Anda di halaman 1dari 17

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA

NAMA KELOMPOK
1. INDRAKO WICAKSONO
2. HERA AMELIA ISKANDAR
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi


Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas
kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakat.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan
makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada
semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh
karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik
dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan
manfaatnya untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun
inpirasi terhadap pembaca.

Bekasi, september 2015

Penyusun
DAFTAR ISI

cover.............................................................................................................i

kata pengantar.............................................................................................ii

BAB I Pendahuluan.................................................................................

A.Latar Belakang..................................................................................
B.Rumusan Masalah............................................................................
C.Rumusan Penelitia............................................................................

BAB II Tinjauan pustaka.....................................................................

A.Teori.................................................................................................

BAB III Penutup....................................................................................

A.Simpulan..........................................................................................
B.Saran...............................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang

Setiap bangsa dan negara yang ingin berdiri kokoh kuat, tidak
mudah terombang-ambing oleh kerasnya persoalan hidup berbangsa dan
bernegara, sudah barang tentu perlu memiliki dasar negara dan ideologi
negara yang kokoh dan kuat pula. Tanpa itu, maka bangsa dan negara
akan rapuh.

Mempelajari Pancasila lebih dalam menjadikan kita sadar sebagai


bangsa Indonesia yang memiliki jati diri dan harus diwujudkan dalam
pergaulan hidup sehari-hari untuk menunjukkan identitas bangsa yang
lebih bermartabat dan berbudaya tinggi.

Sejarah Lahirnya Pancasila sebagai Ideologi dan Dasar Negara


Ideologi dan dasar negara kita adalah Pancasila. Pancasila terdiri dari
lima sila. Kelima sila itu adalah: Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan
yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusayawaratan perwakilan, dan
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebelum tanggal 17 Agustus bangsa Indonesia belum merdeka.


Bangsa Indonesia dijajah oleh bangsa lain. Banyak bangsa-bangsa lain
yang menjajah atau berkuasa di Indonesia, misalnya bangsa Belanda,
Portugis, Inggris, dan Jepang. Paling lama menjajah adalah bangsa
Belanda. Padahal sebelum kedatangan penjajah bangsa asing tersebut, di
wilayah negara RI terdapat kerajaan-kerajaan besar yang merdeka,
misalnya Sriwijaya, Majapahit, Demak, Mataram, Ternate, dan Tidore.
2. Rumusan Masalah

 Apa arti dari pancasila sebagai ideologi negara?


 Apa perbandingan pancasila dan ideologi dunia?
 Apa maksud pancasila dan agama?

3. Tujuan

1. Dapat menjelaskan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi


negara.

2 .Dapat menguraikan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dan


ideologi negara.

3. Dapat menunjukan sikap positif terhadap pancasila dalam kehidupan


berbangsa dan bernegara.

4. Menampilkan sikap positif terhadap Pancasila dalam kehidupan


bermasyarakat.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ARTI PANCASILA SEBAGAI IDEOLIGI NEGARA

Istilah ideologi berasal dari kata idea dan logos. Idea yang berarti
gagasan, konsep, pengertian dasar, ide-ide dasar,cita-cita. Kata idea
berasal dari bahaa Yunani , eidos yang berarti bentuk atau idein yang
berarti melihat. Idea dapat diartikan sebagai cita-cita, yaitu cita-cita yang
bersifat tetap dan akan dicapai dalam kehidupan nyata. Dengan demikian,
cita-cita ini pada hakikatnya merupakan dasar, pandangan atau faham
yang diyakini kebenarannya. Sedangkan logos berarti ilmu. Secara
harfiah,ideologi berarti ilmu pengetahuan tentang ide-ide atau ajaran
tentang pengerian dasar.

Pokok-pokok pikiran yang perlu dikemukakan mengenai ideologi


adalah sebagai berikut :

1. Pokok ideologi merupakan sistem pemikiran yang erat kaitannya


dengan perilaku manusia. Kecuali itu, ideologi merupakan serangkaian
pemikiran yang berkaitan dengan tertib sosial dan politik yang ada dan
berupaya untuk merubah atau mempertahankan tertib sosial dan politik
yang bersangkutan.

2. Bahwa ideologi, disamping mengemukakan program juga


menyertakan strategi guna merealisasikannya.

3. Bahwa ideologi dapat dipandang sebagai serangkaian pemikiran


yang dapat mempersatukan manusia, kelompok atau masyarakat yang
selanjutnya diarahkan pada terwujudnya partisipasi secara efektif dalam
kehidupan sosial politik.

Bahwa yang bisa merubah suatu pemikiran menjadi ideologi adalah fungsi
pemikiran menjadi ideologi adalah fungsi pemikiran itu dalam berbagai
lembaga
2.1.1. Karakterstik dan Makna Ideologi bagi Negara

Dalam memahami ideologi dan ideologi politik tidaklah cukup hanya


dengan melihat dari sosok pengertiannya, atau hanya berangkat dari
definisi-definisi yang telah dikemukakan para ahli. Makna Ideologi dapat
ditemukan dari karakteristiknya. Beberapa karakteristik suatu ideologi,
antara lain :

1. Ideologi sering muncuI dan berkembang dalam situasi krisis

Situasi krisis dimana cara pandang, cara berpikir dan cara berindak yang
sebelumnya dianggap umum dan wajar dalam suatu masyarakat telah
dianggap sebagai suatu yang sudah tidak bisa diterima lagi.Keadaan
seperti ini biasanya akan mendorong muncul munculnya suatu ideologi.

2. Ideologi merupakan pola pemikiran yang sistematis

Ideologi pada dasarnya merupakan ide atau gagasan yang dilemparkan


atau ditawarkan ketengah-tengah arena perpolitikan. Oleh karena itu,
ideologi harus disusun secara sistematis agar dapat diterima oleh warga
masyarakat secara rasional.

3. Ideologi mempunyai ruang lingkup jangkauan yang luas, namun


beragam

Dilihat dari dimensi horisontal, ideologi mempunyai ruang lingkup yang


sangat luas, mulai dari penjelasan-penjelasan yang parsial sifatnya
sampai kepada gagasan-gagasan atau pandangan-pandangan
komprehensif.

4. Ideologi mencangkup beberapa strata pemikiran dan panutan

Dilihat dari dimensi vertikal, ideologi mencangkup beberapa strata


pemikiran dan panutan, mulai dari konsep yang kompleks dan
shophisticated sampai dengan slogan-slogan atau simbol-simbol
sederhana yang mengekspresikan gagasan-gagasan tertentu sesuai
dengan tingkat pemahaman dan perkembangan masyarakat.
2.1.2 Fungsi Ideologi

Tumbuhnya keyakinan da kepercayaan terhadap ideologi tertentu,


barangkali bukan satu-satunya cara, melalui mana manusia bisa
memformulasikan dan mengisi kehidupannya. Ideologi juga
mempermainkan fungsinya dalam mengatur hubungan antara manusia
dan masyarakat.setiap kehidupan masyarakat pasti mengharapkan setiap
anggotanya dapat terlibat didalamnya. Untuk itu ideologi dapat membantu
anggota masyarakat dalam upaya melibatkan diri dalam berbagai sektor
kehidupan. Dsamping fungsinya yang sangat umum,ideologi juga memiliki
fungsi khusus sifatnya, antara lain :

1. Ideologi berfungsi melengkapi struktur kognitif manusia

Sebagai sistem panutan, ideologi pada dasarnya merupakan formulasi ide


atau gagasan melalui ana manusia dapat menerima, memahami, dan
sekaligus menginteptasikan hakikat kehidupan ini.

2. Ideologi berfungsi sebagai panduan.

Sebagai suatu panduan, ideologi mencanangkan seperangkat patokan


tentang bagaimana manusia seharusnya bertingkah laku, disamping
tujuan dan cara mencapai tujuan itu.

3. Ideologi berfungsi sebagai lensa

Ideologi merupakan salah satu alat bagi seseorang atau bangsa untuk
mengenal dan melihat dirinya sendiri dan mengharapkan orang lain untuk
bisa melihat dan mengitepretasikan tindakannya yang didasarkan atas
ideologinya.

4. Ideologi berfungsi sebagai kekuatan pengendali konflik.

Dalam level personal, ideologi dapat membantu setiap individu dalam


mengatasi konflik yang terjadi dalam dirinya ataupun dalam hubungan
dengan orang lain. Dalam kehidupan masyarakat, ideologi juga dapat
berfungsi membatasi konflik
2.2 Peran Pancasila di Era Globalisasi

a. Pancasila Sebagai Pedoman Dalam Menghadapi Globalisasi

Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang sudah ditentukan oleh


para pendiri negara ini haruslah menjadi sebuah acuan dalam
menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara,berbagai tantangan
dalam menjalankan ideologi pancasila juga tidak mampu untuk
menggantikankan pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia,pancasila
terus dipertahankan oleh segenap bangsa Indonesia sebagai dasar
negara,itu membuktikan bahwa pancasila merupakan ideologi yang sejati
untuk bangsa Indonesia.

Oleh karena itu tantangan di era globalisasi yang bisa mengancam


eksistensi kepribadian bangsa Indonesia yang berada di pusaran arus
globalisasi dunia.Tetapi perlu diingat bahwa bangsa dan negara Indonesia
tidak harus kehilangan jatidiri meskipun hidup ditengah-tengah pergaulan
dunia. Masyarakat yang hidup di tengah kebudayaan asing, tidak menutup
kemungkinan untuk meninggalkan budayanya sendiri.

Perlu diingat bahwa pada zaman modern sekarang ini wajah kolonialisme
dan imperialisme tidak lagi dalam bentuk fisik, tetapi dalam wujud lain
seperti penguasaan politik dan ekonomi. Meski tidak berwujud fisik, tetapi
penguasaan politik dan ekonomi nasional oleh pihak asing akan
berdampak sama seperti penjajahan pada masa lalu, bahkan akan terasa
lebih menyakitkan.

Dalam pergaulan dunia yang kian global, bangsa yang menutup diri rapat-
rapat dari dunia luar bisa dipastikan akan tertinggal oleh kemajuan zaman
dan kemajuan bangsa-bangsa lain. Bahkan, negara sosialis seperti Uni
Soviet yang terkenal anti dunia luar tidak bisa bertahan dan terpaksa
membuka diri. Saat ini, konsep pembangunan modern harus membuat
bangsa dan rakyat Indonesia membuka diri.

Yang terpenting adalah bagaimana bangsa dan rakyat Indonesia mampu


menyaring agar hanya nilai-nilai kebudayaan yang baik dan sesuai
dengan kepribadian bangsa saja yang terserap. Sebaliknya, nilai-nilai
budaya yang tidak sesuai apalagi merusak tata nilai budaya nasional
mesti ditolak dengan tegas. Kunci jawaban dari persoalan tersebut terletak
pada Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara. Bila rakyat
dan bangsa Indonesia konsisten menjaga nilai-nilai luhur bangsa, maka
nilai-nilai atau budaya dari luar yang tidak baik akan tertolak dengan
sendirinya. Namun persoalannya, dalam kondisi yang serba terbuka
seperti saat ini justru jati diri bangsa Indonesia tengah berada pada titik
nadi.

Bangsa dan rakyat Indonesia kini seakan-akan tidak mengenal dirinya


sendiri sehingga budaya atau nilai-nilai dari luar baik yang sesuai maupun
tidak sesuai terserap secara menyeluruh. Nilai-nilai yang datang dari luar
dinilai bagus, sedangkan nilai-nilai luhur bangsa yang telah tertanam sejak
lama dalam hati rakyat, kini dinilai kurang fleksibel. Lihat saja sistem
demokrasi yang kini tengah berkembang di Tanah Air yang mengarah
kepada faham liberalisme. Padahal, negara Indonesia seperti ditegaskan
dalam pidato Bung Karno di depan Sidang Umum PBB menganut paham
demokrasi Pancasila yang berasaskan gotong royong, kekeluargaan,
serta musyawarah dan mufakat.

Sistem politik yang berkembang saat ini sejalan dengan paham


liberalisme dan semakin menjauh dari sistem politik berdasarkan
Pancasila yang seharusnya dibangun dan diwujudkan rakyat dan bangsa
Indonesia. Terlihat jelas betapa demokrasi diartikan sebagai kebebasan
tanpa batas. Hak asasi manusia (HAM) disalahartikan dengan boleh
berbuat semaunya dan tak peduli apakah merugikan atau mengganggu
hak orang lain. Budaya dari luar, khususnya paham liberalisme, telah
merubah sudut pandang dan jati diri bangsa dan rakyat Indonesia.
Pergeseran nilai dan tata hidup yang serba liberal memaksa bangsa dan
rakyat Indonesia hidup dalam ketidakpastian.

Dalam kondisi seperti itu, peran Pancasila sebagai pandangan hidup dan
dasar negara memegang peranan penting. Pancasila akan menilai apa
saja yang bisa diserap untuk disesuaikan dengan nilai-nilai Pancasila
sendiri. Dengan begitu, nilai-nilai baru yang berkembang nantinya tetap
berada di atas kepribadian bangsa Indonesia. Dengan pandangan hidup,
suatu bangsa mempunyai pedoman dalam memandang setiap persoalan
yang dihadapi serta mencari solusi dari persoalan tersebut .
2.2.1 PANCASILA DAPAT BERTAHAN DI TENGAH-TENGAH IDEOLOGI
BESAR DI DUNIA

Ditengah perkembangan dunia yang semakin mutakhir, terdapat beberapa


hal yang cukup kontradiksi mengenai pandangan kehidupan bangsa
terhadap pribadi bangsa masing-masing yang terkadang menimbulkan
perselisihan antara negara satu dengan negara yang lain, karena belum
tentu paham negara mereka sama. Di dunia terdapat banyak ideologi
yang berkembang. Namun yang dibahas pada makalah ini hanya lima
ideologi saja, yakni ideologi Liberalisme, Komunisme, Sosialisme,
Kapitalisme,Fasisme, dan akan dibandingkan dengan dengan Ideologi
Pancasila yang sejak dahulu hingga sekarang dijadikan sebagai pedoman
hidup bagi bangsa Indonesia.

Sebelum membahas mengenai ideologi besar di dunia, perlu kita ketahui


bahwa ideologi berasal dari kata Yunani yaitu “Ideos” yang artinya pikiran,
gagasan, ide. Dan” logos” yang berarti ilmu. Menurut Puspowardoyo
(1992) menyebutkan bahwa ideologi dapat dirumuskan sebagai komplek
pengetahuan dan nilai yaang secara keseluruhan menjadi landasan bagi
seseorang atau masyarakat untuk memahami lingkungan dan bumi
seisinya, serta menentukan sikap dasar untuk mengolahnya. Pancasila
ebagai ideologi bangsa dinilai sebagai hasil yang berasal dari pemikiran
bangsa Indonesia dan nilai tersebut digali dari adat istiadat dan
kebudayaan bangsa.

Jadi pengertian ideologi secara umum adalah kumpulan suatu gagasan ,


ide,pikiran yang bersifat sistematis dan mengarah pada pengaturan
tingkah laku dalam berbagai aspek kehidupan.
2.3. Hubungan Pancasila dan Agama

Pancasila yang di dalamnya terkandung dasar filsafat hubungan


negara dan agama merupakan karya besar bangsa Indonesia melalui
The Founding Fathers Negara Republik Indonesia. Konsep pemikiran
para pendiri negara yang tertuang dalam Pancasila merupakan karya
khas yang secara antropologis merupakan local geniusbangsa
Indonesia (Ayathrohaedi dalam Kaelan, 2012). Begitu pentingnya
memantapkan kedudukan Pancasila, maka Pancasila pun
mengisyaratkan bahwa kesadaran akan adanya Tuhan milik semua
orang dan berbagai agama. Tuhan menurut terminologi Pancasila
adalah Tuhan Yang Maha Esa, yang tak terbagi, yang maknanya sejalan
dengan agama Islam, Kristen, Budha, Hindu dan bahkan juga
Animisme (Chaidar, 1998: 36).

Menurut Notonegoro (dalam Kaelan, 2012: 47), asal mula Pancasila


secara langsung salah satunya asal mula bahan (Kausa Materialis)
yang menyatakan bahwa “bangsa Indonesia adalah sebagai asal dari
nilai-nilai Pacasila, yang digali dari bangsa Indonesia yang berupa nilai-
nilai adat-istiadat kebudayaan serta nilai-nilai religius yang terdapat
dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia”.Sejak zaman purbakala
hingga pintu gerbang (kemerdekaan) negara Indonesia, masyarakat
Nusantara telah melewati ribuan tahun pengaruh agama-agama lokal,
(sekitar) 14 abad pengaruh Hinduisme dan Budhisme, (sekitar) 7
abad pengaruh Islam, dan (sekitar) 4 abad pengaruh Kristen (Latif,
2011: 57). Dalam buku Sutasoma karangan Empu Tantular dijumpai
kalimat yang kemudian dikenal Bhinneka Tunggal Ika. Sebenarnya kalimat
tersebut secara lengkap berbunyi Bhinneka Tunggal Ika Tan Hanna
Dharma Mangrua, artinya walaupun berbeda, satu jua adanya, sebab
tidak ada agama yang mempunyai tujuan yang berbeda (Hartono,
1992: 5).
Kuatnya faham keagamaan dalam formasi kebangsaan Indonesia
membuat arus besar pendiri bangsa tidak dapat membayangkan ruang
publik hampa Tuhan. Sejak dekade 1920-an, ketika Indonesia mulai
dibayangkan sebagai komunitas politik bersama, mengatasi komunitas
kultural dari ragam etnis dan agama, ide kebangsaan tidak terlepas dari
Ketuhanan (Latif, 2011: 67). Secara lengkap pentingnya dasar
Ketuhanan ketika dirumuskan oleh founding fathers negara kita dapat
dibaca pada pidato Ir. Soekarno pada 1 Juni 1945, ketika berbicara
mengenai dasar negara (philosophische grondslag) yang menyatakan,
“Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia ber-Tuhan, tetapi
masing-masing orang Indonesia hendaknya ber-Tuhan. Tuhannya
sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa Al
Masih, yang Islam menurut petunjuk Nabi Muhammad s.a.w, orang
Budha menjalankan ibadatnya menurut kitabkitab yang ada padanya.
Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia
ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya
dengan leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan.

Secara kebudayaan yakni dengan tiada “egoisme agama”. Dan


hendaknya Negara Indonesia satu negara yang ber-Tuhan” (Zoelva,
2012).Pernyataan ini mengandung dua arti pokok. Pertama pengakuan
akan eksistensi agama-agama di Indonesia yang, menurut Ir.
Soekarno, “mendapat tempat yang sebaik-baiknya”. Kedua, posisi
negara terhadap agama, Ir. Soekarno menegaskan bahwa “negara
kita akan berTuhan”. Bahkan dalam bagian akhir pidatonya, Ir. Soekarno
mengatakan, “Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudarasaudara
menyetujui bahwa Indonesia berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Hal ini relevan dengan ayat (1) dan (2) Pasal 29 UUD 1945 (Ali, 2009:
118).Jelaslah bahwa ada hubungan antara sila Ketuhanan Yang
Maha Esa dalam Pancasila dengan ajaran tauhid dalam teologi
Islam. Jelaslah pula bahwa sila pertama Pancasila yang merupakan
prima causa atau sebab pertama itu (meskipun istilah prima causa tidak
selalu tepat, sebab Tuhan terus-menerus mengurus makhluknya),
sejalan dengan beberapa ajaran tauhid Islam, dalam hal ini ajaran tentang
tauhidus-shifat dan tauhidul-af’al, dalam pengertian bahwa Tuhan itu
Esa dalam sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Ajaran ini juga diterima oleh
agama-agama lain di Indonesia (Thalib dan Awwas, 1999: 63). Prinsip
ke-Tuhanan Ir. Soekarno itu didapat dari -atau sekurang-kurangnya
diilhami oleh uraian-uraian dari para pemimpin Islam yang berbicara
mendahului Ir. Soekarno dalam Badan Penyelidik itu, dikuatkan
dengan keterangan Mohamad Roem. Pemimpin Masyumi yang
terkenal ini menerangkan bahwa dalam Badan Penyelidik itu Ir.
Soekarno merupakan pembicara terakhir; dan membaca pidatonya
orang mendapat kesan bahwa pikiranpikiran para anggota yang
berbicara sebelumnya telah tercakup di dalam pidatonya itu, dan
dengan sendirinya perhatian tertuju kepada (pidato) yang terpenting.
Komentar Roem, “Pidato penutup yang bersifat menghimpun pidato-
pidato yang telah diucapkansebelumnya” (Thalib dan Awwas, 1999:
63).Prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung makna bahwa
manusia Indonesia harus mengabdi kepada satu Tuhan, yaitu Tuhan
Yang Maha Esa dan mengalahkan ilah-ilah atau Tuhan-Tuhan lain
yang bisa mempersekutukannya. Dalam bahasa formal yang telah
disepakati bersama sebagai perjanjian bangsa sama maknanya
dengan kalimat “Tiada Tuhan selain Tuhan Yang Maha Esa”. Di mana
pengertian arti kata Tuhan adalah sesuatu yang kita taati perintahnya
dan kehendaknya.Prinsip dasar pengabdian adalah tidak boleh punya
dua tuan, hanya satu tuannya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Jadi itulah
yang menjadi misi utama tugas para pengemban risalah untuk
mengajak manusia mengabdi kepada satu Tuan, yaitu Tuhan Yang
Maha Esa .

Pada saat kemerdekaan, sekularisme dan pemisahan agama dari


negara didefinisikan melalui Pancasila. Ini penting untuk dicatat karena
Pancasila tidak memasukkan kata sekularisme yang secara jelas
menyerukan untuk memisahkan agama dan politik atau menegaskan
bahwa negara harus tidak memiliki agama. Akan tetapi, hal-hal
tersebut terlihat dari fakta bahwa Pancasila tidak mengakui satu agama
pun sebagai agama yang diistimewakan kedudukannya oleh negara
dan dari komitmennya terhadap masyarakat yang plural dan egaliter.
Namun, dengan hanya mengakui lima agama (sekarang menjadi 6
agama: Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha dan
Konghucu) secara resmi, negara Indonesia membatasi pilihan
identitas keagamaan yang bisa dimiliki oleh warga negara.
Pandangan yang dominan terhadap Pancasila sebagai dasar negara
Indonesia secara jelas menyebutkan tempat bagi orang yang
menganut agama tersebut, tetapi tidak bagi mereka yang tidak
menganutnya. Pemahaman ini juga memasukkan kalangan sekuler
yang menganut agama tersebut, tapi tidak memasukkan kalangan
sekuler yang tidak menganutnya. Seperti yang telah ditelaah Madjid,
meskipun Pancasila berfungsi sebagai kerangka yang mengatur
masyarakat di tingkat nasional maupun lokal, sebagai individu orang
Indonesia bisa dan bahkan didorong untuk memiliki pandangan hidup
personal yang berdasarkan agama (An-Na’im, 2007: 439).

Dalam hubungan antara agama Islam dan Pancasila, keduanya dapat


berjalan saling menunjang dan saling mengokohkan. Keduanya tidak
bertentangan dan tidak boleh dipertentangkan. Juga tidak harus
dipilih salah satu dengan sekaligus membuang dan menanggalkan yang
lain. Selanjutnya Kiai Achamd Siddiq menyatakan bahwa salah satu
hambatan utama bagi proporsionalisasi ini berwujud hambatan
psikologis, yaitu kecurigaan dan kekhawatiran yang datang dari dua
arah (Zada dan Sjadzili (ed), 2010: 79). hubungan negara dengan
agama menurut NKRI yang berdasarkan Pancasila adalah sebagai
berikut (Kaelan, 2012: 215-216):

a. Negara adalah berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

b. Bangsa Indonesia adalah sebagai bangsa yang berKetuhanan


yang Maha Esa. Konsekuensinya setiap warga memiliki hak asasi
untuk memeluk dan menjalankan ibadah sesuai dengan agama
masingmasing.

c. Tidak ada tempat bagi atheisme dan sekularisme karena hakikatnya


manusia berkedudukan kodrat sebagai makhluk Tuhan.

d. Tidak ada tempat bagi pertentangan agama, golongan agama,


antar dan inter pemeluk agama serta antar pemeluk agama.

e. Tidak ada tempat bagi pemaksaan agama karena ketakwaan itu


bukan hasil peksaan bagi siapapun juga.

f. Memberikan toleransi terhadap orang lain dalam menjalankan


agama dalam negara.
g. Segala aspek dalam melaksanakan dan menyelenggatakan
negara harus sesuai dengan nilainilai Ketuhanan yang Maha Esa
terutama norma-norma Hukum positif maupun norma moral baik moral
agama maupun moral para penyelenggara negara.

h. Negara pda hakikatnya adalah merupakan “…berkat rahmat


Allah yang Maha Esa”.

Berdasarkan kesimpulan Kongres Pancasila (Wahyudi (ed.), 2009: 58),


dijelaskan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius.
Religiusitas bangsa Indonesia ini, secara filosofis merupakan nilai
fundamental yang meneguhkan eksistensi negara Indonesia sebagai
negara yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketuhanan Yang Maha Esa
merupakan dasar kerohanian bangsa dan menjadi penopang utama
bagi persatuan dan kesatuan bangsa dalam rangka menjamin
keutuhan NKRI. Karena itu, agar terjalin hubungan selaras dan
harmonis antara agama dan negara, maka negara sesuai dengan Dasar
Negara Pancasila wajib memberikan perlindungan kepada agama-
agama di Indonesia.