Anda di halaman 1dari 4

Bentrok Antar-Etnis Terjadi di Sumbawa

Bentrok antara etnis Bali dan etnis Samawa atau Sumbawa terjadi Selasa (22/1/2013) siang di
kabupaten Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat. Sejumlah rumah dan mobil milik etnis Bali
pun dibakar warga Sumbawa.

Hingga petang ini kerusuhan yang terjadi di dalam kota Sumbawa Besar, di sekitar Jalan
Tambora dan Jalan Baru, Kabupaten Sumbawa, masih berlangsung. Ribuan warga etnis Samawa
atau Sumbawa melakukan sweeping terhadap rumah-rumah dan mobil-mobil etnis Bali yang
berada di sepanjang jalan kota Sumbawa Besar.

Kerusuhan itu berawal dari adanya informasi meninggalnya seorang gadis etnis Sumbawa
dengan tubuh penuh luka lebam dan pakaian dalam robek. Namun saat keluarga korban
melaporkan hal tersebut ke Mapolres Sumbawa, pihak kepolisian justru menyatakan gadis
tersebut tewas akibat kecelakaan, sementara keluarga korban mengaku anak gadisnya ini
berpacaran dengan seorang anggota polisi dari etnis Bali.

Akibatnya, siang tadi warga melakukan aksi unjuk rasa di depan Mapolres Sumbawa Besar,
namun karena jawaban dari pihak kepolisian tetap sama, warga akhirnya melakukan
pengrusakan dan pembakaran di sepanjang Jalan Baru dan Jalan Tambora yang letaknya tak jauh
dari Mapolres Sumbawa Besar. (Mut)
KONFLIK PERBATASAN FLORES TIMUR BERAKHIR DENGAN PEMENGGALAN
WARGA

TRIBUNNEWS.COM, LARANTUKA - Sengketa perbatasan antara warga Desa Redon Tena dan Adobala,
Kecamatan Kelubagolit, Kabupaten Flores Timur, kembali bergejolak, Senin (1/7/2013), sekitar pukul
17.00 Wita. Seorang pria, warga Redon Tena, menjadi korbannya. Kepalanya putus dipenggal.
Usai dipotong, kepala pria yang belum teridentifikasi namanya itu langsung dibawa ke Desa
Adobala. Sementara badan korban dibiarkan tergeletak di kebun, wilayah sengketa dua desa itu.
Kapolres Flores Timur (Flotim), AKBP Wahyu Prihatmaka, yang dihubungi melalui telepon
selularnya, kemarin, tidak mengangkat telepon walaupun terdengar bunyi masuk.
Kepala Desa Redon Tena, Ambros Kopong, yang dihubungi, Senin (1/7/2013) malam,
membenarkan peristiwa di wilayah perbatasan dua desa itu. Namun ia enggan berkomentar soal
peristiwa yang sebenarnya. "Benar ada peristiwa itu," kata Ambros singkat.
Anggota DPRD Kabupaten Flotim, Agus Boli, mengatakan, informasi yang dihimpunnya, pada
Senin sore sekitar pukul 17.00 Wita, ada dua orang warga Adobala turun ke kebun.
Agus menjelaskan, dua warga Adobala itu hendak memetik bawang, sementara jam yang sama
seorang lelaki dari Redon Tena juga turun ke kebun yang sama yang merupakan lokasi konflik
untuk memetik kelapa.
Selang beberapa saat, laki-laki yang naik pohon kelapa itu bersimbah darah. Diduga kaki korban
ditembak sehingga korban terjatuh dan kepalanya dipenggal sampai putus.
"Kepalanya dipotong lalu dibawa ke Kampung Adobala," kata Agus.
Menurut dia, kasus perang tanding di Adonara sudah masuk kategori kejadian luar biasa (KLB)
karena sudah melibatkan beberapa daerah.
"Kondisi ini membuat banyak korban dan membutuhkan penanganan luar biasa," tegas Agus.
Ia meminta kepada Pemerintah Kabupaten Flotim untuk menyatakan bahwa peristiwa di
Adonara itu sebagai KLB dan pemerintah daerah harus siaga satu dalam menangani kasus ini.
"Saya juga minta bupati dan wakil tidak keluar daerah dan konsentrasi menyelesaikan masalah
ini. Ini sangat berdampak terjadinya konflik. Karena itu pemerintah harus selesaikan secara
komprehensif. Saya juga minta pemerintah melakukan rehabilitasi sosial dan bagi sembako
karena ekonomi lumpuh. Yang paling merasakan penderitaan adalah kaum ibu dan anak-anak,"
kata Agus.
Bentrok Warga di Maluku Tengah, Satu
Brimob dan Seorang Warga Tewas

Ilustrasi bentrokan--Foto: MI/Hamdi Jempot

Metrotvnews.com, Ambon: Warga Desa Mamala dan Desa Morela Kecamatan Leihitu
Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), Minggu 19 Juli 2015 malam terlibat bentrokan.

Bentrokan menyebabkan seorang warga benama Arsad Malawat, 40, dan seorang anggota
Brimob Polda Maluku, Bripda Faisal Lestaluhu tewas, dan sejumlah warga lainnya terluka.

Bentrokan yang terjadi sekitar 40 kilometer (Km) dari pusat Kota Ambon itu dipicu penemuan
jasad Arsad di hutan perbatasan kedua desa pada Minggu sore. Arsad ditemukan tewas
tertembak dan luka sayatan. Buntutnya terjadi konsentrasi massa di antara kedua desa, sehingga
bentrokan pecah.

Puluhan aparat gabungan dari kepolisian dan TNI yang dimpimpin Kapolres Pulau Ambon dan
Pulau Lease AKBP Komaruz Zaman, mendatangi Desa Morela mencari seorang warga yang
diduga menjadi pelaku penembakan Arsad. Namun, rombongan Kapolres dihadang warga
dengan barikade jalan-jalan di desa itu.

Tak lama setelah itu, terjadi pelemparan batu terhadap rombongan Kapolres, disertai empat kali
bunyi ledakan bom. Akibatnya Bribda Faisal tewas karena terkenah serpihan bom di bagian
selengkangan. Kemudian terdengar rentetan tembakan dari aparat keamanan.

Selain menewaskan Bribda Faisal, Kapolres terluka terkena serpihan bom di bagian tangan, dan
mengalami luka robek pada pelipis sebelah kiri karena terjatuh saat ledakan. Selain Kapolres,
anggota Brimob Polda Maluku, Briptu Fitri Herodes juga mengalami luka robek pada leher
sebelah kanan. Sementara, tujuh warga lainnya juga mengalami luka-luka akibat terkena
tembakan.