Anda di halaman 1dari 7

REFLEKSI KASUS

KONJUNGTIVITIS VIRUS OS

Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti


Ujian Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Mata
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Diajukan kepada Yth:


dr. Yunani Setyandriana Sp. M

Disusun oleh:
Dea Amantha Azaria
201540102032

BAGIAN ILMU MATA


RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016
REFLEKSI KASUS
I. Identitas pasien
Nama : Tn. MS
Jenis kelamin : Laki-laki
Usia : 40 th
Alamat : Pengasih, Kulon Progo
Pekerjaan : Guru
Tanggal periksa : 25-04-2017

II. Rangkuman kasus


Seorang pasien laki-laki 41 tahun datang untuk pertama kali ke poli mata. Pasien mengeluhkan
mata kanan merah dan berair sudah 2 hari yang lalu, jika pagi mata sebelah kanan berlendir,
lengket berwarna agak kekuningan. Pasien tidak mengeluhkan pandangannya kabur, namun
pasien merasakan mata terasa pegal menjalar hingga kepala, badan terasa panas dingin, serta
sedikit mual (+). Riwayat penyakit dahulu pernah mengalami gejala serupa saat masih kecil, HT
(-), DM (-), alergi (-). Riwayat keluarga anak serta istri mengalami gejala yang serupa beberapa
hari yang lalu, namun sudah mendapatkan terapi dan sembuh. Riwayat lingkungan bersih dan
terjaga. Riwayat sosial pasien adalah seorang guru, pemeriksaan fisik keadaan umum baik,
kesadaran compos mentis, dokter memberikan terapi : cendo polydex, berry vision tablet,
cortidex tablet dan mefinal tablet

Pemeriksaan Obyektif

Inspeksi OD OS
Visus 6/6 6/6
Gerkan bola mata Normal kesegala arah Normal kesegala arah
Palpebra superior Edema (-) nyeri tekan (-) Edema (-) nyeri tekan (-)
hiperemis (-) hiperemis (-)
Palpebra inferior Edema (-) nyeri tekan (-) Edema (-) nyeri tekan (-)
hiperemis (-) hiperemis (-)
Konjungtiva palpebra hiperemis normal
superior
Konjungtiva palpebra hiperemis normal
inferior
Konjungtiva bulbi Injeksi konjungtiva (+) Injeksi konjungtiva (-)
kornea Jernih Jernih
Coa Normal / tidak dangkal Normal / tidak dangkal
Pupil Bulat (+) reflek direk (+) Bulat (+) reflek direk (+)
reflek indirek (+) reflek indirek (+)
Iris Senekia (-) Senekia (-)
lensa jernih jernih
III. Masalah yang dikaji
- Bagaimana cara mendiagnosis dan penatalaksanaan konjungtivitis ?

IV. Analisis masalah


Konjungtivitis merupakan reaksi inflamasi pada konjungtiva di tandai dengan discharge (secret)
dapat berair, mukoid, mukopurulent ataupun purulent
Penyebab konjungtivitis antara lain : Bakteri, klamidia, alergi, viral toksik, berkaitan dengan
penyakit sistemik
- Mendiagnosis konjungtivitis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, serta tanda dan
gejala :
Anamnesis (Subjective)
- Keluhan
Pasien datang dengan keluhan mata merah, rasa mengganjal, gatal dan berair, kadang
disertai sekret. Keluhan tidak disertai penurunan tajam penglihatan.
- Faktor Risiko
1. Daya tahan tubuh yang menurun
2. Adanya riwayat atopi
Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
- Pemeriksaan Fisik
1. Visus normal
2. Injeksi konjungtival
3. Dapat disertai edema kelopak, kemosis
4. Eksudasi; eksudat dapat serous, mukopurulen, atau purulen tergantung penyebab
5. Pada konjungtiva tarsal dapat ditemukan folikel, papil atau papil raksasa, flikten,
membrane, atau pseudomembran.
Pemeriksaan Penunjang (bila diperlukan)
1. Sediaan langsung swab konjungtiva dengan perwarnaan Gram atau Giemsa
2. Pemeriksaan sekret dengan
Tanda –tanda konjungtivitis
- Hiperemia
Tanda klinis konjungtivitis akut yang paling mencolok. Kemerahan paling jelas di forniks dan
makin berkurang ke arah limbus karena dilatasi pembuluh-pembuluh konjungtiva posterior.
Warna merah terang mengesankan konjungtivitis bakteri, dan tampilan putih susu
mengesankan konjungtivitis alergika. Hiperemia tanpa infiltrasi sel mengesankan iritasi oleh
penyebab fisik seperti angin, asap, matahari.
- Mata berair (epifora)
Mencolok pada konjungtivitis, diakibatkan adanya sensasi benda asing, sensasi terbakar atau
tergores atau oleh rasa gatal.
- Eksudasi
Ciri semua konjungtivitis akut. Jika eksudat sangat banyak dan palpebranya saling lengket
kemungkinan konjungtivitis disebabkan oleh bakteri atau klamidia
- Pseudoptosis
Akibat kelopak membran membengkak
- Hipertrofi papilar
- Kemosis
- Folikel
- Granulasi

Diagnosis banding konjungtivitis

Temuan klinis dan Viral Bakteri Klamidia Alergika


sitologi
Gatal Minimal Minimal Minimal Hebat
Hiperemia Generalisata Generalisata Generalisata Generalisata
Mata berair Banyak Sedang Sedang Minimal
Eksudasi Minimal Banyak Banyak Minimal
Adenopati periauikular Sering Jarang Hanya sering pada Tak ada
konjungtivitis inklusi
Pada kerokan eksudat Monosit Bakteri, PMN PMN, sel plasma, badan Eosinofil
yang dipulas inklusi
Disertai sakit Sesekali Sesekali Tak pernah Tak pernah
tenggorokan dan
demam
Diagnosis banding mata merah visus normal

Konjuntivitis Skleritis/ Subkonjungtiva Uveitis


Episkleritis Bleeding
Sakit Tidak/sedikit Sedang - Sedang
Injeksi Inj. Konj Episklera Perdarahan difus/ Perikorneal
sub skrip
Pupil N Normal Normal Miosis
Reflek pupil N N N Lambat
Media Jernih Jernih Jernih Kornea : udem
CoA : Flare sel
Lensa : jernih/katarak
Vitreus : sel radang -/+
Visus Normal Normal Normal Turun
Onset Pelan Pelan Mendadak Pelan
Gejala sistemik - - - -
Sekret + - - -
TIO Normal Normal Normal Normal / turun/ naik

Penegakan Diagnostik (Assessment)


- Diagnosis Klinis
Penegakan diagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Klasifikasi Konjungtivitis
1. Konjungtivitis bakterial: Konjungtiva hiperemis, sekret purulen atau mukopurulen dapat
disertai membran atau pseudomembran di konjungtiva tarsal. Curigai konjungtivitis gonore,
terutama pada bayi baru lahir, jika ditemukan konjungtivitis pada dua mata dengan sekret purulen
yang sangat banyak.
2. Konjungtivitis viral: Konjungtiva hiperemis, sekret umumnya mukoserosa, dan pembesaran
kelenjar preaurikular
3. Konjungtivitis alergi: Konjungtiva hiperemis, riwayat atopi atau alergi, dan keluhan gatal.
Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)
Penatalaksanaan
Pemberian obat mata topikal
1. Pada infeksi bakteri: Kloramfenikol tetes sebanyak 1 tetes 6 kali sehari atau salep mata 3 kali
sehari selama 3 hari.
2. Pada alergi: Flumetolon tetes mata dua kali sehari selama 2 minggu.
3. Pada konjungtivitis gonore: Kloramfenikol tetes mata 0,5-1% sebanyak 1 tetes tiap jam dan
suntikan pada bayi diberikan 50.000 U/kgBB tiap hari sampai tidak ditemukan kuman GO pada
sediaan apus selama 3 hari berturut-turut.
4. Pada konjungtivitis viral: Salep Acyclovir 3%, 5 kali sehari selama 10 hari.
Pemeriksaan Penunjang Lanjutan
Umumnya tidak diperlukan, kecuali pada kecurigaan konjungtivitis gonore, dilakukan
pemeriksaan sediaan apus dengan pewarnaan Gram
Konseling dan Edukasi
1. Konjungtivitis mudah menular, karena itu sebelum dan sesudah membersihkan atau
mengoleskan obat, penderita harus mencuci tangannya bersih-bersih.
2. Jangan menggunakan handuk atau lap bersama-sama dengan penghuni rumah lainnya.
3. Menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitar.

V. Kesimpulan
Pada kasus ini pasien terkena konjungtivitis virus, terlihat dari tanda dan gejalanya yaitu :
demam, gatal, hiperemia, mata berair serta eksudasi yang minimal.
Merupakan penyakit yang biasa dan sering terjadi di masyarakat. Konjungtivitis virus dapat
mengenai segala usia baik orang dewasa dan anak-anak. Adenovirus biasanya mengenai pasien
usia 20-40 tahun, sedangkan herpes simpleks virus dan varisela zoster virus lebih sering
mengenai anak kecil dan bayi. Herpes zoster merupakan reaktivasi varisela laten dan bisa
mengenai orang segala usia. Konjungtivitis virus biasanya bersifat akut dan bersifat self-limiting
yang dapat sembuh sekitar 2-4 minggu secara spontan. pemberian edukasi terhadap pasien sangat
diharapkan untuk mengurangi kecemasan pasien
VI. Daftar pustaka
- Riordan, Paul. Dkk. 2007. Vaughan and Asbury General Ophtalmology, Mc Graw Hill.
- Ilmu penyakit mata
- Permenkes RI no. 5 tahun 2014