Anda di halaman 1dari 3

IPA SEBAGAI GAGASAN

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dalam muatan kurikulum 2013 merupakan mata pelajaran
yang memilikki peranan penting dalam mengembangkan keseluruhan aspek dari tingkat
kemampuan siswa pada proses pembelajaran, hal ini dikarenakan IPA merupakan bagian dari
mata pelajaran yang dikembangkan berdasarkan pencapaian kepada tiga aspek yaitu
pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Kajian tersebut sesuai dengan Permendikbud No 57 pasal
5 ayat 2 Th 2014 tentang konsep dasar mata pelajaran IPA. Seperti yang telah diketahui bahwa
dalam hakikat terdapat tiga unsur yaitu ipa sebagai produk, ipa sebagai proses/cara berpikir dan
ipa sebagai sikap. Ipa sebagai produk menjelaskan bahwa dalam pengkajian ipa akan
menghasilkan pengetahuan berupa fakta, konsep, hukum, teori, dan prinsip. Ipa sebagai
proses/cara berpikir menjelaskan bahwa dalam memperoleh suatu pengetahuan diperlukan
langkah atau metode ilmiah yang dalam pembelajaran dapat diimplementasikan dengan
percobaan. Sedangkan ipa sebagai sikap menjelaskan bahwa dalam proses perolehan
pengetahuan harus menerapkan sikap-sikap ilmiah.

Dalam pembahasan kali ini, yang akan dibahas adalah karakteristik pembelajaran IPA
sebagai gagasan. Definisi ipa sebagai gagasan hampir sama dengan ipa sebagai produk. Hal ini
dapat dijelaskan sebagai berikut. Bedasarkan penejelasan sebelumnya, Ipa sebagai produk
merupakan kumpulan pengetahuan yang tersusun dalam bentuk fakta, konsep, prinsip, hukum
dan teori. Fakta menurut Abdullah (1999) adalah sesuatu yang dapat dilihat, diraba, dan
dirasakan oleh setiap orang. Dengan adanya fakta tersebut menstimulus ilmuwan untuk berpikir
tentang kebenarannya. Abstraksi dari fakta yang diolah dalam pikiran seseorang akan
membentuk sebuah konsepsi. Untuk mencari kebenaran atas fakta tersebut, ilmuwan akan terus
berpikir mengeluarkan gagasan-gagasan/idenya dengan melalui metode ilmiah serta menerapkan
sikap ilmiah sehingga akan diperoleh kebenaran fakta tersebut berupa
konsep/prinsip/hukum/teori (pengetahuan). Berdasarkan penjelasan diatas, yang dimaksud ipa
sebagai gagasan adalah ketika ilmuwan atau seseorang melakukan proses berpikir ,mengolah
fakta dengan mengeluarkan berbagai ide dan gagasan.

Dalam Permendikbud No 22 Th 2016, pengetahuan dimiliki melalui aktivitas


mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta. Jika
dihubungkan dengan pembelajaran, ipa sebagai gagasan dapat diterapkan atau dapat diamati
ketika siswa berdiskusi dan menyampaikan pendapatnya. Pembelajaran IPA harus menyentuh
aspek proses dimana siswa harus dilibatkan dalam pembelajaran sehingga siswa akan mengalami
proses berpikir tentang suatu yang terjadi dalam pembelajaran, oleh karenanya maka disajikan
tentang masalah yang harus diselesaikan siswa melalui pengamatan atau penelitiannya sendiri
dan atau mencari jawaban sendiri. Dalam hal ini, pembelajaran Ipa akan berpusat pada siswa.
Proses pembelajaran IPA yang berpusat pada siswa berpotensi melatih dan mengembangkan
keterampilan berpikir. Semakin berkembangnya keterampilan berpikir siswa maka kemampuan
dalam menyampaikan gagasan/ide juga akan semakin meningkat. Pada proses pembelajaran
yang berpusat pada siswa, siswa aktif mengkonstruksi pengetahuannya sendiri berdasarkan
pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki, atas bantuan dan bimbingan guru. Penurunan
ide-ide dimunculkan dengan melibatkan peserta didik pada pertanyaan-pertanyaan terbuka
serta kesempatan berdiskusi.

IPA SEBAGAI KREATIVITAS

Menurut Fadelis E. Waruwu yang diterjemahkan oleh Monti P Satiadarma (2003:


109), "kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru
berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan
hal-hal yang sudah ada." Menurut Andang Ismail (2009) menjelaskan bahwa kreativitas
dapat menjadi kekuatan (power) yang menggerakkan manusia dari yang tidak tahu menjadi tahu,
tidak bisa menjadi bisa, bodoh menjadi cerdas, pasif menjadi aktif, dan sebagainya. Penerapan
berpikir kreatif dalam pemecahan masalah akan menghasilkan banyak ide-ide yang berguna
dalam penyelesaian masalah.

Menurut Kurniasih (2014) berpikir kreatif dapat diartikan suatu proses yang dialami
seseorang dalam menemukan suatu ide atau gagasan baru yang belum pernah ada sebelumnya.
Berpikir kreatif diperlukan bagi seseorang karena ini adalah dasar untuk menanggapi respon
yang diterima dalam mencari solusi atas permasalahan yang dihadapinya. Mengingat
permasalahan yang dihadapi belum tentu dapat diselesaikan dengan cara yang telah ada
sebelumnya, tetapi membutuhkan kombinasi baru baik itu dalam bentuk sikap, ide maupun
produk pikiran agar masalah dapat terselesaikan. Hal ini diharapkan seseorang lebih terbuka,
luwes dan fleksibel dalam menyelesaikan permasalahan. Kemampuan berpikir kreatif dapat
ditingkatkan di mana saja termasuk di sekolah melalui pembelajaran yang dilakukan.
Beberapa kompetensi yang terkait dengan penguasaan keterampilan adalah
kemampuan berpikir kreatif. Keterampilan berpikir kreatif menjadi salah satu Standar
Kompetensi Lulusan pada kurikulum 2013 untuk dimensi keterampilan, yakni siswa diharapkan
memiliki keterampilan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret
sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri. Pembelajaran IPA tidak
bisa dengan cara menghafal atau pasif mendengarkan guru menjelaskan konsep namun siswa
sendiri yang harus melakukan pembelajaran melalui percobaan, pengamatan maupun
bereksperimen secara aktif yang akhirnya akan terbentuk kreativitas dan kesadaran untuk
menjaga dan memperbaiki gejala-gejala alam yang terjadi untuk selanjutnya membentuk sikap
ilmiah yang pada gilirannya akan aktif untuk menjaga kestabilan alam ini secara baik dan lestari.
Agar pembelajaran IPA lebih efektif dan dapat mencapai hasil maksimal, sebaiknya
memperhatikan (1) Proses berpikir; (2) kreativitas, Semua siswa harus mempunyai kesempatan
untuk melakukan berbagai kreativitas; (3) pengalaman siswa; (4) pembentukan konsep, pada
hakekatnya konsep yang dimiliki siswa adalah hasil bentukan sendiri; (5) aplikasi konsep, bahan
pembelajaran hendaknya terpusat pada aplikasi konsep.

Daftar
Abdullah. 1999. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Jakarta: Gaya Media Pratama.

Permendikbud No 57 pasal 5 ayat 2 Th 2014 tentang konsep dasar mata pelajaran IPA.

Permendikbud No 22 Th 2016 Tentang Standar Proses.

Monty P. Satiadarma dan Fidelis E. Waruwu. 2003.Mendidik Kecerdasan: Pedoman Bagi Orang
Tua dan Guru Dalam Mendidik Anak Cerdas. Jakarta : Pustaka Populer Obor.

Ismail, Andang. 2009.Education Games.Yogyakarta: Pro U Media.

Kurniasih,Imas dan Berlin Sani. 2014. Implementasi Kurikulum 2013: Konsep dan Penerapan
Surabaya : Kata Pena.