Anda di halaman 1dari 25

ANALISIS PERENCANAAN TATA RUANG KOTA

MALANG PERIODE 2010-2030

Disususn Oleh :
Amanda Putri Miranti 07161007
Dewi Susianti 07161017
Ditami Widya 07161019
Murfah Asyhari 07161061
Suprayitno Agus 07161083

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI KALIMANTAN
2018
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang mengalami
fenomena pembangunan tata ruang kota dengan pemanfaatan lahan yang minim.
Tata ruang kota merupakan dasar bagi pemanfaatan ruang atau lahan. Dimana
struktur ruang dibentuk oleh sistem pusat kegiatan dan sistem jaringan prasarana
yang mencakup sistem jaringan transportasi, sistem jaringan energi, sistem
jaringan telekomunikasi dan sistem jaringan sumber daya air. Oleh karena itu,
rencana tata ruang yang berkualitas merupakan prasyarat dalam penyelenggaraan
penataan ruang dengan pola pemanfaatan ruang yang sesuai, tegas dan konsisten.
Ditinjau dalam lingkup Provinsi Jawa Timur, pertumbuhan dan
perkembangan suatu wilayah di Kota Malang dilatarbelakangi oleh berbagai aspek
kehidupan seperti perkembangan penduduk, kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi, dinamika kegiatan ekonomi, perkembangan dan perluasan jaringan
komunikasi-transportasi dan sebagainya. Faktor-faktor tersebut akan membawa
perubahan terhadap bentuk keruangan di wilayah yang bersangkutan, baik secara
fisik maupun non fisik, sebagai tempat kegiatan manusia. Selain itu, wilayah kota
Malang merupakan salah satu pusat pengembangan yang cukup tinggia bagi
satuan wilayah pengembangan Malang-Pasuruan. Sehingga dapat dikatakan
bahwa kondisi akumulasi berbagai aktivitas kegiatan di kota Malang tumbuh
akibat adanya dorongan kegiatan fuungsi dasar tersebut. Oleh karena itu,
perencanaan tata ruang kota Malang harus efisien dan efektif agar setiap wilaah
memiliki spesifikasi kegiatan yang saling menunjang dan saling melengkapi.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun permasalahannya yaitu bagaimana perbedaan kondisi tata ruang
kota Malang pada zaman Kolonial dengan sekarang.

1.3 Tujuan
Adapun tujuannya yaitu untuk mengetahui perbedaan kondisi tata ruang
kota Malang pada zaman Kolonial dengan sekarang..
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Tata Ruang


Berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Pasal 1,
ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut dan ruang udara.
Termasuk ruang didalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan
makhluk lain hidup, melakukan kegiatan dan memelihara kelangsungan hidup.
Jadi tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang. Struktur ruang adalah
susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang
berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara
hierarki memiliki hubungan fungsional. Pola ruang merupakan distribusi
peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk
fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 4 Tahun 2011 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Malang pasal 4, penataan ruang kota Malang
diselenggarakan berdasarkan asas keterpaduan, keserasian, keselarasan dan
keseimbangan, keberlanjutan, keberdayagunaan dan keberhasilgunaan,
keterbukaan, kebersamaan dan kemitraan, perlindungan kepentingan umum,
kepastian hokum dan keadilan, akuntabilitas, derta kesinambungan dalam lingkup
Kota Malang yang berwawasan lingkungan dan kaitanna dengan Provinsi Jawa
Timur dan daerah otonom sekitar.
Penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang
wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Menurut UU
Nomor 26 Tahun 2007, penataan tata ruang kota diselenggarakan berdasarkan
asas :
a. Keterpaduan, maksudnya penataan ruang diselenggarakan dengan
mengitegrasikan berbagai kepentingan yang bersifat lintas sektor, lintas
wilayah, dan lintas pemangku kepentingan.
b. Keserasian, keselarasan, dan keseimbangan, maksudnya penataan ruang
diselenggarakan dengan mewujudkan keserasian antara struktur ruang dan pola
ruang, keselarasan antara kehidupan manusia dan lingkungannya,
keseimbangan pertumbuhan dan perkembangan antar daerah dan kawasan
perkotaan dan kawasan perdesaan.
c. Keberlanjutan, maksudnya penataan ruang diselenggarakan dengan menjamin
kelestarian dan kelangsungan daya dukung (kemampuan lingkungan hidup
untuk mendukung kehidupan yang berlangsung padanya secara wajar, yang
berimplikasi dengan kerusakan lingkungan hidup) dan daya tampung
(menyangkut kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat dan benda
lainnya yang masuk pada badan lingkungan hidup tersebut, dan berimplikasi
dengan pencemaran lingkungang hidup) lingkungan hidup dengan
memerhatikan kepentingan generasi mendatang.
d. Keberdayagunaan dan keberhasilgunaan, maksudnya penataan ruang
diselenggrakan dengan mengoptimalkan manfaat ruang dan sumber daya
(SDA) yang terkandung di dalamnya serta menjamin terwujudnya tata ruang
yang berkulitas.
e. Keterbukaan, maksudnya penataan ruang diselenggarakan dengan memberikan
akses yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mendapatkan informasi
yang berkaitan dengan penataan ruang.
f. Kebersamaan dan kemitraan, maksudnya penataan ruang diselenggarakan
dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
g. Perlindungan kepentingan umum, maksudnya penataan ruang diselenggarakan
dengan mengutamakan kepentingan masyarakat.
h. Kepastian hukum dan keadilan, maksudnya penataan runag diselenggarakan
dengan berlandaskan hukum atau ketentuan peraturan perundang-rundangan
dan bahwa penataan ruang dilaksanakan dengan mempertimbangkan rasa
keadilan masyarakat serta melindungi hak dan kewajiban semua pihak secara
adil dengan jaminan kepastian hukum.
i. Akuntabilitas, maksudny penataan ruang dapat dipertanggungkan jawabkan,
baik prosesnya , pembiayaannya, maupun hasilnya.
Menurut UU RI NO. 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG
penataan ruang diklasifikasikan berdasarkan sistem, fungsi utama kawasan,
wilayah administratif, kegiatan kawasan, dan nilai strategis kawasan, yaitu :
1. Penataan ruang diselenggarakan dengan memperhatikan:
a. kondisi fisik wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang rentan
terhadap bencana;
b. potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan;
kondisi ekonomi, sosial, budaya, politik, hukum, pertahanan keamanan,
lingkungan hidup, serta ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai satu
kesatuan; dan
c. geostrategi, geopolitik, dan geoekonomi.
2. Penataan ruang wilayah nasional, penataan ruang wilayah provinsi, dan
penataan ruang wilayah kabupaten/kota dilakukan secara berjenjang dan
komplementer.
3. Penataan ruang wilayah nasional meliputi ruang wilayah yurisdiksi dan
wilayah kedaulatan nasional yang mencakup ruang darat, ruang laut, dan ruang
udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan.
4. Penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota meliputi ruang darat,
ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
5. Ruang laut dan ruang udara, pengelolaannya diatur dengan undang-undang
tersendiri.

2.2 Kota Malang


Pertumbuhan dan perkembangan suatu wilayah jika tidak ditata, maka akan
mengakibatkan perkembangan yang tidak terarah dan mengalami penurunan
kualitas pemanfaatan ruang. Kota Malang merupakan salah satu kota yang berada
di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota
Malang, kota ini memiliki luas wilayah 110,06 km² yang terbagi menjadi 5
kecamatan dan 57 kelurahan. Kota ini berada di dataran tinggi, sehingga udara
terasa sejuk. Kota dengan visi “Terwujudnya Kota Malang sebagai Kota
Pendidikan yang Berkualitas, Kota Sehat dan Ramah Lingkungan, Kota
Pariwisata yang Berbudaya, Menuju Masyarakat yang Maju dan Mandiri”
memiliki motto “Program Tri Bina Cita Kota” sebagai kota pendidikan, kota
industri dan kota pariwisata. Keadaan geografi kota malang terletak pada
ketinggian 440-667 meter diatas permukaan air lau, 112,06º - 112,07º nujur timur
dan 7,06º-8,02º lintang selatan.
Batas Wilayah
Kecamatan Singosari dan Kecamatan
Sebelah Utara
Karangploso, Kabupaten Malang
Kecamatan Pakis dan Kecamatan Tumpang,
Sebelah Timur
Kabupaten Malang
Kecamatan Tajinan dan Kecamatan Pakisaji,
Sebelah Selatan
Kabupaten Malang
Kecamatan Tajinan dan Kecamatan Pakisaji,
Sebelah Barat
Kabupaten Malang
Tabel 2.1 Batas Wilayah Kota Malang
(sumber: Badan Perencanaan, Penelitian Daerah Kota Malang)

Berdasarkan tabel 2.1 menunjukan bahwa Kota Malang terhubung secara


strategis dengan Kabupaten Malang. Selain itu, letak Kota Malang juga
berdekatan dengan Kota Batu. Keterhubungan ini memberikan dampak mobilisasi
kendaraan keluar/masuk yang besar di Kota Malang.
Gambar 2.1 Perencana Pola Tata Guna Lahan Kota Malang Tahun 2010-
2030

Gambar 2.2 Perencanaan Struktur Ruang Kota Malang Tahun 2010-2030

2.3 Pembangunan Kota


Menurut Sadyohutomo (2008), kota diartikan secara khusus yaitu suatu
bentuk pemerintahan daerah yang mayoritas wilayahnya merupakan daerah
perkotaan. Banyak fungsi perkotaan mendominasi sebagian kehidupan
masyarakat. Sejarah pembangunan kota sangat terkait dengan kondisi
masyarakatnya. Pembangunan merupakan proses yang bergerak dalam sebuah
garis lurus, yakni dari masyarakat terbelakang ke masyarakat negara maju.
Menurut Hakin (2004), terdapat lima tahap proses pembangunan yaitu,
masyarakat tradisional, pra kondisi untuk lepas landas, lepas landas, menuju
kedewasaan dan era konsumsi massal tinggi.
Kota sebagai suatu sistem yang terdiri atas sibsistem social dan ekologis
hendaknya dipandang secara menyeluruh dalam berbagai kaitannya, mulai mikro
hingga makro. Sehingga menurut Nugroho dan Dahuri (2004) perlu adanya
kerangka konseptual untuk menyusun kebijakan pembangunan per-kotaan
khususnya di negara berkembang yang meliputi peningkatan aktivitas ekonomi,
peningkatan produktivitas masyarakat miskin, perlindungan lingkungan hidup dan
pembangunan modal sosial.
Menurut Yunus (1994), perkembangan kota ialah proses perubahan
perkotaan dalam waktu yang berbeda namun dalam analisis yang sama. Proses ini
dapat berjalan secara alami atau vertikal serta terdapat campur tangan manusia.
Sedangkan menurut Branch (1995), perkembangan kota dipengaruhi oleh situasi
dan kondisi internal dalam perencanaan kota secara komperhesif. Adapun faktor
internal yang mempengaruhi yaitu :
1. Keadaan geografis yang mempengaruhi fungsi dan bentuk fisik kota
2. Kondisi topograafi
3. Fungsi kota
4. Sejarah dan kebudayaan
5. Unaur-unsur umum

2.4 Bentuk-Bentuk Kota


Morfologi biasanya digunakan untuk skala kota dan kawasan. Morfologi
kota pada eksistensi keruangan dari bentuk-bentuk wujud karakteristik kota yaitu
analisa bentuk kota dan faktorfaktor yang mempengaruhinya (Yunus, 2000). Jadi
morfologi kota tidak hanya sebatas menganalisa bentuk kota tetapi juga
mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk kota tersebut.
Birkhamshaw, Alex J and Whitehand (2012) menyatakan bahwa dalam
aspekaspek urban morfologi, penetapan karakteristik perkotaan dari berbagai jenis
bentuk adalah hal yang mendasar terutama dalam kaitannya untuk membedakan
dan melakukan pemetaan wilayah yang kebijakan setiap wilayah juga berbeda-
beda. Dengan adanya teori tersebut maka dalam suatu penelitian morfologi kota,
memerlukan kajian morfologi kota dengan berbagai jenis bentuk atau aspek.
Menurut Conzen dalam Birkhamshaw, Alex J and Whitehand (2012), morfologi
kota memiliki tiga komponen yaitu Ground Plan (pola jalan, blok bangunan),
bentuk bangunan (tipe bangunan) dan utilitas lahan/bangunan. Analisa bentuk
kota meliputi:
a. Bentuk-bentuk kompak
Terdiri atas bentuk bujur sangkar (the square cities), bentuk empat persegi
panjang (the rectangular cities), bentuk kipas (fan shaped cities), bentuk
bulat (rounded cities), bentuk pita (ribbon shaped cities), bentuk gurita atau
bintang (octopus/star shaped cities), bentuk tidak berpola (unpatterned
cities).
b. Bentuk-bentuk tidak kompak
Terdiri atas bentuk terpecah (fragmented cities), bentuk berantai (chained
cities), bentuk terbelah (split cities), bentuk stellar (stellar cities).
Faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk kota yaitu faktor bentang alam atau
geografis, transportasi, sosial, ekonomi dan regulasi. Morfologi kota selain dilihat
dari sisi bentuk kota dan faktor-faktor yang mempengaruhinya juga dapat dilihat
berdasarkan tipe morfologi kota (Urban Morphology Type). Tipe morfologi kota
dapat dirinci berdasarkan penggunaan lahan utama/Primary Land Use) (Philip
James dan Daniel Bound, 2009). Tipe morfologi kota ini sering dikenal sebagai
penggunaan lahan. Teori tipe morfologi kota ini sering dikenal sebagai fungsi
bangunan. Kajian morfologi kota secara struktural, fungsional dan visual serta
perancangan kota.

2.5 Analisa Peranangan Kota


Markus Zahnd bahwa, di dalam perancangan kota dikenal tiga kelompok
analisa perancangan
kota (figure/ground, lingkage, place) yaitu sebagai berikut:
a. Analisa Figure/ Ground
Pada analisa ini meliputi pola sebuah tempat yang membahas mengenai
fungsi dan sistem
pengaturan, dua pandangan pokok terhadap pola kota yang meliputi
organisasi lingkungan, figure yang figuratif dan ground yang figuratif serta
sistem poche, tekstur figure/ ground.
b. Analisa Linkage
Ada tiga macam cara penghubung, yaitu linkage visual, linkage struktural,
serta linkage bentuk kolektif. Semua bentuk tersebut merupakan dinamika
perkotaan yang dianggap sebagai generator kota.
c. Analisa Place
Pada analisa ini akan dibahas mengenai makna sebuah kawasan sebagai
sebuah tempa perkotaan. Analisa Place pada penelitian ini adalah analisa
konteks kota dan citra kota yang terdiri dari path (jalur), edge (tepian), district
(kawasan), node (simpul), landmark (tengeran) (Lynch, 1969).

2.5 Pola Jaringan Jalan


Unsur pembentuk struktur tata ruang kota dapat pula dipahami secara
persepsional. Menurut Lynch dalam Pontoh (2009) melihat adanya lima unsur
pembentukcitra kota, yaitu path (jalanan), edge (perbatasan), district (kawasan),
node (simpangan), dan landmark (tengeran). Herbert dalam Yunus (2000)
mengemukakan bahwa terdapat 3 model klasik berkaitan dengan struktur kota
yang dibedakan menjadi tori zona konsentris, teori sektoral dan konsep multiple-
nuclei. Secara umum model-model tersebut menjelaskan bagaimana tata guna
lahan yang mungkin terbentuk di dalam perkembangan suatu kota. Struktur tata
ruang kota pada dasarnya dibentuk oleh dua elemen utama, yaitu link dan node.
Kedua elemen tersebut sekaligus merupakan elemen utama transportasi (Morlok,
1978:89). Link (jalur) adalah suatu garis yang mewakili suatu panjang tertentu
dari suatu jalan, rel atau rute kenderaan. Sedangkan node adalah suatu titik tempat
suatu jaringan jalan bertemu. Pola jaringan jalan merupakan salah satu unsur dari
morfologi kota (Yunus, 2000:114). Dari berbagai komponen morfologi kota, pola
jalan merupakan komponen yang paling nyata manifestasinya dalam pembentukan
periodeisasi pembentukan kota. Ada tiga sistem pola jalan yang dikenal, yaitu :
a. Pola jalan tidak teratur (Irregular Sysytem)
b. Pola jalan radial konsentris (Radial Concentric System)
c. Pola jalan bersiku (Grid)
Keterkaitan antar wilayah ruang sangat berperan dalam menciptakan
perjalanan. Menurut Tamin (2008) pola pergerakan di bagi dua yaitu pergerakan
tidak spasial dan pergerakan spasial. Pola pergerakan adalah bentuk/model
pergerakan yang di klasifikasikan pola orientasi pergerakan. Pola orientasi
pergerakan ditinjau dari asal dan tujuan pergerakan. Hasil analisa pola pergerakan
akan digambarkan dalam bentuk garis keinginan yang menunjukkan pola
pergerakan yang terjadi yang dapat menggambarkan pola penyebaran pusat
kegiatan dalam kota (Tamin, 2000). Dalam konteks perjalanan antar kegiatan
yang dilakukan oleh penduduk dalam kota dikenal fenomena bangkitan perjalanan
(trip 5 generation) dan tarikan perjalanan (trip attraction). Menurut Tamin
(2008), bangkitan perjalanan sebenarnya memiliki pengertian sebagai jumlah
perjalanan yang dibangkitkan oleh zona pemukiman, baik sebagai asal maupun
tujuan perjalanan atau jumlah perjalanan yang dibangkitkan oleh aktifitas pada
akhir perjalanan di zona non pemukiman (pusat perdagangan, pusat perkotaan,
pusat pendidikan, industri dan sebagainya).

2.2 Fungsi Tata Ruang Kota


Tata ruang atau dalam bahasa Inggrisnya Land use adalah wujud struktur
ruang dan pola ruang disusun secara nasional, regional dan lokal. Secara nasional
disebut Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, yang dijabarkan ke dalam
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, dan Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) tersebut perlu dijabarkan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
(RTRWK) (Wikipedia). Tata ruang kota memiliki fungsi yg mendukung
terbentuknya kota yang nyaman :
 Untuk mencegah atau menghindari benturan-benturan kepentingan atau
konflik antar sektor dan antar kepentingan dalam pembangunan masa kini dan
masa yang akan datang
 Untuk menghindari terjadinya pembedaab dalam pengelolaan dan
pemanfaatan sumber daya alam.
 Untuk tercapainya optimalisasi pemanfaatan ruang yang memperlihatkan
daya dukung dan kesesuaian wlayah terhadap jenis pemanfaatannya.
 Untuk terciptanya kemudahan pemanfaatan fasilitas dan pelayanan sosial
ekonomi bagi masyarakat maupun sektor-sektor yang terkait.
 Menjaga kelestarian dan kemampuan ruang serta menjamin kesinambungan
pembangunan di berbagai sektor.
 Untuk dapat memberikan arahan bagi penyusunan program-program
tahunan.agar dapat terjadi kesesuaian sosial ekonomi akibat pemanfaatan
ruang terhadap perkembangan ekonomi dan sosial mendatang.
 Untuk dapat menciptakan kemudahan bagi masyarakat untuk berpatisipasi
pada kegiatan-kegiatan produksi.
 Terciptanya suatu pola pemanfaatan ruang yang mampu mengakomodir
segala bentuk kegiatan yang terjadi di dalam ruang tersebut.
 Pembangunan dapat terencana sesuai dengan fungsi yang di emban oleh
ruang.
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Rencana Tata Ruang Kota Malang


Setelah menjadi gementee (kota madya) pada 1 April 1914 dengan
pertimbangan pertumbuhan penduduk yang sangat pesat , dimulailah perluasan
kota secara besar-besaran. Perluasan melibatkan pihak pemerintah dan swasta
untuk membangun prasarana baik di dalam kota , maupun jalan – jalan yang
menghubungkan Malang sebagai kota pedalaman dengan kota-kota lainnya.
Antara tahun 1914-1929 Kota Malang sudah mempunyai 8 tahapan perencanaan
kota yang pasti. Masing-masing tahapan tersebut dinamakan sebagai Bouwplan I-
VIII. Tuuan utama dari perluasan ini adalah pengendalian penduduk kota akibat
dari pertambahan penduduk serta kemajuan ekonomi yang sangat pesat
(Handinoto, 1996:9). Perencanaan ini tidak lepas dari peran Ir. Herman Thomas
Karsten , insinyur terkenal pada masa itu yang juga menjadi penasehat keruangan
Kota Malang pada masa pemerintahan Walikota H. I . Bussemaker.
Perencanaan yang diusung Karsten secara garis besar membagi Kota Malang
menjadi kompleks fasilitas publik dengan alun alun kulon sebagai titik pusatnya.

Gambar 4.1 Lokasi-lokasi yang tercakup dalam Bouwplan I-VIII


(Sumber: Handinoto, 1996)

3.2 Bouwplan I-VIII oleh Ir. H.T. Karsten


Kota Malang dibangun tidak dengan serta merta, melainkan melalui tahap-
tahap yang berkelanjutan. Sebelum ditata secara bertahap, kota Malang cenderung
memiliki pola perkembangan yang linier, bagai pita yang membujur utara-selatan
sepanjang jalan poros Malang-Surabaya.
Pola yang demikian kurang baik untuk perkembangan lebih lanjut. Oleh
karena itu, Kota Malang perlu diperluas ke arah timur dan barat. Namun,
perluasan ke arah barat dan timur itu terhalang oleh aliran Sungai Brantas dan
Bango di sisi timur serta aliran Kali Metro di barat, yang prakstis menjadi batas
terluar perkembangan Kota Malang ketika itu.
Untuk mengendalikan perubahan bentuk kota yang cenderung mengarah
utara-selatan, Kotapraja Malang dari tahun 1917-1929 mengeluarkan 8 buah
rencana perluasan kota (bouwplan). Pada tahun sebelumnya (1914-1916),
perhatian pemerintah lebih banyak diarahkan kepada peningkatan sarana dan
prasarana kota, seperti penyediaan air bersih, jaringan listrik, perbangkan dengan
mendirikan “Javasche Bank (kini Bank Indonesia)”, per-hotelan dengan membuka
“Palace Hotel (kini Hotel Pelangi)”, serta mendirikan perusahaan tanah guna
meminimalkan ulah para spekulan tanah.
Bouwplan I:
Keputusan rapat Dewan Kota (Gemeenteraat) tanggal 13 April 1916, namun baru
dilaksanakan 18 Mei 1917. Tujuannya membangun daerah perumahan baru untuk
golongan orang Eropa di antara Celaket - Rampal. Naman jalan menggunakan
nama anggota keluarga kerajaan Belanda, sehingga dinamai
“Oranyebuurt”.Daerah Oranjebuurt tersebut memakai nama-nama jalan dengan
nama-nama anggota keluarga kerajaan Belanda. Seperti Wilhelmina straat
(sekarang Jl. Dr Cipto), Juliana straat (sekarang Jl. RA Kartini), Emma straat
(sekarang Jl. dr Sutomo), Willem straat (sekarang Jl. Diponegoro), Maurits straat
(sekarang Jl. MH Thamrin), dan Sophia straat (sekarang Jl.
Cokroaminoto).Daerah yang terletak antara Jalan Tjelaket dengan Jalan Rampal
dan berbatasan dengan rel kereta api yang akan memasuki Kota Malang tersebut
cepat terisi oleh perumahan orang Eropa, karena letaknya yang sangat strategis
pada waktu itu.

Gambar 3.?
Sumber: http://ngalam.id/read/4291/rencana-pengembangan-kota-malang-i-
bouwplan-i
Bouwplan II:
Keputusan rapat Gemeenteraat 26 April 1920, namun baru dilaksanakan tahun
1922 dengan tujuan membentuk daerah pusat pemerintahan yang baru, yakni
Kotapraja (Gemeente) Malang, yang dibentuk 1 April 1914. Berintikan lapangan
terbuka berbentuk bundar dengan bagian di tengah berupa kolam air mancur, yang
kemudian populer dengan sebutan “Alon-alon Bunder”. Di sekitanya didirikan
bangunan resmi dan monumental seperti Balai Kota, Hotel Splendid, sekolah
HBS/AMS, stasiun kereta api, rumah tinggal panglima militer dsb. Jalan-jalan
diberi nama dengan nama para gubernur jendral terkenal masa Hindia-Belanda
sehingga dinamai “Gouverneur-Generaalbuurt”. Daerah Gouverneur-
Generaalbuurt tersebut jalan-jalannya memakai nama gubernur jendral pada masa
Hindia Belanda yang terkenal, seperti Daendels Boulevard (sekarang Jalan
Kertanegara), Van Imhoff straat (sekarang Jalan Gajahmada), Speelman straat
(sekarang Jalan Mojopahit), Maetsuucker straat (sekarang Jalan Tumapel),
Riebeeck straat (sekarang Jalan Kahuripan), Van Oudthoorn straat (sekarang Jalan
Brawijaya), Idenburg straat (sekarang Jalan Suropati), Van den Bosch straat
(sekarang Jalan Sultan Agung), Van Heutz straat (sekarang Jalan Pajajaran), dan
van der Capellen straat (sekarang Jalan Sriwijaya). Sedangkan Alun-alun
Bundernya sendiri pada waktu itu dinamakan sebagai Jan Pietersoon Coen Plein
sekarang menjadi Alun-alun Tugu. Pada sekitar tahun 1950-an, air mancur di
tengah Alun-alun Bunder itu didirikan tugu yang diresmikan oleh Presiden
Soekarno. Monumen Tugu sempat dihancurkan Belanda pada saat Agresi Militer
Belanda I tahun 1948. Belanda menghancurkan monumen Tugu sebagai bentuk
kekesalan Belanda atas kegigihan arek-arek Malang. Pada tahun 1953 monumen
Tugu dibangun kembali oleh pemerintah Malang dan diresmikan (lagi) oleh
Presiden RI pada waktu itu, Ir. Soekarno.

Gambar 2.2 Alun-alun bunder pada awal pembangunan tahun 1922


Sumber: http://ngalam.id/read/4305/rencana-pengembangan-kota-malang-ii-
bouwplan-ii/
Bouwplan III:
Keputusan rapat Gemeenteraat 26 Agustus 1919 dan 26 April 1920, dengan
maksud untuk membangun areal pemakamkam yang cukup luas guna menampung
kebutuhan akan makam bagi orang Eropa yang tinggal di Malang. Kompleks
tersebut haruslah cukup luas untuk menampung areal kuburan bagi orang Eropa
yang ada di Malang, yang pada saat itu dirasakan tidak mempunyai kompleks
pekuburan yang layak. Daerah yang dipilih adalah daerah Soekoen
(Staadgemeente Malang 1914-1939: XLVI), yang terletak di sebelah tenggara
kota. Daerah Soekoen dipandang masih luas dan penduduknya masih jarang
sehingga tidak begitu banyak terdapat perumahan (pada waktu itu). Keputusan
tersebut diambil setelah beberapa kali pihak pemerintah kota (gemeente) gagal
menentukan lokasi daerah pekuburan.

Gambar 2.3 Gerbang makam orang Eropa di sukun


Sumber: http://ngalam.id/read/4328/rencana-pengembangan-kota-malang-iii-
bouwplan-iii/

Bouwplan IV:
Diperuntuk bagi perumahan kelas menengah ke bawah diantara Celaket-
Lowokwaru, yang didalamnya terdapat komleks kuburan Samaan (6.2045 Ha),
sekolah dan lapangan olah raga tersendiri. Nama jalan menggunakan nama sungai.
Luas bouwplan IV: 41.401 m².Secara keseluruhan rencana pengembangan
pemukiman di Kota Malang dimaksudkan untuk membagi menurut jalur dan
sektor di dalam rencana pemukiman kota. Hal itu diharapkan akan dapat
mencegah sentuhan langsung antar golongan penduduk yang bisa mengganggu
ketentraman kedua belah pihak.
Gambar 2.4 Pos Polisi daerah Tjelaket tahun 1930
Sumber: http://ngalam.id/read/4566/rencana-pengembangan-kota-malang-iv-
bouwplan-iv/

Bouwplan V:
Rencana pembangunan dimulai tahun 1924/1925. Diperuntukan bagi perumahan
golongan Eropa dengan rumah tipe vila. Lokasi di bagian barat kota dari arah
Kayutangan, yang berpermukaan tanah relatif tinggi. Jalan utama dalam bouwplan
V adalah Jl. Besar Ijen yang membujur utara-selatan dan dilengkapi dengan
jajaran pohon palem, serta taman-taman kota di setiap perpotongan jalan. Dengan
pusat kota Alun-alun Lama, daerah Bouwplan V tersebut dihubungkan dengan
daerah Taloen (sekarang Jl. Kawi). Dengan demikian daerah perluasan kota yang
baru ini selain berfungsi mencegah bentuk kota yang memanjang ke arah utara-
selatan, juga sekaligus mempunyai hubungan yang baik sekali ke seluruh kota.
Yang juga menjadi daya tarik dalam perluasan kota ini adalah pembangunan
komplek olahraga di sekitar Jalan Semeru, yang besar sekali menurut ukuran
jaman itu. Taman olahraga tersebut terdiri dari stadion, lapangan hoki, dua buah
lapangan sepakbola dan 9 lapangan tenis dengan sebuah club house dan kolam
renang.
Jalan utama dalam kompleks perluasan Bouwplan V ini adalah Jalan Ijen
yang membujur ke arah utara-selatan. Jalan ini kelak menjadi salah satu ciri khas
Kota Malang. Setiap ada perpotongan dengan jalan yang membujur ke arah timur-
barat maka perpotongan tersebut diselesaikan dengan taman-taman yang indah.
Misalnya saja Smeroe Plein(pertemuan antara Jl. Semeru dengan Jl. Ijen), Ijen
Plein pada akhir Jalan Ijen. Dengan demikian secara keseluruhan Jalan Ijen yang
megah dengan pohon palemnya lebih semarak lagi dengan banyaknya taman-
taman. Jalan Ijen sebagai jalan utama pada perluasan Kota Malang ke arah barat
ini rasanya pantas dijuluki sebagai salah satu jalan yang paling indah di antara
kota-kota di Hindia Belanda pada saat itu.
Tanah pada perluasan Bouwplan V ini memang tidak sepenuhnya dikuasai
pihak kota karena sebagian besar dari tanah yang berada di sebelah barat Kota
Malang ini dikuasai oleh NV. Bouwmaatschappij Villapark. Meskipun demikian
pihak Gementee berhasil mengendalikan perkembangan daerah ini dengan
sepenuhnya. Rencana perluasan pembangunan kota Malang V ini seluas 16.768
M².

Gambar 2.5 Smeroestraat tahun 1935


Sumber:
http://ngalam.id/read/4587/rencana-perluasan-pembangunan-kota-malang-v-
bouwplan-v/

Gambar 2.6 Ijen Boulevard


Sumber: https://ijenboulevard.wordpress.com/2013/11/17/ijen-boulevard/

Bouwplan VI:
Areal terbangun berada di sebelah selatan Alon-alon dan dari Sawahan ke arah
timur serta barat. Nama jalan di ambil dari nama pulau-pulau, sehingga lazim
dinamai dengan “Eilandenbuurt”. Terkait dengan perluasan kota pada bouwplan
VI ini, pihak Gemeente Malang menaruh perhatian guna memperluas Pasar
Pecinan, dengan membangun pasar sore dan pasar malam di Pasar Pecinan (1932)
serta pembangunan termina bus di belakang Pasar Pecinan (1937). Luas bouwplan
VI : 220.901 m².

Gambar 2.7 Petjinanstraat tahun 1930


Sumber: http://ngalam.id/read/4847/rencana-pengembangan-kota-malang-vi-
bouwplan-vi/

Bouwplan VII :
Dimaksudkan untuk melanjutkan pembangunan bagian barat kota pada bouwplan
V, yaitu perumahan elit tipe vila berukuran besar serta arena pacuan kuda.
Sebagaimana nama jalan di sekitarnya yang dibangun pada masa sebelumnya,
jalan-jalan yang dibangun dalam bouwplan VII juga mengambil nama
gunung.Luas bouwplan VII : 252.948 m².

Gambar 2.8 Lapangan pacuan kuda


Sumber: http://rochmanhadi.blogspot.co.id/2012/08/malang-tempoe-doeloe.html
Bouwplan VIII:
Dimaksudkan untuk membangun zona industri bagi perusahan-perusahaan Besar.
Zona industri ini dlengkapi dengan jalan kereta api . Oleh karenanya, lokasi yang
dipilih berdekatan dengan emplasemen kereta api dan trem uap di selatan kota.
Luas bouwplan VIII : 179.820 m².

Gambar 2.9 Komplek Industri tahun 1950

Sumber:
http://ngalam.id/read/4873/rencana-pengembangan-kota-malang-vii-viii-
bouwplan-vii-viii/

Dengan adannya perluasan kota tahap I-VIII diatas, Kota Malang bertambah luas
744.064 m² dari luas semula. Selanjutnya, pembangunan diarahkan pada
terbentuknya sebuah kota sebagai suatu kesatuan organis. Tidak cukup hanya
dengan pekerjaan teknis, namun perlu pula dilakukan tindakan-tindakan
organisasi dan perencanaan yang baru.
Untuk kepentingan itu, pihak Gemeente Malang menunjuk Thomas Karsten
sebagai penasihat (adviseur) resmi Kota Malang dari tahun 1929 hingga 1935.
Terhitung dari tahun 1935 s.d. 1940 pihak Gemeente Malang melakukan
perluasan tambahan bagi kota Malang, yang di-beri sebutan “Rencana Tambahan
Global”, meliputi: rencana jaringan jalan utama, rencana tanam dan ruang luar,
serta rencana jaringan kereta api dan tram. Dengan adana jaringan transportasi itu,
ke arah utara wilayah kota Malang meluas hingga mencapai Blimbing dan ke
barat hingga mencapai daerah yang diberi nama dengan nama kota-kota.

3.3 Perubahan Fisik Kota Malang


Bouwplan I-VIII melahirkan dampak besar perubahan Kota Malang dengan
pelbagai pembangunan fasilitas publik seperti jaringan jalan, kantor-kantor
pelayanan, dan pemukiman berdasarkan etnis. Secara garis besar, laporan Karsten
mengenai tata ruang Kota Malang (1935:59), Bouwplan I-VIII mengubah
beberapa pokok keruangan kota yaitu:
1) bentuk utama dan pusatnya
2) kelompok utama dan peruntukannya
3) jaringan jalan utama
Atas perencanaannya, Bouwplan I-VIII dilaksanakan dalam kurun waktu kurang
lebih 15 tahun, dimulai sejak 1914 hingga 1929 dan penetapan-penetapan lain
hingga 1935.

Gambar 4.2 Pemetaan perkembangan keruangan Kota Malang dari tahun 1882
sampai 1938.
(Sumber: Handinoto, 1996)

Dapat dicermati dalam gambar di atas berbagai perubahan diantaranya


jarangan jalan, pemukiman dan pusat kegiatan penduduk yang semakin padat.
Adapun perubahan yang terjadi semakin pesat dan besar dampaknya jika ditarik
sumbu waktunya kea rah abad 21 setelah periode pembangunan Orde Baru hingga
kini.
Mengingat terlalu luasnya pembahasan dalam topik perluasan Kota
Malang pada periode tersebut, penulis memfokuskan pembahasan di titik-titik
penting Kota Malang yang berdasarkan dampak dan tingkat perubahannya.
Salah satu perubahan yang mencolok tampak di area Pecinan atau kini
akrab dikenal dengan daerah Pasar Besar. Di dalam tata ruang kota, daerah
Pecinan sering menjadi “Pusat Perkembangan” karena daerah tersebut merupakan
daerah perdagangan yang ramai. Daerah yang punya kepadatan tinggi dengan
penampilan bangunan berbentuk ruko (rumah toko atau Shop houses) sering
menjadi ciri daerah Pecinan. Dapat dilihat pada dokumentasi foto diatas
menunjukkan adanya perubahan fisik yang sangat signifikan. Hal ini
menunjukkan bahwa Kota Malang terus menerus melakukan pembangunan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya namun tanpa disadari lambat laun
nilai historis pada daerah tersebut juga memudar.
Rencana awal , pada th. 1826 pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan
undang-undang yang disebut sebagai “wijkenstelsel”. Undang-undang ini
mengharuskan etnik-etnik yang ada di suatu daerah untuk tinggal
didaerah/wilayah yang telah ditentukan didalam kota. Misalnya orang Cina harus
tingal di Pecinan, yang tinggal diluar Pecinan harus pindah kedalam wilayahnya
sendiri yang telah ditentukan. Sehingga daerahdaerah etnik yang memang sudah
ada di berbagai kota terutama di kota-kota pantai di Jawa lebih diperkuat lagi
kehadirannya.

Gambar 4.3 Pemandangan daerah Chineschestraat , kemudian menjadi


Pecinan Straat (sekarang Jalan Pasar Besar). Pemandangan tersebut
diambil sekitar th 1900 an.
(Sumber: Handinoto, 1996)
Gambar 4.4 Pemandangan daerah Pecinan saat ini.
(Sumber: Dokumen Pribadi 2015 )

Namun pada saat ini, Pecinan sudah dirubah menjadi toko-toko yang
mengedepankan kemodernan saat ini hal ini disebabkan oleh masalah ekonomi ,
Seperti halnya pecinan sekarang yang telah berubah menjadi kawasan toko yang
arsitekturnya sudah berubah tanpa menyisakan nilai sejarah. Terutama jalan -
jalan di sekitar Pasar Besar yang sekarang mengalami kemacetan parah dimana
semua area Pecinan sudah dijadikan toko-toko. Padahal zaman dahulu area
pacinan merupakan “rumah-toko” yang dapat kita persentase kan sekitar 60%
meruapakan ruang keluarga , kamar mandi , wc dan dapur sedangkan 40% nya
adalah toko. Namun , Pecinan sekarang sudah hampir 90% merupakan area toko
dan sisanya kamar mandi. Sehingga semua kegiatan ekonomi akan bertumpu pada
Pasar Pecinan apalagi jalan sempit dan banyaknya kendaraan yang parkir
menyebabkan jalan pecinan sekarang mengalami kemacetan yang cukup parah.
Selain pusat perekonomian rakyat seperti Pecinan atau daerah sekitar Pasar
Besar, kompleks pemerintahan juga menunjukkan perubahan yang cukup dominan
pada penataannya. Alun-alun Bunder yang bertempat di kompleks Balaikota
sempat mengalami pemugaran dan beberapa perubahan di sekitar kompleks
tersebut. Pada zaman kolonial, taman ini pertama kali dibuat oleh Gubernur
Pemerintah Hindia Belanda yang waktu itu dipimpin oleh Jenderal Pieter Zoen
Coen. Modelnya yang masih sederhana dengan konsep terbuka (belum ada
tugunya) tanpa dibatasi pagar yang menghalang. Dulu taman ini dibangun untuk
sekedar pelengkap halaman gedung Kegubernuran Hindia Belanda.
Setahun setelah Kemerdekaan Indonesia (hasil KMB di Den Haag)
tepatnya 17 Agustus 1946, masyarakat Malang mendesak untuk merubah struktur
pemerintahan daerahnya dengan menjadikan orang Indonesia sebagai
pimpinannya. Sekaligus diletakkan batu pertama pertanda dibangunnya Monumen
Tugu yang ditandatangani oleh Mr. Soekarno dan A.G. Suroto lalu diresmikanlah.
Tapi pada tahun 1948, terjadi agresi militer Belanda I yang menghancurkan
monumen tugu ini (bentuk kekesalan Belanda atas kegigihan “arek-arek”
Malang). Dan pada tahun 1953, pemerintah Malang kembali membangun
Monumen Tugu dan diresmikan (lagi) oleh Presiden RI yaitu Ir. Soekarno.
Dari sebuah monumen tugu yang berada di tengah melambangkan pusat
untuk kelima penjuru arah, dimana arah yang lebih diutamakan adalah yang
menuju Gedung Balaikota. Sedangkan keempat arah lainnya mewakili jalan raya
yang berada di luar lingkaran taman ini.

Gambar 4.5 (kiri) Alun-alun


(Sumber: http://mediacenter.malangkota.go.id/2011/04/sekilas-tentang-taman-
tugu-balaikota-malang/#ixzz3m6RNuBrE)

Banyaknya bangunan yang ada pada sekitar balai kota Malang


menyebabkan tujuan awal dari Karsten ttidak terlaksana. Dimana karsten
menitikberatkan keindahan alam kota lebih diutamakan untuk warga Malang.
Namun pada saat ini , daerah sekitar balai kota sudah padat. Banyaknya bangunan
pemerintah menyebabkan hilangnya nilai historis dari Balai Kota itu sendiri.
Alun – alun bunder juga mengalami perubahan yang signifikan banyaknya
lampu – lampu yang di pasang pada alun-alun cukup memberikan hal yang
controversial bagi saya sendiri. Seharusnya bukan Lampu impor yang dipasang
karena itu akan membuat pengeluaran kota membengkak. Banyaknya seniman di
Malang dapat dimanfaatkan untuk meramaikan nilai sejarah yang ada pada Balai
Kota.
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Tata ruang Kota Malang saat ini sudah banyak berubah sejak
perencanaannya yang terkenal, Bouwplan I-VIII oleh Ir. H.T. Karsten.
Perubahan yang terjadi semakin jauh menggeser fungsi awal tata ruang
Kota Malang dan perlahan menghilangkan fungsi historis di dalamnya.
Konsep keindahan kota, keteraturan, dan pemenuhan kebutuhan yang
berorientasi pada masa depan terkikis seiring dengan modernisasi
pembangunan yang serba instan.
Bouwplan I-VIII menghasilkan penataan kota yang sangat baik
dalam ciri fisik maupun fungsinya. Karsten juga sudah mengelompokkan
daerah-daerah strategis Kota Malang menjadi kompleks-kompleks
kebutuhan penduduknya. Bagian utara Kota Malang adalah kompleks
pemerintahan seperti kantor pengadilan negeri , kantor polisi, dan kantor
pelayanan lainnya. Bagian timur adalah kompleks militer dimana terdapat
pemukiman Ksatrian dan tangsi-tangsi militer Belanda. Bagian barat adalah
kompleks olahraga yaitu stadion, lapangan untuk permainan bola, dan
kolam renang. Bagian selatan adalah kompleks kegiatan ekonomi penduduk
seprti Pasar Pecinan , Pasar Kebalen , Pasar Burung dan Pasar Kebalen.
Perkembangan zaman dan pembangunan agresif tanpa pertimbangan
mendalam hanya akan menggerus fungsi historis tata ruang Kota Malang.
Dikhawatirkan dengan tidak adanya upaya pembenahan maupun
pencegahan lebih lanjut dari pemerintah, nilai-nilai historis yang seharusya
dapat membangun Kota Malang yang lebih baik, akan hilang.

4.2 Saran
Untuk mengembalikan dan meningkatkan fungsi historis tata ruang Kota
Malang, tim penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut:
1. Mempertahankan sistem Karsten semaksimal mungkin, seperti
mempertahankan dan meningkatkan nilai historis setiap lokasi –lokasi
peninggalan yang terdapat dalam lingkup Kota Malang. Misalnya :
 Pembangunan tetap berorientasi masa depan namun juga tidak
meninggalkan nilai historis. Seperti : tidak terlalu merubah area Pacinan
karena pada dasarnya Pecinan adalah ruko sehingga kegiatan ekonomi
tidak terlalu menumpuk pada daerah Pasar Besar dan bisa mengurangi
kemacetan di area Pasar Besar.
2. Membuat informasi-informasi sejarah berupa papan kecil yang menarik di
setiap sudut lokasi-lokasi peninggalan tata ruang karya Karsten mengenai
sejarah dengan harapan setiap pengunjung Kota Malang menumbuhkan sikap
memelihara nilai historis yang ada.
3. Seharusnya pemerintah mengupayakan perekaan tata ruang Kota Malang
sesuai Bouwplan I-VIII pada titik-titik Kota Malang yang masih
memungkinkan untuk pemugaran temporal.
4. Mengadakan acara tahunan dengan konsep tata ruang Karsten di seluruh
penjuru Kota Malang.
5. Pemerintah seharusnya menetapkan kebijakan baru dalam perijinan dan
pengendalian pembangunan dalam kota agar tidak menyalahi aspek
ketertiban, keteraturan dan keindahan.
DAFTAR PUSTAKA

Handinoto.1996. PERKEMBANGAN KOTA MALANG PADA JAMAN


KOLONIAL (1914-1940)
Handinoto. 1999. LINGKUNGAN PECINAN DALAM TATA RUANG KOTA DI
JAWA PADA MASA KOLONIAL
Dewi, Aryani, dan Antariksa, San Soesanto. 2004. PENGARUH KEGIATAN
BERDAGANG TERHADAP POLA RUANGDALAM
BANGUNAN RUMAH-TOKO DI KAWASAN PECINAN
KOTA MALANG
SEJARAH KOTA MALANG. Universitas Muhammadiyah Malang Doc.
Majalah/Koran:
Baskara, Medha. 2010. Kota Malang – Kota Taman Specifiek Indonesische, dalam
Majalah Ilmiah Populer Bakosurtanal 2010:92-97
Antariksa. DARI KOTA INDIS KE KOTA “RUKO”. Koran Jawa Pos Radar
Malang Tanggal 16 Agustus 2002.
Sumber Internet:
https://ijenboulevard.wordpress.com/2013/11/17/ijen-boulevard/
http://ngalam.id/read/4291/rencana-pengembangan-kota-malang-i-bouwplan-i/
http://ngalam.id/read/4305/rencana-pengembangan-kota-malang-ii-bouwplan-ii/
http://ngalam.id/read/4328/rencana-pengembangan-kota-malang-iii-bouwplan-iii/
http://ngalam.id/read/4566/rencana-pengembangan-kota-malang-iv-bouwplan-iv/
http://ngalam.id/read/4587/rencana-perluasan-pembangunan-kota-malang-v-
bouwplan-v/
http://ngalam.id/read/4847/rencana-pengembangan-kota-malang-vi-bouwplan-vi/
http://ngalam.id/read/4873/rencana-pengembangan-kota-malang-vii-viii-
bouwplan-vii-viii/
http://erstaykurniawan.blogspot.co.id/2008/12/penataan-kota-malang.html
http://rochmanhadi.blogspot.co.id/2012/08/malang-tempoe-doeloe.html
http://mediacenter.malangkota.go.id