Anda di halaman 1dari 32

Laporan Praktikum Mikrobiologi Perikanan

Inokulasi, Isolasi, dan Identifikasi Mikroba

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas Laporan Praktikum mata
kuliah Mikrobiologi Perikanan semester ganjil

Disusun oleh :
Kelompok 6–B
Cecep M. Yusup 230110160136
Faisal Arif 230110160137
Yolanda Stephanie R. 230110160138
Vera Anggraeni D. 230110160139
Rizqi M. Rhamdhan 230110160140
Arie Widianto 230110160141
Syadza Fatina O. 230110160143
Dela Nur’aini K. 230110160144
Delima Mentari A. 230110160146
Azka Layalia A. 230110160147
Alkahfi Dahlan 230110160148
Yoga Sutiadi A. 230110160149

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun ucapkan kehadirat Tuhan YME yang telah


memberikan rahmat dan hidayah sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan
praktikum kuliah Mikrobiologi Perikanan ini dengan judul “Laporan Praktikum
Mikrobiologi Perikanan Inokulasi, Isolasi, dan Identifikasi Mikroba”.
Terwujudnya laporan praktikum ini tentunya tidak lepas dari dorongan dan
bantuan berbagai pihak yang telah mendorong dan membimbing tim penulis, baik
tenaga, ide-ide, maupun pemikiran. Oleh karena itu dalam kesempatan ini tim
penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada Asisten Laboratorium Mata Kuliah
Mikrobiologi Perikanan yang telah membimbing kami menyusun laporan
praktikum ini. Tidak lupa teman-teman dan semua pihak yang ikut berpartisipasi
dalam menyelesaikan tugas makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini mungkin masih terdapat banyak kesalahan,
oleh karena itu kritik dan saran sangat diperlukanuntuk memperbaiki kesalahan
agar dapat lebih baik lagi kedepannya. Kami berharap semoga makalah ini dapat
berguna bagi semua civitas akademika yang membutuhkannya.

Jatinangor, November 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

BAB Halaman
DAFTAR TABEL .......................................................................... v
DAFTAR GAMBAR ..................................................................... vi

I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................... 1
1.2 Tujuan Praktikum ................................................................ 2
1.3 Kegunaan Praktikum............................................................ 2
II LANDASAN TEORI
2.1 Inokulasi Mikroba ................................................................ 3
2.1.1 Pengertian Inokulasi Mikroba ............................................. 3
2.1.2 Tahapan Inokulasi................................................................ 4
2.1.3 Teknik Inokulasi .................................................................. 4
2.1.4 Perbedaan Inokulasi Jamur dan Bakteri .............................. 6
2.1.5 Macam-Macam Media Inokulasi ......................................... 6
2.2 Isolasi Mikroba .................................................................... 7
2.2.1 Pengertian Isolasi ................................................................. 7
2.2.2 Teknik Isolasi Mikroba ........................................................ 8
2.2.3 Faktor Dalam Melakukan Isolasi ......................................... 11
2.3 Identifikasi Mikroba ............................................................ 11
1.3.1 Pengertian Identifikasi ......................................................... 13
1.3.2 Metode Identifikasi .............................................................. 13

III BAHAN DAN METODE


3.1 Tempat dan Waktu ............................................................... 14
3.2 Alat dan Bahan..................................................................... 14
3.2.1 Alat yang digunakan ............................................................ 14
3.2.2 Bahan yang digunakan ......................................................... 15
3.3 Prosedur Praktikum ............................................................. 15

IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Inokulasi............................................................................... 19
4.2 Isolasi ................................................................................... 20
4.2 Identifikasi ........................................................................... 21

V SIMPULAN DAN SARAN


5.1 Simpulan .............................................................................. 22
5.2 Saran .................................................................................... 22

VI PENDALAMAN ............................................................................ 23

DAFTAR PUSTAKA .................................................................... 25

ii
DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman


1 Alat-Alat Praktikum ....................................................................... 14
2 Bahan Praktikum ............................................................................ 15
3 Media Inokulasi, Dokumentasi, dan Deskripsi .............................. 19
4 Hasil Identifikasi Mikroba ............................................................. 20

iii
DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman


1 Teknik dalam Metode Gores ....................................................... 5
2 Mixed culture .............................................................................. 6
3 Plant culture ............................................................................... 6
4 Slant culture ................................................................................ 6
5 Stap culture ................................................................................. 6
6 Metode Gores .............................................................................. 9
7 Metode Cawan Tuang ................................................................. 10

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Mikrobiologi adalah sebuah cabang dari ilmu biologi yang mempelajari
mikroorganismee. Objek kajiannya biasanya adalah semua makhluk hidup yang
perlu dilihat dengan mikroskop, khususnya bakteri, fungi, alga, protozoa, dan
archaea (Zulkarnain 2012).
Penanaman bakteri atau biasa disebut juga inokulasi adalah pekerjaan
memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat
ketelitian yang sangat tinggi. Inokulasi dilakukan dalam kondisi aseptik, yakni
kondisi dimana semua alat yang ada dalam hubungannya dengan medium dan
pengerjaan, dijaga agar tetap steril. Hal ini untuk menghindari terjadinya
kontaminasi (Dwijoseputro 1998). Ruang tempat penanaman bakteri harus bersih
dan keadannya harus steril agar tidak terjadi kesalahan dalam pengamatan atau
percobaaan. Inokulasi dapat dilakukan dalam sebuah kotak kaca yang biasa disebut
sebagai laminar air flow ataupun dalam ruangan yang terjaga kesterilannya (Pelczar
1986).
Isolasi merupakan cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba
tertentu dari lingkungan, sehingga diperoleh kultur murni atau biakkan murni.
Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari pembelahan dari
satu sel tunggal. Beberapa cara yang dilakukan untuk mengisolasi mikrooraganisme
antara cara goresan (streakplate), cara taburan/tuang (pour plate), cara sebar
(spread plate), cara pengenceran (dilution plate) serta micromanipulator (Pelczar
1986).
Identifikasi merupakan proses dalam suatu penelitian atau pengamatan
untuk menemtukan identitas suatu objek dengan cara membanding-bandingkan
antara objek yang di amati dengan litelatur yang sudah ada sebelumnya. Identifikasi
mikroba dapat dilakukan berdasarkan infromasi dari buku identifikasi, berdasarkan
sifat fisik, kimiawi atau biologis. Berdasarkan metode tersebut, dapat diketahui
jenis dan sifat dari mikroba yang bersangkutan.

1
2

Oleh karena itu yang melatar belakangi percobaan ini dilakukan agar
praktikan dapat melakukan proses isolasi mikroba, inokulasi mikroba dan dapat
melakukan identifikasi dasar terhadap mikroba.

1.2 Tujuan percobaan


Mengetahui metode-metode yang digunakan dalam isolasi dan identifikasi
dasar. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi isolasi dan identifikasi dasar.
Dapat mengidentifikasi bentuk, ukuran, elevasi, dan margin mikroba dari sampel.

1.3 Kegunaan
Manfaat dari praktium ini adalah praktikan dapat mengetahui metode –
metode apa saja yang digunkan dalam isolasi, inokulasi, dan identifikasi mikroba.
Dapat mengetahui faktor – faktor apa saja yang dapat mempengaruhi isolasi,
inokulasi, dan identifikasi mikroba. Dapat mengidentifikasi bentuk mikroba yang
ada.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Inokulasi Mikroba


2.1.1 Pengertian Inokulasi Mikroba
Penanaman bakteri atau biasa disebut juga inokulasi adalah pekerjaan
memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat
ketelitian yang sangat tinggi. Inokulasi dilakukan dalam kondisi aseptik, yakni
kondisi dimana semua alat yang ada dalam hubungannya dengan medium dan
pengerjaan, dijaga agar tetap steril. Hal ini untuk menghindari terjadinya
kontaminasi (Dwijoseputro 1998). Ruang tempat penanaman bakteri harus bersih
dan keadannya harus steril agar tidak terjadi kesalahan dalam pengamatan atau
percobaaan. Inokulasi dapat dilakukan dalam sebuah kotak kaca yang biasa disebut
sebagai laminar air flow ataupun dalam ruangan yang terjaga kesterilannya (Pelczar
1986).
Tujuan utama inokulasi adalah untuk menumbuhkan mikroba pada media
tumbuh sehingga akan memudahkan dalam mempelajarinya. Tujuan lainnya dari
kegiatan inokulasi mikroba adalah untuk memurnikan mikroba, penyimpanan
sampel mikroba atau peremajaan mikroba simpanan sebelum digunakan untuk
berbagai keperluan. Keberhasilan inokulasi mikroba sangat ditentukan oleh media
tumbuh, keterampilan pekerja dan kebersihan. Media tumbuh adalah media yang
dipersiapkan untuk digunakan menumbuhkan mikroba.
Komposisi media tumbuh disesuaikan dengan mikroba yang akan
ditumbuhkan. Pada tahap awalinokulasi, media tumbuh yang digunakan adalah
nutrient agar karena dapat menumbuhkan sebagian besar mikroba yang terdapat
pada sampel. Inokulasi mikroba pada tahap selanjutnya dapat menggunakan media
diperkaya atau media selektif. Keterampilan pekerja sangat menentukan
keberhasilan inokulasi mikroba. Pekerja harus mampu menginokulasi mikroba
pada media tumbuh, baik berupa media cai (brroth), padat (solid) atau semi padat
(semi solid). Inokulasi pada media padat dapat dilakukan dengan metode tuang
(pour method), metode sebar(spread methods) atau metode gores

3
4

(streak methods). Inokulasi dengan metodegores dapat dilakukan dengan teknik


goresan sinambung, goresan T, goresan radian atau goresan kuadran (streak
quadrant).
Kebersihan lingkungan dan peralatan akan mencegah terjadinya
kontaminasi selama proses inokulasi. Untuk menjaga kebersihan dapat dilakukan
proses sterilisasi, baik terhadap lingkungan maupun peralatan yang digunakan
selama proses inokulasi.
Metode sterilisasi beragam. Lingkungan tempat kerjadapat disterilisasi
menggunakan alkohol. Sedangkan sterilisasi peralatan sangat tergantung
daribahan pembuatnya. Sterilisasi peralatan inokulasi yang terbuat dari plastik
ataukaret dapat dilakukan dengan menggunakan alkohol atau pemanasan basah.
Peralatan yang terbuat dari gelas dapat disterilisai menggunakan alkohol dan
pemanasan basah maupun kering. Peralatan yang terbuat dari logam dapat
disterilisai menggunakan semua metode sterilisasi, yaitu alkohol, seterilisasi panas
basah atau kering, dan juga dapat disterilisasi langsung api dari lampu bunsen.

2.1.2 Tahapan Inokulasi


Ada beberapa tahap yang harus dilakukan sebelum melakukan teknik
penanaman bakteri (inokulasi) yaitu :
1. Menyiapkan ruangan
Ruang tempat penanaman bakteri harus bersih dan keadannya harus
steril agar tidak terjadi kesalahan dalam pengamatan atau percobaaan .dalam
labotarium pembuatan serum vaksin dan sebagainya. Inokulasi dapat dilakukan
dalam sebuah kotak kaca (encast) udara yang lewat dalam kotak tersebut
dilewatkan saringan melalui suatu jalan agar tekena sinar ultraviolet (Pelczar
1986).
2. Pemindahan dengan dengan pipet
Cara ini dilakukan dalam penyelidikan air minum atau pada penyelidikan
untuk diambil 1 ml contoh yang akan diencerkan oleh air sebanyak 99 ml murni
(Pelczar 1986).
5

3. Pemindahan dengan kawat inokulasi


Kawat inokulasi sebaliknya dari platina atau nikel .ujungnya boleh lurus jugaboleh
berupa kolongan yang diametrnya 1-3mm. Dalam melakukuan penanaman
bakterikawat ini terlebih dahulu dipijarkan sedangkan sisanya tungkai cukup
dilewatkan nyalaapi saja setelah dingin kembali kawat itu disentuhkan lagi
dalam nyala (Pelczar, 1986).
2.1.3 Teknik Inokukasi
Inokulasi mikroba umumnya menggunakan alat yang disebut sebagai jarum
ose yang berfungsi menginokulasi kultur mikrobia serta memindahkan suatu
kultur mikroba (koloni) pada media satu ke media lainnya. Ada beberapa metode
yang digunakan untuk menginokulasi mikroba antara lain:
a) Metode Gores
Teknik ini lebih menguntungkan jika ditinjau dari sudut ekonomi dan
waktu, tetapi memerlukan keterampilan-keterampilan yang diperoleh dengan
latihan. Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah.
Inokulum digoreskan di permukaan media agar nutrien dalam cawan petri dengan
jarum pindah (lup inokulasi). Di antara garis-garis goresan akan terdapat sel-sel
yang cukup terpisah sehingga dapat tumbuh menjadi koloni. Cara penggarisan
dilakukan pada medium pembiakan padat bentuk lempeng. Bila dilakukan dengan
baik teknik inilah yang paling praktis. Dalam pengerjaannya terkadang berbeda
pada masing-masing laboratorium tapi tujuannya sama yaiitu untuk membuat
goresan sebanyak mungkin pada lempeng medium pembiakan. Ada beberapa
teknik dalam metode goresan, antara lain:

Gambar 1. Teknik dalam Metode Gores


(Sumber: liddil.com)
6

b) Metode Tebar
Setetes inokolum diletakan dalam sebuah medium agar nutrien dalam cawan
petridish dan dengan menggunakan batang kaca yang bengkok dan steril. Inokulasi
itu disebarkan dalam medium batang yang sama dapat digunakan dapat
menginokulasikan pinggiran kedua untuk dapat menjamin penyebaran bakteri yang
merata dengan baik. Pada beberapa pinggan akan muncul koloni-koloni yang
terpisah-pisah.
c) Metode Tuang
Inokulasi menggunakan media cair dengan cara pengenceran. Dasar
melakukan pengenceran adalah penurunan jumlah mikroorganisme sehingga pada
suatu saat hanya ditemukan satu sel di dalam tabung (Winarni, 1997).
d) Metode Tusuk
Metode tusuk yaitu dengan dengan cara meneteskan atau menusukan
ujung jarum ose yang didalamnya terdapat inokolum, kemudian dimasukkan ke
dalam media.

2.1.4 Perbedaan Inokulasi Jamur dan Bakteri


a) Inokulasi jamur menggunakan jarum ose bentuk batang. Hifa yang
berbentuk seperti benang mudah diambil dengan jarum ose batang dan
mudah sekali tumbuh di dalam suatu media Inokulasi bakteri menggunakan
jarum ose bentuk bulat. Pada ujung jarum ose yang berbentuk bulat, bakteri
akan dapat terambil dalam jumlah yang relatif banyak.

2.1.5 Macam-Macam Media Inokulasi


a) Mixed culture : berisi dua atau lebih spesies mikroorganisme.

Gambar 2. Mixed culture


(Sumber: biology.clc.uc.edu)
7

b) Plate culture : media padat dalam petridish

Gambar 3. Plate culture


(Sumber: edusanjalmicro.com)

c) Slant culture: media padat dalam tabung reaksi.

Gambar 4. Slant culture


(Sumber: liddil.com)

d) Stap culture : media padat dalam tabung reaksi, tapi penanamannya


dengan cara penusukan.

Gambar 5. Stap cilture


(Sumber: liddil.com)

a) Shake culture: media cair dalam tabung reaksi yang penanamannya


dikocok.

2.2 Isolasi Mikroba


2.2.1 Pengertian Isolasi
Isolasi merupakan cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba
tertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni.
8

Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari pembelahan dari
satu sel tunggal (Pelczar 1986). Kultur murni atau biakan murni sangat berguna
didalam mikrobiologi, yaitu untuk menelaah dan mengidentifikasi
mikroorganisme, termasuk penelaahan ciri-ciri cultural, morfologis, fisiologis,
maupun serologis, memerlukan suatu populasi yang terdiri dari satu macam
mikroorganisme saja (Hadioetomo, 1993). Sifat organisme dalam suatu biakan
murni dapat dipelajari dengan metode yang amat keras dengan hasil yang sangat
akurat karena pengaruh sel hidup yang lain dapat ditiadakan (Volk, 1993).

2.2.2 Teknik Isolasi Mikroba


Dalam kegiatan mikrobiologi, pembuatan isolat dilakukan dengan cara
mengambil sampel mikrobiologi dari lingkungan yang ingin diteliti. Dari sampel
tersebut kemudian dibiakkan dengan menggunakan media universal atau media
selektif, tergantung tujuan yang ingin dicapai. Jika menggunakan media universal
akan diperoleh biakan mikroba campuran. Untuk proses identifikasi maupun
isolasi jenis tertentu saja, dilakukan proses pembuatan isolat tunggal dari isolat
campuran tersebut. Isolat tunggal atau biakan murni merupakan biakan yang
asalnya dari pembelahan satu sel tunggal.
Ada beberapa metode untuk memperoleh biakan murni dari isolat
campuran yaitu dengan metode cawan gores (streak plate), cawan tuang (pour
plate), sebar (spread plate), dan mikromanipulator (Buckle,1998). Dua di
antaranya yang sering digunakan adalah metode cawan gores dan metode cawan
tuang. Prinsip dari kedua teknik tersebut sama, yaitu mengencerkan biakan
campuran hingga setiap individu spesies dapat dipisahkan, sehingga setiap koloni
yang terbentuk merupakan hasil dari pembelahan satu sel.

a) Metode Cawan Gores (Streak Plate)


Metode ini lebih menguntungkan jika ditinjau dari sudut ekonomi dan
waktu, tetapi memerlukan keterampilan-keterampilan yang diperoleh dengan
latihan. Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah.
Inokulum digoreskan di permukaan media agar nutrien dalam cawan petri dengan
9

jarum pindah (lup inokulasi). Di antara garis-garis goresan akan terdapat sel-sel
yang cukup terpisah sehingga dapat tumbuh menjadi koloni. Cara penggarisan
dilakukan pada medium pembiakan padat bentuk lempeng. Bila dilakukan dengan
baik teknik inilah yang paling praktis. Dalam pengerjaannya terkadang berbeda
pada masing-masing laboratorium tapi tujuannya sama yaitu untuk membuat
goresan sebanyak mungkin pada lempeng medium pembiakan. Ada beberapa
teknik dalam metode goresan, antara lain:

Gambar 6. Metode gores


(Sumber: liddil.com)

Dua macam kesalahan yang umum sekali dilakukan adalah tidak


memanfaatkan permukaan medium dengan sebaik-baiknya untuk digores
sehingga pengenceran mikroorganisme menjadi kurang lanjut dan cenderung
untuk menggunakan inokulan terlalu banyak sehingga menyulitkan pemisahan
sel-sel yang digores.
Kesalahan-kesalahan yang umum dilakukan dalam metode ini antara lain :
1. Tidak memanfaatkan permukaan medium untuk digores sehingga
pengenceran kurang optimal.
2. Penggunaan inokulum yang terlalau banyak sehingga menyulitkan
pemisahan sel waktu digores.

b) Metode Cawan Tuang (Pour Plate)


Metode cawan tuang merupakan teknik lain yang dapat digunakan untuk
10

mendapatkan koloni murni mikroorganisme. Kelemahan metode ini adalah


membutuhkan waktu dan bahan yang lama dan banyak, akan tetapi tidak
memerlukan keterampilan tinggi. Biakan campuran diencerkan dalam medium
agar yang telah dicairkan dan didinginkan yang kemudian di cawankan. Karena
konsentrasi sel-sel mikroba di dalam eksperimen pada umumnya tidak diketahui
sebelumnya, maka pengenceran perlu dilakukan beberapa tahap sehingga
sekurang-kurangnya satu di antara cawan-cawan tersebut mengandung koloni-
koloni terpisah baik di atas permukaan maupun di dalam agar. Metode ini
memboroskan waktu dan bahan namun tidak memerlukan keterampilan yang
terlalu tinggi.

Gambar 7. Metode Cawan Tuang


(Sumber: liddil.com)

c) Metode Isolasi Medium Cair


Cara ini pertama kali dilakukan oleh Lister pada tahun 1865. Lister
berhasil menerima murni Streptococcus lactis yang diisolasi dari susu yang sudah
masam. Caranya adalah dengan mengencerkan suatu suspensi kemudian
diencerkan dalam suatu tabung tersendiri. Dari pengenceran ini kemudian diambil
1 ml untuk diencerkan lagi, kalau perlu dari enceran yang kedua ini diambil 1 ml
untuk diencerkan lebih lanjut.Metode isolasi pada medium cair dilakukan bila
mikroorganisme tidak dapat tumbuh pada agar cawan (medium padat), tetapi
11

hanya dapat tumbuh pada kultur cair. Metode ini juga perlu dilakukan
pengenceran dengan beberapa serial pengenceran. Semakin tinggi pengenceran
peluang untuk mendapatkan satu sel semakin besar.
d) Metode Isolasi Sel Tunggal
Metode isolasi sel tunggal dilakukan untuk mengisolasi sel
mikroorganisme berukuran besar yang tidak dapat diisolasi dengan metode agar
cawan/medium cair. Sel mikroorganisme dilihat dengan menggunakan perbesaran
sekitar 100 kali. Kemudian sel tersebut dipisahkan dengan menggunakan pipet
kapiler yang sangat halus ataupun micro manipulator, yang dilakukan secara
aseptis.

2.2.3 Faktor Dalam Melakukan Isolasi


Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan isolasi mikroba
yaitu:
1. Sifat setiap jenis mikroba yang akan diisolasi.
2. Tempat hidup atau asal mikroba tersebut.
3. Media tumbuh (nutrisi, suhu, pH, ketersediaan Oksigen).
4. Cara memelihara agar mikroba yang telah diisolasi tetap merupakan
kultur murni.

2.3 Identifikasi Mikroba


Tahap akhir dari upaya mengidentifikasi mikroba adalah melakukanproses
identifikasi terhadap mikroba yang sudah berhasil diisolasi. Prosesidentifikasi
dapat dilakukan berdasarkan bentuk morfologis dan aktivitas mikrobaatau
menggunakan buku identifikasi.
Berdasarkan bentuk morfologis, identifikasi mikroba dapat dilakukan
terhadap bentuk sel mikroba, bentuk koloni atau tampak samping maupun tampak
atas dari koloni mikroba. Berdasarkan aktivitas mikroba, identifikasi dapat
dilakukan berdasarkan pergerakan mikroba, reaksi spesifik dan produk metabolit
yang dihasilkan. Penggunaan buku identifikasi merupakan tahap akhir identifikasi
mikroba.
12

2.3.1 Pengertian Identifikasi


Identifikasi mikroba dilakukan untuk mengetahui jenis mikroba yang
sedang diamati. Identifikasi dapat dilakukan dengan cara pengamatan pada
mikroskop, kemudian disesuaikan dengan litelatur dari buku atau jurnal.
Berdasarkan data hasil identifikasi yang disesuaikan dengan buku identifikasi atau
jurnal, maka dapat diketahui secara pasti spesies mikroba yang sedang diamati.
Identifikasi mikroba dapat dilakukan secara fisik, kimiawi, dan biologis.
Secara fisik, identifikasi dapat dilakukan berdasarkan bentuk morfologis mikroba.
Secara kimiawi, identifikasi mikroba dapat dilakukan berdasarkan kekhasan
mikroba bereaksi terhadap senyawa kimia tertentu. Secara biologis, identifikasi
mikroba dapat dilakukan berdasarkan sifat-sifat biologisnya.
2.3.2 Metode untuk Mengidentifikasi Mikroba
Dalam mengidentifikasi mikroba dapat dilakukan dengan berbagai cara
metode, diantaranya sebagai berikut :
a) Morfologi Makroskopi
Dilakukan dengan mengamati karakteristik dari pola pertumbuhan
mikroorganisme pada media buatan yang diamati dengan mata telanjang
(tanpa alat bantu).
b) Morfologi Mikroskopi
Dilakukan dengan mengamati ukuran, bentuk, isi sel, organel sel, dan
susunan sel ketika diamati dengan mikroskop pada perbesaran tertentu.
c) Karakteristik Zat Warna (Pewarnaan)
Kemampuan mikroorganisme untuk biasanya digunakan dengan
pemeriksaan secara mikroskopi sebagai bagian dari identifikasi bakteri.
d) Persyaratan Lingkungan
Kemampuan mikroorganisme untuk hidup pada berbagai suhu,
menggunakan oksigen atau gas lain, pada berbagai tingkat pH, atau pun
keberadaan ion dan garam lainnya seperti NaCl.
e) Persyaratan Nutrisi
Kemampuan mikroorganisme untuk menggunakan berbagai macam
sumber karbon dan nitrogen sebagai subtstrat bernutrisi ketika tumbuh
pada keadaan lingkungan tertentu.
f) Resistensi
Menujukkan karakteristik resistensi terhadap antibiotik tertentu, logam
berat pada mikroorganisme tertentu
g) Antigen
Menentukan karakteristik mikroorganisme dengan berbagai macam
metode serologi dan imunologi.
h) Subseluler
Menentukan bagian – bagian molekuler sel yang menjadi tipe pada
beberapa takson, kelompok organisme, dengan menggunakan metode
analisis. Contohnya, komponen dinding sel, membran sel, dan komponen
dari enzim dari sel membran.
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 25 Oktober - 8 November 2017
di Laboratorim Teknologi Hasil Perikanan dan Laboratorium Avertebrata Air,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran.

3.2 Alat dan Bahan


Peralatan yang digunakan dalam kegiatan praktikum Mikrobiologi
Perikanan terdiri dari peralatan yang berkaitan dengan inokulasi, isolasi dan
identifikasi mikroba.
3.2.1 Alat yang digunakan
Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu :
Tabel 1. Alat Praktikum beserta Fungsinya
No. Alat Fungsi
1. Tabung Reaksi Sebagai tempat sampel mikroba dan
nutrien agar
2. Cawan Petri Sebagai wadah media kultur dan isolasi
mikroba
3. Ose Untuk mengambil mikroba yang akan
diinkubasi, diisolasi atau ditransfer ke
media kultur lain.
4. Lampu spirtus Untuk sterilisasi panas dan
mempertahankan sterilisasi ruang
inokulasi, isolasi dan transfer mikroba
dengan sumber panasnya dari spirtus.
5. Inkubator Untuk menginkubasi mikroba pada suhu
yang terkontrol.
6. Kaca Pembesar Untuk memperbesar kenampakan mikroba
agar dapat diamati.

14
15

7. Mikroskop Untuk memperbesar kenampakan objek


sehingga mempermudah melakukan
. pengamatan.
8. Kamera Untuk mendokumentasikan mikroba yang
telah diidentifikasi

3.2.2 Bahan yang Digunakan


Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu :
Tabel 2. Bahan Praktikum beserta Fungsinya
No. Alat Fungsi
1. Inokulan (sampel yang Sebagai sampel yang akan dikultur
akan diinokulasi)
2. Media Kultur Sebagai media perkembangbiakan bakteri
berupa nutrien agar
3. Ikan kembung segar Sebagai sampel yang akan dibuat menjadi
ikan peda
4. Peralatan Tulis Untuk menulis mengenai mikroba yang
telah diidentifikasi
5. Peralatan Dokumentasi Untuk mendokumentasikan mikroba yang
telah diidentifikasi

3.3 Prosedur Kerja


Prosedur kerja yang harus dilakukan oleh praktikan pada hari Rabu, 25
Oktober - 8 November 2017 adalah sebagai berikut:
3.3.1 Prosedur Kerja Inokulasi
Adapun prosedur kerja yang harrus dilakukan praktikan untuk
menginokulasi mikroba adalah sebagai berikut:
16

Tabung reaksi dan cawan petri yang telah berisi media kultur agar
steril disiapkan

Cawan dibagi menjadi empat kuadran dengan cara menulis di


bagian bawah cawan petri menggunakan spidol.

Sampel mikroba yang didapatkan dari organ pencernaan


(usus) ikan yang telah mati pada praktikum sebelumnya
disediakan.

Inokulasi biakan mikroba dilakukan pada kuadran


tersebut dengan menggunakan metode tuang.

Inokulasi dilakukan pada media agar lempeng.

Inokulasi cawan petri dimasukkan ke dalam inkubator pada


suhu 37°C selama 2x24 jam.

Pengamatan dilakukan dan disajikan dalam bentuk dokumentasi dan


deskripsi.

3.3.2 Prosedur Kerja Isolasi


Adapun prosedur kerja yang harus dilakukan praktikan untuk mengisolasi
mikroba yang telah dikultur adalah sebagai berikut:
17

Peralatan isolasi yang sudah disterilisasi disiapkan.

Mikroba yang telah diinokulasi pada media agar miring


lempeng disiapkan

Cawan petri berisi media agar yang telah disterilisasi


disiapkan dan spidol digunakan spidol untuk menulis
dibagian bawah cawan petri sehingga cawan terbagi
menjadi empat kuadran.

Biakan mikroba diambil pada agar lempeng, pilihlah


koloni yang akan diisolasi.

Jarum ose disterilisasi pada api bunsen dan setelah


dingin disentuhkan ke koloni mikroba pilihan.

Cawan petri berisi hasil inokulasi mikroba dimasukkan ke


dalam inkubator. Lakukan inkubasi mikroba selama 48 jam
pada suhu 370C.

Lalu, diInokulasikan
ke media agar lempeng pada kuadran pertama
dengan metode gores.Dilakukan secara steril.

3.3.3 Prosedur Kerja Identifikasi


Adapun prosedur kerja yang harus dilakukan praktikan untuk
mengidentifikasi mikroba yang telah diisolasi adalah sebagai berikut:
18

Cawan petri berisi kultur mikroba yang akan diidentifikasi


disediakan.

Satu mikroba yang akan diamati morfologisnya


ditentukan.

Pengamatan dilakukan menggunakan mikroskop atau


kaca pembesar pada populasi mikroba tersebut
berdasarkan:
a) Warna Populasi
b) Bentuk Pinggiran
c) Kenampakan dari bagian atas dan
d) Kenampakan dari bagian samping

Dokumentasi terhadap mikroba tersebut berdasarkan


karakteristik morfologisnya dilakukan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Dan Pembahasan


4.1.1 Hasil Inokulasi
Berikut ini adalah beberapa media inokulasi dan deskripsi mikroba adalah
sebagai berikut.
Media Inokulasi, Dokumentasi dam Deskripsi Mikroba
Media Inokulasi Dokumentasi Deskripsi
Media Agar Miring Media agar pada tabung
reaksi yang diletakkan
miring pada waktu
pendinginan. Agar
miring ini merupakan
salah satu cara yang
mudah untuk kulturisasi
mikroba, terutama yang
bersifat aerobik atau
anaerobik fakultatif.
Media Agar Tegak Media agar dalam
tabung reaksi yang
diletakkan tegak pada
waktu pendinginan,
digunakan untuk
menstimulir
pertumbuhan mikroba
dalam keadaan
kekurangan oksigen.

Media Agar Lempeng Media agar yang


dituangkan pada cawan
petridisk, inokulasi
bakteri disebarkan di
medium. Dengan cara
ini bentuk, warna koloni
mudah terlihat.

19
20

Inokulasi pada praktikum kali ini, metode yang digunakan adalah metode
tuang dimana metode ini bekerja dengan cara menuangkan inokulan dan media
pada cawan petri. Media yang digunakan berupa natrium agar berbentuk agar
lepeng. Penggunaan nutrient agar sebagai media tumbuh bakteri didasari karena
dasar makanan yang paling baik bagi pemiaraan bakteri adalah medium yang
mengandung zat-zat organik (Dwidjoseputro, 1990). Kandungan pada NA
sendirisudah sangat baik bagi pertumbuhan bakteri dimana mengandung beef
extract 3 gram,Tryptone 5 gram, agar 15 gram, akuades 1000 ml.
Inokulan yang digunakan pada inokulasi kali ini adalah bakteri yang terdapat
pada saluran pencernaan ikan. Hal yang mendasari inokulan berasal dari saluran
pencernaan bukan dari bagian lainnya adalah karena pencernaan merupakan bagian
yang memiliki bakteri dengan jumlah paling banyak dibanding bagian tubuh
lainnya. Bakteri pencernaan berfungsi dalam membantu sistem pencernaan pada
ikan itu sendiri.
Hasil inokulasi menunjukan perubahan yang terjadi pada media tumbuh
bakteri berupa nutrient ajar yang semula berwarna kuning bening setelah dilakukan
inokulasi dan inkubasi menunjukan hasil adanya bercak keputihan pada media agar
yang menunjukan adanya bakteri yang tumbuh dimedia agar tersebut. Sampel
mikroba yang digunakan dalam inokulasi adalah berasal dari sistem pencernaan
ikan pada pengamatan pengaruh ammonia terhadap ikan.

4.1.2 Hasil Isolasi


Dalam isoloasi mikroba hal yang diperhatikan adalah mencegah
terkontaminasi dari mikroba lain saat memmindahkan mikroba sehingga di
hasilkan mikroba yang benar – benar murni. Dan pada saat isolasi mikroba, tempat
sekitar harus streril. Caranya dengan menyemprotkan cairan alkohol ke sekitar
tempat yang dijadikan proses isolasi mikroba. Cara memindahkan mikroba adalah
dengan menggunakan jarum ose yang telah di bakar terlebih dahulu agar terhindar
dari kontaminasi mikroba lain. Setelah dibakar, diamkan jarum ose beberapa detik
karena agar suhu jarum ose yang tinggi tidak merusak agar pada cawan petri saat
mengambil mikroba.
21

Metode yang dipakai dalam isolasi mikroba kali ini adalah metode
gores.Proses penggoresan jangan terlalu kuat karena akan merobek agar di cawan
petri. Jadi harus sangat hati – hati dalam mengambil mikroba menggunakan jarum
ose.
Cara gores umumnya digunakan untuk mengisolasi koloni mikroba pada
cawan agar sehingga didapatkan koloni terpisah dan merupakan biakan murni. Cara
ini dasarnya ialah menggoreskan suspensi bahan yang mengandung mikroba pada
permukaan medium agar yang sesuai pada cawan petri. Setelah inkubasi maka pada
bekas goresan akan tumbuh koloni-koloni terpisah yang mungkin berasal dari 1 sel
mikroba, sehingga dapat diisolasi lebih lanjut (Jutono dkk, 1980).
Dalam melakukan isolasi, ada beberapa faktor yang mempengaruhi
keberhasilan mikroba, yaitu adalah sifat dari jenis mikroba yang di isolasi, tempat
hidup atau asal mikroba, media tumbuh mikroba, dan cara pemeliharaan mikroba
(Lay, 1994).

4.1.3 Hasil Identifikasi


Identifikasi secara langsung dapat menggunakan alat mikroskop. Sampel
mikroba diambil sedikit menggunakan ose yang sudah dipanasi, sampel diamati
yaitu bentuk fisik dan mikroba setelah diamati kemudian data yang telah didapat
dicocokan dengan literatur yang sudah ada. Pemisahaan bakteri diperlukan untuk
mengetahui jenis, ciri-ciri kultural, morfologis, maupun karakteristik.
Karakterisasi morfologi bakteri dapat berupa pengamatan makroskopik dan
pengamatan mikroskopik. Pengaamatan makroskopik bakteri dapat dilakukan
pada medium NA dalam cawan petri. Penampakan makroskopis pada medium NA
dalam cawan petri meliputi pigmentasi, bentuk, tepian koloni, dan elevasi.
Pigmentasi merupakan warna koloni. Bentuk koloni dibagi menjadi circular
(sekeliling tepi koloni rata), irregular (sekeliling tepian koloni berlekuk), dan
Rhizoid (pertumbuhan menyebar seperti akar). Tepiaan luar koloni meliputi entire
(rata), lobate (berlekuk), undulate (bergelombang), serrate (bergerigi), dan
filamentous (tepi melebar seperti benang). Elevasi merupakan derajat kenaikan
pertumbuhan
22

koloni di atas permukaan agar yang dikelompokkan menjadi flat, raised, convex,
dan umbonate (Afrianto 2017). Hasil pengamatan kelompok 6 disajikan pada tabel
4 dapat dilihat sebagai berikut:
Hasil Identifikasi Mikroba
Pengamatan Secara Fisik

Warna Pinggiran Tambak Atas Tampak Samping

Foto Putih

Hanya ada
warna putih
secara
Berdasarkan hasil
keseluruhan, Ketika diakukan
pengamatan bentuk pengamatan dari
hal ini pengamatan dari
pinggiran hasil samping terlihat
menunjukka atas populasi
Deskripsi isolasi kelompok 6
n bahwa mikroba hasil isolasi seperti lempeng
yaitu undulate,
hanya kelompok 6 yaitu putih
dimana bentuknya
terdapat satu berbentuk irregular
seperti gelombang.
jenis
mikroba
yang tumbuh

Berdasarkan hasil identifikasi mikroba secara fisik yang dilakukan


kelompok 6 didapatkan ciri-ciri fisik diantaranya warna yang terlihat pada cawan
petri yaitu berwarna putih secara keseluruhan (tidak ada warna lain, hal ini
menunjukkan bahwa hanya terdapat satu jenis mikroba yang tumbuh). Bentuk
pinggiran hasil isolasi kelompok 6 yaitu undulate, dimana bentuknya sedikit
bergelombang. Kemudian dilakukan pengamatan dari tampak atas terlihat populasi
mikroba hasil isolasi kelompok 6 tidak beraturan (irregular). Bentuk pengamatan
dari samping terlihat seperti lempeng putih dan disepanjang goresan yang dibuat
oleh kelompok 6 terlihat perkembangan pada praktikum sebelumnya yaitu lebih
terlihat kepadatannya.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
Inokulan yang digunakan pada inokulasi kali ini adalah bakteri yang terdapat
pada saluran pencernaan ikan. Hasil inokulasi menunjukan perubahan yang terjadi
pada media tumbuh bakteri berupa nutrien agar yang semula berwarna kuning
bening setelah dilakukan inokulasi dan inkubasi menunjukan hasil adanya bercak
keputihan pada media agar yang menunjukan adanya bakteri yang tumbuh dimedia
agar tersebut. Hal tersebut menunjukan bahwa bakteri yang hidup dan tumbuh pada
media agar merupakan bakteri yang berasal dari sistem pencernaan ikan itu sendiri.
Metode yang dipakai dalam isolasi mikroba kali ini adalah metode gores.
Hasil identifikasi yang dilakukan kelompok 6 yaitu mikroba pada cawan petri
berwarna putih secara keseluruhan kami menduga mikroba tersebut adalah
aeromonas hydrophyla karena mikroba tersebut berada pada pencernaan ikan dan
memiliki ciri berwarna putih. Hasil identifikasi hanya ditemukan warna putih saja
sehingga ini menunjukkan hanya ada satu jenis mikroba. Berdasarkan hasil
pengamatan bentuk pinggiran hasil isolasi kelompok 6 yaitu undulate, dimana
bentuknya seperti gelombang. Ketika diakukan pengamatan dari atas populasi
mikroba hasil isolasi kelompok 6 yaitu berbentuk irregular. pengamatan dari
samping terlihat seperti lempeng putih.

5.2 Saran

Sebaiknya setiap biakan mikroba diinokulasikan, isolasi dan identifikasi


sendiri oleh praktikan, sehingga semua praktikan mahir dan mengerti dalam
melakukan semua percobaan ini.

23
BAB VI
PENDALAMAN

Inokulasi
1. Jenis mikroba apa saja (bakteri, jamur atau kamir/ragi) yang tumbuh pada
media kultur anda? Jelaskan mengapa anda berkesimpulan demikian.
Jawab: sampel mikroba yang dikultur berasal dari saluran pencernaan ikan yang
sudah diamati pada praktikum sebelunya. Uumumnya bakteri yang ada pada
saluran pencernaan antara lain adalah golongan bakteri negatif seperti
pseudomonas, shewanella, maraxella dan yang positif adalah micrococcus. Kami
menduga bakteri yang tumbuh adalah bakteri pseudomonas karena ketika dilihat
menggunakan mikroskop terlihat berwarna hijau dan ini sesuai dengan ciri
bakteri pseudomonas yang memiliki karakteristik berwarna hijau.
2. Apakah pada media kultur tersebut mungkin tumbuh virus? Jelaskan
jawaban anda.
Jawab: mungkin saja karena faktor kelalaian praktikan pada saat itu tidak semua
praktikan menggunakan alat pencegah steril (masker dan sarung tangan latex),
hal tersebut dapat membuat virus berkembang.
3. Jelaskan mengapa terjadi kondisi seperti dijelaskan pada jawaban
pertanyaan nomor 1.
Jawab: karena sampel bakteri yang digunakan berasal dari pencernaan ikan,
salah satu bakteri yang terdapat dalam saluran pencernaan ikan yaitu
pseudomonas.
4. Jelaskan tujuan utama inokulasi mikroba pada media agar tegak, agar
miring dan agar lempeng.
Jawab: media agar tegak, bertujuan untuk memudahan mengidentifikasi banyak
morfologi dari mikroba karena tidak terbentuknya koloni seperti pada agar
miring, sehingga mudah diamati. Media agar miring, bertujuan meningkatkan
kualitas mikroba yang dapat dilihat dengan mata telanjang berarti menunjukan

24
25

bahwa sangat terlihat jelas koloni mikroba yang terkumpul dalam inokulasi agar
miring. Media agar lempeng, bertujuan menumbuhkan memisahkan mikroba dan
mendapatkan populasi mikroba yang murni.

Isolasi
1. Adakah populasi mikroba pada kuadran hasil isolasi yang masih
ditumbuhi lebih dari satu jenis mikroba? Jelaskan apa penyebabnya.
Jawab: tidak ditemukan jenis mikroba lain. Hal itu disebabkan karena tidak
terjadi kontaminasi dari mikroba lain.
2. Sebut dan jelaskan, faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan
proses isolasi mikroba.
Jawab: 1. Sifat setiap jenis mikroba: mikroba memiliki sifat yang berbeda-
beda; 2. Tempat hidup/asal mikroba: mikroba yang didapat bisa berasal dari
berbagai tempat; 3. Mudah tumbuh (nutrisi, suhu, pH, ketersediaan
oksigennya); 4. Cara pemeliharaan agar mikroba yang diisolasi tetap
merupakan kultur murni.

Identifikasi
1. Apakah dapat dilakukan pengelompokan mikroba berdasarkan
karakteristik morfologisnya? Jelaskan!
Jawab: iya, karena pegelompokan mikroba dapat dilakukan secara genotif dan
fenotif. Jika berdasarkan pengelompokkan secara fisik yaitu fenotif dapat
dilakukan pengelompokkan ini berdasarkan bentuk dari pinggiran-pinggiran
mikroba. Tampak atas maupun tampak samping juga dapat diamati sehingga
identifikasi dari pengamatan morfologi dapat dilihat.
2. Apakah mungkin ada mikroba yang memiliki kemiripan secara
morfologis? Jelaskan!
Jawab: Mungkin, mikroba terdapat banyak spesies di dunia ini dan masih
banyak mikroba yang belum teridentifkasi. Kemiripan morfologis antara satu
mikroba dengan mikroba lainnya sangat mungkin terjadi. Tetapi, dari satu
mikroba satu ke mikroba lain pasti memiliki perbedaan meskipun antara
26

keduanya sangat mirip. Jika ingin dilihat atau diamati secara pasti bisa
dilakukan identifikasi gen dari mikroba tersebut sehingga dapat diketahui pasti
spesiesnya.
3. Apa upaya anda untuk mengidentifikasi mikroba yang memiliki
kemiripan secara morfologis, sehingga dapat ditentukan secara pasti jenis
mikroba tersebut?
Jawab: Jika morfologis mirip, maka mikroba dapat diidentifikasi dengan cara
melihat gen dari mikroba tersebut kemudian dicocokkan dengan data referensi
yang sudah ada. Mengidentifikasi mikroba secara biokimia dapat dilakukan
dengan proses pewarnaan. Dengan pewarnaan maka mikroba dapat
diidentifikasi lebih lanjur perbedaannya. Jika secara pewarnaan tidak
teridentifikasi, maka dapat dilihat dari aktifitas biologi mikroba tersebut.
4. Untuk memberikan hasil identifikasi lebih baik, prosedur identifikasi apa
lagi yang dapat anda lakukan dan jelaskan secarra singkat prinsip
kerjanya!
Jawab: Prosedur identifikasi dengan pewaraan, karena pewarnaan akan terlihat
mikroba secara jelas. Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarnaan
sederhana karena sitoplasma bersifat besilofilik
Tahapannya
1. Pembuatan
2. Fiksasi, dapat dilakukan dengan cara pemanasan
3. Aplikasi zat warna
Pewarnaan dapat dikelompokkan seperti diatas yang tahap pewarnaan
gram/tahan terhadap asam. Pewarnaan untuk melihat struktur juga dapat
dilakukan seperti pewarnaan flagel, pewarnaan kapsul, pewarnaan spora dan
pewarnaan nukleus.
DAFTAR PUSTAKA

Buckle, KA. Edwards, RA. Fleet, GH dan Wootton, M. (2007). Ilmu Pangan.
Penerjemah: Purnomo, H dan Adiono. Jakarta: Penerbit Universitas
Indonesia.

Day, Bibiana, (1994), Analisi Mikroba di Laboratorium, PT. Raja Grafindo


Persada, Jakarta.

Djide,Natsir,2006,MikrobiologiFarmasiDasar,JurusanFarmasiUniversitas
Hasanuddin: Makassar.

Dwidjoseputro, Dr, D. 1998.Dasar Mikrobiologi. Djambatan : Jakarta.

Hadioetomo, R.S. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek : Teknik


danProsedur Dasar Laboratorium. PT Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.

Jutono, J. Soedarsono, S. Hartadi, S. Kabirun S., Suhadi D., 1980, Pedoman


Praktikum Mikrobiologi Umum, Departemen Mikrobiologi, Fakultas
Pertanian UGM, Yogyakarta.

Lay, B., 1994, Analisis Mikroba di Laboratorium, PT Raja Grafindo Persada,


Jakarta

Oetomo Hadi, Ratnasari.Mikrobiologi Dasar. Jakarta:PT Gramedia.1990.

Pelczar, 1998. Michael J.Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: Universitas


Indonesia.

Suriawiria, Unus, (1983),Pengantar Mikrobiologi Umum, Angkasa, Bandung.

Tim Dosen. 2011.Penuntun Praktikum Mikrobiologi Ternak. UIN Alauddin.


Makassar.

Volk,W.AandM.F.Wheeler.1993.MikrobiologiDasar.EdisiKelima.Jilid1. Penerbit
Erlangga. Jakarta.

Waluyo,Lud, 1998,Mikrobiologi Umum, MM-Press, Jakarta.

Winarni, D. 1997. Diktat Teknik Fermentasi. Program Studi D3 Teknik Kimia


FTI-ITS :Surabaya.

27