Anda di halaman 1dari 16

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengukuran dan Evaluasi Parameter Rock Mass Rating


Untuk analisis klasifikasi massa batuan Rock Mass Rating data yang
dibutuhkan terbagi menjadi lima parameter, yaitu data kekuatan strength batuan
(UCS), data Rock Quality Designation (RQD), data jarak antar bidang
diskontinuitas, kondisi bidang diskontinuitas, dan kondisi umum air tanah. Berikut
akan dijelaskan data untuk tiap parameter dan bagaimana cara mendapatkannya.

4.1.1 Parameter Kekuatan Strength Batuan


Data UCS didapat dari dua metode yaitu uji Uniaxial Compressive Strength
dan Uji Point Load Strength Index. Dikarenakan conto batuan tidak dapat
diperoleh dari lapangan, maka nilai parameter UCS diambil dari hasil pengujian
terdahulu, dimana nilai UCS didapat dari data geoteknik yang dilakukan oleh
konsultan CV. Sarana Jaya Mineral pada tahun 2011. Dimana untuk lokasi 1, 2
dan 4 data geoteknik diambil dari data GT-02 Nilai UCS untuk lokasi 1, 2 dan 4
didapat rata-rata sebesar 0.89 Mpa dan lokasi 3 didapat dari data GT-01 dengan
rata-rata sebesar 0.783 Mpa (Lampiran A), maka bobot yang didapat adalah 0
untuk parameter UCS. Berikut data UCS pada seluruh lokasi penelitian (Tabel
4.1.) :

Tabel 4.1. Rekapitulasi Data UCS Tiap Lokasi


Lokasi Penelitian UCS (Mpa)
Lokasi Scanline 1 0.89

Lokasi Scanline 2 0.89

Lokasi Scanline 3 0.783

Lokasi Scanline 4 0.89

40 Universitas Sriwijaya
41

4.1.2 Parameter Rock Quality Designation


Pada penelitian ini data RQD diambil secara langsung dilapangan dengan
menghitung jumlah bidang diskontinuitas sepanjang garis bentangan scanline
sepanjang 50 meter. Kemudian menggunakan persamaan yang dikeluarkan Priest
& Hudson (1976) didapat nilai RQD pada lokasi penelitian secara umum diatas
90% (Lampiran B), maka bobot yang didapat yaitu 20 untuk parameter RQD
disemua lokasi. Berikut data RQD tiap lokasi penelitian (Tabel 4.2.) :

Tabel 4.2. Rekapitulasi Data RQD Tiap Lokasi


Lokasi Penelitian RQD (%)
Lokasi Scanline 1 99.73

Lokasi Scanline 2 99.71

Lokasi Scanline 3 99.31

Lokasi Scanline 4 99.61

4.1.3 Parameter Jarak Antar Bidang Diskontinuitas


Jarak antar bidang diskontinuitas yang diambil untuk dijadikan data
masukan klasifikasi RMR adalah jarak antar bidang diskontinuitas yang satu
keluarga. Untuk menentukan keluarga bidang diskontinuitas pada masing-masing
lokasi pengukuran bisa dilihat pada Lampiran C, dan telah ditentukan bidang
diskontinuitas pada lokasi 1, 3 dan 4 dibagi menjadi dua keluarga.
Setelah dilakukan pengukuran dan pengolahan data menggunakan Microsoft
Excel (Lampiran D), maka didapat jarak antar bidang diskontinuitas untuk lokasi
1 sebesar 3,67 meter dan 1,69 meter, untuk lokasi 2 jarak antar bidang
diskontinuitas yang didapat sebesar 0,65 meter, untuk lokasi 3 sebesar 2.26 meter
dan 0,89 meter, dan terakhir pada lokasi 4 didapat jarak antar bidang
diskontinuitas sebesar 0,87 meter. Berikut data jarak antar bidang diskontinuitas
untuk masing-masing lokasi penelitian (Tabel 4.3.) :

Universitas Sriwijaya
42

Tabel 4.3. Jarak antar Bidang Diskontinuitas tiap Lokasi


Lokasi Penelitian Jarak antar Bidang Diskontinuitas (meter)
Lokasi Scanline 1 Keluarga Kekar 1 3.67
Lokasi Scanline 1 Keluarga Kekar 2 1.69
Lokasi Scanline 2 0.65
Lokasi Scanline 3 Keluarga Kekar 1 2.26
Lokasi Scanline 3 Keluarga Kekar 2 0.89
Lokasi Scanline 4 0.87

4.1.4 Parameter Kondisi Bidang Diskontinuitas


Kondisi bidang diskontinuitas diamati langsung secara visual dilapangan
dimana bobot untuk masing-masing lokasi penelitian berbeda-beda, karena
kondisi bidang diskontinuitas dipengaruhi oleh jenis lapisan batuan yang ditemui
pada saat melakukan pengukuran. Untuk kondisi bidang diskontinuitas dapat
dilihat pada Lampiran E.
Untuk kondisi bidang diskontinuitas secara umum diprediksi mempengaruhi
tingkat kelongsoran lereng, khususnya di area 3 lokasi penelitian pit B1. Hal itu
disebabkan kondisi bidang lemah didaerah tersebut sudah dalam kondisi yang
lapuk dan terdapat adanya bidang perlapisan antara lapisan mudstone dan
sandstone.
Untuk lokasi 1 dengan jenis material mudstone, diperoleh pembobotan
sebesar 16 dengan kondisi bidang diskontinuitas sedikit lapuk, persistensi 3-10
meter, isian kasar lebih dari 5 mm. Berikut gambaran umum kondisi bidang
diskontinuitas untuk area 1 lokasi penelitian seperti terlihat pada Gambar 4.1

Universitas Sriwijaya
43

Gambar 4.1. Kondisi bidang diskontinuitas area 1

Pada lokasi 2 bobot yang diperoleh benilai 7 dengan batuan berjenis


sandstone yang sudah terlapukkan. Jenis batuan dilokasi ini termasuk dalam
kategori fair rock dengan kondisi bukaan kekar lebih dari 5 dan lapuk. Berikut
gambaran umum kondisi bidang diskontinuitas untuk area 1 lokasi penelitian
seperti terlihat pada Gambar 4.2.

Gambar 4.2. Kondisi bidang diskontinuitas area 2

Universitas Sriwijaya
44

Untuk lokasi 3 area pit B1 bobot yang didapat sebesar 10 dengan jenis
material mudstone dan sebagian ada sandstone yang sudah terlapukkan. Kondisi
bidang diskontinuitas diarea tersebut agak kasar dengan isian kasar lebih dari 5
mm, dan kondisi pelapukan lapuk sedang. Berikut gambaran umum kondisi
bidang diskontinuitas untuk lokasi 3 seperti terlihat pada Gambar 4.3.

Gambar 4.3. Kondisi bidang diskontinuitas area 3

Pada lokasi terakhir pengambilan data penelitian yaitu diarea pit B3, kondisi
bidang diskontinuitas mempunyai bobot 14 dan dapat dideskripsikan termasuk
pada kategori good rock. Untuk gambaran umum kondisi bidang diskontinuitas
dapat dilihat pada Gambar 4.4.

Universitas Sriwijaya
45

Gambar 4.4. Kondisi bidang diskontinuitas area 4

4.1.5 Parameter Kondisi Air Tanah


Dalam pengambilan data kondisi umum air tanah untuk parameter Rock
Mass Rating dilakukan secara visual langsung dilapangan. Identifikasi air tanah
pada daerah pengamatan dilakukan terhadap kondisi umum bidang rekahan yang
dijumpai, dimana kondisi tersebut dikategorikan mulai dari kering (completely
dry), lembab (damp), basah (wet), menetes (dripping), dan mengalir (flowing).
Kondisi air tanah sangat berpengaruh terhadap kelongsoran lereng tambang,
terutama mempengaruhi gaya tarik menarik antar partikel batuan atau gaya
kohesi. Kohesi merupakan gaya tarik menarik antar partikel yang sejenis (sesama
lapisan batuan). Maka jika terdapat air yang mengisi pori antar partikel batuan,
kondisi semula batuan tersebut yang mengalami gaya kohesi (batuan↔batuan)
akan terjadi perubahan menjadi gaya adhesi (batuan↔air↔batuan). Dan secara
otomatis kekuatan batuan juga akan berubah menjadi lebih lemah jika adanya
keberadaan air pada massa batuan.

Universitas Sriwijaya
46

4.2 Pengukuran dan Evaluasi Parameter Slope Mass Rating


Setelah dilakukan analisis Rock Mass Rating dan didapat bobot total serta
deskripsi massa batuan didaerah penelitian. Pengolahan data dilanjutkan dengan
analisis klasifikasi massa batuan selanjutnya yaitu Slope Mass Rating. Dimana
parameternya antara lain bobot total analisa Rock Mass Rating, orientasi lereng,
orientasi bidang lemah dan metode penggalian yang diterapkan dalam
pembentukan lereng. Berikut akan dijelaskan data untuk tiap parameter dan
bagaimana cara mendapatkannya.

4.2.1 Parameter Bobot Rock Mass Rating


Seperti yang dijelaskan sebelumnya bobot RMR didapat dari hasil
penjumlahan 5 parameter yang ada, yaitu data kekuatan strength batuan (UCS),
data Rock Quality Designation (RQD), data jarak antar bidang diskontinuitas,
kondisi bidang diskontinuitas, dan kondisi umum air tanah. Untuk pembobotan
analisis Rock Mass Rating dapat dilihat pada Lampiran F. Secara umum jika
dihitung menggunakan pembobotan klasifikasi massa batuan Rock Mass Rating
batuan dilokasi penelitian dideskripsikan termasuk kategori batuan sedang sampai
baik. Berikut merupakan hasil pembobotan klasifikasi massa batuan Rock Mass
Rating pada seluruh lokasi penelitian (Tabel 4.4.) :

Tabel 4.4. Hasil Pembobotan Klasifikasi Rock Mass Rating Tiap Lokasi
Bobot Klasifikasi Deskripsi
Lokasi Penelitian
Total Batuan Batuan
Lokasi Scanline 1 Keluarga Kekar 1 71 Kelas II Baik
Lokasi Scanline 1 Keluarga Kekar 2 66 Kelas II Baik
Lokasi Scanline 2 44 Kelas III Sedang
Lokasi Scanline 3 Keluarga Kekar 1 60 Kelas II Sedang
Lokasi Scanline 3 Keluarga Kekar 2 48 Kelas III Sedang
Lokasi Scanline 4 57 Kelas III Sedang

Universitas Sriwijaya
47

4.2.2 Parameter Orientasi Lereng


Orientasi lereng terdiri dari arah kemiringan (dip direction) dan kemiringan
(dip) lereng, dimana pengambilan data dilakukan sebanyak 50 kali untuk tiap
lokasi penelitian. Kemudian data orientasi lereng tersebut dievaluasi
menggunakan metode statistik untuk mencari nilai rata-ratanya. Data orientasi
lereng untuk tiap lokasi dapat dilihat pada Lampiran G.
Data orientasi lereng dipakai pada 2 analisis yaitu pada analisis klasifikasi
massa batuan Slope Mass Rating dan analisis grafis menggunakan proyeksi
stereografis yang ada pada perangkat lunak program Dips ver.5.1. Data orientasi
lereng untuk tiap lokasi dapat dilihat pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5. Data Orientasi Lereng untuk Tiap Lokasi


Lokasi Penelitian Dip/Dip direction (⁰)
Lokasi Scanline 1 51/103

Lokasi Scanline 2 57/148

Lokasi Scanline 3 57/155

Lokasi Scanline 4 48/158

4.2.3 Parameter Orientasi Bidang Diskontinuitas


Data orientasi bidang diskontinuitas untuk tiap lokasi penelitian diambil
menggunakan alat geologi yaitu kompas geologi tipe Brunton sama seperti
pengambilan orientasi lereng. Data orientasi bidang diskontinuitas berupa arah
kemiringan (dip direction) dan kemiringan (dip) yang diambil langsung dari
lapangan bisa dilihat pada Lampiran H.
Data orientasi bidang diskontinuitas yang dipakai untuk analisis klasifikasi
massa batuan Slope Mass Rating merupakan rata-rata dari orientasi bidang
diskontinuitas yang diambil dari lapangan. Untuk mendapatkan data tersebut
digunakan perangkat lunak Dips ver.5.1. Dimana langkah-langkah penentuan arah
umum bidang diskontinuitas serta hasil yang didapat bisa dilihat pada Lampiran I.

Universitas Sriwijaya
48

Berikut ini adalah arah umum bidang diskontinuitas tiap lokasi penelitian (Tabel
4.6.) :

Tabel 4.6. Data Arah Umum Bidang Diskontinuitas Tiap Lokasi


Lokasi Penelitian Dip/Dip direction (⁰)
Lokasi Scanline 1 Keluarga Kekar 1 65/109
Lokasi Scanline 1 Keluarga Kekar 2 71/124
Lokasi Scanline 2 78/151
Lokasi Scanline 3 Keluarga Kekar 1 76/164
Lokasi Scanline 3 Keluarga Kekar 2 72/196
Lokasi Scanline 4 80/152

4.2.4 Parameter Metode Penggalian


Pada lokasi penelitian metode penggalian yang diterapkan adalah
penggalian menggunakan alat mekanis (konvensional). Maka bobot yang didapat
untuk parameter metode penggalian (F4) = 0.

4.2.5 Hasil Pembobotan Slope Mass Rating


Dari keempat parameter di atas didapatkan hasil pembobotan Slope Mass
Rating tiap lokasi. Dimana hasil pembobotan tersebut dapat menentukan deskripsi
batuan dilokasi penelitian, tingkat kemantapan lereng dan jenis longsoran yang
terjadi (Tabel 4.7.).

Tabel 4.7. Hasil Pembobotan Klasifikasi Slope Mass Rating Tiap Lokasi
Lokasi 1/1 ½ 2 3/1 3/2 4
Bobot SMR 71 66 44 60 48 57
Deskripsi Baik Baik Sedang Baik Sedang Sedang
Sebagian Sebagian
Kemantapan Sebagian
Mantap Mantap Mantap tak tak
lereng tak mantap
mantap mantap
Dikontrol oleh Dikontrol Dikontrol
Berupa Berupa Berupa oleh adanya oleh adanya
Kelongsoran adanya bidang
blok blok lemah blok bidang lemah bidang lemah

Universitas Sriwijaya
49

Keterangan : Lokasi 1/1 maksudnya Lokasi Scanline 1 Keluarga Kekar 1, Lokasi


1/2 maksudnya Lokasi Scanline 1 Keluarga Kekar 2 dst.

Untuk pembobotan detail masing-masing lokasi dapat dilihat pada


lampiran J. Dari hasil pembobotan Slope Mass Rating ini didapatkan bahwa
kemungkinan longsoran di tiap lokasi sangat dipengaruhi oleh adanya bidang
diskontinuitas. Dimana dip (kemiringan) bidang diskontinuitas dilokasi penelitian
semuanya diatas 45⁰ maka jika dilihat dari klasifikasi massa batuan Slope Mass
Rating hal ini sangat tidak menguntungkan karena semakin besar dip bidang
diskontinuitas maka makin besar kemungkinan longsoran yang akan terjadi.
Lokasi yang perlu diperhatikan yaitu lokasi 2 Pit B1 elevasi 80 meter,
karena bobot yang dihitung menggunakan klasifikasi massa batuan Slope Mass
Rating sangat rendah yaitu hanya bernilai 44. Hal tersebut harus dijadikan fokus
utama karena pada area pit B1 masih terdapat kegiatan collecting batubara untuk
seam 3 dan proses penimbunan sampai elevasi 70 meter.
Sedangkan untuk lokasi 3, dapat ditinjau ulang untuk keluarga kekar 2,
karena bobot yang didapat 48 dan termasuk dalam kategori moderate rock, hal itu
disebabkan karena pada lokasi 3 terdapat bidang perlapisan antara sandstone dan
mudstone. Bidang perlapisan tersebut menjadi salah satu faktor penyebab
kelongsoran.

4.3 Analisis Stereografis


Setelah melakukan pembobotan menggunakan klasifikasi massa batuan
Slope Mass Rating, telah didapat kemungkinan longsoran yang terjadi serta
metode perkuatan lereng yang disarankan. Untuk memastikan jenis longsoran
yang terjadi serta arah umum bidang luncur, analisis yang selanjutnya dilakukan
adalah analisis grafis menggunakan proyeksi stereografis menggunakan perangkat
lunak Dips ver.5.1. Berikut akan dijelaskan hasil input data orientasi lereng,
orientasi bidang diskontinuitas serta nilai sudut geser dalam kedalam proyeksi
stereografis.

Universitas Sriwijaya
50

4.3.1 Proyeksi Stereografis Lokasi Scanline 1


Dari hasil proyeksi stereografis untuk lokasi 1, kemungkinan longsoran
yang terjadi adalah longsoran baji karena adanya perpotongan dua bidang
diskontinuitas dengan arah umur bidang luncur N67⁰E atau kearah timur laut.
Berikut merupakan hasil proyeksi stereografis untuk lokasi Pit B1 utara elevasi 50
meter (Gambar 4.5.) :

Gambar 4.5. Proyeksi Stereografis Lokasi Pit B1 utara elevasi 50 meter

Universitas Sriwijaya
51

4.3.2 Proyeksi Stereografis Lokasi Scanline 2


Dari hasil proyeksi stereografis untuk lokasi 2, kemungkinan longsoran
yang terjadi adalah longsoran bidang karena hanya ada satu arah umum bidang
diskontinuitas yang searah dengan orientasi lereng. Arah umur bidang luncur
kearah tenggara bernilai N152⁰E. Berikut merupakan hasil proyeksi stereografis
untuk lokasi Pit B1 elevasi 80 meter (Gambar 4.6.) :

Gambar 4.6. Proyeksi Stereografis Lokasi Pit B1 elevasi 80 meter

Universitas Sriwijaya
52

4.3.3 Proyeksi Stereografis Lokasi Scanline 3


Dari hasil proyeksi stereografis untuk lokasi 3, kemungkinan longsoran
yang terjadi adalah longsoran baji karena adanya perpotongan dua bidang
diskontinuitas dengan arah umur bidang luncur N202⁰E atau kearah barat daya.
Berikut merupakan hasil proyeksi stereografis untuk lokasi Pit B1 timur elevasi
50 meter (Gambar 4.7.) :

Gambar 4.7. Proyeksi Stereografis Lokasi Pit B1 Timur elevasi 50 meter

Universitas Sriwijaya
53

4.3.4 Proyeksi Stereografis Lokasi Scanline 4


Dari hasil proyeksi stereografis untuk lokasi 1, kemungkinan longsoran
yang terjadi adalah longsoran baji karena adanya perpotongan dua bidang
diskontinuitas dengan arah umur bidang luncur N159⁰E atau kearah timur laut.
Berikut merupakan hasil proyeksi stereografis untuk lokasi Pit B3 elevasi 50
meter (Gambar 4.8.) :

Gambar 4.8. Proyeksi Stereografis Lokasi Pit B3 elevasi 50 meter

Universitas Sriwijaya
54

4.4 Pembahasan dan Cara Penanggulangan


Daerah penelitian dibagi menjadi 2 area yaitu area pit B1 dan area pit B3.
Pada area pit B1 periodi juni-juli 2014 sedang berlangsung proses collecting
batubara untuk seam 3 dan proses penimbunan sampai elevasi 20 meter hingga
bulan juni dilanjutkan sampai elevasi 50 meter pada bulan juli. Sedangkan untuk
area pit B3 sedang dilakukan collecting seam 6 dan seam 7 untuk batubara serta
perluasan area penambangan. Oleh karena itu kemantapan lereng tambang
menjadi perhatian utama sebagai upaya untuk melaksanakan operasi
penambangan good mining practice dengan tidak melupakan kesehatan dan
keselamatan kerja (K3L).
Kondisi area pit B1 secara umum bersifat erosif karena telah mengalami
proses pelapukan yang lama, jenis batuannya terdiri dari mudstone dan batu pasir
yang berwarna kuning kecoklatan dengan kondisi sudah terlapukkan. Terutama
mulai elevasi 30 m hingga elevasi 80 m dimana rekahan akibat proses penggalian
telah menjadi bidang lemah yang rentan terhadap longsoran. Hal tersebut patut
diwaspadai terutama pada sisi timur pit B1 yang terindikasi banyak terdapat
bidang lemah ditambah lagi beban dinamis berupa getaran yang diberikan oleh
dumptruck karena sisi timur pit B1 digunakan sebagai jalan hauling batubara.
Maka dari itu disarankan untuk dilakukan proses penimbunan sesegera mungkin
dan mempertimbangkan faktor keamanan, dengan tidak melakukan penimbunan
langsung sehabis hujan terutama proses dozing material oleh bulldozer. Karena
infiltrasi air hujan dapat mempengaruhi tingkat kemantapan lereng yaitu
mengurangi gaya kohesi batuan tersebut. Ditambah lagi beban dinamis getaran
yang telah dijelaskan sebelumnya yang tentunya akan mempengaruhi tingkat
kemantapan lereng ditinjau dari segi penambahan gaya penggerak yaitu
penambahan gaya berat (W) batuan.
Untuk area pit B3 kemungkinan longsoran masih sangat kecil, selain karena
pit yang terbentuk masih baru dan juga batuan yang ada didaerah tersebut belum
mengalami proses pelapukan seperti di pit B1. Akan tetapi data analisis klasifikasi
massa batuan dijadikan data acuan untuk merencanakan desain lereng selanjutnya
di area pit B3.

Universitas Sriwijaya