Anda di halaman 1dari 19

PROPOSAL TUGAS AKHIR

STABILISASI TANAH GAMBUT MENGGUNAKAN


GEOPOLIMER ABU TERBANG DENGAN TAMBAHAN
SEMEN TIPE I

Oleh:

Erwin
NIM. 1407110453

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2018
A. Latar Belakang
Di Indonesia, pembangunan infrastruktur sedang mengalami kemajuan di bidang
kontruksi sehingga perlu area tanah yang kuat untuk menopang struktur-struktur
tersebut. Tanah merupakan dasar dari suatu konstruksi yang berfungsi untuk
menerima beban dari kontruksi atas. Salah satunya adalah tanah gambut. Tanah
gambut adalah tanah yang memiliki kadar organik diatas 75% (ASTM D-4427,
1984).
Tanah gambut merupakan tanah yang memiliki angka pori dan kadar air yang
sangat tinggi sehingga daya dukung tanah yang sangat rendah dan kompressibilitas
yang sangat tinggi. Oleh karena itu, perlu diusahakan perbaikan sifat-sifat tanah asli
menjadi tanah yang memenuhi syarat ketentuan yang disebut dengan stabilisasi tanah.
Perbaikan tanah gambut umumnya digunakan pemasangan cerucuk kayu atau
galar kayu (corduroy), pembuatan kolom-kolom pasir, pemberian beban awal
(preloading) untuk memampatkan lapisan tanah gambut, serta pengulapasan lapisan
gambut (bila lapisannya tipis) yang kemudian diganti dengan tanah yang berkualitas
baik.
Dari semua metode tersebut kurang berwawasan lingkungan karena harus
menggunakan kayu dan pasir urugan dengan jumlah yang sangat besar. Karena alasan
tersebut maka dikembangkan metode stabilisasi dengan menggunakan zat adiktif
seperti semen OPC (Ordinary Portland Cement) Tipe I, abu terbang.
Menurut Professor Joseph Davitdovits (1980) menemukan suatu bahan pengikat
pengganti semen yang dikenal dengan kopolimer. Bahan geopolimer dibuat bahan
yang memiliki banyak mengandung unsur-unsur silicon dan alumina. Salah satu
bahan yang mengandung yang mengandung unsur-unsur tersebut adlaah abu terbang,
sehingga bahan ini mulai dijadikan bahan campuran untuk menstabilkan tanah.
Abu terbang adalah sisa hasil proses pembakaran batu bara yang merupakan
limbah yang meningkat setiap tahunnya, sehingga diperiksa penanggulangannya.
Oleh karena itu, pada penelitian ini menggunakan abu terbang.
Bahan geopolimer yang akan digunakan dalam campuran adalah abu terbang
dengan tambahan semen tipe I serta perlu larutan aktivator berupa NaoH, Na2SiO3,
dan Sikament NN untuk mendapatkan kekuatan tanah gambut tersebut.
Pengujian yang perlu dilakukan untuk mendapatkan kekuatan tanah tersebut
adalah pengujian CBR (California Bearing Ratio) dan pengujian UCS (Unconfined
Compressive Strength).

B. Perumusan Masalah
Tanah gambut ini memiliki daya dukung yang sangat rendah, kompressibilitas
yang sangat tinggi dan lain-lain yang tidak menguntungkan bagi kontruksi. Adapun
usaha untuk memperbaiki sifat-sifat tanah tersebut agar memenuhi syarat ketentuan
yang biasa disebut dengan stabilisasi tanah. Pada kontruksi di wilayah tanah
bergambut maka perlu dikaji proses stabilisasi tanah gambut yang cocok dengan
jumlah geopolimer yang digunakan agar tanah gambut sesuai syarat ketentuan yang
layak untuk suatu kontruksi.

C. Tujuan dan Manfaat


Tujuan dari penelitian adalah sebagai berikut:
1. Mengkaji komposisi geopolimer abu terbang dengan tambahan semen tipe
terhadap tanah gambut variasi persentase semen dan molaritas NaOH
2. Menganalisis untuk mendapatkan nilai kepadatan optimum setelah dicampur
geopolimer abu terbang dengan tambahan semen tipe I
3. Mengkaji kekuatan tanah gambut distabilkan geopolimer abu terbang dengan
tambahan semen tipe I
Manfaat dari penelitian ini adalah adalah pengembangan ilmu pengetahuan
khususnya dalam bidang tanah dan menjadi referensi bagi peneliti yang lain, serta
dapat diaplikasikan di lapangan kerja sebelum melakukan pekerjaan kontruksi
D. Batasan Masalah
Dalam penelitian ini penulis membatasi masalah agar lebih terarah. Batasan
masalah yang penulis buat yaitu:
1. Tanah gambut diambil dari Kabupaten Kampar
2. Proses pengambilan dan pencampuran tanah dengan bahan stabilisasi dalam
kondisi baik
3. Abu terbang diambil dari Sumatera Barat
4. Semen tipe I diambil dari PT. Semen Padang
5. Larutan aktivator yang digunakan adalah NaOH, Na2Sio3, dan Sikament NN

E. Tinjauan Pustaka
E.1. Tanah Gambut
Tanah gambut atau yang lebih dikenal dengan nama Peat Soil adalah tanah
yang mempunyai kandungan organik cukup tinggi dan pada umumnya terbentuk dari
campuran fragmen-fragmen material organik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan
yang telah berubah sifatnya menjadi fosil. Menurut Van de Manne (1982)
menyatakan tanah gambut terbentuk sebagai hasil proses penumpukan sisa tumbuhan
rawa lainnya. Gambut Indonesia merupakan jenis gambut tropis dengan luas area
tanah gambut mencapai kurang lebih 15,69 juta hektar (Wijaya, Adhi, dkk, 1991)
yang sebagian besar terdapat di pulau Sumatra, Kalimantan, dan Papua dengan variasi
kedalaman yang berbeda serta merupakan areal gambut terbesar ketiga di Dunia
(Panduan Geoteknik, 2001)
Menurut kondisi dan sifat-sifatnya, gambut di sini dapat dibedakan atas gambut
topogen dan gambut ombrogen. Gambut topogen ialah lapisan tanah gambut yang
terbentuk karena genangan air yang terhambat drainasenya pada tanah-tanah cekung
di belakang pantai, di pedalaman atau di pegunungan. Kedalaman gambut ini sekitar
4 meter, air yang tingkat keasaman yang tidak tinggi dan relatif subur dengan zat hara
yang berasal dari lapisan tanah mineral di dasar cekungan, air sungai, sisa-sisa
tumbuhan, dan air hujan. Gambut topogen relatif tidak banyak dijumpai. Sedangkan,
Gambut ombrogen lebih sering dijumpai, meski semua gambut ombrogen bermula
sebagai gambut topogen.
Gambut ombrogen lebih tua umurnya, pada umumnya lapisan gambutnya lebih
tebal, hingga kedalaman 20 m, dan permukaan tanah gambutnya lebih tinggi daripada
permukaan sungai di dekatnya. Kandungan unsur hara tanah sangat terbatas, hanya
bersumber dari lapisan gambut dan dari air hujan, sehingga tidak subur. Sungai-
sungai atau drainase yang keluar dari wilayah gambut ombrogen mengalirkan air
yang keasamannya tinggi (pH 3,0–4,5), mengandung banyak asam humus dan
warnanya coklat kehitaman seperti warna air teh yang pekat. Itulah sebabnya sungai-
sungai semacam itu disebut juga sungai air hitam.
E.2. Stabilisasi Tanah
Stabilisasi tanah merupakan suatu proses untuk memperbaiki sifat-sifat tanah
dengan menambahkan sesuatu pada tanah tersebut agar dapat menaikkan kekuatan
tanah. Tujuan dari stabilisasi tanah adalah untuk mengikat dan menyatukan agregat
material yang ada sehingga membentuk struktur jalan atau pondasi jalan yang padat.
Menurut Bowles (1991) menyatakan beberapa tindakan yang dilakukan untuk
menstabilkan tanah adalah meningkatkan kerapatan tanah, menambah material yang
tidak aktif sehingga meningkatkan kohesi dan tahanan gesek yang timbul,
menambah bahan untuk menyebabkan perubahan–perubahan kimiawi dan fisis pada
tanah, menurunkan muka air tanah , mengganti tanah yang buruk.
Stabilisasi tanah adalah usaha yang dilakukan untuk memperbaiki sifat-sifat
tanah. Metode stabilisasi yang digunakan adalah stabilisasi mekanis dan stabilisasi
kimiawi. Stabilisasi mekanis adalah salah satu metode untuk meningkatkan daya
dukung tanah dengan cara perbaikan struktur dan perbaikan sifat-sifat mekanis tanah,
sedangkan stabilisasi kimiawi adalah menambah kekuatan dan daya dukung tanah
dengan jalan mengurangi atau menghilangkan sifat-sifat teknis tanah yang kurang
menguntungkan dengan mencampur tanah dengan bahan kimia.
E.3. Geopolimer
Geopolimer dapat didefinisikan sebagai material yang dihasilkan dari
geosintesis aluminosilikat polimerik dan alkali-silikat yang menghasilkan kerangka
polimer SiO4 dan AlO4 yang terikat secara tetrahedral (Davitdovits, 1994). Saat SiO2
dan Al2O3 terikat secara tetrahedral dengan berbagi atom oksigen, harus ada ion
positif (Na+, K+, Ca++, Mg++, NH4+) dalam lubang kerangka untuk menyeimbangkan
muatan negative dari Al3+ dalam bentuk koordinasi IV.
Secara umum, geopolimer memiliki bentuk dasar polisialate dengan rumus
empiric Mn(-(SiO2)z-AlO2)n, wH2O, dimana M adalah kation seperti ion kalsium,
natrium dan kalium dan n adalah derajat polikondensasi, z adalah 1, 2, 3. Polisialate
memiliki fase amorf hingga semi kristalin.
Berikut struktur tiga dimensi polisialate amorf hingga semikristalin dan
digambarkan pada Gambar 1 :
1. Dimensi Poly (sialate) dengan ikatan –Si-O-Al-O-
2. Dimensi Poly (sialate-siloxo) dengan ikatan –Si-O-Al-O-Si-O-
3. Dimensi Poly (sialate-disiloxo) dengan ikatan –Si-O-Al-O-Si-O-Si-O-
Gambar 1. Struktur tiga dimensi Polysialate
(Sumber : Davidovits, 1994)

Teknologi geopolimer memiliki keunggulan dalam kemampuannya


menghasilkan binder kinerja tinggi dari berbagai sumber aluminosilikat. Berbagai
riset telah dikembangkan dalam pembuatan geopolimer dari berbagai sumber
aluminosilikat, seperti yang telah dilakukan oleh Davidovits (1989, 1991, 1993),
Palomo et al. (1992), Barbosa et al. (2000), Cioffi et al. (2003), Kriven et al. (2003),
dan Schmu¨cker and MacKenzie (2005) yang mengembangkan geopolimer dari
metakaolinit. Di samping itu, Ikeda et al. (1998), Xu dan van Deventer (2000),
Swanepoel and Strydom (2002), van Jaarsveld et al. (2002, 2003) dan Bakharev
(2005) juga telah mengembangkan geopolimer dari sumber aluminosilikat yang lain,
seperti fly ash.
E.4. Abu Terbang
Abu terbang adalah abu hasil sisa pembakaran batu bara yang berupa butiran
halus ringan, dan bersifat pozzolanik. Abu terbang adalah abu yang dihasilkan dari
transformasi, pelelehan atau gasifikasi dari material anorganik yang terkandung
dalam batu bara (Molina dan Poole, 2004).
Menurut Wardani (2008) menyatakan factor-faktor yang mempengaruhi sifat
fisis, kimia, dan teknis dari abu terbang adalah tipe batu bara, kemurnian batu bara,
tingkat penghancur, tipe pemanasan dan operasi, metoda penyimpanan dan
penimbunan. Abu terbang tersebut digambarkan pada Gambar 2 berikut :

Gambar 2. Abu Terbang


(Sumber : Wardani, 2008)
E.5. Semen Tipe I (Ordinary Portland Cement)
Semen Portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara menggiling
terak semen portland terutama yang berupa kalsium silikat yang bersifat hidrolis dan
digiling bersama-sama dengan bahan tambahan berupa satu atau lebih bentuk Kristal
senyawa kalsium sulfat dan boleh ditambah dengan bahan tambahan lain (SNI 15-
2049-2004).
Senyawa Portland Tipe I digunakan untuk keperluan kontruksi umum yang
tidak memerlukan persyaratan khusus yaitu :
1. Tidak memerlukan ketahanan sulfat
2. Tidak memerlukan persyaratan panas hidrasi
3. Tidak memerlukan kekuatan awal yang tinggi
E.6. Geopolymer Hybrid
Geopolimer dapat didefinisikan sebagai material yang dihasilkan dari
geosintesis aluminosilikat polimerik dan alkali-silikat yang menghasilkan kerangka
polimer SiO4 dan AlO4 yang terikat secara tetrahedral (Davitdovits, 1994). Material
hibrida merupakan suatu materi yang terdiri dari dua atau lebih komponen yang
berbeda. Komposit adalah suatu material yang terbentuk dari kombinasi dua atau
lebih material yang mempunyai sifat mekanik lebih kuat dari material pembentuknya.
Komposit terdiri dari dua bagian yaitu matrik sebagai pengikat atau pelindung
komposit dan filler sebagai pengisi komposit. Serat alam merupakan alternative filler
komposit untuk berbagai komposit polimer karena keunggulannya disbanding serat
sintetis. Serat alam mudah didapatkan dengan harga yang murah, mudah diproses,
densitasnya rendah, ramah lingkungan, dan dapat diuraikan secara biologi
(Kusumastuti, 2009). Komposit serat dalam dunia industry mulai dikembangkan
daripada menggunakan bahan partikel. Bahan komposit serat mempunyai keunggulan
yang utama yaitu strong (kuat), stiff (kaku), dan lebih tahan terhadap panas pada saat
didalam matrik (Herlina, 2011).
Colangelo (2013) mempelajari tentang komposit hibrida organic-anorganik
dengan menambahkan resin epoxy untuk geopolimer. Penelitiannya menunjukkan
bahwa penambahan resin epoxy dapat meningkatkan homogenitas geopolimer dan
dapat meningkatkan kuat tekan serta mengurangi porositas dari geopolimer yang
telah disintesis. Li (2013) mempelajari bahwa penambahan kitosan dalam geopolimer
barbasis abu terbang dapat meningkatkan kuat tarik geopolimer dan mencapai kondisi
optimum pada penambahan kitosan sebanyak 1% dari berat abu terbang. Selanjutnya,
Nur (2013) dalam sintesis geopolimer berbasis lumpur bakar sidoarjo dan abu terbang
mempelajari bahwa semakin banyak serat alami yang ditambahkan dapat
meningkatkan kuat tekan dari geopolimer yang dihasilkan.
E.7. California Bearing Ratio (CBR)
Pengujian CBR adalah perbandingan antara beban yang diperlukan untuk
mencapai penetrasi tertentu dalam sampel pada kadar air dan berat volume tertentu
terhadap beban standar yang diperlukan untuk mencapai penetrasi standar pada
sampel standar bila dibuat persamaan adalah sebagai berikut :
𝐵𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑢𝑗𝑖𝑎𝑛
𝐶𝐵𝑅 = × 100%………………………………….(2.1)
𝐵𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟

Langkah-langkah dari pengujian CBR adalah


1. Mempersiapkan benda uji
2. Menimbang mould kosong dan melakukan pemadatan
3. Memindahkan mould sebelah atas, menghaluskan permukaan tanah dalam
mould serta melepas base plate
4. Menimbang mould ditambah dengan sampel padat
5. Melakukan pengujian CBR
6. Setelah selesai melakukan pengujian, mengambil contoh tanah dan
menimbang Masanya
7. Mengeringkan contoh tanah didalam oven sekitar 24 jam
8. Mengeluarkan contoh tanah dan dalam oven
9. Menimbang massa tanah kering
E.8. Unconfined Compressive Strength (UCS)
UCS adalah bentuk khusus dari uji Unconsolidated Undrains yang umumnya
dilakukan terhadap sampel tanah lempung. Adapun langkah-langkah yang dilakukan
pada pengujian ini adalah :
1. Mengeluarkan contoh tanah dari tabung contoh dengan alat pengeluaran
contoh. Mendorong masuk kedalam cetakan tabung yang telah diolesi
pelumas
2. Menempatkan benda uji pada alat tekan, mengatur alat tekan sehingga pelat
dasar menyentuh benda uji
3. Mengatur arloji ukur pada cincin beban dan arloji pengatur regangan pada
pembacaan nol
4. Melakukan pengujian dengan mengerjakan alat beban pada kecepatan 0,5%-
2% terhadap tinggi benda uji permenitnya
5. Membaca nilai pengukuran regangan dan menghentikan pembebanan ketika
silinder tanah telah pecah atau mengalami pemadatan 20%
6. Menimbang berat cawa kosong dan masa benda uji beserta cawan kemudian
mengeringkan didalam oven selama 24 jam
7. Menimbang massa kering benda uji

F. Metodologi Penelitian
F.1. Bahan Penelitian
Pengujian dilakukan di Laboratorium Mekanika Tanah Universitas Riau.
F.1.1. Tanah
Tanah yang digunakan adalah tanah gambut yang berasal dari Kabupaten
Kampar. Pengambilan contoh tanah terganggu (disturb sample). Tanah
dikeringkan/dipanaskan dengan terik matahari sampai mencapai kering udara, setelah
itu disaring dan diambil tanah yang lolos no. 4.
F.1.2. Abu Terbang
Abu terbang diperoleh dari Sumatera Barat
F.1.3. Semen Tipe I
Semen tipe I berasal dari PT. Semen Padang
F.1.4. Larutan Aktivator
Larutan aktivator yang digunakan adalah NaoH, Na2SiO3, dan Sikament NN
F.2. Peralatan Penelitian
Dalam penelitian ini peralatan yang digunakan adalah sebagai berikut :
F.2.1. Cawan
Cawan yang terbuat dari alumunium, biasanya digunakan untuk mengukur
kadar air.
F.2.2. Timbangan
Timbangan adalah tempat pengukuran beban sampel. Timbangan dengan
ketelitian 0,05 gram dan timbangan dengan ketelitian 1,0 gram.
F.2.3. Gelas Ukur
Gelas ukur berfungsi sebagai mengukur dalam jumlah air yang dibutuhkan.
F.2.4. Piknometer
Piknometer digunakan untuk melakukan pengukuran berat jenis (specific
gravity) pada bahan penelitian.
F.2.5. Mould
Mould merupakan cetakan logam berbentuk silinder dengan ukuran tertentu
yang berfungsi sebagai membuat benda uji maupun untuk percobaan pemadatan.
F.2.6. Saringan
Saringan adalah alat yang digunakan untuk mengetahui ukuran partikel tanah
ataupun agregat sehingga diperoleh data ukuran partikel tanah.
F.2.7. Jangka Sorong
Jangka sorong digunakan untuk mengukur diameter dari mould serta tinggi
mould.
F.2.8. Oven
Oven berfungsi untuk mengeringkan sampel dengan suhu 105˚C sampai
115˚C.
F.3. Proses Penelitian
F.3.1. Pengujian-Pengujian Fisik
Pengujian fisik ini bertujuan menentukan karakteristik pada suatu tanah
gambut :
1. Pengujian Kadar Air
Untuk memeriksa kadar air suatu contoh tanah, yaitu perbandingan antara
berat air yang dikandung tanah dengan berat kering tanah, dinyatakan dalam
bentuk persen. Standar rujukannya adalah ASTM D 2216, Th.1999
2. Pengujian Berat Volume
Untuk memeriksa berat volume contoh tanah, yaitu perbandingan antara
berat tanah dengan volume tanah. Standar rujukannya adalah ASTM D 2167
3. Pengujian Berat Jenis
Untuk menentukan berat jenis suatu tanah. Berat jenis tanah adalah
perbandingan antara berat butir-butir dengan berat air destilasi diudara
dengan volume yang sama pada temperatur 27,5 C˚. dirujuk pada standar
ASTM D-854,Th.2002
4. Pengujian Kadar Organik
Pengujian ini bertujuan untuk menentukan kadar serat tanah gambut. Kadar
serat merupakan perbandingan berat serat kering dengan berat kering tanah
yang dinyatakan dalam persen. Dirujuk pada standar ASTTM D 2974-87,
1993
5. Pengujian Kadar Abu
Pengujian ini bertujuan untuk menentukan kadar abu pada tanah gambut.
Pengujian kadar abu merupakan tahapan untuk mendapatkan nilai dari kadar
organic suatu tanah. Standar yang dirujuk adalah ASTM D 2974-87, 1993)
6. Pengujian Kadar Serat
Kadar organic merupakan hal paling penting dalam geoteknik, dalam hal ini
hambatan air mayoritas dari tanah gambut yang tergantung pada kadar
organiknya. Dirujuk pada standar ASTM D 2607-69, 1989
F.4. Pemadatan
Pemadatan mekanik adalah salah satu cara yang efektif dan paling umum
digunakan untuk stabilisasi tanah. Secara umum, kebanyakan sifat teknis seperti
kekuatan, kekakuan, ketahanan terhadap penyusutan dan kekedapan tanah akan
meningkat kepadatan tanah. Maksud dari percobaan ini adalah menentukan berat
volume kering maksimum (γmax) dan kadar air optimum (ωopt) pada suatu sampel
tanah. Ada dua proktor yaitu proktor standar dan proktor modifikasi.
Ciri-ciri proktor standar sebagai berikut:
1. Berat penumbuk 2,5 kg
2. Tinggi jatuh penumbuk 30,5 cm
3. Tanah dipadatkan dalam tiga lapisan
4. Prosedur pelaksanaan telah dirinci dalam ASTM D-698 dan AASHTO T-99
Ciri-ciri proktor modifikasi sebagai berikut:
1. Berat penumbuk 4,45 kg
2. Tinggi jatuh penumbuk 45,72 cm
3. Tanah dipadatkan dalam lima lapisan
4. Prosedur pelaksanaan telah dirinci dalam ASTM D-1557 dan AASHTO T-
180
F.5. California Bearing Ratio (CBR)
CBR adalah salah satu alat untuk mengetahui daya dukung tanah. Satu set alat
terdiri dari:
1. Mesin penetrassi (Loading Machine) berkapasitas 4,45 ton dengan
kecepatan penetrasi 1,27mm/menit
2. Torak penetrasi dari logam dengan luas 19,35 cm2 dan panjangnya
minimal 101,6 mm
3. Kepiting beban dengan berat 5 pound
4. Arloji pengukuran penetrasi dan arloji penunjuk beban
F.6. Unconfined Compressive Strength (UCS)
UCS adalah salah satu alat untuk mengetahui kuat geser tanah. Hasil yang
didapat adalah cohesion undrained (cu). Satu set alat ini terdiri dari :
1. Mesin penetrasi (Loading Machine) berkapasitas 4,45 ton dengan
kecepatan penetrasi 1,27 mm/menit
2. Arloji pengukuran penetrasi dan arloji penunjuk beban
F.7. Bagan Alir Penelitian

Mulai

Studi pustaka mencari


literatur yang berhubungan
dengan penelitian

Persiapan bahan dan


peralatan
Pembuatan geopolimer Tanah Gambut
dari campuran abu terbang
dengan larutan aktivator
dan ditambahkan dengan
semen tipe I Pengujian-Pengujian Fisik
pada Tanah Gambut

Perencanaan Campuran

Komposisi dengan variasi persentase


semen dan molaritas NaOH

Pengujian CBR dan Pengujian UCS

Hasil dan Pembahasan

Selesai

Gambar 3. Bagan Alir Penelitian


F.8. Jadwal Rencana Pelaksanaan Tugas Akhir
Tugas akhir ini direncanakan akan dilaksanakan selama 6 (enam) bulan dengan
rincian yang dapat dilihat pada Tabel berikut

Tabel 1. Jadwal Rencana Pelaksanaan Tugas Akhir


Bulan Ke Bulan Ke Bulan Ke Bulan Ke Bulan Ke Bulan Ke
N
Uraian Kegiatan 1 2 3 4 5 6
o
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Studi Literatur
2. Penyiapan Bahan
3. Penyusunan Proposal
4. Seminar Proposal
5. Pelaksanaan Penelitian

6. Analsis Data dan


Pembahasan
7. Penulisan Laporan
Tugas Akhir
8. Seminar Hasil
9. Sidang
G. Daftar Pustaka

Ilyas, Tommy. (2008) Studi Perilaku Tanah Gambut Kalimantan yang Distabilkan
dengan Semen Portland, Jurusan Teknik Sipil

Toni, Afriwan. (2017) Stabilisasi Tanah Gambut Dengan Kapur Dan Abu Terbang
Untuk Mengurangi Kebakaran Lahan, Tugas Akhir, Jurusan Teknik Sipil, Universitas
Riau, Pekanbaru.

Yulianto, Faisal, Estu. (2011) Menentukan Metode Perbaikan Untuk Tanah Gambut,
Tugas Akhir, Jurusan Teknik Sipil, Universitas Madura, Madura

Harwadi, Fuad. (2011) Menetukan Metode Perbaikan Untuk Tanah Gambut, Jurnal,
Jurusan Teknik Sipil, Universitas Borneo, Tarakan.

Syarif, Harriad, Akbar. (2015) Kuat Tekan Paving Block Geopolimer Abu Sawit
(Palm Oil Fuel Ash) Dengan Perawatan Suhu Ruang, Jurnal, Jurusan Teknik Sipil,
Universitas Riau, Pekanbaru

Kolay, P.K., Rahman, M.A., Taib, S.N.L, (2011) Utilization Of Fly Ash In Local
Sarawakian Peat Soil Stabilization. Australian Geomechanics

Yunan, A.R., 2002. Stabilisasi Tanah Gambut Rawa Pening dengan Semen dan
Gypsum Sintetis (CaSO4.2H2O). Semarang: Universitas Diponegoro.

Muhardi, Syawal,S. Karakteristik Kimia, Fisik dan Mekanik Abu Batu Bara (Abu
Terbang dan Abu Dasar).Universitas Riau

Hardiyatmo, H.C. 2007. Mekanika Tanah 2 edisi keempat. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press

Noor, E.M., Faisal, E.Y., & Trihanyndio, R.s, 2014. Pengaruh Usia Stabilisasi pada
Tanah Gambut Berserat yang Distabilisasi dengan Campuran CaCO3 dan Pozolan.
Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
Sha'abani, Mahdieh. 2012. Mass Stabilization Technique for Peat Soil – A Review.
Iran: University of Hormozgan

Olivia, Monita. 2011. Durability Related Properties of Low Calcium Fly Ash Based
Geopolymer Concrete. Australia : Curtin University

Anwar, Syaiful. 2015. Pemanfaatan Serat Batang Pohon Pisang dalam Sintesis
Material Hibrida Berbasis Geopolimer Abu Layang Batu Bara. Semarang :
Universitas Negeri Semarang

Das, Braja. M. 1994&1995. Mekanika Tanah I. Jakarta : Erlangga

Das, Braja. M. 1994&1995. Mekanika Tanah II. Jakarta : Erlangga

K, Indera Rama. 2016. Stabilisasi Tanah Dengan Menggunakan Fly Ash dan
Pengaruhnya Terhadap Nilai Kuat Tekan Bebas. Cilegon : Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa

Kalantari B., Huat B.B. K. 2008. Peat Soil Stabilization, using Ordinary Portland
Cement, Polypropylene Fibers, and Air Curing Technique., University of Putra
Malaysia.

Deboucha S., Hashim R., Alwi A. 2008. Engineering Properties of Stabilized


Tropical Peat Soils. University of Malaya, Malaysia and Universitas Tanjungpura,
Indonesia.

Jelisic N., LeppänenM. 2000. Mass stabilization of peat in road and railway
construction. 1 M. Sc., Lic. in Civil Engineering, Swedish National Road
Administration, Central Region, P.O. Box 186, SE-871 24 Härnösand, Sweden, 2 M.
Sc. in Civil Engineering, SCC-Viatek Ltd, P.O. Box 4, FIN-02101 Espoo, Finland