Anda di halaman 1dari 15

Bab 12 Peristiwa Tragedi Nasional dan Konflik-Konflik Internal Lainnya (1948 – 1965) 263

PERISTIWA TRAGEDI NASIONAL


*)* DAN KONFLIK-KONFLIK INTERNAL
 LAINNYA (1948 – 1965)

Sumber: 30 Tahun Indonesia Merdeka, 1981


Gambar 12.1 Pasukan TNI dikerahkan untuk menumpas pemberontakan
PKI/FDR Madiun di Gunung Kidul

Pendahuluan

Negara Republik Indonesia yang baru merdeka pada tanggal 17 Agustus


1945, dalam perjalanan sejarahnya banyak menemui gangguan yang ingin
memecah belah persatuan dan kesatuan. Gangguan-gangguan tersebut tidak
hanya dari Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia, tetapi juga dari
dalam negeri yang berupa pemberontakan-pemberontakan. Mengapa bisa
muncul pemberontakan? Apakah para pemberontak tersebut tidak menginginkan
NKRI berdiri kokoh? Lantas, bagaimana pemerintah menghadapi gangguan-
gangguan tersebut. Tentu kalian ingin tahu jawabannya, bukan? Untuk itu, ikutilah
pembahasan materi berikut ini dengan cermat. Pembahasan materi berikut ini
akan membuat kalian mampu memahami pentingnya persatuan dan kesatuan
dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara.

Di unduh dari : Bukupaket.com


264 IPS IX untuk SMP/MTs

A. Peristiwa PKI di Madiun Tahun 1948


Peristiwa Madiun (Madiun Affairs) adalah
sebuah konflik kekerasan yang terjadi di Jawa
Timur pada bulan September - Desember 1948.
Peristiwa ini diawali dengan diproklamasikannya
negara Republik Sovyet Indonesia pada tanggal
18 September 1948 di Madiun oleh Muso,
seorang tokoh Partai Komunis Indonesia yang
didukung oleh menteri pertahanan saat itu, Amir
Syarifuddin. Pada saat itu hingga era Orde Lama
peristiwa ini dinamakan Peristiwa Madiun
(Madiun Affairs) dan tidak pernah disebut sebagai
Pemberontakan PKI. Baru setelah Orde Baru Sumber: 30 Tahun Indonesia
berkuasa dinamakan Pemberontakan PKI Madiun. Merdeka, 1981
Gambar 12.2 Muso, tokoh
1. Latar Belakang pemimpin PKI.

Pada bulan Februari 1948, PKI dan unsur-unsur kiri dari Partai Sosialis
Indonesia (PSI) termasuk Pesindo membentuk sebuah front bersama, yaitu
Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang dipimpin oleh Amir Syarifuddin.
Pada awalnya, Amir Syarifuddin adalah seorang perdana menteri. Kegagalan
diplomasi yang dijalankan oleh Kabinet Amir Syarifuddin menyebabkan Amir
jatuh dari jabatannya sebagai perdana menteri. Perundingan Renville yang
ditandatanganinya sangat merugikan bangsa Indonesia sebab membuat wilayah
Indonesia semakin sempit. Untuk itu, Amir Syarifudin melalui koalisi sayap
kirinya, FDR berusaha merebut kembali jabatannya sebagai perdana menteri.
FDR di bawah pimpinan Amir terus melakukan rongrongan terhadap Kabinet
Hatta. Pada tanggal 5 Juli 1948 kaum buruh yang berada di bawah pengaruh
FDR mengadakan pemogokan di pabrik karung Delanggu (Klaten), selama
lima hari kemudian terjadi bentrokan antara kelompok pemogok dengan Sarekat
Tani Islam Indonesia (STII), dan Organisasi Tani Masyumi yang menentang
pemogokan politik itu.
Bersamaan dengan kegiatan FDR, pada bulan Agustus 1948 Muso, seorang
tokoh senior PKI kembali dari Moskow. Ia mengadakan pembaruan struktur
organisasi politik biro PKI. Sekretariat umum dipegang oleh Muso, sedangkan
Amir Syarifuddin menjabat sekretaris urusan pertahanan.
Di bidang politik, Muso mengecam kebijaksanaan pemerintah dan strategi
perjuangan pemerintah. Ia menganggap revolusi Indonesia bersifat defensif,
karena itu akan menemui kegagalan. Kemudian Muso menyarankan agar dibentuk
Front Persatuan Nasional. Meski demikian, Kabinet Hatta tetap bertahan dan
melaksanakan program-programnya termasuk mengadakan rasionalisasi angkatan
perang. Kaum komunis merasa dirugikan dengan adanya rasionalisasi sebab
kebijakan tersebut akan mengenai kader-kader bersenjatanya. Oleh karena itu,
golongan komunis (Muso dan FDR) menentang keras kebijakan Hatta tersebut.

Di unduh dari : Bukupaket.com


Bab 12 Peristiwa Tragedi Nasional dan Konflik-Konflik Internal Lainnya (1948 – 1965) 265

2. Jalannya Pemberontakan
PKI mendorong dilakukannya demonstrasi dan pemogokan oleh kaum
buruh dan para petani. Kaum tani didorong supaya mengambil alih ladang milik
para tuan tanah mereka di daerah Surakarta dan daerah-daerah lainnya.
Pertentangan politik antara Kabinet Hatta dan FDR meningkat menjadi
insiden bersenjata di Solo. Insiden terjadi pada pertengahan bulan September
1948 antara simpatisan FDR/PKI dengan lawan-lawan politiknya dan juga
tani yang pro dengan pemerintah. Pada tanggal 17 September 1948, Divisi
Siliwangi berhasil memukul mundur para pendukung PKI dari Solo, mereka
kemudian mundur ke Madiun.
Setelah terjadi insiden bersenjata di
Solo, pada tanggal 18 September 1948
di Madiun oleh para tokoh PKI di-
proklamasikan berdirinya Republik Soviet
Indonesia dengan Muso sebagai
presidennya dan Amir Syarifuddin sebagai
perdana menterinya. Sementara itu, para
pendukung PKI berhasil merebut tempat-
tempat yang strategis di Madiun, seperti
radio Gelora Pemuda dan kota Madiun.
Selain itu, para pendukung PKI juga mem-
bunuh para tokoh yang pro pemerintah
dan Muso mengumumkan lewat berbagai
media bahwa suatu pemerintahan front
nasional telah terbentuk.
Pada tanggal 19 September 1948
sekitar 200 orang anggota PKI dan
pemimpin-pemimpin golongan kiri yang Sumber: 30 Tahun Indonesia Merdeka, 1981
Gambar 12.3 Berita yang disiarkan
masih berada di Yogyakarta ditangkap. oleh koran PKI.

3. Operasi Penumpasan Peristiwa Madiun (PKI)


Dengan pecahnya pemberontakan PKI di Madiun, pemerintah segera
mengambil tindakan-tindakan untuk menumpasnya. Panglima Besar Sudirman
menyampaikan kepada pemerintah bahwa TNI dapat menumpas pasukan-
pasukan pendukung Muso dalam waktu dua minggu.
Kekuatan pasukan pendukung Muso digempur dari dua arah, yaitu dari Barat
oleh pasukan Divisi II di bawah pimpinan Kolonel Gatot Subroto yang diangkat
menjadi gubernur militer wilayah II (Semarang - Surakarta) tanggal 15 September
1948, dan pasukan dari Divisi Siliwangi. Sementara itu, dari Timur diserang oleh
pasukan dari Divisi I di bawah pimpinan Kolonel Sungkono yang diangkat menjadi
gubernur militer Jawa Timur, serta pasukan Mobile Brigade Besar (MBB) Jawa
Timur di bawah pimpinan M. Yasin pada tanggal 19 September 1948.

Di unduh dari : Bukupaket.com


266 IPS IX untuk SMP/MTs

Pada tanggal 30 September


1948 pukul 16.15 WIB kota Madiun
berhasil direbut kembali. Kaum
pemberontak meninggalkan kota
Madiun dan terus dikejar-kejar oleh
pasukan pro pemerintah ke wilayah-
wilayah pedesaan. Aidit dan Lukman
melarikan diri ke Cina dan Vietnam.
Pada tanggal 31 Oktober 1948 Muso
tewas dalam suatu pertempuran
kecil. Kemudian, Amir Syarifudin dan
segerombolan tentara yang berjumlah Sumber: 30 Tahun Indonesia Merdeka, 1981
Gambar 12.4 Amir Syarifuddin berhasil
2.000 orang ditangkap dan ditembak ditangkap oleh TNI.
mati oleh TNI.

B. Pergolakan Sosial Politik di Berbagai Daerah

Menjelang bergabungnya RI dan RIS ke dalam NKRI, di berbagai daerah


muncul pemberontakan. Pemberontakan-pemberontakan tersebut terutama
dilatarbelakangi oleh adanya rasa tidak puas terhadap pembentukan RIS, dan
adanya ketidakpuasan pemerintah daerah atas kebijakan pemerintah pusat.
Berikut ini beberapa pemberontakan yang terjadi di daerah.
1. Angkatan Perang Ratu Adil (APRA)
Gerakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) dipimpin oleh Kapten Raymond
Westerling. Gerakan ini didalangi oleh kolonialis Belanda yang ingin mengamankan
kepentingan ekonominya di Indonesia. Munculnya gerakan ini didasari atas
kepercayaan rakyat akan datangnya Ratu Adil yang akan memerintah rakyat
dengan adil dan bijaksana seperti yang terdapat dalam ramalan Jayabaya.
Tujuan gerakan APRA yaitu keinginan untuk mempertahankan bentuk fede-
ral di Indonesia dan mempertahankan tentara tersendiri di negara-negara bagian
RIS. Pada bulan Januari 1950, APRA mengajukan ultimatum kepada pemerintah
RIS dan negara Pasundan, dan keberadaan tentara Pasundan tetap
dipertahankan. Namun, ultimatum tersebut tidak ditanggapi oleh pemerintah
RIS. Untuk melaksanakan gerakannya, pada tanggal 23 Januari 1950 dengan
menggunakan taktik gerak cepat pasukan APRA menyerang kota Bandung.
Untuk menumpas pemberontakan APRA, pemerintah RIS segera
mengirimkan bala bantuan ke Bandung. Sementara itu, Perdana Menteri RIS,
Drs. Moh. Hatta mengadakan perundingan dengan Komisaris Tinggi Belanda
Mayor Jenderal Engels. Hasil perundingan itu adalah agar Mayor Jenderal Engels
(komandan tentara Belanda di Bandung) mendesak Westerling untuk segera
meninggalkan kota Bandung. Setelah meninggalkan kota Bandung, pasukan
APRA menyebar ke berbagai tempat.

Di unduh dari : Bukupaket.com


Bab 12 Peristiwa Tragedi Nasional dan Konflik-Konflik Internal Lainnya (1948 – 1965) 267

Selain ke Bandung, gerakan APRA juga diarahkan ke Jakarta. Di Jakarta,


Westerling mengadakan kerja sama dengan Sultan Hamid II yang menjadi menteri
negara tanpa portofolio di dalam kabinet RIS. Menurut rencananya, APRA
menyerang gedung tempat diadakannya sidang kabinet. Tetapi berkat kesiagaan
APRIS, usaha APRA di Jakarta juga mengalami kegagalan. Westerling sendiri
pada tanggal 22 Februari 1950 meninggalkan Indonesia menuju Malaya.
2. Pemberontakan Andi Azis
Pemberontakan Andi Azis terjadi di Sulawesi Selatan di bawah pimpinan
Kapten Andi Azis, bekas perwira KNIL yang baru diterima ke dalam APRIS.
Latar belakang pemberontakan ini adalah sikap Andi Azis yang menolak
masuknya pasukan APRIS dari TNI ke Sulawesi Selatan. Selain itu, mereka juga
menginginkan untuk mempertahankan keutuhan Negara Indonesia Timur (NIT).
Sementara itu, di Makassar sendiri terjadi ketegangan karena adanya demonstrasi
antara rakyat yang antifederal dengan rakyat yang setuju dengan sistem federal.
Untuk mengatasi pemberontakan Andi Azis, pemerintah pusat RIS pada
tanggal 6 April 1950 mengeluarkan ultimatum yang menginstruksikan agar Andi
Azis dalam waktu 4 × 24 jam datang ke Jakarta
untuk melaporkan diri dan mempertanggung-
jawabkan perbuatannya. Ia juga diperintahkan agar
menarik pasukannya, menyerahkan semua senjata,
dan melepaskan semua tawanan. Akan tetapi,
panggilan tersebut tidak dihiraukan Andi Azis.
Tindakan Andi Azis yang tidak segera datang ke
Jakarta dalam batas yang telah ditentukan dianggap
pemberontakan.
Oleh karena itu, pemerintah pusat mengirimkan
pasukan ekspedisi ke Sulawesi di bawah pimpinan
Kolonel Alek E. Kawilarang untuk menangkap Andi
Azis. Akhirnya, pada tanggal 15 April 1950 atas Sumber: Ensiklopedi Nasional
desakan Presiden NIT Sukawati, Andi Azis Indonesia Jilid 8, 1990
Gambar 12.5 Kolonel Alek
menyerahkan diri kepada pemerintah RIS. Ia diadili E. Kawilarang.
dalam suatu Mahkamah Militer di Yogyakarta.
3. Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS)
Republik Maluku Selatan (RMS) didirikan oleh Mr. Dr. Christian Robert
Steven Soumokil, mantan jaksa agung NIT pada tanggal 25 April 1950.
Sebenarnya Soumokil ikut mendalangi pemberontakan Andi Azis, namun setelah
muncul tanda-tanda kegagalan ia melarikan diri ke Maluku Tengah dan
memusatkan gerakannya di Ambon.
Pada awalnya, pemerintah RIS ingin menyelesaikan masalah ini secara
damai dengan jalan mengirimkan dr. Leimena. Tetapi misi damai ini ditolak
oleh Soumokil. Penolakan Soumokil ini mendorong pemerintah RIS untuk
mengirimkan ekspedisi militer ke Maluku yang dipimpin oleh Kolonel Alek E.
Kawilarang. Ekspedisi ini disebut Gerakan Operasi Militer II (GOM II).

Di unduh dari : Bukupaket.com


268 IPS IX untuk SMP/MTs

Pada tanggal 3 November 1950, pasukan APRIS berhasil menguasai Ambon


dan merebut Benteng Nieuw Victoria. Dalam perebutan benteng tersebut,
Letnan Kolonel Slamet Riyadi gugur. Dengan jatuhnya Ambon, maka per-
lawanan RMS praktis dapat dipatahkan. Soumokil dengan sisa pasukannya
melarikan diri ke pedalaman Pulau Seram. Akhirnya, pada tanggal 2 Desember
1953 Soumokil dapat ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.
4. Gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII)
Pemberontakan DI/TII merupakan suatu usaha untuk mendirikan negara
Islam di Indonesia dengan mengganti dasar negara Pancasila dan membentuk
kekuatan bersenjata di luar tubuh TNI. Pemberontakan DI/TII terjadi di
berbagai daerah di Indonesia antara lain di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh,
Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.
a. Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat
Gerakan DI/TII di Jawa Barat dipimpin oleh
Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo. Gerakan ini
muncul pada waktu terjadi penarikan pasukan TNI
dari wilayah yang diduduki Belanda ke wilayah RI
sebagai akibat adanya Persetujuan Renville. Namun
S.M. Kartosuwiryo tidak mau mengikuti ketentuan
persetujuan Renville. Bahkan mereka memutuskan
untuk tetap tinggal di Jawa Barat dan membentuk
Gerakan Darul Islam (DI). Pada tanggal 7 Agustus
1949, SM. Kartosuwiryo secara resmi menyatakan Sumber: Ensiklopedi Umum
untuk Pelajar Jilid 3, 2005
berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) dan seluruh Gambar 12.6 Sekarmadji
pasukannya dijadikan Tentara Islam Indonesia (TII). Maridjan Kartosuwiryo.
Usaha penumpasan Gerakan DI/TII di
Jawa Barat memakan waktu yang lama. Hal
ini disebabkan kesibukan TNI untuk
memadamkan pemberontakan PKI di S.M. Kartosuwiryo adalah pe-
mimpin DI di Jabar (1946 -
Madiun dan melawan agresi militer Belanda. 1962). Pada masa pergerakan
Akhirnya pada tanggal 4 Juni 1962, melalui nasional ia tergabung dalam SI.
operasi Pagar Betis, pasukan TNI bersama Pada masa pendudukan Jepang
rakyat berhasil menghancurkan Gerakan bergabung dalam MIAI. Setelah
DI/TII. SM. Kartosuwiryo sendiri Indonesia merdeka menjadi
pengurus besar Masyumi. Ketika
tertangkap di Gunung Geber, Majalaya dan RI kalah dalam Perundingan
selanjutnya dijatuhi hukuman mati. Renville, ia memproklamasikan
Negara Islam Indonesia dan
b. Pemberontakan DI/TII di Jawa melakukan pemberontakan.
Tengah
Gerakan DI/TII di Jawa Tengah dipimpin oleh Amir Fatah. Gerakan ini mem-
punyai tujuan yang sama dengan DI/TII di Jawa Barat, yaitu ingin mendirikan
Negara Islam Indonesia.

Di unduh dari : Bukupaket.com


Bab 12 Peristiwa Tragedi Nasional dan Konflik-Konflik Internal Lainnya (1948 – 1965) 269

Pada tanggal 23 Agustus 1949, ia memproklamasikan berdirinya Darul


Islam di desa Pangarasan, Tegal. Pasukannya kemudian diberi nama Tentara
Islam Indonesia (TII). Gerakan Amir Fatah yang menamakan diri Majelis Islam
beroperasi di beberapa daerah, seperti Brebes, Tegal, Kebumen, dan Pekalongan.
Pada awalnya, pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah sudah mulai
terdesak oleh TNI. Namun, pada tahun 1952 mereka menjadi kuat kembali
setelah adanya pemberontakan Batalyon 423 dan 426. Untuk menumpas
gerakan DI/TII di Jawa Tengah ini, pemerintah membentuk pasukan khusus
yang disebut Banteng Raiders. Dengan pasukan khusus ini segera dilakukan
serangkaian operasi kilat yang disebut Gerakan Banteng Negara (GBN).
Akhirnya, pada tahun 1954 GBN ini berhasil menumpas Gerakan DI/TII di
Jawa Tengah. Sisa-sisa gerakan ini kemudian masuk ke hutan-hutan di Gunung
Merapi dan Merbabu serta melakukan berbagai perampokan, pembunuhan,
dan kerusuhan lainnya. Oleh karena itu, gerakan ini dikenal dengan Gerakan
Merapi Merbabu Complex (MMC).
c. Pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan
Gerakan DI/TII di Sulawesi
Selatan dipimpin oleh Kahar Muzakar.
Gerakannya dinamakan Komando
Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS).
Kahar Muzakar menginginkan agar
semua anggota KGSS dimasukkan ke
dalam APRIS dengan nama Brigade
Hasanuddin. Akan tetapi, tuntutan ini
tidak dapat dipenuhi pemerintah.
Sumber: Sejarah Nasional Indonesia VI, 1993
Pada bulan Januari 1952, Kahar Gambar 12.7 Gerombolan DI/TII yang
Muzakar menyatakan bahwa daerah menyerah kepada TNI.

Sulawesi Selatan adalah bagian dari Negara Islam Indonesia di bawah pimpinan
Kartosuwiryo. Mulai saat itu, ia meningkatkan kegiatannya dengan jalan
melakukan teror terhadap rakyat Sulawesi Selatan.
Untuk mengatasi pemberontakan itu, pemerintah melancarkan operasi
militer ke Sulawesi Selatan. Operasi ini memakan waktu yang lama karena
gerakan yang dimulai pada tahun 1951 tersebut baru benar-benar diselesaikan
pada tahun 1965. Kemudian pada bulan Juli 1965, Gerungan (orang kedua
setelah Kahar Muzakar) dapat ditangkap. Dengan demikian, berakhirlah
pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan.
d. Pemberontakan DI/TII di Aceh
Gerakan DI/TII di Aceh dipimpin oleh Tengku Daud Beureuh. Gerakan ini
berawal setelah negara kesatuan terbentuk kembali dan pemerintah mengadakan
penyederhanaan administrasi pemerintahan, maka beberapa daerah mengalami
penurunan status. Salah satunya adalah Aceh yang diturunkan kedudukannya
dari Daerah Istimewa menjadi Karesidenan di bawah provinsi Sumatra Utara.

Di unduh dari : Bukupaket.com


270 IPS IX untuk SMP/MTs

Daud Beureuh yang sebelumnya menjabat sebagai Gubernur Militer Daerah


Istimewa Aceh merasa kurang puas dan menganggap kekuasaannya turun.
Oleh karena itu, pada tanggal 21 September 1953, Daud Beureuh mengeluarkan
maklumat yang menyatakan bahwa Aceh merupakan negara bagian dari Negara
Islam Indonesia di bawah Kartosuwiryo.
Untuk menumpas gerakan ini, pemerintah terpaksa menggunakan kekuatan
senjata dan operasi militer mulai dijalankan terhadap mereka. Selain itu, TNI
juga memberikan penerangan kepada rakyat Aceh untuk menghilangkan salah
paham dan mengembalikan kepercayaannya terhadap pemerintah.
Pemberontakan ini akhirnya dapat diselesaikan setelah tanggal 17 - 28
Desember 1962 dicapai kesepakatan melalui Musyawarah Kerukunan Rakyat
Aceh yang diadakan atas inisiatif Kolonel Jasin, Pangdam I dan didukung oleh
tokoh-tokoh pemerintahan daerah serta rakyat.
e. Pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan
Pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan dipimpin oleh Ibnu Hajar,
mantan anggota TNI berpangkat Letnan Dua. Pemberontakan ini
dilatarbelakangi adanya rasa tidak puas terhadap pemerintah. Gerakan Ibnu
Hajar ini diberi nama Kesatuan Rakyat yang Tertindas (KRYT) dan merupakan
bagian dari DI/TII Kartosuwiryo. Menurut Ibnu Hajar, pemerintah RI pimpinan
Soekarno hanyalah penindas baru yang tidak menghiraukan aspirasi rakyat
muslim. Oleh karena itu, rakyat harus bersatu untuk melawan pemerintah RI
pimpinan Soekarno dengan mendirikan Negara Islam.
Pada akhir tahun 1954, Ibnu Hajar membulatkan tekadnya untuk masuk
Negara Islam Indonesia pimpinan Kartosuwiryo. Ibnu Hajar sendiri diangkat
menjadi panglima Tentara Islam Indonesia untuk Kalimantan. Untuk menumpas
gerakan ini, pemerintah Republik Indonesia menempuh jalan damai dengan cara
memberi kesempatan kepada pemberontak untuk menyerahkan diri dan
diperbolehkan kembali masuk APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia).
Namun usaha ini gagal, bahkan Ibnu Hajar mengelabui pemerintah untuk
memperoleh senjata. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia bertindak tegas
dengan melakukan operasi militer. Akhirnya, pada bulan Juli 1963 Ibnu Hajar
dapat ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.

C. Peristiwa Gerakan 30 September PKI


Pada masa Demokrasi Terpimpin terdapat persaingan antara PKI dan TNI
AD sehingga pada waktu itu, di Indonesia muncul interaksi tiga kekuatan,
yaitu presiden, PKI, dan TNI AD. Di tengah-tengah situasi persaingan antara
PKI dan TNI AD, muncul sekelompok pasukan bersenjata yang berusaha
menggulingkan pemerintahan Soekarno dan berusaha melakukan penculikan
terhadap beberapa perwira AD. Usaha sekelompok pasukan bersenjata ini
menamakan diri Gerakan 30 September (Gestapu) PKI.

Di unduh dari : Bukupaket.com


Bab 12 Peristiwa Tragedi Nasional dan Konflik-Konflik Internal Lainnya (1948 – 1965) 271

Kuatnya PKI pada masa Demokrasi Terpimpin tidak lepas


dari peran D.N. Aidit. Sejak terpilih menjadi ketua pada tahun
1951, D.N. Aidit dengan cepat membangun kembali PKI yang
porak poranda sejak tahun 1948.
Usaha itu berhasil baik, sehingga pada Pemilu tahun 1955
PKI berhasil menempatkan dirinya menjadi salah satu di antara
empat partai besar di Indonesia. Sejak tahun 1964, PKI menjadi
partai terkuat dan Aidit mulai diperhatikan Presiden Soekarno
sebagai tokoh politik elit di tingkat nasional yang kemudian
Sumber: 30 Tahun diangkat sebagai pejabat setingkat menteri koordinator. Hal
Indonesia Merdeka, 1981 ini mendorong PKI lebih giat meningkatkan persiapannya untuk
Gambar 12.8 D.N. melaksanakan perebutan kekuasaan.
Aidit.
Untuk mencapai tujuannya, PKI menggunakan para perwira yang mudah
tertipu dan oportunis, seperti Letkol Untung, Mayor Udara Soejono, dan
Brigjen Supardjo. Dalam melancarkan pemberontakannya, PKI melakukannya
dalam beberapa tahap berikut ini.
1. Tahap Persiapan
Untuk melakukan pemberontakan, PKI membentuk suatu Biro Khusus.
Orang pertama dalam organisasi ini adalah Syam Kamaruzaman, orang kedua
Soepono, dan orang ketiga adalah Bono (Waluyo).
Menjelang akhir Agustus 1965, pimpinan Biro Khusus PKI rutin mengadakan
pertemuan-pertemuan yang kesimpulannya dilaporkan kepada ketua CC PKI,
D.N. Aidit. Kemudian diputuskan bahwa perebutan kekuasaan akan dipimpin
langsung oleh pimpinan tertinggi gerakan.
Sejak tanggal 6 September 1965 pim-
pinan Biro Khusus PKI berturut-turut
mengadakan rapat-rapat rahasia dengan Dalam Angkatan Darat terdapat
beberapa orang oknum ABRI yang telah Dewan Jenderal (tidak terpenga-
lama dibina untuk membicarakan persiapan ruh PKI) yang tugas utamanya
pelaksanaan gerakan. Dalam rapat-rapat mengusulkan dan menyeleksi para
tersebut telah dihasilkan beberapa keputusan perwira menengah yang akan di-
berikut ini. calonkan sebagai jenderal/Brigjen.
a. Menyebarkan adanya isu bahwa Dewan Dalam perkembangannya, Dewan
Jenderal oleh PKI diisukan sebagai
Jenderal yang akan mengadakan dewan yang akan melakukan
perebutan kekuasaan pemerintah. kudeta terhadap presiden.
b. Menentukan sasaran gerakan bagi
masing-masing pasukan.
1) Pasukan Pasopati bertugas untuk menculik atau membunuh para
jenderal AD.
2) Pasukan Bima Sakti bertugas menduduki gedung RRI dan gedung
telekomunikasi.
3) Pasukan Gatotkaca bertugas mengoordinasikan kegiatan di Lubang
Buaya.

Di unduh dari : Bukupaket.com


272 IPS IX untuk SMP/MTs

c. Menetapkan bahwa gerakan akan mulai dilaksanakan pada hari Kamis


malam tanggal 30 September 1965.
d. Memberi nama gerakan tersebut sebagai Gerakan 30 September (kemudian
dikenal masyarakat luas dengan sebutan G 30 S/PKI atau Gestapu/PKI).
2. Tahap Pelaksanaan
Secara fisik militer, gerakan akan
7
dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung, luchtkarteringsgebouw
Jalan dari arah
(Senko)
Komandan Batalyon I Resimen Cakra- Klender (Jalan
tanah)

birawa (Pasukan Pengawal Presiden)


selaku pimpinan formal seluruh gerakan.

ass
Mereka mulai bergerak pada dini hari

By p
Desa
Jatiwaringin
tanggal 1 Oktober 1965, didahului Sergeantswoning:
Aidit
dengan gerakan penculikan dan Gebouw operaties:

Jatiwaringin
Omar Dani Soekarno
pembunuhan terhadap enam perwira Cililitan

Desa
tinggi dan seorang perwira pertama AD. Intirub
Officierswoning:
Soekarno

Para perwira AD tersebut dibawa ke


Desa Lubang Buaya sebelah Selatan
Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

Pondok
Secara kejam, mereka dianiaya dan

Gede
Verzamelplaatsen troepen
van de Dertig September
Sekarang Beweging
akhirnya dibunuh oleh anggota-anggota Asrama Haji Desa Lubang Buaja
(krokodiliengat)
pemuda rakyat, Gerwani, dan organisasi
Jalan tanah (sekarang
satelit PKI lainnya. Setelah puas dengan jalan Pondok Gede)

segala kekejamannya, semua jenazah Ke arah Bogor

dimasukkan ke dalam sumur tua lalu Sumber: Pembantaian yang Ditutup-tutupi,


2005
ditimbun dengan sampah dan tanah. Gambar 12.9 Denah pangkalan udara
Berikut ini keenam perwira tinggi Halim dan Desa Lubang Buaya pada tanggal
1 Oktober 1965.
yang diculik dan dibunuh PKI.
a. Letnan Jenderal Ahmad Yani (Menteri/Panglima AD).
b. Mayor Jenderal R. Suprapto (Deputi II Pangad).
c. Mayor Jenderal M.T. Haryono (Deputi III Pangad).
d. Mayor Jenderal Siswondo Parman (Asisten I Pangad).
e. Brigadir Jenderal D.I. Pandjaitan (Asisten IV Pangad).
f. Brigadir Soetojo Siswomihardjo (Inspektur Kehakiman atau Oditur Jenderal
AD).
Jenderal A.H. Nasution yang menjadi sasaran utama penculikan berhasil
meloloskan diri. Akan tetapi putri beliau, Ade Irma Suryani tewas akibat
tembakan penculik. Sementara itu, ajudannya Letnan Satu Pierre Tendean dan
Brigadir Polisi (Pembantu Letnan Satu) Karel Satsuit Tubun, pengawal rumah
Waperdam II Dr. J. Leimena tewas dan menjadi sasaran penculikan.

Di unduh dari : Bukupaket.com


Bab 12 Peristiwa Tragedi Nasional dan Konflik-Konflik Internal Lainnya (1948 – 1965) 273

Letjen. Ahmad Yani Mayjen. R. Soeprapto Brigjen.D.I. Pandjaitan Brigjen. Soetojo

Mayjen. Harjono M.T Mayjen. S. Parman Lettu. P.A. Tendean Brigadir Polisi Karel
Satsuit Tubun

Sumber: 30 Tahun Indonesia Merdeka, 1981


Gambar 12.10 Pahlawan yang meninggal karena keganasan G 30 S/PKI di Jakarta.

Bersamaan dengan gerakan penculikan, mereka (PKI) juga menguasai dua


buah sarana komunikasi yang vital, yaitu Studio RRI Pusat dan Gedung
Telekomunikasi. Melalui RRI, Letnan Kolonel Untung menyiarkan pengumuman
tentang Gerakan 30 September yang ditujukan kepada jenderal-jenderal anggota
Dewan Jenderal yang akan mengadakan kudeta. Ia kemudian membentuk
Dewan Revolusi dan dinyatakan pula bahwa Dewan Revolusi merupakan
sumber kekuasaan dalam negara RI.
Pembentukan Dewan Revolusi di Jakarta diikuti juga pembentukan Dewan
Revolusi di daerah-daerah di Yogyakarta. Dewan Revolusi daerah di
Yogyakarta dipimpin oleh
Mayor Mulyono. Seperti halnya
di Jakarta, di Yogyakarta PKI
juga menculik dan membunuh
para perwira TNI AD. Gerakan
penculikan ini dipimpin oleh Peltu
Sumardi. Perwira TNI AD yang
menjadi korban Dewan
Revolusi di Yogyakarta yaitu
Kolonel Katamso Dharmo-
kusumo (Komandan Korem Kolonel Katamso Letkol Sugijono
Dharmokusumo Mangunwiyoto
072 Yogyakarta) dan Letkol
Sumber: 30 Tahun Indonesia Merdeka, 1981
Sugiyono Mangunwiyoto (Kepala Gambar 12.11 Pahlawan yang meninggal karena
Staf Korem 072 Yogyakarta). keganasan G 30 S/PKI PKI di Yogyakarta.

Di unduh dari : Bukupaket.com


274 IPS IX untuk SMP/MTs

3. Penumpasan Gerakan 30 September PKI


Dalam situasi yang tidak menentu, Pangkostrad Mayjen Soeharto mulai
memimpin operasi penumpasan terhadap Gerakan 30 September PKI dengan
menghimpun pasukan lain, seperti 328 Kujang/Siliwangi, Batalyon 2 Kavaleri,
dan Batalyon 1 RPKAD yang dipimpin oleh Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.
Berikut ini langkah yang dilakukan Pangkostrad untuk menumpas G 30 S/PKI.
a. Operasi militer mulai digerakkan pada sore hari tanggal 1 Oktober 1965.
Pasukan RPKAD sudah berhasil menduduki Gedung RRI dan Gedung
Telekomunikasi.
b. Pada tanggal 2 Oktober 1965 Pangkalan Udara Halim sudah dapat direbut
dari tangan PKI.
c. Atas petunjuk seorang anggota polisi, Ajun Brigadir polisi Sukitman, pada
tanggal 3 Oktober ditemukan jenazah para perwira AD yang dikuburkan
dalam sebuah sumur tua.
d. Pada tanggal 4 Oktober 1965, usaha pengangkatan jenazah para jenderal
dari sumur tua berhasil diselesaikan oleh anggota-anggota RPKAD dan KKO-
AL . Seluruh jenazah diangkut ke Rumah Sakit Pusat AD (RS Gatot Subroto)
untuk dibersihkan dan kemudian disemayamkan di Markas Besar AD.
e. Pada tanggal 5 Oktober 1965 dan bertepatan dengan HUT ABRI, para
jenazah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dan dianugerahi
gelar Pahlawan Revolusi serta diberi kenaikan pangkat setingkat lebih
tinggi secara Anumerta.
Untuk menumpas habis sisa Gerakan 30 September PKI, maka di berbagai
daerah juga dilakukan beberapa operasi penumpasan. Berikut ini beberapa
operasi penumpasan tersebut.
a. Operasi Trisula di Blitar Selatan yang dilakukan oleh Kodam VIII/Brawijaya
dan dipimpin oleh Kolonel Witarmin.
b. Operasi Merapi di Jawa Tengah yang dipimpin langsung oleh Komandan
RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.
c. Operasi Kikis yang dilakukan di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Gerakan operasi penumpasan yang telah dilakukan oleh Pangkostrad,
RPKAD, Batalyon, dan Kavaleri telah berhasil menangkap para pemimpin dan
tokoh-tokoh yang terlibat dalam Gerakan 30 September PKI. Tokoh-tokoh
tersebut adalah Kolonel A. Latief yang ditangkap pada tanggal 11 Oktober
1965 di Tegal, Jawa Tengah. Ketua CC PKI D.N. Aidit berhasil ditembak
mati pada tanggal 22 November 1965 di Boyolali.
Dalam rangka menyelesaikan sisa Gerakan 30 September PKI, maka pada
tanggal 6 Oktober 1965 Presiden Soekarno mengeluarkan kebijaksanaan yang
dinyatakan dalam Sidang Paripurna Kabinet Dwikora di Istana Bogor.
Penyelesaian aspek politik, sebagaimana diputuskan dalam Sidang Dwikora
tersebut ditangani langsung oleh Presiden Soekarno. Sementara aksi-aksi
tuntutan penyelesaian politik dan penyelesaian yang seadil-adilnya terhadap
pelaku Gerakan 30 September PKI dari kesatuan-kesatuan aksi pemuda dan
mahasiswa yang tergabung dalam Front Pancasila semakin meningkat.

Di unduh dari : Bukupaket.com


Bab 12 Peristiwa Tragedi Nasional dan Konflik-Konflik Internal Lainnya (1948 – 1965) 275

Tugas Berilah tanggapan kalian mengenai permasalahan berikut!


Individu Apakah penyebab gerakan sparatis yang terjadi pada masa Demokrasi
Liberal sama dengan gerakan sparatis yang terjadi pada masa sekarang
(Orde Reformasi)? Buatlah laporan perbandingannya dalam buku tugas
kalian masing-masing kemudian kumpulkan hasilnya pada bapak ibu guru
kalian!

Tugas Kunjungilah perpustakaan di sekolah kalian. Carilah buku-buku


Kelompok referensi tentang Gerakan 30 September PKI, kemudian jawablah
pertanyaan berikut ini.
1. Jelaskan latar belakang munculnya Gerakan 30 September PKI!
2. Jelaskan langkah-langkah yang dilakukan PKI dalam mempersiapkan
dan melaksanakan pemberontakannya pada tanggal 30 September 1965!
3. Mengapa Gerakan 30 September PKI tidak mendapat dukungan dari
rakyat dan pemerintah Indonesia?

Rangkuman
l Pada masa Demokrasi Terpimpin, di Indonesia muncul pergolakan di
dalam negeri. Pergolakan ini disebabkan adanya ketidakpuasan
pemerintah daerah atas kebijakan pemerintah pusat.
l Pemberontakan-pemberontakan yang muncul, yaitu APRA di Bandung,
PKI di Madiun tahun 1948, pemberontakan Andi Aziz, Republik Maluku
Selatan (RMS), dan Pemberontakan DI/TII. Selain itu, juga muncul
pemberontakan PKI yang ingin menggantikan ideologi Pancasila dengan
ideologi komunis.
l Sebagian besar upaya mengatasi pemberontakan dilakukan dengan operasi
militer, sebab gerakan sparatis itu sangat mengganggu stabilitas nasional
dan dianggap membahayakan negara sehingga perlu segera ditumpas.

i
Refleks Pepatah mengatakan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.
Persatuan dapat membuat kita kuat dalam menghadapi suatu tantangan
hidup, tidak hanya dalam kehidupan berbangsa dan negara saja, tapi dalam
kehidupan kita sendiri pun, persatuan kita butuhkan. Dapat dibayangkan,
jika kita menyapu halaman dengan memakai banyak sapu lidi yang diikat
kuat tentu pekerjaan menyapu halaman akan cepat selesai. Tetapi
pekerjaan menyapu halaman tidak akan cepat selesai apabila hanya
menggunakan satu sapu lidi. Dengan demikian, benar adanya kalau kita
bercerai pasti kita akan jatuh (runtuh). Jelas sekali, dengan persatuan
dan kesatuan niscaya kita akan menjadi kuat dan tangguh.

Di unduh dari : Bukupaket.com


276 IPS IX untuk SMP/MTs

Soal-Soal Latihan
A. Pilihlah jawaban yang paling tepat!
1 . Muso memproklamasikan berdirinya 8 . Pemimpin PKI yang tertembak mati di
Republik Soviet Indonesia pada tanggal Boyolali, Jawa Tengah adalah ... .
... . a. Muso c. D.N. Aidit
a. 17 September 1948 b. Njono d. Muso
b. 18 September 1948 9 . Di bawah ini daerah yang tidak terlibat
c. 19 September 1948 dalam DI/TII adalah ... .
d. 20 September 1948 a. Sulteng c. Kalsel
2 . Kartosuwiryo memproklamasikan b. Jateng d. Aceh
berdirinya negara Islam Indonesia pada 1 0 . Segala kegiatan yang dilakukan PKI
tanggal ... . terpusat di ... .
a. 7 Agustus 1949 a. Desa Lubang Buaya
b. 17 Agustus 1949 b. Bandara Halim Perdanakusuma
c. 7 September 1949 c. Bandara Soekarno - Hatta
d. 17 September 1949 d. Desa Kemayoran
3 . Para jenderal yang menjadi korban 1 1 . Peristiwa PKI/Madiun bertujuan untuk
keganasan PKI mendapat anugerah ... .
sebagai Pahlawan ... . a. mengganti ideologi Pancasila menjadi
a. Ampera c. Revolusi ideologi komunis
b. Proklamasi d. Militer b. menggulingkan kabinet Hatta
4 . Berikut ini beberapa jenderal yang c. mendirikan Republik Soviet Indonesia
dibunuh di Jakarta, kecuali ... . d. menggagalkan perundingan dengan
a. Letjen. Ahmad Yani Belanda
b. Letkol. Sugiyono Mangunwiyoto 1 2 . Latar belakang terjadinya pemberon-
c. Brigjen. D.I. Pandjaitan takan Andi Aziz adalah ... .
d. Lettu. Pierre Tendean a. menolak masuknya TNI ke
5 . Peristiwa PKI/Madiun tahun 1948 Sulawesi Selatan
didalangi oleh ... . b. mempertahankan berdirinya negara
a. Muso Sumatra Timur
b. Amir Syarifuddin c. melindungi kepentingan Belanda di
c. Aidit Sulawesi Selatan
d. Syam Kamaruzaman d. mendorong digabungnya TNI dan
tentara KNIL dalam APRIS
6 . Gerakan APRA didalangi oleh ... .
1 3 . Salah satu bukti pemerintah ingin menye-
a. Westerling c. Andi Aziz
lesaikan RMS dengan cara damai
b. Soumokil d. Kartosuwiryo
adalah ... .
7 . Untuk memadamkan pemberontakan a. mengadakan musyawarah dengan
Andi Aziz, pemerintah mengadakan rakyat Maluku
operasi militer di bawah pimpinan ... . b. membubarkan RMS
a. Letkol. Slamet Riyadi c. mengirim dr. J. Leimena untuk
b. Kolonel Alek E. Kawilarang mengadakan perundingan
c. Letkol. A.J. Mokaginta d. mengadakan operasi-operasi militer
d. Mayor Ahmad Wiranatakusumah

Di unduh dari : Bukupaket.com


Bab 12 Peristiwa Tragedi Nasional dan Konflik-Konflik Internal Lainnya (1948 – 1965) 277

1 4 . Sebelum munculnya G 30 S/PKI, 1 8 . PKI menjadikan perwira tinggi AD


Kolonel Sukendro pernah menerima sebagai sasaran penculikan karena ... .
daftar nama para jenderal yang terbunuh a. para perwira dianggap oleh PKI
dalam G 30 S/PKI dari pemerintah ... . sebagai pesaing untuk menguasai
a. Amerika Serikat c. Rusia negara
b. Belanda d. Cina b. PKI menganggap para perwira
1 5 . Herman Sarens Sudiro menyatakan tersebut menguasai bidang militer
bahwa pelaku utama Gerakan 30 Sep- c. perwira-perwira tersebut dianggap
tember 1965 adalah PKI. Herman PKI sebagai penghambat dalam
Sarens Sudiro adalah pembantu utama mengatur negara
... . d. PKI memang benar-benar membenci
a. A.H. Nasution c. R. Suprapto seluruh kesatuan AD termasuk
b. S. Parman d. Ahmad Yani perwira-perwira tingginya
1 6 . Tujuan partai komunis di mana pun 1 9 . Pemberontakan DI/TII pimpinan Amir
mereka berada adalah untuk ... . Fatah di ... .
a. merebut kekuasaan negara a. Jawa Tengah c. Aceh
b. membekukan lawan-lawan politiknya b. Jawa Barat d. Sulawesi
c. mengembangkan paham komunis 2 0 . Madiun digunakan PKI untuk
d. menghapus diktator proletariat melancarkan pemberontakan karena
1 7 . Lokasi pemberontakan DI/TII pimpinan daerah ini merupakan ... .
Ibnu Hajar adalah ... . a. basis kekuatan militer RI
a. Jawa Barat b. daerah komunis
b. Jawa Tengah c. tempat untuk membina kader-
c. Madiun kader PKI
d. Kalimantan selatan d. sumber kekuatan PKI

B. Jawablah dengan singkat dan benar!


1 . Sebutkan para pahlawan revolusi yang gugur akibat kekejaman PKI!
2 . Siapa nama putri A.H. Nasution yang menjadi korban peristiwa Gerakan 30 September
1965?
3 . Apa tujuan gerakan APRA?
4 . Siapa yang memimpin pemberontakan DI/TII di Jateng?
5 . Apa yang kalian ketahui tentang Madiun Affair?
6 . Jelaskan perbedaan latar belakang dan tujuan antara Madiun Affairs dengan G 30 S/
PKI 1965!
7 . Sebutkan upaya yang dilakukan pemerintah RI untuk menumpas gerakan RMS!
8 . Bagaimanakah upaya penyelesaian DI/TII di Aceh?
9 . Apa sebenarnya yang dimaksud Dewan Jenderal?
1 0 . Coba jelaskan tugas Dewan Jenderal di AD sebelum diisukan PKI mengadakan aksi
kudeta terhadap pemerintah!

Di unduh dari : Bukupaket.com