Anda di halaman 1dari 11

TENTANG GHIROH BERAMAL DAN BEKERJA (ETOS KERJA)

1. Hadits Tentang Pekerjaan Yang Paling Baik

A. Bunyi Hadits
‫ ُّبعبمييكل ُّالرركجييهل ُّبهيبييهدهه ُّبوككييلُل ُّببييييعع‬:ُّ ‫ب ُّ؟ ُّبقاَبل‬ ‫ب ُّاب ط‬
‫طيب ك‬ ‫ى ُّطالبكبس ه‬
ُ‫صلرىَّ ُّاك ُّبعلبطيهه ُّبوبسلربم ُّكسئهبل ُّاب ل‬
‫بعطنْ ُّهرفببععة ُّطبنْ ُّبرافهعع ُّابرن ُّالنربهبىَّ ُّ ب‬
‫بمطبكرطورْر ُّ) ُّبربواهك ُّطالبببزار ُّبو ب‬
(ُّ ‫صبحبحهك ُّالبحهكطيم‬
“Dari Rifa’ah bin Rafi’ berkata bahwa Nabi Muhammad SAW ditanya tentang
usaha yang bagaimana dipandang baik?. Nabi menjawab: Pekerjaan seseorang
dengan tangannya dan setiap perdagangan yang bersih dari penipuan dan hal-
hal yang diharamkan.” (HR. Al-Bazzar dan ditashihkan Hakim).1

B. Mufrodat
1.ُّ :ُّ ‫ ُّبعبمييكل ُّالرركجييهل ُّبهيبييهده‬maksud ُّ ungkapan ُّ ini ُّ ialah ُّ pekerjaan ُّ yang ُّ dilakukan
seseorang ُّ dengan ُّ tangannya ُّ sendiri ُّ (tenaganya) ُّ sendiri, ُّ seperti ُّ pertukangan
kayu, ُّ tukang ُّ batu, ُّ tukang ُّ besi, ُّ danُّ sebagainya), ُّ pertanian ُّ (bertani, ُّ berkebun,
nelayanُّ danُّ sebagainya).
2.ُّ ‫ ُّككلُل ُّببييعع ُّبمطبكرطورْر‬:ُّ maksudُّ ungkapanُّ iniُّ ialahُّ perdaganganُّ yangُّ bersihُّ dariُّ tipu
dayaُّ danُّ hal-halُّ yangُّ diharamkan.ُّ Artinyaُّ adaُّ unsurُّ penipuanُّ sepertiُّ sumpah
palsuُّ untukُّ melariskanُّ barangُّ dagangannyaُّ danُّ barangُّ yangُّ perdagangkanُّ itu
haruslah ُّ barang-barang ُّ yang ُّ diperolehkan ُّ menurut ُّ hukum ُّ agama ُّ dan ُّ hukum
negaraُّ denganُّ transaksiُّ memenuhiُّ syaratُّ sertaُّ rukunnyaُّ (ash-shon’ani,ُّ 3-4).

C. Terjemah Isi Kandungan


ُّ Cara-cara ُّ untuk ُّ memperoleh ُّ harta ُّ secara ُّ sah ُّ dapat ُّ dilakukan ُّ dengan
banyak ُّ cara. ُّ Ada ُّ yang ُّ melalui ُّ tanpa ُّ usaha, ُّ separti ُّ mendapat ُّ warisan, ُّ hibah
(pemberian) ُّ danُّ shadaqah.ُّ Ada ُّ jugaُّ yangُّ melalui ُّ usahaُّ jasa, ُّ seperti ُّ menjadi
karyawan, ُّ buruh, ُّ pelayan, ُّ tenaga ُّ profesional ُّ (teknisi, ُّ praktisi, ُّ pendidik ُّ dan

1 Al-hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani, terj. Drs. Moh. Macfuddin Aladip “Bulughul Marom”,
(Semarang, Toha Putra, 2012), hal. 300

1
peneliti) ُّ dan ُّ sebagainya. ُّ Ada ُّ juga ُّ melalui ُّ usaha ُّ bekerja ُّ sendiri, ُّ seperti
berdagang,ُّ bertani,ُّ berkebun,ُّ menjadiُّ nelayanُّ danُّ sebagainya.
ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ Al-Khuliُّ dalamُّ kitabnyaُّ al-adabُّ an-Nabawiُّ mengemukakanُّ bahwaُّ dari
berbagaiُّ caraُّ untukُّ memperolehُّ hartaُّ yangُّ diutarakanُّ diُّ atasُّ makaُّ caraُّ yanng
lebih ُّ utama ُّ adalah ُّ usaha ُّ yang ُّ dilakukan ُّ dengan ُّ tangan ُّ sendiri. ُّ Hal ُّ ini
dinyatakanُّ Nabiُّ SAWُّ dalamُّ hadisُّ yangُّ lain,ُّ dariُّ Miqdamُّ r.aُّ yangُّ diriwayatkan
olehُّ Bukhari,ُّ Abuُّ Daud,ُّ Nasa’iُّ danُّ perawiُّ hadistُّ lainnya,ُّ bahwaُّ Nabiُّ SAW
bersabdaُّ :
‫ ُّبوابرن ُّالنربهىَّ ُّا ُّبداكوبد ُّبعلبطيهه ُّالرسلبمَا ُّبكاَبن ُّيبأطبككل ُّهمطنْ ُّبعبمهل ُّيبهدهه‬,‫طبعاَبماَ ُّقبطرْ ُّبخطيررا ُّهمطنْ ُّابطن ُّيبأطككبل ُّهمطنْ ُّبعبمعل ُّبهيبهدهه‬
‫بماَ ُّاببكبل ُّاببحرْد ُّ ب‬
“Tidaklah seseorang makan sesuap makanan lebih baik daripada ia makan dari
hasil kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Daud a.s adalah makan
dari hasil kerja tangannya sendiri.”2
ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ Seseorang ُّ berusaha ُّ untuk ُّ memenuhi ُّ kebutuhan ُّ hidupnya ُّ dengan ُّ cara
bekerjaُّ kerasُّ menggunakanُّ tangannyaُّ sendiri,ُّ memerasُّ keringatُّ danُّ energidari
badannyaُّ kemudianُّ memakanُّ hasilnya,ُّ sudahُّ tentuُّ lebihُّ baikُّ dariُّ makananُّ hasil
dariُّ yangُّ baersumberُّ peninggalanُّ warisan,ُّ pemberianُّ atasُّ kemurahanُّ seseorang
atau ُّ sedekah ُّ yang ُّ diberikan ُّ kepadanya ُّ karena ُّ belas ُّ kasihan. ُّ Karena ُّ usaha
seseorang ُّ mencari ُّ nafkah ُّ dengan ُّ memeras ُّ tenaga, ُّ mencucurkan ُّ keringat ُّ itu
akanُّ berfaedahُّ sehinggaُّ kalauُّ iaُّ makanُّ apaُّ yangُّ dimakannya ُّ menjadiُّ terasa
enak,ُّ danُّ makananُّ ituُّ dicernaُّ denganُّ cepatُّ danُّ mudahُّ olehُّ pencernaanُّ sehingga
berguna ُّ bagi ُّ kesehatan ُّ tubuh. ُّ Demikianlah ُّ dijelaskan ُّ Al-Khuli ُّ dalam
mensyarahkanُّ hadisُّ ini.
Selain ُّ dari ُّ hasil ُّ kerja ُّ tangan ُّ sendiri ُّ lebih ُّ baik ُّ dalam ُّ memenuhi
kebutuhanُّ hidup,ُّ jugaُّ hadisُّ Nabiُّ SAWُّ diُّ atasُّ mengemukakanُّ bahwaُّ termasuk
usahaُّ yangُّ terbaikُّ dalam ُّ memenuhi ُّ kebutuhanُّ hidupُّ adalah ُّ perniagaan ُّ yang
bersihُّ dariُّ penipuanُّ danُّ hal-halُّ yangُّ diharamkan.ُّ Kalauُّ Nabiُّ Daudُّ a.sُّ mencari
nafkahُّ melaluiُّ usahaُّ bekerjaُّ denganُّ tangannya,ُّ dalamُّ sejarahُّ beliauُّ diceritakan
sebagaiُّ pandaiُّ besi,ُّ makaُّ Nabiُّ Muhammadُّ SAWُّ kitaُّ kenalُّ dalamُّ sejarahُّ bahwa
beliauُّ adalahُّ seorangُّ pedagang.ُّ Jadiُّ dariُّ petunjukُّ hadisُّ iniُّ jelaslahُّ bahwaُّ usaha
perdaganganُّ termasukُّ usahaُّ yangُّ utamaُّ dalamُّ pandanganُّ agama.ُّ Bagiُّ orang

2 Ibid,. hal. 779

2
yangُّ beriman,ُّ kaumُّ musliminُّ sudahُّ tentuُّ Rasulullahُّ Sawُّ adalahُّ teladanُّ yang
utamadanُّ sunnahُّ beliauُّ adalahُّ ikutanُّ bagiُّ umatnya.ُّ Menurutُّ kalanganُّ ulama
hadis(muhadditsin)ُّ bahwaُّ yangُّ dikatakanُّ sunnahُّ diangkatُّ menjadiُّ Rasul,ُّ tetapi
jugaُّ sunnahُّ beliau,ُّ prilakuُّ beliauُّ sebelumُّ menjadiُّ Rasulُّ (‘Ajjaz al-Khatib 1975:
27).ُّ Jadiُّ berdasarkanُّ pemikiranُّ kalanganُّ ahliُّ hadisُّ iniُّ makaُّ pekerjaanُّ Nabiُّ Saw
ketikaُّ masaُّ mudaُّ sebagaiُّ pedagangُّ merupakanُّ sunnahُّ yangُّ patutُّ diikuti.
Ash-Shon’ani ُّ mengemukakan ُّ bahwa ُّ dengan ُّ ungkapan ُّ (yang ُّ terbaik)
adalahُّ artinyaُّ yangُّ palingُّ halalُّ danُّ palingُّ berkat.ُّ Jadiُّ secaraُّ nyataُّ hadisُّ ini
menunjukkan ُّ bahwa ُّ usaha ُّ yang ُّ paling ُّ halal ُّ dan ُّ berkat ُّ itu ُّ adalah ُّ usaha
tangannyaُّ sendiri,ُّ kemudianُّ baruُّ usahaُّ perniagaanُّ menunjukkanُّ usahaُّ dengan
tangan ُّ sendiri ُّ itu ُّ lebih ُّ utama. ُّ Hal ُّ ini ُّ sejalan ُّ dengan ُّ hadis ُّ Miqdam ُّ di ُّ atas.
Walaupunُّ demikianُّ paraُّ ulamaُّ tetapُّ berbedaُّ pendapatُّ tentangُّ usahaُّ yangُّ paling
utama. ُّ Di ُّ antara ُّ tiga ُّ macam ُّ usaha ُّ yang ُّ bersifat ُّ pokok ُّ sebagaimana
dikemukakan ُّ al-Mawardi ُّ yaitu ُّ pertanian, ُّ perdagangan ُّ dan ُّ industri. ُّ Mazhab
Syafi’iُّ berpendapatُّ bahwaُّ usahaُّ yangُّ terbaikُّ ituُّ adalahُّ usahaُّ pertanianُّ karena
usahaُّ tersebutُّ lebihُّ dekatُّ kepadaُّ tawakkal.ُّ Danُّ karenaُّ pertanianُّ ituُّ membawa
manfaatُّ bukanُّ hanyaُّ kepadaُّ manusiaُّ secaraُّ umum,ُّ tetapiُّ jugaُّ kepadaُّ binatang-
binatang.ُّ Diُّ sampingُّ ituُّ usahaُّ pertanianُّ termasukُّ kepadaُّ usahaُّ yangُّ dilakukann
dominanُّ denganُّ tangan.

2. Hadits Tentang Larangan Meminta-minta

‫ ُّعنْ ُّالنبي ُّصلىَّ ُّا ُّعليه‬:‫حدثناَ ُّموسىَّ ُّحدثناَ ُّوهيب ُّحدثناَ ُّهشاَمَا ُّعنْ ُّأبيه ُّعنْ ُّالزبير ُّبنْ ُّالعوامَا ُّرضي ُّا ُّعنه‬
‫و ُّسلم ُّقاَل ُّلن ُّيأخذ ُّأحدكم ُّحبله ُّفيأتي ُّبحزمة ُّالحطب ُّعلىَّ ُّظهره ُّفيبيعهاَ ُّفيكف ُّا ُّبهاَ ُّوجهه ُّخير ُّلييه ُّميينْ ُّأن‬
‫يسأل ُّالناَس ُّأعطوه ُّأو ُّمنعوه‬
Artinya:ُّ telah ُّ bercerita ُّ kepadaku ُّ musa ُّ bercerita ُّ kepadaku ُّ wuhaib ُّ bercerita
kepadaku ُّ hisyaam ُّ dari ُّ bapaknya ُّ dari ُّ zabir ُّ bin ُّ ‘awaam ُّ r.a. ُّ dari ُّ nabi ُّ SAW
berkata:ُّ sungguh,ُّ seseorangُّ dariُّ kalianُّ mengambilُّ talinyaُّ laluُّ membawaُّ seikat
kayu ُّ bakar ُّ diatas ُّ punggungya, ُّ kemudian ُّ ia ُّ menjualnya ُّ sehingga ُّ dengannya
Allah ُّ menjaga ُّ wajahnya ُّ (kehormatannya), ُّ itu ُّ lebih ُّ baik ُّ baginya ُّ daripada ُّ ia

3
meminta-mintaُّ kepadaُّ orangُّ lain,ُّ merekaُّ memberinyaُّ atauُّ tidakُّ memberinya.
(H.R.ُّ Bukhari[1])
Haditsُّ iniُّ memerlukanُّ kajianُّ hermeneutika,ُّ karnaُّ didalamnyaُّ adaُّ ungkapan
secara ُّ metafora, ُّ seperti ُّ didalam ُّ kataُّ wajah,ُّ pada ُّ lafad ُّ ini ُّ masih ُّ memerlukan
pemahaman ُّ teks ُّ yang ُّ sesuai, ُّ untuk ُّ penggalian ُّ makna ُّ yang ُّ sebenarnya
memerlukanُّ pengambilanُّ maknaُّ lainُّ yangُّ sesuaiُّ denganُّ konteksnya.ُّ ُّ ُّ

B. Mufordat
`Adapunُّ susunanُّ gramatikaُّ arabnyaُّ adalah;
‫ ُّلن ُّيأخذ‬hurufُّ lamnyaُّ adalahُّ ُّ lamُّ ibtida’:
‫ ُّأحدكم‬fail:ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ
‫ ُّحبله‬maf’ulُّ bih:
‫ ُّفيأتي‬fa’ُّ athaf:
‫بحزمة ُّالحطب‬jarُّ danُّ majrurُّ mahalُّ nashab:
‫علىَّ ُّظهره‬jarُّ majrur:
َ‫فيبيعها‬faُّ athaf,ُّ fi’ilُّ madli,ُّ haُّ dlamirُّ mahalُّ nashab:
‫ ُّفيكف‬faُّ fashihah:
‫ا‬fa’il:
َ‫بها‬jarُّ danُّ majrur:
‫وجهه‬maf’ulُّ bih:
‫خير‬mubtada’:
‫له‬khabar:
‫منْ ُّأن ُّيسأل‬jarُّ majrur:
‫الناَس‬maf'ulُّ bih:
‫أو‬adadُّ athaf:

Penilaianُّ hadits
ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ Haditsُّ iniُّ dinilaiُّ shahih,ُّ denganُّ sanadُّ yangُّ muttashil,ُّ danُّ jugaُّ hadits
ini ُّ diriwayatkanُّ ُّ oleh ُّ imam ُّ bukhari, ُّ sehingga ُّ tidak ُّ diragukan ُّ lagi
keshahihannya.

4
Didalamُّ haditsُّ iniُّ tidakُّ adaُّ kataُّ yangُّ gharib,ُّ semuaُّ kataُّ yangُّ diُّ gunakanُّ adalah
ma’lumُّ semua,ُّ jadiُّ disiniُّ kamiُّ tidakُّ menampilkanُّ kataُّ yangُّ gharib.

C. Isi Kandungan
Maknaُّ haditsُّ tersebutُّ adalahُّ bahwasanyaُّ Rasulullahُّ SAWُّ menganjurkan
untukُّ kerjaُّ danُّ berusahaُّ sertaُّ makanُّ dariُّ hasilُّ keringatnyaُّ sendiri,ُّ bekerjaُّ dan
berusaha ُّ dalam ُّ Islam ُّ adalah ُّ wajib, ُّ maka ُّ setiap ُّ muslim ُّ dituntut ُّ bekerja ُّ dan
berusaha ُّ dalam ُّ memakmurkan ُّ hidup ُّ ini. ُّ Selain ُّ itu ُّ jika ُّ mengandung ُّ anjuran
untuk ُّ memelihara ُّ kehormatan ُّ diri ُّ dan ُّ menghindarkan ُّ diri ُّ dari ُّ perbuatan
meminta-minta ُّ karena ُّ Islam ُّ sebagai ُّ agama ُّ yang ُّ mulia ُّ telah ُّ memerintahkan
untukُّ tidakُّ melakukanُّ pekerjaanُّ yangُّ hina.
Dalamُّ menariُّ rizkiُّ harusُّ mengenalُّ ketekunanُّ danُّ keuletan.ُّ Rasulullah
memerintahُّ merekaُّ bekerjaُّ denganُّ kemampuanُّ kerjaُّ danُّ memberinyaُّ dorongan
agarُّ tidakُّ merasaُّ lemahُّ danُّ mengharapkanُّ belasُّ kasihanُّ orangُّ lain.ُّ Dalamُّ al-
Qur’anُّ menyatakanُّ bahwaُّ pertolonganُّ Allahُّ hanyaُّ datangُّ kepadaُّ merekaُّ yang
berusaha ُّ dengan ُّ komitmen ُّ dan ُّ kesungguhan. ُّ Dalam ُّ surat ُّ al-Isra’ ُّ ayat ُّ 84
menyatakanُّ bahwaُّ seseorangُّ harusُّ bekerjaُّ sesuaiُّ denganُّ bakatُّ danُّ kemampuan:
٨٤﴿ُّ ‫﴾قكطل ُّككلُل ُّيبطعبمكل ُّبعلبىَّ ُّبشاَهكلبتههه ُّفببرلُبككطم ُّأبطعلبكم ُّبهبمطنْ ُّهكبو ُّأبطهبدى ُّبسهبيلر‬
Artinya ُّ :ُّ Katakanlah: ُّ "Tiap-tiap ُّ orang ُّ berbuat ُّ menurut ُّ keadaannya ُّ masing-
masing."ُّ Makaُّ Tuhanmuُّ lebihُّ mengetahuiُّ siapaُّ yangُّ lebihُّ benarُّ jalannya”.ُّ (al-
Isra’ُّ :ُّ 84)

Haditsُّ Miqdamُّ binُّ Ma’dikaribaُّ tentangُّ Nabiُّ Daudُّ makanُّ dariُّ usahanyaُّ sendiri.
ْ‫حدثناَإبراهيم ُّابنْ ُّموسىَّ ُّأخبرناَ ُّعيسىَّ ُّبنْ ُّيو ُّنس ُّعنْ ُّثوعر ُّعنْ ُّخاَلدبنْ ُّمعدان ُّعنْ ُّالمقدامَا ُّرضي ُّا ُّعنيه ُّعيين‬
‫رسول ُّا ُّصلىَّ ُّا ُّعليه ُّوسلم ُّقاَل ُّماَ ُّاكل ُّاحد ُّطعاَمياَ ُّقييط ُّخييرا ُّمينْ ُّان ُّياَءكيل ُّميينْ ُّعميل ُّييده ُّوان ُّنييبي ُّايي‬
{‫داوودعليه ُّالسلمَا ُّكاَن ُّياَء ُّكل ُّمنْ ُّعمل ُّيده ُّ}اخرجه ُّالبخاَرى ُّفي ُّكتاَب ُّالمساَقة‬
Artinyaُّ :Telahُّ berceritaُّ Ibrahimُّ binُّ Musaُّ dikabarkanُّ padaُّ kitaُّ Isaُّ binُّ Yunusُّ dari
Tsaurin ُّ dari ُّ Khalid ُّ bin ُّ Ma’dan ُّ Diriwayatkan ُّ dari ُّ al-Miqdam ُّ ra ُّ : ُّ Nabi ُّ Saw
pernah ُّ bersabda, ُّ “tidak ُّ ada ُّ makanan ُّ yang ُّ lebih ُّ baik ُّ dari ُّ seseorang ُّ kecuali
makananُّ yangُّ iaُّ perolehُّ dariُّ uangُّ hasilُّ keringatnyaُّ sendiri.ُّ Nabiُّ Allah,ُّ Daudُّ as,
makanُّ dariُّ hasilُّ keringatnyaُّ sendiri.

5
Dariُّ haditsُّ tersebutُّ dijelaskanُّ bahwaُّ rizkiُّ yangُّ palingُّ baikُّ adalahُّ rizkiُّ yangُّ di
dapatُّ dariُّ jalanُّ yangُّ dihalalkanُّ Allahُّ SWT,ُّ sertaُّ dariُّ usahaُّ diriُّ sendiri.
Dengan ُّ mengambil ُّ contoh, ُّ bahwasanya ُّ Nabi ُّ Daud ُّ as ُّ adalah ُّ seorang
Nabi, ُّ akan ُّ tetapi ُّ beliau ُّ makan ُّ dari ُّ hasil ُّ tangannya ُّ sendiri. ُّ Dengan ُّ cara
membuat ُّ pakaian ُّ (rompi/baju ُّ perang) ُّ dari ُّ besi ُّ dan ُّ diperjual ُّ belikan ُّ kepada
kaumnya.
Haditsُّ Abuُّ Hurairahُّ r.aُّ tentangُّ Nabiُّ Zakariyaُّ seorangُّ tukangُّ kayu.

‫ٍ ُّعنْ ُّابىَّ ُّهريرة ُّرضي ُّا ُّعنيه ُّيقيول ُّق اَل‬،‫ٍ ُّعنْ ُّأبي ُّرافعع‬،‫ ُّحدثناَ ُّحماَدبنْ ُّسلمة ُّعنْ ُّثاَبت‬.‫حدثناَهدداب ُّبنْ ُّخاَلعد‬
{‫رسول ُّا ُّصلىاَل ُّعليه ُّوسلم ُّقاَل ُّكاَن ُّزكرياَء ُّندجاَرا ُّ}اخرجه ُّمسلم ُّفي ُّكتاَب ُّالفضاَئل‬
Artinyaُّ :Telahُّ berceritaُّ padaُّ kitaُّ Haddabُّ binُّ Kholidُّ telahُّ berceritaُّ padaُّ kita
Khammad ُّ bin ُّ Salamah ُّ dari ُّ Tsabit ُّ dari ُّ Abi ُّ Raafi’ ُّ dari ُّ Abu ُّ Hurairah ُّ ra.
Sesungguhnya ُّ Rasulullah ُّ SAW ُّ bersabda ُّ : ُّ “Bahwa ُّ Nabi ُّ Zakariya ُّ as, ُّ adalah
seorangُّ tukangُّ kayu”
Dalamُّ haditsُّ diُّ atasُّ memberiُّ ketegasanُّ bahwaُّ pekerjaanُّ apapunُّ tidak
dipandang ُّ rendah ُّ oleh ُّ Islam, ُّ hanya ُّ perlu ُّ ditekankan ُّ bahwa ُّ dalam ُّ berusaha
harusُّ memperhatikanُّ prosesnyaُّ yangُّ terkaitُّ denganُّ halalُّ danُّ haram.
Firmanُّ Allahُّ SWTُّ :
‫ض ُّبحلبلر ُّطبييباَ ر ُّبولب ُّتبتربهكعييوطا ُّكخطكييبوا ه‬
‫ت ُّالرشييطي ب‬
ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ﴿ُّ ْ‫طاَهن ُّإهنرييهك ُّلبككييطم ُّبعييكدلُو ُّلُمبهيييرْن‬ ‫س ُّكككلوطا ُّهمرماَ ُّفهي ُّالبطر ه‬
‫ياَ ُّأبلُيهباَ ُّالرناَ ك‬
١٦٨﴾
Artinya ُّ :“Hai ُّ sekalian ُّ manusia, ُّ makanlah ُّ yangُّ halal ُّ lagi ُّ baik ُّ dari ُّ apa ُّ yang
terdapatُّ diُّ bumi,ُّ danُّ janganlahُّ kamuُّ mengikutiُّ langkah-langkahُّ syaitan;”ُّ (Q.S.
Al-Baqarahُّ :ُّ 168)
Nabi ُّ adalah ُّ contoh ُّ dan ُّ suritauladan ُّ bagi ُّ umatnya ُّ seperti ُّ yang ُّ tertera
padaُّ haditsُّ iniُّ bahwaُّ Nabiُّ punُّ mengajarkanُّ kitaُّ bahwaُّ bekerjaُّ apapunُّ asalkan
halal,ُّ makaُّ kitaُّ bolehُّ melakukannya.
Nabi ُّ Muhammad ُّ sendiri ُّ pun ُّ pernah ُّ menggembala ُّ kambing ُّ milik
pendudukُّ Makkahُّ sebelumُّ menjadiُّ Nabi.ُّ Halُّ iniُّ menunjukkanُّ bahwaُّ prosesi
Nabiُّ danُّ Rasulُّ ituُّ tidakُّ merintangiُّ tugasnyaُّ sebagaiُّ pembawaُّ risalahُّ kebenaran
dariُّ Allahُّ SWT.
Halُّ iniُّ jugaُّ diُّ kuatkanُّ denganُّ Hadits,

6
‫ ُّأ د‬:‫عنْ ُّرفاَعة ُّبنْ ُّرافع ُّرضىَّ ُّا ُّعنه ُّأدن ُّرسول ُّا ُّصلدىَّ ُّا ُّعليييه ُّوسييلدم ُّكسييئل‬
‫ي ُّالكطسييب ُّأطيييب؟ ُّقيياَل ُّعمييل‬
(‫الدرجل ُّبيده ُّوكدل ُّبيع ُّمطبرر ُّ)رواه ُّالبزار ُّوصححه ُّالحاَكم‬
َّ‫عنْ ُّعبد ُّا ُّبنْ ُّعمر ُّرضىَّ ُّا ُّعنه ُّقاَل ُّقاَل ُّالدنبي ُّصلدىَّ ُّا ُّعليه ُّوسلدم ُّماَ ُّيزال ُّالدرجل ُّيسأل ُّالدناَس ُّحتدىَّ ُّيأتى‬
(‫يومَا ُّالقياَمة ُّليس ُّفىَّ ُّوجهه ُّمزعة ُّلحم ُّ)رواه ُّالبخاَري ُّو ُّمسلم‬

Hadis ُّ ini ُّ juga ُّ memotivasi ُّ manusia ُّ agar ُّ mencari ُّ nafkah ُّ memenuhi


kebutuhan ُّ hidupُّ haruslah ُّ berusaha ُّ dengan ُّ bekerja ُّ dalam ُّ lapangan ُّ kehidupan
yangُّ iaُّ mampuُّ kerjakan,ُّ baikُّ ituُّ berupaُّ bertani,ُّ berdagang,ُّ bertukang,ُّ menjadi
pelayanُّ danُّ sebagainya.ُّ Janganُّ sekali-kaliُّ mencariُّ nafkahُّ dariُّ hasilُّ meminta-
mintaُّ sebagaiُّ pengemisُّ jalanan.ُّ Jadiُّ hadiُّ iniُّ sangatُّ eratُّ hubungannyaُّ dengan
hadis ُّ pokokُّ bahasan ُّ pertama ُّ yangُّ menyatakan ُّ bahwa ُّ usaha ُّ terbaik ُّ dalam
memenuhiُّ kebutuhanُّ hidupُّ adalahُّ usahaُّ yangُّ dilakukanُّ denganُّ tanganُّ sendiri.
Demikiankah ُّ juga ُّ hadis ُّ ini ُّ memberi ُّ isyarat ُّ bahwa ُّ agama ُّ Islam
menyuruhُّ umatnyaُّ bekerjaُّ untukُّ mendapatkanُّ rezeki.ُّ Islamُّ sangatُّ menilaiُّ jelek
dan ُّ rendah ُّ martabat ُّ perilaku ُّ menjadi ُّ pengemis, ُّ untuk ُّ memenuhi ُّ kebutuhan
hidup.ُّ Bekerjaُّ mencariُّ kayuُّ bakarُّ kemudianُّ dijualُّ adalahُّ lebihُّ baikُّ daripada
mengemis.ُّ Halُّ iniُّ dinyatakanُّ Nabiُّ dalamُّ salahُّ satuُّ sabdanya,ُّ hadisُّ dariُّ Abu
Hurairahُّ r.aُّ bahwaُّ Rasulullahُّ bersabdaُّ :
‫ب‬ ‫ب ُّاببحكدككطم ُّبجطزبمةر ُّبعلبىَّ ُّظبطههرهه ُّبخطيييرْر ُّهميطنْ ُّابطن ُّيبطسيأ ببل ُّاببحيرْد ُّفبيكطعهطيهه ُّابطو ُّيبطمنبكعييهك ُّ) ُّابطخبربجييهك ُّطالبكبخيهاَر ط‬
‫ى ُّهميطنْ ُّهكبتياَ ه‬ ‫هلبطن ُّيبطك ب‬
‫(طالبكيكطو ه‬
‫ع‬
Artinya:“sesungguhnya ُّ bahwaُّ seseorangُّ diُّ antaraُّ kamuُّ yangُّ bekerjaُّ mencari
kayuُّ bakar,ُّ diikatkanُّ diُّ punggungnyaُّ kayuُّ ituُّ (gunaُّ memikulnya)ُّ adalahُّ lebih
baik ُّ daripada ُّ dia ُّ meminta-minta ُّ yangُّ kemungkinan ُّ diberi ُّ atau ُّ tidak ُّ diberi.”
(Hadisُّ iniُّ dikeluarkanُّ olehُّ Imamُّ Bukhariُّ dalamُّ Kitabُّ al-Buyu’

7
PEMBAHASAN

Bekerja ُّ adalah ُّ kewajiban ُّ setiap ُّ muslim. ُّ Sebab ُّ dengan ُّ bekeja ُّ setiap


muslim ُّ dapat ُّ mengaktualisasikan ُّ kemuslimannya ُّ sebagai ُّ manusia, ُّ makluk
ciptaanُّ Allahُّ SWTُّ yangُّ palingُّ sempurnaُّ danُّ muliaُّ diُّ mukaُّ bumi.
Jikaُّ setiapُّ muslimُّ bekerjaُّ denganُّ baikُّ ,ُّ makaُّ iaُّ sudahُّ melakukanُّ ibadah
kepadaNyaُّ setiapُّ pekejaanُّ baikُّ yangُّ dilakukanُّ muslimُّ karenaُّ Allah,ُّ berartiُّ ia
sudahُّ melakukanُّ kegiatanُّ jihadُّ fiُّ sabilillah.ُّ Firmanُّ Allahُّ swtُّ dalamُّ suratُّ al-
Jumuah;
‫فإذا ُّقضيت ُّالصلوة ُّفاَنتشروا ُّفىَّ ُّالرض ُّوابتغوا ُّمنْ ُّفضل ُّا ُّواذكروا ُّا ُّكثيرا ُّلعلكم ُّتفلحون‬

Apabilaُّ sudahُّ ditunaikanُّ shalat,makaُّ hendaklahُّ kamuُّ bertebaranُّ diُّ muka


bumiُّ danُّ carilahُّ karuniaُّ Allahُّ danُّ ingatlahُّ Allahُّ sebanyakُّ banyaknyaُّ supaya
kamuُّ beruntungُّ (QS.ُّ al-Jumuah,ُّ 62ُّ ).
Untukُّ menggapaiُّ keberuntunganُّ hidup,ُّ tidaklahُّ hanyaُّ cukupُّ tenggelam
dalamُّ masalahُّ ibadahُّ formalُّ atauُّ ritualُّ saja.ُّ Tetepiُّ hendaknyaُّ dimanifestasikan
dalamُّ ibadahُّ aktual.ُّ Tafsiranُّ ayatُّ “ُّ bertebaranُّ diُّ mukaُّ bumi”ُّ memberikanُّ ُّ efek
batin ُّ untuk ُّ menjadikan ُّ diri ُّ kita ُّ sebagai ُّ sosok ُّ manusia ُّ yang ُّ memiliki
achievementُّ tinggi.ُّ
Bekerja ُّ adalah ُّ fitrah ُّ dan ُّ sekaligus ُّ merupakan ُّ salah ُّ satu ُّ identitas
manusia, ُّ sehimgga ُّ bekerja ُّ yangُّ didasarkan ُّ pada ُّ prinsip-ُّ prinsip ُّ iman ُّ tauhid
bukanُّ hanyaُّ menunjukkanُّ fitrahُّ seorangُّ muslim,ُّ tetapiُّ sekaligusُّ meninggikan
martabat ُّ dirirnya ُّ sebagai ُّ hamba ُّ Allah, ُّ yang ُّ mengelola ُّ seluruh ُّ alam ُّ sebagai
bentukُّ dariُّ caraُّ dirinyaُّ mensyukuriُّ kenikmatanُّ dariُّ Allah.
Apabilaُّ bekerjaُّ ituُّ sebagaiُّ fitrahُّ manusia,ُّ makaُّ jelaslahُّ bahwaُّ manusia
yangُّ engganُّ bekerja,ُّ malasُّ danُّ tidakُّ mendayagunakanُّ seluruhُّ potensiُّ diriُّ untuk
menyatakanُّ keimanananُّ dalamُّ bentukُّ amalُّ kreatif,ُّ sesunguhnyaُّ diaُّ ituُّ melawan
fitrah ُّ dirinya ُّ sendiri, ُّ menurunkan ُّ derajat ُّ identitas ُّ sebagai ُّ manusia, ُّ untuk
kemudianُّ runtuhُّ dalamُّ kedudukanُّ yangُّ lebihُّ hinaُّ dariُّ binatang.
Perbuatan ُّ suka ُّ memberi ُّ atau ُّ enggan ُّ meminta-minta ُّ dalam ُّ memenuhi
kebutuhanُّ hidup,ُّ sangatlahُّ dipujiُّ olehُّ agama.ُّ Halُّ iniُّ jelasُّ dikatakanُّ Nabiُّ SAW

8
dalam ُّ hadis ُّ di ُّ atas ُّ bahwa ُّ Nabi ُّ mencela ُّ orang ُّ yang ُّ suka ُّ meminta-minta
(mengemis) ُّ karena ُّ perbuatan ُّ tersebut ُّ merendahkan ُّ martabat ُّ kehormatan
manusia. ُّ Padahal ُّ Allah ُّ sendiri ُّ sudah ُّ memuliakan ُّ manusia, ُّ seperti ُّ terungkap
melaluiُّ firman-Nyaُّ yangُّ sudahُّ tercantumُّ diatas.
Demikiankah ُّ juga ُّ hadis ُّ yang ُّ memberi ُّ isyarat ُّ bahwa ُّ agama ُّ Islam
menyuruhُّ umatnyaُّ bekerjaُّ untukُّ mendapatkanُّ rezeki.ُّ Islamُّ sangatُّ menilaiُّ jelek
dan ُّ rendah ُّ martabat ُّ perilaku ُّ menjadi ُّ pengemis, ُّ untuk ُّ memenuhi ُّ kebutuhan
hidup.ُّ Bekerjaُّ mencariُّ kayuُّ bakarُّ kemudianُّ dijualُّ adalahُّ lebihُّ baikُّ daripada
mengemis.
Bekerjaُّ untukُّ mencariُّ karuniaُّ Allah,ُّ menjebolُّ kemiskinanُّ meningkatkan
taraf ُّ hidupُّ dan ُّ martabat ُّ serta ُّ harga ُّ diri ُّ adalah ُّ merupakan ُّ nilai ُّ ibadah ُّ yang
esensial,ُّ karenaُّ Nabiُّ bersabda:ُّ “kemiskinan itu sesungguhnya lebih mendekati
kepada kekufuran’.
Bekerja ُّ adalah ُّ segala ُّ aktifitas ُّ dinamis ُّ dan ُّ mempunyai ُّ tujuan ُّ untuk
memenuhi ُّ kebutuhan ُّ tertentu ُّ (jasmani ُّ dan ُّ rohani) ُّ dan ُّ didalam ُّ mencapai
tujuanya ُّ tersebut ُّ dia ُّ berupaya ُّ dengan ُّ penuh ُّ kesunguhan ُّ untuk ُّ mewujudkan
prestasiُّ ُّ yangُّ optimalُّ sebagaiُّ buktiُّ pengabdianُّ dirinyaُّ kepadaُّ Allah.ُّ Jadi,ُّ etos
kerja ُّ adalah ُّ dorongan,ُّ kehendak, ُّ atau ُّ prinsip ُّ bekerjaُّ yang ُّ muncul ُّ dari ُّ jiwa
individuُّ untukُّ melakukanُّ suatuُّ kegiatan.
Dikatakan ُّ sebagai ُّ aktifitas ُّ dinamis, ُّ mempunyai ُّ makna ُّ bahwa ُّ seluruh
kegiatanُّ yangُّ dilakukanُّ sebagaiُّ seorangُّ muslimُّ harusُّ penuhُّ denganُّ tantangan,
tidak ُّ monoton, ُّ dan ُّ selalu ُّ berupaya ُّ untuk ُّ mencari ُّ terobosan-terobosan ُّ baruُّ ُّ
(innovative)ُّ danُّ tidakُّ merasaُّ puasُّ dalamُّ berbuatُّ kebaikan.
Pokoknyaُّ harusُّ tertanamُّ dalamُّ keyakinanُّ kitaُّ bahwaُّ bekerjaُّ ituُّ adalah
amanahُّ Allah,ُّ sehinggaُّ adaُّ semacamُّ sikapُّ mentalُّ yangُّ tegasُّ padaُّ diriُّ pribadi
muslimُّ bahwa;
1.ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ Karenaُّ bekerjaُّ adalahُّ amanah,ُّ makaُّ diaُّ akanُّ bekerjaُّ denganُّ kerinduan
danُّ tujuanُّ agarُّ pekerjaannyaُّ tersebutُّ menghasilkanُّ sesuatuُّ yangُّ optimal.
2.ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ Adaُّ semacamُّ kebahagianُّ dalamُّ melaksanakanُّ pekerjaan,ُّ karenaُّ dengan
bekerjaُّ diaُّ telahُّ melaksanakanُّ amanahُّ Allah.

9
3.ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ Tumbuh ُّ kreativitas ُّ untuk ُّ mengembangkan ُّ dan ُّ memperkaya ُّ dan
memperluasُّ pekerjaanya.
4.ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ ُّ Adaُّ rasaُّ maluُّ hatiُّ apabilaُّ pekerjaanyaُّ tidakُّ diaُّ laksanakanُّ denganُّ baik,
karenaُّ halُّ iniُّ berartiُّ sebuahُّ pengkhianatanُّ terhadapُّ amanahُّ Allah

KESIMPULAN

Dalamُّ Kamusُّ Besarُّ Bahasaُّ Indonesia,ُّ kataُّ etosُّ artinyaُّ pandanganُّ hidup
dalam ُّ suatuُّ golonganُّ secaraُّ khusus.3ُّ Sedangkanُّ kataُّ kerja,ُّ artinya ُّ perbuatan
melakukanُّ sesuatuُّ kegiatanُّ yangُّ bertujuanُّ mendapatkanُّ hasil.4
Menurut ُّ Franz ُّ Magnis ُّ dan ُّ Suseno ُّ berpendapat ُّ bahwaُّ etosُّ adalah
semangat ُّ dan ُّ sikap ُّ batin ُّ tetap ُّ seseorang ُّ atau ُّ sekelompok ُّ orang ُّ sejauh ُّ di
dalamnyaُّ termuatُّ tekananُّ moralُّ danُّ nilai-nilaiُّ moralُّ tertentu. 5 Menurutُّ Clifford
Geertzُّ berpendapatُّ bahwaُّ etosُّ adalahُّ sebagaiُّ sikapُّ yangُّ mendasarُّ terhadapُّ diri
danُّ duniaُّ yangُّ dipancarkanُّ hidup.6
Menurut ُّ Al-Ghazali ُّ dalam ُّ bukunyaُّ “Ihya-u ‘ulumuddin”,
pengertianُّ etosُّ (khuluk) ُّ adalah ُّ suatu ُّ sifat ُّ yang ُّ tetap ُّ pada ُّ jiwa, ُّ yang ُّ dari
padanyaُّ timbulُّ perbuatan-perbuatanُّ denganُّ mudahُّ denganُّ tidakُّ membutuhkan
pemikiran.
Kamusُّ Wikipediaُّ menyebutkanُّ bahwaُّ etosُّ berasalُّ dariُّ bahasaُّ Yunani;
akar ُّ katanya ُّ adalah ُّ “ethikos”, ُّ yang ُّ berarti ُّ moral ُّ atau ُّ menunjukkan ُّ karakter
moral. ُّ Dalam ُّ bahasa ُّ Yunani ُّ kuno ُّ dan ُّ modern,ُّ etosُّ punya ُّ arti
sebagaiُّ Karakteristik, ُّ sikap, ُّ kepercayaan, ُّ dan ُّ kebiasaan, ُّ yang ُّ bersifat ُّ khusus
tentangُّ seorangُّ individuُّ atauُّ sekelompokُّ manusia.
Dalamُّ memenuhiُّ kebutuhanُّ hidup,ُّ agamaُّ mewajibkanُّ manusiaُّ berusaha
denganُّ bekerjaُّ menurutُّ kemampuanُّ yangُّ adaُّ padaُّ dirinyaُّ untukُّ mendapatkan

3 Y.S. Amran Chaniago, Kamus Lengkap Bahasa Indonesai, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997),
hlm.187.
4 Ibid,.hlm.307.
5 Sudirman Tebba, Membangun Etos Kerja Dalam Perspektif Tasawuf. (Bandung. Pustaka
Nusantara Publishing, 2003), hlm. 1
6 Ibid., hlm. 12

10
rezeki. ُّ Pekerjaan ُّ dengan ُّ menjadi ُّ peminta-minta ُّ dipandang ُّ agama ُّ sebagai
pekerjaanُّ yangُّ merendahkanُّ martabatُّ manusia.
Islam ُّ sangat ُّ menyukai ُّ umatnya ُّ untuk ُّ selalu ُّ meningkatkan ُّ semangat
kerja ُّ guna ُّ mencapai ُّ kehidupan ُّ yang ُّ layak ُّ dan ُّ sejahtera ُّ dengan ُّ cara
mempergunakanُّ sebaik-baiknyaُّ peluang-peluangُّ atauُّ kesempatanُّ yangُّ ada,ُّ serta
tabahُّ danُّ ulet,ُّ tidakُّ mudahُّ putusُّ asaُّ jikaُّ ditimpaُّ kegagalanُّ dalamُّ berusaha,ُّ di
sampingُّ memohonُّ pertolonganُّ kepadaُّ Allah.
Keimanan ُّ yang ُّ kuat ُّ merupakan ُّ faktor ُّ penggerak ُّ dalam ُّ melahirkan
budayaُّ kerjaُّ yangُّ proُّ aktifُّ danُّ efektifُّ untukُّ mewujudkanُّ kesejahteraanُّ dalam
kehidupanُّ diُّ duniaُّ danُّ diُّ akhirat.
Islam ُّ mengajarkan ُّ kepada ُّ umatnya ُّ untuk ُّ bekerja ُّ sesuai ُّ dengan
kemampuannya. ُّ Islam ُّ tidak ُّ memandang ُّ pekerjaan ُّ seseorang ُّ itu, ُّ baik
penghasilannyaُّ besarُّ maupunُّ kecilُّ yangُّ terpentingُّ yaituُّ keinginanُّ untukُّ bekerja
keras.ُّ Sebaliknya,ُّ untukُّ orangُّ yangُّ kuatُّ fisiknyaُّ danُّ memilikiُّ kecerdasanُّ dalam
berpikirُّ tetapiُّ malasُّ untukُّ bekerja,ُّ perbuatanُّ ituُّ sangatُّ dicelaُّ olehُّ Islam,ُّ karena
umatُّ Islamُّ memilikiُّ kekuatanُّ danُّ kedudukanُّ yangُّ muliaُّ diُّ hadapanُّ Allahُّ SWT.

11