Anda di halaman 1dari 5

PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

POTENSI EKSTRAK BROMELAIN PADA NANAS (Ananas comosus (L.)


Merr) DALAM MENGHAMBAT KANKER PARU-PARU AKIBAT KABUT
ASAP

BIDANG KEGIATAN:
PKM PENELITIAN EKSAKTA

Diusulkan Oleh:

1. Fitria Dela 1410421006 (2014)

UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2016
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kebakaran hutan menjadi salah satu bencana tahunan yang cukup mengkhawatirkan.
Pada beberapa tahun terakhir kebakaran hutan semakin memburuk dan kasusnya tak
kunjung reda. Dampak dari adanya kebakaran hutan ini tidak hanya pada lingkungan
namun juga berdampak pada kesehatan. Kebakaran hutan telah menjadi masalah bukan
hanya di Indonesia tetapi juga berdampak regional di Asia Tenggara yang berpengaruh
terhadap berbagai sektor kehidupan seperti gangguan aktivitas kehidupan sehari-hari,
hambatan transportasi, kerusakan ekologis, penurunan pariwisata, dampak politik,
ekonomi dan gangguan kesehatan (Faisal dkk, 2012). Kabut asap yang timbul akibat
kebakaran hutan membuat beberapa warga di Pulau Sumatera dan juga di Pulau
Kalimantan terkena infeksi saluran pernapasan. Dikhawatirkan kabut asap tahunan ini
berdampak pada Kanker Paru-paru akibat penumpukan zat yang berbahaya di dalam
saluran pernapasan terutama pada paru-paru. Faisal dkk (2012) juga mengatakan
bahwa sejumlah besar bahan kimia asap kebakaran hutan dapat mengganggu kesehatan
meliputi partikel dan komponen gas seperti sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida
(CO), formaldehid, akrelein, benzen, nitrogen oksida (NOx) dan ozon (O3).
Kanker merupakan masalah kesehatan utama di dunia dengan angka kematian
yang tinggi. Pada tahun 2005, Angka kematian karena penyakit kanker sebesar 7,6
miliar dari 58 miliar kasus kematian. Berdasarkan prediksi, kematian karena kanker
akan meningkat hingga 9 miliar pada 2015 dan akan menjadi 11,4 miliar pada 2030
(WHO, 2008). Angka kematian di Indonesia diperkirakan terdapat 170-190 kasus
kanker tiap 100.000 orang (Tjindarbumi dan Mangunkusumo, 2002).
Nanas (Ananas comosus (L.) Merr) adalah salah satu tanaman yang memiliki
enzim bromelain pada bagian buahnya yang dapat membersihkan paru-paru dari
partikel-partikel berbahaya akibat kabut asap. Enzim bromelain pada nanas memiliki
potensi dalam menghambat sel tumor maupun kanker pada paru-paru yang berpotensi
sebagai penyakit yang dapat ditimbulkan oleh bencana kabut asap tahunan ini. Pada
perawatan sel kanker bromelain dilaporkan dapat menghambat proliferasi dan
diferensiasi sel tumor (Mynott, et al.., 1999; Maurer, 2001). Pada perlakuan dengan
bromelain terjadi penurunan viabilitas biakan sel melanoma tikus in vitro (Guimaraes-
Ferreira, et al.., 2007). Penelitian in vitro lainnya menunjukkan kemampuan bromelain
untuk mengurangi kemampuan sel untuk migrasi dan invasi pada sel glioma (Tysnes,
et al.., 2001) dan penurunan metastasis pada kanker paru-paru Lewis (Batkin, et al..,
1988).
Belum banyaknya masyarakat yang mengetahui potensi nanas dalam
menghambat sel kanker menjadi latar belakang dari penelitian ini. Informasi mengenai
enzim bromelain pada nanas dapat menjadi acuan pencegahan yang baik terhadap
kanker paru-paru akibat bencana kabut asap. Ekstrak bromelain dari buah nanas
diinduksikan pada sel kanker hewan uji dan dilihat index mitosisnya. Pengujian
dilakukan dengan membandingkan sel kanker yang diinduksikan enzim bromelain
pada nanas dan dengan sel kanker yang tidak diinduksi.
1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan Penelitian

1.4 Luaran Penelitian

1.5 Manfaat Penelitian


BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Nanas
Tanaman nanas mempunyai nama ilmiah (Ananas comosus. Merr.) nanas termasuk
famili bromeliaceae. Perawakan (habitus) tumbuhannya rendah, herba (menahun)
dengan 30 atau lebih daun yang panjang, tingginya antara 90-100 cm. Buah ini berasal
dari Brasil, Amerika Selatan, buahnya dalam bahasa Inggris disebut sebagai pineapple
karena bentuknya yang seperti pohon pinus (Septiatin, 2009). Tanaman nanas dapat
tumbuh pada keadaan kondisi cuaca lembab maupun kering. Suhu yang sesuai untuk
budidaya tanaman nanas adalah 21- 32°C, tetapi juga dapat hidup di lahan bersuhu
rendah sampai 10°C (Suyanti, 2010).
Nanas (Ananas comosus. L) merupakan salah satu buah tropis yang memiliki
nilai ekonomi yang cukup tinggi. Buah nanas selain digemari masyarakat untuk
konsumsi buah segar, juga merupakan bahan baku industri buah kalengan dan olahan
seperti selai, sirup dan lain-lain. Indonesia memiliki berbagai macam jenis nanas yang
telah dibudidayakan oleh para petani mulai dari Sumatra sampai Irian Jaya. Nanas
dapat tumbuh di wilayah dengan tipe iklim pertumbuhan yang berbeda-beda mulai dari
dataran tinggi sampai dataran rendah. Daerah penghasil buah nanas adalah Palembang,
Riau, Jambi, Bogor, Subang, Pandeglang, Tasikmalaya, dan Kutai. Buah nanas sudah
menjadi trademark bagi suatu daerah atau wilayah. Menurut Whiting rasa pada buah
nanas merupakan perpaduan antara gula dan asam (Irfandi, 2005).
Indonesia menduduki peringkat keenam dari negara-negara yang memproduksi
nanas setelah Thailand, Brasil, Kosta Rika, Filipina, dan China. Karena rasa, tekstur,
dan gizi yang terkandung dalam nanas termasuk buah favorit untuk dikonsumsi
langsung dan dapat diolah dalam berbagai bentuk produk olahan baik untuk skala
industri kecil (rumah tangga/perdesaan) maupun industri besar (Mulyono, 2013).
Didalam buah nanas terkandung vitamin A, C dan betakaroten, kalsium, fosfor,
magnesium, besi, natrium, kalium dan enzim bromelin (Septiatin, 2009).

2.2 Kandungan Bromelain pada Nanas


Nanas terkenal sebagai buah yang kaya enzim bromelin. Banyak varietas nanas
((Pineapple, Ananas comosus L) yang termasuk dalam family bromeliaseae
mengandung enzim proteolitik yang disebut bromelin (Hui,1992). Enzim ini
menguraikan protein dengan jalan memutuskan ikatan peptida dan menghasilkan
protein yang lebih sederhana (Sumarno,1989). Enzim bromelin terdapat dalam semua
jaringan tanaman nanas. Sekitar setengah dari protein dalam nanas mengandung
protease bromelin. Di antara berbagai jenis buah, nanas merupakan sumber protease
dengan konsentrasi tinggi dalam buah yang masak (Donald, 1997).
Manfaat dari kandungan bromelin yang terdapat dalam buah nanas yaitu:
membantu memperlancar pencernaan, mempercepat penyembuhan luka, mengobati
luka bakar, gatal, bisul dan obat pencegah tumor. Kandungan seratnya dapat
mempermudah buang air besar pada penderita sembelit (Septiatin, 2009).
Bromelin merupakan unsur pokok dari nanas yang penting dan berguna dalam
bidang farmasi dan ma-kanan (Donald, 1997). Fungsi bromelin mirip dengan papain
dan fisin, sebagai pemecah protein. Pada akhir-akhir ini enzim bromelin lebih banyak
digunakan untuk penjernihan bir (“chillpoofing bir”) dan pengempukan daging
(Anonim, 2000). Kegunaan lain dari bromelin adalah untuk memper-lancar pencernaan
protein, menyembuhkan artritis, sembelit, infeksi saluran pernafasan, luka atletik (pada
kaki), angina, dan trauma serta sebagai pencegah kanker (Wirakusumah, 1999).

2.3 Kanker Paru-paru


Kanker paru merupakan keganasan pada jaringan paru. Kanker paru merupakan
abnormalitas dari sel-sel yang mengalami proliferasi dalam paru (WHO). Kanker paru
adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali dalam jaringan paru yang dapat
disebabkan oleh sejumlah karsinogen lingkungan, terutama asap. Menurut World
Health Organization (WHO), kanker paru merupakan penyebab kematian utama dalam
kelompok kanker baik pada pria maupun wanita.
Mereka yang tinggal di kota mempunyai angka kanker paru yang lebih tinggi
dari pada mereka yang tinggal di desa dan walaupun telah diketahui adanya karsinogen
dari industri dan uap diesel dalam atmosfer di kota. Contoh: Polusi udara, pemaparan
gas RT, asap kendaraan atau pembakaran (Thomson, 1997). Polusi udara akibat
pembakaran hutan dan kabut asap dapat berdampak serius pada infeksi saluran
pernapasan. Apabila terlalu banyaknya karsinogen yang menumpuk di paru-paru akan
menyebabkan penurunan fungsi paru-paru hingga kanker paru-paru yang dapat
berujung pada kematian.
Kanker paru-paru memerlukan penanganan dan tindakan yang cepat dan
terarah. Penemuan kanker paru pada stadium dini akan sangat membantu penderita,
dan penemuan diagnosis dalam waktu yang lebih cepat memungkinkan penderita
memperoleh kualitas hidup yang lebih baik dalam perjalanan penyakitnya meskipun
tidak dapat menyembuhkannya. Pilihan terapi harus dapat segera dilakukan, mengingat
buruknya respons kanker paru terhadap berbagai jenis pengobatan. Bahkan dalam
beberapa kasus penderita kanker paru membutuhkan penangan sesegera mungkin
meski diagnosis pasti belum dapat ditegakkan.