Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Dalam Kehidupan sehari-hari mungkin istilah Revolusi mental merupakan
istilah yang jarang kita dengar, namun sebenarnya istilah ini pertama kali di
kemukakan oleh Presiden pertama republik Indonesia Bapak Soekarno pada upacara
peringatan kemerdekaan republik Indonesia 17 Agustus tahun 1956, dengan istilah
“Revolusi Indonesia”, Soekarno melihat revolusi nasional Indonesia saat itu sedang
mandek, padahal tujuan revolusi untuk meraih kemerdekaan Indonesia yang seutuhnya
belum tercapai.
Menurut beliau ”Revolusi Mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng
manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja,
bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala."
Revolusi di jaman kemerdekaan adalah sebuah perjuangan fisik, perang
melawan penjajah dan sekutunya, untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik
Indonesia, sesungguhnya perjuangan itu belum, dan tak akan pernah berakhir. Kita
semua masih harus melakukan revolusi, namun dalam arti yang berbeda. Bukan lagi
mengangkat senjata, tapi membangun jiwa bangsa.
Istilah Revolusi mental kembali muncul ke publik saat dikemukakan kembali di
depan publik oleh Bapak jokowi saat membacakan visi misi beliau saat mencalonkan
diri sebagai presiden, dan saat itu istilah Revolusi Mental dengan cepat menjadi Viral
dengan kemajuan teknologi media sosial dengan segala perdebatan pro dan kontra dari
wacana tersebut.
Revolusi mental sendiri dapat di artikan sebagai sebuah perubahan mental ,
prilaku dan karakter kearah yang lebih baik dengan proses yang relatif cepat.
Dalam kehidupan sehari-hari, praktek revolusi mental di Indonesia pada
umumnya adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, berfikir
cerdas dan punya semangat gotong royong.
Dalam kajian Agama, Revolusi mental sama juga dengan Revolusi Akhlak,
merubah akhlak yang buruk menjadi lebih baik, dan hal ini telah di lakukan oleh
Baginda Nabi Besar Muhammad SAW, beliau di utus oleh Allah SWT untuk
memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia.

1
Nabi Muhammad SAW bersabda “Sesungguhnya Aku diutus untuk
menyempurnakan akhlak yang baik” (HR ; Bukhari ). Beliau lah yang mengubah
akhlak bangsa arab yang tidak beradab menjadi lebih beradab.
Mental dan akhlak yang buruk, benar- benar menimbulkan banyak sekali
dampak negatif, baik untuk diri pribadi, masyarakat, bangsa dan negara bahkan dunia.
Sebagai contoh penyalahgunaan Narkoba, kurangnya Toleransi beragama, Terorisme,
penyalah gunaan kemajuan teknologi, korupsi yang meraja lela, perang saudara dan
banyak lagi yang lainnya.
Jika diperhatikan umumnya para pelaku dampak negatif dari mental atau akhlak
yang buruk di atas adalah orang orang yang berpendidikan, dalam usia produktif dan
memiliki pergaulan yang luas, contohnya saja para koruptor di indonesia yang
semakin hari semakin banyak dan di lakukan oleh para pejabat berpendidikan tinggi,
bahkan sekarang Korupsi merupakan penyakit masyarakat yang sudah merakyat
bahkan hampir mendarah daging di indonesia, mulai dari pejabat desa, kabupaten,
kota, anggota DPR bahkan mungkin juga ada pemuka agama yang melakukan hal
haram tersebut.
Kemudian juga permasalahan intoleransi dalam beragama, yang menjurus pada
pemahaman radikal yang menciptakan para terorisme di indonesia. Sehingga
menimbulkan kenyataan bahwa dari segi mental dan karakter kondisi bangsa indonesia
benar-benar sangat memprihatinkan.
Dari fenomena di atas muncul sebuah pertanyaan, sebagai langkah awal dari
sebuah Revolusi mental, lebih penting mana, mengajarkan adab lebih dulu baru
mengajarkan ilmu ? atau mengajarkan ilmu lebih dulu baru adab?
Dalam makalah ini kita akan memebahas hal tersebut.

1.2 Pembatasan Masalah


Berdasarkan permasalahan di atas, pembatasan masalah dalam makalah ini
dipusatkan pada “Keseimbangan pembelajaan Adab dan ilmu sebagai langkah awal
Revolusi mental”.

1.3 Rumusan Masalah


Masalah yang akan angkat dalam makalah ini sebagai berikut.
1) Pentingnya Sebuah Revolusi mental di Negar Indonesia
2) Karakter dan mental yang harus diRevolusikan

2
3) Keseimbangan penerapan pembelajaran adab dan pembelajaran ilmu.

1.4 Tujuan Penelitian


Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini adalah :
1) Memahami apa itu revolusi mental.
2) Mendapatkan pemahaman yang benar tentang adab dan ilmu dalam membentuk
karakter yang cerdas.

1.5 Manfaat Penelitian


Manfaat dalam makalah ini adalah dapat memberikan sumbangan pemikiran dan
tolak ukur untuk langkah awal dari sebuah revolusi mental. Sebagai bahan
pertimbangan untuk mengoreksi diri.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pentingnya Revolusi Mental di Indonesia


Revolusi mental sangat penting di terapkan di indonesia mengingat bahwa
kondisi mental dan karakter bangsa indonesia sungguh sangat memprihatinkan.
Perilaku korup sudah terjadi di hampir semua lapisan dan lini kehidupan berbangsa
dan bernegara. Peristiwa yang melibatkan ketua DPR Setya Novanto yang diduga
melakukan tindakan pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden untuk meminta
saham dari PT.Frefort. sungguh suatu hal yang sangat memalukan bagi bangsa
indonesia, terlebih hal ini di lakukan oleh para Elit politik. Sehingga mengindikasikan
bahwa mental dan karakter sebagian besar bangsa ini perlu direvolusi.
Mental dan karakter kita yang buruk menyebabkan bangsa ini jatuh dalam
kemiskinan. Sehingga membuat negara kita berada di urutan daftar teratas sebagai
salah satu negara yang miskin.
Sebenarnya secara rasional sulit untuk memberi argumentasi tentang bagaimana
indonesia bisa menjadi negara yang miskin jika dilihat dari karunia yang di berikan
Allah SWT kepada bangsa ini, berupa Sumber Daya Alam yang melimpah Ruah yang
sebenarnya bisa menjadi penunjang negara indonesia untuk menjadi negara yang lebih
maju, kaya dan memberikan kesejahteraan pada masyarakatnya.
Jika di bandingkan dengan negara tetangga, seperti malaysia, singapore, dan
korea selatan yang tidak memiliki sumber daya alam sebanyak indonesia, tapi mereka
mampu menjadi negara yang jauh lebih maju dari indonesia yang malah semakin
mengalami kemunduran.
Dengan membandingkan hal tersebut, maka dapat di ketahui bahwa yang
menjadi faktor maju mundurnya suatu bangsa bukan hanya tentang sumber daya
alamnya saja, tapi juga lebih kepada sumber daya manusia itu sendiri, bagaimana
mental, adab dan karakter serta kemampuan akademis dari manusia itu sendiri. Maka
sangat penting bagi setiap rakyat indonesia untuk memiliki kesadaran merevolusi
mentalnya agar lebih baik.
Dengan berpedoman pada Al-Quran dan Hadis sepenuhnya, dalam setiap
tindakan. Kita harus mengkaji, memahami dan mengamalkan ajaran apa yang terdapat
dalam Al-Quran dan Hadis. Sebab benteng pertahanan diri kita umat islam dari
ideologi radikal / ideologi baru adalah dengan Ideologi haq (benar), dan itu bersumber

4
dari Al-Quran dan Hadis. Maka mengembalikan segala persoalan kepada dua pedoman
tersebut adalah hal yang benar.

2.2. Karakter dan mental yang harus diRevolusikan


Dari sisi sebab akibatnya Adab atau karakter terbagi menjadi dua, yaitu yang
baik dan yang buruk. Berikut ini adalah beberapa karakter atau mental buruk yang
rata-rata di miliki oleh bangsa indonesia, beberapa di antaranya adalah :
2.2.1. Sikap Malas
Pernyataan bahwa indonesia sebagai bangsa pemalas pernah di ungkap kan
oleh para penjajah dan seorang akademisi malaysia yang lahir di bogor yaitu
Syed Hussein Alatas. Bangsa indonesia cenderung menggunakan slogan “biar
lambat asal selamat” meskipun di artikan sebagai sebuah kehati-hatian, namun
slogan ini sudah tidak relevan lagi dengan kondisi sekarang yang segala
sesuatunya harus di kerjakan dengan “cepat, tepat dan selamat.
Dalam hal pekerjaan bangsa indonesia cenderung memilih jalan pintas atau
jalan cepat atau memperoleh uang dengan cara instan, seperti contohnya
mengemis, menjadi pengedar narkoba dan menjadi seorang penipu bahkan
karena saking malasnya tidak sedikit bangsa indonesia yang menjadi korban
penipuan, contohnya korban penipuan dukun pengganda uang.
Nauzubillahhiminzalik.
Bukankah manusia itu merupakan khalifah di bumi ini, dan mereka di
perintahkan untuk berusaha dalam kehidupannya agar memperoleh hasil baik,
sesuai dengan firman Allah Swt dalam surat An-Najm 39-41.

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,


dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan di perlihatkan (kepadanya),
kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling
sempurna”

Surat Al Mulk/67

5
“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka
jelajahilah disegala penjuru dan makanlah sebagian rezekinya, dan hanya
kepada-nya lah kamu (kembali setelah) di bangkitkan”
Maka dari itu sifat ,karakter atau mental malas harus di revolusikan menjadi
karakter pekerja keras dan mau berusaha. Karena dengan berusaha kita akan
memperoleh hasil yang maksimal pula dan yang utama adalah hasil yang
dirahmati oleh Allah.
2.2.2. Sifat Tidak Jujur atau Munafik
Sisi lain dari karakter buruk bangsa Indonesia adalah tidak jujur. Bangsa
kita memiliki karakter tidak jujur atau munafik baik pada diri sendiri maupun
orang lain, dan anehnya karakter tidak jujur ini semakin berkembang bahkan
sangat pesat di kalangan elit. Contohnya saja perdebatan di media masa
elekronik akhir-akhir ini, setiap orang berusaha untuk berbohong terhadap niat
yang sudah dilakukan, dengan menggunakan berbagai alasan. Padahal setiap
orang tidak pernah bisa membohongi dirinya sendiri apa lagi terhadap Allah
Swt.
Karena Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.
Sikap tidak jujur ini juga sudah melanda di bidang pendidikan. Perilaku
menyontek pada saat ujian, dan memanipulasi nilai rapor untuk masuk
SNMPTN sudah terjadi diberbagai daerah. Bahkan saat ini dalam hal tes
penerimaan pegawai negeri sipil pun sudah harus menyiapkan tas yang besar
dulu, dalam artian uang sogok yang besar.
Ketika dunia pemerintahan bahkan dunia pendidikan sudah di hinggapi
karakter seperti ini tentu sudah sangat memprihatinkan.

2.2.3. Bermental penerabas


Implementasi dari mental penerabas antara lain, adalah prilakun korup,
tidak patuh kepada peraturan, tidak mau bekerja keras dan hanya mementingkan
diri sendiri. Mental penerabas sudah sangat meraja lela di dunia kalangan elit
politik, yang menjadi faktor utama penyebab maraknya korupsi di Indonesia.
Terbentuknya mental penerabas dalam karakter seseorang di karenakan oleh
tiadanya sifat malu dalam dirinya. Membuat ia melakukan segala sesuatu tanpa
memikirkannya akibatnya terlebih dahulu. Bukankah malu itu adalah sebagian

6
dari keimanan? Semoga kita bukanlah termasuk kedalam golongan manusia
bermental penerabas.
Hal sederhana yang menjadi contoh mental penerabas dalam kehidupan
sehari-hari adalah, tidak mentaati peraturan lalu lintas, menyerobot antrian, suka
mengamuk atau mudah terpancing emosi dan cenderung tidak berdisiplin dalam
kehidupan bermasyarakat,

2.2.4. Mental kere (Miskin)


Coba perhatikan fenomena di bawah ini :
Setiap kali ada pembagian bantuan untuk orang miskin, orang-orang
berlomba mendaftarkan dan menyatakan diri sebagai orang miskin. Atau pada
saat pembagian zakat dan daging Qurban, orang-orang yang sebenarnya tidak
miskin berlomba menyatakan dirinya sebagai orang miskin.
Mental kere ini merupakan perpaduan antara karakter pemalas, munafik dan
mental Penerabas. Karakter mental kere ini juga menggambarkan bahwa yang
bersangkutan tidak memiliki rasa Syukur yang merupakan salah satu kandungan
dalam umat beragama.
Mental kere ini merupakan sumber konflik yang sangat potensial dalam
masyarakat, karena mereka akan saling berebut akan sesuatu yang sebenarnya
bukan hak mereka.

Karakter dan mental buruk seperti yang di sebutkan diatas, semakin bertambah
kuat dalam era Globalisasi yang menawarkan kebebasan dan kenikmatan jasmani.
Globalisasi telah merubah gaya hidup masyarakat menjadi materialistis, prakmatis dan
mewah. Sehingga membuat karakter buruk itu semakin bertambah parah, tanpa ada
yang berniat untuk memperbaiki atau merevolusi karakter mereka. Bahkan sudah tidak
adalagi rasa saling menghormati dan saling menyayangi lagi antar sesama manusia.
Sebagaimana yang di katakan nabi Muhammad SAW yang di riwayatkan oleh Ahmad,
hasan
“bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua
dan tidak menyayangi yang muda”

7
2.3. keseimbangan penerapan pembelajaran Adab dan pembelajaran Ilmu
Keseimbangan penerapan pembelajaran Adab dan Ilmu memangsangat di
perlukan dalam kehidupan manusia dalam hal memperbaiki karakter, atau revolusi
mental.
Abu Zakariya An Anbari Rahimahullah mengatakan:
“ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad
tanpa roh”
Alangkah pentingnya keseimbangan antara penanaman Adab serta ilmu dalam
karakter diri manusia, seumpama dua hal yang harus selalu berjalan beriringan.
Banyak orang berpendidikan yang tidak beradab sehingga terjadilah krisi
mental yang berkepanjangan efek dari penggunaan pendidikan atau ilmunya untuk
melakukan hal yang salah. mereka mengindahkan rasa melu mereka sebagai akhlak
agama islam itu sendiri seperti Sabda Baginda Rosullullah Saw:

“sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak islami adalah rasa
malu “ (HR: Ibnu Majah).
Maka dari itu terapkanlah pembeljaran adab dan ilmu yang seimbang dalam
kehidupan sehari-hari.

2.4. Membentuk karakter revolusi mental sejak dini

Untuk membentuk masyarakat indonesia yang beradab dan bisa melaksanakan


Revolusi mental, maka di perlukan penanaman nilai adab dan ilmu yang benar sejak
dini kepada generasi muda indonesia. Hal ini dapat dilakukan atas kerjasama pihak
pemerintah, sekolah, keluarga, dan lingkungan tempat tinggal.

2.4.1. Pemerintah
Dalam hal membentuk karakter beradab dan berilmu sejak dini kepada
generasi muda sangat di butuhkan peran pemerintah dalam hal mewujudkannya,,
baik dalam hal, sarana prasarana pembelajaran, materi penunjang segi ekonomi
maupun kebijakan- kebijakan tentang sistem pendidikan indonesia

8
2.4.2. Sekolah
Sekolah merupakan ujung tombak penerapan kebijakan pemerintah,
dengan interaksi yang baik antara siswa dan guru sehingga di sekolah bukan
hanya di ajarkan tentang materi pelajaran saj, tapi njuga materi adab, sopan
santun serta kedisiplinan, untuk membentuk karakter yang baik.

2.4.3. Keluarga
Kedekatan seorang anak dengan keluarga juga sangat mempengaruhi
terbentuknya karakter yang baik pada diri seorang anak, maka sangat di perlukan
kerja sama yang baik kepada orangn tua untuk melanjutkan pendidikan adab dari
sekolah untuk di terapkan di rumah.

2.4.4. lingkungan sekitar


Pengaruh lingkungan juga sangat besar dalam membentuk karakter beradab
seorang anak, karena menyangkut pergaulan dan interaksi yang dilakukannya
sehari-hari. Jadi perlu di perhatikan untuk pergaulan anak di luar rumah.

Jadi perlu adanya kerja sama yang baik antara berbagai pihak untuk menanamkan
nilai karakter mental yang terbaik bagi generasi muda indonesia. Yang menentukan
bagaimana masa depan indonesia kelak.

9
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa di indonesia sangat perlu di
terapkan revolusi mental, demi memperbaiki karakteristik bangsa indonesia yang
sangat memprihatinkan. Agar bangsa indonesia menjadi bangsa yang kaya akan
sumber daya alam, tapi juga kaya akan sumber daya manusia yang akhlakul khorimah.
Dan di ridhoi oleh Allah swt. Agar tercipta kesejahteraan masyarakat indonesia, dan
dapat membawa dampak yang sangat positif, di antaranya menjadikan indonesia
sebagai negara maju, menjadikan Indonesia keluar dari zona teratas sebagai negara
miskin, serta memperbaiki citra Indonesia dimata dunia.
Untuk mencapai hal tersebut, perlu kerjasama yang baik oleh semua pihak yang
terlibat sehingga dapat tercipta revolusi mental dalam membentuk karakter terbaik
untuk Bangsa Indonesia, dan penerapan keseimbangan pembelajaran adab dan ilmu.

3.2.Saran
Untuk saran, marilah kita ciptakan sebuah perubahan yang membawa indonesia
kearah yang lebih baik, mulai dengan mengoreksi kesalahan diri sendiri, menegur teman
atau keluarga yang berkarakter salah. mulai merevolusikan mental kita dengan kemauan
yang kuat agar kehidupan kita selamat dunia akhirat.

10
DAFTRA PUSTAKA

http/google.com
Warsono, (2015). Makalah utama revolusi mental kemandirian bangsa dan pendidikan
ilmu sosial, makasar: unifersitas Negeri Makasar
Widisuseno, Iriyanto, makalah ketahanan nasional dalam pendekatan
multikulturalisme, Jakarta: Unifersitas Diponegoro

Untuk daftar pustaka berupa buku tidak ada, karena tidak memakai referensi dari buku.

11