Anda di halaman 1dari 5

Proses pembangunan yang begitu intens dilakukan menyebabkan perubahan sosial di masyarakat yang berlangsung cepat sebagai bentuk adaptasi masyarakat terhadap dampak dari pembangunan tersebut. Hal diatas berlangsung terus menerus tersebut mendorong perkembangan kota dan wilayah menjadi sangat pesat. Selain itu, pengaruh-pengaruh eksternal membuat intensitas perubahan sosial di masyarakat menjadi tidak terkendali dan atau sedikit terkendali. Hal tersebut menjadikan tata ruang wilayah berkembang sesuai dinamika masyarakat yang

terbentuk. Oleh karena itu perlu adanya aturan main yang memagari proses perkembangan ruang wilayah tersebut agar menjadi teratur dan tertata. Dalam rangka mengatur pembangunan tersebut, maka pemerintah Indonesia menyusun undang-undang penataan ruang yaitu UU No.26 Tahun 2007. Undang-undang tersebut merespon isu-isu strategis dalam penataan ruang di Indonesia, antara lain:

  • 1. Bencana alam yang terus melanda merupakan akibat dari pemanfaatan ruang yang tidak memperhatikan kaidah pembangunan berkelanjutan.

  • 2. Ancaman krisis pangan dunia harus diantisipasi dengan pengaturan pemanfaatan ruang untuk pengamanan produksi pangan nasional.

  • 3. Krisis energi nasional mencerminkan tidak optimalnya pemanfaatan sumber daya energi nasional, baik sumber daya tak terbarukan maupun sumber daya terbarukan.

  • 4. Sumber daya kelautan belum dimanfaatkan secara optimal (pembangunan masih berorientasi ke wilayah daratan).

  • 5. Rendahnya kinerja infrastruktur wilayah menurunkan minat investasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan perekonomian nasional.

  • 6. Otonomi daerah memerlukan penguatan kapasitas penyelenggara pembangunan di daerah, termasuk dalam penyelenggaraan penataan ruang.

  • 7. Penguatan kapasitas penyelenggaraan penataan ruang masih terkendala oleh minimnya pemahaman terhadap peraturan yang berlaku.

  • 8. Ego sektor dalam pelaksanaan pembangunan belum sepenuhnya hilang menyebabkan resistensi terhadap pendekatan penataan ruang.

Kewajiban Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten dan Kota

a.

Pemerintah

Menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) dan telah ditetapkan menjadi Peraturan Presiden No. 26 Tahun 2008

Menetapkan Kawasan Strategis Nasional

Menetapkan Peraturan-peraturan lainnya sebagai tindak lanjut dari Undang-Undang

Melaksanakan pengaturan pembinaan dan pengawasan teknis pelaksanaan Penataan Ruang

b.

Pemerintah Provinsi

Pemerintah Provinsi melakukan revisi terhadap Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsinya masing- masing paling lambat dalam waktu 2 (dua) tahun terhitung sejak UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang diberlakukan.

RTRW Provinsi ditetapkan dengan Peraturan Daerah Provinsi

Pemerintah Daerah Provinsi menetapkan Kawasan Strategis Provinsi

Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Provinsi ditetapkan dengan Peraturan Daerah Provinsi

Pemerintah Provinsi dapat menyusun petunjuk pelaksanaan bidang penataan ruang pada tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota

Pemerintah Provinsi harus menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), arahan peraturan zonasi dan petunjuk pelaksanaan bidang Penataan Ruang

c.

Pemerintah Kabupaten/Kota

Pemerintah Kabupaten / Kota harus melakukan revisi terhadap Perda tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kab/Kotanya masing-masing paling lambat dalam waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang diberlakukan

RTRW Kabupaten / Kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten / Kota

Pemerintah Daerah Kabupaten / Kota menetapkan Kawasan Strategis Kabupaten / Kota

Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Strategis Kabupaten / Kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten / Kota

Pemda Kabupaten / Kota harus menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan rencana umum dan rencana rinci tata ruang dalam rangka pelaksanaan penataan ruang wilayah kabupaten / kota dan melaksanakan standar pelayanan minimal bidang penataan ruang.

Pelaksanaan Otonomi Daerah dan Dekonsentrasi

a.

Diperlukan peningkatan program Penataan Ruang Daerah yang didukung APBD yang memadai

b.

Tahun 2008 merupakan awal dilaksanakannya pelaksanaan penataan ruang oleh Pemerintah Provinsi melalui Satuan Kerja Perangkat

Daerah (SKPD).

Apakah UU No. 26 Tahun 2007 mampu menjawab berbagai permasalahan di era globalisasi ini.

Era globalisasi akan segera memasuki gerbang Indonesia. Walau belum tampak secara keseluruhan, globalisasi ada dalam bentuk semu. Secara kasat mata globalsasi telah hadir di sekitar kita, kadang kadang diantara kita telah menjadi pelaku dan pengguna. Tapi mungkin saja belum mengerti apa itu globalisasi. Secara umum pengertian gobalisasi adalah :

1. Revolusi komunikasi kita dapat mengakses dan berbagi ilmu dan kebudayaan dan kita dapat mengevaluasi perbadaan budaya politik. 2. Pembangunan sebagai hal pembicaraan yang serius dan arah dari para elit politik dan bisnis. 3. Peningkatan akan keterbatasan dunia menjadi arah negara maju dan kerjasama terkait dengan meningkatnya persaingan diantara mereka dalam menyerap sumber daya dunia sekaligus meningkatkan kerusakan pada alam. 4. Pariwisata adalah sebuah industri terbesar didunia Kemudian proyek globalisasi - mencakup terminologi ketika keuntungan komparatip, perdagangan bebas, pembangunan yang berkelanjutan, pertanian organik, keamanan makanan, modal sosial dan praktek yang terbaik. Untuk menghadapi hal yang di atas supaya tidak kebablasan dalam memberikan pengertian pembangunan UU No. 26 Tahun 2007tentang tata ruang dapat menjawab akan timbulnya pengaruh negatif terhadap fungsional ruang. Ketika era globalisasi berjalan dengan ruang yang semakin terbatas, kegiatan dan aktivitas manusia semakin banyak tentunya akan banyak merubah suatu fungsional ruang. Juga konversi lahan pertanian dan hutan tidak dapat di elakkan. Untuk menjawab segala permasalah aktivitas manusia dan keterbatasan lahan maka UU No. 26 Tahun 2007 merupakan jawaban yang paling konsekuen. Selain terdiri dari substansi aturan perencanaan penataan ruang, juga mengatur aturan aturan pidana. Yang mengakibatkan kekuatan hukum akan aturan perencanaan penataan ruang benar benar kuat dan adanya kepastian hukum. Munculnya substansi hukum akan memberikan warna tersendiri terhadap perkembangan globalisasi di Indonesia. Apalagi dalam UU No. 26 Tahun 2007 dengan tegas mengatur penataan lingkungan hidup baik dikawasan perkotaan maupun pedesaan. Hal ini bukan untuk membatasi keberadaan globalisasi di Indonesia tapi merupakan pencegahan terhadap permasalahan akibat negatif dari globalisasi tersebut. Indonesia sebagai salah satu negara yang berkembang harus siap dengan segala kekurangan untuk menghadapi arus globalisasi, salah satunya dengan dekeluarkan UU tata ruang ini yang diharapkan mampu menanggulangi permasalahan lingkungan. Dengan segala sumber daya alam dan buatan, UU ini mengatur penempatan dan penataan ruang yang sesuai sehingga tidak mengganggu akan kelestarian lingkungan. Dapat juga disebutkan UU No. 26 Tahun 2007 merupakan salah satu filter dalam menyaring perkembangan investasi baik lokal maupun asing dalam pemanfaatan ruang di era globalisasi. Penyaringan ini berupa izin terhadap pemanfaatan ruang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, yaitu :

  • 1. Standar pelayanan minimal bidang penataan ruang;

  • 2. Standar kualitas lingkungan dan

  • 3. Daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup

Apakah UU No. 26 Tahun 2007 mampu menjawab berbagai permasalahan di era globalisasi ini. Era globalisasi

Dari diagram di atas bisa disimpulkn Global Warming dapat terjadi apabila UU No. 26 Tahun 2007 merupakan produk gagal yang tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Oleh sebab itu untuk mencegah koversi lahan dan alih fungsional yang tidak terkendali diperlukan penegakan aturan. Dan juga tujuan negara dalam meminimalkan global waming dapat tercapai Namun demikian, semua peraturan yang telah ditentukan baik UU dan aturan pelaksanaan lainnya diperlukan aparatur yang mampu menerapkan aturan tersebut seutuhnya. Terhadap pelanggar akan mendapatkan sangsi dan begitu juga dengan pengalihan ruang fungsional sesuai dengan tata ruang yang telah ditetapkan. Untuk itu, sumber daya manusia khususnya aparatur dan masyarakat umumnya perlu ditingkakan untuk mengimbangi perkembangan globalisasi yang akan datang.

2.

Aquatik Terestrial

AZAS DAN TUJUAN TATA RUANG

Penataan ruang dilaksanakan berdasrkan azas-azas sebagi berikut:

  • a. Keterpaduan

Berdasarkan penjelasan dari Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007, yang dimaksud keterpaduan adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan mengintegrasikan berbagai kepentingan yang bersifat lintas sektor, lintas wilayah, dan lintas pemangku kepentingan. Pemangku kepentingan, antara lain, adalah Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Argumen mengenai pendekatan terpadu dikemukakan oleh Rondinelli untuk mencari alternatif strategi pendekatan pengembangan dengan tujuan menyebarkan dan mendorong pertumbuhan wilayah dan membawa wilayah tersebut untuk ikut berpatisipasi secara efektif dalam proses pembangunan. Merujuk pada penjelasan pendapat Rondinelli diatas dapat disimpulkan bahwa, didalam suatu pembanguan ataupun penatanan ruang suatu daerah harus berlandasan dari azas keterpaduan, yang mana semua pemangku kepentingan baik Pemerintah, Pemerintah daerah maupun masyarakat harus lah saling keterkaitan dan berperan secara aktif dalam penataan ruang suatu negara maupun daerah. Sehingga timbulnya keserasian pemahaman dan kepentingan dari pembangunan tersebut secara adil dan berpegang teguh terhadap nilai-nilai dasar pancasila maupun UUD 1945.

  • b. Keserasian, Keselarasan, dan Keseimbangan

Berdasarkan penjelasan dari Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007, yang dimaksud dengan “keserasian, keselarasan, dan keseimbangan” adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan mewujudkan keserasian antara struktur ruang dan pola ruang, keselarasan antara kehidupan manusia dengan lingkungannya, keseimbangan pertumbuhan dan perkembangan antar daerah serta antara kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. Dalam mewujudkan asas yang tersebut diatas, pemangku kepentingan yang terdiri dari pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat perlu bekerja sama dalam penyusunan indikator keserasian baik dari sisi pola ruang, tata kota dan denah bangunan yang tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang dijadikan acuan bagi daerah dalam mewujudkan tujuan tata ruang yang baik sesuai amanat UUD 1945 demi mencapai suatu keselarasan dan keseimbangan dalam bermasyarakat dan bernegara.

  • c. Keberlanjutan

Berdasarkan penjelasan dari Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007, Yang dimaksud dengan “keberlanjutan” adalah bahwa

penataan ruang diselenggarakan dengan menjamin kelestarian dan kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan dengan memperhatikan kepentingan generasi mendatang. Mengadopsi defenisi pembangunan berkelanjutan dari WCED (world comission on environment and Development) yang

menyebutkan bahwa pembanguna berkelanjutan adalah pembanguan yang diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan meraka sendiri. Maka ada empat prinsip dalam pembanguan itu sendiri meliputi:

  • 1. Pemenuhan kebutuhan manusia (fulfillment of human needs)

  • 2. Memelihara integritas ekologi (maintenance of ecological integrity)

  • 3. Keadilan sisial (social equality)

  • 4. Kesempatan menentukan nasip sendiri (self determination)

Dalam proses pembentukan pemikiran pembangunan berkelanjutan, terdapat dua aspek yang perlu diperhatikan yaitu:

  • 1. Konsep pembanguan berkelanjutan berkaitan dengan jaminan kepentingan generasi yang akan datang

  • 2. Deklarasi stockholm 1972 memuat beberapa hal yang berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya alam secara

ekonomis dengan mempertimbangkan aspek-aspek lingkungan hidup. Tantangan terhadap kelestarian lingkungan hidup kini menjadi salah satu masalah terbesar yang dihadapi oleh manusia. Bahkan sudah menjadi masalah yang menembus batas-batas negara, dan mempertaruhkan eksistensi manusia di muka bumi. Manusia hanyalah salah satu unsur dalam mata rantai kehidupan di bumi, yang menyebabkan ketergantungan pada sistem planet bumi sebagai life support system.

  • d. Keberdayaan dan Keberhasilgunaan

Berdasarkan penjelasan dari Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007, Yang dimaksud dengan “keberdayagunaan dan keberhasilgunaan” adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan mengoptimalkan manfaat ruang dan sumber daya yang terkandung di dalamnya serta menjamin terwujudnya tata ruang yang berkualitas. Pemerintah sebagai aktor utama dalam menjalankan roda pemerintahan perlu membuat rencana strategis tata ruang yang diaktualkan dalam rencana tata ruang wilayah jangka panjang, ketercapaiana adalah hasil akhir dari sebuah proses, yaitu proses memperdayakan sumber daya alam yang ada di area tata ruang sehingga ruang dapat digunakan sebaik mungkin dalam

koridor kemanfaatan, dan kemanfaatan inilah yang dijadikan ukuran apakah asas ini berhasil atau tidak dalam mencapai tujuan tata ruang,dalam hal ini pemerintah bukan dibuat untuk melayani kepentingan kekuasaan, akan tetapi untuk melayani rakyat. Merujuk pernyataan diatas, pemerintah sebagai pemangku pemegang andil utama dalam suatu kebijakan pengaturan suatu daerah harus lah memiliki tolak ukur yang tetpat dalam pengaturan atau pengelolaan suatu daerah. Sehingga, kebijakan- kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dapat digunakan secara baik oleh pemangku kepentingan yang disebut masyarakat secara adil tertip dan aman demi terwujud cita-cita negara.

  • e. Keterbukaan

Berdasarkan penjelasan dari Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007, Yang dimaksud dengan “keterbukaan” adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan memberikan akses yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan penataan ruang. Keterbukaan idealnya adalah membuka dan menyiapkan wadah informasi bagi publik dan privat untuk mendapatkan semua informasi mengenai perencanaan pengelolaan tata ruang. hal ini tidak akan mungkin terjadi jika pemerintah tidak membuka diri untuk hal ini seperti dewasanya. disamping itu untuk memanifestasikan keterbukaan perlu dilibatkan masyarakat dalam menyusun rencana tata ruang sehingga apa yang di cita-citakan oleh negara untuk menjalankan pemerintahan yang

transparan.

  • f. Kebersamaan

Berdasarkan penjelasan dari Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007, Yang dimaksud dengan “kebersamaan dan kemitraan” adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Hal ini akan terjadi dengan baik apabila semua pemangku kepentingan saling merasa membutuhkan, tanpa itu semua tidak mungkin kebersamaan akan tercipta. Tata ruang adalah hal yang tidak mudah jika direncanakan oleh satu pihak saja. Untuk itu perlu dilibatkan semua pemangku kepentingan dalam merumuskan dan segala aktifitas ketata ruangan.

  • g. Perlindungan kepentingan umum

Yang dimaksud dengan “pelindungan kepentingan umum” adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan mengutamakan kepentingan masyarakat. Kepentingan umun dapat kita contohkan dalam pro-kontra pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau, masyrakat yang tergabung dalam aktifis lingkungan selalu menentang keberadaan bangunan yang tidak tepat didirikan dalam tata ruang. Mengapa hal ini bisa terjadi keberadaan ruko dang bangunan tidak jauh lebih banyak manfaatnya dengan Ruang Terbuka Hijau yang akan

digunakan dan di nikmati banayak orang. Untuk menjaga kepentingan ini perlu diadakan atau diciptakannya suatu instrumen hukum dalam menjamin kepentingan umum ini.

  • h. Kepastian hukum dan keadilan

Yang dimaksud dengan “kepastian hukum dan keadilan” adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan berlandaskan hukum/ketentuan peraturan perundang-undangan dan bahwa penataan ruang dilaksanakan dengan mempertimbangkan rasa keadilan masyarakat serta melindungi hak dan kewajiban semua pihak secara adil dengan jaminan kepastian hukum.

  • i. Akuntabilitas

Yang dimaksud dengan “akuntabilitas” adalah bahwa penyelenggaraan penataan ruang dapat dipertanggung jawabkan, baik prosesnya, pembiayaannya, maupun hasilnya. Dalam hal tata ruang, akuntabilitas sangat penting. Akuntabilitas juga merupakan bagian dari asas umum pemerintahan yang baik. Dalam proses perencanaan harus dilakukan dengan tanggung jawab,terencana dengan baik yang meliputi kemanfaatan kemudian disesuaikan dengan pembiayaan yang tepat dan optimal serta hasilnya pun dapat terwujud sesuai dengan rencana

awal.

Sementara tujuan yang tersirat dalam UU No.26 Tahun 2007 adalah Penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional dengan:

  • a. terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan;

  • b. terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan

sumber daya manusia; dan

  • c. terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan

ruang. Tujuan perencananaan wilayah umumnya untuk menciptakan kehidupan yang efisien, nyaman serta lestari dan pada tahap akhirnya menghasilkan rencana yang menetapkan lokasi dari berbagai kegiatan yang direncanakan, baik oleh pihak pemerintah maupun swasta.