Anda di halaman 1dari 22

PROPOSAL SKRIPSI

KAJIAN KOORDINASI PROTEKSI ARUS LEBIH FASA DAN


GROUND SISTEM PEMBANGKIT PLTU AWAR AWAR TUBAN

TITO DIAS FERNANDO


2014-11-127

JURUSAN S1 TEKNIK ELEKTRO


SEKOLAH TINGGI TEKNIK – PLN
JAKARTA
2018

i
DAFTAR ISI
Hal
Judul Proposal…………………………………………………………………………………i
Daftar Isi ………………………………………………………………………………………ii
Daftar Gambar ………………………………………………………………………………iii
Daftar Tabel …………………………………………………………………………………iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah .…………………………………………………………1
1.2 Permasalahan Penelitian ……………..…………………………………………2
1.2.1 Identifikasi Masalah ……………………………………………………2
1.2.2 Ruang Lingkup Masalah………………………………………………. 2
1.2.3 Rumusan Masalah……………………………………………………….3
1.3 Tujuan penelitian ………………………………………………………..……….3
1.4 Manfaat Penelitian …………………………………………………….……..……3
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Pustaka ..............................................................................4
2.2 Landasan Teori ..............................................................................5
2.2.1 Penyebab gangguan pada sistem 3 fasa ..........................................5
2.2.1.1 Gangguan beban lebih ................................................................5
2.2.1.2 Gangguan hubung singkat ..........................................................5
2.2.1.2.a Gangguan yang bersifat permanen ............................6
2.2.1.2.b Gangguan yang bersifat temporer .............................7
2.2.1.3 Gangguan tegangan lebih .........................................................7
2.2.2 Rele Pengaman ......................................................................................7
2.2.2.1 Syarat Rele Pengaman ...............................................................7
2.2.2.2 Rele Arus Lebih ......................................................9
2.2.2.3 Penyetelan Rele Arus lebih ....................................................10
2.2.2.4 Penyetelan Rele Gangguan Tanah ........................................11
2.3 Kerangka Pemikiran ............................................................................13
BAB III METODE PENELITIAN.
3.1 Analisa Kebutuhan …………………………………..…………………………..13
3.2 Perancangan Penelitian…………………………………………………………..14
3.3 Jadwal Penelitian ………………………………………………………………….15
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ..........................................................................................vi

ii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Rele arus lebih pengaman transformator .......................................10

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan Penelitian …………………………………………………14

iv
DAFTAR PUSTAKA

Adlan Ali “Analisa Perhitungan Setting Arus dan Waktu pada Rele Arus Lebih
(OCR) sebagai Proteksi Trafo Daya di Gardu Induk Cawang Lama Jakarta”
2010

Yoyok Triyono “Analisis Studi Rele Pengaman (Over Current Relay Dan Ground
Fault Relay) pada Pemakaian Distribusi Daya Sendiri dari PLTU Rembang’,
2013

Luqman Erwansyah “Proteksi Ground Fault Untuk Sistem 11 kV dengan


Multiple Bus yang Terhubung Beberapa Generator, Bus Ties, dan PLN, dengan
Sistem Grounding yang Berbeda-Beda” ,2012

Arbertus Rangga P “Studi Koordinasi Relay Proteksi Pada Sistem Kelistrikan


PT. BOC GASES Gresik Jawa Timur”, 2012

v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Data Personal
NIM : 2014 11 127
Nama : Tito Dias Fernando
Tempat / Tanggal Lahir : Karanganyar, 25 Juni 1996
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Status Perkawinan : Belum Kawin
Program Studi : S1 Teknik Elektro
Alamat Rumah : Maguan, RT 06 RW 01 Gaum, Tasikmadu,
Karanganyar
Kode Pos : 57722
Telp / Hp : +6289512684336
E-mail : titodiasf@gmail.com

Pendidikan
Jenjan
Nama Lembaga Jurusan Tahun Lulus
g
SD SD Krida Dharma Blora - 2008
SMP SMP Negeri 2 Blora - 2011

SMA SMA Negeri Kebakkramat - 2014


Demikianlah daftar riwayat hidup ini dibuat dengan sebenarnya.

Jakarta, 16 Januari 2018

(Tito Dias Fernando)

vi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG MASALAH
Sistem proteksi merupakan salah satu komponen penting dalam sistem
tenaga listrik. Sistem proteksi berguna untuk mengamankan area-area
penyaluran tenaga listrik dari gangguan-gangguan yang timbul selama
penyaluran daya listik. Tanpa sistem proteksi, tenaga listrik yang disalurkan dari
sumber tidak akan dapat disalurkan kepada beban dengan kualitas dan
keandalan yang tinggi. Selain itu, umur peralatan-peralatan dalam sistem
tenaga listrik seperti generator, transformator, kabel, motor, busbar, dan lain
sebagainya dapat bertahan lebih lama jika sistem proteksinya terancang
dengan baik. Hal ini dikarenakan saat terjadi gangguan pada sistem, sistem
proteksi akan mengisolir gangguan dan memutus penyaluran daya ke area
yang terkena gangguan sehingga dampak gangguan tidak akan meluas ke
peralatan-peralatan lain.

PLTU Tanjung Awar-Awar Tuban merupakan pembangkit listrik yang


berlokasi di atas lahan 80 Hektar di desa Wadung, Kecamatan Jenu,
Kabupaten Tuban,dengan keseluruhan kapasitas mencapai 2 x 350 MW.
Pendistribusian listrik yang dihasilkan PLTU Tanjung Awar-Awar masuk melalui
gardu induk (GI) Tuban ditujukan untuk memasok listrik di wilayah Gresik,
Lamongan dan Bojonegoro. Selain itu, suplai juga masuk ke GI Babat
diteruskan ke Ngimbang dan masuk jaringan bertegangan 500 KV untuk
mendukung pasokan listrik di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Proses
pembangkitan energi listrik didapatkan dari hasil pengkonversian energi
mekanik menjadi energi lsitrik dengan bantuan energi uap. Oleh karena itu,
peran dari sebuah generator/pembangkit sangatlah vital dalam proses
pembangkitan listrik sehingga generator tersebut harus tetap dijaga. Salah satu
upaya dalam menjaga proses pembangkitan pada generator ialah dengan cara
memasang alat proteksi yang nantinya dapat berperan penting jika terjadi
gangguan pada sistem pembangkit.

1
Pembangkit listrik tenaga uap yang terdapat di Tuban merupakan
pembangkit baru yang beroperasi pada bulan Juli 2016. Dengan adannya
permasalahan mengenai pentingnya suatu koordinasi proteksi yang aman dan
handal untuk menunjang proses pembangkitan energi listrik, maka perlu
adanya kajian ulang mengenai koordinasi proteksi di unit PLTU Awar – Awar
Tuban dikarenakan unit pembangkit tersebut merupakan pembangkit baru yang
harus dilakukan kajian ulang koordinasi proteksi agar pada saat terjadi
gangguan unit tidak mengalami blackout. Rele yang akan dikoordinasi ulang
mencakup rele arus lebih fasa dan ground. Sehingga diharapakan sistem
proteksi di unit pembangkit tersebut dapat berjalan dengan baik dalam
melindungi sistem pembangkitan energi listrik.

1.2. PERMASALAHAN PENELITIAN


1.2.1 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di kemukakan di
atas, masalah dapat di identifikasi sebagai berikut :
1. Mengkaji ulang koordinasi proteksi rele arus lebih dan rele gangguan
tanah.

1.2.2 Ruang Lingkup Masalah


Dalam penulisan skripsi ini penulis memberikan batasan-batasan
agar uraian dalam skripsi ini tidak meluas. Batasan-batasan masalah
yang digunakan antara lain :
1. Koordinasi proteksi yang dibahas hanya koordinasi proteksi arus lebih
dan ground, sehingga tidak mencakup proteksi diferensial, fuse, dan
lain-lain.
2. Relay yang dianalisa merupakan rele arus lebih fasa dan ground.
3. Analisa low current setting, high current setting, dan time delay pada
rele arus lebih.
4. Menganalisa arus setting pada rele gangguan tanah.

2
1.2.3 Rumusan Masalah
Secara garis besar dan berdasarkan latar berlakang masalah di
atas ,maka masalah yang akan dibahas di skripsi ini adalah:
1. Bagaimana cara untuk menentukan penyetelan arus dan waktu rele
arus lebih (Over Current Relay) ?
2. Bagaimana cara untuk penyetelan rele gangguan tanah (Ground Fault
Relay) ?
3. Bagaimana perbandingan antara hasil perhitungan penyetelan rele
arus lebih dan rele gangguan tanah dengan data penyetelan rele arus
lebih dan rele gangguan tanah yang diambil di Unit 2 PLTU Awar-Awar
?

1.3 TUJUAN PENELITIAN


Adapun beberapa tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Memodelkan, dan mengevalusi kinerja sistem berdasar permasalahan
yang akan dihadapi ketika tejadi gangguan hubung singkat.
2. Memperbaiki serta menganalisa ulang koordinasi rele proteksi yang
ada di unit 2 PLTU Awar-Awar.
3. Untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk mendapatkan gelar
sarjana pada kurikulum pendidikan sarjana strata satu (S1).

1.4 MANFAAT PENELITIAN


Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:
1. Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan
tentang setting rele arus lebih dan ground.
2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan atau
tambahan informasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang
berkaitan dengan masalah penelitian ini.

3
BAB II

2.1 Tinjauan Pustaka


Proteksi adalah suatu peralatan atau sistem yang berfungsi untuk
mendeteksi perubahan parameter sistem, mengisolasi dan memisahkan bagian
yang berubah parameternya atau terkena gangguan dari suatu keadaan yang
tidak normal (Sutarti, 2010). Banyak penelitian yang membahas masalah
tentang gangguan pada sistem tenaga listrik yang merupakan gangguan
hubung singkat yang akan menimbulkan arus yang cukup besar. Semakin
besar sistemnya semakin besar gangguannya. Arus yang besar bila tidak
segera dihilangkan akan merusak peralatan yang dilalui arus gangguan. Untuk
melepaskan daerah yang terganggu itu maka diperlukan suatu sistem proteksi,
yang pada dasarnya adalah alat pengaman yang bertujuan untuk melepaskan
atau membuka sistem yang terganggu, sehingga arus gangguan ini akan
padam Jurnal yang berjudul ‘Analisis Studi Rele Pengaman (Over Current
Relay Dan Ground Fault Relay) pada Pemakaian Distribusi Daya Sendiri dari
PLTU Rembang’, (Yoyok Triyono 2013) pada jurnal ini dibahas mengenai studi
terhadap koordinasi rele pengaman yang terpasang, dan bertujuan untuk
menyajikan analisis terhadap koordinasi rele pengaman pada PLTU Rembang.

Jurnal yang berjudul ‘Proteksi Ground Fault Untuk Sistem 11 kV dengan


Multiple Bus yang Terhubung Beberapa Generator, Bus Ties, dan PLN, dengan
Sistem Grounding yang Berbeda-Beda’ (Luqman Erwansyah 2012), pada jurnal
ini dibahas mengenai sistem proteksi, dan sistem pentanahan dari sebuah
pabrik gas, dan menjelaskan tentang selektifitas proteksi ground fault untuk
sistem 11 kV dengan multiple bus yang terhubung dengan beberapa generator,
terhubung dengan beberapa bus tie, dan terinkoneksi dengan PLN. Jurnal yang
berjudul ‘Studi Koordinasi Relay Proteksi Pada Sistem Kelistrikan PT. BOC
GASES Gresik Jawa Timur‘ (Albertus Rangga P. 2012), pada jurnal ini dapat
diketahui bahwa perlu dilakukan pengaturan ulang untuk rele arus lebih
terutama pelindung motor dengan penambahan time delay (t>>) sebesar 0,1
detik. Hal ini bertujuan agar agar pengamanan dapat berjalan dengan lebih

4
tepat dalam mengatasi gangguan yang terjadi. Pada rele arus lebih yang
terletak pada feeder dan generator juga dilakukan pengaturan ulang untuk I>,
t>, I>>, dan t>> sehingga keandalan sistem dapat terjaga dan bekerja lebih
optimal.

Dari tinjauan pustaka di atas, maka dapat di lakukan pengembangan


yang memiliki keterkaitan antara objek penelitian yang di atas dengan judul
penelitian yang sekarang di ambil yaitu Kajian Koordinasi Proteksi Arus Lebih
dan Ground di PLTU Awar-Awar Tuban. Dari referensi referensi tersebut akan di
gunakan untuk menentukan batasan batasan masalah yang akan di
kembangkan lebih lanjut.

2.2 Landasan Teori


2.2.1 Penyebab gangguan pada Sistem Tenaga Listrik
Dalam sistem tenaga listrik tiga fasa, gangguan gangguan yang
dapat menyebabkan timbulnya arus berlebih yang mungkin terjadi
diantarnya gangguan beban lebih (overload), gangguan hubung singkat
(short circuit), dan gangguan tegangan lebih.

2.2.1.1 Gangguan beban lebih

Gangguan beban lebih dikarenakan adanya arus yang


mengalir melebihi kapasitas suatu peralatan listrik dan pengaman
yang terpasang. Gangguan ini terjadi karena arus yang mengalir
melebihi arus nominal yang diizinkan I > I nom [1]. Pada saat
gangguan ini terjadi arus yang mengalir melebihi dari kapasitas
peralatan listrik. Bila gangguan ini dibiarkan terus menerus, maka
dapat merusak peralatan listrik yang dialiri arus tersebut.

2.2.1.2 Gangguan hubung singkat

Gangguan hubung singkat dapat terjadi dua fasa, tiga fasa,


satu fasa ke tanah, dua fasa ke tanah, atau 3 fasa ke tanah.
Gangguan hubung singkat ini sendiri dapat digolongkan menjadi dua
kelompok yaitu gangguan hubung singkat simetri dan

5
gangguan hubung singkat tak simetri (asimetri). Gangguan yang
termasuk dalam hubung singkat simetri yaitu gangguan hubung
singkat tiga fasa, sedangkan gangguan yang lainnya merupakan
gangguan hubung singkat tak simetri (asimetri). Gangguan ini akan
mengakibatkan arus lebih pada fasa yang terganggu dan juga akan
dapat mengakibatkan kenaikan tegangan pada fasa yang tidak
terganggu. Hampir semua gangguan yang terjadi pada sistem tenaga
listrik adalah gangguan tidak simetri. Gangguan tidak simetri ini terjadi
sebagai akibat gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah,
gangguan hubung singkat dua fasa, atau gangguan hubung singkat
dua fasa ke tanah.

Gangguan-gangguan tidak simetri akan menyebabkan


mengalirnya arus tak seimbang dalam sistem sehingga untuk analisa
gangguan digunakan metode komponen simetri untuk menentukan
arus maupun tegangan di semua bagian sistem setelah terjadi
gangguan. Gangguan ini akan mengakibatkan arus lebh pada fasa
yang terganggu dan juga akan dapat mengakibatkan kenaikan
tegangan pada fasa yang tidak terganggu. Gangguan dapat diperkecil
dengan cara pemeliharaannya.

2.2.1.2.a Gangguan yang bersifat permanen

Gangguan hubung singkat permanen dapat terjadi pada


kabel atau pada belitan trafo tenaga yang disebabkan karena arus
gangguan hubung singkat antara fasa atau fasa-tanah, sehingga
pengkantar akan menjadi panas yang dapat berpengaruh pada
isolasi atau minyak trafo tenaga,sehingga isolasi tembus. Pada
generator, yang disebabkan adanya gangguan hubung singkat
atau pembebanan yang melebihi kemampuan generator.
Sehingga rotor memasok arus dari eksitasi berlebih yang dapat
menimbulkan pemanasan pada rotor yang dapat merusak isolasi
sehingga isolasi tembus, terjadilah hubung singkat. Pada tiik

6
gangguan yang terjadi kerusakan secara permanen maka baru
bias dioperasikan kembali setelah bagian yang rusak diperbaiki
atau diganti.

2.2.1.2.b Gangguan yang Bersifat Temporer


Gangguan ini biasanya terjadi saluran udara tegangan
menengah ysng tidak menggunakan isolasi antara lain :

1. Disebabkan karena adanya sambaran petir pada penghantar


listrik yang tergelar di udara yang akan mengakibatkan
flashover antara penghantar dengan traves melalui isolator.
2. Penghantar tertiup angin yang dapat menimbulkan gangguan
antar fasa atau penghantar fasa menyentuh pohon yang dapat
menimbulkan gangguan 1 fasa ke tanah.

2.2.1.3 Gangguan Tegangan Lebih


Gangguan tegangan lebih diakibatkan karena adanya
kelainan pada sistem. Gangguan tegangan lebih dapat terjadi antara
lain karena :
- Gangguan petir.
- Gangguan surja hubung, di antaranya adalah penutupan saluran
tak serempak pada pemutus tiga fasa, penutupan kembali saluran
dengan cepat, pelepasan beban akibat gangguan, penutupan
saluran yang semula tidak masuk sistem menjadi masuk sistem,
dan sebagainya.

2.2.2 RELE PENGAMAN


2.2.2.1 Syarat syarat Rele Pengaman

Syarat kerja rele dalam mengamankan suatu sistem tenaga


listrik, relay harus mempunyai syarat-syarat yang harus dipenuhi, yaitu :

7
a. Kepekaan (Sensitivity)
Artinya rele harus cukup sensitif sehingga selalu dapat
mendeteksi adanya gangguandi daerah pengamannya, sekaligus
dalam kondisi yang memberikan rangsangan minimum. Sensitivitas
ditentukan oleh faktor kepekaan (Fsens). Pada umumnya faktor
sensitivitas harus > 1,5 karena kurva arus waktu relay arus lebih
dimulai pada tap 1,5.

b. Keandalan (Realibility)
Keandalan dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu :

o Dipercaya (Dependability)
Yaitu tingkat kepastian bekerjanya (keandalan kemampuan
bekerjanya). Pada prinsipnya pengaman harus dapat diandalkan
bekerjanya (dapat mendeteksi dan melepaskan bagian yang
terganggu), tidak boleh gagal bekerja. Dengan perkataan lain
depandability-nya harus tinggi.

o Keamanan (Security)
Yaitu tingkat kepastian dari peralatan proteksi untuk tidak
salah kerja. Salah kerja adalah kerja yang semestinya tidak harus
kerja, misalnya karena lokasi gangguan di luar kawasan
pengamanannya, atau kerja yang terlalu cepat atau terlalu lambat.
Salah kerja mengakibatkan pemadaman yang sebenarnya tidak
perlu terjadi. Jadi, pada prinsipnya pengaman tidak boleh salah
kerja, dengan kata lain security-nya harus tinggi.

o Ketersediaan (Availability)
Yaitu perbandingan antara waktu dimana pengaman dalam
keadaan berfungsi atau siap kerja dan waktu total dalam
operasinya.

8
c. Selektifitas

Pengaman harus dapat memisahkan bagian sistem yang


terganggu sekecil mungkin yaitu hanya seksi atau peralatan yang
terganggu saja yang termasuk dalam kawasan pengamanan
utamanya. Pengaman sedemikian disebut pengamanan yang selektif.

d. Kecepatan (Speed)

Untuk memperkecil kerugian atau kerusakan akibat


gangguan, maka bagian yang terganggu arus dipisahkan seceoat
mungkin dari bagian sistem lainnya. Waktu total pembebasan sistem
dari gangguan atau disingkat waktu total pembebasan gangguan (total
fault clearing time), adalah waktu sejak munculnya gangguan sampai
bagian yang terganggu benar-benar terpisah dari bagian sistem
lainya.

2.2.2.2 Rele Arus Lebih

Rele arus lebih adalah rele yang beroperasi ketika arus yang
mengalir melebihi batas yang diizinkan. Rele ini dipilih karena gangguan
yang paling sering terjadi pada sistem diakibatkan oleh adanya hubung
singkat dan beban lebih yang akan menghasilkan arus yang sangat
besar[1]. Koordinasi waktu pada rele arus lebih yaitu proses penentuan
setting untuk rele agar dapat bekerja saat sistem mengalami
gangguan[2]. Rele ini sering di gunakan di setiap zona proteksi. Rele
akan bekerja apabila memenuhi keadaan sebagai berikut :

If > Ip rele bekerja (trip)

If < Ip tidak bekerja (block)

Dimana IP merupakan arus kerja yang dinyatakan menurut gulungan


sekunder dari transformator arus (CT). Dan I f merupakan arus gangguan yang
juga dinyatakan terhadap gulungan sekunder CT. Rele arus lebih dapat berupa

9
rele arus lebih waktu tertentu, rele arus lebih waktu invers, dan rele arus lebih
waktu instan.

2.2.2.3 Penyetelan Rele Arus Lebih (Over Current Relay)

Rele arus instan akan seketika bekerja bila terdapat gangguan


short circuit minimum maupun maksimum, sehingga dalam penyetelan
pickup instan menggunakan nilai Isc min yaitu arus hubung singkat
minimum dimana terjadi gangguan hubung singkat 2 fasa pada
pembangkitan minimum. Sehingga setting dapat ditetapkan sebagai
berikut :

Iset ≤ 0,8 Isc min

Sedangkan untuk feeder yang dipisahkan oleh transformator,


koordinasi pengaman dibedakan menjadi dua daerah, yakni daerah low
voltage (LV) dan daerah high voltage (HV) seperti pada gambar 1. Untuk
menentukan setting pickup dengan syarat sebagai berikut:

Isc max bus B ≤ Iset ≤ 0,8 Isc min, A

Gambar 1 Rele Arus Lebih Pengamanan Transformator

10
Di mana Isc max bus B merupakan arus hubung singkat tiga fasa
maksimum pada titik B, sedangkan I sc min bus A adalah arus hubung singkat
minimum pada titik A.

Batas penyetelan rele arus lebih adalah rele tidak bekerja pada
saat beban maksimum. Oleh karena itu, setting arusnya harus lebih
besar dari arus beban maksimum. Rele arus lebih waktu invers memiliki
setelan pickup dan setelan time dial. Pada rele arus lebih, besarnya arus
pickup ini ditentukan dengan pemilihan tap. Adapun untuk menentukan
besarnya tap yang digunakan dapat menggunakan persamaan berikut :

Tap = Iset / p

Iset adalah arus pickup dalam Ampere. Menurut standart British


BS 142 batas penyetelannya adalah 1.05-1.3 Iset. Gangguan satu fasa
ke tanah dapat diamankan dengan rele gangguan tanah. Rele ini
adalah pengaman arus lebih yang dilengkapi zero sequence current
filter. Rele gangguan ke tanah dapat digunakan pada sistem yang
dibatasi arus gangguan ke tanahnya menggunakan sistem pentanahan.

2.2.2.4 Penyetelan Rele Gangguan Tanah

Pertimbangan pada setting koordinasi rele arus lebih gangguan


ke tanah adalah:

o Arus urutan nol akan terisolasi pada trafo belitan delta.


o Arus urutan nol akan mengalir dari sumber gangguan trafo belitan
Wye.
Sedangkan untuk setting rele gangguan ke tanah adalah :

5-10% x Isc L-G ≤ Iset ≤ 50% x Isc L-G

Dengan Isc L-G merupakan arus hubung singkat satu fasa ke tanah.

11
2.3 Kerangka Pemikiran
Berdasarkan landasan teori yang telah di peroleh dari eksplorasi teori
yang di jadikan rujukan konsepsional variabel penelitian, maka dapat di susun
kerangka penelitian sebagai berikut :

Mulai

Mengumpulkan data Primer dan data


sekunder

Menhitung nilai arus hubung


singkat

Menghitung setting ulang


dan koordinasi OCR GFR

Analisa

Membandingkan dengan setting


yang lama

Selesai

12
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Analisa Kebutuhan


Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif.
Hal ini karena data yang dalam penelitian ini adalah dalam bentuk angka dari
mulai pengumpulan data, pemrosesan ataupun perhitungan data, hingga hasil
akhir penelitian juga disajikan dalam bentuk angka.
3.1.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Unit 2 PLTU Awar-Awar tuban dengan
rentang waktu penelitian dimulai dari bulan Maret 2018 hingga Mei 2018.
3.1.2 Variabel Penelitian
Variabel penelitian merupakan objek penelitian atau yang menjadi
titik perhatian suatu penelitian. Pada penelitian yang berjudul Kajian
Koordinasi Proteksi Arus Lebih Fasa dan Ground Sistem Pembangkit PLTU
Awar-Awar Tuban, terdapat dua macam variabel, yaitu :
1. Variabel independen
Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi
atau menjadi sebab perubahan. Variabel independen dalam
penelitian ini adalah gangguan hubung singkat fasa dan gangguan
tanah di Unit 2 PLTU Awar-Awar Tuban.
2. Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau
menjadi akibat perubahan. Variabel dependen di penelitian ini
adalah setting dan koordinasi proteksi OCR dan GFR.
3.1.2 Teknik Pengumpulan Data
1. Penelitian secara langsung
Penelitian secara langsung di tempat penelitian yaitu di Unit
2 PLTU Awar-Awar Tuban.

13
2. Wawancara
Teknik pengumpulan data dengan memberikan pertanyaan
kepada pihak yang terkait. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan
data sekunder yang dapat menjadi penguat data-data primer yang
telah didapat.
3. Dokumentasi
Merupakan teknik pengumpulan data dan dokumen yang
berfungsi sebagai bukti yang berkaitan dengan objek penelitian.

3.2 Rancangan Penelitian


Kerangka kerja ini merupakan langkah dilakukan dalam
penyelesaian masalah yang akan dibahas. Adapun kerangka kerja
penelitian yang digunakan seperti terlihat pada gambar di bawah ini.:
1. Menentukan Objek
Objek yang akan diteliti pada tugas akhir ini adalah proteksi
hubung singkat fasa dan ground berupa OCR dan GFR di Unit 2 PLTU
Awar-Awar Tuban.
2. Studi Literatur
Tahap ini dilakukan dengan cara mempelajari buku-buku, jurnal,
dan artikel-artikel yang bertujuan sebagai referensi yang berhubungan
dengan rele hubung singkat fasa dan ground.
3. Menentukan Tempat Penelitian
Tempat penelitian tugas akhir ini adalah Unit 2 PLTU Awar-Awar
Tuban. Penulis memilih PLTU Awar-Awar Tuban dikarenakan PLTU ini
baru beroperasi pada Juli 2016 dan belum dikaji ulang pada sistem
koordinasi proteksi hubung singkat fasa dan ground.
4. Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang akan diolah, maka tahap
pengumpulan data ini harus dilakukan. Data yang diambil adalah data-
data yang berkaitan dengan penelitian. Pada penelitian ini, data diambil
di Unit 2 PLTU Awar-Awar Tuban.

14
5. Perhitungan
Setelah tahap pengumpulan data, maka data perlu diolah dengan
perhitungan. Perhitungan dilakukan untuk mendapatkan hasil akhir
berupa setting dan koordinasi proteksi pada rele.
6. Membuat Kesimpulan
Dari hasil perhitungan yang diperoleh maka dapat disimpulkan
bagaimana perbandingan setting dan koordinasi rele yang dikaji ulang
dengan yang telah dipasang pada Unit 2 PLTU Awar-Awar Tuban

3.3 JADWAL PENELITIAN


Berikut ini adalah tabel jadwal kegiatan penelitian. Jadwal kegiatan
penelitian ini mengacu pada rencana kegiatan dengan keluaran yang
diharapkan.

BULAN
KEGIATAN
NO Maret April Mei
Minggu ke- 1 2 3 4 1 2 3 4 1
1 Studi Literatur
Observasi
2
Lapangan
Pengumpulan
3
Data
4 Analisis Sistem
Pembuatan
5
Laporan
Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan Penelitian

15
16