Anda di halaman 1dari 36

Kegiatan Belajar 1

Rangkaian Listrik Arus Searah

Pada Kegiatan Belajar 1 ini, capaian dan subcapaian pembelajaran yang harus
dikuasai oleh teman-teman peserta PPG dalam jabatan sebagai berikut:

Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan


Peserta mampu memahami konsep, hukum, dan teori dasar rangkaian listrik arus
searah

Subcapaian Pembelajaran Mata Kegiatan


 Peserta mampu mendefinisikan rangkaian, arus dan tegangan listrik.
 Peserta mampu mengaplikasikan hukum-hukum rangkaian listrik tentang arus
dan tegangan.
 Peserta mampu menganalisis arus dan tegangan pada rangkaian seri, paralel
dan seri-paralel berdasarkan hukum-hukum rangkaian, metode-metode
analisis, dan teorema rangkaian.

Pokok-Pokok Materi
 Definis rangkaian, arus dan tegangan listrik
 Komponen rangkaian listrik
 Konsep rangkaian seri, paralel, dan seri-paralel
 Hukum-hukum rangkaian listrik
 Metode analisis rangkaian listrik
 Teorema rangkaian listrik

Uraian Materi
Rangkaian listrik adalah sistem komponen yang saling berhubungan seperti
resistor, kapasitor, induktor, sumber tegangan, sumber arus dan sebagainya.
Perilaku dari komponen-komponen ini dijelaskan oleh beberapa hukum dasar.
Dalam analisis rangkaian, nilai tegangan, arus, dan daya dihitung dalam sistem
unit tertentu. Sistem unit yang digunakan adalah sistem SI (Systéme
International). Salah satu teori rangkaian listrik adanya hubungan fundamental
antara tegangan, arus, dan resistansi.

Sebagai contoh, suatu rangkaian listrik terdiri dari sumber energi, sakelar, beban,
dan kabel penghubung seperti ditunjukkan pada Gambar 1. Ketika sakelar ditutup,
arus akan mengalir di rangkaian yang menyebabkan lampu menyala. Rangkaian
ini merupakan perwakilan dari banyak rangkaian umum yang ditemukan dalam
praktek, termasuk senter dan sistem lampu mobil.

Gambar 1. Sumber Tegangan, Sakelar dan Beban

A. Definisi-Definisi
1. Rangkaian Listrik
Rangkaian lsitrik merupakan kumpulan elemen atau komponen listrik yang
dihubungkan dengan metode / cara tertentu sehingga membentuk suatu
lintasan tertutup (minimal satu lintasan tertutup).
2. Muatan Listrik
- Muatan merupakan satuan terkecil dari atom atau sub atom yang terdiri
dari partikel inti (proton bermuatan positif dan neutron bersifat netral).
Partikel inti ini dikelilingi oleh elektron yang bermuatan negatif.
- Suatu partikel dapat bermuatan positif jika kehilangan elektron atau
bermuatan negatif jika menerima elektron dari partikel lain.
- Muatan adalah jumlah elektron atau proton yang mengalir melewati
penampang melintang sebuah kawat dalam waktu satu detik.
- Satuan muatan adalah coulomb (C).
- Satu coulomb terukur setiap detik untuk sebuah kawat penghantar yang
mengalirkan arus sebesar 1 amper.
- Simbol muatan yang tidak berubah terhadap waktu adalah Q.
- Simbol muatan yang berubah setiap perubahan waktu adalah q.
- 1 elektron = – 1,602 x 10-19 coulomb.
- 1 coulomb = – 6,24 x 1018 elektron.
- 1 proton = + 1,602 x 10-19 coulomb.
3. Arus Listrik
Arus listrik merupakan perubahan kecepatan muatan terhadap waktu atau
muatan yang mengalir dalam satuan waktu. Dengan kata lain arus listrik
adalah muatan yang bergerak. Dalam bentuk persamaan ditulis:
dq
i=
dt
- Muatan akan bergerak jika ada energi dari luar yang mempengaruhinya.
- Arah arus listrik serah dengan arah muatan positif atau berlawanan
dengan arah aliran elektron.
- Simbol arus listrik adalah i untuk nilai arus yang berubah setiap waktu
dan I untuk arus listrik yang bernilai tetap terhadap waktu.
- Satuan arus listrik adalah amper (A).
4. Tegangan Listrik
Tegangan listrik merupakan beda / selisih potensial antara dua terminal
adalah usaha yang dilakukan untuk menggerakan satu muatan sebesar satu
coulomb. Dengan kata lain tegangan listrik adalah usaha per satuan
muatan. Persamaan dari tegangan dapat ditulis sebagai berikut:
dw
v=
dq
- Simbol tegangan listrik adalah V atau v.
- Satuan tegangan listrik adalah volt (V).
- 1 volt = 1 J/C
- J = joule merupakan satuan dari usaha.
5. Usaha/Energi Listrik
Usaha adalah kerja yang dilakukan oleh gaya sebesar satu Newton sejauh
satu meter. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Usaha / Energi
adalah sesuatu kerja untuk memindahkan sesuatu dengan
mengeluarkan gaya sebesar satu Newton dengan jarak tempuh sepanjang
satu meter.
- Simbol usaha / energi adalah w.
- Satuan usaha / energi adalah joule (J).
6. Daya Listrik
- Daya adalah rata-rata kerja yang dilakukan.
- Simbol daya listrik adalah P.
- Satuan daya listrik adalah watt (W).
dw dw dq
P= = = v.i
dt dq dt

B. Komponen-Komponen Rangkaian Listrik


1. Elemen / komponen aktif
Elemen aktif adalah elemen / komponen yang menghasilkan energi.
Elemen aktif terdiri dari sumber tegangan dan sumber arus.
 Sumber tegangan
Sumber tegangan terdiri dari sumber tegangan bebas dan sumber
tegangan tak bebas.
 Sumber tegangan bebas
Sumber tegnagan bebas dikarakterissasi oleh sebuah tegangan
terminal yang bebas atau tidak tergantung pada arus yang
melewatinya. Sumber tegangan bebas merupakan sumber ideal serta
tidak merepresentasikan secara tepat suatu peralaan fisik yang riil,
karena sumber ideal secara teoritis dapat mengirimkan energi dalam
jumlah tak-berhingga dari terminal-terminalnya. Simbol dari sumber
tegangan bebas

Gambar 2. Sumber Tegangan Bebas


 Sumber tegangan tak bebas
Sumber tegangan tak bebas atau terkendali adalah sumber tegangan
sangat ditentukan atau tergantung pada arus yang muncul pada
bagian yang lain dari sistem yang dianalisis. Simbol dari sumber
tegangan tak bebas

Gambar 3. Sumber Tegangan Tak Bebas

 Sumber arus
Sumber arus terdiri dari sumber arus bebas dan sumber arus tak bebas.
 Sumber arus bebas
Sumber arus bebas adalah arus yang melewati sebuah elemen yang
tak ditentukan atau tak tergantung pada tegangannya. Sumber arus
bebas secara teoritis dapat mengirim daya yang tak-berhingga dari
terminal-terminalnya. Simbol dari sumber arus bebas seperti gambar
berikut:

Gambar 4. Sumber Arus Bebas


 Sumber arus tak bebas
Sumber arus tak bebas adalah arus yang melewati sebuah elemen
yang sangat ditentukan atau tergantung pada tegangannya. Sumber
arus tak bebas tidak dapat mengirim daya yang tak-berhingga dari
terminal-terminalnya. Simbol dari sumber arus tak bebas seperti
gambar berikut:

Gambar 5. Sumber Arus Tak Bebas

2. Elemen / komponen pasif


Elemen pasif adalah elemen / komponen yang tidak menghasilkan energi.
Elemen pasif terdiri dari:
 Resistor (R)
- Resistor sering disebut dengan nama tahanan, hambatan, atau
resistansi.
- Fungsi resistor antara lain sebagai penghambat arus, pembagi arus
dan pembagi tegangan.
- Nilai resistor tergantung dari hambatan jenis (resistivity/ρ) bahan
resistor tersebut, panjang (l) dari resistor dan luas penampang (A)
resistor itu sendiri.
- Simbol dari resistor adalah R
- Satuan dari resistor adalah Ohm (Ω)
- Secara matematis dapat dinyatakan :
l.ρ
R=
A
Tabel 1. Tahanan jenis (resistivity) dari beberapa bahan resistor

 Induktor (L)
Seringkali disebut sebagai induktansi, lilitan, kumparan, atau belitan.
Pada induktor mempunyai sifat dapat menyimpan energi dalam bentuk
medan magnet.
- Satuan dari induktor adalah Henry (H).
- Induktor merupakan sebuah gulungan kawat, seperti gambar 6:

a. Sebuah Induktor b. Simbol Induktor


Gambar 6. Induktor

Nilai induktansi sebuah induktor tergantung kepada permeabiltas inti


induktor (µ), panjang induktor (l) dan luas penampang inti induktor (A)
Jika sebuah induktor dialiri arus listrik seperti gambar 7, maka induktor
akan menghasilkan fluksi magnetik (φ) yang membentuk loop yang
melingkupi kumparan.

Gambar 7. Induktor yang dialiri arus listrik

Jika ada N lilitan, maka total fluksi adalah :


λ = LI
λ
L=
I
dλ di
v= =L
dt dt
Induktor juga merupakan komponen rangkaian listrik yang dapat
menyimpan energi.
dw
p=
dt
dw = p.dt

∫ dw = ∫ p.dt
∫ p.dt = ∫ vi.dt = ∫ L dti.dt
di
w=
Misalkan : pada saat t = 0, maka I = 0
pada saat t = t, maka I = I
sehingga:
I

∫ Li.di = 2 L.I
1 2
w=
0

Persamaan ini merupakan energi yang tersimpan pada induktor (L)


dalam bentuk medan magnit.
Jika induktor dipasang arus konstan/DC, maka tegangan pada induktor
sama dengan nol, sehingga induktor merupakan rangkaian hubung
singkat/ short circuit.

 Capasitor (C)
Kapasitor terdiri dari dua konduktor yang dipisahkan oleh isolator yang
dikenal dengan dielektrik. Dielektrik dapat berupa udara, minyak, mika,
plastik, keramik, atau bahan isolasi yang cocok lainnya. Konstruksi dan
simbol dari sebuah kapasitor seperti pada gambar 8 berikut:

a. Konstruksi Kapasitor b. Simbol Kapasitor


Gambar 8. Kapasitor

Kapasitor berfungsi membatasi arus DC yang mengalir pada kapasitor


tersebut dan dapat menyimpan energi dalam bentuk medan listrik. Nilai
kapasitansi suatu kapasitor tergantung dari nilai permitivitas (ε) bahan
pembuat kapasitor, luas penampang (A) dari pelat kapasitor dan jarak
antara dua keping pelat konduktor (d) dari kapasitor tersebut dengan
satuan Farad (F). Secara matematis dapat ditulis:
A
C =ε
d
dimana:
C = nilai kapasitansi kapasitor
ε = permitivitas bahan
A = luas penampang bahan
d = jarak dua keping pelat konduktor

Tabel 2. Permitivitas Bahan Dielektrik

Jika sebuah kapasitor dilewati oleh arus listrik, seperti ditunjukkan oleh
gambar 9,

Gambar 9. Kapasitor yang dialiri arus listrik

maka pada kedua ujung kapasitor tersebut akan muncul beda potensial
atau tegangan yang besarnya :
dvc
ic = C
dt
Muatan (Q) sebuah kapasitor ditentukan oleh nilai kapasitansi kapasitor
(C) dan tegangan (V) pada kapasitor tersebut.
Q = C.V
Jika
dq = C.dv
dq
i=
dt
dq = i.dt
maka:
i.dt = C.dv
dv
i=C
dt
Penyimpanan energi pada kapasitor
dw
p=
dt
dw = p.dt

∫ dw = ∫ p.dt
∫ p.dt = ∫ vi.dt = ∫ vC dt dt = ∫ Cvdv
dv
w=

Misalkan : pada saat t = 0, maka v = 0


pada saat t = t, maka v = V
sehingga:
v


1
w = Cvdv = CV 2
2
0

Persamaan ini merupakan energi yang tersimpan pada kapasitor dalam


bentuk medan listrik.
Jika kapasitor dipasang arus konstan/DC, maka arus pada kapasitor
sama dengan nol, sehingga kapasitor merupakan rangkaian terbuka/
open circuit.
C. Rangkaian Seri
Dua elemen dikatakan seri jika terhubung pada satu titik dan tidak ada
hubungan dengan sumber arus lainnya pada titik ini, seperti diperlihatkan
pada gambar 10.

Gambar 10. Rangkaian Seri

Rangkaian seri juga dapat dibuat dengan menggabungkan berbagai elemen


secara seri, seperti yang ditunjukkan pada gambar 11.

Gambar 11. Rangkaian Seri Tegangan dengan 3 Resistor

Resistor (R)
Jika 4 buah resistor dihubungkan secara seri seperti gambar 12,

Gambar 12. Rangkaian Seri 4 Resistor


maka nilai tahanan totalnya dapat dihiutng menggunakan persamaan:
RT = R1 + R2 + R3 + R4
Secara umum, jika terdapat N buah resistor dihubungkan secara seri, nilai
tahanan totalnya adalah:
RT = R1 + R2 + R3 + R4 + ....... + RN

Induktor (L)
Tiga buah induktor (L) dengan nilai yang berbeda dihubungkan secara seri
seperti gambar 13,

Gambar 13. Rangkaian Seri 3 Induktor

maka nilai induktansi totalnya dapat dihiutng menggunakan persamaan:


LT = L1 + L2 + L3
Secara umum, jika terdapat N buah induktor dihubungkan secara seri, nilai
induktansi totalnya adalah:
LT = L1 + L2 + L3 + L4 + ....... + LN
Kapasitor (C)
Tiga buah kapasitor (C) dengan nilai yang berbeda dihubungkan secara seri
seperti gambar 14,

Gambar 14. Rangkaian Seri 3 Kapasitor


nilai kapasitansi totalnya dapat dihiutng menggunakan persamaan:
1 1 1 1
= + +
CT C1 C2 C3
Secara umum, jika terdapat N buah kapasitor yang dihubungkan secara seri,
nilai kapasitansi totalnya adalah:
1 1 1 1 1
= + + + ...... +
CT C1 C2 C3 CN

D. Rangkaian Paralel
Rangkaian paralel adalah ketika beberapa buah elemen/komponen memiliki
dua titik hubung (node) yang sama. Sebagai contoh perhatikan gambar 15
berikut:

Gambar 15. Rangkaian Paralel

Rangkaian paralel juga dapat dibuat dengan menggabungkan berbagai elemen


secara seri, seperti yang ditunjukkan pada gambar 16.

Gambar 16. Rangkaian Paralel Accumulator dengan 4 buah Lampu


Tahanan (R)
Empat buah resistor (R) dengan nilai yang berbeda dihubungkan secara
paralel seperti gambar 17,

Gambar 17. Rangkaian Paralel 4 Resistor

nilai tahanan totalnya dapat dihiutng menggunakan persamaan:


1 1 1 1 1
= + + +
RT R1 R2 R3 R4
Secara umum, jika terdapat N buah resistor yang dihubungkan secara paralel,
nilai tahanan totalnya adalah:
1 1 1 1 1 1
= + + + + ..... +
RT R1 R2 R3 R4 RN

Induktor (L)
Dua buah induktor (L) dengan nilai yang berbeda dihubungkan secara paralel
seperti gambar 18,

Gambar 18. Rangkaian Paralel 2 Induktor

nilai induktansi totalnya dapat dihiutng menggunakan persamaan:


1 1 1
= +
LT L1 L2
Secara umum, jika terdapat N buah induktansi yang dihubungkan secara
paralel, nilai induktansi totalnya adalah:
1 1 1 1 1 1
= + + + + ..... +
LT L1 L2 L3 L4 LN

Kapasitor (C)
Jika 3 buah kapasitor dihubungkan secara seri seperti gambar 19,

Gambar 19. Rangkaian Paralel 3 Kapasitor

maka nilai kapasitansi totalnya dapat dihiutng menggunakan persamaan:


CT = C1 + C2 + C3
Secara umum, jika terdapat N buah kapasitor dihubungkan secara paralel,
nilai kapasitansi totalnya adalah:
CT = C1 + C2 + C3 + C4 + ....... + C N

E. Rangkaian Seri-Paralel
Rangkaian seri-paralel atau biasa juga dikenal dengan rangkaian campuran,
merupakan kombinasi dari rangkaian seri dan paralel. Langkah menentukan
nilai pengganti dari rangkaian seri-paralel menggunakan konsep rangkaian
seri dan konsep rangkaian paralel.
Tahanan (R)
Rangkaian seri-paralel dari resistor seperti diperlihatkan pada gambar 20.

Gambar 20. Rangkaian Seri-Paralel Resistor

Langkah menentukan nilai tahanan pengganti dari rangkaian diatas:


1. Hitung nilai tahanan pengganti (RP) dari rangkaian paralel resistor
RP = R2 // R3 // R4
2. Selesaikan menggunakan konsep rangkaian seri
RT = R1 + RP + R5

Induktor (L)
Rangkaian seri-paralel dari induktor seperti diperlihatkan pada gambar 21.

Gambar 21. Rangkaian Seri-Paralel Induktor

Langkah menentukan nilai tahanan pengganti dari rangkaian diatas:


1. Hitung nilai induktansi pengganti induktor 1H dan 2H menggunakan
konsep rangkaian seri
LS1 = L1H + L2 H
2. Hitung nilai induktansi pengganti induktor 4H, 2H, dan 6H menggunakan
konsep rangkaian seri
LS 2 = L4 H + L2 H + L6 H
3. Hitung nilai induktansi pengganti dari induktor 6H dengan LS1
menggunakan konsep rangkaian paralel
LP1 = L6 H // LS1
4. Hitung nilai induktansi pengganti dari induktor 18H dengan LS2
menggunakan konsep rangkaian paralel
LP 2 = L18 H // LS 2
5. Selesaikan menggunakan konsep rangkaian seri
LT = L27 H + LP1 + LP 2

Kapasitor (C)
Rangkaian seri-paralel dari kapasitor seperti diperlihatkan pada gambar 22.

Gambar 22. Rangkaian Seri-Paralel Kapasitor

Langkah menentukan nilai tahanan pengganti dari rangkaian diatas:


1. Hitung nilai kapasitansi pengganti (CS) dari kapasitor C2 dan C3
menggunakan konsep rangkaian seri untuk kapasitor.
2. Hitung nilai kapasitansi pengganti (CP) dari kapasitor (500 nF) dengan CS
3. Hitung nilai kapasitansi total dari CP, C4, C5, C6 menggunakan konsep
rangkaian seri untuk kapasitor.
F. Hukum-hukum Rangkaian
Hukum Ohm
Arus dalam rangkaian resistif berbanding lurus dengan tegangan dan
berbanding terbalik dengan resistansi. Atau tegangan berbanding lurus
dengan arus yang mengalir resistansi tersebut.

Gambar 23. Konsep Hukum Ohm

Secara matematis :
E
I= , atau
R
E = I .R Volt

Hukum Kirchoff I / Kirchoff’s Current Law (KCL)


Jumlah arus yang menuju titik percabangan sama dengan jumlah arus yang
meninggalkan titik percabangan tersebut.
Secara matematis :
Σ Arus masuk titik percabangan = Σ Arus keluar titik percabangan

Gambar 24. Konsep Hukum Kirchoff I / KCL


Dari gambar 24, maka I1 + I 5 = I 2 + I 3 + I 4
Hukum Kirchoff I tentang arus diaplikasikan pada rangkaian paralel, dimana
arus total (IT) merupakan penjumlahan dari arus I1, I2, dan IN, seperti gambar
25 dibawah ini.

IT = I1 + I2 + IN

Gambar 25. Aplikasi Hukum Kirchoff I / KCL

Rangkaian paralel juga dikenal sebagai rangkaian pembagi arus, karena


tegangan masing-masing resistansi sama, sehingga arus yang mengalir pada
masing-masing resistansi dapat dihitung:
E E E
I1 = ; I2 = ; IN =
R1 R2 RN

Hukum Kirchoff II / Kirchoff’s Voltage Law (KVL)


Jumlah tegangan pada suatu lintasan (loop) tertutup samam dengan nol.
Secara matematis dapat ditulis :
ΣV=0

E – V1 – V2 – V3 = 0

Gambar 26. Aplikasi Kirchoff II / KVL


Pada rangkaian seri, arus yang mengalir pada masing-masing resistansi sama
besar. Rangkaian seri biasa juga dikenal sebagai rangkaian pembagi tegangan,
karena arus masing-masing resistansi sama, sehingga tegangan pada masing-
masing resistansi dapat dihitung:
V1 = I .R1 ; V2 = I .R2 ; V3 = I .R3

G. Metode Analisis
Hukum-hukum dasar rangkaian listrik seperti hukum Ohm dan hukum
Kirchoff tidak dapat menyelesaikan permasalahan pada rangkaian listrik yang
komplek. Untuk itu digunakan suatu metode analisis sebagai alat bantu untuk
menyelesaikan masalahan rangkaian tersebut. Metoda analisis rangkaian yang
umum digunakan adalah metode analisis arus cabang (branch-current),
analisis mesh (loop) dan analisis arus node.

Analisis Arus Cabang


Analisis arus cabang (Branch-Current) memungkinkan kita untuk langsung
menghitung arus pada setiap cabang. Metode analisis arus cabang
menggunakan beberapa persamaan linier secara simultan. Arus cabang adalah
arus yang sebenarnya mengalir pada percabangan tersebut. Arti cabang :
- Mempunyai satu elemen rangkaian
- Bagian rangkaian dengan dua terminal dengan arus yang sama
- Jumlah persamaan = Jumlah arus cabang yang ada

Contoh:
Hitung nilai arus di setiap cabang pada gambar rangkaian 27 berikut dengan
analisis Branch-Current (Arus Cabang):

Gambar 27. Aplikasi Analisis Arus Cabang


Selesaian:
Langkah 1:
Tentukan arah arus yang akan dihitung dan jumlah loop dari rangkaian. Dari
gambar tersebut terdapat 2 (dua) loop, yaitu abcda dan cdfe
Langkah 2:
Tunjukkan polaritas tegangan pada semua resistor pada rangkaian, sesuai
dengan arah arus yang telah ditetapkan.
Langkah 3:
Tuliskan persamaan tegangan menggunakan hukum Kirchoff II / KVL
Loop abcda: 6V – (2Ω)I1 + (2Ω)I2 - 4V = 0
2I1 - 2I2 = 2 ………………….……..…………………..(1)
Loop cdfe: 4V – (2Ω)I2 – (2Ω)I3 + 2V = 0
2I2 – 2I3 = -6 ………….………….….…………………(2)
Langkah 4:
Sesuai menurut hukum Kirchoff I / KCL pada node c, diperoleh persamaan:
I3 = I1 + I2 ……… ……………………………………….(3)

Aplikasikan hukum Kirchoff I / KCL di semua cabang, diperoleh persamaan


(1), (2) dan (3). Manipulasi persamaan (1), (2), dan (3), sehingga diperoleh 3
persamaan linier secara simultan (4), (5), dan (6) sebagai berikut:
2I1 - 2I2 + 0I3 = 2 ……………………………………….(4)
0I1 - 2I2 – 2I3 = -6 ………………………………………(5)
I1 + I2 - I3 = 0 ……………………………………………(6)

Ketiga persamaan linier (4), (5), dan (6) tersebut, dapat diselesaikan
menggunakan sistem substitusi atau metode Cramer. Dari hasil analisis
diperoleh nilai arus:
I1 = 1.2 A; I2 = 0.2 A; I3 = 1.4 A
Analisis Mesh (Loop)
Analisis Mesh hampir sama dengan Banch-Current. Analisis Mesh hukum
dasar yang digunakan adalah hukum Kirchoof II /KVL tanpa perlu
menggunakan hukum Kirchoff I / KCL.
Langkah-langkah penyelesaian analisis mesh:
1. Tentukan arah arus pada setiap loop tertutup.
2. Tentukan polaritas tegangan pada semua resistor dalam rangkaian.
3. Terapkan hukum Kirchoff II / KVL, tulis persamaan tegangan setiap loop.
4. Selesaikan persamaan linear simultan yang dihasilkan.

Contoh:
Hitung nilai arus di setiap cabang pada gambar rangkaian 28 berikut dengan
analisis Mesh:

Gambar 28. Aplikasi Analisis Mesh (Loop)


Selesaian:
Langkah 1:
Arah arus I1 dan I2 seperti yang ditunjukkan pada gambar 28.
Langkah 2:
Polaritas tegangan diberikan sesuai dengan arus loop.
Langkah 3:
Persamaan loop ditulis dengan menerapkan hukum Kirchhoff II / KVL pada
masing-masing loop. Persamaannya adalah sebagai berikut:
Loop 1: 6V – (2Ω)I1 - (2Ω)I1 +(2Ω)I2 – 4V = 0
4I1 - 2I2 = 2 …………………………………………………… (7)
Loop 2: 4V - (2Ω)I2 + (2Ω)I1 - (4Ω)I2 + 2V = 0
-2I1 + 6I2 = 6 …………………………………………………...(8)
Langkah 4:
Selesaikan dua persamaan (7) dan (8) secara simultan menggunakan metode
substitusi atau Cremar dan diperoleh hasil sebagai berikut:
I1 = 1.2 A; I2 = 1.4 A

Analisis Node
Node atau titik simpul adalah titik pertemuan dari dua atau lebih elemen
rangkaian. Junction atau titik simpul utama atau titik percabangan adalah titik
pertemuan dari tiga atau lebih elemen rangkaian. Analisis node berprinsip pada
Hukum Kirchoff I/ KCL dimana jumlah arus yang masuk dan keluar dari titik
percabangan akan sama dengan nol, dan tegangan merupakan parameter yang
tidak diketahui.

Contoh:
Tentukan nilai tegangan Vab rangkaian berikut menggunakan analisis node:

Gambar 29. Contoh Aplikasi Analisis Node (Nodal)


Selesaian:
Langkah 1:
Tentukan node referensi

Gambar 30. Node referensi

Langkah 2:
Ubah sumber tegangan menjadi sumber arus seperti gambar 30.
Langkah 3 dan 4:
Tentukan titik tegangan dan arus cabang
Langkah 5:
Aplikasikan hukum Kirchhoff II / KVL pada node dan beri label V1 dan V2..
Node V1 : Σ Imasuk = Σ Ikeluar
200 mA + 50 mA = I1 + I2
Node V2 : Σ Imasuk = Σ Ikeluar
200 mA + I2 =50 mA + I3
Langkah 6:
Hitung arus yang mengalir pada setiap resistor
V1
I1 =
20Ω
V −V
I2 = 1 2
40Ω
V2
I3 =
30Ω
Sehingga persamaan pada semua node menajdi:
V1 V −V
200mA + 50mA = + 1 2
20Ω 40Ω
V −V V
200mA + 1 2 = 50mA + 2
40Ω 30Ω
Substitusikan kedalam persamaan pada node V1 dan V2, diperoleh
 1 1   1 
 + V1 −  V2 = 250mA
 20Ω 40Ω   40Ω 
 1   1 1 
− V1 +  + V2 = 150mA
 40Ω   30Ω 40Ω 
Dapat disederhanakan dalam bentuk
(0.075)V1 − (0.025)V2 = 250mA
− (0.025)V1 + (0.0583)V2 = 150mA
Gunakan determinan untuk menyelesaikan persamaan diatas, sehingga
diperoleh:
V1 = 4.89 V; V2 = 4.67 V
Perhatikan kembali gambar 30, V2 = Va
Va = 4.67 V = 6.0 V + Vab
Vab = 4.67 V - 6.0 V = - 1.33 V

H. Teorema Rangkaian
Berikut ini kita akan belajar beberapa teorema dasar yang sering digunakan
dalam analisis rangkaian listrik, yaitu teorema superposisi, Thévenin, dan
Norton.
1. Teorema Superposisi
Teorema superposisi adalah metode untuk menentukan arus atau tegangan
di resistor atau cabang dalam rangkaian. Keuntungan menggunakan
pendekatan ini adalah tidak perlu menggunakan determinan atau matriks
aljabar untuk menganalisis rangkaian tertentu. Teorema Superposisi hanya
berlaku untuk rangkaian yang bersifat linier. Rangkaian linier mempunyai
sumber independent atau sumber bebas dan sumber dependent atau sumber
tak bebas. Teorema Superposisi menyatakan sebagai berikut:

Menjumlah aljabarkan tegangan/arus yang disebabkan tiap


sumber independent/bebas yang bekerja sendiri, dengan
semua sumber tegangan/arus independent/bebas lainnya
diganti dengan tahanan dalamnya.

Pengertian dari teorema tersebut adalah, pada saat sumber tegangan aktif
maka sumber arus tidak aktif (open circuit). Sebaliknya pada saat sumber
arus aktif maka sumber tegangan tidak aktif (short circuit).

Contoh soal:
Tentukan arus yang mengalir pada tahanan beban (RL) dari gambar 31
berikut:

Gambar 31. Konsep Teorema Superposisi


Selesaian:
Langkah 1:
Jika sumber tegangan aktif, maka sumber arus diganti menjadi rangkaian
terbuka seperti gambar 32.
Gambar 32

Arus yang dihasilkan melalui RL ditentukan dari hukum Ohm sebagai


berikut:

Langkah kedua:
Jika sumber arus aktif, maka sumber tegangan dihubungsingkat seperti
gambar 33.

Gambar 33
Arus yang mengalir melalui RL dihitung berdasarkan aturan pembagi arus
pada rangkaian paralel, dan diperoleh hasil sebagai berikut:

Arus yang mengalir melalui tahanan RL dengan menerapkan teorema


Superposisi adalah:

Tanda negatif menunjukkan bahwa arus melalui RL berlawanan arah


dengan arah yang diasumsikan pada gambar 31.

2. Teorema Thevenin
Tujuan sebenarnya dari teorema ini adalah untuk menyederhanakan
analisis rangkaian, yaitu membuat rangkaian pengganti yang berupa
sumber tegangan yang dihubungkan seri dengan suatu resistansi
ekivalennya seperti gambar 34 berikut:

Gambar 34. Konsep Teorema Thevenin

Teorema Thevenin menyatakan bahwa:


Suatu rangkaian listrik dapat disederhanakan dengan hanya
terdiri dari satu buah sumber tegangan yang dihubungserikan
dengan sebuah tahanan ekivelennya pada dua terminal yang
diamati.

Langkah-langkah penyelesaian dengan teorema Thevenin:


1. Cari dan tentukan titik terminal a-b dimana parameter yang ditanyakan.
2. Lepaskan komponen pada titik a-b tersebut, open circuit kan pada
terminal a-b kemudian hitung nilai tegangan dititik a-b tersebut (Vab =
Vth).
3. Jika semua sumbernya adalah sumber bebas, maka tentukan nilai
tahanan diukur pada titik a-b tersebut saat semua sumber di non
aktifkan dengan cara diganti dengan tahanan dalamnya (untuk sumber
tegangan bebas diganti rangkaian short circuit dan untuk sumber arus
bebas diganti dengan rangkaian open circuit) (Rab = Rth).
4. Jika terdapat sumber tak bebas, maka untuk mencari nilai tahanan
pengganti Theveninnya didapatkan dengan cara sc th th I VR = .
5. Untuk mencari Isc pada terminal titik a-b tersebut dihubungsingkatkan
dan dicari arus yang mengalir pada titik tersebut (Iab = Isc).
6. Gambarkan kembali rangkaian pengganti Theveninnya, kemudian
pasangkan kembali komponen yang tadi dilepas dan hitung parameter
yang ditanyakan.
Contoh soal:
Tentukan arus yang mengalir pada tahanan beban (RL) menggunakan
teorema Thevenin dari rangkaian berikut:

Gambar 35. Aplikasi Teorema Superposisi

Selesaian:
Langkah 1:
Parameter yang ditanyakan adalah arus yang mengalir pada tahanan RL,
maka titik terminal a-b adalah pada parameter RL tersebut.
Langkah 2:
Lepaskan komponen pada titik a-b tersebut, open circuit kan pada terminal
a-b kemudian hitung nilai tegangan dititik a-b tersebut (Vab = Vth), seperti
gambar 36 berikut.

Gambar 36

VTh = 20 V – 24(Ω)*2(A) = - 28 Volt


Langkah 3:
Jika semua sumbernya adalah sumber bebas, maka tentukan nilai tahanan
diukur pada titik a-b tersebut saat semua sumber di non aktifkan dengan
cara diganti dengan tahanan dalamnya (untuk sumber tegangan bebas
diganti rangkaian short circuit dan untuk sumber arus bebas diganti dengan
rangkaian open circuit) (Rab = Rth).

Gambar 37

Langkah 4:
Dari gambar rangkaian tersebut diatas diperoleh nilai RTh = 24 Ω.
Langkah 5:
Rangkaian ekivalen Thevenin menjadi seperti berikut:

Langkah 6:
Gunakan rangkaian ekivalen Thevenin tersebut untuk menghitung nilai
arus yang mengalir pada tahanan RL, sehingga diperoleh

3. Teorema Norton
Teorema Norton Menyatakan bahwa:
Suatu rangkaian listrik dapat disederhanakan dengan hanya
terdiri dari satu buah sumber arus yang dihubungparalelkan
dengan sebuah tahanan ekivelennya pada dua terminal yang
diamati.

Teorema Norton bertujuan menyederhanakan analisis rangkaian dengan


membuat rangkaian pengganti berupa sumber arus yang diparalel dengan
suatu tahanan ekivalennya, seperti gambar 38 berikut:

Gambar 38. Konsep Teorema Norton


V
I =− + I SC
RN

Langkah-langkah penyelesaian dengan teorema Norton :


1. Cari dan tentukan titik terminal a-b dimana parameter yang ditanyakan.
2. Lepaskan komponen pada titik a-b tersebut, hubungsingkatkan terminal
a-b kemudian hitung nilai arus dititik a-b tersebut (Iab = Isc = IN).
3. Jika semua sumbernya adalah sumber bebas, maka tentukan nilai
tahanan diukur pada titik a-b tersebut saat semua sumber di non
aktifkan dengan cara diganti dengan tahanan dalamnya (untuk sumber
tegangan bebas diganti rangkaian short circuit dan untuk sumber arus
bebas diganti dengan rangkaian open circuit) (Rab = RN = RTh).
4. Jika terdapat sumber tak bebas, maka untuk mencari nilai tahanan
V
pengganti Nortonnya didapatkan dengan cara RN = OC
IN
5. Menghitung arus hubungsingkat (ISC = Iab) dengan cara
menghubungsingkatkan terminal a-b dan sumber tegangan.
6. Gambarkan kembali rangkaian pengganti Nortonnya, kemudian
pasangkan kembali komponen yang tadi dilepas dan hitung parameter
yang ditanyakan.

Gambar 39. Rangkaian Ekivalen Norton


Contoh soal:
Tentukan arus yang mengalir pada tahanan beban (RL) menggunakan
teorema Norton dari rangkaian 40 berikut:

Gambar 40

Langkah 1:
Parameter yang ditanyakan adalah arus yang mengalir pada tahanan RL,
maka titik terminal a-b adalah pada parameter RL tersebut.
Langkah 2:
Lepaskan komponen pada titik a-b tersebut, open circuit kan pada terminal
a-b kemudian hitung nilai tegangan dititik a-b tersebut (Vab = Vth), seperti
gambar 41 berikut.

Gambar 41
Langkah 3:
Jika semua sumbernya adalah sumber bebas, maka tentukan nilai tahanan
diukur pada titik a-b tersebut saat semua sumber di non aktifkan dengan
cara diganti dengan tahanan dalamnya (untuk sumber tegangan bebas
diganti rangkaian short circuit dan untuk sumber arus bebas diganti dengan
rangkaian open circuit) (Rab = Rth).
Gambar 42

Langkah 4:
Dari gambar rangkaian tersebut diatas diperoleh nilai RN = 24 Ω.
Langkah 5:
Menghitung arus hubungsingkat pada terminal a-b (Iab(1))

Menghitung arus pada terminal a-b (Iab(2)) dengan menghubungsingkatkan


sumber tegangan.
Langkah 6:
Setelah diperoleh (Iab(1)) dan (Iab(2)), IN dapat dihitung sebagai berikut:

Perhatikan bahwa IN memiliki yang negatif. Seperti penjelasan


sebelumnya, tanda negatif berarti asumsi referensi berlawanan denga hasil
yang sebenarnya.