Anda di halaman 1dari 9

TEORI KEPERAWATAN MADELEINE LEININGER

”CULTURE CARE : DIVERSITY AND UNIVERSALITY THEORY”

A. Sejarah Teori Culture Care


Madeline Leininger adalah pelopor keperawatan transkultural dan seorang pemimpin dalam
keperawatan transkultural serta teori asuhan keperawatan yang berfokus pada manusia. Ia adalah
perawat professional pertama yang meraih pendidikan doctor dalam ilmu antropologi social dan
budaya. Dia lahir di Sutton, Nebraska, dan memulai karir keperawatannya setelah tamat dari
program diploma di “St. Anthony’s School of Nursing” di Denver.
Tahun 1950 ia meraih gelar sarjana dalam ilmu biologi dari “Benedictine College, Atchison
Kansas” dengan peminatan pada studi filosofi dan humanistik. Setelah menyelesaikan pendidikan
tersebut ia bekerja sebagai instruktur, staf perawatan dan kepela perawatan pada unit medikal
bedah sererta membuka sebuah unit perawatan psikiatri yang baru dimana ia menjadi seorang
direktur pelayanan keperawatan pada St. Joseph’s Hospital di Omaha. Selama waktu ini ia
melanjutkan pendidikan keperawatannya di ”Creigthton University ” di Omaha. Tahun 1954
Leininger meraih gelar M.S.N. dalam keperawatan psikiatrik dari ” Chatolic University of
America” di Washington, D. C. Ia kemudian bekerja pada ”College of Health” di Univercity of
Cincinnati, dimana ia menjadi lulusan pertama (M. S. N ) pada program spesialis keperawatan
psikiatrik anak . Ia juga memimpin suatu program pendidikan keperawatan psikiatri di universitas
tersebut dan juga sebagai pimpinan dalam pusat terapi perawatan psikiatri di rumah sakit milik
universitas tersebut.
Pada tahun 1960, Leininger bersama C. Hofling menulis sebuah buku yang diberi judul ” Basic
Psiciatric Nursing Consept” yang dipublikasikan ke dalam sebelas bahasa dan digunakan secara
luas di seluruh dunia. Selama bekerja pada unit perawatan anak di Cincinnati, Leininger
menemukan bahwa banyak staff yang kurang memahami mengenai faktor-faktor budaya yang
mempengaruhi perilaku anak-anak. Dimana diantara anak-anak ini memiliki latar belakang
kebudayaan yang berbeda. Ia mengobservasi perbedaan- perbedaan yang terdapat dalam asuhan
dan penanganan psikiatri pada anak-anak tersebut. Terapi psikoanalisa dan terapi strategi lainnya
sepertinya tidak menyentuh anak-anak yang memiliki perbedaan latar belakang budaya dan
keutuhan.
Leininger melihat bahwa para perawat lain juga tidak menampilkan suatu asuhan yang benar-
benar adequat dalam menolong anak tersebut, dan ia dihadapkan pada berbagai pertanyaan
mengenai perbedaan budaya diantara anak-anak tersebut dan hasil terapi yang didapatkan. Ia juga
menemukan hanya sedikit staff yang memiliki perhatian dan pengetahuan mengenai faktor-faktor
budaya dalam mendiagnosa dan manangani klien.
Pada satu ketika, Prof. Margaret Mead berkunjung pada departemen psikiatri University of
Cincinnati dan Leiniger berdiskusi dengan Mead mengenai adanya kemungkinan hubungan antara
keperawatan dan antropologi. Meskipun ia tidak mendapatkan bantuan langsung, dorongan, solusi
dari Mead , Leininger memutuskan untuk melanjutkan studinya ke program doktor (Ph.D) yang
berfokus pada kebudayaan, sosial, dan antropologi psikologi pada Universitas Washington.
Sebagai seorang mahasiswa program doktor, Leininger mempelajari berbagai macam kebudayaan
dan menemukan bahwa pelajaran antroplogi itu sangat menarik dan merupakan area yang perlu
diminati oleh seluruh perawat. Kemudia ia menfokuskan diri pada masyarakat Gadsup di Eastern
Highland of New Guinea, dimana ia tinggal bersama masyarakat tersebut selama hampir dua
tahun. Dia dapat mengobservasi bukan hanya gambaran unik dari kebudayaan melainkan
perbedaan antara kebudayaan masyarakat barat dan non barat terkait dengan praktek dan asuhan
keperawatan untuk mempertahankan kesehatan.
Dari studinya yang dalam dan pengalaman pertama dengan masyarakat Gadsup, ia terus
mengembangkan teori perawatan kulturalnya dan metode ethno nursing. Teori dan penelitiannya
telah membantu mahasiswa keperawatan untuk memahami perbedaan budaya dalam perawatan
manusia, kesehatan dan penyakit. Dia telah menjadi pemimpin utama perawat yang mendorong
banyak mahasiswa dan fakultas untuk melanjutkan studi dalam bidang anthropologi dan
menghubungkan pengetahuan ini kedalam praktik dan pendidikan keperawatan transkultural.
Antusiasme dan perhatiannya yang mendalam terhadap pengembangan bidang perawatan
transkultural dengan fokus perawatan pada manusia telah menyokong dirinya selama 4 dekade.
Tahun 1950-an sampai 1960-an, Leininger mengidentifikasi beberapa area umum dari
pengetahuan dan penelitian antara perawatan dan anthropologi formulasi konsep keperawatan
transkultural, praktek dan prinsip teori. Bukunya yang berjudul Nursing and anthropology : Two
Words to Blend ; yang merupakan buku pertama dalam keperawatan transkultural, menjadi dasar
untuk pengembangan bidang keperawatan transkultural, dan kebudayaan yang mendasari
perawatan kesehatan. Buku yang berikutnya, ”Transcultural Nursing : Concepts, theories,
research, and practise (1978 )” , mengidentifikasi konsep mayor, ide-ide teoritis, praktek dalam
keperawatan transkultural, bukti ini merupakan publikasi definitif pertama dalam praktek
perawatan treanskultural. Dalam tulisannya, dia menunjukkan bahwa perawatan treanskultural dan
anthropologi bersifat saling melengkapi satu sama lain, menkipun berbeda. Teori dan kerangka
konsepnya mengenai Cultural care diversity and universality dijelaskan dalam buku ini.
Sebagai perawat profesional pertama yang melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor dalam
bidang antropologi dan untuk memprakarsai beberapa program pendidikan magister dan doktor,
Leininger memiliki banyak bidang keahlian dan perhatian. Ia telah memepelajari 14 kebudayaan
mayor secara lebih mendalam dan telah memiliki pengalaman dengan berbagai kebudayaan.
Disamping perawatan transkultural dengan asuhan keperawatan sebagai fokus utama , bidang lain
yang menjadi perhatiannya adalah administrasi dan pendidikan komparatif, teori-teori
keperawatan, politik, dilema etik keperawatan dan perawatan kesehatan, metoda riset kualitatif,
masa depan keperawatan dan keperawatan kesehatan, serta kepemimpinan keperawatan. Theory of
Culture Care saat ini digunakan secara luas dan tumbuh secara relevan serta penting untuk
memperoleh data kebudayaan yang mendasar dari kebudayaan yang berbeda.

B. Paradigma Keperawatan
1. Manusia
Manusia adalah individu atau kelompok yamg memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang
diyakini dan berguna untuk menentukan pilihan serta melakukan tindakan. Menurut Leininger,
manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapun
ia berada.

2. Kesehatan
Kesehatan mengacu pada keadaan kesejahteraan yang didefinisikan secara kultural memiliki nilai
dan praktek serta merefleksikan kemampuan individu maupun kelompok untuk menampilkan
kegiatan budaya mereka sehari-hari, keuntungan dan pola hidup.
3. Lingkungan
Lingkungan mengacu pada totalitas dari suatu keadaan, situasi, atau pengalaman-pengalaman
yang memberikan arti bagi perilaku manusia, interpretasi, dan interaksi sosial dalam lingkungan
fisik, ekologi, sosial politik, dan atau susunan kebudayaan.

4. Keperawatan
Keperawatan mengacu kepada suatu pembelajaran humanistik dan profesi keilmuan serta disiplin
yang difokuskan pada aktivitas dan fenomena perawatan manusia yang bertujuan untuk
membantu, memberikan dukungan, menfasilitasi, atau memampukan individu maupun kelompok
untuk memperoleh kesehatan mereka dalam cara yang menguntungkan yang berdasarkan pada
kebudayaan atau untuk menolong orang-orang agar mampu menghadapi rintangan dan kematian.

C. Teori Keperawatan Leininger


Teori ini diambil dari disiplin ilmu antropologi dan keperawatan. Ia mendefinsikan keperawatan
transkultural sebagai bagian utama dari keperawatan yang berfokus pada studi perbandingan dan
analisa perbedaan budaya serta bagian budaya di dunia dengan tetap menghargai nilai-nilai
asuhan, pengalaman sehat sakit dan juga kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat.
1. Konsep Utama dan definisi teori Leininger
a. Care mengacu kepeada suatu fenomena abstrak dan konkrit yang berhubungan dengan
pemberian bantuan, dukungan, atau memungkinkan pemberian pengalaman maupun perilaku
kepada orang lain sesuai dengan kebutuhannya dan bertujuan untuk memperbaiki kondisi maupun
cara hidup manusia.
b. ”Caring”, mengacu kepada suatu tindakan dan aktivitas yang ditujukan secara langsung dalam
pemberian bantuan, dukungan, atau memungkinkan individu lain dan kelompok didalam
memenuhi kebutuhannya untuk memperbaiki kondisi kehidupan manusia atau dalam menghadapi
kematian.
c. Kebudayaan merupakan suatu pembelajaran, pembagian dan transmisis nilai, keyakinan, norma-
norma, dan gaya hidup dalam suatu kelompok tertentu yang memberikan arahan kepada cara
berfikir mereka, pengambilan keputusan, dan tindakkan dalam pola hidup.
d. Perawatan kultural mengacu kepada pembelajaran subjektif dan objektif dan transmisi nilai,
keyakinan, pola hidup yang membantu, mendukung, memfasilitasi atau memungkinkan ndividu
lain maupun kelompok untuk mempertahankan kesjahteraan mereka, kesehatan, serta untuk
memperbaiki kondisi kehidupan manusia atau untuk memampukan manusia dalam menghadapi
penyakit, rintangan dan juga kematian.
e. Cultural care diversity (perbedaan perawatan kultural) mengacu kepada variabel-variabel,
perbedaan-perbedaan, pola, nilai, gaya hidup, ataupun simbol perawatan di dalam maupun
diantara suatu perkumpulan yang dihubungkan terhadap pemberian bantuan, dukungan atau
memampukan manusia dalam melakukan suatu perawatan.
f. Cultural care universality (Kesatuan perawatan kultural) mengacu kepada suatu pengertian
umum yang memiliki kesamaan ataupun pemahaman ang paling dominan, pola-pola, nilai-nilai,
gaya hidup atau simbol-simbol yang dimanifestasikan diantara banyak kebudayaan serta
mereflesikan pemberian bantuan, dukungan, fasilitas atau memperoleh suatu cara yang
memungkinkan untuk menolong orang lain (Terminlogy universality) tidak digunakan pada suatu
cara yang absolut atau suatu temuan statistik yang signifikan.
g. Keperawatan mengacu kepada suatu pembelajaran humanistik dan profesi keilmuan serta
disiplin yang difokuskan pada aktivitas dan fenomena perawatan manusia yang bertujuan untuk
membantu, memberikan dukungan, menfasilitasi, atau memampukan individu maupun kelompok
untuk memperoleh kesehatan mereka dalam suatu cara yang menguntungkan yang berdasarkan
pada kebudayaan atau untuk menolong orang-orang agar mampu menghadapi rintangan dan
kematian.
h. Pandangan dunia mengacu kepada cara pandang manusia dalam memelihara dunia atau alam
semesta untuk menampilkan suatu gambaran atau nilai yang ditegakkan tentang hidup mereka atau
lingkungan di sekitarnya.
i. Dimensi struktur sosial dan budaya mengacu pada suatu pola dinamis dan gambaran hubungan
struktural serta faktor-faktor organisasi dari suatu bentuk kebudayaan yang meliputi keagamaan,
kebudayaan, politik, ekonomi, pendidikan, teknologi , nilai budaya dan faktor-faktor etnohistory
serta bagaimana faktor-faktor ini dihubungkan dan berfungsi untuk mempengaruhi perilaku
manusia dalam lingkungan yang berbeda.
j. Lingkungan mengacu pada totalitas dari suatu keadaan, situasi, atau pengalaman-pengalaman
yang memberikan arti bagi perilaku manusia, interpretasi, dan interaksi sosial dalam lingkungan
fisik, ekologi, sosial politik, dan atau susunan kebudayaan.
k. ”Etnohistory ” mengacu kepada keseluruhan fakta-fakta pada waktu yang lampau, kejadian-
kejadian, dan pengalaman individu, kelompok, kebudayaan serta suatu institusi yang difokuskan
kepada manusia/masyarakat yang menggambarkan, menjelaskan dan menginterpretasikan cara
hidup manusia dalam suatu bentuk kebudayaan tertentu dalam jangka waktu yang panjang
maupun pendek.
l. Sistem perawatan pada masyarakat tradisional mengacu kepada pembelajaran kultural dan
transmisi dalam masyarakat tradisional (awam) dengan menggunakan pengetahuan dan
keterampilan tradisonal untuk memberikan bantuan, dukungan atau memfasilitasi tindakan untuk
individu lain, kelompok maupun suatu institusi dengan kebutuhan yang lebih jelas untuk
memperbaiki cara hidup manusia atau kondisi kesehatan ataupun untuk menghadapi rintangan dan
situasi kematian.
m. Sistem perawatan profesional mengacu kepada pemikiran formal, pembelajaran, transmisi
perawatan profesional, kesehatan, penyakit, kesejahteraan dan dihubungkan dalam pengetahuan
dan keterampilan praktek yang berlaku dalam institusi profesional biasanya personil multi disiplin
untuk melayani konsumen.
n. Kesehatan mengacu pada keadaan kesejahteraan yang didefinisikan secara kultural memiliki
nilai dan praktek serta merefleksikan kemampuan individu maupun kelompok untuk menampilkan
kegiatan budaya mereka sehari-hari, keuntungan dan pola hidup
o. Mempertahankan perawatan kultural mengacu kepada semua bantuan, dukungan, fasilitas atau
pengambilan keputusan dan tindakan profesional yang memungkinkan yang dapat menolong
orang lain dalam suatu kebudayaan tertentu dan mempertahankan nilai perawatan sehingga
mereka dapat memperthanakan kesejahteraannya, pulih dari penyakit atau menghadapi rintangan
mapun kematian.
p. Negosiasi atau akomodasi perawatan kultural mengacu pada semua bantuan, dukungan,
fasilitas, atau pembuatan keputusan dan tindakan kreatifitas profesional yang memungkinkan yang
menolong masyarakat sesuai dengan adaptasi kebudayaan mereka atau untuk bernegosiasi dengan
fihak lain untuk mencapai hasil kesehatan yang menguntungkan dan memuaskan melalui petugas
perawatan yang profesional
q. Restrukturisasi perawatan transkultural mengacu pada seluruh bantuan, dukungan, fasilitas atau
keputusan dan tindakan profesional yang dapat menolong klien untuk mengubah atau
memodifikasi cara hidup mereka agar lebih baik dan memperoleh pola perawatan yang lebih
menguntungkan dengan menghargai keyakinan dan nilai yang dimiliki klien sesuai dengan
budayanya.
r. Perawatan kultural yang konggruen mengacu kepada kemampuan kognitif untuk membantu,
mendukung, menfasilitasi atau membuat suatu keputusan dan tindakan yang dapat memperbaiki
kondisi individu, atau kelompok dengan nilai budaya, keyakinan dan cara hidup yang berbeda,
yang bertujuan untuk memperoleh kesejahteraan dan kesehatan.

2. Asumsi Mayor
Asumsi mayor untuk mendukung teory cultural care : diversity and universality yang dikemakan
ole Leininger :
a. “Care” adalah esensi keperawatan serta focus yang mempersatukan perbedaan sentral dan
dominant dalam suatu pelayanan.
b. Perawatan (Caring) yang didasarkan pada kebudayaan adalah sutau aspek esensial unuk
memperoleh kesejahteraan, kesehatan, pertumbuhan dan ketahanan, serta kemampuan untuk
enghadapi rinangan maupun kematian.
c. Perawatan yang berdasarkan budaya adalah bagian yang paling komprehensif dan holistic untuk
mengetahui, menjelaskan, menginterprestasikan dan memprediksikan fenomena asuhan
keperawatan serta memberikan panduan dalam pengambilan keputusan dan tindakan perawatan.
d. Keperawatan traskultural adalah disiplin ilmu perawatan humanistic dan profesi yang memiliki
tujuan utama untuk melayani individu, dan kelompok.
e. “Caring” yang berdasarkan kebudayaan adalah suatu aspek esensial untuk mengobati dan
menyembuhkan dimana pengobatan tidak akan mungkin dilakukan tanpa perawatan, sebaliknya
perawatan dapat tetap eksis tanpa pengobatan.
f. Konsep keperawatan cultural, arti, ekspresi, pola-pola, proses dan struktur dari bentuk
perawatan transkultural yang beragam dengan perbedaan dan persamaan yang ada.
g. Setiap kebudayaan manusia memiliki pengetahuan dan praktek perawatan tradisional serta
praktik professional yang bersifat budaya dan individual.
h. Praktek perawatan keyakinan dan nilai budaya dipengaruhi oleh dan cenderung tertanam dalam
pandangan dunia, bahasa, filosofi, agama, kekeluargaan, sosial, politik, pendidikan, ekonomi,
teknologi, etnohistory, dan lingkungan kebudayaan.
i. Keuntungan, kesehatan dan kepuasan terhadap budaya perawatan mempengaruhi kesehatan dan
kesejahteraan individu, keluarga, kelompok, komunitas di dalam lingkungannya.
j. Kebudayaan dan keperawatan yang konggruen dapat terwujud apabila pola-pola, ekspresi dan
nilai-nilai perawatan digunakan secara tepat, aman dan bermakna.
k. Perbedaan dan persamaan perawatan cultural tetap berada diantara masyarakat tradisioal dan
professional pada setiap kebudayaan manusia.
l. Konflik cultural, beban praktek kebudayaan, stress kultural merefleksikan kurangnya
pengetahuan perawatan kultural untuk memberikan perawatan, rasa aman, tangung jawab yang
koggruen dengan kebudayaan.
m. Metode penelitian kualitatif ethnonursing memberikan intepretasi dan temuan yang penting
mengenai pemberian asuhan keperawatan dengan kebudayaan komplek yang berbeda.

3. Esensi keperawatan dan kesehatan


a. Perbedaan-perbedaan interkultural terhadap keyakinan kepetrawatan, nilai dan praktek akan
merefleksikan perbedaan kemampuan identifikasi dan praktek asuhan keperawatan yang bersifat
umum.
b. Kebudayaan yang memiliki nilai iindividualisme yang tinggi dengan model independen akan
menunjukan tanda-tanda dari nilai dan praktek keperawatan diri, dimana kebudayaan yang tidak
memiliki nilai individualisme dan independen akan menunjukan tanda terbatas dan praktek
keperawatan diri.
c. Jika terdapat hubungan yang erat antara praktek dan keyakinan pemberi dan penerima
pelayanan praktek keperawatan , hasil yang diperoleh klien akan dapat ditingkatkan dan lebih
memuaskan .
d. Klien dari kebudayaan yang berbeda dapat mengidentifikasi nilai caring dan non caring mereka
serta keyakinan terhadap ethnonursing.
e. Perbedaan utama antara nilai perawatan tradisional dengan perawatan profesional, merupakan
tanda dari konflik budaya antara pemberi pelayanan kesehatan profesional dan klien.
f. Praktek dan tindakan caring yang diterapkan dengan menggunakan teknologi berbeda secara
kultural dan memiliki perbedaan terhadap hasil dalam pencapaian kesehatan dan kesejahteraan
klien.
g. Tanda terpenting dari ketergantungan perawat terhadap teknologi merupakan tanda dari
depersonalisasi asuhan keperawatn humanistik pada klien.
h. Bentuk simbolis dan fungsi ritual dari praktek dan perilaku asuhan keperawatan memiliki hasil
dan makna berbeda dalam kebudayaan yang berbeda.
i. Politik, agama, ekonomi, hubungan kekeluargaan, nilai budaya dan lingkungan memberikan
pengaruh yang besar terhadap praktek budaya untuk mencapai kesejahteraan individu, keluarga
dan kelompok.

4. Konsep kebudayaan menurut Leininger dalam buku Transcutural Nursing; concepts, theories
and practices (1978 & 1995).
a. Kebudayaan yang mempersepsikan penyakit ke dalam bentuk pengalaman tubuh internal dan
bersifat personal (contohnya yang disebabkan oleh kondisi fisik, genetic,stress dalam tubuh) lebih
cenderung menggunakan teknik dan metode keperawatan diri secara fisik dari pada melakukan
perawatan berdasarkan budaya yang memandang penyakit sebagai suatu keyakinan kultural dan
ekstra personal serta pengalaman budaya secara langsung.
b. Budaya sangat menekankan proses, prilaku dan nilai perawatan (caring), memegang peranan
yang lebih cenderung dilakukan wanita daripada pria.
c. Kebudayaan yang menekankan pada prilaku dan proses pengobatan (caring) cenderung
dilaksanakan oleh pria daripada wanita.
d. Klien (masyarakat umum / tradisional) yang membutuhkan pelayanan keperawatan (caring),
pertama sekali cenderung untuk mencari bantuan dari pihak keluarga maupun relasinya dalam
mengatasi masalahnya, baru kemudian mencari pemberi pelayanan kesehatan professional apabila
orang-orang terdekatnya tidak mampu memeberikan kondisi yang efektif, keadaan klien semakin
memburuk atau jika terjadi kematian.
e. Kegiatan perawatan yang banyak dipraktekkan di masyarakat (ethno caring activities), yang
memiliki keuntungan terapeutik bagi klien dan keluarganya, kurang dipahami oleh kebanyakan
perawat professional di Werstern.
f. Jika terdapat prilaku perawatan yang efektif dalam suatu kebudayaan maka kebutuhan
pengobatan dan pelayanan dari petugas professional akan berkurang.
g. Perbedaan mendasar antara praktek keperawatan tradisional dan professional mengakibatkan
konflik budaya dan membebani praktek keperawatan.
h. Perawatan transkultural akan mempersiapkan perawat untuk dapat menyusun asuhan
keperawatan pada setiap budaya yang berbeda, dan dapat menentukan hasil yang tepat sesuai
dengan kebudayaan klien tersebut.
i. Keberhasilan dalam perawatan kesehatan akan sulit dicapai apabila pemberi pelayanan tersebut
tidak menggunakan pengetahuan dan praktek yang didasarkan atas keyakinan dan nilai budaya
klien.

5. The Sunrise Model ( Model matahari terbit)


Sunrise Model dari teori Leininger dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Matahari terbit sebagai
lambang/ symbol perawatan. Suatu kekuatan untuk memulai pada puncak dari model ini dengan
pandangan dunia dan keistimewaan struktur sosial untuk mempertimbangkan arah yang membuka
pikiran yang mana ini dapat mempengaruhi kesehatan dan perawatan atau menjadi dasar untuk
menyelidiki berfokus pada keperawatan profesional dan sistem perawatan kesehatan secara
umum. Anak panah berarti mempengaruhi tetapi tidak menjadi penyebab atau garis hubungan.
Garis putus-putus pada model ini mengindikasikan sistem terbuka. Model ini menggambarkan
bahwa tubuh manusia tidak terpisahkan/tidak dapat dipisahkan dari budaya mereka.
Suatu hal yang perlu diketahui bahwa masalah dan intervensi keperawatan tidak tampak pada teori
dan model ini. Tujuan yang hendak dikemukakan oleh Leininger adalah agar seluruh terminologi
tersebut dapat diasosiasikan oleh perawatan profesional lainya. Intervensi keperawatan ini dipilih
tanpa menilai cara hidup klien atau nilai-nilai yang akan dipersepsikan sebagai suatu gangguan,
demikian juga masalah keperawatan tidak selalu sesuai dengan apa yang menjadi pandangan
klien. Model ini merupakan suatu alat yang produktif untuk memberikan panduan dalam
pengkajian dan perawatan yang sejalan dengan kebudayan serta penelitian ilmiah.

Gambar : The Sun Rise Model

Leininger Sunrise Model merupakan pengembangan dari konseptual model asuhan keperawatan
transkultural. Terdapat 7 (tujuh) komponen dalam sunrise model tersebut, yaitu :
1. Faktor Teknologi ( Technological Factors )
Teknologi kesehatan adalah sarana yang memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat
penawaran untuk menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Berkaitan dengan
pemanfatan teknologi kesehatan, maka perawat perlu mengkaji berupa persepsi individu tentang
penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini, alasan
mencari kesehatan, persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan.
2. Faktor keagamaan dan falsafah hidup ( Religous and Philosofical Factors)
Agama adalah suatu sistem simbol yang mengakibatkan pandangan dan motivasi yang realistis
bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi kuat sekali untuk menempatkan
kebenarannya di atas segalanya bahkan di atas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang perlu
dikaji perawat seperti : agama yang dianut, kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap
kesehatan, berikhtiar untuk sembuh tanpa mengenal putus asa, mempunyai konsep diri yang utuh.
3. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (Kinship and Social Factors)
Faktor sosial dan kekeluargaan yang perlu dikaji oleh perawat : nama lengkap dan nama panggilan
dalam keluarga, umur atau tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga,
pengambilan keputusan dalam anggota keluarga, hubungan klien dengan kepala keluarga,
kebiasaan yang dilakukan rutin oleh keluarga.
4. Faktor nilai budaya dan gaya hidup (Cultural Values and Lifeways)
Nilai adalah konsepsi-konsepsi abstrak di dalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik
dan buruk. Hal-hal yang perlu dikaji berhubungan dengan nilai-nilai budaya dan gaya hidup
adalah posisi dan jabatan, bahasa yang digunakan, kebiasaan membersihkan diri, kebiasaan
makan, makan pantang berkaitan dengan kondisi sakit, sarana hiburan yang dimanfaatkan dan
persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari.

5. Faktor peraturan dan kebijakan (Polithical and Legal Factor)


Peraturan dan kebijakan yang berlaku adalah segala sesuatu yang mempengaruhi kegiatan
individu dalam asuhan keperawatan transkultural. Misalnya peraturan dan kebijakan yang
berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang menunggu.
6. Faktor ekonomi ( Economical Faktor )
Klien yang dirawat dapat memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki untuk membiayai
sakitnya agar segera sembuh. Sumber ekonomi yang ada pada umumnya dimanfaatkan klien
antara lain asurannsi, biaya kantor, tabungan.
Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat antara lain seperti pekerjaan klien, sumber biaya
pengobatan.
7. Faktor pendidikan (Educational Factor)
Latar belakang pendidikan individu adalah pengalaman individu dalam menmpuh jalur pendidikan
formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan individu, maka keyakinannya harus didukung
oleh bukti-bukti ilmiah yang rasional dan dapat beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan
kondisi kesehatannya.
Perawat perlu mengkaji latar belakang pendidikan meliputi tingkat pendidikan, jenis pendidikan,
serta kemampuan belajar secara aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak
terulang kembali.

BAB III
ANALISA TEORI

A. Kelebihan :
1. Teori ini bersifat komprehensif dan holistik yang dapat memberikan pengetahuan kepada
perawat dalam pemberian asuhan dengan latar belakang budaya yang berbeda.
2. Teori ini sangat berguna pada setiap kondisi perawatan untuk memaksimalkan pelaksanaan
model-model teori lainnya (teori Orem, King, Roy, dll).
3. Penggunakan teori ini dapat mengatasi hambatan faktor budaya yang akan berdampak terhadap
pasien, staf keperawatan dan terhadap rumah sakit.
4. Penggunanan teori trancultural dapat membantu perawat untuk membuat keputusan yang
kompeten dalam memberikan asuhan keperawatan.
5. Teori ini banyak digunakan sebagai acuan dalam penelitian dan pengembangan praktek
keperawatan .

B. Kelemahan :
1. Teori transcultural bersifat sangat luas sehingga tidak bisa berdiri sendiri dan hanya digunakan
sebagai pendamping dari berbagai macam konseptual model lainnya.
2. Teori transcultural ini tidak mempunyai intervensi spesifik dalam mengatasi masalah
keperawatan sehingga perlu dipadukan dengan model teori lainnya