Anda di halaman 1dari 7

Ulkus Kornea, Referat.

TINJAUAN PUSTAKA

III.1 Definisi

Ulkus Kornea adalah keadaan patologik kornea yang ditandai oleh adanya infiltrat supuratif disertai
defek kornea bergaung, diskontinuitas jaringan kornea dapat terjadi dari epitel sampai stroma.

Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea.
Ulkus kornea yang luas memerlukan penanganan yang tepat dan cepat uuntuk mencegah perluasan
ulkus dan timbulnya komplikasi seperti desmetokel, perforasi, endoftalmitis.

III.2 Etiologi

Penyakit kornea adalah penyakit mata yang serius karena menyebabkan gangguan tajam penglihatan,
bahkan dapat menyebabkan kebutaan. Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan
kornea akibat kematian jaringan kornea.

Ulkus biasanya terbentuk akibat; infeksi oleh bakteri (misalnya stafilokokus, pseudomonas, atau
pneumokokus), jamur virus (misalnya herpes) atau protozoa akantamuba, selain itu ulkus kornea
disebabkan reaksi toksik, degenerasi, alergi dan penyakit kolagen vaskuler. Kekurangan vitamin A
atau protein, mata kering (karena kelopak mata tidak menutup secara sempurna dan melembabkan
kornea).

Faktor resiko terbentuknya antara lain adalah cedera mata, ada benda asing di mata, dan iritasi akibat
lensa kontak.

TINJAUAN PUSTAKA
III.1 Definisi
Ulkus Kornea adalah keadaan patologik kornea yang ditandai oleh adanya infiltrat supuratif
disertai defek kornea bergaung, diskontinuitas jaringan kornea dapat terjadi dari epitel sampai
stroma.
Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan
kornea. Ulkus kornea yang luas memerlukan penanganan yang tepat dan cepat uuntuk mencegah
perluasan ulkus dan timbulnya komplikasi seperti desmetokel, perforasi, endoftalmitis.
III.2 Etiologi
Penyakit kornea adalah penyakit mata yang serius karena menyebabkan gangguan tajam
penglihatan, bahkan dapat menyebabkan kebutaan. Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian
permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea.
Ulkus biasanya terbentuk akibat; infeksi oleh bakteri (misalnya stafilokokus, pseudomonas, atau
pneumokokus), jamur virus (misalnya herpes) atau protozoa akantamuba, selain itu ulkus kornea
disebabkan reaksi toksik, degenerasi, alergi dan penyakit kolagen vaskuler. Kekurangan vitamin
A atau protein, mata kering (karena kelopak mata tidak menutup secara sempurna dan
melembabkan kornea).
Faktor resiko terbentuknya antara lain adalah cedera mata, ada benda asing di mata, dan iritasi
akibat lensa kontak.
III.3 Patofisiologi
Bila pertahanan normal pada mata seperti epitel kornea mengalami gangguan, resiko  terjadinya
infeksi sangat tinggi. Penyebab yang mungkin seperti trauma langsung pada kornea, penyakit alis
mata yang kronis, abnormalitas tear film yang mengganggu keseimbangan permukaan bola mata
dan trauma hipoksia akibat pemakaian lensa kontak.
Koloni bakteri patologi pada lapisan kornea bersifat antigen dan akan melepaskan enzim dan
toksin. Hal ini akan mengaktifkan reaksi antigen antibodi yang mengawali proses inflamasi. Sel-
sel PMN pada kornea akan membentuk infiltrat. PMN berfungsi memfagosit bakteri. Lapisan
kolagen stroma dihancurkan oleh bakteri dan enzim leukosit dan proses degradasi berlanjut
meliputi nekrosis dan penipisan. Karena penipisan lapisan ini, dapat terjadi perforasi
menyebabkan endoftalmitis. Bila kornea telah sembuh, dapat timbul jaringan sikatrik yang
menyebabkan penurunan tajam penglihatan. Bakteri gram positif lebih banyak menjadi penyebab
infeksi bakterialis di dunia bagian  selatan. Psaeudomonas aeruginosa paling banyak ditemukan
pada ulkus kornea dan keratitis karena lensa kontak.
Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin banyak ditentukan oleh adanya kolagenase yang
dibentuk oleh sel epitel baru dan sel radang.  Dikenal ada 2 bentuk tukak pada kornea, yaitu
sentral dan marginal/perifer.
Tukak kornea sentral disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, dan virus.  Sedangkan perifer
umumnya disebabkan oleh reaksi toksik, alergi, autoimun, dan infeksi.  Infeksi pada kornea
perifer biasanya disebabkan oleh kuman Stafilokok aureus, H. influenza, dan M. lacunata.
III.4 Jenis
III.4.1 Ulkus Kornea Sentral
Ulkus kornea sentral dapat disebabkan oleh pseudomonas, streptococcus, pneumonia, virus,
jamur, dan alergi. Pengobatan ulkus kornea secara umum adalah dengan pemberian antibiotika
yang sesuai dan sikloplegik.  Pembentukan parut akibat ulserasi kornea adalah penyebab utama
kebutaan dan gangguan penglihatan di seluruh dunia. Kebanyakan gangguan penglihatan ini
dapat dicegah, namun hanya bila diagnosis penyebabnya ditetapkan secara dini dan diobati
secara memadai. Ulserasi supuratif sentral dahulu hanya disebabkan oleh S pneumonia. Tetapi
akhir-akhir ini sebagai akibat luasnya penggunaan obat-obat sistemik dan lokal (sekurang-
kurangnya di negara-negara maju), bakteri, fungi, dan virus opurtunistik cenderung lebih banyak
menjadi penyebab ulkus kornea daripada S pneumonia.
Ulkus kornea sentral dengan hipopion
Ulkus sentral biasanya merupakan ulkus infeksi akibat kerusakan pada epitel. Lesi terletek di
sentral, jauh dari limbus vaskuler. Hipopion biasanya (tidak selalu) menyertai ulkus. Hipopion
adalah pengumpulan sel-sel radang yang tampak sebagai lapis pucat di bagian bawah kamera
anterior dan khas untuk ulkus sentral kornea bakteri dan fungi. Meskipun hipopion itu steril pada
ulkus kornea bakteri, kecuali terjadi robekan pada membran descemet, pada ulkus fungi lesi ini
mungkin mengandung unsur fungi.
Ulkus Kornea Bakterialis
Ulkus kornea yang khas biasanya terjadi pada orang dewasa yang bekerja di bidang konstruksi,
industri, atau pertanian yang memungkinkan terjadinya cedera mata. Terjadinya ulkus biasanya
karena benda asing yang masuk ke mata, atau karena erosi epitel kornea. Dengan adanya defek
epitel, dapat terjadi ulkus kornea yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen yang terdapat
pada konjungtiva atau di dalam kantong lakrimal. Banyak jenis ulkus kornea bakteri mirip satu
sama lain dan hanya bervariasi dalam beratnya penyakit. Ini terutama berlaku untuk ulkus yang
disebabkan bakteri oportunitik (misalnya Streptococcus alfa-hemolyticus, Staphylococcus
aureus, Staphylococcus epidermidis, Nocardia, dan M fortuitum-chelonei), yang menimbulkan
ulkus indolen yang cenderung menyebar perlahan dan superficial.
Ulkus sentral yang disebabkan Streptococcus beta-hemolyticus tidak memiliki ciri khas. Stroma
kornea disekitarnya sering menunjukkan infiltrat dan sembab, dan biasanya terdapat hipopion
yang berukuran sedang. Kerokan memperlihatkan kokus gram (+) dalam bentuk rantai. Obat-
obat yang disarankan untuk pengobatan adalah Cefazolin, Penisillin G, Vancomysin dan
Ceftazidime.
Ulkus kornea sentral yang disebabkan Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, dan
Streptococcus alfa-hemolyticus kini lebih sering dijumpai daripada sebelumnya, banyak
diantaranya pada kornea yang telah terbiasa terkena kortikosteroid topikal. Ulkusnya sering
indolen namun dapat disertai hipopion dan sedikit infiltrat pada kornea  sekitar. Ulkus ini sering
superficial, dan dasar ulkus teraba padat saat dilakukan kerokan. Kerokan mengandung kokus
gram (+) satu-satu, berpasangan, atau dalam bentuk rantai. Keratopati kristalina infeksiosa telah
ditemukan pada pasien yang menggunakan kortikosteroid topikal jangka panjang, penyebab
umumnya adalah Streptococcus alfa-hemolyticus.
Ulkus Kornea Fungi
Ulkus kornea fungi, yang pernah banyak dijumpai pada pekerja pertanian, kini makin banyak
diantara penduduk perkotaan, dengan dipakainya obat kortikosteroid dalam pengobatan mata.
Sebelum era kortikosteroid, ulkus kornea fungi hanya timbul bila stroma kornea kemasukan
sangat banyak mikroorganisme. Mata yang belum terpengaruhi kortikosteroid masih dapat
mengatasi masukkan mikroorganisme sedikit-sedikit.
Ulkus kornea akibat jamur (fungi)
Ulkus fungi itu indolen, dengan infiltrate kelabu, sering dengan hipopion, peradangan nyata pada
bola mata, ulserasi superficial, dan lesi-lesi satelit (umumnya infiltrat, di tempat-tempat yang
jauh dari daerah utama laserasi). Lesi utama merupakan plak endotel dengan tepian tidak teratur
dibawah lesi kornea utama, disertai dengan reaksi kamera anterior yang hebat dan abses kornea.
Kebanyakan ulkus fungi disebabkan organisme oportunistik seperti Candida, Fusarium,
Aspergillus, Penicillium, Cephalosporium, dan lain-lain. Tidak ada ciri khas yang membedakan
macam-macam ulkus fungi ini.
Kerokan dari ulkus kornea fungi, kecuali yang disebabkan Candida umumnya mengandung
unsur-unsur hifa; kerokan dari ulkus Candida umumnya mengandung pseudohifa atau bentuk
ragi, yang menampakkan kuncup-kuncup khas.
Ulkus Kornea Virus
A. Keratitis Herpes Simpleks
Keratitis herpes simpleks ada dua bentuk yaitu primer dan rekurens. Keratitis ini adalah
penyebab ulkus kornea paling umum dan penyebab kebutaan kornea paling umum di Amerika.
Bentuk epitelialnya adalah padanan dari herpes labialis yang memiliki ciri-ciri imunologik dan
patologik sama juga perjalanan penyakitnya. Perbedaan satu-satunya adalah bahwa perjalanan
klinik keratitis dapat berlangsung lama karena stroma kurang vaskuler sehingga menghambat
migrasi limfosit dan makrofag ke tempat lesi. Penyakit stroma dan endotel tadinya diduga
hanyalah respons imunologik terhadap partikel virus atau perubahan seluler akibat virus, namun
sekarang makin banyak bukti yang menunjukkan bahwa infeksi virus aktif dapat timbul di dalam
stroma dan mungkin juga sel-sel endotel selain di jaringan lain dalam segmen anterior seperti iris
dan endotel trabekel. Kortikosteroid topikal dapat mengendalikan respons peradangan yang
merusak namun memberi peluang terjadinya replikasi virus. Jadi setiap kali menggunakan
kortikosteroid topikal harus ditambahkan obat anti virus.
Temuan Klinis
Herpes simpleks primer pada mata jarang ditemukan dan bermanifestasi sebagai
blefarokonjungtivitis vesikuler kadang-kadang mengenai kornea dan umumnya terdapat pada
anak-anak muda. Terapi anti virus topikal dapat dipakai untuk profilaksis agar kornea tidak
terkena dan sebagai terapi untuk penyakit kornea.
Gejala pertama umumnya iritasi, fotofobia dan berair-air. Bila kornea bagian pusat terkena
terjadi sedikit gangguan penglihatan. Lesi paling khas adalah ulus dendritik. Ini terjadi pada
epitel kornea, memiliki bulbus terminalis pada ujungnya. Ulkus geografik adalah sebentuk
penyakit dendritik menahun yang lesi dendritiknya berbentuk lebih lebar. Tepian ulkus tidak
kabur. Sensasi kornea menurun. Lesi epitelial kornea lain yang dapat ditimbulkan HSV adalah
keratitis epitelial “blotchy”, keratitis stelata dan keratitis filamentosa.
Terapi
Terapi keratitis HSV hendaknya bertujuan menghentikan replikasi virus didalam kornea sambil
memperkecil efek merusak respons radang.
  Debridement
Cara efektif mengobati keratitis adalah debridement epitelial karena virus berlokasi di dalam
epitel. Debridement juga mengurangi beban antigenik virus pada stroma kornea. Debridement
dilakukan dengan aplikator berujung kapas khusus. Obat siklopegik seperti atropin 1% diteteskan
ke dalam sakus konjungtiva dan ditutup sedikit dengan tekanan. Pasien harus diperiksa setiap
hari dan diganti penutupnya sampai defek korneanya sembuh umumnya dalam 72 jam.
Pengobatan tambahan dengan anti virus topikal mempercepat pemulihan epitel.
  Terapi Obat
Agen anti virus topikal yang dipakai pada keratitis herpes adalah idoxuridine, trifluridine,
vidarabine dan acyclovir. Replikasi virus dalam pasien imunokompeten khususnya bila terbatas
pada epitel kornea umumnya sembuh sendiri dan pembentukan parut minimal. Dalam hal ini
penggunaan kortikosteroid topikal tidak perlu bahkan berpotensi sangat merusak. Penting sekali
ditambahkan obat anti virus secukupnya untuk mengendalikan replikasi virus
  Terapi Bedah
Keratoplasi penetrans mungkin diindikasikan untuk rehabilitasi penglihatan pasien yang
mempunyai parut kornea berat namun hendaknya dilakukan beberapa bulan setelah penyakit
herpes non aktif. Pasca bedah infeksi herpes rekurens dapat timbul karena trauma bedah dan
kortikosteroid topikal yang diperlukan untuk mencegah penolakan transplantasi kornea. Lensa
kontak lunak untuk terapi atau tarsorafi mungkin diperlukan untuk pemulihan defek epitel yang
terdapat pada keratitis herpes simpleks.
B. Keratitis Virus Varicella-Zoster
Infeksi virus varicella-zoster (VZV) terjadi dalam dua bentuk yaitu primer (varicella) dan
rekurens (zoster). Manifestasi pada mata jarang terjadi pada varicella namun sering pada zoster
oftalmik. Berbeda dari keratitis HVS rekurens yang umumnya hanya mengenai epitel, keratitis
VZV mengenai stroma dan uvea anterior pada awalnya. Lesi epitelnya keruh dan amorf kecuali
kadang-kadang ada pseudodendritlinier yang sedikit mirip dendrit pada keratitis HSV.
Kekeruhan stroma disebabkan oleh edema dan sedikit infiltrat sel yang awalnya hanya subepitel.
Kehilangan sensasi kornea selalu merupakan ciri mencolok dan sering berlangsung berbulan-
bulan setelah lesi kornea tampak sembuh. Acyclovir intravena dan oral telah dipakai dengan
hasil baik untuk mengobati herpes zoster oftalmik. Kortikosteroidtopikal mungkin diperlukan
untuk mengobati untuk mengobati keratitis berat, uveitis dan glaukoma sekunder.
III.4.2 Ulkus Kornea Perifer
Ulkus Dan Infiltrat Marginal
Kebanyakan ulkus kornea marginal bersifat jinak namun sangat sakit. Ulkus ini timbul akibat
konjungtivitis bakteri akut atau menahun khususnya blefarokonjungtivitis stafilokokus. Ulkus
timbul akibat sensitisasi terhadap produk bakteri, antibodi dari pembuluh limbus bereaksi dengan
antigen yang telah berdifusi melalui epitel kornea. Infiltrat dan ulkus marginal mulai berupa
infiltrat linier atau lonjong terpisah dari limbus oleh interval bening dan hanya pada akhirnya
menjadi ulkus dan mengalami vaskularisasi. Proses ini sembuh sendiri umumnya setelah 7
sampai 10 hari. Terapi terhadap blefaritis umumnya dapat mengatasi masalah ini, untuk beberapa
kasus diperlukan kortikosteroid topikal untuk mempersingkat perjalanan penyakit dan
mengurangi gejala. Sebelum mamekai kortikosteroid perlu dibedakan keadaan ini yang dulunya
dikenal sebagai ulserasi kornea catarrhal dari keratitis marginal.
Ulkus Mooren
Penyebab ulkus mooren belum diketahui namun diduga autoimun. Ulkus ini termasuk ulkus
marginal. Pada 60-80 kasus unilateral dan ditandai ekstravasi limbus dan kornea perifer yang
sakit dan progresif dan sering berakibat kerusakan mata. Ulkus mooren paling sering terdapat
pada usia tua namun agaknya tidak berhubungan dengan penyakit sistemik yang sering diderita
orang tua. Ulkus ini tidak responsif terhadap antibiotik maupun kortikosteroid. Belakangan ini
telah dilakukan eksisi konjungtiva limbus melalui bedah dalam usaha untuk menghilangkan
substansi perangsang. Keratoplasi tektonik lamelar telah dipakai dengan hasil baik pada kasus
tertentu. Terapi imunosupresif sistemik ada manfaatnya untuk penyakit yang telah lanjut.
II.5 Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata. Pemeriksaan diagnosis
yang biasa dilakukan adalah:
 Ketajaman penglihatan
 Tes refraksi
 Pemeriksaan slit-lamp
 Keratometri (pengukuran kornea)
 Respon refleks pupil
 Goresan ulkus untuk analisis atau kultur
 Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi
II.6 Pengobatan
Pengobatan pada ulkus korne bertujuan untuk menghalangi hidupnya bakteri dengan antibiotik
dan mengurangi reaksi radang dengan steroid. Ulkus korne adalah keadaan darurat yang harus
segera ditangani oleh spesialis mata agar tidak terjadi cedera yang lebih parah pada kornea.
Pengobatan pada ulkus tergantung kepada penyebabnya, diberikan obat tetes mata yang
mengandung antibiotik, antivirus atau anti jamur. Untuk mengurangi peradangan bisa diberikan
tetes mata kortikosteroid.
Yang harus diperhatikan dalam terapi ulkus kornea adalah bahwa ulkus kornea tidak boleh
dibebat, karena akan menaikkan suhu sehingga berfungsi sebagai inkubator, selain itu
debridement juga sangat membantu dalam keberhasilan penyembuhan. Pengobatan ulkus
dihentikan bila sudah terjadi epitelisasi dan mata terlihat tengan kecuali bila penyebabnya
pseudomonas yang memerlukan pengobatan ditambah 1-2 minggu. Pada ulkus kornea dilakukan
keratoplasti atau pembedahan apabila dengan terapi medikamentosa tidak sembuh, terjadi
jaringan parut yang menganggu penglihatan, penurunan visus yang menganggu pekerjaan
penderita, kelainan kornea yang tidak disertai kelainan ambliopia.
IV. ANALISIS KASUS
Seorang perempuan berumur 32 tahun, bekerja sebagai petani karet dengan tempat tinggal di luar
kota. Datang ke RSMH dengan keluhan utama nyeri pada mata kiri sejak 4 hari SMRS. Penderita
juga mengeluhkan penglihatan mata kirinya semakin kabur, disertai dengan mata yang memerah.
Berdasarkan keluhan utama dari penderita, yaitu adanya penurunan penglihatan disertai dengan
nyeri dan mata merah, maka dapat dipikirkan kemungkinan adanya ulkus kornea, keratitis,
glaukoma akut, uveitis anterior, endofthalmitis, dan panofthalmitis.
Berdasarkan riwayat perjalanan penyakit, terdapat riwayat trauma pada mata dan mata penderita
yang mengalami trauma tersebut menjadi kabur, merah, nyeri, berair-air. Penderita juga
mengeluh adanya bintik putih pada mata yang mengalami trauma dua hari kemudian. Diagnosa
yang sangat memungkinkan pada kasus ini adalah ulkus kornea dan keratitis.
Kemungkinan diagnosa glaukoma akut dapat disingkirkan karena pada penderita ini tidak ada
riwayat penurunan penglihatan dengan tiba-tiba dan nyeri kepala hebat yang menyertainya,
ataupun keluhan adanya penglihatan pelangi atau halo ketika melihat lampu. Selain itu,
glaukoma akut biasanya terjadi pada usia lebih dari 40 tahun.
Kemungkinan uveitis anterior sebagai diagnosa utama pada pasien ini juga dapat disingkirkan
karena pada penderita ini ditemukan adanya infiltrat dan gambaran tukak di kornea yang
menunjukkan bahwa ini adalah bukan suatu murni uveitis anterior. Kelainan pada kornea seperti
ini menunjukkan adanya suatu inflamasi dan infeksi pada kornea. Kemungkinan uveitis anterior
sebagai komplikasi diagnosa utama dapat dipertimbangkan karena infeksi pada kornea dapat
menyebar ke uvea anterior. Adanya hipopion pada mata kiri penderita ini menunjukkan terjadi
peradangan pada uvea anterior yaitu badan silier dan iris.
Kemungkinan terjadinya endofthalmitis dapat dipertimbangkan karena terdapat faktor penyebab
yaitu tukak pada kornea, akan tetapi menjadikan endofthalmitis sebagai diagnosa utama dan pasti
tidak dapat dilakukan karena segmen posterior tidak dapat dinilai. Selain itu, biasanya
endofthalmitis ditandai dengan demam.
Kemungkinan diagnosa panofthalmitis juga dapat disingkirkan karena pada penderita ini tidak
ditemukan gejala-gejala panothalmitis seperti nyeri pada pergerakan bola mata, bola mata yang
menonjol (eksoftalmos), dan penderita yang kelihatan sakit, menggigil, demam, ataupun sakit
kepala berat. Selain itu, diagnosa pasti panofthalmitis tidak dapat ditegakkan karena segmen
posterior tidak dapat dinilai.
Diagnosa yang sangat memungkinkan pada kasus ini adalah ulkus kornea dan keratitis. Diagnosa
keratitis dapat disingkirkan karena pada penderita ini bukan hanya terdapat infiltrasi sel radang
pada kornea yang ditandai oleh kekeruhan pada kornea akan tetapi terdapat juga gambaran tukak
pada kornea.
Diagnosa ulkus kornea ini dapat ditegakkan karena ditemukan adanya penurunan visus disertai
dengan mata yang merah, silau, berair, dan adanya secret. Adanya riwayat trauma sebelumnya,
semakin memperjelas kemungkinan suatu ulkus. Pada pemeriksaan oftalmologis, ditemukan
adanya mix injeksi serta ulkus ukuran diameter 10 mm.
Untuk menentukan penyebab dari ulkus, maka dapat dilihat dari pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan laboratorium. Pada pemeriksaan fisik, letak ulkus yang sentral mengandung sekret
kental dengan dasar yang keruh, memberikan kemungkinan penyebabnya adalah proses infeksi
oleh bakteri atau jamur. Karena itu dilakukan pemeriksaan mikroskopik dari kerokan kornea
dengan cara screeping dan dengan KOH 10%.
Pada waktu hasil screeping belum keluarpun, telah diberikan antifungi Natamisin. Pemberian
antifungi ini untuk mengobati dan mencegah terjadinya infeksi yang lebih luas. Karena
kemungkinan terjadinya ulkus yang disebabkan jamur yang menyebabkan kerusakan yang hebat
dan cepat pada mata dapat saja terjadi. Pemberian antibakteri spektrum luas juga dilakukan
karena mungkin saja infeksi disebabkan oleh bakteri. Gentamisin lebih ditujukan untuk bakteri
gram negatif dan Cefotaksim lebih ditujukan untuk bakteri gram positif. Pengobatan dengan
antibiotik atau antifungi selanjutnya sesuai dengan hasil kultur.
Penatalaksanaan pada pasien ini adalah irigasi dengan RL dan Povidon Iodine 0,5% dengan
tujuan untuk membersihkan mata dari sekret dan kotoran mata dan benda asing. Obat lain yang
diberikan adalah natamisin sebagai antifungi, gentamisin dan cefotaksim sebagai antibakteri dan
asam mefenamat untuk mengurangi rasa nyeri. Sulfas Atropin 1% dimaksudkan untuk menekan
peradangan dan untuk melepaskan dan mencegah terjadinya sinekia anterior, karena sulfas
atropin memiliki efek sikloplegik yang menyebabkan pupil midriasis, sehingga mencegah
perlengkatan iris pada kornea. Cen fresh diberikan sebagai air mata buatan agar terjadi
penyerapan obat tetes mata dengan baik. Vitamin C diberikan untuk reepitelisasi kornea. USG
dilakukan untuk mengetahui keadaan corpus vitreus karena funduskopi tidak dapat dilakukan
akibat kekeruhan pada kornea. Kekeruhan korpus vitreus berupa abses menunjukkan telah terjadi
endothalmitis atau panofthalmitis. Keratoplasti dilakukan setelah kornea steril dan tanda-tanda
inflamasi menghilang.
Prognosis penderita ini, quo ad vitam bonam, karena tanda-tanda vitalnya masih dalam batas
normal, sedangkan quo ad functionam dubia ad malam karena walaupun dengan pengobatan
yang tepat dan teratur ulkusnya dapat sembuh, namun meninggalkan bekas berupa sikatrik yang
dapat menimbulkan gangguan tajam penglihatan.
DAFTAR PUSTAKA
1. American Academy of Opthalmology. External Disease and Cornea. Section 11. San
Fransisco: MD Association, 2005-2006
2. Ilyas, S. Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FK UI; 2002.
3. Ilyas, S. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Balai Penerbit FK UI, Jakarta;2005.
4. Vaughan DG, Asbury T, Riordan Eva P. Oftalmologi Umum. Edisi 14. Jakarta: Widya
Medika, 2000.
5. Wijaya N. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit FK UI; 1983.

Tulisan ini dikirim pada pada Jumat, Juli 30th, 2010 4:16 pm dan di isikan dibawah info ke-FK-an. Anda dapat
meneruskan melihat respon dari tulisan ini melalui RSS 2.0 feed. r Anda dapat merespon, or trackback dari website
anda.

Anda mungkin juga menyukai