hari sebelumnya, sehingga
zooplankton berkumpul di permukaan air dan menghalangi penetrasi cahaya.
Hari-hari berikutnya grafik mengalami kenaikan dan penurunan kembali yang
dapat disebabkan oleh cuaca dan bahan tidak terlarut lainnya seperti debu, tanah
liat, dan mikroorganisme yang mengakibatkan air menjadi keruh dan menghalangi
penetrasi cahaya pada perairan.

4.4. Klasifikasi dan Komposisi Substrat Tanah di Kolam FST


Percobaan klasifikasi dan komposisi substrat tanah di kolam FST dilakukan
dengan mengambil sampel tanah menggunakan silinder crop. Berdasarkan hasil
percobaan yang dilakukan, data yang didapat yaitu massa basah tanah sebesar
73,05 gram. Massa tanah setelah dikeringkan dengan oven yaitu sebesar 49,70
gram, dengan massa air yang dibebaskan sebesar 23,35 gram. Tanah yang sudah
dikeringkan kemudian di saring menggunakan ayakan tanah atau mesh.

Tabel 4.11 Data Analisis Komposisi Substrat Sampel Tanah di Kolam FST
Persentase
No. Massa Tanah Persentase
Diameter (mm) Tanah
Mesh Tertahan (g) Tanah Tertahan
Lolos
5 4 42,14 84,8% 15,2%
10 2 2,53 5,1% 10,1%
40 0,4 2,34 4,7% 5,4%
60 0,25 0,83 1,7% 3,7%
120 0,125 0,68 1,4% 2,4%
200 0,074 0,56 1,1% 1,2%

33
>200 <0,074 0,39 0,8% 0,5%
Massa tanah setelah diayak 49,47 gram 100 % 100 %
Massa tanah sebelum
73,05 gram
dioven
Massa tanah setelah dioven 49,70 gram
Massa air yang dibebaskan 23,35 gram

Pertama, tanah lolos dari ayakan nomor lima dengan diameter 4 mm, massa
tanah yang tertahan yaitu 42,14 gram. Tanah yang tertahan kembali disaring
dengan ayakan nomor sepuluh yang ber diameter 2 mm, tanah yang tertahan yaitu
sebesar 2,53 gram. Tanah kembali di ayak dan lolos dari ayakan nomor 40 yang
berdiameter 0,4 mm, massa yang tertahan sebesar 2,34 gram. Selanjutnya tanah
disaring dengan ayakan nomor 60 yang berdiameter 0,25 mm, massa yang
tertahan sebesar 0,83 gram. Tanah kembali disaring dari ayakan nomor 120 yang
berdiameter 0,125 mm dan massa yang tertahan sebesar 0,68 gram. Tanah yang
masih tertahan kembali di saring menggunakan ayakan nomor 200 dengan
diameter 0,074 dan massa yang tertahan sebesar 0,56 gram. Terakhir, tanah yang
masih tertahan disaring dengan ayakan nomor >200 dan massa yang tertahan
sebesar 0,39 gram. Komposisi substrat pada sampel tanah di kolam FST dalam
persentase yaitu terdiri atas 84,8% kerikil, 5,1% pasir sangat kasar, 6,4% pasir
sedang, 1,4% pasir halus, 1,1% pasir sangat halus, dan 0,8% debu.

4.5. Kualitas Air Danau Rektorat Ditinjau dari Nilai Parameter Fisik yang
Diukur
Berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82
Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air,
kriteria mutu air berdasarkan parameter fisik yang terukur adalah temperatur atau
suhu, residu terlarut, dan residu tersuspensi. Parameter fisik yang diukur dalam
praktikum ini menurut lampiran Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 82 Tahun 2001 hanya temperatur atau suhu. Suhu air di danau rektorat
rata-rata sebesar 29,7 oC. Suhu sebesar 29,7 oC termasuk dalam deviasi 5
temperatur. Batasan deviasi 5 dapat diartikan sebagai ± 5°C dari suhu normal air
alamiah.

34
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001
tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, air danau
rektorat dengan temperatur deviasi 5 dapat diklasifikasikan dalam kelas empat air.
Air yang diklasifikasikan dalam kelas empat merupakan air yang peruntukannya
dapat digunakan untuk mengairi pertanaman atau peruntukan lain yang
mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum parameter fisik ini, yaitu:
1. Parameter fisik yang diukur pada praktikum parameter fisik yaitu suhu,
kelembaban, intensitas cahaya, penetrasi cahaya dan komposisi substrat.
2. Hubungan atau korelasi antara suhu udara dengan kelembaban udara pada
Danau Rektorat di pagi hari yaitu 0,1667 sehingga menghasilkan korelasi
yang sangat lemah dan pada siang hari yaitu 0,8939 sehingga
menghasilkan korelasi yang sangat kuat, hubungan atau korelasi antara
suhu udara dengan kelembaban udara pada Kolam FST di pagi hari yaitu
0,6592 sehingga menghasilkan korelasi yang kuat dan pada siang hari
yaitu 0,9045 sehingga menghasilkan korelasi yang sangat kuat, hubungan
atau korelasi antara suhu tanah dengan kadar air dalam tanah pada Danau
Rektorat di pagi hari yaitu 0,1361 sehingga mengahasilkan korelasi yang
sangat lemah dan pada siang hari yaitu 0,0888 sehingga menghasilkan
korelasi yang sangat lemah, hubungan atau korelasi antara suhu tanah
dengan kadar air dalam tanah pada Kolam FST di pagi hari yaitu
0,5064sehingga mengahasilkan korelasi yang kuat dan pada siang hari
yaitu 0,5144 sehingga menghasilkan korelasi yang sangat kuat, serta tidak
ada hubungan atau korelasi antara intensitas cahaya dengan penetrasi
cahaya pada Danau Rektorat dan Kolam FST.
3. Fluktuasi harian dari suhu air di Danau Rektorat pada pagi hari dan siang
hari relatif stabil dan penetrasi cahaya di Danau Rektorat pada pagi hari
dan siang hari tidak stabil karena terdapat peningkatan dan penurunan.

35
4. Klaifikasi dan komposisi substrat sampel tanah di kolam FST yaitu terdiri
dari 84,8% kerikil, 5,1% pasir sangat kasar, 6,4% pasir sedang, 1,4% pasir
halus, 1,1% pasir sangat halus, dan 0,8% debu.
5. Kualitas air Danau Rektorat dari nilai parameter fisik yang diukur yaitu
suhu, dengan suhu rata-rata air Danau Rektorat sebesar 29,7 oC yang
termasuk deviasi 5 temperatur serta menurut Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 dapat diklasifikasikan dalam
kelas empat air yang diperuntukan untuk mengairi pertanaman atau
peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan
kegunaan tersebut.

5.2 Saran
Dalam praktikum kali ini sebaiknya praktikan:
1. Memperhatikan dengan baik arahan dosen dan asisten dosen
2. Lebih teliti dalam mengamati, menganalisis, dan menghitung data yang
diperoleh

36
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Mikrajuddin. 2016. Fisika Dasar. Bandung: Institut Teknologi


Bandung.

Anonim1. 2018. https://www.google.co.id/maps/ (Diakses pada tanggal 6 Maret


2018 pukul 19.45)

Anonim2. 2018. https://www.google.co.id/maps/ (Diakses pada tanggal 6 Maret


2018 pukul 19.50)

Anonim2. 2018. https://www.google.co.id/maps/ (Diakses pada tanggal 6 Maret


2018 pukul 19.55)

Canter, L.W. 1977. Environmental Impact Assessment. New York: McGraw-Hill


Book Company.

Durmishi, et al. 2008. The physical, physical-chemical and chemical parameters


determination of river water Shkumbini part A. Phil: Balwois.

Foth, H.D., 1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Edisi VI. Erlangga, Jakarta.

Gusmaweti dan Deswanti. 2015. Analisis Parameter Fisika-Kimia sebagai Salah


Satu Penentu Kualitas Perairan Batang Palangki Kabupaten Sijunjung,
Sumatera Barat. Padang: Universitas Bung Hatta.

Hariyanto, Sucipto,dkk.2008. Teori dan Praktik Ekologi.Surabaya:Universitas


Airlangga (Airlangga Press)
Mattjik, A.A. dan M. Sumertajaya. 2000. Perancangan Percobaan dengan
Aplikasi SAS dan Minitab Edisi Kedua. Bogor: Percetakan Jurusan Statistik
FMIPA IPB.

Tunnisea, Asyhar. 2008. Faktor Lingkungan Abiotik pada Kejadian Leptospirosis.


Banjarnegara: Departemen Kesehatan.
Pairunan,A.K., JL.Nanere, Arifin. S.R.Samosir, R.Tangkai Sari,
J.R.Lalopouo, B.Ibrahim, H.Asmadi., 1997. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.
Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Timur, Ujung Pandang.

37
Prasetyowati, Didin Astriani. 2016. Modul Kuliah Statistika. Palembang:
Universitas Indo Global Mandiri.

Rahmawanto, Dhani, dkk. 2015. Pengaruh Faktor Abiotik Kimia Tanah Terhadap
Supressifitas Tanah Dalam Mengendalikan Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia
Solanacearum) Pada Tanaman Tomat (Lycopersicon Esculentum Mill).
Malang: Universitas Brawijaya.

Suwardjo. 2008. Iklim dan Cuaca. Jakarta: Bumi Aksara.

38