Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN MONITORING DAN EVALUASI PENYULUHAN KEHUTANAN

IWAYAN TEKER, SP
NIP. 19621231 199402 1 020

PENYULUH KEHUTANAN MUDA RESORT MENINTING


LAPORAN MONITORING DAN EVALUASI PENYULUHAN KEHUTANAN

I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pendidikan bagi mayarakat sangat penting, sehingga perlu mendapat prioritas
penanganannya. Dengan demikian memungkinkan seseorang dapat melakukan
sesuatu pekerjaan secara baik dan menunjukkan perbedaan yang besar melalui
pendidikan, seseorang dapat meningkatkan kemampuan atau prilakunya
( pengetahuan, sikap, dan ketrampilan ).
Perubahan dalam kemampuan ini memungkinkan seseorang bertindak secara
rasional, berwawasan luas dan mampu mengambil keputusan secara tepat terutama
bagi diri sendiri dan keluarganya
Dari isi manfaat, bahwa pendidikan orang dewasa di arahkan untuk membuat usaha
merubah masa depan atas dasar kesadaran dan sukarela, sehingga usahanya lebih
maju. Untuk menilai manfaat pendidikan maka perlu dilakukan penilaian atau
evaluasi terhadap proses belajar dan mengajar yang diselenggarakan oleh petugas
(penyuluh, fasilitator ) sebagai bahan dari manajemen pendidikan, evaluasi perlu
dilakukan untuk melihat kemajuan yang dicapai sesuai tujuan semula
Evaluasi suatu kegiatan merupakan hal yang penting, namun sering
dikesampingkan, dan konotasinya negatif karema dianggap mencari kesalahan,
kegagalan dan kelemahan dari suatu kegiatan penyuluhan kehutanan. Sebenarnya
monitoring dan evaluasi harus dilihat dari segi manfaatnya sebagai upaya
memperbaiki dan penyempurnaan program/kegiatan penyuluhan kehutanan
sehingga lebih efektif, efisian dan dapat mencapai tujuan yang telah di tetapkan.
Monitoring dan evaluasi penyuluhan kehutanan dapat digunakan untuk
memperbaiki perencanaan kegiatan / program penyuluhan, kinerja penyuluhan, dan
mempertanggung jawabkan kegiatan yang dilaksanakan.
B. PENGERTIAN MONITORING DAN EVALUASI
a. Monitoring ( Pemantauan )
Adalah suatu aktifitas internal dari proyek, suatu bagian interaksi dari
manejemen, yang merupakan tugas dari bagian laporan dan impormasi yang
meliputi laporan administrasi, laporan keuangan, dan laporan teknis tentang
pelaksanaan.
b. Epaluasi
Adalah tindakan mengambil keputusan untuk menilai suatu obyek, keadaan,
peristiwa, atau kegiatan tertentu yang sedang diamati. Sehingga evaluasi
menncangkup :
1. Kegiatan pengamatan dan analisis terhadap suatu keadaan, gejala alam suatu
obyek.
2. Membandingkan segala sesuatu yang kita amati dengan pengalaman atau
pengetahuan yang telah kita ketahui atau dimiliki.
3. Melakukan penilaian atas segala sesuatu yang diamati, berdasarkan hasil
perbandingan atau pengukuran yang kita lakukan

Dari pengertian diatas maka terkandung beberapa pokok pikiran dalam


Evaluasi yaitu :

1. Pengamatan untuk pengumpulan data atau fakta


2. Penggunaan pedoman yang telah ditetapkan
3. Pengukuran atau membandingkan hasil pengamatan dengan pedoman
yang sudah ditetapkan terlebih dahulu
4. Pengambil keputusan

C. TUJUAN MONITORING DAN EVALUASI


Adalah untuk mengetahui sebarapa jauh kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan
apakah sudah sesuai atau menyimpang dari pedoman yang telah di tetapkan, atau
untuk mengetahui tingkat kesenjangan ( diskrepansi ) antara keadaan yang dicapai
dengan keadaan yang di kehendaki atau seharusnya dapat dicapai, sehingga dengan
demikian akan dapat diketrahui tingkat efektifitas dan efisiensi kegiatan yang telah
dilaksanakan, untuk selanjutnya dapat dicari langkah-langkah guna meningkatkan
tingkat evektivitas dan efisiensi kegiatan seperti yang di kehendaki

II. HAL-HAL YANG TELAH DILAKUKAN DALAM MONITORING DAN


EVALUASI PENYULUHAN KEHUTANAN ADALAH SBB.

A. MONITORING ( PEMANTAUAN )

1. KELOLA KELEMBAGAAN :

a. Klasifikasi KTH rata-rata masih kelas pemula


b. Keswadayaan KTH. Masim minim / rendah.
c. Kelembagaan KTH. Belum sepenuhnya sebagai anjang tempat pembelajaran
d. Partisipasi anggota kelompok dalam kegiatan kelompiok masih rendah
e. Kepedulian masyarakat tentang kelestarian hutan masih kurang

2. KELOLA KAWASAN :
a. Belum terpenuhinya/tercapainya komposisi tanaman antara tanaman kayu-
kayuan dengan tanaman MPTS. ( 30 : 70 )
b. Keaneka ragaman dan jumlah jenis tanaman yg sudah ada belum maksimal
c. Pemetaan batas blok belum jelas
d. Kebanyakan penggarap kawasan belum punya legalitas garapan
e. Penataan jarak tanam tidak diatur dari awal sehingga menyulitkan penataan
dalam rangka penataan keanekaragaman dan jumlah tanaman.
f. Belum dilakukan pengukuran luas garapan masing-masing penggarap
g. Keswadayaan penggarap kawasan untuk pengadaan bibit masih kurang
h. Masih ada terjadi penyerobotan lahan kawasan oleh masyarakat
i. Pemanfaatan lahan dibawah tegakan belum maksimal.

3. KELOLA USAHA :
a. Belum dilakukan pengolahan hasil HHBK. Secara profesional yang jumlahnya
cukup melimpah dan ber aneka ragam
b. Pemasaran hasil HHBK. Tidak melalui satu pintu.
c. Penguasaan tehnologi tentang pengolahan hasil HHBK oleh pelaku utama
masih kurang
d. Pemasaran dari hasil pengolahan HHBK. Masih bersipatlokal sehingga sulit
untuk berkembang

B. E V L U A S I

1. KELOLA KELEMBAGAANNYA :
a. Kondisi KTH.saat ini kebanyakan berada kelas pemula karena disebabkan
belum mampu dipenuhinya persyaratan yang dibutuhkan untuk peningkatan
kelas Kelompok.
b. KTH .rata-rata kurang mampu berswadaya karena minimnya modal,
pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang dimiliki ( P S K )
c. Partisipasi anggota dalam kegiatan kelompo masih rendah hal ini diakibatkan
karena tidak taatnya anggota terhadap awig-awig yang ada
d. Keperdulian masyarakat terhadap kelestarian hutan rendah / kurang, karena
tingkat kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya/manfaat hutan

2. KELOLA KAWASANNYA :
a. Tidak terpenuhinya perbandingan tanaman kayu-kayuan dengan MPTS.
Karena kesadaran, ketersediaan bibit serta kecendrungan petani hanya untuk
menanam tanaman buah-buahan.
b. Keaneka ragaman dan jumlah tanaman belum bisa mencapai standar minimal
yang diharapkan yaitu 400 pohon / ha.
c. Masih sering terjadinya sengketa antara pengelola kawasan, dikarenakan
belum adanya penataan batas blok yang jelas.
d. Pemaanfaatan lahan dibawah tegakan belum maksimal dilakukan karena
keterbatasan pengetahuan, maupun impormasi tentang jenis-jenis tanaman
yang bisa dibudi dayakan di bawah tegakan.
3. KELOLA USAHANYA :
a. Pemberdayaan petani tentang tehnik pengolahan hasil HHBK. Perlu ditangani
secara baik untuk menunjang PSK.Petani sehingga pendapatan maupun
kesejahtraan petani bisa lebih meningkat.
b. KTH. Yang sudah ada diharapkan untuk memperkuat kelembagaan nya,
terutama didalam pembuatan koprasi sebagai wadah untuk menyalurkan
hasil HHBKnya, sehingga tidak di permainkan oleh tengkulak
c. Perlu dilakukan koordinasi lintas sektoral guna untuk meningkatkan setandar
kwalitas ( mutu ) dari hasil produksi hutan bukan kayu.
d. Pelatihan tentang penguasaan tehnolologi pengolahan hasil HHBK.terhadap
anggota KTH. Lebih di tingkatkan.